Monthly Archive for September, 2010

Terjemahan ‘My Penis Is Big’ Dalam Bahasa Indonesia

(*Tokoh bernama Jali tidak menginginkan nama panggilan aslinya disebut sebab kelihatannya saya sudah menulis mengenai beliau di beberapa tulisan terdahulu. Banyak*)

Saya mau cerita sedikit ahh. Pengalaman akhir minggu. Kejadiannya sih masih baru. Sekitar dua minggu lalu. Pusing akibat beberapa situasi ajaib tengah melanda, saya putuskan jalan-jalan ke rumah sahabat.

Sahabat saya, sepasang suami istri seniman, punya anak perempuan yang baru beranjak dewasa. Kata orang-orang, ABG, Anak Baru Gede. Seorang remaja putri cantik dan cerdas dalam proses pubertas. Namanya, ahh panggil saja Nina.

Sepasang sahabat saya ini bilang bahwa akan menghadiri pesta lebaran di sebuah rumah yang jaraknya kira-kira lima belas kilometer dari rumah mereka. Saya di undang. Namun karena si suami istri itu boncengan naik motor pergi ke pesta, tinggallah saya, Nina dan Riri, sahabatnya yang juga ABG, naik kendaraan umum menuju pesta tersebut.

Alhasil, saya dan dua ABG ini dengan serta merta harus naik bis.

Saya sih ikhlas saja naik bis dengan dua ABG. Tapi dalam hati, yaa ampun, sumpah mati saya susah menahan tawa. Itu anak, dua orang, tidak henti-hentinya bicara telepon keluaran terkini yang mereka miliki.

Di sisi lain, saya kagum dengan kemampuan anak sekarang umur 11 tahun dalam merespons teknologi. Bayangkan, dua remaja putri ini sudah bicara mengenai jailbreak, cara membuka akses data administrasi utama (root) dalam telepon mereka. Bukan hanya itu, mereka juga sudah bicara teknologi kekuatan megapiksel dalam kamera telephone bahkan hingga perangkat lunak peer to peer dalam mengunduh lagu-lagu favorit mereka (lalu dijadikan ringtone).

Edan. Anak sekarang kok yaa pinter-pinter amat?

Di balik semua itu. Sih. Mereka tetap saja bocah. Di halte, ketika menunggu bis, si Riri menyetel musik dari telepon genggamnya keras-keras. Nina menggoyang-goyangkan kaki dan kepalanya mengikuti hentakan lagu disko. Saya? Hehe, saya pelan-pelan agak minggir sekitar tiga meter ke samping ketika banyak kepala menoleh kami. Saya malu euy, udah bangkotan masih nongkrong sama ABG. Hihihi.

Di Bis. Nina dan Riri duduk sebangku deretan kiri. Saya duduk di samping mereka. Deretan kanan. Kami hanya dipisahkan oleh gang empat puluh centimeter tempat hilir mudik lain penumpang. Mata saya lurus ke depan. Kadang lihat kanan. Pemandangan jalan. Tapi pas lihat kiri, buset dah! Ternyata dua anak ABG ini sedang sibuk berfoto ria. Kadang-kadang gantian. Kadang bersamaan. Mukanya, tubuhnya, dan kadang pura-pura merengut atau mengembungkan mulut pipi seakan penuh udara, semuanya penuh gaya. Atas nama eksistensi yang akan mereka pajang di dunia sosial media. Saya kembali lihat ke kanan. Garuk-garuk kepala sambil cekikikan.

Hahaha… Ada-ada aja ABG masa kini.

Tiba-tiba, ketika berfikir begitu, saya terhenyak. Buset dah, apa gua bukan ABG lagi yaah? Kalo iya, pasti gua udah ikutan tuh.

Yaelah, ternyata saya sudah merasa tua. Hahaha… Ampuun deh.

Akhirnya kami tiba di rumah pesta. Makan ketupat, kolak dan panganan lainnya dengan bahagia. Malamnya, dua ABG ini pulang ke rumah diantar oleh orang-tuanya masing-masing. Di jalan, saya bengong sendirian dalam bus kota. Memikirkan yang pernah saya lakukan ketika ABG dulu.

Hehe… Nostalgia.

(*Ok cerita pendeknya usai. Di bawah ini, saya akan cerita yang lebih panjang. Nostalgia. Biasa lah. Eksibisionis. Buka-bukaan membanggakan diri sendiri. Jagoannya saya. Yang hebat, saya. Yang bijak, saya. Pokoknya, semuanya tentang saya. Nggak tahu malu. Hehehe… Silahkan baca kalau masih berminat. Kalau tidak, well toh sudah diperingatkan. Hehehe*)

Apa yang saya lakukan waktu ABG?

Entah apa yang dilakukan ABG, anak baru gede lainnya pada masa itu. Yang pasti apa yang saya lakukan waktu masa remaja memang terbilang cukup tolol kalau dibandingkan anak-anak lainnya.

Hari-hari saya membosankan. Umumnya hanya berisi sekolah pagi di sekolah umum, lalu siangnya sekolah lagi di madrasah. Malamnya, kalau tidak mengaji yaa latihan silat. Begitu terus setiap hari. Bosan.

Waktu teman-teman bermain hujan-hujanan dalam deras membuat rakit dari batang pohon pisang dan lalu melayarinya di danau depan rumah, saya hanya bisa menatap termangu dari balik kaca jendela. Banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Hiburan saya saat itu biasanya hanya membaca buku Lima Sekawan karya Enid Blyton sambil minum coklat panas.

Sejak masuk Sekolah Menengah Pertama dan kenal Jali, hidup saya memang berubah. Saya punya alasan di hadapan ibu ketika beliau terkejut saya ketahuan bolos sekolah dan kedapatan seragam penuh bau rokok di mana-mana. Saya bilang “Bantuin Pak Rusdi, jaga aer”. Sebab Pak Rusdi itu selain teman Ibu sesama guru, seorang perokok berat, juga punya usaha sampingan jual air tawar bersih untuk bilas mandi dan minum (yang cukup langka bagi warga kampung pesisir pantai macam kampung kami Cilincing. Kami mandi pakai air asin, air laut. Sebab itulah air dari sumur kami. Agar rambut tidak kuning, setelah habis busa sabun terakhir dari tubuh, kami membilasnya dengan air tawar. Cukup satu gayung saja. Biar hemat). Yang paling penting, Pak Rusdi itu bapaknya Jali. Entah Ibu percaya apa tidak kebohongan saya untuk menutup-nutupi belajar merokok. Ibu tidak pernah curiga kalau saya bilang “belajar kelompok sama Jali”, padahal kami berlatih tinju dan lalu merokok setelahnya.

Dari Jali, saya kenal teman-teman lainnya. Sesama ABG. Anak-anak Baru Gede kampung kecil nelayan pinggiran bernama Cilincing.

Sebagaimana ABG berkategori miskin lainnya, kami jelas cemburu dengan ABG-ABG kaya yang datang ke sekolah naik vespa bapak mereka. Jangankan pada mereka yang memiliki kendaraan bermotor, pada remaja sebaya yang mampu beli mie goreng ketika jajan siang istirahat sekolah saja kami cemburu. Kalau ditanya apa sebabnya, jawabnya simpel; Lapar dan tidak mampu beli.

Orang miskin itu banyak. Tapi kalau sudah miskin cemburuan pula, itulah kami. Hahaha.

Entah sial atau untung, sebagai ketua OSIS (sebuah organisasi sekolah yang menurut saya tidak ada gunanya selain hanya memberikan akses kepada beberapa elitnya untuk mendapatkan fasilitas lebih baik ketimbang siswa lain yang harus menjual jiwa demi jadi perpanjangan tangan penguasa seperti kepala sekolah atau Guru Bimbingan Konseling, hehe), saya mendapatkan akses tak terbatas ke perpustakaan.

Saya di perpustakaan. Ketika Jali dan teman-teman saya yang lain sibuk nongkrong di ujung gang ketika bolos sekolah demi mencari nafkah

(*bisanya caranya agak tidak lazim, jadi ‘boy’. Disuruh preman dewasa beli anggur agar mereka bisa mabok sepuasnya. Contoh; ketika preman dewasa bilang “boy, beliin gua anggur”, biasanya si preman dewasa ini tidak memberikan uang untuk membeli Anggur Cap Orang Tua. Maka Jali dan teman-teman saya lainnya mengompas orang yang lalu-lalang di gang tersebut untuk meminta ‘uang lewat’ dengan paksa. Alasannya, “tambah-tambahin lah buat minum!”. Jali harus melakukan itu, sebab dialah si ‘boy’. Kalau yang diminta uangnya marah, Jali langsung bilang bahwa itu perintah dari preman dewasa dan apabila tidak diberi maka semua orang akan mendapat banyak masalah. Kalau uang hasil meminta paksanya sudah dibelikan anggur dan disetor ke preman dewasa namun masih ada lebih, maka saya, Jali dan teman-teman lain sesama ‘boy’ lainnya nikmati bersama-sama dengan membeli rokok dan makanan*).

Tapi bukan berarti saya tidak memiliki masalah di perpustakaan. Jali dan teman-teman ada tugasnya masing-masing. Mereka berharap bahwa dengan akses dan waktu di perpustakaan, saya mampu menemukan cara agar kami semua bisa bebas dari tirani kemiskinan sehari-hari. Itu masalah tersendiri.

Gila, gimana caranya biar nggak miskin? Emang gampang kali nemuinnya?

Saya baca buku-buku finansial. Dari teori-teori ekonomi yang sama sekali tidak dimengerti buat otak saya yang kecil ini, hingga ke masalah-masalah ekonomi yang kelihatan sepele macam harga cabe sehari-hari.

Setiap hari ada koran langganan sekolah datang. Saya baca iseng-iseng. Dari kartun hingga berita kematian. Di sana, di pojok tertentu. Menyempil. Ada tabulasi data aneh. Isinya grafik. Kadang naik, kadang turun. Ada angka. Ada simbol. Ada singkatan. Lama-lama, saya baru tahu kalau itu kurs valuta asing.

Hidup di dekat pelabuhan Tanjung Priok, membuat saya berfikir bahwa ada kolam tak terjamah dalam mencari nafkah. Namanya; ‘pelaut internasional’. Logika sederhana anak SMP saya berkata, dimana ada pelaut internasional pasti ada valuta asing.

Kami lalu berhenti jadi ‘boy’. Boy itu sarkas. Tahun 80-an, dimana film Catatan si Boy adalah representasi anak orang kaya yang tidak pernah pusing makan apa hari itu atau tidak pernah bertanya apakah malam ini bisa tidur bila atap rumah bocor kehujanan. Boy itu mimpi. Mimpi orang susah pinggiran macam kami. Kami bukan Boy, yang punya sidekick lelaki kemayu bernama Emon dan mungkin karena kaya, digila-gilai wanita. Kami, remaja tanggung, yang umumnya berakhir di pelabuhan. Sebagaimana bapak-bapak kami yang miskin melaut pergi.

Sore itu, di depan Pelabuhan Tanjung Priok Jali menatap saya, “Gimana caranya kita dapet dolar?”

“Kan banyak bule tuh, lo tawarin cewek aja”

“Bego luh, cewek dari mana? Kita aja nggak punya pacar. Lagian kalo punya pacar, amit-amit dah gua tawarin ama bule”

“Cewek kan banyak!”

Saya memberitahunya cara negoisasi dengan sopir angkutan kota. Beberapa orang sopir itu diantaranya tetangga kami. Saya pula memberinya bekal dalam kertas lecek beberapa patah kata dalam bahasa asing (yang saya lihat di perpustakaan sekolah) sebagai sedikit bekal panduannya dalam berkomunikasi ala Tarzan.

“Gini Jal, kan banyak tuh rombongan pelaut Amerika. Kalo turun kan gerombolan. Lu liat aja yang mukanya masih culun-culun. Jangan yang tua-tua. Reseh mereka”

“Trus gua apain? Gua palak! Lu bawa piso ga?”

“Yeee, jangan. Jangan kita rampok. Ditanya aja baek-baek, mao ga ama cewek. Pelaut kan berbulan-bulan di laut. Di kapal, isinya cowok semua. Pasti bijinya sakit, kepenuhan. Kalo kita bantuin ngosongin, kita bisa dapet dolar. Sekaligus dapet pahala, kan sakit tuh orang bisa pada ilang”

Tentu saja Jali sama sekali tidak percaya konsep saya akan surga neraka. Apalagi soal dosa dan pahala.

Namun akhirnya ia setuju juga. Sebagai permulaan, Jali saya ajak bersama. Ada empat pelaut dari kapal berbendera Kanada baru turun. Masih muda. Saya minta Mang Kosim, sopir mikrolet M-14 jurusan Cilincing- Tanjung Priok untuk berjaga-jaga dekat kami. Iming-imingnya, empat orang ini akan bayar penuh sebanyak penumpang yang biasanya muat berjubel di mobilnya. Pulang pergi.

Dan benar saja, empat pelaut muda ini langsung setuju dengan ide kami ketika saya bilang dengan sejumlah dollar saya bisa mengantarkannya kepada gadis-gadis asli Indonesia yang mampu membawa mereka mencapai nirwana. (*Kalimat gadis dan nirwana memang amat bisa diperdebatkan. Tapi persetanlah! Ini toh karir dagang pertama yang saya miliki*)

Akhirnya setelah sebentar negoisasi harga kami meluncur ke lokalisasi, yang untungnya tidak jauh dari situ (*Jadi kalau ada apa-apa, banyak teman saya yang akan back-up. Hehe. Seperti kata Amy Winehouse “you know I’m not good”, maka untuk jadi anak nakal harus punya pendukung demi bertahan hidup*). Dekat dinas pemadam kebakaran, mobil Mang Kosim berhenti.

Empat pelaut muda, Jali dan saya turun. Tugas Jali pertama adalah mengantarkan para pelaut-pelaut ini minum tangkur buaya. Minuman keras yang katanya dicampur dengan alat kelamin buaya jantan demi meningkatkan kekuatan gairah bercinta. Tugas saya, tentu saja melobi Mamih, penanggung-jawab pelacur-pelacur muda yang umumnya berasal dari pantai utara Jawa itu.

Mamih biasanya adalah wanita paruh baya. Bertanggung jawab terhadap kualitas service anak asuhnya. Sebagaimana germo lainnya, ia jelas-jelas serakah. Gimana nggak serakah, nggak ngangkang kok minta uang. Pura-pura pandir ketika anak asuhnya menerima lendir. Tapi hell yeah… Toh saya tidak lebih baik daripadanya. Saya pun berdusta kepadanya, bahwa semua yang saya lakukan sore itu hanya ‘balik modal’ belaka.

Mamih menatap jijik. Mungkin berlum pernah sepanjang hidupnya berbisinis selangkangan manusia dengan anak di bawah umur. Saya tidak peduli dengan sinar matanya. Malam itu saya dan Jali harus pulang dengan dollar.

Dan memang kami dapat apa yang kami inginkan. Walaupun sempat seorang pelaut mabuk bertanya pada Jali apa terjemahan My penis is big dalam bahasa Indonesia sebagai upaya merayu gadis yang akan dikencaninya. Jali hanya menatap saya, sebab kalimat itu tidak ada di kertas terjemahan kucel yang saya beri. Atas nama service, saya terjemahkan kalimat itu kepada gadis yang ia tengah peluk, “kamu cantik sekali”.

Dollar demi dollar kami dapatkan setelah malam itu. Saya jadi jarang mengaji apalagi latihan silat. Sedikit demi sedikit, kami kenal tipikal pelaut lelaki bule. Mulai dari bule Jerman, bule Filipina hingga bule Madagaskar. Semua bule pelaut umumnya pernah mampir ke pelabuhan Tanjung Priok. Wilayah area bisnis kami. Namanya lelaki ternyata semuanya sama. Kalau terlalu lama jauh di mana hingga sakit bijinya, pasti doyan wanita.

Uang yang kami dapatkan, didagangkan dengan valuta asing lainnya yang grafiknya naik selama 30 hari dengan stabil. Terus begitu. Alasannya, grafik itu setelah di analisa, pasti paling lama dua atau tiga bulan naik turunnya. Tapi pada intinya, sebenarnya sih demi menghilangkan status sosial bernama miskin yang berefek pada urusan perut sehari-hari.

Boy demi boy, melihat kenyataan ini. Niatnya, ikut-ikutan si Arip ama Jali yang kalau beli rokok bungkusan melulu sekarang. Tidak lagi batangan. Makan pun sudah bisa di warung padang. Bisa beli rendang. Naik derajat. Naik kasta. Di Cilincing cuma orang kaya yang bisa makan makanan Padang terus beli rendang.

Beberapa boy Cilincing pelan-pelan meninggalkan dunia preman dewasa. Ikut Jali. Tentu saja diam-diam. Takut dipukuli babak belur kalau ketahuan preman dewasa.

Jali cemas. “Kalo begini, kita bisa banyak saingan men. Tapi kalo kita rekrut semua kan nanti jatah kita dikit. Abang-abangan juga udah mulai curiga ama gua”. Referensinya terhadap kalimat ‘abang-abangan’ adalah para preman dewasa yang harus selalu kami panggil ‘Bang’ demi status penghormatan. Sialnya, kalimat itu pula yang seringkali jadi alasan mereka menindas boy-boy culun kecil kurus ingusan, macam kami.

(*BTW, saya dipanggil Bang gara-gara dulu dagang makanan keliling. Mirip tukang bakso. Jadi bukan gara-gara keren apalagi jago. Hihi*)

Tidak kuat saya menghadapi pertanyaan Jali yang banyak dan semuanya fakta. Bingung euy. Gimana jawabnya?

Maka dalam bimbang satu-satunya jalan yaa ke… Perpustakaan. Lagi-lagi berdasarkan logika saya yang cupet, di sana semuanya dimulai di sana pula semuanya harus berakhir.

Dalam masa gamang di perpustakaan dan ketika semua operasional di pegang Jali sehari-hari demi ‘mencari nafkah’, bacaan saya bukannya buku-buku finansial, e-eh malahan baca buku-buku Sarekat Islam dan Tan Malaka. Yang terakhir, saya dapatkan dari seorang guru yang diam-diam suka memberi buku-buku tipis yang kelihatannya dicetak entah dimana itu (*Yang pasti, bukan terbitan Balai Pustaka, pencetak umum perpustakaan sekolah kami*).

Seminggu di perpustakaan, saya kembali lagi ke Jali. Muka saya keruh. Capek. Di rumah juga kurang tidur. Baca. Baca. Dan hanya membaca kerjanya.

“Jal, kita nggak bisa begini terus. Cepat atau lambat, kita pasti bangkrut”

“Yaelah. Itu sih kan yang gua bilang dari kemaren-kemaren. Usul lo apaan dong?”

“Kita harus merdeka!”

Jali bengong. Lama sekali. Dan saya meyakinkankannya sekali lagi. Bahwa Cilincing harus dimerdekakan dari pemerintah Republik Indonesia. Merdeka adalah satu-satunya jawaban. Kalau kami tidak bayar pajak lagi ke Republik Indonesia, dari uang itu pasti kami bisa membuat kolam penampungan air hujan sendiri. Jadi semua warga dapat air bersih. Kalau merdeka, kami kan bisa bikin warung Padang sendiri?

“Gimana caranya?”

“Gampang! Gua udah baca Sarekat Islam”

“Sarekat islam, maksud lo pergi haji bila mampu?”

“Bukan, itu mah laen lagi. Sarekat itu sekolahnya orang-orang pinter. Sekolahnya Semaun, Kartosuwiryo dan Soekarno. Lu tau kan Soekarno? Yang lepboy itu? Tapi mereka bentrok. Sial tuh. Nah kita jangan bentrok kalo mao merdeka. Kalo kita merdeka, pasti kita bisa nggak miskin lagi. Kampung kita pasti berjaya”

“Merdeka? Lu gila! Gimana caranya?”

“Ada dua. Satu lewat pengakuan internasional, nah kita kan punya client-client internasional nih di Pelabuhan Tanjng Priok. Kita barter aja ama mereka. Tiap joget ama maen gadis-gadis kita, mereka dapet diskon. Tapi mereka harus tempel pamflet kemerdekaan kita di negaranya. Dulu Sukarno juga gitu. Cuman bedanya ama kita, dia mah ganteng, jadi nempelinnya di cewek-cewek. Nah satu lagi, lewat perjuangan bersenjata. Kita harus beli senjata, ngajarin boy-boy baru nembak. Kalo perlu abang-abangan di ajak juga. Kita kan butuh orang yang badannya gede”

Jali berfikir lama sekali, “Duit dari mane beli senjata, rip?”

“Itu mah gampang. Kita rampok aja Bank BRI yang ada di samping stasiun Tanjung Priok. Duitnya kita beliin senjata”

“Gimana caranya ngerampok Bank BRI”

“Itu mah gampang… Nanti kita pikirin sama-sama. Buat apa kita punya Jumari. Dia kan pinter. Kita tanya aja ama dia. Okeh?”

Jali menatap saya lama. Lama sekali. Hingga akhirnya ia mengangguk setuju.

Sejak hari itu, malam-malam kami penuhi dengan rapat dan hanya rapat. Satu-satu, ABG kampung kami datang ke rapat itu. Anehnya, kami tidak membicarakan kemerdekaan Cilincing. Kami hanya membuat siasat, bagaimana cara merampok Bank BRI dengan baik dan benar. Hanya beberapa orang yang tahu kalau hasil perampokan akan dibelikan senjata. Rapat-rapat rahasia terjalin dalam ruang kecil di samping tangki air bersih milik Pak Rusdi. Penuh asap rokok. Kadang-kadang kalau ada uang, pakai anggur murah oplosan. Menyiksa paru-paru. Namun sebenarnya, yang terjadi adalah paru-paru remaja kami lebih tersiksa dengan ide-ide revolusi. Kami harus merdeka!

Sebulan lebih kami merencanakan dengan matang, bagaimana menyewa senjata dan peluru yang akan digunakan dalam merampok Bank BRI. Berpikir rencana matang menggunakan ojek yang mampu melarikan kami bagai setan ketika diburu polisi. Sebulan lebih kami mencari kontak boy-boy yang kakak atau bapaknya polisi dan tentara. Niatnya, beli peluru dan sewa pistol sementara. Sebulan lebih kami tenggelam dalam rencana-rencana gila.

Suatu hari, beberapa hari menjelang hari-H. Saya dan Jali duduk di depan beranda rumah Ibu saya. Kami sedang menikmati es buah. Hari itu siang panas sekali. Biasa lah, ini Cilincing. Kalau nggak panas, bukan Cilincing namanya.

Ibu memanggil dari dalam. Saya diminta duduk di kursi meja makan. Di ruang tengah. Saya menolak. Saya bilang, ada Jali di luar. Kan tak mungkin meninggalkan sendiri. Tidak sopan. Ada tamu kok ditinggal.

Ibu jawab, “Panggil juga Jali ke dalam”

Tidak lama, kami berdua bergidik mendengar Ibu bicara.

Entah bagaimana, rupanya Ibu sudah tahu bahwa sebentar lagi saya dan Jali akan merampok bank. Saya curiga jangan-jangan adik saya si Gugun yang membocorkan rencana ini ke telinga Ibu.

Ibu tidak marah. Beliau memanggil Bapak dan Ibu Rusdi yang rupanya sudah ada di dapur menunggu. Jali terlihat kaget ketika orangtuanya masuk ke dalam ruang makan kami.

Astaga, rupanya mereka sudah tahu semuanya.

Tidak lama kemudian, ada bapak-bapak setengah baya masuk ke rumah kami. Ibu berkata lembut pada saya dan Jali, bahwa Ibu dan juga orangtua Jali, adalah nasabah bank yang akan kami rapok. Apakah kami tega mengambil hak mereka yang sudah bekerja keras. Bapak-bapak sial yang baru datang itu, ternyata adalah satpam bank BRI. Ia cerita bahwa ia punya empat anak di rumah yang harus diberi makan. Anaknya yang paling kecil berumur empat tahun. Yang besar, SMP, sama seperti kami.

Masih dengan lembut Ibu bertanya, apakah kami akan menembaknya ketika ia melawan untuk mempertahankan diri dan kehormatannya nanti?

Saya dan Jali jongkok gemetar. Kami tidak bisa bicara apa-apa.


Lagu: Sebentar Lagi Malam Minggu

Seperti biasa, sebelum akhir pekan, biasanya kerja saya yaa menghibur diri. Maklum, saat-saat ini memang sedang butuh hiburan. Mengharapkan hiburan dari orang lain, khawatir mengganggu. Jadi daripada begitu, yaah mendingan begini. Hehe.

Lagi-lagi bikin lagu. Ambil gitar, gonjrang-gonjreng tidak jelas. Liriknya sama, tapi kalau diulang lagi, tiap bunyi, nada keluar berbeda-beda. Hihihi… Maklum amatiran.

Kalau mau ikut bernyanyi, silahkan. Mau pakai instrumen apa saja, bahkan hanya cuma bersiul, yaa boleh saja. Yang penting, ehmmm… yang penting… bersuara. Hahaha.

Maka itu, silahkan menikmati :) Ini lagunya;

——————————-
Sebentar Lagi Malam Minggu
oleh: bangaip_topdeh

Apakah aku harus mencintai kamu, wahai negeri yang 65 tahun merdeka namun rakyatnya masih tetap harus berjuang hanya untuk bebas berbicara?
Apakah aku harus mencintai kamu, yang terpilih dengan langsung umum bebas rahasia namun setiap hari memperkosa harapan dan menyetubuhi uang pajakku sia-sia?
Apakah aku harus mencintai kamu, yang hingga hari ini dengan tenangnya berkata ‘Ini sekedar salah prosedur’ ketika saudaraku di Papua sana kau tembak dengan peluru, yang-sedihnya-dibayar-oleh-keringat-saudaraku-lainnya, hingga mati?
Apakah aku harus mencintai kamu, ketika pagi itu kau pukulkan tongkat besi mematahkan semua rusuk sendi kepada sesama saudaramu Maluku yang kucintai hanya karena berbeda pendapat lalu mengibarkan bendera sendiri?
Apa aku harus mencintai kamu, ketika kau benci tari Cakalele atas nama tuhan politikmu dan penjarakan para pemuda penari?
Apa aku harus mencintai kamu, meski per hari kau berdusta pada keadilan Munir yang harus ditepati?
Apa aku harus mencintai kamu, ketika kau mengaku toleransi namun diam saja ketika ahmadiyah diburu dibakari atau para pendeta Cikeuting dibelati hingga hampir mati?
Apa aku harus mencintai kamu, yang sering bergelimang darah saudaraku hanya demi secuil garis di peta bernama NKRI?

Apa aku tetap harus mencintai kamu?

Jawab dong, sayang! Sebentar lagi kan malam minggu.

—————————-

Selamat bernyanyi di akhir pekan ini :)


Taksi IV (Ke Mertua Badu)

Kaya itu apa?

Badu menoleh ke arah saya dengan tatapan mata tidak percaya. Ia mengerenyitkan alis. “Lu gila ya? Kaya aja nggak tau!”

Saya sudah di rumah Badu dari jam 10 pagi. Suatu April lalu di pagi yang terik pada pukul delapan, saya baru bangun tidur di rumah Ibu di Cilincing. Itu pun setelah Ibu teriak-teriak di kuping saya (*Ibu kadang bingung, kenapa kalau di Cilincing saya masih bisa tidur dalam keadaan berisik. Dan kenapa juga susah sekali membangunkan saya dari tidur*). Begitu membuka mata Ibu bilang bahwa sahabat saya Badu menelpon sambil menangis. Ibu bingung kenapa pula ada pria menangis menelpon putranya. Saya angkat telepon itu dan lalu segera pergi dengan taksi ke rumah Badu.

Singkat cerita. Badu berduka, istrinya Wina kabur dari rumah.

Saya pikir, tidak akan lama. Paling lama sejam untuk meyakinkan Badu bahwa semuanya akan baik-baik saja. Istrinya akan pulang. Dan rumah tangganya akan bersinar normal kembali. Maka itu, saya bilang kepada bapak supir taksi agar menunggu saya di depan gang rumahnya. Saya malas panggil taksi lagi. Rumah Badu jauh dari jalan raya. Ia ada di dalam lorong-lorong kecil yang di Jakarta sering disebut sebagai ‘gang tikus’ akibat susah dicapai.

Sialnya, sudah dua jam saya masih saja ada di sisi Badu. Nampaknya si kampret satu ini berhasil meyakinkan saya bahwa ia akan bunuh diri tidak lama lagi. Saya bingung. Satu sisi, saya harus ke rumah seorang teman yang rumahnya kebanjiran dan kehilangan segalanya, hal yang harus saya selesaikan hari itu. Di sisi lain, ada sahabat saya lainnya yang mau bunuh diri. Pas di samping saya. Detik itu juga.

“Lu ngapain sih bunuh diri. Kaya orang ga punya iman aja…”

Badu menyela. Matanya mencolok, “Haloo.., look who’s talking! Sejak kapan lu punya iman? Buset dah rip. Jangan ngomong soal iman lah ama gua. Emang kita betemen cuman setaon dua taon! Lo beriman! Ngimpi kali? Iman wasaiman! Sok ngasih tau gua lah soal iman? Buseeet dah!”

Saya cengar-cengir saja mendengarnya. Ini pertanda bagus. Biasanya kalau orang memang niat mau bunuh diri, omongan orang lain sukar didengarkan. Kalau Badu memang akan bunuh diri, maka ia pasti malas mendebat saya. Ini nyatanya tidak. Berarti masih ada harapan.

Dia merengut. “Ah lu, men. Gua lagi susah begini. Lu malah ketawa”

Saya pamit sebentar. Mau bilang pada pak supir taksi bahwa nampaknya beliau akan menunggu lebih lama daripada yang saya kira.

Satu lagi alasan saya pergi keluar yang tidak saya utarakan padanya, saya mau lihat senekat apa dia di pagi itu. Saya pergi paling hanya 5 menit. Kalau dalam tempo itu Badu sudah menyilet nadinya. Maka saya masih bisa melarikannya ke rumah sakit terdekat dengan taksi. Hehe.

Saya tahu saya kadang sadis. Tapi biarlah. Mungkin dengan begitu, Badu akan lebih menghargai hidup.

Tapi itu mungkin loh… Saya sendiri tidak tahu pasti. Kata teman saya si Diah, yang sudah kepalang basah beberapa kali kepergok mencoba bunuh diri, ada beberapa suara tanpa wujud yang menyuruhnya melakukan aksi aneh tersebut. Saya sendiri tidak percaya bahwa suara-suara itu ada selain tanda dari schizophrenia. Tapi saya yakin bahwa beberapa tetangga kami memang bersumpah kalau si Diah memang pernah beberapa kali menarik tali ke bubungan rumah, membuat simpul dan lalu mencoba menaruh lehernya di sana untuk loncat sebelum akhirnya diselamatkan. Saya yakin Diah tidak bohong. Sebab beberapa orang bahkan melihat si Diah bergumam komat-kamit sebelum mencoba melakukan aksi meninggalkan dunia fana ini. Saya yakin seyakin-yakinnya.., Diah sakit jiwa.

Rencananya mau lima menit meninggalkan Badu saya malahan ngobrol lama dengan supir taksi soal Diah. Buset dah. Saya agak khawatir mengenai si Badu. Jangan-jangan nadinya sudah mau copot! Wah bahaya kalau begitu. Jadi dengan cepat, saya lari kembali ke rumahnya.

Namun ketika saya kembali, Badu rupanya ada di dapur. Dia sudah menyeduh dua gelas teh panas. Ini pertanda lebih bagus. Mana ada orang yang mau bunuh diri, minum teh melati hangat?

Sambil menghidangkan teh panas di depan saya, ia bilang “Ginilah rip resiko punya bini dari keluarga kaya. Bukannya kaga mao diajak susah. Tapi kaga bisa betahan kalo lama-lama susah”

“Tapi kan lu punya kerjaan, men. Masa sih dia begitu. Jadi istri lu kabur gara-gara lu miskin? Buset dah, kemana aja dia selama ini? Apa lo kali yang ngarang. Lu pan udah miskin sejak lama, men. Jaman gua miskin, lo juga ikut miskin. Jaman gua berjaya duit banyak, lo masih tetep miskin. Sekarang pas jaman gua miskin lagi, lo masih aja miskin.”

“Tai luh, Rip. Udah lah jangan banyak omong, minum dulu tehnya”

Teh saya seruput. “Ngehe luh, kalo nggak mao dengerin lah trus lo ngapain pagi-pagi nangis mewek nelpon emak gua minta gua dateng?”

Dia bengong. Lumayan lama. Saya sih cuek saja. Kalau perlu, saya tambahi memaki-maki dia, orang yang akan bunuh diri. Hihihi.

“Bisnis gua, packing kertas kado, ampir bangkrut Rip. Si Wina mao ke Malaysia, mau jadi TKW sawit di sono. Gua bilang jangan. Malaysia kan negara yahudi, isinya orang kapir semua, tukang jagal. Ngapain juga ke sono. Gua kan cinta ama dia. Kalo ada cinta, pasti bakalan idup dah…”

Pertama-tama, saya tidak bisa bicara mengenai pandangannya yang benar-benar ajaib tentang Malaysia. Yang kedua, mulut saya benar-benar terbungkam ketika ia bicara tentang hubungan antara relasi suami istri dan pengaruh finansial diantaranya.

Jagal Yahudi mendominasi Malaysia? Sejak kapan Malaysia di jajah Pemerintah Israel? Hehehe

Terus, kalau ada cinta semuanya akan baik-baik saja? Eh buset, emang hidup ini bagaikan lagu klasik rock amerika karangan The Eagles, grup band dari LA?

Don’t you worry
Sometimes you’ve just gotta let it ride
The world is changing
Right before your eyes
Now I’ve found you
There’s no more emptiness inside
When we’re hungry… love will keep us alive

(*”Love Will Keep Us Alive” adalah judul sebuah lagu yang ditulis oleh Jim Capaldi, Paul Carrack, dan Peter Vale. Dikenalkan pertama kali oleh Eagles pada tahun 1994, selama tur reuni “Hell Freezes Over”. Dinyanyikan oleh bassis Timothy B. Schmit.*)

“Istri macem apa tuh. Udah dilarang ama suami, tetep aja ngotot. Haroom itu istri yang melanggar perintah suami. Dilaknat…”

“Lu nya aja kali yang ngotot. Giliran istri lu gantian ngotot, lu ngamuk pake bawa-bawa nama langit segala. Yaelah!”

“Jadi gua gimana dong?”

“Masalahnya apa sih sebenernya? Kalo dia kekurangan uang belanja, yaa lu cukupin lah. Jangan sampe dia jadi buruh sawit di Malaysia cuman gara-gara kepengen beli lipstick doang”

Saya memang agak khawatir kalau Wina akan jadi buruh pengumpul sawit di Malaysia. Jangankan di negeri jiran, di negeri sendiri saja, buruh sawit itu tidak jauh bedanya dengan rekan buruh pada masa kolonial dahulu. Sama-sama susah hidup. Menyedihkan. (*Sumber: personal yang bergerak di industri sawit maupun gerakan resistensi anti sawit, nasional maupun internasional*)

“Yaelah Rip, gua harus gimana lagi dong. Bisnis gua bangkrut. Istri gua kabur. Bisa apa lagi gua?”

Wah, di sini saya baru sadar betapa sudah singkatnya jalan pikiran Badu. Waduh, serem juga yaah. Ternyata bunuh diri itu bisa dipicu oleh buntunya pola pikir.

“Wah men. Kacau luh. Lu kan bisa ngetik. Sebego-begonya lu kan pernah bikin skripsi yang diketik ama komputer. Sumpah dah gua saksi matanya. Masih inget gua kita dulu berbulan-bulan kayak orang dongo tiap hari di depan komputer melongo. Terus ngetik. Terus melongo lagi. Terus aja begitu kayak orang gila”

“Mana laku skripsi gua? Jangankan skripsi, ijasah gua aja nggak laku! Kalo laku, ngapain juga gua buka bisnis packing kertas kado, bloon!”

“Tapi minimal lo kan bisa ngetik men! Noh di Pasar Senen, banyak orang yang ngantri minta diketikin ama komputer. Belom lagi mahasiswa males tapi punya duit yang minta diketikin skripsinya. Tuh, kalo lu mao buka mata barang sepicing aja, Pasar Senen cuman selemparan kolor. Cari kerja di sono! Baru bangkrut sekali aja luh udah sok-sokan mao bunuh diri. Noh liat Bang Ayon…”

“Kenapa Bang Ayon?”

“Anaknya meninggal ditabrak metromini waktu masih kecil. Terus istrinya selingkuh. Kabur ama laki-laki laen. Buka warung, sial digerebek iblis berjubah gara-gara jual bir tiga botol. Ampe bangkrut abis-abisan tuh warung. Abis itu, rumahnya kebakaran. Tapi dia ga bunuh diri tuh. Masih nongkrong di stasiun. Jagain WC umum. Buat survive. Dan dia juga sarjana… Kayak elo! Lu baru segini doangan, udah belagu bunuh diri. Yaelah!”

Badu diam. Saya juga diam sambil tersengal-sengal bernafas setelah kebanyakan omong.

Sumpah mati saya kaget. Entah kemasukan setan apa di pagi itu, ceramah soal moral dan perjuangan hidup kepada Badu. Memangnya saya siapa? Sebegitu fasihnya memberikan dia masukan begitu rupa?

Tidak lama kemudian, saya dan Badu berada di atas taksi membelah Jakarta. Menuju rumah mertuanya. Ke tempat di Wina berada.

Lagu dangdut dari radio Betawi mengalun pelan di dalam mobil yang kami tumpangi.

Tiba-tiba Pak Supir cerita kalau waktu ia kaya,  istrinya ada tiga.

Sekali lagi. Saya benar-benar mau tahu. Sebenarnya, kaya itu apa sih?


Gangguan Spam Di Telepon Genggam

Saya baca tulisannya teman saya, Bu Enni, soal telepon. Bagus loh. Menyoal bagaimana beliau berhadapan dengan penelpon dan SMS tak berguna dan trik beliau menggunakan silent mode pada ponselnya. Begini Bu Enni menulis:
Rasanya semakin banyak saja sms masuk yang tak berguna, dari sms minta pulsa (jelas tipu-tipu), sms penawaran KTA (Kredit Tanpa Agunan), sampai yang terakhir adalah sms penawaran jika mau beli rumah.
(Baca lebih lanjut tulisan beliau di http://edratna.wordpress.com/2010/09/13/silent-mode/)

Tidak lama saya baca juga tulisan keren dari MalasBangetDotCom soal spam melalui telepon atas nama telemarketer. Begini tulisan crew MDBC:
Terkadang menerima telepon dari telemarketer emang bisa bikin sebel. Apa lagi kalau kita emang nggak perlu produknya dan udah berkali-kali dihubungi oleh mereka hanya untuk kembali menawarkan produk yang sama, mulai dari promosi tempat fitness, penawaran kartu kredit, sampai berlangganan tv kabel.
(Baca lebih lanjut tulisan mereka di http://malesbanget.com/2010/09/cara-menghadapi-telemarketer/)

Tahun lalu, teman saya yang saya panggil om-om biar kedengaran seksi (jadi kita sebut saja namanya Om Fertob), menulis soal SMS Spam. Begini asal mulanya:
Saya sendiri punya 2 nomor telepon seluler. Yang satu katanya sinyalnya kuat, dan yang kedua katanya tersebar di seluruh Indonesia. Keduanya sudah lama saya pakai, lebih dari 5 tahun. Nah, kedua penyedia nomor seluler prabayar ini sama perilakunya. Sama-sama suka mengirimkan SPAM dalam bentuk SMS (short message service)”
(Baca lebih lanjut tulisan om kita ini di http://fertobhades.wordpress.com/2009/12/01/sms-spam/)

Pada intinya, semuanya sama. Asalnya adalah ketika privasi mereka dalam menggunakan telepon seluler, diacak-acak.

Kali ini, saya memang mau menulis soal telepon genggam dan perilaku yang menyertainya. Biasa lah, ikut-ikutan aja temen-temen saya di atas. Hehe…

Saya pribadi, selama ini walaupun kerap diprotes, terbilang cukup sadis dalam melakukan komunikasi melalui telepon genggam. Apabila dapat telpon dari penelpon tak dikenal, tidak akan saya angkat. Dapat SMS dari nomor tak dikenal, tidak dibalas. Dapat SMS Spam, saya kumpulkan lalu laporkan ke Yayasan Lembaga Pelindung Konsumen.

Komunikasi melalui telepon genggam, buat saya hanyalah untuk masalah yang penting saja. Iya saya tahu, dengan konsep tersebut, mensejajarkan saya dengan manusia yang dituduh ‘purba’ atau ‘orang tua jadul’ dan ‘ketinggalan jaman’. Biarlah. Tidak terlalu penting.

Saya menelpon, melalui telpon genggam, biasanya selama ini hanya menghubungi nomor-nomor penting masa darurat, seperti polisi, ambulans atau sahabat saya yang orangtuanya baru meninggal. SMS dipakai untuk memberitahu ketika telat akibat transportasi publik, sakit atau janji yang perlu konfirmasi.

Tahun ini, kebetulan frekuensi saya bepergian cukup tinggi. Hingga bulan ke delapan tahun ini saya sudah harus mengunjungi empat belas negara secara kontinyu di beberapa benua. Kemana-mana butuh ponsel. Setiap pindah negara, provider telepon memberitahu bahwa negara yang saya kunjungi memiliki sistem pembayaran berbeda-beda untuk menelpon dan SMS. Itu pun, sudah saya anggap SPAM. SMS yang tidak diinginkan.
(*Ketika saya complain ini ke provider, mereka meminta maaf dan Public Relation mereka langsung menghubungi saya untuk menindaklanjuti kalau-kalau saya akan menuntut, hehe*)

Yang paling parah mengenai banyaknya SMS/telpon SPAM, dari semua negara yang saya kunjungi adalah… Republik Indonesia.

Saya tahu, tidak adil memang membandingkan RI dengan negara-negara lain yang saya kunjungi. Sebab sangat subjektif sekali penilaiannya. Namun apabila memakai parameter SMS/Telpon SPAM, serta terbatasnya waktu residensi saya di tiap-tiap negara, maka tanpa ragu-ragu, saya berani bilang saya menerima lebih banyak telepon dan SMS yang tidak diinginkan ketika berada di Indonesia.

Begitu beli nomor kartu Indonesia baru, dapat SMS spam. Mulai dari ringtone, hingga acara TV. Ketika pulsa habis dan isi ulang, langsung dapat sembilan SMS SPAM. Gila, sembilan! Isinya iming-iming pulsa baru, doa mustajab hari ini hingga uang bermilyar-milyar. Begitu daftar hotel dengan nomor tersebut, tidak lama kemudian dapat telepon dari Customer Service hotel yang masih dalam group yang sama, menawarkan paket honeymoon ke Bali. Bulan madu sama siapa coba? Lah wong saya bepergian sendirian! Honeymoon sama dia? Ogah ahh, sudah cowok, suaranya nge-bass pula!

Sejak tahun 2000 ketika penggunaan telepon genggam semakin populer, spam melalui SMS dan telepon (disebut juga sebagai m-spam, singkatan dari mobile spam) memang semakin menggila. Dalam upaya untuk melawannya, negara-negara misalnya di US, Canada, EU dan Australia, mengeluarkan undang-undang di bawah nama trespass to chattels (Pelanggaran pada barang bergerak).

Pelanggaran pada barang bergerak adalah gugatan dimana pihak yang melanggar telah sengaja mengganggu milik sah harta (properti pribadi bergerak) orang lain. Gangguan tersebut dapat berupa kontak fisik atau pencabutan hak dari harta (properti pribadi bergerak) itu (baik dengan mengambil itu, menghancurkan, atau pembatasan akses pemilik). Agar tidak disalahgunakan, trespass to chattels hanya dapat ditindaklanjuti jika kerusakan yang sebenarnya dapat ditampilkan (*untuk kasus saya; misalnya SMS SPAM ringtones yang sekali kirim bisa sampai sembilan kali*).

Sialnya kita semua, yang masih dan akan bermukim di RI, hukum trespass to chattels tidak mempan berlaku di Indonesia. Sebab memang belum ada niat dari penyelenggara telekomunikasi di negeri ini untuk membuat jera para mobile spammer tersebut.

Bagaimana Memerangi Mobile Spam

Jawabnya simpel: Susah!

Kenapa susah?

  • Terbatasnya fasilitas program di kebanyakan telepon genggam (kecuali yang canggih semacam smartphone)
  • Tidak banyaknya pengembang perangkat lunak yang memfokuskan diri dalam filterisasi mobile SPAM
  • Jika memang ada filterisasi SPAM, maka untuk SMS akan sulit, sebab ada provider yang membebani pengguna mereka pulsa dengan SMS SPAM. Jadi mereka kirim SPAM, kita yang bayar. Kampret!
  • Providers yang notabene para raksasa telekomunikasi itu pasti tidak mau ladang usahanya dibantai demi kemslahatan umat pengguna mobile. Untuk kasus RI dimana undang-undang bisa dimodifikasi per sponsor terbesar, mereka akan melobi para politisi untuk melambati proses ini

Jadi Kita Tidak Bisa Memerangi Spam Pada Ponsel?

Jelas bisa, say!

Amerika Serikat, bisa memerangi SMS dan telepon yang tidak diinginkan ini dengan menerbitkan Undang-undang yang disahkan Dewan Komunikasi Federal (FCC) tahun 2003 (yang disebut CAN-SPAM Act of 2003 lalu ekstensinya di tahun 2004.

Uni Eropa pada May 2009 menerbitkan EYouGuide. Yaitu sebuah panduan untuk para warganya dalam melakukan komunikasi online. Di sana terlihat hampir semua peraturan yang dibuat oleh Dewan Uni Eropa dalam melindungi warganya beraktifitas digital. Selain melindungi, juga terlihat bahwa sanksi sudah diterapkan bagi para spammer mobile sejak tahun 2004.

Australia membuat ACMA (Australian Communications and Media Authority), sebuah lembaga yang bertugas memerangi SPAM pada media. Tahun 2009 lembaga ini mendenda Vodafone Hutchison Australia, raksasa provider mobile, sebanyak $110,000. Gara-gara provider ini mengirimkan 100 ribu SMS kepada penggunanya.

Bill C-27 adalah proyek legislasi yang dibuat oleh Canada dalam mengantisipasi SPAM global di negara mereka (*yang katanya menghabiskan sekitar 3 milyar dollar pertahun*)

Di RRC, tiga raksasa provider berkerjasama dalam memerangi mobile spam. Caranya adalah dengan membatasi dan mengambil tindakan keras pada pengirim pesan teks SMS spam. Berdasarkan pembatasan, nomor telepon dan pengiriman SMS dengan tidak lebih dari 200 pesan per jam atau 1000sms/hari kerja.

Jadi, kalau mereka bisa, kenapa kita tidak?

Bukankan salah satu bukti bangsa besar bukanlah bangsa yang mencoba memerangi dan menjajah tetangganya, melainkan bangsa yang mampu memerangi SPAM?

Ayo Republik Indonesia, kita pasti bisa! :D


(Saya) Gila Dan (Saya Cari) Metode Penyembuhannya

Saya memang cukup sedih akhir-akhir ini. Beberapa orang yang saya pikir dekat dengan saya dan mengerti tentang saya; menuduh saya tidak waras.

Tadinya, pada hari-hari awal, saya hanya cengar-cengir senyum tidak jelas menjawab tuduhan itu. Saya sadar saya gila. Hehehe. Itu mah dari dulu. Nggak usah diomongin saya juga sudah cukup tahu diri. Hehehe.

Tapi ketika makin hari dan hampir setiap saat saya dituduh “terlalu banyak bekerja hingga stress lalu depresi tanpa sadar”. Saya makin kaget. Lantas dalam hati berfikir, “Apa iya gua gila beneran? Kalo iya, kasian banget anak gua. Bapaknya gila”

Padahal saya pikir… Saya sama sekali tidak gila!

Ketika setiap hari saya di doktrin bahwa saya tidak waras. Gamang sekali hati ini. Bimbang juga rasanya, euy. Padahal saya yakin saya memang tengah ada masalah personal, tapi sama sekali bukan di problematika kewarasan.

Karena ragu akibat di cap ‘tidak waras’ bahkan oleh orang-orang yang saya cintai. Lalu mulailah petualangan baru saya. Yaitu mencari jawaban pertanyaan “Apakah saya gila?” dan apabila jawabannya iya, “Bagaimana cara menyembuhkannya?”

Anda pikir aneh? Hmhh, jangankan situ. Saya sendiri saja yang mengalaminya merasa aneh. Belum pernah seumur hidup dituduh ‘gila beneran serius dan butuh psikiater’. Maka jika suatu hari orang terdekat saya menuduh seperti itu, dengan suka rela saya pun melakukan tes dan bahkan menghubungi profesional untuk mencari jawaban pertanyaan di atas.

Namun sebelum ke profesional. Ini ada bebarapa langkah yang saya lakukan. Antara lain:

1. Mencari literatur mengenai kewarasan dan ketidak-warasan

Orang yang tidak waras definisinya simple. Memikirkan dan lalu melakukan hal yang tidak dilakukan orang waras. Yang jadi masalah memang bukan definisi orang tidak waras, melainkan malah pertanyaan terhadap “Apa yang orang waras pikirkan dan lakukan?”

Setiap orang berhak mengklaim dirinya sehat dan waras. Itu hak siapa saja. Namun masalahnya, apakah yang mereka klaim itu benar adanya?

Pencarian terhadap ‘apa yang orang waras pikirkan dan lakukan’ membawa saya kepada beberapa buku Jungian (berasal dari nama Carl Gustav Jung, seorang psikiater dari Swiss). Sebab Jung menulis beberapa buku yang menurut orang waras bagus untuk belajar menganalisi diri.

Buku-buku Jung yang berelasi dengan pola tidur dan mimpi (terutama yang berjudul Undiscovered Self) tentu saja akhirnya juga membawa saya ke buku-buku Psikopatologi (Ilmu yang mempelajari penyakit mental, tekanan mental dan perilaku abnormal serta tidak adaptif) karya Sigmund Freud, Paul Keegan, dan Anthea Bell.

Di sini, saya mulai menganalisi diri dengan simptom dan keluhan orang-orang yang saya cintai. Sumpah mati, saya takut kalau saya jadi psikopat. Parah kan, kalau ternyata saya adalah seorang psikopat yang dengan bebasnya berkeliaran di muka umum tanpa dicoba untuk disembuhkan?

Namun, dari bebeberapa literatur di atas, saya ternyata (secara sepihak) mampu menyimpulkan bahwa saya bukan psikopat. Sebab saya tidak mempunyai gejala seperti psikopat dan keluhan dari mereka yang saya cintai bukan karena psikopatisme.

Di sini, saya cukup lega.

Namun apakah membaca saja cukup? Tentu saja tidak. Berdasarkan literatur di atas, saya mengambil tindakan nyata. Antara lain dijelaskan dalam langkah selanjutnya, yaitu;

2. Analisa Perilaku Diri

Saya tahu, sudah banyak perangkat lunak berbasis web yang mampu dipakai untuk memantau kondisi diri seseorang. Diantaranya adalah kemudahan update melalui sosial media seperti Twitter, Plurk hingga status facebook. Analisa diri, umumnya bisa dipantau dari feature status sosial media ini, sebab ada pilihan bagi yang gemar memberitahu publik lewat status updatenya.

Sebab saya sendiri memantau perkembangan kondisi kesehatan putri saya memakai Plurk ketika ia jatuh dari tangga. Lalu secara real time, dokter keluarga kami memantau perkembangan kesehatan putri saya itu melalui akun Plurk khusus. Sehingga memudahkan analisa beliau dalam mengambil tindakan yang perlu dalam menyelamatkan jiwa putri saya.

Namun akibat akibat kondisi geografis saya yang berpindah-pindah saat ini. Serta terbatasnya akses internet. Maka saya punya buku mimpi.

Buku mimpi? Apa itu?

Buku mimpi adalah buku kertas kecil, bersampul coklat, tipis dan gampang keluar masuk kantong celana jeans yang saya kenakan. Ini buku tulis murahan. Saya beli di pasar. Sebenarnya bisa sih bikin sendiri, tidak perlu beli. Namun karena praktis, saya beli saja. Hehe.

Itu buku, saya bawa kemana-mana. Gunanya sebagai pencatat. Catatan yang dihasilkannya pun bukan catatan biasa. Melainkan perilaku tidur dan mimpi yang saya punya.

Dengan teliti dan detail, setiap hari selama saya dituduh gila, saya mencatat kapan saya tidur, terjaga, mimpi, bangun untuk kencing ketika tidur dan lalu kapan tidur lagi setelahnya dan semua perilaku tidur yang menyertai tidur saya.

Bangun tidur, otak masih segar. Secara detail saya mencatat semua perilaku tidur. Seperti bangun jam berapa. Tidur jam berapa. Sebelum tidur dan bangun, mikir apa. Lalu pikiran-pikiran diantaranya.

Apakah hanya perilaku tidur yang saya catat?

Tidak juga. Saya mencatat beberapa peristiwa penting maupun tidak penting yang terjadi hari itu. Semuanya pun masuk ke buku mimpi.

Mengapa saya mencatat perilaku?

Jawabannya simpel. Sebab saya bukan psikiater. Atau psikolog, atau apalah semacamnya. Saya tidak pernah terdidik secara khusus untuk mendalami ilmu jiwa sebagaimana adik saya Uul dan mungkin ribuan manusia lainnya. Tidak. Saya tidak punya keahlian itu.

Tapi, demi cinta, saya harus pergi ke psikolog dan psikiater. Dan salah satu kerja mereka adalah mereka akan menganalisa pasien agar si pasien cepat sembuh. Maka jika saya menjadi pasien, saya harus kerjasama dengan orang yang membantu saya. Saya tahu, pada psikologi modern, analisa mimpi sudah jarang dipakai lagi. Namun, buku pencatatan perilaku istirahat ini saya pikir adalah awal yang baik untuk memulai analisa diri.

Intinya, beberapa orang terdekat, minta agar saya mau dibantu oleh prefesional. Dan kalau saya meminta bantuan, saya biasanya membantu balik. You scratch my back and I’ll scratch yours :) . Catatan analisa diri, saya harap bisa sebagai langkah awal untuk saling membantu.

3. Bantuan Profesional

Ini yang belum saya coba. Rabu depan saya dijadwalkan bertemu profesional.

Kalau memang saja dibilang gila, saya anjurkan pada Anda, jangan dekati saya lagi. Sebab saya gila. Hehe.

——————–

Dua minggu setelah saya mengunjungi dokter

Saya menulis lagi. Postingan ini dibuat dalam beberapa minggu. Setelah mendapat jawaban dari beberapa profesional saya temui untuk meminta bantuan, saya putuskan untuk menulis lagi.

Jawaban semua profesional sama; saya tidak gila. Saya sedih. Iya, itu benar. Sedih luar biasa sehingga tangan gemetar dan sering sakit kepala. Tapi saya tidak gila. Kesedihan bukanlah termasuk kategori penyakit mental.

Apakah jawaban ini menggembirakan?

Jelas! Sudah hampir dua bulan terakhir ini saya dituduh gila, depresif dan sakit mental oleh beberapa orang terdekat yang saya kenal. Setiap hari, saya dicekoki dengan buku-buku self help. Diyakinkan, bahwa saya gila dan depresif. Jadi, ketika dokter, psikiater dan hampir semua teman-teman saya bersumpah bahwa saya tidak gila maupun depresif, maka saya bahagia sekali.

Saya merayakan ketidak-gilaan saya dengan pergi ke bandar udara lalu makan kentang goreng sambil melihat para manusia lalu lalang di hadapan saya. Hari itu, ada bom yang diselundupkan di antara koper para penumpang yang akan ke Los Angeles. Pemeriksaan polisi ketat sekali kepada semua orang kira-kira berasal dari Afrika. Ketika ada beberapa polisi lewat di hadapan saya dan kira-kira akan menanyai saya (padahal muka saya nampaknya tidak mirip orang Afrika), sambil tertawa lebar dan menawarkan serpihan kentang goreng, saya bilang “saya tidak gila! Hehehe… Hebat kan!” (*Kelihatannya mereka tidak percaya lalu pergi meloyor begitu saja tanpa bertanya-tanya*)

Hari itu saya bahagia sekali. Beban ini begitu berat, berbulan-bulan dituduh sakit. Maka ketika suatu hari ternyata tuduhan itu tidak benar, maka saya sungguh bahagia.

Ketika menyadari bahwa dalam beberapa bulan terakhir ini saya dituduh dengan sesuatu yang tidak saya lakukan/miliki, rasanya sungguh tidak enak sekali. Ternyata, dituduh itu tidak enak.

Dua bulan dalam kebingungan dan gamang, mengajarkan saya satu hal. Betapa menuduh itu sungguh amat mudah. Selain mudah, kemampuannya amat tinggi dalam menyakiti perasaan manusia.

Hari itu, ketika saya terbebas dari tuduhan mengalami penyakit mental yang merugikan orang lain, saya sadar satu hal. Betapa dalam hidup ini, seringkali saya pula menuduh orang lain. Sadar atau tidak, begitu mudahnya saya menuduh. Begitu mudahnya saya mengambil kesimpulan. Begitu mudahnya menyakiti perasaan orang lain.

Ketika suatu hari saya dituduh dan rasanya sungguh tidak enak. Saya baru sadar bahwa saya pun seringkali menuduh dan (sialnya) secara sadar menyadari bahwa menuduh itu enak. Lebih mudah memang demi ego saya yang maniak ini menyalahkan orang lain tanpa melihat diri sendiri.

Tanpa sadar, bahwa itu menyakiti.

Dituduh gila, ternyata ada maknanya. Aneh juga yah?


Apabila Saya Jadi Gubernur Jakarta (Lima – Kemajemukan dan Integrasi)

Selanjutnya adalah proses kerja Kemajemukan dan Integrasi. Tidak bisa dipungkiri, Jakarta adalah sebuah cawan besar dimana seluruh elemen bangsa ada di sana. Jakarta adalah ruang majemuk. Itu adalah kelebihan Jakarta. Menyatukan kemajemukan ini bukanlah perkara yang mudah, sebab kemajemukan ini sekaligus juga bisa menjadi kekurangannya. Walaupun konsep Bhineka Tunggal Ika sudah ada sejak negara ini berdiri, saling menghargai sudah jadi budaya, namun tetap saja ada kendala dalam pelaksanaannya. Maka itu dibutuhkanlah integrasi antar warga serta aturan main yang jelas.

Diantara aturan main kemajemukan dan integrasi antar warga ini adalah:

1. Mendirikan lapangan demo di samping kantor gubernur

Alasan: Sebagai Gubernur, saya sama sekali tidak berharap masa pemerintahan saya akan adem ayem tentram raharja namun menyimpan bara yang dapat meletup tiba-tiba. Maka itu, harus disediakan sarana dan ruang apabila warga saya mau protes berdemo. Agar tidak mengganggu lalu lintas dan kenyamanan umum yang tidak berdemo, disediakanlah lapangan demo di samping kantor saya. Jadi mereka bisa berteriak-teriak sampai puas memaki-maki saya. Kalau perlu, disediakan payung agar tidak kehujanan dan kepanasan. Nah kalau sudah puas, baru bisa bicara baik-baik. Hehe.

Kelebihan: Apabila tidak puas mengeluh melalui sarana khusus berbasis teknologi mobile dan web, lapangan ini dapat menampung aspirasi warga saya secara langsung. Kan kalau maki-maki lebih puas di depan orangnya. Hahaha…

Kekurangan: Apa yang kurang? Kalau tidak ada yang demo, saya toh bisa main sepak bola di sana bersama Anda. Asik kan?

Popularitas: Kalau tiap hari di demo, artinya lapangan itu sukses sebagai sarana pengumpul massa :) Cukup tinggi

2. Melarang organisasi massa pengancam kemajemukan dan integrasi untuk beroperasi

Alasan: Sekali lagi, Jakarta adalah terdiri dari kumpulan manusia yang berbeda-beda. Jika habitat unik ini diancam oleh ormas yang terkenal gemar melakukan kekerasan fisik dalam mengancam kemajemukan dan integrasi, maka itu berbahaya untuk kelangsungan Jakarta. Organisasi massa yang terkenal gemar melakukan kekerasan kolektif ataupun personal dalam aksinya, akan dilarang membuka cabang dan beroperasi di Jakarta. Jika mereka nekat, akan berhadapan dengan perangkat hukum.

Kelebihan: Rasa aman dan mempertinggi toleransi antar suku bangsa penghuni Jakarta walaupun memiliki perbedaan signifikan.

Kekurangan: Kalau saya ada masalah, tidak ada pengalih perhatian dong. Hahaha…

Popularitas: Dikecam oleh ormas yang akan dianggap sebagai biang masalah namun didukung oleh warga Jakarta yang pernah jadi korban mereka.

3. Menjembatani proses dialog antar pelaku ritual agama

Alasan: Jakarta terdiri dari banyak pemeluk agama dan pelaku ritualnya. Beberapa ritual agama diyakini sering membawa dampak tidak sehat bagi masyarakat sekelilingnya. Mulai dari polusi suara hingga saling mencurigai membawa polusi terhadap keyakinan. Salah satu solusinya adalah membuka ruang khusus (literal) agar para pelaku bisa saling bicara tanpa menghakimi dan mendengarkan satu sama lain.

Kelebihan: Mampu menyelesaikan beberapa konflik atau cikal bakal konflik kekerasan akibat ritual agama. Musyawarah atas mufakat biasanya terbukti sukses di budaya Indonesia.

Kekurangan: Mungkin ruang khusus di kantor gubernur itu sering bisa penuh orang :)

Popularitas: Konflik yang mampu diselesaikan akan melahirkan kesepakatan baru bersama di masyarakat. Popularitas akan naik signifikan. Begitupun sebaliknya, apabila konfliknya tidak bisa diselesaikan.

————–abis ahh———————-

Sampai sejauh ini. Baru segitu sih ide saya kalau jadi Gubernur. Entah besok… Entah lusa. Tapi, untung saja saya bukan Gubernur dan nampaknya tidak berminat pada posisi itu. Saya mah niatnya hanya “ngomong doang”

Saya sih yakin saya tidak akan jadi Gubernur Jakarta. Sebab standar agama dan moral saya kelihatannya sudah cukup rendah dibandingkan dengan orang Jakarta kebanyakan lainnya. Pasti tidak akan ada yang memilih apalagi mencalonkan saya. Hahaha…


Apabila Saya Jadi Gubernur Jakarta (Empat – Hukum)

Walaupun saya tidak jago masalah hukum, dengan cueknya ugal-ugalan bicara soal hukum. Hihihi. Ini tambahan soal hukum di Jakarta kalo saya gubernurnya;

1. Membangun peraturan daerah penopang konsep-konsep lainnya

Alasan: Jika saya bertindak tanpa dasar hukum, namanya ilegal dan tiran. Maka, harus ada pendukung langkah-langkah ini.

Kelebihan: Jika Perda telah dibuat, maka bila sang gubernur mati masih tetap akan ada harapan di masa depan bahwa proyek-proyek telah berjalan tetap akan berjalan dan susah ‘dimunirkan’.

Kekurangan: Membuat Perda itu butuh waktu. Tidak mungkin memecut cambuk anggota dewan daerah yang menentukan Perda dengan sabuk pari, sebab walaupun kadang kelakuan mereka jauh lebih buruk daripada kerbau pembajak sawah, atas nama hukum kita tidak bisa melakukan itu walaupun tahu mereka kadang sering malas dalam bekerja. Di sisi lain, beberapa partai politik pasti akan menaruh kepentingan mereka dalam Perda.

Popularitas: jika animo masyarakat tinggi, proses pembuatan Perda ini dapat ditransparansikan melalui aplikasi web. Jadi para wakil rakyat penentu keputusan bisa dimonitor langsung sepak terjangnya. Pasti tinggi.

2. Membangun penjara baru yang manusiawi

Alasan: Penjara di Jakarta sekarang tidak manusiawi serta jadi sarang narkoba. Membangun penjara baru yang jauh dari lokasi pemukiman padat penduduk, dapat menjadi solusi. Teknologi pemantau jarak jauh dapat melihat dan mencegah lalu lintas peredaran benda ilegal dan narkoba dalam penjara. Narapidana, walau telah melakukan kejahatan, tetap saja manusia. Harus diberi fasilitas rehabilitasi seperti perpustakaan serta sarana untuk belajar. Serta proses transisi, seperti pendidikan dan terapi agar mereka bisa kembali ke dunia masyarakat umum. Jadi, agar begitu keluar dari penjara tidak lagi menjadi bandit.

Kelebihan: Mempunyai kemungkinan besar mencegah kriminalisasi di masyarakat. Membantu kinerja polisi. Serta sejalan dengan program lainnya, ´Jakarta aman´.

Kekurangan: Arsitektur teknis yang cukup rumit. Di sisi lain, penyediaan psikolog, ruang terapi dan balai latihan kerja serta unit pendukungnya dapat memakan biaya besar.

3. Legalisasi lokalisasi Seks Komersil

Alasan: Penghancuran lokalisasi Kramat Tunggak di Tanjung Priok awal tahun 2000-an dan menggantinya dengan bangunan ibadah sebagai simbolisasi kemenangan atas maksiat membawa ekses negatif. Para pelacur eks KT berkeliaran di gang-gang sempit warga sekitar lalu beroprasi diantara anak-anak kecil lokal. Banyak terjadi pelecehan terhadap anak-anak akibat ‘salah sangka’. Ini tidak boleh dilakukan lagi. Apabila pelacuran dipandang sebagai penyakit sosial, maka harus ada solusi pemecahan sosialnya. Sebab saat ini pelacuran ada ditengah-tengah kita dan terselubung jadi rahasia umum. Lagi-lagi dibekingi oleh hamba hukum dan preman lokal. Maka, daripada begitu, lokalisasi yang jauh dari pemukiman penduduk adalah jawabannya. Penjaja dan pemakai jasa seksual berbayar sebaiknya dilindungi kesehatannya oleh Perda agar tidak menularkan dan ditularkan oleh penyakit seksual. Maka itu, harus ada legalisasi lokalisasi pelacuran dan praktik ini pun harus dipajaki.

Kelebihan: Mengontrol dan mencegah penyakit seksual berbahaya seperti HIV/AIDS yang semakin mengglobal dan menakutkan. Dapat memberi edukasi kesehatan langsung kepada para penjaja dan pengguna seks berbayar sebab lokasinya terdeteksi. Pemasukan dari pajak.

Kekurangan: mungkin banyak ibu-ibu marah namun diam-diam datang ke sana untuk mengontrol apakah suaminya jadi langganan tetap. Selain itu, akan di tentang habis-habisan oleh standar agama dan moral warga Jakarta kebanyakan.

Popularitas: rendah sekali :D

Di sini, saya sudah yakin bahwa akan banyak antipati terhadap ide-ide saya selanjutnya. Hehehe…


Apabila Saya Jadi Gubernur Jakarta (Tiga – Pasar dan Ekonomi)

Tanpa malu-malu, saya lanjutkan kegilaan saya di depan publik. Menghayal jadi Gubernur Jakarta (kesian yaah).
Selanjutnya adalah program membangun pasar dan ekonomi. Tanpa banyak cingcong dan jujur apa adanya, ini adalah program sapi perah. Jika program lain mungkin banyak menghabiskan uang kota, maka ini adalah pemasukannya. Diantara lain adalah:

1. Jakarta Aman

Alasan: Tidak ada bisnis yang bisa jalan tanpa rasa keamanan. Bekerja sama dengan polisi, warga dan teknologi, maka beberapa lokasi rawan ataupun tidak di Jakarta akan dipantau baik melalui kamera, patroli, media sosial secara berkesinambungan. Apabila Jakarta aman, bisnis pun jalan dengan baik.

Kelebihan: akan membuat bisnis di Jakarta menuju level selanjutnya yang lebih tinggi.

Kekurangan: mungkin tidak terlalu banyak. Sebab polisi sudah memiliki teknologi ini serta tingkat kesadaran warga Jakarta dalam mempergunakan media sosial sudah cukup tinggi.

Popularitas: cukup tinggi di kalangan pelaku bisnis

2. Membangun Unit Reaksi Cepat Bisnis Kota

Alasan: Untuk menguatkan ekonomi, sarana publik milik kota yang berhubungan dengan pasar dan ekonomi harus dipelihara semaksimal mungkin, kalau perlu, terus dimodernisasi. Semakin cepat sarana itu bekerja, semakin cepat pasar bisa bergeliat kembali.

Kelebihan: Bekerja sama dengan pasar, layanan ini dapat menambah pemasukan kas kota.

Kekurangan: mungkin akan ada protes bahwa seharusnya kota yang bertanggung jawab atas sarana publik. Namun apabila berhubungan dengan pasar dan ekonomi, tentu saja akan berakibat dengan bujet kas kota.

Popularitas: medium. Namun apabila sosialisasinya baik, maka popularitasnya akan naik.

3. Memberikan fasilitas keringanan pajak pada hi-tech industri non polusi

Alasan: High Technology industri biasanya belum menyerap banyak tenaga kerja secara massal. Namun apabila sudah berjalan beberapa tahun dan mulai stabil, akan ekspansi secara gila-gilaan yang mengakibatkan pemasukan bagi warga dan pelaku bisnisnya. Ini akan baik bagi daerah-daerah lain di sekitar JKT. Sebab Jakarta secara geografis sudah tidak bisa menampung industri tenaga kerja massif.

Kelebihan: investasi jangka menengah dalam menyerap pendapatan dari industri. Selain itu, akan mengakibatkan JKT sebagai kota berteknologi tinggi. Hi-tech industri non pulusi diantaranya adalah industri kreatif seperti studio film animasi PIXAR

Kekurangan: industri lain akan menuntut hal yang sama.

Popularitas: Medium.

4. Standarisasi pasar tradisional

Alasan: Imago pasar tradisional yang kumuh, bau dan becek harus dirubah. Pasar tradisional adalah tulang punggung utama bergeliatnya ekonomi tingkat dasar. Pasar ini harus dibantu. Diperbesar. Dibangun sanitasinya. Diberi fasilitas teknologi yang mempermudah hubungan dengan Unit Reaksi Cepat Bisnis Kota. Dan diterapkan standarisasinya agar terus memperbaiki kualitas.

Kelebihan: pemasukan kota mungkin tidak akan sangat tinggi dari retribusi pasar ini. Namun warga akar rumput gembira sebab dapat bertransaksi dalam lokasi yang mudah mereka jangkau dan sesuai bujet. Kas kota akan bersemangat sebab memiliki pendapatan baik pengganti pajak dari mall.

Kekurangan: tidak begitu disukai oleh pasar-pasar ritel besar multinasional yang kini sedang berkuasa di seluruh sudut Jakarta. Dalam membangun pasar tradisional sesuai standarisasi akan dibutuhkan pasar transisi, ini pun akan ditemui kendala dari kalangan warga.

Popularitas: turun naik antara rendah hingga medium. Tapi kalau konsep ini sudah jalan lebih dari lima tahun, maka akan cukup tinggi.

5. Pajak tinggi atas judi

Alasan: Judi di Jakarta sudah jadi rahasia umum. Pola yang berlaku saat ini adalah, berjalan secara gelap dan dilindungi oleh oknum hamba hukum. Dari tahun ke tahun, judi adalah lahan basah antara preman rebutan jatah. Sudah saatnya pola ini dirubah. Judi akan dialokasikan secara khusus dan tidak dekat dengan lokasi pemukiman publik. Ditangani dibawah badan kota pengawas perjudian yang kerjanya bisa dipantau langsung oleh warga.

Kelebihan: Judi itu perputaran uangnya kadang lebih tinggi dari beberapa bank tertentu di JKT. If you can’t fight it, tax it. Pemasukan kas kota akan luar biasa kencang dari sini. Bisa jadi, menyaingi pendapatan pajak dari pelabuhan Tanjung Priok, sapi perah lainnya.

Kekurangan: pasti ditentang akibat tidak sesuai dengan norma agama warga Jakarta dan ‘standar moral’ yang berlaku.

Popularitas: rendah :)

6. Optimalisasi parkir milik kota

Alasan: Retribusi parkir itu juga salah satu pemasukan kas kota yang cukup tinggi. Apabila dimodernisasi dengan dibangun sistem parkir berteknologi yang menggantikan parkir liar pinggir jalan, maka pemasukan akan langsung menuju kas kota.

Kelebihan: Kas kota akan menggelembung. Lalu akan menyerap tenaga kerja baru, yaitu pengontrol parkir. Selain itu, sistem parkir yang akan memakai chip atau kartu ini akan memudahkan pengontrolan parkir. Apabila tidak bayar parkir, maka pemilik kendaraan akan membayar denda langsung ke kas kota. Apabila tidak membayar, tidak dipermudah dalam mengurus perijinan yang berhubungan dengan kendaraan miliknya. Silahkan baca sistem parkir kota terintegrasi teknologi di sini.

Kekurangan: Akan terjadi pertanyaan, bagaimana kalau pengontrol parkirnya bisa disuap? (*Jawabannya, hehe, kalau ini mah bisa terjadi di semua sektor. Maka itu, kita perlu bantuan teknologi dan percaya bahwa tukang parkir kita adalah manusia jujur yang amanah dalam menjalankan tugasnya. Di negara Benelux, pengontrol parkir yang mampu menemukan banyak mobil parkir liar, semakin dapat bonus besar sebagai imbalan kerjanya*)

Popularitas: rendah di kalangan pemilik kendaraan yang suka parkir semena-mena. Apalagi di kalangan pemungut parkir liar dan preman lokal.

7. Menjamin pasokan enerji kota

Alasan: Bisnis dan pasar tidak akan bergerak tanpa enerji. Ini hukum dasar hubungan antara enerji dengan ekonomi. Pemerintah Cina memanfaatkan Tibet dan Gurun Gobi di Mongolia sebagai pasokan enerji matahari mereka di masa depan. Maka itu, ada baiknya mencontoh mereka. Yaitu berinvestasi dalam pasokan enerji sambil membangun sarana enerji alternatif yang stabil dan tidak berpolusi tinggi.

Kelebihan: Membuka lapangan kerja baru. Merangsang pertumbuhan teknologi tinggi yang ramah lingkungan hidup. Jika pasokan enerji kota dapat digaransi, pelaku bisnis tidak akan was-was dalam menjalankan bisnis mereka. Dan itu bagus dalam memberi jaminan niat baik bahwa kota JKT membantu bisnis warganya.

Kekurangan: Di tahun-tahun awal masih menggantungkan harapan pada sumber enerji yang masih ada. Dan menggantungkan harapan itu bukan hal yang baik. Di sisi lain, apabila gubernur pengganti sudah dirasuki arwah saudagar minyak multinasional, maka proyek enerji alternatif akan menjadi proyek mercu suar yang akan menjadikan gubernur penggagas sebagai kambing hitam politik.

Popularitas: Walaupun di dukung industri enerji alternatif, pasti akan dihantam para saudagar minyak. Harapan populernya rendah. Hehe…

Sekian dulu bagian pasar dan ekonomi. Besok bagian hukum. Ada beberapa langkah di bagian ini yang akan ditawarkan. Antara lain adalah:

Ahahaha… Tunggu besok laaah… Hahahaha


Apabila Saya Jadi Gubernur Jakarta (Dua – Transportasi)

Program transportasi untuk Jakarta benar-benar tidak kalah pentingnya agar kota ini bisa berjalan lancar, beberapa langkah nyatanya antara lain:

1. Minimalisir macet

Alasan: Hampir tidak ada penduduk Jakarta yang tidak pernah merasakan macetnya jalan Jakarta. Alasan utama macet sebenarnya simpel. Yaitu semakin banyaknya kendaraan pengguna jalan namun tidak sebanding dengan pertumbuhan jalanan. Program busway maupun 3 in 1 tidak begitu banyak menolong. Cara meminimalisir macet antara lain adalah dengan menambah jalan baru. Antara lain melalui jalan bawah tanah. Sebab dengan membangun jalan raya bertingkat, berdasarkan pengalaman tenyata makin menambah kemacetan. Program ini berjalan bersamaan dengan project pembangunan terowongan bawah tanah.

Kelebihan: akan didukung oleh seluruh pengguna jalan raya yang bosan dilanda macet. Tidak didukung oleh pedagang asongan yang memanfaatkan macet sebagai sarana mencari nafkah.

Kekurangan: akan banyak ekspektasi terhadap terowongan bawah tanah. Maka itu terowongan bawah tanah harus dipikirkan secara masak-masak teknis pelaksanaan dan pembangunannya.

Popularitas: cukup tinggi

2. Menaikkan pajak kendaraan bermotor berbahan bakar minyak

Alasan: Ada dua. Pertama lingkungan hidup. Sebab kendaraan berbahan dasar minyak itu memiliki dampak polusi tinggi terhadap lingkungan. Agar bumi dan hidup kita tentram, ketergantungan terhadap BBM harus dikurangi. Kedua, alasan politis. Saya setuju dengan pendapat suheng saya Mas Mbelgedez, bahwa mungkin hanya di RI, bensin menjadi komoditi politis. Sudah banyak orang pintar jadi korban politisasi BBM. Sudah terlalu banyak paru-paru warga Jakarta jadi korban BBM. Politisasi ini harus dikurangi kalau bisa dihilangkan. Warga Jakarta adalah salah satu pengkonsumsi BBM terbesar di RI. Jika masih diteruskan, akan menjadi korban bahaya pencemaran lingkungan dan politisasi dungu oportunis pengusa.

Kelebihan: Warga Jakarta akan berfikir serius soal masa depan mereka dan kelangsungan hidup anak-anak mereka. Ini bagus, mendorong warga berfikir kritis.

Kekurangan: Pemilik kendaraan BBM akan berteriak marah dan meminta alternatif pengganti secara langsung. Maka itu, kebijakan ini akan diterapkan secara bertahap. Mirip kebijakan dari motor 2 tak menjadi 4 tak.

Popularitas: rendah di kalangan pengguna kendaraan BBM di JKT yang naudzibillah midzalik luar biasa banyakya.

3. Menurunkan pajak kendaraan bermotor berenergi alternatif seperti listrik atau matahari

Alasan: ini adalah aternatif pengganti kendaraan BBM. Memberanikan para pemilik kendaraan bermotor untuk mengkonversi kendaraan miliknya dengan energi alternatif yang terstandarisasi. Apabila kena macet pun, warga JKT bermotor tidak perlu pakai masker atau tahan nafas. Sebab tidak ada asap pengganggu paru-paru yang mereka hirup di jalan. Dengan ini pula, JKT resmi sebagai kota berteknologi selangkah lebih maju dari kota-kota di bumi lainnya. Contoh scooter tenaga matahari atau motor/mobil listrik.

Kelebihan: Akan merangsang industri baru otomotif dan dapat menyehatkan warga Jakarta.

Kekurangan: industri pendukung BBM multinasional maupun lokal akan mati-matian menyerang konsep ini.

Popularitas: rendah di pelaku bisnis industri BBM

4. Memudahkan akses pengguna jalan bersepeda dan pejalan kaki

Alasan: Simpel, sebab bersepeda dan jalan kaki itu sehat. Kalau jalan raya bersih dari polusi, maka kegiatan sehari-hari dapat dilangsungkan dengan jalan kaki dan naik sepeda. Hemat enerji. Hemat biaya.

Kelebihan: kalau tawaran terhadap hidup sehat tidak cukup? Apalagi yang Anda inginkan?

Kekurangan: Akan di protes oleh para pemilik warung-warung pinggir jalan yang hobinya merampas jalur pejalan kaki. Sebab mereka akan tergusur habis. Walaupun sebenarnya, mereka akan dialokasikan khusus di tempat baru yang tergabung dengan pasar tradisional.

Popularitas: medium di kalangan pesepedawan pesepedawati dan pejalan kaki.

5. Mempertinggi standarisasi keamanan di jalan raya Jakarta

Alasan: terlalu banyak kecelakaan yang diakibatkan oleh ketidakhati-hatian pengguna jalan raya. Orang tua akan di denda besar jika kedapatan anak mereka yang di bawah umur mengemudikan kendaraan bermotor. Sementara di sisi lain, pada sekolah dan pusat kepemudaan akan digalakkan edukasi mengenai keamanan di jalanan. Di beberapa lampu merah lokasi rawan kecelakaan, akan memiliki kamera yang mampu mencatat pelanggar jalan dan mendendanya amat tinggi.

Kelebihan: resiko kecelakaan akibat berkendara akan diminimalisir. Targetnya adalah pengguna jalan akan tertib dan investasi pada anak-anak kita yang akan belajar hidup disiplin dalam berkendara.

Kekurangan: akan masih banyak ditemui pengguna jalan yang sontoloyo dalam tahun-tahun awal penerapan program. Denda besar dan ancaman penyitaan SIM mungkin bisa membantu orang-orang ini bertabiat di jalan raya. Penghilangan calo SIM dan edukasi juga akan menyedot biaya besar.

Popularitas: tinggi di kalangan pengguna jalan raya. Sebab hampir semua warga pengguna jalan ingin pulang selamat sampai rumah.

5. Memperketat kontrol pengadaan otomotif

Alasan: Warga Jakarta terlalu banyak memiliki kendaraan bermotor. Kadang sampai tidak perlu. Sutuasi ini harus diubah dan langsung diadakan tindakan preventif terhadap pengadaan otomotif.

Kelebihan: Membantu program transportasi lainnya menjadi lebih maju dan terintegrasi.

Kekurangan: Akan ada pertanyaan, akan dibagaimanakan industri otomotif yang telah eksis? Dan ini belum ada jawabannya sejauh ini. (*Bantuin saya mikir dong?*)

Popularitas: belum tahu, tapi pasti akan memicu kontroversi di kalangan pembuat kebijakan.

6. Pajak atas otomotif berdasarkan berat

Alasan: tidak adil misalnya menyamakan pajak kendaraan roda empat yang berbeda beratnya. Peraturan daerah akan dibuat, kendaraan yang lebih ringan akan dipajaki lebih ringan. Begitupun sebaliknya. Sebab ini berhubungan dengan beban terhadap jalan raya. Pajak dari sini diharapkan mampu menopang dinas kota pemelihara sarana jalanan memperbaiki kualitas layanan mereka.

Kelebihan: Adil

Kekurangan: para pemilik kendaraan pribadi jenis berat akan protes. (*Eh pajak ini kan udah ada atau belum yaah? Hehehe*)

Popularitas: medium

Tunggu kelanjutannya besok, yaitu soal pasar dan ekonomi (*Iya saya tahu, makin gila aja nih ngoceh nggak jelas. hahaha*)


Apabila Saya Jadi Gubernur Jakarta (Satu – Tata Kota)

Sudah beberapa tahun belakangan ini saya terus menerus menyoroti langkah kerja serta kinerja buruk gubernur Jakarta. Tadi pagi, bangun tidur -mungkin akibat mimpi buruk dan kurang tidur- entah kenapa saya baru berfikir “Gimana yaa kalo gua yang jadi gubernur terus apapun kerjaan gua hasilnya dijelek-jelekin melulu sama blogger yang kerjanya ngomong doang? Seperti bangaip misalnya”

Hehehe…

Maka itu, karena saya biasanya hanya bisa ´ngomong doang´, kali ini saya coba memposisikan diri saya apabila jadi seorang Gubernur Jakarta.

Apa yang akan saya lakukan apabila jadi Gubernur Jakarta?

Tentu saja ini sekedar ‘ngomong doang’. Sebab kemungkinan terpilihnya saya jadi gubenur amat kecil. Selain akibat tidak adanya ambisi, di sisi lain, skandal-skandal hidup saya pasti akan dijadikan sarana untuk membungkam mulut dan ide saya. Hehehe.

Namun, tetap saja saya akan meracau dan ini ocehan saya:

Karena tidak akan muluk-muluk, maka program utama dan konsep kerja saya hanya satu, yaitu “Jakarta Berteknologi Bersih”

Konsep ini memang bukan baranag baru. Kebanyakn basi malahan. Hihihi. Tapi berangkat dari kenyataan lapangan terakhir saya tiba di Jakarta (April 2010), di mata saya Jakarta lebih banyak kotornya daripada bersihnya. (Mungkin karena saya terlalu banyak di Cilincing, desa pinggir pantai Jakarta yang kotor itu. Hehe). Ini jelas subjektif. Tapi biar saja lah. Ijinkan saya ngoceh sebentar kan tidak dosa. Selain itu, kenyataan baru yang ajaib bahwa ternyata warga Jakarta banyak sekali yang memanfaatkan teknologi mobile dalam beraktifitas. Intinya, orang Jakarta itu ternyata kebanyakan melek teknologi. Pintar. Dari dua realitas itu ideologi ini berasal.

Program ini akan dibagi menjadi beberapa proporsi kerja, diantaranya adalah:

  1. Tata Ruang Kota
  2. Transportasi
  3. Pasar dan ekonomi
  4. Hukum
  5. Kemajemukan dan integrasi

Proporsi kerja ini akan di bagi dalam beberapa langkah kongkrit yang akan dijabarkan dibawah ini. Langkah-langkah nyata itu akan pula dianalisa kelebihan dan kekurangannya serta popularitasnya di masyarakat. Setidaknya sebelum anda mulai membaca, jelas ini analisa yang berdasarkan subjektifitas saya pribadi :)

Ok, mari kita mulai. Yang pertama adalah tata ruang kota. Langkah nyatanya:

1. Membangun terowongan besar bawah tanah

Alasan: Jakarta ternyata masih suka banjir. Klaim para gubernur terdahulu dalam mengatasi banjir ternyata bohong belaka. Cara terbaik dalam mengatasi banjir dalam kota tropis pemukiman padat adalah belajar dari Kuala Lumpur. Dimana mereka membangun terowongan besar bawah tanah yang bahkan mampu memuat dua tingkat jalan tol di dalamnya. Apabila dam atas warisan belanda seratus tahun lalu kolonialisme Jakarta itu masih mampu menangani hujan, maka terowongan ini hanya akan dijadikan sarana transportasi. Namun apabila hujan, maka terowongan ini dapat multi fungsi sebagai sungai bawah tanah penyalur kelebihan air.

Kelebihan: Semua orang benci banjir. Banjir itu rugi. Banjir itu kotor.

Kekurangan: Membutuhkan biaya besar dan pasti akan ada asumsi dan praduga akibat ketidaktahuan. Maka itu, sebaiknya anda bisa baca bagaimana cara Kuala Lumpur mengatasi banjirnya disini (SMART). Sialnya ide ini sudah ada sejak 2007 untuk Jakarta dan masih belum dilaksanakan juga sampai saat ini (2010) tanpa alasan apapun.

Popularitas: cukup tinggi. Sebab hampir semua penduduk Jakarta pernah mengalami aksi reaksi banjir.

2. Mengubah mall menjadi taman kota atau sarana publik umum

Alasan: Mall sudah terlalu banyak di Jakarta. Orang Jakarta tidak akan mati apabila mall diganti menjadi taman. Toh banyak orang jalan-jalan ke mall untuk cuci mata saja. Maka itu, untuk mengubah pola konsumerisme menjadi cinta lingkungan, ada baiknya mall diganti jadi taman kota yang rimbun pohonannya dan sarana publik umum seperti lapangan olahraga atau taman bermain anak-anak. Jadi orang Jakarta lebih sehat dan ada sarana untuk lebih dekat dengan keluarga.

Kelebihan: Akan membuat Jakarta lebih hijau, segar dan menghemat pengeluaran warga Jakarta.

Kekurangan: Mall menyerap tenaga kerja grass root yang lumayan tinggi dan memiliki pendapatan ekonomi mandiri. Walaupun tenaga kerja itu bisa dialihkan sebagai pemelihara taman kota dan sarana publik, namun tidak sebanyak mall. Di lain pihak pemeliharaan taman dan sarana-sarana ini juga akan menyedot pengeluaran finansial kota yang cukup lumayan.

Popularitas: cukup tinggi di kalangan WKJ (Warga Kota Jakarta) yang cinta lingkungan dan keluarga (apalagi anak muda yang sedang pacaran, hehe) namun rendah di kalangan aktifis Mall

3. Memberi presiden RI waktu 5 tahun untuk pindah kantor

Alasan: Jakarta terlalu semrawut jika infrastruktur pemerintahan pusat dan pemerintahan DKI Jakarta tumpang tindih. Sudah sebaiknya Republik Indonesia mencari lokasi lain sebagai ibukota pengganti. Dengan perpindahan ini, Jakarta tidak akan lagi mendapat nama kotor akibat carut marutnya politik nasional. Di sisi lain, dapat mengatasi drastisnya kelebihan padat penduduk di JKT yang selalu mengakibatkan banyak masalah sosial dan geografis.

Kelebihan: Jakarta bebas dari anggapan “pemukiman para penjajah” dan kontrol sosial seperti jaminan sosial, jaminan kesehatan, jaminan pemukiman dan jaminan-jaminan hidup lainnya terhadap warganya dapat diterapkan. Sebab jika diterapkan pada saat rejim pemerintah RI berkuasa, maka pasti akan berbenturan dengan peraturan pemerintah.

Kekurangan: Gubernurnya bisa ditempeleng sama presiden. Bolak-balik. Apalagi kalau presidennya militer. Sebab presiden RI dari dulu hingga sekarang mempunyai hobi akut atas adikuasa dan sentralisasi.

Popularitas: rendah. Akan dihantam banyak partai politik yang jadi penguasa. Sebab Jakarta adalah medan tempur mereka yang sudah amat dikuasai.

Tunggu besok kelanjutannya :) Silahkan usul kalau ada ide atau bilang “Lah kan udah ada? Kemana aja situ?”