Monthly Archive for July, 2011

Hidup Eksak

Berkarya itu tidak mudah. Baru tahu? Tidak juga sih. Sudah lama saya tahu kalau berkarya itu tidak mudah.

Kemarin saya memotret, hasilnya buruk. Banyak kotoran terlihat di foto. Entah bisa jadi itu kotoran adalah kotor akibat lensanya kotor, bisa jadi karena memang saya yang tidak ahli. Kelihatannya sih kombinasi dua-duanya. Saya memotret wajah Reno yang duduk di sebelah Untung, kok yaa bisa-bisanya foto muka si reno coreng-moreng? Padahal sumpah mati dia sedang tidak pakai kosmetik dan saya juga tidak memodifikasi foto. Memotret itu tidak mudah. Setidaknya buat saya.

Karena memotret sudah tidak begitu pandai jadi saya coba saja lah untuk menulis. Kebetulan saya sedang dapat tugas menulis laporan. Dua tiga paragraf masih oke, sisanya berantakan. Mulai dari yang saya sudah tidak konsentrasi (maunya tidur saja) hingga music gypsy punk Gogol Bordello yang menghentak-hentak membuat ingin berdansa. Pada intinya, tugas menulis laporan itu akhirnya berantakan. Setelah empat paragraf, saya putuskan untuk berhenti menulis dan mengalihkan perhatian ke dapur untuk memasak.

Lalu saya putuskan untuk memasak sesuatu yang istimewa malam itu. Sesuatu yang dahsyat. Bukankah urusan lidah dan perut berupa makanan adalah juga karya seni? Iya, saya putuskan untuk tidak menyerah jadi seniman malam itu. Oke memang kalau saya tidak bisa memotret, tidak bisa menulis, tapi minimal kan saya harus bisa memasak. Ini karya seni saya. Makanan!

Saya mulai dengan sesuatu yang sederhana. Bukankah semua maestro memulai masterpiecenya dari sesuatu yang sederhana? Sesuatu yang sederhana yang terlintas di otak saya tentu saja tidak jauh dari sambal. Apa sih yang susah dari sambal? Ambil cabe, bawang putih, bawang merah, tomat dan garam lalu gerus bersama-sama. Mau yang lebih rumit? Tentu saja bisa dicampur terasi, atau digoreng, atau dicampur apalah hingga menghasilkan sesuatu rasa baru.

Terambillah cabe, bawang, tomat, dan kacang. Saya ulek semuanya dengan kadar gerak tangan yang mirip kesadisan pada film horror. Tentu saja sama sekali tidak menakutkan, malah cenderung romantis. Airmata saya berlinang ketika mengulek sambal. Kelihatannya uap bawang Bombay menari di pelupuk mata membuat saya menangis. Romantis kan? Hehe…

Tidak lama kemudian sambal kacang hangat jadi pula tersaji di atas meja. Saya ambil ketimun, diiris sedang hingga sepiring penuh. Pelan-pelan saya santap sajian malam ketimun sambal kacang dengan nikmat.

Yang saya pelajari malam itu ada dua. Pertama adalah; satu peristiwa adalah pemicu dari peristiwa yang lain.
Sementara yang kedua yaitu; satu kejadian adalah hasil dari kejadian yang lain.

Terlalu filosofis? Entahlah… Sebab saya tiba-tiba berfikir, “Coba kalo si Reno mukanya nggak belepotan di layar monitor, apa iya gua makan sambel kacang malem ini?”

Bisa jadi tidak.

Mari kita lanjut ke cerita lainnya

Beberapa minggu lalu saya bertemu dengan seseorang dengan pekerjaan dan jabatan yang buat saya aneh sekali. Namanya, ahh panggil saja dia Anton. Nah si Anton ini ketika berjabat tangan dengan saya mengenalkan diri sebagai, “Anton, personal trainer”.

Saya bengong. Jelas iya saya bengong. Berdasarkan kamus otak saya yang cupet ini, personal trainer terjemahan dalam bahasa Indonesianya adalah ‘pelatih kebugaran’. Menilik dari rupa si Anton yang tingginya hamper dua meter dan kurus ini, kelihatannya ia sama sekali bukan ahli kebugaran. Mana saya percaya ia adalah pelatih kebugaran badan?

Setelah ngobrol panjang lebar hampar dua jam dengan si Anton dan pacarnya yang orang Texas itu, saya baru sadar bahwa yang ia maksud adalah bahwa ia seorang pelatih kehidupan.

Wooow… Saya tambah melongo. Pelatih kehidupan. Saya pikir selama ini, jika Anda adalah seekor anjing yang memiliki tuan seorang manusia yang hidup dalam tatanan masyarakat dimana anjing harus sekolah, maka hidup Anda harus dilatih. Ternyata saya salah. Ternyata manusia juga harus dilatih untuk hidup.

Dari Anton, saya dapat informasi. Bahwa di dunia ini ada manusia yang hanya bisa hidup jika punya masalah. Jadi, kalau tidak ada masalah, hidupnya hampa. Buset dah. Di sisi lain, ada manusia yang sama sekali tidak bisa hidup dengan masalah. Inginnya selalu lari dari masalah. Entah sembunyi, entah menghindari. Yang penting lari. Tugas Anton, menyeimbangkan hidup orang-orang seperti itu. Kata dia, nama kerennya ‘coaching’.

“Begini Ip, kamu tahu ga konsep kebahagiaan?”

Saya menggeleng. Mana saya tahu konsep kebahagiaan.

“Kamu bahagia ga?”

Yaelah pertanyaanya aneh sekali. Tapi daripada saya tambah bingung, saya jawab saja “Ton, kalo saya makan enak, terus kenyang terus abis itu bisa duduk selonjoran, saya bahagia. Atau maen sama anak saya atau temen-temen saya sambil ketawa-tawa. Saya mah udah senang. Idup saya segitu mah udah cukup”

Dia bengong. “Kamu nggak butuh mobil eksotis, rumah?”

Saya mengerenyitkan alis, “Yaelah Anton, saya kaga bisa nyetir. Mao dikasih mobil satu pabrik juga percuma. Saya lagian udah tinggal di rumah kontrakan. Apa yang kurang?”

Dia bengong lama. Abis itu dia bilang begini, “Oke sori… Kita balik lagi ke topik kebahagiaan. Kamu tahu ga kalau definisi kebahagiaan itu adalah sederhana. Jika kamu dikelilingi oleh orang yang bahagia, maka kamu akan bahagia. Begitu pula dengan kerjaan saya. Saya coba membuat orang-orang yang mulai mempertanyakan hidup mereka untuk menggali kebahagiaan mereka sendiri”

Saya bengong. Njelimet sekali ini penjelasan si Anton. Maksudnya gimana sih?

“Maksudnya, kamu akan bahagia jika dikelilingi oleh orang yang juga satu pemahaman dengan kamu”

“Jadi kalo nggak sepaham nggak bahagia, Ton…?”

“Bisa, tapi susah. Harus saling memahami agar mudah”

“Trus gimana caranya agar bisa saling memahami?”

“Nah itu lah gunanya pekerjaan saya. Ini bisnis booming looh. Orang-orang sekarang sedang hobi mencari pemahaman atas dirinya sendiri”

“Ooh kamu psikiater dong?”

“Buuuukaaaan… Kamu gimana sih? Dari tadi nggak ngerti-ngerti juga”

Sumpah saya tidak mengerti. bahkan ketika Anton bilang bahwa manusia berjenis kelamin pria itu mengambil keputusan satu kali per setiap tujuh detik dalam waktu sadarnya dan wanita tiga kali kelipatannya agar mereka bahagia, saya masih tetap tidak mengerti.

Saya bloon?

Bisa jadi.

Tapi dari dua cerita di atas, saya malah belajar satu hal yang baru. Dua-duanya berbuntut pertanyaan dengan jawaban yang memiliki kemungkinan. Jawabannya bisa benar, bisa juga salah. Tapi itu sama sekali bukan baru toh. Yang baru adalah, bahwa peristiwa runtutan hidup dan kebahagiaan (atau apapun definisinya) itu sama sekali tidak eksak. Bahwa kadang-kadang ada saja dalam kejadian sehari-hari yang terjadi di luar nalar dan logika.

Baru? Mungkin buat Anda tidak. Tapi buat orang-orang yang terbiasa (karena terpaksa) punya rencana B, C dan seterusnya jika rencana A gagal ini macam saya, tentu saja ini hal yang baru.


Bahasa Yang Tidak Sederhana

Begini. Jelasnya ia bilang begini, “bahasa hukum itu tidak bisa sederhana. Ia harus jelas, detil dan pasti” ketika saya bertanya mengapa putusan sebuah kasus di pengadilan dapat mencapai berlembar-lembar kertas A4.

Saya percaya. Lah habis mau bilang apa lagi. Bukan hanya latar belakang teman satu ini yang ahli hukum, melainkan ia juga menerangkan dengan sangat gamblang melalui contoh:
“Jika A berhutang pada B, lalu A mangkir bayar. B membawanya ke pengadilan. Pengadilan memutuskan bahwa A harus bayar hutang pada B. Apa iya putusannya begitu saja? Kan harus dijelaskan kapan A bayar, dimana membayarnya atau berapa jumlah bayarannya atau hal-hal lain yang berurusan dengan piutang tersebut. Dan semua itu tidak simpel kan?”

Saya manggut-manggut. Logikanya jelas. Bahasa administrasi hukum memang harus jelas. Sampai poin ini, saya mengerti.

Dan poin itu pula lah yang selalu saya bawa kemana-mana ketika bicara soal hukum. Memang sih saya bukan ahli hukum, tapi biasanya tertib membaca aturan main yang berhubungan dengan hukum.

Saya dianggap orang aneh oleh beberapa teman, karena menurut mereka (jelas subjektif toh?) saya satu-satunya orang yang mereka kenal selalu membaca dengan amat teliti perjanjian lisensi (end-user licence agreement) sebelum melakukan instalasi perangkat lunak pada komputer. Walaupun dianggap aneh, saya tidak peduli. Sebab perjanjian-perjanjian itu sempat beberapa kali menyelamatkan isi kantong saya secara signifikan. Jadi, administrasi hukum yang jelas, dan kadang bertele-tele dan rumit itu, kadang ada gunanya.

Saya sadar. Sepenuhnya sadar kok. Bahwa hukum itu berbeda dengan keadilan.

Hukum adalah produk. Jika negara kita analogikan sebagai pabrik dan masyarakat adalah konsumen, maka hukum itu produknya. Dan jika memakai analogi yang sama, maka akan ada dua hasil dari produk yang dihasilkan oleh sang pabrik.

Pertama, produk yang diinginkan oleh konsumen. Namanya, hukum berorientasi publik. Kedua, produk yang akan menguntungkan buat pabrik. Namanya? Ahh yang ini pada jaman modern kini tidak ada namanya. Karena ketika monarki-monarki di dunia ini hancur, hancur pula produk yang hanya menguntungkan negara.

Pada produk pertama, yaitu produk yang diinginkan konsumen, maka pabrik akan mengikuti selera pasar. Apapun yang diminta oleh warga sebagai konsumennya, maka pabrik harus setuju. Pada negara-negara yang ada saat ini (2011), aturan main model begini acapkali dipakai. Hukum dibuat demi kepentingan masyarakat.

Sisi baiknya, produk hukum sebuah negara yang berupa Undang-Undang, Instruksi Presiden, Peraturan Daerah atau bla-bla-bla lainnya akan sebaik-baiknya dibuat demi kemaslahatan umat. Sisi kurang baiknya, well kita semua tahu bahwa warga negara itu bukan kumpulan orang satu RT saja. Warga negara itu banyak. Mengakomodasi semua tuntutan, adalah hal yang mustahil. Maka dipilihlah suara terbanyak dalam mengakomodasi tuntutan warga. Dalam implementasinya, yang tidak setuju biasanya tidak terlalu dirugikan. Tapi sialnya kadang-kadang pada ujung-ujungnya, ada minoritas yang terkoyak.

Henry VIII picturePada produk kedua, dimana hukum dihasilkan negara demi kepentingan negara. Ehmmh, ini kejadiannya sudah lama. Contohnya di Inggris, ketika raja Henry VIII meminta gereja untuk menikahkan ia dengan selirnya. Tentu saja Paus menolak. Sebab poligami tidak ada dalam kitab suci yang dipercayainya. Henry VIII tidak peduli. Ia tetap menikahi selirnya bahkan hingga enam perempuan dikabarkan sah jadi permaisurinya. Undang-undang pernikahan saat itu di Inggris jadi berbeda (walaupun akhirnya UU poligami Inggris berakhir ketika Henry VIII meninggal tahun 1547 akibat kegemukan, pirai dan sipilis). Namun disini terlihat jelas, bahwa penguasa (Raja) mengeluarkan instruksi yang mampu membuatnya setingkat atau lebih dari hukum gereja reformasi yang menjadi standar baku saat itu.

Walaupun kelihatan tidak ada bagus-bagusnya hukum ini, sebab hanya akan mengukuhkan negara sebagai penindas saja, tetap ada sisi positifnya pada sisi tertentu. Kebijakan Dagang Beras Jepang sejak tahun 1961 hingga saat ini (2011) misalnya. Hukum ini ternyata melindungi Jepang sehingga bisa swasembada beras dan memakmurkan petani beras. Contah lainnya lagi, ketika dunia dilanda krisis global sejak 2008, banyak sekali pemerintah negara-negara di dunia yang mengambil alih tata cara perdagangan aset milik rakyat (Contoh: Swedia dan Denmark di tahun 2009 yang memperketat peraturan agar warganya tidak menjual properti pada masa krisis).

Di Republik Indonesia, kita memilih yang pertama. Kita? Entahlah… Mungkin tidak sepenuhnya tepat kalau disebut kita. Sebab toh para pendiri bangsa memilihkan hukum itu untuk kita. Para manusia Indonesia yang masih hidup saat ini.

Yang pasti, saat ini kita percaya bahwa hukum di Indonesia dibuat demi kepentingan Warga Negara Indonesia. Mulai dari presiden hingga jelata, tua muda, pria wanita, kalau masih bisa disebut WNI, maka hukum ini memang spesial untuk mereka.

Namun ajaibnya, meski digadang-gadang kalau Undang-Undang Dasar negara yang sebenarnya diterjemahkan dalam kitab hukum pidana maupun perdata, kelihatannya bahwa isi hukum di Indonesia terdiri dari gado-gado hukum kontingental Eropa (warisan penjajah Belanda), hukum agama (akibat mayoritas reliji warga negara), dan hukum adat (karena banyaknya suku-suku di nusantara).

Jadi pada intinya, yang bikin hukum jaman dulu itu (entah jaman kini juga) kelihatannya asik sekali main comot sana-sini. Ambil yang baik, buang buruknya, tentu saja ini yang jadi motivasi.

Tapi apa benar kita telah mengambil yang baik dan membuang buruknya?

Apa benar, mengambil yang baik dan membuang yang buruk menjadi salah satu motivasi para pengambil keputusan para manusia setengah dewa itu yang produk bernama hukumnya akan menentukan nasib makhluk hidup bumi pertiwi? Apa benar hukum masih berpihak pada warga, bukan pada oligarki para pemilik modal besar saja?

Jika benar, bukankah hukum seharusnya dibuat atau diambil untuk melindungi makhluk hidup dan bumi ini, bukan malah mengancam atau merusaknya?

Beberapa waktu lalu, saya membaca kembali kasus Rumah Sakit Omni vs Ibu Prita.

Saya kira kasus ini telah selesai. Prita menang! Koin terkumpul di Langsat sampai karungan. Bahkan para rocker ikut teriak menyanyi demi kebebasan dalam konser bernama Free Prita. Oh yeah!

Iya Prita menang. Suara konsumen menang. Suara wong cilik menang!

Saya kira ia menang. Anda kira ia menang?

Kelihatannya saya salah. Kelihatannya Anda salah.

Pagi ini membaca bahwa Mahkamah Agung mengeluarkan kasasi keputusannya dalam kasus Prita vs RS OMNI. Dalam putusan kasasi tersebut, Prita nantinya akan dihukum penjara kembali seperti yang dialaminya dahulu saat menghuni penjara wanita Tangerang. (sumber AntaraNews)

Iya, kita kaget membacanya. Bukankah negara telah dengan paksa merenggut ibu-ibu korban malpraktik RS OMNI ini dari anaknya dengan memasukkannya ke penjara dulu? Loh kok sekarang akan dimasukkan penjara lagi? Jika memang haknya sebagai konsumen dan ibu telah diinjak-injak dan keadilan tidak berpihak kepadanya, kemana itu produk hukum gado-gado warisan nenek moyang yang seharusnya dan katanya melindungi warga?

Saya pikir para manusia yang ada Mahkamah Agung jelas bukan orang tolol. Juga jelas bukan para anak sundal yang berhobi fetish menjilat pantat. Seharusnya saya pikir mereka jauh… Jauuuuh lebih pintar daripada saya dan orang sekampung Cilincing yang awam ini melihat korelasi antara hukum dan keadilan.

Jika Prita sudah diperlakukan tidak adil oleh negara dan hukum juga tidak berpihak kepadanya. Kepada siapa lagi kita akan berharap?

Hukum dan keadilan itu memang beda. Hukum itu produk. Jika produk itu sudah busuk, bukankah kewajiban kita menggantinya dengan yang lebih baik?

Apa yang terjadi dengan Prita itu sudah sedemikian busuk.

Jika hukum itu produk…. Jika produk itu dibuat dan disetujui kita sebagai warga negara… Apa artinya kita juga ikut busuk? Jangan-jangan hukum yang busuk adalah cerminan kita yang sudah benar-benar membusuk?

Padahal dalam bahasa yang sederhana atau bukan… Jika hanya dengan diam, kita pula akan membusuk pelan-pelan.


AJarPul (Anak Jarang Pulang)

Saya mengobrol dengan Kang Adi, berbagi cerita. Cerita kami topiknya soal manusia dan nasibnya.

Kami berdua sama-sama tidak percaya bahwa ada faktor luar biasa yang mengubah nasib manusia selain manusia itu sendiri. Maksudnya mungkin, bahwa manusia menentukan apa yang ia jalani dalam hidup.

Lalu obrolan kami mulai menjurus spesifik, yaitu contoh nyata.

Kang Adi temannya wartawan kecil. Hidupnya pas-pasan. Tapi selalu bermimpi jadi pembalap mobil rally. Aneh sekali. Bagaimana mungkin gaji wartawan yang hanya bisa menyambung hidup pas-pasan keluarga mereka mampu membiayai si kepala keluarga jadi pembalap mobil?

Nasib berkata lain. Tepatnya, si wartawan kecil ini memilih nasibnya sendiri. Ia meliput berita-berita olahraga dan akhirnya diterjunkan ke desk balap mobil. Disana bertemu dengan orang-orang sejiwa, belajar, dan saling berbagi. Disana ia bertemu sahabat-sahabat baru yang mengerti panggilan jiwanya. Sesama pembalap.

Dan kini, ia benar-benar jadi pembalap mobil rally.

Saya ganti cerita. Contohnya jelas cerita soal tetangga saya, si Man. Kata orang-orang dia itu edan. Bapaknya tukang kebun sekolah, sementara mamanya ibu rumah tangga. Orangtuanya sih biasa saja. Maksudnya tidak ada seorangpun dari keluarga mereka menampakkan kegilaan-kegilaan tertentu. Hidup mereka sederhana. Kakaknya si Man satu. Adiknya tiga. Semuanya sekolah dekat rumah. Wajar-wajar saja. Lah waladalah kenapa pula si Man itu ternyata gila olahraga dirgantara terbang layang (hang gliding).

Bapaknya Man bisa jadi model tipikal bapak-bapak yang entah karena tuntutan hidup sedemikian keras, harus cari sampingan kiri-kanan membiayai anak-anaknya. Selain tukang kebun, ikut potong-potong ranting pohon tetangga kiri-kanan sebagai tambahan harian. Jadi, bapaknya Man ini sama sekali bukan pilot, superman apalagi gatotkaca yang bisa melayang. Kok yaa punya anak yang kepingin terbang?

Mamanya si Man, benar-benar ibu rumah tangga biasa yang baik. Sedari kecil semua anak-anaknya tidak pernah absen di Posyandu. Imunisasi lah. Lomba bayi sehat lah. Pokoknya, kesehatan anak harus tetap jadi prioritas, walaupun mereka bukan dari keluarga kaya. Mamanya si Man ini ibu rumah tangga yang baik. Namun sebaik-baiknya beliau yang lulusan SD Kemayoran ini sangat punya kemungkinan besar tidak pernah membaca tragedi Yunani yang melibatkan anak Daedalus yang bernama Ikarus yang melarikan diri dari Pulau Kreta dengan merekatkan lem dan bulu dijadikan sayap agar bisa terbang.

Maksudnya, mamanya si Man kelihatannya bukan pencinta dunia aeronautika. Kok yaa salah satu anaknya bisa sangat mencintai berada di atas langit sana?

Sejak kecil, si Man sudah menunjukkan gejala-gejala yang menurut warga kampung kelas rendahan macam kami, sama sekali tidak masuk di akal. Sejak kecil, Man gemar mengumpulkan gambar pesawat, mulai dari pesawat kecil hingga yang besar.

Lulus SD, Man terpaksa dibawa ke rumah sakit. Ia memanjat loteng dan lalu loncat dari atas sana dengan payung besar yang biasanya dipakai Umi kakaknya kalau mengojek ketika hujan.

Kali ini bapak yang biasa diam melihat kelakuannya pun berkomentar, “Lain kali, kalau mau matahin, jangan payung Umi. Jangan pula kaki kamu…”

Man menganggap komentar itu sebagai sebuah persetujuan. Tentu saja persetujuan untuk aksi-aksi selanjutnya.

Lulus SMP dan mulai mengerti bahwa daerah Puncak yang dekat Jakarta itu ternyata tinggi dan lebih banyak anginnya ketimbang Cilincing. Ia sering bolos dari sekolah untuk pergi ke sana.

Suatu hari ia ajak Umi untuk bolos bersama. Ketika Umi menolak, Man bersikeras memberitahu bahwa ia bukan hanya sudah berhasil mendisain layang-layang raksasa. Melainkan juga sudah membuatnya dengan bantuan tukang jahit di sebelah pabrik kerupuk. Rangkanya dari jari-jari roda sepeda. Kain pembalutnya dari jaket parasit yang ia sering temukan di sampah lokalisasi pelacuran dekat kampung kami. Kata Man, “Mi, gua ngiket badan gua ke layangan biar bisa terbang. Lu nanti yang manggil orang-orang buat narik kalo gua mao turun”

Umi jelas menolak dengan ide gila adiknya. Padahal kata Man, ia sudah mati-matian mengantar koran tiap bulan dan tidak jajan demi mewujudkan mimpinya terbang bersama layangan raksasa di Puncak sana.

Man tidak patah hati. Ia bolos lagi. Membawa buntalan besar ketika berangkat sekolah dan tidak pulang setelahnya.

Bapak mama si Man bukan tipikal orang tua yang anaknya baru tidak pulang semalam sudah seperti kebakaran jenggot. Lagipula track record si Man ini memang sudah terkenal sebagai AJarPul (singkatan dari Anak Jarang Pulang). Namun tiga hari tidak ada di sekolah dan tidak pulang ke rumah, membuat kedua hati orang-tuanya kebat-kebit juga.

Hari selanjutnya ketika Umi akhirnya mau buka suara, ada roda mobil berhenti di depan rumah. Yang turun kelihatannya bukan orang kampung kami. Anak muda, gondrong-gondrong. Kulitnya bersih. Mobilnya juga bukan mobil pick-up bau ikan asin sebagaimana mobil-mobil yang banyak beredar di kampung kami.

Salah satu yang badannya paling besar, membawa Man dalam papahan. Katanya, mereka menemukan Man dalam ‘posisi yang aneh sekali’. Jelas aneh, mana ada anak kecil normal dengan layang-layang raksasa yang tidak mau terbang dan akhirnya terpuruk di perkebunan teh membuat api unggun sendirian di malam hari?

Man jadi terkenal di kampung kami. Bukan karena terkenal karena keanehannya. Itu sih lagu lama. Melainkan Man terkenal di kalangan gadis-gadis kampung. Cowok-cowok gondrong berkulit bersih itu kata mereka anak orang kaya yang cool. Entah darimana tahunya, biar sajalah. Yang pasti Man sering dititipi salam dari gadis-gadis itu untuk para cowok gondrong. Bukan apa-apa, Man jadi sering nongkrong sama para cowok gondrong itu.

Aneh, Man jadi rajin sekolah. Tiap jumat sore dijemput teman-temannya naik mobil. Entah kemana. Saya tidak peduli. Ahhh… Salah. Sebenarnya saya sangat peduli. Lebih tepatnya, sangat cemburu.

Ahh tapi saya sudah punya laut dan pantai. Kenapa harus cemburu pada Man?

Kata mamanya, Man ikut klub para-para. Waktu saya tanya apa maksudnya paragliding, beliau mengangguk mengiyakan. Katanya, “Pokoknya yaang bisa terbang-terbang gitu deh. Duh Mamah maah cuman bisa ngedoain aja. Abis bisa apa lagi Mamah? Kata temen-temennya dia kudu rajin sekolah. Kalo rajin, nanti diajakin maen. Ikut klub. Dipinjemin peralatan. Itu loh, biar bisa terbang naek layangan raksasa”

Hari berlalu. Dan berlalu. Dan berlalu. Berlalu…

Man kini dewasa. Kalau bertemu kami berdua selalu memlilih warung makan pinggir laut yang dekat bandara. Kata Man, disitu ia bisa melihat benda-benda terbang kesayangannya di udara sambil bercanda dengan sahabat didepannya yang selalu takjub menatap riak-riak ombak.

Saya tertawa. Saya pikir, mungkin karena ia pilot sekarang. Jadi lebih suka rendezvouz dekat tempat kerjanya.

Ahh iya. Man jadi pilot sekarang. Siapa sangka anak tukang potong ranting kebun yang hidupnya sangat sederhana itu bisa jadi pilot?

Tidak ada.

Kecuali Man. Sebab sore itu ia berkata, “Lu tau ga? Waktu kita mancing dulu sama-sama setiap gua ngeliat ke langit gua pasti yakin kalo gua selalu bisa terbang di sana”

Setiap saya dapat kesusahan menatap jalan hidup ke depan yang kelihatannya selalu membingungkan dan rumit, saya selalu ingat Man. Bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Cita-cita dan kerja keras selalu bisa mengubah segalanya.

Ahh apa iya yaah?

Saya pikir bukan hanya cita-cita dan kerja keras… melainkan juga bertemu orang yang tepat.

Tapi siapa sih sebenarnya orang yang tepat? Entah buat Anda, yang pasti menurut saya, mungkin memang tidak selamanya hidup dikelilingi orang yang tepat atau semestinya. Yang pasti jika teman-teman saat ini selalu mampu membuat tertawa bahagia, maka beruntunglah saya. Sebab mungkin mereka tidak mampu menjadikan saya menjadikan saya petani atau penari yang selalu saya cita-citakan. Tapi mereka selalu mampu membuat tersenyum.

Toh dengan senyum kita mampu mengubah dunia. Setidaknya dunia kita :)

(*Eh boleh minta tolong? Kalau habis baca ini, mohon senyum ke makhluk pertama yang Anda lihat. Bisa cowok, cewek, kakek, bocah, orang di seberang cermin, bahkan pada semut jika ada… Boleh? Senyum sejenak nggak dosa dan nggak bikin anda susah loh… Jujur aja, saya sendiri abis nulis ini nggak berani senyum ke orang pertama yang saya lihat. Maka itu, saya memberanikan Anda menjadi contoh pertama korban… hihihi*)