Archive for the 'bangaip' Category

Lelaki Dari Indonesia

Saya dipanggil oleh rekan kerja dari departemen Sumber Daya Manusia. Kata beliau, ada training yang mungkin menarik untuk saya. Saya tanya training apa, dia jawab, training personal branding. Saya tanya lagi apa ada makan siang gratis, dia ketawa. Padahal saya serius. Saya mau ikut kalau ada makan gratisnya. Maklum lah, mental kere macam saya begini kan doyannya gratisan.

Teman saya, si trainer, bilang kalau training ini dibutuhkan sebagai bagian dari sekolahnya. Ia harus mentraining enam kali karyawan pabrik agar bisa lulus sekolah. Jadi atas dasar bantu teman, saya ikuti lah training ini.

Training ini dilaksanakan pagi hari. Diikuti oleh sembilan peserta dari negara-negara yang berbeda. Satu-satunya orang asia dan kebetulan dari Indonesia, yaa saya. Jadi, saya dapat perhatian khusus memang pada sesi pagi ini.

Saya biasa dapat perhatian khusus. Mirip bule di Candi Borobudur di Jogja sana yang dikerubuti anak sekolah untuk minta foto bersama. Saya bukan bule, ini jelas. Tapi kan sekeliling saya bule semua, jadi jelas juga kalau saya eksotis.

Ini bukan belagu. Bukan pula sok-sokan. Ini fakta. Jadi berbeda itu memang mengundang tatap mata. Satu anak punk berambut mohawk di komunitas santri berpeci pasti jadi lirikan sekelilingnya. Nah logika yang sama kita terapkan pada seorang lelaki tinggi standar berkulit coklat berambut panjang awut-awutan diantara manusia-manusia setinggi dua meter lebih berkulit terang pucat berambut pendek jambul mirip model tokoh kartun tintin. Jelas jadi tatapan. Sekali lagi, jadi berbeda itu mengundang tatap mata. Mau menafikkan fakta ini, silahkan

Sebelum acara dimulai, kami diminta memperkenalkan diri. Setiap orang pun mengenalkan dirinya masing-masing. Bagaimana mereka mengidentifikasi dirinya dan apa yang akan mereka perbuat di masa depan untuk personal brandingnya.

Ketika kami bicara sosial media, ini adalah topik yang sangat menarik. Sebab tidak semua orang ternyata memiliki akun sosial media dan bahkan ada yang membencinya.

Ketika giliran saya harus mengenalkan diri di training ini, saya bilang kalau saya sudah melakukan personal branding sejak lama. Si trainer kaget. Dia tanya kenapa dia tidak bisa menemukan saya di mesin pencari dan sosial media lainnya. Padahal saya sudah mengaku kalau saya punya lima blog, tiga akun facebook, dua akun twitter dan hampir setengah lusin alamat email.

Jawabnya sederhana, saya melakukan semua itu atas nama anonimitas.

Saya tahu personal branding itu penting. Yang jadi pertanyaan, apa itu yang saya butuhkan?

Tahun 2006 blog saya dikunjungi kira-kira tiga ribu pengunjung dari alamat unik perhari. Orang yang berbeda. Tapi lantas apa yang saya dapat? Nama besar? Uang? Jumlah fans membludak?

Tidak! Saya tidak dapat itu semua dan semua itu memang bukan kebutuhan saya.

Yang saya dapatkan adalah diri saya dibelakang komputer tiga jam perhari untuk membalas komen-komen atas nama ‘kode etik ngeblog’.

Bayangkan, tiga jam perhari? Kalau iya saya tidak punya pekerjaan lain seperti nyuci baju, ngepel, beres-beres rumah, masak, nyari nafkah, menservis partner, jelas saja saya bisa meluangkan waktu tiga jam perhari hanya untuk menjadi terkenal dalam imaji diri sendiri. Semacam onani jiwa. Tapi kalau saya tidak punya waktu menanggapi? Maka jadilah itu bumerang buat saya. Semacam melempar opini pada publik dan lalu lari tidak bertanggung jawab atas apa yang ditulisnya. Mirip anjing yang kencing di tiang listrik. Main lempar air seni sembarangan, endus-endus dikit dan lalu pergi lenggang kangkung setelahnya.

Jadi, pada saat saya mengenalkan diri, saya jawab bahwa saya muak jadi terkenal. Bahkan ketika anonimitas melindungi buruknya muka asli saya pun, saya tetap tidak bisa menghindari bahwa saya harus meluangkan waktu untuk menjaga ‘imaji personal’ digital di depan publik. Dan menjaga ‘branding’ itu butuh waktu, tenaga dan upaya.

Jadi pada intinya, jika anonim saja sudah susah jaga branding, apalagi pakai nama asli. Betapa membosankannya harus mati-matian jaga imaji 24 jam sehari melalui semua akun-akun sosial media. Sebagaimana betapa membosankannya jadi orang yang terus-terusan tersenyum dan melambai-lambai di depan publik setiap kali. Memangnya apa? Keluarga raja? Huh!

Tapi yaa begitulah hidup. Kata Kang Adi teman saya. Setiap orang harus mengenalkan personal brandingnya pada publik. Kalau presiden kita saja punya politik pencitraan diri (yang kemudian dengan sangat bangganya diikuti oleh istri, anak, dayang dan siapa saja yang mempu menjilat pantatnya), masak sih kita sebagai warganya tidak mau ikutan?

Jadi, menuruti saran Kang Adi, ikut-ikutanlah saya punya personal branding.

Personal branding saya jelas. Yaitu seorang ayah, sopan dan selalu tersenyum. Singkat kata, dalam bahasa asing, ‘a nice guy’. Tipikal manusia yang tidak menjadi ancaman buat sekelilingnya.

Punya personal branding sebagai nice guy itu susah-susah gampang. Gampangnya, saya tidak perlu susah-susah jadi nice guy. Senyum sedikit, ibu-ibu pedagang jengkol tetangga saja sudah ikutan senyum. Jadi ayah? Apalagi. Apa susahnya? Lah wong saat ini saya sudah dikaruniai seorang putri yang ramah baik dan cantik jelita. Apa susahnya berperan jadi ayah?
Lantas sopan? Lah kalau itu mah kewajiban. Sudah dari bawaan orok memang harus sopan kalau lahir di kampung saya Cilincing sana. Mau rusuh? Yaa siap-siap aja muka babak belur digebugin orang sekampung. Jelas saya harus sopan. Dan itu kewajiban.

Susahnya, yaa dengan orang-orang tertentu saja sih. Terutama gadis-gadis. Ehem…

Iya, saya ini single. Bukan sebuah kebanggan, apalagi kewajiban. Hanya sekedar fakta. Bahwa saya hidup sendiri, membujang, dan melakukan semua kegiatan cuci-mencuci, masak-memasak, membersihkan rumah, mencari nafkah, membesarkan anak, secara sendiri adalah fakta bahwa saya single. Tidak usah ditutup-tutupi. Realita. Pahit memang. Tapi hadapi saja.

Lantas apa hubungannya dengan personal branding sebagai nice guy dan single?

Lah banyak loh!

Sudah berapa kali saya ini diomeli beberapa orang. Ada yang menggerutu dibelakang ada yang terang-terangan memaki di depan. Biasanya yang diumbar adalah, “Kamu ini gimana sih, kalau flirting sama aku… yaa aku saja dong. Masak semua cewek digoda. Dasar buaya!”

Tinggallah saya bengong termehek-mehek. Apa maksudnya? Lah sejak kapan saya flirting sama beliau? Dan sejak kapan saya menggoda gadis-gadis?

Dan dengan seksama dalam tempo sesingkat-singkatnya secara gagah perkasa, saya tangkis omongannya dengan jawaban, “Saya? Beneran nih?”

Beliau sambil marah-marah menukas, “Ya iya kamu! Masih aja pura-pura nggak tau! Kemarin kamu di pestanya si Ayu, duduk disamping dia sambil senyum-senyum. Terus pas di dapur kamu sama Siti, masak bareng. Masih juga senyum-senyum. Trus pas kamu nyanyi maen gitar. Ngeliatin aku terus. Udah gitu lagunya love is in the air lagi. Kamu ini apa sih maksudnya? Kalian ini orang Indonesia berlaku nice dan doyan flirting yaa?”

Wah ini jelas saya tidak bisa terima. Itu generalisasi. Tidak semua orang Indonesia itu nice. Masih ada yang bawa-bawa parang pakai nama agama melarang diskusi buku. Masih banyak di Indonesia yang bakar-bakarin rumah ibadah. Masih banyak orang Indonesia yang cuek lihat tetangganya lapar. Jelas saya tidak terima. Tidak semua orang Indonesia itu nice! (*Pakai tanda kutip, biar efeknya jelas kalau saya tidak terima. Hihihi*)

Lalu kalau soal flirting. Ini jelas merupakan sebuah tantangan untuk menjawabnya. Katanya, orang Indonesia itu suka senyum. Dan oleh beberapa bangsa, yang kelihatannya jarang senyum, senyum itu memang bentuk flirting. si Soni sahabat saya bilang, “Men, kita ini orang dari negara tropis. Katanya mudah jatuh cinta”. Lah saya belum tentu setuju pendapat si Soni. Oke lah memang ada wakil rakyat Indonesia di Senayan sana yang mungkin jatuh cinta dan dengan asoynya memperlihatkan kepada publik adegan rekam mereka ketika tengah bercinta, tapi itu kan bukan berarti semua orang Indonesia mudah jatuh cinta. Lalu menggoda umat manusia sebanyak-banyaknya. Kalau memang orang Indonesia suka menggoda umat manusia dan ditakdirkan lahir sebagainya, pasti kita sebangsa sudah dikerangkeng di neraka. Idih amit amit naujubilah mijalik. Jelas yang pasti saya tidak terima.

Maka itu dengan perlahan tapi pasti, saya jawab beliau dengan, “Neng, nggak semua orang Indonesia begitu. Apalagi saya. Nggak semua orang Indonesia seperti saya. Kami ini terdiri dari banyak manusia yang berbeda. budaya berbeda. Pakaian berbeda. Bahasa berbeda. Tidak bisa semua orang Indonesia dikategorikan sama. Apalagi disama ratakan dengan saya”

Sambil berdiri dan pergi ia dengan ketus menjawab, “Ahh dasar laki-laki. Semuanya sama. Gombal. Bisanya ngeles saja”

Sambil garuk-garuk kepala saya berfikir. Dalam hati. Ahh susahnya jadi laki-laki… Apalagi jadi laki-laki Indonesia. Mau senyum, dibilang menggoda. Mau cemberut, dibilang sombong.

Lah kita, lelaki Indonesia. Harusnya bagaimana yaaa?


Tentang Kelas Dan Hipokrasi Orangtua

Saya berniat berhenti menulis. Alasannya agak bodoh, yaitu capek. Tapi kenapa saya tidak juga berhenti? Agak aneh memang, kalau letih, yaa berhenti. Ambil jeda. Rehat. Lalu pikir ulang apakah mau terus lanjut atau ganti kemudi.

Tapi toh saya tetap menulis. Dalam galau, dalam sedih, dalam senang, dalam bahagia, dalam badai, tetap saja menulis. Haa, aneh kan? Iya jelas aneh, sudah beberapa kali saya sudah memutuskan berhenti menulis. Tapi toh tetap saja lanjut terus. Mungkin ada yang salah dalam otak saya.

Oke, mungkin iya ada yang salah dalam otak saya, jadi walaupun letih, masih tetap maju terus. Haha. Tapi, di sisi lain. Di saat saya gamang dan kadang memikirkan untuk terjun bebas ke dunia lain yang sama sekali beda, eh biasanya datang surat. Kadang dari orang yang sama sekali tidak disangka. Suratnya pun aneh, kadang isinya sederhana dan singkat sekali. Misalnya, “Bang, nulis, Bang. Jangan berenti!”

Minggu ini, hari-hari yang amat berat sekali buat saya. Tapi saya pikir tidak saya ceritakan dulu disini. Saya bukan tipe impulsif. Namun saya akan tetap menulis. Cerita lain. Nah tulisan kali ini, saya persembahkan buat para mereka yang menulis (dan memaksa :) ) agar saya tetap menulis.

Begini ceritanya:

Saya ini manusia yang gila sekolah. Agak komplikatif dan paradoksial memang. Untuk orang yang sama sekali tidak percaya akan institusi pendidikan masa kini karena dianggap berbasis pada komersialisasi dan hanya menciptakan lulusan sebagai baut pelengkap mur industrialisasi, kok yaa doyan amat sama sekolah.

Jawaban filosofisnya; sebab sekolah, sayangnya-hingga-saat-ini, adalah cara termudah dan tercepat memperoleh keilmuan tertentu. Jawaban pragmatisnya; sebab saya biasanya selalu punya cara mengakses sekolah murah (bahkan biasanya, gratis). Sebagai fakir miskin dan anak terlantar yang dipelihara negara (entah negara mana), saya memang tidak pernah bayar uang iuran sekolah sejak kelas 5 SD. Dibiayai terus oleh negara (entah negara mana, saya tidak begitu peduli).

Sejak tahun lalu, saya hobi banget keluar masuk kelas. Mulai dari kelas yang ada hubungannya dengan pekerjaan sehari-hari, seperti kelas penguasaan perangkat lunak manipulasi vektor digital hingga bahasa-bahasa baru seperti HTML5, hingga kelas-kelas yang tidak ada hubungannya dengan hidup sehari-hari, seperti kelas memanjat, kelas menari hingga kelas bermain harmonika jamaah.

Boleh dibilang, hidup saya sejak tahun lalu hingga saat ini tidak jauh dari seputar pintu kelas ke pintu lainnya. Dan dari pintu ke pintu itu, saya bertemu orang-orang yang menarik, lucu, luar biasa, hingga yang sakit jiwa, aneh dan menyebalkan. Pada intinya, menarik. Dinamis.

Satu kelas yang paling membekas dalam otak saya adalah kelas parenting. Sekolah untuk menjadi orang tua yang lebih baik.

Loh apa saya bukan orang tua yang baik? Kalau saya orang baik dan menganggap diri sebagai orang baik lalu tentu saja otomatis menjadi orang tua yang baik, buat apa saya sekolah menjadi orang tua yang lebih baik? Bukankah kebijaksanaan datang dari pengalaman? Makin lama saya berpengalaman sebagai orang tua, kan tentu saja saya akan jadi orang tua yang lebih baik? Lalu kenapa saya, yang menganggap diri orang tua yang baik, masih saja sekolah untuk jadi orang tua yang lebih baik?

Jawabannya panjang. Bertele-tele dan cukup memusingkan. Saking memusingkannya bahkan bisa-bisa menyeret beberapa nama dalam dosa digital yang tak berampun ini. Maka itu, lebih baik disingkat saja. Saya sekolah menjadi orang tua yang baik karena: harus!

Suatu hari di akhir musim panas, mulailah saya daftar di sekolah ini. Sebagaimana sekolah-sekolah saya lainnya terdahulu, untung saja sekolah ini murah (bahkan bisa dibilang hampir gratis). Dan sebagaimana sekolah-sekolah saya lainnya, ini sekolah malam. Menyesuaikan jadwal kerja saya yang mencari nafkah dengan memburuh dari pagi hingga sore hari.

Kelas pertama parenting, saya ingat sekali. Kami mengenalkan diri satu sama lain. Dan sebagaimana acara pengenalan basa-basi ini; saya cepat lupa (*Duh, ingatan saya memang parah*). Uniknya, setelah mengenalkan diri, kami diminta menulis nama anak dan umur mereka di sebuah kertas besar yang dilipat segitiga agar bisa terpampang jelas di meja belajar kami.

Kami diminta bukan untuk mengenal siapa kami, tapi kami diminta untuk saling mengenal siapa anak-anak kami.

Kami, dua belas orang duduk memutar. Dengan meja belajar ukuran 1 x 1 meter di hadapan masing-masing. Diberi buku. Isinya semacam kalendar. Tapi kosong. Dua orang dosen duduk diantara kami. Memberi tahu beberapa poin-poin yang akan mereka berikan dan harus kami capai sebelum sekolah usai.

Apa poin-poin itu? Menarik, sebab mereka jawab bahwa kami lah yang harus mengisi sendiri poin-poin itu. Saya bengong. Ini gila! Sekolah macam apa ini? Saya, sang pelajar, kok yaa harus bikin sendiri kurikulum? Apa gara-gara beasiswa, saya jadi diperlakukan begini?

Tapi ternyata, bukan hanya saya yang harus mengisi poin-poin itu. Ternyata semua orangtua juga harus mengisi poin-poin tersebut.

Saya lalui kelas pertama dengan cukup galau. Sebagai satu-satunya single father di kelas, boleh dibilang saya semacam makhluk yang hampir punah. Teman-teman sekelas saya biasanya perempuan. Ibu dengan dua atau tiga anak dengan suami pemalas atau malah tidak peduli. Satu-satunya lelaki yang lain adalah seorang suami beserta istrinya yang hamil besar anak kedua. Saya dapat perhatian cukup besar dari para pembimbing. Karena saya satu-satunya lelaki yang datang tanpa pasangan dan mengisi jawaban kosong pada lembar pertanyaan-pertanyaan “Apa Yang Anda Ketahui Mengenai Pasangan Anda?”

Dosen menatap saya. Itu tatapan pertama dia sejak kelas dimulai. Ketika dia buka suara, saya tahu masalah saya baru saja mulai.

“Kamu tidak mengisi lembar ini, kenapa?”

“Saya tidak punya pasangan”. Jawab saya dengan tatapan hampa ke arahnya. Kalau dia tanya kenapa saya tidak punya pasangan, pasti akan saya jawab bahwa itu bukan urusannya. Untung ia tanya lain.

“Kenapa kamu ikut kelas ini?”

“Putri saya masih dua tahun ketika orangtuanya bercerai. Sekarang sudah satu setengah tahun sejak peristiwa itu terjadi, ia sudah lebih bisa mengungkapkan perasaannya. Dan ia masih bertanya-tanya soal perpisahan orangtuanya. Ia pasti masih sedih kehilangan orangtua lengkap. Saya harus melakukan sesuatu agar dia bahagia lagi. Saya pikir saya ikut kelas ini agar lebih bisa membantunya melewati masa-masa itu”

“Kamu pikir ia sedih?”

“Kalau ia tanya soal kenapa orangtuanya pisah, iya. Saya pikir ia sedih…”

“Kamu bahagia?”

Saya terkesiap. Ini pertanyaan yang aneh. “Err… Maksud kamu?”

“Kamu bahagia dengan hidup kamu?”

Dalam hati saya merutuk. D@3n! Saya salah masuk kelas! Tapi setelah diam sejenak, sambil menghela napas panjang saya jawab, “Kalau putri saya sedih, saya tidak bahagia”

Ia berhenti menatap saya. Saya menarik nafas. Ahh untunglah. Sepertinya ia sudah tidak punya perhatian lagi ke saya. Sial sekali, ternyata itu hanya ilusi di otak saya. Sebab ia memalingkan muka ke seluruh kelas dan berkata pada hadirin, “Mohon kalian perhatikan baik-baik sesi saya dan dia bicara. Ini contoh yang bagus bagaimana kalian membuat poin”

Benar-benar sial, kali ini semua mata yang sumpah mati saya pikir setengah mengantuk karena kelas malam, kini menatap saya. Si dosen kampret menatap saya lagi, “Kalau kamu tidak bahagia, bagaimana kamu bisa membahagiakan putri kamu?”

Saya mau jawab, ‘Eh kampret, lo tau ga sorga itu bukan cuman di telapak kaki ibu, tapi juga di telapak kaki anak gua. Urusan amat lu ama gua bahagia apa nggak!’. Tapi karena saya yakin ia belum pernah mendengar kalimat surga di bawah telapak kaki ibu, maka saya putuskan untuk cengar-cengir sambil garuk-garuk kepala dan menjawab dengan kalimat ,”Yes, itu pertanyaan yang bagus” (*jurus pamungkas bangaip keluar sudah. hehe*).

Dia bilang, “Saya lihat di daftar list kegiatan” sambil memegang sebuah list yang saya pikir saya harus isi untuk menjelaskan kegiatan harian saya sebelum masuk ke kelas ini. Oh no! Lalu lanjutnya, “Kelihatannya kamu sibuk. Astaga, bahkan saya pikir kamu sibuk sekali. Kamu tidur sedikit. Sisanya bisnis, anak dan belajar. Kamu harus meluangkan waktu buat diri kamu sendiri. Kapan terakhir kamu berlibur?”

Saya yang seperti sudah merasa di knock-out di depan publik hanya bisa melempar handuk putih ke arena, menjawab pelan, “Tiga tahun lalu…”

“Ok, itu poin pertama kamu…”

Saya mengangkat alis. Heh apa-apaan ini? Masak saya masuk kelas hanya untuk disuruh berlibur. What the…! Tapi belum sempat saya tanya, ia sudah bertanya duluan. “Untuk apa kamu masuk kelas ini?”

Saya tahu, ia tidak mengharapkan jawaban yang sama. Kali ini, saya seperti petinju yang baru saja dijatuhkan di ring dan masih harus memberi klarifikasi di depan pers akibat kekalahan. Ok, saya akui malam ini saya kalah. Saya harus menerimanya dengan lapang dada. Saya jawab dengan ikhlas, “Putri saya tidak mau membersihkan kamarnya. Saya mau ikut kelas ini agar memberi tahu caranya disiplin”

Ia gantian mengangkat alis, “Apa definisi kamu dengan membersihkan?”

Saya termangu, iya ia benar. Apa definisi dengan membersihkan? Menyapu dan mengepel kamarnya? Menaruh semua mainan pada tempatnya? Menata kembali semua yang ia berantaki sesuai dengan urutannya? Astaga, disini saya sadar bahwa saya memberi ekspektasi terlalu berlebihan pada anak berusia tiga setengah tahun. Sekarang saya tahu kenapa saya ada di kelas ini, jadi tersangka sebagai orang tua yang… Ahhh, saya sendiri tidak bisa mendeskripsikan diri saya sebagai ayah yang baik.

Selalu saya tulis di sosial media, di blog, di twitter, di mana-mana; bahwa saya seorang ayah. Seorang bapak yang amat bangga dengan putrinya. Tapi apa benar saya ayah yang baik? Apa benar semua kebanggan yang saya tulis di depan publik dimanifestasikan dengan sejujurnya dihadapan sepasang mata seorang anak perempuan berusia tiga tahun?

Sebagai laki-laki yang pernah berelasi, saya tahu saya gagal. Andai semua perempuan yang pernah saya singgahi adalah ahli samurai, mungkin saat ini repih-repih tulang badan sudah jauh lebih halus daripada daging cincang dalam kaleng. Iya, disitu saya gagal. Kenyataan itu pahit. Dan menerimanya, jauh lebih pahit. Tapi mau apa lagi, terima saja kenyataan ini.

Melihat saya bengong seperti kehilangan pegangan, Pak Dosen seakan-akan tidak mau tahu. Kali ini, ia melontarkan jab terakhirnya ke ulu hati, “Apa kamu membersihkan kamar kamu?”

Benar-benar seperti halilintar menghantam isi perut. Saya tersengat habis-habisan. Menghela napas pun terasa berat. Bagaimana saya mau meminta sang putri Novi Kirana membersihkan kamarnya jika papanya sendiri sangat-sangat jarang membersihkan kamar. Hipokrasi orang tua yang selama ini saya cemooh, saya benci dan saya maki-maki, ternyata bersemayam di dalam diri saya.

Saya berharap putri saya melakukan yang terbaik dalam hidupnya. Tapi bagaimana mungkin jika saya sendiri tidak melakukan itu. Bagaimana ia bisa mendapatkan contoh yang baik?

Saya selalu bercita-cita melakukan revolusi. Tapi taik kucing lah semua itu, jika saya sendiri tidak melakukan revolusi dalam hidup sendiri.

Singkat kata, malam itu, malam pertama masuk kelas parenting, saya sadar. Sepenuhnya sadar lirik lagu Chris Young; “Any fool can make a baby But it takes a man to raise a child”. Iya semua orang bisa bikin anak, tapi membesarkannya, itu jelas harus manusia yang berotak.

Beberapa bulan berikutnya saya lulus. Katanya, dengan nilai terbaik. Anomali. Tapi saya tidak peduli. Saya tidak masuk kelas itu untuk jadi yang terbaik diantara para orangtua. Saya tidak masuk kelas itu untuk jadi juara. Saya bahkan tidak peduli berapa jumlah angka yang telah tercapai. Yang saya peduli, bahwa ada satu bocah perempuan di bawah umur yang mencintai saya apa adanya dan itu luar biasa. Saya harus bertanggung jawab atas cintanya. Dan hanya itu, dan cuma itu yang saya pedulikan.

Di malam kelulusan, semua sahabat baik saya berkumpul. Bersulang atas apa yang telah saya capai. Mereka bertanya, “Apa setelah ini kamu pikir kamu ayah yang hebat?”

Saya diam. Dengan lirih saya jawab, “Tidak ada orangtua yang sempurna. Yang ada hanyalah orangtua yang melakukan yang terbaik untuk anaknya”

Mereka setuju dalam diam. Bersulang sambil menatap bulan.


Cerita Kecil Tentang Hal Sederhana: Maut

Sudah lama saya tidak menulis. Ternyata tidak menulis itu enak juga. Hahaha. Yang tidak enak itu ketika suatu hari diperkenalkan oleh seseorang ke publik, “Kenalin nih bangaip, blogger”. Saya bengong dan memaki dalam hati. Edan, saya sudah lama tidak nulis di blog kok yaa masih saja di-sok-akui sebagai blogger.

Dalam beberapa bulan terakhir ini, saya dapat banyak surat dari teman-teman saya. Bertanya kenapa saya tidak menulis dan ada apa dengan saya. Sumpah mati saya jadi jadi terharu. Serius, terharu. Bukan becanda. Biasanya mah saya terharu, tapi becanda. Nah kali ini, saya serius, terharu.

Bagaimana tidak terharu, dari antara teman-teman saya ada beberapa orang yang benar-benar belum pernah bertemu sebelumnya. Dan mereka bertanya mengapa saya tidak menulis dan apakah saya cukup sehat untuk menulis.

Sumpah mati saya kaget, ternyata ada yang menunggu tulisan saya. Ada rasa belagu (iya lah, saya juga manusia) karena dirindu. Ada rasa bersalah karena menumpuk cerita dalam otak. Ada banyak rasa yang yang sebenarnya bisa dituang dalam tulisan.

Ya sudah, ini saya cerita deh. Kenapa saya beli bumbu pada tulisan terakhir sampai berbulan-bulan.

Jadi begini, suatu hari seorang ibu-ibu berkata, “Wah kalo kayak kamu mah paling lama sekitar pertengahan musim panas ini” ujarnya merujuk pada siklus hidup saya.

Saya jelas bete. Masa sih cuma gara-gara komplikasi radang pada jantung dan bonus benda kecil di otak yang namanya kanker, umur saya tidak akan bertahan lama melampaui Agustus 2012? Dan sumpah pocong, saya jarang percaya omongan orang. Jangankan pada manusia, pohon beringin saja yang lebih sakti dari manusia, saya jelas-jelas tidak percaya. Tapi karena si Ibu-ibu ini punya banyak gelar dari depan hingga ujung belakang namanya, diantaranya ahli medik spesialis. Terpaksa lah saya harus percaya.

Di saat yang sama, saya dapat kabar yang luar biasa sekali. Sahabat baik saya kehilangan rumah dan jadi gelandangan. Menginap dari satu rumah teman ke teman yang lain. Satu teman lagi, lebih parah, kehilangan pekerjaan dan sama sekali tidak mampu menyewa kamar paling murah sekalipun hingga kesulitan makan. Dua manusia itu, sering dan boleh dibilang hampir tiap hari menumpang di rumah saya. Luar biasa? Ahh belum. Itu belum seberapa. Yang bikin luar biasa adalah akibat krisis melanda, gaji saya dipotong dan saya juga terancam kehilangan tempat tinggal. Jadi selain terancam kehilangan nyawa, saya juga terancam kehilangan tempat berteduh ketika sedang menunggu ajal dijemput. Dan kalau kehilangan rumah, saya bisa kehilangan hak asuh anak, satu-satunya cinta yang tersisa di muka bumi ini.

Kehilangan teman, kehilangan rumah, kehilangan cinta dan kehilangan nyawa. Hehe, itu baru luar biasa.

Saya tidak begitu cerdas, tapi yaa jelas tidak bloon-bloon amat. Dalam taksiran hitung sementara, kunci yang bisa diputar untuk membuka masalah kehilangan diatas ini hanya satu, yaitu tempat tinggal. Jika saya masih punya tempat tinggal, maka saya masih bisa membantu teman, berteduh, main sama anak, dan melenggang menuju sakaratul maut dalam ruangan yang hangat.

Ok, kalau begitu rumah harus saya pertahankan. Tapi bagimana caranya? Jaman lagi susah begini, bagaimana mau bayar kontrakan?

Akhirnya saya hutang.

Gila memang. Mau mati kok hutang? Masa mau mewarisi hutang? Manusia macam apa saya ini?

Tapi setelah dihitung-hitung, kelihatannya saya bisa bayar hutang rumah jika saya selama dua bulan bekerja gila-gilaan. Pada waktu ini, saya terus berpikir-pikir, kok yaa saya mau mati harus kerja mati-matian. Apa gunanya hidup saya? Harusnya kan saya senang-senang saja sebelum ajal menjemput. Kok mau mati saja repot amat?

Lantas saya berfikir. Panjaaaang sekali.

Setelah beberapa hari dalam gundah gulana, untunglah saya dapat jawabannya. Ternyata jawabannya sederhana. Yaitu apa arti maut buat saya.

Setelah saya pikir-pikir apa arti maut, ternyata saya benci jadi tua. Sebab menjadi tua itu dekat dengan usia yang hampir habis masa batasnya. Dan itu masa yang saya benci. Masa ketika saya harus meninggalkan dunia fana.

Tapi kenapa saya harus benci? Setiap orang akan jadi tua. Lalu mati setelahnya. Kenapa harus takut mati? Bukankah ia alami? Hidup sekali. Hidup berani. Sebab hanya pengecut yang mati berkali-kali. Setiap orang pasti akan merasakan maut mengecup. Yang jadi pembeda hanya cara menerima bibirnya, dengan malu terhina atau bangga mulia?

Atas dasar itu saya menerima bantuan hutang sahabat yang baik sekali. Lalu bekerja mati-matian berbulan-bulan setelahnya untuk bayar cicilan. Demi sebuah tempat yang bernama ruang berteduh. Dimana saya, anak dan teman-teman bisa berteduh sementara. Sementara? Ya iyalah, memang mau hidup selamanya? Hehe…

Jadi akhirnya saya dan teman-teman yang homeless ini syukurlah bisa punya tempat bernaung. Dan itu jelas syukur, di ambang batas waktu yang makin menipis, masih diberi kesempatan bantu-bantu teman sambil cengar-cengir bersama mereka. Nikmat.

Di saat yang sama, saya tambah bersyukur masih dapat kesempatan bertemu dengan cinta saya. Seorang bocah perempuan berusia tiga tahun. Setiap hari bertemu beliau, selalu saya jadikan ‘hari terakhir’. Yaitu hari yang saya akan kenang sebagai hari terbaik dalam hidup saya. Main dan tertawa bersama putri tercinta. Hari bersama dia, kami lalui dengan luar biasa. Sepenuh hati, saya beri semua perhatian terhadapnya di hari itu. Seakan saya sudah di tunggu maut dari balik tirai jendela. Jadi semua cinta, semua kasih sayang, semua apa yang seharusnya putri saya terima sebagai haknya menjadi seorang anak, ia terima lunas semuanya di hari-hari itu.

Dan ‘hari-hari terakhir’ itu, adalah hari yang benar-benar membahagiakan buat saya.

Hidup yang sederhana ini ternyata indah rupanya.

Suhu di luar sudah mendekati minus 14 celcius. Buat kulit orang Cilincing macam saya ini, itu artinya hanya satu kata; dingin. Tapi dalam rumah, tempat saya berteduh, selalu hangat. Sebab disana ada hati yang dicintai dan mencintai.

Tapi kadang saya jalani hari-hari ini dengan penuh tanda tanya. Diantaranya adalah, kalau saya memang iya mau mati, kok yaa saya senang-senang saja? Di sisi lain, masih banyak pertanyaan seperti, wah kalau maut menjemput tapi hutang belum lunas gimana yaaa? Nanti anak saya siapa yang jaga kalau saya pergi?

Ternyata saya baru sadar, orang kalau mau mati, kebanyakan tanya-tanya. Hahaha…

Karena tidak dapat jawaban atas semua pertanyaan, maka saya putuskan untuk kembali ke khittah. Yaitu saya harus makan-makanan enak sebelum maut menjemput. Istilah saya, ‘jamuan terakhir’. Dan karena ini jamuan terakhir, yaitu makanan yang akan saya ingat-ingat sebelum maut datang. Maka ia harus sempurna dan luar biasa.

Tentu saja sempurna dan luar biasa itu beda buat setiap definisi manusia. Buat saya, makanan luar biasa sempurna adalah nasi, potongan ketimun, rendang dan kerupuk. Plus sambal dan teh manis hangat, tentu saja.

Jadi suatu malam, setalah seharian penuh main-main dengan putri saya tercinta dan bahagia luar biasa, saya undang teman-teman untuk makan malam. Tentu saja makan rendang. Plus sambal dan kerupuk tepatnya. Saya tidak cerita apa-apa pada mereka. Saya tidak mau cerita apa yang tengah saya alami dan apa perasaan saya saat itu. Sebagaimana saya tidak cerita pada putri semata wayang kalau papanya akan pergi sebentar lagi.

Saya tidak mau cerita susahnya hidup. Saya tidak mau melihat raut muka mereka khawatir. Tidak enak melihat wajah orang lain khawatir karena cerita saya. Yang saya mau lihat, mata mereka bahagia melihat rendang dan ketimun. Sebagaimana mata saya yang berbinar-binar ceria ketika bisa makan seenak jidatnya.

Malam itu, ketika semua orang pulang dan hanya tinggal teman-teman yang sehari-hari ada di rumah, saya masuk tidur ke kamar. Sebelum mata tertutup pulas, saya cengar-cengir senang sekali menatap dinding langit-langit yang ditutup cat putih dan lampu kertas murahan.

Ahh kelihatannya saya bahagia. Tidak perlu uang banyak rupanya untuk bahagia.

Nah, besoknya. Pagi. Sekitar jam sepuluh. Saya dikagetkan suara telpon yang membuyarkan mimpi. Ternyata itu suara Ibu-ibu ahli medis spesialis. Kata beliau, “Mohon maaf ada kesalahan di alat kami. Kamu ternyata tidak apa-apa”

Saya bengong. Ini jangan-jangan saya masih mimpi. Maka itu saya tanya, “Maaf yaa, ini benar telpon untuk saya?”

Suara ibu-ibu itu bilang, “Ya benar. Kamu bisa datang ke rumah sakit untuk mengeceknya”

Setelah terdiam cukup lama, lirih saya tanya, “Jadi… Jadi saya nggak jadi mati, Bu?”

Dia diam lama, tapi lalu menjawab, “Eh, kamu tidak di diagnosa seperti sebelumnya. Soal mati, errr.. Saya tidak bisa jawab. Pada intinya, kamu sehat”

Saya bengong. Lama. Ya iya lah, benar memang maut mah tidak bisa dikira. Tapi lumayan lah kalau setidaknya saya bisa menikmati musim panas ini sampai tuntas.

Kelihatannya, saya masih bisa main-main terus sama putri tercinta.

Oh ya, satu lagi; Kalau saya nggak jadi mati, saya masih bisa makan enak dong. Kan kalau mati, susah makan.

Namanya orang hidup, pasti banyak maunya. Apalagi dikasih kesempatan untuk hidup lagi. Saya pernah bertanya-tanya, kalau saya mati dan lalu dihidupkan lagi, apa yang akan saya lakukan.

Jawabannya ternyata mudah; saya mau jalan-jalan naik sepeda ke kebun binatang bersama putri saya dan makan ikan bakar bersama teman-teman saya sambil main gitar menyanyi ceria.

Hidup yang sederhana ini ternyata indah rupanya.

Tapi kan itu hidup saya. Hidup Anda? Errr.., :)


Galau Permanen

Saya dapat banyak surat. Isinya hampir sama semua, mempertanyakan mengapa saya sudah sebulan lebih ini tidak membuat tulisan baru. Semuanya bertanya, apa kabar?

Saya baru saja bikin lagu baru. Single. Entah bahasa Indonesianya apa, yang pasti artinya bukan bujang. Melainkan hanya satu lagu saja. Judulnya, “apakabar?”. Belum dirilis, masih dalam proses mixing. Isinya yaa soal apakabar itu lah, mau apa lagi coba? Masak sih lagu apakabar isinya apakabur? Kan agak aneh. Tapi itu lagu memang buat konsumsi pribadi, bukan buat publik. Hehe.

Apakabar saya?

Jawabannya: letih. Di luar kesibukan sebagai manusia biasa lainnya seperti makan, main, sekolah, kerja, ngurus anak, menerima tamu, mencoba jadi teman yang baik dan bla-bla-bla lainnya, saya ternyata letih.

Saya punya banyak kabar. Saking banyaknya sampai bingung mau cerita yang mana.

Karena bingung, lebih baik saya cerita yang lain saja. Bukan soal kabar saya. Tapi kabar teman saya.

Begini ceritanya:

Suatu malam saya ditanya seorang teman, si Yunus. Ia bertanya, “Bang, kalo dokter bilang umur lo tinggal dua tahun lagi, lo jawab apaan?”

Saya membelalakkan mata. “Gila dua taon! Lama tuh! Gua mah bakalan senang-senang aja”

Yunus bengong, “Yang bener dong Bang, gua serius nih?”

“Yaelah masa gua becanda sih? Dua tahun itu cukup tau buat senang-senang?”

Dia terdiam. Lama. Sambil manggut-manggut dan melihat langit. Dan akhirnya setelah diam cukup lama, ia buka suara lagi, “Senang-senang maksud lu gimana bang?”

“Yaa senang-senang lah. Makan nasi padang, maen sepeda ama anak gua, cengar-cengir tiap malem ama temen-temen gua, bikin teka-teki silang buat warisan, ama nerusin hobi gua ngeriset arsitektur penyebaran kota”

“Nasi padang? Kenapa nasi padang?”

“Lah lu ga tau nasi padang itu enak? Wah kasian banget idup lu!”

Dia ketawa terbahak-bahak. “Yaah gua bisa ngerti bang, maen sepeda ama anak itu nyenengin. Tapi buset dah, masa sih ninggalin warisan teka-teki silang?”

“Yaelah, gua pan betawi mungkar. Dimana-mana orang betawi punya tanah, gua mah boro-boro. Udah tanah kaga punya. Rumah juga ngontrak. Duit ada palingan cukup buat idup aja. Mao ninggalin apa gua buat warisan? Yaa teka-teki silang aja dah… Masih untung gua ninggalin TTS. Coba kalo gua ninggalin utang ama polusi. Pan sial banget tuh anak cucu gua nanti”

Dia cengar-cengir. “Tapi bang, ngapain juga ngeriset trus nerusin penelitian. Lu kan udah sebentar lagi mao mampus. Kok masih mikirin penelitian?”

Saya mendelik, “Yee kampret lu ah. Siapa nyang bilang gua mao modar? Lagian riset itu pan hobi. Mao ada beasiswa apa kaga kek, mao dunia tebelah tujuh kek, mao riset gua diketawain orang kek, bodo amat. Itu pan hobi gua. Urusan amat ama nyang laen? Emang gua pikirin…”

Dia masih saja cengar-cengir. “Bang, lu mah aneh yaah?”

Saya garuk-garuk kepala menjawabnya, “Kok gua yang aneh, ada juga lo yang aneh. Kaga ada ujag-ujug trus nanyain gua kalo idup gua tinggal dua taon lagi. Emang lo mao mati dua taon lagi, Nus?”

“Nggak Bang, kemaren lusa katanya dokter si Imron abang saya kena kanker. Umurnya nggak lama lagi. Palingan juga sekitaran dua tahun lagi gitu deh”

“Wah sori yaa, Nus. Tapi serius gua tadi kaga becanda. Besok kita bikinin nasi padang yuuk. Kita kirimin ke Imron”

“Gimana bikinnya bang?”

“Resepnya pan banyak di internet”

“Trus yang bikin siapa?”

Lagi-lagi saya mendelik, “Yaa kita bedua lah. Masa gua sendirian. Kampret luh!”. Dan Yunus tertawa terbahak-bahak mendengarnya.

Besoknya sepulang mengantar nasi padang dari rumah Imron, saya dan Yunus naik sepeda berdua. Selepas taman rumput menjelang rumah, saya bilang sama Yunus, “Nus, tadi gua dapet SMS. Temen gua udah capek ama idup ini. Letih katanya. Mao mati aja”

Yunus menengok dari sepedanya ke arah saya, “Trus lo bilang apa bang?”

“Yaa gua nggak bilang apa-apa”

“Masa sih bang lo nggak bilang jangan?”

“Nggak tuh… Gua kepengen tau dulu aja dia kepengen mati kenapa? Kalo dia masih berguna buat orang laen, yaa jangan. Tapi kalo emang gara-gara dia idup nyusahin semua makhluk di muka bumi, yaa lebih mati aja kali yaah”

“Waah lu sadis banget bang?”

“Yee.. jangan salah men. Lu tau ga, kalo Jos Bus sebelom ngebom negara-negara laen nelpon gua dulu trus dia bilang dia galau permanen trus abis itu bilang mao bunuh diri, yaa gua dukung. Gua pasti bakalan bilang, Jos, yaa udah lu mati aja deh daripada lu idup malah nyusahin banyak orang”

“Waah lu parah banget bang. Trus kalo dia nggak mao mati gimana?”

“Gua bilang, Jos, mendingan lu jadi budak gua aja dah. Bersiin wese, mandiin sepeda gua dan laen-laen. Kan bagus itu, masih bisa produktif. Nah kabar baiknya, kalo jadi budak gua, ntar gua kasih makan nasi padang”

“Tai luh, Bang. Maksud gua temen lu, bukannya Jos Bus”

Saya bengong sementara dan sambil mengayuh sepeda saya jawab,  “Yaa kalo dia nggak mao mati, ngapain juga bunuh diri?”

“Gua bingung bang, Si Imron mati-matian minum obat tiap hari banyak banget. Idupnya juga nggak keren-keren amat sih. Dia kan cuma satpam. Dia utang kiri-kanan biar bisa nebus obat. Emak gua sampe jual mas kawin buat nalangin beli obatnya. Istrinya susah ampe dengkul tiap hari dagang di pasar, biar bisa nyambungin nyawa suaminya. Dunia ini aneh yaa bang, ada yang kepengen mati dan ada juga yang kepengen idup. Kok nggak bisa nerima aja ikhlas sambil terus ngejalanin apa yang emang harus dijalanin?”

Wah kali ini saya shock. Tumben-tumbenan Yunus pikirannya sedalam ini. Dia ini kan tipikal temen saya yang pokoknya apapun yang terjadi, cengar-cengir saja lah. Jangan-jangan gara-gara lewat taman yang banyak pohon besarnya dia kemasukan jin rumput.

“Nus, mana gua tau jawabnya! Gila luh, kok jadi sok bijak kayak gitu?”

Yunus diam tidak menjawab apa-apa. Sementara, rumah kontrakan saya semakin dekat saja.

Dan kali ini. Hari ini. Di hati ini. Ketika banyak yang bertanya saya apakabarnya dan ingin sekali menjawab dengan mengeluh dan bilang betapa letihnya hidup. Saya pikir saya harus menahan diri sambil mengingat omongan Yunus.

Jalani saja apa yang harus dijalani.

Dan jika semua jalan harus ada konsekuensinya, yaa jalani saja. Pakai sepatu saya sendiri, tidak perlu pakai alas kaki orang lain. Ini sepatu memang buruk, rombeng, bau, kadang bikin lecet dan jamuran, tapi toh ini kaki saya sendiri. Dan ia akan menemani saya menjalani apa yang harus dijalani.


Bon Voyage, Hajj

occupy edinburgh

occupy edinburgh october 2011

Anehnya, sore itu tidak cukup panas sebagaimana sore-sore hari di Cilincing. Saya dan adik, Gugun, duduk berdua di serambi rumah Ibu sambil merokok kretek bersama. Gugun menuang anggur putih dingin ke gelasnya, “Lu mao?”

Saya menggeleng, “Kagak ahh. Lu gila kali. Sore-sore gini udah nge-wine”

Dia mendehem, “lo mah enak, di deket rumah lu wine murah. Disini mahal men. Mumpung ada nih. Nggak sering kan lu balik ke Cilincing bawa wine”

Minuman wine yang sedang ditenggak Gugun itu dari anggur berjenis Riesling. Wine putih agak manis produksi Jerman. Aslinya dari daerah yang bernama Rhine. Riesling ini termasuk kategori anggur putih yang cukup punya rasa khas seperti Chardonnay atau Sauvignon Blanc. Varietas Riesling amat ditentukan dari tanah tempat ia ditanam. Jadi, tidak semua Riesling yang tumbuh di tepi sungai Rhine berasa sama (akibat panjang sungainya 1233 Kilometer melewati beberapa jenis lokasi geografis). Tapi entah kenapa, Gugun suka sekali wine tersebut. Setiap saya pulang ke Cilincing pasti saya bawa sebotol untuk oleh-olehnya. Dia kadang agak gila. Wine itu dimasukkan ke dalam kantong-kantong plastik kecil, dibekukan di dalam lemari pendingin, lalu setelah beku, plastik dibuka lalu disedot-sedot bagaikan makan es krim. Sore itu dia masih cukup ‘berbudaya’. Wine itu masih di dalam botol dan diminum selayaknya manusia meminum cairan dari gelas.

Kami berdua sedang sedih. Baru dapat kabar terbaru bahwa ada lagi WNI yang diperlakukan buruk di sebuah negara di timur tengah. Gugun protes, “Lu tau ga men? Banyak orang ngomong TKW kita itu penyumbang devisa. Tapi coba lu pikir, emang orang-orang kita juga bukan penyumbang devisa terbesar buat Saudi? Tiap tahun… Bayangin tiap tahun, ribuan manusia kita diimpor ke sono buat naek haji dan ngabisin rupiah?”

Saya cengar-cengir. “Rupiah? Bukannya pake dollar amerika buat naek haji?”

“Yaa tetep aja kurs awalnya kan rupiah dulu. Abis itu baru diganti ke dollar. Lu gimana sih men? Ironis kan, ngomongnya benci Amrika kapitalis dan zionis. Tapi tetep aja pake dollar dalam transaksi?”

Saya tertawa terbahak-bahak, “Ad hominem lu ahh… Jaka sembung bawa gitar listrik. Nggak nyambung, jreengg….”

Tapi rupanya dia serius. “Coba lu bayangin, tiap tahun pemerintah kita kedodoran buat handle dollar buat jamaah haji WNI. Tiap tahun pemerintah kita mati-matian cari muka ama Saudi. Sampe pake bikin nama pahlawan penyumbang devisa segala buat TKI. Kok yaa warga kita diperlakukan kayak taik kucing di sono. Ngehe banget ga sih?”

Sambil garuk-garuk kepala saya tanya balik, “Lah terus solusi lu apa men?”

Dia menjawab tegas setelah menenggak wine terakhir di gelasnya, “Pindahin kabah ke Cilincing”

Kali ini saya tertawa ngakak habis-habisan.

Ibu keluar. Mendengar kami berdua ribut sekali. Kelihatannya beliau baru selesai solat ashar. Masih pakai mukena, terus mengomel ke Gugun. “Kamu ini ngapain sih sore-sore minum anggur?”

Gugun menjawab polos, “Yang ngasih pan dia, Bu. Omelin aja dia tuh”

Saya bersungut, “Kampret luh. Gua lagi.. Gua lagi”

Gugun sukses. Mata Ibu beralih perhatian ke saya. “Kamu ini gimana sih? Udah bangon siang. Solat kagak. Ngaji kagak. Mandi kagak. Makan sembarangan. Gimana kamu mao ngedoain bapak?”

Seperti biasa, saya punya sejuta lebih trik menghindar. “Bu kagak ada hubungannya semua itu. Doain bapak pan aya bisa dimana aja. Sambil naek angkot juga bisa ngedoain bapak. Nyang namanye owloh, Bu, pan kagak budeg. Owloh itu, Bu. Maha mendengar! Nih biar kata si Gugun minum wine, tapi kalo hatinya deket ama owloh mah, owloh juga bakal dengerin dia. Jangankan si Gugun, Bu. Ibu pan tau Jalaludin Rumi. Sufi tuh orang, Bu. Die aje bilang, ‘jika ku mati nanti, pabila datang ke makamku bergembiralah bahkan dengan anggur yang terbaik‘. Nah kalo orang suci itu aja ngomong begitu, apalagi aye, Bu”

Alis mata Ibu mengerenyit, “Cerewet kamu! Udah sono makan, mandi, ganti baju trus solat asar! Buset dah, susah amat dengerin kata orang tua? Doain Ibu biar taon depan bisa naek haji”

Saya dan Gugun bengong sesaat. Lalu saya buka suara, “Ibu serius mao naek haji?”

“Ya iyalah. naek haji. Ke Mekah. Ke sono. Naek kapal terbang”

Gugun menyahut malas, “Yaa naek kapal lah, Bu. Masak sih mao berenang? Ampe Arab bisa gempor kali”

Ibu cuek mendengarnya

Saya masih penasaran, “Bu, naek haji pan mahal. Duit dari mana?”

“Ada tabungan dari sekolahan. Gaji Ibu dipotong tiap bulan buat naek haji”

Saya cengar-cengir, “Bu, kalo tetangga kita masih lapar, emang hajinya mabrur?”

Ibu saya santai saja menjawab, “Lah kalo presiden kita tau warganya masih banyak yang laper, seumur idup kagak bakalan kali dia nginjekin kaki di Mekah. Kalo dia aja cuek naek haji, nyuekin warganya yang udah jelas-jelas kelaperan. Masak sih Ibu kagak?”

Saya ketawa terkekeh-kekeh. Ibu ini orang Cilincing. Dan sebagaimana orang Cilincing lainnya, yaa pragmatis. Haha…

Gugun matanya menatap kebun. Ia tidak puas dengan jawaban Ibu. Buatnya, haji itu bukan sesuatu yang luar biasa jika pemeluk agama teguh menjalankan salah satu rukun imannya, menyepelekan kehidupan sosial yang ada di depan mata.

Oke, itu cerita sebuah sore di Cilincing. Singkat saja, saya mau ceritakan bahwa pada akhirnya Ibu gagal naik haji di tahun berikutnya. Gugun, masih tetap tidak mampu beli wine dan menolak alkohol (akibat mahal). Saya? Ahh, saya jelas masih sama. Masih tak beraturan makan dan mandi, masih tidak pernah solat ashar dan masih keras kepala mendengar nasihat orang tua. Hahaha…

Setelah sekian lama, cerita ini akhirnya pun terlupakan.

Namun muncul lagi beberapa bulan lalu. Ketika seorang sahabat bernama Yayak datang ke kampung tempat saya tinggal. Di sebuah sore di dapur Mbok Dini (yang kebetulan rumahnya hanya sekitar 15 menit jalan kaki dari rumah kontrakan saya), Yayak bertanya kabar Ibu di Cilincing.

Saya jawab, “Ibuku mau naik haji tahun ini, Yak. setelah sekian lama, kayaknya tabungannya cukup. Ibu pergi tahun ini, Yak”

Sambil melinting rokok ia bertanya, “Lu nggak ikut?”

“Waduh, gua sibuk banget Yak., Ibu gua minta gua pulang ke Cilincing. Gua nggak bisa berangkat. Susah nggak bisa ninggalin anak dan kerjaan yang numpuk”

Yayak membelalakkan matanya dan tiba-tiba punya ide ajaib, “Lu nggak usah pulang. Ngapain lo pulang ke Cilincing? Lu langsung aja ke Mekkah. Lu gendong tuh emak lo sampe rumah Tuhan. Gua tau lo udah nggak percaya siapa-siapa. Itu mah ga penting. Yang penting, lo bikin emak lo seneng. Lo pijitin kaki dia kalo pulang acara haji tiap sore. Lo gendong emak lo kalo capek. Nih denger gua, Rip. Lo percaya apa nggak, itu nggak penting! Yang penting, lo bahagian itu Ibumu…”

Saya bengong. Edan, kok yaa tiba-tiba saya percaya kalau omongan Yayak benar adanya. Tiba-tiba, semuanya jadi logis di mata saya. Tentang agama dan ritual yang pudar di mata bahkan sejak saya lepas bangku SMA, kini tiba-tiba jadi logis dan benar-benar terang.

Mungkin saya memang sudah kehilangan agama. Sudah kehilangan kepercayaan. Sudah kehilangan ‘pegangan’ bahwa hidup ini melulu untuk surgawi. Tapi, saya masih punya Ibu. Dan saya amat mencintai beliau sepenuh hati. Dan mengakui, bahkan jika ada lautan api yang secara literal akan saya terjuni demi cinta, maka hanya akan saya lakukan atas nama putri dan Ibu saya.

Hanya demi cinta dua wanita itu, bahkan langit pun akan saya tantang untuk membuktikannya.

Yayak benar. Saya mungkin sudah tidak punya agama lagi. Tapi saya masih punya Ibu, dan demi beliau, saya akan melakukan apa yang bahkan mungkin tidak pernah terlintas di otak saya.

Iya, saya akan berangkat haji.

Gila, tidak pernah terlintas di otak, saya kan melakukan tindakan segila dan senekat ini. Tapi saya akan naik haji. Hanya untuk menjaga, menggendong dan memijit kaki Ibu ketika beliau letih. Sumpah, sama sekali saya tidak peduli bahwa saya akan berembel-embel haji, atau malah jadi masalah buat Saudi. Itu sama sekali tidak penting. Saya hanya akan menjaga dan bersama Ibunda tercinta.

That’s all.

Lalu saya pun mulai riset. Belajar bahasa Arab. Cari teman yang sudah naik haji dan bertanya pengalaman mereka dan cari yang informasi. Dan setelah berkali-kali menghubungi biro perjalanan, hasilnya semua sama. Naik haji itu ternyata tidak murah. Setidaknya, bukan untuk kantong buruh kecil macam saya ini. Saya coba alternatif lain. Saya coba untuk naik haji a’la backpacker. Cari yang murah meriah.

Namun tetap sama. Saya, secara finansial, benar-benar tidak mampu naik haji.

Iya, di satu titik saya akhirnya sadar dan bicara melalui saluran langsung internasional dengan Ibu, “Maaf Bu, saya tidak bisa pulang ke Cilincing anter Ibu ke bandara dan juga tidak bisa jaga Ibu di Mekkah”.

Ibu mengerti. Anaknya yang nun jauh di belahan dunia sana punya dunia sendiri. Beliau hanya bicara singkat dalam lirih, “Doain aja Ibu selamet yaa…”

Saya mengangguk dalam percakapan itu. Hati saya masygul. Bahkan setelah menutup telpon, saya masih diam seribu basa.

Putri saya, Novi Kirana datang menghampiri setelah telepon usai. Bocah berusia tiga tahun itu bertanya, “Papa, kamu okay?”

Saya senyum menatapnya, “Nak, papa nggak bisa ketemu Oma Ibu. Oma Ibu mau pergi jauh. Naik pesawat. Menyebrang laut. Papa nggak bisa jaga Oma Ibu”

Dia mengusap rambut saya. Ia bilang, “Tapi kamu selalu bisa jaga aku, Papa. Kamu jangan khawatir, Oma Ibu pasti ada yang jaga…”

Saya bengong menatapnya. Iya, saya kaget. jelas amat kaget. Saya tidak bisa membandingkan Ibu saya dengan saya. Saya sudah tidak punya tuhan. Tapi Ibu saya masih. Dan saya yakin cinta dan kepercayaan akan Tuhannya lah yang akan menjaga beliau.

Entah kenapa, tiba-tiba semua jelas dan terang. Semua yang dulu abu-abu dan seakan gelap, tiba-tiba jadi jelas.

Malam ini, saya menulis dalam dingin di sebuah titik di Edinburgh. Pada sebuah monument di Saint Andrew Square. Di tengah tenda-tenda para penghuni #occupyEdinburgh. Tadi pagi dapat kabar buruk, seorang wanita aktifis diperkosa ketika mengikuti acara pendudukan di Glasgow. Dan berita itu menyengat hati saya dan membuat saya kecewa. Bahwa aksi damai di Skotlandia masih dicorengi oleh hal-hal yang membuat miris.

Ibu berangkat ke Mekkah sana. Ke negeri yang lebih panas daripada Cilincing. Saya ada semakin jauh ke utara bumi. Semakin tenggelam ke belahan negara-negara dingin. Kami berbeda. Dan akan selalu berbeda. Sebagaimana saya dan kita selalu berbeda dengan siapa saja. Namun entah kenapa, naifnya saya percaya, bahwa cinta dan kepercayaan akan melindungi mereka.

Saya sudah kehilangan banyak kepercayaan di muka bumi ini. Dan semakin jauh saya berjalan, semakin banyak kepercayaan yang semakin hilang. Namun semakin jauh saya berjalan, ternyata saya menemukan hal yang semakin lama semakin terang, bahwa cinta dan kepercayaan akan tetap melindungi manusia dan isi bumi.

Ahh malam ini mungkin makin semakin dingin. Mungkin malah membuat otak saya semakin beku dan menulis hal-hal aneh macam begini.

Tapi persetanlah semua itu. Yang saya tahu hanya satu, yaitu betapa saya amat mencintai orang-orang yang saya cintai.

Dan harapan akan cinta mereka, yang membuat saya masih hidup hingga saat ini.

Dan dalam kepercayaan itu, walaupun dalam letih, membuat langkah semakin jauh menapak…

(*Ibu, sampai jumpa kembali. Suatu saat, kita pasti akan bertemu*)


Ditelan Kelam Malam

Robinson Crusoe book cover imageKalau tidak ada orang di rumah, biasanya saya suka kesepian. Dalam hati berpikir, “Kemana yaa orang-orang? Kok sepi amat?”. Tapi giliran banyak orang di rumah, saya juga sering bertanya-tanya, “Kok banyak amat orang-orang? Ini kapan bubarnya?”

Bingung? Iya lah, saya saja yang menjalaninya kadang suka bingung sendiri.

Malam ini saya sendiri. Hebatnya, kalau saya sedang sendiri begini, tiba-tiba kok yaa keinginan untuk menulis dahsyat sekali. Mungkin dengan menulis, bisa membunuh sepi. Tapi kenapa pula saya hendak membunuh sepi? Bukankah bulan sepenggal di langit cerah sana kelihatannya menemani malam ini? Kenapa pula sepi harus dibunuh, apakah ia sebegitu menakutkannya? Entahlah. Yang penting biarkan saja saya tetap menulis.

Dalam karyanya yang terinspirasi dari perjalanan Ibnu Tufail, Daniel Dafoe menulis The Life and Strange Surprizing Adventures of Robinson Crusoe, sebuah fiksi autobiografi perjalanan seorang pria yang bernama Robinson Crusoe terperangkap di pulau tak berpenghuni selama 28 tahun. Dalam novel fiksi itu, Crusoe menulis catatan hariannya. Selain mendokumentasikan hidup, juga untuk menjaga ‘kewarasannya’.

Saya bukan Robinson Crusoe. Tidak pula terdampar dalam pulau tak berpenghuni selama 28 tahun. Saya hanya kesepian malam ini. Dan menemani diri sendiri dengan kalimat demi kalimat mantra jampi.

Sudah sebulan lebih saya kedatangan tamu. Tidak tanggung-tanggung, di luar tamu tetap yaitu gerombolan teman-teman dan anjingnya, saya kedatangan tamu baru hampir sekitar 30 orang lebih. Setiap hari selalu muncul orang baru, muka baru dan cerita baru. Tapi saya senang. Walaupun juga ternyata saya letih. Selama sebulan ini kedatangan banyak tamu, senang, letih dan rasa lain sebagainya jadi satu campur aduk tak terkira. Lalu saya jadi enggan menulis. Sebab di ujung hari sudah terlalu berat mengangkat tangan untuk menulis.

Malam ini, tidak ada orang. Saya pikir, walaupun masih letih selama sebulan memforsir diri dengan tamu dan kegiatan pekerjaan yang penuh deadline, ini saat yang tepat untuk menulis. Saya memang bukan Tuan Crusoe, tapi saya harus menjaga kewarasan jiwa.

Yaa sudah. Maka itu, ijinkanlah saya bercerita malam ini. Mungkin sebuah cerita drama sederhana buat banyak orang. Tapi tidak buat saya. Dan daripada saya jadi gila, lebih baik dituliskan sajalah di dunia maya.

Cerita ini dimulai ketika saya kedatangan tamu. Tamu yang datang ke rumah saya silih berganti. Kadang menginap selama dua hari atau lebih. Semuanya menarik. Semuanya ajaib. Semuanya punya khas masing-masing. Namun diantara mereka semua itu, ada sepasang anak muda berusia 22 tahun yang berasal dari Swedia. Yang laki-laki bernama Eric dan yang wanita, pacarnya, bernama Rara. Diantara semua tamu saya, mereka inilah yang paling luar biasa.

Saya kenal Rara lebih dahulu, dari sebuah website dimana para pejalan di muka bumi berbagi keramah-tamahan ketika saling berkunjung. Suatu hari ia mengirim email bertanya apakah ia dan pacarnya boleh bertamu ke rumah saya. Yang serta merta saya jawab saja tanpa banyak cing-cong dengan ‘Iya’. Sebelum ke rumah saya, belum pernah sekalipun saya mampir ke rumah Rara, apalagi ke rumah Eric. Tapi tidak apalah, toh bukankah dalam menjalin pertemanan harus ada yang memulai duluan?

Suatu malam, ketika Eric sudah tidur. Teman-teman saya sudah tidur. Bahkan seekor anjing yang kebetulan bertamu di balkon saya pun sudah tidur. Saya duduk di dapur. Sambil senyum-senyum menatap foto putri saya, Novi Kirana. Malam itu, sebagaimana malam lainnya, saya rindu sekali kepada bocah perempuan berusia tiga tahun itu. Rara datang, mengambil kursi duduk di depan saya sambil berkata, “Cantik sekali putri kamu”

Saya jawab dengan senyum mengangguk, “Terimakasih”

Ia batuk-batuk sebentar. Katanya, sudah seminggu ini radang tenggorokan. Kurang nyaman. Saya berdiri sebentar, mengambil jeruk sitrun di kulkas, menyeduhnya dengan air panas dan lalu mencampur dengan madu dalam sebuah gelas berukuran sedang. “Silahkan diminum Rara. Kami orang Cilincing percaya bahwa sitrun mampu meredakan sedikit batuk. Semoga kamu bisa tidur nyaman malam ini”

Dia menatap saya heran, “Kamu baik sekali?”

Saya terkejut sambil tertawa, “Baik? Aneh, saya tidak punya maksud apa-apa selain berpikir jika suatu hari anak saya seusia kamu dan ia bepergian ke negeri jauh dan lalu batuk-batuk, ada orang yang memberinya sitrun hangat”

Ia menatap saya lekat, “Kamu bapak yang baik…”

Kali ini saya merasa agak kurang nyaman. Entah kenapa saya tidak begitu suka dinilai oleh orang lain cara ketika saya melakukan interaksi antara bapak dengan anak. Baik atau buruk, yang saya tahu saya memberikan semua kasih sayang saya sebagai bapak kepada putri semata wayang. Sebut saya egois. Sebut saya narsistis. Atau bahkan gila sekalipun. Tapi saya tidak peduli sebab saya merasa tidak ada orang lain yang perlu memberitahu betapa cintanya saya kepada putri saya.

Jadi saya jawab dengan agak enggan, “Baik? Perspektif siapa? Saya hanya menjalankan kewajiban sebagai seorang ayah”

“Buat saya kamu baik. Kamu beda dengan ayah saya”

Alis saya mengerenyit, “Bukankah semua ayah itu baik?”

Ia tersenyum getir ketika menjawab, “Ayah menyuruh saya les piano sejak saya berusia enam tahun. Ia selalu berharap anaknya adalah seorang jenius musik. Tapi saya bukan. Saya fals. Ketika saya umur delapan tahun lalu menekan tuts yang salah, dan ia benci mendengarnya, ia mengajak saya keluar rumah. Di halaman depan, ia mengambil Vidi, kelinci saya. Menyembelihnya di hadapan mata saya. Esok hari ketika saya menekan tuts yang salah lagi, ia mengambil Momo, kelinci peliharaan saya satu-satunya yang tersisa. Tangan kiri memegang kedua kuping Momo dan tangan kanan menyembelihnya. Di depan mata saya. Pesannya sederhana, jangan main tuts salah lagi”

Saya berhenti mengunyah permen karet. Menatapnya kaget dan tidak bisa bicara apa-apa. Ketika akhirnya kami diam selama beberapa menit, saya beranikan diri buka suara, “Tidak pernah terpikir di otak saya ada manusia… Apalagi seorang ayah, melakukan begitu kepada anaknya…”

Rara menunduk, membetulkan syal di lehernya. Kedua tangannya memegang bibir meja makan. “Bukan cuma itu. Waktu umur saya tiga belas tahun, ia pulang mabuk di akhir minggu. Sebagaimana hari-hari lainnya, ia suka pukul mama dan adik-adik saya. Malam itu ia mabuk sekali. Lalu datang ke kamar saya. Ia melakukan hal buruk sekali kepada saya”

Seluruh bulu kuduk di tangan saya merinding. Sedih, kecewa sekaligus marah jadi satu.

Rara sudah tersengguk-sengguk ketika meneruskan ceritanya. Setelah ia menyeruput sitrun hangat dari gelasnya. Emosinya mereda. Ia menjadi tenang kembali.

Tapi saya tidak. Entah kenapa, saya gelisah sekali. Sulit buat otak saya membayangkan seorang laki-laki yang menjadi pemabuk di akhir pekan lalu memukuli keluarganya hingga bahkan memerkosa anak perempuannya selama setahun lebih dan ketika anaknya depresi malah mengirim si anak ke rumah sakit jiwa. Dan semua itu, dilakukan oleh laki-laki yang berpendidikan cukup tinggi hingga mampu menjadi seorang dokter bedah. Astaga!

“Saya selalu menyalahkan diri saya sendiri. Apa saya yang berpakaian buruk dan membuat ayah terangsang? Atau saya berperilaku tidak baik yang membuat ayah jadi memerkosa saya? Saya selalu menyalahkan diri saya sendiri sejak pertama kali ayah memerkosa saya”

Saya raih tangannya. Menggenggam erat sambil berkata, “Rara, kamu tidak salah. Yang salah bajingan itu. Tidak semestinya ia masih hidup. Rara, kamu jangan khawatir. Dia tidak akan bisa mengganggu kamu lagi”

Matanya berlinang air dengan deras, “Dua minggu lalu, saya baru saja lulus ujian. Setelah susah payah akhirnya saya bisa menyelesaikan sekolah, saya lulus juga. Ia datang, menyelamati. Saya kira saya sudah bisa berdamai dengannya ketika akhirnya mama menceraikannya. Tapi di malam kelulusan itu, ketika ada pesta, ia coba untuk memperkosa saya lagi. Kali ini, saya sudah kuat. Saya dorong dia dan saya lari. Sejak dua minggu lalu, saya pergi dari rumah. Saya tinggalkan semuanya. Saya tinggalkan rumah. Saya tinggalkan pekerjaan. Saya tinggal semuanya! Saya benci Swedia!”

Saya tidak bisa bicara apa-apa. Saya hanya bisa memeluknya. Membiarkannya ia menangis di bahu saya. Membiarkan kaus saya basah terkena airmatanya. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Saya hanya bisa memberikannya perhatian melalui sepasang telinga untuk mendengar cerita-cerita perjalanan hidupnya.

Ketika akhirnya ia bisa tenang, saya tanya, “Eric tahu?”

“Saya baru pacaran dengan Eric sejak enam bulan lalu. Kamu orang pertama selain mama dan Nina kakak saya, yang tahu kejadian ini”

Saya genggam kedua tangannya, “Rara, terimakasih. Saya tahu ini cerita yang sungguh luar biasa buat saya dan sangat sedih untuk kamu. Tapi saya merasa tersanjung kamu percaya pada saya”

Ia senyum, walaupun sambil tetap menyeka air mata, “Iya, saya belum pernah cerita ini kepada orang lain. Hubungan saya buruk dengan laki-laki yang mau memacari saya. Entah kenapa saya bisa cerita pada kamu?”

Saya senyum menjawabnya, “Walaupun rambut saya jelek, tapi gini-gini saya seorang lelaki yang memiliki putri. Dan saya bukan ancaman buat kamu. Sebab kamu tahu saya cinta sekali dengan putri saya”

“Saya selalu kecewa, mengapa hidup ini tidak adil? Kenapa saya tidak bisa dapat ayah yang normal sebagaimana ayah teman-teman saya lainnya?”

Lagi-lagi saya tidak bisa jawab. Apa yang bisa saya jawab? Kalau bapaknya sakit dan berbahaya? Itu sih sudah jelas. Yang lebih tidak bisa saya jawab adalah, bagaimana masyarakat bisa membiarkan kejahatan terhadap anak-anak dan perempuan hanya karena dominasi kultur pria?

Ketika pria tergoda, apa mereka bisa berbuat apa saja? Merenggut kehormatan bahkan hingga secara brutal paksa, apa apologinya?

Rara pergi dua hari kemudian setelah malam itu. Bersama Eric. Kata mereka, tujuannya adalah selatan. Saya tidak bisa memberi apa-apa kepada pasangan muda yang sudah beranggapan bahwa dunia sudah sedemikian tidak adilnya selain selimut dan kasur angin. Hari sudah sedemikian dingin, musim gugur hampir tiba. Mereka tidak punya banyak uang. Mungkin hanya bisa menumpang pada supir truk mengharap belas kasih tranportasi atau malah menginap di taman kota.

Saya kira, drama asal Swedia usai sudah.

Tapi ahh… Tentu saja selalu ada tapi. Dan sebagaimana cerita-cerita hidup lainnya, saya jelas salah.

Hari selanjutnya, Mamanya, Dora dan Nina, datang ke rumah saya. Setelah menjebol akun email Rara (dibantu oleh kepolisian lokal), mereka menemukan bukti bahwa Rara dan Eric menginap di rumah saya. (*Entah kenapa, tiba-tiba nama saya jadi sedemikian terkenalnya di sebuah kota kecil di sudut Swedia sana*)

Jelas saya kaget ketika suatu hari satu orang ibu-ibu dan dua orang anak perempuannya berkendara selama 17 jam non-stop memencet bel rumah. Wajah mereka letih dan pucat ketika saya buka pintu pertama kali melihatnya. Mereka khawatir nasib Rara.

Saya ajak mereka makan malam. Sebab saat itu sudah jamnya. Mereka pasti lapar. Lalu setelah itu ke bar yang pernah dikunjungi Rara dan Eric, mencari kedua sejoli itu. Mamanya Rara terlihat paling stress. Ia sedih sekali. Ini pertama kali ia kehilangan kontak dengan anaknya. Saya tidak bisa bilang apa-apa selain bilang bahwa saya juga orang-tua dan amat mengerti perasaannya.

Malam itu di bar, saya traktir mereka bir. Ada gitar. Saya ambil dan mainkan lagu-lagu raggae dan dangdut ala Cilincing untuk menghibur mereka. Walaupun jelas bukan hanya mereka yang terhibur, tapi ternyata juga tamu-tamu lainnya. Sepasang gadis Spanyol yang duduk di sudut tergoda dan akhirnya ikut bermain gitar menyanyikan balada gembira Flamenco.

Malam itu, sebelum pergi, Mamanya Rara memeluk saya. Beliau bilang, “Kami tidak mampu menemukan Rara, tapi saya bersyukur akhirnya saya bisa senyum lagi setelah dua minggu letih tak terkira”

Saya pulang ke rumah dini hari. Jalan kaki. Setelah sampai rumah, rencananya mau mandi. Lalu tidur karena besoknya harus presentasi.

Di tengah jalan dapat SMS dari teman. Katanya ia dalam kesusahan dan butuh bantuan. Sudah cari kiri kanan namun belum juga ada yang membantunya.

Saya bingung mau jawab apa. Makin lama, seret langkah makin jauh ditelan kelam malam.


Istirahat Dan Kecantikan

Memberi Suara Pada Yang Bisu - Dr Dede OetomoHari ini saya tidak punya banyak kegiatan. Sebab prioritas utama saya memang hanya sekedar istirahat. Idealnya, duduk, menikmati matahari dan lalu baca buku karya pak Dede Oetomo yang berjudul Memberi Suara Pada Yang Bisu, sebuah catatan cukup penting bagi pergerakan homoseksual Indonesia di luar negeri maupun dalam negeri. Tapi itu idealnya. Maksud saya, yang ideal memang begitu. Sebab kenyataan toh bilang lain.

Hari ini, saya ambil cuti. Mau istirahat. Sudah dua minggu penuh beraktifitas hingga nyaris setiap siang atau malam dihabiskan dengan hal-hal yang menyenangkan, namun juga menguras tenaga. Siapa yang bisa bilang jika pergi ke kebun binatang bersama putri tercinta adalah hal yang tidak menyenangkan? Siapa yang bisa bilang jika menghadiri pesta ulang tahun makan dan minum enak sambil menyanyi bersama teman-teman bukanlah hal yang menyenangkan? Siapa bilang pergi ke tempat jauh hingga harus bawa paspor segala hanya untuk memotret tidak menyenangkan? Semuanya menyenangkan. Tapi tetap saja toh menguras tenaga.

Saya mau istirahat. Maka jadilah saya mencoba istirahat hari ini. Tapi, ahh lagi-lagi ada tapinya. Itu jemuran sudah berhari-hari kering minta diangkat dan dilipat lalu dimasukkan dalam lemari. Ada pakaian bekas ompol anak saya membuat pesing sekamar mandi minta dicuci dan dijemur secepatnya. Ada makanan yang meminta dimasak agar memenuhi isi perut saya dan tamu-tamu. Ada lantai yang berdebu kusam minta disapu dan dibersihkan segera. Ada foto-foto hasil perjalanan yang minta diedit dan dikirimkan pada mereka yang semestinya mendapatkannya. Ada… Ada… Ada-ada saja lainnya yang membuat akhirnya saya baru bisa beristirahat mulai pukul tiga sore. Dan saya yakin tidak bisa bertahan lama. Sebentar lagi, tiga jam lagi, tamu-tamu saya juga sudah akan datang.

Akhirnya pukul tiga sore ini saya bisa beristirahat. Saya duduk di depan monitor. Lalu mulai menulis. Aneh? Bukankah menulis juga butuh tenaga? Ya jelas iya. Bukan hanya tenaga, tapi juga pikiran. Tapi kenapa masih menulis? Jawabnya sederhana; itu istirahat. Setidaknya buat saya. Dalam tiga jam ini saya akan istirahat. Saya akan menulis.

Sore ini, ketika akhirnya saya bisa sendiri, saya pun menulis. Seperti biasa, catatan-catatan saya hanya sekedar remah kehidupan sehari-hari. Tidak begitu penting buat siapa-siapa. Tapi ijinkanlah saya menulis dan berbagi cerita, sebab hanya dengan begini saya bisa istirahat. Hehe. Egois banget saya. Tapi cuek aja lah. Hehehe…

Jadi begini ceritanya;

Teman saya, panggil saja Mas Don, seorang putra Jawa aseli, baru saja putus cinta. Kejadiannya belum lama, kira-kira baru dua bulan lalu. Itu cinta, sebegitu putusnya, membuat beliau uring-uringan (“Pernah jatuh cinta yang sedemikian jatuhnya sehingga enggan untuk bangkit lagi?“). Bagaimana tidak uring-uringan, sebab dia bilang semua orang baik dari keluarga pasangan hingga ke keluarganya sendiri, menyalahkan Mas Don. Seakan putusnya pertunangan mereka, salahnya Mas Don.

“Coba Bang, masak sih aku yang disalahin? Padahal kan dia yang menerima ajakan kencan dari cowok lain. Masak dia kalo dapet SMS dari cowok lain terus diajak makan abis itu ngasih tau aku? Siapa yang nggak panas coba?”

Saya diam saja. Cengar-cengir seperti biasa. Sambil bertanya, “Trus?”

“Yaa iyalah, masak aku dituduh psikopat. Gara-gara putus pertunangan kita, aku dituduh psikopat. Aku dituduh main gila. Main gila apa aku, Bang? Aku kerja banting tulang mati-matian di sini mengumpulkan uang supaya tahun depan bisa pulang ke Indonesia biar bisa kawin sama dia. Kok dia begitu? Kencan sana kencan sini. Dia yang minta putus eeh malah status fesbuknya bilang kalo aku yang mutusin… Siapa yang nggak panas coba?”

“Yaa udah lah. Kamu tenang aja, Mas Don. Masih banyak gadis-gadis di muka bumi ini yang mau sama kamu”

“Tapi aku kan jelek, Bang… Gigiku maju begini. Banyak orang yang bilang aku mirip Dono”

Saya terperanjat, “Siapa yang bilang kamu jelek. Mas Don, semua manusia itu sama. Soal cantik atau tidak, itu masalah selera. Omong-omong soal Dono, almarhum itu senior saya loh. Dan dibalik karirnya sebagai komedian, pejuang dia itu. Ganteng. Punya kepercayaan diri”

Dia sambil cengar-cengir bilang, “Yang bilang aku jelek sudah banyak, Bang. Kalau aku kondangan terus bawa mantan cewekku, orang-orang pada tanya, apa rahasianya cowok macam aku bisa dapat secantik begitu”

Saya melamun. Sedih. Saya bilang, “Mas Don, kalo ada yang bilang kamu jelek kamu inget-inget aja lagu Christina Aguilera liriknya yang bilang ’kamu cantik, walau apapun yang mereka bilang. Tidak ada kalimat yang mampu menjatuhkanmu’. Biar sukses, nih saya kasih amalan”

“Amalan apa Bang, sejak kapan situ jadi dukun?”

“Udah jangan berisik. Nih amalannya. Tiap bangun pagi kamu usahakan liat kaca. Kamu senyum. Senyum sama diri kamu sendiri. Trus kamu bilang, ‘Eh kamu manis banget sih’ pada diri kamu sendiri. Ini amalan mujarab. Kalo dipraktekkan tiap hari kamu bisa jadi ganteng”

“Buktinya mana?”

“Saya dong! Loh kamu nggak ngeliat betapa saya manis banget nih!”

Kami berdua tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban saya. Mas Don menganggap jawaban canda saya dengan hati senang.

Saya tidak tahu apakah Mas Don mengikuti nasihat ajaib saya itu. Tapi saya pribadi mah (eh jangan bilang-bilang, ini rahasia kita bedua saja yaah) setiap bangun tidur lihat kaca lalu senyum dan berkata pada diri sendiri, “Bangaip, kamu cute banget sih” atau “Bangaip, kamu topdeh” atau “Bangaip ketika kamu jalan-jalan, dunia jadi ceria”.

Agak gila memang, tapi saya tidak peduli. Meskipun di luar hujan deras dan saya harus genjot sepeda termehek-mehek melawan angin pergi ke stasiun berangkat kerja ke pabrik, saya sudah sarapan dengan senyum. Kalau tidak bisa senyum, saya pakai dua jari tarik ujung bibir ke atas. Supaya kelihatan senyum. Yang ada malah kelihatan aneh. Dan saya lalu ketawa-ketiwi sendirian di kamar mandi pagi-pagi.

Gokil? Hahaha, biarlah. Yang penting senang! Haha…

Beberapa hari lalu saya ketemu Mas Don lagi. Ia bilang, “Bang tadi aku ketemu cewek Brazil di bis. Aku dikasih nomor telpon ama fesbuknya. Waduh senang aku, Bang. Kita sudah kontak-kontakan, mau ketemuan”

Saya lihat fesbuk perempuan yang ia bilang. Ya benar, Mas Don tidak salah. Cantik itu wajah sang wanita. Dengan penampakan lain pirang, tinggi dan seksi. Saya bilang, “Mas Don, mungkin ini jalan kamu. Tiap orang kan ada jalannya masing-masing. Moga-moga aja ini perempuan baik hatinya. Kamu ini orang baik, sepantasnya dapat perempuan baik. Kalau dia hatinya baik dia juga sangat pantas dapat kamu”

Mas Don cengar-cengir malu, “Ahh bisa aja kamu, Bang”

“Hehe, ngomong-ngomong kamu praktekin ga amalan dari saya”

Ia senyum membalas pertanyaan saya. Saya tidak peduli sebenarnya apakah ia benar-benar mengikuti anjuran saya. Tapi saya sudah bahagia melihat ia akhirnya senang dan punya secercah harapan dalam melalui hari-harinya yang penuh kerja keras dan patah hati selama ini.

Oke, itu cerita Mas Don. Cerita tentang seorang laki-laki yang jatuh cinta.

Sekarang saya coba ceritakan sebuah cerita lainnya. Ini cerita tentang wanita berusia 57 tahun. Namanya Jeanette. Perempuan aseli Brussel, Belgia.

Hari jumat lalu saya diundang makan malam di rumah Jeanette. Disana juga ada Gaby, wanita Jerman paruh baya eksekutif sebuah perusahan pengembang perangkat lunak yang super sibuk dan Rayes, perempuan Kanada yang menghabiskan separuh hidupnya untuk berkelana di muka bumi dan kali ini sedang bangkrut, patah hati, mencoba hidup menetap dan mencari kerja.

Kami makan malam bersama. Empat orang asing yang belum banyak kenal satu sama lain duduk dalam satu meja. Oh ya, jelas saya lelaki satu-satunya di ruangan itu. Jangan tanya saya bagaimana bisa kenal mereka, yang pasti ketika makan malam usai obrolan pun lalu menjadi lebih intim. Kami bicara tentang hidup kami.

Gaby bicara tentang kesibukan yang semakin hari semakin menyiksanya. Karir semakin tinggi, ia sibuk di tempat kerja. Untuk mengimbangi, ia ikut fitnes dua kali seminggu. Agar badan tetap sehat, bugar dan kencang. Di sisi lain, pacarnya yang lumpuh di Munchen sana juga ikut menyita waktu dan tenaga. Ia bicara tentang kesibukannya.

Rayes cerita tentang lelaki-lelaki yang selalu datang dan pergi dalam hidupnya. Ia cerita kalau ia separuh menyesal bertemu dengan para pria yang ia pikir akan jadi pelabuhan terakhir dan akhirnya mengecewakan. Dan kini, ia harus memulai kembali dari awal atas segalanya. Ia cerita tentang masa lalu dan penyesalannya.

Lalu jelas giliran saya. Saya cerita apa? Ahh saya jelas cerita tentang anak saya. Seorang perempuan berusia tiga tahun yang selalu membuat saya jatuh cinta. Tentang bagaimana saya mengajarinya naik sepeda dan obrolan-obrolan kami dalam multi bahasa yang selalu membuat saya tertawa. Saya cerita tentang cinta.

Jeanette, yang dari tadi hanya diam dan senyum menanggapi akhirnya mulai bercerita.

“Suatu hari ketika saya ada di India untuk berkelana, bangun tidur di pagi hari mendapatkan bahwa setengah tubuh saya tidak bisa bergerak. Dokter yang datang satu jam kemudian hampir pasti berkata bahwa saya kena stroke. Kejadian ini dua tahun lalu. Sejak saat itu saya lumpuh”

Saya dan mata-mata lainnya dalam ruangan memandang dengan tercekat ke arah Jeanette. Iya kami tahu Jeanette agak pincang ketika berjalan. Tapi kami tidak tahu kalau ia pernah lumpuh total.

“Bukan hanya stroke, saya juga kena Afasia yang membuat saya kesulitan dalam berkomunikasi. Apa yang mau saya bilang di otak keluarnya lain di mulut”

Saya benar-benar terperanjat. Saya tanya, “Kamu… Apakah kamu merasa frustasi dengan kondisi tersebut?”

Jeanette memandang saya, ada airmata di sana. “Iya, saya frustasi. Apalagi saat itu saya di India, saya tidak bisa menghubungi keluarga di Brussel. Akhirnya untung ada kedutaan yang membantu memulangkan saya. Setahun saya merasa gagal. Saya benci diri sendiri. Berjuta pertanyaan muncul. Kenapa ketika saya di India? Atau malah, kenapa harus saya? Saya merasa hidup saya sudah tidak ada gunanya lagi sebagai manusia”

Saya sadar betul. Sebagai orang yang selalu jalan-jalan dalam bekerja, lumpuh memang amat menyulitkan. Apalagi ditambah kelainan fungsi di otak.

Gaby dan Rayes bertanya hampir bersamaan, “Lalu kok kamu sekarang bisa jalan lagi?”

Jeanette tersenyum. Dia bilang, “Kalau saya menyesali hidup, pasti tidak ada gunanya. Saya pasti suatu saat akan mati. Tidak perlu lah saya percepat. Maka itu saya lawan saja. Saya pergi ke pusat rehabilitasi untuk orang cacat. Saya berjuang setiap hari berkata pada diri sendiri bahwa saya pasti akan bisa menggerakkan telunjuk saya”

Diai berhenti sejenak, ambil teh dan lalu menyeruputnya. “Dan kamu tahu… Suatu hari telunjuk saya bergerak. Setelah enam bulan saya melatih diri di depan kaca berkata pada diri sendiri bahwa saya bisa menggerakkan jari jemari, tiba-tiba ia bergerak”

Saya kaget, “Eh masa sih segampang itu?”

Dia ketawa, “Yaa tidak. Tidak semudah itu. Besoknya setelah jari saya kedut-kedut tiba-tiba, tidak ada perubahan lain. Saya sempat frustasi lagi. Tapi saya lawan. Saya bilang pada diri saya sendiri kalau saya bisa. Hari demi hari ada kemajuan. Tidak serta merta saya bisa bergerak seperti ini, tapi saya mulai bisa menggerakkan jari jemari tangan saya. Dan itu sebuah anugrah. Buat saya. Buat orang-orang bisa jalan atau bisa tepuk tangan itu biasa. Buat saya waktu itu, luar biasa. Dan kini betapa saya sangat menghargai hidup dan tubuh walaupun hanya jalan ke WC atau membuka lembaran buku”

Saya benar-benar terharu mendengarnya. Hampir menangis. Semua bulu kuduk saya merinding ketika Jeanette cerita mengenai perjuangannya untuk sembuh dari stroke dan afasia. Lebih terharu ketika ia bilang bahwa ia merasa tetap cantik walau semua urat wajahnya menjadi amat kendur hingga amat susah dibedakan dengan Jeanette yang dulu sebelum terserang penyakit-penyakit itu.

“Waktu diputuskan oleh pacar ia bilang, saya sudah tua. Saya singel, cacat dan muka saya rusak. Tapi saya tidak peduli. Saya lawan saja semua prasangak buruk dengan senyum. Ia boleh bilang apa saja, tapi saya tetap merasa wanita dan saya cantik dan bahagia”

Saya lagi-lagi terharu dan senyum mendengarnya. Saya bilang, “Jeanette, kamu perempuan cantik dan tetap akan selalu cantik. Saya bangga bisa kenal dengan kamu. Saya bangga pada perjuangan kamu dan saya bangga pada kamu”

Satu persatu, saya, Gaby dan Rayes memeluk Jeanette. Ia menitikkan air mata. Ahh iya, saya juga. Saya menitikkan airmata. Jadi lelaki yang cukup cengeng malam itu. Tapi biar saja. Ini airmata respek pada perjuangan hidup anak manusia.

Kita semua dilahirkan cantik dan akan selalu cantik hingga akhir hayat nanti. Maka jika suatu hari hidup sudah sedemikian berat himpitannya. Lihat saja ke cermin di pagi hari. Senyum dan berkatalah pada orang di seberang sana bahwa Anda mencintainya.

Selamat sore, selamat senyum dan selamat menjadi cantik (atau ganteng, atau apalah sebutannya, hehe) buat teman-teman pembaca semua.

*Terimakasih sudah membantu saya istirahat :) *


Hidup Eksak

Berkarya itu tidak mudah. Baru tahu? Tidak juga sih. Sudah lama saya tahu kalau berkarya itu tidak mudah.

Kemarin saya memotret, hasilnya buruk. Banyak kotoran terlihat di foto. Entah bisa jadi itu kotoran adalah kotor akibat lensanya kotor, bisa jadi karena memang saya yang tidak ahli. Kelihatannya sih kombinasi dua-duanya. Saya memotret wajah Reno yang duduk di sebelah Untung, kok yaa bisa-bisanya foto muka si reno coreng-moreng? Padahal sumpah mati dia sedang tidak pakai kosmetik dan saya juga tidak memodifikasi foto. Memotret itu tidak mudah. Setidaknya buat saya.

Karena memotret sudah tidak begitu pandai jadi saya coba saja lah untuk menulis. Kebetulan saya sedang dapat tugas menulis laporan. Dua tiga paragraf masih oke, sisanya berantakan. Mulai dari yang saya sudah tidak konsentrasi (maunya tidur saja) hingga music gypsy punk Gogol Bordello yang menghentak-hentak membuat ingin berdansa. Pada intinya, tugas menulis laporan itu akhirnya berantakan. Setelah empat paragraf, saya putuskan untuk berhenti menulis dan mengalihkan perhatian ke dapur untuk memasak.

Lalu saya putuskan untuk memasak sesuatu yang istimewa malam itu. Sesuatu yang dahsyat. Bukankah urusan lidah dan perut berupa makanan adalah juga karya seni? Iya, saya putuskan untuk tidak menyerah jadi seniman malam itu. Oke memang kalau saya tidak bisa memotret, tidak bisa menulis, tapi minimal kan saya harus bisa memasak. Ini karya seni saya. Makanan!

Saya mulai dengan sesuatu yang sederhana. Bukankah semua maestro memulai masterpiecenya dari sesuatu yang sederhana? Sesuatu yang sederhana yang terlintas di otak saya tentu saja tidak jauh dari sambal. Apa sih yang susah dari sambal? Ambil cabe, bawang putih, bawang merah, tomat dan garam lalu gerus bersama-sama. Mau yang lebih rumit? Tentu saja bisa dicampur terasi, atau digoreng, atau dicampur apalah hingga menghasilkan sesuatu rasa baru.

Terambillah cabe, bawang, tomat, dan kacang. Saya ulek semuanya dengan kadar gerak tangan yang mirip kesadisan pada film horror. Tentu saja sama sekali tidak menakutkan, malah cenderung romantis. Airmata saya berlinang ketika mengulek sambal. Kelihatannya uap bawang Bombay menari di pelupuk mata membuat saya menangis. Romantis kan? Hehe…

Tidak lama kemudian sambal kacang hangat jadi pula tersaji di atas meja. Saya ambil ketimun, diiris sedang hingga sepiring penuh. Pelan-pelan saya santap sajian malam ketimun sambal kacang dengan nikmat.

Yang saya pelajari malam itu ada dua. Pertama adalah; satu peristiwa adalah pemicu dari peristiwa yang lain.
Sementara yang kedua yaitu; satu kejadian adalah hasil dari kejadian yang lain.

Terlalu filosofis? Entahlah… Sebab saya tiba-tiba berfikir, “Coba kalo si Reno mukanya nggak belepotan di layar monitor, apa iya gua makan sambel kacang malem ini?”

Bisa jadi tidak.

Mari kita lanjut ke cerita lainnya

Beberapa minggu lalu saya bertemu dengan seseorang dengan pekerjaan dan jabatan yang buat saya aneh sekali. Namanya, ahh panggil saja dia Anton. Nah si Anton ini ketika berjabat tangan dengan saya mengenalkan diri sebagai, “Anton, personal trainer”.

Saya bengong. Jelas iya saya bengong. Berdasarkan kamus otak saya yang cupet ini, personal trainer terjemahan dalam bahasa Indonesianya adalah ‘pelatih kebugaran’. Menilik dari rupa si Anton yang tingginya hamper dua meter dan kurus ini, kelihatannya ia sama sekali bukan ahli kebugaran. Mana saya percaya ia adalah pelatih kebugaran badan?

Setelah ngobrol panjang lebar hampar dua jam dengan si Anton dan pacarnya yang orang Texas itu, saya baru sadar bahwa yang ia maksud adalah bahwa ia seorang pelatih kehidupan.

Wooow… Saya tambah melongo. Pelatih kehidupan. Saya pikir selama ini, jika Anda adalah seekor anjing yang memiliki tuan seorang manusia yang hidup dalam tatanan masyarakat dimana anjing harus sekolah, maka hidup Anda harus dilatih. Ternyata saya salah. Ternyata manusia juga harus dilatih untuk hidup.

Dari Anton, saya dapat informasi. Bahwa di dunia ini ada manusia yang hanya bisa hidup jika punya masalah. Jadi, kalau tidak ada masalah, hidupnya hampa. Buset dah. Di sisi lain, ada manusia yang sama sekali tidak bisa hidup dengan masalah. Inginnya selalu lari dari masalah. Entah sembunyi, entah menghindari. Yang penting lari. Tugas Anton, menyeimbangkan hidup orang-orang seperti itu. Kata dia, nama kerennya ‘coaching’.

“Begini Ip, kamu tahu ga konsep kebahagiaan?”

Saya menggeleng. Mana saya tahu konsep kebahagiaan.

“Kamu bahagia ga?”

Yaelah pertanyaanya aneh sekali. Tapi daripada saya tambah bingung, saya jawab saja “Ton, kalo saya makan enak, terus kenyang terus abis itu bisa duduk selonjoran, saya bahagia. Atau maen sama anak saya atau temen-temen saya sambil ketawa-tawa. Saya mah udah senang. Idup saya segitu mah udah cukup”

Dia bengong. “Kamu nggak butuh mobil eksotis, rumah?”

Saya mengerenyitkan alis, “Yaelah Anton, saya kaga bisa nyetir. Mao dikasih mobil satu pabrik juga percuma. Saya lagian udah tinggal di rumah kontrakan. Apa yang kurang?”

Dia bengong lama. Abis itu dia bilang begini, “Oke sori… Kita balik lagi ke topik kebahagiaan. Kamu tahu ga kalau definisi kebahagiaan itu adalah sederhana. Jika kamu dikelilingi oleh orang yang bahagia, maka kamu akan bahagia. Begitu pula dengan kerjaan saya. Saya coba membuat orang-orang yang mulai mempertanyakan hidup mereka untuk menggali kebahagiaan mereka sendiri”

Saya bengong. Njelimet sekali ini penjelasan si Anton. Maksudnya gimana sih?

“Maksudnya, kamu akan bahagia jika dikelilingi oleh orang yang juga satu pemahaman dengan kamu”

“Jadi kalo nggak sepaham nggak bahagia, Ton…?”

“Bisa, tapi susah. Harus saling memahami agar mudah”

“Trus gimana caranya agar bisa saling memahami?”

“Nah itu lah gunanya pekerjaan saya. Ini bisnis booming looh. Orang-orang sekarang sedang hobi mencari pemahaman atas dirinya sendiri”

“Ooh kamu psikiater dong?”

“Buuuukaaaan… Kamu gimana sih? Dari tadi nggak ngerti-ngerti juga”

Sumpah saya tidak mengerti. bahkan ketika Anton bilang bahwa manusia berjenis kelamin pria itu mengambil keputusan satu kali per setiap tujuh detik dalam waktu sadarnya dan wanita tiga kali kelipatannya agar mereka bahagia, saya masih tetap tidak mengerti.

Saya bloon?

Bisa jadi.

Tapi dari dua cerita di atas, saya malah belajar satu hal yang baru. Dua-duanya berbuntut pertanyaan dengan jawaban yang memiliki kemungkinan. Jawabannya bisa benar, bisa juga salah. Tapi itu sama sekali bukan baru toh. Yang baru adalah, bahwa peristiwa runtutan hidup dan kebahagiaan (atau apapun definisinya) itu sama sekali tidak eksak. Bahwa kadang-kadang ada saja dalam kejadian sehari-hari yang terjadi di luar nalar dan logika.

Baru? Mungkin buat Anda tidak. Tapi buat orang-orang yang terbiasa (karena terpaksa) punya rencana B, C dan seterusnya jika rencana A gagal ini macam saya, tentu saja ini hal yang baru.


Jika Kemewahan Itu Bernama Sakit

Bagian Satu: Satu Dollar Kriminal

Umurnya tidak muda lagi, sudah 59 tahun. Terakhir bekerja, di Coca Cola, mengabdi di sana selama 17 tahun sebagai pengantar botol ke warung-warung. Tidak pernah membuat musuh, bekerja dengan keras dan rajin dan selalu patuh memenuhi jadwal pengiriman. Itu etos kerja James Richard Verone.

Tahun 2008 badai krisis ekonomi melanda Amerika Serikat. Badai yang sama, melanda pula Coca Cola. James pun diberhentikan paksa. Ia pikir akan cepat dapat kerja, duduk dibelakang kemudi sebagai supir truk pengantar barang. Namun apa daya, tak ada lowongan pekerjaan yang sama untuk manula.

James lalu jadi kasir di warung kecil dekat kotanya. Tidak lama. Nyeri tulang punggung yang dideritanya, radang di kaki, (tentu saja, usianya sudah tidak muda lagi) membuat ia berakhir duduk di rumah beristirahat tanpa bisa meneruskan kerja. Mengandalkan hidup dari uang tabungan dan kerja sporadis serabutan.

Hingga suatu hari dadanya terasa nyeri. Hendak ke rumah sakit, meminta pengobatan. Tapi hukum Amerika Serikat yang hingga saat ini masih bersitegang akibat jaminan sosial kesehatan warganya, membuat James tidak mendapatkan kesempatan untuk berobat. Intinya, apapun warna kulitnya, warga miskin memang tidak dapat hak yang sama di mata dewa medis di Amerika sana.

Suatu hari ia menyadari bahwa uang tabungannya habis, hasil dari kerja serabutan tak lagi mencukupi. Ia jual seluruh perabotan rumah dan membayar uang sewa kontrak bulanan terakhir. Dan lalu menjadi gelandangan mengandalkan hidup dari satu yayasan kemanusiaan ke yayasan lainnya hanya untuk sekedar makan minum dan bertahan dibawah dinginnya malam.

Tuan Verone tahu benar akan hal itu.

Dadanya semakin nyeri.

Hingga akhirnya pada tanggal 9 Juni, di siang yang cerah ia mandi, menyetrika pakaian, lalu memanggil taksi. Merampok bank pertama yang ia lihat.

Di depan kasir bank, ia menyodorkan secarik kertas yang isinya meminta uang satu dollar Amerika dan layanan pengobatan.

Kasir panik, Bank mereka belum pernah dirampok. Meskipun tanpa membawa senjata, kasir masih panik ketika dirampok dengan tuntutan satu dolar (kira-kira saat tulisan ini diturunkan adalah setara dengan Rp 8.620,-) dan permintaan medis.

Kasir memijit bel alarm dan polisi pun datang.

James tanpa rasa takut, bilang kepada si kasir wanita, “Saya akan duduk di lobi ruang tunggu sampai polisi datang”. Tak lama kemudian, polisi dengan kesatuan yang bagaikan anti-teroris datang menyergap dan menggelandang James ke penjara.

Ketika ditanya alasannya mengapa merampok dan hanya menuntut satu dollar saja, “Kalau saya masuk penjara, saya harap saya bisa dapat pengobatan gratis dari negara” jawab James dengan pelan.

Tuan Verone pun dipenjara. Entah sampai berapa lama. Di dalam bui, ia hanya makan pagi dan siang saja. Tidak makan malam. Katanya, pada saat makan malam ia akan bergabung dengan hampir semua narapidana. Ia takut. Ia tahu, penjara Amerika itu buas. Jadi lebih memilih saat makan pagi dan makan siang saja yang biasanya hanya diikuti oleh pesakitan yang telah lanjut usia.

Hingga saat ini, belum ada kabar apakah ia akan dapat pengobatan untuk nyeri dadanya.

Ketika berita ini akhirnya dimuat surat kabar gastongazette dan lalu melesat ke boingboing, hampir semua orang Amerika berteriak kecewa dan sedih. Menuntut keadilan atas kebutuhan pelayanan medis untuk warganya.

Bagian Dua: Satu Bangsa Satu Penjara

Beberapa minggu lalu saya kedatangan tamu, namanya Bas. Kawan-kawan Mexico yang ia bawa memangilnya ‘El Gringo’, terjemahan ugal-ugalan dalam bahasa Indonesia kira-kira ‘bule’.

Bas lahir di California, lebih mewarisi gen mamanya yang berambut pirang dan bermata biru ketimbang papanya yang asli dari Mexico City. Walaupun punya kewarganegaraan ganda, Amerika dan Mexico, ketika saya tanya apa isi dadanya ia jawab dengan senyum, “Saya Mexican”.

Bas tinggal bersama papa mama dan adiknya di Nogales, sebuah desa di Arizona yang benar-benar terletak di perbatasan antara US dan Mexico.

“Saya bingung tinggal di Amerika. Hampir semuanya serba ilegal. Kamu tahu, saya pernah dipenjara gara-gara nyetir mobil tanpa alas kaki! Sebab di Nogales, itu ilegal. Bajingan, masa sih saya dua hari di kantor polisi sampai papa mama saya jemput ketika mereka pulang dari liburan!”, keluh Bas.

“Jadi kamu suka di Mexico saja?” tanya saya sambil senyum-senyum. Vik, sahabat Bas yang berasal dari Hermosillo tertarik mendengar jawaban dari Bas. Ia mendengarkan dengan seksama.

Bas mengangguk. “You know, dua malam sebelum saya ke rumah kamu ini saya bangun jam dua pagi. Gila ada helikopter di atas rumah saya”

Saya bengong. Kaget. Hah! Masa sih ada helikopter di atas rumah. Memang rumahnya pakai helipad?

“Kamu tahu ga? Itu polisi Arizona yang sedang mencari pengungsi ilegal dari Mexico. Mereka pakai alat pencari infra merah untuk mengidentifikasi para pengungsi itu”

Vik menimpali, “Orang kampung Sebastian gila-gila. Di sana bahkan ada milisi yang bersenjata. Kerja mereka memburu orang-orang Mexico yang miskin dan lalu menyebrang ke Amerika untuk mencari pekerjaan. Itu manusia, dikejar-kejar, trus kalau sudah dalam jangkauan tembak, yaa ditembak”

Saya makin bengong. “Jangkauan tembak. Maksud kamu seperti berburu? Loh bukannya di Amerika apa-apa itu ilegal. Masa berburu manusia tidak ilegal?”

Bas ketawa-tawa, “Yaa ilegal, tapi yaah namanya juga manusia gila.”

Saya ternganga, “Trus orang-orang gila itu ditangkep ga?”

“Yaa ditangkep”

“Trus gimana orang mexiconya?”

“Yaa ditangkep juga. Dipenjara sama-sama”

“Lah terus kalo dipenjara bareng-bareng, apa nggak bunuh-bunuhan?”

“Yaa bunuh-bunuhan lah. Itu mah biasa. Kamu lihat film hollywood mengenai perang antar gang di dalam penjara? Yaa seperti itulah kejadiannya”

Melihat saya diam seakan seperti tidak percaya, Bas bilang. “Rakyat kami dalam ketakutan. You know, bukan hanya pada teroris tapi juga pada pencari kerja tanpa dokumen, pada cuaca yang makin panas dan banyak lainnya”

“Kalian hidup dalam ketakutan dong?”

“Yaa nggak semua orang sih. Tapi menurut saya, hampir semua orang hidup dalam ketakutan di sini. Kalau tidak takut, yaa ditakut-takuti biar takut. Hehe. Saya pikir kok mirip hidup dalam penjara. Satu bangsa, satu penjara.”

Saya manggut-manggut. Tapi jelas tidak berani cengar-cengir. Sebab kelihatannya ia serius.

Bas menambahkan, “Omong-omong kamu tahu ga kalau Amerika Serikat itu negara dengan jumlah penjara ternbanyak di muka bumi? Bahkan populasi penghuninya sudah sedemikian parah, sampai-sampai lapangan basket yang harusnya jadi tempat narapidana buat olahraga dialihfungsikan jadi barak tidur loh. Saking banyaknya penghuni penjara. Tapi omong-omong penjara Indonesia bagaimana?”

Saya tidak banyak bicara. Saya bilang, “Bas, saya ngantuk. Besok ngeburuh. Saya tidur duluan yaah” sambil cengar-cengir. Yaah mau pakai trik apalagi? Saya tidak punya jawaban pertanyaannya. Lebih baik saya kabur. Hehe.

Bagian Tiga: Ketika Mamanya Nopal Sakit

Waktu itu saya masih di Jakarta. Ada sms masuk dari Nopal. Bilang minta bantuan. Katanya mamanya sakit. Sudah lama merasa nyeri. Bahkan sampai pendarahan segala. Setelah dicek, ternyata mamanya Nopal kena serviks, nama lain dari kanker leher rahim.

Kanker ini termasuk penyakit yang cukup berbahaya. Menurut WHO di tahun 2007, kira-kira setiap tahunnya sebanyak 15.000 perempuan Indonesia dihinggapi oleh kanker leher rahim dan sebanyak 7500 orang terbunuh karenanya.

Saya pikir ini masalah serius. Tapi ada lagi yang lebih serius. Pertama, kenapa Nopal mengadu ke saya? Kedua, Nopal kan dalam penjara gara-gara kasus narkoba kok dia bisa sms saya?

Penjelasannya ada di sms antara saya dan Nopal.

LO DAH DILUAR?

G.MSH DI DLM.2THN LG.TLG MEN.MAMA GW NIH.DUIT GW G CKP BWT KEMO MAMA

KEMOTERAPI?ASTAGA.PARAH AMAT MEN!

YOI MEN.TMN LO KAN BNYK.ADA DOKTER GA?

MAMA LO KAN PEGAWAI NEGRI.ADA ASURANSI

ASKES G CKP.G JAMIN FULL COVER.

LO GA KERJA DI DLM?

KERJA.GW NYETOK BRG TRUS NYEBARIN DI DLM SKRG.DPT HP PULSA MA DUIT600RB/BLN

LMYN KAN.MKN MA TIDUR KAN GRATIS?DUIT BISA LO TABUNG.

KT SIAPA?GW BYR KMR 400RB/BLN.CADONGAN ISINYA BATU.EMANG ENAK MAKAN BATU.LO KIRA PENJARA GRATIS?

SERIUS LO?

MASA GUA BOONG MEN.LO SATU2NYA YG GA RESE MA GW.ABIS LO JG BEJAT SIH :) PENJARA INDONESIA ANCUR MEN.

PARAH!YA UDAH NANTI MLM GW KE RMH LO NGOMONG AMA MAMA LO.BTW LO BRENTI DONG NYEBAR RACUN KE ORANG2!

KL GW BRENTI BKN CUMA GW YG MATI MEN.TLG MAMA GW MEN PLIS

Saya diam sejenak. Termangu. Kalau Nopal sudah bilang bahwa nyawanya terancam, itu artinya benar-benar terancam. Dia itu salah satu prajurit jalanan Cilincing yang saya kenal. Hidupnya dari dulu memang dibayang-bayangi bau kematian. Dan dia tidak pernah mengeluh apalagi takut karenanya. Namun kali ini masalahnya pasti serius.

Terjebak dalam sindikat narkoba yang melibatkan banyak orang, baik dari dunia hitam maupun berseragam dan satu-satunya orangtua yang tersisa terbaring di rumah terkena kanker, pasti masalah serius.

Penjara, kata Nopal, sudah berubah jadi rumah indekos. Narapidana kaya, yang mampu membayar tentu saja dapat fasilitas lebih. Bahkan seorang bos sepakbola di Indonesia mampu memboyong AC hingga fax ke dalamnya lalu menjadikan dua kamar jadi satu demi kelangsungan pekerjaannya ketika ia harus menjalani hidup dalam bui. Semuanya atas nama tahu sama tahu.

Singkat kata singkat cerita, mamanya Nopal akhirnya beristirahat dengan tenang di pemakaman umum Cilincing setelah enam bulan bergulat dengan kanker leher rahim yang mengerikan. Semua tenaga medis yang saya hubungi menyerah sambil mengatakan bahwa harapan hidup beliau sudah semakin menipis.

Tidak berselang lama, Nopal menghidup udara bebas. Dia jadi big shot. Ternama karena kinerja kerja. Prestasinya sebagai bandar narkoba di dalam lembaga pemasyarakatan memberinya semacam previlige yang mampu mengantarkan surat sakti agar dapat keluar lebih cepat.

Tapi tidak lama. Hanya beberapa bulan setelah bebas, ia meninggal karena tabrak lari. Bisik-bisik rumor jalanan berkata bahwa sebelumnya ia tidak mampu closing deal sebuah perjanjian bisnis dengan pesakitan kelas kakap. Kata kabar burung, Nopal harus membayar dengan nyawanya.

Dibandingkan dengan Nopal, Tuan Verone tidak akan lama bertahan hidup jika ia dalam penjara Indonesia.

Tuan, ini negeri dimana orang miskin diharamkan sakit!


Shit Happens, Life Goes On (Horror Hari Jumat)

Hari jumat lalu, pagi-pagi saya rencananya mau berangkat kerja. Sudah sarapan, sudah mandi, sudah bersih-bersih rumah segala dan lalu berpakaian. Rencananya akan naik bis, tidak mengayuh sepeda menuju pabrik. Maklum, hari itu agak gerimis. Kalau nanti sore cuacanya membaik, saya akan ajak sahabat saya Kang Adi untuk main tennis di dekat rumah. Maka itu dalam tas ada sepasang raket tennis.

Omong-omong, rumah kontrakan saya, terletak di lantai enam. Kalau turun atau naik, yaa pakai lift. Maka seperti biasa, saya memakai lift dong untuk turun ke lantai dasar. Jadi hari itu, saya hanya mengulang kebiasaan, pergi kerja turun ke bawah dengan lift. Seperti biasa.

Tanpa perasaan curiga, saya tekan tombol lift menuju bawah. Begitu pintu lift tertutup dan perlahan bergerak turun saya tidak merasakan sesuatu keganjilan apapun. Namun ajaibnya, begitu di lift mulai memperlihatkan angka lima di petunjuk lantainya, tiba-tiba bagaikan gila ia meluncur seperti seluruh kabel-kabelnya putus semua. Wussszzz…

Di dalam lift saya seperti dalam ruang anti gravitasi, kaki rasanya tidak menginjak dasar lantai lift. Kok saya seakan seperti terbang rasanya? Saya jatuh.

Di lantai tiga lift berhenti dengan suara keras sekali. Blamm!!!

Seakan ada tangan raksasa yang menahannya untuk terus meluncur ke bawah. Badan saya terhentak oleh kejutan ini. Lift berderak keras. Sebelum sempat menyeimbangkan kaki, muka saya menghantam dinding lift yang persis ada di samping tombol-tombol. Walhasil bibir saya memble jontor temporar. Sementara pundak serasa copot engselnya.

Tak dinyana, lampu mati. Ruangan gelap total. Lift ini berukuran panjang dua meter, lebar satu meter dan tinggi dua meter. Kecil? Iya, buat saya sih tidak terlalu besar. Dalam sendiri di kotak kubikal ini dan diliputi kegelapan sepi, saya tiba-tiba merasa ada di peti mati.

5 Menit +

Masih dalam gelap, saya cek muka saya dan pundak. Apakah basah atau tidak. Sebab kalau basah, bisa jadi ada bagian tubuh saya yang terbuka dan mengeluarkan darah. Syukurlah tidak ada apa-apa. Saya masukkan tangan ke kantong, mencari telpon. Saya ketik pesan, “Kang Adi, punya bola tenis ga? Kita maen yuk nanti sore?”. Dan setelah itu dengan santainya saya tekan tombol ‘send’.

Setelah itu saya bengang-bengong saja dalam gelap. Lima menit kemudian, saya baru sadar bahwa saya telah dan masih sedang mengalami ‘insiden’. Dalam hati saya mengutuk, “buset dah, bego amat gua tadi. Bukannya minta tolong Kang Adi waktu sinyal masih ada, kok malahan ngajak maen tennis. Gimana nanti kalo gua baru ditemukan orang berhari-hari kemudian?”

Dalam gelap saya sadar bahwa saya senyum cengar-cengir sendirian.

10 Menit +

Saya lihat jam. Sepuluh menit telah berlalu. Lampu masih mati. Tombol emergensi minta tolong pun mati. Telpon tanpa sinyal. Daripada bengong memikirkan yang tidak-tidak, saya putar lagu melalui telepon genggam. Tidak lama kemudian, suara Iwan Fals terdengar lembut. Iya, masih gelap. Tapi setidaknya, minimal agak romantis gitu deh. Hehe.

Rumah kontrakan saya baru jadi bulan Desember lalu. Belum ada tujuh bulan usianya. Penghuninya kebanyakan yaa mirip saya, pergi pagi kerja dan pulang malam. Beda dengan tetangga, saya biasanya pergi paling lambat dan pulang paling cepat. Maklum saya kan buruh gila. Kadang suka datang ke pabrik seenak jidatnya. Pada intinya, saat ini tetangga-tetangga saya pasti sudah pergi semua. Percuma kalau saya teriak minta tolong pun, dinding-dinding rumah kami tebal bahkan hingga memakai kaca ganda demi menahan dingin dan suara. Belum lagi kenyataan bahwa saya ada di lift yang dilapisi pula tembok super tebal. Buka suara, yaa percuma. Akan menghabiskan energi saja.

Tapi… Eh tapi, saya dengar ada suara orang bercakap-cakap dan langkah kaki. Maka dalam gelap, saya pukul-pukul dinding lift sambil teriak-teriak minta tolong. Bodo deh kalo dibilang ngabisin enerji, yang penting gua selamet! Begitu saya pikir saat itu.

Anehnya, mereka tidak mendengar dan langkah kaki terus berlalu. Saya sempat kecewa dan sedikit marah. Kenapa mereka tidak mendengar, apa susahnya sih berhenti sebentar memberi pertolongan?

Saya baru sadar ketika suaru itu pasti tiba dari lobang udara. Ahh mungkin saja mereka tidak ada didekat sini. Bisa jadi ada di gebung sebelah utara.

Omong-omong soal lubang udara. Astaga, saya baru sadar lift ini menjadi panas. Tadi keluar pintu rumah, udara menunjukkan 16 derajat Clecius. Saya pakai jas musim semi. Dan sekarang dalam lift panas sekali. Saya buka jas tipis ini.

15 menit +

Suara berdengung agak keras. Telinga saya sampai tidak enak mendengarnya. Ada kedip-kedip cahaya. Saya tatap ke atas dalam gelap, tiba-tiba cahaya terang datang. Horeee! Lampunya menyala!

Saking senangnya, saya lompat joget-joget seperti simpanse yang diberi pisang. “Hore, nyalaaa! Horeee!!! Nyalaaa!!!”. Namun tindakan ini segera saya hentikan. Dari atas, dibalik lampu saya dengar suara ‘kreot… kreeoottt…’. Astaga! Itu suara kabel. Dan saya pikir, gila sekali kalau saya teruskan loncat-loncat. bagaimana kalau kabel lift ini putus? Lantai terbawah itu terletak sekitar lima lantai lagi (iya ada lantai berangka minusnya). Saya pikir, kalau kabelnya lepas, ada kira-kira dua puluh meter saya dan lift sempit ini akan terjun bebas menghunjam bumi. Maka itu saya hentikan loncat-loncat dalam lift dengan tujuan agar anak saya tidak jadi yatim sesegera mungkin.

Saya pencet tombol komunikasi darurat untuk menghubungi operator lift. Ahh, sayang sekali sudah coba memencet tombol itu selama 10 menit tidak juga ada jawaban.

Saya duduk diam. Mencoba berfikir positif. Apa yaa yang positif? Saya coba mengambil raket tenis dari dalam tas. Menatapnya dengan pelan. Membayangkan kalau saya jadi Rafael Nadal, lalu main di Wimbledon bersama putri saya. Seru kali yaah?

30 Menit +

Akhirnya setelah setegah jam, berhasil pula saya mengontak petugas yang mengontrol lift.

Dengan mencoba untuk tenang dalam udara yang makin panas saya bilang, “Nama saya (sensor) Saya tinggal di jalan (sensor) di gedung (sensor) Saat ini saya terjebak di lift kalian sejak setengah jam. Lift tanpa lampu dan baru menyala kira-kira belum lama sih”

“Setengah jam, Pak! Lama amat!”

Dalam hati saya merutuk. Ini mbak-mbak bukannya menenangkan saya, malahan bikin kesal. “Iya mbak, sudah setengah jam saya disini dan saya akan terlambat kerja. Sangat terlambat!”

“Bapak baik-baik saja?”

Yaelah, baru nanya sekarang. “Iya Mbak saya baik-baik saja”

“Bapak sendiri dan apa ada masalah?” Idiiih tanyanya kok seperti mau ajak kencan.

“Nggak Mbak, saya baik-baik saja. Tolong telpon nomor (sensor) untuk memberitahu rekan saya (sensor) kalau saya terlambat dan rapat silahkan bisa dimulai. Bisa? Telpon saya nggak ada sinyalnya. Maklum lah, saya terjebak di lift”

“Bisa Pak… Bisa!”

Diam sejenak. Saya bengong. Ini apa saya tengah disambungkan dengan rekan kerja saya, atau memang tidak ada bahan pembicaraan lagi.

“Mbak… Mbak… Halooo… Masih disana?”

“Iya Pak masih disini saya”

“Mbak, kapan petugas reparasi lift datang?”

“Ini sedang saya coba dari tadi Pak. Petugas kami sedang sibuk, Pak. Kira-kira baru sampai satu setengah jam lagi”

“Satu setengah jam? Heh.. Apa! Waduh Mbak, saya mau kencing nih. Gimana dong?”

Tidak ada jawaban.

“Mbak, saya boleh kencing di pojok pintu lift”

Masih tidak ada jawaban.

“Mbak… Err, saya udah kebelet nih”

Saya dengan suara bisik-bisik. “Pak, saya belum terbiasa menangani yang terjebak di lift lebih dari lima menit. Saya belum tahu, Pak. Bapak bisa menelpon lima menit lagi?”

Saya cengar-cengir mendengar jawabannya. Saya jawab OK dan lalu terdengar dari sana sambungan tertutup.

Sebenarnya saya tidak ingin buang air kecil. Saya hanya ingin bercanda saja dengan mbak-mbak itu. Ahh tidak dosa kan? ;)

45 menit +

Saya sudah bosan. Dengar musik, sudah. Baca buku, sudah. Menggoyang-goyangkan badan sambil memegang raket tenis, juga sudah. Jadi mau apa lagi?

Eh ada kaca! Besar. Setengah dinding lift bagian kanan tertutup kaca. Kenapa nggak ngaca aja bangaip? Bukankah mengaca sebagian dari iman? (*kata siapa? hahaha*)

Akhirnya saya berkaca. Duh, saya baru sadar. Bahwa rumah saya tidak ada kaca. Ada kaca, tapi dipakai hanya untuk aksesori saja. Secara serius, ternyata saya selama ini tidak pernah berkaca. Apakah ini artinya saya kurang introspeksi? Orang yang suka introspeksi kan katanya suka berkaca pada diri sendiri? Kenapa saya tidak? Apa jangan-jangan saya terlalu takut menatap wajah sendiri dan mencoba melupakannya? Halah!

(*Loh kok jadi melantur*)

Saya konsentrasi melihat kaca. Oh, baru sadar. Banyak jerawat di sekitar hidung rupanya. Akhirnya, saya pencet-penceti itu jerawat. Wah, dibawah mata juga terlihat kantung mata makin membesar saja. Tiba-tiba saya kepikiran untuk membeli krim. Entah krim apa saja, yang penting bisa mencegah keriput-keriput dan flek wajah ini. Saya buka mulut, aduh… Gigi saya kok kuning semua. Padahal saya sudah sikat gigi. Ahh, apa saya perlu ke dokter gigi untuk diputihkan lagi? Eh lalu apa itu, kok kuping saya ternyata besar sebelah? Idiih, rambut saya kok nggak rata begini yaah?

Tiba-tiba saya merasa bahwa inilah sebenarnya horror yang tengah saya hadapi. Yaitu, melalui kaca di lift yang rusak ternyata terlihat bahwa saya bukan tipikal orang yang bersyukur.

Mungkin… Ah mungkin saya harus berubah…

1 jam +

Saya zikir membaca dalam hati “Jauhkanlah aku dari godaan kaca yang terkutuk” banyak-banyak. Duduk di lantai. Membuka telpon kembali. Melihat foto dan video putri saya Novi Kirana. Dalam hati tiba-tiba berfikir kalau ternyata saya dipanggil yang maha kuasa dalam lift yang rusak, maka sebenarnya saya cukup bangga. Sebab saya sudah berhasil memproduksi seorang putri baik pintar cantik lucu dan menjadi kebanggaan bahkan ketika nafas saya telah berhenti berhembus nanti.

Saya senyum-senyum sendiri.

Dalam film-film produksi Hollywood, kalau manusia dalam saat-saat menjelang proses kematiannya, maka ia akan memikirkan hal-hal yang telah ia jalani dalam hidup.

Di atas, suara kabel semakin keras berderak-derak. Saya duduk dalam diam bagai patung. Namun lift terus bergoyang-goyang berantuk dengan dinding luar pelapisnya.

Apapun yang akan terjadi, saya sudah pasrahkan saja.

Saya ingat Ibu di Cilincing sana. Ingat masa kecil saya yang lumayan bahagia. Ingat pernah main bola di sawah bersama Gugun, Jumari, Odoy, Rojak, Utu, Aris, Uki dan lain-lainnya. Ingat bahwa ciuman pertama saya ketika menjelang kelas tiga SMP adalah dengan gadis buruh pabrik tekstil dari Indramayu. Ingat kalau main sepeda hujan-hujan di Jakarta itu ternyata indah sekali. Ingat kalau ternyata saya hobi bepergian dan banyak menapakkan kaki di muka bumi dan sama sekali tidak punya banyak ikatan emosional dengan rumah tinggal. Ingat pertama kali menggendong bayi Novi Kirana dalam dekapan.

Saya ingat sekarang, dulu rumah saya adalah rumah Ibu. Dan kini sejak jadi ayah, rumah saya adalah putri saya tercinta. Rumah itu ternyata adalah sebungkah hati yang dicintai.

Maka jika sebentar lagi kabel lift ini putus dan saya meninggal. Saya pikir saya tidak perlu takut. Toh saya akan bertemu bapak sebentar lagi :) Bukahkan besok hari ayah? Dan tentu saja saya siap bertemu beliau kembali.

1,5 jam +

Sudah sekian lama, kok yaa kabel lift belum putus juga? Wah saya jadi bingung sendiri. Gua jadi mati hari ini apa nggak yaah? Tapi kalo gua mati, trus kenapa? Shit happens, life goes on.

Daripada bertanya-tanya hal yang menyeramkan, saya akhirnya membuat daftar. Apa saja yang belum saya lakukan dalam hidup ini. Daftar itu, yaa jelas apa yang ingin saya lakukan tapi belum kesampaian.

Yang pertama saya pikirkan adalah, ‘telanjang di depan publik’.

Tiba-tiba saya berfikir bahwa telanjang di depan publik adalah salah satu hal yang belum pernah saya lakukan dalam hidup. Apa saya harus telanjang sekarang dalam lift ini? Tapi kalau saya telanjang sekarang, trus kabel liftnya copot dan saya terjun bebas ke lantai dasar, kan agak aneh berita esok hari. “Seorang pria bugil ditemukan tewas dalam lift ditemani lagu dangdut”.

Wah gimana kalo temen-temen saya tahu kalau mayat itu ternyata bangaip? Hahaha…

Okelah, saya putuskan bahwa telanjang di depan publik tidak jadi saya lakukan dalam lift ini secara saya pikir bahwa kalau memang mau telanjang akan lebih baik jika saya masih bernapas. Ditambah lagi kenyataan bahwa dulu saya pernah difoto telanjang dan dipublikasikan pada publik berarti itu bukan hal yang belum saya lakukan. (*Poto telanjang di publik? Publik ape Bang! Hahaaaayyy… Mana tahaaannn…*)

2 jam +

Interkom lift menyala. Suara mbak-mbak itu lagi membuyarkan angan-angan saya yang kepikiran untuk membuat tatto wajah putri di pundak kalau saya selamat hari ini. “Pak, mohon jangan berdiri dekat pintu. Bapak akan mengalami sedikit guncangan. Lift bapak kami sambung dengan instrumen baru kami”

Sedikit guncangan? Mbak, masoloh, andai dikau tau tadi bibir gua mao jontor trus selama dua jam liftnya goyang-goyang kerawang lebih ngebor daripada joged Inul, pasti nggak ngomong begitu deh. Tapi saya jawab, “Okay”

Gila aja kali saya mau mendebat orang yang mau menolong?

2 jam + 15 menit

Setelah lift naik turun dari lantai paling bawah ke paling atas berkali-kali dan ada asap masuk dari saluran udara (yang membuat saya terbatuk-batuk, mata panas dan meminta agar segera dibuka pintunya) akhirnya pintu terbuka di lantai tiga.

Ada suara dari interkom “Pak, silahkan keluar sekarang jika mau”

Jika mau? Yaelah, masih ngocol aja nih si mbak.

Saya keluar dari lift. Dengan selamat. Masih mengenakan baju dan celana sambil memegang raket tenis. Akhirnya saya putuskan turun naik tangga setelahnya.

2,5 jam +

Saya menerima banyak telpon dan SMS dari rekan kerja yang bertanya mengenai keselamatan saya dan apakah saya berhasil mengatasi krisis lift dengan tenang.

Saya jawab santai, “Kelihatannya saya belajar sesuatu yang baru hari ini”

(*Jelas saya tidak akan memberitahu mereka bahwa saya tidak akan telanjang di depan publik hari ini… Hehe*)