Selanjutnya adalah proses kerja Kemajemukan dan Integrasi. Tidak bisa dipungkiri, Jakarta adalah sebuah cawan besar dimana seluruh elemen bangsa ada di sana. Jakarta adalah ruang majemuk. Itu adalah kelebihan Jakarta. Menyatukan kemajemukan ini bukanlah perkara yang mudah, sebab kemajemukan ini sekaligus juga bisa menjadi kekurangannya. Walaupun konsep Bhineka Tunggal Ika sudah ada sejak negara ini berdiri, saling menghargai sudah jadi budaya, namun tetap saja ada kendala dalam pelaksanaannya. Maka itu dibutuhkanlah integrasi antar warga serta aturan main yang jelas.
Diantara aturan main kemajemukan dan integrasi antar warga ini adalah:
1. Mendirikan lapangan demo di samping kantor gubernur
Alasan: Sebagai Gubernur, saya sama sekali tidak berharap masa pemerintahan saya akan adem ayem tentram raharja namun menyimpan bara yang dapat meletup tiba-tiba. Maka itu, harus disediakan sarana dan ruang apabila warga saya mau protes berdemo. Agar tidak mengganggu lalu lintas dan kenyamanan umum yang tidak berdemo, disediakanlah lapangan demo di samping kantor saya. Jadi mereka bisa berteriak-teriak sampai puas memaki-maki saya. Kalau perlu, disediakan payung agar tidak kehujanan dan kepanasan. Nah kalau sudah puas, baru bisa bicara baik-baik. Hehe.
Kelebihan: Apabila tidak puas mengeluh melalui sarana khusus berbasis teknologi mobile dan web, lapangan ini dapat menampung aspirasi warga saya secara langsung. Kan kalau maki-maki lebih puas di depan orangnya. Hahaha…
Kekurangan: Apa yang kurang? Kalau tidak ada yang demo, saya toh bisa main sepak bola di sana bersama Anda. Asik kan?
Popularitas: Kalau tiap hari di demo, artinya lapangan itu sukses sebagai sarana pengumpul massa
Cukup tinggi
2. Melarang organisasi massa pengancam kemajemukan dan integrasi untuk beroperasi
Alasan: Sekali lagi, Jakarta adalah terdiri dari kumpulan manusia yang berbeda-beda. Jika habitat unik ini diancam oleh ormas yang terkenal gemar melakukan kekerasan fisik dalam mengancam kemajemukan dan integrasi, maka itu berbahaya untuk kelangsungan Jakarta. Organisasi massa yang terkenal gemar melakukan kekerasan kolektif ataupun personal dalam aksinya, akan dilarang membuka cabang dan beroperasi di Jakarta. Jika mereka nekat, akan berhadapan dengan perangkat hukum.
Kelebihan: Rasa aman dan mempertinggi toleransi antar suku bangsa penghuni Jakarta walaupun memiliki perbedaan signifikan.
Kekurangan: Kalau saya ada masalah, tidak ada pengalih perhatian dong. Hahaha…
Popularitas: Dikecam oleh ormas yang akan dianggap sebagai biang masalah namun didukung oleh warga Jakarta yang pernah jadi korban mereka.
3. Menjembatani proses dialog antar pelaku ritual agama
Alasan: Jakarta terdiri dari banyak pemeluk agama dan pelaku ritualnya. Beberapa ritual agama diyakini sering membawa dampak tidak sehat bagi masyarakat sekelilingnya. Mulai dari polusi suara hingga saling mencurigai membawa polusi terhadap keyakinan. Salah satu solusinya adalah membuka ruang khusus (literal) agar para pelaku bisa saling bicara tanpa menghakimi dan mendengarkan satu sama lain.
Kelebihan: Mampu menyelesaikan beberapa konflik atau cikal bakal konflik kekerasan akibat ritual agama. Musyawarah atas mufakat biasanya terbukti sukses di budaya Indonesia.
Kekurangan: Mungkin ruang khusus di kantor gubernur itu sering bisa penuh orang
Popularitas: Konflik yang mampu diselesaikan akan melahirkan kesepakatan baru bersama di masyarakat. Popularitas akan naik signifikan. Begitupun sebaliknya, apabila konfliknya tidak bisa diselesaikan.
————–abis ahh———————-
Sampai sejauh ini. Baru segitu sih ide saya kalau jadi Gubernur. Entah besok… Entah lusa. Tapi, untung saja saya bukan Gubernur dan nampaknya tidak berminat pada posisi itu. Saya mah niatnya hanya “ngomong doang”
Saya sih yakin saya tidak akan jadi Gubernur Jakarta. Sebab standar agama dan moral saya kelihatannya sudah cukup rendah dibandingkan dengan orang Jakarta kebanyakan lainnya. Pasti tidak akan ada yang memilih apalagi mencalonkan saya. Hahaha…
0 Responses to “Apabila Saya Jadi Gubernur Jakarta (Lima – Kemajemukan dan Integrasi)”