Boleh dibilang, hidup saya berangkat dari satu kegagalan ke kegagalan lainnya.
Kenapa?
Ini contohnya;
Saya selalu mau mencintai tanpa harus merasa takut kehilangan. Hasilnya, gagal. Apapun yang saya cintai, entah kenapa saya takut kehilangan. Belum pernah saya mencintai tanpa harus takut; bahwa suatu saat hal yang saya cintai sebagaimana bagian dari hidup lainnya, akan musnah.
Dulu, waktu sekolah, saya mencoba untuk belajar dalam institusi formal tanpa takut apapun. Hasilnya? Lagi-lagi gagal total. Begitu mulai belajar, saya takut nilai saya jelek. Saya takut beasiswa saya di cabut. Saya takut tidak lulus. Lebih parah daripada itu, saya takut dibilang goblok dan lantas dijadikan pecundang oleh masyarakat kalau saya tidak punya ijasah (*Padahal anehnya setiap melamar kerja yang ditanya bukannya ijasah, tapi portfolio*). Oh my my, benar-benar hidup dalam ketakutan.
Selesai sekolah, saya kerja. Sebelum mendaftar ke pekerjaan tertentu, saya yakinkan diri saya bahwa kalau sudah kerja maka hidup akan jadi cerah ceria riang gembira. Hilang semua ketakutan-ketakutan dalam hidup. Sayangnya harapan tinggal harapan. Ketakutan demi ketakutan yang saya harapkan sebelum bekerja akan sirna, benar-benar jadi sebuah kegagalan. Sebab setelah saya bekerja saya takut kalau di pecat, atau takut tidak dapat bonus atau takut tidak maksimal hasilnya. Oh, lagi-lagi gagal.
Dulu waktu tidak punya uang saya selalu bermimpi punya uang. Tapi entah kenapa saya, kok yaa diberi bakat cemburu. Setelah punya uang, cemburu pada yang punya uang lebih banyak. Lalu mati-matian cari uang lebih banyak. Setelah punya uang lebih banyak, cemburu pada orang-orang yang hidupnya bahagia padahal tidak punya terlalu banyak uang. Jadi sebenarnya mimpi saya itu apa?
Pada suatu titik, akhirnya saya menyadari bahwa saya gagal. Dan berkubang dari satu kegagalan ke kegagalan lainnya. Hidup saya penuh ketakutan. Dan tidak pernah beranjak pergi dari ketakutan-ketakutan itu.
Pada titik itu, ada sebuah hal yang bisa saya pertanyakan. Kok yaa saya rela-relanya hidup yang cuma singkat ini dipenuhi oleh rasa takut dan rasa gagal. Kadang-kadang malah menyalahkan orang atau pihak lain atas kegagalan saya. Edan! Kok yaa tidak dinikmati saja? Maksudnya, apapun yang terjadi, yaa nikmati saja. Hidup cuma sebentar kok tidak dinikmati. Mau jadi apa saya nanti?
Pada titik itu, entah apa yang ada dalam otak saya. Tiba-tiba berfikiran untuk memulai sesuatu yang baru. Benar-benar baru. Jika memang harus dimulai dari nol lagi, yaa tidak apa-apa. Yang penting baru.
Lah gimana kalau lantas gagal lagi?
Ya biarkan saja. Sebab apapun yang akan terjadi nanti, nikmati saja. Kata Iwan Fals, ‘Relakan yang terjadi biarkan terjadi. Tak perlu ditangisi, bukan milik kita lagi…’
Setelah proses transisi cukup berat dari hidup yang nyaman namun dipenuhi rasa bersalah. Lantas dimulailah petualangan baru. Kalau boleh bilang apa adanya, proses ini memang cukup berat. Berat badan saya turun hingga sampai 16 kilogram. Tabungan saya menyusut hingga batas yang cukup memerihkan mata. Belum lagi ditambah pikiran-pikiran, “Gimana nanti kalau…?” yang sama sekali tidak ada jawabnya. Proses yang buat saya cukup berat.
Tapi biarlah. Nikmati saja. Tidak ada seorang pun yang saya kenal yang bilang bahwa memulai lembar kehidupan baru adalah cara yang mudah. Sesukar apapun, nikmati saja.
Hidup tanpa rasa bersalah dan takut gagal itu tidak murah.
0 Responses to “Harga Gagal”