Monthly Archive for October, 2010

Sumpah Pemuda Murahan

Jorgo Chatzimarkakis itu orang Jerman keturunan Yunani. Hidupnya boleh dibilang sukses apabila kesuksesan di hitung dari gelar akademisi. Sebab lepas dari sekolah menengah, ia melanjutkan ke perguruan tinggi. Pertama ke jurusan ilmu perternakan di Bonn. Lalu setelahnya ambil ilmu politik di Oxford Inggris dan kembali jadi PhD politik di Universitas Bonn Jerman.

Di sebuah cafe di dekat Bundesstadt tempat-informasi-turis kota Bonn, Jan mencolek bahu saya sambil berkata, “Yang baru masuk. Itu Jorgo. Terkenal dia. Minggu lalu ada di acara tivi Politik Masuk Desa”

“Politik Masuk Desa? Apaan tuh”

“Politisi kan kebanyakan omong kosong. Maka ada acara tivi, namanya politik masuk desa. Politisi yang katanya pro rakyat diambil dari gedung dewan tempat mereka ngepos, trus disuruh tinggal di kampung. Terutama di rumah tempat orang yang katanya di bela oleh program parpolnya. Dia disuruh tinggal di rumah tukang bikin roti yang anaknya lima. Selama sebulan seluruh hidupnya dimonitor kamera”

Saya bengong, “Trus tukang rotinya kemana?”

“Ada di hotel. Ngeliatin kamera itu. Nanti setelah sebulan, kerjaan Jorgo di rumah itu diedit dan ditayangkan di tivi nasional”

“Loh jadi Jorgo ama istrinya si tukang roti? Wah ngapain aja yaah…”

“Tidak ada hubungan intim. Selain itu Jorgo harus normal menggantikan fungsi si tukang roti. Ia bangun pagi pukul dua, lalu bakar roti setiap pagi. Jam lima, berkeliling dengan truk mengantar roti segar ke toko-toko roti. Pulang jam sepuluh. Beli makanan di pasar untuk keluarganya. Siang ambil anak dari sekolah. Sore bantu istri nyuci dan masak. Malam hari mendongeng untuk anak-anak si tukang roti. Baru setelah itu dia tidur”

Saya bengong, “Wow, sebulan penuh? Tapi kenapa sebulan penuh?”

Jan menatap saya heran, “Gaji tukang bakar roti kan sebulan sekali? Mau makan apa keluarga si tukang roti kalau si Jorgo tidak kerja sebulan penuh?”

Saya termangu. Berpikir betapa dahsyatnya hidup si tukang roti. Minus beberapa tunjangan pemerintah untuk anak dan mahalnya asuransi yang harus dibayar oleh warga Jerman, kehidupan si tukang roti Jerman sebenarnya tidak jauh beda dengan tetangga saya yang dagang ikan asin di Cilincing, desa pesisir utara Jakarta sana. Penuh kerja keras dan perjuangan. Bedanya, tetangga saya tidak digaji bulanan.

Tanpa saya tanya lebih lanjut Jan menambahkan, “Jorgo itu selalu bicara berbusa-busa tentang ekonomi politik buruh kecil di Brussel sana, tapi coba lihat hidupnya, dia itu intelektual menara gading. Sebulan itu nggak cukup untuk merasakan susahnya hidup buruh kecil”

Saya garuk-garuk kepala, “Kamu sentimen amat ama Jorgo. Syukur kan dia sebulan hidup di sana. Walopun mungkin dia ikut untuk meningkatkan ratingnya pada publik, tapi minimal kan dia ngerasain susahnya ngeburuh selama sebulan. Belum lagi keluarga si tukang roti yang rindu ayah dan suaminya. Kan mereka berjuang juga untuk nerima Jorgo lalu jadi kelinci percobaan stasiun tivi dan atas nama demokratisasi politik”.

Jan diam. Menyeruput kopi lalu mengambil roti lilit kecil berwarna coklat yang diatasnya ditaburi semacam biji-bijian (katanya bernama Mohnzöpfchen). Karena ia diam, saya bilang, “Jan, di negara saya beberapa politisi datang dari manusia yang amat membumi. Namun sayang sekali banyak yang sering lupa dimana ia menginjak lagi ketika sudah masuk dunia politik. Andaikata surga itu ada, namanya pasti bukan panggung politik Indonesia”.

Jan diam. Mungkin ia setuju. Mungkin juga tidak. Atau bisa jadi tidak peduli. Buat saya tidak masalah. Saya tidak begitu ambil pusing. Dia toh bukan orang Indonesia dan merasa tidak memiliki keterlibatan apa-apa dengan negeri nusantara tersebut. Kecintaannya pada Indonesia hanyalah pada kerupuk udang Cirebon yang saya kenalkan ketika kami sama-sama bermain musik. Namun diamnya itu, mengingatkan saya kembali kepadanya di pagi hari tanggal 28 di bulan Oktober.

Hari itu sumpah pemuda di Indonesia. Sebagaimana lazimnya hari-hari aktual khusus, banyak manusia yang tiba-tiba merasa paling jago bicara soal pemuda.

Dulu waktu tinggal di Cilincing Jakarta, Lurah saya tiap sumpah pemuda selalu datang ke Karang Taruna. Tempat kumpul teman-teman saya. Tiap tahun. Tiap sumpah pemuda. Dan ajaibnya selalu setiap kali datang, mengeluh. Macam-macam keluhannya. Mulai dari anak muda jaman sekarang lesu-lesu lah. Anak muda saat ini nggak punya inovasi. Anak muda saat ini tidak optimal, padahal sudah dikasih tempat karang taruna. Habis ceramah, dia bagi-bagi minuman soda, kue dan rokok. Lalu di akhir acara pergi begitu saja. Meninggalkan kami yang duduk di kursi plastik putih murahan sambil makan biskuit murahan.

Kami diam ketika ia ceramah. Kami tidak begitu peduli. Mungkin kami memang tipikal pemuda murahan yang ia sebutkan. Kami tidak berani bersumpah sebagaimana mbah moyang kami. Kami tidak berani mengeluarkan suara membantah ketika mulutnya berbusa-busa ceramah. Kami hanya menurut. Melongo. Tidak bergeming sedikitpun. Semuanya dilakukan hanya demi mengharap ia bagi-bagi makanan murahan dan rokok. Semuanya demi perut.

Kami memang pemuda murahan. Andai kata kami bersumpah, maka yang keluar adalah sumpah pemuda murahan.

Kami pemuda murahan, yang diminta berprestasi jadi jagoan sepakbola dunia sementara sekolah bola yang baik hanya ada dalam mimpi dan kalaupun ada hanya buat orang kaya.

Kami, pemuda murahan. Yang beranggapan taik kucing lah ketika harus menaati orang yang lebih tua dan negara sambil ditakut-takuti harus menanggung dosa puluhan tahun bertubi-tubi tanpa jeda .

Kami pemuda murahan, yang harus menurut seperti kambing congek ketika kampung kami memiliki lapangan luas maka dengan serta cepat disulap jadi mall atau pabrik. Jangan protes, kata mereka. Ini kan demi pembangunan, membuka lapangan kerja. Lapangan kerja apa? Toh kami tetap menganggur. Kami terpaksa jadi tentara rendahan bukan karena cinta negeri ini, tapi cuma mereka yang bisa memberi pekerjaan buat preman lulusan SMA macam kami.

Kami pemuda murahan. Andaikata ada bahasa yang keluar dari mulut kami yaa bahasa murahan. “Ngentot, siapa yang nyolong ember mandi gua?” atau “Anjing, masa kerja seharian cuman bisa buat makan sekali?”.

Waktu itu, setiap Lurah habis ceramah sumpah pemuda, entah kenapa saya selalu merasa bagian dari anak muda murahan. Yang lebih baik diam.

Mirip anjing penjaga disuruh apa saja yang penting bisa makan.

Kami… Pemuda murahan.


Gimana Ukuran Penis Orang Indonesia

Malam-malam saya jemput Hadi di halte dekat rumah. begitu sampai rumah dan kami sama-sama minum seduhan teh borbonia campur Asphalantus, sejenis dedaunan teh yang tumbuh di semak-semak Afrika Selatan.

Malam itu sudah dingin. Kelihatannya musim panas hampir usai. Baru duduk dan dalam seruputan pertama saya sudah di tembak Hadi sebuah pertanyaan, “bang apa pendapat abang soal Papua?”

Saya cengar-cengir. Sebab saya ingat pada suatu hari, sahabat saya Udin melontarkan pertanyaan yang hampir mirip, “Menurut lu, gimana yaa penis cowok Indonesia, bang?”.

Loh apa hubungannya Papua dengan Penis? Ehmmhh, apa yah? Wah, nampaknya selain sama-sama berawalan P dan memiliki lima huruf, saya tidak punya lagi analoginya. Lantas kenapa saya pikir pertanyaan itu mirip. Mungkin karena di tanya pada saat yang sama. Yaitu ketika saya sedang menyeruput teh.

Tapi apa jawaban saya?

Saya yakin jawaban saya tidak terlalu penting. Toh saya bukan siapa-siapa. Apapun jawaban saya, tidak akan mengubah dunia akhirat Papua. Tapi menurut saya, Hadi itu penting. bukan gara-gara ia anak juragan tembakau (yang secara aneh kadang ia sering saya analogikan dengan peran genial Dono sebagai ‘Raden Mas Ngabehi Slamet’ dalam film 80-an Gengsi Dong). Melainkan karena ia adalah teman yang selalu memotivasi ketika saya sedang jatuh terpuruk dalam masalah serius.

(Entah kenapa, saya selalu ingin memanggil Hadi dengan sebutan Mas Slamet). “begini Mas, err… Hadi. Kamu tau kekerasan dalam rumah tangga”

“Iya bang”

“biasanya gimana?”

“Suaminya kejam. Suka pukulin anak dan istri. Atau kalau tidak mukul yaa menyiksa batin”

“Yaa gitulah ama Papua. Sama aja kayak istri yang dijahatin suaminya. Tubuhnya dipakai sampe kering kerontang. Kalau protes dikit, digebukin. Minta cerai, digebukin. Anak nakal sedikit, digebukin. Makanan jatah kurang, digebukin”

Hadi diam. Saya lanjutkan ocehan tentang sedikit isu muncul di Papua. Ketika isu kecil muncul lalu ribuan tentara langsung diturunkan ke sana. Ketika prajurit-prajurit muda baru didoktrinasi agar menyiksa saudara mereka demi mempertahankan perkawinan sakit bernama NKRI. Ketika Papua masih terlihat seksi. Ketika banyak para panglima banyak cari muka. berharap suatu hari mengemut dari susu payudara bumi Papua. Oh ajaibnya.

Hadi pun masih diam ketika saya cerita sisi lain ketika perjuangan teman-teman Papua kadang diwakili oleh beberapa orang yang terlihat mencengangkan. Pada sebuah demonstrasi kemerdekaan Papua di benua Eropa, ada yang bagi-bagi selebaran kalau Papua hanya untuk orang Papua. Lah orang Papua itu siapa? Yang mengaku Papua? Si pembagi selebaran menggeleng. Katanya, hanya untuk mereka yang satu ras dengannya. Oh ajaibnya.

Hadi masih diam, ketika saya cerita suatu hari di Sydney bahwa ada seorang militan Papua yang mendapat kesempatan untuk berbicara dengan beberapa pembuat kebijakan penting di dunianya. Sialnya pada makan malam itu, ia hanya sekedar membanggakan diri telah berhasil memenggal dan menguliti puluhan kepala tawanan ABRI. Untuk apa? Kenapa di saat itu tidak ia ceritakan mengenai apa yang diinginkan oleh sahabat dekatnya, keluarganya, orang kampungnya dan semua mimpi tentang perdamaian dan kemanusiaan. Mengapa ia pikir cerita darah yang muncrat dari urat leher di meja makan akan membuatnya jadi manusia sakti? Oh ajaibnya.

“Jadi abang pikir Papua harus merdeka?”

“Saya pikir, Papua harus diberi kesempatan untuk bicara dan menentukan apa yang mereka mau. Terserah mereka. Mau merdeka. Mau masih sama-sama Indonesia. Mau otonomi lebih luas. Terserah aja apa maunya”

“Kok gitu bang. Kan baiknya dikasih tahu apa yang baik buat mereka”

Saya ketawa, “kamu kan nanya pendapat saya. Yaa itu pendapat saya. Kalau kita beda, yaa sah-sah aja dong”

“Sekarang gantian deh. Menurut kamu, gimana ukuran penis orang Indonesia?”

Hadi bengong, “Idih nanyanya aneh-aneh aja si abang”

Saya memang lagi malas bicara politik malam itu. Satu-satunya topik yang terlintas di otak saya (yang sedang capek, kedinginan dan bosan) adalah jika lebih dari satu orang pria berkumpul, maka topiknya tidak jauh dari lawan jenis atau narsisme diri macam ukuran penis.

Membicarakan penis itu menarik. Setidaknya buat pria. Katanya, disinilah letak ‘kebanggaan’ seorang lelaki. Dalam film kungfu Jianyu (dalam versi bahasa inggris yaitu Reign of Assassins, 2010, dibintangi Michelle Yeoh), menjelang akhir cerita ternyata baru tahu kalau plot film ini tidak jauh dari penis. Balas dendam seorang pembantu kaisar yang kecewa akibat dikebiri.

“Kamu tau, Di. Kalo penis itu tergantung ras. Jadi pada ras tertentu, ukuran penisnya memang lebih besar daripada yang lain. Penis itu nggak ada hubungannya ama jempol. Makin gede jempol seorang cowok, makin gede penisnya, itu mitooos”

Hadi tertawa terbahak-bahak. Mungkin karena itu sama saja saya bilang kalau penis dia (yang tinggi badannya hampir 190 cm) tidak lebih besar daripada punya saya.

“Tapi kan Bang, nggak imbang kalau badannya gede tapi itunya kecil”

Lalu kami main bantah-bantahan. Mengeluarkan semua logika, teori, omong kosong dan lain sebagainya. Biar saja, buat saya ini lebih mengasyikkan ketimbang bicara politik. Setidaknya untuk malam itu.

Saya keluarkan laman tersimpan di peramban internet. Isinya mengenai tabulasi data ukuran penis warga dunia (*aneh kan, ngapain juga yang kayak gini saya bookmark?*). Di sana terlihat ukuran penis warga dunia berdasarkan negara asal mereka.

Mau lihat, silahkan; ini tabelnya.

Ukuran Penis Manusia Dunia
Negara Panjang santai(cm) Panjang tegang (cm) Sumber
Amerika Serikat 8,8 cm 12,9 cm Wesseells H., Lue T., McAicnich J. (United States of America). The relationship between penile length in the flaccid and errect status: guidelines for penile lengthing. J Urol 1995; 153 Part 2: 379A.
Jerman - 14,48 cm Dr. Gunther Hagler, Urólogo.
Spanyol - 13,58 cm Dr. Javier Ruiz Romero. Clínica Tres Torres, Barcelona, 2001.
Perancis 12 cm 16 cm Anatomie topographique, descriptive et fonctionnelle, tome 1. Le système nerveux central, la face, la tête et les organes des sens, 2e édition. 1991
Jepang 8 cm 13 cm Japanese Journal of Sexology
Brazil - 12.4 (+/- 1.6) cm Dr. Paulo Palma, Urólogo. Brasil. Disfuncao sexual, Carlos da Ros, Claudio Teloken
Italia 10 cm 15 cm Dr. Jamal Salhi de la Sociedad de Andrología de Italia. Dr. Carpenito Ambulatori Especialista en Andrología.
Venezuela 9,5 cm 12,7 cm “Dimensiones peneanas en la población venezolana”, Servicio de Urología, Hospital Domingo Luciani.
Meksiko - 14,9 cm “Lifestyles Condom Co. In Cancún, México”, Dr. Francisco Ordóñez, 2001.
Yunani - 12,18 (+/- 1.7) cm Dr. Spyropoulos E. et coll. Hospital Naval de Veteranos, Atenas, 2003
India - 10,2 cm The Jacobus Survey
Saudi Arabia - 12,4 cm Dr. Mohamed Habos. Male Genital Organ Diseases and Behaviours, Saudi Arabia, 2000
Chili - 13,9 cm Dr. Eduardo Pino, Urólogo/ Andrólogo. Clínica Andromex, Santiago de Chile
Colombia 6,9 cm 13,9 cm Acuña A., Villalba J., Juan Carlos Villalba. A. Saio Clinic, Bogatá.
Afrika Selatan 13,3 cm 16,7 cm Universitat Klegenfurt Survey
Korea Selatan 6,8 cm 9,3 cm Self-Reported Premature Ejaculation Prevalence and Characteristics in Korean Young Males: Community-Based Data from an Internet Survey. Hwancheol Son, Sang Hoon Song, Soo Woong Kim, and Jae-Seung Paick. August 12, 2010
Thailand 11,2 cm 13,5 cm Muangman Research. Department of Surgery, Faculty of Medicine, Ramathibodi Hospital, Mahidol University, Bangkok, Thailand.
Malaysia 7,8 cm 12,4 cm The Straits Times dated 16th July 2000 (Singapore) taken from a 1996 survey by Hunter Welles, Tom Lue and McAnich
Indonesia 10,8 cm 14,2 cm Universitat Klegenfurt Survey

(*Tabel lebih lengkap dalam gambar*)

Hadi melongo, “Bang, punya bookmark apa lagi. Liat dong!”

Saya perlihatkan pada dia, beberapa catatan medis mengenai pasangan penis. Bukan, bukan kantung scrotum. Melainkan pasangan reproduksinya, yaitu vagina. Dan beberapa mitos yang terkuak mengenai penis yang berkembang di masyarakat berdasarkan etnografi.

“Jadi, orang bule nggak semuanya gede yaa, Bang?”

“Yaa nggak lah. Di pelem-pelem emang iya. Pan aktornya juga di pake kalo itunya gede. Lagian biar gede juga belom tentu bisa cocok. Punya perempuan kan beda-beda”

“Trus biar nggak bisa bediri, tapi masih bisa maen yaa?”

“Yaa bisa. Untuk bercinta nggak selalu harus pake tegangan tinggi”

“Kalo cowok punya pasangan kok masih tetep begituan sendiri?”

“Istri kan bukan pelampiasan nafsu, Di. Mereka itu bukan budak. Sementara banyak lelaki yang memiliki kebutuhan yang lebih banyak daripada yang bisa ia dapetin. Boong itu kalo nggak swalayan. Emangnya dia mau maen ama siapa? Pohon pisang yang dibolongin tengahnya?”

“Tapi… Tapi bang.., ngapain baca-baca beginian?”

“Cita-cita saya mao jadi ginekolog, Di. Kayak dokter Boyke. Sayang gagal”

“Tapi menurut saya sih, punya saya tetep lebih gede daripada punya abang”

“Heh kampret! Males banget saya dikasih unjuk barang kamu malem ini. Jangankan gratis, dibayar aja ogah. Lagian kamu tahu darimana punya kamu lebih gede?”

Sambil tertawa lebar si Hadi menjawab, “Yaa itu sih pendapat saya. Kalau kita beda, yaa sah-sah aja dong”

Sambil garuk-garuk kepala, saya baru sadar satu hal persamaan antara Papua dengan penis pada malam ini. Simpel; sebab apapun itu masalahnya ternyata kita boleh beda melihat semua sisinya.

Dan apapun perbedaannya, ternyata lebih enak dibicarakan sambil minum teh ketimbang berkelahi.


Lelaki Sejati Bijinya Dua

Waktu saya pinjam buku Elizabeth Gibert yang berjudul eat pray love, Mbak Lia memberi sambil tertawa, “Kenapa, ini kan perempuan banget?”

Saya tersenyum menjawabnya. Tapi entah kenapa saya tidak jawab. Tapi bingung juga sebenarnya, andaipun mau saya jawab, saya harus jawab apa? Toh itu buku memang cerita tentang seorang perempuan dan perjalanannya. Tentu saja dari sudut pandang wanita. Saya tidak bisa jawab apa-apa selain tersenyum.

Dari dulu, entah kenapa, saya memang seakan terobsesi untuk memahami perempuan. Mulai dari cara yang sederhana seperti bertanya langsung kepada makhluknya, hingga trik yang agak licik seperti mencuri buah pikir tertulis mereka. Misalnya melalui membaca majalah yang paling banyak dibaca perempuan. Sampai dulu saya pernah beranggapan, jika feminisme adalah sebuah agama bagi peremuan urban maka Cosmopolitan adalah kitab sucinya.

Hubungan antara pria dan wanita itu misteri. Di Mesir kuno mitologi mengajarkan bahwa selain Isis sang pelindung, dewi yang dipuja adalah Ma’At, pengatur hubungan antara pria-wanita dalam relasi. Apapun itu, belum terkuak hingga saat ini. Jadi menurut saya sah-sah saja punya obsesi memahami dan mencari apa itu makna relasi.

Hasilnya bagaimana? Ahh sama saja. Buat saya, perempuan itu tetap saja misteri. Satu-satunya yang bisa saya kenali apa adanya, hanya putri saya seorang, Novi Kirana. Itu pun karena usianya yang baru 2,5 tahun. Entah nanti pada dua dasawarsa mendatang. Mungkin kabut misteri juga akan meliputinya.

Tentu saja itu subjektif.

Lantas bagaimana dengan pendapat para wanita terhadap pria? Apa juga sama? Apakah mereka juga pernah berfikir jika para lelaki itu adalah makhluk yang misterius?

Ehmhh, saya ragu.

Dulu sahabat saya si Aini pernah menjawab ketika saya tanya soal tipikal lelaki idaman, “Iih si Bambang orangnya cool loh. Pendiam gitu. Misterius. Kalau senyum juga seadanya. Banyak cewek yang seneng dia”

Senyum seadanya kok dibilang cool? Kenapa pula si Bambang disukai gadis-gadis?

“Nggak banyak, Rip, cowok yang kayak dia. Cowok mah… Yaa gitu deh…”

‘Yaa gitu deh’, apa pula itu maksudnya? Apa kami para pria sebegitu mudahnya diterka?

Saya pikir sebentar. Kelihatannya Aini benar. Mungkin ia pun generalisasi terhadap para pria yang ditemuinya. Katanya, selera bisa dibentuk, namun pemahaman itu tergantung lingkungan. Tapi ahh, mungkin ia benar. Tidak sedikit pria yang mencoba jadi humoris di depan wanita yang sedang diincarnya. Tentu saja atas nama tujuan, kodrat lelaki sebagai pemburu merasa perlu menggantikan lembing batu jaman Neanderthal primitif terdahulu dengan lelucon yang kadang malah membuatnya tidak lucu. Di sisi lain, sebagai makhluk yang diklaim dipayungi oleh planet Mars, tidak kalah sedikitnya para pria yang gemetar tak berdaya dihadapan perempuan yang disukainya. Katanya, venus si wanita lebih dekat dengan matahari. Dia yang berkuasa adalah yang dia yang dekat dengan planet api.

Pada intinya hanya satu; katanya, pria gampang ditebak. Terutama di depan wanita yang dicintainya.

“Jadi cuma gara-gara begitu si Bambang jadi idola. Ahh kalo gitu sih gampang, gua juga bisa pura-pura pendiem, misterius terus jarang ngocol”

Aini mengangkat bahu seakan tidak percaya, “Coba aja lu tiga jam diem. Baru gua percaya”.

Setelah itu, saya pura-pura jaim deh. Jaga image dengan sok tahu. Duduk di koridor ramai, buka buku agar bisa melalui tiga jam laknat ini dengan sukses. Di depan saya lalu lalang orang-orang. Tapi pikiran saya tidak konsentrasi ke bacaan. Dalam hati berfikir, “Nah gimana dong kalo gua disangka kutu buku. Trus cewek-cewek ga ada yang mao ama gua”. Saya gelisah. Memikirkan apa yang harus saya lakukan selanjutnya.

Sebal. Aini kelihatan melihat kegelisahan saya. Aneh, kok yaa perempuan instingnya tajam sekali? Kenapa bukan kami para pria yang dikaruniai bakat itu?

Baru setengah jam saya sudah berkata, “Ain, gua ke kantin dulu yah. Lapar. Nanti balik lagi ke sini. Gua buktiin deh ama lo, kalo gua juga bisa jadi lelaki jaim kayak si Bambang”

Lagi-lagi Aini mengangkat bahu.

Di kantin saya minum teh sambil makan gado-gado. Sambil memikirkan bagaimana caranya agar bisa jadi seperti Bambang. Tokoh idola gadis-gadis sekolah. Dalam kebingungan, tiba-tiba teman sekelas saya datang. Mengajak main bola.

Sumpah mati tiba-tiba saya lupa Aini. Saya lupa dengan tiga jam jaga imagi pria sejati sebagai janji. Saya lupa dengan niat saya menjadi Bambang wannabe. Di otak saya tiba-tiba yang adalah hanyalah bola memantul tinggi dan melesakkannya ke gawang sambil sekencang-kencangnya teriak ‘Horeee…!’

Begitu pertandingan selesai, saya lihat Aini di sisi lapangan. Sambil lagi-lagi mengangkat bahu. Matanya menyiratkan kalimat, “Oh betapa menyedihkannya kamu”

Saya cengar-cengir sambil garuk-garuk kepala. Lah mau bilang apa coba?

Malamnya di kost-kostan Depok, saya curhat pada si Otong tentang kejadian hari itu. Otong ini adik kelas saya. Tinggal di samping kamar kost saya. “Tong, gimana yaah caranya jadi lelaki sejati?”

“Lelaki sejati itu apaan, Bang?”

“Itu lah. Yang kayak si Bambang gitu. Cool. Cewek-cewek pada seneng ama cowok cool”

“Emang abang bijinya cuman satu?”

“Hah! Apa hubungannya ama biji?”

“Kan lelaki sejati bijinya dua, Bang”

Kampret! Kok saya tiba-tiba dituduh tak genap biji. Maka saya jelaskan pada Otong tentang lelaki (setidaknya di mata Aini). Yaitu para lelaki yang misterius. Pendiam. Bermata tajam seakan mampu membuka tirai hati para perempuan. Yang ketika berjalan, bahkan para wanita disisinya pun sudah mampu melihat aura kelakiannya. Yang ketika mengeluarkan suara, seluruh mata lawan bicara memperhatikan gerak bibirnya. Tentang lelaki yang digila-gilai wanita.

Otong meremas rambut dengan kedua tangannya, “Waduh kalo gitu gua juga bukan laki-laki idaman wanita yaa, Bang? Bukan lelaki sejati sih. Terus kalo begini, gimana dong ama gua? Masa sih gua nggak bisa dapet pacar?”

Saya tidak bisa menjawabnya. Pertanyaannya misterius. Semisterius topik tentang hubungan wanita dengan pria. Semisterius dengan alasan mengapa setelah berjuta tahun hidup bersama mereka masih saling mencoba untuk mengetahui satu dan lainnya.

Saya tidak bisa menjawabnya. Sebab tidak mungkin saya jawab, “Emang udah gitu kali nasib lo, Tong”


Diplomat

Di sebuah tempat makan di kastil pinggiran kota, duduk melingkar tujuh orang. Satu lelaki dari Indonesia yang kerjanya cengar-cengir saja, satu perempuan Malaysia ahli lingkungan, seorang diplomat Australia, pengacara necis dari Belanda, sepasang suami istri penari dimana si suami dari Perancis dan istri dari Denmark. Satu lagi, wanita paruh baya yang berasal dari Republik Ceko. Yang terakhir ini, kami sempat dapat bisikan kalau nenek moyangnya keturunan bangsawan yang dihabisi oleh Komunistická strana Ceskoslovenska (KSC), partai komunis Cekoslovakia, pada awal tahun 1920-an. Sebab, ketika partai itu runtuh di awal tahun 1990-an, kastil ini kembali terdaftar atas nama waris si wanita paruh baya ini.

Obrolan melingkar kemana-mana. Seperti mimpi. Tanpa pangkal tanpa ujung. Awalnya sebenarnya bermula ketika saya yang nampak ogah makan sup lemak, salah satu panganan yang diklaim terenak di bagian Ceko Utara. Masalahnya simpel, saya tidak dibesarkan dengan makanan itu. Melihat lemak putih-putih besar menggumpal dalam sup yang encer, tidak membuat saya berselera.

Si wanita paruh baya nampak sedikit berubah raut mukanya ketika saya tidak menjamah sup dalam mangkuk perak itu. Mungkin ia tidak suka. Lalu pengacara Belanda bertanya apakah latar belakang saya yang muslim membuat saya tidak makan lemak dari babi?

Tidak ada hubungannya dengan identitas keagamaan monotheis. Kata perempuan Malaysia, tidak semua pemeluk agama mengikuti tradisi agama dengan setia seperti anjuran kitab suci. Itu berlaku secara universal. Hampir semua pemeluk agama, di semua penjuru dunia, punya semacam fleksibilitas. Misalnya, ada yang benci korupsi tapi cinta rokok. Ada yang hobi bersenggama, tapi pantang makan daging berwarna merah. Ada yang rajin ibadah namun menoleransi homoseksualitas. Setiap pemeluk agama, dalam hal ini yang mengaku bertuhan di langit, punya fleksibilitas. Dan fleksibilitas itu perlu dalam bertahan hidup.

Obrolan semakin seru, ketika sang diplomat yang bermata biru berambut coklat dan nampak berotot ini, mengaku sebagai seorang muslim dan menjadi mualaf ketika berdinas di Tunisia dua puluh tahun lalu. Ia kelihatan membela saya dengan mengatakan bahwa tidak ada seorangpun di muka bumi ini yang menjadi perwakilan tetap atas agama yang diusung oleh orang tersebut. Tentu saja sebagai diplomat, kami mahfum bahwa ia seakan berkata, “Gua disini juga tidak mewakili pemerintah Australia”. Sebab belum tentu saya seorang muslim. Andaipun saya muslim, katanya, tidak ada seorangpun yang tahu kalau saya diam-diam (atau malah terang-terangan) makan babi yang tidak berlemak.

Kami tertawa.

Namun karena obrolan semakin serius dan setiap orang memiliki argumennya masing-masing mengenai agama, beberapa orang terlihat letih. Terutama saya. Entah kenapa saya letih. Saya juga tidak mengerti. Mungkin karena menurut saya agama yang paling kuat saat ini adalah kapitalisme. Sebab setiap upaya ibadah seringkali dibungkus dengan embel-embel modal pada diri sendiri. Misalnya doa minta kaya, doa minta sehat, doa panjang umur, doa bisa terus kerja, doa dapat pacar, doa agar anak menurut. Semuanya terlihat seperti investasi. Agar hidup nyaman. Agal modal diri semakin kuat. Kalau ritual sudah berubah menjadi penguatan modal, bukankah namanya kapitalisme? Sejarah pun sudah berkali-kali membuktikan bahwa penyebaran reliji selalu berhubungan dengan kekuasaan dan saudagar. Ada modal ada agama.

Ahh tapi siapa saya? Ilmu saya sedikit dan selalu kelihatan tidak serius. Apa ada yang percaya bualan saya itu? Bahkan saya jadi bosan dengan pikiran-pikiran saya sendiri.

Karena malam semakin larut, obrolan pun berubah. Saya yang bosan mulai bertanya pada pasangan penari. Bagaimana mereka bertemu.

Syukurlah, suasana berganti. Jadi lebih romantis. Si wanita bilang bahwa Jean Pierre adalah lelaki teromantis yang pernah ia temui. Ahh kalau itu saya tidak ragu. Toh pria Perancis sudah lama terkenal romantis. Si lelaki bilang kalau Adelle adalah makhluk terindah yang pernah ia temui dengan rambut pirang sebahu dan kaki mungil yang amat cantik. Ketika berkata begitu, mata mereka tertumbuk dan saling tersenyum. Ahh indahnya. Pasangan yang saling cinta.

Namun akibat hanya mereka yang berpasangan di meja makan ini, maka obrolan pun tidak lama usai dan berubah kembali. Sialnya, lagi-lagi bicara mengenai latar belakang saya. Ini cukup menyebalkan buat saya. Kok lagi-lagi saya. Namun mau bilang apa, ternyata masing-masing manusia di meja ini semuanya pernah ke Jakarta. Entah bisnis, entah liburan, entah singgah, entah apa lah namanya. Yang pasti semuanya pernah ke Jakarta. Bahkan si bangsawan tua ini pun, mengejutkan, ternyata pernah pula ke Jakarta. Dan satu-satunya orang Jakarta (walaupun tidak sah) di meja ini, yaa saya.

Sebelum menjawab pertanyaan, jelas saya tekankan pada mereka, bahwa saya bukanlah wakil resmi Jakarta. Tentu saja trik ini saya pelajari dari si diplomat Aussie beberapa menit lalu. Si diplomat melirik tersenyum. Saya tahu dibalik senyumnya ia akan melontarkan pertanyaan yang tidak akan spesifik mengenai kebijakan politik kota. Tapi yang pasti, akan membuat saya kelimpungan. Dua puluh tahun lebih jadi diplomat pasti mengajarkannya banyak hal.

Ajaibnya, yang melontarkan pertanyaan dahsyat pertama kali, adalah sang Lady bangsawan. “Bagaimana kabar keluarga kamu? Saya dengar ada banjir di Jakarta?”

Saya kaget. Saya jawab apa adanya. Bahwa banjir memang melanda Jakarta. Setiap setahun sekali, Ibu dan adik-adik saya pasti mengungsi ke rumah tetangga yang lebih tinggi. Demi bertahan hidup menghadapi banjir. Adik saya Uul, bahkan baru saja mengirim email melalui jaring sosial media, bahwa ia amat cemas dengan banjir yang kelihatannya akan datang.

Semua orang menatap saya sedih.

Ketika mereka bertanya kenapa, saya jawab bahwa sistem pengairan Jakarta itu warisan Belanda seratus tahun lalu dan hingga kini sedikit perubahannya. Si pengacara tersenyum sambil berkata, “Mau tetap dibantu?”

Sambil senyum saya jawab bahkan sungai di Jakarta adalah tempat sampah yang masif tiada tara. Hampir semua elemen masyarakat masih membuang sampah tidak pada tempatnya. Lalu mengalir ke sungai. Kanal banjir dibangun, namun tidak mengentaskan masalah. Sebab kegemaran pemerintah lokal kami adalah menangani simptom. Bukan mencari akar masalah.

Si perempuan manis Malaysia keturunan Pakistan ini menyela, “Bagaimana mereka mau buang sampah. Tempat sampah sedikit? Aku jalan kaki di Manggarai yang penuh polusi, mau buang sampah bungkus permen saja susahnya minta ampun. Hingga harus masuk mall dan cari tempat sampah”. Uugh, dia ternyata pernah tinggal di Jakarta. Lebih lama daripada saya. Semestinya ia yang berhak di tanya mengenai Jakarta.

Lagi-lagi saya memang harus menjawab, bahwa kebijakan pemerintah kota yang tidak menyediakan banyak tempat sampah lah yang harus di tanya. Ketika perempuan ahli lingkungan itu semakin mencecar, tentu saja trik ad hominem saya pakai. Berdasar hubungan antara RI-Malaysia yang saat itu meruncing, saya jawab, “Sayang sekali kami tidak seberuntung kalian yang memiliki pemerintahan yang menjamin kebersihan kota sebagaimana di Kuala Lumpur”.

Bingo! Berhasil! Sebab dia jawab, “Tapi kalian punya kebebasan untuk bicara. Kami punya undang-undang patriot yang bahkan bisa menjerat siapa saja yang mengkritik UMNO yang rasis dan selalu mementingkan orang asli itu. Malaysia hanya untuk pribumi, ahh omong kosong”

Saya yakin tidak ada yang tahu apa yang saya lakukan di meja makan pada saat itu. Mencoba memonopoli topik. Memanfaatkan situasi terkini sebagai senjata.

Hingga akhirnya saya sadar saya salah besar. Si diplomat rambut coklat mendehem, “Sudah larut, mungkin saya istirahat. Kamu bintang malam ini, selamat. Sayang sekali kamu tidak memilih jalur diplomasi sebagai karir, sebab saya yakin kamu akan jadi sukses besar”, katanya sambil menatap saya.

Saat itu beliau menggunakan bahasa slang lokal. Yang secara samar bisa diterjemahkan, ´sebab saya yakin kamu akan akan jadi omong kosong besar´.

Saya tidak peduli. Mungkin ia mabuk terlalu banyak minum wine enak. Tapi bisa jadi, mungkin ia benar. Saya tidak peduli. Saya pamit sebentar mau ke toilet. Si diplomat ikut. Mau merokok. Dalam perjalanan menuju toilet yang terletak di sayap kanan bangunan, kami tidak bicara apa-apa.

Sebelum sampai toilet ada persimpangan, satu menuju kamar kecil, satu lagi menuju ruangan merokok. Dalam remang terowongan yang diterangi cahaya lilin-lilin besar itu, kami melihat jelas Jean Pierre masuk ke WC sepi dengan seorang wanita berambut panjang gelap (kalau tidak salah yang melayani minuman untuk madam bangsawan). Saya pikir itu pertanda bahwa saya tidak perlu masuk ke ruang tersebut dan memilih melupakan apa yang saya lihat dengan menemani si diplomat ketika ia merokok di luar sambil bicara tentang Bali.

Ketika kami kembali ke meja makan untuk sebenar-benarnya pamitan, Adelle bertanya cemas, “Kalian lihat suami saya? Saya cari dari tadi ia tidak ada”

Si diplomat menatap saya. Sial. Seakan saya lah yang harus menjawab pertanyaan itu.

Saya berfikir keras. Beberapa saat terdiam mengumpulkan kalimat dalam ribuan rimba kata-kata yang mampu merepresentasikan jawaban apa yang paling tepat yang harus saya utarakan.

Apa yang harus saya jawab; Jujur dan lalu meluluhlantakkan rumahtangga mereka? Atau berbohong bahwa saya tidak lihat apa-apa? Atau setengah jujur setengah bohong? Atau kejujuran yang dibungkus kalimat ambigu? Atau bohong yang dibungkus kalimat manis? Bagaimana saya harus fleksibel menghadapi pertanyaan sulit?

Apa yang harus saya jawab pada perempuan berambut pirang sebahu dengan kaki cantik ini?

Saat itu pula saya pikir saya tidak berbakat jadi diplomat.


Perempuan Yang Pantatnya Kotak

Tadi malam saya mimpi menulis. Aneh, mimpi kok menulis? Kenapa bukan mimpi lain misalnya? Misalnya kenapa tidak mimpi basah? Walaupun bangun-bangun ada bagian pakaian yang basah dan lengket di mana-mana, toh itu bukan masalah. Saya tetap akan mensyukurinya.

Tapi mau bagaimana lagi. Sudah terjadi. Tidur jam satu dinihari. Bangun pada pukul empat pagi. Badan masih kering. Lihat bagian dalam selimut, semuanya kering. Bagaimana mau basah, mimpinya kan cuma menulis. Apa yang bisa basah dari mimpi mengenai tulisan?

Saya mimpi aneh. Dalam mimpi saya bikin tulisan yang bagus. Minimal standar bagusnya, amat subjektif. Bagus itu bagaimana? Yaa jelas bagus menurut saya. Bukan buat anda. Toh kadar bagus tiap orang beda-beda. Teman saya Udin bilang bahwa perempuan bagus itu adalah perempuan yang pantatnya bulat. Jelas aneh buat saya. Memang ada perempuan yang pantatnya kotak?

Seorang perempuan muda, mandiri, cantik dan tanpa pernah ragu berkata kalau ia punya apartemen sendiri di sebuah bilangan ibukota yang cukup mahal pernah berkata pada sebuah makan siang, “Kenapa saya pikir lagu-lagu Juaquin Sabina bagus? Hmhh, good question. Mungkin karena kami sama-sama lahir di Úbeda. Tapi hmhh… Bukan itu juga… Lirik-liriknya itu. Ahh, apa namanya? Ah iya, mungkin kalimat yang tepat untuk liriknya adalah sangat membumi. Sepertinya, dari syair lagunya, ia merasakan apa yang saya rasakan”

Namanya Nia. Walaupun belum pernah menjamah, saya yakin pantatnya tidak kotak. Ketika ia menjawab, matanya menatap ke langit sambil memegang kedua belah tangannya menempel di ujung dagu. Saya melihat adegan itu dengan kagum. Mungkin momen itu adalah momen saya yang paling indah di hari rabu. Melihat seseorang yang begitu berempati dengan orang lain hanya melalui dari kekuatan kata-kata. Walaupun lalu divokalisasi, semuanya berawal dari ide dan tulisan.

Saya tidak kenal siapa itu Juaquin Sabina. Saya sendiri tidak tahu apa yang ia nyanyikan mengenai orang-orang Spanyol sana. Saya hanya bertanya pada rekan kerja, mengapa ia menyukai sebuah lagu. Itu saja.

Bagus itu subjektif. Dulu ada acara di televisi namanya Asia Bagus. Isinya para manusia berbakat yang di adu kepandaian mereka membawakan bakat masing-masing lalu dinilai oleh juri. Bukan hanya juri, penonton pun berhak memilih siapa jagoan mereka. Yang paling banyak terpilih, jadi juara. Salah satu diantaranya, Indonesia mengenal ia dengan sebutan Kris Dayanti yang lalu kemudian menasbihkan diri menjadi diva. Tapi di sisi lain, berdasar acara tivi tersebut, bagus itu ternyata bukan hanya subjektif. Ia pun bisa menjadi semacam paduan suara kolektif. Ketika ini terjadi, maka terbentuklah standarisasi norma.

Dan jawaban standarisasi norma itulah yang dipakai Meno, sahabat saya di Jogja, pada sebuah malam. Ketika saya bertanya, kenapa ia sering bepergian untuk bertemu orang-orang demi menggalang dana untuk membuat penyuluhan pentingnya kondom bagi para prostitusi waria Jogja. Jawabnya, “Susah Rip. Mana ada orang yang mau dukung acara ini. Kan ini bukan norma orang kita. Minggu kemaren ada orang Kaliurang yang mau ngasih dana, tapi begitu tau acara ini buat waria, dia berenti. Katanya… Nggak bagus”

Bagus yang suatu hari berganti nama menjadi norma itu rupa-rupanya tidak menyisakan banyak hal buat Meno. Suatu malam ketika saya sedang menyeduh mie rebus, ia pulang ke kamar kostnya. Buka pintu dengan terburu-buru lalu ambruk di ranjang. Ada bercak darah di kausnya. Mukanya penuh dengan bekas berwarna biru lebam. Acara penyuluhan yang diorganisasi bersama kawan-kawannya diserbu massa. Meno diteriaki kafir lalu wajahnya dihunjam batu.

Sejak saat itu, mungkin saya telah memilih bahwa kalimat bagus itu lebih baik dijadikan pendamping dengan ‘subjektif’.

Ahhh tapi ngomong-ngomong saya mau cerita apa yaa? Loh kok melantur. Oooh iya, soal mimpi menulis. Tulisannya juga bukan sembarangan. Tulisan bagus. Tapi apa itu tulisan bagus? Wah apa yaah? Kok saya lupa? Nanti lah kalau saya ingat saya akan coba cerita-cerita. Tapi tidak janji. Sebab bisa jadi akan saya pendam sendiri.

Hari ini, bagus itu ternyata menyulitkan. Mungkin lebih baik mengumandangkan agar dapat mimpi lebih menyenangkan dan mudah pada doa sebelum tidur malam ini. Seperti mimpi basah misalnya.


Teman Lama

kau dan aku/hanya percaya dan setia/maka kita berdua bisa begitu
(Puisi Sobron Aidit di Paris 2001)

Salah satu pengalaman hidup yang sering saya syukuri adalah ketika bertemu teman. Baik itu teman baru, maupun bertemu dengan teman lama. Dua-duanya sama saja: Menyenangkan.

Tapi kali ini, saya mau cerita ketika bersua kembali dengan teman lama.

Banyak perjumpaan dengan teman lama, terjadi begitu saja. Disengaja maupun tidak, kadang mereka hadir tanpa alasan di depan mata. Kata orang, nasib. Kata saya, entahlah. Sebab tidak ada hal yang terjadi di muka bumi ini dengan sia-sia.

Pertemuan-pertemuan, kadang tiba dengan ajaibnya tanpa direncanakan. Seperti misalnya, ketika saya jengah dengan suasana sekolah di Depok, bersama Mupi memutuskan untuk naik ke Gunung Merbabu di tengah pulau Jawa sana.

Suasana gunung begitu memikat. Di puncaknya, kami sebagaimana para pendaki lainnya, merasa kecil ketika memandang lautan awan di atas ketinggian lebih dari tiga ribu meter di atas permukaan laut. Saya lupa Depok. Saya lupa tugas sekolah. Saya lupa dengan segala keresahan sehari-hari hidup di dekat Ibukota.

Dingin dan embun terasa begitu mistis bahkan tetap ada ketika akhirnya kami tiba turun di desa terpencil di kaki gunung tersebut. Saya dan Mupi menyandarkan tas carrier berat di tepi jalan yang berbatas lahan perkebunan penduduk sekitar. Pada masa itu jalan begitu sepi, mungkin hanya dilalui oleh kendaraan bermotor yang dapat dihitung oleh sebelah jari perhari. Kami duduk. Melepas lelah. Mupi mengambil teh dari termos. Saya menyulut sebatang rokok pelan-pelan.

Dari ujung jalan debu mengepul. Kelihatannya akan tiba kendaraan besar. Saya sudah siap-siap berdiri mau mencegat. Rencananya, ikut menumpang sampai Jogja. Menuju petualangan berikutnya. Mupi menahan, “Santai aja men. Ngeteh dulu” sambil memegang bahu saya.

Debu jalanan menguar dari roda-roda besar bis yang semakin mendekat. Saya menahan napas. Nampaknya malam ini tidak bisa makan gudeg di Malioboro. Bis semakin dekat. Wajah-wajah penumpangnya semakin jelas terlihat di balik jendela. Nampaknya letih sekaligus mengantuk. Di jendela tengah, salah seorang dari mereka menatap dengan bulatan mata besar sekali. Lalu ia teriak-teriak kepada temannya. Dari gerak mulutnya, saya bisa menangkap ia berkata “Hoyy, Bangaip… Bangaip.. Mupiii… Mupiii…”

Astaga, itu si Meta, adik kelas saya. Lah yang lebih parah lagi. Ternyata satu bis itu rupa-rupanya teman-teman sekolah saya di Depok. Buset, jauh-jauh di pedalaman. Naik gunung begitu tinggi, loh yaa kok ketemunya muka yang itu-itu juga.

Saya berdiri hendak memberhentikan bus. Mupi kembali menepuk pundak saya, “Udah biarin aja men. Kita ngeteh aja dulu”.

Saya menatap pasrah ke arah Mupi. Well, mungkin ia benar. Toh kami begitu jauh pergi memang niatnya hendak melupakan sejenak hingar bingar Depok. Mungkin ia benar. Sebaiknya saat ini, kami lebih baik sendiri.

Itu sekelumit cerita dari Merbabu. Walaupun sekilat, bertemu teman itu menyenangkan. Setidaknya, toh pendapat saya pribadi.

Kali ini, mari kita berpindah ke lokasi lain.

Pulang dari penelitian di Chiang Mai, saya seharusnya langsung kembali pulang ke Eropa. Entah kenapa, pesawat yang saya tumpangi mendadak bermasalah dan akhirnya kami harus mendarat di Taiwan. Buat saya tidak terlalu masalah sih. Saya belum pernah ke Taiwan. Dalam hati tidak bisa dibohongi, bahwa saya cukup gembira bisa diberi penginapan gratis oleh maskapai penerbangan di kota Taipei.

Hotel yang saya tumpangi malam itu, hanya untuk semalam saja. Sebab kami dipastikan bahwa besok sore sudah bisa terbang lagi menuju tujuan. Saya begitu gembira, ketika mengetahui bahwa penginapan yang bernama sedikit berbau Perancis ini terletak dekat rel kereta di distrik Songshan. Sebab artinya hotel ini dekat Taipei World Trade Center. Ahh bilanglah saya aneh, tidak apa-apa saya akan ikhlas saja. Sebab pada saat itu, sedang diadakan pameran motherboard komputer di seluruh dunia di Taipei WTC. Jadi sontak saya begitu gembira. Sebab saya akan memastikan diri ikut melihat-lihat pameran motherboard buatan Taiwan yang canggih-canggih itu.

Di tengah jalan esoknya menuju WTC, pagi di simpang ShiMin Boulevard sejenak membuat saya terkagum kagum. Wah keren juga, mirip daerah Mangga Dua Jakarta. Bedanya, di tengah kota ini melintang jalan bebas hambatan bertumpuk dengan rel kereta layang lintas distrik. Dan beda dengan Mangga Dua, di sini jelas lebih bersih berdasarkan pengamatan sekilas dan sepihak. Persamaannya, ada toko yang menjual alat kecantikan bernama ‘Buty Shop’. Rupa-rupanya salah tulis bahasa asing bukan monopoli orang Jakarta saja. Hehe.

Senyum yang merekah hanya karena melihat sejumput kalimat tak bertuan itu tiba-tiba menghilang ketika seorang laki-laki keluar dari balik pintunya. Saya garuk-garuk kepala. Kok yaa dari toko alat kecantikan wanita, keluar seorang pria yang mirip si Aco. Teman kecil pengajian saya ketika di Cilincing dulu.

Saya tahu, kontur wajah orang Taipei memang beda dengan warga Cilincing, kampung nelayan kumuh kecil di pesisir Jakarta itu. Tapi biar saja. Toh tidak ada salahnya belaga gila di kampung orang. Atas dasar itu pula saya teriak-teriak memanggil “Cooo… Acooo…”

Hebat. Lelaki itu menoleh dan menyebrang jalan. Kalimat pertamanya begitu tiba dua meter di depan saya adalah, “Eh gila! Lo ngapain di sini?”

Wow! Itu Aco. Sahabat saya sepengajian yang lebih sering menemani ketika kami dihukum untuk membersihkan WC masjid akibat memilih main bola ketimbang menyisakan waktu membaca huruf Arab gundul.

Naluri saya pulang hilang sudah. Bertemu sahabat kecil, di rimba bernama namun tak dimengerti membuat gairah saya untuk nongkrong ala Cilincing kembali menggebu-gebu. Pagi itu kami lewatkan dengan makan jajanan Taipei (*yang sumpah saya tidak tahu namanya tapi rasanya enak betul. Mirip somay goreng*) dan diskusi mengenai betapa kaum muda Taiwan sudah amat ingin melepaskan diri dari cengkraman RRC.

Kelihatannya Aco sudah jadi warga lokal. Setiap bicara mengenai hubungan RRC dengan Taipei ia selalu berkata, “Kami punya teknologi. Kami punya uang. Kami generasi baru. Kami hanya ingin mandiri. Itu saja”. Kalimat ‘kami’ setiap ia merujuk warga Taiwan tidak membuat saya gentar. Alih-alih, saya malah bangga. Dalam hati mengumandangkan sebuah doa, “Ya Tuhan, semoga kalau Taiwan merdeka, jadikan Aco bagian daripadanya”.

Siang itu, saya pamit. Check-in ke bandara. Sebelum pulang Aco memeluk saya kuat-kuat. Berjanji bahwa ketika kami suatu hari diberi anugrah rizki tak terkira bernama waktu, akan kembali mengayuh sampan kecil ke tengah laut Cilincing. Bersama memancing ikan sambil tertawa bersama sahabat lainnya yang saat ini entah ada di mana.

Oke. Itu cerita Aco. Jadi hingga saat ini, saya sudah cerita Meta di Merbabu dan Aco di Taipei. Bagaimana, anda suka? Tidak? Ahh tidak masalah. Saya masih punya satu stok cerita lagi yang tanpa malu-malu saya tetap akan bagi. Anda boleh protes, namun saya akan tetap cerita. Hahaha…

Kali ini di Jakarta.

Kenapa di Jakarta? Ehmhh agak aneh memang. Saya lahir di Jakarta. Hingga kini menghabiskan hampir setengah umur saya di kota yang saya benci sekaligus saya cintai ini. Mengapa Jakarta? Mengapa tidak cerita ketika bertemu teman-teman lama di tempat lain, yang notabene persinggahan saya pada setengah umur berikutnya? Bukankah Jakarta tidak seeksotis desa kecil di kaki Merbabu atau tengah rimba Taipei, kenapa harus Jakarta?

Karena saya jarang pulang ke Jakarta.

Saya hanya menyinggahi kota ini ketika lebaran. Biasanya pada Malam Takbiran pesawat saya sampai di Jakarta. Sholat Ied di pagi harinya. Becanda-becanda gila dengan teman-teman saya sejak kecil, makan ketupat dan sayur bambu buatan Ibu. Lalu sorenya, pergi lagi entah kemana. Begitu seterusnya. Lebaran menjadi momen penting untuk kami sekeluarga. Sebab hanya pada saat itu Ibu kumpul bersama anak-anaknya.

Suatu hari di Malam Takbiran, Ibu mengeluh kepada Uul adik saya, mengenai hidup saya yang ‘datang dan pergi sesuka hatinya’ (*mirip lagu Pance Pondaag*). Uul dengan santai menjawab, “Yaelah Ibu kayak nggak tau aja. Orang-orang sekampung kita juga udah pada tau. Dia mah orang sibuk. Sibuuk. Pusing dah. Sibuk apa, kita juga pada nggak tau”. Ibu mendebat. Sibuk yaa sibuk. Tapi kan ia rindu.

Saya diam mendengarnya. Merasa bersalah.

Sebagaimana hobi saya yang suka ngeles. Saya ikut menimbrung percakapan di ruang tengah. Mengambil sampel contoh Fahmi, adik saya satu lagi yang tinggal di Jogja. “Saya mah masih mending Bu. Noh si Ami, solat ied di lapangan aja dia mah telat mulu”.

“Tapi dia di sini lebih dari sehari. Kamu paling berapa jam doang”

Saya cengar-cengir garuk-garuk kepala. Susah membantah Ibu. Datanya lebih akurat. Hehehe.

Atas dasar itulah akhirnya saya mengunjungi Jakarta. Bukan untuk napak tilas. Bukan pula untuk bisnis. Alasannya malah sederhana. Hanya ingin ziarah. Ziarah ke hati Ibunda tercinta yang terlihat letih melihat anaknya yang selalu ‘datang dan pergi sesuka hatinya’.

Saya ke Jakarta. Pulang kampung. Berkunjung ke rumah Ibu.

Tiga hari pertama, saya kuat-kuatkan tidak menerima telpon selain dari keluarga dan kerabat dekat saja. Ibu kelihatan cukup gembira. Anaknya yang hilang kembali. Tanpa embel-embel kerja. Tanpa beban harus membagi waktu dengan orang lain. Tiga hari. Iya, tiga hari. Selama tiga hari itu pula Ibu memasak makanan yang enak-enak buat saya. Uul bilang, “Biasanya kita mah makan pake sayur asem doang ama tempe. Tumben nih ada eluh. Kita makan pake ikan”.

Tiga hari itu waktu yang cukup berat buat saya. Manusia yang sudah dibaptis menjadi bagian dari sekrup industri kapitalisme Eropa. Yang sebagian besar hidupnya mengabdi pada teknologi, media dan komunikasi. Dimana perbedaan berita perjam bagaikan udara yang dihirup sehari-hari. Dimana pencapaian hasil kerja perjam, adalah seperti proses makan harian. Tiga hari di sebuah desa nelayan kecil pesisir, berjalan begitu lama.

Namun entah kenapa. Masa-masa ini saya nikmati. Uul dan Ibu cerita mengenai gosip-gosip terbaru Cilincing. Saya rindu mendengar cerita-cerita ini. Selalu membuat saya terpingkal-pingkal tanpa mampu menahan airmata. Biasanya cerita tragis. Tanpa bumbu. Tanpa gramatika bahasa Indonesia yang baik dan benar. Lebih parah lagi, mungkin tanpa memakai bahasa Indonesia sesuai ejaan yang disempurnakan. Namun lucu. Aneh memang. Realita. Tragis. Tapi lucu.

Sahabat saya, Odoy, datang sekali-kali. Biasalah kalau jam makan, dia memang selalu ada. Sebagaimana saya juga selalu ada di rumahnya ketika jam makan keluarga mereka dimulai.

Hari ketiga, Ibu memandang saya dengan tatapan yang saya tidak bisa mengerti. Beliau baru dapat telepon. Sahabat saya datang dari Sulawesi. Bukan dari kota. Dari pedalaman. Ia naik jip turun gunung menuju pelabuhan terdekat kampungnya, lalu naik speed boat ke kota kabupaten, lalu naik bus menuju kota terdekat yang ada bandaranya. Tadi pagi, ia sampai di Jakarta dengan pesawat tercepat yang bisa ia ambil. Perjalanan itu memakan waktu tiga hari. Katanya, jalan sejauh itu untuk menemui saya.

“Sana ketemu Bang Omar. Dia orang baik. Dia teman kamu”, kata Ibu sambil menjahit celana jeans yang saya bolongi dengan sengaja. Ahh, Ibu memang tidak pernah mau anaknya terlihat tidak rapih.

Bang Omar itu sahabat saya. Sahabat lama. Kami pernah dapat beasiswa sama-sama. Saya disayang, karena saya yang paling muda di grup penerima beasiswa itu. Ia yang paling tua. Sudah jadi direktur NGO rupanya ia saat itu. Paling dihormati di grup kami. Saya sering membuat kopi untuknya di pagi hari. Biasalah, anak bawang. Waktu KKL, ia pernah jatuh cinta pada gadis anak Pak Lurah yang membuat saya harus berbohong setengah mati menutupi ia dimana ketika istrinya menelpon bertanya. Sejak saat itu, posisi kami setara. Bang Omar hanya menutup telinga ketika bisik-bisik anggota beasiswa semakin sering ketika ia terlihat beberapa kali membuat teh ketika saya bangun tidur. Ia tahu, semakin banyak gelas teh yang tersedia untuk saya, semakin aman rahasianya dari kuping istrinya. Hahaha…

Bang Omar itu lelaki dengan gaya. Beda dengan saya yang memakai pakaian dan bisa tidur seenak jidatnya. Ia beda. Kalau di Jakarta, ia hanya mau tinggal di rumah saya atau di penginapan terbaik. Alasan pertama, ia seakan memang sudah jadi bagian dari keluarga saya, jadi sering menginap di rumah Ibu. Alasan kedua, katanya “Bung ini Jakarta. Di kota terbaik kau harus dapat yang terbaik” ketika ia memilih selalu ada di hotel bintang lima.

Sebenarnya, saya pikir mungkin ia pura-pura. Sebagai penasihat sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat internasional untuk masyarakat pedalaman, ia lebih sering ada di tengah remote area. Bisa jadi, ia bosan dengan menu hariannya yang penuh berisi agenda-agenda yang namanya terdengar menggairahkan di telinga saya seperti ‘penguatan akar rumput’, ‘keberlangsungan lingkungan’, hingga ‘kebijakan politik daerah dari bawah ke atas’. Sebab nama-mana itu berarti pula kesehariannya harus berkutat dari satu pedalaman ke pedalaman lainnya di sana.

Namun ia tidak pernah berpura-pura kalau untuk berpakaian perlente di Jakarta.

Maka malam itu, saya saya di depannya. Ia menginap di sebuah hotel mewah dekat Tugu Pancoran. Di bilangan Jakarta Selatan. Berpakaian rapi jali. Sementara menu makan malam kami adalah lapisan tipis ikan-ikan segar bernama sushi.

“Sudah kau menginap di sini saja, Bung”

Saya terdiam mendengar pertanyaannya.

“Sudah aku telponkan Ibu. Kata Ibu, bolehlah kau menginap bersamaku. Ibu tahu, sudah tiga hari di Cilincing kau itu. Lama pula itu buat kau, kan?” Katanya sambil tertawa lebar.

Saya mengerenyitkan dahi. Ibu yang dia maksud pasti Ibu saya. Dia pula memanggil Ibu saya dengan sebutan Ibu. Saya tersenyum.

“Aku sudah pesankan kamar untukmu, Bung. Santailah. Sudah berapa tahun kita tak ketemu. Kau harus cerita kuda-kuda putihmu itu. Jangan kau kira aku tak tahu kelakuanmu. Dulu waktu KKL di Sumatra, kau coba jirat itu pramugari yang sedang bagi-bagi sembako. Bah, kau masih kecil itu, Bung. Waktu itu pun aku sudah tahu. Libido kau itu besaaar…”

Saya tertawa. Ia bukan penunggang kuda. Kuda putih adalah rujukannya terhadap perempuan Eropa. Sambil cengengesan saya jawab, “Biar kecil, waktu itu saya kan udah bisa bikin anak kecil, Bang”

Tidak lama kemudian, teman-teman Bang Omar datang. Sudah saya duga. Ia ke Jakarta tidak hanya untuk menemui saya. Untuk lelaki bergaya semacamnya, multitasking bukan sebuah keharusan, melainkan kebutuhan.

Satu-persatu, saya diperkenalkan. Ketika menjabat seorang lelaki kurus berkemeja biru dengan kacamata bulat, saya terperangah. Ia berkata, “Arip?”

Sambil menjabat tangannya, saya bilang “Arip”

Bang Omar bengong, “Loh kalian bedua namanya sama?”

Si Kemeja Biru menoleh, “Bang Omar, saya teh Yamin. Ini Arip, temen saya dulu di Bandung”

Kaget saya, bertemu teman lama yang tidak di duga-duga. Yamin ini berteman jauh lebih dahulu sebelum saya kenal dengan Bang Omar. Kami dulu sekolah yang sama di Jatinangor. Pinggiran Bandung. Maka, malam itu kami lewatkan dengan tertawa-tawa mengenang nostalgia Bandung. Jaman di mana makan pagi pakai sebungkus mie rebus dan makan malam pula ditutup dengan mie rebus. Bagitu setiap hari. Hingga akhirnya setelah dua bulan berat badan turun sebanyak tujuh kilogram, kami khawatir lalu memutuskan untuk makan sayur.

Lebih kaget lagi ketika saya tahu bahwa Yamin ini sudah jadi anggota dewan yang terhormat. Edan pisan, umur masih muda sudah bersinar langkahnya di partai relijius yang menjadi mayoritas di hampir seluruh daerah Nusantara. Dari dulu, saya juga tahu kalau ia relijius. Berkali-kali ia mengajak saya bergabung bersama teman-temannya untuk diskusi sambil beribadah. Hingga akhirnya suatu hari ia capek dan berkata “Kamu teh sudah susah terselamatkan” yang saya jawab dengan tertawa keras sekali.

Malam itu Bang Omar dan teman-temannya sudah tidur. Saya dan Yamin berenang di kolam hotel yang sebenarnya sudah tutup namun demi ‘kenyamanan’ anggota dewan, terpaksa dibuka.

Kami ngobrol ngalor ngidul sambil berenang tanpa arah. Hingga akhirnya Yamin bertanya, “Rip, kamu kan anak Jakarta. Kamu pasti tau lah cewek Jakarta. Panggil dong. Gampang lah, demi nostalgia, saya yang traktir”

Saya kira ia becanda. Namun di bawah sinar bulan, raut mukanya terlihat serius.

Saya diam. Mungkin bisa dengan gampang mengelak dengan menjawab bahwa saya bukan penghuni sah Jakarta lagi. Tapi entah kenapa. Saya hanya terdiam. Lalu menggeleng.

“Yaa sudahlah, untung saya punya stok nomor telepon. Sudah kamu tenang saja. Saya yang telepon. Mau berapa, dua apa empat?”

Saya diam tidak bisa bicara apa-apa. Sebab ia tahu, di jari manis kami masing masing masih terlingkar seuntai benda bernama cincin kawin.