Archive for the 'bangaip' Category

Page 2 of 8

Ksatria Cilincing

Beberapa hari belakangan ini banyak teman-teman yang bergiat di media membicarakan strategi pemasaran #petimati. Yaitu sebuah trik pemasaran yang kata pembuatnya ‘mampu mengenalkan sebuah produk dari mulut ke mulut’, dengan cara mengirim peti mati ke jaringan media di Indonesia. Tetangga saya, Mas Paman dan Pakde membahasnya dengan amat baik, dari sudut pandang etika hingga profesionalitas. Silahkan baca di halaman mereka pada link yang tercantum sana.

Saya tidak akan membahasnya di sini. Membahas peti mati bukan keahlian saya. Tapi mungkin akan membawanya ke topik makan siang nanti bersama para kolega. Saya pikir, sesama rekan buruh pabrik yang menyantap hidangan makan siang nanti akan sedikit mengerenyitkan kening. Mendengar ada manusia yang punya ide mengirim peti mati agar terkenal ke seluruh dunia. Ahhh saya yakin si pengirim peti mati ‘mampu mengenalkan produknya dari mulut ke mulut’. Walaupun sekarang jelas promosi macam apa yang dibicarakan dari mulut ke mulut mengenai peti mati kirimannya.

Promosi itu masalah penting dari dagangan. Katanya, tanpa promosi akan habislah sirkulasi. Teori ini sempat dibantah oleh beredarnya film ‘Super 8‘ karya Steven Spielberg dan JJ Abrams. Itu film, dari pembuatan bahkan sampai munculnya di bioskop, penuh bisik-bisik rahasia. Akibat rahasianya, bahkan blog pengendus terbaik macam BoingBoing dan GeekDad langganan saya pun baru tahu di menit-menit terakhir sebelum akhirnya dipublikasi di bioskop. Tapi bukankah bisik-bisik rahasia pun sebenarnya adalah promosi?

Promosi? Ahh iya. Ini yang mau saya bahas.

Dulu teman saya si Anung kesengsem habis-habisan pada kembang satu SMA yang bernama Lina. Setelah memberanikan diri bahkan hingga puasa senin kamis agar diberi kekuatan langit dalam menyampaikan cinta, mulailah ia promosi. Tidak tanggung-tanggung, akibat kebanyakan membaca novel romantika abad pertengahan, si Anung mendekati Lina di kantin ketika sedang jajan bakso. Dia bilang, “Lin, aku laki-laki terbaik yang akan kamu miliki di muka bumi ini. Kamu mau jadi perempuanku?”

Cerita-cerita CanterburyBukan gara-gara Lina yang tidak baca The Canterbury Tales yang bercerita kisah cinta antara para ksatria Inggris dan para putri raja. Bukan pula gara-gara si Anung yang menyatakan cinta setelah selesai upacara bendera hingga memakai dasi kupu-kupu dipadu celana abu-abu. Bukan… Bukan karena itu Lina menolak cintanya. Sebab Lina tidak pernah menolak cinta Anung (*bahkan hingga detik ini*). Lina hanya balas bertanya, “Eh, siapa yaa?” yang membuat hati Anung berantakan dirundung malu.

Maka jika suatu hari Anung bertanya pada saya apa kekurangannya, saya sama sekali tidak bisa menjawabnya. Astaga! Saya bukan Don Juan. Tapi saya jelas bisa bertanya, “Nung, kok si Lina bisa nggak kenal ama lu sih? Kapan terakhir kali lu ngobrol sama dia?”

Sambil menunduk seakan langit mau runtuh Anung menjawab, “Waktu kita inisiasi lah men. Kan belum lama tuh. Demi Tuhan, pertama kali lihat langsung jatuh cinta”

“Inisiasi? Maksud lu waktu kita orientasi sekolah? Hah, itu kan udah dua tahun lalu, men. Buset dah…”

Jadi pada intinya, si Anung ini diam-diam jadi penggemar rahasia Lina. Kalau pulang sekolah bahkan sempat menguntit Lina dengan sepeda hanya untuk sekedar tahu apakah rumah tinggalnya punya kotak surat untuk disampaikan kertas cinta. Dan selama dua tahun pula, Anung mengungkapkan cinta lewat sebuah surat yang tertandatangan dibawahnya oleh ‘Ksatria Cilincing’.
(*Kadang-kadang saya suka pikir, anak sekolah jaman dulu kok yaa ada-ada saja yaa tingkahnya? Tapi… Lha memang anak sekolah sekarang bagaimana kelakuannya?*)

Jelas Anung pikir bukan ide jenius ketika saya bilang bahwa ia harus membayar beberapa gadis di sekolah kami agar menulis ‘punyanya Anung segede terong’ di WC siswi sebagai langkah promosi dirinya. Saya bilang, “Oke kalo nggak terong, ketimun aja. Kan mantep men kalo barang lo terkenal sesekolahan kita!”. Namun tetap saja ia menggeleng.

Ketika saya tawarkan, “Gimana kalo lo bayar cewek-cewek yang agak gitu deh di sekolahan kita biar mereka bisik-bisik pernah bercinta ama lo dan bisikannya yaitu elo kayak kuda binal yang dahsyat kalo lagi bercinta? Kan hebat lu jadi pecinta sejati men. Bayangin di saat anak-anak laen lagi kesusahan ngilangin keperjakaan, lu malah udah jadi dewa ranjang. Pasti cewek klepek-klepek dah kalo ngeliat lu lewat. Pasti si Lina doyan ama lu men”

Anung menatap saya makin lesu, “Yaelah Rip, bapak emak gua kan haji. Masa gua terkenal sampe kedengeran nanti ama orangtua gua kalo gua cowok begituan. Lu mah enak udah nggak punya malu. Kalo gua kan cowok biasa aja men”

Aduh, ‘ksatria Cilincing’ di hadapan saya menjelma jadi ‘cowok biasa’. Di atas kertas, dia luar biasa. Di dunia nyata, ah-ah-ah… Hanya seorang pria yang putus asa berharap cinta.

“Bujug buneng, masa gitu aja lu nyerah, Nung. Promosi dong. Promosiii…”

Singkat kata singkat cerita, akhirnya Anung setuju membayari makan siang saya selama sebulan kalau Lina akhirnya mengetahui kalau ksatria dari Cilincing itu ternyata Anung. Namun baru setengah bulan, aksi ini dihentikan dengan paksa olehnya setelah mengetahui bahwa di meja kelas tempat gadis idolanya biasa duduk ada tulisan spidol ‘Lina Love Bangaip‘.

Anung hatinya semakin berdarah, sahabat dekatnya ternyata jatuh ke pelukan gadis pujaan. Orang yang dianggapnya menjadi benteng terakhir meminta bantuan ternyata menikamnya dari belakang.

Suatu siang yang panas Anung menantang berduel di kebun jamblang belakang sekolah. ia buka baju, itu artinya kami tidak akan pakai senjata. Ceritanya, mungkin ini hanya satu-satunya solusi antara dua laki-laki. Yang menang dapat Lina? Wallahualam jawabnya. Yang pasti, ada yang marah dan ada yang kecewa.

Anung buka baju, saya juga. Ketika berhadap-hadapan dengan jarak antara lima meter masing-masing, tulang iga kurus remaja pesisir pantai kami menonjol jadi tontonan warga sekitar yang memang haus hiburan dan hanya duduk di warung kopi sambil tertawa-tawa.

Anung: “Bajingan! Dasar lu pager makan jaro!”
Saya: “Ada juga pager makan taneman, kali. Tapi emang salah apa gua!”
Anung: “Duit gua lu makan, si Lina lu embat! Temen macem apa lu!”
Saya: “Emang salah gua kalo pas gua bacain puisi-puisi lu trus gua nyanyiin lagu-lagu lu yang buat si Lina, bikin dia demen ama gua? Emang salah gua kalo lu sampe segitu aja nggak berani?! Emang salah gua lu nggak promosi…!!!”
Anung: “Udah lu jangan banyak omong! Kemaren gua liat lu nyium pipinya Lina di pager rumahnya pas abis pulang sekolah! Temen macem apa lu!”
Saya: “Gua sumpahin mata lu bintitan gara-gara ngintipin orang!!!”

Tak lama kemudian kami terlibat baku hantam. Sang ksatria Cilincing ini memang mungkin akibat banyak membaca adegan pertarungan peperangan antar jawara, jadilah saya kewalahan juga. Tapi lima belas menit setelah saling mengeluarkan emosi jiwa berbagi tinju akhirnya kami berdua ngos-ngosan juga kehabisan nafas.

“Nung… Hhooohhh.. Hooohhh… Ambillah tuh… Hoohh… Hooohh… si Linaahh… Hooohh… Hoorrhh…”

“Hrrhhh… Hrrrhhh… Nggak rip… Hrrhhhh… Gua rela dahhh… Hrrhhh…”

Sambil tersengal-sengal, kami saling ‘memberi’ Lina.

Tanpa sadar, bahwa di bawah pohon jamblang seorang gadis manis berambut panjang berkepang dua memeperhatikan. Itu dia, perempuan pujaan yang kami perebutkan. Ketika akhirnya saya dan Anung berdiri dan saling memegang pundak mata kami menatapnya. Ia tidak banyak bicara apa-apa. Tidak ada tanda sedih, marah atau kecewa dimatanya. Ia hanya berbalik badan. Pergi. Dan sejak saat itu, tidak pernah lagi bicara pada kami.

Ini bukan kisah cinta. Ini hanya cerita tentang promosi. Entah promosi yang gagal, kebablasan atau malah tak tahu diri. Entahlah…

Walaupun hingga kini, saya selalu bertanya-tanya. Bagaimana rasanya memiliki pasangan cinta yang harus bertarung demi mendapatkannya?

Atau justru jangan-jangan Anda yang diperebutkan mereka? Eh, ajarin dong gimana sih promosinya? ;)


Waktu Papa Belajar Ballet

ini gambar tutu asli, bukan yang jadi-jadian yang dibikin oleh bangaiptopBegini loh, rumah saya tidak besar. Tapi punya jendela kaca yang walaupun tingginya hanya 30 cm tapi panjangnya sekitar dua meter. Dari kaca jendela tanpa tirai dan hanya dibatasi oleh beberapa pot bunga kecil dan kuas untuk melukis, semua sisi rumah saya bisa terlihat dengan baik oleh tetangga-tetangga yang melintasi gang depan. Pada intinya, saya memang tidak punya banyak privasi melalui jendela tersebut.

Beberapa hari lalu, putri saya main-main di depan monitor komputer. Kelihatannya dia terlalu asyik melihat tayangan tari ballet melalui youtube. Tiba-tiba dia turun dari kursi dan lalu ikut-ikutan bergerak-gerak melonjak kesana-kemari loncat-loncat seperti penari ballet. Saya ketawa-ketiwi melihatnya.

Begitu melihat saya tertawa, ia berhenti. Dengan mulut cemberut ia berkata, “Papa. Kenapa kamu tertawa! Kamu tidak lihat saya sedang sibuk? Ayo, kamu juga ikut menari seperti saya”

Hah! Saya bengong mendengar permintaannya. Tapi hanya sejenak. Lalu saya mulai bergerak-gerak disampingnya sambil menari mengikuti tari ballet anak-anak yang kami lihat melalui youtube.

Ia berhenti sejenak. Mulutnya masih tetap cemberut. “Papa! Bukan begitu caranya. Kamu harus benar-benar ikuti gerakan anak-anak itu”

Saya protes, “Tapi papa kan sudah bener bergeraknya, Novi. Papa harus bagaimana lagi?”

Dengan tanpa dosa dia bilang, “Kamu harus pakai pakaian seperti mereka papa”

“Tapi papa nggak punya rok sayang. Mereka itu pakai pakaian khusus untuk ballet. Namanya tutu. Papa nggak punya itu”

“Umur papa kan sudah empat tahun. Umur saya tiga tahun. Papa lebih tua daripada saya, papa harus cari cara dong!” katanya sambil melihat muka saya seakan seperti menuntut.

Eh buset bocah. Emang bapaknya siapa kok yaa minta-minta saya punya seragam penari ballet.

Tapi yaah demi anak perempuan semata wayang. Saya rela-relakan akhirnya ke gudang. Cari koran bekas. Dirangkai. Digunting. Lalu saya jadikan rok mini rumbai-rumbai demi menyenangkan si buah hati. Setelah itu saya balik lagi ke ruang tengah. Ke depan monitor, “Nah Novi, papa sudah punya tutu nih sekarang. Jadi, kita bisa menari sama-sama sekarang?”

“Yaa nggak dong papa. Kamu nggak boleh pakai baju dan celana itu”

“Lah terus papa pakai apa dong?!”

Dengan cueknya ia buka baju dan celana dan hanya menyisakan popok dan celana dalam saja. “Begini papa. Kalau mau menari ballet, nggak boleh pakai baju dan celana sembarangan”

Hah! Sekali lagi saya terbengong-bengong. Edan, masa iya saya harus hanya pakai celana dalam diliputi rok mini rumbai-rumbai dari koran bekas. Tapi sekali lagi, akibat tatapan mata Novi Kirana yang sedemikian mengiba, ya sudah saya turuti permintaannya.

“Papa, kamu kok nggak pakai popok sih? Pakai popok dong biar sama dengan saya. Nanti kalau lagi ballet kamu mau kencing bagaimana?”

“Yaelah Novi, papa kan sudah lebih besar daripada kamu. Papa nggak usah pakai popok lagi dong. Papa ke WC saja”

Jadi, saat itu di ruang tengah rumah saya, terlihatlah sepasang bapak dan anaknya sedang menari ballet hanya pakai celana dalam saja. Dan seketika itu pula, kami langsung beraksi meniru para penari ballet cilik yang ada di youtube.

Tanpa saya sadari, akibat musik ballet yang mungkin terlalu keras ternyata banyak kepala bermunculan dari balik jendela rumah saya. Buset, ternyata tetangga sedang melihat saya dan putri menari-nari mengikuti musik. Jadi, saya yakin dihadapan mereka terlihat anak kecil berusia tiga tahun dengan seorang laki-laki berambut awut-awutan berperut buncit yang hanya mengenakan celana dalam diliputi rok mini kertas koran rumbai-rumbai sedang pura-pura jadi penari ballet cilik.

Karena pemandangannya cukup ajaib, saya sambil cengar-cengir hanya melambaikan tangan ke arah mereka sambil berkata, “Halo. Hehehe….”

Mereka melambai balik. Dengan senyum yang terlihat dipaksakan. Dengan tatapan mata yang sukar dijelaskan dengan kata-kata.

Tidak lama setelah tetangga bubar akibat tayangan musik ballet habis dan putri saya sudah mengalihkan perhatian bermain balok-balok kayu menyusun rumah-rumahan, saya pun kembali ke ‘seragam normal’. Celana jeans dan t-shirt.

Begitu selesai berpakaian ada telpon masuk. Rupanya dari seorang sahabat. Dari suara telpon terdengar kalau ia panik.

“Bangaip… Gua stress nih”

“Lah kenapa? Santai aja. Gua kan satu-satunya temen lo yang punya nama belakang Top dengan tambahan Deh. Hehehe… Masa sih ada masalah yang ga bisa diselesaikan?”

“Adek gua bang.. Aduh masalah banget deh tuh anak”

“Kenapa ama adek lo?”

“Adek gua, aduuh stress banget gua nih. Masa foto-fotonya kesebar di internet. Udah gitu diperes pula. Aduuh gua stress nih, emak gua aja ampe stress… Aduuh pusiing!”

Dari telpon, saya minta ia duduk dan lalu minum air segelas. Ambil nafas, lalu baru mulai bicara. Kalau tidak, susah mendengar ia bilang apa. Untung saja ia menurut. Maka beberapa menit kemudian akhirnya ia bicara dengan lebih runut dan tidak lagi terengah-engah.

Saya dengar ceritanya dengan seksama. Rupa-rupanya si adik kangen dengan suaminya yang ada di luar negeri. Mereka bercinta melalui internet. Si adik, mengirimkan beberapa foto kategori panas dan video-video syur ke alamat email suaminya. Rencananya, materi tersebut tentu saja berguna sebagai pengobat rindu sang suami. Bagaimana menggunakannya, tentu saja tidak perlu saya ceritakan di sini. Yang perlu saya ceritakan adalah bahwa alamat email si suami rupanya dimasuki orang nakal. Entah alasannya apa, akhirnya foto-foto si istri tersebar luas di internet. Yang paling parah, sekarang malah ada oknum yang mengancam untuk meminta uang segala. Tidak tanggung-tanggung, kalau tidak diberi 20 juta rupiah maka foto-foto dan video si istri yang sekaligus dosen ini akan disebarkan ke sekolah dan mahasiswanya.

20 juta rupiah walaupun bisa dibayar oleh sang suami, tentu saja bukan sejumlah uang yang sedikit. Maka sore itu, kakak iparnya yang sekaligus sahabat saya menelpon dengan suara bergetar akibat sedih, marah dan kecewa yang bercampur jadi satu.

“Bang, gimana kalo foto-foto ama video adek gua kesebar dikampusnya?”

“Adek lo kan korban, Wi. Dia kan cuman kangen ama suaminya dan suaminya kangen ama dia. Jadi kalo ada orang yang memanfaatkan itu buat kepentingan pribadi, yaa jelas bukan salah adek lo”

“Kalo sesial-sialnya mahasiswa dia dapet tuh foto gimana ceritanya? Adek gua nanti jadi bahan coli dong? Apalagi amit-amit deh kalo adek gua ditangkep polisi”

“Saran gua sih jujur aja ama sekolah dan civitas akademikanya kalo ada orang yang mau berbuat jahat sama dia. Dan mengakses dan nyebarin materi personal dia, sama aja setuju dengan kejahatan yang terjadi. Adek lo itu korban kejahatan. Bukan pelaku”

“Tapi Bang lo tau ga Ariel Peterpan itu kena kasus UU pornografi? Dia kan sama kayak gini kasusnya. Emangnya dia niat nyebarin videonya. Kok bukan yang nyebarin yang dihukum malah si Arielnya yang dihukum?”

“Buat gua, itu nggak adil. Tapi gua pribadi sih nggak begitu ngikutin kasus Ariel jadi nggak bisa komentar banyak. Buat gua saat ini yang penting adek lo. Yang jahat dalam kasus ini kan orang yang nge-hack account email adek ipar lo. Yang jahat kan yang meras duit dan ngancem mau nyebarin foto-foto telanjang adek lo. Nah kalo mahasiswa adek lo apalagi rekan sesama dosen ikutan download tuh foto, apalagi ikutan nyebarin. Mereka bukan lagi ngaco secara etika. Tapi juga ikut nyebarin kejahatan dan sama-sama melakukan tindak kejahatan. Lebih parah lagi, kalo bahkan ikutan menghakimi adek lo secara moral”

“Tapi Bang, orang Indonesia kan biasanya begitu. Nggak tau apa-apa tapi ujung-ujungnya maen hakim sendiri”

“Hell yeah, gini-gini gua orang Indonesia… Jangan generalisasi dong. Hehe”

Wiwik diam. Saya jadi tidak enak. Bisa jadi ia bicara begitu karena memang itulah satu-satunya kenyataan yang ia tahu. Saya pikir saya lebih baik membantunya secara kongkrit daripada bicara dalam tataran filosofis yang sama sekali malah membuat ia jadi tambah pusing.

Saya telpon mamanya Wiwik serta adik iparnya. Menjelaskan langkah yang tidak perlu saya ceritakan disini secara teknis (karena terlalu detil dan amat teknis) untuk memulihkan keadaan yang bikin panik keluarga mereka ini.

Langkah yang saya ambil secara garis besar adalah:

  • Mengambil ulang akun email dan facebook adiknya Wiwik dan mengganti passwordnya secepat mungkin (*Jangan tanya saya gimana caranya, yang jelas sih saya bukan hacker dan semuanya saya lakukan secara legal*)
  • Melakukan investigasi kepada siapa saja email berisi foto-foto dan video telah dikirimkan. Merekam jejak dan mendokumentasikannya sebagai bukti bahwa adik Wiwik dan suaminya sama sekali tidak ikut dalam penyebaran foto dan video mereka kepada publik.
  • Mengirim surat elektronik berisi cerita jujur apa adanya kepada pihak yang telah disebarkan materi dewasa tersebut agar tidak mendistribusikan foto dan video ke khalayak luas.
  • Meminta adik Wiwik untuk tetap sabar dan membuat blog pribadi. Isinya adalah kronologis mengapa foto dan videonya sampai tersebar di publik. Jelaskan kepada publik apa yang ia rasakan dan ia alami sejak akun surat elektronik suaminya dibobol dan mereka diperas.

Tujuan semua langkah-langkahnya sederhana, yaitu melawan balik. Mereka sudah diintimidasi dan mungkin akan disiksa oleh opini publik, satu-satunya jalan yaa jangan diam.

Yang saya kaget sebenarnya bukan dari cerita adiknya Wiwik. Yang membuat saya sedemikian terkejut adalah, belum sampai seminggu sudah empat ‘kasus’ serupa yang saya tangani. Saya sebut kasus pakai tanda kutip sebab saya sama sekali bukan profesional ahli informatika. Apalagi detektif swasta. Yang datang menelpon atau mengirim email minta bantuan juga biasanya teman atau temannya teman. Kalau bisa saya bantu yaa saya bantu. Kalau tidak yaa saya meminta maaf sebab tidak bisa berbuat banyak.

(*Ada yang meminta untuk membongkar akun facebook suaminya sebab ia pikir suaminya kawin lagi. Gara-gara cemburu, facebook jadi korban. Eh buset, saya belum sejago itu untuk bongkar-bongkar rahasia FB orang lain. Hehe. Oh ya, Wiwik itu bukan nama sebenarnya dan kasus di atas adalah contoh kasus yang atas perijinan teman saya boleh dipublikasi di blog ini. Segala peristiwa yang mungkin mirip dan telah terjadi, adalah kebetulan belaka. Sebab semuanya memang hampir mirip seperti ini. Modus paling mendominasi utamanya gara-gara ‘cinta’*)

Sejak makin maraknya sosial media melalui perangkat genggam, saya cermati secara subjektif bahwa makin banyak orang yang mengeluh atau merasa tersiksa akibat foto atau video personal mereka tersebar di publik. Ada yang mengeluh karena tanpa sadar foto personal tanpa seijinnya tersebar kepada publik melalui sosial media (jadi yang bawa hape pun bisa lihat). Ada yang mengeluh karena dulu waktu belum sadar dahsyatnya keganasan internet, buka-bukaan didepan publik (dan sekarang menyesal). Yang pasti, banyak sekali yang mengeluh.

Mudahnya akses internet dan mudahnya menampilkan gambar semau kita dihadapan publik adalah awal. Beberapa yang cerdas, tentu saja hati-hati dalam membuat status dalam sosial media dan menampilkan tayangan apa yang perlu diberitahu ke publik. Bisa jadi mereka lebih paham rimba lalu lintas data internet. Bisa jadi juga karena hanya ingin sekedar bergaya politik pencitraan diri dalam kata lain sok jaga image.

Beberapa yang kurang begitu hati-hati, yaa dengan bahagianya memberikan amunisi pada publik secara detail kehidupan mereka sehari-hari. Bisa jadi karena mereka ingin berbagi. Bisa jadi karena keinginan bawah sadar ingin menampilkan aurat di depan publik.

Yang pasti ujung-ujungnya memang banyak yang mengeluh.

Diantaranya mengeluh ke saya (*Loh, kok saya malah curhat begini. Hehe*). Saya sendiri sih tidak masalah. Sebab saya kan hobi menerima keluhan (*Jangan-jangan saya masochist? Haha*). Tapi kadang-kadang, keluhannya telat. Kasihan, ada bapak yang jual sawah dan kerbau hingga seluruh harta kekayaan untuk mengirim putrinya ganti sekolah dan domisili ke Singapura karena foto digital bercumbu sang anak yang masih kelas tiga SMP itu disebarkan oleh mantan pacarnya yang sakit hati.

Saya bukan moralis. Saya mendukung gerakan jangan telanjang di depan kamera bukan gara-gara ada hubungannya dengan reliji, moral, etik dan bla-bla-bla lainnya. Saya mendukung gerakan itu dengan alasan yang sederhana. Sebab undang-undang digital di RI (mau namanya yang berkaitan dengan pornografi atau intelejen, whatever lah. Sama saja semuanya. Isinya ajaib)  belum sepenuhnya berdiri untuk mendukung korban. Kasus Ariel Peterpan contoh yang sederhana bahwa wilayah pribadi digital informatika WNI masih bisa diusik oleh pemerintah atau WNI lain yang merasa bahwa mereka yang paling benar.

Itu contoh yang sederhana. Mau contoh yang lebih rumit? Sila google DNS Filtering di republik tercinta. Mau lagi yang lebih rumit? Pelajari data digital audit institusi negara. Lagi yang lebih rumit? Masih banyak. Makin teknis, makin menakutkan isinya. Semuanya sama. Ada hak-hak manusia dalam bertukar informasi melalui internet yang dilanggar oleh pemerintahnya. Ada wilayah pribadi yang selalu dilanggar demi rasa ingin tahu orang-orang yang sok tahu atau bahkan untuk institusi yang merasa perlu menyembunyikan pada publik sesuatu.

Saya ingat waktu cerita hal ini, Wiwik menukas cepat. “Bang, bukannya bagus kalo disensor pemerintah. Kan gampang, foto adek gua nggak bakal ditonton mahasiswanya?”

“Wik, kalo orang kebelet mah, apa aja dilakuin. Jangankan mutusin sensor, email orang laen aja bisa dia jebol. Menurut lu lebih bagus mana cara mendidik anak makan sayur. Dipaksa trus dipukul biar makan? Apa dibujuk dengan diberitahu jujur bahwa sayur itu bagus buat dirinya?”

Ia diam. Ia tahu maksud analogi yang saya lontarkan.

Untungnya hari itu selesai dengan penutupan yang baik. Kebetulan si pelaku pembobolan dan pemerasan akhirnya bisa didentifikasi. Bukti berhasil dikumpulkan untuk cukup menyeretnya ke meja pengadilan. Beberapa orang yang telah menerima foto-foto dan video seronok itu dengan sukarela memberikan pernyataan bahwa mereka tidak akan mendistribusikan tindak kejahatan.

Selesai mengobrol dengan Wiwik melalu telepon putri saya duduk di samping sambil melihat dengan tatapan mata serius ke ayahnya. “Papa, kamu tadi ngomong apa sama teman kamu?”

Yaelah, bocah kok yaa mau tahu aja bapaknya ngapain. Tapi dengan santai saya jawab, “Bantu teman Papa, Cintaku. Kasihan dia. Fotonya dicuri orang”

“Papa bantu ambil kembali fotonya teman papa?”

“Iya sayang. Kalau bukan milik kita kan bukan hak kita untuk mengambilnya”

“Papa, ayo kita ambil foto”

“Foto Novi berdua papa? Ayoo…”

“Bukan papa. Foto kamu sendiri saja. Papa jangan pakai baju itu. Itu baju kurang bagus. Papa pakai tutu saja yaa”

Saya melongo. Astaga, masa sih lagi-lagi saya harus pakai celana dalam saja dibalut rok mini kertas koran rumbai-rumbai. Apa kata dunia kalau foto ini jadi digital? Foto bapak-bapak buncit dari pinggiran kota memakai tutu palsu sambil meniru pebalet cilik.

Saya protes, “Novi, kalau foto papa dicuri orang bagaimana? Kasihan dong papa nanti?”

“Kenapa dicuri papa? Kalau ada yang minta, kasih saja”

Saya makin melongo ketika sambil tertawa ia mengangkat kamera dan blitz melahap saya dengan seketika itu juga.


Mungkin Saya Terlalu Banyak Menonton Film Star Wars

Sebelum meninggal, pelukis Indonesia Salim pernah berkata pada Kang Adi sahabat saya. “Di, kalau berkarya jangan mengharapkan kaya. Jangan mengharapkan terkenal. Jangan mengharapkan dipuja. Berkarya saja sebab karena ia bagian dari hidup kamu. Kalau memang pada suatu hari karya kamu disukai publik, itu lain lagi ceritanya. Tapi, jadikan hidup kamu dengan berkarya”.

Lalu beberapa malam lalu, Kang Adi kembali mengulang nasihat itu ke saya. Bedanya, kalimat ‘Di’ diganti jadi ‘Rip’. Hehehe.

Kami sebelumnya memang membicarakan Salim. Pelukis asal Nusantara yang bersahabat akrab dengan para bapak bangsa seperti Sjahrir dan Hatta. Yang dikaruniai umur panjang bahkan sempat menginjak usia 100 sebelum akhirnya maut menjemput. Salim yang selalu bangga dengan peci Cap Indonesia yang ia sebut dengan, “Setiap bertemu orang Indonesia aku pakai selalu peci ini”. Salim yang sama yang tetap memakai pecinya bahkan ketika menjadi relawan berangkat perang ke Catalonia sebagai seniman dalam revolusi Spanyol tahun 1936, yang mungkin disana bertemu dengan Hemingway, pujangga Amerika.

“Jadi begitu lah, Rip. Kata Salim berkaryalah karena lu merasa bahwa berkarya itu bagian dari hidup lu. Masak motret cuma kalo mao ikut lomba aja? Nyari apa, nyari nama? Nyari duit? Nyari piala? Sekedar ngebuktiin kalo lu bisa menang? Yaah jangan lah. Ahh tapi aneh juga sih, gua sendiri bilang ama Salim, kan nggak semua seniman kebutuhannya sama. Seniman kan manusia. Kebutuhannya beda-beda”

Obrolan ini memang bermula dari beberapa riset foto yang akan saya lakukan. Sederhananya, saya keceplosan bahwa akan melakukan semacam riset dengan alasan yang kadang susah diterima dengan kebanyakan orang. Setidaknya, jika orang yang dimaksud adalah para ‘temennya bangaiptop’. Alasan saya riset, ternyata uang. Saya mau ikut kompetisi dan berharap menang lalu dapat duit dari sana. Kang Adi tidak melarang, menyayangkan atau melihatnya sebagai dilema moral berkesenian. Tidak. Sama sekali tidak. Ia hanya memberitahu bahwa ada lomba atau tidak, ikut kompetisi atau bukan, saya sebaiknya berkarya. Apapun karyanya.

Saya diam. Tidak bisa bilang apa-apa. Saya pikir Kang Adi benar. Hanya mungkin, prioritas saat ini yang saya miliki memang berbeda.

Tapi omong-omong sial prioritas, saya jadi ingat suatu hari obrolan bersama si Hadi anak juragan tembakau. Malam itu kami bergosip tentang beberapa orang teman. Namanya gosip, yaa makin digosok makin sip. Kebetulan, kami menggosipi si Diki yang dua tahun telah kembali pulang ke pangkuan bumi pertiwi.

Saya: “Di, si Diki gimana kabarnya yaah?”
Hadi: “Wah dia jadi kaya, bang”
Saya: “Bagus dong! Jadi kita bisa ditraktir, hihihi…”
Hadi: “Wah ati-ati bang, dia bergabung sama Dark Force sekarang”

Saya mau senyum. Tapi saya dan Hadi, kami sama-sama orang aneh yang menyukai film fiksi Star Wars. Dark Force adalah kekuatan besar yang dikomandani oleh Anakin Skywalker yang lalu berubah menjadi Darth Vader sebagai kekuatan antagonis dalam film Star Wars. Kekuatan ini, pada intinya hanya punya satu tujuan. Yaitu menguasai alam semesta dan membunuh para ksatria Jedi yang membela umat manusia. Setelah itu, menjadikan manusia dan semua makhluk serta kekayaan alamnya sebagai budak mereka.

Nah, kalau Diki pulang ke republik tercinta lalu bergabung dengan kekuatan hebat seperti Dark Force yang ada dalam budaya mainstream merusak bumi Indonesia, bisa gawat ceritanya.

Sebab Dark Force itu sebutan kami untuk konglomerasi yang mendapatkan banyak kemudahan dan fasilitas dari pemerintah untuk mendayagunakan seluruh sumber daya alam dan manusia yang melingkupi Indonesia hanya demi kesejahteraan konglomerasi dan eksekutif pemegang dividen.

“Di, kita kan cuman ngegosip doang. Kamu jangan serius-serius dong…”

“Yah abang… Kalo si Diki kerja disitu baru setengah tahun sih itu baru gosip, Bang. Dia kan sudah hampir dua tahun kerja di sana. Begitu selesai jadi doktor langsung pindah haluan. Dia kan ngambil kerjaan yang ditawarin ke abang”

Saya tergagap-gagap, “Loh kamu tau darimana ini posisi itu dulu ditawarin ke saya juga?”

“Halah, gosip yaa digosok makin sip. Kabar burung toh bang. Cek aja di twitter. Hihi…”

“Tapi si Diki? Wah masa sih. Si Diki kan idealis banget. Mana mau dia ngerusak hutan? Apalagi Kalimantan. Dia kan bapaknya orang Samarinda. Asli Kalimantan dia itu. Kok gabung sama perusahaan yang kerjanya ngebabat hutan Kalimantan?”

“Terakhir ketemu Diki…”

“Kapan kamu ketemu?” saya sela dengan cepat omongan Hadi. Biasanya kalau ia berbohong, akan gelagapan jawabnya. Saya kenal Hadi.

Tapi sial lancar sekali ia menjawab, “Saya kan baru dari Jakarta, bang. Baru dua minggu lalu. Disana ketemu Diki. Hebat dia bang. Apartemen dikasih kantor, itu juga plus pembantu. Mobil juga dikasih sama supir-supirnya. Wah bang, pembantunya cakep loh. Hebat tuh perusahaan. Bisa ngasih pembantu model gitu ama si Diki. Si Diki kan bujangan bang. Dikasih pembantu muda, seksi dan aduhay begitu ya betah lah dia di rumah. Dia sering kerja dari rumah aja sih. Ke kantor kalo meeting doang. Wah hebat lah tuh anak. Nggak kena stress macet Jakarta. Belum lagi gajinya bang. Kayaknya sih annualnya bisa satu milyar lebih. Posisinya tinggi bang. Nih kartu namanya, baca aja. Tapi bang, males banget ngomongin Diki. Dia sekarang kebuka deh kedoknya sebagai PhD project. Jadi doktor cuman kalo gara-gara ada duitnya. Cuman gara-gara project. Mana mau dia ngebangun negeri? Jangankan peduli masyarakat se indonesia, kampungnya sendiri aja dikhianatin. Lah capek deh ngomongin Diki. Ngomongin pembantunya aja yuuk?”

Saya cengar-cengir menjawabnya.

Saya sama sekali tidak tertarik isu yang akan dibawa Hadi, yaitu semulus apa paha pembantu Diki. Apalagi bagaimana si Diki menghabiskan gajinya. Itu bukan urusan saya. Tapi yang saya ingin tahu adalah, sejauh mana si Diki sudah bergerak dengan keahliannya.

Akibat penasaran. Saya buka-buka arsip lama media yang ada di Indonesia. Mulai dari arsip digital hingga arsip cetak konvensional. Baru sadar sesadar-sadarnya, bahwa sebuah perusahaan yang dulu terkenal dianggap perampok kekayaan rakyat sejak dua tahun ini namanya sama sekali tidak banyak tersebut di media. Sejak Diki masuk sebagai bagian dari mereka. O-ow… Kelihatannya kesaktian Diki dipakai dengan semaksimal mungkin oleh perusahaan tersebut. Sebab hanya ada dua pilihan untuk memaksa orang berhenti membicarakan keburukan kita. Pertama, berhenti berbuat buruk. Kedua, menutupinya dengan semua tipu daya bahkan dengan yang belum pernah tercatat dalam sejarah manusia.

Kata Hadi, kenapa Diki dibayar semahal itu karena ia harus melakukan langkah yang kedua. Tapi toh hidup itu pilihan. Diki sudah memilih jalannya. Maka, konsekuensi adalah hal yang wajar ia terima. Saat ini, konsekuensinya adalah punya mobil mewah dengan supir, pembantu seksi, uang tabungan banyak dan hidup di Jakarta tanpa stress kena macet. Lanjut Hadi, “Asik juga yaah hidup begitu?”

“Apa asiknya sih digosipin ama dua orang manusia yang sudah jelas hidupnya nggak bagus-bagus amat? Hehe…”, kata saya sambil garuk kepala.

“Nah itu maksud saya, Bang. Kita kan secara akademis nggak sehebat Diki. Jangankan begitu, duit kita aja nggak sebanyak duit Diki. Tapi kita kan jauh lebih baik dari dia, kan? Maksud saya, kita aja yang udah sehina ini masih bisa menghina dia, berarti sampai mana taraf kehinaan dia yaah?”

“Wah itu sih kamu… Saya sih nggak ngerasa lebih baik dari siapa-siapa. Hehehe. Saya sih cuma bingung, Di. Kalo Diki direkrut sama mereka. Makin berat dah nasibnya bumi kita. Waduh, orang sepinter dan seberbakat Diki kok yaa harus jadi begitu?”

“Lah terus kalo udah pinter dan berbakat harusnya jadi gimana, Bang?”

Saya melongo. “Yaelah, mana saya tau Di?”

Obrolan berhenti sampai di situ. Hadi pulang lagi ke Indonesia. Ia mampir sebentar ke rumah saya karena memang sedang berbicara di hadapan sebuah forum internasional yang membutuhkan keahliannya. Sejak saat itu, saya tidak pernah lagi mendengar kabar Diki. Satu-satunya teman saya yang cukup akrab dengan Diki yaa Hadi.

Tapi sebagaimanapun jauhnya ia dan kapan kejadiannya, obrolan dengan Hadi malam itu memang sangat jelas masuk ke otak saya.

Intinya, jika seseorang mampu dan berbakat. Apa yang harus ia lakukan?

Balik ke omongan Salim, jawabannya jelas; Harus berkarya. Sebab berkarya itu adalah bagian dari hidup.

Saya pikir, saya jarang berkarya sebagai bagian dari hidup. Biasanya, saya berkarya karena saya gelisah. Gelisah karena deadline kerjaan. Gelisah karena harus mengumpulkan tugas dulu ketika sekolah. Atau gelisah karena butuh sesuatu. Saat ini saya gelisah mau membelikan putri saya mainan baru. Sayang saya belum ada uang. Jadi, saya berkarya, saya memotret, pada intinya memang hanya karena mau memberikan anak saya boneka anjing besar berbulu lembut yang bisa menyalak.

Edan memang, riset macam apa yang saya lakukan jika ujung-ujungnya hanya mau membelikan anak mainan.

Saya tidak idealis? Entahlah. Jawabnya iya atau tidak sama sekali tidak begitu banyak pengaruhnya. Saya sendiri tidak bisa menempelkan cap atau stigma pada diri saya. Sama sebagaimana saya tidak bisa menempelkan cap itu pada jidat Diki.

Mungkin saja Diki punya motif yang sama dengan Anakin Skywalker. Bergabung ke Dark Force lalu menjadi Darth Vader demi menyelamatkan jiwa istri yang amat dicintainya.

Sebab di ujung hari, riset atau tidak, toh saya biar bagaimanapun juga akan mendapatkan boneka anjing besar yang bisa menyalak.

Sebagaimana di ujung hari, perusahaan tempat Diki bekerja semakin berhasil mengaburkan jejak-jejak kejahatan mereka.

*Kelihatannya saya (lagi-lagi) patah hati dengan superioritas mafia hukum RI*


Pilih Mana? Percaya Atau Tidak?

Saya memang agak-agak kurang beruntung hati beberapa hari belakangan ini. Masalahnya dimulai dari hal-hal yang mungkin beberapa orang terlihat sederhana sampai yang membingungkan.

Saya kehilangan tulisan. Tulisan berseri mengenai sosial media dan perubahan yang melingkupinya. Isi totalnya ada empat tulisan. Eh… Hilang! Dicari kemana-mana tidak ketemu. Aduh, hati ini kok yaa gimana rasanya begitu mengetahui bahwa tulisan itu memang benar-benar hilang.

Kedua, saya kehilangan mood untuk menjumpai praktisi medis yang biasanya membantu kelangsungan hidup sehari-hari. Alasannya sepele, bosan. Bosannya juga ternyata sepele sekali, yaitu akibat rasa kepercayaan yang semakin merosot karena mereka menasihati saya untuk meminum paracetamol ketika saya sakit kepala. Edan, setiap hari saya kadang bisa 4-5 kali sakit kepala sebelah. Masak sih saya harus minum itu obat terus-terusan? Lah bagaimana kalau saya nanti jadi painkiller junkie?

Ketiga, saya kerap bertemu orang yang mati-matian mempertahankan argumen bahwa karena agamanya ia jadi tidak perlu belajar.

Masalah pertama walaupun makan waktu riset, saya bisa usahakan solusinya dengan cara menulis ulang. Begitu juga dengan problem kedua, saya tinggal cari spesialis dan penasihat medis yang lebih mumpuni. Jadi pada intinya, bisa ditanggulangi dengan optimis.

Yang bikin saya kebingungan, yaa bagaimana ini dengan masalah saya yang ketiga.

Akhir-akhir ini saya memang kerap bertemu kenalan yang menganggap bahwa apa yang ada dalam agamanya adalah sebuah kebulatan superior yang tidak bisa diubah-ubah.

Sumpah mati, saya tidak benci agama. Sebagaimana saya pribadi tidak pernah membenci pemeluk agama dan keyakinan tertentu (apapun agama atau keyakinannya). Saya akui saya memang punya jarak dengan agama, tapi bukan berarti saya bebas mencelanya. Dalam hidup ini, ada beberapa manusia tertentu yang dalam kondisi hidupnya, tidak punya apa-apa selain agama, dan hanya agama yang membuat mereka akhirnya bertahan untuk tetap hidup dan menyemangati orang lain agar tetap hidup. Saya menghormati mereka dan menghormati jalan hidup yang sengaja atau tidak sengaja telah mereka pilih tersebut. Termasuk, jalan hidup beragama.

Tapi, akhir-akhir ini saya mungkin memang sedang kurang beruntung. Saya bertemu dengan orang yang mati-matian menolak teori evolusi dengan alasan bahwa itu hanya teori tanpa bukti. Ada yang menolak bahwa umur bumi lebih tua dari 6 juta tahun sebab menurut beliau bumi dalam kitab sucinya diciptakan dalam enam hari (jadi kalau bahasa kitab suci adalah perumpamaan dalam penciptaan bumi, maka harus ada angka enamnya. Tidak peduli bahwa ilmu geologi bisa membuktikan bahwa umur bumi sekitar 54 milyar tahun). Hingga menolak untuk percaya bahwa manusia pernah mencapai bulan dengan alasan kalau guru fisikanya dulu semasa SMU pernah bilang bahwa manusia tidak mungkin mendarat di bulan sebab manusia tidak bisa melampaui kekuatan magis yang meliputi bumi yang membuat bumi kita terlindungi dari serangan meteor (*Guru Fisika macam apa itu coba?*)

Dari sekian banyak orang yang saya temui dan menolak fakta ilmu pengetahuan hampir semuanya bilang bahwa agama yang ia peluk yang membuatnya tidak percaya (*Satu orang alasannya cukup ajaib, dia bilang “Males ahh tau yang begituan. Ga penting!” yang saya langsung balas dengan tersenyum manis*).

Hampir semuanya bilang bahwa fakta ilmu pengetahuan sama sekali tidak sesuai dengan ajaran keyakinan yang ia percayai sejak kecil. Jadi, tidak perlu dipercaya. Sebuah argumen yang benar-benar ajaib. Bukankah fakta ilmu pengetahuan itu tidak pernah memaksa untuk dipercayai? Bukankah mereka hanya sekedar fakta? Yang bicara apa adanya sesuai bukti.

Dari beberapa kali mengobrol dengan para manusia yang menolak fakta ilmu pengetahuan dengan basis landasan utama akibat agama melarangnya, saya akhirnya mengambil beberapa sampel pola pendidikan sederhana;

  1. Bahwa tingkat pendidikan tidak berbanding sejajar dengan pemahaman terhadap ilmu pengetahuan. Belum tentu makin tinggi sekolah jadi makin memahami kompleksitas hidup
  2. Bahwa pendidikan agama di RI cukup ekstrim setidaknya hingga tahun 90-an. Beberapa pendidik bahkan kerap memberikan opini pribadi mereka mengenai agama justru ketika mereka pada saat bukanlah sebagai pengajar agama
  3. Bahwa adalah wajar mengetahui bahwa siswa WNI di RI harus memiliki agama sementara tidak wajar untuk mengetahui dan mengkritisi mengapa siswa-siswi maupun pendidiknya di RI harus beragama. Efek sampingnya, terjadi penumpulan pada daya kritis siswa
  4. Bahwa semenjak sekolah dasar pun siswa telah diberi pemahaman untuk berkumpul dan berserikat berdasarkan agama yang dianutnya
  5. Bahwa ada siswa yang sedemikian apatisnya terhadap kehidupan beragama, ia mengambil jarak dari komunitas beragama. Di sisi lain, ada siswa yang malah mengambil kesimpulan bahwa ia tidak perlu belajar lagi dengan alasan ilmu agamanya sudah cukup jadi apapun fakta terbaru ilmu pengetahuan, tidak perlu ia terima.
  6. Bahwa ada siswa yang merasa tidak penting tahu bahwa bumi itu bulat atau kotak. Yang penting sekolah nilai tinggi agar lulus kerja bisa jadi PNS atau karyawan BUMN atau menempati posisi yang membuat hidupnya nyaman (*walaupun definisi nyamannya ternyata sangat bisa diperdebatkan*)

Menarik bukan?

Yang saya kagumi adalah bahwa yang melontarkan pernyataan di atas adalah para WNI yang dulu sempat sekolah dasar hingga atas di Indonesia dan lalu melanjutkan sekolah lagi di luar Indonesia.

Balik lagi ke topik awal. Saya sempat menyesal bertemu orang-orang seperti itu. Dalam hati saya sempat merutuk, “Ini mah buang-buang waktu aja”.

Tapi… Eh tapi kok yaa saya sempat kepikiran. Jika saya bilang di awal bahwa mungkin saya kurang beruntung saya pikir saya salah. Sebab ternyata bisa jadi kalau justru ini adalah momen-momen keberuntungan saya. Bertemu dengan manusia yang berbeda.

Tidak banyak orang yang setuju dengan pola pikir saya. Dengan keputusan saya untuk tidak bisa dengan mudah mempercayai Nyi Roro Kidul. Padahal apa sih yang kurang dari si Nyai? Sudah single, cantik, seksi bahkan punya banyak kamar hotel sendiri. Apa coba yang kurang sehingga saya masih tidak percaya?

Jangankan orang-orang, Ibu dan adik-adik saya saja sempat khawatir dengan apa yang saya percayai dan dengan apa yang tidak. Tapi toh itu tidak menghilangkan kenyataan bahwa kami amat mencintai satu sama lainnya.

Mungkin, dengan datangnya manusia-manusia baru yang punya kepercayaan yang berbeda itu, saya malahan jadi bisa melihat bahwa perbedaan antara kami itu sebenarnya amat indah :)

(*Percaya atau tidak? Saya sering diundang makan-makan oleh mereka yang ajaib dan berbeda keyakinannya ini. Lah saya turuti dong undangannya, buat saya kan makan-makan dan ketawa-ketiwi itu indah. Hehehe*)


Operasi Payudara

Beberapa hari lalu saya mengobrol dengan putri saya Novi Kirana yang baru saja menginjak usia tiga tahun. Seperti biasa, kalau mengobrol posisi kami memang agak aneh. Sejak ia bayi, kami memang suka mengobrol serius ketika saya sit-up atau push-up. Kalau saya sit-up, ia duduk di atas kaki atau perut saya. Kalau saya push-up, ia duduk di atas punggung saya.

Kali itu, saya sedang melakukan beberapa sit-up. Ia keluar dari tepee, tenda Indian yang saya buat untuknya yang berdiri pas di ruang tengah rumah. Langsung duduk di atas perut saya. Tanpa tedeng aling-aling langsung bertanya, “Papa, kenapa dada kamu kecil?”

Dalam hati saya melengos, ‘Yaelah bocah, udah tau badan bapaknya segini-gini aja. Walopun udah olahraga segimanapun juga emang badan ini yah segini doangan. Pake ditanya-tanya segala’

Dan karena sudah ngos-ngosan saya jawab santai, “Karena papa anak laki-laki, sayang. Anak laki-laki kebanyakan nggak punya dada besar. Kalau anak perempuan punya dada lebih besar daripada anak laki-laki”

Dia buka kausnya. Dia lihat ke arah dadanya sendiri. “Kenapa dada saya sama seperti dada papa?”

Saya jawab, “Karena kamu anak papa, Cintaku”

“Tapi kan saya anak perempuan?”

“Iya, nanti juga kalau sudah besar dada kamu tambah besar”

“Kalau papa besar dada papa juga tambah besar?”

Saya bengong. Buset dah, anak kecil pertanyaannya memang ajaib kok yaa? Saya berhenti sit-up. Tapi matanya kecewa. Maka itu, saya sit-up lagi (*padahal sumpah saya sudah hampir kehabisan nafas. Tapi demi anak, ya sudah lah tambah satu set lagi*).

Sambil terengah-engah saya jawab, “Kalau berat papa tambah dada papa juga tambah besar nanti”

Mulutnya merocos dengan alis berkerut, itu tandanya dia sedang protes. “Tapi saya kan sudah besar! Saya sudah tiga tahun! Saya anak perempuan besar!”

Dengan lembut saya mengusap rambutnya yang makin panjang melewati dahi, “Iya kamu sudah besar. Tapi akan ada saat dimana semua anak perempuan akan lebih besar dadanya. Lebih panjang rambutnya. Lebih besar pinggulnya dan makin mengerti bahwa tubuh mereka berubah”

“Umur saya tiga tahun. Papa lebih besar daripada saya. Dada papa kecil. Umur papa empat tahun?”

Sambil cengar-cengir saya jawab, “Yaa nggak jauh beda lah kita. Papa juga masih muda kok”

Dia ke dapur. Saya bangun dari posisi sit-up sambil melakukan gerakan peregangan istirahat pada pinggul dan tangan. Saya lihat ia buka lemari pendingin mencari minuman es jeruk kesukaannya. Saya kira, obrolan siang itu selesai sudah. Namun dari balik pintu lemari pendingin ia bertanya lagi, “Kenapa dada papa kecil?”

Saya cuma diam, cengar-cengir sambil garuk-garuk kepala. Itu tandanya, percakapan ini masih akan berlangsung lama. Dan saya harus lebih banyak berolahraga akibatnya.

Saya ikut ke dapur, menyeruput es teh manis. Setelah itu saya ambil nafas sebentar lalu mulai posisi push-up dan bertanya kepadanya agar duduk di atas punggung saya.

Sambil menghisap isi botol es jeruknya dengan sedotan, ia patuh duduk di atas punggung. Dan mulailah saya bercerita.

“Dulu papa minta sama Pak Ali bos papa, supaya papa sekolah lagi. Tapi Pak Ali bilang papa sudah terlalu banyak sekolah. Pak Ali bilang papa harusnya mengajar saja. Papa kecewa”

“Terus kamu marah, papa?”

“Marah sih nggak. Tapi papa sedih. Tapi papa nggak bisa sedih, karena bos papa bilang lebih baik ilmu papa dibagi sama orang jadi papa pikir ia benar. Kalau papa sekolah lagi ilmunya buat papa sendiri saja. Tapi kalau papa mengajar ilmunya kan bisa buat  papa dan buat banyak orang. Jadi papa mengajar deh. Salah satu mahasiswi papa namanya Mel. Kamu kenal Mel? Dulu kan pernah papa kenalkan”

Lalu saya tertawa mendengar jawabannya, “Dulu kan saya masih kecil papa. Kamu jangan mengharapkan saya ingat dengan banyak teman kamu dong?”

Saya semakin terbahak-bahak ketika ia turun dari punggung, mencabut sedotan dari botol es jeruk dan memperlihatkan ke depan mata saya. “Waktu itu pasti saya lebih kecil dari ini!”

Setelah ia naik lagi ke punggung, saya melanjutkan cerita. “Mel itu mamanya Georgie dan Anne. Mereka berdua waktu masih bayi, menyusu pada Mel. Sama seperti kamu juga dulu menyusu pada mama. Cintaku Novi, kalau perempuan menyusui bayi biasanya dadanya tambah besar. Karena ada susu di sana. Sama seperti dada Mel. Tapi sayangnya ketika Georgie dan Anne sudah tidak menyusu lagi, dada Mel masih tetap besar sekali”

Ia diam. Saya juga tidak dengar suara botol es jeruknya. Tanda kalau ia sedang amat mendengar cerita dengan penuh konsentrasi.

“Punggung Mel jadi sakit. Kalau jalan susah. Sebab dadanya besar sekali”

“Kalau begitu, kenapa Georgie dan Anne tidak menyusu saja terus?”

“Sayang, kalau anak sudah besar biasanya mereka berhenti menyusu sama mamanya. Georgie sudah sepuluh tahun, Anne juga sudah delapan tahun. Jadi mereka sudah tidak menyusu lagi sama mamanya”

“Mel sakit?”

“Iya kasihan Mel. Kalau jalan susah. Kalau duduk susah. Karena dadanya terlalu besar. Jadi ia ke dokter. Ke rumah sakit. Dada Mel harus dikecilkan. Jadi waktu di rumah sakit dada Mel dikecilkan”

“Bagaimana dikecilkan dadanya? Diambil susunya untuk rumah sakit?”

Saya tertegun berhenti push-up sebentar. “Wah kalau itu papa juga nggak tahu sayang. Yang pasti beberapa bulan kemudian Mel kembali ke kelas papa. Dan dadanya sudah lebih kecil daripada dulu. Kamu tahu cintaku, ternyata ia sekarang jauh lebih bahagia punya dada kecil ketimbang punya dada besar”

Novi Kirana diam. Saya tahu, logika dalam cerita yang telah saya ceritakan masuk ke dalam benaknya. (*Itu artinya; saya sudah boleh berhenti push-up. Hehe*). Ia lalu turun dari punggung. Saya duduk dihadapannya. Sambil masih memegang botol es jeruk lalu duduk diatas pangkuan saya.

Sambil memangkunya saya bilang, “Anakku sayang, papa cinta kamu. Super cinta kamu. Papa tahu kamu cinta papa. Tapi yang lebih penting lagi, kamu harus mencintai diri kamu sendiri”

Dia berdiri, berbalik lalu memberikan kecupan di hidung saya. Sambil memeluk ia berbisik di kuping saya, “Saya cinta kamu papa. Walaupun dada kamu kecil walaupun dada saya kecil”

Tiba-tiba, saya merasa jadi lelaki berdada kecil yang paling bahagia di muka bumi ini.


Tukang Cak

Masa sekolah dulu, boleh dibilang saya sama sekali tidak memiliki prestasi yang memadai. Nilai saya untuk semua mata pelajaran adalah rata-rata. Sementara yang ada dalam kategori di bawah rata-rata, jelas semua mata pelajaran yang berbau norma moral dan agama. Entah kenapa segala sesuatu yang berhubungan dengan norma moral dan agama, nilai saya selalu merah.

Satu mata pelajaran yang nilainya di atas rata-rata, mungkin hanya matematika. Dan itu pun tidak semua matematika, sebab saya hanya menyukai cabang keilmuan matematika yang bernama teori kemungkinan (probability theory).

Mengapa saya menyukai teori kemungkinan dalam matematika? Sebelum saya jawab ini, ada baiknya jika saya menerangkan apa itu teori kemungkinan dalam matematika.

Menurut kamus, teori kemungkinan dalam matematika adalah;

Cabang matematika yang bersangkutan dengan analisis fenomena acak. Objek utama dari teori kemungkinan adalah variabel-variabel yang terlihat acak atau kejadian-kejadian tertentu. Peristiwa matematis dapat dengan jelas terlihat dalam kejadian yang berkembang dari waktu ke waktu dalam mode yang tampaknya acak. Misalnya jika seseorang melemparkan koin atau dadu dianggap peristiwa acak, maka jika ia berulangkali mengulangi urutan kejadian acak tersebut maka akan menunjukkan pola-pola tertentu, yang dapat dipelajari dan diprediksi. Teori kemungkinan adalah dasar statistik. Ia berlaku untuk deskripsi sistem yang kompleks seperti misalnya digunakannya pada mekanika statistik untuk menjelaskan banyak hal

Waktu pertama kali Bu Atu (pengajar matematika teori kemungkinan) menjelaskan hal ini, saya langsung konsentrasi. Di otak saya hanya dua kata kunci yang tertangkap. Satu ‘dadu’. Satu lagi bagian ‘menjelaskan banyak hal’.

Gila! Gua bisa kaya kalo begini. Itu satu-satunya hal yang ada di otak saya. Bagaimana tidak, judi yang selama ini saya anggap misteri, ternyata bisa dipecahkan dengan matematika!

Waktu zaman saya belajar teori ini, Indonesia sedang keranjingan judi namanya Togel. Singkatan dari Toto Gelap. Judi Toto sendiri katanya datang dari Malaysia/Singapura. Entah saya tidak tahu pastinya, yang pasti di di kampung saya Cilincing manusia berlomba-lomba pergi ke bandar setiap malam untuk bertaruh pada sepasang angka (atau lebih) pada beberapa carik kertas yang disediakan bandar judi lokal. Ada embel-embel gelap, yaa karena memang bukan resmi binaan pemerintah.

Warga keranjingan Togel. Murah sih, seribu lima ratus rupiah sudah dapat bertaruh untuk dua angka. Kalau menang, bisa dapat puluhan kali lipatnya. Mulai dari tukang becak hingga bos kapal nelayan, semuanya hobi pasang judi togel.

Togel lalu jadi epidemi. Di poskamling tempat warga berkumpul, pasti selalu ada sebuah kertas berukuran A4 fotokopi yang isinya adalah gambar-gambar binatang atau benda yang tertera dalam kotak-kotak kecil. Di bawah icon-icon tersebut ada angka, biasanya dua huruf. Ketika akhirnya sudah jadi wabah, bahkan tiang listrik pun ditempeli oleh kertas-kertas tersebut. Yang pasti, kampung saya berubah bagaikan masa pemilihan lurah. Dimana-mana ada kertas promosi. Isinya icon dan angka.

Apa sebenarnya isi kertas fotokopi tersebut? Sederhana. Katanya itu penafsir mimpi. Kalau suatu malam Anda bermimpi diterkam macan, lihat saja kertas itu. Pada icon macan dibawahnya tertera angka 15. Maka pergilah ke bandar, pasang angka 15 sambil berharap mimpi Anda jadi kenyataan. Lalu lantas jika suatu hari bermimpi bertemu ular di sungai, maka pasanglah angka 23. Jangan 32, sebab itu artinya ular laut, bukan ular yang hidup di air tawar.

Mengapa warga kampung saya sudah sedemikian percayanya pada mimpi?

Ketika kemiskinan sudah menjerat, keadilan sosial hanyalah angan-angan, siapa lagi yang bisa dipercayai selain mimpi. Maka itu, jauh lebih banyak para penggila judi Togel adalah para nelayan kecil hingga tukang becak ketimbang para bos kapal. Buat mereka, hanya mimpi yang dimiliki dan satu-satunya yang murah yang bisa terbeli.

Lalu, apakah saya jadi tergila-gila dengan judi togel pula sebagaimana warga kampung lainnya?

Tunggu dulu ahh. Cerita saya belum sampai ke sana. Mari kita balik lagi ke soal mimpi. Masih ingat cerita di atas bahwa warga mengandalkan taruhan mereka pada mimpi. Secara literal, benar-benar mimpi. Artinya mereka tidur dulu untuk mendapatkan mimpi yang lalu ditukar secarik kertas demi mendapatkan mimpi baru.

Jadi begini, jika seorang warga (mari kita sebut saja si Fulan) bermimpi bertemu lantas diterkam macan, maka ia dengan tidak segan-segan memasang angka 15 pada taruhannya. Tapi bagaimana kalau pada sebuah siang di Cilincing yang panas ia bermimpi bertemu macan di tikungan, lantas dikejar singa hingga pematang lalu ditelanjangi ular di sawah hingga setelahnya diperkosa ramai-ramai oleh gajah? Angka apa yang harus ia pasang?

Nah ini lah gunanya saya (dan gunanya teori kemungkinan). Yang pasti saya tidak akan menjelaskan disini betapa dengan ugal-ugalannya saya menggabungkan teori kemungkinan dan analisa Freud dalam mengubah mimpi para manusia malang itu menjadi angka kongkrit yang mereka pasang sebelum masa pengundian tiap malam tiba.

Saat ini, mungkin jabatan yang saya pegang bisa disebut setara dengan kalimat ‘penasihat spiritual’. Zaman itu, nama saya disebut dengan panggilan ‘tukang cak’, orang yang melihat angka-angka acak. Padahal sebenarnya, dalam zaman apapun saya pikir sebutan untuk saya saya adalah manusia yang keterlaluan menyedihkan yang mencoba mengambil keuntungan dari para manusia malang.

Setiap konsultasi, saya dibayar seribu rupiah. Lumayan. Jika sehari ada sepuluh pelanggan, then you do the math. Zaman itu, dengan uang hasil konsultasi saya bisa beli rokok sebungkus, mie instan pakai telor bahkan berbotol-botol coca-cola. Lambang pergaulan anak muda. Jadi, saat itu kebahagiaan saya berdiri di atas jemari para nelayan dan tukang becak miskin yang terus bermimpi. Sungguh mengenaskan.

Eh apakah sudah saya bilang kalau nilai moral dan reliji saya rendah? Kalau sudah, Anda mungkin bisa mahfum manusia macam apa saya itu. Sebab selama saya bisa mengkalkulasi semua angka dan kemungkinan, saat itu saya akan tetap jalan terus. Menyenangkan.

Iya, saya jalan terus. Selama karir saya sebagai tukang cak, padahal hanya tiga kali saja bisa menebak benar. Artinya sederhana, teori kemungkinan yang saya agung-agungkan ternyata tidak bisa mengalahkan judi togel. Pola angka yang saya bangun, tidak terbukti sukses. Kalau setiap malam ada dua puluh pelanggan dan dalam sebulan hanya mampu menebak tiga taruhan dalam empat digit yang benar, maka perbandingan analisa acak saya boleh dibilang sama sekali tidak berhasil.

Tapi apa lantas para nelayan dan buruh pabrik tekstil kecil itu percaya walaupun perhitungan matematis saya gagal namun saya bukan tukang cak? Hohoho… Tidak. Sama sekali tidak. Mereka tetap percaya kalau saya mampu mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Kepada siapa lagi mereka bisa berharap. Mimpi mereka untuk hidup layak sebagai manusia normal sudah binasa. Maka jika mereka masih punya mimpi diatas mimpi, yaa harus dijaga. Maka itu saya tetap eksis.

Mereka percaya kalau saya ‘sakti’. Dan sebagai orang sakti tentu saya punya previlige khusus. Mirip ambtenaar atau keturunan darah biru pada masa kolonisasi dahulu. Jadi ketika perhitungan saya salah, tentu saja mereka menyalahkan diri sendiri dengan kalimat, “Ahh emang udah gini kali nasib gua malem ini”. Sama sekali tidak pernah menyalahkan saya. Sebab besok malam kami akan berkumpul kembali di poskamling untuk sibuk menganalisa mimpi dan menebak angka. Tentu saja dengan sukarela uang seribu rupiah berpindah tangan setelahnya.

Suatu hari di poskamling, sudah bisa ditebak. Ada yang bertanya, “Kenapa lu ga masang?” pada saya.

Saya jawab, “Ilmu gua luntur nanti”

Seorang bapak-bapak yang mengepulkan asap rokok kreteknya duduk berselonjor ke dinding pos. Baru pulang dari laut. Masih bau amis, bertanya lanjut “Emang belajar di mana dulu gituan”

Saya jawab sekenanya, “Pak Ramli pan tau ndiri, engkong aye orang Banten. Kalo liburan sekolah aye mah ke sono, Pak. Ngelmu. Di sono di Kasemen. Deket mesjid agung. Ini ilmu putih, Pak. Dapetnya aja dari kiyai”

Mendengar itu, biasanya warga kampung saya jauh lebih percaya daripada alasan-alasan lainnya. Ketika hidup sudah tidak lagi logis, rasionalitas bukan sebuah jawaban yang layak terdengar. Apalagi kalau sudah bawa-bawa simbol agama. Seakan jawaban apapun yang tersampaikan sudah direstui oleh langit. Dukungan pembenaran atas mimpi mereka.

Saya malas menjawab kalau saya lebih percaya upaya dagang dengan transaksi jual beli jauh lebih signifikan menguntungkan daripada judi. Pertama, akibat desakan ekonomi sehari-hari mereka biasanya sudah mulai mual duluan apabila mendengar kata ‘modal’. Kedua, saya sering adu argumen yang berakhir absurd ketika mereka menjawab, “dagang kan urat. Cuman yang punya urat dagang doangan bisa dagang”. Ketiga, sebab beberapa orang menganggap bisnis itu tidak lebih dari judi dalam bentuk lain. Keempat dan sekaligus yang terakhir, saya pernah memicu perkelahian karena bilang, “Judi itu ibarat kata naek haji. Buat nyang mampu aja lah. Orang susah ngapain pake judi segala!”

Jadi, maka itu saya lebih memilih menjawab sekenanya.

Namun jawaban sekenanya itu tentu saja tidak berlaku di depan muka Ibu saya yang curiga anaknya sudah berbulan-bulan tidak minta uang jajan. Dan cerita ini pun akhirnya berakhir dengan anti klimaks. Seorang anak yang masih tinggal di rumah orangtua, tidak sanggup melawan meneruskan bisnis di area perjudian demi menjaga nama baik keluarga.

Saya berhenti jadi tukang cak. Profesi yang rendah dimata para agamawan karena membantu suburnya industri judi. Sekaligus profesi yang hina di mata moralis, karena sama sekali tidak etis ikut menghisap darah para manusia yang berada dalam jaringan rantai makanan paling rendah.

Tidak lama setelah saya berhenti, pemerintah dan para cendikiawan agamis memaklumkan perang terhadap judi togel. Tiap malam di kampung kami ada razia polisi. Bandar yang kebetulan buka lapak, disergap dan ‘dibina’. Para nelayan dan buruh kecil tidak lagi duduk bersandar di poskamling menanti semilir angin laut yang membawa kantuk mereka mendulang mimpi. Semua orang takut berhubungan dengan judi togel. Di koran-koran muncul fatwa bahwa togel lebih menakutkan daripada HIV.

Semua orang bekerja. Perjudian dimusnahkan.

Setelah judi musnah, pajak televisi kok yaa jadi murah. Dimana-mana warga ramai-ramai memborong televisi. Ada yang ditaruh di ruang tamu jadi pelengkap perabotan pajangan. Ada yang ditempatkan di ruang makan, seakan bagian dari lauk pauk. Ada yang ditaruh di kamar tidur, mungkin untuk jadi saksi ketika mereka melakukan adegan reproduksi.

Dimana-mana orang punya televisi.

Ketika televisi jadi budaya baru, muncul serial-serial yang tiba-tiba membuat ibu-ibu jadi pecandu. Lalu menular ke anak-anak mereka. Lalu tentu saja para suami mulai ikut-ikutan.

Bedanya dengan judi togel, kini dapur jauh lebih ngebul. Uang yang biasanya dihamburkan para bapak di secarik kertas berisi angka, kini bisa untuk beli makanan dan seragam sekolah anak. Ibu-ibu mulai bisa bersolek. Sales keliling menjajakan kosmetik. Tentu saja biar cantik. Biar mirip bintang yang mereka lihat di televisi. Gaya bicara pun mulai berubah, anak-anak SD bahkan pernah teriak kalimat “Oooh tidaak!!” ketika melihat temannya jatuh dari sepeda. Meniru gaya bicara para artis sinetron. Bapak-bapak mulai bermimpi bisa naik mobil dan bahkan memiliki kendaraan roda empat. Sebab itulah tipikal bapak ideal yang mereka lihat di televisi.

Iya, televisi membuat perbedaan.

Sungguh beda dengan ketika judi togel masih ada.

Sebagaimana teori kemungkinan, jika ada perbedaan maka pasti ada persamaan. Loh apa persamaannya antara televisi dan judi togel?

(*Empat paragraf sisa dipotong. Selain kepanjangan isinya kelihatan seakan saya mau menceramahi para pembaca budiman yang cerdas dan sudah tahu jawabannya apa. Ahh memang saya siapa sok-sokan mau menceramahi warga kampung. Saya kan cuma tukang cak yang kehabisan ladang garapan*)


Suatu Hari Di Pasar

Saya cerita begini kepadanya:

“Beberapa minggu lagi anak gua ulang tahun, gua mao dong beliin hadiah buat anak gua. Umurnya bakal tiga tahun. Gua mao beliin maenan anak-anak. Nah gua carilah maenan di pasar. Disana gua ngeliat karpet. Bagus. Karpet itu karpet maenan anak-anak, ada angka dan huruf. Jadi anak gua selain main, juga bisa sambil belajar. Pas gua tanya sama yang jual, dia bilang harganya sekian. Waduh, gua nggak punya uang. Jadi sambil permisi gua jawab, bang sori yaah saya cuman nanya doang. Saya nggak bawa uang. Tiga hari lagi saya gajian, nanti deh saya balik buat beli. Dua hari lagi abang masih jualan kan? Anehnya si abang tukang karpet itu diem aja nggak jawab pertanyaan gua. Tapi trus akhirnya buka mulut. Lo tau ga dia jawab apa?”

Ia menggeleng. Tidak tahu. Maka lantas saya teruskan cerita.

“Si abang tukang karpet mukanya jadi asem. Dia sambil ngotot berkali-kali ngomong, nih karpet tinggal satu-satunya. Saya nggak jamin masih ada sore ini. Kalo nggak buru-buru ambil, saya ga jamin situ masih bisa dapetin nih karpet. Lah gua kaget dong si abang jawabnya begitu. Maka itu gua tanya lagi, bang… abang dagangnya hari apa aja? Si abang sambil mukanya tetep asem jawab, yaa nggak tapi kalo sabtu pas kamu gajian sih keliatannya saya dagang. Pas gua denger jawaban ini, mukanya tetep asem. Ya udahlah, gua cabut aja pulang ke rumah. Daripada lama-lama di situ mungkin bakalan dia jadi tambah kesel”

Saya berhenti sebentar. Menenggak es teh. Ia menatap saya dengan rasa ingin tahu. Iya, saya yakin ia tidak percaya bahwa dongeng saya hanya berhenti di titik tersebut. Lantas ia bertanya lebih lanjut apa yang saya lakukan.

Saya rasa hari itu mungkin saya punya keinginan untuk bercerita. Matahari bersinar hangat di teras rumah. Menerpa meja kami yang menghadap jalan raya. Saya lanjutkan.

“Besoknya, gua ke pasar lagi. Lu tau ga… Si abang masih ada. Masih dagang dia. Nah gua sengaja melakukan penampakan di depan muka dia. Biar dia tau kalo gua lagi ngeliatin dia. Itu karpet yang gua incer, belum kejual. Masih sisa satu-satunya. Tapi dia diem aja tuh. Trus lusanya, gua dateng lagi ke pasar. Juga sama. Dia tau gua ngeliatin dia dan karpetnya juga belum kejual. Pas hari ketiga gua dateng lagi ke pasar, dia tetep ada dan karpetnya juga masih ada. Kesimpulan gua, dia dagang di situ tiap hari dan karpetnya emang ga laku-laku trus ngebohong sama gua biar gua beli karpet cepet-cepet. Tapi pas hari ketiga itu, mukanya tambah asem pas ngeliat gua. Dia sambil teriak bilang, hari ini kamu kan gajian ayo beli karpet saya!”

Ia berhenti mendekatkan bibir gelas ke mulutnya. Bertanya, “Trus lu beli ga karpetnya”

“Nggak. Gua bilang aja kalo gajian gua diundur”

“Astaga, lu bohong kan? Sejak kapan gajian lu diundur? Ngapain juga sih lu bohongin pedagang kecil?

“Iya gua bohong. Tapi entah kenapa gua bohong, gua juga nggak tahu. Mungkin gua marah karena dia ngebohong duluan. Mungkin gua kecewa karena dia juga dari awal ga tulus ketika mao transaksi bisnis ama gua. Iya gua bohong. Iya, gua salah”

Saya diam menunduk. Tiba-tiba ingat putri saya. Lalu merasa tambah bersalah. Hati saya tidak nyaman. Saya tidak akan mencoba melakukan pembelaan diri bahwa untuk membalas kebohongan harus pula dengan kebohongan. Atau bahwa si pedagang karpet melakukan itu atas dasar kemungkinan bahwa ia miskin dan butuh marjin untung harian. Atau bilang bahwa saya juga buruh kecil yang harus berpikir berulang-ulang untuk beli karpet hadiah buat anak sebab artinya akan memotong belanja kebutuhan hidup bulanan. Atau bohong adalah salah satu etika bisnis modern. Tidak, saya tidak butuh semua pembelaan itu.

Bisnis itu bagaikan relasi dalam cinta, tidak akan jalan tanpa saling percaya. Si tukang karpet salah? Iya. Saya salah? Iya. Lalu diantara kami timbul rasa saling tidak percaya? Iya. Lah kalau semuanya iya, solusinya apa?

Ia bertanya lagi sambil terpejam dengan wajah menghadap matahari. Hangat. Saya bilang padanya bahwa saya tidak punya jawabannya saat ini. Sebagaimana saya tidak punya jawaban atas semua masalah dalam hidup.

Karena ia tidak bilang apa-apa dan siang ini semakin menjemukan, saya bertanya kepadanya, “Lu gantian sekarang. Pernah bohong sama pedagang?”

“White lies atau bohong biasa?”

Saya cengar-cengir menjawabnya, “Apa bedanya, bohong yaa bohong. Serigala mau berbulu domba atau berbulu ketek, tetap aja serigala”

“Di Bali, gua baru turun dari bus pariwisata. Diserbu pedagang cinderamata. Males banget deh. Dipaksa-paksa beli, kaos ditarik-tarik. Sebel gua”

Saya terpaksa senyum. Saya tahu apa yang ia alami, “Trus lu bilang apa?”

“Gua sambil pake kacamata item bilang I don’t speak Indonesia sorry. Bilangnya kepatah patah, biar dia tau gua juga ga ngerti banget bahasa inggris. Sialnya si tukang gelang nanya gua darimana. Gua jawab aja dari jepang. Eh gila tau, dia nanya gua pake bahasa jepang. Lancar banget. Dasar tukang dagang kali yah”

Saya ketawa. Dia lanjut berkata, “Trus gua nggak bisa jawab apa-apa lah. Boro-boro bahasa jepang yang gua tau kan cuma haik doang. Gua kabur aja terus ke kamar mandi. Anjrit, tukang dagangnya nungguin di depan WC. Untung aja ada tour guide yang manggil gua sebab turnya mao jalan. Nah si guide manggil gua pake bahasa Indonesia lah. Dia kan kenal gua. Pas gua keluar dari kamar mandi, tukang-tukang gelang itu sebel banget ngeliat gua sambil bilang kalau nggak punya uang bilang aja dari tadi, nggak usah ngaku orang jepang segala”

Senyum saya makin lebar mendengar ceritanya. Tapi setelah itu ia diam. Saya juga diam. Bersama kami tenggelam dalam hangatnya sinar matahari dan gemulai es teh yang semakin menari di kerongkongan.

Ia perempuan muda dari Jakarta, sukses dalam karir dan kini tengah berpikir untuk melanjutkan studi doktoralnya ke dapur untuk mengambil batu es. Di pintu ia berdiri bertanya, “Gua lupa kapan pertama kali belajar bohong. Lu masih inget ga pertama kali ngebohong? Gimana rasanya yaah?”

Saya tidak bisa menjawab. Buat saya itu retorika sebuah siang. Kenapa saya berbohong pertama kali dan bagaimana rasanya, saya tidak bisa menjawab. Saya lupa. Atau mungkin karena itu adalah ingatan buruk, saya coba lupakan. Sebab katanya sebagaimana mekanisme pertahanan diri, manusia suka mensortir memori tidak enak dan memasukkanya dalam klasifikasi khusus yang jauh tersimpan.

Anehnya, malam itu setelah para tamu pulang saya tidak berhenti berfikir mengenai bohong. Edan, apa jadinya muka bumi ini jika manusia tidak tahu cara berbohong? Edan, kenapa pula saya lupa pertama kali belajar berbohong. Apa iya karena terlalu seringnya dalam hidup saya berbohong saya sampai lupa kapan pertama kali berdusta? Ahh betapa menyedihkannya hidup saya…

Ah tapi itu kan saya. Tidak usah dipikirkan. Saya yakin Anda tidak seperti saya. Saya yakin Anda jujur-sejujurnya dalam hidup. Jauh lebih baik daripada saya. Hingga yakin bahwa Anda masih ingat pertama kali berbohong dan lalu bertobat setelahnya tak akan mengulangi lagi.

Eh, omong-omong Anda ingat pertama kali belajar berdusta? Gimana rasanya?

Susah jawabnya? Ahh tidak usah dijawab. Anggap saja itu retorika biasa :)


Istirahat

Karena menjelang akhir minggu, saya mau cerita yang sederhana saja lah hari ini.

Beberapa hari lalu, saya mengantuk sekali. Tidur kurang. Maksudnya tidur kurang, yaitu kurang dari 12 jam perhari. Iya, saya memang sedang banyak-banyaknya tidur akhir-akhir ini. Biar saja lah. Nikmati saja selagi bisa.

Karena mengantuk, di pabrik saya ditegur teman-teman. Kok yaa mulut tak berhenti menguap terus. “Udah kamu pulang aja gih sana, istirahat. Parah sekali muka kamu itu. Capek yaah?”

Saya mengangguk. Sambil menguap, berjalan pulang menuju stasiun kereta api. Pabrik saya memang di sebelah stasiun kereta api. Tidak jauh. Paling jalan kaki hanya sekitar satu menit.

Di kereta api, saya sudah tidak tahan. Untung dapat tempat duduk. Akhirnya menyenderkan kepala ke jendela. Tidur. Saya sudah lupa stasiun apa yang saya lewati, tapi biasanya setelah stasiun yang ada di bandara, saya harus siaga. Sebab sebentar lagi saya harus turun. Tapi saya sumpah mati tidak bisa siaga. Sudah mengantuk sekali euy.

Dalam suasana setengah sadar, saya dengar setiap pemberhentian kondektur menegaskan ke penumpang bahwa kami ada di stasiun anu dan akan menuju stasiun berikutnya. Wah, itu sudah bagaikan mimpi. Saya bisa dengar, tapi tidak tahu harus bagaimana.

Untungnya saya berhasil juga turun di stasiun yang harus saya turuni. Keluar pintu kereta sambil ucek-ucek mata. Masih mengantuk. Tunggu bis kota sebentar enaknya bisa menyegarkan mata. Maklum sudah musim semi. Dimana-mana banyak bunga.

Namun ketika bis kota tiba dan dapatlah saya tempat duduk di pojok, lupa pula saya musim semi dan bunga. Saya tidur lagi. Tepatnya ketiduran. Saya pikir, ahh gampang lah. Hanya empat halte dari stasiun, merem dikit kan sah saja.

Iya sah memang. Tapi begitu saya membuka mata, sumpah mati saya mendelik. Loh, ternyata saya kebablasan tidurnya. Bangun-bangun, entah saya ada di mana, kiri kanan benar-benar lahan kosong luas gundul. Waktu itu saya kaget, saya pikir “Wah kok di daerah tandus gini, jangan-jangan gua kesasar di Kalimantan?”

Bis kota berhenti. Pak supir yang tinggi besar berjanggut berjalan ke arah saya dari ruang kemudinya, “Kamu mau kemana? Nggak ada halte lagi”

Saya bengong, ‘Wah Pak, saya ketiduran. Rumah saya nggak jauh dari stasiun. Kok saya bisa sampai di sini? Puterin lagi dong bisnya Pak?“

Dia ketawa, “Yaa nggak bisa. Kamu harus naik bis lain yang ke arah stasiun. Tapi nanti, masih lama. Kalau kamu naik bis yang merah itu, kami ke bandara, dari sana ke stasiun yang kamu tuju. Lebih dekat. Kamu sadar nggak kamu udah tidur kira-kira ampir sejam?”

Saya cengar-cengir. Malu. Hehe. Habis mau bagimana lagi?

Akhirnya saya menaiki bis yang si Pak Sopir maksud. Nah bis ini pergi memang tidak lama kemudian. Begitu saya meletakkan bokong di kursi, semenit kemudian langsung jalan. Tujuan saya, bandara. Sebab dari sana bisa naik kereta lagi ke arah stasiun dekat rumah.

Saking tegangnya melihat kiri kanan daerah yang belum pernah saya lihat sebelumnya, saya capek lagi. Dan saking capeknya, tentu saja bisa ditebak… Saya ketiduran lagi.

Saya akhirnya bangun, setelah dicolek bahunya oleh Bu Supir (supirnya ibu-ibu ternyata). “Kamu mau kemana? Sudah halte terakhir nih. Ini bis mau masuk pool”

Ini pertanyaan kedua yang saya jawab hari ini. Saya jawab dengan memelas, “Mau pulang, Bu”

“Rumah kamu di mana?” (*Entah kenapa, saya tiba-tiba merasa seperti anak kecil yang hilang di Mall lalu tengah ditanya Satpam*)

Ketika saya jawab dimana lokasi rumah saya dan kenapa saya bisa sampai di bis itu, si Ibu Supir senyum-senyum, “Kamu sudah kejauhan turunnya”. Dia meneruskan sambil memberitahu bahwa dari tempat kami berada, saya harus naik kereta ke bandara. “Nggak jauh kok. Ke stasiun kereta hanya jalan sekitar satu menit saja dari sini”

Saya mengerenyit. Satu menit? Setelah mengucap terimakasih dan keluar pintu bis saya terbengong-bengong. Benar rupanya si Ibu Supir kalau stasiun hanya jalan kaki satu menit dari sini. Sebab di depan muka saya terpampang jelas-jelas pabrik tempat kerja sehari-hari yang saya tinggalkan dua jam lalu.

Dari lobby, seorang resepsionis keluar. “Loh bukannya tadi sudah pulang, ngapain masuk kerja lagi? Ada yang ketinggalan?”

Saya cengar-cengir. Tidak tahu harus jawab apa.

Yang pasti, saya tahu apa yang harus saya lakukan di akhir minggu ini. Istirahat. Mumpung masih dikasih kesempatan, yaa ada waktu dipakai istirahat.

Selamat berakhir pekan. Selamat istirahat :)


Jum and Jack: Empat

Ketika bapak saya meninggal dan kami menguburkannya di Kalibata, pulangnya saya ke Cilincing bersama Jumari, Dayat dan Piter. Dari Kalibata, kami naik angkutan kota bernama mikrolet M-16 dulu ke Terminal Kampung Melayu sebelum lanjut lagi ke Terminal Tanjung Priok. Jadi, di mikrolet saya duduk di pojok bersama tiga manusia ini. Hampir semua orang Cilincing yang saya kenal berdarah panas. Tapi Dayat dan Piter ini sudah terkenal sebagai manusia yang darahnya lebih panas ketimbang semua orang Cilincing yang saya kenal.

Pada intinya, di jalan kami ini semuanya benar-benar rusuh. Seakan lupa baru saja bersentuhan dengan mayat, tubuh dengan jiwa yang tidak ada lagi di dunia ini. Saya malas menceritakan apa yang terjadi di jalan pada saat itu, yang pasti semua penumpang kelihatannya merasa enggan duduk bersama kami dan lalu turun secepatnya. Tapi yang bisa saya ceritakan adalah ketika mikrolet kami berhenti menunggu lampu hijau, di sebelah ada bus yang isinya anak STM (Sekolah Menengah Teknik) Jakarta yang terkenal suka berkelahi. Piter dan Dayat melotot ke arah bus itu sambil mengacungkan jari tengah berteriak, “Woy anjing! Sini lu semua turun! Dasar banci!”. Ini artinya sederhana; tantangan.

Melihat satu bus kota besar PATAS yang kelihatannya berisi anak STM semua yang beberapa diantaranya memegang senjata tajam, darah saya berdesir. Saya baru saja mengubur Bapak. Masa sih setelahnya Ibu harus mengubur saya?

Sumpah mati, saya takut. Kami empat orang. Di mikrolet, mobil kecil yang semestinya hanya berkapasitas paling banyak 8 orang. Sementara, melihat puluhan anak-anak STM itu, saya pikir mereka akan dengan amat mudah menyegel mobil lalu membakar kami hidup-hidup. Jaman itu, perkelahian antar anak sekolah di Jakarta memang mengerikan. Dan apa yang saya bayangkan tentang maut kami, kemungkinan besar akan terlaksanakan.

Saya lihat Dayat dan Piter. Matanya ganas memang seperti sudah siap perang. Entah gara-gara kenapa, mungkin masih menyimpan dendam. Saya lihat Jumari, dia tenang-tenang saja. Sambil garuk-garuk kuping dia senyam-senyum seakan tidak ada apa-apa. Saya kaget, “Jum, lu kenapa ketawa?”

Dia tambah lebar senyumnya, “Lu tau ga Jack? Tuh anak-anak STM ga ada yang bakalan turun”

Saya tambah kaget. Tapi sebelum saya tanya lebih lanjut, Jum seakan sudah menebak karena menjawab, “karena kita pake peci”

Saya tidak tahu apa hubungannya antara peci, sebuah songkok yang ada di kepala dengan perkelahian massal yang gagal karena massa lawan melihat kami berkopiah. Yang pasti memang benar-benar tidak terjadi apa-apa siang itu. Para anak-anak STM terbengong-bengong melihat mikrolet kami para pemakai peci yang melaju tanpa berbuat apa-apa.

Begitu sampai di Cilincing setelah hari yang meletihkan dari Kalibata, saya mengalihkan topik. “Jum, kenapa bapak gua meninggal yah? Adek gua si Uul pan masih bayi. Jum, kenapa tuhan nggak adil. Bapak gua pan orang baek. Kok dicabut buru-buru?”

Jumari tersenyum sambil berkata, “Bapak lu udah dapet jalannya. Lu santai aja Jack. Sekarang yaah elu yang kudu jalan. Maka itu, sekarang cari jalan lu, Jack”.

Sejak saat, dari dulu ketika ada sahabat atau keluarga yang meninggal, saya selalu ingat perkataan Jumari yang selalu bilang, “Jack, lo udah jangan mikirin yang meninggal. Doi mah asik di sono. Santai aja. Pikirin tuh yang masih hidup. Yang ditinggalin. Cukupin idup mereka. Jangan sampe mereka blangsak idupnya”

Sampai saat ini, saya masih belum mengerti maksud Jumari. Apa dia maksud, kalau orang-orang yang berkopiah menantang publik maka publik akan diam saja? Apa yang dia maksud dengan ada jalan setelah kematian? Memangnya dia sudah pernah ke sana terus balik lagi ke sini? Entahlah?

Bahkan hingga akhirnya kami berpisah dan jarang bertemu, saya masih tidak mengerti dia bermaksud apa.

Yang saya bilang jarang bertemu memang secara literal benar-benar jarang bertemu. Saya tinggal di sebuah dunia yang sungguh jauh dari laut Cilincing tercinta. Jumari masih ada di sana. Dengan idealisme mencerdaskan anak bangsa. Dengan murid-muridnya yang banyak luar biasa. Dengan keluarga yang amat ia cintai. Dengan kail dan sampannya yang selalu setia dalam meluangkan waktu bersama.

Untung kemudahan teknologi semakin memurahkan internet. Hingga akhirnya Cilincing tersentuh keajaiban penemuan manusia bernama surat elektronik.

Ketika kami akhirnya benar-benar tidak bisa bertemu karena waktu, suatu hari dia kirim email. “Jack, gua ngerasa berdosa banget. Tapi pagi si Ravi nggak mau ngaji. Emosi gua. Tangan gua maen, Jack. Astagfirullah. Gua nggak konsentrasi nih ngajar. Mau nangis terus gua Jack. Nyesel banget gua nampar tuh anak. Bisa ketemu nanti malem Jack?”

Saya merasa sedih. Sungguh sedih sekali. Ia sahabat saya. Orang yang selalu melindungi ketika saya lapar atau marah. Orang yang sering berani mendukung atau malah menantang semua ide-ide gila yang selalu saya lontarkan. Saya sahabatnya, yang saat itu ada di belahan dunia lain. Tak mampu bilang apa-apa ketika orang yang saya cintai tengah sedih dan kecewa pada dirinya sendiri. Tanpa sengaja ia menyakiti putranya, orang yang amat ia cintai. Sebuah dosa yang dianggapnya tak berampun.

Dan saya hanya bisa menjawab melalui surat elektronik, “Jum, gua udah balik men. Malam ini gua nginep di KL. Besok berangkat lagi balik. Sori men kita nggak bisa ketemu”. Sambil menambahkan, “Minta maaf aja ama Ravi. Bilang sama dia lo cinta dia dan lo ga bakalan ngulangin lagi kayak gitu. Lo bapak yang hebat man. Tapi lo juga manusia. Kita semua toh pernah salah. Sebagai bapak yang hebat, lo pasti ngajarin anak lo bagaimana cara meminta maaf supaya suatu saat dia juga bisa jadi jentelmen sejati kayak lo, men”

Beberapa hari kemudian kami jarang bertemu sua lagi melalui dunia maya. Saya sibuk. Ia juga sibuk. Hingga akhirnya datang sebuah surat pendek yang isinya berbunyi, “Sekarang gua tau kenapa lo ada di luar Cilincing”

Saya yang penasaran bertanya balik kenapa. Tapi ia tidak pernah menjawab. Sama dengan lontarannya soal kopiah.

Hingga suatu malam beberapa minggu lalu saya baru keluar dari concertgebouw untuk melihat pertunjukan gitar klasik Izhar Elias yang diiringi dirigen dari London Philharmonic Orchestra (*dapat tiket hadiah ulang tahun dari teman-teman saya*). Begitu menyalakan kembali telepon genggam, masuk pesan dari Rojak, adiknya Jumari mengirim SMS. Bulan begitu bulat malam itu. Katanya, terbulat dan tercantik yang pernah ada setiap 18 tahun sekali. Begitu romantis diiringi flute dan biola orkes kamar. Namun keindahannya tak seberapa melihat SMS Rojak yang amat membuat dada sesak. “Minta doanya. Jumari koma. Udah sebulan. Hari ini paling kritis”.

Malam itu saya coba telpon ke Jakarta. Susah sekali. Saya pikir perbedaan waktu atau kalau tidak, masalah koneksi. Yang pasti, saya sungguh galau. Sahabat saya terbaring di rumah sakit. Ada apa?

Dalam galau saya jatuh tertidur, ketika bangun ada SMS lagi dari Rojak, “Innalillahi, Jumari pergi”

Saya jalan ke dapur dengan gontai. Cari tempat duduk. Susah sekali. Lemas. Tidak kuat menghadapi berita ini. Akhirnya saya duduk di lantai. Menatap layar telepon genggam seakan tidak percaya. Sahabat sekaligus musuh dalam diskusi-diskusi saya. Guru idola. Masih muda. Teman mancing setia. Nelayan tangguh tak terkira. Kini berlayar untuk selama-lamanya.

Saya gemetar ketika membuka dan membaca surat elektronik dari adik-adik saya. Yang juga mengabarkan berita duka. Seluruh anggota keluarga saya adalah sahabat Jumari. Mereka pula kehilangan.

Saya semakin gemetar ketika membuka laman-laman facebook Jumari. Ratusan murid-murid dan rekan kerja bergantian memberi salam perjalanan terakhirnya. Sahabat saya ini, ternyata pula dicintai banyak orang. Ia orang baik. Dan manusia, selalu menyukai orang baik.

Dulu dalam sebuah komentar di blog saya, ia meminta agar saya menuliskan kisah hidupnya. Tepatnya, hidup kami. Karena sibuk, itu selalu tertunda. Saya tidak tahu apa yang harus saya tuliskan. Saya tidak punya begitu banyak waktu memberikan testimoni betapa senangnya saya sebagai sahabatnya. Saya tidak bisa merangkaikan 140 karakter huruf untuk menyatakan betapa saya mencintainya. Saya tidak bisa bilang pada publik betapa luar biasanya Jumari.

Kini ironis. Setelah ia pergi, justru saya bisa membuat empat tulisan berseri hanya sebagai dedikasi saya untuknya. Entah doa saya sampai atau tidak, saya harap di surga sana ia diberi cara agar bisa mengetahui betapa saya bangga pernah jadi sahabatnya.

(*Foto milik Jum saat masih sehat dan jadi guru di SMK 36 Jakarta. Diambil dari laman facebooknya. Tertulis dua tahun lalu dan ia kelihatan masih amat segar bugar. Caption yang ia tulis, “superman pulang kampung, berganti orang kampung…… saya orangnya toleran, saya menghormati yang pake kaca mata dan yang tidak……… hehe36“. Ia selalu suka tertawa dan saya selalu amat tergila-gila dengan gurauannya*)

Selamat jalan, Jum. Selamat jalan sahabat. Salam dari ‘Jack’.


Jum and Jack: Tiga

Nasib memisahkan kami berdua. Saya pergi semakin jauh dan terus menjauh dari Cilincing. Mengunjungi semua pelosok yang ada di muka bumi seperti yang pernah saya cita-citakan sebelumnya. Jumari terus bergulat dengan keseharian Cilincing. Dengan orang-orang Cilincing. Dengan tanah, laut dan udara Cilincing yang panas.

Kami mencintai Cilincing dengan cara yang berbeda. Buat dia, menjadi guru dan mengamalkan ilmu di Cilincing adalah pencapaian tertinggi yang bisa dicapai manusia. Setidaknya, jika manusia yang dia maksud adalah kami setongkrongannya. Dan ia pun lalu jadi guru. Sesuai dengan idealismenya.

Buat saya, mencintai Cilincing adalah menyebarkan sebanyak-banyaknya pada dunia. Bahwa resistansi masih ada. Bahwa kami, manusia yang disisihkan secara terstruktur baik dari segi ekonomi, budaya, strata sosial dan macam-macam lainnya, masih bisa melawan.

Dan akhirnya ketika sama-sama beranjak dewasa, kami sepakat untuk tidak saling sepakat. Yang kami tahu cuma satu, kami sama-sama mencintai air, tanah dan udara bumi kelahiran.

Lalu di pagi itu, kami bertemu kembali. Setelah sekian lama hingga entah berapa purnama.

Sembil menggendong bocah berusia tiga tahun ia memeluk saya, “Gua senang lu pulang kampung, Jack. Kenalin nih jagoan gua pertama, Ravi”

“Gua juga seneng pulang kampung ketemu lu ama keluarga lo. Apakabar Ugi, sehat?”

“Lagi hamil lagi anak kedua kami. Insya Allah deh, lancar-lancar aja”

“Amiinn…”

Ibu masuk ke ruang tamu membawa teh manis dan kua nastar. Hari itu masih dalam suasana lebaran. Jumari tiba-tiba sambil ketawa lebar bicara, “Bu, saya seneng banget nih ngeliat dia. Wah sumpah mati. Dulu mah siapa sih yang nyangka dia bakalan jadi begini. Pasti nggak ada! Hidupnya nih anak pan blangsak banget. Bangga saya bu anak Ibu jadi begini”

Ibu mulutnya merucut, “Jangan dibilangin gitu di depan dia, Jum. Nanti idungnya yang gede jadi tambah megar”

“Hehe, biar aja Bu. Kasian nih anak, dari dulu kita hina-hina terus. Sekali-kali lah, mumpung lebaran, kita angkat sedikit. Biar kita masuk sorga”

Saya tertawa mendengar canda mereka, “Muji aja pake ngitung segala. Haha”

Jumari mendudukkan Ravi di sampingnya, “Anak sekarang, Jack. Nggak kayak jaman kita dulu”

Lagi-lagi saya ketawa, “Jum, lo ati-ati ah men kalo ngomong mulai pake kalimat ‘anak sekarang’. Itu tandanya lu udah mau uzur, men. Hahaha. Yaa anak sekarang beda ama jaman kita. Teknologinya beda, budayanya beda, maka outputnya juga beda”

“Bukan itu maksud gua, Jack. Kalo itu mah gua juga tau. Maksud gua gini. Lu tau lah kita bukan orang kaya. Orangtua kita juga mah kan idup seadanya. Tapi kita sih pan dulu mao kaya. Trus usaha. Anak sekarang gawat, Jack. Kalo masalah miskin, semua orang Cilincing miskinnya sih masih sama ama dulu. Lebih miskin malah. Tapi anak sekarang ini, udah susah banget begeraknya”

Jumari cerita tentang pembangunan pelabuhan peti kemas Cilincing baru yang menghancurkan rumah-rumah warga. Sebab rumah warga miskin katanya tidak layak huni. Bikin rusak kesehatan. Tapi kalau memang tidak menyehatkan, kok digusur? Bukannya disehatkan?

Jumari cerita tentang laut Cilincing yang semakin hari semakin ditimbun minyak buangan bekas solar nelayan miskin yang rendah pendidikannya dan bahkan tidak menyadari persoalan lingkungan.

Jumari cerita tentang anak-anak perempuan yang kami ketahui dulu masih bau kencur kini jadi pelacur-pelacur desa yang datang ke perbatasan Cilincing sejak beberapa raksasa multinasional ternyata menemukan fakta bahwa ada cadangan minyak di sana serta mendirikan semacam kilang.

Jumari cerita tentang bahwa kini sudah tidak ada lagi kambing dan sapi berkeliaran di jalan raya. Sebab lahan beternak sudah habis. Danau digusur. Hutan bakau menghilang. Banjir menghadang. Dimana-mana raja-raja kecil baru bermunculan minta upeti. Selalu saja ada ikan yang lebih besar. Dan dalam rantai makanan, warga kecil miskin lemah lah yang selalu jadi korban. “Kita tumbangin satu Soeharto besar, kini muncul lebih dari seribu Soeharto-soeharto kecil”, katanya lesu sambil mengusap kepala Ravi.

Ia mengajak duduk di teras rumah sambil berkata lagi, “Dulu kalo ngerampok, ditangkep aparat. Sekarang, aparat yang ngerampok. Siapa yang nangkep kalo duit rampokan dibagi rata antar para perampok yang ternyata punya kuasa?”

Saya tidak bisa membantahnya. Saya ingat beberapa hari yang lalu ketika beberapa orang teman kerja dari Italia yang pernah mengunjungi Jakarta bertanya keheranan, “Mengapa Jakarta dengan penduduk luar biasa banyak, tapi angka kriminalitas rendah dibanding kota megapolitan dunia lainnya?”. Saya jawab lesu, “Sebab semua preman nya saling bagi jatah wilayah rampokan dan hasilnya. Mulai dari gerombolan fasis berjubah relijius, gang anak kampung bekas wilayah jajahan RI yang dibeking oknum militer atau polisi, bahkan hingga bos-bos aparat itu sendiri. Semuanya bagi-bagi jatah. Jadi yaa di jalanan kriminalitas rendah. Tapi dibalik itu, pencurian uang dan fasilitas rakyat amat tinggi”.

Iya, saya tidak bisa membantah Jumari. Anak Cilincing, sesial-sialnya terpaksa jadi rampok. Paling jadi rampok ojek. Hina banget itu. Jadi rampok kok ngerampoknya ke orang susah? Tapi ngapain juga ngerampok ojek kalau kredit motor sudah sedemikian mudahnya? Dulu orang beli motor tadahan, gara-gara murah. Di bawah harga standar. Sekarang, beli motor curian, resikonya tinggi. Polisi semakin hari semakin canggih. Belum lagi kepercayaan lokal yang menganggap beli motor maling bisa bikin sial.

Saya sedih. Tidak tahu harus bilang apa lagi.

Di luar rumah Ibu, anak-anak yang dulu saya tinggal masih SD dan ceria sekali bermain bola, kini beranjak dewasa. Duduk luntang-lantung  di Poskamling yang sudah sedemikian tidak terawatnya. Tampak menatap nanar orang-orang yang lalu lalang di jalan raya. Hari itu siang. Mereka tidak sekolah tidak pula bekerja.

Menurut rumor lokal, hanya si miskin yang luar biasa cerdas kini bisa lanjut ke perguruan tinggi untuk dapat beasiswa. Bagi yang otaknya rata-rata, sekolah itu mimpi. Bagi yang otaknya rata-rata, kecil sekali kemungkinan untuk maju. Anak Cilincing, sama seperti anak-anak Indonesia lainnya. Ditambah gizi buruk dan lingkungan kumuh, belum tentu otaknya jadi rata-rata. Ahhh…

Ia gendong lagi Ravi sambil terus berkata, “Lo liat tuh Jack. Bentar lagi malem, tuh anak -anak yang nongkrong di Poskamling juga paling mabok, maen gitar, terus bacok-bacokan. Paling-paling ngebacok temennya atau orang lewat. Marah ama idup tapi nggak tau mau marah ke siapa”

Sejak saat itu, setiap melihat ada anak muda yang berwajah letih nongkrong di pinggir jalan menatap nanar hingar bingar manusia dan seakan tidak tahu harus berbuat apa-apa, saya selalu merasa tidak bangga pada diri saya. Entah kenapa.

Tapi, mereka selalu mengingatkan saya pada Jumari.