Seorang rekan kerja saya bertanya keheranan beberapa siang lalu, “Kamu kok nggak pake baju oranye?”
Saya meringis menjawab bahwa saya punya agenda untuk bertemu beberapa orang yang dianggap pabrik cukup penting pas pada jam pertandingan antara Belanda dengan Denmark. Jawaban lainnya, saya memang tidak mendukung satu tim pun dalam kejuaraan piala dunia. Buat saya, pertandingan-pertandingan ini mirip film seri drama aksi di layar televisi. Bedanya, tentu saja tidak sehitam-putih kisah cinta. Tidak ada bandit dan tidak ada jagoan di pertandingan sepakbola. (*Tapi itu sih pendapat saya, yang tentu saja amat sangat bisa diperdebatkan. Hehe*)
Dia menatap saya marah; “Seharusnya tidak ada seorangpun yang menghalangi kamu menonton pertandingan ini!” Lalu mulai menyalahkan pabrik yang semena-mena mengambil jatah waktu menonton sepakbola saya.
Saya cengar-cengir. Rekan saya ini, bukan supporter sejati. Namun buat dia jam rapat saya; yang antara jam satu hingga jam tiga siang itu, sungguh mengganggu. Peduli amat bahwa pertandingan ada pada jam produksi, piala dunia harus jadi prioritas utama.
Ketika saya akhirnya mengalah dan akan mengikuti pertandingan melalui siaran ulang, ia menjawab lagi; “Lebaran itu penting, tapi ada setiap tahun. Natal itu penting, tapi sama aja tetap ada tiap tahun. Ini piala dunia! Sekali dalam empat tahun!”
Saya terbahak mendengarnya.
Bola dalam pertandingan-pertandingan Piala Dunia itu katanya lebih sakti dari tongkat penyihir manapun. Sebab ia mampu membuat jutaan mata terpaku, membelalak, mendesis, berteriak dan lain sebagainya.
Pantas saja, rekan kerja saya ini, yang sama sekali bukan ahli bola, ikut-ikutan tersihir sudah.
Saya? Ahh saya bagaimana yaah?
Kalau boleh sedikit alasan, begini ceritanya. Saya kerja di pabrik dimana manusia-manusia dari segala penjuru dunia ada di sana. Bayangkan saja, negara antah berantah macam Ghana atau Slovenia saja, ada perwakilannya di pabrik saya. Dan sialnya, negara-negara antah berantah itu punya tim sepakbola yang muncul dalam pertandingan piala dunia 2010 kali ini.
Jadi bisa dibayangkan, betapa pabrik saya penuh dengan hiasan bendera, supporter yang memakai kaus kebanggaan negaranya masing-masing. Sliweran hilir mudik dengan santainya sambil dengan bangga mendukung kesebelasan mereka berlaga di pertandingan piala dunia di Afrika Selatan sana.
Saya? Buset dah! Dulu ada dua orang Indonesia di pabrik ini. Entah kenapa, akhirnya tinggal saya semata wayang sebagai WNI yang teridentifikasi di sini. Sialnya lagi, tahun 2010 ini, kesebelasan Indonesia tidak berlaga di piala dunia sana. Jadi, mau dukung siapa dong saya?
Karena beberapa kali di tanya oleh teman-teman bahwa kenapa Indonesia tidak ikut Piala Dunia sepakbola di Afrika Selatan, saya sempat garuk-garuk kepala? Itu pertanyaan yang bagus. Mungkin pertanyaan seharga jutaan dollar. Artinya, untuk menjawab itu mungkin butuh biaya jutaan dollar sebelumnya. (*Misalkan saya menjawab, “oh ya, Indonesia sudah pasti akan berlaga nanti kalau jadi tuan rumah piala dunia di tahun dua ribu sekian” itu artinya biaya APBN akan membengkak gila-gilaan*)
Saking sebalnya ditanya-tanya terus soal piala dunia, akhirnya saya putuskan untuk duduk di tepi taman dekat pabrik bersama seorang rekan kerja yang nampaknya juga tidak punya kesebelasan sepakbola untuk disoraki.
Saya: “Hmhh, emang begini nih nasib kita. Nggak punya tim di Afrika sana”
Dia: “Err, saya dari Guadalupe…”
Saya: “Iya, saya tau. Guadalupe kan pulau”
Dia: “Iya kamu benar. Kami ada di pulau kecil. Tapi kami bagian dari negara Mexico. Dan asal kamu tau, Mexico memberangkatkan tim sepakbola ke Afrika Selatan. Kamu kenapa sih Rip lesu aja?”
Hah! Kampret. Saya kira saya bertemu dengan teman senasib sepenanggungan.
Akhirnya setelah menyelesaikan makan siang (yang mati-matian saya belokkan topiknya menjadi pariwisata pantai daripada terus-terusan ngomongin bola), kami kembali menuju departemen masing-masing.
Sambil membereskan rantang makan siangnya, Si Guadalupe berterimakasih atas obrolan siang itu. Ia bertanya, “Kenapa kamu tidak pakai kaus Indonesia? Ayo dong dukung tim Indonesia di Afrika sana!”
Entah kenapa, saya hanya cengar-cengir menjawabnya. Sebab tidak mungkin saya bilang Indonesia adalah bagian dari Mexico. Hehe.
0 Responses to “Negara Bagian Bola”