Monthly Archive for July, 2010

Apache Musrik

Sesuai judul, saya bisa menulis pagi ini karena memang Apache, perangkat lunak penyedia jalannya server sedang down. Semua aplikasi yang dibuat team kami tidak bisa diakses. Yang parah, tadi pagi ada meeting bersama para ‘big guy‘ dan ketika mereka akan mengetik alamat URL website kami terpaksa saya bilang “Sori, lagi down, bapak-bapak ibu-ibu. Sedang diperbaiki. On progress”

Fiuhh, untung mereka mengerti.

Balik lagi ke Apache. Saya kira, seperti biasa. Masalah akan hilang ketika Apache di restart. Atau mesin di restart. Biasa lah, standar operasional IT toh begitu.

Namun, sialnya tetap saja tidak bisa. Maka, langsung saya nyalakan JBoss (*Yang selalu saya simpan sebagai backup untuk jaga-jaga jika ada masalah seperti ini*)

Astaga, JBOSS juga tidak mempan!

Saya coba untuk sabar. Walaupun berkali-kali dialog box dari OS muncul peringatan bahwa HTTPD crashed dan butuh ditindak-lanjuti.

Setelah bongkar-bongkar error log, saya coba mencarinya di Google. Tapi setelah sekian lama mencari, saya kebingungan. Bahkan mesin pencari pun tidak memberikan jawaban banyak (*saya hanya dapat empat entri link sebagai hasil pencarian dari Google. Dari Bing dan lainnya lebih parah, nol besar*)

Saya kirimi departemen IT surat dengan perincian masalah dan semua yang telah saya lakukan dalam mencari solusinya. Sambil terus terang berkata bahwa saya mencari nafkah menggunakan Apache, maka itu hal ini menjadi penting.

Orang IT menjawab pendek: “Mas kalo google aja nggak bisa jawab, apalagi kita!”

Saya cengar-cengir membacanya. Saya balas lagi: “Bantuin dong…”

Dan saya dapat jawaban yang mencengangkan. “Mas, kita ini IT bukan Tuhan. Jangan menggantungkan apa-apa sama kita. Itu musrik namanya”

Dan saya pun tak mampu lagi menahan tawa.

Memahami Dasar CSS versi Lie

foto Håkon Wium LieSaya telat, baru baca tesisnya Håkon Wium Lie. Ini tesis keren sekali. Judulnya Cascading Style Sheets. Iya benar, CSS. Asal mula dan bagaimana terbentuknya CSS ada di sini.

Kenapa telat?

Nggak, saya nggak begitu telat. Saya sudah baca bukunya Lie yang edisi pertama Cascading Style Sheets: Designing for the Web. Buku ini penting buat awal-awal perkembangan membuat sketsa design dan menentukan arsitektural website. Buku ini memang implementasi dari tesisnya Lie.

Loh jadi kenapa telat?

Iya, saya telat tahu kalau buku itu punya versi html dan pdf nya yang bisa dibaca gratis. Kalau tahu begini mah, ngapain juga dulu maksa-maksa kantor beliin buku itu. Hahaha. Mungkin gara-gara saya nggak mau rugi kali yaah. Hahaha.

Untuk teman-teman yang berminat membaca tesisnya Lie, silahkan ke link berikut ini:
HTML: http://people.opera.com/howcome/2006/phd/
PDF: http://people.opera.com/howcome/2006/phd/css.pdf

Lebih lanjut mengenai Lie yang juga bosnya Opera (yang internet browser, bukan yang nyanyi)… Berikut ini kutipan beliau mengenai dirinya sendirinya:

“So, somewhat by accident, I was the first person to type the now ubiquitous string “HTML 3.2” into a computer. A few small key strokes for a man, a giant leap for the web.”

Nomor Telepon Bill Gates

foto bill gates

Salah seorang klien (yang meminta tim kami membuat webnya) datang mengeluh:

Saya: “Ada yang bisa saya bantu, Bu?”
Ia: “Kok webnya saya nggak jalan?”

Waktu itu, saya curiga ada bug di halaman aplikasi web yang kami kembangkan buat beliau. Maka saya buka komputer dan langsung menuju URL yang ia maksud (*Kebetulan saya bookmark, jadi bisa lebih cepat ke sana*). Setelah saya cek di browser, test berulang-ulang, lalu memeriksa feedback dan SVN untuk melihat deployment terakhir. Saya bingung, semuanya nampak baik-baik saja.

Saya: “Loh kok ini jalan, Bu? Bagus malah”

Si Ibu kebingungan, “Tapi di rumah ga jalan”

Saya yang mulai curiga dengan browser yang beliau pakai lalu bertanya, “Di rumah pakai apa, Bu?”

“Biasa aja tuh, pake daster”

Hah!

“Bukan Bu, maksud saya di rumah ibu pake komputer apa?”

“Komputer saya lah. Masak komputer anak saya. Kamu gimana sih?”

“Umm, maaf, saya coba rephrase kalimat saya. Di rumah, Ibu pakai komputer sistem apa dan browser apa ketika mengecek web Ibu?”

“Mana saya tahu yang begitu. Coba kamu telpon ini anak saya”, katanya sambil menyodorkan telepon genggamnya.

Beberapa menit kemudian, dari anaknya, saya tahu kalau si Ibu memakai windows 98 dan (tentu saja) perambah internet dengan Internet Explorer 6.

“Bu, web Ibu nggak bisa dibuka dengan Internet Explorer 6 yang ada di komputer Ibu. Kan waktu awal kontrak kita semua sudah setuju kalau web Ibu nggak akan support Internet Explorer 6 karena Ibu minta usability yang nggak bisa di dukung software itu” kata saya sambil senyum

Beliau ngotot, “Saya nggak mau tau, pokoknya saya mau liat website saya di rumah!”

“Waduh Bu, itu bisa ngerubah kontrak”

“Pokoknya saya nggak mau tahu!”

Saya coba sabar. Akhirnya ketemu deh triknya. Beliau ini amat perhitungan soal bujet proyek. Semuanya harus dirasionalisasikan. Saya suka itu. Tapi untuk saat ini beliau nampaknya tidak rasional. Maka, saya coba mendekati beliau melalui bujet dan rasional aspek.

“Bu, kalau Ibu ngerubah kontrak akan membuat bujet proyek kita membengkak {sambil menyebut persentase}. Itu besar loh, Bu. Sementara kalo Ibu ganti browser, gratis. Saya bisa telpon anak Ibu untuk membantunya menginstal Opera atau Chrome di komputer, Ibu. Pilih mana?”

Beliau diam sejenak. Lumayan lama. Sambil menatap saya galak. “Siapa sih itu yang bikin komputer saya di rumah?”

“Kalau perangkat kerasnya saya nggak tahu, Bu. Tapi kalo sistem dan perambah internetnya, namanya Bill Gates dan teman-temannya”

Masih menatap galak ia bertanya, “Kamu tahu nomor teleponnya orang itu. Biar sini saya telpon. Kurang ajar itu orang!”

Saya tidak jawab apa-apa, hanya bisa menatap beliau sambil garuk-garuk kepala.

Pasar Komunikasi Engineer

image logo ieeeTadi pagi saya baru saja membaca artikel lawas karya Alfred Norton Goldsmith. Disebut artikel lawas karena terbitnya sudah dari tahun 1958 lalu.

Dalam majalah IEEE (di baca; “I Triple E”) ini Pak Alfred menulis mengenai pentingnya kemampuan verbal dalam bicara maupun menulis di dunia engineer. Judul aslinya adalah Good Writing and Speech-Their Importance to the Engineer: Augustus 1958: Goldsmith, Alfred.N

Saya tahu majalah i-tripel-e memang menuai kritik dari RMS (Richard Matthew Stallman, terpujilah nama beliau dan selalu dirahmati oleh Yang Maha Open Source) karena ‘meminta transfer copyright dari penulis dan lalu menjual artikel, tanpa memberi penulis imbalan’. Namun apa daya, majalah peer-review ini keren banget sih. Hehe.

Walaupun begitu, pada intinya dari artikel Pak Alfred adalah mengingatkan kepada para insinyur (atau calon insinyur atau siapalah yang mengaku atau malah macam wannabe jadi-jadian model saya begini) agar lebih memperbaiki kemampuan mereka dalam berbicara dan menulis. Tentu saja yang berhubungan dengan dunia engineering. Walaupun tidak menutup kemungkinan terhadap dunia lainnya.

Kemampuan menulis dalam engineering itu penting. Apalagi ketika sudah ada istilah RTFM (Read The F**king Manual). Dimana hampir 80% panik masalah perangkat lunak/keras bisa diselesaikan apabila manual nya di baca dengan baik (sumber : http://www.readthefuckingmanual.com/). Maka manual itu pun harus bisa di tulis dengan baik.

Dalam tataran tertentu, Pak Alfred menjelaskan bahwa kemampuan verbal komunikasi berbicara juga amat penting dalam dunia engineering. Jika anda sedang menempuh sekolah tinggi akhir misalnya dan lalu suatu hari harus bicara mempresentasikan penelitian di depan publik, tentu saja di tuntut harus bicara di depan publik.

Selain itu, ada yang tidak kalah pentingnya; yaitu komunikasi dalam membangun jaringan.

Masalah komunikasi ini memang sungguh luar biasa. Saya ingat suatu hari iklan situs kencan di sebuah majalah pria. Isinya seorang pria dengan pakaian lengkap sambil memegang sekuntum mawar yang terbaring di ranjang rapi pada petang hari pukul 19.30 di hari sabtu. Di bawahnya ada tulisan “David. Really good system analysers. Bad at dating”

Mungkin engineer yang baik itu adalah engineer yang kemampuan komunikasinya tinggi kali yaah. Jadi, selalu lancar kalo ngobrol dengan lawan jenis. Hehehe…

Kalau memang engineer susah komunikasi, mungkin ini sebuah pasar baru. Yaitu mengajarkan para engineer-engineer yang kesulitan tersebut untuk lebih memahami komunikasi. Terutama komunikasi terhadap lawan jenis. Hahaha…