Bosan mendengar cerita Odi yang tidak jauh dari alam gaib serta cerita-cerita dewasa antara ia dan mantan-mantan istrinya (dan juga perempuan-perempuan lain diantaranya. Dan semuanya janda), saya keluar bersama Damin.
Sudah malam. Sudah pukul dua dini hari. Beberapa cafe masih buka. Masih banyak turis lalu lalang. Meskipun suhu udara musim panas ini tidak lebih dari 15 derajat. Rupa-rupanya masih banyak manusia yang menikmati dunia malam.
Damin mengajak saya duduk di sebuah cafe yang seringkali dijadikan rendezvouz para pegawai perserikatan bangsa-bangsa. Dulu, kami sering duduk di sana. Sebab pemiliknya adalah sahabat Damin.
Sambil menyeruput teh, Damin berkata, “Gua orang Jawa, Rip. Gua nggak bisa nasehatin lo pake kalimat laen. Kata orang jawa… Jangan melulu ngeliat ke atas. Nanti kejeblos. Jangan melulu ngeliat kebawah, nanti kejedot. Kalo jalan, jalan yang bener. Lihat seperlunya biar sampai tujuan”
Saya selalu bingung dengan filosofi jawa. Sebagaimana saya selalu kebingungan dengan pemerintahan Orde Baru dahulu yang menerapkan filosofi wayang terhadap Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI).
Maka itu saya bertanya, “Gua nggak ngerti, Dam?”
“Sekali-kali, liat orang laen. Orang yang nggak seberuntung lu. Jangan ngeliat ke atas terus. Coba bandingin idup lu ama Odi. Rip, dia itu ampir gila waktu ketemu gua. Sehari nenggak ekstasi bisa sampe 30 biji. Temennya bandar ama pengedar. Nggak punya kerja. Kerjanya yaa jadi bahan percobaan obat-obat baru temennya. Umur udah ampir kepala empat. Tabungan nggak punya. Keluarga ga punya. Sekarang baru aja mulai idup. Lu jauh lebih beruntung daripada dia!”
Uuh, saya kaget. Damin benar. Saya kurang bersyukur. Tapi mungkin karena malam itu cukup dingin dan otak saya semakin mengkerut, saya malas mencernanya.
Saya sehat. Saya punya keluarga yang mencintai sepenuh hati. Saya punya pekerjaan. Astaga… Apa yang telah terjadi pada diri saya? Kenapa pula saya mau meninggalkan semua itu?
Kelihatannya saya terobsesi jadi Peter Pan (yang karakter dalam novel. Bukan band yang pada pertengahan tahun 2010 memanas di Indonesia akibat vokalisnya terobsesi menjadi bintang film panas)
(*Peter Pan adalah karakter yang diciptakan oleh novelis dan dramawan Skotlandia JM Barrie [1860-1937]. Seorang anak laki-laki nakal yang bisa terbang dan dengan ajaibnya mampu menolak untuk tumbuh dewasa, Peter Pan pernah menghabiskan masa kecil akhirnya dengan berpetualang di pulau kecil Neverland sebagai pemimpin gengnya Lost Boys. Berinteraksi dengan putri duyung, suku Indian, peri, dan bajak laut, dan kadang-kadang bertemu dengan anak biasa dari dunia normal*)
Kata sahabat saya Mobi. “we could face the world bravely but we just don’t wanna change and grow old”. Maksudnya mungkin; sering kali kita dengan amat gagah beraninya menyongsong perubahan dari luar sementara tidak siap menghadapi perubahan dari dalam. Perubahan yang terjadi pada diri sendiri.
Padahal sebagaimana maut, perubahan adalah sebuah hal pasti. Natural. Alami. Semua hal yang hidup mengalami metamorfosa. Tanpa ada satupun luput darinya.
Saya, tak terkecuali. Detik demi detik, usia bertambah. Tanggung-jawab bertambah. Yang kurang hanya jatah umur hidup. Yang pasti, semuanya berubah. Mau pakai istilah evolusi atau revolusi, ketika waktu berlalu, pasti ada yang berubah.
Akibat masih memiliki sahabat-sahabat yang walaupun tidak banyak namun baik luar biasa dan sungguh bijak, saya tahu apa yang saya alami. Saya mengalami Peter Pan syndrome (Puer aeternus). Saya selalu ingin muda. Saya tidak mau berubah. Saya ingin tetap selalu menjadi bocah kecil dari Cilincing yang nakal dan kerjanya hanya bermain-main saja.
Padahal saya sudah mengalami masa kecil yang (walaupun secara sosial memprihatinkan) sungguh amat layak di kenang. Semestinya saya bersyukur akan karunia itu. Sekarang adalah tiba saatnya memberi putri saya, Novi Kirana, kesempatan terbaik ini dalam hidupnya.
Buah baik dalam hidup telah saya tunai, petik dan nikmati. Sekarang adalah saat menanam, memberi dan berbagi.
Pagi itu, saya bertekad akan pulang ke rumah. Menemui anak istri saya. Menemui sebenar-benarnya hati yang selalu saya panggil sebagai rumah.
Damin menyadarkan saya dari lamunan. Mengajak saya jalan kaki pulang ke apartemennya. Sudah hampir pukul empat pagi. Ia harus kerja jam tujuh. Sedangkan saya masuk jam sembilan.
Malam itu, entah kenapa, rupanya mungkin saya tengah ditakdirkan untuk bertemu manusia malang. Dua ratus meter sebelum rumah Damin, kami bertemu seorang perempuan tua berkulit hitam berpakaian lusuh. Bau badan menyeringai di mana-mana. Mengaku tidak punya apa-apa dalam hidupnya dan mengharapkan tumpangan dalam semalam.
Damin mengajaknya mampir. Memberinya kopi dan nasi dengan lauk terong ayam. Dan pada pukul setengah enam perempuan itu tanpa tidur pergi pamit sambil mengucap terimakasih.
Pukul setengah tujuh, Damin pergi berangkat kerja. Odi masih tidur. Saya duduk di beranda sambil melihat orang-orang pasar yang tengah bergeliat.
Jam tujuh pagi, tetangga Damin yang juga teman saya, Mulan, terlihat di beranda samping bersama Pupi. Putranya yang berusia sembilan tahun. Saya tanya dimana suaminya, Darto. Tumben pagi-pagi tidak terlihat.
Mulan terlihat sedih di semburat pagi. Suaminya ternyata gila judi dan sekarang tengah lari dari uberan lintah darat dimana ia meminjam uang dalam jumlah besar. Mulan dan anaknya stress, setiap siang disambangi debt collector yang selalu membentak-bentak mencari suaminya.
Dan entah kenapa tiba-tiba, masalah saya seakan tidak ada apa-apanya dibandingkan orang-orang malang ini.
0 Responses to “Mencari Kebahagiaan Di Selangkangan Janda – 4”