Monthly Archive for December, 2010

Hidup Apa Yang Sia-Sia?

Life is very short, and there’s no time
For fussing and fighting, my friend.

(WE CAN WORK IT OUT – The Beatles 1965)

Tadi malam, saya di sapa seorang sahabat “Mana tulisan terbarunya?”

Saya, seperti biasa. Hanya cengar-cengir menjawabnya. Jadi ingat kalau ketemu beberapa client yang sudah bertahun-tahun jadi langganan. Semuanya pasti bertanya, “Mana portfolio barunya?”. Pun jawabannya sama, cengar-cengir saja.

Tadi malam saya menonton film The American. Bintang utamanya George Cloney dan seorang aktris wanita Italia yang rambut kemaluannya terlihat lucu. Dalam film itu, George walaupun mengaku fotografer seniman, ia adalah seorang yang mengerti jalannya mekanis dan menyukai mesin (ceritanya, si George adalah ahli senjata pembunuh khusus untuk penembak jitu). Teman George, seorang pendeta akhirnya pada suatu hari bilang, “Tangan kamu, tangan mekanik. Bukan tangan seniman”

Secara eksplisit sang pendeta berkata bahwa orang-orang yang dianugrahi kelebihan mekanis, adalah berkah ketika dibutuhkan untuk memperbaiki mesin, organ atau apapun yang berjalan secara mekanikal. Sementara tangan seniman, adalah implementatif sekaligus eksekutor terhadap kepekaan seseorang terhadap apa yang ia rasakan.

Habis menonton film itu, saya lihat tangan saya sendiri. Membuka semua jari-jari membentangkannya di hadapan muka. Dalam hati bertanya, ini tangan mekanis apa tangan seniman? Lah, gimana kalo saya tidak punya tangan? Bagaimana cara mendefiniskan kepekaan atau keahlian?

Saya lantas juga bertanya dalam hati, gimana yah kalau orang yang tangannya suka jawil-jawil iseng pantat orang lain tanpa tahu diri. Itu masuk kategori tangan apa?

Lebih lanjut lagi, saya bahkan bertanya tentang tangan-tangan orang yang suka menadahkan tangan. Apa pernah ada riset mengenai tipikal tangan orang yang suka meminta atau bahkan ada riset mengenai tangan manusia yang suka memberi? Apakah garis-garis pada telapak mereka mempunyai kemiripan? Apakah jari, kotoran kuku, pergelangan dan sebagainya milik tangan mereka punya semacam benang merah? Sebuah persamaan?

Waduh saya kebanyakan mikir.

Lebih baik konsentrasi ke jawaban pertanyaan teman saya. Kenapa saya tidak begitu banyak menulis lagi sekarang.

Iya, kenapa yah? Saya juga bingung?

Wah, jawab apa dong?

Tidak mungkin saya jawab, “Gua cuman mau menulis yang bagus-bagus aja”. Apa itu maksudnya? Absurd. Tidak mungkin saya memberikan jawaban absurd. Sebab saya terlalu malas untuk ditanya lebih lanjut dengan pertanyaan yang lebih mengerikan.

Tangan punya. Mata punya. Minimal dikit-dikit, bisa lah baca tulis. Tapi kok tidak ada tulisan baru. Itu pertanyaan sahabat saya yang baik.

Alih-alih menjawab, saya malah curhat. Halah. Biasa lah, ini trik saya cari alasan. Hehe.

Saya bilang sama dia kalau hidup saya sejak enam bulan ini seperti sirkus. Berusaha sekuat dan selihai mungkin terlihat senyum dihadapan lampu sorot dan penonton. Menunggu tepuk tangan demi keping-keping logam untuk sekedar bertahan hidup.

Ia mengerutkan kening, “Sirkus?”

Saya meralat, “Errg… Mungkin gulat kali yang lebih cocok”

“Gulat? Gulat ama siapa?”

“Ama nasib”

Ia semakin mengerutkan kening, “Apa hubungannya dengan menulis?”

“Di akhir hari, udah terlalu capek untuk menulis”

Kerut alisnya hilang, “Ini alesan?”

Saya senyum, menjawab “Iya” dengan hambar.

“Iya maksudnya apa? Alesannya? Apa capeknya? Atau nggak ada tulisannya”

Saya mengangguk menjawab, “Semuanya”

“Tau cerita Saiweng Shima Yanzhi Feifu?”

Saya yang tadinya lemas dengan bahu tertekuk ke bawah menatapnya penuh selidik, “Nggak. Apaan tuh, Sampeng Tahu? Makanan?”

“Saiweng Shima Yanzhi Feifu itu ungkapan dari China kuna. Sebuah idiom yang berangkat dari legenda”

“Emang lu orang Cina? Coba ngomong bahasa Cina? Penampakan lu aja kali Cina tapi paspor kita kan sama, burung garuda. Lu aja lebih indonesia daripada gua. Lu tuh apal pancasila dan UUD45, men. Gua mah boro-boro apal begituan”

“Lu cerewet amat sih, Rip. Mao gua ceritain ga?”

Saya diam. Mengangguk kalem dan mulai menyeruput sambil membuka telinga.

Begini ceritanya:

Selama Dinasti Han pada abad ketiga sebelum Masehi hidup seorang tua di perbatasan China bernama Sai Weng. Pada suatu hari ia kehilangan kudanya. Tetangganya semua mengasihani kesialannya, dan bersimpati dengan orang tua itu. Tapi Sai Weng mengatakan: “Mungkin kehilangan kuda bukan sebuah kesialan seperti yang kita sangka”

Pada hari berikutnya kuda orang tua itu kembali, bersama dengan kuda betina indah di sampingnya. Semua tetangga berseru: “Wah beruntung sekali kamu Sai Weng!” Tetapi orang tua itu menjawab: “Mungkin ini bukan sebuah keberuntungan baik seperti yang kita sangka”

Orang tua itu punya seorang anak muda yang cakap. Anak ini menyukai kuda betina baru dan mengendarainya setiap hari. Suatu hari kuda betina ini dikejutkan oleh binatang liar dan melemparkan anak itu dari punggungnya. Hingga kakinya patah sangat parah dan lumpuh permanen.

Semua tetangga Sai Weng mengatakan: “Oh benar-benar tragedi! Anak kamu tidak akan pernah berjalan tanpa rasa sakit lagi”. Tetapi orang tua itu lagi-lagi berkata: “Mungkin ini bukan hal yang buruk”

Dan begitu seterusnya ketika tahun baru datang, tentara kaisar melewati daerah mereka dan merekrut semua pemuda yang terlihat sehat agar ikut dalam perang di perbatasan kota. Karena anak orang tua itu lumpuh ia tidak bisa ikut perang dan ditinggalkan di desa untuk bertani dengan ayahnya. Sai Weng berkata kepada tetangganya: “Anda lihat, semuanya ternyata baik-baik saja pada akhirnya. Menjadi terlempar dari kuda dan patah kakinya menyelamatkan anak saya dari pertempuran dalam perang dan hampir mati. Jadi apa yang kita sangka tidak begitu manis di awal, belum tentu akan berakhir dengan pahit”

Maka katanya, setiap kali hal yang buruk terjadi di China, seseorang akan mengatakan “Sai Weng Shi Ma” (Ingat “Orang tua dengan kudanya yang hilang”) untuk mengingatkan diri sendiri dan orang lain bahwa ternyata hal-hal buruk terkadang memiliki lapisan baik yang belum tentu terlihat pada saat itu juga.

Ia menatap saya yang bengong mendengar ceritanya, “Lu kok bengong aja, Rip? Lu ngerti ga? Di Indonesia, barangkali namanya ‘habis gelap terbitlah terang’. Mirip judul buku ibu kita Kartini”

Saya garuk-garuk kepala, “Maap men. Gua ini pragmatis. Gua bener-bener nggak ngerti lah idiom-idioman. Jangankan dongeng rakyat China, dongengan emak gua aja kadang gua nggak ngerti”

Dia diam saja. Senyum. Kami menikmati teh malam itu. Melihat butir salju yang turun dengan derasnya di halaman belakang menimpa.

Dari radio terdengar band asal Inggris The Beatles menyanyikan lagu mereka yang berjudul We can Work it Out.

Kata mereka, “Hidup terlalu singkat untuk disia-siakan”

Saya meliriknya sebentar. Ia senyum sambil menyeruput teh panasnya.


Jadi Siswa, Belajar. Jadi Guru? Juga Belajar Dong!

Strategi mengajar setiap orang beda-beda. Maksud saya di sini, mengajar adalah mentransferkan sebuah bentuk informasi kepada orang lain. Orang yang biasa mengajar dalam keseharian katanya disebut sebagai guru.

Ini cerita waktu saya masih jadi guru. Bukan guru kehidupan. Hanya guru sekolah biasa. Jadi guru untuk cari nafkah. Supaya bisa makan hari ini. Dan saya sama sekali bukan guru semacam Gandhi atau Dalai Lama. Guru para manusia.

Saya sadar saya bukan guru yang baik. Kadang malah menyebalkan, dengan memberikan tugas untuk dikerjakan di rumah terlalu banyak.

Saya sadar sekali akan hal itu. Mahasiswa saya banyak yang mengeluh soal tugas. “Pak, kok bapak kejam sekali sih? Tugas kita banyak banget?”.

Dan saya jawab dengan tertawa terbahak-bahak macam Rahwana yang baru berhasil menculik Sinta.

Saya beri mereka tugas satu setiap hari. Kalau benar-benar dikerjakan, satu tugas bisa memakan waktu satu hingga dua jam. Kalau setiap hari diberi dan mereka lalai, akhir minggu mereka pasti penuh dengan asap rokok dan bergadang untuk mengerjakan tugas. Sebab setiap senin semua tugas dikumpul. (*Semoga bukan gara-gara saya paru-paru mahasiswa itu penuh dengan nikotin*)

Suatu hari, tanpa diduga-duga, serombongan mahasiswa saya datang menghampiri ke ruangan kerja. Protes. Salah seorang diantaranya, pakai rambut jambul dan berdandan a’la rocker tahun 50′an nampaknya hadir sebagai ketua. (*sumpah, dia pakai jaket kulit berpaku, kacamata hitam dan sepatu lancip mengkilat. Plus sisir kecil di saku belakang. Saya memang membebaskan mahasiswa memakai pakaian yang mereka suka kalau hendak menemui atau datang di kelas saya*)

- “Ada apaan rame-rame dateng? Mau nraktir saya makan apa mau ngajak jalan-jalan?”
+ (*dia bingung*) “Err, nggak Pak… Err… Begini Pak…”
- “Kalian ke sini rame-rame. Nggak ada orang barang sebiji pun yang ngajak saya senang-senang? Pemuda macam apa kalian? Jangankan Soekarno, Soe Hok Gie aja yang militan waktu masih mudanya hobi senang-senang. Kok kalian nggak?”
+ (*Dia tambah bingung. Menarik napas*) “Bukan gitu Pak. Tugas kebanyakan Pak. Susah tidur. Tiap malam begadang ngerjain tugas dari bapak. Belum lagi tugas dari Bu Nani”

(*Bu Nani itu juga salah seorang dosen di departemen kami yang juga hobi memberikan tugas*)

Saya lihat, matanya cekung. Letih. Si rocker 50′s ini kelihatannya jujur. Saya sebenarnya tidak tega. Saya ingin dia seperti anak muda lain. Mungkin di setiap malam pergi ke pantai bersama teman-teman, minum-minum sambil bakar ikan. Atau membeli es krim di siang yang panas sambil menggosip bintang idola televisi.

Tapi itu tidak mungkin saya lakukan. Sebab riskan dan berbahaya. Sebelum saya datang ke tempat mengajar ini, saya sempat sedikit survey demografi. Umumnya anak-anak muda seusia mereka ini sudah harus melakukan sesuatu, jika lulus atau tidak. Orangtua sudah keluar uang banyak untuk sekolah mereka. Ada yang jual ternak. Ada yang jual sawah. Bahkan sampai ada yang sampai hutang ke bank. Anak-anak ini, harapan keluarga mereka. Ketika saya menjenguk keluarga salah seorang mahasiswa, si ayah yang jadi buruh bengkel pabrik es bangga sekali mengenalkan saya hingga ke kepala kampung mereka. Sebab anaknya adalah pemuda kampung mereka satu-satunya yang menginjak sekolah tinggi. Ahhh…, anak-anak muda ini pun harapan daerah mereka. Berat sekali bebannya. Kalau tidak dibantu saat ini untuk belajar tegar, bahaya.

Di sisi lain, saya juga sempat khawatir akan kedisiplinan yang saya tanamkan. Bisa jadi, mungkin tidak cocok dengan budaya mereka.

“Jadi maunya kamu apaan?” Tanya saya santai sambil menyeruput es teh manis.

Mereka cengar-cengir. “Butuh hiburan, Pak?”

“Kamu mau menghibur saya? Wah hebat”

“Bukan Pak, bukan kita. Bapak lah yang jadi penghiburnya”

“Kamu mau saya pakai bikini di kelas pas waktu saya ngajar? Boleh, kalau perlu saya pakai g-string kayak si Nina” (*Ada mahasiswi saya, bukan WNI, pakai g-string dikombinasikan jeans pinggul rendah. Alamak, kalau jongkok, tatto di bagian atas bokongnya itu terlihat cuma dihalangi oleh sebaris lintas benang*)

Mereka serempak teriak ‘Whuuuu…’. Saya cengar-cengir.

“Trus apa dong? Kamu mau saya pakai seragam badut di depan kelas?”

Mereka senyum-senyum. Satu orang di belakang bilang bahwa itu ide bagus. Kampret! Memangnya saya cowok apaan?

“Ya udah. Bubar.., bubar. Tokonya mau buka. Nanti saya pikirin. Saya susah mikir nih kalau kalian segerombolan ada di sini. E-eh… Itu kacang di toples pojok kok abis? Siapa ini diam-diam kau curi kacang. Wah kacau nih. Ayo bubar… Bubar graaak”

Mereka keluar dari ruangan sambil tertawa-tawa.

Saya melamun.

Seharian itu saya terus berfikir. Sampai tidak konsentrasi makan siang. Pulang kerja, saya biasanya ke pantai melihat matahari terbenam. Di sana saya akan berfikir, bagaimana agar mahasiswa saya betah di kelas. Bisa konsentrasi dalam transfer ilmu yang kami lakukan sehari-hari. Tidak bosan dan lalu putus sekolah. Saya sadar saya tidak pernah sekolah jadi guru. Apa yang harus saya lakukan agar jadi ‘guru beneran’, yang mampu menghibur siswa? Apa yang harus saya perbuat agar mereka betah di kelas dan konsentrasi belajar?

Di titik ini saya sempat menyalahkan diri sendiri. Saya tidak pernah sekolah khusus jadi guru, kok iya mau-maunya saja begitu ditawari kerja lalu jadi guru. Saya tidak pernah dapat pendidikan keguruan, kok iya dengan santainya menuruti nasihat Ibu mengikuti jejaknya sebagai guru. Di titik ini, saya pikir saya adalah cowok murahan. Tapi yaah semurah apapun saya mengukur harga diri saya saat ini, tetap saja tidak akan membereskan masalah yang sedang terjadi.

Apa yang harus saya lakukan untuk membantu siswa saya?

Saya bingung. Maka saya putuskan sore itu ke pantai yang tidak jauh dari lokasi sekolah mengajar. Saya duduk di sana. Sendirian.

Saya selalu suka senja, sebagaimana ketua Mao dalam dalam sakaratul maut membisikkan kalimat ‘senja semakin merah, siapa yang akan menjaganya?’. Sore itu saya berbisik lirih sendiri di atas butir pasir dan deru ombak. Ahh murid-murid saya sudah semakin dewasa, siapa yang akan menjaganya?

Matahari terbenam di atas laut senja yang membara. Saya tidak dapat hasil apa-apa kecuali entah kenapa, saya merasa bahagia.

Besok paginya, ketika saya baru saja memarkir motor butut yang setiap hari saya pakai untuk mengajar dan mengojek, itu anak-anak sudah bergerombol di Pos Satpam. Waduh, pagi-pagi belum sarapan yang jadi kewajiban saya, sudah dituntut kewajiban lain. Hahaha.

Tapi bukan bangaip namanya kalau tidak licik. Hehe. Tentu saja saya harus bisa mencari cara untuk menghibur mereka tanpa harus merendahkan diri apalagi lari dari sarapan pagi yang berupa lontong sayur plus kerupuk sambal yang dahsyatnya minta ampun itu.

Saya menemukan cara. Di depan satpam dan bocah-bocah itu, saya bilang bahwa saya tahu cara hiburan yang edukatif. Sesi hiburan tetap kami lakukan tapi tidak lupa belajar. Jadi pada intinya, belajar sambil bermain atau bermain sambil belajar. Silahkan pilih, yang penting senang.

Saya menyarankan pada mereka:

  1. Membuka klub film. Yaitu kampus memfasilitasi ruangan agar mahasiswa bisa menonton film bagus di ruang kampus yang ber AC secara reguler. Mahasiswa yang mencari film(*Haha, saya ikutan nonton*)
  2. Dosen sehari. Yaitu dimana para mahasiswa secara bergilir memiliki satu jam kuliah untuk memberi tahu teman-temannya sekelas mengenai kegemaran atau kehidupan yang ia miliki. (*Ini seru. Saya ikutan jadi mahasiswa. Menyimak kuliah yang mereka berikan*)
  3. The battle of Pasar. Mahasiswa membuat sesuatu yang menarik dari ide kreatif mereka lalu kemudian di pamerkan di pasar-pasar tradisional. Karya yang paling menarik dan paling banyak direspons oleh pedagang maupun pengunjung pasar, dapat hadiah. (*Biasanya hadiahnya buku atau cinderamata sederhana yang sering saya kumpulkan kalau sedang berlibur atau kunjungan luar. Tapi namanya itu anak-anak mahasiswa mah senangnya minta ampun. Dikasih coklat saja sudah bahagia. Haha*)
  4. Sebagaimana imbalan, tentu saja ada hukuman. Bagi yang tidak mengerjakan tugas diminta untuk memilih atau membuat sendiri hukumannya apabila tidak mengerjakan tugas. Kalau teman-teman sekelasnya keberatan atas rasa keadilan apabila ia memilih hukuman, maka teman-temannya lah yang akan mencarikan hukuman yang pas untuk di tidak mengerjakan tugas. Mereka belajar menentukan sistem demokrasi sendiri

Mulanya mereka saling berpandangan. Kebingungan. Lantas bertanya detail. Biasalah, tipikal mahasiswa memang begitu. Tapi sisanya yang kelihatannya sudah mengerti, langsung teriak “Horee!!”

Sebagaimana hidup yang dinamis, tentu saja semua program kami di atas mengalami tantangan dan dukungan. Ada yang bisa terlaksana, ada yang tidak. Ada yang kena kendala teknis jadi terhalang ada pula yang hanya spontan lalu bisa jalan.

Apapun yang terjadi, pada saat itu kami memang mengalami masa-masa yang menyenangkan bersama.

Hingga detik ini, saya tidak tahu apa itu definisi guru yang baik. Yang lebih parah lagi, saya bahkan masih belum tahu metode belajar mengajar yang tepat jitu. Saya bukan orang yang banyak tahu.

Yang saya tahu cuma satu; yaitu ketika saya bersama para siswa, kami saling belajar untuk sama-sama bahagia.


Revolusi Warung Tegal

Penyair Pier Plowman pada akhir abad 14 menerbitkan beberapa sajak dalam kumpulan puisinya yang lalu begitu terkenal sebagai folklore rakyat Inggris. Di sana, ia menulis “Robin Hood berdiri gagah di Hutan Sherwood. Menantang penguasa dengan panahnya”.

Sejak saat itu, bagaikan bola salju, Robin Hood tokoh dalam puisi yang oleh beberapa orang dianggap legenda terus melaju sebagai simbol perlawanan. Simbol resistansi terhadap kekuasaan yang semena-mena merampas hak rakyat kecil. Dengan cara yang tidak biasa, yaitu mencuri dari penguasa zalim kaya.

Robin Hood dalam cerita Plowman memang amat menggambarkan situasi kondisi Inggris akhir abad 14. Ketika para petani dipaksa bekerja keras dan diambil semua jerih payahnya oleh kekuasaan atas nama pajak. Sebab tahun 1381, gerakan petani-petani Inggris mengalami puncak geramnya. Tahun ini pula berkobar revolusi para petani yang dipimpin oleh bohemian berkultur agraris bernama Wat Tyler.

Inggris abad pertengahan memang mencengangkan. Masa itu, kekuasaan politik adalah anak dari persetubuhan antara penguasa dengan para pemuka agama. Jika para penguasa butuh lebih banyak uang untuk memperindah istana-istana, menyebar pesta malam demi malam demi gundik-gundik mereka atau hanya sekedar atas nama keserakahan, maka dinaikanlah pajak pada warga. Namun sebelum dinaikkan, ada rapat-rapat rahasia. Dimana para pemuka agama akan berusaha mendukung kebijakan menaikkan pajak. Lalu berkobar-kobar khotbah misa minggu pagi pada warga agar menunaikan tugas wajibnya sebagai warga negara, seperti bayar pajak misalnya. Timbal baliknya, penguasa akan meminjamkan tentara mereka terhadap semua musuh pemuka agama. Membantai para musuh tanpa banyak bertanya apa-apa. Tentu saja musuh agama dianggap sebagai musuh negara. Ahhh… Mencengangkan bukan?

Tapi tentu saja itu abad pertengahan. Bukan masa kini. Inggris masa kini sudah merupakan negara maju. Walaupun tentu saja bukan surga. Sebab mana ada surga yang dilanda resesi dan gerakan ekstrim kanan? Namun biar begitu di Inggris saat ini tidak banyak lagi pencurian uang rakyat atas nama pajak.

Lantas bagaimana dengan Indonesia?

Kita di sini tidak memiliki legenda Robin Hood. Revolusi yang ada pun adalah revolusi bersenjata perebutan kekuasaan, dari ‘luar negeri’ menjadi ‘anak negeri’. Bukan revolusi industri, revolusi seks, revolusi bunga apalagi revolusi petani. Sebab di sini, petani yang marah telah di stigma menjadi antek komunis. Jangankan petani, jika kaum miskin kota, buruh, nelayan atau semua orang yang terpinggirkan secara kelas dan ekonomi marah, pun dengan mudahnya di cap ‘bahaya laten’.

Kita di sini tidak memiliki legenda Robin Hood. Padahal di negeri ini, betapa banyak penguasa yang gemar sekali merampas hak rakyatnya. Terutama rakyatnya yang kecil. Sebab tentu saja penguasa tidak berani merampas warga yang kaya, kuat dan punya kuasa. Sebab warga model begitu, sudah menjelma jadi seperti para pemuka agama pada masa abad pertengahan di Inggris sana. Bersetubuh dengan penguasa demi melanggengkan nafsu sakit mereka terhadap kekuasaan. Mulai dari para saudagar cengkeh dengan Belanda di masa kerajaan Ternate. Hingga saudagar batubara 2010 yang akhirnya mampu membeli kekuasan di salah satu partai berkuasa.

Jika kita tidak memiliki Robin Hood, lantas kemana para pemuka agama di sini?

Ahh nggak usah ditanya… Walaupun tidak semua, di sini pemuka agama kebanyakan lebih suka onani jiwa. Memilih jihad pornografi sebagai objek yang laku di jual pada media ketimbang koar-koar buka suara membela jamaahnya yang dimiskinkan secara terstruktur.
(*Contoh: Ada pertanyaan serius dari Gugun adik saya yang sampai kini tidak bisa saya jawab. “Kenapa kotbah jumat di Cilincing ngomongnya soal neraka sorga dosa pahala mulu. Emang nggak bosen apa? Kenapa nggak kotbah cara-cara nyari kerja. Kalo nggak melihara ternak gituh. Selang-seling dong”*)

Tidak adanya Robin Hood apa berarti semua warga negeri ini, sejak namanya masih nusantara, memang hobi untuk ditindas?

Tidak adanya Robin Hood barang sebiji, apa artinya tidak seorangpun pemberani di negeri ini yang berani mencuri demi menentang semena-menanya penguasa?

Salah!

Di Jakarta kami punya punya legenda Pitung, Tuan. Cerita dari mulut ke mulut yang mungkin belum diketahui kebenarannya. Tentang seorang lelaki yang sering keluar masuk bui jadi buronan polisi. Karena mencuri dari yang kaya dan membaginya pada si miskin. Lalu akhirnya meninggal dan dikubur di Tanah Abang, Batavia tahun 1883.

Namun di Jakarta pula, kami punya lelaki bernama Foke, Tuan. Lelaki gagah berkumis yang menguasai Jakarta dari ujung ke ujung. Yang dahulu dengan beraninya berjanji akan mengentaskan semua air gila bernama banjir apabila ia terpilih nanti. Yang lalu ketika terpilih, bukan hanya banjir yang tak mampu dikuasainya. Melainkan pula akan memberi pajak tinggi pada warung-warung kecil penyedia makan bagi para kaum miskin kota Jakarta.

(*Kabinet Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo berencana akan menetapkan dan mengambil pajak pada warung-warung kecil penyedia makanan seperti Warung Tegal pada 1 Januari 2011*)

Mengapa masih tega membebani pajak pada para pengusaha modal setengah nafas yang secara harafiah benar-benar ‘memberi makan orang susah’?

Apa DKI Jakarta masih kekurangan uang, padahal konon perputaran uang lebih dari setengah kekayaan Indonesia ada di sana?

Apa para bangsawan DKI Jaya sana butuh istana untuk direnovasi? Butuh gundik untuk dipuasi? Butuh melampiaskan keinginan eksibisionis untuk memperlihatkan alat vital keserakahan manusia?

Atau…

Apa Jakarta butuh Robin Hood, lelaki sejati yang bersama sahabatnya menancapkan panah pada penguasa zalim gila? Atau apa Jakarta butuh Pitung yang sakti itu hidup kembali demi mengingatkan bahwa resistansi masih ada?

Apa kita butuh Revolusi Warung Tegal? Dimana para mbak-mbak yang sehari-hari menggodok air menjerang teh memotong bawang dan para tukang ojek langganan warung tegalnya mengangkat tangan teriak kalimat sakti, “Revolusi atau Mati!”

Entahlah…

Yang pasti, sebagaimana semua daerah di bumi pertiwi tercinta, kelihatannya Jakarta tidak butuh penguasa yang semena-mena.