(*Ini cerita tentang mimpi-mimpi saya*)
Saya selalu bertanya-tanya, apabila manusia dikaruniai kemampuan untuk bisa berfikir dalam tidur, apakah itu anugrah atau musibah?
Pertanyaan ini berangkat dari kondisi belakangan ini kemampuan saya untuk tidur bisa selama 12 jam sehari non-stop. Aneh? Iya aneh. Buat saya saja aneh. Saya tidur jam delapan malam lalu bangun jam delapan pagi, esok harinya. Hampir setiap hari begitu. Kalau ada hal yang mendesak penting, maka saya tidur sekitar sepuluh jam perhari. Sementara kalau mampir lalu menginap di rumah teman atau bepergian dalam rangka kerja yang harus konsentrasi bicara dan berfikir dalam jangka bersamaan, maka mau tidak mau saya harus tidur minimal delapan jam non-stop. Kurang dari itu, saya bisa jalan sempoyongan. Letih.
Padahal sejak punya anak saya biasanya tidur tidak lama. Jaman sekolah di Depok dulu malah kadang suka tidak tidur. Pulang sekolah main bola. Malam nyanyi-nyanyi dengan teman main gitar sampai diomeli tetangga karena sudah larut tapi masih berisik. Habis itu main kartu sambil tertawa-tawa, yang kalah dijepit pakai jepitan pengering baju. Begitu matahari muncul, cari nasi uduk untuk sarapan sambil cuci mata lihat gadis-gadis jogging pagi. Begitu puas, berangkat lagi ke sekolah naik bis gratis warnanya kuning. Begitu saja tiap hari.
Kalau mengantuk saya tidur. Dan saya kalau mengantuk suka tidak tahu diri dan tidak tahu kondisi, pokoknya harus tidur. Maka itu kemana-mana saya selalu bawa kantung tidur (sleeping bag) dalam tas. Ruang tidur favorit saya, kelas umum 3 SKS (artinya 3 x 45 menit) yang selalu mengajar 101. Ruangnya luas. Muridnya banyak. Saya ambil posisi di belakang paling ujung. Di bawah AC. Enak; dingin. Ditambah lagi suara guru yang bagaikan musik pengiring tidur. Tidur tidak lama, tapi bahagia.
Kenapa sekarang saya butuh tidur lama? Saya juga tidak tahu.
Kata beberapa sahabat saya yang psikolog, manusia tidur lebih banyak daripada biasanya karena kebutuhan. Kalau butuh, maka keinginan untuk tidur jauh lebih banyak daripada biasanya. Sementara kata teman saya lainnya yang jadi guru antropologi, pola tidur manusia itu dipengaruhi oleh budaya. Seberapa butuhnya pun ia tidur, maka kultur yang ia percayai yang akan menentukan seberapa banyak ia tidur. Walaupun malam begadang namun kalau pagi sudah janji, faktor budaya yang akan menentukan apakah ia akan terlambat atau tidak.
Jadi, saya tidur lama gara-gara butuh atau budaya? Atau jangan-jangan saya memiliki kebutuhan akan budaya? Atau budaya butuh? Halah… Bikin pusing saja.
Yang pasti, kalau saya bisa berfikir ketika tidur, pasti saya bisa menyelesaikan banyak pekerjaan sambil tidur. Walaupun kemungkinan lain yang lebih besar adalah, kalau begitu tidur itu bukan istirahat.
Dalam film Perancis, Science of Sleep (walaupun bukan film aksi namun film keluaran tahun 2006 ini bagus, rekomendasi), diceritakan tentang seorang pria bernama Stéphane yang kadang memiliki mimpi dan imajinasi yang bercampur dengan realita. Jadi kadang ia tidak tahu apakah ia sedang tidur lalu bermimpi, atau sedang bangun dan mengalami imajinasi. Hidupnya gabungan antara situasi alami dengan surealis.
Apakah hidup begitu sulit? Tidak tahu antara yang nyata dan tidak? Well sebaiknya Anda tonton sendiri filmnya.
Tidur itu misterius. Manusia sejak ribuan tahun berusaha menganalisa tidur. Lebih canggih lagi, menganalisa mimpi. Dalam bukunya yang berjudul Metafisika (bab Beta dan Gamma), bahkan filsuf sekaligus pemikir hebat Aristoteles mengklaim bahwa manusia memiliki kepingan-kepingan puzzle kejadian diri yang secara sadar atau tidak sadar akan muncul dalam fase teratur hidupnya (dalam hal ini salah satunya adalah pola tidur). Saat ini, kita menyebut pemunculan kepingan itu sebagai mimpi.
Biasanya, mimpi itu sukar dilacak. Artinya kondisi kebanyakan orang memang pada umumnya suka lupa bermimpi apa. Jika memang dalam kondisi tertentu yang menyangkut hal tertentu, maka seseorang bisa mengingat mimpinya. Itu pun biasanya tidak lengkap.
Namun di dunia ini ada tipikal manusia yang bisa mengatur mimpi. Bukan mimpi orang lain, melainkan mimpinya sendiri. Mereka disebut dengan Oneironaut. Berasal dari bahasa Yunani Kuna ‘oneiros’, yang artinya mimpi. Tipikal manusia ini mampu mengambil kontrol karakter bahkan lingkungan ketika sedang bermimpi. Lebih dahsyat lagi, dikabarkan ia mampu berfikir dan mengambil aksi dalam mimpinya tersebut.
Para Oneironaut ini dikabarkan memiliki kemampuan tidur jauh lebih banyak daripada manusia lainnya. Dorongan ini timbul akibat keinginan kuat untuk ‘bisa menjadi apa saja’ dalam realita mimpi mereka. Disebut dengan realita, sebab untuk mereka apapun yang terjadi dalam mimpi seakan benar-benar nyata.
Di Berkeley Amerika Serikat, ada sebuah universitas bernama John F Kennedy University. Di sana ada satu program studi bernama Telaah Mimpi. Jika Anda pikir mengada-ada, ada baiknya berkunjung langsung ke sana untuk melihat dengan kepala mata. Sebab di tempat itu kita bisa mengetahui secara ilmiah bahwa ternyata perempuan lebih sering bermimpi ketimbang laki-laki. Dan ternyata, bahwa ada satu keahlian khusus yang amat susah namun bisa dipelajari bernama ‘Recalling Dream’, yaitu memanggil mimpi. Dimana seseorang mampu secara detail mengulang kembali ingatan terhadap mimpinya; ketika ia sedang terjaga.
Apa gunanya studi mimpi tersebut? Ketika pertama kali mengetahui dan melihatnya, saya pikir ini adalah salah satu cabang keilmuan yang gunanya menghabiskan pajak rakyat dan uang orangtua saja. Hehehe…
Tapi ternyata saya salah. Orang-orang yang mengidap PTSD (Post Traumatic Stress Disorder, gangguan kecemasan parah dan berkembang setelah menghadapi setiap peristiwa yang menghasilkan trauma psikologis) yang susah tidur akibat dihantui mimpi buruk, ternyata bisa terbantu melalui latihan-latihan menghadapi mimpi dalam tidur mereka. Diantaranya para pasien terlihat adalah prajurit-prajurit cacat yang baru pulang dinas dari Irak atau Afganistan.
Oke sekarang balik lagi ke saya (*Ini kan blog saya, suka-suka saya ngomongin diri saya dong. Kok saya malah ngomongin orang lain? Huh!*).
Sejak musim panas tahun lalu, saya kelihatannya mengidap psikomatis. Sebuah kondisi dimana kordinasi antara tubuh dengan pikiran tidak sinkron lagi akibat trauma psikologis. Gejala yang sama yang biasa dialami pasien PTSD. Contoh yang paling sederhana dan terlihat jelas adalah, semua teman-teman bingung ketika melihat saya memegang gelas untuk minum dengan dua tangan. Karena apabila dipegang dengan satu tangan saja, terlihat bahwa tangan saya sedemikian gemetar dan sering sekali gelas malang itu jatuh ke lantai akibat susah terpegang.
Gejala tersebut diimbangi dengan tidur sebanyak 14 jam perhari yang diselingi oleh banyak sekali mimpi buruk.
Lama kelamaan, seiring dengan waktu (dan Anda boleh percaya atau tidak, tapi katanya dalam masa itu orang se-Cilincing ikutan mendoakan agar saya cepat pulih) kondisi aneh tersebut berangsur hilang perlahan. Dan ketika gejala ini menghilang perlahan, saya mulai kembali beraktifitas sebagaimana biasanya. Yaitu sibuk luar biasa.
Seorang sahabat saya yang kini mengajar cabang keilmuan filsafat pernah berkata suatu hari, “Orang yang hidupnya terluka semestinya bangga. Sebab mampu mengatasinya dan tetap hidup. Semestinya, ia merawat luka itu. Membasuhnya. Mengeringkannya. Menjaganya hingga tidak infeksi. Hingga suatu hari menyadari bahwa luka hidupnya telah kering dan sembuh”
Salah satu kesalahan fatal saya adalah menganggap bahwa mengeringkan luka hidup adalah dengan cara balik lagi ke rutinitas kesibukan harian. Nyatanya, ia tidak menghilangkan luka. Namun lebih sekedar semacam pelarian. Jika ada manusia yang lari dari luka hidup pada kesenangan badaniyah seperti menumpulkan rasa dengan alkohol atau malah memperbanyak rasa dengan seksual; maka saya lari dari luka dengan menimbun diri dengan kesibukan pekerjaan.
Dan jika suatu saat luka itu terbuka kembali, saya butuh kompensasi. Maka itu saya pikir, saya butuh tidur 12 jam sehari. Untung saja saya bukan Oneironaut, jadi tidur dan mimpi bukanlah juga pelampiasan atas kehidupan ketika terjaga.
Membagi cerita mimpi ini kepada publik bukanlah sesuatu yang mudah. Di sini di tulisan ini saya dengan amat sadar bicara hal yang paling intim dari hidup saya, yaitu hubungan antara saya dengan diri saya sendiri. Saya pribadi menganggap menulis mengenai aib atau penyakit terkesan sebagai salah satu konsep tak sadar dari keinginan eksibisionis. Dalam merangkaikannya; kata demi kata, huruf demi huruf, kadang menjadi beban yang suatu saat memiliki konsekuensi luar biasa di kemudian hari. Sialnya, hidup saya memang tidak jauh dari aib dan penyakit.
Namun suatu hari saya dapat nasihat dari teman di belahan ujung dunia sana, ia bilang, “Bang, bagi ilmu kita jadi makin kaya. Bagi masalah, kita jadi makin ringan”. Intinya, beliau senang melihat saya membagi cerita hidup yang boleh dibilang tidak terlalu manis ini, dengannya.
Sejak saat itu, saya memang masih tidur dalam jangka waktu yang sedemikian lama perharinya. Namun sudah tidak terlalu banyak lagi dicengkeram mimpi buruk. Dan atas dasar itu pula saya bagi tulisan ini. Semoga dengan berbagi, hidup ini jadi lebih berarti.
Itu cerita mengenai mimpi saya.
Lantas sekarang, mimpi Anda apa?
(*Ketika saya tanya ini pada sahabat saya Odoy, dia bilang “Gua mimpi Jakarta nggak kebanjiran tiap tahunnya. Gua mimpi koruptor pada insap. Gua mimpi kasus Lapindo beres. Gua mimpi tanah orang Kalimantan, Papua, Sumatera, Bali dan semua tanah manusia di Indonesia nggak dikeruk buat kepentingan para bajingan”. Saya tidak bisa bilang apa-apa. Saya pikir kalau saya jawab “Lu harus tidur lebih dari 12 jam perhari” saya akan menyakiti perasaannya. Sebab saya tahu ia bukan pula seorang Oneironaut*)




Anda tahu Smurf, makhluk biru kecil rekaan komikus Belgia Pierre Culliford (yang lebih dikenal sebagai Peyo). Kalau tidak tahu, ijinkan saya sedikit cerita mengenai mereka.