Boombox Tanpa Bass

boombox imagePernah ikut solat idul korban? Saya mah pernah. Dulu, sering banget malah.

Bagi yang tidak tahu apa itu solat idul korban, ada baiknya saya terangkan sedikit. Solat idul korban adalah penamaan terhadap ritual reliji yang dilakukan secara bersama-sama orang kampung saya pada hari tertentu dimana kami setelah itu makan sate kambing dan sambal kacang sampai puas.

Sebagai anak-anak saya tidak perlu tahu apakah kambingnya masuk surga karena mengenyangkan perut kami atau siapa yang beli kambing dan darimana duitnya. Sebagai anak-anak saya tidak tahu dan mungkin tidak mau tahu. Yang penting setelah itu selain makan gulai kambing dan lontong kecap, musolah kampung kami punya bedug baru. Itu artinya saya dan teman-teman bisa memuaskan bakat gila terpendam memukul drum laksana Phil Collins yang terlihat di kaset milik paman. Pada intinya hanya satu, solat idul korban itu menyenangkan. Setidaknya buat saya dan tetangga-tetangga di Cilincing yang merasa beli dan makan daging adalah sebuah kemewahan.

Walaupun menyenangkan, solat idul korban itu ada anehnya juga. Bayangkan, sejak saya kecil sampai ABG, itu ritual kok yaa tidak berbeda sedikitpun juga. Sambil duduk nongkrong di lapangan SMP dekat rumah, semua orang diminta mendengar ceramah tentang seorang bapak yang akan menyembelih anaknya tapi karena suatu dan lain hal, maka anaknya diganti jadi kambing (*eh apa onta yaah? Lupa gitu saya*). Pokoknya kira-kira intinya begitu deh. Jika mau tahu lebih detil, jangan tanya saya, datang saja ke lapangan dekat rumah Ibu saya di Cilincing sebuah desa pesisir pantai Jakarta sana pada pagi hari Idul Korban (yang selalu terik).

Tapi sumpah mati, sampai detik ini saya kok yaa tidak pernah berpikir jika si anak diganti kambing, maka si kambing seharusnya diganti apa? Ahh tapi lupakanlah pertanyaan bodoh itu. Pertanyaan yang sering dilontarkan oleh orang-orang kampung saya sih, “Kok kambing? Pan mahal. Kenape kagak ikan aje. Pan gampang tinggal mancing”
(*Setelah cukup besar, saya akhirnya baru tahu kalau di Jazirah Arab sana ternyata jarang ada pancingan*)

Eh melantur. Balik lagi deh ke solat idul korban. Kenapa yaa tiap tahun si Ustad ceramahnya sama? Si Gugun adik saya, sampai hapal tuh luar kepala apa yang si Ustad omongin tiap tahun. Kata Gugun, “Pak Ustad punya memori hebat. Udah kayak kaset. Kalo jumat dia puter kaset buat hari jumat. Nah kalo hari ini, dia puter soal kambing lah. Lu tau ga boombox? Nah Pak Ustad tuh udah kayak gitu. Bedanya, doi nggak ngebass aje”

Dan omongan si Gugun lah yang menempel erat di otak saya ketika tadi pagi teman saya Tanti bertanya, “Eh ip, sekarang tujuhbelasan men. Kita kerek bendera yuuk…” dan lalu terjawab dengan, “Gua adanya sarung, Tan. Kita hormatin aja sarung gua aja yuuk…”, yang membuat kami berdua terbahak-bahak.

Di timeline social media hingga ranah blog, semuanya ramai membahas kemerdekaan. Mulai dari selebriti sampai tetangga saya di Cilincing, semuanya ramai-ramai merdeka. Hehe, saya sih bahagia-bahagia saja. Apa salahnya mengaku merdeka?

Walaupun tahun ini untunglah saya tidak sirik sebagaimana biasanya tidak bisa ikutan makan krupuk dan lomba-lomba ajaib lainnya, sebab tidak seperti tahun sebelumnya para pesertanya kali ini kebanyakan lemes akibat puasa.

Omongan Gugun menempel erat. Hari ini di hari kemerdekaan RI. Setiap tanggal 17 bulan Agustus, semua orang bicara kemerdekaan. Bicara lepas dari penjajahan (atau malah belum). Bicara peristiwa berdarah ini dan berdarah itu. Bicara bambu runcing ini bambu runcing itu. Bicara kemerdekaan koruptor yang bebas melenggang. Bicara Upah Minimum Regional yang masih tidak manusiawi apalagi merdeka. Semua orang, tiba-tiba merasa menjadi nasionalis sejati (*entah apa maksudnya yang pasti hati-hati lah pakai jargon. NAZI yang ngeselin itu arti singkatan dari sosialis nasionalis loh*). Semua orang merasa memiliki bumi pertiwi ini. Semua orang tiba-tiba merasa paling Indonesia ketimbang lainnya.

Semua orang, mau-tidak-mau-termasuk-saya-dong, udah mirip Pak Ustad pas solat Idul Korban. Puter kaset yang sama setiap tahun. Mirip boombox tanpa bass. Nyaring… Tapi ahh entah kenapa, akibat terlalu monoton terlihat lepas dari makna dan terdengar, garing.

Saya mau cerita tentang operasi penyelamatan nelayan Indonesia di luar RI. Entah kenapa, malas menuliskannya. Bukan karena malas berbagi cerita, bukan juga gara-gara kejadian heroik ini tidak terjadi pada tanggal 17 Agustus, bukan pula akibat operasi penyelamatan dramatis itu justru dilakukan oleh orang-orang yang terusir dari RI. Bukan. Sama sekali bukan.

Saya hanya khawatir saya akan berubah jadi Pak Ustadz kampung kami. Masih untung kalau memang jago nge-DJ seperti menghapal dan mixing banyak ayat, surat dan lalu menggunakannya dalam membantu umat. Bagaimana kalau cuma sekedar jadi radio rusak, ulang lagu lama setiap saat? Jadi boombox yang nyaring tapi garing?

Sumpah deh saya tidak mau jadi boombox yang nyaring tapi garing. Kalau memang saya harus hidup sebagai boombox, maka saya mau jadi boombox yang mengiringi para bboy/bgirl menari dalam gerak dinamis breakdance. Kalau memang saya boombox, saya mau jadi boombox yang memproduksi semua suara menjembatani para rapper menuju nirwana mereka.

Anehnya semakin bertambah tahun saya malah semakin terlihat seperti radio rusak. Makin nyinyir. Makin apatis. Makin tidak spontan. Makin-makin lainnya lah yang tidak begitu enak.

Ahh, kelihatannya saya harus memerdekakan diri sendiri dulu nih?

(*By the way, soal penggantian kurban dari kambing ke ikan, sempat menimbulkan polemik di kampung kami. Akhirnya setelah para tetua kampung bermusyawarah dan bermufakat secara marathon berbulan-bulan lamanya, kami memutuskan untuk akan memakai kambing saja ketimbang ikan. Alasannya; kulit ikan susah dijadikan bedug*)


0 Responses to “Boombox Tanpa Bass”


Comments are currently closed.