Monthly Archive for May, 2010

Page 2 of 4

Sunset Marunda

Sunset on Marunda Beach Cilincing, North Jakarta.

Related Posts:

Aisah Jakarta (Metromini)

aisah

Metromini is one of well known public transportation for Jakartans. It’s cheap, overall but produce really much smoke from diesels fuel

Related Posts:

Tijdelijk bericht dat wordt gebruikt om het thema te bepalen. (265c0337-b93e-4c40-a38a-001d85748c10 – 3bfe001a-32de-4114-a6b4-4005b770f6d7)

Dit is een tijdelijk bericht dat niet is verwijderd. Verwijder het handmatig. (839b1474-8870-4e2b-ab29-511485057a9e – 3bfe001a-32de-4114-a6b4-4005b770f6d7)

Related Posts:

  • No Related Posts

Kuliah Terbang

Kuliah terbang adalah nama dari sebuah program di SERRUM, komunitas seni rupa Jakarta. Program ini berlangsung sejak tahun 2006 hingga saat ini (yaitu 2010 dan nampaknya akan tetap ada apabila penganggung jawabnya si Arman masih diberi rizki hidup).

Awal mulanya program ini dimulai dari nongkrong-nongkrong bersama antara para personel SERRUM dengan anak-anak muda warga sekitar (waktu itu ketika SERRUM masih baru dan bertempat di Rawamangun, Jakarta). Ada salah seorang anak kampung situ yang berkata, “Wah abang sih enak. Anak kuliahan. Apa aja mah gampang” ketika menjelaskan betapa susah hidupnya.

Waktu itu ada saya, MG (dibaca Emjie) dan Arief Rachman (dibaca: Arman) yang mendengar dan langsung bengong. “Loh kalo gitu kenapa nggak ikut kuliah aja ama kita di kampus”, jawab Arman dengan gagah perkasanya.

Saya takjub juga mendengar usul Arman.

Waktu itu di otak saya usul Arman terdengar super brilian. MKDU (Mata Kuliah Dasar Umum) kan pesertanya banyak. Apabila kami membawa satu atau dua orang anak kampung sekitar yang putus sekolah ke dalam kelas MKDU, pasti tidak ketahuan oleh sang dosen. Nah itu yang pertama. Sementara, trik yang kedua, biasanya setelah saya mengajar di lab saya tahu jam-jam kosong. Artinya, lab bisa dipakai sebagai kelas mengajar. Saya bisa melakukan nepotisme dengan satpam penjaga ruangan (*kasih aja rokok dua bungkus. Hehe saya tahu saya memang culas*) untuk menggunakan laboratorium kampus untuk mengajar anak-anak kampung situ sekitar satu atau dua jam.

Intinya cuma satu; yaitu bagaimana anak-anak kampung situ yang putus sekolah dan punya dendam terhadap anak-anak sebaya yang mampu sekolah mahal/tinggi juga bisa mengecap pendidikan.

MG yang kelihatannya paling bijak di antara kami bertanya, “Iya bener. Sekali dua kali sih okee. Tapi sampe kapan coy?”

Wah saya belum berfikir sampai sejauh itu. Ia benar, sekali dua kali memang belum tentu akan ketahuan. Tapi itu tidak mungkin selamanya. Walaupun asosiasinya erat, sekolah itu beda dengan pendidikan. Pendidikan adalah upaya untuk dididik dan mendidik. Sementara sekolah? Haha, sekolah mah bisnis. Dan para pelaku bisnis institusi pendidikan pasti tidak akan diam jika bisnisnya di usik oleh tangan-tangan jahil seperti kami.

Kami semua terdiam mendengar omongan MG. Walaupun kelihatannya menyusutkan semangat, ia benar. Tidak baik memberi harapan palsu pada anak-anak kampung sekitar. Waktu itu akhir minggu. Saya baru pulang dari sebuah pulau di bagian Indonesia Timur dan badan rasanya lelah sekali. Untuk mengusir sepi saya lalu bercerita bahwa di selama seminggu saya tour dari satu kampus ke kampus lain menjadi dosen terbang di seluruh pulau. Maka itu lumayan capek.

Arman membelalakkan mata, “Wah asik tuh bangaip. Kita bikin aja kuliah terbang. Jadi dosen-dosen terbang pada dateng ke kuliah ini”

Saya mengerenyit, “Kuliah ini. Di mana itu ‘ini’?”

“Ya di sini. Di sini di ruangan ini!” Arman berkata semangat sekali sambil menunjuk jari ke lantai ruang kantor SERRUM.

Saya, MG dan anak-anak kampung situ langsung gembira mendengarnya. Ide bagus itu. Bikin kuliah sendiri. Daripada nyolong-nyolong masuk kelas orang lain. Lebih baik bikin kelas sendiri dan menyelenggarakan kuliah sendiri.

“Tapi kok namanya kuliah terbang, Man?” tanya saya sore itu.

“Kan dosen terbangnya udah ada. Elu. Lagian kalo dinamain kuliah jongkok, nanti kita disangka ada di WC pren” jawabnya sambil cengar-cengir.

Tidak lama setelah obrolan sore itu dimulai, Kuliah Terbang perdana bergulir. Dengan dosen terbang dari mana-mana sesuai tingkat keahliannya.

Yang ikut pun bukan hanya anak kampung sekitar lagi, melainkan juga teman-teman kita dari pelosok desa bahkan orang-orang yang sama sekali baru.

Berikut ini adalah daftar kuliah terbang sejak 2006 hingga 2010;

No Bulan / Hari, Tanggal Materi Pembicara
Ke-01 Senin, 21 Agustus 2006 Community Management Arif Kurniawan
Ke-02 Agustus 2006 Membangun jaringan Arif Kurniawan
Ke-03 September 2006 Manajemen Seni Arif Kurniawan
Ke-04 Rabu, 15 November 2006 Menerbitkan tabloid komunitas Daniel Bomal dari Happen Magazine dan Epung dari tabloid kampus Transformasi
Ke-05 Selasa, 16 Januari 2007 Sejarah Pergerakan Pemuda Tahun 60 sampai saat ini Bonnie Triyana
Ke-06 Rabu, 21 Maret 2007 Menulis dan Menerbitkan Buku Sendiri Zaenal Abidin
Ke-07 Jum’at, 27 April 2007 Menjawab Kehadiran Sebuah Karya Foto Indra Ameng
Ke-08 Sabtu, 7 Juli 2007 Mengenal Ubuntu Teguh Prasetyo
Ke-09 Rabu, 8 Agustus 2007 Komunitas Ade Darmawan
Ke-10 Jum’at, 21 September 2007 ’Kuratos : Salesman Hafiz
Ke-11 November 2007 Musikologue Ucrit Bandung
Ke-12 Jum’at, 28 Desember 2007 IMS dan HIV-AIDS Berta Larasati
Ke-13 Kamis, 15 Mei 2008 Seni Publik, Liarnya Jalanan, Dan Jinaknya Seni Rupa Ardi Yunantu (Jurnal Karbon)
Ke- 14 Kamis, 28 Agustus 2008 Lowbro Attack Hendra Hehe Harsono
Ke-15 Selasa, 7 April 2009 “Bermain Sambil Belajar” Dwi Utami S,Pd
Ke-16 Kamis, 19 November 2009 Sukses Bekerja, Berkarya dan Berkomunitas. Billy Antoro
Ke- 17 Jum’at, 22 Januari 2010 Diskusi Komik  “BERBAGI HIDUP” Soerjorimbo Soeroto.
Ke- 18 Jum’at 12 Maret 2010 Seni Teater PUBLIK AKTING Gatot S,Sn
Ke- 18# Kamis 8 April 2010 Bisnis Konten Internet Gratis Bangaip, Mbelgedez, Ndaru
Ke- 19 Jum’at, 14 Mei 2010 Bagaimana Menjadi Relawan Yang Baik Rahman Seblat S,Sn
Ke – 20 Jum’at, 9 Juli 2010 HOWTO: Proposal Muvitasari
Ke- 21 Jum’at, 10 September 2010 1. Desain Grafis Media Cetak
2. Fotografi
1. Muhamad Evan Rahmat
2. Fahmi
Ke- 22 Jum’at, 17 November 2010 Jejaring Untuk Komunitas Amika Asriena Asfar

* Yang tulisannya hitam, pada saat ini belum terlaksana. Silahkan mampir ke SERRUM di Jalan Kayu Manis 2 No.12 Kelurahan Kayu Manis, Kecamatan Matraman, Jakarta Timur, 13130, telp : 021 8194737 Kalau mau ikutan :)

Jadwal kuliah terbang di SERRUM sebenarnya adalah setiap dua bulan sekali. Tapi beberapa saat lalu, Hasrul, salah seorang personel SERRUM membutuhkan bantuan dalam membangun konten internetnya. Maka, diadakanlah Kuliah Terbang Spesial ke 18#. Lebih cepat sebulan dari jadwal.

Isinya mengenai konten internet. Pernak-perniknya hingga bisnis yang menyertainya. Berikut ini adalah barang buktinya:

Mas Mbelgedez dari Mbelgedez Dot Com Tengah Beraksi Sebagai Dosen Terbang di SERRUM

Keterangan Gambar Atas: Mas Mbel dari Mbelgedez.com sedang beraksi menjelaskan mengapa blog beliau menjadi salah satu blog yang paling ramai di akses oleh massa berbahasa Indonesia di tahun 2009-2010

(*Kalau tidak salah, kuncinya di positioning. Dengan isi konten blog yang sedang hangat kontroversial, posisi Mbelgedez dot com ternyata mampu menembus pangsa pasar konten dunia maya yang ramai didominasi oleh banyaknya mikro-blogging. Isi konten pun di atur sedemikian rupa agar orisinil, cerdas dan membuat diskusi yang ‘hangat’ antar pembacanya*)

Mas Ndaru dari Politikana Sedang Beraksi menjelaskan sistematika politikana dot com

Keterangan Gambar Atas: Lalu ada Mas Ndaru dari Warga Politikana Dot Com sedang beraksi menjelaskan mengapa politikana menjadi salah satu website dengan trafik tinggi yang kalau tidak salah, pernah hanya beberapa poin di bawah KASKUS, sebuah forum berbasis website Indonesia yang paling banyak dikunjungi pengguna internet.

(*Kuncinya ternyata membangun komunitas yang solid dan dinamis tanpa lupa terus memantau dan mengembangkan isu-isu terkini yang berguna buat perkembangan komunitas tersebut*)

Pendukung Kuliah Terbang ke-18 edisi spesial di SERRUM komunitas seniman jakarta

Keterangan Gambar Atas: Beberapa narablog dan komikus hadir pula di tempat ini. Ibu kita yang amat kondang itu, Bu Enny dari edratna.wordpress.com, syukurlah menyempatkan dirinya untuk datang bersama Mbak Yoga yang ternyata tidak hanya jagoan masalah arsitektur, motret dan buku saja melainkan juga ahli jalanan Jakarta :) (*Maaf apabila mata Mas Ndaru agak aneh. Beliau minta agar foto yang memajang wajah beliau matanya ‘diitem-itemin’. Jadi saya penuhi permintaannya agar tulisan ini bisa naik ke bangaip dot org*)

Saya sempat bicara sepintas mengenai bagaimana konten website atau social media sekarang menjadi ujung tombak yang di dukung oleh konten cetak sebagai strategi pemasaran di beberapa website mulai korporat hingga perusahaan start-up di Eropa.

(*Kuncinya ternyata ada di teknologi. Di negara-negara Uni Eropa, penggunaan internet sudah sedemikian tinggi. Bahkan kadang lebih tinggi daripada konsumsi warga terhadap televisi. Jadi strateginya adalah media tingkat dua mendukung media tingkat pertama. Jika internet jadi media tingkat pertama, maka media cetak jadi bagian lapis selanjutnya yang akan mendukung strategi pemasaran. Di sisi lain, tingkat kesadaran membatasi pemakaian kertas sebagai bahan media cetak pun semakin tinggi. Jadi mereka lebih suka melihat iklan melalui media internet/social media*)

Wajah Hasrul ketika mendengarkan kuliah

Keterangan Gambar Atas: Ini adalah muka Hasrul yang lumayan pusing mendengar pembicaraan kami. Hasrul ini umurnya baru 19. Suka menulis. suka mendengar musik hard core. Dan tiba-tiba dinobatkan SERRUM menjadi ujung tombak divisi konten kreatif versi cetak. Malam ini, kami nobatkan spesial untuk Hasrul. Hehe.

Diskusi di Conqueror Cafe

Keterangan Gambar Atas: Di luar di serambi SERRUM ada cafe bernama Conqueror Cafe. Diadaptasi dari sebuah permainan yang ditemukan oleh JJ salah seorang personel SERRUM. Dimana empat orang bisa memainkan satu papan catur secara bersamaan. Malam itu, kami pula kedatangan anak kampung sekitar yang sedang diskusi membicarakan pagelaran musik rock tingkat RT/RW. Di dalam sibuk, di luar juga sibuk rupanya. Hehe.

image Kompilasi Komik Rada Lucu dan Komik Lapas Anak Tangerang

Keterangan Gambar Atas: Selesai acara, saya dapat oleh-oleh luar biasa. Eko Bimantara, komikus KRL (Komik Rada Lucu) dan Jeanny Pebriyawani relawan KOLAPS (Komik Lapas, sebuah komunitas komik curhat yang berada di lingkungan Lembaga Pemasyarakatan Anak Pria Tangerang) memberikan satu kopi kompilasi komik KRL (yang diklaim Eko belum pernah terbit) dan satu kopi komik KOLAPS ‘Ndak Lagi Lagi’ (Yang menurut Jeanny, “Tinggal satu-satunya, Bang”)

Terimakasih Eko, Jeanny, Mas Mbel, Mas Ndaru, Bu Enny, Mbak Yoga, Arman dan Kuliah Terbangnya serta terutama pada SERRUM dan lain-lain yang tidak tersebut (gara-gara panjang banget, hehe) yang memungkinkan kita senang-senang sambil berbagi ilmu di malam itu.

Terimakasih yooo!

Salamsayang,
bangaip


Rumah Si Pitung

Si Pitung adalah Robin Hood dari Betawi itu legenda. Namanya legenda, bisa jadi benar adanya… Atau malah sebaliknya. Namun apapun legendanya, di balik legenda itu, ada sebuah rumah yang diyakini sebagai rumah Si Pitung yang masih tersisa di Marunda Cilincing sana. Di depan pintu, saya dan Odoy bertemu Wa Ucup, kakak Ibu tertua. Sedang naik sepeda bersama teman-temannya. Setiap sore, saya dan teman-teman bersepeda ke sini. Katanya mengunjungi warisan sang legenda sambil berolahraga.

Related Posts:

Goat of Cilincing

My friend, Odoy ask me once why on earth I would like to take a picture goats on the Cilincing street while they’re eating the thrash. Well I said it’s easy, because you won’t have it in another parts of Jakarta.

Related Posts:

HTML Dasar > I – Apa Itu HTML

HTML singkatan dari hypertext markup language. HTML adalah bahasa markah, yaitu bahasa yang mengkombinasikan teks beserta pendukungnya.

Awalnya, bahasa markah digunakan dalam industri penerbitan untuk komunikasi karya cetak antara pengarang, editor, dan pencetak. Sementara HTML adalah bahasa yang digunakan pada awalnya untuk menampilkan laman pada website internet.

Apa guna HTML:

  • Membuat sebuah halaman web
  • Menampilkan berbagai informasi di dalam sebuah perambah web Internet (seperti Firefox, Internet Explorer, Safari, Opera, Chrome, dan lain-lain)
  • Menulis berkas dalam format khusus (ASCII) agar menghasilkan tampilan yang diinginkan pembuat berkas

Bagaimana cara dokumen HTML bekerja di komputer lokal:

  • Perintah ditulis oleh pengembang HTML di atas pengedit berkas (text editor, seperti notepad atau gedit atau apalah namanya)
  • Dokumen yang berisi perintah itu di simpan dengan nama yang baik. Misalnya file bernama ‘dokumen_saya.html’ lebih baik daripada file bernama ‘Dokumen saya.html’. Sebab spasi antara kata ‘dokumen’ dan ‘saya’ akan diterjemahkan menjadi bentuk khusus dalam perambah internet
  • Dokumen yang sudah di simpan itu dibuka pada perambah internet. (*Gimana cara bukanya? Tekan tombol Ctrl dan huruf ‘o’ secara bersamaan pada keyboard. Gampang atuh*)

Apa yang dapat kita lakukan dengan HTML?

  • Menentukan struktur dokumen. Misalnya judul dokumen atau membuat elemen-elemen dokumen.
  • Memformat teks
  • Membuat daftar urut
  • Membuat tabel
  • Menampilkan gambar
  • Membuat link atau pranala menuju halaman dokumen/gambar/video lain
  • Membuat formulir
  • Membuat frame

Mengapa perlu belajar HTML?

Jawab: Hehe, sebenernya nggak perlu sih. Kalau anda berniat terjun dalam dunia pembangunan website, seperti membangun laman web, menyusun arsitektur site, menjadi disainer web, atau membuat aplikasi yang berbasis web, maka ada baiknya belajar HTML. HTML mampu menjadi basis yang baik dalam membangun karir di dunia seputar website.

Belajar HTML juga lebih baik daripada kecanduan judi, narkoba atau mengintip tetangga mandi (*Haha, kalo yang terakhir ini jelas pendapat pribadi. Hihihi*)

Pantai Marunda

Susah sekali membayangkan bahwa dulu ini pantai dimana anak-anak bermain dengan bebas gembira sambil memanjat dan menjaring udang di antara pepohonan bakau. Ombak makin hari makin ganas, kata pelaut lokal. Agar tidak makin erosi, pemerintah membangun dam. Bisa jadi sebagai sarana agar kapal-kapal lebih mudah berlabuh dan industri menjadi berdenyut kembali di desa kecil ini. Bagaikan lampu, desa berkembang selalu menarik warga-warga lain sekitarnya untuk ikut mencicipi ‘kebahagian pembangunan’. Salah satunya, mendirikan rumah-rumah makan dadakan dari bambu dan kayu seadanya. Menjual produk makanan laut. Entah apa rasanya, saya tidak berani mencobanya. Bisa jadi gara-gara sok tahu kalau perut saya yang juga sok sensitif ini sudah tidak bisa lagi dimasuki ikan dari laut yang berwarna hitam akibat oli yang dibuang sembarangan dari kapal maupun warung di muara dekat pantai ini.

Related Posts:

Odoy

Odoy bergaya di pintu air yang terletak di muara sungai Muara Tiram Cilincing. Di belakangnya, pelabuhan kapal-kapal tongkang. Kapal pemandu kapal yang lebih besar. Ada diantaranya juga kapal nelayan, kapal pencari ikan, hingga sampan-sampan kecil penjual bahan kebutuhan sehari-hari pada nelayan/pelaut yang sedang mangkal. Pada hari air laut pasang, apabila pintu air ini tidak ditutup, satu desa pasti kebanjiran.

Related Posts:

Hukuman

Minggu lalu saya bertemu Mbak Iis, ketika sedang di suruh oleh mandor mengunjungi pabrik kembar tempat bekerja yang lokasinya sungguh jauh entah di mana itu.

Mbak Iis masuk ke ruangan ketika saya sedang presentasi. Dia bilang, “Guys, mumpung kalian ada di sini. Mumpung saya juga ada di sini. Saya mohon pamit lah yaah” sambil melempar coklat. “Ini coklat dari negeri saya. Silahkan disambi”

Satu persatu, kami lalu di peluknya. Pamit.

Waktu sampai giliran saya dipeluk ibu-ibu paruh baya seberat hampir 120 kilogram ini, ia berbisik “Sebenarnya bisa lebih cepat. Tapi kalian untunglah menyelamatkan saya selama dua kuartal”

Saya mengerenyitkan kening. Menyelamatkannya? Apa maksudnya?

Malamnya ketika Mbak Iis telah pulang dan kami semua duduk di sebuah meja makan yang menyediakan Chnöpfli, sebuah makanan berjenis pasta, saya bertanya pada Pak Ali kenapa Mbak Iis pergi meninggalkan team kami.

Pak Ali menjawab dingin, “Dia mundur sendiri”

Ketika makan malam usai dan kami berjalan kaki ramai-ramai pulang ke hotel tempat menginap, Dijah salah seorang rekan kerja saya di pabrik bilang begini, “Itu hukuman, Rip”

Saya bengong mendengar Dijah bilang bahwa Mbak Iis di hukum.

“Hukuman? Apanya yang di hukum? Mbak Iis tahun lalu dapat promosi. Luas areal kerjanya mencakup daerah-daerah baru yang amat menjanjikan perkembangan dia dan divisinya. Apanya yang dihukum?”

“Dia dinaikin jabatan. Tapi di bagian kering. Nggak bisa jalan-jalan lagi. Nggak bisa nyombong proyek Em-Em-an lagi. Jabatan tinggi kalo cuma jadi boneka, itu sih hukuman buat orang yang biasa ngurus proyek gede”

(*Em-Em-an mungkin maksudnya jumlah yang luar biasa banyaknya hingga mencapai milyaran rupiah. Mungkin loh. Saya saja kurang paham apa yang dimaksud Dijah*)

“Pak Ali ga bantuin dia?”

“Kan kamu udah kerja selama 6 bulan full buat areal kerja baru? Daerah itu wilayah kerjanya Mbak Iis, Rip. Itu bantuan juga dari Pak Ali”

Malam di kamar hotel. Stasiun tivi SF1 memutar acara perkembangan antara kaum kaus merah pendukung rezim Perdana Menteri terguling Thaksin yang bentrok dengan pemerintah Thailand. Saya tidak terlalu pusing. Saya ada di Bangkok waktu mantan perdana menteri Thaksin mundur. Kalau tidak salah, sekitar September-Oktober 2006. Dan masa-masa itu bukanlah saat yang menyenangkan. Saya digeledah terus selama di Bangkok. Beberapa kali kartu penyimpan gambar kamera dilhat paksa oleh pihak berwajib. Mungkin mereka takut saya mencuri lihat hal yang tidak ingin mereka sampaikan ke publik. Kenangan terakhir mengenai Thai itu aneh. Beberapa bahan penelitian saya diambil mereka tanpa izin. Entah kenapa, situasi Thai tidak begitu menarik hati. Padahal apa yang terjadi di Bangkok, biasanya cepat menjalar ke Jakarta. Namun televisi tetap saya matikan. Dan ‘hukuman’ Mbak Iis tiba-tiba menyelinap lagi dalam otak ini.

Karena bosan menonton televisi, saya coba buka kamus dan ensiklopedia soal hukum di internet. Saya baru sadar, kalau kalimat hukuman itu ternyata lebih luas daripada yang saya sangka sebelumnya.

Dari baca-baca sedikit di internet, hukuman dapat berarti:

  1. Rehabilitasi. Ganjaran bagi apa yang dilakukan pelaku.
  2. Pengasingan sosial, agar si pelaku tidak membahayakan lingkungan sosialnya.
  3. Pencegahan, upaya agar si pelaku tidak melakukannya lagi.
  4. Restorasi, memberikan pemahaman agar si pelaku tahu apa yang ia perbuat ‘adalah salah’ dan lalu memperbaiki kesalahan itu ‘setelah sadar’.
  5. Ganjaran keadilan bagi korban.
  6. Pendidikan, agar bukan hanya pelaku yang tidak mengulangi perbuatan ‘salah’ tersebut di masa mendatang. Melainkan juga masyarakat luas.
  7. Penanda bahwa sebuah sistem (keadilan/hukum/kebudayaan) masih berjalan.

Lepas baca-baca bahan mengenai hukuman, saya jadi lebih sadar kalau ternyata hukuman itu sungguh luas dari apa yang saya kira. Maklum saya orang awam. Kalau bicara hukuman, asosianya pasti tidak jauh dari penjara. Hehe.

Padahal, tidak juga.

Socrates dihukum dengan harus meminum racun yang pelan-pelan mematikan fungsi tubuhnya dari ujung kaki hingga jantung. Teman saya SMP dulu si Rudi, harus berdiri di depan kelas selama dua jam mata pelajaran gara-gara tidak mengerjakan pekerjaan rumah matematika.

Semuanya atas nama hukuman.

Yang menarik adalah, proses hukuman ini selalu dilakukan oleh mayoritas pada minoritas. Atau yang kuat kepada yang lebih lemah. Atau penguasa kepada warganya. Apabila dilakukan oleh sebaliknya, maka sebutannya bisa pemberontakan atau gerakan subversif. Tergantung sudut pandang saja.

Tapi basis logikanya sebenarnya sederhana; jika anda tidak kuat bagaimana anda bisa memberikan hukuman?

Mbak Iis dihukum oleh atasannya karena tidak bisa memenuhi target penjualan. Hukumannya menarik, dinaikkan jabatan namun bukan pada posisi yang diinginkan. Mirip dengan masa jaman orde baru. Siapa saja yang terlihat menyebalkan RI satu bisanya diangkat jadi duta besar lalu dikirim ke negeri antah berantah.

(*Tapi itu kan jaman orde baru. Kalau sekarang kan… Well… Hehe… Entahlah… Hehehe…*)

‘Hukuman’ pada Mbak Iis masih terus membekas di otak saya. Membuat saya tidak bisa tidur. Bahkan saking parahnya, ingat mengenai Bu Diah.

Bu Diah itu guru saya dahulu.

Sumpah mati beliau hebat. Pernah jadi pimpinan pada sebuah departemen yang bergengsi. Pada usia muda sudah meraih gelar doktor dan tidak lama kemudian dikukuhkan menjadi profesor guru besar sebuah universitas ternama. Sejak ia bekerja sebagai akademisi, ribuan mahasiswa sudah ditolongnya lulus dengan baik. Yang menarik adalah, beliau ini bukan tipikal orang pintar yang berpenampilan ajaib (nerds). Sebaliknya, Bu Diah ini amat pandai menjaga kebugaran tubuhnya dan selalu berpakaian modis namun elegan. Dalam usianya yang sudah berumur, kami masih amat jelas menangkap sisa-sisa kecantikan pada dirinya.

Dulu waktu masih sekolah di Depok. Suatu hari saya, Ujang dan Bani ke rumah Bu Diah. Bani sedang sibuk dengan tesisnya. Sebab Bu Diah adalah pembimbing tulisan akhir karya ilmiah si Bani.

Rumahnya Bu Diah terletak di jantung Jakarta. Lingkungan yang sungguh luar biasa. Di tengah kota, ada areal luas yang banyak pepohonan dan danau. Serta di jaga dengan pengamanan yang baik. Maklum, beberapa presiden Indonesia pernah tinggal di sana. Intinya, rumah Bu Diah sungguh asri dan menyenangkan.

Waktu si Bani sibuk. Saya dan Ujang duduk-duduk di halaman depan rumah Bu Diah. Kami mengobrol, cengar-cengir sambil menggoda mbak-mbak (yang dikira Ujang adalah pembantu) hilir mudik di depan rumah Bu Diah.

Bani keluar. Mukanya kusut, “Lu denger bunyi telepon ga sih?”

Ujang menggeleng. Konsentrasinya ke bokong seksi pembantu tetangga sebelah yang sibuk mengejar tukang sayur. Saya mengerenyitkan kening menjawabnya “Telepon? Iya sih sempet gua denger. Banayk juga. Sibuk yaah Bu Diah?”

Bani menggeleng, “Nggak tahu gua apa maunya tuh orang. Krang-kring nggak jelas. Bu Diah ama anaknya yang nerima. Mereka juga pusing keliatannya”

Bani masuk lagi ke dalam. Mau kembali bimbingan dengan Bu Diah. Tapi tidak lama. Lalu keluar lagi duduk bersama kami. Mukanya makin keruh.

Dari jendela, kami dengar Bu Diah sedang bertengkar dengan anaknya.

“Makanya mama jangan pakai pakaian begitu! Kan bikin ribut!”

“Kamu itu kalau bicara pikir dulu baik-baik. Pakaian mama ini sopan. Mama tahu batas sopan atau tidak. Apa yang salah? Andai memang suaminya suka sama mama, apa itu salah mama? Apa gara-gara mama berhias dan menarik hati suaminya jadi bikin dia cemburu apa itu salah mama? Mama pakai pakaian dan berhias karena menurut mama, ini perlu”

Di luar, saya, Bani dan Ujang tercenung. Bu Diah itu perempuan yang amat menarik. Sudah jadi janda sejak beberapa tahun terakhir. Suaminya meninggal. Tapi Bu Diah pakai pakaian rapi dan elegan bukan hanya sejak suaminya meninggal. Dari dulu, dari awal kami masuk sekolah pun beliau sudah berpenampilan anggun.

Siang itu, Bu Diah mungkin dihukum karena anaknya bosan menerima deringan telpon ancaman dari seorang istri yang cemburu. Cemburu karena suaminya mungkin jatuh cinta pada perempuan yang berpenampilan menarik.

Besoknya, Bani berkata pada saya dan Ujang. Bahwa jika ia bimbingan ke rumah Bu Diah lebih baik sendiri saja. Bu Diah pikir itu lebih baik.

Saya dan Ujang berpandangan. Apakah ini artinya kami dihukum karena telah mencuri dengar? (*Atau bisa jadi akibat menggoda gadis-gadis tetangga*)

Ahh, ternyata ‘hukuman’ itu sedemikian rumit. Atau mungkin otak saya saja yang terlalu banyak berprasangka.

Saya letih memikirkan semuanya. Saya harus tidur. Besok presentasi lagi.