
We were at Gadog Street on the way to Puncak Pass meeting point and rain start pouring real hard. We park our motorcycles and went to street stall. Apparently they have a lot of tea on bottles.
Update Harian Bangaip

We were at Gadog Street on the way to Puncak Pass meeting point and rain start pouring real hard. We park our motorcycles and went to street stall. Apparently they have a lot of tea on bottles.

Mie Bangka yang dijual Conqueror Cafe milik SERRUM. Penjualnya adalah Sidik. Kata Arman, namapanjang Sidik adalah ‘Sidik Jari’.

Jalan senen raya dilihat dari warung ayam goreng di Atrium Mal, Senen. Di mal ini, beberapa kali gadis muda menyapa saya dan saya merasa cukup canggung dengan hal tersebut. Agak beda dengan mal lain. Kata Uul, di sini banyak om-om senang yang mencari gadis ABG dan sebaliknya. Tidak jarang banyak salah paham karena hal tersebut.Technorati Tags:

Jalan Matraman di pagi hari di lihat dari hotel Grand Matraman. Hotel ini berisik sekali. Dari lantai 8 masih bisa di dengar suara musik dangdut diskotik di lantai dasar.

Het Sieraad artinya permata. Dibangun pada sekitar tahun 20-an dan dibuka pada tahun 1924. Pada waktu dibuka, gedung ini berguna sebagai sekolah sekaligus bengkel kerja. Kali ini, gedung ini berfungsi sebagai gedung serba guna. Diantara kegunaannya dapat dilihat di website mereka.

Saya putuskan untuk tidak turun surfing pagi itu di pantai Karang Papak. Sudah sekitar enam tahun lalu terakhir mengunjungi Pelabuhan Ratu. Ada baiknya jalan-jalan pagi ini menyegarkan ingatan kembali. Ouch, lupa pakai sendal. Untunglah tidak ada masalah.

Beberapa hari terakhir ini saya tumben-tumbenan searching informasi tambahan mengenai Network-attached storage (NAS).
Asal mulanya sih sederhana, ketika akan menambahkan beberapa foto ke dalam hardisk saya langsung terkaget-kaget melihat kapasitas hardisk.
Hardisk internal PC sehari-hari ada total 2,75 Tb dalam PC (terdiri dari 2 SATA dan 1 IDE. OS: Win 7, iDeneb dan Ubuntu Gutsy). Dari 2,74 Tera, sisanya tinggal sekitar 300 GigaByte.
Hardisk external, beli empat bulan lalu sebesar 1 Tb. Saat ini sisanya tinggal 163 Gigabyte.
Jadi total dari 3,74 TeraByte yang saya miliki; saya hanya punya sekitar 463 GigaByte sahaja. Yang jadi pertanyaan selanjutnya adalah; Ngapain aja saya selama empat bulan terakhir ini kok bisa punya data 3 Tb lebih? Padahal kan lagi nggak kerja dengan video/animasi rendering?
Tapi percuma jawab pertanyaan di atas.
Sebab pertanyaan baru yang tak kalah penting adalah, bagaimana mengalokasikan data-data yang ada di PC operasional harian ini bisa dioptimalkan?
Bagaimana mencapai optimalisasi data?
Menurut hemat saya adalah dengan cara;
Kemarin ada yang menawari router yang sekaligus berfungsi sebagai NAS. Belkin wireless router N+ yang katanya sudah mampu mencapai 300 Mbps data transfer meskipun browsing beda tiga lantai rumah. Tapi entah kenapa saya belum percaya.
Saya ini tipikal manusia purba yang masih percaya bahwa transfer data via kabel saat ini masih tangguh dan terpercaya. Hahaha

Kata Pak RT, warganya payah. Buang sampah sembarangan. Padahal kami sedang duduk bersama beliau di salah satu warung warganya yang terletak di ujung muara Sungai Tiram. Salah satu sungai di Cilincing yang memisahkan Jakarta dengan Jawa Barat. Muara ini jadi tempat yang seru. Pelabuhan kapal tongkang, cafe dangdut dengan pelacur dari pantai utara Jawa, orang-orang bugis nelayan pemberani pengumpul ikan asin, tuan tanah betawi yang bangga dengan Masjid historis Al-Alam dan Rumah Pitung hingga realita bahwa setiap tahun air pasang banjir naik makin tinggi saja di rumah-rumah penduduk sekitar muara.
Mengapa perlu belajar HTML?
Hehe. Sebenarnya tidak perlu sih. Tapi dengan belajar sejarahnya, minimal tahu kenapa bahasa ini muncul di muka bumi. Kata Bob Marley raja musik reggae, “If you know your history then you would know where you coming from“.
Mari kita mulai pelajaran sejarah HTML ini.
Siapa yang menemukan HTML?
Tim Burner Lee (nama lengkap dan jabatannya “Sir Timothy John “Tim” Berners-Lee, OM, KBE, FRS, FREng, FRSA”. Panjang amat yah). Insinyur ahli fisika dari Inggris. Yang pada tahun 1980 dikontrak kerja oleh CERN, badan riset nuklir Eropa. Tahun itu ia bekerja dengan seorang insinyur informatika Belgia bernama Robert Cailliau dan seorang mahasiswa. Suatu hari di tahun 1989 mereka kebingungan bagaimana cara saling membagi informasi antar mereka sendiri dengan cara yang cepat dan mudah. Maklum, tiga-tiganya semua orang sibuk. Karena masing-masing pintar, jadilah mereka membuat halaman yang bisa di akses oleh ketiga orang ini. Tidak lama kemudian, mereka sadar bahwa halaman dengan link/pranala ini ternyata bisa diakses oleh siapa saja asal tahu cara membuat dokumen web itu. Cara membuat dokumen web itu memakai bahasa bernama HTML. (*Saat itu pula tercetus sistem World Wide Web atau dikenal dengan www*)
Mengapa membuat HTML?
Sudah dibilang diatas, bahwa guna awalnya adalah membuat halaman yang memakai link atau pranala luar (yang kemudian dikenal juga sebagai hyperlink, sebab mampu membuka berbagai jenis dokumen. Tidak hanya dokumen berjenis teks saja, tapi juga dokumen gambar, multimedia dan sebagainya).
Namun pada intinya, HTML adalah bahasa markah. Bahasa markah adalah bahasa dimana kalimatnya harus mempunyai pendukung. Sebagai bahasa markah, HTML belum mampu mengerjakan semua kebutuhan manusia di muka bumi. Namun cukup mampu dalam menampilkan halaman-halaman website.
Jelaskan rentang pertumbuhan HTML?
Pertanyaan yang menarik. Tapi kalau tidak di jelaskan dengan illustrasi waktu mungkin agak susah. Mari, ini saya coba pakai contoh di bawah ini dalam memulainya.
Sampai di sini, mengerti?
Kalau tidak mengerti silahkan acungkan jari, tanya