Archive for the 'cerita_kerja' Category

Operasi Payudara

Beberapa hari lalu saya mengobrol dengan putri saya Novi Kirana yang baru saja menginjak usia tiga tahun. Seperti biasa, kalau mengobrol posisi kami memang agak aneh. Sejak ia bayi, kami memang suka mengobrol serius ketika saya sit-up atau push-up. Kalau saya sit-up, ia duduk di atas kaki atau perut saya. Kalau saya push-up, ia duduk di atas punggung saya.

Kali itu, saya sedang melakukan beberapa sit-up. Ia keluar dari tepee, tenda Indian yang saya buat untuknya yang berdiri pas di ruang tengah rumah. Langsung duduk di atas perut saya. Tanpa tedeng aling-aling langsung bertanya, “Papa, kenapa dada kamu kecil?”

Dalam hati saya melengos, ‘Yaelah bocah, udah tau badan bapaknya segini-gini aja. Walopun udah olahraga segimanapun juga emang badan ini yah segini doangan. Pake ditanya-tanya segala’

Dan karena sudah ngos-ngosan saya jawab santai, “Karena papa anak laki-laki, sayang. Anak laki-laki kebanyakan nggak punya dada besar. Kalau anak perempuan punya dada lebih besar daripada anak laki-laki”

Dia buka kausnya. Dia lihat ke arah dadanya sendiri. “Kenapa dada saya sama seperti dada papa?”

Saya jawab, “Karena kamu anak papa, Cintaku”

“Tapi kan saya anak perempuan?”

“Iya, nanti juga kalau sudah besar dada kamu tambah besar”

“Kalau papa besar dada papa juga tambah besar?”

Saya bengong. Buset dah, anak kecil pertanyaannya memang ajaib kok yaa? Saya berhenti sit-up. Tapi matanya kecewa. Maka itu, saya sit-up lagi (*padahal sumpah saya sudah hampir kehabisan nafas. Tapi demi anak, ya sudah lah tambah satu set lagi*).

Sambil terengah-engah saya jawab, “Kalau berat papa tambah dada papa juga tambah besar nanti”

Mulutnya merocos dengan alis berkerut, itu tandanya dia sedang protes. “Tapi saya kan sudah besar! Saya sudah tiga tahun! Saya anak perempuan besar!”

Dengan lembut saya mengusap rambutnya yang makin panjang melewati dahi, “Iya kamu sudah besar. Tapi akan ada saat dimana semua anak perempuan akan lebih besar dadanya. Lebih panjang rambutnya. Lebih besar pinggulnya dan makin mengerti bahwa tubuh mereka berubah”

“Umur saya tiga tahun. Papa lebih besar daripada saya. Dada papa kecil. Umur papa empat tahun?”

Sambil cengar-cengir saya jawab, “Yaa nggak jauh beda lah kita. Papa juga masih muda kok”

Dia ke dapur. Saya bangun dari posisi sit-up sambil melakukan gerakan peregangan istirahat pada pinggul dan tangan. Saya lihat ia buka lemari pendingin mencari minuman es jeruk kesukaannya. Saya kira, obrolan siang itu selesai sudah. Namun dari balik pintu lemari pendingin ia bertanya lagi, “Kenapa dada papa kecil?”

Saya cuma diam, cengar-cengir sambil garuk-garuk kepala. Itu tandanya, percakapan ini masih akan berlangsung lama. Dan saya harus lebih banyak berolahraga akibatnya.

Saya ikut ke dapur, menyeruput es teh manis. Setelah itu saya ambil nafas sebentar lalu mulai posisi push-up dan bertanya kepadanya agar duduk di atas punggung saya.

Sambil menghisap isi botol es jeruknya dengan sedotan, ia patuh duduk di atas punggung. Dan mulailah saya bercerita.

“Dulu papa minta sama Pak Ali bos papa, supaya papa sekolah lagi. Tapi Pak Ali bilang papa sudah terlalu banyak sekolah. Pak Ali bilang papa harusnya mengajar saja. Papa kecewa”

“Terus kamu marah, papa?”

“Marah sih nggak. Tapi papa sedih. Tapi papa nggak bisa sedih, karena bos papa bilang lebih baik ilmu papa dibagi sama orang jadi papa pikir ia benar. Kalau papa sekolah lagi ilmunya buat papa sendiri saja. Tapi kalau papa mengajar ilmunya kan bisa buat  papa dan buat banyak orang. Jadi papa mengajar deh. Salah satu mahasiswi papa namanya Mel. Kamu kenal Mel? Dulu kan pernah papa kenalkan”

Lalu saya tertawa mendengar jawabannya, “Dulu kan saya masih kecil papa. Kamu jangan mengharapkan saya ingat dengan banyak teman kamu dong?”

Saya semakin terbahak-bahak ketika ia turun dari punggung, mencabut sedotan dari botol es jeruk dan memperlihatkan ke depan mata saya. “Waktu itu pasti saya lebih kecil dari ini!”

Setelah ia naik lagi ke punggung, saya melanjutkan cerita. “Mel itu mamanya Georgie dan Anne. Mereka berdua waktu masih bayi, menyusu pada Mel. Sama seperti kamu juga dulu menyusu pada mama. Cintaku Novi, kalau perempuan menyusui bayi biasanya dadanya tambah besar. Karena ada susu di sana. Sama seperti dada Mel. Tapi sayangnya ketika Georgie dan Anne sudah tidak menyusu lagi, dada Mel masih tetap besar sekali”

Ia diam. Saya juga tidak dengar suara botol es jeruknya. Tanda kalau ia sedang amat mendengar cerita dengan penuh konsentrasi.

“Punggung Mel jadi sakit. Kalau jalan susah. Sebab dadanya besar sekali”

“Kalau begitu, kenapa Georgie dan Anne tidak menyusu saja terus?”

“Sayang, kalau anak sudah besar biasanya mereka berhenti menyusu sama mamanya. Georgie sudah sepuluh tahun, Anne juga sudah delapan tahun. Jadi mereka sudah tidak menyusu lagi sama mamanya”

“Mel sakit?”

“Iya kasihan Mel. Kalau jalan susah. Kalau duduk susah. Karena dadanya terlalu besar. Jadi ia ke dokter. Ke rumah sakit. Dada Mel harus dikecilkan. Jadi waktu di rumah sakit dada Mel dikecilkan”

“Bagaimana dikecilkan dadanya? Diambil susunya untuk rumah sakit?”

Saya tertegun berhenti push-up sebentar. “Wah kalau itu papa juga nggak tahu sayang. Yang pasti beberapa bulan kemudian Mel kembali ke kelas papa. Dan dadanya sudah lebih kecil daripada dulu. Kamu tahu cintaku, ternyata ia sekarang jauh lebih bahagia punya dada kecil ketimbang punya dada besar”

Novi Kirana diam. Saya tahu, logika dalam cerita yang telah saya ceritakan masuk ke dalam benaknya. (*Itu artinya; saya sudah boleh berhenti push-up. Hehe*). Ia lalu turun dari punggung. Saya duduk dihadapannya. Sambil masih memegang botol es jeruk lalu duduk diatas pangkuan saya.

Sambil memangkunya saya bilang, “Anakku sayang, papa cinta kamu. Super cinta kamu. Papa tahu kamu cinta papa. Tapi yang lebih penting lagi, kamu harus mencintai diri kamu sendiri”

Dia berdiri, berbalik lalu memberikan kecupan di hidung saya. Sambil memeluk ia berbisik di kuping saya, “Saya cinta kamu papa. Walaupun dada kamu kecil walaupun dada saya kecil”

Tiba-tiba, saya merasa jadi lelaki berdada kecil yang paling bahagia di muka bumi ini.


Tukang Cak

Masa sekolah dulu, boleh dibilang saya sama sekali tidak memiliki prestasi yang memadai. Nilai saya untuk semua mata pelajaran adalah rata-rata. Sementara yang ada dalam kategori di bawah rata-rata, jelas semua mata pelajaran yang berbau norma moral dan agama. Entah kenapa segala sesuatu yang berhubungan dengan norma moral dan agama, nilai saya selalu merah.

Satu mata pelajaran yang nilainya di atas rata-rata, mungkin hanya matematika. Dan itu pun tidak semua matematika, sebab saya hanya menyukai cabang keilmuan matematika yang bernama teori kemungkinan (probability theory).

Mengapa saya menyukai teori kemungkinan dalam matematika? Sebelum saya jawab ini, ada baiknya jika saya menerangkan apa itu teori kemungkinan dalam matematika.

Menurut kamus, teori kemungkinan dalam matematika adalah;

Cabang matematika yang bersangkutan dengan analisis fenomena acak. Objek utama dari teori kemungkinan adalah variabel-variabel yang terlihat acak atau kejadian-kejadian tertentu. Peristiwa matematis dapat dengan jelas terlihat dalam kejadian yang berkembang dari waktu ke waktu dalam mode yang tampaknya acak. Misalnya jika seseorang melemparkan koin atau dadu dianggap peristiwa acak, maka jika ia berulangkali mengulangi urutan kejadian acak tersebut maka akan menunjukkan pola-pola tertentu, yang dapat dipelajari dan diprediksi. Teori kemungkinan adalah dasar statistik. Ia berlaku untuk deskripsi sistem yang kompleks seperti misalnya digunakannya pada mekanika statistik untuk menjelaskan banyak hal

Waktu pertama kali Bu Atu (pengajar matematika teori kemungkinan) menjelaskan hal ini, saya langsung konsentrasi. Di otak saya hanya dua kata kunci yang tertangkap. Satu ‘dadu’. Satu lagi bagian ‘menjelaskan banyak hal’.

Gila! Gua bisa kaya kalo begini. Itu satu-satunya hal yang ada di otak saya. Bagaimana tidak, judi yang selama ini saya anggap misteri, ternyata bisa dipecahkan dengan matematika!

Waktu zaman saya belajar teori ini, Indonesia sedang keranjingan judi namanya Togel. Singkatan dari Toto Gelap. Judi Toto sendiri katanya datang dari Malaysia/Singapura. Entah saya tidak tahu pastinya, yang pasti di di kampung saya Cilincing manusia berlomba-lomba pergi ke bandar setiap malam untuk bertaruh pada sepasang angka (atau lebih) pada beberapa carik kertas yang disediakan bandar judi lokal. Ada embel-embel gelap, yaa karena memang bukan resmi binaan pemerintah.

Warga keranjingan Togel. Murah sih, seribu lima ratus rupiah sudah dapat bertaruh untuk dua angka. Kalau menang, bisa dapat puluhan kali lipatnya. Mulai dari tukang becak hingga bos kapal nelayan, semuanya hobi pasang judi togel.

Togel lalu jadi epidemi. Di poskamling tempat warga berkumpul, pasti selalu ada sebuah kertas berukuran A4 fotokopi yang isinya adalah gambar-gambar binatang atau benda yang tertera dalam kotak-kotak kecil. Di bawah icon-icon tersebut ada angka, biasanya dua huruf. Ketika akhirnya sudah jadi wabah, bahkan tiang listrik pun ditempeli oleh kertas-kertas tersebut. Yang pasti, kampung saya berubah bagaikan masa pemilihan lurah. Dimana-mana ada kertas promosi. Isinya icon dan angka.

Apa sebenarnya isi kertas fotokopi tersebut? Sederhana. Katanya itu penafsir mimpi. Kalau suatu malam Anda bermimpi diterkam macan, lihat saja kertas itu. Pada icon macan dibawahnya tertera angka 15. Maka pergilah ke bandar, pasang angka 15 sambil berharap mimpi Anda jadi kenyataan. Lalu lantas jika suatu hari bermimpi bertemu ular di sungai, maka pasanglah angka 23. Jangan 32, sebab itu artinya ular laut, bukan ular yang hidup di air tawar.

Mengapa warga kampung saya sudah sedemikian percayanya pada mimpi?

Ketika kemiskinan sudah menjerat, keadilan sosial hanyalah angan-angan, siapa lagi yang bisa dipercayai selain mimpi. Maka itu, jauh lebih banyak para penggila judi Togel adalah para nelayan kecil hingga tukang becak ketimbang para bos kapal. Buat mereka, hanya mimpi yang dimiliki dan satu-satunya yang murah yang bisa terbeli.

Lalu, apakah saya jadi tergila-gila dengan judi togel pula sebagaimana warga kampung lainnya?

Tunggu dulu ahh. Cerita saya belum sampai ke sana. Mari kita balik lagi ke soal mimpi. Masih ingat cerita di atas bahwa warga mengandalkan taruhan mereka pada mimpi. Secara literal, benar-benar mimpi. Artinya mereka tidur dulu untuk mendapatkan mimpi yang lalu ditukar secarik kertas demi mendapatkan mimpi baru.

Jadi begini, jika seorang warga (mari kita sebut saja si Fulan) bermimpi bertemu lantas diterkam macan, maka ia dengan tidak segan-segan memasang angka 15 pada taruhannya. Tapi bagaimana kalau pada sebuah siang di Cilincing yang panas ia bermimpi bertemu macan di tikungan, lantas dikejar singa hingga pematang lalu ditelanjangi ular di sawah hingga setelahnya diperkosa ramai-ramai oleh gajah? Angka apa yang harus ia pasang?

Nah ini lah gunanya saya (dan gunanya teori kemungkinan). Yang pasti saya tidak akan menjelaskan disini betapa dengan ugal-ugalannya saya menggabungkan teori kemungkinan dan analisa Freud dalam mengubah mimpi para manusia malang itu menjadi angka kongkrit yang mereka pasang sebelum masa pengundian tiap malam tiba.

Saat ini, mungkin jabatan yang saya pegang bisa disebut setara dengan kalimat ‘penasihat spiritual’. Zaman itu, nama saya disebut dengan panggilan ‘tukang cak’, orang yang melihat angka-angka acak. Padahal sebenarnya, dalam zaman apapun saya pikir sebutan untuk saya saya adalah manusia yang keterlaluan menyedihkan yang mencoba mengambil keuntungan dari para manusia malang.

Setiap konsultasi, saya dibayar seribu rupiah. Lumayan. Jika sehari ada sepuluh pelanggan, then you do the math. Zaman itu, dengan uang hasil konsultasi saya bisa beli rokok sebungkus, mie instan pakai telor bahkan berbotol-botol coca-cola. Lambang pergaulan anak muda. Jadi, saat itu kebahagiaan saya berdiri di atas jemari para nelayan dan tukang becak miskin yang terus bermimpi. Sungguh mengenaskan.

Eh apakah sudah saya bilang kalau nilai moral dan reliji saya rendah? Kalau sudah, Anda mungkin bisa mahfum manusia macam apa saya itu. Sebab selama saya bisa mengkalkulasi semua angka dan kemungkinan, saat itu saya akan tetap jalan terus. Menyenangkan.

Iya, saya jalan terus. Selama karir saya sebagai tukang cak, padahal hanya tiga kali saja bisa menebak benar. Artinya sederhana, teori kemungkinan yang saya agung-agungkan ternyata tidak bisa mengalahkan judi togel. Pola angka yang saya bangun, tidak terbukti sukses. Kalau setiap malam ada dua puluh pelanggan dan dalam sebulan hanya mampu menebak tiga taruhan dalam empat digit yang benar, maka perbandingan analisa acak saya boleh dibilang sama sekali tidak berhasil.

Tapi apa lantas para nelayan dan buruh pabrik tekstil kecil itu percaya walaupun perhitungan matematis saya gagal namun saya bukan tukang cak? Hohoho… Tidak. Sama sekali tidak. Mereka tetap percaya kalau saya mampu mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Kepada siapa lagi mereka bisa berharap. Mimpi mereka untuk hidup layak sebagai manusia normal sudah binasa. Maka jika mereka masih punya mimpi diatas mimpi, yaa harus dijaga. Maka itu saya tetap eksis.

Mereka percaya kalau saya ‘sakti’. Dan sebagai orang sakti tentu saya punya previlige khusus. Mirip ambtenaar atau keturunan darah biru pada masa kolonisasi dahulu. Jadi ketika perhitungan saya salah, tentu saja mereka menyalahkan diri sendiri dengan kalimat, “Ahh emang udah gini kali nasib gua malem ini”. Sama sekali tidak pernah menyalahkan saya. Sebab besok malam kami akan berkumpul kembali di poskamling untuk sibuk menganalisa mimpi dan menebak angka. Tentu saja dengan sukarela uang seribu rupiah berpindah tangan setelahnya.

Suatu hari di poskamling, sudah bisa ditebak. Ada yang bertanya, “Kenapa lu ga masang?” pada saya.

Saya jawab, “Ilmu gua luntur nanti”

Seorang bapak-bapak yang mengepulkan asap rokok kreteknya duduk berselonjor ke dinding pos. Baru pulang dari laut. Masih bau amis, bertanya lanjut “Emang belajar di mana dulu gituan”

Saya jawab sekenanya, “Pak Ramli pan tau ndiri, engkong aye orang Banten. Kalo liburan sekolah aye mah ke sono, Pak. Ngelmu. Di sono di Kasemen. Deket mesjid agung. Ini ilmu putih, Pak. Dapetnya aja dari kiyai”

Mendengar itu, biasanya warga kampung saya jauh lebih percaya daripada alasan-alasan lainnya. Ketika hidup sudah tidak lagi logis, rasionalitas bukan sebuah jawaban yang layak terdengar. Apalagi kalau sudah bawa-bawa simbol agama. Seakan jawaban apapun yang tersampaikan sudah direstui oleh langit. Dukungan pembenaran atas mimpi mereka.

Saya malas menjawab kalau saya lebih percaya upaya dagang dengan transaksi jual beli jauh lebih signifikan menguntungkan daripada judi. Pertama, akibat desakan ekonomi sehari-hari mereka biasanya sudah mulai mual duluan apabila mendengar kata ‘modal’. Kedua, saya sering adu argumen yang berakhir absurd ketika mereka menjawab, “dagang kan urat. Cuman yang punya urat dagang doangan bisa dagang”. Ketiga, sebab beberapa orang menganggap bisnis itu tidak lebih dari judi dalam bentuk lain. Keempat dan sekaligus yang terakhir, saya pernah memicu perkelahian karena bilang, “Judi itu ibarat kata naek haji. Buat nyang mampu aja lah. Orang susah ngapain pake judi segala!”

Jadi, maka itu saya lebih memilih menjawab sekenanya.

Namun jawaban sekenanya itu tentu saja tidak berlaku di depan muka Ibu saya yang curiga anaknya sudah berbulan-bulan tidak minta uang jajan. Dan cerita ini pun akhirnya berakhir dengan anti klimaks. Seorang anak yang masih tinggal di rumah orangtua, tidak sanggup melawan meneruskan bisnis di area perjudian demi menjaga nama baik keluarga.

Saya berhenti jadi tukang cak. Profesi yang rendah dimata para agamawan karena membantu suburnya industri judi. Sekaligus profesi yang hina di mata moralis, karena sama sekali tidak etis ikut menghisap darah para manusia yang berada dalam jaringan rantai makanan paling rendah.

Tidak lama setelah saya berhenti, pemerintah dan para cendikiawan agamis memaklumkan perang terhadap judi togel. Tiap malam di kampung kami ada razia polisi. Bandar yang kebetulan buka lapak, disergap dan ‘dibina’. Para nelayan dan buruh kecil tidak lagi duduk bersandar di poskamling menanti semilir angin laut yang membawa kantuk mereka mendulang mimpi. Semua orang takut berhubungan dengan judi togel. Di koran-koran muncul fatwa bahwa togel lebih menakutkan daripada HIV.

Semua orang bekerja. Perjudian dimusnahkan.

Setelah judi musnah, pajak televisi kok yaa jadi murah. Dimana-mana warga ramai-ramai memborong televisi. Ada yang ditaruh di ruang tamu jadi pelengkap perabotan pajangan. Ada yang ditempatkan di ruang makan, seakan bagian dari lauk pauk. Ada yang ditaruh di kamar tidur, mungkin untuk jadi saksi ketika mereka melakukan adegan reproduksi.

Dimana-mana orang punya televisi.

Ketika televisi jadi budaya baru, muncul serial-serial yang tiba-tiba membuat ibu-ibu jadi pecandu. Lalu menular ke anak-anak mereka. Lalu tentu saja para suami mulai ikut-ikutan.

Bedanya dengan judi togel, kini dapur jauh lebih ngebul. Uang yang biasanya dihamburkan para bapak di secarik kertas berisi angka, kini bisa untuk beli makanan dan seragam sekolah anak. Ibu-ibu mulai bisa bersolek. Sales keliling menjajakan kosmetik. Tentu saja biar cantik. Biar mirip bintang yang mereka lihat di televisi. Gaya bicara pun mulai berubah, anak-anak SD bahkan pernah teriak kalimat “Oooh tidaak!!” ketika melihat temannya jatuh dari sepeda. Meniru gaya bicara para artis sinetron. Bapak-bapak mulai bermimpi bisa naik mobil dan bahkan memiliki kendaraan roda empat. Sebab itulah tipikal bapak ideal yang mereka lihat di televisi.

Iya, televisi membuat perbedaan.

Sungguh beda dengan ketika judi togel masih ada.

Sebagaimana teori kemungkinan, jika ada perbedaan maka pasti ada persamaan. Loh apa persamaannya antara televisi dan judi togel?

(*Empat paragraf sisa dipotong. Selain kepanjangan isinya kelihatan seakan saya mau menceramahi para pembaca budiman yang cerdas dan sudah tahu jawabannya apa. Ahh memang saya siapa sok-sokan mau menceramahi warga kampung. Saya kan cuma tukang cak yang kehabisan ladang garapan*)


Istirahat

Karena menjelang akhir minggu, saya mau cerita yang sederhana saja lah hari ini.

Beberapa hari lalu, saya mengantuk sekali. Tidur kurang. Maksudnya tidur kurang, yaitu kurang dari 12 jam perhari. Iya, saya memang sedang banyak-banyaknya tidur akhir-akhir ini. Biar saja lah. Nikmati saja selagi bisa.

Karena mengantuk, di pabrik saya ditegur teman-teman. Kok yaa mulut tak berhenti menguap terus. “Udah kamu pulang aja gih sana, istirahat. Parah sekali muka kamu itu. Capek yaah?”

Saya mengangguk. Sambil menguap, berjalan pulang menuju stasiun kereta api. Pabrik saya memang di sebelah stasiun kereta api. Tidak jauh. Paling jalan kaki hanya sekitar satu menit.

Di kereta api, saya sudah tidak tahan. Untung dapat tempat duduk. Akhirnya menyenderkan kepala ke jendela. Tidur. Saya sudah lupa stasiun apa yang saya lewati, tapi biasanya setelah stasiun yang ada di bandara, saya harus siaga. Sebab sebentar lagi saya harus turun. Tapi saya sumpah mati tidak bisa siaga. Sudah mengantuk sekali euy.

Dalam suasana setengah sadar, saya dengar setiap pemberhentian kondektur menegaskan ke penumpang bahwa kami ada di stasiun anu dan akan menuju stasiun berikutnya. Wah, itu sudah bagaikan mimpi. Saya bisa dengar, tapi tidak tahu harus bagaimana.

Untungnya saya berhasil juga turun di stasiun yang harus saya turuni. Keluar pintu kereta sambil ucek-ucek mata. Masih mengantuk. Tunggu bis kota sebentar enaknya bisa menyegarkan mata. Maklum sudah musim semi. Dimana-mana banyak bunga.

Namun ketika bis kota tiba dan dapatlah saya tempat duduk di pojok, lupa pula saya musim semi dan bunga. Saya tidur lagi. Tepatnya ketiduran. Saya pikir, ahh gampang lah. Hanya empat halte dari stasiun, merem dikit kan sah saja.

Iya sah memang. Tapi begitu saya membuka mata, sumpah mati saya mendelik. Loh, ternyata saya kebablasan tidurnya. Bangun-bangun, entah saya ada di mana, kiri kanan benar-benar lahan kosong luas gundul. Waktu itu saya kaget, saya pikir “Wah kok di daerah tandus gini, jangan-jangan gua kesasar di Kalimantan?”

Bis kota berhenti. Pak supir yang tinggi besar berjanggut berjalan ke arah saya dari ruang kemudinya, “Kamu mau kemana? Nggak ada halte lagi”

Saya bengong, ‘Wah Pak, saya ketiduran. Rumah saya nggak jauh dari stasiun. Kok saya bisa sampai di sini? Puterin lagi dong bisnya Pak?“

Dia ketawa, “Yaa nggak bisa. Kamu harus naik bis lain yang ke arah stasiun. Tapi nanti, masih lama. Kalau kamu naik bis yang merah itu, kami ke bandara, dari sana ke stasiun yang kamu tuju. Lebih dekat. Kamu sadar nggak kamu udah tidur kira-kira ampir sejam?”

Saya cengar-cengir. Malu. Hehe. Habis mau bagimana lagi?

Akhirnya saya menaiki bis yang si Pak Sopir maksud. Nah bis ini pergi memang tidak lama kemudian. Begitu saya meletakkan bokong di kursi, semenit kemudian langsung jalan. Tujuan saya, bandara. Sebab dari sana bisa naik kereta lagi ke arah stasiun dekat rumah.

Saking tegangnya melihat kiri kanan daerah yang belum pernah saya lihat sebelumnya, saya capek lagi. Dan saking capeknya, tentu saja bisa ditebak… Saya ketiduran lagi.

Saya akhirnya bangun, setelah dicolek bahunya oleh Bu Supir (supirnya ibu-ibu ternyata). “Kamu mau kemana? Sudah halte terakhir nih. Ini bis mau masuk pool”

Ini pertanyaan kedua yang saya jawab hari ini. Saya jawab dengan memelas, “Mau pulang, Bu”

“Rumah kamu di mana?” (*Entah kenapa, saya tiba-tiba merasa seperti anak kecil yang hilang di Mall lalu tengah ditanya Satpam*)

Ketika saya jawab dimana lokasi rumah saya dan kenapa saya bisa sampai di bis itu, si Ibu Supir senyum-senyum, “Kamu sudah kejauhan turunnya”. Dia meneruskan sambil memberitahu bahwa dari tempat kami berada, saya harus naik kereta ke bandara. “Nggak jauh kok. Ke stasiun kereta hanya jalan sekitar satu menit saja dari sini”

Saya mengerenyit. Satu menit? Setelah mengucap terimakasih dan keluar pintu bis saya terbengong-bengong. Benar rupanya si Ibu Supir kalau stasiun hanya jalan kaki satu menit dari sini. Sebab di depan muka saya terpampang jelas-jelas pabrik tempat kerja sehari-hari yang saya tinggalkan dua jam lalu.

Dari lobby, seorang resepsionis keluar. “Loh bukannya tadi sudah pulang, ngapain masuk kerja lagi? Ada yang ketinggalan?”

Saya cengar-cengir. Tidak tahu harus jawab apa.

Yang pasti, saya tahu apa yang harus saya lakukan di akhir minggu ini. Istirahat. Mumpung masih dikasih kesempatan, yaa ada waktu dipakai istirahat.

Selamat berakhir pekan. Selamat istirahat :)


Apa Sebenarnya Diplomat dan Diplomasi

Secara singkat, diplomat adalah seseorang/institusi yang melakukan praktek dan seni diplomasi. Tapi apa sih sebenarnya diplomat dan praktek dan seni diplomasi?

Mari kita jelaskan secara sederhana dan runut.

1. Latar belakang diplomasi.

Praktek awal diplomasi yang paling terkenal mungkin adalah Surat Amarna yang terbuat dari lempengan batu. Surat ini dikirim oleh Firaun Akhenaten dinasti ke-18 di Mesir kepada kerajaan Kana’an (Saat ini mungkin adalah sekitar Israel, Palestina, Lebanon dan Syriah) pada abad ke XIV SM.

Surat yang ditulis dalam bahasa Akhadian (bahasa yang saat itu lazim digunakan dalam praktek perdagangan internasional pada masanya) menjelaskan kesepakatan perjanjian damai antara Dinasti Mesir dengan Dinasti Hittite yang menguasai Kana’an. Saling tidak menyerang dan menjaga praktek ekonomi warga antar dua negara tersebut berlangsung dengan baik dan semestinya.

Surat itu sukses. Setidaknya sejarah tidak pernah mencatat perang brutal caplok-mencaplok wilayah antara dua negara adidaya tersebut. Sejak saat itu, praktek diplomasi menyebar luas dari satu bangsa ke bangsa lain. Sebuah negara bisa tumbuh atau mati diantaranya adalah berdasar pada hubungan diplomasinya. Kadang kelangsungan sebuah rezim bisa terus berjalan jika praktek diplomasi tetap baik.

Contoh yang paling terkenal di Nusantara mengenai praktek diplomasi adalah penggabungan dua kerajaan besar antara Majapahit dan Champa atau Kamboja saat ini. Dimana Raja Brawijaya IV menikahkan anaknya dengan putri kerajaan Champa dan lalu memperluas wilayah kekuasaan mereka yang berpusat di Trowulan, Jawa Timur. Praktek diplomasi untuk memperluas kekuasaan dan kekuatan, diperoleh sang Raja dengan pola pernikahan antar dua penerus singgasana.

Masih banyak praktek dan seni diplomasi yang lain. Namun akan dijelaskan nanti dan mari kita lanjutkan ke poin berikutnya.

2. Diplomat Profesional

Sudah dijelaskan di atas bahwa diplomat adalah orang yang menjalankan praktek dan seni diplomasi. Jadi pertanyaannya, apakah setiap orang yang menjalankan praktek dan seni ini adalah seorang diplomat.

Jawabannya bisa iya dan tidak.

Iya, sebab siapapun atau apapun yang bisa berdiplomasi sudah bisa dikategorikan sebagai diplomat. Namun bisa tidak, sebab pada saat ini diplomasi lebih cenderung kepada praktek praktis hubungan bilateral antar dua negara atau institusi. Orang/badan yang menjalankan praktek diplomasi dalam profesi kesehariannya sudah layak dikategorikan sebagai diplomat profesional.

Tipe-tipe diplomat secara profesi:

  • Diplomat Kenegaraan: Adalah sebuah pekerjaan yang menuntut seseorang menjalankan tugas diplomasi sebuah negara dan menjalankan misinya di negara tempat ia ditugaskan. Biasanya pekerjaan ini ada di bawah lindungan departemen luar negeri atau sekertaris negara atau duta besar. Pekerjaannya biasanya penuh waktu.
  • Diplomat Usaha: Adalah sebuah pekerjaan yang menuntut seseorang memperlancar usaha atau bisnis yang dia emban. Dalam korporasi besar, diplomat jenis ini biasanya ada dalam divisi ekspansi bisnis (bisa marketing bisa pula business intelegent). Sama seperti diplomat kenegaraan, pekerjaan mereka biasanya penuh waktu.
  • Diplomat Dengan Alasan: Adalah sebuah kejadian yang menuntut seseorang atau sebuah badan menjadi diplomat. Contoh yang paling simpel mungkin adalah Pak/Bu RT jika di Indonesia. Meskipun bukan pekerjaan utamanya, namun beliau kadang mendapat tanggung-jawab menengahi perseteruan antar dua tetangga di kampungnya. Ketika beliau melerai dan mengatasi meluasnya efek perpecahan di lokasinya, maka ia segera mendamaikan kedua belah pihak. Praktek ini bisa pula disebut sebagai diplomasi.

Setiap orang bisa menjadi diplomat. Sebab setiap orang punya bakat menjalankan tugas diplomasi. Bahkan ketika kita sedang tawar-menawar di pasar saja, sebenarnya kita sedang menjalankan seni diplomasi. Namun agar lebih mudahnya, saat ini, mari kita bicara mengenai diplomat kenegaraan saja.

3. Apa itu diplomat kenegaraan dan apa tugasnya?

Secara mendasar, diplomat kenegaraan adalah seseorang yang bekerja dan menjalankan praktek diplomasi untuk negaranya.

Secara garis besar diplomat yang berpraktek diplomasi antar dua negara dibagi dalam beberapa kategori. Antara lain:

  • Bisnis: Dalam prakteknya, diplomat yang bertugas dalam atase bisnis menjamin keberlangsungan bisnis antar negaranya dengan negara tempat ia ditugaskan berjalan dengan baik. Ia ditugaskan melindungi dan melayani segenap asset-asset dagang negaranya di tempat ia ditugaskan. Memberi masukan kepada penentu kebijakan ekspor import. Dan yang lebih baik, adalah memahami bisnis lokal di tempat ia ditugaskan lalu memberi perspektif itu kepada bagian Kamar Dinas Perdagangan.
  • Keamanan dan Perdamaian: Di bagian ini, seorang diplomat memberi input pada negaranya agar tercipta keamanan dan perdamaian hubungan dua negara. Pada masa kekaisaran Ottoman, seorang diplomat adalah penjamin perdamaian. Jika kesepakatan damai antar dua negara pecah, biasanya si diplomat yang diwakili oleh duta besarnya lah yang akan dihukum terlebih dahulu. Saat ini diplomasi keamanan biasanya mewakili negoisasi mengenai penjualan/penyelundupan senjata, binatang, obat terlarang, manusia dan sebagainya.
  • Hubungan Publik (Public Relation): Ini adalah diplomat yang mewakili negara yang mengutusnya di negara lain. Ia menjadi ‘muka’ negara bersangkutan di negara tempat ia ditugaskan. Hubungannya luas antara lain adalah terhadap media, publik lokal dan juga publik negaranya yang kebetulan sedang ada di negara tempat ia ditugaskan. Ia juga yang biasanya menjadi mediasi antara dua belah negara yang sedang dalam keperluan.
  • Budaya: Diplomat atase budaya biasanya mewakili dan menjembatani pertukaran pengetahuan antara dua budaya. Yaitu budaya negaranya dan negara tempat ia ditugaskan. Dalam praktek diplomasi ini, kadang erat sekali hubungannya dengan bisnis pariwisata antar dua negara.
  • Kemanusiaan: Dalam kasus tertentu yang melibatkan hak asasi manusia, diplomat harus cepat tanggap mengatasi krisis. Misalnya adalah tentang pelarian politik, evakuasi korban atau pembelaan terhadap warga negaranya yang diadili di negara tempat ia ditugaskan. Biasanya diplomat bagian ini mengerti sekali hukum negara dimana ia ditugaskan dan juga program mitigasi bencana.

Apa syarat jadi diplomat kenegaraan? Yaa banyak. Diantaranya adalah:

  • Bersedia ditempatkan dimana saja.
  • Mengenal budaya lokal tempat ia ditugaskan dan memahami bahasa dengan baik.
  • Bersedia aktif dalam komunitas lokal maupun internasional tempat ia ditugaskan.
  • Memiliki kemampuan komunikasi yang baik.
  • Taktis dan diplomatis.
  • Memiliki keahlian pengorganisasian.
  • Mudah membangun jaring kenalan.
  • Ini yang paling penting: Selalu mencatat dan melaporkan hasil praktek dan seni diplomasinya kepada negara yang memberinya tugas dalam saluran khusus.

4. Bagaimana jika praktek diplomasi gagal?

Jawabnya gampang; yaitu jelas-jelas hubungan dua negara menjadi buruk. Paling parah, adalah perang. Menyengsarakan banyak manusia, binatang dan alam.

Namun jika praktek diplomasi baik, maka hubungan dua negara pun akan menjadi baik. Paling mudah melihat sukses tidaknya para diplomat adalah jika praktik diplomasi antar dua negara saling menguntungkan dan berjalan dengan grafik yang menaik setiap lima tahun.
(*Kenapa lima tahun? Sebab biasanya pergantian penguasa dan kebijakan di negara-negara berasas demokratis yang paling banyak dianut saat ini selalu berbeda setiap lima tahun*)

Statistik itu jelas bukan satu-satunya pengukur keberhasilan antar dua negara. Banyak faktor lain yang menjadi pengaruh keberhasilan hubungan antar dua negara, diantara misalnya adalah jika negara tempat diplomat bertugas adalah negara konflik (seperti Irak atau Afganistan misalnya).

Di daerah bencana seperti Libia atau Jepang, keberhasilan diplomasi bisa saja diukur dari cepat tidaknya para diplomat merespon keselamatan warganya untuk dievakuasi.

Sekarang kita ke bagian ke yang paling penting dalam tugas diplomasi, yaitu diplomat mengobservasi, riset dan lalu mencatat hasil sebelum dikirim ke penentu kebijakan di negara pengutusnya

Dalam semua persayaratan sebagai diplomat, terlihat bahwa keahlian komunikasi itu hampir mendominasi semua tuntutan keahlian diplomat.

Di lapangan, praktek ini memang benar adanya. Diplomat secara horisontal sebisa mungkin menjalin komunikasi dengan otoritas lokal di negara ia ditugaskan. Riset dan menggali informasi sebanyak-banyaknya latar belakang para penguasa lokal sebelum bertemu mereka, dan lalu mencoba membuktikan informasi itu dengan cara cross check atau mengkonfirmasikan langsung kepada yang bersangkutan dengan bahasa diplomasi.

Maka kemampuan memahami bahasa, baik bahasa diplomasi dan juga bahasa lokal amat penting, sebab dengan cara begitu seorang diplomat mampu menjalin komunikasi dengan komunitas lokal. Sehingga laporannya menjadi lebih akurat, terkini dan terpercaya. Ketidakmampuan memahami budaya atau bahasa lokal sudah mampu menjadikan seseorang diplomat tidak memiliki poin plus dalam pekerjaannya. Begitupun juga dengan ketidakmampuan mengetahui jaringan lokal di negara tempat ia ditugaskan bukanlah sebuah poin tambahan buat diplomat.

Secara kontinyu, diplomat melaporkan hasil laporannya kepada pemberi tugas melalui saluran khusus. Saluran komunikasi ini diusahakan aman, bersih dan rahasia. Hasil dari komunikasi ini dapat dikategorikan sebagai raw intel. Yaitu laporan intelejen yang belum diolah. Setelah diolah dan dilengkapi dari berbagai sumber diplomat lainnya, laporan ini diserahkan kepada penentu kebijakan, para legislatif atau eksekutif. Hasil dari laporan ini menjadi amat penting sebab adalah penentu terhadap hubungan antar dua negara.

Kasus paling besar dalam sejarah terhadap kebocoran informasi diplomasi adalah wikileaks cablegate. Dimana laporan ratusan ribu dokumen diplomat Amerika Serikat bocor dan dapat diakses publik di website wikileaks sejak tahun 2010. Menjadikan hubungan Amerika Serikat dengan negara-negara tempat diplomatnya diposkan sebagai polemik yang masih berkepanjangan pada tulisan ini diturunkan (2011).

Dalam dokumen-dokumen itu terlihat jelas penilaian dan perspektif para diplomat terhadap penguasa lokal dan juga aspek-aspek lain hubungan diplomasi antar negara. Kebanyakan adalah raw intel. Informasi yang belum dipoles. Para diplomat secara jujur melaporkan apa hasil investagasi berdasarkan perspektif mereka. Ketika informasi ini bocor di publik, jelas saja pemerintah USA menyangkal kesahihannya :)

5. Penutup

Saya tidak mencoba membela atau melemahkan data pada informasi di wikileaks. Buat saya jelas-jelas itu raw intel. Ditulis oleh para diplomat US dan ditujukan pada atasan mereka di Washington DC. Dan ketika rezim yang berkuasa di Republik Indonesia namanya tercantum dalam laporan tersebut dalam sebuah skandal, buat saya yaa wajar saja. Tapi kalau misalnya dokumen itu tiba-tiba tertera nama Pak RT saya Pak Hambali, pasti saya bingung. Hehehe…

Artinya begini; para diplomat itu bukan orang tolol. Mereka punya standar dalam melakukan riset dan laporan. Mereka dilatih dan sudah terlatih dengan baik melakukan pekerjaannya. Mereka juga terlatih melaporkan semua hasil riset secara apa adanya. Maka jika info yang mereka terima tidak baik, maka bisa saja outputnya menyusahkan hubungan bilateral negara. Namun jika informasinya baik, maka semakin baik hubungan dua negara.

Sekarang, pertanyaannya adalah apa itu informasi yang baik? Saya pikir jawabannya simpel. Informasi yang baik adalah informasi yang didapatkan secara akurat dan disampaikan apa adanya. Sebab itu adalah sebaik-baiknya informasi dan mudah melakukan penyelidikan silang untuk membuktikan kebenarannya.

Jadi, apakah rezim yang tengah berkuasa saat ini RI memang benar terlibat skandal? Jawabnya bukanlah asumsi. Bukan bantahan. Bukan pula sekedar jawaban iya atau tidak lewat media. Melainkan adalah transparansi melalui penyelidikan untuk membuktikan benar atau salahnya.

Lantas, bagaimana mengadakan penyelidikan terhadap omongan para diplomat?

Nah ini susahnya…

Sebagai akhir cerita ocehan saya yang sama sekali bukan diplomat ini, ijinkanlah saya mengutip pengalaman di sebuah makan malam intim yang dihadiri oleh beberapa orang saja di ruang kedutaan sebuah negara Eropa Barat yang ada di Jakarta. Tidak lama setelah invasi US ke Afganishtan.

Pak Dubes: Sambil terkekeh-kekeh mengisap cerutu bilang, “Kami sebenarnya sudah tahu dimana posisi Osama berada”

Si Orang Indonesia bengong: “Loh kenapa nggak ditangkep aja?”

Pak Dubes mendelik, melepaskan cerutu dari mulutnya dengan kedua jari sambil melengos: “Apa untungnya buat kami?”


Kabar Berita

Tadi pagi saya buka perangkat lunak pembaca berita. Perangkat lunak ini namanya RSS Reader. Isinya, berita-berita terkini. Ada berita yang dipublikasikan oleh jaringan berita internasional. Ada pula berita dari teman-teman maupun tetangga saya. Semuanya serba baru. Tapi entah kenapa, tadi pagi saya tidak begitu banyak dapat berita baru selain dari jaringan berita profesional yang memang kerjanya membuat berita.

Kemana berita teman-teman saya?

Saya bertanya-tanya cukup panjang. Mengapa akhir-akhir ini susah dapat berita dari teman-teman saya. Padahal setiap hari, secara diam-diam, saya membaca dengan tuntas apa yang mereka tulis. Mencoba merasakan apa yang mereka alami. Berusaha untuk tetap empati. Walaupun tetap dalam diam, saya coba untuk hidup sejenak dalam benak mereka.

Kemana teman-teman saya? Kemana berita mereka? Ada apa dengan mereka? Pergantian tahunkah yang membuat membuat mereka sejenak hening tenggelam dalam ambisi-ambisi baru?

Tidak habis-habisnya saya berfikir. Silih berganti mengapa dan mengapa terus berkumandang di benak saya.

Eh tapi, kok yaa saya yang mempertanyakan mereka? Bagaimana kalau situasinya dibalik? Bagaimana kalau ternyata mereka juga mempertanyakan kabar saya. Secara diam-diam memantau kabar saya. Dan secara diam-diam juga gelisah tidak dapat mengetahui kabar terbaru?

Uggh, mungkin saya gede rasa. Tapi saya pikir, terlalu mengada-ada jika ada orang yang peduli dengan kabar terbaru saya. Memangnya saya ini siapa? Eh tapi, kalau saya mengada-ada, toh bukannya saya yang juga merindukan kabar terbaru teman-teman maupun tetangga saya?

Jika saya memang berharap sesuatu dari teman-teman maupun orang yang saya kenal, bukankah bisa jadi mereka juga mempunyai pengharapan yang sama?

Jika saya benci mereka, bisa jadi mereka juga benci saya. Jika saya rindu mereka, bisa jadi mereka juga rindu saya. Bukankah itu yang namanya lingkaran hidup. Tak berawal tak berakhir. Namun selalu berputar.

Uhmm, ok… Ok… Kalau selalu berputar begitu yaa sebaiknya saya memulai. Untuk memulai hidup bukankah harus ada yang memulainya.

Kabar saya, yaah sebagaimana kabar hari-hari lainnya. Biasa-biasa saja.

Tadi malam saya ke IKEA beli lampu. Kata berita, ada lampu hemat energi yang sedang diobral. Murah, tiga lampu hanya sekitar tiga puluh ribu rupiah sahaja. Ini kabar bagus, hemat energi dengan harga yang terjangkau. Lalu pergilah saya ke sana naik metro. Beli lampu satu lusin. Rencananya untuk dipakai pada rumah kontrakan baru yang saat ini masih menggantung situasinya. Maksudnya menggantung, tidak tahu apakah bisa dapat atau tidak. Moga-moga sih dapat. Sebab tidak tahu lagi mau tinggal di mana. Namun dapat atau tidak kontrakan baru, toh saya sudah punya lampu.

Pulang beli lampu sudah malam. Seduh teh sambil melihat televisi. Bukan menonton. Melainkan melihat. Itu televisi tidak menyala. Saya biarkan mati dan menatap refleksi badan saya di tabungnya yang berwarna kelabu gelap. Narsis? Entahlah. Saya sendiri hanya melihat semacam silhoutte kelabu di sana. Tidak ada keinginan untuk mengagumi maupun mengasihani diri sendiri. Hanya sekedar melihat refleksi. Itu saya ada di sana. Di tabung itu. Kecil. Kelabu. Terdistorsi. Itu refleksi saya. Apa adanya.

Belum jam sepuluh saya sudah berangkat tidur. Sebab harus berangkat ke pabrik pagi-pagi untuk memburuh. Terima nasib. Yaa memang begini nasib buruh kecil. Berangkat pagi pulang malam. Kalau belanja, pun menunggu obral. Kalau masak atau makan, yaa di irit-irit. Hidup sederhana bukan gara-gara gaya, melainkan memang sudah tuntutan. Maka itu saya selalu kagum pada mereka yang mampu hidup luar biasa namun memilih untuk sederhana. Jadi kaya itu susah. Tapi lebih susah lagi untuk tetap sederhana ketika sudah kaya. Maka ketika ada yang memilih bisa sederhana di masa jaya, buat saya ia luar biasa. Sebelum tidur selamanya nanti, saya selalu berharap bisa bertemu manusia semacam itu.

Pagi-pagi bangun. Memenuhi panggilan alam menuju kamar kecil. Baca-baca sejenak. Lalu lagi-lagi seduh teh. Duduk sebentar melihat prakiraan cuaca di langit. Penting. Sebab harus memutuskan apakah pergi bersepeda atau tidak. Kalau kata prakiraan cuaca akan hujan, yaa lebih baik jalan kaki ke halte bus terdekat. Dari sana, menuju stasiun kereta yang walaupun gerbongnya penuh manusia namun tujuannya langsung menuju pabrik tempat bekerja.

Masuk kerja di pabrik pun semuanya berjalan biasa-biasa saja. Tidak lamban tidak pula terburu. Hanya hari ini sedikit berbeda. Pak Ali mandor saya pamitan. Katanya mau pulang kampung. Penggantinya Bek Hasim. Sama-sama orang sekampung Pak Ali. Kalau kata orang Cirebon, sedulur. Sedih campur kagum. Hampir tiga tahun saya ikut Pak Ali, akrab. Wah hebat orang kampung mereka. Semuanya jadi mandor bos. Moga-moga ada orang sekampung saya nanti juga bisa jadi mandor. Kan bangga juga saya kalau ada orang sekampung yang jadi mandor. Walaupun saya sendiri tidak jadi mandor, tapi yaah kok bisa bahagia kalau ada orang sekampung yang bisa dapat kerja yang bagus? Syukur-syukur kalau bisa membantu teman-teman sekampungnya kan lebih bagus lagi. Eh tapi, jangan-jangan itu kan nepotisme. Memasukkan sedulur dalam lingkar profesional. Aduh kalau tidak kompeten, jangan lah. Salah-salah, malah bikin dosa. Seperti PSSI. Ealah loh kok saya jadi melantur ke dosa? Kan saya tidak sedang menulis kitab suci, kok omong-omong dosa. Halah. Maap pemirsa. Saya sok tahu. Hehe.

Menjelang siang, di pabrik saya dapat kehormatan. Eh benar, ini saya dapatkan. Tidak saya renggut dengan paksa. Masa sih tega-teganya merenggut kehormatah pabrik? Memangnya saya cowok apaan? (*Hihihi, padahal mah saya cowok murahan*). Saya dapat kehormatan untuk mengambil foto-foto pabrik. Mulai dari barang-barang kecil hingga sekujur badan bangunan. Kenapa saya pikir saya dapat kehormatan? Sebab itu orang-orang kok yaah menurut saja saya paksa ganti baju pakai seragam pabrik. Ada bahkan yang saya minta untuk menyisir dahulu dan patuh menjalankannya. Salah seorang ibu-ibu bahkan berbisik kalau ia pergi ke salon di pagi hari upaya atas nama demi masuk bingkai jendela bidik.

Selesai memotret, balik lagi ke meja produksi. Tekan tombol ini tekan tombol itu, namanya buruh yaa kalau disuruh tekan yaa saya tekan. Enak juga sih. Sesial-sialnya paling juga salah tekan. Selama masih tombol mesin yaa tidak masalah. Walau macet salah pencet, masih bisa diperbaiki. Asal jangan menekan teman. Wah kalau itu ceritanya, gawat deh urusannya.

Pulang malam. Larut. Sudah letih. Tapi untung masih bisa sukur. Masih bisa kerja. Masih diberi tenaga. Masih diberi cara untuk untuk tidak selalu memikirkan masalah-masalah yang tengah melanda. Sukur. Sebab sesusah-susahnya hidup saat ini, ternyata masih bisa menyeruput teh. Nikmat euy.

Itu kabar saya. Biasa saja.

Bagaimana kabar Anda?


Jadi Siswa, Belajar. Jadi Guru? Juga Belajar Dong!

Strategi mengajar setiap orang beda-beda. Maksud saya di sini, mengajar adalah mentransferkan sebuah bentuk informasi kepada orang lain. Orang yang biasa mengajar dalam keseharian katanya disebut sebagai guru.

Ini cerita waktu saya masih jadi guru. Bukan guru kehidupan. Hanya guru sekolah biasa. Jadi guru untuk cari nafkah. Supaya bisa makan hari ini. Dan saya sama sekali bukan guru semacam Gandhi atau Dalai Lama. Guru para manusia.

Saya sadar saya bukan guru yang baik. Kadang malah menyebalkan, dengan memberikan tugas untuk dikerjakan di rumah terlalu banyak.

Saya sadar sekali akan hal itu. Mahasiswa saya banyak yang mengeluh soal tugas. “Pak, kok bapak kejam sekali sih? Tugas kita banyak banget?”.

Dan saya jawab dengan tertawa terbahak-bahak macam Rahwana yang baru berhasil menculik Sinta.

Saya beri mereka tugas satu setiap hari. Kalau benar-benar dikerjakan, satu tugas bisa memakan waktu satu hingga dua jam. Kalau setiap hari diberi dan mereka lalai, akhir minggu mereka pasti penuh dengan asap rokok dan bergadang untuk mengerjakan tugas. Sebab setiap senin semua tugas dikumpul. (*Semoga bukan gara-gara saya paru-paru mahasiswa itu penuh dengan nikotin*)

Suatu hari, tanpa diduga-duga, serombongan mahasiswa saya datang menghampiri ke ruangan kerja. Protes. Salah seorang diantaranya, pakai rambut jambul dan berdandan a’la rocker tahun 50′an nampaknya hadir sebagai ketua. (*sumpah, dia pakai jaket kulit berpaku, kacamata hitam dan sepatu lancip mengkilat. Plus sisir kecil di saku belakang. Saya memang membebaskan mahasiswa memakai pakaian yang mereka suka kalau hendak menemui atau datang di kelas saya*)

- “Ada apaan rame-rame dateng? Mau nraktir saya makan apa mau ngajak jalan-jalan?”
+ (*dia bingung*) “Err, nggak Pak… Err… Begini Pak…”
- “Kalian ke sini rame-rame. Nggak ada orang barang sebiji pun yang ngajak saya senang-senang? Pemuda macam apa kalian? Jangankan Soekarno, Soe Hok Gie aja yang militan waktu masih mudanya hobi senang-senang. Kok kalian nggak?”
+ (*Dia tambah bingung. Menarik napas*) “Bukan gitu Pak. Tugas kebanyakan Pak. Susah tidur. Tiap malam begadang ngerjain tugas dari bapak. Belum lagi tugas dari Bu Nani”

(*Bu Nani itu juga salah seorang dosen di departemen kami yang juga hobi memberikan tugas*)

Saya lihat, matanya cekung. Letih. Si rocker 50′s ini kelihatannya jujur. Saya sebenarnya tidak tega. Saya ingin dia seperti anak muda lain. Mungkin di setiap malam pergi ke pantai bersama teman-teman, minum-minum sambil bakar ikan. Atau membeli es krim di siang yang panas sambil menggosip bintang idola televisi.

Tapi itu tidak mungkin saya lakukan. Sebab riskan dan berbahaya. Sebelum saya datang ke tempat mengajar ini, saya sempat sedikit survey demografi. Umumnya anak-anak muda seusia mereka ini sudah harus melakukan sesuatu, jika lulus atau tidak. Orangtua sudah keluar uang banyak untuk sekolah mereka. Ada yang jual ternak. Ada yang jual sawah. Bahkan sampai ada yang sampai hutang ke bank. Anak-anak ini, harapan keluarga mereka. Ketika saya menjenguk keluarga salah seorang mahasiswa, si ayah yang jadi buruh bengkel pabrik es bangga sekali mengenalkan saya hingga ke kepala kampung mereka. Sebab anaknya adalah pemuda kampung mereka satu-satunya yang menginjak sekolah tinggi. Ahhh…, anak-anak muda ini pun harapan daerah mereka. Berat sekali bebannya. Kalau tidak dibantu saat ini untuk belajar tegar, bahaya.

Di sisi lain, saya juga sempat khawatir akan kedisiplinan yang saya tanamkan. Bisa jadi, mungkin tidak cocok dengan budaya mereka.

“Jadi maunya kamu apaan?” Tanya saya santai sambil menyeruput es teh manis.

Mereka cengar-cengir. “Butuh hiburan, Pak?”

“Kamu mau menghibur saya? Wah hebat”

“Bukan Pak, bukan kita. Bapak lah yang jadi penghiburnya”

“Kamu mau saya pakai bikini di kelas pas waktu saya ngajar? Boleh, kalau perlu saya pakai g-string kayak si Nina” (*Ada mahasiswi saya, bukan WNI, pakai g-string dikombinasikan jeans pinggul rendah. Alamak, kalau jongkok, tatto di bagian atas bokongnya itu terlihat cuma dihalangi oleh sebaris lintas benang*)

Mereka serempak teriak ‘Whuuuu…’. Saya cengar-cengir.

“Trus apa dong? Kamu mau saya pakai seragam badut di depan kelas?”

Mereka senyum-senyum. Satu orang di belakang bilang bahwa itu ide bagus. Kampret! Memangnya saya cowok apaan?

“Ya udah. Bubar.., bubar. Tokonya mau buka. Nanti saya pikirin. Saya susah mikir nih kalau kalian segerombolan ada di sini. E-eh… Itu kacang di toples pojok kok abis? Siapa ini diam-diam kau curi kacang. Wah kacau nih. Ayo bubar… Bubar graaak”

Mereka keluar dari ruangan sambil tertawa-tawa.

Saya melamun.

Seharian itu saya terus berfikir. Sampai tidak konsentrasi makan siang. Pulang kerja, saya biasanya ke pantai melihat matahari terbenam. Di sana saya akan berfikir, bagaimana agar mahasiswa saya betah di kelas. Bisa konsentrasi dalam transfer ilmu yang kami lakukan sehari-hari. Tidak bosan dan lalu putus sekolah. Saya sadar saya tidak pernah sekolah jadi guru. Apa yang harus saya lakukan agar jadi ‘guru beneran’, yang mampu menghibur siswa? Apa yang harus saya perbuat agar mereka betah di kelas dan konsentrasi belajar?

Di titik ini saya sempat menyalahkan diri sendiri. Saya tidak pernah sekolah khusus jadi guru, kok iya mau-maunya saja begitu ditawari kerja lalu jadi guru. Saya tidak pernah dapat pendidikan keguruan, kok iya dengan santainya menuruti nasihat Ibu mengikuti jejaknya sebagai guru. Di titik ini, saya pikir saya adalah cowok murahan. Tapi yaah semurah apapun saya mengukur harga diri saya saat ini, tetap saja tidak akan membereskan masalah yang sedang terjadi.

Apa yang harus saya lakukan untuk membantu siswa saya?

Saya bingung. Maka saya putuskan sore itu ke pantai yang tidak jauh dari lokasi sekolah mengajar. Saya duduk di sana. Sendirian.

Saya selalu suka senja, sebagaimana ketua Mao dalam dalam sakaratul maut membisikkan kalimat ‘senja semakin merah, siapa yang akan menjaganya?’. Sore itu saya berbisik lirih sendiri di atas butir pasir dan deru ombak. Ahh murid-murid saya sudah semakin dewasa, siapa yang akan menjaganya?

Matahari terbenam di atas laut senja yang membara. Saya tidak dapat hasil apa-apa kecuali entah kenapa, saya merasa bahagia.

Besok paginya, ketika saya baru saja memarkir motor butut yang setiap hari saya pakai untuk mengajar dan mengojek, itu anak-anak sudah bergerombol di Pos Satpam. Waduh, pagi-pagi belum sarapan yang jadi kewajiban saya, sudah dituntut kewajiban lain. Hahaha.

Tapi bukan bangaip namanya kalau tidak licik. Hehe. Tentu saja saya harus bisa mencari cara untuk menghibur mereka tanpa harus merendahkan diri apalagi lari dari sarapan pagi yang berupa lontong sayur plus kerupuk sambal yang dahsyatnya minta ampun itu.

Saya menemukan cara. Di depan satpam dan bocah-bocah itu, saya bilang bahwa saya tahu cara hiburan yang edukatif. Sesi hiburan tetap kami lakukan tapi tidak lupa belajar. Jadi pada intinya, belajar sambil bermain atau bermain sambil belajar. Silahkan pilih, yang penting senang.

Saya menyarankan pada mereka:

  1. Membuka klub film. Yaitu kampus memfasilitasi ruangan agar mahasiswa bisa menonton film bagus di ruang kampus yang ber AC secara reguler. Mahasiswa yang mencari film(*Haha, saya ikutan nonton*)
  2. Dosen sehari. Yaitu dimana para mahasiswa secara bergilir memiliki satu jam kuliah untuk memberi tahu teman-temannya sekelas mengenai kegemaran atau kehidupan yang ia miliki. (*Ini seru. Saya ikutan jadi mahasiswa. Menyimak kuliah yang mereka berikan*)
  3. The battle of Pasar. Mahasiswa membuat sesuatu yang menarik dari ide kreatif mereka lalu kemudian di pamerkan di pasar-pasar tradisional. Karya yang paling menarik dan paling banyak direspons oleh pedagang maupun pengunjung pasar, dapat hadiah. (*Biasanya hadiahnya buku atau cinderamata sederhana yang sering saya kumpulkan kalau sedang berlibur atau kunjungan luar. Tapi namanya itu anak-anak mahasiswa mah senangnya minta ampun. Dikasih coklat saja sudah bahagia. Haha*)
  4. Sebagaimana imbalan, tentu saja ada hukuman. Bagi yang tidak mengerjakan tugas diminta untuk memilih atau membuat sendiri hukumannya apabila tidak mengerjakan tugas. Kalau teman-teman sekelasnya keberatan atas rasa keadilan apabila ia memilih hukuman, maka teman-temannya lah yang akan mencarikan hukuman yang pas untuk di tidak mengerjakan tugas. Mereka belajar menentukan sistem demokrasi sendiri

Mulanya mereka saling berpandangan. Kebingungan. Lantas bertanya detail. Biasalah, tipikal mahasiswa memang begitu. Tapi sisanya yang kelihatannya sudah mengerti, langsung teriak “Horee!!”

Sebagaimana hidup yang dinamis, tentu saja semua program kami di atas mengalami tantangan dan dukungan. Ada yang bisa terlaksana, ada yang tidak. Ada yang kena kendala teknis jadi terhalang ada pula yang hanya spontan lalu bisa jalan.

Apapun yang terjadi, pada saat itu kami memang mengalami masa-masa yang menyenangkan bersama.

Hingga detik ini, saya tidak tahu apa itu definisi guru yang baik. Yang lebih parah lagi, saya bahkan masih belum tahu metode belajar mengajar yang tepat jitu. Saya bukan orang yang banyak tahu.

Yang saya tahu cuma satu; yaitu ketika saya bersama para siswa, kami saling belajar untuk sama-sama bahagia.


Kebahagiaan Di Rumah Judi

Dulu saya pernah kerja buat orang Filipin (walaupun saya sering ragu mana yang benar, antara Filipina, Philipina atau Philippine, biar saja saya tulis Filipin. Atas dasar egoisitas pribadi saya. ;) .

Majikan saya dua orang. Satu namanya Fey, perempuan setengah baya. Satu lagi namanya Nunoy, lelaki lebih daripada setengah baya. Dua-duanya bukan suami istri. Fey itu suaminya orang Iran. Sementara Nunoy istrinya orang Jerman. Namun apapun namanya, dua manusia ini saya yakin akibat pekerjaan jauh lebih sering bertemu satu sama lain ketimbang bertemu pasangannya.

Nunoy itu ketua. Fey itu sekretarisnya. Saya? Hmhh, saya babu biasa.

Dulu saya pernah malu kalau ditanya orang. “Kamu kerja di tempatnya Nunoy? Wah asik tuh. Bagian apa?”

Saya tidak bisa bilang apa-apa. Saya bilang, “Yaa bantu-bantu biasa…”

Orang-orang pikir saya merendah dengan berkata begitu. Padahal sebenarnya saya memang malu berkata mereka apa adanya. Saya malu jadi babu. Entah kenapa saya malu. Mungkin akibat rasa percaya diri saya yang rendah. Dan saya malu utuk mengatakan sebenarnya kalau saya datang tiap pagi ke kantor Nunoy dan Fey untuk membersihkan lantai, WC, hapus debu di meja hingga telpon, menyapu lalu mengepel. Setiap pagi begitu. Lima hari perminggu. Jadi babu. Tapi kenapa harus malu?

Suatu hari di dapur ketika saya sedang mencuci piring kantor mereka, saya ditanya Ferdinand yang tetangga Nunoy. Saya tidak banyak menjawab. Beberapa pertanyannya melesat cepat. Saya sering diam. Saya pikir diam itu bukan emas, tapi semacam upaya perlindungan diri ketika ditanya begitu banyak pertanyaan yang mendesing bagaikan hujan peluru.

Fey kelihatannya melihat kejadian itu. Begitu Ferdinand pergi, Fey datang ke dapur.

+ “Kamu nggak enak badan hari ini?”
- “Enggak, saya baik-baik saja kok…”
+ “Muka kamu pucat setelah bicara dengan Ferdinand. Kamu di bully?”
- “Nggak Fey. Dia baik kok. Selalu sopan dan ramah”
+ “Kamu jangan takut, kalau ada apa-apa bilang saja sama saya atau Nunoy. Kami pasti bantu. Masak orang sebangsa kami walaupun tidak kenal, kami bantu, sementara kamu yang sudah seperti keluarga kami cuekin”

Saya terbelalak kaget. Seperti keluarga? Wah, mereka memang ramah sekali selama beberapa bulan terakhir sejak saya bekerja untuk mereka. Tapi saya tidak menyangka bahwa mereka sebegitunya terhadap saya.

Saya beruntung punya majikan seperti Nunoy dan Fey. Mereka orang baik. Mereka tahu bahwa dengan status pelajar, saya hanya mampu bekerja secara terbatas dalam 1 minggu. Namun mereka tetap membantu. Menambah jam kerja saya. Hingga saya masih bisa mengumpulkan sedikit uang kiriman untuk bantu-bantu hidup biaya keluarga di Jakarta sana.

Nunoy dan Fey tidak hanya membantu saya. Namun juga membantu ribuan pekerja migran Filipin yang ada di Eropa. Mungkin hanya nasib lah yang yang mempertemukan kami. Sehingga saya pun ikut-ikutan dibantu oleh Godfather dan Godmother warga Filipin di Eropa ini.

Nunoy dan Fey itu kuat luar biasa walaupun bukan mafia. Hidup mereka sederhana. Tidak punya anak buah. Tidak punya mobil mewah. Tidak punya tabungan banyak di bank. Bahkan rumah pun masih kontrak.

Tapi mereka hebat. Dicintai oleh hampir seluruh pekerja migran asal Filipin yang ada di Eropa. Mereka memulai sebuah bentuk organisasi akar rumput pekerja migran WNF (Warga Negara Filipin) dengan cara yang ajaib (setidaknya menurut saya).

Nunoy datang ke Berlin sebagai mahasiswa. Lalu jatuh hati dengan gadis lokal. Fey datang ke Utrecht sebagai istri ikut suami. Nunoy hobi main gitar. Fey hobi menari. Dan mereka sadar betul bahwa orang Filipin doyan pesta. Di Amsterdam mereka bertemu dari satu pesta ke pesta lain. Mengumpulkan begitu banyak orang Filipin yang juga berhobi sama.

Dari pesta ke pesta, mereka berkumpul, berserikat saling bantu membantu satu sama lain. Membentuk sebuah keluarga. Yang berasal dari nasib yang sama, hidup di tanah asing. Paguyuban para exile.

Paguyuban itu, meluas. Bukan hanya bisik membisik lagi cara kerjanya untuk menawarkan pekerjaan bagi mereka yang baru datang. Tidak lagi bermain bowling di hari minggu ba’da misa gereja, melepas lelah memburuh selama seminggu penuh. Melainkan sudah berani menyewa tempat sendiri untuk bersekretariat. Lalu membuka kelas untuk belajar bahasa lokal. Mendirikan radio gelap untuk pemirsa berbahasa Tagalog (lalu akhirnya disahkan pemerintah akibat banyak supporternya), punya team advokasi hingga dokter dengan praktik asuransi mandiri membantu pekerja yang tak terdokumentasi, bahkan hebatnya dengar-dengar kini sudah digandeng bank besar akibat uang yang terkirim ke negeri asal mereka sungguh mencengangkan banyaknya.

Ketika Nunoy berkata “Kita ini ada di negeri asing, ada baiknya saling membantu” pada suatu siang yang membuat saya terharu. Perjuangan lebih dari dua puluh tahun itu membuahkan hasil luar biasa. Suara pekerja migran Filipin terdengar hingga bahkan ke parlemen pemerintah lokal hingga konfrensi PBB di Jenewa sana. Suara ini benar-benar luar biasa, yaitu hingga kini, tidak ada seorang pun pekerja migran Filipin bahkan hingga serendah-rendahnya profesi mereka, di siksa di tanah asing.

Saya tidak ada ketika mereka memulai usaha ini. Saya ada ketika mereka sudah besar dan mandiri. Dan amat terkejut ketika suatu hari Fey berkata, “Kita punya website. Kami tahu kamu mengerti tentang itu”

- “Kamu mau saya merombak website itu?”
+ “Tidak, kami mau kamu mengajari kami bagaimana membuat dan menangani itu”
- “Tapi saya belum pernah mengajar sebelumnya. Astaga Fey, saya bahkan belum lulus”
+ “Tidak ada salahnya mencoba kan?”

Ia bilang begitu sambil tersenyum.

Tiga minggu kemudian kelas perdana saya dimulai. Dengan gugup campur gemetar saya menerangkan dasar-dasar teori arsitektural pembangunan website. Saya ingat betul waktu itu malam hari pukul tujuh. Kelas saya dihadiri oleh tiga orang murid. Semuanya pekerja migran. Tanpa punya dokumen legalitas. Satu orang ibu-ibu penjaga bayi. Dua lagi, lelaki pembersih kamar hotel. Semuanya terlihat letih. Baru pulang kerja seharian penuh. Namun tatap matanya… Tatap mata yang tidak pernah saya lupakan. Keinginan belajar terpancar luar biasa keluar dari mata-mata tersebut.

Kelas ini berlangsung hingga berapa bulan. Terakhir yang saya ingat, saya bahkan membagi hingga tiga kelas akibat pesertanya membludak terlalu banyak.

Suatu hari di bulan April, saya terpaksa harus berdiri di depan kelas berkata bahwa sudah saatnya saya kembali ke negeri sendiri. Ketika mereka bertanya kenapa, saya tidak tahu harus bilang apa. Saya terlalu sedih harus berpisah dengan mereka. Orang-orang yang lugu dan baik hati. Yang karena kekuatan nasib dan semangat untuk saling membantu, bertemu di titik yang sama di muka bumi.

Malamnya, Nunoy mentraktir kami semua pesta. Semua orang memeluk saya dan walaupun sedih mereka mendoakan saya agar bahagia di negeri tercinta. Di tengah riuh pikuk, Nunoy berkata, “Jangan pernah lupa, orang Filipina dan Indonesia itu sama. Kita sama-sama suka senang-senang. Kita sama-sama cinta keluarga. Kita sama-sama harus membantu. Kamu harus mengajar yaah kalau di Indonesia?”

Saya mengangguk dan lalu menjabat tangannya erat.

Orang-orang Filipin ini. Para pekerja migran. Mulai dari ibu-ibu tua setengah baya, hingga laki-laki transeksual belia. Ramah. Baik hati. Lugu. Luhur. Namun mengajarkan saya satu hal yang luar biasa. Bahwa berkumpul saling membantu, dapat meraih mewujudkan mimpi.

Pulang pesta, saya kembali ke kamar kost. Cerita semuanya kepada Robi, teman sekontrakan. Dengan menggebu-gebu bahwa seharusnya para pekerja migran asal Indonesia macam kami bisa meniru teman-teman Filipin. Atau minimal seperti para pekerja migran asal Indonesia di Hongkong yang bahkan sudah bisa membuat koran sendiri.

Robi hanya menatap saya heran mendengar cerita ini. Ia lalu mengeluh sambil mendesah bahwa berkumpul dan berserikat itu bukan budaya ‘orang kita’. Sebab ‘orang kita’ lebih suka adu argumen berdebat mencari perbedaan ketimbang melaksanakan solusi.

Saya kecewa mendengar ia bilang ‘orang kita’.

Dan mungkin ia benar. Sebab tidak lama kemudian kami adu argumen sedemikian kerasnya atas generalisasinya terhadap semua orang Indonesia.

Hingga akhirnya ia pergi menutup pintu, pergi. Cari kebahagiaan sesaat di rumah judi.


Diplomat

Di sebuah tempat makan di kastil pinggiran kota, duduk melingkar tujuh orang. Satu lelaki dari Indonesia yang kerjanya cengar-cengir saja, satu perempuan Malaysia ahli lingkungan, seorang diplomat Australia, pengacara necis dari Belanda, sepasang suami istri penari dimana si suami dari Perancis dan istri dari Denmark. Satu lagi, wanita paruh baya yang berasal dari Republik Ceko. Yang terakhir ini, kami sempat dapat bisikan kalau nenek moyangnya keturunan bangsawan yang dihabisi oleh Komunistická strana Ceskoslovenska (KSC), partai komunis Cekoslovakia, pada awal tahun 1920-an. Sebab, ketika partai itu runtuh di awal tahun 1990-an, kastil ini kembali terdaftar atas nama waris si wanita paruh baya ini.

Obrolan melingkar kemana-mana. Seperti mimpi. Tanpa pangkal tanpa ujung. Awalnya sebenarnya bermula ketika saya yang nampak ogah makan sup lemak, salah satu panganan yang diklaim terenak di bagian Ceko Utara. Masalahnya simpel, saya tidak dibesarkan dengan makanan itu. Melihat lemak putih-putih besar menggumpal dalam sup yang encer, tidak membuat saya berselera.

Si wanita paruh baya nampak sedikit berubah raut mukanya ketika saya tidak menjamah sup dalam mangkuk perak itu. Mungkin ia tidak suka. Lalu pengacara Belanda bertanya apakah latar belakang saya yang muslim membuat saya tidak makan lemak dari babi?

Tidak ada hubungannya dengan identitas keagamaan monotheis. Kata perempuan Malaysia, tidak semua pemeluk agama mengikuti tradisi agama dengan setia seperti anjuran kitab suci. Itu berlaku secara universal. Hampir semua pemeluk agama, di semua penjuru dunia, punya semacam fleksibilitas. Misalnya, ada yang benci korupsi tapi cinta rokok. Ada yang hobi bersenggama, tapi pantang makan daging berwarna merah. Ada yang rajin ibadah namun menoleransi homoseksualitas. Setiap pemeluk agama, dalam hal ini yang mengaku bertuhan di langit, punya fleksibilitas. Dan fleksibilitas itu perlu dalam bertahan hidup.

Obrolan semakin seru, ketika sang diplomat yang bermata biru berambut coklat dan nampak berotot ini, mengaku sebagai seorang muslim dan menjadi mualaf ketika berdinas di Tunisia dua puluh tahun lalu. Ia kelihatan membela saya dengan mengatakan bahwa tidak ada seorangpun di muka bumi ini yang menjadi perwakilan tetap atas agama yang diusung oleh orang tersebut. Tentu saja sebagai diplomat, kami mahfum bahwa ia seakan berkata, “Gua disini juga tidak mewakili pemerintah Australia”. Sebab belum tentu saya seorang muslim. Andaipun saya muslim, katanya, tidak ada seorangpun yang tahu kalau saya diam-diam (atau malah terang-terangan) makan babi yang tidak berlemak.

Kami tertawa.

Namun karena obrolan semakin serius dan setiap orang memiliki argumennya masing-masing mengenai agama, beberapa orang terlihat letih. Terutama saya. Entah kenapa saya letih. Saya juga tidak mengerti. Mungkin karena menurut saya agama yang paling kuat saat ini adalah kapitalisme. Sebab setiap upaya ibadah seringkali dibungkus dengan embel-embel modal pada diri sendiri. Misalnya doa minta kaya, doa minta sehat, doa panjang umur, doa bisa terus kerja, doa dapat pacar, doa agar anak menurut. Semuanya terlihat seperti investasi. Agar hidup nyaman. Agal modal diri semakin kuat. Kalau ritual sudah berubah menjadi penguatan modal, bukankah namanya kapitalisme? Sejarah pun sudah berkali-kali membuktikan bahwa penyebaran reliji selalu berhubungan dengan kekuasaan dan saudagar. Ada modal ada agama.

Ahh tapi siapa saya? Ilmu saya sedikit dan selalu kelihatan tidak serius. Apa ada yang percaya bualan saya itu? Bahkan saya jadi bosan dengan pikiran-pikiran saya sendiri.

Karena malam semakin larut, obrolan pun berubah. Saya yang bosan mulai bertanya pada pasangan penari. Bagaimana mereka bertemu.

Syukurlah, suasana berganti. Jadi lebih romantis. Si wanita bilang bahwa Jean Pierre adalah lelaki teromantis yang pernah ia temui. Ahh kalau itu saya tidak ragu. Toh pria Perancis sudah lama terkenal romantis. Si lelaki bilang kalau Adelle adalah makhluk terindah yang pernah ia temui dengan rambut pirang sebahu dan kaki mungil yang amat cantik. Ketika berkata begitu, mata mereka tertumbuk dan saling tersenyum. Ahh indahnya. Pasangan yang saling cinta.

Namun akibat hanya mereka yang berpasangan di meja makan ini, maka obrolan pun tidak lama usai dan berubah kembali. Sialnya, lagi-lagi bicara mengenai latar belakang saya. Ini cukup menyebalkan buat saya. Kok lagi-lagi saya. Namun mau bilang apa, ternyata masing-masing manusia di meja ini semuanya pernah ke Jakarta. Entah bisnis, entah liburan, entah singgah, entah apa lah namanya. Yang pasti semuanya pernah ke Jakarta. Bahkan si bangsawan tua ini pun, mengejutkan, ternyata pernah pula ke Jakarta. Dan satu-satunya orang Jakarta (walaupun tidak sah) di meja ini, yaa saya.

Sebelum menjawab pertanyaan, jelas saya tekankan pada mereka, bahwa saya bukanlah wakil resmi Jakarta. Tentu saja trik ini saya pelajari dari si diplomat Aussie beberapa menit lalu. Si diplomat melirik tersenyum. Saya tahu dibalik senyumnya ia akan melontarkan pertanyaan yang tidak akan spesifik mengenai kebijakan politik kota. Tapi yang pasti, akan membuat saya kelimpungan. Dua puluh tahun lebih jadi diplomat pasti mengajarkannya banyak hal.

Ajaibnya, yang melontarkan pertanyaan dahsyat pertama kali, adalah sang Lady bangsawan. “Bagaimana kabar keluarga kamu? Saya dengar ada banjir di Jakarta?”

Saya kaget. Saya jawab apa adanya. Bahwa banjir memang melanda Jakarta. Setiap setahun sekali, Ibu dan adik-adik saya pasti mengungsi ke rumah tetangga yang lebih tinggi. Demi bertahan hidup menghadapi banjir. Adik saya Uul, bahkan baru saja mengirim email melalui jaring sosial media, bahwa ia amat cemas dengan banjir yang kelihatannya akan datang.

Semua orang menatap saya sedih.

Ketika mereka bertanya kenapa, saya jawab bahwa sistem pengairan Jakarta itu warisan Belanda seratus tahun lalu dan hingga kini sedikit perubahannya. Si pengacara tersenyum sambil berkata, “Mau tetap dibantu?”

Sambil senyum saya jawab bahkan sungai di Jakarta adalah tempat sampah yang masif tiada tara. Hampir semua elemen masyarakat masih membuang sampah tidak pada tempatnya. Lalu mengalir ke sungai. Kanal banjir dibangun, namun tidak mengentaskan masalah. Sebab kegemaran pemerintah lokal kami adalah menangani simptom. Bukan mencari akar masalah.

Si perempuan manis Malaysia keturunan Pakistan ini menyela, “Bagaimana mereka mau buang sampah. Tempat sampah sedikit? Aku jalan kaki di Manggarai yang penuh polusi, mau buang sampah bungkus permen saja susahnya minta ampun. Hingga harus masuk mall dan cari tempat sampah”. Uugh, dia ternyata pernah tinggal di Jakarta. Lebih lama daripada saya. Semestinya ia yang berhak di tanya mengenai Jakarta.

Lagi-lagi saya memang harus menjawab, bahwa kebijakan pemerintah kota yang tidak menyediakan banyak tempat sampah lah yang harus di tanya. Ketika perempuan ahli lingkungan itu semakin mencecar, tentu saja trik ad hominem saya pakai. Berdasar hubungan antara RI-Malaysia yang saat itu meruncing, saya jawab, “Sayang sekali kami tidak seberuntung kalian yang memiliki pemerintahan yang menjamin kebersihan kota sebagaimana di Kuala Lumpur”.

Bingo! Berhasil! Sebab dia jawab, “Tapi kalian punya kebebasan untuk bicara. Kami punya undang-undang patriot yang bahkan bisa menjerat siapa saja yang mengkritik UMNO yang rasis dan selalu mementingkan orang asli itu. Malaysia hanya untuk pribumi, ahh omong kosong”

Saya yakin tidak ada yang tahu apa yang saya lakukan di meja makan pada saat itu. Mencoba memonopoli topik. Memanfaatkan situasi terkini sebagai senjata.

Hingga akhirnya saya sadar saya salah besar. Si diplomat rambut coklat mendehem, “Sudah larut, mungkin saya istirahat. Kamu bintang malam ini, selamat. Sayang sekali kamu tidak memilih jalur diplomasi sebagai karir, sebab saya yakin kamu akan jadi sukses besar”, katanya sambil menatap saya.

Saat itu beliau menggunakan bahasa slang lokal. Yang secara samar bisa diterjemahkan, ´sebab saya yakin kamu akan akan jadi omong kosong besar´.

Saya tidak peduli. Mungkin ia mabuk terlalu banyak minum wine enak. Tapi bisa jadi, mungkin ia benar. Saya tidak peduli. Saya pamit sebentar mau ke toilet. Si diplomat ikut. Mau merokok. Dalam perjalanan menuju toilet yang terletak di sayap kanan bangunan, kami tidak bicara apa-apa.

Sebelum sampai toilet ada persimpangan, satu menuju kamar kecil, satu lagi menuju ruangan merokok. Dalam remang terowongan yang diterangi cahaya lilin-lilin besar itu, kami melihat jelas Jean Pierre masuk ke WC sepi dengan seorang wanita berambut panjang gelap (kalau tidak salah yang melayani minuman untuk madam bangsawan). Saya pikir itu pertanda bahwa saya tidak perlu masuk ke ruang tersebut dan memilih melupakan apa yang saya lihat dengan menemani si diplomat ketika ia merokok di luar sambil bicara tentang Bali.

Ketika kami kembali ke meja makan untuk sebenar-benarnya pamitan, Adelle bertanya cemas, “Kalian lihat suami saya? Saya cari dari tadi ia tidak ada”

Si diplomat menatap saya. Sial. Seakan saya lah yang harus menjawab pertanyaan itu.

Saya berfikir keras. Beberapa saat terdiam mengumpulkan kalimat dalam ribuan rimba kata-kata yang mampu merepresentasikan jawaban apa yang paling tepat yang harus saya utarakan.

Apa yang harus saya jawab; Jujur dan lalu meluluhlantakkan rumahtangga mereka? Atau berbohong bahwa saya tidak lihat apa-apa? Atau setengah jujur setengah bohong? Atau kejujuran yang dibungkus kalimat ambigu? Atau bohong yang dibungkus kalimat manis? Bagaimana saya harus fleksibel menghadapi pertanyaan sulit?

Apa yang harus saya jawab pada perempuan berambut pirang sebahu dengan kaki cantik ini?

Saat itu pula saya pikir saya tidak berbakat jadi diplomat.


Apa Pekerjaan Yang Cocok Untuk Saya Bahagia?

Tadi pagi saya baru saja baca Yahoo News. Kebetulan artikelnya menarik perhatian, sebab penuh kontroversi. Bukan mengenai wikileaks dan hidup pendirinya Jullian Assange yang mantan hacker dan kini diburu oleh Pemerintah US. Bukan itu. Melainkan sesuatu yang membumi. Yaitu masalah gaji :)

Yahoo menurunkan berita berjudul “Worst-Paying College Degrees in 2010″. Kalau tidak salah, terjemahannya kira-kira adalah “Ijasah Sarjana Dengan Gaji Terburuk di Tahun 2010″. Selebihnya kalau mau tahu bisa membaca di sini.

Namun agar memudahkan pembaca, saya coba ambil diagram pemicu kontroversi tersebut. Berikut ini adalah diagramnya;

Ijasah Sarjana Dengan Gaji Terburuk di Tahun 2010 (USA)
Ijasah Sekolah Gaji Awal Gaji Tengah Karir
1. Ilmu Anak dan Keluarga $29,500 $38,400
2. Pendidikan Dasar $31,600 $44,400
3. Sosial $31,800 $44,900
4. Atletik $32,800 $45,700
5. Kuliner $35,900 $50,600
6. Hortikultura $35,000 $50,800
7. studi Hukum (Paralegal) $35,100 $51,300
8. Teologi $34,700 $51,300
9. Rekreasi dan Hiburan $33,300 $53,200
10. Pendidikan Khusus $36,000 $53,800
11. Diet $40,400 $54,200
12. Ilmu Agama $34,700 $54,400
13. Seni $33,500 $54,800
14. Pendidikan Umum $35,100 $54,900
15. Studi Antar Disiplin Ilmu $35,600 $55,700
16. Interior Design $34,400 $56,600
17. Nutrisi $42,200 $56,700
18. Disain Grafis $35,400 $56,800
19. Musik $36,700 $57,000
20. Sejarah Seni $39,400 $57,100

Dalam 24 jam semenjak tulisan itu dipamerkan di dunia maya, telah memancing lebih dari lima ribu komentar. Bayangkan, lebih dari lima ribu!

Kenapa?

Sebab gaji itu universal. Sebagaimana pekerjaan yang universal, gaji adalah merupakan bagian darinya. Hampir semua orang yang berkomentar, marah terhadap opini si penulis. Sebab bukan karena si penulis memaparkan data melalui tabel di atas. Melainkan karena di akhir tulisannya si penulis berkata “Jika kamu mau memperoleh gaji yang besar, lebih baik sekolah di perguruan tinggi dengan jurusan yang banyak matematikanya. Sebab dengan begitu gaji kamu nanti lebih baik

Gong penutup tulisan itu menarik. Opini pribadi si penulis Lynn O’Shaughnessy (yang apabila di riset sedikit dengan social engineering, tidak memiliki latar belakang pendidikan yang berhubungan dengan matematika). Amat kontroversial.

Apakah tulisan penutup itu salah?

Mungkin iya, mungkin tidak.

Pendapat itu tidak salah. Sebab Nyonya O’Shaughnessy sendiri adalah pengamat dunia kampus. Saya pikir, beliau tidak akan terlalu tolol mengirimkan dirinya ke jurang jeopardi dengan menerbitkan diagram yang tidak didukung oleh data yang kuat dan akurat. Sebab itu akan meredupkan ketenaran dirinya sebagai seorang penulis best seller dunia kampus. Jika beliau memaparkan sebuah tulisan, maka data-data yang ia miliki, harus memuat realita apa adanya. Jadi, jika ia bilang bahwa matematika akan membuat anda kaya. Bisa jadi karena data yang ia lihat menceritakan begitu kepadanya. Dan sebagai pengamat, saya yakin beliau amat paham dengan statistik. Sebab output statistik sendiri adalah netralitas angka-angka dingin yang menyeramkan yang terdiri dari kumpulan data dan fakta.

Namun, mengapa pendapat itu jadi salah?

1. Krisis

Sejak tahun 2007, krisis melanda Amerika Serikat. Bahkan hingga 2010 ketika tulisan ini diturunkan, Amerika masih dilanda krisis. Eksesnya, Pemerintah US melakukan pemangkasan di mana-mana sebagai upaya menyelamatkan negara mereka dari kebangkrutan. Orang-orang cerdas di Amerika sibuk mencari pangkal akibat mengapa mereka bisa bangkrut dan sibuk mencari pemecahannya.

Krisis ini parah. Benar-benar parah. Dalam filmnya Capitalism: A Love Story, Michael Moore, seorang sutradara film dokumenter terkenal, menuduh pialang saham Wall Street sebagai pencuri uang rakyat Amerika. Pada intinya, krisis ini parah. Menghancurkan banyak industri. Membuat banyak orang dipecat dari pekerjaannya. Hingga banyak orang jadi pengangguran. Bahkan sarjana post-graduate pun banyak yang kehilangan pekerjaannya.

Banyak sarjana berijasah yang marah dengan tulisan penutup Nyonya O’Shaughnessy. Bahkan diantaranya sarjana matematika yang berkomentar bahwa ia seumur hidup berurusan dengan matematika dan kena sial sebab dipecat dari pekerjaannya. Kini si sarjana tersebut, ternyata lebih menikmati hidup menjadi penebang kayu di Alaska. Ia bersyukur masih punya pekerjaan dalam badai krisis ini.

2. Statistik

Pisau bedah bernama statistik itu punya dua sisi yang sama tajamnya. Kelebihan statistik adalah ia mampu menerjemahkan massive data dan fakta dalam tempo yang cepat dan mudah di baca. Kekurangannya adalah, jika digunakan dalam parameter yang terlalu lebar, akan terjadi ketimpangan data.

Nyonya O’Shaughnessy terjebak dalam menggunakan statistik ini. Beberapa orang yang memiliki ijasah sarjana dalam gaji tingkat terendah tabulasi di atas mengaku bahwa mereka memiliki penghasilan yang jauh-jauh lebih banyak daripada angka-angka paparan si Nyonya. Ketika orang-orang ini berkomentar, kesahihan data dalam tulisan Nyonya O’Shaughnessy memicu pertanyaan yang cukup serius di benak banyak orang. Mereka berfikir, “Jangan-jangan si Nyonya cuma asal ngomong!”

Di sini, statistik data sang Nyonya yang menjadi tulang punggung tulisan, pun amat bisa diperdebatkan. Dan ketika bahan dasar ramuan data sudah diragukan, maka apapun hasil racikannya, tentu tidak bisa dengan amat mudah jadi obat yang mujarab buat publik.

3. Fakta

Menurut salah seorang sahabat saya, “Kejujuran itu Brutal”. Sebab dapat menyakiti hingga seperih-perihnya perasaan manusia.

Analogi yang dipakai dengan idiom ini adalah, jika data Nyonya O’Shaughnessy adalah sebenar-benarnya data. Maka ada tiga ijasah sarjana yang akan membuat hidup pemegangnya dalam pekerjaan yang bergaji rendah hingga susah hidup. Tiga pekerjaan itu adalah;

1. Ilmu Anak dan Keluarga
2. Pendidikan Dasar
3. Kerja Sosial

Mengapa ‘Kejujuran itu Brutal’?

Jika sebuah sistem pendidikan dan tatanan masyarakat, sudah tidak lagi menghargai Anak dan Keluarga. Tidak lagi peduli akan pendidikan dasar dan mulai memudarkan prinsip-prinsip berbagi peduli dalam tindak kerja sosial. Sampai kapan bangsa itu akan bertahan?

Jadi sekali lagi, jika data Nyonya O’Shaughnessy adalah sejujur-jujurnya data, maka sistem pendidikan dan masyarakat Amerika adalah tatanan yang sungguh brutal.

Analogi ini, juga dipakai oleh banyak warga Amerika yang membaca tulisan si Nyonya dan amat menyakiti perasaan mereka.

4. Memusnahkan Harapan

Beberapa orang, jadi guru, bukan karena menginginkan gaji yang besar. Sebab gaji guru memang terkenal tidak besar. Beberapa orang jadi pemadam kebakaran bukan karena gaji yang besar. Sebab pemadam kebakaran pun memiliki bayaran yang tidak terlalu besar. Beberapa orang, jadi seniman, bukan karena cita-cita muluknya punya tabungan di bank bermilyar-milyar.

Beberapa orang, sekolah dan lalu mendapat ijasah untuk bekerja menjadi apa yang ia inginkan adalah karena ia mencintai apa yang ia lakukan. Beberapa orang lagi, mungkin tidak melalui jalur sekolah dan tidak pernah mendapatkan ijasah, namun berusaha sekuatnya untuk sedekat mungkin melakukan sesuatu yang ia cintai untuk dilakukan.

Tidak semua orang di muka bumi melakukan pekerjaannya demi uang belaka. Masih banyak orang yang bercita-cita bisa membuat perubahan di dunia ini dengan cara mereka masing-masing.

Tulisan Nyonya O’Shaughnessy, yang sialnya ditulis dalam masa krisis ini, dipandang oleh banyak komentator sebagai pemujaan uang diatas segalanya. Ketika banyak orang berusaha keluar dari krisis finansial ini dengan melakukan sesuatu yang mereka cintai (dan mungkin tidak terlalu banyak menghasilkan uang), tulisan sang Nyonya melemahkan mental mereka. Diantaranya adalah mental-mental anak muda yang baru saja lulus sekolah dan langsung melihat realita perihnya industri Amerika. Dimana-mana, susah cari kerja.

————————————————————————–

Saya pribadi, suka tulisan sang Nyonya. Bukan akibat data yang diusungnya. Melainkan suka sebagai wacana. Sebagaimana saya suka komentar-komentar positif atau negatif pembacanya. Bisa banyak belajar dari tulisan kontroversi itu.

Belajar bahwa masih banyak orang yang beranggapan bahwa hidup itu tidak melulu soal uang. Belajar bahwa masih banyak manusia di luar sana yang nasibnya sama seperti saya, yang harus berjuang setiap hari untuk menafkahi anak istri di tengah resesi. Belajar bahwa, sebaiknya jangan pernah membunuh mimpi.

Ya sudah. Sekian dulu tulisan minggu ini. Akhir kata, mohon maaf lahir batin dan selamat berakhir pekan :)

Omong-omong, berapa penghasilan anda? Dan apakah anda bahagia?


Perang Antar Raksasa (Antara Lidah Dengan Mata)

Saya mau cerita ini sebenarnya di Laboratorium Bangaip. Sebab bersifat teknis dan condong pada pekerjaan. Tapi karena terlalu banyak nama yang harus disamarkan, maka lebih baik diceritakan di blog bangaip saja deh :)

Ini cerita soal kopi. Saya sendiri sudah tidak lagi meminum kopi (kecuali kepepet), maka itu saya bisa cerita dari sudut pandang yang berbeda. Yaitu dari sudut pandang peminum teh. Hehehe.

Ceritanya begini;

Di pabrik tempat saya bekerja itu selalu ada vending machine di setiap lantainya. Yaitu mesin penyedia makanan ringan dan minuman jenis tertentu. Mesin penyedia makanan ringan, bentuknya kotak besar. Tingginya hampir dua meter. Dengan lapisan kaca tembus pandang sehingga kita bisa melihat jenis makanan apa yang di jual di dalam mesin tersebut. Makanan-makanan tersebut dapat kita pilih sesuai nomor dan dengan memasukkan uang koin sejumlah tertentu mesin tersebut akan menyediakan makanan yang kita pilih. Sama halnya dengan mesin penyedia minuman. Mesin itu pun bekerja dengan cara yang sama. Hanya produknya yang berbeda. Dan disinilah ceritanya dimulai.

Mesin penyedia minuman, menyediakan berbagai minuman. Umumnya minuman panas. Diantaranya ada air panas (untuk teh atau sup), kopi, susu, serta coklat. Mesin ini cukup aneh. Sebab banyak rekan kerja saya berbondong-bondong pergi ke lantai empat hanya untuk mengambil kopi. Kata mereka (para peminum kopi), mesin di lantai empat lebih enak menyediakan kopinya. Campurannya lebih mantap. Kopinya lebih nikmat.

Saya bukan peminum kopi. Saya tidak tahu nikmatnya rasa kopi. Jadi saya sama sekali tidak mengerti mengapa mereka rela naik tangga atau lift hanya untuk mengambil segelas kopi. Saya pikir, karena mesinnya sama dan dari pabrik penyedia kopi terkenal yang sama, maka harusnya mampu menyediakan hasil yang sama.

Namun sekali lagi; saya bukan peminum kopi. Jadi saya pikir, teori saya di atas amat sangat mudah terbantahkan.

Ketika makan siang bersama teman-teman, saya bawa topik iseng-iseng ini sebagai bahan diskusi ringan sambil mengunyah makanan. Diantara teman makan siang saya, ternyata ada seorang dari departemen Sumber Daya Manusia. Dan topik makan siang mengenai mesin kopi yang menyediakan hasil yang berbeda ternyata membawanya pada sebuah ide baru.

Oleh teman saya, si orang HR ini, obrolan iseng makan siang itu dijadikan ide sebuah acara dengan tema “The Battle of Giants”. Acaranya adalah mengundang pabrik-pabrik penyedia kopi raksasa untuk mempresentasikan kopi mereka di depan rekan-rekan pabrik kami.

Beberapa pabrik kopi dengan serta merta langsung ikut event iseng ini. Hanya dalam tempo beberapa hari saja, para pabrik itu langsung merespon dengan baik bahwa mereka akan serta merta ikut dalam kompetisi perang kopi.

Perang kopi?

Iya, perang kopi. Para penyedia kopi ternama itu, seperti Nescofi, New London, Green Hills, MoonBuck’s, Aristocrat (semuanya bukan nama sebenarnya) dan nama-nama besar lainnya datang ke pabrik kami. Mereka akan menyampur, menyeduh dan menyediakan minuman yang berasal dari biji kopi. Mempersembahkan yang terbaik kepada para buruh di pabrik kami.

Ini perang. Siapa yang dapat menyediakan kopi terbaik, dialah pemenangnya.

Mengapa disebut perang antar raksasa?

Beberapa pabrik penyedia kopi yang datang ke kantor kami memang berasal dari para pemain lama yang sudah memiliki bisnis kopi menggurita, bahkan mendunia. Contohnya MoonBuck’s, yang punya gerai kopi di mana-mana. Diantara pabrik kopi raksasa lainnya, bahkan mengusung konsep ‘kopi cinta bumi’. Jadi, mereka tidak hanya menyediakan kopi, namun juga memberikan gelas untuk meminum kopi yang dapat menyimpan panas dengan dingin dengan baik dan nyaman digenggam (akibat dibuat dengan desain yang baik serta didukung teknologi nano) dan gelas itu pula dijamin tahan lama dan mudah dibersihkan. Sehingga tidak butuh banyak air untuk mencucinya. Raksasa kopi lainnya, datang dengan mengusung konsep ‘kopi manusia’; yaitu mengatakan bahwa kopi mereka mendukung fair trade. Fair Trade sendiri adalah adalah sebuah gerakan sosial yang terorganisir dan pendekatan berbasis pasar yang bertujuan untuk membantu produsen di negara-negara berkembang memperoleh kondisi perdagangan yang lebih baik dan mempromosikan keberlanjutan (sustainability). Nama lain dari perdagangan lintas batas yang jujur.

Pada intinya, banyak ‘raksasa kopi’ yang dagang ke pabrik kami. Tapi bukan itu sebabnya disebut Perang Antar Raksasa. Sebab toh ada beberapa warung kopi kecil yang baru mulai (start-up) ikut dalam perang kopi ini.

Disebut perang antar raksasa, karena ini adalah perang pecinta kopi dengan inderanya. Perang antara indera perasa yang digunakan untuk meminum kopi (lidah dan hidung) dengan iklan marketing (iming-iming gelas bagus, humanisme, nama besar, branding kuat, dsb). Perang ini bukan hanya perang antara para pembuat kopi, melainkan juga perang untuk penikmat kopi. Peperangan dalam memilih prioritas dalam meminum kopi yang nikmat.

Namun, yang menarik di sini adalah melihat langsung peperangan yang adil antara David dengan Goliath industri kopi.

Kok bisa? Bagaimana caranya berperang dengan raksasa branding bisa adil?

Gampang. Jawabnya adalah “blind test”. Test yang tidak melibatkan apa-apa kecuali pecinta kopi dan kopi yang akan diminumnya.

Untuk kopi hitam, 700 relawan dari sepuluh negara bagian bersedia mencicipi kopi dari berbagai pabrik dalam cangkir putih biasa. Cangkir itu polos. Isinya hanya cairan kopi hitam. 700 manusia itu tidak tahu mereka minum dari kemasan apa. Mereka pun polos kembali ke khittahnya. Pecinta kopi dengan gelas kopinya.

Untuk kopi dengan campuran tesnya lebih unik. Relawan penguji ditutup matanya. Mereka diberikan gelas-gelas kecil dengan ukuran yang sama. Diminta menilai, mana yang paling enak.

Hasilnya bagaimana?

Setelah uji coba yang menyenangkan ini (*Semua orang bergembira. Pabrik kopi dapat feedback langsung mengenai produknya. Konsumen dapat kopi gratis yang enak*) kami mendapat hasil yang sungguh mengejutkan sekali.

Ternyata para raksasa kopi kalah telak. Yang menang, ternyata sebuah warung kopi kecil yang memulai usahanya sekitar 3 tahun lalu di sebuah simpang dekat pabrik kami. Yang lebih mengejutkan adalah produk Moonbuck’s, gerai kopi raksasa, hanya disukai oleh 3 orang (dan mereka langsung menutup gerainya di kantin pabrik kami).

Menarik. Dari 700 relawan, 300 orang lebih diantaranya memilih kopi yang dibuat oleh sebuah warung kopi kecil yang mangkal tidak jauh dari lokasi kami bekerja. Ini baik. Bukan karena alasan underdog selalu dapat simpati. Melainkan adalah akan tercipta iklim menumbuh-kembangkan bisnis baru. Setidaknya, bisnis kopi kecil yang baru berjalan itu.

Mengapa ini bisa terjadi?

Ada banyak teori (yang dibicarakan ketika makan siang antara saya dan rekan-rekan kerja beberapa hari sesudah acara ngopi jamaah ini) muncul dalam menjelaskan mengapa sebuah usaha kopi kecil tiba-tiba mendapat dukungan publik. Diantaranya adalah;

  • Pecinta kopi adalah manusia yang mencintai kopi. Mereka tahu kopi yang bagus dan yang tidak.
  • Kopi yang enak tanpa didukung kesempatan untuk dikenal publik, tidak bisa berkembang penjualannya
  • Harus ada manusia yang menceritakan kejadian perang kopi ini (*Bukan, ini bukan tugas saya. Sebab di web internal sudah diceritakan peristiwa ini :) *)

Moral cerita;

Apapun yang saya ceritakan di atas, tidak ada hubungannya dengan kebiasaan saya minum teh saat ini. Hehehe…