Monthly Archive for March, 2011

Cerita Tentang Mimpi

(*Ini cerita tentang mimpi-mimpi saya*)

Saya selalu bertanya-tanya, apabila manusia dikaruniai kemampuan untuk bisa berfikir dalam tidur, apakah itu anugrah atau musibah?

Pertanyaan ini berangkat dari kondisi belakangan ini kemampuan saya untuk tidur bisa selama 12 jam sehari non-stop. Aneh? Iya aneh. Buat saya saja aneh. Saya tidur jam delapan malam lalu bangun jam delapan pagi, esok harinya. Hampir setiap hari begitu. Kalau ada hal yang mendesak penting, maka saya tidur sekitar sepuluh jam perhari. Sementara kalau mampir lalu menginap di rumah teman atau bepergian dalam rangka kerja yang harus konsentrasi bicara dan berfikir dalam jangka bersamaan, maka mau tidak mau saya harus tidur minimal delapan jam non-stop. Kurang dari itu, saya bisa jalan sempoyongan. Letih.

Padahal sejak punya anak saya biasanya tidur tidak lama. Jaman sekolah di Depok dulu malah kadang suka tidak tidur. Pulang sekolah main bola. Malam nyanyi-nyanyi dengan teman main gitar sampai diomeli tetangga karena sudah larut tapi masih berisik. Habis itu main kartu sambil tertawa-tawa, yang kalah dijepit pakai jepitan pengering baju. Begitu matahari muncul, cari nasi uduk untuk sarapan sambil cuci mata lihat gadis-gadis jogging pagi. Begitu puas, berangkat lagi ke sekolah naik bis gratis warnanya kuning. Begitu saja tiap hari.
Kalau mengantuk saya tidur. Dan saya kalau mengantuk suka tidak tahu diri dan tidak tahu kondisi, pokoknya harus tidur. Maka itu kemana-mana saya selalu bawa kantung tidur (sleeping bag) dalam tas. Ruang tidur favorit saya, kelas umum 3 SKS (artinya 3 x 45 menit) yang selalu mengajar 101. Ruangnya luas. Muridnya banyak. Saya ambil posisi di belakang paling ujung. Di bawah AC. Enak; dingin. Ditambah lagi suara guru yang bagaikan musik pengiring tidur. Tidur tidak lama, tapi bahagia.

Kenapa sekarang saya butuh tidur lama? Saya juga tidak tahu.

Kata beberapa sahabat saya yang psikolog, manusia tidur lebih banyak daripada biasanya karena kebutuhan. Kalau butuh, maka keinginan untuk tidur jauh lebih banyak daripada biasanya. Sementara kata teman saya lainnya yang jadi guru antropologi, pola tidur manusia itu dipengaruhi oleh budaya. Seberapa butuhnya pun ia tidur, maka kultur yang ia percayai yang akan menentukan seberapa banyak ia tidur. Walaupun malam begadang namun kalau pagi sudah janji, faktor budaya yang akan menentukan apakah ia akan terlambat atau tidak.

Jadi, saya tidur lama gara-gara butuh atau budaya? Atau jangan-jangan saya memiliki kebutuhan akan budaya? Atau budaya butuh? Halah… Bikin pusing saja.

Yang pasti, kalau saya bisa berfikir ketika tidur, pasti saya bisa menyelesaikan banyak pekerjaan sambil tidur. Walaupun kemungkinan lain yang lebih besar adalah, kalau begitu tidur itu bukan istirahat.

Dalam film Perancis, Science of Sleep (walaupun bukan film aksi namun film keluaran tahun 2006 ini bagus, rekomendasi), diceritakan tentang seorang pria bernama Stéphane yang kadang memiliki mimpi dan imajinasi yang bercampur dengan realita. Jadi kadang ia tidak tahu apakah ia sedang tidur lalu bermimpi, atau sedang bangun dan mengalami imajinasi. Hidupnya gabungan antara situasi alami dengan surealis.

Apakah hidup begitu sulit? Tidak tahu antara yang nyata dan tidak? Well sebaiknya Anda tonton sendiri filmnya.

Tidur itu misterius. Manusia sejak ribuan tahun berusaha menganalisa tidur. Lebih canggih lagi, menganalisa mimpi. Dalam bukunya yang berjudul Metafisika (bab Beta dan Gamma), bahkan filsuf sekaligus pemikir hebat Aristoteles mengklaim bahwa manusia memiliki kepingan-kepingan puzzle kejadian diri yang secara sadar atau tidak sadar akan muncul dalam fase teratur hidupnya (dalam hal ini salah satunya adalah pola tidur). Saat ini, kita menyebut pemunculan kepingan itu sebagai mimpi.

Biasanya, mimpi itu sukar dilacak. Artinya kondisi kebanyakan orang memang pada umumnya suka lupa bermimpi apa. Jika memang dalam kondisi tertentu yang menyangkut hal tertentu, maka seseorang bisa mengingat mimpinya. Itu pun biasanya tidak lengkap.

Namun di dunia ini ada tipikal manusia yang bisa mengatur mimpi. Bukan mimpi orang lain, melainkan mimpinya sendiri. Mereka disebut dengan Oneironaut. Berasal dari bahasa Yunani Kuna ‘oneiros’, yang artinya mimpi. Tipikal manusia ini mampu mengambil kontrol karakter bahkan lingkungan ketika sedang bermimpi. Lebih dahsyat lagi, dikabarkan ia mampu berfikir dan mengambil aksi dalam mimpinya tersebut.

Para Oneironaut ini dikabarkan memiliki kemampuan tidur jauh lebih banyak daripada manusia lainnya. Dorongan ini timbul akibat keinginan kuat untuk ‘bisa menjadi apa saja’ dalam realita mimpi mereka. Disebut dengan realita, sebab untuk mereka apapun yang terjadi dalam mimpi seakan benar-benar nyata.

Di Berkeley Amerika Serikat, ada sebuah universitas bernama John F Kennedy University. Di sana ada satu program studi bernama Telaah Mimpi. Jika Anda pikir mengada-ada, ada baiknya berkunjung langsung ke sana untuk melihat dengan kepala mata. Sebab di tempat itu kita bisa mengetahui secara ilmiah bahwa ternyata perempuan lebih sering bermimpi ketimbang laki-laki. Dan ternyata, bahwa ada satu keahlian khusus yang amat susah namun bisa dipelajari bernama ‘Recalling Dream’, yaitu memanggil mimpi. Dimana seseorang mampu secara detail mengulang kembali ingatan terhadap mimpinya; ketika ia sedang terjaga.

Apa gunanya studi mimpi tersebut? Ketika pertama kali mengetahui dan melihatnya, saya pikir ini adalah salah satu cabang keilmuan yang gunanya menghabiskan pajak rakyat dan uang orangtua saja. Hehehe…

Tapi ternyata saya salah. Orang-orang yang mengidap PTSD (Post Traumatic Stress Disorder, gangguan kecemasan parah dan berkembang setelah menghadapi setiap peristiwa yang menghasilkan trauma psikologis) yang susah tidur akibat dihantui mimpi buruk, ternyata bisa terbantu melalui latihan-latihan menghadapi mimpi dalam tidur mereka. Diantaranya para pasien terlihat adalah prajurit-prajurit cacat yang baru pulang dinas dari Irak atau Afganistan.

Oke sekarang balik lagi ke saya (*Ini kan blog saya, suka-suka saya ngomongin diri saya dong. Kok saya malah ngomongin orang lain? Huh!*).

Sejak musim panas tahun lalu, saya kelihatannya mengidap psikomatis. Sebuah kondisi dimana kordinasi antara tubuh dengan pikiran tidak sinkron lagi akibat trauma psikologis. Gejala yang sama yang biasa dialami pasien PTSD. Contoh yang paling sederhana dan terlihat jelas adalah, semua teman-teman bingung ketika melihat saya memegang gelas untuk minum dengan dua tangan. Karena apabila dipegang dengan satu tangan saja, terlihat bahwa tangan saya sedemikian gemetar dan sering sekali gelas malang itu jatuh ke lantai akibat susah terpegang.

Gejala tersebut diimbangi dengan tidur sebanyak 14 jam perhari yang diselingi oleh banyak sekali mimpi buruk.

Lama kelamaan, seiring dengan waktu (dan Anda boleh percaya atau tidak, tapi katanya dalam masa itu orang se-Cilincing ikutan mendoakan agar saya cepat pulih) kondisi aneh tersebut berangsur hilang perlahan. Dan ketika gejala ini menghilang perlahan, saya mulai kembali beraktifitas sebagaimana biasanya. Yaitu sibuk luar biasa.

Seorang sahabat saya yang kini mengajar cabang keilmuan filsafat pernah berkata suatu hari, “Orang yang hidupnya terluka semestinya bangga. Sebab mampu mengatasinya dan tetap hidup. Semestinya, ia merawat luka itu. Membasuhnya. Mengeringkannya. Menjaganya hingga tidak infeksi. Hingga suatu hari menyadari bahwa luka hidupnya telah kering dan sembuh”

Salah satu kesalahan fatal saya adalah menganggap bahwa mengeringkan luka hidup adalah dengan cara balik lagi ke rutinitas kesibukan harian. Nyatanya, ia tidak menghilangkan luka. Namun lebih sekedar semacam pelarian. Jika ada manusia yang lari dari luka hidup pada kesenangan badaniyah seperti menumpulkan rasa dengan alkohol atau malah memperbanyak rasa dengan seksual; maka saya lari dari luka dengan menimbun diri dengan kesibukan pekerjaan.

Dan jika suatu saat luka itu terbuka kembali, saya butuh kompensasi. Maka itu saya pikir, saya butuh tidur 12 jam sehari. Untung saja saya bukan Oneironaut, jadi tidur dan mimpi bukanlah juga pelampiasan atas kehidupan ketika terjaga.

Membagi cerita mimpi ini kepada publik bukanlah sesuatu yang mudah. Di sini di tulisan ini saya dengan amat sadar bicara hal yang paling intim dari hidup saya, yaitu hubungan antara saya dengan diri saya sendiri. Saya pribadi menganggap menulis mengenai aib atau penyakit terkesan sebagai salah satu konsep tak sadar dari keinginan eksibisionis. Dalam merangkaikannya; kata demi kata, huruf demi huruf, kadang menjadi beban yang suatu saat memiliki konsekuensi luar biasa di kemudian hari. Sialnya, hidup saya memang tidak jauh dari aib dan penyakit.

Namun suatu hari saya dapat nasihat dari teman di belahan ujung dunia sana, ia bilang, “Bang, bagi ilmu kita jadi makin kaya. Bagi masalah, kita jadi makin ringan”. Intinya, beliau senang melihat saya membagi cerita hidup yang boleh dibilang tidak terlalu manis ini, dengannya.

Sejak saat itu, saya memang masih tidur dalam jangka waktu yang sedemikian lama perharinya. Namun sudah tidak terlalu banyak lagi dicengkeram mimpi buruk. Dan atas dasar itu pula saya bagi tulisan ini. Semoga dengan berbagi, hidup ini jadi lebih berarti.

Itu cerita mengenai mimpi saya.

Lantas sekarang, mimpi Anda apa?

(*Ketika saya tanya ini pada sahabat saya Odoy, dia bilang “Gua mimpi Jakarta nggak kebanjiran tiap tahunnya. Gua mimpi koruptor pada insap. Gua mimpi kasus Lapindo beres. Gua mimpi tanah orang Kalimantan, Papua, Sumatera, Bali dan semua tanah manusia di Indonesia nggak dikeruk buat kepentingan para bajingan”. Saya tidak bisa bilang apa-apa. Saya pikir kalau saya jawab “Lu harus tidur lebih dari 12 jam perhari” saya akan menyakiti perasaannya. Sebab saya tahu ia bukan pula seorang Oneironaut*)


Apa Sebenarnya Diplomat dan Diplomasi

Secara singkat, diplomat adalah seseorang/institusi yang melakukan praktek dan seni diplomasi. Tapi apa sih sebenarnya diplomat dan praktek dan seni diplomasi?

Mari kita jelaskan secara sederhana dan runut.

1. Latar belakang diplomasi.

Praktek awal diplomasi yang paling terkenal mungkin adalah Surat Amarna yang terbuat dari lempengan batu. Surat ini dikirim oleh Firaun Akhenaten dinasti ke-18 di Mesir kepada kerajaan Kana’an (Saat ini mungkin adalah sekitar Israel, Palestina, Lebanon dan Syriah) pada abad ke XIV SM.

Surat yang ditulis dalam bahasa Akhadian (bahasa yang saat itu lazim digunakan dalam praktek perdagangan internasional pada masanya) menjelaskan kesepakatan perjanjian damai antara Dinasti Mesir dengan Dinasti Hittite yang menguasai Kana’an. Saling tidak menyerang dan menjaga praktek ekonomi warga antar dua negara tersebut berlangsung dengan baik dan semestinya.

Surat itu sukses. Setidaknya sejarah tidak pernah mencatat perang brutal caplok-mencaplok wilayah antara dua negara adidaya tersebut. Sejak saat itu, praktek diplomasi menyebar luas dari satu bangsa ke bangsa lain. Sebuah negara bisa tumbuh atau mati diantaranya adalah berdasar pada hubungan diplomasinya. Kadang kelangsungan sebuah rezim bisa terus berjalan jika praktek diplomasi tetap baik.

Contoh yang paling terkenal di Nusantara mengenai praktek diplomasi adalah penggabungan dua kerajaan besar antara Majapahit dan Champa atau Kamboja saat ini. Dimana Raja Brawijaya IV menikahkan anaknya dengan putri kerajaan Champa dan lalu memperluas wilayah kekuasaan mereka yang berpusat di Trowulan, Jawa Timur. Praktek diplomasi untuk memperluas kekuasaan dan kekuatan, diperoleh sang Raja dengan pola pernikahan antar dua penerus singgasana.

Masih banyak praktek dan seni diplomasi yang lain. Namun akan dijelaskan nanti dan mari kita lanjutkan ke poin berikutnya.

2. Diplomat Profesional

Sudah dijelaskan di atas bahwa diplomat adalah orang yang menjalankan praktek dan seni diplomasi. Jadi pertanyaannya, apakah setiap orang yang menjalankan praktek dan seni ini adalah seorang diplomat.

Jawabannya bisa iya dan tidak.

Iya, sebab siapapun atau apapun yang bisa berdiplomasi sudah bisa dikategorikan sebagai diplomat. Namun bisa tidak, sebab pada saat ini diplomasi lebih cenderung kepada praktek praktis hubungan bilateral antar dua negara atau institusi. Orang/badan yang menjalankan praktek diplomasi dalam profesi kesehariannya sudah layak dikategorikan sebagai diplomat profesional.

Tipe-tipe diplomat secara profesi:

  • Diplomat Kenegaraan: Adalah sebuah pekerjaan yang menuntut seseorang menjalankan tugas diplomasi sebuah negara dan menjalankan misinya di negara tempat ia ditugaskan. Biasanya pekerjaan ini ada di bawah lindungan departemen luar negeri atau sekertaris negara atau duta besar. Pekerjaannya biasanya penuh waktu.
  • Diplomat Usaha: Adalah sebuah pekerjaan yang menuntut seseorang memperlancar usaha atau bisnis yang dia emban. Dalam korporasi besar, diplomat jenis ini biasanya ada dalam divisi ekspansi bisnis (bisa marketing bisa pula business intelegent). Sama seperti diplomat kenegaraan, pekerjaan mereka biasanya penuh waktu.
  • Diplomat Dengan Alasan: Adalah sebuah kejadian yang menuntut seseorang atau sebuah badan menjadi diplomat. Contoh yang paling simpel mungkin adalah Pak/Bu RT jika di Indonesia. Meskipun bukan pekerjaan utamanya, namun beliau kadang mendapat tanggung-jawab menengahi perseteruan antar dua tetangga di kampungnya. Ketika beliau melerai dan mengatasi meluasnya efek perpecahan di lokasinya, maka ia segera mendamaikan kedua belah pihak. Praktek ini bisa pula disebut sebagai diplomasi.

Setiap orang bisa menjadi diplomat. Sebab setiap orang punya bakat menjalankan tugas diplomasi. Bahkan ketika kita sedang tawar-menawar di pasar saja, sebenarnya kita sedang menjalankan seni diplomasi. Namun agar lebih mudahnya, saat ini, mari kita bicara mengenai diplomat kenegaraan saja.

3. Apa itu diplomat kenegaraan dan apa tugasnya?

Secara mendasar, diplomat kenegaraan adalah seseorang yang bekerja dan menjalankan praktek diplomasi untuk negaranya.

Secara garis besar diplomat yang berpraktek diplomasi antar dua negara dibagi dalam beberapa kategori. Antara lain:

  • Bisnis: Dalam prakteknya, diplomat yang bertugas dalam atase bisnis menjamin keberlangsungan bisnis antar negaranya dengan negara tempat ia ditugaskan berjalan dengan baik. Ia ditugaskan melindungi dan melayani segenap asset-asset dagang negaranya di tempat ia ditugaskan. Memberi masukan kepada penentu kebijakan ekspor import. Dan yang lebih baik, adalah memahami bisnis lokal di tempat ia ditugaskan lalu memberi perspektif itu kepada bagian Kamar Dinas Perdagangan.
  • Keamanan dan Perdamaian: Di bagian ini, seorang diplomat memberi input pada negaranya agar tercipta keamanan dan perdamaian hubungan dua negara. Pada masa kekaisaran Ottoman, seorang diplomat adalah penjamin perdamaian. Jika kesepakatan damai antar dua negara pecah, biasanya si diplomat yang diwakili oleh duta besarnya lah yang akan dihukum terlebih dahulu. Saat ini diplomasi keamanan biasanya mewakili negoisasi mengenai penjualan/penyelundupan senjata, binatang, obat terlarang, manusia dan sebagainya.
  • Hubungan Publik (Public Relation): Ini adalah diplomat yang mewakili negara yang mengutusnya di negara lain. Ia menjadi ‘muka’ negara bersangkutan di negara tempat ia ditugaskan. Hubungannya luas antara lain adalah terhadap media, publik lokal dan juga publik negaranya yang kebetulan sedang ada di negara tempat ia ditugaskan. Ia juga yang biasanya menjadi mediasi antara dua belah negara yang sedang dalam keperluan.
  • Budaya: Diplomat atase budaya biasanya mewakili dan menjembatani pertukaran pengetahuan antara dua budaya. Yaitu budaya negaranya dan negara tempat ia ditugaskan. Dalam praktek diplomasi ini, kadang erat sekali hubungannya dengan bisnis pariwisata antar dua negara.
  • Kemanusiaan: Dalam kasus tertentu yang melibatkan hak asasi manusia, diplomat harus cepat tanggap mengatasi krisis. Misalnya adalah tentang pelarian politik, evakuasi korban atau pembelaan terhadap warga negaranya yang diadili di negara tempat ia ditugaskan. Biasanya diplomat bagian ini mengerti sekali hukum negara dimana ia ditugaskan dan juga program mitigasi bencana.

Apa syarat jadi diplomat kenegaraan? Yaa banyak. Diantaranya adalah:

  • Bersedia ditempatkan dimana saja.
  • Mengenal budaya lokal tempat ia ditugaskan dan memahami bahasa dengan baik.
  • Bersedia aktif dalam komunitas lokal maupun internasional tempat ia ditugaskan.
  • Memiliki kemampuan komunikasi yang baik.
  • Taktis dan diplomatis.
  • Memiliki keahlian pengorganisasian.
  • Mudah membangun jaring kenalan.
  • Ini yang paling penting: Selalu mencatat dan melaporkan hasil praktek dan seni diplomasinya kepada negara yang memberinya tugas dalam saluran khusus.

4. Bagaimana jika praktek diplomasi gagal?

Jawabnya gampang; yaitu jelas-jelas hubungan dua negara menjadi buruk. Paling parah, adalah perang. Menyengsarakan banyak manusia, binatang dan alam.

Namun jika praktek diplomasi baik, maka hubungan dua negara pun akan menjadi baik. Paling mudah melihat sukses tidaknya para diplomat adalah jika praktik diplomasi antar dua negara saling menguntungkan dan berjalan dengan grafik yang menaik setiap lima tahun.
(*Kenapa lima tahun? Sebab biasanya pergantian penguasa dan kebijakan di negara-negara berasas demokratis yang paling banyak dianut saat ini selalu berbeda setiap lima tahun*)

Statistik itu jelas bukan satu-satunya pengukur keberhasilan antar dua negara. Banyak faktor lain yang menjadi pengaruh keberhasilan hubungan antar dua negara, diantara misalnya adalah jika negara tempat diplomat bertugas adalah negara konflik (seperti Irak atau Afganistan misalnya).

Di daerah bencana seperti Libia atau Jepang, keberhasilan diplomasi bisa saja diukur dari cepat tidaknya para diplomat merespon keselamatan warganya untuk dievakuasi.

Sekarang kita ke bagian ke yang paling penting dalam tugas diplomasi, yaitu diplomat mengobservasi, riset dan lalu mencatat hasil sebelum dikirim ke penentu kebijakan di negara pengutusnya

Dalam semua persayaratan sebagai diplomat, terlihat bahwa keahlian komunikasi itu hampir mendominasi semua tuntutan keahlian diplomat.

Di lapangan, praktek ini memang benar adanya. Diplomat secara horisontal sebisa mungkin menjalin komunikasi dengan otoritas lokal di negara ia ditugaskan. Riset dan menggali informasi sebanyak-banyaknya latar belakang para penguasa lokal sebelum bertemu mereka, dan lalu mencoba membuktikan informasi itu dengan cara cross check atau mengkonfirmasikan langsung kepada yang bersangkutan dengan bahasa diplomasi.

Maka kemampuan memahami bahasa, baik bahasa diplomasi dan juga bahasa lokal amat penting, sebab dengan cara begitu seorang diplomat mampu menjalin komunikasi dengan komunitas lokal. Sehingga laporannya menjadi lebih akurat, terkini dan terpercaya. Ketidakmampuan memahami budaya atau bahasa lokal sudah mampu menjadikan seseorang diplomat tidak memiliki poin plus dalam pekerjaannya. Begitupun juga dengan ketidakmampuan mengetahui jaringan lokal di negara tempat ia ditugaskan bukanlah sebuah poin tambahan buat diplomat.

Secara kontinyu, diplomat melaporkan hasil laporannya kepada pemberi tugas melalui saluran khusus. Saluran komunikasi ini diusahakan aman, bersih dan rahasia. Hasil dari komunikasi ini dapat dikategorikan sebagai raw intel. Yaitu laporan intelejen yang belum diolah. Setelah diolah dan dilengkapi dari berbagai sumber diplomat lainnya, laporan ini diserahkan kepada penentu kebijakan, para legislatif atau eksekutif. Hasil dari laporan ini menjadi amat penting sebab adalah penentu terhadap hubungan antar dua negara.

Kasus paling besar dalam sejarah terhadap kebocoran informasi diplomasi adalah wikileaks cablegate. Dimana laporan ratusan ribu dokumen diplomat Amerika Serikat bocor dan dapat diakses publik di website wikileaks sejak tahun 2010. Menjadikan hubungan Amerika Serikat dengan negara-negara tempat diplomatnya diposkan sebagai polemik yang masih berkepanjangan pada tulisan ini diturunkan (2011).

Dalam dokumen-dokumen itu terlihat jelas penilaian dan perspektif para diplomat terhadap penguasa lokal dan juga aspek-aspek lain hubungan diplomasi antar negara. Kebanyakan adalah raw intel. Informasi yang belum dipoles. Para diplomat secara jujur melaporkan apa hasil investagasi berdasarkan perspektif mereka. Ketika informasi ini bocor di publik, jelas saja pemerintah USA menyangkal kesahihannya :)

5. Penutup

Saya tidak mencoba membela atau melemahkan data pada informasi di wikileaks. Buat saya jelas-jelas itu raw intel. Ditulis oleh para diplomat US dan ditujukan pada atasan mereka di Washington DC. Dan ketika rezim yang berkuasa di Republik Indonesia namanya tercantum dalam laporan tersebut dalam sebuah skandal, buat saya yaa wajar saja. Tapi kalau misalnya dokumen itu tiba-tiba tertera nama Pak RT saya Pak Hambali, pasti saya bingung. Hehehe…

Artinya begini; para diplomat itu bukan orang tolol. Mereka punya standar dalam melakukan riset dan laporan. Mereka dilatih dan sudah terlatih dengan baik melakukan pekerjaannya. Mereka juga terlatih melaporkan semua hasil riset secara apa adanya. Maka jika info yang mereka terima tidak baik, maka bisa saja outputnya menyusahkan hubungan bilateral negara. Namun jika informasinya baik, maka semakin baik hubungan dua negara.

Sekarang, pertanyaannya adalah apa itu informasi yang baik? Saya pikir jawabannya simpel. Informasi yang baik adalah informasi yang didapatkan secara akurat dan disampaikan apa adanya. Sebab itu adalah sebaik-baiknya informasi dan mudah melakukan penyelidikan silang untuk membuktikan kebenarannya.

Jadi, apakah rezim yang tengah berkuasa saat ini RI memang benar terlibat skandal? Jawabnya bukanlah asumsi. Bukan bantahan. Bukan pula sekedar jawaban iya atau tidak lewat media. Melainkan adalah transparansi melalui penyelidikan untuk membuktikan benar atau salahnya.

Lantas, bagaimana mengadakan penyelidikan terhadap omongan para diplomat?

Nah ini susahnya…

Sebagai akhir cerita ocehan saya yang sama sekali bukan diplomat ini, ijinkanlah saya mengutip pengalaman di sebuah makan malam intim yang dihadiri oleh beberapa orang saja di ruang kedutaan sebuah negara Eropa Barat yang ada di Jakarta. Tidak lama setelah invasi US ke Afganishtan.

Pak Dubes: Sambil terkekeh-kekeh mengisap cerutu bilang, “Kami sebenarnya sudah tahu dimana posisi Osama berada”

Si Orang Indonesia bengong: “Loh kenapa nggak ditangkep aja?”

Pak Dubes mendelik, melepaskan cerutu dari mulutnya dengan kedua jari sambil melengos: “Apa untungnya buat kami?”


Instal ScribFire Di Opera Lalu Blogging Setelahnya

Tadi pagi di GoogleBuzz saya ada info dari evangelist Opera indonesia, Mr Yeni Setiawan a.k.a Sandalian :) Beliau memberitahu info baru bahwa ScribeFire sudah bisa diinstall di Opera.

Langsung deh saya coba. Maka langkah yang saya lakukan adalah:

  1. Jelas buka browser Opera
  2. Download AddOns ScribeFire. Setelah klik Install Now di kanan atas halaman. Saya dapat pesan aneh. Kok tidak bisa diinstall. Melainkan harus disimpan terlebih dahulu. Maka itu dalam proses download, saya simpan ini file yang berekstensi oex (tanda bahwa file ini adalah addons opera, yang ternyata kita bisa buat dengan HTML, CSS dan JavaScript) di desktop
  3. Katanya, untuk install addons opera, gampang sekali. File oex yang sudah kita simpan itu, tinggal ditarik saja ke jendela URL browser pakai mouse.
  4. Saya tarik berkali-kali dari desktop ke URL opera, kok gagal terus… Ada apa gerangan?

Ternyata, saya yang ketinggalan jaman. Setelah saya baca-baca dikit, terlihat bahwa AddOns opera baru bisa digunakan apabila kita memakai browser dengan versi 11 ke atas. Oh-oh, Opera saya masih versi 10.6.3. Maka saya langsung download opera terbaru. Anehnya, link download langsung Opera di blok oleh kantor saya. Uugh, not nice. maka itu saya download pakai tunnel (*kalau cara unduh begini, saya tidak jelaskan sama publik, hehe. Nggak saya ajarin juga sudah banyak yang tahu. Lagian info saya kalau beginian mah basi deh. Jadi saya pikir saya nggak perlu bagi info download dengan cara ‘tak lazim’*)

Setelah sukses download dan install Opera terbaru, baru dah saya drag and drop itu scribefire-1.5-1.oex ke alamat URL browser. Setelah itu muncul pesan berupa dialog box apakah saya kan menginstall scribefire

Sukses install dan upgrade opera lalu install scribefire

 Setelah diinstall muncul tombol baru di kanan atas di samping kotak pencari di jendela browser

 scribefire opera button

Setelah tombol itu kita klik akan muncul jendela memasukkan alamat blog yang akan kita isi

Add new blog scribefire opera

Di dialog blog ini, yang membuat saya bingung adalah API URLnya. Apa pula itu?

Ternyata setelah lihat kiri kanan, karena engine blog saya adalah wordpress, maka langkah yang harus saya lakukan adalah:

  1. Mengaktifkan  XML-RPC di wordpress. Caranya: Login ke Dashboard blog > Setttings > Writing > Centang pilihan “Enable the WordPress, Movable Type, MetaWeblog and Blogger XML-RPC publishing protocols.” untuk mengaktifkan API URL blog.
  2. Isi API URL dengan alamat domain blog + xmlrpc.php (misalnya blog anda namanya buluketek.com, maka diisi dengan www.buluketek.com/xmlrpc.php

Setelah mengisi form user dan pass, saya langsung masuk ke halaman utama scribefire Opera. Ini tampilannya:

 scribefire opera UI

Lumayan. WYSWYG nya hampir serupa dengan ScribeFire di Chrome/Firefox/Safari. Yang baru yang saya lihat adalah layanan bernama Zemanta. Penjelasan Zemanta sendiri adalah ” Zemanta membantu Anda membuat posting blog yang lebih kaya dengan mengenali topik yang Anda buat lalu menyarankan tautan terkait yang berguna…”

Setelah saya cek, ternyata mungkin Zemanta membantu arsitektur dan tata hyperlink di blog kita agar lebih variatif dalam ‘menjajakan’ hyperlink. Fungsinya sendiri dibatasi hingga seribu perhari. Mungkin menghindari link farm.

Anyway, posting ini dibuat dengan menggunakan ScribeFire di Opera :)

Thanks to you guys in ScribeFire team

Mengapa Harus Ganti Theme Blog Dan Mengapa Tidak?

Saya tidak suka gonta-ganti theme tampilan blog.

Alasannya sederhana:

  1. Branding. Tampilan itu mencerminkan brand. Identitas. Saya tidak suka ganti identitas (*kecuali kalau browsing, maka itu saya adalah pemuja TOR, haha*). Identitas itu perlu. Bukan hanya perlu ada, melainkan juga perlu dibangun. Salah satu cara membangun identitas adalah memiliki branding yang kuat. Kalau tidak punya branding yang kuat secara visual, maka sebaiknya memiliki branding yang memiliki ketahanan kuantitas waktu
  2. Sok Unik Tapi Malas. Ini alasan yang paling jujur. Saya biasanya malas ngoprek script lagi. Saya bosan ngoding. Seharian ngoding, malamnya ngoding lagi. Begadang temannya teh, musik klasik, LAMPP/XAMPP dan gedit/notepad++ hanya buat ngoding. Tapi kalau tidak ngoprek scripts maka tampilan web standar banget. Apa uniknya kalau cuma copy paste theme orang? Apa kekuatan usability web kita kalau cuma sekedar pakai yang sudah jadi? Maka itu harus unik dong… Tapi itu yaa itu penyakitnya, males… Hehehe
  3. Usability. Saya ganti tampilan atau feature web kalau memang saya sendiri sudah gerah dengan usability web saya. Kalau saya gerah, sih masih bisa kipas-kipas. Tapi kalau pengunjung sudah gerah, wah gawat itu. Makin dikipas makin gede apinya. Pengunjung sudah biasa mampir ke web kita. Dari mereka kita belajar UI/UX. Kalau gonta-ganti theme tanpa rekomendasi mereka, sebaiknya saya memang nggak ganti tampilan lah. Lah saya kan dandan buat pengunjung saya :)
  4. Security. ganti theme itu artinya ganti segala macem. Paling enak sih bikin theme sendiri. Semuanya sudah kita jamin keamanannya. Lah saya kan males. Paling saya ambil theme orang terus saya kulik sedikit script-scriptnya. Padahal, seharusnya kan butuh testing. Mulai dari testing di development, QA dan juga di production. Itu baru testing design dan usability, belum testing security. Belum lagi audit dan review. Waaahhh… pecah kepala kalau tiap ada waktu luang hanya ada untuk test
  5. Nggak Cukup Waktu. Pernah dengar database? Kalau pernah pasti pernah dengar backup database dong? Nahh, ini pula jangan dikecilkan peranannya. Backup database, menyimpannya di tempat aman terus melakukan analisa ini memakan waktu yang tidak sedikit loh. padahal backup database dari blog bukan sesuatu yang sulit dan memakan waktu banyak. Tapi jika setiap hari waktu Anda sudah dimakan oleh kegiatan lainnnya di atas, maka backup database bisa jadi salah satu resource hog tambahan.
  6. Biaya. Ini salah satu pertimbangan penting juga sih. Sebenarnya gonta-ganti theme sama sekali tidak makan biaya. Tapi ketika sedang ngoprek theme terus kepincut dengan theme yang berat loadingnya, mau ga mau kan makan bandwith buat pengunjung dan server. Bandwith lebih itu artinya yaa biaya buat kita sebagai penyedia layanan web dan juga pengunjung yang datang mampir ke web kita. Saya malas membebani pengunjung saya dengan biaya tambahan akibat web saya susah ditampilkan di browser mereka gara-gara berat tampilannya. Tulisan saya sudah dibaca saja sukurnya bukan main :)

Tapi… Tapiii… Hari ini baru saja saya update/ganti theme baru di blog lab ini dan blog utama di bangaip.org.

Alasannya:

  1. Demi Pengunjung. Beberapa orang pengunjung yang juga teman-teman saya (diantaranya Pak Harry Sufehmi) memberi tahu mengenai usability theme saya yang melemah. Wah ini masukan yang berguna sekali. Saya usahakan selalu memenuhi kebutuhan pengunjung blog saya. Sebab dari tangan mereka lah user experience kita jadi bertambah.
  2. Interface. Saya tidak bosan dengan tampilan yang lama. Sama sekali tidak. Tapi saya menginginkan tampilan yang secara disain lebih minimalis. Ketika usia makin bertambah begini dan setiap hari berurusan dengan disain minimalis, saya menginginkan pula interface yang minimalis. Prinsip baru less is more sudah beberapa tahun belakangan ini mendasari kegiatan saya dalam mendisain. Makin sedikit distraksi pada tampilan web, makin konsentrasi pengunjung saya terhadap konten web.
  3. Ada Fasilitas. Hahaha. Saya kebetulan punya waktu beberapa jam hari ini untuk ngoprek theme web. Saya pergunakan lah sebaik-baiknya. Jarang sekali punya kesempatan waktu dari makan siang sampai sore begini untuk ngoprek web pribadi. Selain itu, saya kebetulan kerja dengan beberapa OS sekaligus hari ini. Jadi selain bisa cek tampilan UI saya juga bisa mengecek security dan desain di bawah beberapa browser dan platform system sekaligus.
  4. Future Proof. Kata teman saya Toni, kalau mau beli televisi jangan setiap tiga tahun sekali, rugi itu namanya. Simpelnya, kalau mau sesuatu yang bertahan di masa depan maka harus tahu bagaimana strateginya. Saya cari theme yang sederhana dan minimalis sebab memang sudah terbukti kalau minimalis itu selain mudah diingat, mudah dioprek, mudah ditambahi dan juga (kadang-kadang) mudah penggunaannya. Jadi kalau saya pakai theme sederhana dan minimalis saat ini, saya harap di kemudian hari nanti tidak terkesan out of date. Terlalu kuno untuk ditampilkan di muka publik.
  5. Terapi Ingatan. Kemampuan manusia mengingat itu tidak canggih. Kemampuan saya mengingat, lebih parah daripada manusia kebanyakan. Dengan melakukan gerakan-gerakan koding hari ini saya dipaksa kembali mengeluarkan jurus-jurus PHP dan CSS dalam mencapai tujuan. Ini bagus buat kordinasi otak saya, hehe. Moga-moga dengan mengoprek script kita bisa belajar melawan lupa. Amiin…

Yang lebih syukur dari semua ini adalah… Saya bisa update blog laboratorium ini lagi. Hehehe.

Lagi-Lagi Soal Harga Diri

Kadang kalau sedang bersama anak, saya suka melihat-lihat siaran televisi yang isinya kehidupan flora maupun fauna. Enaknya, kalau di televisi, saya dan putri bisa melihat dan mendengar langsung topik siaran. Misalnya ada acara mengenai gajah di Afrika, maka kami dengan jelas bisa tahu kalau jenis-jenis gajah itu rupanya bermacam-macam di muka bumi dan Afrika adalah satu produsen gajah terbesar bagi planet ini.

Tapi siaran di layar tivi maupun komputer memang saya batasi buat anak saya yang hampir berusia tiga tahun ini. Sehari, paling banyak dua jam saja melihat tabung/layar menyala. Dalam waktu sesingkat ini saya usahakan mengenalkan kepada putri saya mengenai kehidupan alam bebas (wild life), diantaranya melalui tangkapan kamera tanpa awak di pedalaman hutan melalui Smitsonian Wild. Untung saja putri saya tidak gila televisi/komputer. Jadi dua jam sehari itu kadang terlalu banyak untuknya menyantap tayangan melalui layar kaca.

Sisanya, informasi kami dapatkan melalui buku. Putri saya bukunya banyak. Saat ini saja sudah hampir satu lemari penuh. Dia belum bisa baca. Tapi sebagai orangtua, kami selalu membacakannya cerita setiap hari. Setiap bulan sebisa mungkin saya membelikannya buku. Kadang saya rela memotong uang belanja bulanan agar ia dapat membeli buku baru.

Di satu sisi, saya merasa bersalah. Sebab dengan membeli buku baru artinya ada lagi pohon yang ditebang untuk membuat kertas. Eh tapi, buku yang saya beli memang baru buat dia. Tapi itu sih sebenarnya buku bekas (*Ok, saya mengaku bukan bapak-bapak yang top. Di depan anak bilang itu buku baru untuk dia. Padahal mah belinya di toko buku bekas*). Tapi di sisi lain, kasihan juga mata anak saya kalau disuguhi ebook reader terus kalau hendak membaca buku (*Ah mungkin saya bapak-bapak yang ketinggalan jaman kali yaah*).

Balik lagi ke soal buku. Rupa-rupanya, akibat setiap hari disuguhi buku berisi gambar-gambar binatang hutan, pepohonan, serangga, kondisi alam dan lain sebagainya, anak saya rupanya sudah mulai bertanya macam-macam. Suatu hari, dia bawa buku ke hadapan saya. Itu buku ada foto binatangnya. “Papa ini binatang apa?”

Saya mau jawab, “Cari aja halaman selanjutnya, baca”. Tapi itu jelas jawaban bodoh. Putri saya belum bisa baca. Dan saya tidak pernah mengajarkannya membaca (*tapi saya ajarkan berhitung, maklum saya kan orang Betawi perhitungan terus, hihihi*).

Saya lihat gambar itu dengan santai. Tapi kok yaah, saya tidak tahu itu binatang apa. Itu buku saya dekatkan ke dekat mata. Jangan-jangan mata saya yang buram. Ternyata masih juga belum bisa menjawab itu binatang apa. Saya putar itu buku ke kiri, tidak sukses. Ke kanan, juga tidak sukses. Bahkan dibalik atas bawah pun masih tidak jelas itu binatang apa. Itu mirip kadal. Tapi kok yaa bukan kadal. Mirip komodo tapi bukan komodo. Meskipun warnanya begitu aneh saya yakin pasti bukan bunglon.

Dengan lemas saya menatapnya dengan pandangan malu, “Papa nggak tahu, Nak. Nanti papa cari tahu yaah di internet atau tanya teman papa yang orang Biologi. Mungkin mereka tahu”

Di titik ini, saya merasa harga diri saya sebagai laki-laki dewasa kelihatannya jatuh berantakan. Saya tidak pernah bermimpi jadi manusia super yang mampu melakukan apa saja di muka bumi. Saya tidak pernah bermimpi jadi lelaki lelaning jagad yang jadi idola seluruh kawula di planet ini. Tidak. Sumpah mati tidak pernah. Saya sadar saya lelaki biasa saja. Dengan segala apa yang saya miliki, baik lebih atau kurang. Saya sadar saya orang biasa saja. Tapi, saya selalu ingin jadi ayah yang baik. Seorang bapak yang memiliki pengetahuan cukup, dimana ketika anaknya bertanya, minimal mampu menjawab. Sekarang, lah apanya yang hebat? Jawab pertanyaan mengenai nama binatang itu saja tidak bisa menjawab.

Malamnya setelah putri saya jauh tertidur saya belum bisa tidur. Saya berfikir, selama ini saya kok yaa sok tahu banget. Cari semua informasi dan menenggak sebanyak-banyaknya agar bisa dimuntahkan kembali dari mulut ketika orang bertanya. Seakan saya punya jawaban untuk semua orang. Biar apa? Biar dianggap pintar? Terus kalau dianggap pintar mau apa? Mau sombong? Mau memberi tahu pada semua orang bahwa reputasi saya sudah terkenal dimana-mana? Halah! Reputasi! Reputasi itu bayangan yang diciptakan oleh otak kita sendiri, karakterlah yang membuat kita manusia nyata. Buat apa semua itu jika sebuah pertanyaan simpel dari seorang bocah belum genap tiga tahun yang amat saya cintai pun saya tidak bisa menjawabnya?

Disini saya menyadari dua hal pokok yang ternyata sudah memudar dari otak saya selama ini:

  1. Jangan egois. Anak saya bukan saya. Sesering apapun saya melihatnya, membesarkannya dan bersamanya, tetap saja ia bukan saya. Ia punya jiwa sendiri, punya kecerdasan sendiri. Saya hanya bisa memberi sebanyak-banyaknya kasih sayang, pengertian dan perhatian yang ia butuhkan
  2. Jangan menganggap remeh siapapun, bahkan terhadap orang yang kita anggap kita amat kenal. Akibat saya pikir saya sering bersama anak, saya jadi tahu seperti apa dia. Apalagi umurnya belum tiga tahun. Padahal itu salah. Anak itu penuh kejutan. Saya harus selalu siap menyediakan diri dengan informasi terkini. Terutama informasi mengenai anak-anak :)

Saya pikir sudah saatnya otak saya ini harus di-refresh kembali. Harus belajar untuk hidup tanpa egoisme yang ketinggian. Belajar untuk tidak menganggap remeh siapapun. Sebab dengan begitu, mungkin harga diri yang kepalang jatuh berantakan ini dapat terjalin utuh kembali.

(*BTW, nama binatang yang ditanya putri saya adalah Sunda Pangolin a.k.a Manis javanica dalam bahasa Indonesia… Trenggiling*)


Jika Benci Toleransi Jadi Epidemi

(*Sebelumnya saya mohon maaf sekaligus berterimakasih kepada teman-teman pembaca yang amat baik hati telah merespons tulisan blog ini dengan sangat apresiatif. Jarak geografis, waktu dan terlebih saat ini personal health issues, membuat saya agak kesulitan merespon komentar/saran, menerima undangan wawancara, atau hadir untuk meresensi acara-acara yang saya yakin baik sekali gunanya buat publik. Saya yakin suatu saat jika diberi rizki bernama kesempatan, maka kita akan bisa bertemu baik dalam dunia maya atau nyata. Semua tulisan di blog bangaip.org sejak awal tahun 2011 dibuat secara offline dan sesekali dipublikasikan online jika saya ada sedikit kesempatan. Terimakasih banyak atas pengertiannya*)

———————————————-

Saya membayangkan apabila semua manusia sama; berpakaian sama, berkulit sama, berideologi sama, berbicara dengan bahasa yang sama, dan selalu sama-sama lainnya, maka ajaib sekali hidup ini.

Anda tahu Smurf, makhluk biru kecil rekaan komikus Belgia Pierre Culliford (yang lebih dikenal sebagai Peyo). Kalau tidak tahu, ijinkan saya sedikit cerita mengenai mereka.

Smurf. Sejenis makhluk kecil seukuran ibu jari. Makhluk-makhluk ini selalu menganggap diri mereka sama. Kalau berbicara, pasti ada kalimat ‘smurf’ yang menyembul dari mulut mereka dalam menterjemahkan sesuatu. Mereka tinggal bersama-sama dan percaya bahwa kebersamaan adalah sesuatu yang membahagiakan.

Namun pada kenyataannya, para smurf ini tetap saja berbeda. Ada Smurf Kacamata yang suka baca buku. Ada Papa Smurf, sang pengayom. Ada Smurfettes, yang terlahir sebagai satu-satunya wanita di komunitas Smurf (*O-oh, jangan berfikir yang tidak-tidak macam gangbang misalnya. Ini komik konsumsi anak-anak*).

Ternyata, dalam kebersamaan tetap saja ada perbedaan. Dan dalam perbedaan, mereka masih tetap bersama-sama.

Walaupun satu jenis dan mengklaim satu, satu warna kulit, satu jenis topi, satu tipe celana, satu kampung hidup bersama dan menyadari pada akhirnya bahwa mereka semua berbeda, ternyata para Smurf ini toh mereka semua bisa rukun-rukun saja.

Saya jelas beda dengan Smurf. Tapi punya sedikit persamaan. Walaupun lahir dari rahim yang sama, makan-makanan yang sama, menerima warisan genetis dan pendidikan yang sama, besar di lingkungan yang sama bahkan bergaul dengan orang yang sama, tetap saja saya dan adik saya berbeda.

Aneh?

Ahh, tidak juga. Sebab ini yang dinamakan anugrah. Dalam bahasa kampung saya Cilincing, ‘barokah’. Perbedaan itu nikmat. Hehe…

Dari mana asalnya perbedaan?

Sumpah mati saya tidak tahu. Saya pikir bagi yang relijius akan berfikir bahwa ini semuanya datang dari Yang Maha Memberi. Bagi yang tidak relijius bagaimana penjelasannnya? Wah lagi-lagi saya tidak tahu. Pertanyaan ini terlalu filosofis untuk otak saya yang kecil :)

Lantas, apa semua perbedaan menyenangkan?

Saya pikir, belum tentu. Sebelum bicara lebih lanjut, ada baiknya saya memberi contoh sederhana kenapa saya bisa bilang begitu. Dan agar tidak susah, saya ambil dari contoh terdekat. Yaitu apa yang saya alami (dan jelas subjektif). Ini contoh pertama;

Setiap hari umumnya saya berurusan dengan mikrobiologi. Khususnya, dengan semua penyakit-penyakit yang berbahaya buat binatang peliharaan manusia di muka bumi. Setiap hari bergelut dengan semua itu, setiap hari pula saya sadar bahwa ada virus yang berevolusi dan bermutasi. Ada virus HIV yang merubah diri lalu loncat dari manusia ke kucing. Ada virus SIV dari babi yang berkembang dengan canggih lalu loncat ke manusia. Ada virus lingkaran patogenis yang berkembang di burung lalu menyebar di anjing, kucing hingga kuda. Dan setiap hari, kadang saya jadi saksi lahir dan munculnya perbedaan di antara virus-virus tersebut.

Semakin banyak tipe virus itu muncul, semakin berbeda tipe mereka, semakin besar pula bahayanya terhadap ras hewan dan manusia. (*Tapi jangan takut, sebab masih ada Bangaip dan temen-temennya yang ngelawan abis-abisan. Hehehe, sok jago banget nih saya*).

Jadi perbedaan itu belum tentu menyenangkan. Apalagi jika itu perbedaan yang muncul dari virus-virus yang membahayakan kehidupan.

Masih belum puas dengan satu contoh? Nih saya kasih lagi satu bukti bahwa perbedaan itu belum tentu menyenangkan:

Hari Sabtu lalu dengan mata kepala sendiri saya lihat seorang lelaki muda dihina, dipermalukan, dicemooh dan diperlakukan buruk secara verbal oleh temannya. Si lelaki ini santai saja menanggainya. Saya kaget. Dan lebih kaget lagi ketika ia menjawab, “Kami berbeda pendapat soal hidup. Beda kan boleh. Dia boleh ngamuk, saya boleh cuek”, ketika saya tanya kok kenapa ia kalem saja menanggapinya.

Berbeda soal pandangan hidup ternyata bisa membuat seseorang berang, marah, emosi dan melontarkan brutalitas di depan publik. Dan sebagai saksi mata, saya bisa bilang bahwa menyaksikan itu sama sekali bukan saat yang menyenangkan.

Jadi kata siapa perbedaan itu selalu menyenangkan?

Jelas tidak. Perbedaan tidak selalu menyenangkan. Tapi setidak-menyenangkannya perbedaan, ia tetap saja fakta.

Dulu ada seorang menteri dari Indonesia yang bilang bahwa Flu Burung dan Flu Babi itu rekayasa di depan publik dan media. Aduh gombalnya! Padahal beliau jelas bukan orang bodoh. Malu sekali saya mendengar hal itu. Apalagi keluar dari sesama orang Indonesia (*yang membuat berhari-hari saya ditanya rekan-rekan kerja bagaimana standar penelitian di RI*). Kok yaa mengingkari fakta? Virus bermutasi, virus berevolusi, dan itu adalah salah satu bentuk kehidupan bahwa perbedaan itu ada. Itu realita. Itu fakta. Mengapa dinegasi?

Lelaki dan perempuan itu berbeda. Kalau senang atau menguntungkan, mereka bercinta. Melakukan adegan reproduksi. Kalau sukses, ada hasil dari adegan reproduksi tersebut. Yang pasti, lelaki dan perempuan itu berbeda. Itu fakta. Walaupun lebih jauh lagi bahwa lelaki dan perempuan bisa jadi saling menyebalkan akibat perbedaan yang mereka miliki, tetap saja perbedaan antara mereka adalah fakta. Realistis saja lah.

Saya dan Anda berbeda. Saya punya pendapat sendiri. Anda punya opini pribadi. Sah? Yaa jelas sah. Konstitusi telah melindungi kita untuk tetap bisa berbeda. Lambang negara dengan gagah mengibarkan panji “Walaupun Berbeda Kami Adalah Satu”.

Para pendiri bangsa pun manusia berbeda. Ada yang playboy, ada yang alim, ada yang hobi dansa, ada yang penyendiri dan hobi berkelana. Dan macam-macam lainnnya. Namun seberat apapun bedanya mereka, masih tetap memikirkan sebuah cikal bakal nusa yang saat ini bernama Republik Indonesia. Dalam pergulatan kelas, pergulatan ras bahkan hingga pergulatan jati diri, bangsa ini didirikan atas berjuta-juta manusia yang sama sekali berbeda.

Maka perbedaan itu jadi begitu berarti. Begitu bermakna. Pondasi bangsa ini didirikan oleh manusia yang berbeda, dari manusia yang berbeda dan untuk manusia yang berbeda. Negeri ini tidak berdiri hanya untuk orang Islam saja. Tidak untuk orang Jawa saja. Tidak untuk laki-laki dewasa saja. Melainkan untuk semua manusia Indonesia. Dan mereka lah ruh Indonesia, berbeda-beda dalam segala keragamannya tapi tetap satu saling menyayangi, menghargai dan mencintai antar sesama.

Jika saya doyan makan sambel oncom dan kamu suka sambal terasi, apakah layak kita saling benci?
Jika si Nina suka gonta-ganti tas belanja dan si Amir suka gonta-ganti klub sepak bola idola, apa mereka layak saling menghina?
Jika Anda menyembah pohon beringin dan tetangga menyembah botol obat kuat, apakah kita layak saling menyikat?
Jika dia percaya bahwa Tuhan ada 17 dan pacarnya bahkan tidak percaya Tuhan sama sekali, apa mereka layak saling menggurui dalam emosi?

Tidak!

Sejarah telah membuktikan, bahwa kita berbeda. Negeri ini, bangsa ini, para manusia ini didirikan dalam perbedaan dan itulah kekuatan mereka. Sehari-hari kita dihantam perpecahan, dirongrong provokasi, dihancurkan kepercayaannya bahwa kita manusia dan layak hidup sebagaimana manusia, diagitasi bahkan hingga iman terhadap perbedaan hampir mati.

Tapi toh kita tetap hidup. Kenapa?

Jawabnya sebenarnya hanya satu. Karena masih ada toleransi.

Lantas bagaimana jika toleransi pun sakaratul maut dirajam oleh sekelompok manusia berideologi kejam. Yang rela membunuh manusia lain hanya karena berbeda agama. Yang rela menghalalkan darah saudaranya hanya karena merasa pemilik sah republik dan surga.

Lantas bagaimana jika anti toleransi jadi epidemi. Menyebar lebih busuk dari hati satu manusia ke manusia lainnya. Membisikkan dendam-dendam pribadi. Pelan-pelan menghasut telinga, “Mereka sesat, harus diluruskan, jika tidak kita tidak mungkin dapat surga”. Lalu akhirnya pada suatu malam pendemi ini begitu berbahaya dan darah para minoritas pelan-pelan mengalir membeceki tanah. Merefleksikan bulan yang begitu gelap dan muram.

Di negeri ini, sekali lagi meleleh darah di muka bumi. Dibaliknya, tersebar rumor bahwa itu adalah darah manusia sesat yang layak dibunuh. Dibaliknya, tersebar cerita bahwa secara diam atau terang-terangan bahkan orang yang mengaku paling demokratis pun tak banyak upaya untuk buka suara. Di negeri ini, pernah dan telah terjadi kekerasan terhadap kemanusiaan.

Dan kemungkinan, masih akan terus terjadi.

Dulu tahun 65, jadi PKI artinya mati. Mayatnya dibuang di Bengawan Solo dan tidak ada penyelidikan, penanggung jawab bahkan rehabilitasi nama atas para korban.
Dulu awal 1990-an, jadi petani di sebuah desa di Lampung dekat pantai artinya mati. Sebab jika mereka meminta hak atas tanah yang sudah digarap sejak oleh nenek moyang mereka pada tangsi tentara yang tiba-tiba berdiri, mayatnya akan dibuang di hutan dan mungkin jadi santapan binatang.
Dulu pada 2004, jadi Munir artinya mati. Terlalu vokal banyak bersuara mengkritik para bajingan di atas mahligai sana, diracun hingga tewas dan semisterius alasan pelaku pembunuhnya.

Kini, jadi Ahmadiyah hampir mirip dengan mereka yang tersebut dahulu. Diburu, dicemooh, dibantai, dibunuh, bahkan ketika sudah meninggal pun sempat digali lubang kuburnya hanya untuk dihinakan. Di era digital ini Bandung tahun 2011 kuburan  seorang warga Ahmadiyah dibongkar dari Taman Pemakaman Umum. Jasadnya dibuang ditelantarkan hanya untuk dinistakan.

Kenapa ada di negeri ini? Negeri yang mengaku penduduknya ramah dan mudah senyum. Kenapa? Kenapa harus di negara yang mengaku ber-Bhineka Tunggal Ika?

Kalau memang pada ujungnya kita harus menghancurkan dan menistakan perbedaan, mengapa negeri ini tetap harus ada?
Jika hanya bisa diam melihat kekerasan terhadap perbedaan, mengapa masih mau (pura-pura) jadi orang Indonesia?
Yang lebih parah lagi, jika melihat semua kekejaman terhadap perbedaan dan keragaman manusia sudah lagi tidak menyinggung hati, apa memang iya kita masih punya hati?

Perbedaan itu anugrah. Walaupun tidak selalu menyenangkan, ia adalah fakta. Sehari-hari kita bergulat didalamnya. Jika tidak sadar bahwa perbedaan adalah realita lalu menafikkan perbedaan, jangan-jangan hati kita pelan-pelan hampir mati. Sebab telah dijangkiti virus hasad bin dengki.

Idiih, amit-amit jabang bayi.


Perbuatan Tercela (Balada Tomi Sang Polisi)

Akibat dulu sempat tinggal di kompleks perumahan polisi dan beberapa anggota keluarga bekerja di kepolisian RI, stok cerita saya soal polisi Indonesia yaa cukup banyak. Mulai dari yang heroik dalam menjalankan tugas hingga yang aneh-aneh bahkan sampai ke yang memalukan.

Anehnya, diantara sekian banyak cerita hanya yang heroik dan yang memalukan saja yang tetap membekas di otak saya hingga saat ini. Hehe, entah kenapa.

Sampai saat ini para pelaku di kejadian heroik masih teringat. Saya dan teman-teman masih hormat dengan mereka. Ada yang pincang karena kakinya ditembus peluru ketika menggagalkan perampokan. Ada yang mukanya penuh luka-luka bekas bacokan sebab tetap tegar menghadapi massa ketika harus berjuang membela minoritas. Polisi-polisi ini sudah tidak muda lagi. Ada yang sudah tidak dinas karena kondisi tubuh. Ada pula yang masih dinas namun sudah tidak di lapangan lagi. Tapi kalau nongkrong bareng, mereka selalu dapat tempat duduk bangku dan dapat gelas bersih. Tanda hormat.

Tapi… Tapiiii… Haha, tentu saja ada tapinya. Para polisi heroik ini tidak banyak. Jika ada, ia akan lalu jadi legenda. Dan ketika ia jadi legenda, posisinya tinggi nun jauh di langit sana. Jadi mitos. Jadi panutan, bagaimana polisi muda harus bersikap. Gagah berani meski dihantam gaji kecil dan kebutuhan sehari-hari yang makin tinggi.

Para polisi gagah berani itu, bukan teman pergaulan saya sehari-hari. Iya saya kenal, tapi tidak dekat.

Jadi jangan salahkan saya kalau teman-teman saya adalah para polisi yang …err.., begitu deh.

Teman-teman saya itu bukan orang jahat. Itu perlu saya garis bawahi, karena hampir tiap hari saya bersama mereka. Namun biar bagaimanapun mereka manusia. Kadang kekuatan yang mereka miliki digunakan untuk … err.., begitu deh.

Diantara teman saya yang ‘begitu deh’, Tomi sama sekali dapat dikategorikan alim. Di saat yang lain malam jumat ikut pengajian dan malam minggu ikut saya mabu-mabu’an, Tomi lebih memilih main dengan adik saya. Sementara track record adik-adik saya lumayan bersih ketika malam hari tiba.

Jadi kagetlah saya pada suatu malam minggu menjumpai Tomi tiba-tiba datang berkumpul dengan saya dan teman-teman sambil memegang botol miras Topi Miring yang sudah kosong. Ia sudah mabuk sebelum sampai ke sini. Ada apa gerangan?

Dalam kebingungan Rahman yang nampaknya mampu membaca raut muka di samping saya berbisik, “Bang, minggu depan seragamnya di copot”

Saya kaget. Saya tahu peristiwa ini. Pencopotan seragam polisi secara fisik di depan upacara adalah hal yang memalukan. Selain artinya ia di pecat dari keanggotaan, juga merupakan pelajaran bagi rekan-rekannya agar tidak melakukan tindakan yang sama. Pada proses ini seorang polisi yang melakukan tindakan indisipliner akan di panggil di tengah lapangan. Di bacakan alasan pencopotan seragam oleh komandannya. Lalu komandan akan mencopot baju seragamnya. Hingga si naas hanya akan terlihat memakai pakaian dalam saja. Setelah itu, ia diminta meninggalkan lapangan. Pada saat ia meninggalkan lapangan, semua rekan-rekan (atau tepatnya; mantan rekan) akan diperintahkan untuk membalikkan badan. Tanda tidak hormat.

Tomi seragamnya di copot? Kenapa? Masa sih begaul sama adik saya jauh lebih parah daripada bergaul sama saya? Ini para bajingan di samping-samping saya yang hobi mabuk dan kadang memeras rumah judi, kok yaa aman-aman saja dan tidak pernah dicopot seragamnya?

Rahman dan Boy ganti-gantian membela diri, “Gua mah abis malak nyetor bang ke komandan” atau “Kalo mabok kan duit sendiri bang, bukan duit komandan. Yang penting mah pas jam masuk, kita ada di sono sebelom komandan dateng”

“Lah terus si Tomi ngapain? Ngerampok terus nggak bagi-bagi?”

Rahman menggeleng, “Istrinya hamil, Bang”

Saya menyerenyitkan kening, “Istrinya hamil kok dipecat? Bukannya dinaikin pangkatnya atawa dinaikin gajinya biar bisa ngasih makan anak kok malah dipecat? Emang yang ngebuntingin siapa? Komandan?”

Boy diam, garuk-garuk kepala sebentar. Lalu menjawab, “Bukan gitu. Waktu nikah dia emang sih bilang komandan kalo mao kawin lagi. Terus komandannya ngamuk, Bang. Kalo kawin lagi, bisa-bisa dia dikeluarin. Tapi si Tomi kan anaknya mantep. Prestasi terus tuh anak. Jadi komandan diem-diem aja akhirnya. Nah pas itu istri mudanya yang hamil ketauan deh ama istri tuanya. Sebab si Tomi rupanya ngebagi jatah belanja bulanan. Istri tua marah, trus lapor komandan. Malah pake ngancem segala, kalo si Tomi nggak ditindak dia bakalan lapor ke Pusat. Sial dah nasib si Tomi”

Saya bengong. Melihat Tomi yang menatap gelasnya sambil mengunyah kacang pelan-pelan. Saya jadi terbayang wajah komandannya. Komandan yang sehari-hari tugas bersama. Yang sudah seperti ayah, kakak dan teman sekaligus sahabat hingga pastur tempat kita mengadu dosa.

Saya lihat wajah Tomi muram. Semuram lampu lapo tuak yang tengah kami singgahi.

Singkat cerita, Tomi dipecat. Benar-benar dilucuti seragamnya. Setelah itu bagaimana? Kelihatannya tidak perlu saya ceritakan di sini. Tragis sih. Adik-adik saya sudah melarang saya untuk cerita lebih lanjut soal Tomi pasca pemecatannya.

Life goes on. Tahun berlalu. Kali ini, apabila ada cerita soal polisi saya tidak lagi hanya teringat para pahlawan yang pincang atau yang codet tercabik belati. Tapi saya juga ingat Tomi. Entah dia ada di bagian mana.

Dan masih segar ingatan saya tentang Tomi ketika beberapa hari lalu, ada berita soal polisi yang bernama Edmond Ilyas melakukan tindakan tercela. Tentu saja Edmond bukan Tomi dan Tomi bukan Edmond. Tapi judul headline berita ‘Brigjen Edmond Terbukti Lakukan Perbuatan Tercela’ membuat saya semakin tergelitik.

Apa itu tercela? Tindakan tidak terpuji seperti polisi yang mabu-mabu’an dan memeras rumah judi macam teman-teman saya?

Ahh bukan rupanya.

Di sana tertulis;

Mantan Direktur Direktorat Ekonomi Khusus Polri, Brigjen Pol Edmond Ilyas terbukti melakukan perbuatan tercela karena tidak melakukan pengawasan terhadap anak buahnya dalam kasus Gayus HP Tambunan…
Edmond terbukti tidak melakukan kontrol terhadap penyidikan yang dilakukan oleh anak buahnya terkait pengusutan kasus pencucian uang, korupsi, dan penggelapan yang diduga dilakukan Gayus…
Edmond tidak melakukan kontrol sehingga penyidik kasus Gayus seperti Kompol M Arafat Enani dan AKP Sri Sumartini melakukan pertemuan dengan pengacara Gayus dan jaksa…
…Edmond juga diwajibkan meminta maaf kepada institusi Polri. Permintaan maaf tersebut disampaikan langsung oleh Edmon di depan komite komisi kode etik dan disiplin…

Saya tahu apa yang mereka bilang soal komandan dan sebenarnya tidak mau ikut campur lebih lanjut. Walaupun ada yang janggal. Tercela akibat tidak mengawasi anak buah? Tuduhannya agak ajaib, kalau ia tidak mengawasi anak buah, jadi apa sebenarnya yang beliau kerjakan? Ini kantor polisi loh. Yang hierarkis dan sistematis. Bukan pasar kaget yang berantakan dan awut-awutan.  Di mana setiap orang bisa transaksi di mana saja. Ini kantor polisi. Divisi khusus. Tempat orang-orang cerdas yang terbiasa menangani kasus luar biasa pelik. Kok bisa ‘melakukan sesuatu tanpa diawasi’. Aneh kan?

Di tambah lagi  kalimat ‘tercela’ dalam tuduhan. Wah itu lebih dahsyat daripada kalimat ‘tidak terpuji’ atau ‘indisipliner’.

Tapi whatever lah. Sebab tiba-tiba makin saya baca tulisan itu makin pula saya ingat Tomi. Ahh di mana ia sekarang? Mungkin kalau pangkatnya tinggi, tidak akan di copot seragamnya di muka publik. Mungkin ia hanya perlu meminta maaf saja.

Sebab jika korupsi yang sudah mampu menghancurkan hidup orang banyak saja bisa dimaafkan, mengapa punya istri hamil tiba-tiba menjadi dosa yang tak berampun?