HTML Romantis

Beberapa orang pengunjung kelas awal HTML yang saya (tanpa sengaja) buka seringkali bertanya, “HTML apa yang cocok untuk saya?”

Ini pertanyaan yang lucu. Tapi tentu saja tidak lucu buat si penanya. Maka ketika ada yang bertanya hal tersebut, saya berusaha untuk tidak tersenyum.

Buat beberapa orang, HTML itu adalah bahasa yang serius. Beberapa dari mereka memang akan memilih jalur sebagai arsitek pembangun, pengembang aplikasi, disainer front-end, hingga insinyur khusus tampilan (User Interfece). Semua itu, adalah profesi yang serius. Sebagaimana seriusnya profesi lainnya di muka bumi. Sebelum memutuskan untuk memilih jenis profesi, si penanya pasti sudah mati-matian memikirkan mengenai kelanjutan hidupnya di masa depan. Terutama dengan HTML.

Maka itu saya berusaha untuk tidak tersenyum. Melainkan bertanya balik dengan ramah, “Ada apa memangnya? Kan belajar itu baik? Apa saja bentuknya, HTML itu baik untuk dasar pelajaran kamu”

Beberapa orang pemula, akibat-teramat-pusing-sekaligus-stress biasanya sudah mulai gugup ketika akan memulai belajar bahasa markah HTML. Tidak tahu mana yang akan ia pilih. Apakah HTML, ataukah XHTML, atau DHTML, atau XML atau malah CSS. Bahkan beberapa orang bahkan sudah memilih akan belajar langsung JQuery, AJAX, JavaScript OOP atau DOM berbasis HTML.

Kasihan…

Setidaknya, saya kasihan pada mereka.

Beberapa orang loncat ke HTML dengan serta merta karena pada saat ini (2010 dan ke depan ketika HTML 5 sudah di terima seluruh perambah internet), lapangan pekerjaan buat sektor yang menjadikan bahasa HTML sebagai basis pengembangan memang amat menggiurkan. Tiga dari sepuluh pekerjaan dengan bayaran (per jam) terbesar di Amerika Serikat bahkan mensyaratkan kandidatnya untuk mengetahui HTML dengan baik.

Jadi, para penanya itu, dengan banyak ekspektasi sering tanpa sadar bertanya secara explisit “Saya mau belajar HTML. Saya mau naik gaji. HTML mana yang bisa membuat saya bergaji tinggi?”

Saya cengar-cengir menjawabnya.

Biasanya saya jawab “Dulu… Duluuu… Saya belajar HTML dengan cara… ”

Biasanya mereka tidak mau dengar cerita saya. Mungkin karena cerita saya terlalu kemayu. Tidak gagah atau jantan. Bahkan sama sekali tidak terdengar seperti ambisi naik gaji.

Saya pun tahu diri. Sebab mana ada orang yang mau mendengar bahwa saya belajar bahasa-bahasa mesin hanya karena patah hati dua belas tahun lalu. Alih-alih bunuh diri, saya malah pergi ke toko buku. Pulang membawa setumpuk buku pemrograman. Lantas mengurung diri berbulan-bulan dalam kamar bersama komputer. Karena tidak pandai menulis puisi, mencoba mengubur sakitnya romantisme masa muda dengan membuat film animasi cinta pada halaman HTML berbasis applet Java .

Ahh itu cerita yang bodoh. Tidak ada yang mau mendengarnya :)

Biasanya, jika ada yang bertanya apa HTML yang cocok untuknya, entah kenapa saya tiba-tiba berasa jadi bapak-bapak. Sebab selalu menjawab, “Kamu maunya jadi apa? Jadi arsitek, jadi developer, jadi enginer, jadi disainer… Jadi apa?”

Bukan menjawab pertanyaan, e-eh malah nanya balik. Hehe.

Kalau mau belajar HTML yang cepat, sebaiknya memang sudah tahu mau diapakan keahlian HTML itu. Sebab sekarang banyak modul di internet yang dengan mudah bisa dibaca dengan cepat sesuai dengan keinginan.

Lebih baik belajar HTML daripada patah hati. Hihihi

0 Responses to “HTML Romantis”


Comments are currently closed.