Beberapa pagi lalu, saya agak tumben naik bis menuju pabrik tempat bekerja sehari-hari. Malam sebelumnya memang cukup letih. Sebab baru saja pulang ke rumah lagi untuk bertemu keluarga. Sampai rumah sudah cukup larut malam dan masih harus menyelesaikan laporan kerja.
Jadi pagi itu, saya memilih naik bis daripada naik sepeda.
Sudah lama saya tidak naik bis kota menuju tempat bekerja. Ketika cuaca bersahabat dan matahari bersinar gembira, saya lebih suka naik sepeda (atau berjalan kaki) menuju tempat kerja. Ketika sudah lama tidak mengerjakan sesuatu yang padahal terlihat biasa, cukup gembira juga rasanya saya naik bis kota lagi
Begitu duduk, masuk setelah Pak Supir menstempel karcis, saya teringat omongan Bujang, seorang sahabat; “Kamu enak yaa. Kerjanya sambil jalan-jalan. Kemana-mana dibayari perusahaan”, ketika kami berbagi cerita mengenai apa yang kami kerjakan saat ini.
Sambil menatap mobil yang lalu lalang di sebelah jendela, saya senyum sendirian.
Sore sebelumnya, saya dan Mbak Mawar bergosip mengenai Pak Ali, atasan kami.
Mbak Mawar ini umurnya sekitar 47 tahun. Ibu dari dua putri yang menginjak balig. Memakai kacamata bergagang tebal dan sering mengenakan pakaian kerja trendi terkini. Setahu saya, beliau amat mencintai keluarganya.
(*Ahh, saya mengaku, saya yang mulai. Saya kan doyan gosip. Maka itu teman saya umumnya ibu-ibu yang berhobi serupa. Haha*)
Si Arip Gosiper Usil (SAGU): “Iih, Mbak. Tadi abis deh badan situ digrepe-grepe petugas bandara”
Mbak Mawar Untungnya Aja Cinta Hotgosip (MMUACH): “Iya iih. Jijay. Gara-gara bom gagal di New York, semua bandara jadi ketat pengawasanya. Tapi tadi yang menggeledah saya sih nggak nemu apa-apa. Itu mah gara-gara sepatu saya tuh yang ada besinya di ujung jadi koslet dah scannernya”
SAGU: “Pak Ali kan suka ada di bandara. Dia dipegang-pegang juga ga sih yaa?”
MMUACH: “Pesawat Pak Ali mah udah pergi dari tadi pagi. Bandara ini mah emang ketat atuh, Rip. Kayaknya sih cuma kamu yang nggak diapa-apain. Saya aja bingung, kamu kok lolos begitu aja. Mungkin karena paspor kita beda kali yaah?”
Saya malas melanjutkan diskusi mengenai apa warna paspor kami. Sebab diskusi itu akan cenderung membahas nasionalisme kebangsaan. Saya akui saya bukan nasionalis. Saya pribadi berpendapat; bahwa saya tidak perlu punya identitas kewarga-negaraan hanya untuk mencintai sebuah negara, misalnya seperti bumi Indonesia beserta manusianya. Toh cinta tidak dibatasi oleh Kartu Tanda Pengenal penduduk.
(*Tapi itu kan pendapat saya. Yang amat mungkin bias, bau dan basi. Haha*)
Namun biar bagaimanapun juga warna paspor hijau dengan lambang garuda identifikasi WNI tetap saya pilih; atas alasan yang amat pragmatis. Alasan yang mungkin tidak perlu saya utarakan di sini saat ini.
SAGU: “Mbak, saya bosen nih di bandara melulu. Kok hidup kita begini yaah? Jauh dari keluarga. Kayaknya kok susah amat yaa cari nafkah? Pagi buta sudah bangun siap-siap presentasi. Habis sarapan langsung rapat atau disuruh ngomong. Enerji habis sore karena konsentrasi sampai rapat selesai. Lah terus habis makan malam, buat laporan langsung di upload sebar. Sebab banyak yang nungguin hasil rapat ini. Selesai akhirnya malam banget dan sudah kecapekan, terus tidur. Di hotel sendirian. Kangen anak istri. Begitu terus sampai rapat selesai. Kalau rapat selesai terus harus cepat-cepat ke bandara, cari tumpangan berikutnya. Ke rapat berikutnya. Duilah…”
Mbak Mawar melengos menatap saya. Nasib kami hampir sama. Harus sering bepergian dalam mewakili teman-teman lainnya. “Kita mah masih mending, Rip. Pak Ali tuh yang lebih kasihan dari kita”
“Loh Pak Ali kenapa, Mbak?”
“Idiih, dia mah parah tau. Dalam seminggu, paling cuma sehari di rumah. Hari minggu doang. Itu pun kata istrinya cuma dari jam delapan pagi sampe jam empat sore. Abis itu harus kerja lagi. Harus terbang lagi. Idih, anaknya tiga. Sama lagi ama saya, semuanya perempuan”
“Ahh, sama mah ogah jadi dia. Biar kata rumahnya gede, sepedanya lebih ngacir daripada sepeda saya, tapi kalo nggak bisa dinikmatin mah, buat apa yaah?”
“Samaan kita dong. Saya juga lah. Saya mah kerja biar anak-anak bisa makan. Saya mah nggak mimpi jadi ini-itu biar bisa omong gede-gede. Halaah, pusiing saya mah kalo disuruh jadi bos. Mendingan saya mikirin resep sarapan anak daripada mikirin revenue tahunan yang harus naik 12 persen”, kata Mbak Mawar sambil memoles bedaknya ke pipi kiri.
Saya bengong sejenak sambil menatap langit Stuttgart yang dipenuhi awan tebal. Hujan rintik cukup keras menghantam jendela kaca bandara. Sambil berpikir betapa ironisnya pembicaraan sore itu. Pembicaraan mengenai hal-hal detail seperti merek susu anak, jalan-jalan akhir minggu bersama pasangan hingga semua pembicaraan mengenai nuansa keluargawi. Ironis, sebab kami masih tidak bisa menerima kenyataan sebagai manusia nomad. Sering hidup jauh dari rumah meninggalkan keluarga.
Di luar jendela bis ini, cuaca masih sama seperti cuaca bandara beberapa hari lalu. Dan kembali teringat Bujang sahabat saya.
(*Ahh Bujang, manusia tidak pernah puas. Kamu tidak puas. Aku pun tak puas. Entah ini kutukan, entah ini anugrah. Tergantung sudut pandangnya saja*)
Bis berbelok. Dan ini lah yang selalu saya cintai. Setiap kelokan baru adalah benih dari pemandangan dan imajinasi baru.
Di seberang jendela, sosok Bujang berpendar. Tampak mata sebuah gedung besar yang menjual dan memperbaiki mobil bermerek Opel. Sebuah usaha mobil yang laris manis pada Perang Dunia ke-II di Eropa karena memiliki teknologi ‘pendingin udara’ pada mesin truknya.
Awal tahun 2009 lalu, perusahaan yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh General Motors (GM) Amerika ini hampir bangkrut. Sebab GM memang dilanda krisis finansial gila-gilaan di tahun 2008. Hanya karena intervensi pemerintah Jerman (yang diwakili kanselir Angela Merkell) sajalah yang tidak rela negerinya dihadiri pengangguran baru, Opel yang bermarkas di Rüsselsheim ini akhirnya masih bisa hidup.
Gedung Opel di seberang jendela, masih berdiri dengan megahnya. Tidak nampak kebangkrutan di sana. Ahh mungkin saya terlalu naif yang tidak bisa membaca tanda-tanda.
Di depan gedung itu tertera iklan besar sekali. Seorang lelaki yang tersenyum lebar, mengangkat kedua tangan menyambut dengan tulisan besar di sampingnya ‘montir kami ahli IT’. Lalu ada lagi iklan seseorang lelaki berpakaian montir memberi kunci mobil pada seorang wanita yang berpakaian kerja kantoran dengan tulisan besar ‘Mobilnya bukan hanya kembali baik, namun juga sudah bersih dicuci’.
Hampir semua ruang dikuasai oleh foto-foto orang tersenyum dan slogan-slogan bernada keutamaan servis terhadap pelanggan.
Iya, Opel yang hampir bangkrut itu tidak bisa bertahan menghadapi daya saing mesin sesama automobile Jerman dan rivalnya yang datang dari negeri sakura. Maka itu, strategi marketing pun di ubah. Bukan lagi sebagai ‘mobil tangguh segala medan’ (namun boros dan tidak ramah lingkungan). Melainkan menjadi ‘ramah pelanggan’.
Hasilnya lumayan. Setidaknya, hari itu masih saya lihat beberapa orang melihat-lihat atau membetulkan mobil mereka di gerai ini.
Bis belok kembali. Gedung Opel pun terlewati. Saya jadi ingat pembicaraan suatu hari dengan Bujang di Cilincing,
- “Si Yono mao nganterin gua riset, Jang. Tapi mobilnya rusak. Wah kasian, mobil mahal tuh. Spare part nya mahal ga yaah?”
+ “Mahal. Pasti. Tapi kan bisa diakalin?”
- “Diakalin? Maksud luh?”
+ “Ya dicari spare part yang serupa tapi tak sama. Di Jelambar banyak tuh. Ahh lu kayak orang baru aja, Rip. Onderdil mobil kan bisa dibikin di bengkel. Atawa, kan banyak onderdil Cina”
- “Cina?”
+ “Iya, barang Cina… Yaah lu mah norak men. Lebih murah malah daripada yang asli. Lo ga tau kalo si Kisut sekarang udah nggak kerja lagi?”
- “Wah kasian. Doi nganggur sekarang? Kan dia yang suka masang pemancar tiang telepon hape buat Nokia”
+ “Iya, itu sebabnya. Tiang Nokia abis dibantai ama Huawei. Jarang deh sekarang provider telkom yang mao make barang Eropa kayak Nokia. Kemahalan! Nah lu tau ga, Huawei itu barang Cina?”
Saya tertegun mendengarnya.
Sama seperti tertegunnya saya di dalam bis yang berhenti ini ketika akhirnya suara Pak Supir membuyarkan lamunan, “Pak, kita sudah sampai. Anda mau kemana?”
Rupanya saya satu-satunya penumpang yang tersisa di bis itu. Wah naik bis ternyata membuat saya banyak melamun
Mungkin besok sebaiknya saya naik sepeda lagi.
0 Responses to “Hampir 30 Menit Di Bis Kota”