Monthly Archive for August, 2010

Lagu: Fakta Kampung Kami

Biasa. Lagi ribut lagi sama tetangga kampung sebelah. Daripada nyinyir menyindir tetangga. Lebih baik saya menyanyi untuk diri sendiri.

Well, sebenarnya saya tidak hanya akan menyanyi untuk diri sendiri. Sebab lagu ini cocok banget ditujukan untuk saya. Tapi lebih asik dong kalau saya juga menyanyi untuk orang-orang sekampung saya. Hihihi.

Ini nyanyiannya,

Judulnya;

Fakta Kampung Kami
oleh:bangaip_topdeh

Kampung kami, dianugrahi cahaya. Tapi kenapa warganya takut matahari.
Putih jadi obsesi. Kulit coklat tidak bergengsi.

Kampung kami, dianugrahi bakat. Mati-matian anak harus keluar negeri.
Sekolah dan pulang, Nak. Lalu bergaji tinggi. Padahal begitu di luar negeri malas kembali.

Kampung kami, dianugrahi rindu. Sibuk dijadikan kambing hitam.
Semua pergi tidak apa-apa. Yang penting setahun sekali lebaran mudik kesini.

Kampung kami, dianugurahi alam kaya. Anehnya kebanyakan rakyat menderita.
Yang susah, meneriaki Tuhan setiap hari. Yang tidak, memuja mall sebagai dewa.

Kampung kami, dianugrahi cinta. Kadang lupa kondom dengan sengaja.
Kalau ditegur, jawabnya “Yaa besok gimana besok aja”

Kampung kami, dianugrahi budaya. Tidak lupa emosi yang menyertainya.
Dikit senggol bisa bacok. Dari joged dangdut hingga tetangga menari reog.

Kampung kami dianugrahi kemerdekaan. Semua bisa bicara semaunya.
Bebas menuding setiap hari. Lupa kalau masih punya kuping dan punya hati.

Selamat bernyanyi… Maaf kalau bikin marah. Niat saya mah, ikhlas menghibur akhir pekan anda.
Selamat berakhir pekan
:)


I’m With Andrea

conquror cafe

Hallo Andrea

Related Posts:

  • No Related Posts

Sakelar

Saklar dalam bahasa Afrika Selatan adalah skakelaar

“‘n Elektriese skakelaar is ‘n toestel wat daarop gemik is om twee geleiers aan mekaar te verbind of die verbinding tussen twee elektriese geleiers te onderbreek. Die bekendste skakelaars is dié wat in gewone huishoudelike toepassings gebruik word om ‘n ligte of ander toestelle aan of af te skakel. Skakelaars word ook dikwels in die elektronika gebruik, in rekenaars en in telekommunikasie. Hierde toepassings benut gewoonlik elektroniese skakelaars, hierdie artikel konsentreer egter meer op skakelaars wat tipies in swaarstroom toepassings soos wat tipies in huishoudelike toepassings, kantore en fabrieke gebruik word.”

Related Posts:

Obelix Gajah

Suatu hari Obelix menyamar menjadi gajah di kebun binatang Emmen

Related Posts:

Elephant Bandit (Dalton)

One day this cute bandit perform on Emmen Zoo to show public his ability to heartthrob children attention

Related Posts:

Apa Pekerjaan Yang Cocok Untuk Saya Bahagia?

Tadi pagi saya baru saja baca Yahoo News. Kebetulan artikelnya menarik perhatian, sebab penuh kontroversi. Bukan mengenai wikileaks dan hidup pendirinya Jullian Assange yang mantan hacker dan kini diburu oleh Pemerintah US. Bukan itu. Melainkan sesuatu yang membumi. Yaitu masalah gaji :)

Yahoo menurunkan berita berjudul “Worst-Paying College Degrees in 2010″. Kalau tidak salah, terjemahannya kira-kira adalah “Ijasah Sarjana Dengan Gaji Terburuk di Tahun 2010″. Selebihnya kalau mau tahu bisa membaca di sini.

Namun agar memudahkan pembaca, saya coba ambil diagram pemicu kontroversi tersebut. Berikut ini adalah diagramnya;

Ijasah Sarjana Dengan Gaji Terburuk di Tahun 2010 (USA)
Ijasah Sekolah Gaji Awal Gaji Tengah Karir
1. Ilmu Anak dan Keluarga $29,500 $38,400
2. Pendidikan Dasar $31,600 $44,400
3. Sosial $31,800 $44,900
4. Atletik $32,800 $45,700
5. Kuliner $35,900 $50,600
6. Hortikultura $35,000 $50,800
7. studi Hukum (Paralegal) $35,100 $51,300
8. Teologi $34,700 $51,300
9. Rekreasi dan Hiburan $33,300 $53,200
10. Pendidikan Khusus $36,000 $53,800
11. Diet $40,400 $54,200
12. Ilmu Agama $34,700 $54,400
13. Seni $33,500 $54,800
14. Pendidikan Umum $35,100 $54,900
15. Studi Antar Disiplin Ilmu $35,600 $55,700
16. Interior Design $34,400 $56,600
17. Nutrisi $42,200 $56,700
18. Disain Grafis $35,400 $56,800
19. Musik $36,700 $57,000
20. Sejarah Seni $39,400 $57,100

Dalam 24 jam semenjak tulisan itu dipamerkan di dunia maya, telah memancing lebih dari lima ribu komentar. Bayangkan, lebih dari lima ribu!

Kenapa?

Sebab gaji itu universal. Sebagaimana pekerjaan yang universal, gaji adalah merupakan bagian darinya. Hampir semua orang yang berkomentar, marah terhadap opini si penulis. Sebab bukan karena si penulis memaparkan data melalui tabel di atas. Melainkan karena di akhir tulisannya si penulis berkata “Jika kamu mau memperoleh gaji yang besar, lebih baik sekolah di perguruan tinggi dengan jurusan yang banyak matematikanya. Sebab dengan begitu gaji kamu nanti lebih baik

Gong penutup tulisan itu menarik. Opini pribadi si penulis Lynn O’Shaughnessy (yang apabila di riset sedikit dengan social engineering, tidak memiliki latar belakang pendidikan yang berhubungan dengan matematika). Amat kontroversial.

Apakah tulisan penutup itu salah?

Mungkin iya, mungkin tidak.

Pendapat itu tidak salah. Sebab Nyonya O’Shaughnessy sendiri adalah pengamat dunia kampus. Saya pikir, beliau tidak akan terlalu tolol mengirimkan dirinya ke jurang jeopardi dengan menerbitkan diagram yang tidak didukung oleh data yang kuat dan akurat. Sebab itu akan meredupkan ketenaran dirinya sebagai seorang penulis best seller dunia kampus. Jika beliau memaparkan sebuah tulisan, maka data-data yang ia miliki, harus memuat realita apa adanya. Jadi, jika ia bilang bahwa matematika akan membuat anda kaya. Bisa jadi karena data yang ia lihat menceritakan begitu kepadanya. Dan sebagai pengamat, saya yakin beliau amat paham dengan statistik. Sebab output statistik sendiri adalah netralitas angka-angka dingin yang menyeramkan yang terdiri dari kumpulan data dan fakta.

Namun, mengapa pendapat itu jadi salah?

1. Krisis

Sejak tahun 2007, krisis melanda Amerika Serikat. Bahkan hingga 2010 ketika tulisan ini diturunkan, Amerika masih dilanda krisis. Eksesnya, Pemerintah US melakukan pemangkasan di mana-mana sebagai upaya menyelamatkan negara mereka dari kebangkrutan. Orang-orang cerdas di Amerika sibuk mencari pangkal akibat mengapa mereka bisa bangkrut dan sibuk mencari pemecahannya.

Krisis ini parah. Benar-benar parah. Dalam filmnya Capitalism: A Love Story, Michael Moore, seorang sutradara film dokumenter terkenal, menuduh pialang saham Wall Street sebagai pencuri uang rakyat Amerika. Pada intinya, krisis ini parah. Menghancurkan banyak industri. Membuat banyak orang dipecat dari pekerjaannya. Hingga banyak orang jadi pengangguran. Bahkan sarjana post-graduate pun banyak yang kehilangan pekerjaannya.

Banyak sarjana berijasah yang marah dengan tulisan penutup Nyonya O’Shaughnessy. Bahkan diantaranya sarjana matematika yang berkomentar bahwa ia seumur hidup berurusan dengan matematika dan kena sial sebab dipecat dari pekerjaannya. Kini si sarjana tersebut, ternyata lebih menikmati hidup menjadi penebang kayu di Alaska. Ia bersyukur masih punya pekerjaan dalam badai krisis ini.

2. Statistik

Pisau bedah bernama statistik itu punya dua sisi yang sama tajamnya. Kelebihan statistik adalah ia mampu menerjemahkan massive data dan fakta dalam tempo yang cepat dan mudah di baca. Kekurangannya adalah, jika digunakan dalam parameter yang terlalu lebar, akan terjadi ketimpangan data.

Nyonya O’Shaughnessy terjebak dalam menggunakan statistik ini. Beberapa orang yang memiliki ijasah sarjana dalam gaji tingkat terendah tabulasi di atas mengaku bahwa mereka memiliki penghasilan yang jauh-jauh lebih banyak daripada angka-angka paparan si Nyonya. Ketika orang-orang ini berkomentar, kesahihan data dalam tulisan Nyonya O’Shaughnessy memicu pertanyaan yang cukup serius di benak banyak orang. Mereka berfikir, “Jangan-jangan si Nyonya cuma asal ngomong!”

Di sini, statistik data sang Nyonya yang menjadi tulang punggung tulisan, pun amat bisa diperdebatkan. Dan ketika bahan dasar ramuan data sudah diragukan, maka apapun hasil racikannya, tentu tidak bisa dengan amat mudah jadi obat yang mujarab buat publik.

3. Fakta

Menurut salah seorang sahabat saya, “Kejujuran itu Brutal”. Sebab dapat menyakiti hingga seperih-perihnya perasaan manusia.

Analogi yang dipakai dengan idiom ini adalah, jika data Nyonya O’Shaughnessy adalah sebenar-benarnya data. Maka ada tiga ijasah sarjana yang akan membuat hidup pemegangnya dalam pekerjaan yang bergaji rendah hingga susah hidup. Tiga pekerjaan itu adalah;

1. Ilmu Anak dan Keluarga
2. Pendidikan Dasar
3. Kerja Sosial

Mengapa ‘Kejujuran itu Brutal’?

Jika sebuah sistem pendidikan dan tatanan masyarakat, sudah tidak lagi menghargai Anak dan Keluarga. Tidak lagi peduli akan pendidikan dasar dan mulai memudarkan prinsip-prinsip berbagi peduli dalam tindak kerja sosial. Sampai kapan bangsa itu akan bertahan?

Jadi sekali lagi, jika data Nyonya O’Shaughnessy adalah sejujur-jujurnya data, maka sistem pendidikan dan masyarakat Amerika adalah tatanan yang sungguh brutal.

Analogi ini, juga dipakai oleh banyak warga Amerika yang membaca tulisan si Nyonya dan amat menyakiti perasaan mereka.

4. Memusnahkan Harapan

Beberapa orang, jadi guru, bukan karena menginginkan gaji yang besar. Sebab gaji guru memang terkenal tidak besar. Beberapa orang jadi pemadam kebakaran bukan karena gaji yang besar. Sebab pemadam kebakaran pun memiliki bayaran yang tidak terlalu besar. Beberapa orang, jadi seniman, bukan karena cita-cita muluknya punya tabungan di bank bermilyar-milyar.

Beberapa orang, sekolah dan lalu mendapat ijasah untuk bekerja menjadi apa yang ia inginkan adalah karena ia mencintai apa yang ia lakukan. Beberapa orang lagi, mungkin tidak melalui jalur sekolah dan tidak pernah mendapatkan ijasah, namun berusaha sekuatnya untuk sedekat mungkin melakukan sesuatu yang ia cintai untuk dilakukan.

Tidak semua orang di muka bumi melakukan pekerjaannya demi uang belaka. Masih banyak orang yang bercita-cita bisa membuat perubahan di dunia ini dengan cara mereka masing-masing.

Tulisan Nyonya O’Shaughnessy, yang sialnya ditulis dalam masa krisis ini, dipandang oleh banyak komentator sebagai pemujaan uang diatas segalanya. Ketika banyak orang berusaha keluar dari krisis finansial ini dengan melakukan sesuatu yang mereka cintai (dan mungkin tidak terlalu banyak menghasilkan uang), tulisan sang Nyonya melemahkan mental mereka. Diantaranya adalah mental-mental anak muda yang baru saja lulus sekolah dan langsung melihat realita perihnya industri Amerika. Dimana-mana, susah cari kerja.

————————————————————————–

Saya pribadi, suka tulisan sang Nyonya. Bukan akibat data yang diusungnya. Melainkan suka sebagai wacana. Sebagaimana saya suka komentar-komentar positif atau negatif pembacanya. Bisa banyak belajar dari tulisan kontroversi itu.

Belajar bahwa masih banyak orang yang beranggapan bahwa hidup itu tidak melulu soal uang. Belajar bahwa masih banyak manusia di luar sana yang nasibnya sama seperti saya, yang harus berjuang setiap hari untuk menafkahi anak istri di tengah resesi. Belajar bahwa, sebaiknya jangan pernah membunuh mimpi.

Ya sudah. Sekian dulu tulisan minggu ini. Akhir kata, mohon maaf lahir batin dan selamat berakhir pekan :)

Omong-omong, berapa penghasilan anda? Dan apakah anda bahagia?


Mencari Kebahagiaan Di Selangkangan Janda – 4

(*Sambungan dari bagian 3*)

Bosan mendengar cerita Odi yang tidak jauh dari alam gaib serta cerita-cerita dewasa antara ia dan mantan-mantan istrinya (dan juga perempuan-perempuan lain diantaranya. Dan semuanya janda), saya keluar bersama Damin.

Sudah malam. Sudah pukul dua dini hari. Beberapa cafe masih buka. Masih banyak turis lalu lalang. Meskipun suhu udara musim panas ini tidak lebih dari 15 derajat. Rupa-rupanya masih banyak manusia yang menikmati dunia malam.

Damin mengajak saya duduk di sebuah cafe yang seringkali dijadikan rendezvouz para pegawai perserikatan bangsa-bangsa. Dulu, kami sering duduk di sana. Sebab pemiliknya adalah sahabat Damin.

Sambil menyeruput teh, Damin berkata, “Gua orang Jawa, Rip. Gua nggak bisa nasehatin lo pake kalimat laen. Kata orang jawa… Jangan melulu ngeliat ke atas. Nanti kejeblos. Jangan melulu ngeliat kebawah, nanti kejedot. Kalo jalan, jalan yang bener. Lihat seperlunya biar sampai tujuan”

Saya selalu bingung dengan filosofi jawa. Sebagaimana saya selalu kebingungan dengan pemerintahan Orde Baru dahulu yang menerapkan filosofi wayang terhadap Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI).

Maka itu saya bertanya, “Gua nggak ngerti, Dam?”

“Sekali-kali, liat orang laen. Orang yang nggak seberuntung lu. Jangan ngeliat ke atas terus. Coba bandingin idup lu ama Odi. Rip, dia itu ampir gila waktu ketemu gua. Sehari nenggak ekstasi bisa sampe 30 biji. Temennya bandar ama pengedar. Nggak punya kerja. Kerjanya yaa jadi bahan percobaan obat-obat baru temennya. Umur udah ampir kepala empat. Tabungan nggak punya. Keluarga ga punya. Sekarang baru aja mulai idup. Lu jauh lebih beruntung daripada dia!”

Uuh, saya kaget. Damin benar. Saya kurang bersyukur. Tapi mungkin karena malam itu cukup dingin dan otak saya semakin mengkerut, saya malas mencernanya.

Saya sehat. Saya punya keluarga yang mencintai sepenuh hati. Saya punya pekerjaan. Astaga… Apa yang telah terjadi pada diri saya? Kenapa pula saya mau meninggalkan semua itu?

Kelihatannya saya terobsesi jadi Peter Pan (yang karakter dalam novel. Bukan band yang pada pertengahan tahun 2010 memanas di Indonesia akibat vokalisnya terobsesi menjadi bintang film panas)

(*Peter Pan adalah karakter yang diciptakan oleh novelis dan dramawan Skotlandia JM Barrie [1860-1937]. Seorang anak laki-laki nakal yang bisa terbang dan dengan ajaibnya mampu menolak untuk tumbuh dewasa, Peter Pan pernah menghabiskan masa kecil akhirnya dengan berpetualang di pulau kecil Neverland sebagai pemimpin gengnya Lost Boys. Berinteraksi dengan putri duyung, suku Indian, peri, dan bajak laut, dan kadang-kadang bertemu dengan anak biasa dari dunia normal*)

Kata sahabat saya Mobi. “we could face the world bravely but we just don’t wanna change and grow old”. Maksudnya mungkin; sering kali kita dengan amat gagah beraninya menyongsong perubahan dari luar sementara tidak siap menghadapi perubahan dari dalam. Perubahan yang terjadi pada diri sendiri.

Padahal sebagaimana maut, perubahan adalah sebuah hal pasti. Natural. Alami. Semua hal yang hidup mengalami metamorfosa. Tanpa ada satupun luput darinya.

Saya, tak terkecuali. Detik demi detik, usia bertambah. Tanggung-jawab bertambah. Yang kurang hanya jatah umur hidup. Yang pasti, semuanya berubah. Mau pakai istilah evolusi atau revolusi, ketika waktu berlalu, pasti ada yang berubah.

Akibat masih memiliki sahabat-sahabat yang walaupun tidak banyak namun baik luar biasa dan sungguh bijak, saya tahu apa yang saya alami. Saya mengalami Peter Pan syndrome (Puer aeternus). Saya selalu ingin muda. Saya tidak mau berubah. Saya ingin tetap selalu menjadi bocah kecil dari Cilincing yang nakal dan kerjanya hanya bermain-main saja.

Padahal saya sudah mengalami masa kecil yang (walaupun secara sosial memprihatinkan) sungguh amat layak di kenang. Semestinya saya bersyukur akan karunia itu. Sekarang adalah tiba saatnya memberi putri saya, Novi Kirana, kesempatan terbaik ini dalam hidupnya.

Buah baik dalam hidup telah saya tunai, petik dan nikmati. Sekarang adalah saat menanam, memberi dan berbagi.

Pagi itu, saya bertekad akan pulang ke rumah. Menemui anak istri saya. Menemui sebenar-benarnya hati yang selalu saya panggil sebagai rumah.

Damin menyadarkan saya dari lamunan. Mengajak saya jalan kaki pulang ke apartemennya. Sudah hampir pukul empat pagi. Ia harus kerja jam tujuh. Sedangkan saya masuk jam sembilan.

Malam itu, entah kenapa, rupanya mungkin saya tengah ditakdirkan untuk bertemu manusia malang. Dua ratus meter sebelum rumah Damin, kami bertemu seorang perempuan tua berkulit hitam berpakaian lusuh. Bau badan menyeringai di mana-mana. Mengaku tidak punya apa-apa dalam hidupnya dan mengharapkan tumpangan dalam semalam.

Damin mengajaknya mampir. Memberinya kopi dan nasi dengan lauk terong ayam. Dan pada pukul setengah enam perempuan itu tanpa tidur pergi pamit sambil mengucap terimakasih.

Pukul setengah tujuh, Damin pergi berangkat kerja. Odi masih tidur. Saya duduk di beranda sambil melihat orang-orang pasar yang tengah bergeliat.

Jam tujuh pagi, tetangga Damin yang juga teman saya, Mulan, terlihat di beranda samping bersama Pupi. Putranya yang berusia sembilan tahun. Saya tanya dimana suaminya, Darto. Tumben pagi-pagi tidak terlihat.

Mulan terlihat sedih di semburat pagi. Suaminya ternyata gila judi dan sekarang tengah lari dari uberan lintah darat dimana ia meminjam uang dalam jumlah besar. Mulan dan anaknya stress, setiap siang disambangi debt collector yang selalu membentak-bentak mencari suaminya.

Dan entah kenapa tiba-tiba, masalah saya seakan tidak ada apa-apanya dibandingkan orang-orang malang ini.


Mencari Kebahagiaan Di Selangkangan Janda – 3

Damin, memilih tinggal berdua dengan Odi yang kalau bicara kencang sekali itu, hanya agar menghemat biaya sewa kamar. Damin tinggal jauh dari anak istrinya. Di desa mereka, susah cari kerja, kata Damin. Di desa, sang istri mengasuh anak. Sementara si suami, jaraknya ribuan kilometer mencari nafkah untuk tiga mulut mereka.

Sebelum Odi masuk ruang makan Damin berbisik, “Lu kudu ngerti. Nggak semua orang senasib ama eluh. Lu mah enak. Pulang kerja bisa gendong anak ama becanda ama bini lu. Liat nih gua. Kalo dibandingin ama gua, nasib lu bagus. Mana bisa gua maen sama anak gua? Mana bisa gua beduaan ama bini gua?”

Ia berhenti berbisik. Odi masuk dan menyeringai lebar melihat saya. Lalu dengan tanpa diminta, tangannya sibuk memasukkan terong goreng ke mulutnya sambil bicara. “Hmmphh, enyaak nyiih… Laper. Pulang kerja…”

Habis makan, saya dan Damin membisu. Tanpa saya minta, ia tidak membuka masalah saya di depan Odi. Ia memang sahabat yang baik. menjaga perasaan sahabatnya. Odi mencairkan suasana. Bertanya-tanya gimana kabar saya dan keluarga. Dan dengan berbohong, saya jawab semuanya baik-baik saja.

Setelah makan, Odi membakar rokok dan menghembuskannya di udara. “Wah kamu mah enaak Ri” (*Oh ya, entah kenapa dia selalu memanggil saya tanpa huruf terakhir di nama depan*)

“Enak kenapa?”

“Kamu mah enak. Udah punya anak. Saya nih. Masaoloh. Udah nikah bertahun-tahun. Belum punya anak”

Saya menoleh kepada Damin, yang langgsung mengangguk mengiyakan.

“Saya Ri. Nikah sama istri pertama. Orang Sulawesi. Si Edah. Euleuh-euleuh, amit-amit saya mah. Nikah empat tahun, nggak ada hasilnya. Saya kepengen lah punya anak. Sampe-sampe Ri, saya di tes dokter tau. Masaoloh, saya teh sama si Edah subur. Kenapa juga yaah kita nggak ada anak?”

Saya bengong, “Lah terus gimana?”

“Demi oloh, Ri. Saya sedih. Tapi daripada sedih, mendingan saya cari perempuan laen saja lah. Kali kali dapat anak”

“Trus kamu cerai, Di?”

“Ya iyaa lah. Terus saya nikah lagi. Wuiih, si Edah marah bener sama saya. Sampe-sampe saya dibawain golok sama kakaknya. Aahh saya mah bodo amat. Daripada pusing. Mendingan nikah lagi. Untung dapet. Sama orang sekampung. Sama-sama dari Sukabumi”

“Wah… Ketemu di mana?”

“Waktu saya pisah dari si Edah, saya pulang naik kapal dari Ujung Pandang ke Sukabumi. Pertama sih ke Jakarta dulu. Nah pas kapalnya singgah di Jakarta, saya ketemu si Gita. Dia lagi jaga warung nasi mamahnya di pelabuhan tanjung periuk. Masa pas lagi ngobrol-ngobrol, ternyata mamahnya orang Gunungparang. Itu mah deket dari rumah mamah saya di Sukabumi. Kata mamahnya, saya tunggu aja dulu di Jakarta barang seminggu. Nanti sama-sama pulang kampung. Eh, sebulan pas udah pulang. Kok yaah si Gita mao sama saya. Ya sudah saya lamar saja lah. Mamah saya sampe jual rumah yang di jalan Didi Sukardi buat saya nikah”

“Wah cepet amat”

“Yah namanya jodoh, Ri. Nggak kemana”

“Trus dapet anak?”

“Nggak juga. Kawin tiga tahun. Tetep ga ada anak. Pusing saya. Stress saya. Lah pas lagi stress ketemu lah si Enji. Istri saya saat ini”

Saya bengong. “Hah! Lah terus si Gita di kemanain? Trus istri kamu sekarang sebenernya siapa?”

Sambil tetap menghembuskan asap rokoknya Odi bilang “Sama si Gita yaa cere. Terus sama si Enji juga sekarang lagi mau cere. Si Enji mah di sana, di Jakarta. Dia mah kan anak Jakarta aseli. Kamu kan tahu, kamu teh orang Jakarta. Orang jakarta itu mah tiap saat butuh duit gede-gede. Pusing sayah waktu jadi suaminya si Enji. Duit melulu”

Waduh. Otak saya jadi tambah rumit. Damin nampaknya mengetahui hal ini. Ia menjelaskan, “Odi sekarang dalam proses cerai. Istrinya dalam masa idah. Semua istrinya cantik”

Saya melirik Odi. Ia seakan mengiyakan dengan menjawab, “Wah entah kenapa yaa Ri. Saya tuh paling seneng kalo lagi stress, trus ketemu perempuan. Dan perempuannya kudu janda”

Saya makin kaget, “Janda?”

Odi tiba-tiba semangat menjelaskan, “Iya, Janda. Heran yaah, entah kenapa kalo janda itu maennya lebih okeh daripada biasanya yah. Penuh perlawanan! Ri, demi aloh kalo ama janda mah saya berasa jadi pejuang jaman kemerdekaan. Semangat pisan, euy! Kalo juga ada yang diem, pasti itunya ngemut-ngemut. Pokonya janda top lah!”

Hah, ngemut! Apanya yang bisa ngemut?

Damin berbisik, kalau Odi kecanduan melakukan hubungan dewasa dengan perempuan berstatus janda. Terutama di saat krisis melanda hidupnya. Saya menatap Odi mengkonfirmasi. Odi cengar-cengir mengiyakan.

“Ri… Saya teh udah lama curiga sama si Enji. Kayaknya mah dia ngedukunin saya?”

“Ngedukunin kamu?”

“Iya, euleuh-euleuh, saya teh dikasih tau sama ajeungan kalo si Enji itu punya peliharaan. Jin. Tingginya tiga meter. Warnanya biru. Saya teh diguna-guna. Mangkanya uang kiriman saya selalu habis. Boro-boro Ri punya tabungan. Uang ratusan juta, abis ama dia mah. Dasar perempuan nggak bener. Ajeungan saya tuh yang cerita”

“Ajeungan? Apaan tuh?”

“Eta ajeungan itu teh Kiyai. Saya mah masih percaya sama Aloh. Tapi kan biar gimana ada perantaranya. Dia mah teh bukan dukun. Dia mah teh kiyai. Bacaannya aja huruf arab. Pasti lah bukan dukun! Pokona ajeungan itu teh seperti orang pinter”

Saya tidak berani ketawa. Apalagi di depan Odi yang amat serius menceritakan tentang keahlian si Ajeungan dalam mencoba memindahkan tempat tidur si Enji. Sebab katanya jin si Ajeungan bisa memindahkan manusia yang sedang tidur (*yang langsung saya tanya, apakah keahlian itu bisa digunakan oleh Departemen Transportasi*).

Odi mati-matian meyakinkan saya bahwa ia tidak sedang di scam. Di tipu mentah-mentah. Sebab bisa jadi Enji dan Ajeungan itu sedang bekerja sama.

(*bersambung ke bagian 4, yang terakhir*)


Mencari Kebahagiaan Di Selangkangan Janda – 2

(*Sambungan dari bagian 1*)

Dalam keadaan galau mencari kebahagiaan. Saya sempat terpikir untuk pulang ke Cilincing, sebuah desa di pesisir utara Jakarta sana.

Tapi dalam hati saya berfikir lagi, “Nggak mungkin kebahagiaan terletak dari lokasi geografis. Sebab apabila memakai logika ini, maka argumen yang bisa dipakai adalah; pada lokasi tertentu, maka semua manusia akan menjadi bahagia. Andaipun ada, wilayah itu namanya pasti surga dan hanya eksis di kitab suci. Bukan di peta bumi. Apalagi di peta Jakarta”. Hehe.

Disini saya mulai ragu saya terkena depresi akibat pencarian tujuan tanpa definisi. Sebab nampaknya saya masih memakai beberapa parameter logis serta string iseng dalam mencari jawaban petualangan mencari kebahagiaan ini. Katanya, orang depresi sering tidak logis dan tidak iseng.

Tapi kalau saya tidak terkena midlife crisis dan kalau saya tidak depresi… Saya kena apa, dong?

Akibat letih lebih dari dua minggu terkena insomnia. Yang membuat tangan saya sampai gemetar ketika bekerja. Ditambah lagi berat badan saya dan istri yang masing-masing turun hingga dua kilogram. Maka saya berhenti mencari jawaban ini sendirian.

Suatu malam, setelah pamit pada anak dan istri; saya putuskan untuk berkelana tiga hari. Sambil terisak, istri saya merestui. Maklum, ia masih takut saya pergi dan tak akan kembali. Namun setelah saya yakinkan bahwa saya akan mencari jawaban pertanyaan-pertanyaan saya, maka mulailah petualangan ini. Diawali dengan naik sepeda ke stasiun naik kereta.

Sampai di stasiun kereta saya kebingungan. Dalam hati membatin, “Lah gua mao kemana yak?”

Di sini saya baru sadar satu hal. Dan di stasiun kereta yang sudah sepi ini, tiba-tiba menemukan sepenggal jawaban pertanyaan. Yaitu, ternyata saya tidak begitu banyak punya tempat mengadu. Semuanya, segala permasalahan maupun problematika, dengan angkuhnya seringkali saya pecahkan sendiri. Malam ini, kemandirian tiba-tiba menjadi sebuah bumerang. Sebab ternyata saya tidak punya terlalu banyak kawan selain ketika online.

Ternyata; saya kesepian. Itu masalah sekaligus jawaban pertama yang saya peroleh dari stasiun kereta pukul sebelas malam ini.

Untungnya (*iya, saya masih berkultur orang Indonesia. Dalam keadaan apapun, masih punya kalimat ‘untungnya’, hehe*) ndalilah di kantong celana saya ada telepon genggam. Dan di daftar telepon itu, ada nama Damin. Sahabat saya. Setelah kontak sebentar berbicara mengenai masalah yang saya alami, Damin berkata “Jangan ke hotel! Apalagi yang ada dugemnya” namun mengharap agar saya ke rumahnya malam itu.

Malam itu dengan memakai kereta terakhir, akhirnya saya ke rumah Damin. Dan ketika sampai dengan ramahnya, Damin menggoreng terong sambal untuk cemilan malam itu (*Aneh, nyemil kok pake terong?*)

Damin: “Lu banyak utang men?”
Saya: “Nggak”
Damin: “Lu selingkuh?”
Saya: “Nggak… Kok…”
Damin: “Bini lu selingkuh?”
Saya: “Nggak… Maksud lu apa sih nanya-nanya begitu?”
Damin: “Lu nganggur?”
Saya: “Nggak!”
Damin: “Lu sakit?”
Saya: “Nggak… Nggak.. Dan nggak… Lu kenapa sih nanya begitu?”

Damin menatap saya tajam, “Lu nggak punya masalah ama duit, nggak ada orang ketiga di rumah tangga, masih kerja dan sehat… Ada juga gua yang nanya… Ngapain lu ke sini malem ini? Ninggalin anak bini sendirian di rumah!”

Saya tercekat. Tidak mampu bicara apa-apa. Kalau saya tahu jawabnya, tidak mungkin saya ke rumah Damin malam itu.

Hening. Suasana membeku antara kami berdua. Hanya gesek kunci dengan lubang pintu yang membuat kami menoleh. “Odi pulang”, kata Damin.

Itu Odi. Teman sekamar Damin. Dua manusia ini memang tinggal sekamar.

(*Bersambung ke bagian 3*)


Membuka Blokade Sensor Konten Internet Pada Browser

logo liveandroid image

Saya sepenuhnya sadar, bahwa beberapa situs media sosial di blok karena alasan tertentu yang cukup penting. Diantaranya adalah blokade pada situs tertentu berdasarkan isinya.

Filterisasi konten sendiri adalah teknik dimana konten yang diblokir atau diizinkan berdasarkan analisis isinya, bukan dari sumber atau kriteria lainnya. Sebenarnya teknik ini paling banyak digunakan di internet untuk menyaring email dan akses web.

Umumnya, blokade pada situs-situs tertentu (atau dikenal sebagai content filtering) adalah antara lain karena:

  • Mempunyai kemungkinan isi yang menyakiti perasaan kalangan tertentu dan akan menghasilkan domino effect setelahnya (*Bagian ini selalu jadi permasalahan, sebab kalimat ‘menyakiti perasaan’ itu jelas amat subjektif*)
  • Konten ilegal atau tidak sesuai dengan norma hukum negara tertentu
  • Menghalangi produktifitas (apabila jam kerja)

Secara pribadi, sebenarnya saya tidak terlalu masalah mengenai blocking pada internet content. Sebab saya benci web spam dan scam. Dan selalu berdoa, semoga tuhannya internet mampu mempunyai malaikat canggih yang mampu memberantas makhluk-makhluk sial bernama spammer dan scammer itu.

Selama ini, saya tidak pernah berbenturan dengan kebebasan dalam mengakses konten internet. Sebab hanya mengakses bagian yang perlu dan berguna buat kehidupan saya, keluarga dan pekerjaan saja.

Namun beberapa hari terakhir ini, akibat client penting menggunakan facebook sebagai sarana beliau dalam mengakses email dan facebook adalah situs dengan kontent diblokade oleh kantor, maka saya pun uring-uringan dengan filterisasi konten. Pakai VPN, pun sama hasilnya, gagal euy. Sebab hanya beberapa IP address saja yang diijinkan untuk berkomunikasi keluar secara langsung dari gedung tempat saya memburuh saat ini.

Sebelumnya, saya pernah menulis cara membuka blokade konten (dalam hal ini facebook) dengan memakai proxy terbuka dengan menggunakan mesin pencari Google. Namun, kali saya kan coba trik lain.

Yaitu, membuka filterisasi konten dengan vmware dan mobile browser.

Mengapa VMware?

Hehe. Nggak perlu pakai VMware sih, yang penting virtualisasi mesin saja. Saya pakai VMware karena gratis dan akan berjalan baik di mesin berbasis Windows XP SP3 ini. Hehe. Maka itu, sebelumnya kita harus punya VMware dulu.

Download VMware Player (sayang harus register dulu. Tapi ga masalah sih. Perangkat lunak ini bagus euy)
Install VMware (dalam Bahasa Indonesia)

Mobile browser apa yang oke?

Saya pakai LiveAndroid. Sudah pernah sih coba pakai mobile Opera. Tapi karena penggunanya banyak, Opera mini bahkan sudah disusupi oleh blokade kantor. Kalau semua produk RIM, pasti ga akan bisa. Apapun browsernya, BlackBerry memiliki user khusus yang amat spesifik. Lalu lintas data di BleackBerry di kontrol sedemikian kuat. Meniru milik Obama, bahkan beberapa BlackBerry milik orang tertentu di tempat kami dimodifikasi demi tingkat keamanan yang lebih tinggi.

Sistem operasi robot kolor ijo (android) ini jadi jawaban. Sebab Android memiliki produk LiveAndroid yang bisa di pasang langsung di PC berbasis XP saya ini.

Download LiveAndroid
Install LiveAndroid dengan vmware (saya pernah coba install LiveAndroid pakai virtualbox, tapi gagal euy)

Hasilnya

Awal tampilan booting. Batre katanya tinggal 15 persen. Entah apa maksudnya, saya juga bingung. Saya cuekin aja deh.

live android first boot image

Lalu klik browser dan memasukkan input facebook login di alamat pencarian google.

facebook login image

Setelah login, saya pun mulai membalas surat-surat penting yang datang lewat facebook.

tampilan aplikasi dalam facebook image

Setelah selesai. Saya log-out. Sayangnya, browser melemparkan pesan error 400

facebook mobile liveandroid logout error 400 image

Pesan error ini ternyata cukup bermasalah. Sebab apabila menekan tombol escape yang ada di pojok kiri atas pada keyboard, maka facebook tidak sebenar-benarnya logout. Melainkan akan kembali ke halaman semula. Dan ini sama sekali tidak baik untuk keamanan.

Solusinya, lihat browser liveandroid bagian kiri bawah. Ganti tampilan menjadi ‘full site’ lalu logout. Habis itu beres dah.

Selamat mencoba, kalau mau.

Kalau nggak mau, yaa jangan :)