Antara Burka, Wanita Dan Kuasa

Ada dua peristiwa yang menarik perhatian sedang terjadi di Perancis saat ini. Yang pertama adalah masalah teknis yang berhubungan dengan kerahasiaan transaksi berbasis internet (*buat beberapa orang sama sekali tidak penting*)

Yang kedua yaitu penangkapan dua orang wanita yang mengenakan burka. Sebuah dress code wanita yang benar-benar amat tertutup. Biasanya menyisakan hanya celah yang mampu memperlihatkan kedua belah mata dan segaris bagian hidung saja. Mereka ditangkap sebab Perancis ternyata sudah mengesahkan undang-undang anti burka akhir minggu lalu.

Undang-undang anti burka katanya dibuat untuk menanggulangi bahaya terorisme. Sebuah alasan yang cukup ajaib. Dimana sejarah terorisme Eropa hampir semuanya dilakukan oleh laki-laki. (*Tidak selamanya memang terorisme dilakukan lelaki. Ada yang cukup terkenal yang dilakukan wanita. Dikenal dengan nama Black Widow C alias Shahdika alias шахидка atau Невесты Аллаха yang berarti ‘Pengantin Allah’. Yaitu para janda-janda tua yang suami/keluarganya terbunuh pada invasi Rusia ke Checnya membalas dendam dengan mempersenjatai diri mereka dengan bom yang menempel di tubuh lalu meledakkannya di pusat-pusat keramaian Rusia. Terminologi terorisme yang dilekatkan pada ibu-ibu ini sebenarnya masih bisa diperdebatkan. Yang pasti, para wanita ini ketika melakukan aksinya sama sekali tidak pakai burka atau bahkan atribut islami sama sekali*)

Alasan kedua, yang paling sering didengung-dengungkan adalah bahwa wanita yang mengenakan burka ditekan dan dipaksa menutupi tubuhnya oleh suami atau keluarga mereka. Pada awal-awal munculnya undang-undang pelarangan burka, alasan ini yang paling sering muncul di media. Semua orang, seakan merasa paling tahu lalu berteriak bahwa burka mengekang kebebasan manusia. Umumnya wanita.

Yang menarik (atau mungkin yang paling ironis) yaitu wanita Perancis yang mengenakan burka ini dan lalu ditangkap polisi beberapa hari lalu, ternyata mengenakan burka karena ia menginginkannya. Secara sukarela. Dan bahagia.

Penangkapan ini berbuah reaksi dari seluruh dunia. Semua orang terkejut. Kita tahu, bahwa pemerintah (di mana saja) memang sering membuat rancangan undang-undang yang kadang sama sekali tidak masuk di akal. Namun mengimplementasikannya secara keras dan memakai kekuatan bersenjata (polisi) untuk memaksa rakyatnya, jelas amat aneh. Apalagi yang kita bicarakan adalah Perancisnya Sarkozy. Bukan Libyanya Gaddafi.

Pemerintah (di mana saja), acapkali membuat membuat kebijakan yang membuat banyak pertanyaan di benak rakyat-rakyatnya. Pada kasus burka di Perancis, pertanyaan yang paling dasar adalah mulai dari yang psikologis seperti “Apakah pemerintah sudah menganggap kami sedemikian naifnya seperti anak kecil” hingga sosiologi jender seperti “Apakah pemerintah sudah berhak mengatur cara perempuan berpakaian?”

Untuk pertanyaan pertama jawabnya sangat umum. Dimana-mana pemerintah sering berlaku sok orangtua menganggap rakyat adalah anak kecil yang mudah dibohongi demi kepentingan elit mereka. Dipaksa untuk menurut. Selalu coba main kuasa.

Pertanyaan kedua yang susah dijawab. Sebab urusannya memang sangat jender sekali. sudah bukan rahasia umum kalau pemerintah itu kebanyakan diisi oleh lelaki. Mulai dari lelaki sejati, lelaki jalang, lelaki mata duitan hingga lelaki-lelaki ajaib lainnya. Dari konsep ini saja sudah jelas, bahwa urusan apa-apa yang menyangkut norma, memang tidak jauh dari urusan laki-laki.

Di negara atau tempat dimana lelakinya mudah terangsang hanya akibat melihat lekuk tubuh perempuan sedikit saja, merela rela mati-matian membuat undang-undang agar para wainta dibungkus rapat-rapat agar ‘tidak menggoda lelaki dan kelakian mereka’. Wanita yang menonjolkan lekuk tubuhnya sedikit saja, dicap jalang hingga bahkan dipenjara.

Sementara di Perancis, mungkin akibat sudah terbiasa melihat lekuk tubuh wanita di mana saja, ketika ada perempuan yang membungkus rapat tubuhnya, tiba-tiba bagaikan sebuah peristiwa makar. Para pelakunya harus ditangkap.

Mengapa… Sekali lagi mengapa para perempuan tidak diperkenankan untuk mengambil sikapnya sendiri? mengapa mereka tidak didorong untuk menjalani hidup yang mereka cintai? Mengapa mereka tidak diperkenankan memilih apabila aturan para lelaki terlihat kadang terlalu mengada-ada?

Ketika budaya pagan musnah (dan sengaja dimusnahkan), lenyap pula konsep bahwa wanita itu bisa berkuasa. Sejak saat itu, para pemimpin agama mulai dari nabi sampai ulama, adalah dominasi para pria. Yang paling menakjubkan adalah kalimat ‘kerajaan’, cikal bakal pemerintahan modern. Diambil dari kata ‘raja’.

Untungnya, di Nusantara kita masih mengenal nama ‘keratuan’. Sering disebut sebagai ‘keraton’. Kalimat berbasis kata benda. Artinya sebuah istana. Tempat tinggal para raja. Jadi konsep keseimbangan antar lelaki dan perempuan, walaupun tidak banyak, masih ada.
Wajar saja, paganisme memang jadi latar belakang budaya nusantara.

Tapi kalau memang bangsa Indonesia, sejak zaman nenek moyang mereka menghargai wanita sebagai makhluk dengan keseimbangan sama seperti pria, mengapa gerak wanita begitu dibatasi?

Jika ada pertanyaan dibatasi. Mungkin ada pertanyaan lanjutan, “Ahh itu kan di Perancis yang dilarang burka. Di sini mah tidak”

Eh. Di Perancis dilarang pakai burka. Di beberapa tempat di sudut negeri kita, dilarang pakai pakaian yang menonjolkan pinggul dan payudara (katanya akan membuat laki-laki tergoda). Itu baru pakaian. Belum ke strata sosial pada pertanyaan, “seberapa banyak sih CEO indonesia yang perempuan” atau “seberapa banyak sih wakil rakyat di Senayan sana yang wanita?”

Tahu jawabnya?

Mungkin sudah saatnya kini kami para lelaki duduk manis diam senyum dan berkata baik-baik untuk menyemangati para wanita. Sebab ketika kami berkuasa, kelihatannya bumi makin rusak saja.


0 Responses to “Antara Burka, Wanita Dan Kuasa”


Comments are currently closed.