Penyair Pier Plowman pada akhir abad 14 menerbitkan beberapa sajak dalam kumpulan puisinya yang lalu begitu terkenal sebagai folklore rakyat Inggris. Di sana, ia menulis “Robin Hood berdiri gagah di Hutan Sherwood. Menantang penguasa dengan panahnya”.
Sejak saat itu, bagaikan bola salju, Robin Hood tokoh dalam puisi yang oleh beberapa orang dianggap legenda terus melaju sebagai simbol perlawanan. Simbol resistansi terhadap kekuasaan yang semena-mena merampas hak rakyat kecil. Dengan cara yang tidak biasa, yaitu mencuri dari penguasa zalim kaya.
Robin Hood dalam cerita Plowman memang amat menggambarkan situasi kondisi Inggris akhir abad 14. Ketika para petani dipaksa bekerja keras dan diambil semua jerih payahnya oleh kekuasaan atas nama pajak. Sebab tahun 1381, gerakan petani-petani Inggris mengalami puncak geramnya. Tahun ini pula berkobar revolusi para petani yang dipimpin oleh bohemian berkultur agraris bernama Wat Tyler.
Inggris abad pertengahan memang mencengangkan. Masa itu, kekuasaan politik adalah anak dari persetubuhan antara penguasa dengan para pemuka agama. Jika para penguasa butuh lebih banyak uang untuk memperindah istana-istana, menyebar pesta malam demi malam demi gundik-gundik mereka atau hanya sekedar atas nama keserakahan, maka dinaikanlah pajak pada warga. Namun sebelum dinaikkan, ada rapat-rapat rahasia. Dimana para pemuka agama akan berusaha mendukung kebijakan menaikkan pajak. Lalu berkobar-kobar khotbah misa minggu pagi pada warga agar menunaikan tugas wajibnya sebagai warga negara, seperti bayar pajak misalnya. Timbal baliknya, penguasa akan meminjamkan tentara mereka terhadap semua musuh pemuka agama. Membantai para musuh tanpa banyak bertanya apa-apa. Tentu saja musuh agama dianggap sebagai musuh negara. Ahhh… Mencengangkan bukan?
Tapi tentu saja itu abad pertengahan. Bukan masa kini. Inggris masa kini sudah merupakan negara maju. Walaupun tentu saja bukan surga. Sebab mana ada surga yang dilanda resesi dan gerakan ekstrim kanan? Namun biar begitu di Inggris saat ini tidak banyak lagi pencurian uang rakyat atas nama pajak.
Lantas bagaimana dengan Indonesia?
Kita di sini tidak memiliki legenda Robin Hood. Revolusi yang ada pun adalah revolusi bersenjata perebutan kekuasaan, dari ‘luar negeri’ menjadi ‘anak negeri’. Bukan revolusi industri, revolusi seks, revolusi bunga apalagi revolusi petani. Sebab di sini, petani yang marah telah di stigma menjadi antek komunis. Jangankan petani, jika kaum miskin kota, buruh, nelayan atau semua orang yang terpinggirkan secara kelas dan ekonomi marah, pun dengan mudahnya di cap ‘bahaya laten’.
Kita di sini tidak memiliki legenda Robin Hood. Padahal di negeri ini, betapa banyak penguasa yang gemar sekali merampas hak rakyatnya. Terutama rakyatnya yang kecil. Sebab tentu saja penguasa tidak berani merampas warga yang kaya, kuat dan punya kuasa. Sebab warga model begitu, sudah menjelma jadi seperti para pemuka agama pada masa abad pertengahan di Inggris sana. Bersetubuh dengan penguasa demi melanggengkan nafsu sakit mereka terhadap kekuasaan. Mulai dari para saudagar cengkeh dengan Belanda di masa kerajaan Ternate. Hingga saudagar batubara 2010 yang akhirnya mampu membeli kekuasan di salah satu partai berkuasa.
Jika kita tidak memiliki Robin Hood, lantas kemana para pemuka agama di sini?
Ahh nggak usah ditanya… Walaupun tidak semua, di sini pemuka agama kebanyakan lebih suka onani jiwa. Memilih jihad pornografi sebagai objek yang laku di jual pada media ketimbang koar-koar buka suara membela jamaahnya yang dimiskinkan secara terstruktur.
(*Contoh: Ada pertanyaan serius dari Gugun adik saya yang sampai kini tidak bisa saya jawab. “Kenapa kotbah jumat di Cilincing ngomongnya soal neraka sorga dosa pahala mulu. Emang nggak bosen apa? Kenapa nggak kotbah cara-cara nyari kerja. Kalo nggak melihara ternak gituh. Selang-seling dong”*)
Tidak adanya Robin Hood apa berarti semua warga negeri ini, sejak namanya masih nusantara, memang hobi untuk ditindas?
Tidak adanya Robin Hood barang sebiji, apa artinya tidak seorangpun pemberani di negeri ini yang berani mencuri demi menentang semena-menanya penguasa?
Salah!
Di Jakarta kami punya punya legenda Pitung, Tuan. Cerita dari mulut ke mulut yang mungkin belum diketahui kebenarannya. Tentang seorang lelaki yang sering keluar masuk bui jadi buronan polisi. Karena mencuri dari yang kaya dan membaginya pada si miskin. Lalu akhirnya meninggal dan dikubur di Tanah Abang, Batavia tahun 1883.
Namun di Jakarta pula, kami punya lelaki bernama Foke, Tuan. Lelaki gagah berkumis yang menguasai Jakarta dari ujung ke ujung. Yang dahulu dengan beraninya berjanji akan mengentaskan semua air gila bernama banjir apabila ia terpilih nanti. Yang lalu ketika terpilih, bukan hanya banjir yang tak mampu dikuasainya. Melainkan pula akan memberi pajak tinggi pada warung-warung kecil penyedia makan bagi para kaum miskin kota Jakarta.
(*Kabinet Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo berencana akan menetapkan dan mengambil pajak pada warung-warung kecil penyedia makanan seperti Warung Tegal pada 1 Januari 2011*)
Mengapa masih tega membebani pajak pada para pengusaha modal setengah nafas yang secara harafiah benar-benar ‘memberi makan orang susah’?
Apa DKI Jakarta masih kekurangan uang, padahal konon perputaran uang lebih dari setengah kekayaan Indonesia ada di sana?
Apa para bangsawan DKI Jaya sana butuh istana untuk direnovasi? Butuh gundik untuk dipuasi? Butuh melampiaskan keinginan eksibisionis untuk memperlihatkan alat vital keserakahan manusia?
Atau…
Apa Jakarta butuh Robin Hood, lelaki sejati yang bersama sahabatnya menancapkan panah pada penguasa zalim gila? Atau apa Jakarta butuh Pitung yang sakti itu hidup kembali demi mengingatkan bahwa resistansi masih ada?
Apa kita butuh Revolusi Warung Tegal? Dimana para mbak-mbak yang sehari-hari menggodok air menjerang teh memotong bawang dan para tukang ojek langganan warung tegalnya mengangkat tangan teriak kalimat sakti, “Revolusi atau Mati!”
Entahlah…
Yang pasti, sebagaimana semua daerah di bumi pertiwi tercinta, kelihatannya Jakarta tidak butuh penguasa yang semena-mena.
0 Responses to “Revolusi Warung Tegal”