Monthly Archive for November, 2010

Apabila Memutuskan Untuk Tidak Beragama

Mbak Nendi itu kakak kelas saya waktu jaman sekolah di Depok dulu. Beliau kalau tidak salah, sekitar satu setengah tahun lebih tua daripada saya. Orangnya ramah. Kalau bicara halus dan lembut. Dengar-dengar, keturunan langsung bangsawan. Tapi kalau saya ajak bicara soal garis darah keturunan, ia selalu menolak. Lagi-lagi dengan halus. Ia lebih suka membicarakan pacarnya yang juga sahabat saya, Mas Danu.

Bertahun-tahun setelah ia wisuda saya tidak bertemu beliau. Beberapa kali bersua melalui tulisan di blog ketika ia bertegur sapa. Namun yah hanya sekedar ‘say hi’. Tidak pernah lebih.

Suatu hari, siapa sangka ia punya akun di facebook dan lalu menambahkan saya sebagai daftar pertemanannya.

Seperti biasa, saya sering jalan-jalan ke akun teman-teman saya dan juga daftar jaringan pertemanan yang mereka miliki. Sekedar hobi. Mau tahu siapa teman-teman saya saat ini dan siapa teman-teman mereka. Sebuah hobi yang kata teman akrab saya, ‘memuaskan rasa sakit jiwa akibat kecanduan untuk membuntuti’. Hahaha…

Suatu hari, entah kenapa di timeline saya muncul status Mbak Nendi yang sedang sedih. Ada apa gerangan kok beliau begitu sedih? Sungguh membuat saya terusik.

Saya lihat di lemparan-lemparan statusnya terdahulu. Saya tidak bisa menyimpulkan apa-apa. Jangankan menyimpulkan, menebak saja susah. Padahal metode penelitian secara deduksi itu amat bisa dipakai dalam melihat kondisi kejiwaan seseorang di timeline facebooknya.
(*ini sih sok tahu plus snobnya saya saja, menggabungkan antropologi, psikologi dengan matematika dalam aplikasi web2.0. Hehe. Maaf*)

Akibat teramat mau tahu (iya saya tahu ini hobi yang berbahaya). Saya mulai mencari foto-foto dimana Mbak Nendi di tag.

Kaget. Sebab sebuah foto yang baru saja di tag oleh temannya, Mbak Nendi terlihat sedang duduk di pinggir jalan. Di bawah tenda plastik warna biru yang didirikan sekenanya dan berlantai tikar di atas rumput trotoar. Ditemani anak-anak kecil, Mbak Nendi memegang sebuah kitab suci.

Di bawah foto itu terpampang sebuah tulisan, “Beginilah nasib minoritas”.

Saya makin kaget. Apa maksudnya ini? Dan untuk menjawab kekagetan-kekagetan ini saya lihat saja terus foto-foto Mbak Nendi.

Saya pikir, foto bicara jauh lebih banyak daripada kata. Walaupun ada yang bicara sebaliknya. Di foto-foto itu terlihat Mbak Nendi sedang mengikuti ibadah yang dilangsungkan di pinggir jalan.

Kenapa di pinggir jalan? Sebab terlihat di salah satu foto kalau rumah ibadah mereka terkunci gembok dan memiliki plang kayu peringatan bahwa Ijin Mendirikan Bangunan rumah ibadah itu dicabut oleh Pemda setempat.

Saya putuskan malam itu untuk chat dengan beliau.

- “Selamat malem, Mbak”
+ “Udah subuh di sini”
+ “Apa kabar? Anak udah bisa apa, Rip”
- “Lagi sibuk sih Mbak. Anak gua udah cerewet, hehe. Makasih”
- “Mbak, fotonya gawat banget deh. Kok bisa ditutup”
+ “Foto mana”
- “ini linknya” (*link URL address tidak saya publikasikan di sini. Foto rumah ibadah*)
+ “Iya tuh, sebel gua. Mentang-mentang minoritas, kita dikalahin terus”
- “Fungsi bangunan sampe ke fondasi bangunan kok bisa dicabut Mbak?”
+ “Gua juga bingung. Padahal warga lokal oke kok. Dua minggu lalu ada ormas gila, protes. Keliatannya walikota ga mao keilangan muka dikalangan orang seagamanya”
- “Lu pikir ada muatan politis, Mbak?”
+ “Lu pikir selama ini apa? Cuman sentimen keagamaan?”
- “Ada tukang baksonya ga kalo lo ke sana?”
+ “Kok di otak lo makanan melulu sih, Rip?”
- “Serius gua nih, ada tukang jajanannya ga?”
+ “Yaa banyak. Enak-enak kok. Warga lokal sini aja pada ikutan jajan kalo ada misa mingguan”

Di sini saya pikir ia tidak bohong kalau ada alasan lebih daripada sentimen keagamaan. Rumah ibadah yang ia, teman-teman dan keluarganya gunakan setiap minggunya ditutup. Alasan utamanya, tidak sesuai dengan estetika. Entah apa lagi alasan lainnya yang sungguh tidak masuk di akal, yang pasti rumah ibadah itu disegel. Mbak Nendi secara gerilya bersama rekan-rekannya datang ke tempat ibadah itu setiap minggu. Menggelar tikar mengepit kitab suci. Di trotoar mereka mengasah iman.

Saya jadi ingat suatu hari di Cilincing dulu sahabat saya Udin pernah bertanya “Bang, kalo Tuhan gua nggak esa, apa gua masih bisa lulus penataran P4 dan jadi pancasilais yaah?”

“Mana gua tahu Din”

“Apa gua boong ajah kali yaah ditanya soal kayak gitu mah?”

“Masa sih boong?”

“Daripada gua nggak lulus penataran P4 bang? Kan gawat, nanti nggak bisa ngambil ijasah”

“Serius luh?!”

“Yaelah Bang, walopun kita udah diwisuda kalo nggak lulus penataran P4 kan nggak boleh ngambil ijasah”

“Waduhh, kok tega bener yaah…”

“Maka itu Bang, apa gua boong aja kali yaah. Pokoknya kalo ditanya apa-apa, gua jawab aja Tuhan gua esa. Padahal mah sebenernya dalam hati gua nggak percaya. Yang penting mah gua bisa lulus P4. Trus bisa nyari kerja. Kalo udah kerja, nanti juga Tuhan dateng sendiri”

Hmhh. Saya garuk-garuk kepala. Mau bilang apa lagi coba? Ketuhanan Yang Maha Esa dan Penataran P4 serta implikasi rumit di kehidupan orang Indonesia yang menyertainya sudah memusingkan otak saya yang kelihatannya jauh lebih kecil daripada otak manusia normal ini.

Bertahun-tahun setelah obrolan dengan Udin, sahabat saya James dari Maine bertanya terkaget-kaget ketika suatu hari ia menemukan bahwa agama yang diakui pemerintah Indonesia hanya ada enam. “Yang lainnya kemana, Rif. Tidak pernah diakui?”

“Emhh, mungkin belum. Mungkin harus berjuang dulu”

“Kok untuk punya agama saja harus berjuang? Terus bagaimana kalau tidak beragama. Tidak usah berjuang dong”

Saya bengong tidak bisa menjawab apa-apa. Apalagi menyambungkannya dengan Pancasila, Penataran P4 dan rumah ibadah yang dengan semenanya ditutup paksa.


Penyetubuh Kambing

muhammad MG gatot mural artwork

Mural karya MG sebagai layanan masyarakat agar menggunakan internet secara bijak. Ilustrasi memakai adoptasi karya sampul buku pelajaran sekolah dasar di Republik Indonesia.

Mantan sutradara kontroversial Theo van Gogh pernah menyebut orang muslim sebagai penyetubuh kambing.

Saya sebut mantan, sebab ia telah terbunuh oleh serangan anak muda yang marah melihat karya-karyanya.

Begini cuplikan wawancara Theo dan asal mula kalimat penyetubuh kambingnya yang amat terkenal itu:

Wartawan: Dalam kolom website Anda, Anda bilang bahwa Muslim itu adalah penyetubuh kambing, imam Anda sebut sebagai penjahat dari selokan Allah, dan semacamnya. Apakah ini akan berkontribusi pada pemecahan masalah yang ada saat ini?
Theo: Mengapa saya tidak boleh bilang muslim itu adalah penyetubuh kambing? Pertama, pemimpin spiritual Khomeini sendiri pernah menulis bahwa jika wanita sedang haid, maka seorang lelaki itu dapat mengambil seekor kambing untuk memuaskan dirinya. Kedua, di jalanan banyak terlihat perempuan Belanda yang secara lisan dilecehkan sebagai pelacur oleh orang Maroko? Haruskah kita membiasakannya? Apa yang aneh ini disebut toleransi? Untungnya, sejak 11 September semua bisa kita katakan…”

Suatu pagi di Amsterdam ketika akan berangkat kerja dengan sepeda, Mohammed Bouyeri, seorang anak muda Belanda keturunan yang berafiliasi dengan salah satu organisasi yang diklaim menebar teror di Mesir, Takfir Wal Hijra, menerobos tubuhnya dengan delapan timah panas. Setelah ditembak, tubuh Theo ditusuk belati berkali-kali. Theo wafat di tempat.

Belanda kaget. Gempar luar biasa. Pertama karena rupa-rupanya publik baru sadar ada organisasi kejahatan internasional berbasis reliji dan kepercayaan di negeri mereka. Kedua adalah, ini negara super merdeka. Di mana semua orang bisa menyampaikan pendapatnya. Banyak yang bertanya, kalau tidak suka, kenapa Bouyeri harus membunuh? Kenapa ia tidak bikin film tandingan? Kalau ia pikir Theo bodoh dan idiot, kenapa tidak menulis membantah Theo van Gogh, bukankah internet adalah media?

Di sidang pengadilan, terungkap jelas bahwa si Bouyeri ini rupanya kecewa dengan istilah-istilah yang digunakan oleh Theo. Ia benci melihat muslim dibilang penyetubuh kambing. Ia muak melihat ayat-ayat suci kitabnya dijadikan latar belakang artistik pada tubuh perempuan bugil dalam film Theo. Si Bouyeri ini tidak ingin istilah-istilah Theo meluas dan menyebar ke kalangan publik yang lebih luas.

Lantas, apa Bouyeri sukses? Dengan membunuh Theo, maka semua istilah yang masuk dalam terminologi Theo musnah?

Salah! Jawabnya salah besar. Sebab bertahun-tahun setelahnya, istilah ‘penyetubuh kambing’ kembali digunakan oleh Geert Wilders, salah seorang politikus populis ekstrim kanan Belanda yang amat membenci orang muslim.

Istilah; tidak akan mati. Sekali terucap, ia akan mengudara selama ada manusia pengingatnya.

Lantas, apa itu sebenarnya ‘istilah’?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah adalah:

  1. kata atau gabungan kata yg dengan cermat meng-ungkapkan makna konsep, proses, keadaan, atau sifat yg khas dalam bidang tertentu;
  2. sebutan; nama: janda muda disebut dengan– “janda kembang”;
  3. kata atau ungkapan khusus;

Saya pikir istilah sudah ada sejak manusia ada. Dalam kitab suci, ada istilah penyebutan sesuatu yang terlarang dengan ‘buah’. Entah namanya apel atau khuldi, tidak terlalu jadi masalah. Maka jika seorang Adam pada suatu hari akhirnya amat manusiawi dan tergoda memetik buah. Artinya ia sedang melakukan sebuah tindakan terlarang.

Dalam sastra kontemporer, pengarang novel grafis pemenang Pulitzer, Maus, Art Spiegelman, mengistilahkan bahkan hingga mengilustrasikan NAZI jerman sebagai ‘kucing’ dan yahudi sebagai ‘tikus’ dalam karya jeniusnya Maus I: My father bleeds history dan Maus II: And here my troubles began.

Dalam hubungan antara psikologis dengan anatomi tubuh manusia, bagan organ genital wanita yang sering disebut labium minus pudendi acapkali diistilahkan dengan Nympha. Dalam bahasa jalanan, seorang wanita mandiri yang secara fruekentatif dapat memuaskan kebutuhan bagian genitalnya, diistilahkan dengan Nympho.

Pada intinya; istilah itu ada. Digunakan oleh manusia. Sadar atau tidak sadar, ia jadi bagian dari diri kita.

Mengapa manusia menggunakan istilah?

Jawabnya banyak. Namun diantaranya adalah untuk mengekspresikan diri mereka. Ada semacam rasa dalam diri manusia yang secara jelas ingin tersalurkan. Yaitu ekspresi diri. Penyalurannya banyak. Ada yang diam-diam. Ada yang terang-terangan. Ada yang cepat ada yang perlahan. Yang pasti, ekspresi diri harus dikeluarkan. Salah satunya, lewat istilah yang ia pakai.

Siapa yang memakai istilah dan apa sebabnya?

Atas nama istilah ini pula maka suatu hari, saya sungguh dikejutkan oleh tulisan tetangga saya Asrul yang membahas ketika seorang yang mengaku Profesor Nazaruddin Sjamsuddin, mengeluarkan twit jangan menyalahkan orang Arab. Sebab tkw yang dikirim kesana goblok-goblok, disuruh apa saja tidak mengerti.


Nazaruddin Sjamsudin bilang goblok pada TKI dan TKW

Lebih jelasnya, silahkan cek ke akun Nazar Syamsudin orang yang mengaku profesor tersebut. Untuk lebih jelas mengenai si orang yang mengaku profesor, silahkan cek di Wikipedia mengenai Profesor Nazaruddin Sjamsuddin.

Tidak lama kemudian, Nazar yang tidak pernah mengaku sebagai pria berpenis belang-belang merah jambu namun pernah jadi tersangka kasus korupsi KPU itu mengklarifikasi ucapannya.

1. sy jg tdk suka majikan menyiksa tkw. tp kt jg perlu introspeksi ttk kemmpuan para tkw itu. nah, bayngkan majikan yg sdh bayar mahal,
7:08 AM Nov 19th via web

2. tp dpt tkw yg ga becus. apa ga kesal bin marah mrk itu. cuma, tetap sj, shrusnya mrk tdk boleh menyiksa.
7:09 AM Nov 19th via web

3. sy prnh mndpt pembantu spt itu. hanya krn kesabaran sj, shg tdk terjadi apa2; stlh dipekerjakan 1 bln, lalu sy kmbalikan ke agen.
7:12 AM Nov 19th via web

4. jd, klo sy punya pendpt spt itu, bukan krn kebanyakan makan sate kambing.
7:14 AM Nov 19th via web

Yang menarik adalah, ketika banyak orang yang memintanya untuk meminta maaf, orang yang mengaku preman profesor politik ini berkata pada akun twitter @IndraPilianig “saya siap sj minta maaf, tapi apa kesalahan saya?”

Hampir sepuluh menit kemudian, begini klarifikasi beliau:
ooo istilah “goblok” itu. ok, itu masalah “selera” sj, krn sy prnah mngalaminya. maaf, klo itu dianggap tdk pantas.

Ini screenshotnya:
nazararuddin sjamsudin bilang goblok pada TKI/TKW itu hanya istilah selera dia

Menarik bukan? Ah wahai profesor politik. Terberkatilah engkau hingga namamu masuk dalam ranah internet dan kini disini jadi pembahasan khusus mengenai kalimat ‘istilah’.

Goblok itu istilah. Setidaknya menurut manusia yang mengaku jadi profesor politik di Indonesia bernama Nazaruddin Sjamsuddin ini. Dan berdasarkan ‘selera’ beliau pula istilah itu ia alamatkan dengan santainya pada TKI/TKW kita di Timur Tengah sana. Tidak peduli apakah istilah dan seleranya akan menyakiti manusia lain, ia mengumbarnya di hadapan publik. Kelihatannya ia tidak peduli, apapun yang masuk dalam ‘selera’ nya, maka itu berhak di umbar kepada publik.

Aneh, kalau mau memandang sesuatu secara subjektif pendapat diri sendiri, ketimbang bicara seleranya soal TKI/TKW, mengapa ia tidak memilih memberitahu publik mengenai selera seksualnya?

Saya tidak yakin apakah nafsu birahinya akan merongrong jika dipanggil dengan istilah ‘profesor penyetubuh kambing’.

Setidak-yakinnya saya bahwa istilah goblok yang pernah ia juruskan pada para TKI/TKW di Arab sana akan memecahkan semua solusi pekerja migran Indonesia di Timur Tengah.


Kebahagiaan Di Rumah Judi

Dulu saya pernah kerja buat orang Filipin (walaupun saya sering ragu mana yang benar, antara Filipina, Philipina atau Philippine, biar saja saya tulis Filipin. Atas dasar egoisitas pribadi saya. ;) .

Majikan saya dua orang. Satu namanya Fey, perempuan setengah baya. Satu lagi namanya Nunoy, lelaki lebih daripada setengah baya. Dua-duanya bukan suami istri. Fey itu suaminya orang Iran. Sementara Nunoy istrinya orang Jerman. Namun apapun namanya, dua manusia ini saya yakin akibat pekerjaan jauh lebih sering bertemu satu sama lain ketimbang bertemu pasangannya.

Nunoy itu ketua. Fey itu sekretarisnya. Saya? Hmhh, saya babu biasa.

Dulu saya pernah malu kalau ditanya orang. “Kamu kerja di tempatnya Nunoy? Wah asik tuh. Bagian apa?”

Saya tidak bisa bilang apa-apa. Saya bilang, “Yaa bantu-bantu biasa…”

Orang-orang pikir saya merendah dengan berkata begitu. Padahal sebenarnya saya memang malu berkata mereka apa adanya. Saya malu jadi babu. Entah kenapa saya malu. Mungkin akibat rasa percaya diri saya yang rendah. Dan saya malu utuk mengatakan sebenarnya kalau saya datang tiap pagi ke kantor Nunoy dan Fey untuk membersihkan lantai, WC, hapus debu di meja hingga telpon, menyapu lalu mengepel. Setiap pagi begitu. Lima hari perminggu. Jadi babu. Tapi kenapa harus malu?

Suatu hari di dapur ketika saya sedang mencuci piring kantor mereka, saya ditanya Ferdinand yang tetangga Nunoy. Saya tidak banyak menjawab. Beberapa pertanyannya melesat cepat. Saya sering diam. Saya pikir diam itu bukan emas, tapi semacam upaya perlindungan diri ketika ditanya begitu banyak pertanyaan yang mendesing bagaikan hujan peluru.

Fey kelihatannya melihat kejadian itu. Begitu Ferdinand pergi, Fey datang ke dapur.

+ “Kamu nggak enak badan hari ini?”
- “Enggak, saya baik-baik saja kok…”
+ “Muka kamu pucat setelah bicara dengan Ferdinand. Kamu di bully?”
- “Nggak Fey. Dia baik kok. Selalu sopan dan ramah”
+ “Kamu jangan takut, kalau ada apa-apa bilang saja sama saya atau Nunoy. Kami pasti bantu. Masak orang sebangsa kami walaupun tidak kenal, kami bantu, sementara kamu yang sudah seperti keluarga kami cuekin”

Saya terbelalak kaget. Seperti keluarga? Wah, mereka memang ramah sekali selama beberapa bulan terakhir sejak saya bekerja untuk mereka. Tapi saya tidak menyangka bahwa mereka sebegitunya terhadap saya.

Saya beruntung punya majikan seperti Nunoy dan Fey. Mereka orang baik. Mereka tahu bahwa dengan status pelajar, saya hanya mampu bekerja secara terbatas dalam 1 minggu. Namun mereka tetap membantu. Menambah jam kerja saya. Hingga saya masih bisa mengumpulkan sedikit uang kiriman untuk bantu-bantu hidup biaya keluarga di Jakarta sana.

Nunoy dan Fey tidak hanya membantu saya. Namun juga membantu ribuan pekerja migran Filipin yang ada di Eropa. Mungkin hanya nasib lah yang yang mempertemukan kami. Sehingga saya pun ikut-ikutan dibantu oleh Godfather dan Godmother warga Filipin di Eropa ini.

Nunoy dan Fey itu kuat luar biasa walaupun bukan mafia. Hidup mereka sederhana. Tidak punya anak buah. Tidak punya mobil mewah. Tidak punya tabungan banyak di bank. Bahkan rumah pun masih kontrak.

Tapi mereka hebat. Dicintai oleh hampir seluruh pekerja migran asal Filipin yang ada di Eropa. Mereka memulai sebuah bentuk organisasi akar rumput pekerja migran WNF (Warga Negara Filipin) dengan cara yang ajaib (setidaknya menurut saya).

Nunoy datang ke Berlin sebagai mahasiswa. Lalu jatuh hati dengan gadis lokal. Fey datang ke Utrecht sebagai istri ikut suami. Nunoy hobi main gitar. Fey hobi menari. Dan mereka sadar betul bahwa orang Filipin doyan pesta. Di Amsterdam mereka bertemu dari satu pesta ke pesta lain. Mengumpulkan begitu banyak orang Filipin yang juga berhobi sama.

Dari pesta ke pesta, mereka berkumpul, berserikat saling bantu membantu satu sama lain. Membentuk sebuah keluarga. Yang berasal dari nasib yang sama, hidup di tanah asing. Paguyuban para exile.

Paguyuban itu, meluas. Bukan hanya bisik membisik lagi cara kerjanya untuk menawarkan pekerjaan bagi mereka yang baru datang. Tidak lagi bermain bowling di hari minggu ba’da misa gereja, melepas lelah memburuh selama seminggu penuh. Melainkan sudah berani menyewa tempat sendiri untuk bersekretariat. Lalu membuka kelas untuk belajar bahasa lokal. Mendirikan radio gelap untuk pemirsa berbahasa Tagalog (lalu akhirnya disahkan pemerintah akibat banyak supporternya), punya team advokasi hingga dokter dengan praktik asuransi mandiri membantu pekerja yang tak terdokumentasi, bahkan hebatnya dengar-dengar kini sudah digandeng bank besar akibat uang yang terkirim ke negeri asal mereka sungguh mencengangkan banyaknya.

Ketika Nunoy berkata “Kita ini ada di negeri asing, ada baiknya saling membantu” pada suatu siang yang membuat saya terharu. Perjuangan lebih dari dua puluh tahun itu membuahkan hasil luar biasa. Suara pekerja migran Filipin terdengar hingga bahkan ke parlemen pemerintah lokal hingga konfrensi PBB di Jenewa sana. Suara ini benar-benar luar biasa, yaitu hingga kini, tidak ada seorang pun pekerja migran Filipin bahkan hingga serendah-rendahnya profesi mereka, di siksa di tanah asing.

Saya tidak ada ketika mereka memulai usaha ini. Saya ada ketika mereka sudah besar dan mandiri. Dan amat terkejut ketika suatu hari Fey berkata, “Kita punya website. Kami tahu kamu mengerti tentang itu”

- “Kamu mau saya merombak website itu?”
+ “Tidak, kami mau kamu mengajari kami bagaimana membuat dan menangani itu”
- “Tapi saya belum pernah mengajar sebelumnya. Astaga Fey, saya bahkan belum lulus”
+ “Tidak ada salahnya mencoba kan?”

Ia bilang begitu sambil tersenyum.

Tiga minggu kemudian kelas perdana saya dimulai. Dengan gugup campur gemetar saya menerangkan dasar-dasar teori arsitektural pembangunan website. Saya ingat betul waktu itu malam hari pukul tujuh. Kelas saya dihadiri oleh tiga orang murid. Semuanya pekerja migran. Tanpa punya dokumen legalitas. Satu orang ibu-ibu penjaga bayi. Dua lagi, lelaki pembersih kamar hotel. Semuanya terlihat letih. Baru pulang kerja seharian penuh. Namun tatap matanya… Tatap mata yang tidak pernah saya lupakan. Keinginan belajar terpancar luar biasa keluar dari mata-mata tersebut.

Kelas ini berlangsung hingga berapa bulan. Terakhir yang saya ingat, saya bahkan membagi hingga tiga kelas akibat pesertanya membludak terlalu banyak.

Suatu hari di bulan April, saya terpaksa harus berdiri di depan kelas berkata bahwa sudah saatnya saya kembali ke negeri sendiri. Ketika mereka bertanya kenapa, saya tidak tahu harus bilang apa. Saya terlalu sedih harus berpisah dengan mereka. Orang-orang yang lugu dan baik hati. Yang karena kekuatan nasib dan semangat untuk saling membantu, bertemu di titik yang sama di muka bumi.

Malamnya, Nunoy mentraktir kami semua pesta. Semua orang memeluk saya dan walaupun sedih mereka mendoakan saya agar bahagia di negeri tercinta. Di tengah riuh pikuk, Nunoy berkata, “Jangan pernah lupa, orang Filipina dan Indonesia itu sama. Kita sama-sama suka senang-senang. Kita sama-sama cinta keluarga. Kita sama-sama harus membantu. Kamu harus mengajar yaah kalau di Indonesia?”

Saya mengangguk dan lalu menjabat tangannya erat.

Orang-orang Filipin ini. Para pekerja migran. Mulai dari ibu-ibu tua setengah baya, hingga laki-laki transeksual belia. Ramah. Baik hati. Lugu. Luhur. Namun mengajarkan saya satu hal yang luar biasa. Bahwa berkumpul saling membantu, dapat meraih mewujudkan mimpi.

Pulang pesta, saya kembali ke kamar kost. Cerita semuanya kepada Robi, teman sekontrakan. Dengan menggebu-gebu bahwa seharusnya para pekerja migran asal Indonesia macam kami bisa meniru teman-teman Filipin. Atau minimal seperti para pekerja migran asal Indonesia di Hongkong yang bahkan sudah bisa membuat koran sendiri.

Robi hanya menatap saya heran mendengar cerita ini. Ia lalu mengeluh sambil mendesah bahwa berkumpul dan berserikat itu bukan budaya ‘orang kita’. Sebab ‘orang kita’ lebih suka adu argumen berdebat mencari perbedaan ketimbang melaksanakan solusi.

Saya kecewa mendengar ia bilang ‘orang kita’.

Dan mungkin ia benar. Sebab tidak lama kemudian kami adu argumen sedemikian kerasnya atas generalisasinya terhadap semua orang Indonesia.

Hingga akhirnya ia pergi menutup pintu, pergi. Cari kebahagiaan sesaat di rumah judi.


Pendidikan Informatika Kurikulum Baru

Ini blog laboratorium entah kenapa tidak diurus. Saya sudah lama tidak menulis di sini. Biasalah, alasan capek gara-gara baru saja pindah rumah saya pakai demi tidak menulis. Hehe.

Tapi sebenarnya bukan gara-gara sibuk pindah rumah saya jarang menulis di blog lab ini. Intinya sih lebih ke arah karena ada pekerjaan lain, jadi jarang ‘ngoprek’.

Di kamar saya, masih bertebaran kabel-kabel RJ45, baterei, kertas skema corat-coret, beberapa komputer dengan perut terburai, game-game jadul dan perlengkapan lainnya. Setiap masuk kamar, saya selalu berjanji pada diri sendiri akan mengurus DVI untuk monitor yang entah kenapa janji itu selalu diingkari akibat pulang kemalaman. Hehe.

Karena saat ini rumah lebih jauh dari pabrik tempat bekerja, saya lebih sering berangkat pagi dan pulang lebih malam daripada biasanya. Pulang pergi dari rumah menuju pabrik memakan waktu sekitar tiga jam.

Tiga jam itu berharga sekali buat saya. Bayangkan, kalau saya bekerja 21 hari perbulan, maka saya akan kehilangan 63 jam perbulannya hanya untuk transportasi. Gila, itu banyak!

Agar tidak kehilangan waktu sia-sia selama 63 jam perbulan, saya memakainya dengan membaca. Baca apa saja, yang penting baca. Baca novel romantis ndeso yang sama sekali tidak masuk di akal. Baca komik-komik bawah tanah yang diterbitkan oleh teman-teman saya dan komunitas mereka. Hingga baca koran gratisan yang melulu kebanyakan isinya iklan.

Tapi tadi pagi saya kaget. Di koran gratisan itu ada lowongan sekolah setingkat SMU. Bedanya, ini sekolah menengah umum hanya dikhususkan untuk bidang Informasi. Sialnya, iklan ini tidak sempat saya potret maupun saya robek untuk di scan.

Iklannya menarik sekali. Seorang anak kita-kira usia 10 tahun sedang memegang bola dengan pakaian kaus dan celana panjang jeans. Di atasnya ada tulisan besar yang kalau diterjemahkan artinya: “Sebentar lagi aku bikin aku”

Agak aneh, Apa maksudnya aku bikin aku?

Ternyata di bawah foto si anak, tertulis: Tomas (10 tahun), pemain fusbal berbakat. Cita-cita; membuat karakter diri pada game fusbal. Dan itu tidak akan lama lagi.

Di bawahnya, tertulis bahwa sekolah yang sedang beriklan itu kini sudah menyediakan penjurusan dalam kurikulumnya. Antara lain adalah:

Game Development

Ini bikin saya kagum. Sebab sudah dimasukkan character design 3D, leveling (yang nampaknya butuh logika logaritma per levelnya), Manajemen Produksi hingga penguasaan tool-tool rendering (game engine) dalam kurikulum mereka. Mantap lah. Namun yang lebih mantap lagi, ternyata sekolah sudah punya channel ke game-game industri. Jadi kalau mau magang atau cari kerja lebih mudah. Saluuut lah.

Informasi, Komunikasi dan Media

Ini juga keren. Begini kata mereka dalam iklannya:

Dalam masyarakat kini informasi memainkan peran yang sangat penting. Peran seseorang kadang diwakili oleh informasi. Siapa yang memiliki dan siapa yang tidak? Informasi hadir kadang lebih bernilai daripada emas: mahal dan langka.Tidak hanya pada tingkat pribadi, tetapi juga pada perusahaan dan iklan. telah ada pasar dalam mengumpulkan informasi yang penting dalam mencapai tujuan. Mereka harus memiliki target untuk lebih cepat dan lebih baik. Jika tidak, diambil pesaing.”

Yang bikin saya kaget, sudah dimasukkan marketing ‘non-konvensional’ seperti penggunaan ROI dalam adwords, pemanfaatan 140 karakter twitter (*namanya; marketing 140. Haha*), penggalangan massa dalam jejaring sosial (seperti FB atau semacamnya) dan macam-macam lainnya.

Di sini, saya terkagum-kagum. Pertama; karena web2.0 telah membawa angin segar baru dalam dunia industri. Hingga terciptanya lapangan kerja inovatif. Kedua; karena sudah ada sistematika pendidikan yang menanggapi inovasi ini. Sehingga standarisasi atau benchmark makin bisa diperbaiki dari hari ke hari. Ketiga; Saya iri dengan generasi mendatang. Haha. Kok yaa sudah ada SMU yang begitu. Coba dulu kalau jaman saya sudah ada sekolah begitu. Pasti saya nggak jadi bandit. (*ngeles mode ON*) Hehehe.

Mungkin daripada iri, ada baiknya saya menyediakan tempat hidup yang layak buat generasi selanjutnya.

Topeng Monyet Bencana

Saya sering sedih kalau melihat topeng monyet. Seekor monyet yang dirantai, dikenakan pakaian manusia, disuruh mengayuh sepeda mainan, diminta berjoget ketika gendang kecil tertabuh, disorak-soraki, lalu dinamai Sarimin.

Lebih sedih lagi ketika melihat lelaki yang kadang berusia setengah baya penjaganya. Mendorong gerobak kecil yang diatasnya ada monyet, sepeda mainan, gendang dan mainan atraksi. Kadang bukan gerobak. Kadang malah pikulan. Lelaki itu berusaha sekuat tenaga, setiap hari, menarik perhatian orang-orang. Berusaha sekuat tenaga agar ia tidak menjadi pusat perhatian. Sebab toh itu tugas monyetnya.

Dalam hujan dalam terik, dua makhluk hidup yang berbeda jenis itu hanya punya satu tujuan. Sederhana, cuma bertahan hidup. Itu saja.

Kita tahu, jadi tukang topeng monyet tidak akan memberikan penghasilan yang mampu membuatnya beli pesawat jet Boeing 747. Karir ini pula tidak akan menghantarkannya menjadi ketua Perserikatan Bangsa Bangsa. Atau suatu hari yang bahagia, dikelilingi gadis-gadis berbodi aduhai. Seharian memikul monyet atau memukul gendang paling dapat hanya cukup untuk makan.

Lalu bagaimana monyetnya? Yaah, nasibnya tidak jauh beda dengan pawangnya. Bagai sebelas ke dua belas. Leher dirantai seharian, hidup dalam penjara yang berjalan. Mungkin suatu hari ia lalu tua dan mati. Sebab kecil sekali kemungkinannya akan main film Tarzan di Hollywood sana.

Buat penyayang binatang, bisa jadi adegan topeng monyet itu menjijikkan. Apa yang lucu dari mencoba tertawa atas binatang yang dipaksa beraksi dalam rantai besi? Apa yang lucu dari mengajarkan anak sejak dini bahwa guna binatang adalah untuk memuaskan hawa nafsu manusia?

Buat orang yang mungkin tahu sedikit mengenai latar belakang kemiskinan yang terkondisikan, mungkin bisa jadi sedikit mahfum. Apa lagi yang bisa dilakukan dari seorang manusia urban dengan latar belakang sedikitnya wawasan ketika lapar menjirat perutnya? Mungkin pembelaannya; masih untung dia cuma ikat monyet, bukan jadi copet?
(*Ini argumen yang dapat diperdebatkan. Copet menyiksa kantung manusia. Sementara, secara literal aksi topeng menyiksa leher monyet.*)

Hidup itu kejam? Bisa jadi begitu. Beberapa orang mengusung pepatah ini sebagai motto hidupnya.
Hidup itu tidak adil? Mungkin juga bisa begitu. Bukan cuma satu dua manusia yang percaya semboyan ini.

Tapi apa sih yang lebih kejam dan lebih tidak adil daripada menyalahkan korban penyakit atau bencana alam sebagai “bagian dari pendosa”?

Oke, jelas akan lebih mudah memang mengatakan bahwa bencana alam yang bertubi-tubi di alam nusantara ini sebagai bagian dari ‘teguran Tuhan’. Lebih mudah mengkhayal gila berkata dalam hati, ‘ini artinya Tuhan masih sayang ama kita, jadi kita diminta untuk introspeksi’. Atau berkata pada publik, ‘ini saat yang tepat berderma’. Tentu saja lebih mudah berkata semua ini.

Karena jauh lebih mudah, banyak orang yang memilih ini.

Bicara bencana adalah bagian dari sebuah rencana besar kitab suci, jauh lebih mudah ketimbang menyediakan pendidikan pada publik mengenai bencana dan penanggulangannya.

Bicara bencana dikaitkan dengan dosa, tentu saja jauh lebih mudah ketimbang harus terus meriset dan mengembangkan sensor dini satelit terhadap tsunami, misalnya.

Bicara bencana dan (lebih ajaib) lalu mengaitkannya dengan kedatangan bintang porno ke nusantara, sumpah mati jauh-jauuuh lebih mudah ketimbang harus kordinasi dengan dokter, tentara, relawan, ahli IT, dan sebagainya dalam menyiapkan sebuah misi penyelamatan.

Bicara bencana dan mengaitkannya dengan takdir yang harus diterima umat manusia, secara sederhana memang jauh lebih mudah ketimbang harus memaksa penguasa agar tidak berhenti-hentinya memberi perhatian khusus terhadap aksi pencegahan dan penanggulangan pra atau pasca bencana terjadi. Sebab daripada bicara soal penguasa nan jahanam, bicara takdir itu kadang membuat kita lebih merasa suci.

Tahun 2006 di sebuah organisasi besar pembantu korban bencana yang berpusat di Jakarta, seorang anak muda berambut gondrong sebahu berkaus hitam bertanya kepada saya, “Bang, ada jembatan di Bantul keputus. Kita susah menyalurkan bantuan. Punya helikopter ga?”

Saya menatapnya dalam dan serius. Ia bicara soal gempa Jogja (yang sehari sebelumnya saya dengar menewaskan hampir seluruh keluarga sahabat saya). Saya jawab pelan, “Nggak. Kalo hercules sih ada”

“Hercules kegedean, Bang. Itu mah pesawat. Lagian mana ada lapangan terbang yang mampu nerima herkules di Bantul. Eh ngomong-ngomong abang beneran punya herkules?”

Saya menggeleng. Mana mungkin saya punya pesawat berjenis Lockheed C-130 bernama sandi Hercules super besar yang mampu mengangkut lebih dari seratus orang itu? Saya bilang saya hanya kenal pilotnya. Teman kecil sepengajian dulu. Mungkin siapa tahu bisa membantu.

Hampir menjelang akhir tahun 2010, teman saya Mas Dodi mengumumkan melalui status facebooknya bahwa beliau akan ke Mentawai untuk membantu korban bencana di sana. Sebab satu-satunya jalan yang paling logis menuju pulau-pulau Mentawai dengan cepat kalau tidak dengan hydrofoil (dulu ada feri cepat Padang-Mentawai berteknologi Hidrofoil, saya lupa namanya) yaa dengan helikopter. Beliau bertanya, apakah saya bisa membantu mencarikan helikopter. Ahh seperti deja vu rasanya.

Sekali lagi, sedih saya menggeleng. Sahabat-sahabat baik saya dari Cilincing yang dulu bertugas membantu menjaga dan memelihara helikopter (yang semestinya untuk bertempur tapi toh amat bisa dipakai dalam membantu distribusi bantuan bencana), kini entah ada di mana. Saya sukar meminta bantuan mereka. Dan tidak bisa membantu banyak terhadap rencana teman saya yang baik hati Mas Dodi untuk meneruskan langkahnya lebih jauh ke Mentawai sana.

Tidak lama kemudian, saya baca ReTweet Pak Harry bahwa sebaiknya kita tidak mengirim bantuan korban bencana melalui acara televisi. Sebab tidak ada auditnya. Ohh sedihnya. Bencana silih berganti, kok yaa sampai saat ini tidak ada kebijakan pemerintah untuk membuat satu kanal rekening bantuan. Saya mau menyalahkan siapa selain diri sendiri yang tidak becus menegur pemimpinnya?

Bencana menyisakan banyak kesedihan. Bukan hanya bagi korban, namun juga bagi mereka yang jauh di mana dan hanya mampu mengirim doa.

Dalam badai musibah yang terjadi akhir-akhir ini, saya tiba-tiba ingat dulu omongan seorang tukang topeng monyet yang suatu hari sedang beraksi dengan makhluk jajahannya mencari nafkah di pasar Cilincing.

Beliau bilang, “Mas, saya mah nggak doa biar saya jadi kaya. Saya cuma bedoa, supaya saya dikasih kuat tiap hari nyari nafkah buat anak istri saya ama si Sarimin” sambil mengusap peluh.

Kesedihan ada dimana-mana. Mulai dari panggung terbuka di leher seekor monyet hingga di semangat membara menuju Mentawai dari seorang relawan muda. Yaa kesedihan ada di mana-mana. Mungkin teramat sedihnya hingga bisa berdoa, “Andaipun memang harus melewati ini bencana, jadikan kami kuat menjalaninya”

(*Untuk para korban, keluarganya dan relawan bencana, doa kami menyertai kalian. Mungkin jika suatu hari kami merasa bahwa doa memang sudah tidak cukup lagi, kami akan berusaha membantu mencegah luasnya kerusakan akibat bencana*)