Monthly Archive for January, 2011

Ganteng Itu Menular

Setiap orang punya ‘style’. Gaya yang kelihatannya unik dan dimiliki oleh masing-masing. Bisa gaya makan, gaya berjalan, gaya tidur, gaya bicara atau gaya di WC. Wajar saja. Bukankah setiap manusia berbeda. Maka adalah sebuah hal yang jamak ketika gaya mereka pun berbeda.

Dulu adik saya perempuan satu-satunya si Uul, waktu masih bujang kalau beli baju maunya yang bermerk. Ibu saya kalau menemani belanja ke pasar sempat mengurut dada berbisik, “Dia mah suka lupa kalo emaknya orang susah”

Saya yang mendengar cengar-cengir menjawab, “Biar aja lah, Bu. Biar miskin kan nyang penting gaya”

Ibu biasanya malas berdiskusi lebih lanjut kalau saya sudah cekikikan begitu. Tapi lah beliau mau bilang apa mengenai gaya saya? Baju yang saya pakai biasanya baju si Ami adik saya yang tinggal di Jogja. Sementara celana, biasanya punya si Gugun, adik saya yang satunya lagi. Jadi gaya berpakaian saya jelas sudah, yaitu ‘gaya pinjaman’. Ini style berpakaian satu-satunya yang saya miliki. Saya tidak pernah beli baju apalagi celana baru. Semua baju atau celana yang menempel di tubuh saya biasanya pemberian Ibu ketika lebaran tiba. Sementara kan tidak mungkin saya kemana-mana pakai sarung dan baju koko saja.

Gaya berpakaian saya makin parah ketika sudah mulai masuk sekolah di Depok dulu. Saya datang ke Jakarta hanya dengan membawa kaus tiga buah dan celana satu. Sesampainya di Depok terpaksa harus beli lagi, satu kemeja putih lengan panjang dan celana panjang katun hitam. Dua benda terakhir disebut, terpakai hanya satu kali ketika masa penataran P4 tiba. Dan ketika masa menyebalkan itu berakhir, saya sadar bahwa saya hanya akan mencoba hidup dalam dunia yang memakai kaus dan celana jeans saja.

Tetapi sesadar-sadarnya saya, tetap tidak bisa memungkiri kalau celana saya hanya satu dengan kaus tiga. Jadi ‘gaya pinjaman’ tentu saja masih berlangsung. Untunglah sahabat-sahabat saya satu rumah kost orang baik. Saya sering dipinjami pakaian. Entah itu kaus, kemeja, celana panjang bahkan hingga sarung. Sebelum meminjamkan biasanya mereka bilang, “Sono mandi dulu biar bersihan dikit”

(*Hingga kini saya masih tidak tahu, apakah mereka meminjamkan pakaian karena ikhlas atau karena terganggu dengan bau badan saya yang berhari-hari tidak mandi dan tidak ganti baju? Hahaha*)

Suatu hari rumah kost kami kedatangan tamu. Kakak kelas. Wah hebat dia. Pujaan. Ganteng. Keren. Banyak cerita pengalaman-pengalamannya. Ramah pula. Pokoknya, idola deh.

Kami senang kalau kedatangan dia. Beliau ini suka mentraktir soalnya. Kalau ada beliau, kami jarang lapar. Padahal semenjak jadi anak kost, lapar seakan sudah menjadi nama tengah kami.

Kalau ada Bob si kakak kelas, kami suka lebih banyak mandi dan bersolek. Maklum, gadis-gadis dari rumah kost sebelah atau adik-adik kelas suka datang menyambanginya. Lumayanlah, siapa tahu kecepretan keren. Sebab pernah ada pepatah di rumah kost kami, ‘ganteng itu menular’.

Entah siapa yang punya teori. Sebab begini penjelasan pepatah itu; “Kalo lo ganteng trus keren pula dan cool, pasti banyak cewek yang mao sama lo. Sementara, ga mungkin dong lu ngeladenin semua cewek. Bisa jadi karena terlalu banyak, jadi lo akan terlalu sibuk. Bisa jadi karena ada beberapa cewek yang bukan selera lo. Bisa jadi hal lainnya. Yang pasti, ga semua cewek bisa lo gebet. Ini seleksi alam namanya. Yang paling cocok yang kepilih. Nah diantara yang nggak kepilih, pasti ada yang mundur perlahan. Atau ada yang patah hati. Atau ada yang bales dendam. Tapi, ada juga yang masih berharap bahwa suatu hari ia akan kepilih. Nah dia pasti akan tetep nongkrong ama si cowok keren. Sementara, gimana caranya dia nongkrong ama si cowok keren padahal dia udah ditolak? Nah cewek kan banyak triknya. Supaya nggak keliatan dia lagi ngarep, maka dia akan ngedeketin lo deh sebagai temen si cowok keren. Kalo suatu hari dia dilirik ama si cowok keren, yaa itu namanya pucuk dicinta ulam tiba. Tapi kalo nggak kelirik, kan lumayan dia ada maenan. Nah, maenannya itu yaa elo. Kalo lo kepilih jadi maenan, yaa bermainlah sepuas-puasnya”

Jadi pada intinya, sebenarnya ganteng itu tidak menular. Dan teori ini amat seksis. Namun karena situasi teramat menyedihkan dan butuh win-win solution. Maka diciptakanlah pepatah ini.

Ganteng itu menular. Begitu terus saya ucapkan dalam hati ketika mandi dan ganti baju pinjaman. Siapa tahu ada seorang gadis pemuja Bob yang melenceng matanya ke arah saya dan bisa melihat betapa sumringahnya senyum saya. Doa saya waktu itu cuma satu; Yaa Yang Maha Keren, ijinkanlah daku sejenak hari ini dilirik ama sepasang mata wanita.

Malam hari kedatangan Bob, jelas ada pesta. Ada minuman es sirup buah-buahan. Ada makanan roti bakar keju yang atasnya ditaburi susu kental manis. Ini luar biasa. Makanan sehari-hari kami di rumah kost ya kalau tidak mie instan campur nasi putih, maka nasi putih campur mie instan. Dessert-nya… Buku dan tugas sekolah hari esok. Maka kalau ada Bob, artinya ada surga walau sesaat.

Bukan hanya makanan mewah yang tidak kami jumpai sehari-hari kalau Bob hadir hari itu, tapi juga sesuai dengan bisik-bisik sebelumnya. Ada dua puluh lebih gadis-gadis muda ikutan datang berpesta. Cihuiii…

Dan sibuklah saya dan teman-teman sambil mengunyah makanan menebar pesona. Sehebat-hebatnya Bob melayani gadis-gadis, paling banyak lima yang bisa ia kuasai di malam itu. Sisanya? Ahh, sisanya tentu saja jatah kami. Hehehe.

Maka teori ganteng itu menular pun diimplementasikan pada pesta. Sukses? Hmhh entah apa ukuran sukses, yang pasti saya bahagia dapat dua nomor telepon. Yang akan menjadikan akhir minggu ini sebagai cowok kabel. Cowok yang nongkrong di telpon umum merayu gadis yang baru dikenalnya. Yayat dan Toni malah dapat tiga nomor telpon. Eh lebih gila lagi, si Heru, katanya sempat dicium pipinya oleh seorang gadis yang pamit pulang. Wah, ganteng itu benar-benar menular rupanya.

Saya dan teman-teman kost bahagia. Oke, walaupun ada beberapa orang yang tidak dapat nomor telepon gadis, namun yang pasti sudah kenyang makan makanan enak di malam itu.

Bob tiga hari di rumah kost kami untuk menginap. Berbagi wejangan, berbagi cerita dan berbagi makanan kaleng yang datang dari tasnya. Lalu setelah itu, sebagaimana ia datang, ia pergi lagi dengan tas buntalan besarnya. Entah kemana, kami tidak tahu. Dengar-dengar, memang begitu hidupnya. Seorang pengelana. Terus berjalan dan terus bepergian. Pantas saja gadis-gadis tergila-gila kepadanya. Ia seorang avonturier.

Minggu depannya, saya Yayat, Toni dan Heru duduk di kantin sekolah. Sudah hampir sore. Entah kenapa, masing-masing kami tidak begitu banyak bicara. Saya ajak mereka main bola, namun semua orang tetap tidak banyak bicara.

Saya pikir, pasti ada apa-apa. Tapi ada apa?

“Lo pada kok diem aja, kena sakit gagu yee?”

Setelah diam cukup lama tidak ada yang menjawab. Heru menatap saya seakan mau menangis, “Sebentar lagi semester baru, Rip. Gua stress, uang bayaran ilang”

“Hah! Yang bener luh? Emang lo simpen dimana? Udah dicari belom?”

“Udah gua cari kemana-mana. Ke kamar anak-anak semuanya juga udah?”

“Ke kamar anak-anak? Lah kok anak-anak nggak bilang ama gua? Jangan-jangan lo juga nyari ke kamar gua?”

“Di kamar lo nggak ada apa-apa, cuman triplek selembar yang lo jadiin ranjang. Apa yang mao gua cari? Yang pasti udah gua cari deh. Gue stress men. Duit dari mana nyari ganti tiga ratus ribu buat bayaran?”

“Waduh kok bisa begitu?”

Toni menyela, “Cukuran elektrik gua juga ilang, men. Hadiah dari om gua tuh yang di Amerika. Sebel banget gua”

Yayat mengangguk, “Kaos-kaos gua juga ilang. Gila itu kaos surfing. Orisinil. Gua nabung mati-matian buat beli kaos itu”

Saya pucat. “Wah lo pada kok nggak bilang-bilang ama gua men? Kalian pikir gua malingnya?”

Yayat dan Toni menatap saya, “Udah men, nggak usah ngerasa bersalah. Kita tahu elo bukan maling. Walaopun lo hobi minjem pakean orang laen, tapi lo ngomong dulu. Lu bukan maling. Lagian Heru bener. Lu kan nggak punya apa-apa. Harta lo satu-satunya paling cuman dua nomor telepon gadis di kertas kucel”

Saya bengong. Pertama berfikir, sudah semiskin itu kah saya? Tapi pikiran ini lantas saya tepis. Pikiran lain yang muncul adalah, siapa yang setega itu menyikat barang-barang sahabat-sahabat saya?

Kami duduk termangu di kantin sekolah selama hampir dua jam lebih. Hari semakin beranjak sore. Heru masih merenggut-renggut rambut di kepalanya. Seakan dengan begitu semua masalah akan hilang.

Dan ketika hari sudah beranjak sore, sesosok bayangan masuk ke dalam kantin. Duduk di samping kami sambil berkata, “Hoi apakabar?”

Saya senyum. Itu Bob datang. Saya senang melihatnya. Ia terlihat sehat. Pasti kami akan ditraktir seperti biasanya. Tapi… Ahh tapi saya lalu garuk-garuk kepala. Kebingungan.

Yayat melongo. Toni dan Heru pun ikut melongo.

Sebab Bob memakai kaus surfing seperti yang dimiliki oleh Yayat. Dan dari resleting tas atasnya yang setengah terbuka, menyembul sebuah alat cukur elektrik dengan stiker bertuliskan Toni.

Apapun yang akan terjadi, saya belajar satu hal baru petang itu; ternyata untuk beberapa gaya, seseorang pasti butuh biaya. Yang jadi pertanyaan, siapa yang akan membayarnya?

*Omong-omong, bagaimana ‘syle’ hidup Anda?*


Aku Butuh Cinta. Aku Tidak Bisa Hidup Sendiri Walau Hanya Semalam Saja

Apa yang lebih penting dari cinta?

Saya tidak tahu jawabnya. Saya pikir dengan modal cinta, seperti mencintai kehidupan misalnya, sebuah spesies mampu bertahan hidup dengan sebaik-baiknya.

Sahabat saya Yon memilih hidup sebagai penyendiri. Ia memilih untuk tidak menikah dan tidak punya relasi. Baik relasi hati maupun badani. Itu pilihan hidupnya. Sebab ketika ditanya mengapa, ia hanya menjawab, “Saya tidak ingin hidup yang kompleks”.

Buat Yon, jatuh cinta dan menjalaninya adalah sebuah hal yang tidak masuk di akal rumitnya. Ia pikir, daripada rumit lebih baik dijauhi.

Itu pilihan hidupnya. Buat saya sah-sah saja. Bukankah setiap orang punya pilihan hidup masing-masing.

Lain halnya dengan Diah. Sahabat saya satunya lagi. Ia kebalikan dari Yon. Ia selalu ingin punya relasi. Entah apa bentuknya dan apa dasarnya, yang penting relasi. Bisa jadi relasi panjang, bisa pula relasi semalam saja. Yang penting relasi. Katanya sambil malu-malu, “Aku butuh cinta. Aku tidak bisa hidup sendiri walau hanya semalam saja”.

Jika Yon dan Diah bertemu, keduanya sering terlibat dalam diskusi sengit. Saking sengitnya, kadang malah berakhir tidak begitu mengenakkan. Apalagi setelah Yon memanggilnya jalang dan Diah meneriakinya impoten. Jika ini sampai terjadi, bisa berminggu-minggu mereka tidak bertemu. Dan lalu, sialnya saya lah yang harus menjadi merpati pengabar berita satu sama lain yang ber-partner bisnis ini. Sekaligus pendamai keduanya.

Apa yang lebih penting daripada cinta?

Saya tidak tahu jawabnya. Tapi kata beberapa orang ada hal yang lebih adiluhung daripada cinta. Nama kalimatnya, setia.

Kata beberapa orang, tidak ada kalimat cinta tanpa setia. Kalimat itu adalah kalimat sakti yang membedakan profesi seseorang menjadi pelacur atau bukan. Setia.

Logika di atas jelas bisa dipertanyakan. Apa iya setia yang membedakan pelacur dengan profesi lainnya? Bukankah pelacur juga melacur karena ia mencintai kehidupannya? Apa ia rela melacur apabila tidak mempertahankan cinta yang ia miliki saat itu? Bisa jadi ia cinta pada keluarganya, dan lalu melacur untuk mereka? Bisa jadi ia mencintai apa yang ia lakukan, dan lalu melacur untuk memenuhinya? Apa yang salah?

Biasanya diskusi kami berhenti hingga di titik ini. Lawan diskusi saya kecewa. Saya dianggap memihak hubungan badan di luar nikah. Aneh, saya pikir siapa yang bicara selangkangan. Apa definisi pelacur itu selalu adalah seseorang yang harus selalu mengangkang demi kepuasan nafsu orang lain yang membayarnya? Memangnya selain pelacur di dunia ini tidak ada profesi manusia yang yang mengorbankan badan dan jiwanya demi kepuasan nafsu manusia lain yang rela membayarnya?

Jika seorang istri yang sedang sakit dengan amat terpaksa harus melayani suaminya demi keutuhan rumah tangga mereka dan agar dapur terus mengebul dan uang sekolah anak tetap ada, apa itu bukan melacur?

Bukan, kata teman diskusi saya. Sebab mereka sudah ada dalam institusi pernikahan.

Lalu jika seorang perempuan sehat yang dengan amat terpaksa harus melayani lelaki demi membayar tagihan rumah sakit orang tuanya yang tidak pernah punya asuransi, atau agar dapur terus mengebul dan uang sekolah anak tetap ada, apa itu bukan melacur?

Iya itu melacur, sebab tidak ada dalam hubungan pernikahan.

Oh jadi pelacur dan bukan itu hanya dibatasi kalimat pernikahan saja?

Di sini teman diskusi saya terlihat agak sengit. “Lu tau ga yang ngebedain kita ama binatang? Kita nikah! Binatang nggak!”

Saya senyum-senyum mendengar argumennya. Saya bilang ia tidak perlu marah. Sebab tidak akan menghilangkan apa yang akan saya tanyakan kepada dia.

“Lu mao nanya apa lagi? Pelacur yaa udah jelas. Pake ditanya-tanya segala…”

“Oke. Begini. Gua mao nanya kasus yang latarnya beda. Si Fulan itu hobinya mancing. Cita-citanya mau jadi nelayan. Tapi karena ia sekolah tinggi, ia dipaksa lingkungannya jadi apa yang dia nggak inginkan. Dia terpaksa kerja di bursa saham biar dianggap hebat dan kaya. Dipaksa bangun pagi dan pulang malem biar bebas ngelewatin macet setiap hari kerja. Dipaksa pake pakaian yang nggak pernah ada di bayangannya. Terpaksa makan di tempat yang dia nggak jelas juntrungannnya. Dipaksa setiap tahun berproduksi lebih dan terus lebih. Dipaksa lembur jadi nggak ada waktu lagi buat maen ama keluarga dan temen-temennya. Buat lu, si Fulan melacur ga?”

“Yaa nggak lah! Dia kan nggak ngangkang!”

“Tapi kan si Fulan nggak mau melakukan itu semua. Di terpaksa atau dipaksa, sama saja yang pasti buat dia paksaan ngejalanin semua itu. Dia ngejual jiwa ama badannya buat kepuasan orang laen”

“Kalo dia nggak ngangkang yaa dia bukan pelacur. Dia itu pelaku ekonomi”

“Kalau gitu, sistem ekonomi kita berazaskan pelacuran dong?”

“Mana bisa begitu! Lu tuh payah. Logika lu ngaco! Pelacur itu nggak setia! Tuhan itu lebih marah ama orang yang nggak setia daripada orang yang nggak cinta!”

Ahh, lagi-lagi setia jadi alasannya. Setia lebih penting daripada cinta. Kali ini pakai bawa nama tuhan pula. Seakan punya jalur khusus sebagai perwakilan di muka bumi.

Saya senyum lagi. Tapi biarlah, teman diskusi saya sudah pamit sebelum saya menerangkan lebih lanjut. Buat dia pelacur itu jelas. Namun dunia pelacuran dan landasannya itu abu-abu. Yang buat saya cukup ajaib. Sebab bagaimana bisa mendefinisikan sesuatu jika landasan awalnya tidak bisa dimengerti?

Tapi bisa jadi ia benar, yaitu mungkin bahwa logika saya yang ngawur. Hahaha…

Tapi tadi pagi saya tidak bisa tertawa. Tidak mengenai soal cinta dan setia. Ketika membaca sebuah berita, saya tertegun. Ini beritanya;

Dibakar api cemburu, seorang pria berumur 74 tahun di Italia menembak mati tiga orang sebelum kemudian mengakhiri hidupnya dengan menembak dirinya sendiri.

Pria bernama Carlo Trabona tersebut menembak mati dua tetangganya dan kemudian istrinya di Kota Genoa, Italia utara. Terakhir, pria itu menembak mati dirinya sendiri.

Alfredo Federici dari Kepolisian Genoa mengatakan seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (10/1/2011), kecemburuan dan perselingkuhan melatarbelakangi peristiwa maut tersebut.

Dikatakan Federici, dugaan perselingkuhan yang dilakukan istri Trabona tampaknya telah memicu aksi penembakan tersebut. Trabona menduga istrinya yang berumur 72 tahun berselingkuh dengan salah seorang tetangganya yang juga merupakan temannya sejak lama.

Dalam insiden berdarah itu, Trabona awalnya mendatangi sebuah bar dan menembak salah seorang tetangganya. Seorang tetangganya yang lain kabur dan dikejar oleh Trabona. Pria itu pun tewas ditembak Trabona. Setelah menembak kedua tetangganya, Trabona pulang ke rumahnya dan langsung menembak istrinya.

Aparat polisi pun mengepung kediaman Trabona. Saat pengepungan itu, Trabona bunuh diri dengan menembak dirinya sendiri.

Kedua tetangga Trabona yang merupakan kakak-adik tersebut tewas tak lama kemudian di rumah sakit. Begitu pula dengan Trabona yang tewas setelah dilarikan ke rumah sakit.

(sumber detiknews)

Ironis, sebab kelihatannya setia memang lebih penting daripada cinta. Atas nama setia, rela bunuh istri dan tetangga bahkan mengakhiri hidup sendiri.

Kali ini, atas nama setia, ada lagi yang harus mati.

Besok, atas nama yang sama; apa atau siapa lagi yang harus mati?


Pasti Ada Jalannya

Ibu merenung di dapur belakang. Tepatnya di anak tangga sebelah kakus yang juga berfungsi sebagai tempat cuci piring. Beliau menatap kosong ke arah kompor minyak tanah. Letaknya pas di depan tangga. Kelihatannya beliau habis menjemur pakaian di dak atas, yang hanya berukuran secuil cukup untuk merentangkan baju-baju kami agar kering di timpa panasnya matahari Cilincing.

Hari itu hari minggu. Saya seperti biasa, bangun siang. Lalu dengan santainya menuju dapur. Menuang air panas campur gula, diaduk dengan teh, lalu dengan santainya mengambil es dari lemari pendingin. Namun begitu melihat Ibu, saya menghentikan ritual pagi ini. “Ada apa, Bu. Pagi-pagi kok bengong?”

Ibu menatap saya tanpa mengerenyit. Ini lebih aneh. Biasanya Ibu yang memulai duluan bicara untuk mengomeli saya yang bangun kesiangan.

“Kaga… Kaga ada apa-apa. Tapi kayaknya lebaran taon ini beda dah”

Sambil menyendok satu-satu es batu dari sarangnya saya kembali bertanya, “Apanya nyang beda? Lebaran muhamadiyah ama en-u mah emang beda. Tiap taon juga gitu”

“Kaga. Bukan itu. Tadi pagi Ibu dari Pasar Jongkok. Masa harga-harga pada naek sadis banget. Masa sih cabe sekilo empat puluh empat ribu. Gimana kita mao bikin sayur lontong? Gimana kita mao bikin rendang?”

Saya bengong, “Hah cabe empat puluh rebu? Itu nyang dagang mao naek haji buru-buru apa? Geblek tuh tukang dagang. Seenak jidat ngasih harga. Siapa sih nyang dagang. Biar saya samperin?”

“Yaelah kamu kaya preman aja. Doyannya nyamperin orang! Bukan cuman di Pasar Jongkok, di Pasar Koja malah lebih gila lagi. Ada nyang jual sampe enam puluh ribu sekilo”

“Buset! Cabe enam puluh ribu sekilo? Kalo dibeliin kolor dapet berapa biji tuh?”

Uul, adik saya yang bungsu tiba-tiba masuk dapur, “Apaan luh ngomongin kolor. Make juga nggak pake sok-sokan ngomongin kolor”

Saya sewot, “Eh lu bukannya kuliah malah nyolot. Mao jadi apaan luh bangon kesiangan kagak sekolah. Emak lu noh udah susah-susah banting tulang nyari duit buat lo sekolah, malah seenak jidatnya bolos”

Uul sambil mengambil handuk melenggang santai menuju kamar mandi, “Eh bloon, ini hari minggu tau! Ada juga lu yang nggak tau diri. Udah tau bulan puasa, bukannya puasa malah bikin es teh manis pagi-pagi”

Saya cengar-cengir malu, “Eh iyee, ini bulan puasa yaah…”

Uul protes pada Ibu, “Bu, tuh liat anaknya. Malu-maluin banget. Saur ikut. Buka puasa ikut. Puasa mah kaga!”

Sambil masih cengar-cengir saya jawab, “Soriii… Lupaaa…”

Sambil menutup pintu kamar mandi Uul menyahut, “Dasar orang gila, lupa kok tiap pagi”

Herannya Ibu tidak menyahut. Mungkin membumbungnya harga cabai masih membuat beliau shock berat. Kasihan beliau. Guru SD, single parent, anak banyak. Belum lagi nanti kalau anak murid dan orangtuanya datang ke rumah pas lebaran. Ia pasti bingung menjamu mereka. Mau dikasih makan apa anak-anaknya dan tamu-tamu itu ketika lebaran tiba?

Saya sendiri tidak bisa berbuat apa-apa. Saya bukan bandar cabai. Kalau di semua pasar harga cabai melangit, itu pasti di luar kehendak para pedagang. Masih untung kalau para petani cabai jadi makmur gara-gara panen harga ini. Yang parah adalah, kalau melambungnya harga cabai kali ini ternyata hanya ulah segerombolan manusia rakus elitis.

Saya tidak tahu harus menyalahkan siapa. Apa ini salah tradisi kampung kami yang begitu harus tergantungnya pada cabai pada makanan hari raya? Atau salah kami para manusia yang doyan makan makanan pedas? Atau salah pemerintah yang tidak mampu mengontrol harga pasar? Atau salah alam yang mengatur persediaan cabai menipis? Atau salah makelar harga?

Uh. Apa jawabnya? Susah ahh. Daripada main salah-salahan, lebih baik beri solusi jitu. Tapi apa solusi yang jitu? Saya sendiri tidak tahu.

Sambil menatap es teh manis yang gelasnya mengembun dan membuat saya semakin memantapkan diri untuk batal puasa (namun tidak mungkin saya lakukan di depan Ibu atas alasan normatif), saya bilang pada beliau, “Tuhan kagak bakal ngasih manusia ujian kalo nyang dikasih kagak kuat, Bu. Tenang aja, pasti ada jalannya”

Entah apa yang ada di otak saya hingga berani-beraninya bawa-bawa nama tuhan di pagi ini meskipun hendak batal puasa. Saya hanya tidak ingin Ibu larut dalam kesedihannya memikirkan harga cabai. Hidup ini sudah berat. Dan harga cabai kali ini, nampaknya semakin memberatkan hidup kami para manusia Cilincing. Ibu saya cuma satu. Dan saya tidak ingin melihat beliau berduka. Tidak gara-gara saya. Tidak gara-gara siapa-siapa. Apalagi hanya karena gara-gara harga cabai sekilo yang menggila.

Seminggu kemudian lebaran tiba.

Seperti lebaran sesudah-sudahnya, para manusia Cilincing di rumah Ibu saya mempergunjingkan berapa hari saya bisa puasa. Bukan batalnya loh. Sebab kadang-kadang adik-adik saya sampai taruhan berapa hari yang kurang dari seminggu saya bisa puasa. Batalnya mah sudah tidak terhitung. Tapi lebaran kali ini memang beda. Kali ini mereka tidak bergunjing lagi, melainkan terang-terangan di muka saya tanpa tedeng aling-aling mengundi siapa yang menang sebab dapat menebak berapa hari saya bisa puasa. Kampret!

Karena sebal, saya pergi ke dapur. Melihat Ibu sedang mengaduk sayur labu untuk lauk lontong. Makanan tradisional lebaran kampung kami.

Saya senyum, “Wah hebat Bu. Bener kan ada jalannya. Tuh liat, sayur lontong Ibu sampe melimpah ruah begitu”

Ibu juga senyum, “Bener kata kamu…. Pasti ada jalannya”

Saya kaget. Tumben-tumbennya saya benar? Ini pasti ada yang aneh.  ”Harga cabe turun, Bu?!”

Tanpa menoleh Ibu terus mengaduk sayur lontong, “Kaga… Ibu dapet utangan daging, beras ama cabe empat kilo dari Bu Juju nyang orang pasar. Bayarnya boleh nyicil nanti abis gajian. Alhamdulillah”

Di atas meja makan dapur, daging rendang terlihat menggunung. Saya hanya menatapnya dengan lesu.


Harga Gagal

Boleh dibilang, hidup saya berangkat dari satu kegagalan ke kegagalan lainnya.

Kenapa?

Ini contohnya;

Saya selalu mau mencintai tanpa harus merasa takut kehilangan. Hasilnya, gagal. Apapun yang saya cintai, entah kenapa saya takut kehilangan. Belum pernah saya mencintai tanpa harus takut; bahwa suatu saat hal yang saya cintai sebagaimana bagian dari hidup lainnya, akan musnah.

Dulu, waktu sekolah, saya mencoba untuk belajar dalam institusi formal tanpa takut apapun. Hasilnya? Lagi-lagi gagal total. Begitu mulai belajar, saya takut nilai saya jelek. Saya takut beasiswa saya di cabut. Saya takut tidak lulus. Lebih parah daripada itu, saya takut dibilang goblok dan lantas dijadikan pecundang oleh masyarakat kalau saya tidak punya ijasah (*Padahal anehnya setiap melamar kerja yang ditanya bukannya ijasah, tapi portfolio*). Oh my my, benar-benar hidup dalam ketakutan.

Selesai sekolah, saya kerja. Sebelum mendaftar ke pekerjaan tertentu, saya yakinkan diri saya bahwa kalau sudah kerja maka hidup akan jadi cerah ceria riang gembira. Hilang semua ketakutan-ketakutan dalam hidup. Sayangnya harapan tinggal harapan. Ketakutan demi ketakutan yang saya harapkan sebelum bekerja akan sirna, benar-benar jadi sebuah kegagalan. Sebab setelah saya bekerja saya takut kalau di pecat, atau takut tidak dapat bonus atau takut tidak maksimal hasilnya. Oh, lagi-lagi gagal.

Dulu waktu tidak punya uang saya selalu bermimpi punya uang. Tapi entah kenapa saya, kok yaa diberi bakat cemburu. Setelah punya uang, cemburu pada yang punya uang lebih banyak. Lalu mati-matian cari uang lebih banyak. Setelah punya uang lebih banyak, cemburu pada orang-orang yang hidupnya bahagia padahal tidak punya terlalu banyak uang. Jadi sebenarnya mimpi saya itu apa?

Pada suatu titik, akhirnya saya menyadari bahwa saya gagal. Dan berkubang dari satu kegagalan ke kegagalan lainnya. Hidup saya penuh ketakutan. Dan tidak pernah beranjak pergi dari ketakutan-ketakutan itu.

Pada titik itu, ada sebuah hal yang bisa saya pertanyakan. Kok yaa saya rela-relanya hidup yang cuma singkat ini dipenuhi oleh rasa takut dan rasa gagal. Kadang-kadang malah menyalahkan orang atau pihak lain atas kegagalan saya. Edan! Kok yaa tidak dinikmati saja? Maksudnya, apapun yang terjadi, yaa nikmati saja. Hidup cuma sebentar kok tidak dinikmati. Mau jadi apa saya nanti?

Pada titik itu, entah apa yang ada dalam otak saya. Tiba-tiba berfikiran untuk memulai sesuatu yang baru. Benar-benar baru. Jika memang harus dimulai dari nol lagi, yaa tidak apa-apa. Yang penting baru.

Lah gimana kalau lantas gagal lagi?

Ya biarkan saja. Sebab apapun yang akan terjadi nanti, nikmati saja. Kata Iwan Fals, ‘Relakan yang terjadi biarkan terjadi. Tak perlu ditangisi, bukan milik kita lagi…’

Setelah proses transisi cukup berat dari hidup yang nyaman namun dipenuhi rasa bersalah. Lantas dimulailah petualangan baru. Kalau boleh bilang apa adanya, proses ini memang cukup berat. Berat badan saya turun hingga sampai 16 kilogram. Tabungan saya menyusut hingga batas yang cukup memerihkan mata. Belum lagi ditambah pikiran-pikiran, “Gimana nanti kalau…?” yang sama sekali tidak ada jawabnya. Proses yang buat saya cukup berat.

Tapi biarlah. Nikmati saja. Tidak ada seorang pun yang saya kenal yang bilang bahwa memulai lembar kehidupan baru adalah cara yang mudah. Sesukar apapun, nikmati saja.

Hidup tanpa rasa bersalah dan takut gagal itu tidak murah.


Markoni: Menulis Untuk Apa

Saya menulis untuk apa?

Entahlah. Saya sendiri tidak tahu. Sebab tidak ada keinginan sama sekali untuk mencari nafkah, cari nama (sebab saya begitu lahir mbrojol sudah diberi nama) apalagi cari jodoh.

Dalam kondisi galau beberapa bulan terakhir ini, Kang Adi seorang sahabat pernah berkata “Eh sukur luh masih bisa nulis. Waktu gua di posisi lo dulu, gua sama sekali nggak bisa mikir.”

“Saya sedih Kang. Dan saya rasa nggak bisa ngungkapin ini ama publik. Biasanya sih tulisan saya tentang apa yang sudah terjadi, bukan yang sedang terjadi”

Sambil mengepulkan asap rokoknya Kang Adi berkata, “Nulis ama publikasi kan beda, Rip. Kalo lo pikir nyaman buat nulis, yaa tulis aja pengalaman keseharian lu. Nggak usah dipublikasiin. Catet aja. Semacam dokumentasi. Gituh”

Ya sudah. Sejak saat itu, saya tulis pengalaman keseharian saya. Tidak begitu penting. Hanya semacam catatan-catatan kecil mengenai pola hidup keseharian. Seperti jam makan, jam tidur, makan apa dan apa yang saya rasakan.

Bulan demi bulan berlalu. Catatan-catatan itu makin lama makin menggunung. Dan pada suatu hari setelah tahun baru, saya baca kembali. Dan membaca semua itu, cukup membingungkan rupanya. Seakan saya terlempar kembali ke masa-masa di mana ketika tubuh sudah tidak mampu lagi berkordinasi dengan baik dengan otak. Saya seakan tenggelam pada masa-masa di mana tiada malam saya lewati tanpa airmata yang turun begitu saja tanpa sengaja. Lembar demi lembar berlalu. Dan saya menemukan masa-masa di mana semua itu terlewati dengan begitu saja. Masa dimana saya akhirnya mampu tidur lagi. Masa di mana saya tidak kaget sebab tiba-tiba baju saya basah akibat airmata yang tumpah, padahal sedang berjalan di stasiun kereta untuk menunggu. Membingungkan.

Namun cukup berarti sekali.

Ada masa di mana saya rasa, masalah saya adalah masalah paling berat di muka bumi ini dibandingkan dengan masalah-masalah orang lain. Hmhh, egoisme pribadi tingkat tinggi. Selalu merasa lebih dan selalu lebih. Padahal mah, siapa sih saya?

Tadi pagi, saya baru dapat kabar terbaru. Sahabat saya Markoni dijauhi oleh keluarganya. Ibunya menangis setiap hari. Ayahnya tidak mau lagi bicara kepadanya. Bahkan namanya sudah dicoret dari daftar warisan mahligai bisnis keluarga mereka yang membahana. Katanya itu gara-gara Markoni pindah agama.

Saya kaget. Buset dah. Kok bisa-bisanya Markoni diperlakukan begitu oleh keluarganya.

Sepengetahuan saya, mereka ini keluarga yang sangat baik, harmonis dan amat menjunjung demokrasi. Kok bisa-bisanya berlaku seperti ini. Markoni ditendang keluar rumah hanya dengan pakaian yang menempel di tubuhnya.

Itu baru pindah agama. Coba bayangkan kalau Markoni pindah kelamin? Atau pindah planet? Gimana kalau tiba-tiba Markoni memutuskan untuk berubah menjadi Alien dan hidup di piring terbang? Apa yang keluarganya perbuat pada dia nanti?

Markoni ooh Markoni… Kalau dibandingkan kamu, masalah saya kok terlihat sama sekali tidak berarti.

Beberapa waktu lalu ketika saya sedang dirundung beratnya badai, sahabat saya Mbak Lia tiba-tiba tanpa hujan tanpa angin berkata begini, “Kamu semestinya bersukur. Nggak semua orang dapet pelajaran kayak gini”

Saya kaget. Wah ini benar juga rupanya. Di balik semua masalah-masalah ini, saya memang belajar banyak hal. Belajar untuk tetap kuat berdiri di atas kaki sendiri. Belajar negoisasi dengan nasib. Belajar hal-hal yang seumur hidup belum pernah saya bayangkan sebelumnya. Saya belajar sesuatu yang penting. Bahwa tidak ada masalah timbul tanpa pemicu. Dan tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh waktu.

Saya belajar manajemen masalah. Wow!

Untuk orang yang seumur hidupnya hanya cengar-cengir dan malas berurusan dengan masalah seperti saya, ini sebuah pelajaran penting. Mungkin tidak buat Anda apalagi buat semua orang. Tapi buat saya, ini sebuah ‘Wow!’

Mbak Lia benar; ada banyak hal yang bisa dipetik dari badai hidup.

Di saat masa-masa genting menghadapi masalah yang kadang datang tanpa belas kasihan, sahabat itu berguna sekali untuk tetap menyadarkan bahwa apapun yang terjadi, tetaplah tegar kata mereka.

Di saat-saat rawan, saya bersyukur ada jalan yang memperlihatkan saya sahabat-sahabat baik yang terus membantu, mendukung dan percaya bahwa pada akhirnya nanti, semuanya akan baik-baik saja.

Maka itu malam ini, saya pikir sudah seharusnya saya berkata pada Markoni, “Apapun yang terjadi, kamu tetap sahabat saya. Biar dunia boleh bilang apa, kamu tetap sahabat saya”

*Saya pikir, ternyata saya menulis untuk diri saya sendiri*


Kabar Berita

Tadi pagi saya buka perangkat lunak pembaca berita. Perangkat lunak ini namanya RSS Reader. Isinya, berita-berita terkini. Ada berita yang dipublikasikan oleh jaringan berita internasional. Ada pula berita dari teman-teman maupun tetangga saya. Semuanya serba baru. Tapi entah kenapa, tadi pagi saya tidak begitu banyak dapat berita baru selain dari jaringan berita profesional yang memang kerjanya membuat berita.

Kemana berita teman-teman saya?

Saya bertanya-tanya cukup panjang. Mengapa akhir-akhir ini susah dapat berita dari teman-teman saya. Padahal setiap hari, secara diam-diam, saya membaca dengan tuntas apa yang mereka tulis. Mencoba merasakan apa yang mereka alami. Berusaha untuk tetap empati. Walaupun tetap dalam diam, saya coba untuk hidup sejenak dalam benak mereka.

Kemana teman-teman saya? Kemana berita mereka? Ada apa dengan mereka? Pergantian tahunkah yang membuat membuat mereka sejenak hening tenggelam dalam ambisi-ambisi baru?

Tidak habis-habisnya saya berfikir. Silih berganti mengapa dan mengapa terus berkumandang di benak saya.

Eh tapi, kok yaa saya yang mempertanyakan mereka? Bagaimana kalau situasinya dibalik? Bagaimana kalau ternyata mereka juga mempertanyakan kabar saya. Secara diam-diam memantau kabar saya. Dan secara diam-diam juga gelisah tidak dapat mengetahui kabar terbaru?

Uggh, mungkin saya gede rasa. Tapi saya pikir, terlalu mengada-ada jika ada orang yang peduli dengan kabar terbaru saya. Memangnya saya ini siapa? Eh tapi, kalau saya mengada-ada, toh bukannya saya yang juga merindukan kabar terbaru teman-teman maupun tetangga saya?

Jika saya memang berharap sesuatu dari teman-teman maupun orang yang saya kenal, bukankah bisa jadi mereka juga mempunyai pengharapan yang sama?

Jika saya benci mereka, bisa jadi mereka juga benci saya. Jika saya rindu mereka, bisa jadi mereka juga rindu saya. Bukankah itu yang namanya lingkaran hidup. Tak berawal tak berakhir. Namun selalu berputar.

Uhmm, ok… Ok… Kalau selalu berputar begitu yaa sebaiknya saya memulai. Untuk memulai hidup bukankah harus ada yang memulainya.

Kabar saya, yaah sebagaimana kabar hari-hari lainnya. Biasa-biasa saja.

Tadi malam saya ke IKEA beli lampu. Kata berita, ada lampu hemat energi yang sedang diobral. Murah, tiga lampu hanya sekitar tiga puluh ribu rupiah sahaja. Ini kabar bagus, hemat energi dengan harga yang terjangkau. Lalu pergilah saya ke sana naik metro. Beli lampu satu lusin. Rencananya untuk dipakai pada rumah kontrakan baru yang saat ini masih menggantung situasinya. Maksudnya menggantung, tidak tahu apakah bisa dapat atau tidak. Moga-moga sih dapat. Sebab tidak tahu lagi mau tinggal di mana. Namun dapat atau tidak kontrakan baru, toh saya sudah punya lampu.

Pulang beli lampu sudah malam. Seduh teh sambil melihat televisi. Bukan menonton. Melainkan melihat. Itu televisi tidak menyala. Saya biarkan mati dan menatap refleksi badan saya di tabungnya yang berwarna kelabu gelap. Narsis? Entahlah. Saya sendiri hanya melihat semacam silhoutte kelabu di sana. Tidak ada keinginan untuk mengagumi maupun mengasihani diri sendiri. Hanya sekedar melihat refleksi. Itu saya ada di sana. Di tabung itu. Kecil. Kelabu. Terdistorsi. Itu refleksi saya. Apa adanya.

Belum jam sepuluh saya sudah berangkat tidur. Sebab harus berangkat ke pabrik pagi-pagi untuk memburuh. Terima nasib. Yaa memang begini nasib buruh kecil. Berangkat pagi pulang malam. Kalau belanja, pun menunggu obral. Kalau masak atau makan, yaa di irit-irit. Hidup sederhana bukan gara-gara gaya, melainkan memang sudah tuntutan. Maka itu saya selalu kagum pada mereka yang mampu hidup luar biasa namun memilih untuk sederhana. Jadi kaya itu susah. Tapi lebih susah lagi untuk tetap sederhana ketika sudah kaya. Maka ketika ada yang memilih bisa sederhana di masa jaya, buat saya ia luar biasa. Sebelum tidur selamanya nanti, saya selalu berharap bisa bertemu manusia semacam itu.

Pagi-pagi bangun. Memenuhi panggilan alam menuju kamar kecil. Baca-baca sejenak. Lalu lagi-lagi seduh teh. Duduk sebentar melihat prakiraan cuaca di langit. Penting. Sebab harus memutuskan apakah pergi bersepeda atau tidak. Kalau kata prakiraan cuaca akan hujan, yaa lebih baik jalan kaki ke halte bus terdekat. Dari sana, menuju stasiun kereta yang walaupun gerbongnya penuh manusia namun tujuannya langsung menuju pabrik tempat bekerja.

Masuk kerja di pabrik pun semuanya berjalan biasa-biasa saja. Tidak lamban tidak pula terburu. Hanya hari ini sedikit berbeda. Pak Ali mandor saya pamitan. Katanya mau pulang kampung. Penggantinya Bek Hasim. Sama-sama orang sekampung Pak Ali. Kalau kata orang Cirebon, sedulur. Sedih campur kagum. Hampir tiga tahun saya ikut Pak Ali, akrab. Wah hebat orang kampung mereka. Semuanya jadi mandor bos. Moga-moga ada orang sekampung saya nanti juga bisa jadi mandor. Kan bangga juga saya kalau ada orang sekampung yang jadi mandor. Walaupun saya sendiri tidak jadi mandor, tapi yaah kok bisa bahagia kalau ada orang sekampung yang bisa dapat kerja yang bagus? Syukur-syukur kalau bisa membantu teman-teman sekampungnya kan lebih bagus lagi. Eh tapi, jangan-jangan itu kan nepotisme. Memasukkan sedulur dalam lingkar profesional. Aduh kalau tidak kompeten, jangan lah. Salah-salah, malah bikin dosa. Seperti PSSI. Ealah loh kok saya jadi melantur ke dosa? Kan saya tidak sedang menulis kitab suci, kok omong-omong dosa. Halah. Maap pemirsa. Saya sok tahu. Hehe.

Menjelang siang, di pabrik saya dapat kehormatan. Eh benar, ini saya dapatkan. Tidak saya renggut dengan paksa. Masa sih tega-teganya merenggut kehormatah pabrik? Memangnya saya cowok apaan? (*Hihihi, padahal mah saya cowok murahan*). Saya dapat kehormatan untuk mengambil foto-foto pabrik. Mulai dari barang-barang kecil hingga sekujur badan bangunan. Kenapa saya pikir saya dapat kehormatan? Sebab itu orang-orang kok yaah menurut saja saya paksa ganti baju pakai seragam pabrik. Ada bahkan yang saya minta untuk menyisir dahulu dan patuh menjalankannya. Salah seorang ibu-ibu bahkan berbisik kalau ia pergi ke salon di pagi hari upaya atas nama demi masuk bingkai jendela bidik.

Selesai memotret, balik lagi ke meja produksi. Tekan tombol ini tekan tombol itu, namanya buruh yaa kalau disuruh tekan yaa saya tekan. Enak juga sih. Sesial-sialnya paling juga salah tekan. Selama masih tombol mesin yaa tidak masalah. Walau macet salah pencet, masih bisa diperbaiki. Asal jangan menekan teman. Wah kalau itu ceritanya, gawat deh urusannya.

Pulang malam. Larut. Sudah letih. Tapi untung masih bisa sukur. Masih bisa kerja. Masih diberi tenaga. Masih diberi cara untuk untuk tidak selalu memikirkan masalah-masalah yang tengah melanda. Sukur. Sebab sesusah-susahnya hidup saat ini, ternyata masih bisa menyeruput teh. Nikmat euy.

Itu kabar saya. Biasa saja.

Bagaimana kabar Anda?