Monthly Archive for April, 2011

Gado-Gado Pak Heru

“Lapar nih, makan siang yuk? An, kita makan dimana?” Tanya Girda sambil mengusap kepalanya yang botak licin.

Aan menjawab, “Di kebon aja. Si Arip pasti belum pernah nyobain gado-gado Pak Heru”

Saya terbengong-bengong menatap dua manusia itu yang entah bagaimana sibuk diskusi mengenai bumbu gado-gado diantara rerimbunan tumpukan naskah karya Chomsky. Perut saya keroncongan. Lapar. Maka itu memberanikan diri bertanya, “Hey bung, gua nggak punya duit nih. Gimana gua bisa makan siang dong?”

Girda menatap Aan, “Kau yang bayarin yaa An siang ini, besok gua lah. Gua juga lagi kantong tipis nih hari ini”

Aan menatap saya dan Girda bergantian, “Gila kalian bedua. Sampe makan siang aja kasbon sama gua”. Yang dijawab Girda dengan tawanya yang mirip kekehan tokoh Bert dalam serial anak-anak Sesame Street. Saya sih, seperti biasa hanya cengar-cengir saja sambil garuk-garuk kepala.

Akhirnya kami bertiga keluar dari kantor itu menuju tempat makan siang. Yang mengagetkan saya, ternyata yang mereka maksud dengan ‘gado-gado kebon Pak Heru’ adalah benar-benar di kebun depan kantor mereka. Sepuluh meter dari pintu keluar, ada warung cukup menampung orang sekitar 20. Ternyata, itu warung makannya. Terletak di dalam halaman depan rumah Pak Heru yang cukup luas.

Dan kantor mereka, menempel dengan rumah Pak Heru.

Kami bertiga lalu duduk takzim di bangku kayu panjang. Menatap meja kayu panjang dan beberapa kaleng kerupuk di atasnya. Sambil malu-malu kucing, cengiran saya dilihat Aan. “Nih Rip, kerupuk udangnya. Da, kau mau kerupuk kulit?” kata Aan sambil melemparkan sebungkus plastik kerupuk berwarna putih berbentuk bundar lebar ke hadapan saya.

Setelah diberi kerupuk, jiwa saya tenang kembali (*Iya, saya kalau lapar memang kebingungan. Maunya melamun saja. Entah kenapa? Misterius sekali ini penyakit.*). Lalu mulailah saya mengoceh kiri kanan. Girda dan Aan menoleh. Mungkin tertarik mendengar beberapa dongeng saya. Tidak lama kemudian, gado-gado dan es teh manis datang. Saya berhenti mengoceh dan makan dengan lahap. Jiwa saya makin tenang. Hahaha.

Habis makan, dengan santainya saya berteriak pada bapak-bapak yang kelihatannya tadi mengulek sambil kacang, “Pak Heru! Enak banget bumbu gado-gadonya. Apa rahasianya Pak?”

Si tukang gado-gado diam saja. Menoleh pun tidak. Girda dan Aan melongo memandang saya. Aan menimpali, “Lu ngomong ama siapa, Rip?”

Dengan tanpa dosa saya menjawab, “Ama Pak Heru, tukang gado-gadonya. Kok dia nggak nyahut yaah?”

Girda tertawa tebahak-bahak (yang sumpah mati mengingatkan saya pada Bert). “Gila lu Bung. Pak Heru itu yang punya rumah dan kebon ini. Yang dagang gado-gado sih bukan Pak Heru!”

Saya kaget. Tersipu. Lantas cengar-cengir malu akibat sok tahu.

Itu pertama kali saya dengar nama Pak Heru. Kalau ingat nama Pak Heru, saya pasti ingat ‘tragedi gado-gado sok tahu’. Hehehe.

Kejadian ini sudah berlangsung tahunan lalu. Entah pastinya kapan saya lupa. Saya pikir sekitar lima atau enam tahun lalu. Waktu itu saya ada di Jakarta. Tinggal untuk sementara. Singgah dalam beberapa bulan saja.

Sekarang. Girda entah kemana dan Aan juga entah ada dimana, saya tidak tahu. Yang pasti, saya sudah hampir lupa kejadian itu.

Dua minggu belakangan ini, tiba-tiba gado-gado Pak Heru muncul lagi di benak saya. Beberapa surat kabar Indonesia memberitakan bahwa Pak Heru makamnya dibongkar. Sekelompok orang berjubah reliji meminta agar jenazah Pak Heru dibongkar dari peristirahatan terakhirnya di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Kata si penuntut, Pak Heru terlibat gerakan PKI. Tak layak jadi pahlawan.

Oh ya, yang saya bilang dari tadi soal gado-gado dan Pak Heru, memang tidak lain dan tidak bukan adalah bapak Letnan Kolonel Udara Heru Atmojo almarhum yang meninggal akhir Januari 2011 lalu. Yang hingga hembusan nafas terakhirnya, tidak pernah terbukti bahwa beliau terlibat G30SPKI. Beliau hingga akhir hayatnya dituduh, distigma, dikotori namanya tanpa pernah sedikitpun dibela oleh negara yang pernah dibelanya dengan seluruh butir-butir keringat dan darah dalam masa revolusi kemerdekaan.

Iya benar, Pak Heru yang itu.

Mendengar berita itu, saya kaget. Dan lebih kaget lagi ketika membaca bahwa Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono berkata bahwa pemindahan jenazah Pak Heru sesuai dengan aturan.

Aturan dari mana? Adakah aturan di Republik Indonesia bahwa:

  1. Panglima Tentara Nasional Indonesia berhak memindahkan makam?
  2. Panglima Tentara Nasional Indonesia berhak menentukan dimana pahlawan dimakamkan?
  3. Panglima Tentara Nasional Indonesia mendengar dan menuruti ide sekelompok kecil manusia ekstrim berjubah reliji, seperti kerbau dicocok hidungnya?

Kalau iya, layak berdukalah kalian para tentara. Wahai teman-temanku, saudaraku, tetanggaku, dan para brotherhood yang sudah ada maupun akan tiba dalam jajaran satria TNI; aku sedih atas nasib kalian. Sebab jika suatu hari negeri ini akan dilumat oleh kekuasaan gelap dan kalian mati-matian membelanya, dan lalu kalian pun akhirnya meninggal dan kami mengangapmu pahlawan. Maka untuk mengubur jasad kalian pun kami harus pikir-pikir dulu sebelum mengali lubang. Yang lebih sedih lagi, jika sekelompok fasis bahkan meminta jenazah kalian dikubur di tempat sampah maka bos kalian, si Panglima TNI itu mungkin akan diam dan menurut saja.

Memanggil seseorang dengan kata pengecut adalah sebuah kalimat keras yang perlu alasan amat kuat untuk menggunakannya. Namun sebagai seorang tentara, mungkin sang Panglima perlu belajar lagi apa artinya mati.

Atau mungkin, perlu belajar lagi apa definisi seorang pahlawan.

Jika kita bahkan gagal membela mereka yang mati untuk kita, bagaimana kita bisa membela mereka yang berupaya sekuat tenaga untuk tetap hidup… untuk kita?


Tukang Cak

Masa sekolah dulu, boleh dibilang saya sama sekali tidak memiliki prestasi yang memadai. Nilai saya untuk semua mata pelajaran adalah rata-rata. Sementara yang ada dalam kategori di bawah rata-rata, jelas semua mata pelajaran yang berbau norma moral dan agama. Entah kenapa segala sesuatu yang berhubungan dengan norma moral dan agama, nilai saya selalu merah.

Satu mata pelajaran yang nilainya di atas rata-rata, mungkin hanya matematika. Dan itu pun tidak semua matematika, sebab saya hanya menyukai cabang keilmuan matematika yang bernama teori kemungkinan (probability theory).

Mengapa saya menyukai teori kemungkinan dalam matematika? Sebelum saya jawab ini, ada baiknya jika saya menerangkan apa itu teori kemungkinan dalam matematika.

Menurut kamus, teori kemungkinan dalam matematika adalah;

Cabang matematika yang bersangkutan dengan analisis fenomena acak. Objek utama dari teori kemungkinan adalah variabel-variabel yang terlihat acak atau kejadian-kejadian tertentu. Peristiwa matematis dapat dengan jelas terlihat dalam kejadian yang berkembang dari waktu ke waktu dalam mode yang tampaknya acak. Misalnya jika seseorang melemparkan koin atau dadu dianggap peristiwa acak, maka jika ia berulangkali mengulangi urutan kejadian acak tersebut maka akan menunjukkan pola-pola tertentu, yang dapat dipelajari dan diprediksi. Teori kemungkinan adalah dasar statistik. Ia berlaku untuk deskripsi sistem yang kompleks seperti misalnya digunakannya pada mekanika statistik untuk menjelaskan banyak hal

Waktu pertama kali Bu Atu (pengajar matematika teori kemungkinan) menjelaskan hal ini, saya langsung konsentrasi. Di otak saya hanya dua kata kunci yang tertangkap. Satu ‘dadu’. Satu lagi bagian ‘menjelaskan banyak hal’.

Gila! Gua bisa kaya kalo begini. Itu satu-satunya hal yang ada di otak saya. Bagaimana tidak, judi yang selama ini saya anggap misteri, ternyata bisa dipecahkan dengan matematika!

Waktu zaman saya belajar teori ini, Indonesia sedang keranjingan judi namanya Togel. Singkatan dari Toto Gelap. Judi Toto sendiri katanya datang dari Malaysia/Singapura. Entah saya tidak tahu pastinya, yang pasti di di kampung saya Cilincing manusia berlomba-lomba pergi ke bandar setiap malam untuk bertaruh pada sepasang angka (atau lebih) pada beberapa carik kertas yang disediakan bandar judi lokal. Ada embel-embel gelap, yaa karena memang bukan resmi binaan pemerintah.

Warga keranjingan Togel. Murah sih, seribu lima ratus rupiah sudah dapat bertaruh untuk dua angka. Kalau menang, bisa dapat puluhan kali lipatnya. Mulai dari tukang becak hingga bos kapal nelayan, semuanya hobi pasang judi togel.

Togel lalu jadi epidemi. Di poskamling tempat warga berkumpul, pasti selalu ada sebuah kertas berukuran A4 fotokopi yang isinya adalah gambar-gambar binatang atau benda yang tertera dalam kotak-kotak kecil. Di bawah icon-icon tersebut ada angka, biasanya dua huruf. Ketika akhirnya sudah jadi wabah, bahkan tiang listrik pun ditempeli oleh kertas-kertas tersebut. Yang pasti, kampung saya berubah bagaikan masa pemilihan lurah. Dimana-mana ada kertas promosi. Isinya icon dan angka.

Apa sebenarnya isi kertas fotokopi tersebut? Sederhana. Katanya itu penafsir mimpi. Kalau suatu malam Anda bermimpi diterkam macan, lihat saja kertas itu. Pada icon macan dibawahnya tertera angka 15. Maka pergilah ke bandar, pasang angka 15 sambil berharap mimpi Anda jadi kenyataan. Lalu lantas jika suatu hari bermimpi bertemu ular di sungai, maka pasanglah angka 23. Jangan 32, sebab itu artinya ular laut, bukan ular yang hidup di air tawar.

Mengapa warga kampung saya sudah sedemikian percayanya pada mimpi?

Ketika kemiskinan sudah menjerat, keadilan sosial hanyalah angan-angan, siapa lagi yang bisa dipercayai selain mimpi. Maka itu, jauh lebih banyak para penggila judi Togel adalah para nelayan kecil hingga tukang becak ketimbang para bos kapal. Buat mereka, hanya mimpi yang dimiliki dan satu-satunya yang murah yang bisa terbeli.

Lalu, apakah saya jadi tergila-gila dengan judi togel pula sebagaimana warga kampung lainnya?

Tunggu dulu ahh. Cerita saya belum sampai ke sana. Mari kita balik lagi ke soal mimpi. Masih ingat cerita di atas bahwa warga mengandalkan taruhan mereka pada mimpi. Secara literal, benar-benar mimpi. Artinya mereka tidur dulu untuk mendapatkan mimpi yang lalu ditukar secarik kertas demi mendapatkan mimpi baru.

Jadi begini, jika seorang warga (mari kita sebut saja si Fulan) bermimpi bertemu lantas diterkam macan, maka ia dengan tidak segan-segan memasang angka 15 pada taruhannya. Tapi bagaimana kalau pada sebuah siang di Cilincing yang panas ia bermimpi bertemu macan di tikungan, lantas dikejar singa hingga pematang lalu ditelanjangi ular di sawah hingga setelahnya diperkosa ramai-ramai oleh gajah? Angka apa yang harus ia pasang?

Nah ini lah gunanya saya (dan gunanya teori kemungkinan). Yang pasti saya tidak akan menjelaskan disini betapa dengan ugal-ugalannya saya menggabungkan teori kemungkinan dan analisa Freud dalam mengubah mimpi para manusia malang itu menjadi angka kongkrit yang mereka pasang sebelum masa pengundian tiap malam tiba.

Saat ini, mungkin jabatan yang saya pegang bisa disebut setara dengan kalimat ‘penasihat spiritual’. Zaman itu, nama saya disebut dengan panggilan ‘tukang cak’, orang yang melihat angka-angka acak. Padahal sebenarnya, dalam zaman apapun saya pikir sebutan untuk saya saya adalah manusia yang keterlaluan menyedihkan yang mencoba mengambil keuntungan dari para manusia malang.

Setiap konsultasi, saya dibayar seribu rupiah. Lumayan. Jika sehari ada sepuluh pelanggan, then you do the math. Zaman itu, dengan uang hasil konsultasi saya bisa beli rokok sebungkus, mie instan pakai telor bahkan berbotol-botol coca-cola. Lambang pergaulan anak muda. Jadi, saat itu kebahagiaan saya berdiri di atas jemari para nelayan dan tukang becak miskin yang terus bermimpi. Sungguh mengenaskan.

Eh apakah sudah saya bilang kalau nilai moral dan reliji saya rendah? Kalau sudah, Anda mungkin bisa mahfum manusia macam apa saya itu. Sebab selama saya bisa mengkalkulasi semua angka dan kemungkinan, saat itu saya akan tetap jalan terus. Menyenangkan.

Iya, saya jalan terus. Selama karir saya sebagai tukang cak, padahal hanya tiga kali saja bisa menebak benar. Artinya sederhana, teori kemungkinan yang saya agung-agungkan ternyata tidak bisa mengalahkan judi togel. Pola angka yang saya bangun, tidak terbukti sukses. Kalau setiap malam ada dua puluh pelanggan dan dalam sebulan hanya mampu menebak tiga taruhan dalam empat digit yang benar, maka perbandingan analisa acak saya boleh dibilang sama sekali tidak berhasil.

Tapi apa lantas para nelayan dan buruh pabrik tekstil kecil itu percaya walaupun perhitungan matematis saya gagal namun saya bukan tukang cak? Hohoho… Tidak. Sama sekali tidak. Mereka tetap percaya kalau saya mampu mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Kepada siapa lagi mereka bisa berharap. Mimpi mereka untuk hidup layak sebagai manusia normal sudah binasa. Maka jika mereka masih punya mimpi diatas mimpi, yaa harus dijaga. Maka itu saya tetap eksis.

Mereka percaya kalau saya ‘sakti’. Dan sebagai orang sakti tentu saya punya previlige khusus. Mirip ambtenaar atau keturunan darah biru pada masa kolonisasi dahulu. Jadi ketika perhitungan saya salah, tentu saja mereka menyalahkan diri sendiri dengan kalimat, “Ahh emang udah gini kali nasib gua malem ini”. Sama sekali tidak pernah menyalahkan saya. Sebab besok malam kami akan berkumpul kembali di poskamling untuk sibuk menganalisa mimpi dan menebak angka. Tentu saja dengan sukarela uang seribu rupiah berpindah tangan setelahnya.

Suatu hari di poskamling, sudah bisa ditebak. Ada yang bertanya, “Kenapa lu ga masang?” pada saya.

Saya jawab, “Ilmu gua luntur nanti”

Seorang bapak-bapak yang mengepulkan asap rokok kreteknya duduk berselonjor ke dinding pos. Baru pulang dari laut. Masih bau amis, bertanya lanjut “Emang belajar di mana dulu gituan”

Saya jawab sekenanya, “Pak Ramli pan tau ndiri, engkong aye orang Banten. Kalo liburan sekolah aye mah ke sono, Pak. Ngelmu. Di sono di Kasemen. Deket mesjid agung. Ini ilmu putih, Pak. Dapetnya aja dari kiyai”

Mendengar itu, biasanya warga kampung saya jauh lebih percaya daripada alasan-alasan lainnya. Ketika hidup sudah tidak lagi logis, rasionalitas bukan sebuah jawaban yang layak terdengar. Apalagi kalau sudah bawa-bawa simbol agama. Seakan jawaban apapun yang tersampaikan sudah direstui oleh langit. Dukungan pembenaran atas mimpi mereka.

Saya malas menjawab kalau saya lebih percaya upaya dagang dengan transaksi jual beli jauh lebih signifikan menguntungkan daripada judi. Pertama, akibat desakan ekonomi sehari-hari mereka biasanya sudah mulai mual duluan apabila mendengar kata ‘modal’. Kedua, saya sering adu argumen yang berakhir absurd ketika mereka menjawab, “dagang kan urat. Cuman yang punya urat dagang doangan bisa dagang”. Ketiga, sebab beberapa orang menganggap bisnis itu tidak lebih dari judi dalam bentuk lain. Keempat dan sekaligus yang terakhir, saya pernah memicu perkelahian karena bilang, “Judi itu ibarat kata naek haji. Buat nyang mampu aja lah. Orang susah ngapain pake judi segala!”

Jadi, maka itu saya lebih memilih menjawab sekenanya.

Namun jawaban sekenanya itu tentu saja tidak berlaku di depan muka Ibu saya yang curiga anaknya sudah berbulan-bulan tidak minta uang jajan. Dan cerita ini pun akhirnya berakhir dengan anti klimaks. Seorang anak yang masih tinggal di rumah orangtua, tidak sanggup melawan meneruskan bisnis di area perjudian demi menjaga nama baik keluarga.

Saya berhenti jadi tukang cak. Profesi yang rendah dimata para agamawan karena membantu suburnya industri judi. Sekaligus profesi yang hina di mata moralis, karena sama sekali tidak etis ikut menghisap darah para manusia yang berada dalam jaringan rantai makanan paling rendah.

Tidak lama setelah saya berhenti, pemerintah dan para cendikiawan agamis memaklumkan perang terhadap judi togel. Tiap malam di kampung kami ada razia polisi. Bandar yang kebetulan buka lapak, disergap dan ‘dibina’. Para nelayan dan buruh kecil tidak lagi duduk bersandar di poskamling menanti semilir angin laut yang membawa kantuk mereka mendulang mimpi. Semua orang takut berhubungan dengan judi togel. Di koran-koran muncul fatwa bahwa togel lebih menakutkan daripada HIV.

Semua orang bekerja. Perjudian dimusnahkan.

Setelah judi musnah, pajak televisi kok yaa jadi murah. Dimana-mana warga ramai-ramai memborong televisi. Ada yang ditaruh di ruang tamu jadi pelengkap perabotan pajangan. Ada yang ditempatkan di ruang makan, seakan bagian dari lauk pauk. Ada yang ditaruh di kamar tidur, mungkin untuk jadi saksi ketika mereka melakukan adegan reproduksi.

Dimana-mana orang punya televisi.

Ketika televisi jadi budaya baru, muncul serial-serial yang tiba-tiba membuat ibu-ibu jadi pecandu. Lalu menular ke anak-anak mereka. Lalu tentu saja para suami mulai ikut-ikutan.

Bedanya dengan judi togel, kini dapur jauh lebih ngebul. Uang yang biasanya dihamburkan para bapak di secarik kertas berisi angka, kini bisa untuk beli makanan dan seragam sekolah anak. Ibu-ibu mulai bisa bersolek. Sales keliling menjajakan kosmetik. Tentu saja biar cantik. Biar mirip bintang yang mereka lihat di televisi. Gaya bicara pun mulai berubah, anak-anak SD bahkan pernah teriak kalimat “Oooh tidaak!!” ketika melihat temannya jatuh dari sepeda. Meniru gaya bicara para artis sinetron. Bapak-bapak mulai bermimpi bisa naik mobil dan bahkan memiliki kendaraan roda empat. Sebab itulah tipikal bapak ideal yang mereka lihat di televisi.

Iya, televisi membuat perbedaan.

Sungguh beda dengan ketika judi togel masih ada.

Sebagaimana teori kemungkinan, jika ada perbedaan maka pasti ada persamaan. Loh apa persamaannya antara televisi dan judi togel?

(*Empat paragraf sisa dipotong. Selain kepanjangan isinya kelihatan seakan saya mau menceramahi para pembaca budiman yang cerdas dan sudah tahu jawabannya apa. Ahh memang saya siapa sok-sokan mau menceramahi warga kampung. Saya kan cuma tukang cak yang kehabisan ladang garapan*)


Suatu Hari Di Pasar

Saya cerita begini kepadanya:

“Beberapa minggu lagi anak gua ulang tahun, gua mao dong beliin hadiah buat anak gua. Umurnya bakal tiga tahun. Gua mao beliin maenan anak-anak. Nah gua carilah maenan di pasar. Disana gua ngeliat karpet. Bagus. Karpet itu karpet maenan anak-anak, ada angka dan huruf. Jadi anak gua selain main, juga bisa sambil belajar. Pas gua tanya sama yang jual, dia bilang harganya sekian. Waduh, gua nggak punya uang. Jadi sambil permisi gua jawab, bang sori yaah saya cuman nanya doang. Saya nggak bawa uang. Tiga hari lagi saya gajian, nanti deh saya balik buat beli. Dua hari lagi abang masih jualan kan? Anehnya si abang tukang karpet itu diem aja nggak jawab pertanyaan gua. Tapi trus akhirnya buka mulut. Lo tau ga dia jawab apa?”

Ia menggeleng. Tidak tahu. Maka lantas saya teruskan cerita.

“Si abang tukang karpet mukanya jadi asem. Dia sambil ngotot berkali-kali ngomong, nih karpet tinggal satu-satunya. Saya nggak jamin masih ada sore ini. Kalo nggak buru-buru ambil, saya ga jamin situ masih bisa dapetin nih karpet. Lah gua kaget dong si abang jawabnya begitu. Maka itu gua tanya lagi, bang… abang dagangnya hari apa aja? Si abang sambil mukanya tetep asem jawab, yaa nggak tapi kalo sabtu pas kamu gajian sih keliatannya saya dagang. Pas gua denger jawaban ini, mukanya tetep asem. Ya udahlah, gua cabut aja pulang ke rumah. Daripada lama-lama di situ mungkin bakalan dia jadi tambah kesel”

Saya berhenti sebentar. Menenggak es teh. Ia menatap saya dengan rasa ingin tahu. Iya, saya yakin ia tidak percaya bahwa dongeng saya hanya berhenti di titik tersebut. Lantas ia bertanya lebih lanjut apa yang saya lakukan.

Saya rasa hari itu mungkin saya punya keinginan untuk bercerita. Matahari bersinar hangat di teras rumah. Menerpa meja kami yang menghadap jalan raya. Saya lanjutkan.

“Besoknya, gua ke pasar lagi. Lu tau ga… Si abang masih ada. Masih dagang dia. Nah gua sengaja melakukan penampakan di depan muka dia. Biar dia tau kalo gua lagi ngeliatin dia. Itu karpet yang gua incer, belum kejual. Masih sisa satu-satunya. Tapi dia diem aja tuh. Trus lusanya, gua dateng lagi ke pasar. Juga sama. Dia tau gua ngeliatin dia dan karpetnya juga belum kejual. Pas hari ketiga gua dateng lagi ke pasar, dia tetep ada dan karpetnya juga masih ada. Kesimpulan gua, dia dagang di situ tiap hari dan karpetnya emang ga laku-laku trus ngebohong sama gua biar gua beli karpet cepet-cepet. Tapi pas hari ketiga itu, mukanya tambah asem pas ngeliat gua. Dia sambil teriak bilang, hari ini kamu kan gajian ayo beli karpet saya!”

Ia berhenti mendekatkan bibir gelas ke mulutnya. Bertanya, “Trus lu beli ga karpetnya”

“Nggak. Gua bilang aja kalo gajian gua diundur”

“Astaga, lu bohong kan? Sejak kapan gajian lu diundur? Ngapain juga sih lu bohongin pedagang kecil?

“Iya gua bohong. Tapi entah kenapa gua bohong, gua juga nggak tahu. Mungkin gua marah karena dia ngebohong duluan. Mungkin gua kecewa karena dia juga dari awal ga tulus ketika mao transaksi bisnis ama gua. Iya gua bohong. Iya, gua salah”

Saya diam menunduk. Tiba-tiba ingat putri saya. Lalu merasa tambah bersalah. Hati saya tidak nyaman. Saya tidak akan mencoba melakukan pembelaan diri bahwa untuk membalas kebohongan harus pula dengan kebohongan. Atau bahwa si pedagang karpet melakukan itu atas dasar kemungkinan bahwa ia miskin dan butuh marjin untung harian. Atau bilang bahwa saya juga buruh kecil yang harus berpikir berulang-ulang untuk beli karpet hadiah buat anak sebab artinya akan memotong belanja kebutuhan hidup bulanan. Atau bohong adalah salah satu etika bisnis modern. Tidak, saya tidak butuh semua pembelaan itu.

Bisnis itu bagaikan relasi dalam cinta, tidak akan jalan tanpa saling percaya. Si tukang karpet salah? Iya. Saya salah? Iya. Lalu diantara kami timbul rasa saling tidak percaya? Iya. Lah kalau semuanya iya, solusinya apa?

Ia bertanya lagi sambil terpejam dengan wajah menghadap matahari. Hangat. Saya bilang padanya bahwa saya tidak punya jawabannya saat ini. Sebagaimana saya tidak punya jawaban atas semua masalah dalam hidup.

Karena ia tidak bilang apa-apa dan siang ini semakin menjemukan, saya bertanya kepadanya, “Lu gantian sekarang. Pernah bohong sama pedagang?”

“White lies atau bohong biasa?”

Saya cengar-cengir menjawabnya, “Apa bedanya, bohong yaa bohong. Serigala mau berbulu domba atau berbulu ketek, tetap aja serigala”

“Di Bali, gua baru turun dari bus pariwisata. Diserbu pedagang cinderamata. Males banget deh. Dipaksa-paksa beli, kaos ditarik-tarik. Sebel gua”

Saya terpaksa senyum. Saya tahu apa yang ia alami, “Trus lu bilang apa?”

“Gua sambil pake kacamata item bilang I don’t speak Indonesia sorry. Bilangnya kepatah patah, biar dia tau gua juga ga ngerti banget bahasa inggris. Sialnya si tukang gelang nanya gua darimana. Gua jawab aja dari jepang. Eh gila tau, dia nanya gua pake bahasa jepang. Lancar banget. Dasar tukang dagang kali yah”

Saya ketawa. Dia lanjut berkata, “Trus gua nggak bisa jawab apa-apa lah. Boro-boro bahasa jepang yang gua tau kan cuma haik doang. Gua kabur aja terus ke kamar mandi. Anjrit, tukang dagangnya nungguin di depan WC. Untung aja ada tour guide yang manggil gua sebab turnya mao jalan. Nah si guide manggil gua pake bahasa Indonesia lah. Dia kan kenal gua. Pas gua keluar dari kamar mandi, tukang-tukang gelang itu sebel banget ngeliat gua sambil bilang kalau nggak punya uang bilang aja dari tadi, nggak usah ngaku orang jepang segala”

Senyum saya makin lebar mendengar ceritanya. Tapi setelah itu ia diam. Saya juga diam. Bersama kami tenggelam dalam hangatnya sinar matahari dan gemulai es teh yang semakin menari di kerongkongan.

Ia perempuan muda dari Jakarta, sukses dalam karir dan kini tengah berpikir untuk melanjutkan studi doktoralnya ke dapur untuk mengambil batu es. Di pintu ia berdiri bertanya, “Gua lupa kapan pertama kali belajar bohong. Lu masih inget ga pertama kali ngebohong? Gimana rasanya yaah?”

Saya tidak bisa menjawab. Buat saya itu retorika sebuah siang. Kenapa saya berbohong pertama kali dan bagaimana rasanya, saya tidak bisa menjawab. Saya lupa. Atau mungkin karena itu adalah ingatan buruk, saya coba lupakan. Sebab katanya sebagaimana mekanisme pertahanan diri, manusia suka mensortir memori tidak enak dan memasukkanya dalam klasifikasi khusus yang jauh tersimpan.

Anehnya, malam itu setelah para tamu pulang saya tidak berhenti berfikir mengenai bohong. Edan, apa jadinya muka bumi ini jika manusia tidak tahu cara berbohong? Edan, kenapa pula saya lupa pertama kali belajar berbohong. Apa iya karena terlalu seringnya dalam hidup saya berbohong saya sampai lupa kapan pertama kali berdusta? Ahh betapa menyedihkannya hidup saya…

Ah tapi itu kan saya. Tidak usah dipikirkan. Saya yakin Anda tidak seperti saya. Saya yakin Anda jujur-sejujurnya dalam hidup. Jauh lebih baik daripada saya. Hingga yakin bahwa Anda masih ingat pertama kali berbohong dan lalu bertobat setelahnya tak akan mengulangi lagi.

Eh, omong-omong Anda ingat pertama kali belajar berdusta? Gimana rasanya?

Susah jawabnya? Ahh tidak usah dijawab. Anggap saja itu retorika biasa :)


Istirahat

Karena menjelang akhir minggu, saya mau cerita yang sederhana saja lah hari ini.

Beberapa hari lalu, saya mengantuk sekali. Tidur kurang. Maksudnya tidur kurang, yaitu kurang dari 12 jam perhari. Iya, saya memang sedang banyak-banyaknya tidur akhir-akhir ini. Biar saja lah. Nikmati saja selagi bisa.

Karena mengantuk, di pabrik saya ditegur teman-teman. Kok yaa mulut tak berhenti menguap terus. “Udah kamu pulang aja gih sana, istirahat. Parah sekali muka kamu itu. Capek yaah?”

Saya mengangguk. Sambil menguap, berjalan pulang menuju stasiun kereta api. Pabrik saya memang di sebelah stasiun kereta api. Tidak jauh. Paling jalan kaki hanya sekitar satu menit.

Di kereta api, saya sudah tidak tahan. Untung dapat tempat duduk. Akhirnya menyenderkan kepala ke jendela. Tidur. Saya sudah lupa stasiun apa yang saya lewati, tapi biasanya setelah stasiun yang ada di bandara, saya harus siaga. Sebab sebentar lagi saya harus turun. Tapi saya sumpah mati tidak bisa siaga. Sudah mengantuk sekali euy.

Dalam suasana setengah sadar, saya dengar setiap pemberhentian kondektur menegaskan ke penumpang bahwa kami ada di stasiun anu dan akan menuju stasiun berikutnya. Wah, itu sudah bagaikan mimpi. Saya bisa dengar, tapi tidak tahu harus bagaimana.

Untungnya saya berhasil juga turun di stasiun yang harus saya turuni. Keluar pintu kereta sambil ucek-ucek mata. Masih mengantuk. Tunggu bis kota sebentar enaknya bisa menyegarkan mata. Maklum sudah musim semi. Dimana-mana banyak bunga.

Namun ketika bis kota tiba dan dapatlah saya tempat duduk di pojok, lupa pula saya musim semi dan bunga. Saya tidur lagi. Tepatnya ketiduran. Saya pikir, ahh gampang lah. Hanya empat halte dari stasiun, merem dikit kan sah saja.

Iya sah memang. Tapi begitu saya membuka mata, sumpah mati saya mendelik. Loh, ternyata saya kebablasan tidurnya. Bangun-bangun, entah saya ada di mana, kiri kanan benar-benar lahan kosong luas gundul. Waktu itu saya kaget, saya pikir “Wah kok di daerah tandus gini, jangan-jangan gua kesasar di Kalimantan?”

Bis kota berhenti. Pak supir yang tinggi besar berjanggut berjalan ke arah saya dari ruang kemudinya, “Kamu mau kemana? Nggak ada halte lagi”

Saya bengong, ‘Wah Pak, saya ketiduran. Rumah saya nggak jauh dari stasiun. Kok saya bisa sampai di sini? Puterin lagi dong bisnya Pak?“

Dia ketawa, “Yaa nggak bisa. Kamu harus naik bis lain yang ke arah stasiun. Tapi nanti, masih lama. Kalau kamu naik bis yang merah itu, kami ke bandara, dari sana ke stasiun yang kamu tuju. Lebih dekat. Kamu sadar nggak kamu udah tidur kira-kira ampir sejam?”

Saya cengar-cengir. Malu. Hehe. Habis mau bagimana lagi?

Akhirnya saya menaiki bis yang si Pak Sopir maksud. Nah bis ini pergi memang tidak lama kemudian. Begitu saya meletakkan bokong di kursi, semenit kemudian langsung jalan. Tujuan saya, bandara. Sebab dari sana bisa naik kereta lagi ke arah stasiun dekat rumah.

Saking tegangnya melihat kiri kanan daerah yang belum pernah saya lihat sebelumnya, saya capek lagi. Dan saking capeknya, tentu saja bisa ditebak… Saya ketiduran lagi.

Saya akhirnya bangun, setelah dicolek bahunya oleh Bu Supir (supirnya ibu-ibu ternyata). “Kamu mau kemana? Sudah halte terakhir nih. Ini bis mau masuk pool”

Ini pertanyaan kedua yang saya jawab hari ini. Saya jawab dengan memelas, “Mau pulang, Bu”

“Rumah kamu di mana?” (*Entah kenapa, saya tiba-tiba merasa seperti anak kecil yang hilang di Mall lalu tengah ditanya Satpam*)

Ketika saya jawab dimana lokasi rumah saya dan kenapa saya bisa sampai di bis itu, si Ibu Supir senyum-senyum, “Kamu sudah kejauhan turunnya”. Dia meneruskan sambil memberitahu bahwa dari tempat kami berada, saya harus naik kereta ke bandara. “Nggak jauh kok. Ke stasiun kereta hanya jalan sekitar satu menit saja dari sini”

Saya mengerenyit. Satu menit? Setelah mengucap terimakasih dan keluar pintu bis saya terbengong-bengong. Benar rupanya si Ibu Supir kalau stasiun hanya jalan kaki satu menit dari sini. Sebab di depan muka saya terpampang jelas-jelas pabrik tempat kerja sehari-hari yang saya tinggalkan dua jam lalu.

Dari lobby, seorang resepsionis keluar. “Loh bukannya tadi sudah pulang, ngapain masuk kerja lagi? Ada yang ketinggalan?”

Saya cengar-cengir. Tidak tahu harus jawab apa.

Yang pasti, saya tahu apa yang harus saya lakukan di akhir minggu ini. Istirahat. Mumpung masih dikasih kesempatan, yaa ada waktu dipakai istirahat.

Selamat berakhir pekan. Selamat istirahat :)


Antara Burka, Wanita Dan Kuasa

Ada dua peristiwa yang menarik perhatian sedang terjadi di Perancis saat ini. Yang pertama adalah masalah teknis yang berhubungan dengan kerahasiaan transaksi berbasis internet (*buat beberapa orang sama sekali tidak penting*)

Yang kedua yaitu penangkapan dua orang wanita yang mengenakan burka. Sebuah dress code wanita yang benar-benar amat tertutup. Biasanya menyisakan hanya celah yang mampu memperlihatkan kedua belah mata dan segaris bagian hidung saja. Mereka ditangkap sebab Perancis ternyata sudah mengesahkan undang-undang anti burka akhir minggu lalu.

Undang-undang anti burka katanya dibuat untuk menanggulangi bahaya terorisme. Sebuah alasan yang cukup ajaib. Dimana sejarah terorisme Eropa hampir semuanya dilakukan oleh laki-laki. (*Tidak selamanya memang terorisme dilakukan lelaki. Ada yang cukup terkenal yang dilakukan wanita. Dikenal dengan nama Black Widow C alias Shahdika alias шахидка atau Невесты Аллаха yang berarti ‘Pengantin Allah’. Yaitu para janda-janda tua yang suami/keluarganya terbunuh pada invasi Rusia ke Checnya membalas dendam dengan mempersenjatai diri mereka dengan bom yang menempel di tubuh lalu meledakkannya di pusat-pusat keramaian Rusia. Terminologi terorisme yang dilekatkan pada ibu-ibu ini sebenarnya masih bisa diperdebatkan. Yang pasti, para wanita ini ketika melakukan aksinya sama sekali tidak pakai burka atau bahkan atribut islami sama sekali*)

Alasan kedua, yang paling sering didengung-dengungkan adalah bahwa wanita yang mengenakan burka ditekan dan dipaksa menutupi tubuhnya oleh suami atau keluarga mereka. Pada awal-awal munculnya undang-undang pelarangan burka, alasan ini yang paling sering muncul di media. Semua orang, seakan merasa paling tahu lalu berteriak bahwa burka mengekang kebebasan manusia. Umumnya wanita.

Yang menarik (atau mungkin yang paling ironis) yaitu wanita Perancis yang mengenakan burka ini dan lalu ditangkap polisi beberapa hari lalu, ternyata mengenakan burka karena ia menginginkannya. Secara sukarela. Dan bahagia.

Penangkapan ini berbuah reaksi dari seluruh dunia. Semua orang terkejut. Kita tahu, bahwa pemerintah (di mana saja) memang sering membuat rancangan undang-undang yang kadang sama sekali tidak masuk di akal. Namun mengimplementasikannya secara keras dan memakai kekuatan bersenjata (polisi) untuk memaksa rakyatnya, jelas amat aneh. Apalagi yang kita bicarakan adalah Perancisnya Sarkozy. Bukan Libyanya Gaddafi.

Pemerintah (di mana saja), acapkali membuat membuat kebijakan yang membuat banyak pertanyaan di benak rakyat-rakyatnya. Pada kasus burka di Perancis, pertanyaan yang paling dasar adalah mulai dari yang psikologis seperti “Apakah pemerintah sudah menganggap kami sedemikian naifnya seperti anak kecil” hingga sosiologi jender seperti “Apakah pemerintah sudah berhak mengatur cara perempuan berpakaian?”

Untuk pertanyaan pertama jawabnya sangat umum. Dimana-mana pemerintah sering berlaku sok orangtua menganggap rakyat adalah anak kecil yang mudah dibohongi demi kepentingan elit mereka. Dipaksa untuk menurut. Selalu coba main kuasa.

Pertanyaan kedua yang susah dijawab. Sebab urusannya memang sangat jender sekali. sudah bukan rahasia umum kalau pemerintah itu kebanyakan diisi oleh lelaki. Mulai dari lelaki sejati, lelaki jalang, lelaki mata duitan hingga lelaki-lelaki ajaib lainnya. Dari konsep ini saja sudah jelas, bahwa urusan apa-apa yang menyangkut norma, memang tidak jauh dari urusan laki-laki.

Di negara atau tempat dimana lelakinya mudah terangsang hanya akibat melihat lekuk tubuh perempuan sedikit saja, merela rela mati-matian membuat undang-undang agar para wainta dibungkus rapat-rapat agar ‘tidak menggoda lelaki dan kelakian mereka’. Wanita yang menonjolkan lekuk tubuhnya sedikit saja, dicap jalang hingga bahkan dipenjara.

Sementara di Perancis, mungkin akibat sudah terbiasa melihat lekuk tubuh wanita di mana saja, ketika ada perempuan yang membungkus rapat tubuhnya, tiba-tiba bagaikan sebuah peristiwa makar. Para pelakunya harus ditangkap.

Mengapa… Sekali lagi mengapa para perempuan tidak diperkenankan untuk mengambil sikapnya sendiri? mengapa mereka tidak didorong untuk menjalani hidup yang mereka cintai? Mengapa mereka tidak diperkenankan memilih apabila aturan para lelaki terlihat kadang terlalu mengada-ada?

Ketika budaya pagan musnah (dan sengaja dimusnahkan), lenyap pula konsep bahwa wanita itu bisa berkuasa. Sejak saat itu, para pemimpin agama mulai dari nabi sampai ulama, adalah dominasi para pria. Yang paling menakjubkan adalah kalimat ‘kerajaan’, cikal bakal pemerintahan modern. Diambil dari kata ‘raja’.

Untungnya, di Nusantara kita masih mengenal nama ‘keratuan’. Sering disebut sebagai ‘keraton’. Kalimat berbasis kata benda. Artinya sebuah istana. Tempat tinggal para raja. Jadi konsep keseimbangan antar lelaki dan perempuan, walaupun tidak banyak, masih ada.
Wajar saja, paganisme memang jadi latar belakang budaya nusantara.

Tapi kalau memang bangsa Indonesia, sejak zaman nenek moyang mereka menghargai wanita sebagai makhluk dengan keseimbangan sama seperti pria, mengapa gerak wanita begitu dibatasi?

Jika ada pertanyaan dibatasi. Mungkin ada pertanyaan lanjutan, “Ahh itu kan di Perancis yang dilarang burka. Di sini mah tidak”

Eh. Di Perancis dilarang pakai burka. Di beberapa tempat di sudut negeri kita, dilarang pakai pakaian yang menonjolkan pinggul dan payudara (katanya akan membuat laki-laki tergoda). Itu baru pakaian. Belum ke strata sosial pada pertanyaan, “seberapa banyak sih CEO indonesia yang perempuan” atau “seberapa banyak sih wakil rakyat di Senayan sana yang wanita?”

Tahu jawabnya?

Mungkin sudah saatnya kini kami para lelaki duduk manis diam senyum dan berkata baik-baik untuk menyemangati para wanita. Sebab ketika kami berkuasa, kelihatannya bumi makin rusak saja.


Jum and Jack: Empat

Ketika bapak saya meninggal dan kami menguburkannya di Kalibata, pulangnya saya ke Cilincing bersama Jumari, Dayat dan Piter. Dari Kalibata, kami naik angkutan kota bernama mikrolet M-16 dulu ke Terminal Kampung Melayu sebelum lanjut lagi ke Terminal Tanjung Priok. Jadi, di mikrolet saya duduk di pojok bersama tiga manusia ini. Hampir semua orang Cilincing yang saya kenal berdarah panas. Tapi Dayat dan Piter ini sudah terkenal sebagai manusia yang darahnya lebih panas ketimbang semua orang Cilincing yang saya kenal.

Pada intinya, di jalan kami ini semuanya benar-benar rusuh. Seakan lupa baru saja bersentuhan dengan mayat, tubuh dengan jiwa yang tidak ada lagi di dunia ini. Saya malas menceritakan apa yang terjadi di jalan pada saat itu, yang pasti semua penumpang kelihatannya merasa enggan duduk bersama kami dan lalu turun secepatnya. Tapi yang bisa saya ceritakan adalah ketika mikrolet kami berhenti menunggu lampu hijau, di sebelah ada bus yang isinya anak STM (Sekolah Menengah Teknik) Jakarta yang terkenal suka berkelahi. Piter dan Dayat melotot ke arah bus itu sambil mengacungkan jari tengah berteriak, “Woy anjing! Sini lu semua turun! Dasar banci!”. Ini artinya sederhana; tantangan.

Melihat satu bus kota besar PATAS yang kelihatannya berisi anak STM semua yang beberapa diantaranya memegang senjata tajam, darah saya berdesir. Saya baru saja mengubur Bapak. Masa sih setelahnya Ibu harus mengubur saya?

Sumpah mati, saya takut. Kami empat orang. Di mikrolet, mobil kecil yang semestinya hanya berkapasitas paling banyak 8 orang. Sementara, melihat puluhan anak-anak STM itu, saya pikir mereka akan dengan amat mudah menyegel mobil lalu membakar kami hidup-hidup. Jaman itu, perkelahian antar anak sekolah di Jakarta memang mengerikan. Dan apa yang saya bayangkan tentang maut kami, kemungkinan besar akan terlaksanakan.

Saya lihat Dayat dan Piter. Matanya ganas memang seperti sudah siap perang. Entah gara-gara kenapa, mungkin masih menyimpan dendam. Saya lihat Jumari, dia tenang-tenang saja. Sambil garuk-garuk kuping dia senyam-senyum seakan tidak ada apa-apa. Saya kaget, “Jum, lu kenapa ketawa?”

Dia tambah lebar senyumnya, “Lu tau ga Jack? Tuh anak-anak STM ga ada yang bakalan turun”

Saya tambah kaget. Tapi sebelum saya tanya lebih lanjut, Jum seakan sudah menebak karena menjawab, “karena kita pake peci”

Saya tidak tahu apa hubungannya antara peci, sebuah songkok yang ada di kepala dengan perkelahian massal yang gagal karena massa lawan melihat kami berkopiah. Yang pasti memang benar-benar tidak terjadi apa-apa siang itu. Para anak-anak STM terbengong-bengong melihat mikrolet kami para pemakai peci yang melaju tanpa berbuat apa-apa.

Begitu sampai di Cilincing setelah hari yang meletihkan dari Kalibata, saya mengalihkan topik. “Jum, kenapa bapak gua meninggal yah? Adek gua si Uul pan masih bayi. Jum, kenapa tuhan nggak adil. Bapak gua pan orang baek. Kok dicabut buru-buru?”

Jumari tersenyum sambil berkata, “Bapak lu udah dapet jalannya. Lu santai aja Jack. Sekarang yaah elu yang kudu jalan. Maka itu, sekarang cari jalan lu, Jack”.

Sejak saat, dari dulu ketika ada sahabat atau keluarga yang meninggal, saya selalu ingat perkataan Jumari yang selalu bilang, “Jack, lo udah jangan mikirin yang meninggal. Doi mah asik di sono. Santai aja. Pikirin tuh yang masih hidup. Yang ditinggalin. Cukupin idup mereka. Jangan sampe mereka blangsak idupnya”

Sampai saat ini, saya masih belum mengerti maksud Jumari. Apa dia maksud, kalau orang-orang yang berkopiah menantang publik maka publik akan diam saja? Apa yang dia maksud dengan ada jalan setelah kematian? Memangnya dia sudah pernah ke sana terus balik lagi ke sini? Entahlah?

Bahkan hingga akhirnya kami berpisah dan jarang bertemu, saya masih tidak mengerti dia bermaksud apa.

Yang saya bilang jarang bertemu memang secara literal benar-benar jarang bertemu. Saya tinggal di sebuah dunia yang sungguh jauh dari laut Cilincing tercinta. Jumari masih ada di sana. Dengan idealisme mencerdaskan anak bangsa. Dengan murid-muridnya yang banyak luar biasa. Dengan keluarga yang amat ia cintai. Dengan kail dan sampannya yang selalu setia dalam meluangkan waktu bersama.

Untung kemudahan teknologi semakin memurahkan internet. Hingga akhirnya Cilincing tersentuh keajaiban penemuan manusia bernama surat elektronik.

Ketika kami akhirnya benar-benar tidak bisa bertemu karena waktu, suatu hari dia kirim email. “Jack, gua ngerasa berdosa banget. Tapi pagi si Ravi nggak mau ngaji. Emosi gua. Tangan gua maen, Jack. Astagfirullah. Gua nggak konsentrasi nih ngajar. Mau nangis terus gua Jack. Nyesel banget gua nampar tuh anak. Bisa ketemu nanti malem Jack?”

Saya merasa sedih. Sungguh sedih sekali. Ia sahabat saya. Orang yang selalu melindungi ketika saya lapar atau marah. Orang yang sering berani mendukung atau malah menantang semua ide-ide gila yang selalu saya lontarkan. Saya sahabatnya, yang saat itu ada di belahan dunia lain. Tak mampu bilang apa-apa ketika orang yang saya cintai tengah sedih dan kecewa pada dirinya sendiri. Tanpa sengaja ia menyakiti putranya, orang yang amat ia cintai. Sebuah dosa yang dianggapnya tak berampun.

Dan saya hanya bisa menjawab melalui surat elektronik, “Jum, gua udah balik men. Malam ini gua nginep di KL. Besok berangkat lagi balik. Sori men kita nggak bisa ketemu”. Sambil menambahkan, “Minta maaf aja ama Ravi. Bilang sama dia lo cinta dia dan lo ga bakalan ngulangin lagi kayak gitu. Lo bapak yang hebat man. Tapi lo juga manusia. Kita semua toh pernah salah. Sebagai bapak yang hebat, lo pasti ngajarin anak lo bagaimana cara meminta maaf supaya suatu saat dia juga bisa jadi jentelmen sejati kayak lo, men”

Beberapa hari kemudian kami jarang bertemu sua lagi melalui dunia maya. Saya sibuk. Ia juga sibuk. Hingga akhirnya datang sebuah surat pendek yang isinya berbunyi, “Sekarang gua tau kenapa lo ada di luar Cilincing”

Saya yang penasaran bertanya balik kenapa. Tapi ia tidak pernah menjawab. Sama dengan lontarannya soal kopiah.

Hingga suatu malam beberapa minggu lalu saya baru keluar dari concertgebouw untuk melihat pertunjukan gitar klasik Izhar Elias yang diiringi dirigen dari London Philharmonic Orchestra (*dapat tiket hadiah ulang tahun dari teman-teman saya*). Begitu menyalakan kembali telepon genggam, masuk pesan dari Rojak, adiknya Jumari mengirim SMS. Bulan begitu bulat malam itu. Katanya, terbulat dan tercantik yang pernah ada setiap 18 tahun sekali. Begitu romantis diiringi flute dan biola orkes kamar. Namun keindahannya tak seberapa melihat SMS Rojak yang amat membuat dada sesak. “Minta doanya. Jumari koma. Udah sebulan. Hari ini paling kritis”.

Malam itu saya coba telpon ke Jakarta. Susah sekali. Saya pikir perbedaan waktu atau kalau tidak, masalah koneksi. Yang pasti, saya sungguh galau. Sahabat saya terbaring di rumah sakit. Ada apa?

Dalam galau saya jatuh tertidur, ketika bangun ada SMS lagi dari Rojak, “Innalillahi, Jumari pergi”

Saya jalan ke dapur dengan gontai. Cari tempat duduk. Susah sekali. Lemas. Tidak kuat menghadapi berita ini. Akhirnya saya duduk di lantai. Menatap layar telepon genggam seakan tidak percaya. Sahabat sekaligus musuh dalam diskusi-diskusi saya. Guru idola. Masih muda. Teman mancing setia. Nelayan tangguh tak terkira. Kini berlayar untuk selama-lamanya.

Saya gemetar ketika membuka dan membaca surat elektronik dari adik-adik saya. Yang juga mengabarkan berita duka. Seluruh anggota keluarga saya adalah sahabat Jumari. Mereka pula kehilangan.

Saya semakin gemetar ketika membuka laman-laman facebook Jumari. Ratusan murid-murid dan rekan kerja bergantian memberi salam perjalanan terakhirnya. Sahabat saya ini, ternyata pula dicintai banyak orang. Ia orang baik. Dan manusia, selalu menyukai orang baik.

Dulu dalam sebuah komentar di blog saya, ia meminta agar saya menuliskan kisah hidupnya. Tepatnya, hidup kami. Karena sibuk, itu selalu tertunda. Saya tidak tahu apa yang harus saya tuliskan. Saya tidak punya begitu banyak waktu memberikan testimoni betapa senangnya saya sebagai sahabatnya. Saya tidak bisa merangkaikan 140 karakter huruf untuk menyatakan betapa saya mencintainya. Saya tidak bisa bilang pada publik betapa luar biasanya Jumari.

Kini ironis. Setelah ia pergi, justru saya bisa membuat empat tulisan berseri hanya sebagai dedikasi saya untuknya. Entah doa saya sampai atau tidak, saya harap di surga sana ia diberi cara agar bisa mengetahui betapa saya bangga pernah jadi sahabatnya.

(*Foto milik Jum saat masih sehat dan jadi guru di SMK 36 Jakarta. Diambil dari laman facebooknya. Tertulis dua tahun lalu dan ia kelihatan masih amat segar bugar. Caption yang ia tulis, “superman pulang kampung, berganti orang kampung…… saya orangnya toleran, saya menghormati yang pake kaca mata dan yang tidak……… hehe36“. Ia selalu suka tertawa dan saya selalu amat tergila-gila dengan gurauannya*)

Selamat jalan, Jum. Selamat jalan sahabat. Salam dari ‘Jack’.


Jum and Jack: Tiga

Nasib memisahkan kami berdua. Saya pergi semakin jauh dan terus menjauh dari Cilincing. Mengunjungi semua pelosok yang ada di muka bumi seperti yang pernah saya cita-citakan sebelumnya. Jumari terus bergulat dengan keseharian Cilincing. Dengan orang-orang Cilincing. Dengan tanah, laut dan udara Cilincing yang panas.

Kami mencintai Cilincing dengan cara yang berbeda. Buat dia, menjadi guru dan mengamalkan ilmu di Cilincing adalah pencapaian tertinggi yang bisa dicapai manusia. Setidaknya, jika manusia yang dia maksud adalah kami setongkrongannya. Dan ia pun lalu jadi guru. Sesuai dengan idealismenya.

Buat saya, mencintai Cilincing adalah menyebarkan sebanyak-banyaknya pada dunia. Bahwa resistansi masih ada. Bahwa kami, manusia yang disisihkan secara terstruktur baik dari segi ekonomi, budaya, strata sosial dan macam-macam lainnya, masih bisa melawan.

Dan akhirnya ketika sama-sama beranjak dewasa, kami sepakat untuk tidak saling sepakat. Yang kami tahu cuma satu, kami sama-sama mencintai air, tanah dan udara bumi kelahiran.

Lalu di pagi itu, kami bertemu kembali. Setelah sekian lama hingga entah berapa purnama.

Sembil menggendong bocah berusia tiga tahun ia memeluk saya, “Gua senang lu pulang kampung, Jack. Kenalin nih jagoan gua pertama, Ravi”

“Gua juga seneng pulang kampung ketemu lu ama keluarga lo. Apakabar Ugi, sehat?”

“Lagi hamil lagi anak kedua kami. Insya Allah deh, lancar-lancar aja”

“Amiinn…”

Ibu masuk ke ruang tamu membawa teh manis dan kua nastar. Hari itu masih dalam suasana lebaran. Jumari tiba-tiba sambil ketawa lebar bicara, “Bu, saya seneng banget nih ngeliat dia. Wah sumpah mati. Dulu mah siapa sih yang nyangka dia bakalan jadi begini. Pasti nggak ada! Hidupnya nih anak pan blangsak banget. Bangga saya bu anak Ibu jadi begini”

Ibu mulutnya merucut, “Jangan dibilangin gitu di depan dia, Jum. Nanti idungnya yang gede jadi tambah megar”

“Hehe, biar aja Bu. Kasian nih anak, dari dulu kita hina-hina terus. Sekali-kali lah, mumpung lebaran, kita angkat sedikit. Biar kita masuk sorga”

Saya tertawa mendengar canda mereka, “Muji aja pake ngitung segala. Haha”

Jumari mendudukkan Ravi di sampingnya, “Anak sekarang, Jack. Nggak kayak jaman kita dulu”

Lagi-lagi saya ketawa, “Jum, lo ati-ati ah men kalo ngomong mulai pake kalimat ‘anak sekarang’. Itu tandanya lu udah mau uzur, men. Hahaha. Yaa anak sekarang beda ama jaman kita. Teknologinya beda, budayanya beda, maka outputnya juga beda”

“Bukan itu maksud gua, Jack. Kalo itu mah gua juga tau. Maksud gua gini. Lu tau lah kita bukan orang kaya. Orangtua kita juga mah kan idup seadanya. Tapi kita sih pan dulu mao kaya. Trus usaha. Anak sekarang gawat, Jack. Kalo masalah miskin, semua orang Cilincing miskinnya sih masih sama ama dulu. Lebih miskin malah. Tapi anak sekarang ini, udah susah banget begeraknya”

Jumari cerita tentang pembangunan pelabuhan peti kemas Cilincing baru yang menghancurkan rumah-rumah warga. Sebab rumah warga miskin katanya tidak layak huni. Bikin rusak kesehatan. Tapi kalau memang tidak menyehatkan, kok digusur? Bukannya disehatkan?

Jumari cerita tentang laut Cilincing yang semakin hari semakin ditimbun minyak buangan bekas solar nelayan miskin yang rendah pendidikannya dan bahkan tidak menyadari persoalan lingkungan.

Jumari cerita tentang anak-anak perempuan yang kami ketahui dulu masih bau kencur kini jadi pelacur-pelacur desa yang datang ke perbatasan Cilincing sejak beberapa raksasa multinasional ternyata menemukan fakta bahwa ada cadangan minyak di sana serta mendirikan semacam kilang.

Jumari cerita tentang bahwa kini sudah tidak ada lagi kambing dan sapi berkeliaran di jalan raya. Sebab lahan beternak sudah habis. Danau digusur. Hutan bakau menghilang. Banjir menghadang. Dimana-mana raja-raja kecil baru bermunculan minta upeti. Selalu saja ada ikan yang lebih besar. Dan dalam rantai makanan, warga kecil miskin lemah lah yang selalu jadi korban. “Kita tumbangin satu Soeharto besar, kini muncul lebih dari seribu Soeharto-soeharto kecil”, katanya lesu sambil mengusap kepala Ravi.

Ia mengajak duduk di teras rumah sambil berkata lagi, “Dulu kalo ngerampok, ditangkep aparat. Sekarang, aparat yang ngerampok. Siapa yang nangkep kalo duit rampokan dibagi rata antar para perampok yang ternyata punya kuasa?”

Saya tidak bisa membantahnya. Saya ingat beberapa hari yang lalu ketika beberapa orang teman kerja dari Italia yang pernah mengunjungi Jakarta bertanya keheranan, “Mengapa Jakarta dengan penduduk luar biasa banyak, tapi angka kriminalitas rendah dibanding kota megapolitan dunia lainnya?”. Saya jawab lesu, “Sebab semua preman nya saling bagi jatah wilayah rampokan dan hasilnya. Mulai dari gerombolan fasis berjubah relijius, gang anak kampung bekas wilayah jajahan RI yang dibeking oknum militer atau polisi, bahkan hingga bos-bos aparat itu sendiri. Semuanya bagi-bagi jatah. Jadi yaa di jalanan kriminalitas rendah. Tapi dibalik itu, pencurian uang dan fasilitas rakyat amat tinggi”.

Iya, saya tidak bisa membantah Jumari. Anak Cilincing, sesial-sialnya terpaksa jadi rampok. Paling jadi rampok ojek. Hina banget itu. Jadi rampok kok ngerampoknya ke orang susah? Tapi ngapain juga ngerampok ojek kalau kredit motor sudah sedemikian mudahnya? Dulu orang beli motor tadahan, gara-gara murah. Di bawah harga standar. Sekarang, beli motor curian, resikonya tinggi. Polisi semakin hari semakin canggih. Belum lagi kepercayaan lokal yang menganggap beli motor maling bisa bikin sial.

Saya sedih. Tidak tahu harus bilang apa lagi.

Di luar rumah Ibu, anak-anak yang dulu saya tinggal masih SD dan ceria sekali bermain bola, kini beranjak dewasa. Duduk luntang-lantung  di Poskamling yang sudah sedemikian tidak terawatnya. Tampak menatap nanar orang-orang yang lalu lalang di jalan raya. Hari itu siang. Mereka tidak sekolah tidak pula bekerja.

Menurut rumor lokal, hanya si miskin yang luar biasa cerdas kini bisa lanjut ke perguruan tinggi untuk dapat beasiswa. Bagi yang otaknya rata-rata, sekolah itu mimpi. Bagi yang otaknya rata-rata, kecil sekali kemungkinan untuk maju. Anak Cilincing, sama seperti anak-anak Indonesia lainnya. Ditambah gizi buruk dan lingkungan kumuh, belum tentu otaknya jadi rata-rata. Ahhh…

Ia gendong lagi Ravi sambil terus berkata, “Lo liat tuh Jack. Bentar lagi malem, tuh anak -anak yang nongkrong di Poskamling juga paling mabok, maen gitar, terus bacok-bacokan. Paling-paling ngebacok temennya atau orang lewat. Marah ama idup tapi nggak tau mau marah ke siapa”

Sejak saat itu, setiap melihat ada anak muda yang berwajah letih nongkrong di pinggir jalan menatap nanar hingar bingar manusia dan seakan tidak tahu harus berbuat apa-apa, saya selalu merasa tidak bangga pada diri saya. Entah kenapa.

Tapi, mereka selalu mengingatkan saya pada Jumari.


Jum and Jack: Dua

Lama tidak pulang ke Cilincing.

Saya akhirnya kembali lagi ke Jakarta. Badan kurus, hitam dan rambut gimbal bau air laut. Hubungan saya dengan Ibu sudah jauh lebih baik. Saya kembali ke Jakarta untuk kembali memulai sekolah baru, namun sebelumnya mengunjungi rumah Ibu. Di sana, seperti biasa bertemu teman-teman kecil lainnya. Diantaranya Jumari yang sudah berubah. Badannya kini besar dan kekar. Rambutnya cepak model tentara. Hampir lulus kuliah.

Kami duduk-duduk di teras rumah Ibu ketika Jumari memegang lengan saya sambil tertawa, “Lu pitnes dong, Jack”

“Capek Jum”

“Yaelah, si Kisut aja pitnes”

Saya menoleh ke arah Kisut yang berbadan kurus kering sedang makan kedondong, “Serius lo pitnes, Sut?”

“”Ho oh” katanya mengangguk sambil membuang biji kedondong ke taman Ibu. Ibu yang kebetulan ada di pintu masuk matanya mendelik. Kisut pelan-pelan sambil cengar-cengir memungut biji kedondong dan lalu memasukkannya ke tempat sampah. Takut pada mata Ibu.

Jumari menatap saya lagi, “Adek lu aja si Gugun kadang-kadang ikutan gua pitnes”

Saya sebal, ini kok tiba-tiba baru pulang ke rumah Ibu sudah dituntut untuk fitness. Saya tahu, teman-teman saya ini dipengaruhi Ibu agar saya menggemukkan badan. Ibu sedih melihat anaknya kelihatan kurus kering.

Saya pakai trik falacy, “Aah Odoy ama Rojak aja nggak pitnes, ngapain gua pitnes”

Jumari ketawa, “Rojak mah masih jogging tiap pagi gara-gara nganterin koran. Sehat dia. Nah kalo Odoy, lo suruh dia pitnes? Makin pendek dia nanti!”

Semua yang ada di rumah Ibu saya tertawa terbahak-bahak. Odoy yang ukuran tubuhnya normal bagi kebanyakan orang Indonesia namun paling pendek diantara kami sebenarnya mau protes, tapi hanya mulutnya yang megap-megap tanpa suara, kepedasan akibat kebanyakan makan asinan kedondong.

Malamnya saya ke rumah Jumari. Saya ajak dia ke asrama TNI-AL Dewa Ruci. “Jum gua lagi ada masalah nih. Ikut gua yuk…”

Jumari garuk-garuk kepala, “Wah lu mah parah Jack. Masa baru sampe Jakarta udah mau ribut ama marinir? Lu pan tau marinir Cilincing itu badannya segede gorila. Temennya juga banyak Jack. Lo nantangin marinir di perumahan angkatan laut sama aja nantangin gorila sekandang!”

“Pertama, cemen banget luh baru ama marinir aja takut. Kedua, kita ga nantangin marinir tapi gua mao bales dendam sama abangnya Sinta. Lu masih inget ga, Sinta, cewek gua pas jaman SMA dulu. Ngepet, masa sih dulu gua ama Sinta digebugin abangnya. Ketiga, biar lu tenang, abangnya Sinta itu bukan marinir”

Jumari menatap saya dengan mata menyipit. Kelihatannya dia tidak percaya. Tapi dari pintu depan Yono masuk. Yono itu kakaknya Jumari. Sebenarnya mau juga sih saya mengajak Yono untuk membantu membalas dendam. Yono ini atlet Pelatnas. Badannya lebih besar daripada gorila. Tapi Yono ini orangnya kalem. Setahu saya, walaupun badan besar tapi dia tidak pernah berkelahi. Buat saya mubazir. Sayang banget. Tapi buat Yono, kelihatannya saya tipikal manusia yang tidak tahu diri. Sudah kecil tapi petantang-petenteng sok kuat. Hahaha.

Jumari malam itu malas diskusi dengan Yono. Jadi ia setuju ikut saya ke Dewa Ruci. Kami boncengan naik sepeda yang saya pinjam dari Odoy. Jumari duduk di depan mengayuh. Saya di belakang membonceng. Janjinya, nanti kalau capek gantian. Tapi belum setengah jalan, saya sudah minta ganti. Saya tidak mau dong Jumari jadi lemas kecapekan mengayuh sepeda. Dia kan yang akan jadi jagoan saya untuk melawan abangnya Sinta. Staminanya harus dijaga.

Di jalan kami mengobrol sambil menatap nafsu ke arah warung-warung pecel lele dan warung bakso yang bertebaran di pinggir jalan. Sebenarnya saya sudah tidak tahan tergoda untuk berhenti dan jajan makanan dulu. Melupakan misi balas dendam. Tapi Jumari mengkonfirmasi, “Gua ga punya duit. Lu juga ga punya duit. Masa sih abis makan enak kita dimaki-maki warga kampung sini gara-gara makan nggak bayar? Nggak lah Jack”

Mulut saya manyun. Tapi untunglah tidak lama kemudian sampai ke rumah Sinta.

Wah Sinta kaget sekali melihat saya. Sudah tiga tahun kami tidak bertemu. Dia sudah hampir lulus Akademi Perawat. Sebentar lagi akan ditempatkan di sebuah rumah sakit angkatan laut di luar kota. Dulu, waktu kami masih pacaran dia ini baik banget. Nah sekarang, kelihatannya saya mau mencoba lagi trik lama. Yaitu dengan dibumbui bujuk rayu kalimat manis gombalisasi, meminta dua mangkok bakso untuk saya dan Jumari.

Sialnya, Sinta bukanlah Sinta yang dulu. Wah marah sekali dia melihat saya muncul lagi di depan pintu rumahnya, “Eh gila luh masih berani muncul di rumah gua. Udah pergi tiga tahun nggak ada kabar. Sekarang mao main ke sini lagi. Ada apa? Jangan lama-lama yaah…”

Saya bengong. “Sin. Kamu kok gitu banget sih. Aa’ sibuk, Sin. Terbang mengejar ilmu. Mengejar cita-cita. Tapi percayalah Sin, setinggi-tingginya Aa mengepakkan sayap, kalo hinggap pasti ga jauh dari hati kamu”

Belum selesai bicara saya dengar ada orang ketawa di depan halaman rumahnya Sinta. Kampret, ternyata si Jumari. Nguping rupanya. Mencuri dengar semua rayuan gombal. Lalu sambil terbahak-bahak dia teriak, “Kalo mao minta bakso mah jujur aja, Rip”

Mata Sinta membesar. Kelihatannya dia tambah marah. Bagaimana tidak marah, ketika pacaran ala ABG sedang hot-hotnya e-eh pacarnya malah kabur tak tentu rimbanya.

Saya yang dimarahi, seperti biasa, diam sambil cengar-cengir. Tidak tahu harus bagaimana.

Tiba-tiba pintu gerbang terbuka berderit, suara berat bariton dengan dalam mengucapkan salam. Dengan lutut gemetar saya menjawab “kumsalam”. Nah ini dia gorilanya datang. Bang Jarot. Kakanya Sinta yang paling besar. Rambut cepak. Dengan tinggi hampir dua meter. Berat badan alit hitam sempurna dipenuhi otot. Maklum saja, beliau atlit judo. Sebentar dia berhenti setelah menutup pintu. Lampu neon putih beranda rumah dengan jelas memperlihatkan wajah saya. Dia kaget, “Loh kamu lagi. Kok masih berani datang ke sini?”

Disaat-saat ini lah seharusnya saya berkata lantang sambil menunjuk jari telunjuk ke arah mukanya, “Wahai kampret! Beberapa tahun lalu lu pernah mukulin gua. Sekarang rasakanlah pembalasannya! Darah itu merah jendral! Jumari, ayo gebugin dia!!!”

Sialnya sebelum saya berkata ala drama queen begitu, Bang Jarot menoleh ke arah Jumari, “Loh, kamu Jum kok ada di sini. Saya baru saja pulang dari latihan bareng Yono tadi. Dia pulang duluan, katanya mau makan bareng kamu”. Astaga, ternyata si kampret gorila ini ini satu tempat latihan dan satu team dengan Yono kakaknya Jumari.

Jumari sambil cengar-cengir menjawab, “Nggak Bang, Yono mah kalo makan bareng biasanya sambil nyeramahin. Bosen saya”. Wah wah, saya merengut dalam hati. Ini kesialan ganda. Bodyguard saya ternyata kenal sama si gorila yang seharusnya kami sikat malam itu.

“Oooh kalo gitu kamu belum makan? Ya udah pesen aja makanan tiga porsi di warung sebelah. Beli soto aja, lebih sehat. Jangan bakso. Saya ganti baju dulu sebentar…”

Tidak lama kemudian, Jumari pergi pesan makanan ke warung sebelah. Bang Jarot masuk ke rumah ganti baju. Sementara si Sinta ke dapur ambil segelas air putih untuk saya.

Begitu Jumari kembali, saya sumpah mati terbengong-bengong. “Bang Jarot, udah jadi tuh sotonya”. Bang Jarot menjawab, “Sin buruan, ayo kita makan bareng sama si Jum”. Saya jelas kaget. Loh, apa-apaan ini? Kok nggak ada yang nawarin saya makan?

Jadi begitulah, ternyata Jum, Bang Jarot dan Sinta makan di warung bertiga. Meninggalkan saya sendiri di beranda rumah mereka sambil digigiti nyamuk Cilincing yang menyebalkan ganasnya. Saya jelas patah hati. Semua rencana tinggallah rencana. Bengong, sendirian, ditemani air segelas dan nyamuk sama sekali bukan niat saya datang ke rumah Sinta.

Setengah jam kemudian mereka bertiga keluar dari warung sambil tertawa-tawa. Jumari mengajak saya pulang. Dan saya yang sudah sedemikian bosannya, jelas saja setuju.

Di jalan saya marah-marah, “Temen macem apa lu Jum, waktu temennya digebugin lu diem aja!”

Jumari menjawab kalem sambil cengar-cengir, “Lu digebugin udah lama, Jack. Lu tau ga, Bang Jarot itu malu. Lu kalo pacaran ama Sinta, lu tuh agresip banget. Tuh anak lu sosor-sosor minta cium di teras rumah. Bang Jarot malu ama tetangga. Pak RT udah negor dia gara-gara kelakuan lu. Trus juga lu udah ditegor berkali-kali, tapi lu aja yang ngebet nggak tahu diri. Si Sinta juga udah malu ama tetangga kalo pacaran ama lu di teras rumah mereka. Kalo gua jadi Bang Jarot, kepala lu juga udah gua keplakin ampe pitak”.

Saya diam. Dalam hati berkata ‘Wah ketahuan belang gua’. Sepeda saya genjot pelan-pelan. Melewati jalan raya Cakung Cilincing. Melewati pos penjagaan marinir di tikungan. Melewati jalur KWK 05. Melewati debu-debu malam.

Jumari memecah senyap hati saya di antara deru mobil kontainer raksasa yang berseliweran di jalan, “Jack, nanti kalo pulang jangan langsung pulangin sepeda terus balik ke rumah”

Saya melengos, “Kenapa Jum?”

Saya tahu ia tersenyum ketika menjawab, “Tadi gua bungkusin soto buat lo. Makan dulu Jack…”

Entah kenapa, saya tahu sebungkus soto tidak akan merubah apapun di dunia ini. Tapi malam itu saya merasa bahwa tidak selamanya hidup dan rencana-rencana saya berantakan. Mungkin jika hidup sudah sedemikian jauh ruwet hingga dianggap sebagai jalan setan, setidak-tidaknya masih ada para malaikat yang berwujud kawan.

Sejak saat itu, apabila menikmati soto di malam yang dingin setelah hari yang meletihkan; saya selalu ingat Jumari.


Jum and Jack: Satu

Dia anak paling pintar di kampung kami. Selalu jadi idola saya. Rambutnya ikal, badannya gelap, kurus dan tinggi. Anak kuliahan. Setiap hari pulang pergi ke kampus. menyandang tas ransel berangkat pagi. Kadang pulang sore, kadang pulang malam. Kelihatannya, hidupnya bebas dan bahagia. Saya berharap, suatu hari jadi sepertinya. Dewasa, cerdas, bebas dan bahagia.

Kami berteman akrab. Ibu setiap mengomel selalu membawa-bawa namanya. “Kamu ini nakal banget sih. Nggak mau nurut kata orangtua. Tuh liat si Jumari. Biar kata bapaknya tukang mie ayam, emaknya ibu rumah tangga, tapi liat tuh sekolahnya tinggi. Sekolah guru di IKIP. Kamu udah bapak enggak punya, masih aja belagu. Contoh noh si Jumari!”

Saya selalu melengos lesu kalau Ibu bawa-bawa nama Jumari dalam percakapan kami. Yaelah, masa sih bandingin Jumari ama saya? Dia mah pan anak paling pinter se-Cilincing. Temen-temannya aja, mantep-mantep semua. Dulu di Jakarta ada radio SK (Suara Kejayaan). Saya sering menginap di sana, di studio siaran itu. Sebab yang siaran itu teman-temannya Jumari semua. Banyak yang jadi artis. Gile, si Jumari, walaupun kucel dari Cilincing, tapi kok bisa bergaulnya sama artis ibukota. Itu yang selalu ada di benak saya kalau diajak melihat temannya siaran.

Suatu hari yang naas, saya tertangkap basah oleh warga sedang melakukan perbuatan yang tidak semestinya dan lalu diserahkan pada Ibu. Tentu saja Ibu marahnya bukan main. Saya pikir, gelegar suara kemarahannya bisa terdengar di dua puluh rumah tetangga-tetangga sekitarnya. Saya diam saja. Saya tahu saya salah. Saya diam namun bersyukur langsung diserahkan pada Ibu, sehinigga tidak dihakimi massa. Omelan Ibu saat itu seperti biasa, pasti bawa-bawa nama Jumari. Anehnya, saat itu kebetulan Jumari sedang datang ke rumah mau mengajak saya main bola.

“Salamlekum, waah ada apa nih Bu rame banget?”

“Biasa nih bocah. Kaga ngerti adat. Bikin malu orang banyak”

“Ya udah Bu, ntar saya bilangin”

Lengan saya diapit Jumari. Kami lalu ke lapangan sepakbola di seberang sawah yang saat itu belum jadi pabrik industri. Jum menyelamatkan saya dari omelan Ibu yang nampaknya tidak putus-putus itu.

“Lu kenapa, Jack? Ngisengin anak perempuan orang lagi? Mabok terus maling lagi? Apa berantem lagi gara-gara iseng? Ahh lu mah iseng banget sih Jack. Apa lu tumben ngerampok?”  Tanyanya ramah.

Ahh ia selalu ramah. Dan ia, anehnya, selalu memanggil saya dengan sebutan ‘Jack’.

Saya membuang muka sambil menjawab, “Yaah gitulah…” malas menerangkan lebih lanjut.

“Lu digebugin, Jack?”

“Nggak Jum” kata saya sambil menghela nafas. “Untung aja gua nggak digebugin. Capek gua digebugin orang terus Jum. Sampe seminggu kadang susah tidur, ngilu-ngilu”. Kata saya sambil mengerenyitkan muka.

Bulan lalu, saya dipukuli anak muda sekampung di Bekasi Barat. Gara-gara saya teriak-teriak nyanyi-nyanyi di jalanan. Katanya, lagu saya menyinggung mereka. Disuruh diam, saya tidak mau. Saya tantang mereka sekampung. Sebab merasa jagoan akibat pakai jimat kebal peluru (pinjeman dari si Bandi). Hasilnya, saya dikeroyok satu kampung dan memang benar saya tidak kena luka bacokan apalagi tembakan (sebab memang tidak ada dari musuh saya yang bawa pistol). Tapi muka dan badan saya bonyok-bonyok. Hehe.

Dia memberi bola sambil tersenyum, “Jack, lo kalo mao jadi bandit jangan tanggung-tanggung. Jadi bandit yaa bandit yang pinter, Jack. Kalo bego lu digebugin orang terus. Muka lu berantakan terus”

Saya diam. Main bola setelahnya pun tidak konsentrasi.

Dan tidak lama kemudian setelahnya, saya jadi lebih giat belajar. Saya ingat pesan Jumari. Kalau jadi bandit, jangan tanggung-tanggung. Maka itu harus banyak belajar. Dan sejak itu pula saya belajar banyak. Terutama baca-baca buku kriminalitas dan hukum.

Kebanyakan belajar, saya malah lupa jadi bandit.

Walaupun susah payah, saya akhirnya berhasil menamatkan pendidikan Sekolah Menengah Atas. Hari itu, walaupun saya tahu ijasah saya tidak akan mengubah muka dunia ini, tapi entah kenapa senang sekali rasanya.

Waktu saya lulus, saya ingat Jumari.


Siapa Yang Bayar?

pig elephant

Sudah pernah mendengar cerita Anjing Yang Serakah?

Kalau belum, mari saya cerita sedikit. Begini ceritanya;

Suatu masa, hiduplah seekor anjing. Ia terkenal sebagai anjing yang serakah. Kelihatannya, suatu hari ia mencoba untuk insaf dari semua keserakahannya. Di hari itu, perutnya lapar dan tidak ada makanan di rumah. Lalu ia pergi ke jembatan di seberang rumah, melintasinya dan untunglah menemukan tulang terbaik yang pernah ia lihat dalam seminggu terakhir.

Terlintas dalam pikirannya bahwa ia harus segera pulang ke rumah. Bagaimana jika ada anjing lain yang melihatnya membawa tulang sebagus ini? Tidak mungkin. Ia tidak mau berbagi. Jadi dengan segara, dibawanyalah tulang ini digigit dengan gigi-giginya yang kukuh dan tajam melintas jembatan untuk pulang.

Di tengah perjalanan ketika hampir selesai melintasi jembatan, anjing ini menengok ke bawah. Astaga, ia lihat seekor anjing lain yang memiliki tulang sebagus tulangnya. Tapi lebih besar. Lebih lezat dan semua lebih lainnya. Timbul akal jahat diotaknya. Ia akan menakut-nakuti anjing yang ia lihat di bawah itu. Woof! Woof! Teriaknya menakut-nakuti anjing itu.

Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Anjing yang ia takuti ternyata adalah pantulannya sendiri di sungai. Ketika ia teriak menakuti untuk mendapatkan tulang lebih banyak, ternyata mulutnya terbuka dan tulang yang ada dalam gigitannya jatuh tercebur di air sungai yang dalam.

Sampai di sini, mengerti apa yang mau disampaikan dalam cerita anjing yang serakah ini?

Kalau masih belum juga, sudah pernah dengar cerita Perjanjian Dengan Iblis?

Cerita ini adalah dongeng lama yang tersebar di tanah Eropa. Terkenal dengan sebutan Faustian Bargain. Asal kata Faustian adalah Faust, seorang sarjana sukses dalam legenda Jerman yang bosan dan serakah lalu mengadakan perjanjian dengan setan. Faust sendiri adalah tokoh nyata. Katanya mereka yang percaya, cerita ini berangkat dari kisah hidupnya.

Banyak sekali varian dari cerita ini. Mulai dari cerita karya Anton Chekov sastrawan Rusia yang menulis dalam novelnya ‘The Bet’, atau pop culture superhero Spider Man yang terbujuk kekuatan hitam kostumnya agar menjadikannya lebih kuat hingga tuduhan tokoh nyata seperti pemain biola terkenal Niccolò Paganini yang tawar menawar dengan iblis dengan taruhan jiwanya agar dijadikan violis terbaik di seluruh Italia Utara (dan juga seluruh dunia).

Yang paling saya sukai dari cerita perjanjian dengan setan adalah; cerita tentang seorang pria bujangan yang jauh dari perempuan yang dicintainya. Yang ia miliki dari gadis tercinta, hanya selembar foto lusuh dalam dompetnya. Gara-gara cinta, lalu mengadakan perjanjian dengan Iblis agar ia bisa menikahi perempuan tersebut. Tentu saja, iblis tetap iblis. Tidak ada yang namanya ‘free lunch’ buat mereka. Si bujangan ia minta memberikan jiwa sebagai imbalan atas pernikahan dengan gadis pujaannya. Si bujangan, secara cerdik mengakali surat perjanjian tersebut. Hingga akhirnya ia tidak usah memberikan jiwanya, namun tetap akan menikahi perempuan yang dicintainya. Dan iblis pun tidak bisa lari dari perjanjian mereka. Ia terpaksa memenuhi permintaan si pemuda. Membawa perempuan dalam foto lusuh dalam dompet menjadi nyata. Namun iblis tetap saja iblis. Ketika tahu bahwa ia tidak dapat membawa jiwa si pemuda, ia menghidupkan gadis dalam ukuran yang setiap hari si pemuda lihat. Sebesar ukuran foto dompet.

Sebelum menghilang iblis berteriak gusar pada si pemuda, “Keserakahan memakan bayaran”.

Beberapa malam lalu, saya baru saja sembuh dari sakit (*Ah iya, saya sakit lagi. Demam berminggu-minggu*). Karena dengar seorang sahabat Yoyo datang ke rumah Kang Adi, maka segeralah saya ke sana. Mau ngobrol. Mau ketawa-tawa. Yoyo dan Kang Adi itu dua-duanya seniman. Lucu. Saya suka nongkrong bersama mereka. Sebab dijamin pasti ketawa-tawa. Dijamin pula, banyak makanan ajaib.

Kami bertukar cerita. Utamanya soal Indonesia. Karena kami semua kebetulan berasal dari Indonesia.

Kalau bicara soal Indonesia, yaa utamanya memang tidak jauh dari Kalimantan dan para politisi praktis.

Kalau Kalimantan, yaa jelas mengenai laju penggundulan hutannya yang luar biasa. Yoyo cerita, hanya ada satu bagian kecil di sebuah propinsi di Kalimantan yang hutannya tidak disikat habis-habisan. Kenapa? Sebab hutan itu dihuni oleh suku yang menjadi konsultan peperangan pasukan elit Indonesia. Lantas kenapa hutan mereka tidak disikat? Sebab berdasarkan surat ijinnya, ternyata koperasi pasukan elit itu lah yang memiliki HPH (*artinya Hak Pengusahaan Hutan. Namun praktek lapangannya adalah Hak Penyalahgunaan Hutan*) tempat suku itu bermukim hingga ke hilir.

Yoyo yang baru saja dari Kalimantan untuk penelitian itu cerita, Kalimantan ini jadi pertarungan gajah-gajah Jakarta dalam memperebutkan lahan mencari nafkah. Hutannya ditebang. Tanahnya digali demi batubara. Langitnya dipolusi. Pokoknya™ apa saja yang ada di Kalimantan kini sedang dijarah habis-habisan. Banyak sekali nama pejabat, orang kaya, selebriti yang kelihatannya harum di surat kabar Ibukota, saat ini sedang berlaga di bumi Kalimantan.

Kalimantan yang seksi jadi rebut-rebutan jatah preman. Mulai dari preman Jakarta yang punya kuasa, hingga preman lokal macam bupati.

Lepas cerita Kalimantan, Yoyo cerita tentang para anggota dewan di Jakarta yang meminta gedung baru. Dia bingung, mereka itu sudah mati-matian minta suara dari rakyat. Lantas ketika terpilih, supaya mereka dan keluarga tidak lapar, digaji dengan baik oleh rakyat. Bahkan pajak penghasilannya juga disamakan dengan pajak rakyat. Supaya kerjanya lancar para anggota dewan itu diberi mobil oleh rakyat. Supaya tidak kedinginan dan kepanasan, mereka diberi perumahan yang baik sebaik-baiknya dengan pengatur suhu. Semuanya yang bayar rakyat. Rakyat Indonesia yang sebagian besar penghasilannya dibawah rata-rata.

Sekarang… Para wakil rakyat itu minta gedung baru? Gedung yang lama saja bagusnya sudah setengah mati. Jaraknya sungguh jauh dari gerbang. Warga yang mau ketemu wakilnya, harus dikawal setelah melewati gerbang itu. Yoyo marah, kenapa harus bikin gedung baru? Kalau butuh sesuatu yang baru maka sebaiknya gerbang gedungnya saja didekatkan, biar warga mudah komunikasi dengan wakilnya.

Saya diam saja. Kami berhenti tertawa-tawa.

Dalam cerita anjing yang serakah dan pemuda yang mengadakan perjanjian dengan iblis, ceritanya jelas. Bahwa pada akhirnya, yang serakahlah yang akan membayar ketamakannya.

Dalam cerita Kalimantan dan gedung baru wakil rakyat di Jakarta, ceritanya juga jelas. Bahwa ternyata pada suatu hari, kita dan anak cucu kita yang harus membayar ketamakan mereka.

(*Maaf sebesar-besarnya pada babi yang dijadikan  model pada foto di awal tulisan. Sumpah mati, walaupun kamu tidak pernah saya pilih untuk duduk di pemerintahan, kamu jauh-jauh lebih cute dan berguna daripada para wakil kami di Senayan sana*)