Archive for the 'bahasa' Category

Cerita Drama Dengan Lakon Website DPR RI


Peretesan adalah bahasa Indonesia yang berasal dari terjemahan bahasa Inggris ‘hacking’. Pada implementasinya, perubahan tampilan situs web secara tidak resmi dan dilakukan bukan oleh sumber daya resmi yang disetujui oleh pemilik situs web bahkan disebut juga sebagai peretasan.

Beberapa hari ini media massa di Indonesia hingga narablog ramai memberitakan peretasan terhadap situs web pemerintah antara lain milik POLRI (yang setahu saya memang sering diretas) dan situs Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas). Berita ini bahkan sudah sampai ke media mainstream. Akibatnya, datang tanggapan dari publik. Baik pro maupun kontra. Tapi kali ini saya tidak akan membahas pro dan kontra peretasan situs pemerintah. Saya hanya bapak-bapak buruh biasa yang berasal dari Cilincing, sama sekali bukan peretas. Saya pikir saya tidak cukup pintar untuk perlu mencampuri urusan peretasan tersebut.

Tapi, saya akan bicara soal situs web dewan rakyat Indonesia yang beralamat di http://dpr.go.id. Iya, saya akan bicara soal situs web Dewan Perwakilan Rakyat.

Karena ceritanya agak rumit, mungkin akan lebih baik jika saya urutkan berdasarkan kronologi waktu saja. Begini kronologinya:

Rabu 11 Mei 2011 – Anggota Komisi I DPR dari Fraksi Partai Demokrat (PD), Roy Suryo, berkata kepada wartawan di gedung DPR, Senayan, Jakarta, bahwa pengadaan sarana IT (Informasi Teknologi) di DPR adalah sebesar 9,4 Miliar rupiah (sumber: detiknews http://goo.gl/7GIpF)

Rabu 11 Mei 2011 – DI hari yang sama, wakil ketua DPR Pramono Anung berkata bahwa ia akan melakukan pengecekan dan ketika sudah selesai, ia bilang bahwa stafnya melaporkan baru ada pengeluaran sebesar 5,9 miliar rupiah (sumber: news okezone http://goo.gl/9Btk1)

Kamis 12 Mei 2011 – Anggaran pengelolaan IT DPR RI hampir mencapai Rp 20 Miliar per tahun dalam pos anggaran Sekretariat Jenderal DPR tahun 2010. Peneliti Indonesia Budget Centre (IBC) Roy Salam merinci, dana pemeliharaan dan pengembangan system informasi DPR ini terbagi untuk dua pos, yakni untuk biaya pemeliharaan website sebesar Rp 8,4 milar per tahun, dan biaya pemeliharaan situs www.dpr.go.id senilai Rp 1,3 miliar per tahun. Sedangkan untuk pos anggaran pengembangan system informasi, terbagi untuk pembangunan dan pengembangan IT dan untuk seminar dan lokakarya. (sumber: gresnews http://goo.gl/umBDu)

Kamis 12 Mei 2011 – Andi Mardiansyah dari Team IT DPR (andi@dpr.go.id) mengkonfirmasi bahwa anggaran IT DPR 2010 adalah 10 miliar rupiah. Tapi yang terpakai cuma 5,6 miliar. Katanya untuk membiayai seluruh kegiatan IT DPR selama setahun. Total ada 32 kegiatan. Pengeluaran yang paling besar 1.43 M untuk biaya internet provider, sisanya untuk pembelian dan maintenance hardware, server, jaringan, litbang dll. Menurutnya pengadaan IT DPR sudah sesuai Kepres dan PP dan sudah dilakukan audit oleh BPK sehingga bisa dipertanggungjawabkan dan ditanya kepada BPK. (sumber Team.IT.DPR di thread forum Indonesia Kaskus “IT DPR Mahal?, masak sih?” http://goo.gl/3ITdB)

(*Saya coba cek ulang pernyataan Andi ke situs BPK. Sayang sekali saya belum menemukan laporan dari BPK. Bisa jadi karena laporannya belum selesai, bisa jadi karena saya yang tidak begitu teliti mencarinya (hehe). Saya cari di bagian Laporan Hasil Pemeriksaan BPK-RI di laman web ini (http://goo.gl/N6rUY) sayang sekali belum ketemu. Bagi yang sudah berhasil menemukannya mohon dibagi infonya*)

Senin 16 Mei 2011 – Lagi-lagi anggota Komisi I DPR dari Fraksi Partai Demokrat (PD), Roy Suryo, berkata pada wartawan bahwa situs DPR RI diisengi hingga kebobolan dengan adanya tulisan dibawah website tertera “thanKs buAt Seluruh raKyat nUSantara -ttd, webmastER dpr.go.i’d”. Roy menyalahkan Admin/Tim IT situs DPR RI dan meminta mereka melakukan klarifikasi. Sebab sebenarnya ketersediaan fasilitas untuk admin/tim IT di DPR sangat besar, namun penggunaannya sangat tidak maksimal. (Sumber: techno okezone http://goo.gl/wvpDk)

Senin 16 Mei 2011 – team pengembang website DPR RI hadir lagi di forum Kaskus memberikan penjelasan mengapa ada uang sebesar 9 miliar rupiah ke publik. Dikutip dari sumber: “Kenapa bisa keluar harga 9 Miliar? Karena itu harga total ‘belanja’ seluruh penunjang IT di DPR. Mulai dari bandwidth, pengadaan aplikasi dan sistem informasi termasuk website, juga untuk pembelian alat-alat hardware (PC komputer, server2, UTP, kabel2), perawatan AC kering untuk ruang server, perawatan UPS segede lemari 4 pintu, dan lain-lain nya… banyak banget gan. Sedangkan untuk tahun ini anggarannya sudah dilakukan efisiensi sampe 50%. Karena harga bandwidth telah jauh turun, sistem pengadaan bandwidth pun dengan sistem lelang. Jadi tiap tahun kemungkinan provider bandwidth kita ganti2! karena kita ambil pemenangnya dari harga termurah yang ditawarkan, tujuannya untuk penghematan belanja. Kenapa kita ngga pake provider bandwidth yang tetap??, karena kita mengikuti peraturan pemerintah dan Kepres bahwa pengadaan diatas jumlah tertentu itu harus lelang terbuka (penunjukan langsung rawan korupsi gan).
(Sumber Kaskus http://goo.gl/OLRWe)

Kelihatannya teman-teman di kaskus sudah banyak yang panas memang dengan drama website 9 miliar rupiah ini :) Sabar yaa Agan-agan :)

Dari penjelasan rekan-rekan pengembang website DPR-RI ada beberapa kesimpulan yang bisa ditangkap:

  1. Para pengembang website ini tidak membantah bahwa memang ada budget yang cukup besar untuk belanja IT.
  2. Tidak ada bantahan dari pengembang bahwa mereka tidak mengusulkan platform finansial untuk IT DPR RI.
  3. Bahwa telah dilakukan audit dari KPK terhadap keuangan IT DPR RI.
  4. Bahwa rekan-rekan publik baik dari pengembang aplikasi website maupun bukan  sedemikian kaget dengan besarnya budget anggaran website. Akibat kinerja anggota DPR RI yang memilukan maka rekan-rekan tersebut pun ikut mengalamatkan kekecewaan mereka pada IT DPR RI.

Saya pribadi tidak bisa bilang apa-apa. Ini bukan drama saya, hehe. Tapi mengikuti drama ini memang seru. Saya hanya berharap bahwa kita dapat menemukan bukti audit dan teman-teman di IT DPR RI dapat melaksanakan pekerjaannya dengan baik dan memberikan bukti kepada kita semua.

Tidak adil memberikan generalisasi cap buruk pada semua seksi di DPR RI. Walau sudah jadi rahasia umum bahwa gedung DPR adalah markas perampok rakyat namun ada baiknya jika mata kita masih mau menonton dan mendengar penjelasan artis sinetron DPR RI  jika ada beberapa dari mereka yang mau memberikan penjelasan.

Menurut saya, sejelek-jeleknya para artis sinetron itu, minimal mereka masih mau memberikan penjelasan. Setidaknya penjelasan mereka sangat bisa dicek-ulang. Tidak susah loh mengecek ulang bukti digital.

Maka jika teman-teman IT DPR RI berbohong, yaa amat disayangkan. Sebab kepercayaan kita yang semakin menipis pada pemerintah akan semakin rendah saja.

Anyway, untuk teman-teman yang berjuang di lini plat merah, selamat terus berjuang. Kami mendukung. Kami abadi. Berjuanglah untuk kami yang mendukung kalian, bukan berjuang atas nama rezim yang akan selalu berganti.

Jangan berkhianat. Sebab toh kita sama-sama tahu apa hukuman buat pengkhianat.

(*Apa yaa hukumannya? Hahaha*)

Pendidikan Informatika Kurikulum Baru

Ini blog laboratorium entah kenapa tidak diurus. Saya sudah lama tidak menulis di sini. Biasalah, alasan capek gara-gara baru saja pindah rumah saya pakai demi tidak menulis. Hehe.

Tapi sebenarnya bukan gara-gara sibuk pindah rumah saya jarang menulis di blog lab ini. Intinya sih lebih ke arah karena ada pekerjaan lain, jadi jarang ‘ngoprek’.

Di kamar saya, masih bertebaran kabel-kabel RJ45, baterei, kertas skema corat-coret, beberapa komputer dengan perut terburai, game-game jadul dan perlengkapan lainnya. Setiap masuk kamar, saya selalu berjanji pada diri sendiri akan mengurus DVI untuk monitor yang entah kenapa janji itu selalu diingkari akibat pulang kemalaman. Hehe.

Karena saat ini rumah lebih jauh dari pabrik tempat bekerja, saya lebih sering berangkat pagi dan pulang lebih malam daripada biasanya. Pulang pergi dari rumah menuju pabrik memakan waktu sekitar tiga jam.

Tiga jam itu berharga sekali buat saya. Bayangkan, kalau saya bekerja 21 hari perbulan, maka saya akan kehilangan 63 jam perbulannya hanya untuk transportasi. Gila, itu banyak!

Agar tidak kehilangan waktu sia-sia selama 63 jam perbulan, saya memakainya dengan membaca. Baca apa saja, yang penting baca. Baca novel romantis ndeso yang sama sekali tidak masuk di akal. Baca komik-komik bawah tanah yang diterbitkan oleh teman-teman saya dan komunitas mereka. Hingga baca koran gratisan yang melulu kebanyakan isinya iklan.

Tapi tadi pagi saya kaget. Di koran gratisan itu ada lowongan sekolah setingkat SMU. Bedanya, ini sekolah menengah umum hanya dikhususkan untuk bidang Informasi. Sialnya, iklan ini tidak sempat saya potret maupun saya robek untuk di scan.

Iklannya menarik sekali. Seorang anak kita-kira usia 10 tahun sedang memegang bola dengan pakaian kaus dan celana panjang jeans. Di atasnya ada tulisan besar yang kalau diterjemahkan artinya: “Sebentar lagi aku bikin aku”

Agak aneh, Apa maksudnya aku bikin aku?

Ternyata di bawah foto si anak, tertulis: Tomas (10 tahun), pemain fusbal berbakat. Cita-cita; membuat karakter diri pada game fusbal. Dan itu tidak akan lama lagi.

Di bawahnya, tertulis bahwa sekolah yang sedang beriklan itu kini sudah menyediakan penjurusan dalam kurikulumnya. Antara lain adalah:

Game Development

Ini bikin saya kagum. Sebab sudah dimasukkan character design 3D, leveling (yang nampaknya butuh logika logaritma per levelnya), Manajemen Produksi hingga penguasaan tool-tool rendering (game engine) dalam kurikulum mereka. Mantap lah. Namun yang lebih mantap lagi, ternyata sekolah sudah punya channel ke game-game industri. Jadi kalau mau magang atau cari kerja lebih mudah. Saluuut lah.

Informasi, Komunikasi dan Media

Ini juga keren. Begini kata mereka dalam iklannya:

Dalam masyarakat kini informasi memainkan peran yang sangat penting. Peran seseorang kadang diwakili oleh informasi. Siapa yang memiliki dan siapa yang tidak? Informasi hadir kadang lebih bernilai daripada emas: mahal dan langka.Tidak hanya pada tingkat pribadi, tetapi juga pada perusahaan dan iklan. telah ada pasar dalam mengumpulkan informasi yang penting dalam mencapai tujuan. Mereka harus memiliki target untuk lebih cepat dan lebih baik. Jika tidak, diambil pesaing.”

Yang bikin saya kaget, sudah dimasukkan marketing ‘non-konvensional’ seperti penggunaan ROI dalam adwords, pemanfaatan 140 karakter twitter (*namanya; marketing 140. Haha*), penggalangan massa dalam jejaring sosial (seperti FB atau semacamnya) dan macam-macam lainnya.

Di sini, saya terkagum-kagum. Pertama; karena web2.0 telah membawa angin segar baru dalam dunia industri. Hingga terciptanya lapangan kerja inovatif. Kedua; karena sudah ada sistematika pendidikan yang menanggapi inovasi ini. Sehingga standarisasi atau benchmark makin bisa diperbaiki dari hari ke hari. Ketiga; Saya iri dengan generasi mendatang. Haha. Kok yaa sudah ada SMU yang begitu. Coba dulu kalau jaman saya sudah ada sekolah begitu. Pasti saya nggak jadi bandit. (*ngeles mode ON*) Hehehe.

Mungkin daripada iri, ada baiknya saya menyediakan tempat hidup yang layak buat generasi selanjutnya.

Masalah Pada iPad (Oh Apple!)

image ulat pada apel

Minggu lalu, di pesawat menuju Prague, istri saya mengeluh. Sepasang muda-mudi dari Korea nampaknya tidak berhenti memainkan iPad mereka. Pramugari sudah berkali-kali memperingatkan pada pasangan ini untuk mematikan perangkat yang diklaim sebagai the hottest device on earth itu. Well sebutan the hottest tentu saja bisa diperdebatkan. Yang pasti pasangan itu tetap kepala batu, tidak mau mematikan iPadnya.

Walaupun akhirnya dengan debat yang cukup keras antara dua muda-mudi dengan para penumpang lain dan ditambah pramugari-pramugari Czech Airlines, maka pesawat yang sempat ditunda keberangkatannya (gara-gara debat ipad yang sama sekali tidak perlu ini) pun mengangkasa pula. Tentu saja setelah semua penumpang yakin, pemilik iPad ngawur ini mematikan pula perangkat lain miliknya yang mengganggu sinyal komunikasi pilot pesawat kami dengan tower pemandu.

Hari itu, pertama kali saya melihat iPad.

Tiga hari lalu, kedua kalinya saya melihat iPad. Besar-besar namanya terpampang di Gawker dan dilanda terkejut luar biasa.

Ternyata iPad yang dinilai Apple sebagai benda tercanggih mereka ini bermasalah. Katanya, cerita ini dimulai dari seorang karyawan Apple yang lupa (entah mabuk) di sebuah bar dan meninggalkan (atau kecurian) iPhone miliknya. iPhone ini, lalu ditemukan oleh seorang pemuda (yang tidak disebutkan namanya) lalu dijual ke situs teknologi Gawker. Tidak lama kemudian, pemimpin redaksi Gawker rumahnya didobrak polisi dan FBI Amerika (iya mirip cerita film Hollywood). Sebab dalam iPhone itu tercantum informasi rahasia para media tycoon bahkan hingga pemimpin Amerika yang masih berkuasa di Gedung Putih.

(*Update: Sorry kasus iPhone yang diatas bukan Gawker, melainkan Gizmodo. Engineer Apple itu bernama Gray Powell. Dan ia tidak kecurian, melainkan tidak sengaja meninggalkan telpon dan lalu ditemukan oleh pemuda berusia 21 tahun bernama Brian J Hogan. Hogan lalu menjualnya ke Gizmodo sebesar US$ 5.000. Setelah Gizmodo menulis dan memaparkannya di web mereka, polisi menggeledah rumah Jason Chen, redaktur Gizmodo*)

Seru?

Ahh belum!

Tidak lama kemudian, para peneliti keamanan (*dulu namanya network hacker, sekarang berubah, hehe*) dari Goatse Securities menemukan kebocoran dalam iPad. Dan kebocoran ini ternyata menampung sekitar 114 ribu email.

Siapa saja yang informasinya bocor? Mari kita kutip dari Gawker:

Satu orang yang terkena dampak adalah William Eldredge, komandan tertinggi pesawat pembom B 1 [strategis]-operasional di US Air Force. ”

Dalam industri media dan hiburan, terdapat pula akun berpengaruh macam para eksekutif puncak di New York Times Company, Dow Jones, Conde Nast, Viacom, Time Warner, News Corporation, HBO dan Hearst.

Dalam industri teknologi, muncul nama-nama besar dari Google, Amazon, Microsoft dan AOL. Dalam keuangan, terdapat rekening milik perusahaan dari Goldman Sachs, JP Morgan, Citigroup, Morgan Stanley, bersama dengan puluhan perusahaan modal ventura dan ekuitas swasta.

Dalam pemerintahan, account yang terpengaruh termasuk pengguna GMail yang tampaknya adalah Rahm Emanuel (staff penting Presiden Obama) dan staf di Senat, DPR, Departemen Kehakiman, NASA, Departemen Keamanan Dalam Negeri, FAA, FCC, dan Institut Kesehatan Nasional. Puluhan karyawan dari sistem pengadilan federal juga muncul dalam daftar.

Apple selalu menelurkan perangkat yang baik. Saya percaya itu. Namun kali ini, nampaknya mereka memang harus benar-benar hati-hati dalam menelurkan produk barunya.

*Untung saya nggak mampu beli iPhone dan iPad, hehe*

Qakbot

Salah satu yang menyebalkan dari memakai OS Micro$oft sebagai server adalah penularan worm/trojan antara satu mesin dengan mesin lainnya.

Tentu saja ini bisa diatasi dengan antivirus atau peringatan dini langsung. Namun tetap saja menyebalkan, mengingat banyaknya worm atau trojan yang harus muncul sebagai pop-up di layar screen.

Hari ini, kebetulan namanya Qakbot.

qakbot image

Tidak terlalu sukar membasminya. Namun tetap saja mengambil jatah sumber daya waktu yang ada.

Karena bosan dengan serangan-serangan yang menghabiskan waktu, maka cobalah saya mengobrol dengan seorang admin. Topiknya mengenai perpindahan sistem operasi dari M$ ke yang lain yang lebih terpercaya dan handal.

Sebelum obrolan kami mengarah ke OS opensource, ternyata beliau sudah ngamuk-ngamuk duluan dan menuduh Linux adalah OS yang tidak reliable dan menyulitkan.

Tidak reliable? Hmhh, saya nyengir. Apa variable nya kok dia bisa ngomong Linux begitu?

Menyulitkan? Hahaha… Ini yang bikin ketawa. Kalo punya niat belajar, tentu saja tidak akan ada istilah ‘menyulitkan’.

Pameo bahwa Linux atau OS opensource susah itu nampaknya memang harus diberantas.

Di akhir pembicaraan saya dengar beliau menyimpulkan “Semakin tua admin, semakin males dengerin orang lain”

Haha, ada-ada saja.

HTML Dasar > II – Sejarah HTML

Mengapa perlu belajar HTML?

Hehe. Sebenarnya tidak perlu sih. Tapi dengan belajar sejarahnya, minimal tahu kenapa bahasa ini muncul di muka bumi. Kata Bob Marley raja musik reggae, “If you know your history then you would know where you coming from“.

Mari kita mulai pelajaran sejarah HTML ini.

Siapa yang menemukan HTML?

Foto Tim Burner Lee penemu HTMLTim Burner Lee (nama lengkap dan jabatannya “Sir Timothy John “Tim” Berners-Lee, OM, KBE, FRS, FREng, FRSA”. Panjang amat yah). Insinyur ahli fisika dari Inggris. Yang pada tahun 1980 dikontrak kerja oleh CERN, badan riset nuklir Eropa. Tahun itu ia bekerja dengan seorang insinyur informatika Belgia bernama Robert Cailliau dan seorang mahasiswa. Suatu hari di tahun 1989 mereka kebingungan bagaimana cara saling membagi informasi antar mereka sendiri dengan cara yang cepat dan mudah. Maklum, tiga-tiganya semua orang sibuk. Karena masing-masing pintar, jadilah mereka membuat halaman yang bisa di akses oleh ketiga orang ini. Tidak lama kemudian, mereka sadar bahwa halaman dengan link/pranala ini ternyata bisa diakses oleh siapa saja asal tahu cara membuat dokumen web itu. Cara membuat dokumen web itu memakai bahasa bernama HTML. (*Saat itu pula tercetus sistem World Wide Web atau dikenal dengan www*)

Mengapa membuat HTML?

Sudah dibilang diatas, bahwa guna awalnya adalah membuat halaman yang memakai link atau pranala luar (yang kemudian dikenal juga sebagai hyperlink, sebab mampu membuka berbagai jenis dokumen. Tidak hanya dokumen berjenis teks saja, tapi juga dokumen gambar, multimedia dan sebagainya).

Namun pada intinya, HTML adalah bahasa markah. Bahasa markah adalah bahasa dimana kalimatnya harus mempunyai pendukung. Sebagai bahasa markah, HTML belum mampu mengerjakan semua kebutuhan manusia di muka bumi. Namun cukup mampu dalam menampilkan halaman-halaman website.

Jelaskan rentang pertumbuhan HTML?

Pertanyaan yang menarik. Tapi kalau tidak di jelaskan dengan illustrasi waktu mungkin agak susah. Mari, ini saya coba pakai contoh di bawah ini dalam memulainya.

  • 1980 - Tim masuk CERN
  • 1989 - membuat cikal bakal HTML, namanya HTML+
  • 1992 - Dua orang pemuda bernama Marc Andreessen dan Eric Bina membuat perambah internet pertama bernama Mosaic. Umur Eric saat itu 28 tahun. Sementara Marc berusia 21 tahun.
  • 1995 - HTML versi kedua bernama HTML2 di buat. Sudah ada pikiran bahwa bahasa ini pasti akan dipergunakan oleh orang seluruh dunia. Maka itu dibuatlah internasionalisasinya (i18n dan l10n)
  • 1997 – HTML3.2 muncul. Orang-orang membuat standarisasi agar lebih mudah dipahami di masa mendatang. Selain itu, bahasa HTML versi ini sudah mendukung penulisan rumus matematika. Beberapa bulan kemudian di tahun ini HTML4 muncul. Lebih bagus, lebih mudah transisinya di masa depan, dan lebih jelas strukturnya.
  • 1999 - HTML versi terbaru 4.01 muncul. Tapi tidak begitu banyak berbeda dengan pendahulunya.
  • 2000 - Penggabungan antara bahasa XML dengan HTML agar lebih menarik dan memudahkan website mulai diprediksi di masa depan. Namanya XHTML.
  • 2008 - HTML 4.01 dan ISO/IEC 15445:2000 (Organisasi Internasional untuk Standardisasi penyetaraan dokumen dalam memproses bahasa) adalah perkembangan terakhir yang stabil. Di sisi lain, tahun ini telah dimulai pengembangan HTML5, versi terbaru HTML.

Sampai di sini, mengerti?

Kalau tidak mengerti silahkan acungkan jari, tanya :)

HTML Dasar > I – Apa Itu HTML

HTML singkatan dari hypertext markup language. HTML adalah bahasa markah, yaitu bahasa yang mengkombinasikan teks beserta pendukungnya.

Awalnya, bahasa markah digunakan dalam industri penerbitan untuk komunikasi karya cetak antara pengarang, editor, dan pencetak. Sementara HTML adalah bahasa yang digunakan pada awalnya untuk menampilkan laman pada website internet.

Apa guna HTML:

  • Membuat sebuah halaman web
  • Menampilkan berbagai informasi di dalam sebuah perambah web Internet (seperti Firefox, Internet Explorer, Safari, Opera, Chrome, dan lain-lain)
  • Menulis berkas dalam format khusus (ASCII) agar menghasilkan tampilan yang diinginkan pembuat berkas

Bagaimana cara dokumen HTML bekerja di komputer lokal:

  • Perintah ditulis oleh pengembang HTML di atas pengedit berkas (text editor, seperti notepad atau gedit atau apalah namanya)
  • Dokumen yang berisi perintah itu di simpan dengan nama yang baik. Misalnya file bernama ‘dokumen_saya.html’ lebih baik daripada file bernama ‘Dokumen saya.html’. Sebab spasi antara kata ‘dokumen’ dan ‘saya’ akan diterjemahkan menjadi bentuk khusus dalam perambah internet
  • Dokumen yang sudah di simpan itu dibuka pada perambah internet. (*Gimana cara bukanya? Tekan tombol Ctrl dan huruf ‘o’ secara bersamaan pada keyboard. Gampang atuh*)

Apa yang dapat kita lakukan dengan HTML?

  • Menentukan struktur dokumen. Misalnya judul dokumen atau membuat elemen-elemen dokumen.
  • Memformat teks
  • Membuat daftar urut
  • Membuat tabel
  • Menampilkan gambar
  • Membuat link atau pranala menuju halaman dokumen/gambar/video lain
  • Membuat formulir
  • Membuat frame

Mengapa perlu belajar HTML?

Jawab: Hehe, sebenernya nggak perlu sih. Kalau anda berniat terjun dalam dunia pembangunan website, seperti membangun laman web, menyusun arsitektur site, menjadi disainer web, atau membuat aplikasi yang berbasis web, maka ada baiknya belajar HTML. HTML mampu menjadi basis yang baik dalam membangun karir di dunia seputar website.

Belajar HTML juga lebih baik daripada kecanduan judi, narkoba atau mengintip tetangga mandi (*Haha, kalo yang terakhir ini jelas pendapat pribadi. Hihihi*)

Yang Baru Dari Photoshop CS5

photoshop cs5 loader image

Sehari-hari saya pakai Adobe Photoshop CS3.

Sebenarnya sih bukan hanya Photoshop, melainkan seluruh produk Adobe yang berbasis MacOS. Mulai dari mengolah animasi 2 dimensi atau menjajal script xml terbaru dengan Flash hingga mengolah data berbasis vector dengan illustrator atau indesign.

Semuanya dilakukan atas nama pendukung kerja.

Jika sedang iseng, saya melakukan manipulasi foto-foto yang sengaja atau tanpa sengaja terjepret kamera; pun dengan produk Adobe yang bernama Photoshop ini.

Ketika ada alternatif baru pemanipulasi foto sumber terbuka (open source) seperti The Gimp, saya pun sempat berpaling hati. Semua komputer di rumah lalu di install The Gimp. Kecuali komputer istri, masih memakai Photoshop 6, hehe

Saya memang menyukai Photoshop. Cerita kilas balik, tahun 1998 itu kami pakai Photoshop 5. Wah, jaman itu sudah hebat betul pakai Photoshop 5. Itu pengolah gambar paling top deh. Saya sempat terkagum-kagum dengan palet History-nya Photoshop. Gila! Kalau salah design, bisa diulang sampai dari awal apabila kita memakai palet itu.

Namun secara pribadi, pertama kali beli software pengolah image, yaa produk Adobe ini. Kalau tidak salah, harga akhir tahun 2000 itu sekitaran US$ 300-400. Saya beli Adobe Photoshop 6.0. Itu pun setelah memutuskan untuk berkarir di dunia arsitektur dan pembangunan website (sebab baru dan mengasyikkan. Plus booming dot com)

Mahal? Iya lah. Buat kantong saya saat itu memang mahal. Apalagi saat itu masih jadi mahasiswa Depok yang tinggal di Kukusan Beji yang bau sapi.

Uang tabungan setahun, habis semua. Sampai gagal liburan. Semuanya demi nafsu memiliki si Photoshop 6.0 ini. Hehe. Namun begitu melihat ada banyak sekali efek-efek ajaib seperti Liquify dan Rough Grain yang bisa dihasilkan Photoshop, saya pun akhirnya bisa tersenyum.

Keputusan beli Photoshop 6.0, saat itu memang didorong oleh bahwa versi 5.5 sudah bisa melakukan ‘save for web’. Kompresi gambar agar menjadi lebih ramah di laman-laman website. Satu image 300 kb bisa di ‘minimalisir’ menjadi 100 kb hanya dengan menekan tombol yang tepat.

Waktu itu, masalah jumlah kilobyte perhalaman website memang sungguh masalah yang luar biasa. Maklum, koneksi internet di Indonesia masih sekitar 10-20 Kbps (kadang bisa ngedrop sampai 2-5 kbps di pinggir JKT). Jadi orang-orang suka mematikan fasilitas menunjukkan image pada browser mereka.

Pada Photoshop 6.0 navigasi web juga mampu didukung oleh penggunaan transparansi ikon-ikon berbasis GIF. Jika di HTML kode warna ditandai oleh #****** (bagian * diisi oleh karakter angka dan huruf) maka di Photoshop 6.0 sudah bisa kita lihat bahwa #99333 itu adalah merah maroon. Sebab secara otomatis Photoshop telah menterjemahkan warna itu menjadi kode karakter HTML. Berguna sekali untuk kerja saya.

Pokoknya versi 6.0 itu lumayan top deh saat itu. Jadi saya memutuskan untuk membelinya.

Sayangnya, kemajuan teknologi berlangsung cepat. Jauh lebih cepat daripada yang saya kira. Versi Photoshop cepat berganti modern, membutuhkan RAM dan kartu grafis baru. Maka ketika teman-teman desainer/developer lainnya bicara versi terbaru Photoshop CS, saya masih tergagap-gagap menanggapinya. Maklum, masih pakai versi 6.0, Hahaha.

Namun sejak Adobe memulai kode CS2 nya, pelan-pelan saya mulai menggali kembali arti sejati Photoshop itu sendiri (haihi, bahasanya jijay banget).

Sejak Adobe CS 2, kebetulan saya sudah dapat rejeki. Bekerja di tempat-tempat yang memberikan saya fasilitas menggunakan Adobe secara cuma-cuma. Jadi, tidak harus beli sendiri lagi.

(*Walaupun pada CS3, ternyata saya harus menganggarkan budget khusus untuk itu, namun tetap saja tempat kerja yang membayar. Waktu itu, 2007, dijual masih harga-harga awal. Kami beli sekitar € 2300 untuk 3 lisensi Adobe, plus acrobat pro, berbasis Mac OS. Lumayan juga. Sebab teknologi cloud sudah memungkinkan untuk rekan kerja kami yang berjarak 12 jam kerja untuk bekerja di komputer yang sama. Eh ternyata pakai cloud ga boleh sama Adobe. Halah*)

Pas tulisan ini turun, Adobe sudah versi CS 5. Begitu pula dengan Photoshopnya. Kalau ditanya apa yang baru? Well, saya mah akan menjawab; kalau dibanding Photoshop 6.0 yaa jelas sudah banyak berbeda. Haha.

Sejak CS 4, setting palet photoshop jadi lebih asik. Artist toolbox keren. Sudah bisa pindah-pindah User Interface, jadi kalau mau kerja ngedesign, ngelukis atau maen 3D, jadi lebih mudah. Trus ada fasilitas vibrance, yang nge-boost warna. Jadi memudahkan main-main di saturasi dan kekontrasan warna. Lumayan lah untuk fotografer wannabe kayak saya ini. Hehe.

Waktu melihat bahwa kita bisa pindah UI, saya dalam hati membatin; wah keren nih, kayak MyEclipse Java Enterprise. Maklum sehari-hari, saya juga berurusan dengan perangkat lunak tersebut dan nyaman dengan kemudahannya mengganti UI. Di MyEclipse saya, mudah untuk ganti UI dari web dev AJAX, Team Synch hingga SVN Repository exploring. CS4 pun begitu. Nyaman mengganti UI.

Di CS 5, Photoshop sudah pakai fasilitas review (namanya ‘creative review’). Edan! Jadi hasil karya kita bisa langsung pitching ke client langsung. Jadi client bisa koreksi secara real time. Well, real time? Yaah tergantung koneksi internet sih. Hehe. Kalau client dan designer sama-sama pakai koneksi internet UPC 120/10 mbps DL/UL, yaa emang pitching dan review-nya udah kayak real time.

(*Yang doyan 3D dan main-main di image HD format, photoshop CS5 trick bisa di lihat di sini untuk Repousse atau di web official-nya langsung di sini sebab CS 5 ini katanya bisa bikin image kita jadi 3D. Silahkan baca di Sounas ini untuk keterangan lebih lanjut*)

Yang aneh, di software yang harga lisensi per-mesin nya sekitar € 630 ini masih juga belum bisa menemukan kompresi untuk menekan gambar-gambar yang akan kita masukkan ke laman-laman web menjadi lebih rendah. Artinya, teknologi kompresi image di Photoshop sama sekali belum berubah sejak Photoshop 6.0.

Saya hanya mencoba versi trial selama 1 bulan dengan software ini. Setelah itu, balik lagi ke CS3 untuk bekerja atau The Gimp untuk keperluan harian. Kalau kompresi image masih sama dan hanya itu yang saya butuhkan, buat apa beli?

(*Ahh tapi itu kan pendapat saya. Belum tentu anda yang trendi suka pendapat ini. Hehe*)

Kursus HTML untuk Ibu-Ibu Senior

Saya baru saja memberikan kursus sejenak (iya, dinamakan sejenak karena hanya sekitar 32 menit) kepada ibu-ibu.

Kursus ini cukup luar biasa buat saya, sebab:

  • Untuk mengadakan kursus ini, kami sudah harus membuat janji di sela-sela waktu yang ada. Dan mencari waktu yang kosong antara saya dan ibu-ibu ini memang susah sekali. Jadi setelah 1 tahun mengendap, kursus ini baru terealisasi.
  • Akibat semua peserta dan pemberi materi adalah manusia yang agak tipikal tingkat kesibukannya tinggi (sebab semuanya sudah berkeluarga, hehe) jadi waktu 1 tahun itu banyak habis untuk mencari kelengkapan birokrasi dan bla-bla-bla sebagainya.
  • Pesertanya kebanyakan ibu-ibu yang sudah berusia 45 tahun ke atas (senior dalam usia). Diantaranya malah ada yang sudah punya cucu :)
  • Kursus ini adalah kursus HTML. Targetnya, agar para ibu-ibu itu mampu membuat newsletter atau email berbasis HTML.
  • Mereka ikut kursus karena mereka mau memiliki ilmu lebih banyak dan lebih baik sehingga bisa improvisasi diri.
  • Kursus yang dijadwalkan setiap jumat pagi ini niatannya adalah sekitar 1 jam penuh. Namun karena antusias dan daya tangkap yang baik dari para peserta, mampu selesai dari setengahnya saja.

Begitu selesai, saya langsung posting ini untuk menyatakan rasa kekaguman.

Salut saya sama ibu-ibu ini. Walaupun sudah berumur dan punya banyak tanggung-jawab di rumah maupun di kantor, masih saja tetap mau belajar. Nampaknya saya harus mencontoh mereka.

Apa yang saya berikan hari ini sebagai materi kursus HTML adalah:

  1. Apa itu server, localhost dan webserver
  2. Apa itu File Transfer, FTP client, FTP server, scripts dan tags dan bagaimana mendapatkan FTP client yang baik, lintas platform sistem operasi dan gratis (saya rekomendasikan Cross FTP)
  3. Apa itu browser, browser yang baik untuk test dan browser apa yang kuat di pasaran wilayah pasar kami
  4. Apa itu HTML dan pernik-pernik yang menyertainya. Tidak lupa sedikit memberitahu mengenai kegunaan HTML 5 di masa depan
  5. Belajar menulis “Hello World” dan menjelaskan fungsi tag yang ada di dalamnya
  6. Mengenalkan basis style paragraf

Hasilnya lumayan. Mereka semua bisa membuat halaman ‘Hello World’, transfer data via FTP di localhost dan test crossing browser pakai IE6, IE7, Firefox dan Safari.

Not bad at all…

Pagi ini, walaupun sarapan cuma dengan pisang dan tomat kecil-kecil. Saya bangga sama mereka dan juga pada diri saya :D

Server Berbasis Telepon Genggam

Sejak tahun 2006 saya mengikuti perkembangan implementasi server pada perangkat telepon jinjing (mobile phone). Entah kenapa, saya sempat bermimpi, bahwa suatu hari akan memiliki mobile server. Bentuknya ringan, mudah di akses, aman, hemat energi, harga terjangkau dan ringkas penempatan.

Kenapa saya bercita-cita punya server mobile?

  1. Saya ingin punya server personal khusus untuk berbagi data tapi saya tidak mampu membeli server rack U. Entah unit berapa, pokoknya(tm) semuanya terlalu mahal untuk kantong saya
  2. Ketika main-main ke datacenter di Haarlem waktu jaman sekolah dulu, ternyata sewa tempat menaruh server rackmount itu mahal banget. Di Antwerpen parah, lebih mahal lagi. Doh!
  3. Di datacenter, server didinginkan dengan chiller water cooler. Bahkan kadang agak edan pakai nitro. Belum lagi backup listriknya, biasanya pakai mesin diesel diatas 1500 KVA (contohnya si EVO ini). Semuanya boros energi
  4. Punya server itu artinya makan tempat. Andaipun dipaksa punya server pribadi di gudang rumah, yaah harus pandai-pandai pengaturan udara dan penempatannya. Dan saya belum sepandai insinyur-insinyur dari Utah Datacenter, Hewlett-Packard dan Google dalam mengatur pengaliran udara pendingin pada server

Jadi sekarang mengerti kenapa saya ingin punya server mobile?

Tapi pertanyaan selanjutnya yang paling penting adalah, “apakah bisa menjadikan telepon genggam menjadi server?”

Jawabannya banyak. Sebab server memang harus mumpuni. Loh wong mau diakses orang banyak atau diakses dari jarak jauh, yaa harus mumpuni, tho!

Tapi apa kategori server mumpuni. Mari kita telaah satu-satu beberapa jawaban di bawah ini;

  • Hardware / Perangkat Keras

Ini mah bukan rahasia, kalau makin tinggi processor makin bagus kecepatan dan daya olah server. Pada saat tulisan ini dipublikasikan (Maret 2010), server dengan spesifikasi berikut (Quad Core Intel Xeon X3430 Lynnfield 2.4 GHz 8MB-cache Quad Core Processor – 8 GB RAM – 1×500GB HD – 10000GB (10TB) Bandwidth – 8 Ip’s – Remote Reboot) adalah dedicated server terbaik yang ada di pasaran.

Perangkat keras pada telepon genggam memang belum mencapai angka sefantastis di atas pada saat ini, namun sudah menunjukkan arah yang lebih baik. Di pasaran, saat ini bahkan telah ada telepon genggam dengan kecepatan 1 Ghz (Gigahertz) dan mampu menyimpan kapasitas storage hingga 48 Gb (gigabyte)

  • Sistem Operasi

Saya pribadi, di rumah memakai distro Linux (CentOS atau Ubuntu) sebagai basis OS server. Sedangkan di kantor memakai Windows 2003 R2 sebagai basis sistem operasi server. Dua-duanya, tentu saja dipilih karena alasan tertentu. Pada intinya, gabungan antara efisiensi dan efektifitas kerja.

Beberapa orang menggunakan Free BSD sebagai landasan sistem operasi server mereka. Sebab sistem operasi berbasis BSD diyakini amat stabil dan telah sukses melayani banyak server.

Di perangkat lunak jinjing, sepengetahuan saya sudah ada empat sistem operasi yang mendukung pengembangan server sejak 2007. Mereka adalah Symbian (pada basis S 60 di Nokia), Windows Mobile (versi Pocket PC 5 ke atas), lalu iPhone OSX (pada iPhone) lalu Android (berbasis Linux).

Beberapa server khusus memang saya pernah dengar, seperti Pixo. Namun jika sayangnya Pixo hanya di buat untuk spesifikasi khusus seperti download ringtones saja. Maka tiga sistem operasi di atas sudah terbukti bisa menghandle WebDav dan transfer HTTPD.

  • Perangkat Lunak / Software

Saya jatuh cinta dengan LAMP. LAMP sendiri istilah yang merupakan singkatan dari Linux, Apache, MySQL dan Perl/PHP/Phyton. Mereka merupakan sebuah paket perangkat lunak bebas yang digunakan untuk menjalankan sebuah aplikasi secara lengkap. Biasanya saya pakai dalam menjalankan server berbasis web (internet). Dari LAMP sendiri, Apache memegang peranan penting sebagai web server.

Dalam OS Symbian, produsen telepon genggam Nokia mengembangkan Raccoon, Mobile Web Server dan PAMP, singkatan dari Personal Apache MySQL PHP sebagai perangkat lunak server mereka.

Android, sistem operasi yang dirintis oleh raksasa mesin pencari Google dan Open Handset Alliance, telah memiliki i-jetty. Ijetty adalah web server sumber terbuka (opensource) yang dapat berjalan di Android. Kelebihannya adalah memiliki akses ke API Android, ini berarti Anda dapat membawa/melihat isi ponsel ke browser desktop normal. Dalam tampilan monitor komputer. Katanya, i-Jetty ini makin hati makin stabil.

Sementara iPhone OSX memiliki serverman, sebuah perangkat server yang dikembangkan oleh FreeBit. Dinamakan serversman katanya di adaptasi dari ‘WalkMan’, perangkat pemutar kaset yang sempat populer di tahun 80-an dulu.

Yang menarik dari serversman adalah ternyata ada perangkat lunak bernama sama dan gratis berbasis Windows Mobile bagi pengguna smartphone berbasis Windows. Artinya, bagi pengguna telepon jinjing berbasis Windows Mobile pun tidak ketinggalan dapat membuat handphone mereka menjadi web server.

Sekian segini dulu. Besok-besok saya sambung lagi (kalo inget, hehe). Maap pemirsa, waktu saya usai sudah hari ini. Hehe. Namun kalau anda penasaran seperti apa server yang bagus, maka klasifikasi di bawah ini patut diperhitungkan.

  • Jaringan

Apakah 3G atau 3,5G atau HSDPA atau UMTS atau EDGE atau GPRS atau apalah sebutannya, yang pasti untuk jadi server memang harus punya jaringan yang stabil. Maka itu, nampaknya harus dipilih-pilah penyedia jasa telekomunikasi yang mampu menawarkan kestabilan koneksi. Jadi bisa sesumbar 99.99% uptime garansi. Hehe

  • Aman

Karena server berbasis telepon genggam ini ringkas, maka memang memudahkan untuk dibawa-bawa kemana-mana. Di sisi lain, membuka peluang lebih besar di embat maling atau dipijit-pijit tombolnya oleh anak anda. Hehe. Maka itu, hati-hati.

  • Bisa Di Upgrade

Ini yang berat. PC masih kita bisa bongkar pasang ganti RAM, Mobo atau processor. Kalau telepon genggam, nampaknya masih susah. Maka itu, kita doakan di masa depan ada handphone yang hardwarenya bisa dioprek.

  • Gampang Dikustomisasi

Kebutuhan client makin lama makin membesar. Maka itu OS maupun perangkat lunak di mobile server semestinya memang mudah untuk dikostumisasi. Jadi bisa ditambah atau dikurangi sesuai kebutuhan.

Saya harap, dengan membagi mimpi ini, anda juga ikutan bermimpi seperti saya. Dan lalu seperti kata John Lennon, “You may say that I’m a dreamer. But I’m not the only one”

Hihihi

Otherwise… I hope someday you’ll join us :)

Sony Corp vs Sony AK vs Sony Toloyo

Sony Corporation, sebuah perusahaan raksasa multinasional baru saja mengajukan gugatan hukum pada bloger Bogor bernama Sony Arianto Kurniawan, karena Kang Sony yang orang Bogor ini memiliki domain www.Sony-AK.com.

Pukul 02.40 AM tanggal 11 Maret 2010, Sony AK (yang dari Bogor) menulis di forum PasarDomain

Dear all,
Saya Sony Arianto Kurniawan dan saat ini baru saja dapat “musibah” karena domain saya sony-ak.com di-sue oleh Sony Corporation Japan melalui kuasa hukumnya di Indonesia. Padahal itu saya register-kan berdasarkan nama saya sendiri dan sudah saya gunakan sejak lama untuk kepentingan murni penyebaran ilmu pengetahuan di bidang IT.
Saya ingin tahu bagaimana pendapat rekan-rekan di forum ini.
Best regards,
Sony AK
www.sony-ak.com

Seharusnya Sony Corp bisa belajar dari kasus Microsoft vs Mike Rowe.

Apa sih kasus Microsoft vs Mike Rowe?

Tahun 2003 Mike Rowe, seorang pelajar berusia 17 tahun dari Kanada yang hobi mendesign web dan programing kecil-kecilan mendaftarkan domain bernama www.mikerowesoft.com. Singkatan dari Mike Rowe (namanya sendiri) dan soft (sebab ia pikir lucu kalau pakai kalimat ’soft’ yang artinya lembut di belakang namanya).

Pada Januari 2004, perusahaan software raksasa bernama Microsoft marah-marah kebakaran jenggot. Mereka pikir MikeRoweSoft dot com itu tengah melakukan plagiasi pada domain mereka, microsoft dot com. Lalu, akibat arogansi mereka pun melakukan upaya akuisisi pada domain mikerowesoft.com. Caranya, pihak Microsoft menawarkan kompensasi uang sebesar $10 dollar Amerika kepada Mike Rowe agar menjual domain itu kepada mereka.

Mike Rowe berang. Ia merasa dilecehkan. Pertama karena dianggap ‘tengah mencuri nama microsoft’ (Padahal orang tua Mike Rowe sama sekali tidak berniat memberi nama anaknya mirip seperti perusahaan perangkat lunak dari Redmont yang bernama Microsoft Corp). Kedua karena apabila nama Mike Rowe begitu penting untuk Microsoft, kenapa ditawarkan hanya US $10 saja? (*Ia lalu meminta US $10 ribu untuk domain itu. Semata-mata karena kesal atas perlakuan Microsoft*)

Microsoft tentu saja ngamuk berat. Dengan segerombolan pengacara mereka yang bergaji hingga ribuan dollar perjamnya, mereka membuat 25 halaman tuntutan terhadap Mike Rowe. Bahkan diantara tuntutan adalah memenjarakan Mike Rowe dan mendenda pemuda berusia 17 tahun yang sial karena memiliki nama Mike Rowe (hampir mirip dengan Micro) sebanyak US $100.000

Mike Rowe menolak menerima kriminalisasi itu. Ia membuka kasus ini ke pers dan publik. Hasilnya adalah situs mikerowesoft.com dikunjungi oleh 250 ribu orang dalam tempo waktu 12 jam saja. Situs itu lumpuh segera akibat tidak bisa menerima kunjungan segitu banyak orang.

Di sisi lain, Mike Rowe ternyata mampu menggalang dukungan dari banyak orang. Memperoleh donasi US $6000 untuk membayar ongkos perkara dan juga memperoleh bantuan legal dari pengacara yang mau bekerja membelanya Pro Bono, tanpa bayaran.

Kasus ini benar-benar memicu kemarahan publik. Arogansi Microsoft Corp benar-benar dipertanyakan. Mike Rowe vs Microsoft mampu memicu media menganalogikannnya sebagai cerita versi cyber modern David vs Goliath. Si kecil yang teraniaya vs Raksasa yang jahat tiada tara.

Dalam beberapa hari setelah kasus ini mencuat di publik, terjadi kekacauan administrasi di tubuh Microsoft sendiri. Beberapa orang pengembang perangkat lunak jenius yang bekerja di Microsoft menganggap bahwa sudah semestinya mereka keluar dari perusahaan yang berubah jadi setan ini. Ribuan telpon berdering setiap hari di meja resepsionis mengutuk aksi Microsoft. Intinya, terjadi tekanan di tubuh dalam perusahaan dan juga dari luar. Oh! Bad for business.

Kasus ini akhirnya bisa diselesaikan dengan baik di luar jalur hukuum. Microsoft mengakui betapa arogannya mereka. Lalu menghadiahkan Mike Rowe hadiah-hadiah khas Microsoft.

Mike Rowe sendiri, lalu melelang 25 halaman tuntutan dari Microsoft di sebuah situs lelang E-Bay.

Lalu bagaimana dengan domain www.mikerowesoft.com?

Domain ini akhirnya di dapatkan oleh microsoft dengan perjanjian bahwa akan di selaraskan dan ditujukan langsung ke mikerowesoftforum.com (akhirnya entah kenapa, di deface). Namun kalau mengetik mikerowesoft.com, maka kita akan ditujukan ke halaman mesin pencari Microsoft yang bernama Bing yang isinya adalah kasus antara Microsoft dengan Mike Rowe.

Jadi apa yang harus dilakukan Sony AK yang blogger orang Bogor itu dalam kasus penuduhan soal identitas dari Sony Corp, raksasa elektronik Jepang?

“Terus aja nge-blog, Kang. Jangan takut. Mike Rowe saja yang bukan orang Bogor bisa menang. Pasti anda juga bisa menang kok”

Lalu apa yang bisa dilakukan Sony Corp supaya menang melawan Sony AK?

“Sebaiknya belajar dari kasus Microsoft vs Mike Rowe. Kalau tidak bisa belajar, coba pertimbangkan untuk ganti nama”

(*Sumpah mati, gara-gara kasus ini dan markas besar Sony di Tokyo saya jadi kepingin bikin domain Sony-Toloyo dot com. Haha*)