Terdampar Di Cilincing

Saya termasuk salah satu kategori manusia yang kurang pergaulan. Singkatnya, kuper. Sebab jarang nonton televisi, baca koran ataupun apalah yang berhubungan dengan berita.

Iya, boleh dibilang saya adalah manusia purba. Hidup di jaman purba. Hanya menonton, mendengar atau membaca apa yang saya inginkan. Saya bosan nonton dan baca berita, apalagi yang isinya melulu gosip dan darah. Bwahh!

Saya tidak butuh berita. Sebagaimana berita tidak butuh saya. Apa yang terjadi di tivi tabung kaca… Tidak akan mungkin mempengaruhi hidup saya.

Tanggal 17 April lalu, dengan santainya saya ke bandara. Tepatnya Terminal 2 CGK, Soekarno Hatta. Mau pulang ke rumah. Begitu check in, akan memasukkan tas-tas berisi oleh-oleh, buku dan komik ini dalam bagasi, langkah saya di tahan oleh petugas bandara.

Petugas Bandara (PB): “Bapak mau kemana?”
Dengan santainya saya jawab: “Pulang dong”
PB: “Coba lihat tiketnya, Pak”
Saya: “Nih liat aja. Asli loh walopun E-ticket yang diprint. Saya nggak beli tiket palsu. Amit-amit jabang bayi deh”
PB: “Tujuan bapak ke Eropa. Nggak bisa, Pak”
Saya: “Kok nggak bisa? Sumpah deh, Mas. Itu tiket asli pesawat. Bukan tiket sepakbola”

Petugas Bandara kemudian senyum sejenak. “Pak, bapak nggak lihat tivi. Ada berita mengejutkan, Pak”

Dug! Jantung saya berdetak keras. Wah, jangan-jangan presiden RI meninggal dunia di bandara.

Petugas Bandara itu senyumnya hilang. “Waduh Pak, nggak ada yang meninggal. Itu di tivi, ada gunung meletus di Islandia. Seluruh langit eropa ketumpahan debunya. Nggak ada pesawat yang bisa ke Eropa, Pak. Sumpah Pak, presiden kita nggak apa-apa”

Wastaga. Jantung saya langsung kebat-kebit. Jauh lebih keras ketimbang mendengar presiden meninggal dunia.

Anak istri pasti kebingungan saya tidak pulang. Belum lagi orang kantor, ada empat orang yang diturunkan langsung dari kantor pusat untuk menggantikan sementara saya pulang menghadiri pernikahan si Uul, adik.

Wah kalau saya nggak pulang, gimana nasib semua orang?

Saya: “Wah kalau begitu gimana dong nasib saya? Terdampar di Jakarta yang keras dan kejam ini sendirian bagaikan anak tiri. Saya dikasih hotel dong sama makanan selama saya menunggu”
PB kebingungan mendengar saya merengek: “Pak boleh lihat katepenya?”

Dengan semangat, saya buka dompet dan memberi Kartu Tanda Pengenal (KTP). Petugas Bandara cengar-cengir: “Bapak orang Cilincing yah. Kalo gitu pulang aja Bapak ke Cilincing, kita sih bantu, tapi untuk orang tua dan keluarga yang ada anak kecilnya”

Saya masih usaha: “Tapi Cilincing jauh Mas. Ongkosin taksi dong”

“Bapak kan disini dianter. Trus Cilincing kan Jakarta juga, Pak. ”

“Tapi itu udah Jakarta coret, Mas. Pokoknya jauh deh. Ongkosin dong. Kasian nih, anak yatim”

Petugas Bandara senyumnya jadi lebih lebar.

Saya masih tetap usaha: “Kalo nggak taksi, ongkos bis deh? Bisa ga?”

Dia tidak menjawab. Saya lihat semua petugas bandara menatap obrolan kami yang makin aneh.

Saya masih tetap usaha: “Kalo gitu, saya beliin nasi padang deh. Itu juga boleh”

Sambil menahan senyum, dia bilang: “Pak, maaf. Itu ada ibu dibelakang nampaknya perlu bantuan saya”

Ia benar, ada ibu-ibu tua dibelakang saya yang nampaknya harus pulang ke Hungaria dan dengan sabarnya menunggu ocehan saya yang seakan tidak ada habisnya.

Tidak lama kemudian, saya ke luar dari Terminal. Di depan ada Ibu, Uul dan Dani, suaminya si Uul yang ketawa-ketiwi. Kata mereka, “Mangkanya, laen kali nonton tuh berita. Jangan liatin Krisdayanti mulu”

Saya garuk-garuk kepala sambil makan donat.

Dan lalu, terdamparlah saya di Cilincing tercinta. Menunggu awan asap yang kelihatannya tak kunjung reda.

(*BTW, sekarang saya sudah balik ke kandang. Mungkin lain kali saya cerita soal apa yang saya lakukan selama terdampar dan membludaknya penumpang eropa di Kuala Lumpur bagaikan titian ikan pindang dibelah tujuh atau bagaikan pemudik di Terminal bis menjelang Lebaran*)


0 Responses to “Terdampar Di Cilincing”


Comments are currently closed.