Monthly Archive for June, 2010

Poker Cilincing

Maaf saya mau memuaskan rasa sakit akan narsisme sebentar sebentar. Hihihi. Kali ini saya mau cerita soal wajah saya. Kalau anda mau membaca tulisan yang berbobot dari blog bangaip dot o-er-ge sekarang, nampaknya bukan kali ini saatnya. Hehe.

Tapi tenang saja. Saya tidak akan cerita betapa gantengnya saya. Sebab toh saya sadar diri kalau saya sama sekali tidak tampan. Percuma saya mengklaim tampan kalau hanya saya satu-satunya manusia yang mengakuinya secara de facto maupun de jure. Hehe.

Oke, begini ceritanya;

Waktu bom meledakkan sebuah taksi dan beberapa orang terkena dampaknya di kota New York, saya dan beberapa orang rekan kerja sedang minum teh di bandara Ferihegy di sebuah titik di Eropa Timur sana. Jauh. Ribuan kilometer dari New York. Saat itu, kami sedang menunggu pesawat yang akan menjemput kami pulang ke rumah.

Saya merasa kasihan dengan korban di New York. Namun maaf saja, saat itu tidak begitu peduli. Di otak saya yang ada hanyalah bagaimana membeli boneka untuk putri saya serta permen untuk istri. Sebentar lagi kami harus masuk pemeriksaan pabean. Iya saya sadar saya agak sadis. Lebih memikirkan boneka atau permen ketimbang korban jiwa di NY sana. Ahh maafkan saya…

Tapi mau bilang apa? Barang-barang di tas saya sudah penuh. Saya lebih memikirkan bagaimana membawa benda-benda ini dengan selamat sampai tujuan.

Akhirnya setelah pontang-panting kiri-kanan masuk toko yang tersebar di dalam bandara, dapat pula akhirnya dua benda manis tersebut. Dan dengan santainya, saya dan rombongan masuk ke ruang khusus bandara dimana kami harus teratur masuk ke pesawat antar Uni Eropa tersebut.

Namun sebelumnya, kami harus lewat pabean. Petugas duane yang memeriksa dengan alat khusus sehingga mampu mendeteksi apakah kami membawa barang yang tidak mereka inginkan atau terlarang. Alatnya seperti gerbang mekanik yang mampu memperlihatkan benda metal dalam pakaian dan tas kami. Kalau alat itu berbunyi nyaring, artinya kami mencurigakan dan harus diperiksa lanjutan.

Dari sebelas orang anggota rombongan, semuanya digeledah tasnya atau harus masuk ruangan khusus untuk melakukan full scan body. Yaitu pemeriksaan lanjutan dengan alat yang lebih canggih atau kalau perlu pakai tangan. Nampaknya petugas imigrasi pabean curiga pada mereka.

Anehnya, hanya saya yang tidak diperiksa apa-apa. Saya dan tas dengan santainya melewati gerbang mekanik tersebut.

Singkat cerita, semua teman-teman kerja saya ternyata tidak membawa apa-apa yang mencurigakan. Dan nampaknya keamanan bandara diperketat setelah mendengar berita pemboman di New York (yang terjadi baru saja beberapa jam lalu).

Kejadian ini, rupanya tidak bisa dilupakan oleh teman-teman saya. Hingga akhirnya beberapa saat lalu, saya dapat julukan baru “Wajah Lugu Yang Terpercaya”. Itu julukan bercanda. Akibat betapa percayanya petugas bandara hanya dengan melihat foto raut muka di paspor saya. Hehe.

Kalau saya bilang bahwa saya punya genetika warisan bunglon, pasti saya dosa. Sebab Ibu saya pasti akan membantah bahwa kami dulunya adalah turunan reptil. Namun apa daya, muka saya memang sering berubah-ubah. Hihihi.

Tapi adakalanya saya gagal memanfaatkan muka sok lugu ini.

Dulu, di lantai lima gedung sekolah Depok, saya sampai membawa-bawa celengan yang isinya recehan logam semua. Sebab pemberi beasiswa sudah tidak yakin bahwa wajah saya adalah wajah pelajar miskin yang mampu menerima sumbangan uang dari pemerintah.

(*Well, trik celengan ini ternyata sukses berat. Saya akhirnya dapat beasiswa walaupun IPK pas-pasan. Hahaha*)

Omong-omong soal wajah lugu. Kadang-kadang, dulu kalau lagi suntuk di kost-kostan Kuningan, saya sengaja sore-sore naik motor putar-putar keliling kota. Lokasi favorit saya, dekat Plaza Senayan. Saking isengnya, saya kadang malah sengaja naik motor melawan arus. Alasannya jelas amat bodoh; saya kepingin ditilang.

Dan tentu saja doa saya dikabulkan. Sebab kalau lewat situ, saya pasti ditilang.

Polisi yang menilang biasanya sopan. Angkat tangan memberi hormat. Mempersilahkan saya minggir lalu bertanya surat-surat. Standar lah.

Dan saya pun biasanya memang tanpa banyak cing-cong mengaku bersalah. Dengan wajah lugu saya mengaku bahwa saya bukan warga Jakarta. Dan para polisi itu pun percaya, maklum SIM saya memang adalah Surat Ijin Mengemudi yang dikeluarkan Polda Denpasar, Bali. Jadi saya bilang, kalau saya belum paham jalan di Jakarta yang semrawut ini.

Dari sepanjang sekitar puluhan kali di tilang di Plaza Senayan JKT dan daerah di sekitarnya, ada beberapa poin penting yang menjadi bahan saya agar menjadi lebih baik ketika ditilang di masa depan. Diantara poin-poin itu adalah:

  1. Kenali Wajah Penilang
    Kenapa harus mengenali wajah polisi penilang? Jawabnya sebab ini penting. Saya pernah ditilang oleh Polisi yang sama sebanyak tiga kali dalam seminggu. Kalau Pak Polisi sudah mengenali wajah anda, tandanya trik-trik dibawah ini tidak akan mempan untuk dipakai lagi. Kalau anda hobi ditilang seperti saya, hindarilah polisi yang sama di lokasi penilangan yang sama
  2. Jangan Merayu Polwan
    Merayu Polwan jelas kebodohan. Sebab Polisi Wanita itu biasanya galak. Ini bukan generalisasi, tapi sepanjang karir saya sebagai manusia yang mencintai aksi penilangan; sudah dua kali saya disuruh push-up oleh Mbak Polwan yang manis itu karena menurut beliau saya melakukan ‘aksi yang tidak menyenangkan’ terhadapnya ketika menilang saya. Haha
  3. Teori Tujuh Ribu
    Saya selalu menyediakan uang sebanyak tujuh ribu di dompet ketika akan ditilang. Pada umumnya, saya memang tidak berniat cepat-cepat pergi dari sisi penilang. Menurut saya, semakin lama waktu saya ditilang semakin baik. Sebab saya bisa mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari si penilang. Pada masa mengumpulkan info ini, biasanya ada penilang yang suka iseng melihat-lihat isi dompet. Kadang yang masih muda, gemar melihat isi dompet saya untuk meyakinkan apakah saya benar-benar tidak membawa uang ‘perdamaian’. Maka itu kalau ditanya penilang, saya selalu jujur menjawab “Duit saya tinggal tujuh rebu, Pak. Cuman bisa buat beli bensin pulang seliter. Kalo ini diambil, saya pulang naek apa dong!” Trik ini sukses membuat saya tidak pernah mengeluarkan uang ketika ditilang.
  4. Lengkapi Surat Penting
    Bawa selalu STNK dan SIM. Dua surat ini perlu. Sebab artinya anda sah membawa kendaraan tersebut. Bukan maling. Selain surat-surat itu, kalau bisa seperti SIM saya, SIM luar kota. Jadi bisa sering alasan, “Nggak tau jalan, bos. Maap” kalau anda mengambil jalur yang tidak digunakan untuk kendaraan anda
  5. Menyiapkan Jawaban
    Ketika anda di tilang, maka polisi penilang akan bertanya-tanya mengenai identitas anda. Apabila anda memang seperti saya, berminat untuk di tilang dan berlama-lama dengan si penilang, maka polisi akan bertanya-tanya bukan hanya identitas anda melainkan apa tujuan anda dan kenapa anda ada dalam daerah wilayah operasionalnya. Santai saja. Itu wajar. Mereka polisi, memang dilatih untuk bertanya. Dan sebagaimana pertanyaan, maka siapkanlah jawaban. Jawaban favorit saya ketika ditanya mau kemana selama ini adalah “Saya mau survey mas kawin, Pak. Saya mau kawin lagi”. Tips dari saya; berilah jawaban yang walaupun terdengar aneh tapi tetap masuk akal. (*Soal kawin lagi itu, jangan diterapkan pada Polwan. Saya pernah diceramahi satu jam sama Bu Polwan gara-gara memberi jawaban soal kawin lagi. Buset dah! Apalagi nggak mungkin pula dong waktu dia marah saya bilang itu becanda*)
  6. Jadilah Pemirsa Yang Baik Entah apa yang diajarkan di Sekolah Lido sana
  7. yang pasti, kejadian good cop bad cop itu selalu ada selama saya ditilang di pos polisi. Ada yang marah semarah-marahnya, ada yang baik sebaik-baiknya. Maka itu siapkan mental. Namun ketika saat ini tiba, ketika para polisi tengah bergaya dalam aktingnya, sumpah mati saya amat menikmatinya. Jarang-jarang lihat tayangan opera sabun secara live dalam pos polisi kecil di tengah-tengah belantara ibukota. Sekali lihat, langsung ketagihan

  8. Hati-hati Dengan Premodialisme
    Akibat sering mondar-mandir dengan kartu identitas Bali, saya sering dengan santainya mengaku orang Bali. Sialnya dulu sempat ketemu penilang asal Gianyar. Kampret, saya nggak bisa jawab ketika ia bertanya dalam bahasa Bali. Lah mau jawab apa, wong saya nggak bisa bahasa Bali. Hahaha. Maka itu, saya sih mengaku saja pada penilang apa adanya kalau saya orang Betawi yang bekerja di Bali dan lebih banyak berada di Bandung dan Manado. Hahaha…

Oke, tulisan di atas pasti membuat banyak pertanyaan. Pertanyaan yang paling sering adalah: “Kenapa?” Jelas banyak yang bertanya, ketika orang-orang menghindari tilang, saya malah sebaliknya.

Saya tahu, jawaban “karena saya bisa” adalah jawaban yang terbaik. Tapi bukan itu yang mau saya bagi kali ini.

Saya mau jawab, bahwa sepanjang karir ditilang saya dapat:

  • Teman Iya, ini memang aneh. Saya sempat dapat teman polisi lalu lintas yang baik hati dari aksi bodoh saya di atas. Kami tetap berkawan hingga saat ini dan ketika saya mengaku bahwa saya sering melakukan aksi ’tilang’ ini dia hanya tertawa-tawa
  • Makanan Ketika bulan puasa, saya paling hobi di tilang di daerah Kota dan Mangga besar. Dulu, di lokasi-lokasi ini, menjelang buka puasa suka ada relawan yang mengantarkan kolak atau panganan buka puasa ke pos polisi. Dan sebelum buka puasa, saya selalu menyempatkan diri di tilang di pos polisi yang banyak makanannya. Para polisi itu biasanya baik-baik. Suka memberi saya makanan untuk berbuka puasa (walaupun sebenernya saya nggak puasa. Hihihi)
  • Real Time Info Kadang saya punya pertanyaan yang walaupun sebenarnya jawabannya ada di text book, tapi dalam pengejawantahannya jauh sekali dengan yang tertera di buku. Polisi itu ahli hukum (walaupun tidak semua, tapi minimal mereka sedikit tahu lebih banyak daripada saya) dan ujung depan garda hukum di masyarakat. Jadi, informasi mengenai hukum dari mereka biasanya memang sama sekali tidak text book, tapi yang lebih penting adalah akurat. Dan akurasi itu yang saya butuhkan
  • Poker Face. Jadi sodara-sodari… Dari cerita narsisme di atas, sekarang saya pikir anda sudah tahu dari mana “Wajah Lugu Yang Terpercaya” mirip pemain judi poker asal Cilincing yang saya miliki berasal. Huehehehe…


Pindah

Sudah lama saya tidak membaca tulisan teman-teman saya. Sudah lama pula saya tidak menulis. Iya, memang baru beberapa minggu… Tapi toh seakan sudah cukup lama dalam benak saya.

Saya sibuk. Saya pindah tempat kerja. Kata Ami, adik saya, itu lah redaksional yang paling pas untuk menggambarkan situasi saat ini. Pindah tempat kerja itu bukan pindah kerja. Pindah tempat kerja (menurut si Ami yang galaknya minta ampun kalau dalam berbahasa mentang-mentang dulu sekolah bahasa dan ketika selesai jadi editor-setengah-dewa) artinya adalah masih bekerja pada obyek yang sama namun beda lokasi geografisnya.

Saya dipindahkan. Dari ruang pabrik yang kiri-kanan-depan-belakang penuh riuh rendah penuh cengar-cengir manusia menuju ke sebuah tempat tidak terlalu luas persegi-empat. Cengar-cengirnya tidak pindah, sebab saya sendiri di sana. Sepi.

Manusia tidak pernah puas. Dulu waktu kerja di rumah, saya minta ditempatkan di pabrik. Alasannya, di rumah tidak bisa konsentrasi. Entah bagaimana, orang-orang rumah tidak pernah terbiasa melihat orang yang pada pukul 08.45 pagi bangun tidur, lima menit kemudian menyeduh kopi dan menyalakan komputer (yang terletak di samping ranjangnya) sebagai orang yang bekerja.

Waktu saya kerja di rumah, Ibu sering ditanya teman-temannya, “Si Arip kerja aja di tempat saya yah? Kasian tuh dia. Idupnya belangsak begitu. Di kamar terus. Bangon siang. Nggak pernah liat matahari. Ntar matanya kotak kebanyakan liat monitor”

Jadilah sejak saat itu saya kerja di pabrik. Kasihan Ibu, ditanya-tanya terus. Saya tidak mau membuat malu.

Sialnya, pabrik jauh. Kalau naik bis pulang pergi bisa tiga jam. Gila! Saya nanti bisa tua di jalan. Bulan pertama saya masih ceria pulang pergi kerja naik bis kota. Namun bulan selanjutnya, sudah mulai patah hati awak ini. Bangun tidur harus dibarengi jeritan-jeritan sial jam weker yang menyayat hati. Mata masih mengantuk, harus ke kamar mandi gosok gigi, mandi dan melakukan ritual pagi. Malam ketika pulang, badan sudah sedemikian letih, namun tetap harus pula mandi. Sebab peluh bercampur peluh, saya terima dengan apa adanya ketika bercampur dengan penumpang lain di bis kota. Dan saya benci bau badan orang lain.

Saya tidak puas. Saya kecewa dengan diri sendiri. Bahkan mulai menyalahkan dengan kalimat, “Ngapain juga gua dengerin omongan orang laen?” Lebih parah dari itu, saya mulai menyalahkan Ibu dan anggota kelarga lainnya yang tidak begitu ahli menjelaskan pekerjaan saya pada orang lain. Andai mereka ahli bicara, tentu saja nasib saya tidak sesial ini harus berada setiap saat di bis kota.

Pada intinya, saya tidak mensyukuri dengan apa yang saya miliki saat itu. Sebuah pekerjaan yang baik di sebuah pabrik sarjana ternama di Jakarta.

Hari demi hari, saya lalui dengan sungut dan muram. Saya coba mencari jalan keluar dari permasalahan ini. Sial sekali, tidak bisa. Hari saya sedemikian menyedihkan. Saya bosan dengan hidup saya. Saya bosan dengan bus kota dan keringat bau ketiak kondekturnya. Saya bosan harus bangun pagi. Saya bosan dengan acara tivi yang seru tayang malam namun saya harus tidur karena kalau tidak besoknya bangun kesiangan.

Saya bosan.

Dan kebosanan itu menyeret saya untuk menyalahkan pabrik tempat bekerja saat itu. Saya mulai berpikir, bahwa gaji di sini kecil. Sesuatu yang belum pernah saya pikirkan sebelumnya. Saya mulai berpikir, teman kerja saya mulai membuat jengah. Sesuatu yang sama sekali tidak pernah terlintas di benak saya. Saya mulai menyalahkan situasi di sekitar saya.

Iya saya tahu… Saya tipikal pecundang. Yang ketika punya masalah, bukannya intropspeksi, e-eh malah menyalahkan situasi sekelilingnya.

Lalu saya berpikir mencari pekerjaan baru. Bagaikan anjing yang tidak puas dengan tulang yang diberikan majikan, mulailah saya mencari-cari iklan lowongan di koran atau majalah atau apa saja lah. Yang penting, mampu membuat saya pergi jauh-jauh dari tempat kerja yang tiba-tiba punya embel-embel nama baru dibelakanya… Yaitu ‘terkutuk’.

Padahal saya tidak tahu kenapa dengan bodohnya saya maki-maki pabrik yang menghidupi setiap denyut nadi saya selama beberapa bulan belakangan itu dengan kalimat kasar. Bukankah saya yang memilih jalan hidup untuk pergi pulang pergi naik bus ke pabrik?

Entahlah. Yang penting saya harus pergi dari pabrik itu.

Setelah mencari kiri kanan, kasak-kusuk depan belakang. Akhirnya saya dapat panggilan interview di beberapa pabrik baru. Dengan berbohong pada rekan kerja dan atasan dengan alasan sakit atau pergi ke luar kota, saya datangi satu persatu calon pabrik baru untuk melakukan interview.

Tentu saja saya belum setolol itu untuk jujur bilang akan pergi meninggalkan mereka semua.

Ah iya, saya bukan hanya pecundang. Saya juga munafik. Saya tidak mau meninggalkan nama buruk di sumber finansial yang menghidupi saya dalam beberapa bulan terakhir itu. Saya mau mereka (di pabrik ‘terkutuk’ itu) berfikir yang baik-baik mengenai saya. Atau minimal, senyum di hadapan saya. Jika saya bilang “mau cari kerja baru” ketika mereka bertanya mengapa saya tidak masuk kerja; saya khawatir image saya rusak.

Jadi, saya bukan hanya pecundang. Saya pula adalah munafik dan seorang yang luar biasa egomaniak yang selalu memanjakan gejolak pemujaan terhadap imaji diri sendiri.

Sialnya… Lagi-lagi sialnya… Selalu ada ruang untuk manusia macam apa saja di muka bumi ini. Termasuk pesakitan komplikasi loser macam saya ini.

Saya diterima di pabrik anu untuk bekerja di sana. Dan sebagaimana cerita sesudah-sudahnya, saya lagi-lagi tidak puas. Sebagaimana lakon sebelumnya, saya terus mengeluh dan terus mengeluh. Saya pindah kerja dan terus pindah kerja.

Ketika gaji semakin hari semakin kecil rasanya, saya pindah cari kerja untuk gaji yang lebih besar. Ketika jabatan di kartu nama makin hari seakan makin tidak bergengsi, saya pindah mencari pabrik yang mampu menawarkan cahaya baru di embel-embel belakang nama saya. Ketika rekan kerja sudah tidak mampu lagi menampung semua histeria yang saya cipta, saya menyalahkan budaya mereka dan pikir-pikir untuk pindah ke pabrik yang beda kultur negara.

Hingga suatu hari… Ketika akhirnya saya jenuh dengan semua chaos dan musuh yang saya tinggalkan di sepanjang tapak yang saya lalui, saya sempat berfikir. Mungkin pekerjaan yang cocok untuk saya adalah penjaga satelit di luar angkasa sana. Sendiri. Sepi. Terisolasi dan tidak harus berhubungan dengan ras manusia yang begitu membosankan dan menjijikkan.

Hari demi hari saya lalui dengan tololnya menatap langit ketika pergi dan pulang kerja. Sambil berharap-harap ada pekerjaan yang mampu meluncurkan saya ke luar angkasa.

Minggu demi minggu berlalu. Dan saya akhirnya (dengan telatnya) menyadari bahwa tidak ada satupun pekerjaan di muka bumi selain astronot yang mampu membawa saya dengan roket (*yang selalu saya imajinasikan dengan warna kotak-kotak merah putih seperti roket Tintin*) menuju luar angkasa.

Dengan wajah malu merah remuk redam, saya sadari kebodohan demi kebodohan dan ilusi yang saya ciptakan. Otak saya tidak cukup untuk membawa saya menjadi seorang astronot. Saya manusia pas-pasan. Sampai mampus diperas pun otak saya tetap akan pas-pasan. Dan waktu yang terpakai untuk menghayal mengharapkan pekerjaan baru dengan suasana selalu baru, dengan sia-sia terbuang. Itu bukti bahwa otak saya memang pas-pasan. Kalau cerdas, tentu saja saya tidak menyia-nyiakan waktu.

Dan saya semakin malu.

Untung saja, sejak punya keluarga, sejak punya tanggung-jawab manusia yang harus saya beri makan; nafsu untuk menyia-nyiakan waktu jadi sedikit berkurang.

Belajar untuk tidak menyia-nyiakan waktu itu susah. Dari semua hal yang saya pelajari dalam hidup ini, hal yang paling sepele seperti menghargai waktu itu, ternyata susahnya minta ampun. Apalagi jika manusia yang belajar ini model saya, orang yang dalam hidupnya sering memanjakan diri dengan kalimat “Ngapain mikirin masa depan. Bikin pusing. Sekarang yaa sekarang. Enjoyy aje…”

Saya akui saya telat. Sebegitu naifnya, kesadaran untuk memikirkan masa depan itu baru ada ketika putri saya lahir. Melihat betapa dahsyatnya cinta saya pada manusia kecil pertama kali ada dalam dekapan, baru kali itu saya berfikir “Buset dah, kalo gua mati besok.., Gimana dia yaah?”

Sejak saat itu, saya berhenti berfikir bahwa ada rejeki nomplok yang akan membuat saya menjadi astronot dadakan. Dan coba belajar untuk realistis bahwa ada namanya makhluk yang bernama waktu. Yang dengan tanpa ampunnya, melahap jiwa saya detik demi detik.

Hasilnya… Saya tidak kuat. Saya gamang. Lepas dari semua yang saya sebut dia atas. Saya ternyata punya nama julukan baru, ‘penakut’.

Saya takut berhadapan dengan realita. Saya takut berhadapan dengan waktu. Saya ingin selalu kembali ke zona nyaman yang saya ciptakan, mimpi menjadi seorang asronot yang mengarungi luar angkasa sana.

Beberapa orang teman dahulu, mencibir. Mereka bilang jika saya sudah tidak lagi mampu bermimpi. Itu tandanya, hidup saya kering. Saya diam saja. Toh mau bilang apa? Saya lelaki berkeluarga. Saya punya tanggung jawab. Saya tidak bisa masturbasi terus-terusan untuk memproduksi peju melumasi jiwa yang kering.

Tadi pagi, saya pergi kerja ke pabrik mengayuh sepeda seperti biasa. Di tengah jalan, saya melalui rumah yang berfungsi sebagai panti untuk anak-anak yang memiliki kekurangan. Ada beberapa dari mereka yang terkena down syndrome dan harus duduk di kursi roda

Wajah mereka bersinar bahagia. Tidak nampak sedikitpun ketakutan di sana. Kekurangan yang mereka miliki, bukan hambatan untuk memperoleh kebahagian dan hangatnya sinar matahari pagi.

Mereka bahagia. Dan sejenak… Saya ikut merasa bahagia hanya karena melihat mata mereka memancarkan kebahagiaan.

Dan kini, saya sendiri di sini. Di ruang berbentuk persegi empat. Duduk di hadapan layar monitor membaca satu persatu surat-surat dari banyaknya sahabat yang penuh kalimat selamat atas hadirnya promosi.

Saya takut. Saya sepi. Sendiri di sini. Ketika tanggung jawab semakin besar, semakin sedikit pula orang-orang yang ada di sisi.

Mungkin saya harus lebih banyak belajar dari anak-anak berkursi roda dengan down syndrome yang setiap hari saya lalui. Belajar untuk lebih berani menghadapi hidup ini. Belajar untuk lebih menghargai hangatnya sinar matahari pagi.

Malam ini, saya akan pulang ke rumah. Sudah waktunya saya belajar untuk jujur. Saya harus mengaku di hadapan putri saya, bahwa saya penakut yang lebih banyak harus belajar mensyukuri hidup. Dan saya pun harus jujur mengaku dihadapannya, bahwa tatatapan mata sayangnya setiap hari lah yang masih membuat saya berani menjalani hidup ini.


HTML Romantis

Beberapa orang pengunjung kelas awal HTML yang saya (tanpa sengaja) buka seringkali bertanya, “HTML apa yang cocok untuk saya?”

Ini pertanyaan yang lucu. Tapi tentu saja tidak lucu buat si penanya. Maka ketika ada yang bertanya hal tersebut, saya berusaha untuk tidak tersenyum.

Buat beberapa orang, HTML itu adalah bahasa yang serius. Beberapa dari mereka memang akan memilih jalur sebagai arsitek pembangun, pengembang aplikasi, disainer front-end, hingga insinyur khusus tampilan (User Interfece). Semua itu, adalah profesi yang serius. Sebagaimana seriusnya profesi lainnya di muka bumi. Sebelum memutuskan untuk memilih jenis profesi, si penanya pasti sudah mati-matian memikirkan mengenai kelanjutan hidupnya di masa depan. Terutama dengan HTML.

Maka itu saya berusaha untuk tidak tersenyum. Melainkan bertanya balik dengan ramah, “Ada apa memangnya? Kan belajar itu baik? Apa saja bentuknya, HTML itu baik untuk dasar pelajaran kamu”

Beberapa orang pemula, akibat-teramat-pusing-sekaligus-stress biasanya sudah mulai gugup ketika akan memulai belajar bahasa markah HTML. Tidak tahu mana yang akan ia pilih. Apakah HTML, ataukah XHTML, atau DHTML, atau XML atau malah CSS. Bahkan beberapa orang bahkan sudah memilih akan belajar langsung JQuery, AJAX, JavaScript OOP atau DOM berbasis HTML.

Kasihan…

Setidaknya, saya kasihan pada mereka.

Beberapa orang loncat ke HTML dengan serta merta karena pada saat ini (2010 dan ke depan ketika HTML 5 sudah di terima seluruh perambah internet), lapangan pekerjaan buat sektor yang menjadikan bahasa HTML sebagai basis pengembangan memang amat menggiurkan. Tiga dari sepuluh pekerjaan dengan bayaran (per jam) terbesar di Amerika Serikat bahkan mensyaratkan kandidatnya untuk mengetahui HTML dengan baik.

Jadi, para penanya itu, dengan banyak ekspektasi sering tanpa sadar bertanya secara explisit “Saya mau belajar HTML. Saya mau naik gaji. HTML mana yang bisa membuat saya bergaji tinggi?”

Saya cengar-cengir menjawabnya.

Biasanya saya jawab “Dulu… Duluuu… Saya belajar HTML dengan cara… ”

Biasanya mereka tidak mau dengar cerita saya. Mungkin karena cerita saya terlalu kemayu. Tidak gagah atau jantan. Bahkan sama sekali tidak terdengar seperti ambisi naik gaji.

Saya pun tahu diri. Sebab mana ada orang yang mau mendengar bahwa saya belajar bahasa-bahasa mesin hanya karena patah hati dua belas tahun lalu. Alih-alih bunuh diri, saya malah pergi ke toko buku. Pulang membawa setumpuk buku pemrograman. Lantas mengurung diri berbulan-bulan dalam kamar bersama komputer. Karena tidak pandai menulis puisi, mencoba mengubur sakitnya romantisme masa muda dengan membuat film animasi cinta pada halaman HTML berbasis applet Java .

Ahh itu cerita yang bodoh. Tidak ada yang mau mendengarnya :)

Biasanya, jika ada yang bertanya apa HTML yang cocok untuknya, entah kenapa saya tiba-tiba berasa jadi bapak-bapak. Sebab selalu menjawab, “Kamu maunya jadi apa? Jadi arsitek, jadi developer, jadi enginer, jadi disainer… Jadi apa?”

Bukan menjawab pertanyaan, e-eh malah nanya balik. Hehe.

Kalau mau belajar HTML yang cepat, sebaiknya memang sudah tahu mau diapakan keahlian HTML itu. Sebab sekarang banyak modul di internet yang dengan mudah bisa dibaca dengan cepat sesuai dengan keinginan.

Lebih baik belajar HTML daripada patah hati. Hihihi

Pastéis de Tentúgal

image pastei de tentugal

Pastéis de Tentúgal adalah makanan khas dari Tentugal. Tentúgal adalah paroki Montemor-o-Velho , distrik Coimbra , Portugal . Desa ini terkenal di Portugal karena unik, tua dan kue pastelnya.

Related Posts:

Qakbot Lagi

image qakbot on microsoft firefront

Edan hari ini qakbot menyerang terus dan semakin menjengkelkan. Sudah ada perintah dari pusat untuk memakai Microsoft Forefront (client) sebagai sarana admin kami untuk memaintain sistem PC yang  berbasis windows. Namun akibat kepandaiannya berevolusi, saya lihat beberapa kali virus ini menyamar menjadi nama-nama baru dan bersembunyi di balik folder C:/. Program-program exe jelmaan qakbot ini benar-benar canggih. Selama beberapa menit, ia akan menggandakan diri (*udah kaya amuba aja*) dan lalu berganti nama (*kayak buronan kartu kridit*)
Daripada berlarut-laut dan jumlah PC yang terinfeksi mencapai ribuan di puluhan negara, maka akhirnya kami bekerja sama dengan pihak Microsoft untuk menghandle issue ini.
Symantec, salah satu usaha yang menghidupi dirinya dari pemberantasan hama pada komputer, mengatakan bahwa qakbot ini dapat menyelundupkan data sebesar 2 Gigabyte setiap minggunya. Umumnya data-data yang ada di file-file yang tersimpan di browser. Misalnya data history browsing dan kadang menanamkan keylogging.
Astaga!
Maka dengan serta merta, saya menghapus semua data yang ada dan tersimpan di browser dan lalu melakukan proses yang membutuhkan logging di mesin virtual (Oh! I love VMWare clien) dan melakukan semuanya di Sistem berbasis Ubuntu.
Setidaknya, tidak ada Qakbot ataupun virus trojan dan sejenisnya di Ubuntu dan saya merasa lebih aman serta percaya diri dalam beraktifitas di dunia online :)

1st Ground KLIA

KLIA 1st ground image

Kuala Lumpur International Airport first ground. Early in the morning, a lot of UN soldiers from Malaysia deployment were waiting their transport to conflict remote area and said ‘No pictures, please’ and smile waiving hands. Well, good luck, peacekeeper!

Related Posts:

Iklan Keren: Bermain Visual Teks

Baru saja membaca majalah men’s health, mata saya lagi-lagi tertumbuk pada dua buah iklan yang menurut saya keren:

1. Iklan celana Cargo

image celana cargo

2. Iklan pisau cukur Braun

image cukur braun

Kenapa keren?

Ini pertanyaan bagus. Sebab keren itu subjektif. Apa yang saya bilang keren belum tentu keren buat orang lain. Maka itu, ijinkanlah saya menerangkan sedikit mengenai kekerenan iklan-iklan ini;

1. Cargo jadi keren sebab iklan itu keluar dari pakem. Selain pakai tipikal jenis huruf (font) yang luar biasa banyaknya untuk ukuran iklan, ia pun tidak menampilkan foto pria (yang jadi sasaran pasar iklan celana ini) secara gamblang. Umumnya pria bertubuh aduhai pada layaknya iklan-iklan pakaian diganti menjadi simbolis yang berbentuk kata-kata. Pangsa pasarnya bisa jadi lebih spesifik lagi. Yaitu pria-pria yang menganggap dirinya gagah elegan (sebagaimana layaknya brand Cargo) tapi juga smart. Khas strereotip pria metroseksual :)

2. Braun jadi keren sebab tidak menampilkan pria berjenggot atau pria klimis. Melainkan pria klimis yang berjenggot kalimat-kalimat. Ini jelas keren dan cerdas, sebab kenapa sih pria yang mampu beli Braun berjenggot (padahal harga barang ini nggak murah)? Nah alasan-alasan itulah yang muncul sebagai pengganti tumbuhnya kasar-kasar akar rambut di sekitar dagu.

Dua iklan ini memakai teks sebagai objek utama dengan pria sebagai pendukungnya. Menarik! Sebab benar-benar di luar kebiasaan di mana pria (atau bentuk anamorphic lainnya) yang selalu menjadi objek.

Salut dan bravo…

KWK 05 Cilincing – Tanjung Priok

KWK 05

KWK singkatan dari Koperasi Wahana Kalpika. Entah apa arti sebenarnya. Sebab 05 adalah melayani rute Cilincing (mulai dari jembatan tinggi yang tingginya tidak seberapa itu di dekat pelelangan ikan) hingga terminal Tanjung Priok. KWK 05 on the rain, ladies and gents!

Related Posts:

Negara Bagian Bola

Seorang rekan kerja saya bertanya keheranan beberapa siang lalu, “Kamu kok nggak pake baju oranye?”

Saya meringis menjawab bahwa saya punya agenda untuk bertemu beberapa orang yang dianggap pabrik cukup penting pas pada jam pertandingan antara Belanda dengan Denmark. Jawaban lainnya, saya memang tidak mendukung satu tim pun dalam kejuaraan piala dunia. Buat saya, pertandingan-pertandingan ini mirip film seri drama aksi di layar televisi. Bedanya, tentu saja tidak sehitam-putih kisah cinta. Tidak ada bandit dan tidak ada jagoan di pertandingan sepakbola. (*Tapi itu sih pendapat saya, yang tentu saja amat sangat bisa diperdebatkan. Hehe*)

Dia menatap saya marah; “Seharusnya tidak ada seorangpun yang menghalangi kamu menonton pertandingan ini!” Lalu mulai menyalahkan pabrik yang semena-mena mengambil jatah waktu menonton sepakbola saya.

Saya cengar-cengir. Rekan saya ini, bukan supporter sejati. Namun buat dia jam rapat saya; yang antara jam satu hingga jam tiga siang itu, sungguh mengganggu. Peduli amat bahwa pertandingan ada pada jam produksi, piala dunia harus jadi prioritas utama.

Ketika saya akhirnya mengalah dan akan mengikuti pertandingan melalui siaran ulang, ia menjawab lagi; “Lebaran itu penting, tapi ada setiap tahun. Natal itu penting, tapi sama aja tetap ada tiap tahun. Ini piala dunia! Sekali dalam empat tahun!”

Saya terbahak mendengarnya.

Bola dalam pertandingan-pertandingan Piala Dunia itu katanya lebih sakti dari tongkat penyihir manapun. Sebab ia mampu membuat jutaan mata terpaku, membelalak, mendesis, berteriak dan lain sebagainya.

Pantas saja, rekan kerja saya ini, yang sama sekali bukan ahli bola, ikut-ikutan tersihir sudah.

Saya? Ahh saya bagaimana yaah?

Kalau boleh sedikit alasan, begini ceritanya. Saya kerja di pabrik dimana manusia-manusia dari segala penjuru dunia ada di sana. Bayangkan saja, negara antah berantah macam Ghana atau Slovenia saja, ada perwakilannya di pabrik saya. Dan sialnya, negara-negara antah berantah itu punya tim sepakbola yang muncul dalam pertandingan piala dunia 2010 kali ini.

Jadi bisa dibayangkan, betapa pabrik saya penuh dengan hiasan bendera, supporter yang memakai kaus kebanggaan negaranya masing-masing. Sliweran hilir mudik dengan santainya sambil dengan bangga mendukung kesebelasan mereka berlaga di pertandingan piala dunia di Afrika Selatan sana.

Saya? Buset dah! Dulu ada dua orang Indonesia di pabrik ini. Entah kenapa, akhirnya tinggal saya semata wayang sebagai WNI yang teridentifikasi di sini. Sialnya lagi, tahun 2010 ini, kesebelasan Indonesia tidak berlaga di piala dunia sana. Jadi, mau dukung siapa dong saya?

Karena beberapa kali di tanya oleh teman-teman bahwa kenapa Indonesia tidak ikut Piala Dunia sepakbola di Afrika Selatan, saya sempat garuk-garuk kepala? Itu pertanyaan yang bagus. Mungkin pertanyaan seharga jutaan dollar. Artinya, untuk menjawab itu mungkin butuh biaya jutaan dollar sebelumnya. (*Misalkan saya menjawab, “oh ya, Indonesia sudah pasti akan berlaga nanti kalau jadi tuan rumah piala dunia di tahun dua ribu sekian” itu artinya biaya APBN akan membengkak gila-gilaan*)

Saking sebalnya ditanya-tanya terus soal piala dunia, akhirnya saya putuskan untuk duduk di tepi taman dekat pabrik bersama seorang rekan kerja yang nampaknya juga tidak punya kesebelasan sepakbola untuk disoraki.

Saya: “Hmhh, emang begini nih nasib kita. Nggak punya tim di Afrika sana”
Dia: “Err, saya dari Guadalupe…”
Saya: “Iya, saya tau. Guadalupe kan pulau”
Dia: “Iya kamu benar. Kami ada di pulau kecil. Tapi kami bagian dari negara Mexico. Dan asal kamu tau, Mexico memberangkatkan tim sepakbola ke Afrika Selatan. Kamu kenapa sih Rip lesu aja?”

Hah! Kampret. Saya kira saya bertemu dengan teman senasib sepenanggungan.

Akhirnya setelah menyelesaikan makan siang (yang mati-matian saya belokkan topiknya menjadi pariwisata pantai daripada terus-terusan ngomongin bola), kami kembali menuju departemen masing-masing.

Sambil membereskan rantang makan siangnya, Si Guadalupe berterimakasih atas obrolan siang itu. Ia bertanya, “Kenapa kamu tidak pakai kaus Indonesia? Ayo dong dukung tim Indonesia di Afrika sana!”

Entah kenapa, saya hanya cengar-cengir menjawabnya. Sebab tidak mungkin saya bilang Indonesia adalah bagian dari Mexico. Hehe.


Di Belakang Bajaj

image supir bajay

Yang benar bajaj atau bajay?

Lebih lanjut mengenai bajaj bisa dilihat di blog paman Tyo

Related Posts: