Monthly Archive for April, 2011

Page 2 of 2

Sekedar Cerita Tentang Citra

Indonesian President Susilo Bambang Yudhono and Australia Prime Minister John Howard at 2006 (*Source: theage.com.au *)

Anda pikir hanya Pak Beye saja presiden kita yang terhormat yang punya politik pencitraan? Salah. Bukan ahh… Bukan hanya beliau yang pakai make-up kalau muncul ke publik. Sebab saya juga loh. Hahaha.

Sebenarnya masih banyak orang lain selain saya (atau Pak Beye misalnya) yang punya politik pencitraan. Namun daripada kita ngomongin orang, mendingan bicara diri saya sendiri saja lah. Sebab andaikata membicarakan orang bukanlah sifat yang baik, maka saya dihindarkan untuk tidak berbuat hal yang tidak baik pada orang lain.

Oke, balik lagi ke pencitraan diri saya.

Begini, saya paling tidak suka diekspos ke publik selain oleh diri saya sendiri dan dengan cara saya sendiri. Egois? Ya iyaa lah. Itu mah jelas. Terserah orang mau omong apa, yang mau saya tampilkan pada publik adalah apa yang saya pikirkan selayaknya tampil. Di tulisan-tulisan saya, atau di karya-karya saya lainnya, saya sangat memperhatikan pencitraan diri ini. Saya mau jadi tukang makan beling kek, mau jadi ninja kek, mau jadi nenek-nenek bangkotan yang sakaratul maut mau mati kek, semuanya bisa saya lakukan di tulisan-tulisan saya.

Tapi apa perlu?

Buat saya, perlu dan tidak perlu. Untuk menulis mengenai keseharian hidup yang sudah amburadul ini, saya tidak merasa perlu mencitrakan diri saya. Saya pikir, apakah dunia akan kiamat saat ini juga kalau saya bilang bahwa saya manusia yang badannya penuh bekas luka yang menghitam. Saya pikir juga, apakah semua manusia akan bertransformasi menjadi kupu-kupu setelah membaca opini-opini saya. Tidak kan? Jadi apa yang perlu saya citrakan dari masalah keseharian hidup? Jawabnya sederhana; tidak ada.

(*Masih baca? Kalau iya mari bermain sejenak, coba ganti semua kalimat ‘saya’ di paragraf atas dengan kata ‘Anda’. Asik deh. Hahaha*)

Tapi kenapa perlu?

Percayalah, saya belum segamblang itu untuk mengungkapkan brutalitas yang saya alami sehari-hari dan lalu memajang foto saya atau foto-foto tokoh yang ada dalam tulisan saya, kepada publik. Satu-satunya saat saya memajang foto adalah ketika putri saya lahir di tahun 2008. Fotonya, foto keluarga di rumah sakit. Satu minggu kemudian, tulisan itu saya proteksi. Saya tidak merasa butuh membagi publik lama-lama. Sebab saat itu targetnya memang keluarga dan sahabat-sahabat yang menanyakan bagaimana proses kelahiran putri kami. Dan menulis blog mengenai proses tersebut dan memajang foto pada-saat-itu kelihatannya jauh lebih sederhana daripada mengirim email kepada ratusan orang.

Jadi jawab pertanyaan di atas apakah perlu mencitrakan diri, saya jawab perlu. Maksud saya dengan perlu adalah, bahwa saya tidak merasa perlu memajang foto-foto personal pada publik. Sebab dengan begitu, saya bisa menulis tanpa perasaan malu.

Apakah saya anonim? Tidak juga sih. Ada banyak cara yang dengan mudah mampu mengungkapkan siapa saya. Jadi saya pun sebenarnya tidak terlalu anonim. Tapi setidaknya, dengan tidak menunjukkan wajah pada publik saya akan lebih leluasa dalam bergerak. Bercerita. Berkarya.

Ya sudah, itu pengantar di atas sudah cukup. Hari ini saya mau cerita yang hanya karena anonim lah saya bisa berbagi kepada publik.

Begini ceritanya, saya kelihatannya sedang kesal. Masalahnya sepele, saya akan dapat training baru. Apabila diterjemahkan training ini berjudul “Bagaimana cara menggunakan email dan internet dalam masa kerja”.

Loh bukankah edukasi itu baik. Kesalnya dimana?

  • Menurut pernyataan resmi pabrik: “Email dan internet tumbuh pesat dan menjadi sarana penting sebagai alat untuk bekerja dan interaksi sosial, begitupula penyalahgunaannya. Dan karena komunikasi elektronik meninggalkan jejak yang tampaknya tidak pernah hilang, konsekuensi dari penyalahgunaan tersebut dapat berakibat drastis bagi karyawan dan pemberi kerja” (*Sejak kapan saya menyalahgunakan email dan internet tempat kerja? Tersinggung saya*)
  • Beberapa minggu lalu, saya mengirim email kepada administrator pabrik. Saya meminta blok firewall pengaman sistem pada port tertentu dibuka agar memudahkan kerja. Dengan sederhana saya bilang bahwa membuka blokade dapat dilakukan dengan cara tertentu dalam jangka waktu yang tidak lama, tapi saya menghormati pekerjaan mereka dan berharap mereka dapat membantu secepatnya. Rupanya mereka tersinggung. (*mungkin sanksinya, saya harus belajar cara kirim email dan belajar menghormati admin. Tersinggung saya, bukannya dia toh yang harus bantu saya kerja lebih efisien dan efektif?!*)
  • Saya harus ikut training ini. Diselesaikan minimal dalam jangka waktu 7 hari. (*Tersinggung dong, memangnya yang ngasih tugas ini ga mikir kalau saya punya kerjaan lain yang sedang berjalan?*)
  • Saya mulai bertanya-tanya apakah ini diskriminasi
  • Pertanyaan lanjutan semakin mengerikan: “Memangnya saya bloon? Jadi harus belajar lagi cara kirim email dan berinternetan?”

Anyway, karena kesal maka konsultasilah saya soal masalah ini pada Mbak Ita seorang rekan kerja.

Matanya membulat ketika menjawab, “Eeeh, bukan cuma kamu kok yang sering kerja dengan internet harus ikut kursus itu. Saya juga loh. Padahal saya mah kan jarang pakai internet kalau kerja. Apalagi saya mah kan cuma ibu-ibu biasa”

Saya tercenung. Wah kelihatannya saya terjebak dan membiarkan diri dijebak salah sangka. Kekesalan saya ternyata dipicu oleh arogansi sepihak. Yaitu diri saya sendiri. Ternyata bukan hanya saya yang harus ikut pelatihan tersebut.

Apa salahnya sih terus belajar. Apalagi jika itu berlajar memperbaiki mengetahui sesuatu yang setiap hari dikerjakan. Bukankah belajar menulis surat elektronik dengan lebih baik dan berinternet lebih bijak adalah sesuatu yang bagus. Ada pepatah mengatakan ‘God has mercy. Internet don’t’. Artinya, apa yang kita buat di ranah maya ini, jejaknya lebih mudah ditelusuri oleh siapapun yang mampu menelusurinya. Dan, sama sekali tidak bisa dihapus (*kecuali jika Anda sakti. Saya mah, pasti bukan orang sakti*).

Lalu kenapa pula saya harus kecewa pada administrator pabrik. Dia kan juga punya prioritas dan jadwal dalam pekerjaannya. Saya yang datang begitu saja tanpa pemberitahuan sebelumnya tiba-tiba memaksa agar diprioritaskan, kok yaa kelihatannya seperti pejabat jaman Orde Baru. Apa-apa minta diprioritaskan. Tidak tahu diri menunggu untuk antri. Mentang-mentang merasa besar dan melihat ada yang lebih kecil, main sikat sembarangan. Seharusnya saya kecewa pada diri sendiri yang sempat-sempatnya berfikiran serendah itu terhadap orang lain.

Dan dituntut untuk menyelesaikan waktu belajar dengan lebih cepat, bukankah itu juga lebih baik? Makin cepat selesai berarti makin cepat pula saya tidak terlihat bodoh di depan orang yang saya kirimi surat.

Lantas apa pula gerangan yang membuat saya merasa didiskriminasi kalau semua orang mendapat jatah belajar yang sama. Andaipun tidak. Semestinya saya bersyukur masih diberi kesempatan untuk belajar lagi.

Terus mengenai saya bodoh, lah kok yaa saya malu mengakui diri kalau saya tidak pintar. Dulu saya sering di ‘bloon-blooni’ oleh teman-teman. Rasanya tidak enak. Sakit hati. Sedih. Tapi kali ini, ketika saya ‘dibloon-blooni’ oleh diri sendiri, rasanya ternyata jauh dari sakit. Apalagi sedih. Sebab saya ternyata mampu bilang pada diri sendiri, “Iya gua nggak pinter. Umur makin nambah, tapi ilmu segini-gini aja. Malu yaah. Makanya itu harus belajar. Supaya pinter”

Barangkali saja, apabila belajar menulis email dan internetan dengan lebih baik dan lebih berguna, saya bisa punya ilmu baru.

(*Soal balon kata di foto, itu saya ngarang sendiri. Maap kalo tersinggung. Apresiasi terhadap bibir presiden tercinta yang makin lama makin seksi mirip Angelina Jolie. Beda antara dua manusia sakti ini nggak banyak sih. Yang satu terbang ke perbatasan Libia ketika perang tahun 2011 untuk membantu pengungsi. Yang satu lagi, terbang ke Sidoarjo tahun 2006 ketika Lapindo merusak alam untuk mengasihani pengungsi, Eh maaf saya salah, ternyata beda antara membantu dengan mengasihani banyak juga yaah. Eh maaf, saya kok ngomongin orang lagi. Hehehe. Soriii…*)


Wawancara

Saya diwawancarai untuk tulisan ilmiah personal, mengenai latar belakang penulisan blog. Karena tulisan ilmiah personal itu sudah jelas bukan bersumber dari saya dan hanya untuk kalangan tertentu saja (si pewawancara dan civitas akademikanya) maka sang pewawancara telah setuju apabila saya membagi hasil wawancara saya dengan beliau di tulisan blog kali ini. (*Ini gara-gara saya sering diwawancarai tapi kok yaa belum pernah baca hasil maupun ulasannya. Hehehe…*)

Ini beberapa cuplikannya. Beberapa bagian bahasa penulisan telah disempurnakan sesuai EYD yang saya ketahui (*dan percayalah kalau saya terakhir berurusan dengan pelajaran bahasa Indonesia sudah belasan tahun lalu. Jadi kalau berantakan, harap maklum. Hehe*)

Bagaimana Anda menulis?

Kalau cara secara teknis; biasanya semua tulisan di blog ini saya ketik pakai perangkat lunak komputer pengolah kalimat seperti Gedit/Notepad++/TextEdit tergantung sistem operasi yang ada di monitor depan muka saya. Lalu disimpan di folder khusus bernama ‘tulisan’. Apabila saya tidak berhadapan dengan komputer di rumah, biasanya semua tulisan dibuat dengan perantara bantuan Google Documents, perangkat lunak berbasis web buatan Google.

Tapi sejak beberapa bulan terakhir ini, semua tulisan kadang ditulis tangan di atas buku atau kertas corat-coret lalu baru diketik melalui papan keyboard jika bertemu komputer. Saya malah biasa menulis di atas secuil kertas koran bekas yang masih tersisa ketika di kereta menuju pabrik di pagi hari. Kertas-kertas itu dikumpulkan lalu dijadikan satu tulisan. Kalau sudah selesai tulisannya, kertas itu saya buang. Mau dikumpulkan? Ahh, saya bukan Leonardo Da Vinci yang tulisan tangannya akan laku jutaan dollar dan dibeli Bill Gates, salah satu orang terkaya di dunia menurut catatan dunia di awal abad 21.

Semua tulisan-tulisan saya di sketch itu masih mentah. Umumnya opini saya pribadi. Kadang-kadang malah lebih banyak daripada secuil prasangka. Jadi daripada saya hidup dengan penuh buruk sangka pada orang lain, biasanya tulisan-tulisan tersebut dikonfrontasi data bahkan hingga dimentahkan oleh saya sendiri. Daripada dibantai orang lain di muka publik, lebih baik saya bantai dulu sendiri itu tulisan.

Apa latar belakang tulisan Anda?

Saya menulis biasanya yang ada di dalam kepala saya. Topiknya tidak tentu. Kadang topik terkini, kadang juga hal yang lawas. Sama sekali tidak menentu. Artinya sederhana, isi kepala saya ternyata sama sekali tidak menentu.

Paling banyak tulisan di blog bangaip dot org biasanya berisi mengenai orang-orang Cilincing. Penghuni desa tempat saya paling banyak menghabiskan masa kanak-kanak dan remaja. Cilincing adalah sebuah lokasi geografis yang menurut saya (sejak saya sering bepergian meninggalkannya) sungguh begitu buruk fasilitas kesehatannya, menyedihkan, miskin, kotor, bau, tinggi angka kriminalitas namun sekaligus tempat yang paling membahagiakan selain di sisi anak perempuan saya. Di banding tempat-tempat lain di muka bumi yang pernah saya kunjungi.

Di blog lain, biasanya menulis mengenai hal-hal yang berhubungan dengan teknis dan keamanan sistem. Tapi ada juga sih yang hanya membahas mengenai objek-objek foto yang saya buat saja.

Saat ini Anda tidak tinggal di Indonesia tapi menulis mengenai Indonesia. Dari mana asal data? (*Latar belakang pertanyaan ini adalah si pewawancara sudah saya beri alamat lengkap dalam beberapa tahun terakhir sebagai bagian dari pengumpulan kesahihan penelitian beliau*)

Tiap hari kontak dengan orang Cilincing. Fasilitas sosial media macam facebook, twitter, youtube, flickr, skype, Buzz dan macam-macam lainnya memudahkan kami saling tukar menukar data (sekaligus cerita-cerita ajaib mengenai hidup sehari-hari). Karena media untuk publik saat ini sudah sangat sedemikian kompleks menarik dan menyediakan sarana cross-check data, maka lebih mudah mengkonfrontasi dan mengecek ulang kebenaran cerita masing-masing.

Indonesia negara besar secara geografis dan populasi penduduk. Tidak bisa sembarangan menulis mengenai negara ini dan pernak-pernik menyertainya. Apalagi terutama soal batas wilayah dan yang sering disebut sebagai ‘harga diri bangsa’, sebab sebagian besar masyarakatnya memiliki nasionalisme yang tinggi. Selain itu, akibat luas geografisnya, terdapat keragaman budaya yang amat menyolok. Itu juga sering membuat saya hati-hati dalam menulis. Tidak bisa menyeragamkan manusia Indonesia dalam satu kategori klasifikasi saja. Begitu banyak ragam manusia dengan atribut mereka di Indonesia (yang biasanya disebut SARA). Pengaruhnya ke data adalah, harus ada pembanding sebagai penguat dan pembantah data yang telah masuk. Kalau tidak ada data pembanding, lagi-lagi tulisan saya bisa dibantai habis-habisan di muka publik.

Takut dikecam pembaca karena tulisan Anda?

Tidak juga. Saya bilang takut dibantai sebenarnya adalah lebih menjurus ke saya pribadi. Saya pikir sama sekali tidak adil menyebarkan berita bohong atau fitnah. Saya takut jadi penyebar dusta. Hidup ini sudah penuh dengan hal-hal yang kadang tidak masuk di akal. Tidak perlu ditambah-tambahi hal yang aneh-aneh. Apalagi menyebarkannya melalui internet.

(*Wawancara pertama habis. Ini wawancara lanjutan. Lewat chat room*)

Sering dikecam karena tulisan di blog Anda?

Sering banget. Dulu mah parah, ada yang ngancem ngebunuh lah lewat email. Trus ada yang ngancem mao nyamperin ke rumah lah. Bahkan ada yang ngebom lewat email. Inbox saya di yang Yahoo penuh isinya sampah semua. Saya trace IP address pengirim email itu ternyata alamatnya sama dengan orang yang sedang beradu argumen di blog saya. Hehehe… Tapi saya mah santai aja sih. Kalo mao dateng, ayuh sini mampir. Kalo perlu sekampung sekalian. Dia dateng bawa tinju, saya hadapi dengan teh manis. Saya punya banyak teh di rumah. Ayo minum dulu… Hehehe.

Apakah Anda dapat uang dari menulis di Blog?

Nggak tuh. Eh sori, iya sih. Tulisan-tulisan saya pernah dibikin buku judulnya cilincing Brotherhood. Trus bukunya dijual. Saya dapat uang dari jual buku itu. Semua uang penjualan+modalnya masuk ke program beasiswa/mikrokredit Cilincing Brotherhood yang dikelola sama teman-teman di SERRUM, Kayumanis Jakarta. Semua uang dari pembaca/pembeli buku itu jadi dipakai buat memberi bantuan pada pengusaha kecil untuk menambah modal mereka atau membangun usaha mereka. Diantaranya bantu buka usaha tambal ban pinggir jalan. Mereka bayar bantuan dengan cara mencicil sesuai kemampuan waktu dan memberi profit semampu yang mereka bisa beri. Dari profit itu, digunakan untuk anak-anak lokal belajar. Ada yang belajar Linux, belajar pembibitan jamur, belajar masak, belajar ngebengkel, pokoknya belajar deh. Tapi nggak bisa bantu banyak, sebab uang yang didapat dari penjualan buku dan profit yang masuk juga memang tidak banyak sih. Tapi nggak apa-apa lah, yang penting kita semua senang-senang aja. Yang penting memang begitu itu… Senang. Hahaha

Suka duka menulis di Blog?

Waduh… Banyak yaah. Dulu malah ada yang ngajakin kawin. LOL.  Tapi yang bikin klimaksnya ajaib adalah, pas saya balas emailnya, “Mbak, saya ini cowok berkeluarga loh. Ditambah lagi kelakuan dan muka saya berantakan”. Dia jawab, “Iya udah tau!”. Buset dah.

Saya dapat kenalan lewat blog. Beberapa penulis luar biasa yang saya kagumi melalui tulisan-tulisannya syukurlah akhirnya sempat ketemu walaupun hanya beberapa saat saja. Waktu kopdaran di Indonesia, saya kaget. Ternyata mereka memang luar biasa. Online maupun offline ternyata mereka punya magnet tersendiri. Saya pikir saya belajar dari mereka melalui tulisan-tulisannya. Mereka orang baik.

Kapan waktu menulis di Blog?

Kan udah dijawab di wawancara yang dulu. Hehe, situ lupa yaah. (*Apa saya kali yaah yang lupa, hahaha*). Biasanya menulis tidak kenal waktu. Kalau ada kertas dan pensil yaa langsung menulis. Yang sebel sih kalau mau tidur dan banyak pikiran. Kalo udah dalem selimut itu males banget ngambil pensil ama buku tulis. Apalagi sudah gelap. Mata sudah biasa dalam remang. Tapi kalo nggak dituliskan, saya malah nggak bisa tidur. Uh, mau tidur saja bisa jadi paradoks begitu.

Bagaimana pendapat pembaca melalui komentar?

Wah saya buruk sekali soal komentar ini sejak awal 2011. Saya sudah susah balas komentar. Saya sibuk sekali. Lebih parah lagi, sering sakit dan nggak bisa online. Balas komentar pembaca itu buat saya nggak bisa sembarangan. Saya nggak berani sembarangan bales. Mereka itu sudah menyediakan waktu khusus buat baca tulisan-tulisan saya. Jadi harus saya hormati dengan sebaik-baiknya.

Wah ini pertanyaan bagus. Seharusnya saya harus lebih rajin membalas komentar. Anyway, saya baca komentar pembaca dengan teliti loh. Pembaca saya itu canggih-canggih. Pinter-pinter yaah. Saya senang sekali kalau dikritik atau didebat argumen mengenai tulisan. Kalau saya kebetulan lagi online mereka suka tanya-tanya. Yang saya bingung jawabnya. Hehe. Tapi umumnya silent reader. Lebih sering kirim email/chat daripada menulis komentar di kolom komentar.

Banyak blogger yang kini jarang menulis, katanya mereka sibuk update melalui twitter atau facebook. Anda bagaimana?

Haha, saya mah malah jarang update lewat twitter atau facebook. Buat saya, sosial media biasanya jadi alat bantu dan bukan tombak utama penyampaian ide. Jadul yaah saya? Hahaha. Tapi yaah, tiap orang kan beda-beda. Saya tipikal orang yang suka nulis panjang terus capek, abis itu istirahat dan baca buku sebagai amunisi bertahan hidup. Saya yakin banget nggak semua orang kayak saya. Kalo iya, sedih banget saya. Hahaha…

Saya pikir sah-sah saja sih kalau para blogger malas menulis kalau alasannya ada media lain yang lebih seksi. Itu manusiawi deh. Bahkan kalau mereka memutuskan untuk tidak menulis dengan alasan apapun, buat saya yaa sah-sah saja. Tiap orang kan punya keinginan masing-masing. Selama tidak merugikan publik, yaa kita terima aja ikhlasin.

Cuma yaa emang sayang juga sih. Kadang saya kangen sama tulisan-tulisan tetangga-tetangga dan teman-teman saya itu. Tulisannya cerdas-cerdas. Sayang sekali kalau punya kemampuan lebih untuk berbagi kepada publik, tapi nggak dipakai. Iya yaah, sayang.

(*Wawancara selesai. Kami saling berterimakasih. Setelah wawancara usai saya berfikir ulang. “Tadi saya ngomong apa yaah? Apa pantes jadi kajian akademis”. Tapi saya cuek saja sih. Hehe. Yang penting memang wawancaranya cukup menyenangkan. Fun. Anyway, saya coba yaah untuk balesin komentar. Sori untuk teman-teman yang selama ini saya ‘cuekin’ komentarnya *)