Published on
May 25, 2010 in
2010, architecture, beach, cilincing, color, indonesia, landscape, pantai, pelabuhan, sore and transportation.

Kata Pak RT, warganya payah. Buang sampah sembarangan. Padahal kami sedang duduk bersama beliau di salah satu warung warganya yang terletak di ujung muara Sungai Tiram. Salah satu sungai di Cilincing yang memisahkan Jakarta dengan Jawa Barat. Muara ini jadi tempat yang seru. Pelabuhan kapal tongkang, cafe dangdut dengan pelacur dari pantai utara Jawa, orang-orang bugis nelayan pemberani pengumpul ikan asin, tuan tanah betawi yang bangga dengan Masjid historis Al-Alam dan Rumah Pitung hingga realita bahwa setiap tahun air pasang banjir naik makin tinggi saja di rumah-rumah penduduk sekitar muara.
Related Posts:

Sunset on Marunda Beach Cilincing, North Jakarta.
Related Posts:

Si Pitung adalah Robin Hood dari Betawi itu legenda. Namanya legenda, bisa jadi benar adanya… Atau malah sebaliknya. Namun apapun legendanya, di balik legenda itu, ada sebuah rumah yang diyakini sebagai rumah Si Pitung yang masih tersisa di Marunda Cilincing sana. Di depan pintu, saya dan Odoy bertemu Wa Ucup, kakak Ibu tertua. Sedang naik sepeda bersama teman-temannya. Setiap sore, saya dan teman-teman bersepeda ke sini. Katanya mengunjungi warisan sang legenda sambil berolahraga.
Related Posts:

My friend, Odoy ask me once why on earth I would like to take a picture goats on the Cilincing street while they’re eating the thrash. Well I said it’s easy, because you won’t have it in another parts of Jakarta.
Related Posts:

Susah sekali membayangkan bahwa dulu ini pantai dimana anak-anak bermain dengan bebas gembira sambil memanjat dan menjaring udang di antara pepohonan bakau. Ombak makin hari makin ganas, kata pelaut lokal. Agar tidak makin erosi, pemerintah membangun dam. Bisa jadi sebagai sarana agar kapal-kapal lebih mudah berlabuh dan industri menjadi berdenyut kembali di desa kecil ini. Bagaikan lampu, desa berkembang selalu menarik warga-warga lain sekitarnya untuk ikut mencicipi ‘kebahagian pembangunan’. Salah satunya, mendirikan rumah-rumah makan dadakan dari bambu dan kayu seadanya. Menjual produk makanan laut. Entah apa rasanya, saya tidak berani mencobanya. Bisa jadi gara-gara sok tahu kalau perut saya yang juga sok sensitif ini sudah tidak bisa lagi dimasuki ikan dari laut yang berwarna hitam akibat oli yang dibuang sembarangan dari kapal maupun warung di muara dekat pantai ini.
Related Posts:
Published on
May 18, 2010 in
2010, activity, beach, cilincing, color, foods, indonesia, marunda, model, pantai and sore.

“Lumayan deh, dek”, jawabnya ketika kami suatu pagi bertanya apakah kalau mancing di danau (yang disebut sebagai ‘empang’ oleh orang Cilincing) ini mendapat banyak ikan.
Sore itu, kami kembali lagi. Pemancing itu sudah tidak lagi di posisinya semula. Ikan yang ia dapat di danau yang dulunya lahan mangrove dekat laut Cilincing ini, hanya dua ekor selebar satu telapak tangan.
“Dulu mah, waktu masih banyak puunan di sini ikannya juga banyak, dek. Yaah namanya rejeki sih yah. Nggak ada yang tau”, jawabnya ketika kami tanya mengapa hanya dapat dua ekor ikan saja.
(*puunan = pepohonan bakau atau hutan mangrove*)
Related Posts:

Waktu kecil, ibu sering bertanya “Kamu dari laut?” dan saya hanya diam menjawabnya. Ibu mengambil lengan saya, dicium dan lalu dijilatnya. Kalau asin dan bau laut, tanpa disangsikan lagi, Ibu akan bertanya pertanyaan tambahan “Kamu tadi masuk sekolah ga?”. Sebab saya memang biasanya bolos sekolah dan seharian ada di laut untuk bermain.
Saat itu, laut Cilincing masih penuh dengan pantai dan hutan bakau. Kini, anak itu tidak punya hal yang sama. Pantai sudah tergerus di ganti dam penahan ombak. Bakau sudah hancur diratakan demi pembangunan. Yang ada, hanya beberapa utas bambu pengait sampan nelayan.
Walaupun air laut pun sudah lebih hitam dan berbau sampah, namun ia pesonanya mungkin tetap sama di mata anak-anak pesisir pantai.
Related Posts:

I was walking along Cimaja beach. There are few children playing soccer on the other side of the beach. It was 7 o’clock in the morning and the wave is already well enough to ride on. Blue sky, 27°C sea temperature, beach break, sunny day, delicious coconuts are completely the best ways to start a day.
Related Posts:

Sore itu Bina bertanya dimana saya akan menginap. Saya bilang bahwa Bobby merekomendasikan penginapan Flamboyan dekat Karang Papak. Penginapan itu murah dan bersih. Hanya perlu membayar seratus ribu rupiah permalam untuk tidur. Bina bilang, lebih baik menginap saja dirumahnya. Orangtuanya pun amat ramah. Malam itu kami makan bancakan, ramai-ramai bersama keluarga memakan nasi di atas daun pisang dengan lauk ayam bumbu kuning dan terong bulat. Malam itu saya tertidur lelap sekali. Ketika bangun pagi, ini pemandangan di luar jendela.
Related Posts: