Rest In Peace Ruyati Binti Sapubi

Saya menulis dalam diam. Secara literal memang dalam diam. Tidak bicara, tidak menyanyi, tidak bergerak kesana-kemari kecuali jari jemari, tidak melakukan apa-apa selain memelototi pena dan kertas dihadapan dan lalu memindahkannya dalam aplikasi google docs dan lalu ke blog setelah proses edit sana sini.

Jika terdengar suara, paling suara-suara lagu teman-teman saya yang menyanyi dalam irama rap atau koleksi lagu-lagu instrumentalia OST (Original Sound Track) film-film kegemaran seperti misalnya OST August Rush, Casablanca atau Blood Diamond. Biasanya, malah instrumen musik-musik klasik macam Beethoven atau Mozart yang mengiringi tulisan-tulisan naik cetak. Saya tidak bisa menulis dengan ditimpali banyak suara manusia.

Di beberapa stasiun kereta, akhir-akhir ini ada iklan besar terpambang di billboard, iklan pena merek BIC. judulnya, wie schrijft die blijft. Arti sederhananya kira-kira, siapa yang menulis akan abadi. Saya melihatnya setiap pagi.

Saya tidak percaya keabadian. Agak aneh memang. Untuk seseorang yang pada akhirnya secara susah payah diberi gelar akademisi hanya karena meneliti tulisan-tulisan dan simbol yang saking tuanya dilupakan orang, saya tidak percaya keabadian dari dunia tulis menulis.

Sederhana; alasannya simpel. Saya tidak percaya keabadian.

Anda boleh setuju. Boleh juga tidak setuju. Toh itu hak siapa saja. Hanya, hingga saat ini yang saya sempat pelajari adalah bahwa hidup memang tidak pernah mengajarkan keabadian. Selalu saja ada yang mati. Entah nyawa manusia, entah kebudayaan, entah pemikiran, entah isme-isme yang selalu begitu banyak menyilaukan mata dan jiwa manusia. Yang pasti, selalu saja ada yang mati.

Suatu saat saya akan mati. Suatu saat toh juga Anda akan mati. Suatu saat, apa yang kita percayai kekekalannya di muka bumi ini, saya-pikir, juga akan mati. Sejarah mengatakannya begitu. Mau bilang apa, itu kan fakta?

Eddard Stark, salah satu karakter dalam serial TV Game of Throne berkata, “… I grew up with soldiers. I learned how to die a long time ago”. Kira kira terjemahannya adalah bahwa ia tumbuh sebagai seorang tentara dan ia mengetahui bagaimana harus menghadapi malaikat maut ketika ditanya apakah ia takut mati atau tidak.

Saya pikir, tidak perlu jadi tentara untuk tahu bagaimana menghadapi maut. Tidak perlu. Oh-oh, sama sekali tidak perlu. Saya pikir, yang lebih penting adalah sebagai apa kita akan menghadapi maut. Buat saya ini penting, ketika wajah berkiblat menghadap maut sebagai seorang pecundang atau tidak.

Sebagaimana pentingnya saya, malam ini, menulis mengenai seorang Ibu bernama Ruyati. Seorang perempuan tua berusia 54 tahun dari Bekasi, sebuah bagian dari kedaulatan negara bernama NKRI yang pada tanggal 18 Juni ditebas lehernya oleh pemerintah Saudi. Dipancung dengan pedang atas nama Qisas, hukum dimana nyawa ditebus nyawa. Dipenggal kepalanya. Dengan alasan, bahwa perempuan tua yang sering disiksa oleh majikannya ini, akhirnya marah dan menuntut balas atas perlakuan kejam yang diterimanya.

Tidak usahlah bicara soal diplomasi. Tidak usah bicara tentang kebijakan politik luar negeri. Tidak usah bicara mengenai hukum agama yang diselewengkan dengan paksa. Tidak usah bicara tentang betapa hebatnya tentara negeri ini. Tidak usah bicara tentang betapa kita menyia-nyiakan para pahlawan, mulai dari pahlawan tanpa jasa, pahlawan gerilya yang makamnya dibongkar di Kalibata, atau pahlawan devisa. Tidak usah!

Taik kucing dengan semua itu!

Mari bicara tentang keadilan yang terkoyak-koyak. Tentang bagaimana orang memperlakukan orang lain lebih buruk daripada mereka memperlakukan sampah.

Mari kita bertanya tentang itu. Dan mari kita bertanya, apa kita masih punya tenaga dan hati?

Malam ini, saya menulis dalam sendiri. Tidak ditemani para legiun yang peduli atau tidak peduli.

Malam ini saya menulis dalam sendiri. Dengan bulu kuduk meremang karena marah. Menggeletar dalam sepi; penuh gejolak yang akan membuncah.

(*Rest in peace Ruyati binti Sapubi. Ash to ash. Dust to dust. Innalillahi. You’re gone but not forgotten*)


0 Responses to “Rest In Peace Ruyati Binti Sapubi”


Comments are currently closed.