Monthly Archive for August, 2010

Page 2 of 2

Mencari Kebahagiaan Di Selangkangan Janda – 1

Sudah beberapa minggu terakhir ini saya tidak begitu gembira sebagaimana biasanya. Senyum cengengesan yang biasanya tanpa sadar selalu kumandangkan, menghilang begitu saja. Singkat kata, saya sedih.

Saya murung.

Kesedihan yang saya alami, kelihatannya tidak jelas juntrul-pangkal penyebabnya. Mungkin, sebagaimana syair lagu band 70-an Koes Plus “Kerja keras bagai kuda, dicambuk dan di dera”. Saya terlalu keras bekerja. Mengakibatkan jemu yang tiba-tiba memuncak.

Namun bisa jadi saya juga jemu dengan hidup monoton yang saya alami. Kerja nine to five. Jauh dari adrenalin junkie lifestyle yang dianut sebelum menikah. Lalu setelah menikah, hidup di daerah suburban yang gersang. Jauh dari peradaban sebagaimana saya tumbuh dibesarkan.

Saya jemu.

Istri saya ikut sedih melihat suaminya murung. Ia khawatir saya tidak bahagia dengan pernikahan kami. Beberapa kali, ia terlihat diam-diam menangis setelah makan malam. Takut suaminya pergi begitu saja tanpa berkata apa-apa.

Putri saya, mungkin menyadari atmosfir ini. Sudah beberapa hari setelah melihat ayahnya murung, ia pula terlihat rewel. Meminta perhatian. Mungkin sekali akibat ayahnya tidak sanggup memberi banyak perhatian, akibat terlalu sibuk berfikir mencari jawaban untuk permasalahannya sendiri. Dalam masa-masa ini, saya lihat ia sering kali memeluk mamanya. Ketika melihat mamanya menangis, ia memeluk dan lalu berkata “Mama jangan menangis. Kenapa mama menangis?”

Saya menatap tertegun bocah perempuan berusia 2 tahun itu. Istri saya tambah terisak mendengar putrinya bertanya.

Saya jawab, “Papa nakal sama mama, Nak. Maaf yaah…”

Putri saya menatap saya sambil pura-pura melotot marah sambil berkata, “Papa jangan nakal mama yaah…” lalu kembali memeluk mamanya sambil berkata “Mama aku cinta kamu”

Saya termangu menatap adegan ini.

Entah apa yang terjadi dengan diri saya? Saya sendiri tidak tahu. Aneh. Saya punya istri dan anak sehat yang mencintai saya sepenuh hati. Walaupun masih mengontrak saya punya tempat tinggal yang mampu melindungi dari terik atau hujan. Saya punya sepeda yang meskipun tua namun mampu mengantar saya dengan selamat ke pasar belanja dan bekerja cari nafkah. Lebih dari semua itu…. Saya dikaruniai hidup yang sehat. Sebuah anugrah yang tiada tara.

Mengapa saya tidak bahagia? Saya sendiri tidak tahu. Pasti ada apa-apa dengan hidup saya. Kalau tidak ada apa-apa, tentu saja saya tidak merasa aneh seperti ini. Hidup cukup namun tidak bahagia.

Saya mulai mencoba menganalisa diri saya. Jangan-jangan saya adalah anarko individual yang jadi bagian dari kaum anarkis. Orang-orang yang anti kemapanan dan kestabilan (namun anti kekerasan fisik). Sebab melihat track record hidup saya, memang besar sekali kemungkinannya saya dikategorikan sebagai anarkis dalam definisi di atas.

Tapi aneh, kalau memang saya seorang anarkis indivudualis yang mengutamakan ego di atas segalanya; mengapa pula saya berkeluarga dan mencari nafkah dalam sebuah usaha yang melibatkan banyak orang? Mengapa istri saya percaya saya ayah yang baik untuk putrinya? Mengapa rekan-rekan kerja saya percaya bahwa kami mampu bekerja sama dalam mencari hasil yang lebih baik?

Mengapa dan mengapa, berkecamuk terus tanpa habisnya. Saya bingung. Dan terus jatuh dalam kebingungan. Banyak sekali pertanyaan dalam otak saya. Berhari-hari, mencoba mencari jawaban atas permasalahan diri saya yang tidak bahagia.

Saya sibuk mencari jawaban untuk pertanyaan saya. Sehingga terlihat murung dan meresahkan keluarga. Bukan hanya keluarga sih. Rekan-rekan saya juga khawatir saya pergi dan tak kembali. Sebab kami dalam sebuah project besar skala 30 bulan yang sudah berjalan selama setahun lebih. Kalau saya pergi, kepergian saya jelas akan menimbulkan masalah besar.

Masa dimana keluarga dan rekan kerja bertanya-tanya dan saya pun masih terbelit dalam kesedihan, menurut saya bukanlah masa yang menyenangkan.

Dalam masa ini, bahkan saya sempat terfikir, “Jangan-jangan gua kena midlife crisis? Buset dah, umur belom empat puluh udah kena sindrom krisis paruh baya ini”

Saya kaget. Luar biasa kaget. Wah, apakah saya terkena krisis paruh paya? Kalau iya, geblek dah. Kok bisa? Kenapa?

Akibat sangat ingin mencari jawaban, maka mulailah saya membolak-balik wacana referensi pop-culture dan psikologi kognitif. Mencari tahu lebih lanjut mengenai krisis paruh baya (midlife crisis) yang katanya dialami manusia usia antara 30-60 tahun itu.

Sebagai jawaban, saya menemukan bahwa:

Individu yang mengalami krisis paruh baya memiliki perasaan ini:

  • Pencarian atas mimpi atau tujuan yang sama sekali tidak terdefinisikan
  • Penyesalan mendalam atas hasil yang tidak tercapai
  • Keinginan untuk ‘kembali muda’
  • Ingin sendiri atau malah lebih ingin bergaul hanya bersama teman-teman tertentu

Umumnya individu ini pula menunjukkan perilaku:

  • Penyalahgunaan alkohol
  • Memiliki barang yang tidak biasa atau mahal seperti; sepeda motor, perahu, pakaian, mobil sport, perhiasan, gadget, tato, tindikan, dan lainnya
  • Depresi
  • Menyalahkan diri sendiri akibat kegagalannya
  • Memberikan perhatian khusus kepada penampilan fisik seperti menutupi kebotakan, mengenakan “pakaian anak muda”, dan lainnya
  • Menjalin hubungan dengan orang-orang muda (baik seksual maupun profesional, atau lainnya)
  • Menempatkan hal penting (yang dalam jumlah tertentu mungkin bisa merusak secara psikologis) pada anak-anak mereka untuk unggul dalam bidang-bidang seperti olahraga, seni atau akademik

Diantara banyak analisa di atas, saya berfikir dalam hati. Astaga, jangan-jangan saya kena depresi? Tapi kenapa?

Lalu, berhari-hari lagi saya coba cari jawabnya. Sampai mencari-cari buku The Art of Happines karya Dalai Lama dan Howard Cutler. Mungkin dari buku tulisan gabungan karya biarawan Tibet dan psikiater Amerika tersebut itu saya bisa dapat jawaban. Sebab buku tersebut digadang-gadang sebagai manual untuk mengalahkan marah, cemburu, benci, iri, stress dan depresi yang sehari-hari melanda umat manusia.

Ketika buku itu saya dapat, bukannya dibaca, ealah, malah saya kasih ke ibu mertua. Huaduh, apa yang terjadi dengan diri saya sebenarnya?

(*Bersambung ke bagian 2*)


Perang Antar Raksasa (Antara Lidah Dengan Mata)

Saya mau cerita ini sebenarnya di Laboratorium Bangaip. Sebab bersifat teknis dan condong pada pekerjaan. Tapi karena terlalu banyak nama yang harus disamarkan, maka lebih baik diceritakan di blog bangaip saja deh :)

Ini cerita soal kopi. Saya sendiri sudah tidak lagi meminum kopi (kecuali kepepet), maka itu saya bisa cerita dari sudut pandang yang berbeda. Yaitu dari sudut pandang peminum teh. Hehehe.

Ceritanya begini;

Di pabrik tempat saya bekerja itu selalu ada vending machine di setiap lantainya. Yaitu mesin penyedia makanan ringan dan minuman jenis tertentu. Mesin penyedia makanan ringan, bentuknya kotak besar. Tingginya hampir dua meter. Dengan lapisan kaca tembus pandang sehingga kita bisa melihat jenis makanan apa yang di jual di dalam mesin tersebut. Makanan-makanan tersebut dapat kita pilih sesuai nomor dan dengan memasukkan uang koin sejumlah tertentu mesin tersebut akan menyediakan makanan yang kita pilih. Sama halnya dengan mesin penyedia minuman. Mesin itu pun bekerja dengan cara yang sama. Hanya produknya yang berbeda. Dan disinilah ceritanya dimulai.

Mesin penyedia minuman, menyediakan berbagai minuman. Umumnya minuman panas. Diantaranya ada air panas (untuk teh atau sup), kopi, susu, serta coklat. Mesin ini cukup aneh. Sebab banyak rekan kerja saya berbondong-bondong pergi ke lantai empat hanya untuk mengambil kopi. Kata mereka (para peminum kopi), mesin di lantai empat lebih enak menyediakan kopinya. Campurannya lebih mantap. Kopinya lebih nikmat.

Saya bukan peminum kopi. Saya tidak tahu nikmatnya rasa kopi. Jadi saya sama sekali tidak mengerti mengapa mereka rela naik tangga atau lift hanya untuk mengambil segelas kopi. Saya pikir, karena mesinnya sama dan dari pabrik penyedia kopi terkenal yang sama, maka harusnya mampu menyediakan hasil yang sama.

Namun sekali lagi; saya bukan peminum kopi. Jadi saya pikir, teori saya di atas amat sangat mudah terbantahkan.

Ketika makan siang bersama teman-teman, saya bawa topik iseng-iseng ini sebagai bahan diskusi ringan sambil mengunyah makanan. Diantara teman makan siang saya, ternyata ada seorang dari departemen Sumber Daya Manusia. Dan topik makan siang mengenai mesin kopi yang menyediakan hasil yang berbeda ternyata membawanya pada sebuah ide baru.

Oleh teman saya, si orang HR ini, obrolan iseng makan siang itu dijadikan ide sebuah acara dengan tema “The Battle of Giants”. Acaranya adalah mengundang pabrik-pabrik penyedia kopi raksasa untuk mempresentasikan kopi mereka di depan rekan-rekan pabrik kami.

Beberapa pabrik kopi dengan serta merta langsung ikut event iseng ini. Hanya dalam tempo beberapa hari saja, para pabrik itu langsung merespon dengan baik bahwa mereka akan serta merta ikut dalam kompetisi perang kopi.

Perang kopi?

Iya, perang kopi. Para penyedia kopi ternama itu, seperti Nescofi, New London, Green Hills, MoonBuck’s, Aristocrat (semuanya bukan nama sebenarnya) dan nama-nama besar lainnya datang ke pabrik kami. Mereka akan menyampur, menyeduh dan menyediakan minuman yang berasal dari biji kopi. Mempersembahkan yang terbaik kepada para buruh di pabrik kami.

Ini perang. Siapa yang dapat menyediakan kopi terbaik, dialah pemenangnya.

Mengapa disebut perang antar raksasa?

Beberapa pabrik penyedia kopi yang datang ke kantor kami memang berasal dari para pemain lama yang sudah memiliki bisnis kopi menggurita, bahkan mendunia. Contohnya MoonBuck’s, yang punya gerai kopi di mana-mana. Diantara pabrik kopi raksasa lainnya, bahkan mengusung konsep ‘kopi cinta bumi’. Jadi, mereka tidak hanya menyediakan kopi, namun juga memberikan gelas untuk meminum kopi yang dapat menyimpan panas dengan dingin dengan baik dan nyaman digenggam (akibat dibuat dengan desain yang baik serta didukung teknologi nano) dan gelas itu pula dijamin tahan lama dan mudah dibersihkan. Sehingga tidak butuh banyak air untuk mencucinya. Raksasa kopi lainnya, datang dengan mengusung konsep ‘kopi manusia’; yaitu mengatakan bahwa kopi mereka mendukung fair trade. Fair Trade sendiri adalah adalah sebuah gerakan sosial yang terorganisir dan pendekatan berbasis pasar yang bertujuan untuk membantu produsen di negara-negara berkembang memperoleh kondisi perdagangan yang lebih baik dan mempromosikan keberlanjutan (sustainability). Nama lain dari perdagangan lintas batas yang jujur.

Pada intinya, banyak ‘raksasa kopi’ yang dagang ke pabrik kami. Tapi bukan itu sebabnya disebut Perang Antar Raksasa. Sebab toh ada beberapa warung kopi kecil yang baru mulai (start-up) ikut dalam perang kopi ini.

Disebut perang antar raksasa, karena ini adalah perang pecinta kopi dengan inderanya. Perang antara indera perasa yang digunakan untuk meminum kopi (lidah dan hidung) dengan iklan marketing (iming-iming gelas bagus, humanisme, nama besar, branding kuat, dsb). Perang ini bukan hanya perang antara para pembuat kopi, melainkan juga perang untuk penikmat kopi. Peperangan dalam memilih prioritas dalam meminum kopi yang nikmat.

Namun, yang menarik di sini adalah melihat langsung peperangan yang adil antara David dengan Goliath industri kopi.

Kok bisa? Bagaimana caranya berperang dengan raksasa branding bisa adil?

Gampang. Jawabnya adalah “blind test”. Test yang tidak melibatkan apa-apa kecuali pecinta kopi dan kopi yang akan diminumnya.

Untuk kopi hitam, 700 relawan dari sepuluh negara bagian bersedia mencicipi kopi dari berbagai pabrik dalam cangkir putih biasa. Cangkir itu polos. Isinya hanya cairan kopi hitam. 700 manusia itu tidak tahu mereka minum dari kemasan apa. Mereka pun polos kembali ke khittahnya. Pecinta kopi dengan gelas kopinya.

Untuk kopi dengan campuran tesnya lebih unik. Relawan penguji ditutup matanya. Mereka diberikan gelas-gelas kecil dengan ukuran yang sama. Diminta menilai, mana yang paling enak.

Hasilnya bagaimana?

Setelah uji coba yang menyenangkan ini (*Semua orang bergembira. Pabrik kopi dapat feedback langsung mengenai produknya. Konsumen dapat kopi gratis yang enak*) kami mendapat hasil yang sungguh mengejutkan sekali.

Ternyata para raksasa kopi kalah telak. Yang menang, ternyata sebuah warung kopi kecil yang memulai usahanya sekitar 3 tahun lalu di sebuah simpang dekat pabrik kami. Yang lebih mengejutkan adalah produk Moonbuck’s, gerai kopi raksasa, hanya disukai oleh 3 orang (dan mereka langsung menutup gerainya di kantin pabrik kami).

Menarik. Dari 700 relawan, 300 orang lebih diantaranya memilih kopi yang dibuat oleh sebuah warung kopi kecil yang mangkal tidak jauh dari lokasi kami bekerja. Ini baik. Bukan karena alasan underdog selalu dapat simpati. Melainkan adalah akan tercipta iklim menumbuh-kembangkan bisnis baru. Setidaknya, bisnis kopi kecil yang baru berjalan itu.

Mengapa ini bisa terjadi?

Ada banyak teori (yang dibicarakan ketika makan siang antara saya dan rekan-rekan kerja beberapa hari sesudah acara ngopi jamaah ini) muncul dalam menjelaskan mengapa sebuah usaha kopi kecil tiba-tiba mendapat dukungan publik. Diantaranya adalah;

  • Pecinta kopi adalah manusia yang mencintai kopi. Mereka tahu kopi yang bagus dan yang tidak.
  • Kopi yang enak tanpa didukung kesempatan untuk dikenal publik, tidak bisa berkembang penjualannya
  • Harus ada manusia yang menceritakan kejadian perang kopi ini (*Bukan, ini bukan tugas saya. Sebab di web internal sudah diceritakan peristiwa ini :) *)

Moral cerita;

Apapun yang saya ceritakan di atas, tidak ada hubungannya dengan kebiasaan saya minum teh saat ini. Hehehe…


Memilih Framework Open Source Yang Tepat (Kursus HTML Online)

jquery logo bangaip imageMaaf sebelumnya. Saya cuma mau cerita sedikit soal pembangunan aplikasi web berbasis HTML (termasuk didalamnya CSS dan JavaScript dan ikut-ikutan pula konco-konco dari JSP serta JSF) di sini. Bukan mau memberi kursus online. Hehe.

Sepagian ini saya GR (Gede Rasa) banget. Saya baru saja dapat input yang bagus dari team kami di US dan di Jerman. Dan pada utamanya, ini memang cerita soal kegeeran saya. Hehehe.

Risk Management Factor

Pertama dari US. Pendapat saya menggunakan JQuery sebagai framework dalam membangun aplikasi web sejalan HTML ternyata mendapat tantangan luar biasa keras.

Beberapa junior developer bahkan tidak pernah memakai JQuery, apalagi mendengarnya (*Dalam hati saya bilang “Buset kemana aja ente, Say!”*). Beberapa senior developer menentangnya karena sifat JavaScript yang ‘buggy’ ketika dieksekusi peramban internet.

Salah seorang bosnya senior developer malah berkata bahwa aplikasi yang kami bangun (tidak perlu disebutkan namanya) jauh lebih baik ketimbang memakai JQuery (atau memakai framework berbasis JavaScript lainnya sebab kami sudah menggunakan aplikasi ini sejak musim panas tahun lalu).

Namun untung saja saya dibelain. Hehe, untunglah. Sebab kalo nggak, saya dimusuhin. Hihi.

Beberapa orang memilih JQuery karena sifatnya:

  • Open source (jadi kode sumbernya bisa kita dapatkan dan kita utak-atik sesuai dengan standarisasi yang akan kita bangun. Terutama dalam membangun plugin yang cocok untuk membantu perkembangan bisnis)
  • Big players also do JQuery. Saya tidak perlu menyebut nama para pemain lama di dunia branding dan developing web itu (sebab akan jadi perdebatan publik nantinya soal pemilihan kalimat ‘Big Players’) namun banyak situs yang bersifat corporate dan pemerintahan menggunakan JQuery sebagai salah satu framework pembangunan situs mereka. Ketika Big Players memilih JQuery, mereka pasti sudah lebih memikirkannya matang-matang daripada kami. Dan saya yakin mereka tidak gegabah menggunakan sembarang framework.
  • Aplikasi berbasis web awal yang kami bangun berjalan dengan baik di Internet Explorer 6 (yang sialnya masih saja digunakan oleh 16% manusia di muka bumi untuk mengakses aplikasi yang kami bangun, padahal itu browser abal-abal). Namun sampai kapan? Sebab ketika IE6 musnah, artinya akan ada lagi sumber daya yang akan digunakan untuk memodifikasi aplikasi ini. Dan pikirkan saja tenaga, biaya, waktu, SDM, mesin dan bla-bla-bla lainnya yang akan keluar hanya karena mempertahankan aplikasi yang bisa jadi akan out of date dalam jangka waktu sebentar saja. Maka itu standarisasi menjadi penting. Dan JQuery kelihatannya mampu mengadaptasi standarisasi.

Memilih JQuery sebagai bahan pendapat dan melemparkannya pada beberapa team lokal dan internasional, sebenarnya hanyalah kebetulan saja. Saya cukup kaget ketika melihat beberapa aplikasi yang kami bangun (dan masih akan dibangun) ternyata sudah diadaptasi oleh JQuery. Loh kalau sudah ada yang open source dan supportnya banyak, ngapain susah payah membangun aplikasi yang benar-benar dari awal? Bukankah itu tidak efisien? Maka itu saya melemparkan isu JQuery agar bisa diadopsi oleh kebijakan team.

Beberapa orang cukup kaget ketika saya melemparkan ide untuk menggunakan framework JQuery dalam membangun aplikasi berbasis web. Ini disebabkan oleh edukasi mereka yang sudah sedemikian baik sehingga selalu berfikir mengenai faktor menata resiko yang ditimbulkan oleh sebuah perangkat lunak/keras dan kemungkinannya di masa depan.

Saya belajar sesuatu dari reaksi penolakan keras itu. Saya belajar bahwa kadang-kadang kita harus imbang dalam hidup. Jangan mentang-mentang gratis maka sebuah hal adalah baik. Namun harus dipikirkan baik-baik kemaslahatannya untuk orang banyak di masa depan. Begitupula sama dengan aplikasi komputer yang akan melibatkan banyak perut manusia.

Namun dari penolakan ini, saya mampu melihat bahwa beberapa orang dimana saya bekerja dekat dengan baik sehari-hari, adalah ahli dibidangnya dan selalu melakukan riset dan cross check sebelum melontarkan pendapat mereka di depan publik (meskipun publik itu ternyata adalah teman-teman dekatnya sendiri).

Sampai saat ini, belum ada hasilnya antara pendukung JQuery dengan penentangnya. Siapa yang lebih unggul atau siapa yang akan tersingkir. Tapi saya bangga, mampu membawa topik diskusi yang sehat dan baik yang bukan saja hanya berguna untuk saya pribadi, namun juga untuk rekan se-tim kami. (*Hehe, ge-er banget saya nih.*)

Apapun hasilnya, saya jadi ingat lagu Bang Iwan Fals dalam lagu Seperti Matahari, “Tujuan bukan utama. Yang utama adalah prosesnya”. Sebab apapun hasil dari diskusi hangat antara penggunaan JQuery atau tidak, akan sangat berguna buat kelangsungan hidup banyak kami di kemudian hari nanti yang menggantungkan hidup dari HTML dan konco-konconya :) .

Semuanya Pasti Possible Kalau Ikhlas

Seorang perempuan muda, berusia akhir 20-an datang ke kantor kami jauh sebelum saya tiba. Edukasi formal yang dienyamnya, membuat ia memiliki kadar ijasah yang lebih tinggi daripada milik saya. Simpel kata, ia walaupun muda namun lebih tinggi garis hierarkisnya daripada saya.

Sejak dua tahun lalu, ia memutuskan untuk mengambil alih pekerjaan membangun aplikasi web sejak webmaster kami menikah dan hijrah ke negeri lain. Sambil benar-benar buta dan sambil mengerjakan pekerjaan utama yang tidak kalah meletihkan sebagai associate marketing director, ia membangun aplikasi web berbasis HTML,CSS dan JSP. Belajar sambil melakukannya. Bahasa bulenya, learning by doing.

Dulu suatu hari, ia datang kepada saya. Meminta mesin virtual, agar kami bisa bekerja sama-sama. Banyak anggota rekan kami yang menentangnya. Maklum, memutuskan untuk membangun mesin virtual baru itu artinya butuh waktu tambahan untuk memaintainnya. Dan waktu itu selalu amat berharga di antara kami yang super sibuk.

Entah kenapa… Saya membelanya. Saya tahu dia buta kode script pemrograman. Saya tahu dia tidak tahu apa-apa soal HTML. Bahkan saya tahu dia pasti akan sangat super sibuk dalam hidupnya. Namun entah kenapa, masih saja saya bela.

Dengan cueknya saya meminta team IT untuk melakukan setting terhadap mesin virtualnya. Dengan cueknya, saya meminta jatah tambahan pada atasan saya untuk memposkan bujet khusus untuk dia. Padahal kami berdua hanya kenal melalui email belaka dan belum pernah bertatap muka.

Entah kenapa?

Dua tahun kami lalui dengan capek. Dia mati-matian belajar HTML. Kadang-kadang saya pun pulang telat kerja sebab harus memberikan panduan semacam kursus kilat secara online kepadanya mengenai HTML. Saya garuk-garuk kepala sambil gigit jari-jari sambil membersihkan, menstandarisasi script-script yang ia buat dan kirimkan sebelum diterjunkan pada deployment worldwide.

Dan itu terjadi selama dua tahun.

Dua tahun berlalu sudah. Dan tadi pagi saya dikejutkan oleh kenyataan bahwa semua script XHTML dan JavaScript yang ia tulis benar-benar bersih, nyaman di baca dan memiliki standar tinggi.

Saking senangnya, saya tulis email kepada beliau sambil memuji tampilan dan script aplikasi yang ia buat.

Tidak lama kemudian email itu ia balas. Jawabannya membuat saya tertegun. Dia bilang, “my work would never be possible without your detailed feedback and instructions. You’re a good trainer ;-)

Kalimatnya simpel. Tapi membuat saya lumayan terharu. Sekaligus bangga. Seorang perempuan muda cantik menarik namun well educated, memuji saya setinggi langit.

Ahhh, jadi ge-er saya, nih… :D

(*Biarkanlah saya sejenak untuk menikmati kegeeran dan sensasi culun sesaat pada sore hari yang hangat ini. Sebab jarang sih dapet yang kayak ginian. Hehe*)

Mencari Proxy Gratis Ketika Sensor Menggila

Saya tahu ini cerita basi. Maaf yaah :( Tapi akibat bosan terus-terusan mendapat pertanyaan yang sama. Maka ada baiknya info ini saya bagi.

Saya kesulitan mencari proxy gratis yang bahkan di sarankan oleh mesin pencari. Sebab secara otomatis, URL laman-laman website yang disarankan mesin pencari akan otomatis di block oleh kantor (yeah, kami punya mesin pemblock yang luar biasa dan saya dengan amat terpaksa merahasiakan informasi mengenai hal ini dari publik).

Untuk meminta ijin bahwa komputer saya akan mengakses website tertentu yang mengandung content bertuliskan ‘proxy‘ atau ‘anonymous surfing‘ (*iya, banyak sekali phrase yang di block oleh mesin penyensor kami, diantaranya dua kalimat itu*), jelas amat bisa. Tapi sebelumnya harus mengisi banyak formulir dan menuliskan alamat website agar bisa di review (bahasa halus dari sensor) oleh teman-teman dari departemen IT. Dan itu hal yang amat membosankan. Sebab butuh sumber daya waktu. Padahal hanya mau membalas email penting dari client yang 24 jam hidupnya tergantung dari facebook (dan content FB adalah salah satu yang di banned kantor saya)

Maka, biasanya saya dengan amat nakalnya menyingkat hal tersebut. Dengan menggunakan mesin pencari (seperti google misalnya) saya menuliskan di browser

+”:8080″ +”:3128″ +”:80″ filetype:txt 2010

Apa artinya?

+”:8080″ adalah meminta agar mesin pencari mencari string 8080. Dan 8080 adalah gabungan dari port 80 (saluran standar membuka internet)

Port ini adalah alternatif yang populer untuk port 80 untuk menawarkan layanan web. “8080″ dipilih karena ada “dua 80″, dan juga karena berada di atas rentang pelayanan jasa porting juga dikenal sebagai port pembatas (port 1-1023). Biasanya digunakan dalam URL untuk menimpa eksplisit “port default”.

Latar Belakang dan Informasi Tambahan:

Internet sebagian besar lahir pada sistem berbasis UNIX dan server. UNIX memaksa gagasan dari 1023 pertama “port istimewa” yang hanya dapat dibuka dengan layanan yang berjalan dengan apa yang disebut “root”, atau administratif, atau hak istimewa. Secara historis, ini berarti bahwa hanya sistem administrator yang berwenang mampu mendirikan dan mengoperasikan sebuah web server pada port 80 karena ini adalah dalam wilayah-port istimewa pertama 1023. Oleh karena itu, ketika non-administrator ingin menjalankan web server sendiri di mesin yang mungkin sudah memiliki sebuah server yang berjalan pada port 80, atau ketika mereka tidak memiliki izin untuk menjalankan layanan di bawah ini port 1024, port 8080 sering dipilih sebagai tempat yang nyaman untuk host atau alternatif web server sekunder.

Trojan yang pernah terdeteksi di port ini: Brown Orifice, Generic backdoor, RemoConChubo, Reverse WWW Tunnel Backdoor, RingZero

+”:3128″ adalah port squid (terkenal juga sebagai squid cache atau HTTP Proxies untuk menjembatani manusia dengan mesin yang mampu membuat mereka jadi tak terlihat, atau internetan jadi lebih kenceng, hehe) yang seringkali digunakan/diizinkan di US (wilayah juridiksi kerja saya ada di bawah hukum pemerintah Amerika Serikat) untuk digunakan secara terbuka. Jadi saya menggunakan port ini untuk berkomunikasi melalui proxy. Sebab legal dan sering digunakan para administrator untuk menjalankan jaringannya menuju internet.

+”:80″ adalah port menurut no-ip.com port 80 adalah “standard port which web(http) servers run on. Many ISP’s have blocked port 80 to stop viruses such as Nimda from slowing down their networks and infecting there customers computers.” Saya pribadi tidak akan melakukan apa-apa dengan port ini, saya hanya ingin tahu, adakah proxy terbuka yang menggunakan port ini.

“filetype:txt” adalah jenis file yang saya cari. Basisnya adalah text dan dapat dirender dengan cepat pada browser. Mengapa saya mencari jenis file ini, sebab hasil pencarian dengan laman yang menampilkan ekstensi html, php, jsp, asp dan lain sebagainya pasti sudah diblock.

“2010″ adalah tahun pencarian. Biasanya saya memang mencari proxy yang baru. Mesin pencari akan mengindeks halaman yang sudah dilihat oleh banyak orang lalu SEO akan menampilkannya di halaman pertama. Apabila teori ini benar, maka hasil pencarian proxy dalam teks yang tampil di halaman pertama mesin pencari akan menampilkan halaman-halaman yang amat populer dan mungkin overloaded dan usang. Untuk menghindari hal itu, saya memakai hasil pencarian terkini. Dan 2010 adalah tahun terkini (ketika tulisan ini dibuat).

Semoga informasi yang walaupun jadul (jaman dulu) dan kampungan ini sedikit berguna :)