Archive for the 'di jalan' Category

Lelaki Dari Indonesia

Saya dipanggil oleh rekan kerja dari departemen Sumber Daya Manusia. Kata beliau, ada training yang mungkin menarik untuk saya. Saya tanya training apa, dia jawab, training personal branding. Saya tanya lagi apa ada makan siang gratis, dia ketawa. Padahal saya serius. Saya mau ikut kalau ada makan gratisnya. Maklum lah, mental kere macam saya begini kan doyannya gratisan.

Teman saya, si trainer, bilang kalau training ini dibutuhkan sebagai bagian dari sekolahnya. Ia harus mentraining enam kali karyawan pabrik agar bisa lulus sekolah. Jadi atas dasar bantu teman, saya ikuti lah training ini.

Training ini dilaksanakan pagi hari. Diikuti oleh sembilan peserta dari negara-negara yang berbeda. Satu-satunya orang asia dan kebetulan dari Indonesia, yaa saya. Jadi, saya dapat perhatian khusus memang pada sesi pagi ini.

Saya biasa dapat perhatian khusus. Mirip bule di Candi Borobudur di Jogja sana yang dikerubuti anak sekolah untuk minta foto bersama. Saya bukan bule, ini jelas. Tapi kan sekeliling saya bule semua, jadi jelas juga kalau saya eksotis.

Ini bukan belagu. Bukan pula sok-sokan. Ini fakta. Jadi berbeda itu memang mengundang tatap mata. Satu anak punk berambut mohawk di komunitas santri berpeci pasti jadi lirikan sekelilingnya. Nah logika yang sama kita terapkan pada seorang lelaki tinggi standar berkulit coklat berambut panjang awut-awutan diantara manusia-manusia setinggi dua meter lebih berkulit terang pucat berambut pendek jambul mirip model tokoh kartun tintin. Jelas jadi tatapan. Sekali lagi, jadi berbeda itu mengundang tatap mata. Mau menafikkan fakta ini, silahkan

Sebelum acara dimulai, kami diminta memperkenalkan diri. Setiap orang pun mengenalkan dirinya masing-masing. Bagaimana mereka mengidentifikasi dirinya dan apa yang akan mereka perbuat di masa depan untuk personal brandingnya.

Ketika kami bicara sosial media, ini adalah topik yang sangat menarik. Sebab tidak semua orang ternyata memiliki akun sosial media dan bahkan ada yang membencinya.

Ketika giliran saya harus mengenalkan diri di training ini, saya bilang kalau saya sudah melakukan personal branding sejak lama. Si trainer kaget. Dia tanya kenapa dia tidak bisa menemukan saya di mesin pencari dan sosial media lainnya. Padahal saya sudah mengaku kalau saya punya lima blog, tiga akun facebook, dua akun twitter dan hampir setengah lusin alamat email.

Jawabnya sederhana, saya melakukan semua itu atas nama anonimitas.

Saya tahu personal branding itu penting. Yang jadi pertanyaan, apa itu yang saya butuhkan?

Tahun 2006 blog saya dikunjungi kira-kira tiga ribu pengunjung dari alamat unik perhari. Orang yang berbeda. Tapi lantas apa yang saya dapat? Nama besar? Uang? Jumlah fans membludak?

Tidak! Saya tidak dapat itu semua dan semua itu memang bukan kebutuhan saya.

Yang saya dapatkan adalah diri saya dibelakang komputer tiga jam perhari untuk membalas komen-komen atas nama ‘kode etik ngeblog’.

Bayangkan, tiga jam perhari? Kalau iya saya tidak punya pekerjaan lain seperti nyuci baju, ngepel, beres-beres rumah, masak, nyari nafkah, menservis partner, jelas saja saya bisa meluangkan waktu tiga jam perhari hanya untuk menjadi terkenal dalam imaji diri sendiri. Semacam onani jiwa. Tapi kalau saya tidak punya waktu menanggapi? Maka jadilah itu bumerang buat saya. Semacam melempar opini pada publik dan lalu lari tidak bertanggung jawab atas apa yang ditulisnya. Mirip anjing yang kencing di tiang listrik. Main lempar air seni sembarangan, endus-endus dikit dan lalu pergi lenggang kangkung setelahnya.

Jadi, pada saat saya mengenalkan diri, saya jawab bahwa saya muak jadi terkenal. Bahkan ketika anonimitas melindungi buruknya muka asli saya pun, saya tetap tidak bisa menghindari bahwa saya harus meluangkan waktu untuk menjaga ‘imaji personal’ digital di depan publik. Dan menjaga ‘branding’ itu butuh waktu, tenaga dan upaya.

Jadi pada intinya, jika anonim saja sudah susah jaga branding, apalagi pakai nama asli. Betapa membosankannya harus mati-matian jaga imaji 24 jam sehari melalui semua akun-akun sosial media. Sebagaimana betapa membosankannya jadi orang yang terus-terusan tersenyum dan melambai-lambai di depan publik setiap kali. Memangnya apa? Keluarga raja? Huh!

Tapi yaa begitulah hidup. Kata Kang Adi teman saya. Setiap orang harus mengenalkan personal brandingnya pada publik. Kalau presiden kita saja punya politik pencitraan diri (yang kemudian dengan sangat bangganya diikuti oleh istri, anak, dayang dan siapa saja yang mempu menjilat pantatnya), masak sih kita sebagai warganya tidak mau ikutan?

Jadi, menuruti saran Kang Adi, ikut-ikutanlah saya punya personal branding.

Personal branding saya jelas. Yaitu seorang ayah, sopan dan selalu tersenyum. Singkat kata, dalam bahasa asing, ‘a nice guy’. Tipikal manusia yang tidak menjadi ancaman buat sekelilingnya.

Punya personal branding sebagai nice guy itu susah-susah gampang. Gampangnya, saya tidak perlu susah-susah jadi nice guy. Senyum sedikit, ibu-ibu pedagang jengkol tetangga saja sudah ikutan senyum. Jadi ayah? Apalagi. Apa susahnya? Lah wong saat ini saya sudah dikaruniai seorang putri yang ramah baik dan cantik jelita. Apa susahnya berperan jadi ayah?
Lantas sopan? Lah kalau itu mah kewajiban. Sudah dari bawaan orok memang harus sopan kalau lahir di kampung saya Cilincing sana. Mau rusuh? Yaa siap-siap aja muka babak belur digebugin orang sekampung. Jelas saya harus sopan. Dan itu kewajiban.

Susahnya, yaa dengan orang-orang tertentu saja sih. Terutama gadis-gadis. Ehem…

Iya, saya ini single. Bukan sebuah kebanggan, apalagi kewajiban. Hanya sekedar fakta. Bahwa saya hidup sendiri, membujang, dan melakukan semua kegiatan cuci-mencuci, masak-memasak, membersihkan rumah, mencari nafkah, membesarkan anak, secara sendiri adalah fakta bahwa saya single. Tidak usah ditutup-tutupi. Realita. Pahit memang. Tapi hadapi saja.

Lantas apa hubungannya dengan personal branding sebagai nice guy dan single?

Lah banyak loh!

Sudah berapa kali saya ini diomeli beberapa orang. Ada yang menggerutu dibelakang ada yang terang-terangan memaki di depan. Biasanya yang diumbar adalah, “Kamu ini gimana sih, kalau flirting sama aku… yaa aku saja dong. Masak semua cewek digoda. Dasar buaya!”

Tinggallah saya bengong termehek-mehek. Apa maksudnya? Lah sejak kapan saya flirting sama beliau? Dan sejak kapan saya menggoda gadis-gadis?

Dan dengan seksama dalam tempo sesingkat-singkatnya secara gagah perkasa, saya tangkis omongannya dengan jawaban, “Saya? Beneran nih?”

Beliau sambil marah-marah menukas, “Ya iya kamu! Masih aja pura-pura nggak tau! Kemarin kamu di pestanya si Ayu, duduk disamping dia sambil senyum-senyum. Terus pas di dapur kamu sama Siti, masak bareng. Masih juga senyum-senyum. Trus pas kamu nyanyi maen gitar. Ngeliatin aku terus. Udah gitu lagunya love is in the air lagi. Kamu ini apa sih maksudnya? Kalian ini orang Indonesia berlaku nice dan doyan flirting yaa?”

Wah ini jelas saya tidak bisa terima. Itu generalisasi. Tidak semua orang Indonesia itu nice. Masih ada yang bawa-bawa parang pakai nama agama melarang diskusi buku. Masih banyak di Indonesia yang bakar-bakarin rumah ibadah. Masih banyak orang Indonesia yang cuek lihat tetangganya lapar. Jelas saya tidak terima. Tidak semua orang Indonesia itu nice! (*Pakai tanda kutip, biar efeknya jelas kalau saya tidak terima. Hihihi*)

Lalu kalau soal flirting. Ini jelas merupakan sebuah tantangan untuk menjawabnya. Katanya, orang Indonesia itu suka senyum. Dan oleh beberapa bangsa, yang kelihatannya jarang senyum, senyum itu memang bentuk flirting. si Soni sahabat saya bilang, “Men, kita ini orang dari negara tropis. Katanya mudah jatuh cinta”. Lah saya belum tentu setuju pendapat si Soni. Oke lah memang ada wakil rakyat Indonesia di Senayan sana yang mungkin jatuh cinta dan dengan asoynya memperlihatkan kepada publik adegan rekam mereka ketika tengah bercinta, tapi itu kan bukan berarti semua orang Indonesia mudah jatuh cinta. Lalu menggoda umat manusia sebanyak-banyaknya. Kalau memang orang Indonesia suka menggoda umat manusia dan ditakdirkan lahir sebagainya, pasti kita sebangsa sudah dikerangkeng di neraka. Idih amit amit naujubilah mijalik. Jelas yang pasti saya tidak terima.

Maka itu dengan perlahan tapi pasti, saya jawab beliau dengan, “Neng, nggak semua orang Indonesia begitu. Apalagi saya. Nggak semua orang Indonesia seperti saya. Kami ini terdiri dari banyak manusia yang berbeda. budaya berbeda. Pakaian berbeda. Bahasa berbeda. Tidak bisa semua orang Indonesia dikategorikan sama. Apalagi disama ratakan dengan saya”

Sambil berdiri dan pergi ia dengan ketus menjawab, “Ahh dasar laki-laki. Semuanya sama. Gombal. Bisanya ngeles saja”

Sambil garuk-garuk kepala saya berfikir. Dalam hati. Ahh susahnya jadi laki-laki… Apalagi jadi laki-laki Indonesia. Mau senyum, dibilang menggoda. Mau cemberut, dibilang sombong.

Lah kita, lelaki Indonesia. Harusnya bagaimana yaaa?


Bon Voyage, Hajj

occupy edinburgh

occupy edinburgh october 2011

Anehnya, sore itu tidak cukup panas sebagaimana sore-sore hari di Cilincing. Saya dan adik, Gugun, duduk berdua di serambi rumah Ibu sambil merokok kretek bersama. Gugun menuang anggur putih dingin ke gelasnya, “Lu mao?”

Saya menggeleng, “Kagak ahh. Lu gila kali. Sore-sore gini udah nge-wine”

Dia mendehem, “lo mah enak, di deket rumah lu wine murah. Disini mahal men. Mumpung ada nih. Nggak sering kan lu balik ke Cilincing bawa wine”

Minuman wine yang sedang ditenggak Gugun itu dari anggur berjenis Riesling. Wine putih agak manis produksi Jerman. Aslinya dari daerah yang bernama Rhine. Riesling ini termasuk kategori anggur putih yang cukup punya rasa khas seperti Chardonnay atau Sauvignon Blanc. Varietas Riesling amat ditentukan dari tanah tempat ia ditanam. Jadi, tidak semua Riesling yang tumbuh di tepi sungai Rhine berasa sama (akibat panjang sungainya 1233 Kilometer melewati beberapa jenis lokasi geografis). Tapi entah kenapa, Gugun suka sekali wine tersebut. Setiap saya pulang ke Cilincing pasti saya bawa sebotol untuk oleh-olehnya. Dia kadang agak gila. Wine itu dimasukkan ke dalam kantong-kantong plastik kecil, dibekukan di dalam lemari pendingin, lalu setelah beku, plastik dibuka lalu disedot-sedot bagaikan makan es krim. Sore itu dia masih cukup ‘berbudaya’. Wine itu masih di dalam botol dan diminum selayaknya manusia meminum cairan dari gelas.

Kami berdua sedang sedih. Baru dapat kabar terbaru bahwa ada lagi WNI yang diperlakukan buruk di sebuah negara di timur tengah. Gugun protes, “Lu tau ga men? Banyak orang ngomong TKW kita itu penyumbang devisa. Tapi coba lu pikir, emang orang-orang kita juga bukan penyumbang devisa terbesar buat Saudi? Tiap tahun… Bayangin tiap tahun, ribuan manusia kita diimpor ke sono buat naek haji dan ngabisin rupiah?”

Saya cengar-cengir. “Rupiah? Bukannya pake dollar amerika buat naek haji?”

“Yaa tetep aja kurs awalnya kan rupiah dulu. Abis itu baru diganti ke dollar. Lu gimana sih men? Ironis kan, ngomongnya benci Amrika kapitalis dan zionis. Tapi tetep aja pake dollar dalam transaksi?”

Saya tertawa terbahak-bahak, “Ad hominem lu ahh… Jaka sembung bawa gitar listrik. Nggak nyambung, jreengg….”

Tapi rupanya dia serius. “Coba lu bayangin, tiap tahun pemerintah kita kedodoran buat handle dollar buat jamaah haji WNI. Tiap tahun pemerintah kita mati-matian cari muka ama Saudi. Sampe pake bikin nama pahlawan penyumbang devisa segala buat TKI. Kok yaa warga kita diperlakukan kayak taik kucing di sono. Ngehe banget ga sih?”

Sambil garuk-garuk kepala saya tanya balik, “Lah terus solusi lu apa men?”

Dia menjawab tegas setelah menenggak wine terakhir di gelasnya, “Pindahin kabah ke Cilincing”

Kali ini saya tertawa ngakak habis-habisan.

Ibu keluar. Mendengar kami berdua ribut sekali. Kelihatannya beliau baru selesai solat ashar. Masih pakai mukena, terus mengomel ke Gugun. “Kamu ini ngapain sih sore-sore minum anggur?”

Gugun menjawab polos, “Yang ngasih pan dia, Bu. Omelin aja dia tuh”

Saya bersungut, “Kampret luh. Gua lagi.. Gua lagi”

Gugun sukses. Mata Ibu beralih perhatian ke saya. “Kamu ini gimana sih? Udah bangon siang. Solat kagak. Ngaji kagak. Mandi kagak. Makan sembarangan. Gimana kamu mao ngedoain bapak?”

Seperti biasa, saya punya sejuta lebih trik menghindar. “Bu kagak ada hubungannya semua itu. Doain bapak pan aya bisa dimana aja. Sambil naek angkot juga bisa ngedoain bapak. Nyang namanye owloh, Bu, pan kagak budeg. Owloh itu, Bu. Maha mendengar! Nih biar kata si Gugun minum wine, tapi kalo hatinya deket ama owloh mah, owloh juga bakal dengerin dia. Jangankan si Gugun, Bu. Ibu pan tau Jalaludin Rumi. Sufi tuh orang, Bu. Die aje bilang, ‘jika ku mati nanti, pabila datang ke makamku bergembiralah bahkan dengan anggur yang terbaik‘. Nah kalo orang suci itu aja ngomong begitu, apalagi aye, Bu”

Alis mata Ibu mengerenyit, “Cerewet kamu! Udah sono makan, mandi, ganti baju trus solat asar! Buset dah, susah amat dengerin kata orang tua? Doain Ibu biar taon depan bisa naek haji”

Saya dan Gugun bengong sesaat. Lalu saya buka suara, “Ibu serius mao naek haji?”

“Ya iyalah. naek haji. Ke Mekah. Ke sono. Naek kapal terbang”

Gugun menyahut malas, “Yaa naek kapal lah, Bu. Masak sih mao berenang? Ampe Arab bisa gempor kali”

Ibu cuek mendengarnya

Saya masih penasaran, “Bu, naek haji pan mahal. Duit dari mana?”

“Ada tabungan dari sekolahan. Gaji Ibu dipotong tiap bulan buat naek haji”

Saya cengar-cengir, “Bu, kalo tetangga kita masih lapar, emang hajinya mabrur?”

Ibu saya santai saja menjawab, “Lah kalo presiden kita tau warganya masih banyak yang laper, seumur idup kagak bakalan kali dia nginjekin kaki di Mekah. Kalo dia aja cuek naek haji, nyuekin warganya yang udah jelas-jelas kelaperan. Masak sih Ibu kagak?”

Saya ketawa terkekeh-kekeh. Ibu ini orang Cilincing. Dan sebagaimana orang Cilincing lainnya, yaa pragmatis. Haha…

Gugun matanya menatap kebun. Ia tidak puas dengan jawaban Ibu. Buatnya, haji itu bukan sesuatu yang luar biasa jika pemeluk agama teguh menjalankan salah satu rukun imannya, menyepelekan kehidupan sosial yang ada di depan mata.

Oke, itu cerita sebuah sore di Cilincing. Singkat saja, saya mau ceritakan bahwa pada akhirnya Ibu gagal naik haji di tahun berikutnya. Gugun, masih tetap tidak mampu beli wine dan menolak alkohol (akibat mahal). Saya? Ahh, saya jelas masih sama. Masih tak beraturan makan dan mandi, masih tidak pernah solat ashar dan masih keras kepala mendengar nasihat orang tua. Hahaha…

Setelah sekian lama, cerita ini akhirnya pun terlupakan.

Namun muncul lagi beberapa bulan lalu. Ketika seorang sahabat bernama Yayak datang ke kampung tempat saya tinggal. Di sebuah sore di dapur Mbok Dini (yang kebetulan rumahnya hanya sekitar 15 menit jalan kaki dari rumah kontrakan saya), Yayak bertanya kabar Ibu di Cilincing.

Saya jawab, “Ibuku mau naik haji tahun ini, Yak. setelah sekian lama, kayaknya tabungannya cukup. Ibu pergi tahun ini, Yak”

Sambil melinting rokok ia bertanya, “Lu nggak ikut?”

“Waduh, gua sibuk banget Yak., Ibu gua minta gua pulang ke Cilincing. Gua nggak bisa berangkat. Susah nggak bisa ninggalin anak dan kerjaan yang numpuk”

Yayak membelalakkan matanya dan tiba-tiba punya ide ajaib, “Lu nggak usah pulang. Ngapain lo pulang ke Cilincing? Lu langsung aja ke Mekkah. Lu gendong tuh emak lo sampe rumah Tuhan. Gua tau lo udah nggak percaya siapa-siapa. Itu mah ga penting. Yang penting, lo bikin emak lo seneng. Lo pijitin kaki dia kalo pulang acara haji tiap sore. Lo gendong emak lo kalo capek. Nih denger gua, Rip. Lo percaya apa nggak, itu nggak penting! Yang penting, lo bahagian itu Ibumu…”

Saya bengong. Edan, kok yaa tiba-tiba saya percaya kalau omongan Yayak benar adanya. Tiba-tiba, semuanya jadi logis di mata saya. Tentang agama dan ritual yang pudar di mata bahkan sejak saya lepas bangku SMA, kini tiba-tiba jadi logis dan benar-benar terang.

Mungkin saya memang sudah kehilangan agama. Sudah kehilangan kepercayaan. Sudah kehilangan ‘pegangan’ bahwa hidup ini melulu untuk surgawi. Tapi, saya masih punya Ibu. Dan saya amat mencintai beliau sepenuh hati. Dan mengakui, bahkan jika ada lautan api yang secara literal akan saya terjuni demi cinta, maka hanya akan saya lakukan atas nama putri dan Ibu saya.

Hanya demi cinta dua wanita itu, bahkan langit pun akan saya tantang untuk membuktikannya.

Yayak benar. Saya mungkin sudah tidak punya agama lagi. Tapi saya masih punya Ibu, dan demi beliau, saya akan melakukan apa yang bahkan mungkin tidak pernah terlintas di otak saya.

Iya, saya akan berangkat haji.

Gila, tidak pernah terlintas di otak, saya kan melakukan tindakan segila dan senekat ini. Tapi saya akan naik haji. Hanya untuk menjaga, menggendong dan memijit kaki Ibu ketika beliau letih. Sumpah, sama sekali saya tidak peduli bahwa saya akan berembel-embel haji, atau malah jadi masalah buat Saudi. Itu sama sekali tidak penting. Saya hanya akan menjaga dan bersama Ibunda tercinta.

That’s all.

Lalu saya pun mulai riset. Belajar bahasa Arab. Cari teman yang sudah naik haji dan bertanya pengalaman mereka dan cari yang informasi. Dan setelah berkali-kali menghubungi biro perjalanan, hasilnya semua sama. Naik haji itu ternyata tidak murah. Setidaknya, bukan untuk kantong buruh kecil macam saya ini. Saya coba alternatif lain. Saya coba untuk naik haji a’la backpacker. Cari yang murah meriah.

Namun tetap sama. Saya, secara finansial, benar-benar tidak mampu naik haji.

Iya, di satu titik saya akhirnya sadar dan bicara melalui saluran langsung internasional dengan Ibu, “Maaf Bu, saya tidak bisa pulang ke Cilincing anter Ibu ke bandara dan juga tidak bisa jaga Ibu di Mekkah”.

Ibu mengerti. Anaknya yang nun jauh di belahan dunia sana punya dunia sendiri. Beliau hanya bicara singkat dalam lirih, “Doain aja Ibu selamet yaa…”

Saya mengangguk dalam percakapan itu. Hati saya masygul. Bahkan setelah menutup telpon, saya masih diam seribu basa.

Putri saya, Novi Kirana datang menghampiri setelah telepon usai. Bocah berusia tiga tahun itu bertanya, “Papa, kamu okay?”

Saya senyum menatapnya, “Nak, papa nggak bisa ketemu Oma Ibu. Oma Ibu mau pergi jauh. Naik pesawat. Menyebrang laut. Papa nggak bisa jaga Oma Ibu”

Dia mengusap rambut saya. Ia bilang, “Tapi kamu selalu bisa jaga aku, Papa. Kamu jangan khawatir, Oma Ibu pasti ada yang jaga…”

Saya bengong menatapnya. Iya, saya kaget. jelas amat kaget. Saya tidak bisa membandingkan Ibu saya dengan saya. Saya sudah tidak punya tuhan. Tapi Ibu saya masih. Dan saya yakin cinta dan kepercayaan akan Tuhannya lah yang akan menjaga beliau.

Entah kenapa, tiba-tiba semua jelas dan terang. Semua yang dulu abu-abu dan seakan gelap, tiba-tiba jadi jelas.

Malam ini, saya menulis dalam dingin di sebuah titik di Edinburgh. Pada sebuah monument di Saint Andrew Square. Di tengah tenda-tenda para penghuni #occupyEdinburgh. Tadi pagi dapat kabar buruk, seorang wanita aktifis diperkosa ketika mengikuti acara pendudukan di Glasgow. Dan berita itu menyengat hati saya dan membuat saya kecewa. Bahwa aksi damai di Skotlandia masih dicorengi oleh hal-hal yang membuat miris.

Ibu berangkat ke Mekkah sana. Ke negeri yang lebih panas daripada Cilincing. Saya ada semakin jauh ke utara bumi. Semakin tenggelam ke belahan negara-negara dingin. Kami berbeda. Dan akan selalu berbeda. Sebagaimana saya dan kita selalu berbeda dengan siapa saja. Namun entah kenapa, naifnya saya percaya, bahwa cinta dan kepercayaan akan melindungi mereka.

Saya sudah kehilangan banyak kepercayaan di muka bumi ini. Dan semakin jauh saya berjalan, semakin banyak kepercayaan yang semakin hilang. Namun semakin jauh saya berjalan, ternyata saya menemukan hal yang semakin lama semakin terang, bahwa cinta dan kepercayaan akan tetap melindungi manusia dan isi bumi.

Ahh malam ini mungkin makin semakin dingin. Mungkin malah membuat otak saya semakin beku dan menulis hal-hal aneh macam begini.

Tapi persetanlah semua itu. Yang saya tahu hanya satu, yaitu betapa saya amat mencintai orang-orang yang saya cintai.

Dan harapan akan cinta mereka, yang membuat saya masih hidup hingga saat ini.

Dan dalam kepercayaan itu, walaupun dalam letih, membuat langkah semakin jauh menapak…

(*Ibu, sampai jumpa kembali. Suatu saat, kita pasti akan bertemu*)


Shit Happens, Life Goes On (Horror Hari Jumat)

Hari jumat lalu, pagi-pagi saya rencananya mau berangkat kerja. Sudah sarapan, sudah mandi, sudah bersih-bersih rumah segala dan lalu berpakaian. Rencananya akan naik bis, tidak mengayuh sepeda menuju pabrik. Maklum, hari itu agak gerimis. Kalau nanti sore cuacanya membaik, saya akan ajak sahabat saya Kang Adi untuk main tennis di dekat rumah. Maka itu dalam tas ada sepasang raket tennis.

Omong-omong, rumah kontrakan saya, terletak di lantai enam. Kalau turun atau naik, yaa pakai lift. Maka seperti biasa, saya memakai lift dong untuk turun ke lantai dasar. Jadi hari itu, saya hanya mengulang kebiasaan, pergi kerja turun ke bawah dengan lift. Seperti biasa.

Tanpa perasaan curiga, saya tekan tombol lift menuju bawah. Begitu pintu lift tertutup dan perlahan bergerak turun saya tidak merasakan sesuatu keganjilan apapun. Namun ajaibnya, begitu di lift mulai memperlihatkan angka lima di petunjuk lantainya, tiba-tiba bagaikan gila ia meluncur seperti seluruh kabel-kabelnya putus semua. Wussszzz…

Di dalam lift saya seperti dalam ruang anti gravitasi, kaki rasanya tidak menginjak dasar lantai lift. Kok saya seakan seperti terbang rasanya? Saya jatuh.

Di lantai tiga lift berhenti dengan suara keras sekali. Blamm!!!

Seakan ada tangan raksasa yang menahannya untuk terus meluncur ke bawah. Badan saya terhentak oleh kejutan ini. Lift berderak keras. Sebelum sempat menyeimbangkan kaki, muka saya menghantam dinding lift yang persis ada di samping tombol-tombol. Walhasil bibir saya memble jontor temporar. Sementara pundak serasa copot engselnya.

Tak dinyana, lampu mati. Ruangan gelap total. Lift ini berukuran panjang dua meter, lebar satu meter dan tinggi dua meter. Kecil? Iya, buat saya sih tidak terlalu besar. Dalam sendiri di kotak kubikal ini dan diliputi kegelapan sepi, saya tiba-tiba merasa ada di peti mati.

5 Menit +

Masih dalam gelap, saya cek muka saya dan pundak. Apakah basah atau tidak. Sebab kalau basah, bisa jadi ada bagian tubuh saya yang terbuka dan mengeluarkan darah. Syukurlah tidak ada apa-apa. Saya masukkan tangan ke kantong, mencari telpon. Saya ketik pesan, “Kang Adi, punya bola tenis ga? Kita maen yuk nanti sore?”. Dan setelah itu dengan santainya saya tekan tombol ‘send’.

Setelah itu saya bengang-bengong saja dalam gelap. Lima menit kemudian, saya baru sadar bahwa saya telah dan masih sedang mengalami ‘insiden’. Dalam hati saya mengutuk, “buset dah, bego amat gua tadi. Bukannya minta tolong Kang Adi waktu sinyal masih ada, kok malahan ngajak maen tennis. Gimana nanti kalo gua baru ditemukan orang berhari-hari kemudian?”

Dalam gelap saya sadar bahwa saya senyum cengar-cengir sendirian.

10 Menit +

Saya lihat jam. Sepuluh menit telah berlalu. Lampu masih mati. Tombol emergensi minta tolong pun mati. Telpon tanpa sinyal. Daripada bengong memikirkan yang tidak-tidak, saya putar lagu melalui telepon genggam. Tidak lama kemudian, suara Iwan Fals terdengar lembut. Iya, masih gelap. Tapi setidaknya, minimal agak romantis gitu deh. Hehe.

Rumah kontrakan saya baru jadi bulan Desember lalu. Belum ada tujuh bulan usianya. Penghuninya kebanyakan yaa mirip saya, pergi pagi kerja dan pulang malam. Beda dengan tetangga, saya biasanya pergi paling lambat dan pulang paling cepat. Maklum saya kan buruh gila. Kadang suka datang ke pabrik seenak jidatnya. Pada intinya, saat ini tetangga-tetangga saya pasti sudah pergi semua. Percuma kalau saya teriak minta tolong pun, dinding-dinding rumah kami tebal bahkan hingga memakai kaca ganda demi menahan dingin dan suara. Belum lagi kenyataan bahwa saya ada di lift yang dilapisi pula tembok super tebal. Buka suara, yaa percuma. Akan menghabiskan energi saja.

Tapi… Eh tapi, saya dengar ada suara orang bercakap-cakap dan langkah kaki. Maka dalam gelap, saya pukul-pukul dinding lift sambil teriak-teriak minta tolong. Bodo deh kalo dibilang ngabisin enerji, yang penting gua selamet! Begitu saya pikir saat itu.

Anehnya, mereka tidak mendengar dan langkah kaki terus berlalu. Saya sempat kecewa dan sedikit marah. Kenapa mereka tidak mendengar, apa susahnya sih berhenti sebentar memberi pertolongan?

Saya baru sadar ketika suaru itu pasti tiba dari lobang udara. Ahh mungkin saja mereka tidak ada didekat sini. Bisa jadi ada di gebung sebelah utara.

Omong-omong soal lubang udara. Astaga, saya baru sadar lift ini menjadi panas. Tadi keluar pintu rumah, udara menunjukkan 16 derajat Clecius. Saya pakai jas musim semi. Dan sekarang dalam lift panas sekali. Saya buka jas tipis ini.

15 menit +

Suara berdengung agak keras. Telinga saya sampai tidak enak mendengarnya. Ada kedip-kedip cahaya. Saya tatap ke atas dalam gelap, tiba-tiba cahaya terang datang. Horeee! Lampunya menyala!

Saking senangnya, saya lompat joget-joget seperti simpanse yang diberi pisang. “Hore, nyalaaa! Horeee!!! Nyalaaa!!!”. Namun tindakan ini segera saya hentikan. Dari atas, dibalik lampu saya dengar suara ‘kreot… kreeoottt…’. Astaga! Itu suara kabel. Dan saya pikir, gila sekali kalau saya teruskan loncat-loncat. bagaimana kalau kabel lift ini putus? Lantai terbawah itu terletak sekitar lima lantai lagi (iya ada lantai berangka minusnya). Saya pikir, kalau kabelnya lepas, ada kira-kira dua puluh meter saya dan lift sempit ini akan terjun bebas menghunjam bumi. Maka itu saya hentikan loncat-loncat dalam lift dengan tujuan agar anak saya tidak jadi yatim sesegera mungkin.

Saya pencet tombol komunikasi darurat untuk menghubungi operator lift. Ahh, sayang sekali sudah coba memencet tombol itu selama 10 menit tidak juga ada jawaban.

Saya duduk diam. Mencoba berfikir positif. Apa yaa yang positif? Saya coba mengambil raket tenis dari dalam tas. Menatapnya dengan pelan. Membayangkan kalau saya jadi Rafael Nadal, lalu main di Wimbledon bersama putri saya. Seru kali yaah?

30 Menit +

Akhirnya setelah setegah jam, berhasil pula saya mengontak petugas yang mengontrol lift.

Dengan mencoba untuk tenang dalam udara yang makin panas saya bilang, “Nama saya (sensor) Saya tinggal di jalan (sensor) di gedung (sensor) Saat ini saya terjebak di lift kalian sejak setengah jam. Lift tanpa lampu dan baru menyala kira-kira belum lama sih”

“Setengah jam, Pak! Lama amat!”

Dalam hati saya merutuk. Ini mbak-mbak bukannya menenangkan saya, malahan bikin kesal. “Iya mbak, sudah setengah jam saya disini dan saya akan terlambat kerja. Sangat terlambat!”

“Bapak baik-baik saja?”

Yaelah, baru nanya sekarang. “Iya Mbak saya baik-baik saja”

“Bapak sendiri dan apa ada masalah?” Idiiih tanyanya kok seperti mau ajak kencan.

“Nggak Mbak, saya baik-baik saja. Tolong telpon nomor (sensor) untuk memberitahu rekan saya (sensor) kalau saya terlambat dan rapat silahkan bisa dimulai. Bisa? Telpon saya nggak ada sinyalnya. Maklum lah, saya terjebak di lift”

“Bisa Pak… Bisa!”

Diam sejenak. Saya bengong. Ini apa saya tengah disambungkan dengan rekan kerja saya, atau memang tidak ada bahan pembicaraan lagi.

“Mbak… Mbak… Halooo… Masih disana?”

“Iya Pak masih disini saya”

“Mbak, kapan petugas reparasi lift datang?”

“Ini sedang saya coba dari tadi Pak. Petugas kami sedang sibuk, Pak. Kira-kira baru sampai satu setengah jam lagi”

“Satu setengah jam? Heh.. Apa! Waduh Mbak, saya mau kencing nih. Gimana dong?”

Tidak ada jawaban.

“Mbak, saya boleh kencing di pojok pintu lift”

Masih tidak ada jawaban.

“Mbak… Err, saya udah kebelet nih”

Saya dengan suara bisik-bisik. “Pak, saya belum terbiasa menangani yang terjebak di lift lebih dari lima menit. Saya belum tahu, Pak. Bapak bisa menelpon lima menit lagi?”

Saya cengar-cengir mendengar jawabannya. Saya jawab OK dan lalu terdengar dari sana sambungan tertutup.

Sebenarnya saya tidak ingin buang air kecil. Saya hanya ingin bercanda saja dengan mbak-mbak itu. Ahh tidak dosa kan? ;)

45 menit +

Saya sudah bosan. Dengar musik, sudah. Baca buku, sudah. Menggoyang-goyangkan badan sambil memegang raket tenis, juga sudah. Jadi mau apa lagi?

Eh ada kaca! Besar. Setengah dinding lift bagian kanan tertutup kaca. Kenapa nggak ngaca aja bangaip? Bukankah mengaca sebagian dari iman? (*kata siapa? hahaha*)

Akhirnya saya berkaca. Duh, saya baru sadar. Bahwa rumah saya tidak ada kaca. Ada kaca, tapi dipakai hanya untuk aksesori saja. Secara serius, ternyata saya selama ini tidak pernah berkaca. Apakah ini artinya saya kurang introspeksi? Orang yang suka introspeksi kan katanya suka berkaca pada diri sendiri? Kenapa saya tidak? Apa jangan-jangan saya terlalu takut menatap wajah sendiri dan mencoba melupakannya? Halah!

(*Loh kok jadi melantur*)

Saya konsentrasi melihat kaca. Oh, baru sadar. Banyak jerawat di sekitar hidung rupanya. Akhirnya, saya pencet-penceti itu jerawat. Wah, dibawah mata juga terlihat kantung mata makin membesar saja. Tiba-tiba saya kepikiran untuk membeli krim. Entah krim apa saja, yang penting bisa mencegah keriput-keriput dan flek wajah ini. Saya buka mulut, aduh… Gigi saya kok kuning semua. Padahal saya sudah sikat gigi. Ahh, apa saya perlu ke dokter gigi untuk diputihkan lagi? Eh lalu apa itu, kok kuping saya ternyata besar sebelah? Idiih, rambut saya kok nggak rata begini yaah?

Tiba-tiba saya merasa bahwa inilah sebenarnya horror yang tengah saya hadapi. Yaitu, melalui kaca di lift yang rusak ternyata terlihat bahwa saya bukan tipikal orang yang bersyukur.

Mungkin… Ah mungkin saya harus berubah…

1 jam +

Saya zikir membaca dalam hati “Jauhkanlah aku dari godaan kaca yang terkutuk” banyak-banyak. Duduk di lantai. Membuka telpon kembali. Melihat foto dan video putri saya Novi Kirana. Dalam hati tiba-tiba berfikir kalau ternyata saya dipanggil yang maha kuasa dalam lift yang rusak, maka sebenarnya saya cukup bangga. Sebab saya sudah berhasil memproduksi seorang putri baik pintar cantik lucu dan menjadi kebanggaan bahkan ketika nafas saya telah berhenti berhembus nanti.

Saya senyum-senyum sendiri.

Dalam film-film produksi Hollywood, kalau manusia dalam saat-saat menjelang proses kematiannya, maka ia akan memikirkan hal-hal yang telah ia jalani dalam hidup.

Di atas, suara kabel semakin keras berderak-derak. Saya duduk dalam diam bagai patung. Namun lift terus bergoyang-goyang berantuk dengan dinding luar pelapisnya.

Apapun yang akan terjadi, saya sudah pasrahkan saja.

Saya ingat Ibu di Cilincing sana. Ingat masa kecil saya yang lumayan bahagia. Ingat pernah main bola di sawah bersama Gugun, Jumari, Odoy, Rojak, Utu, Aris, Uki dan lain-lainnya. Ingat bahwa ciuman pertama saya ketika menjelang kelas tiga SMP adalah dengan gadis buruh pabrik tekstil dari Indramayu. Ingat kalau main sepeda hujan-hujan di Jakarta itu ternyata indah sekali. Ingat kalau ternyata saya hobi bepergian dan banyak menapakkan kaki di muka bumi dan sama sekali tidak punya banyak ikatan emosional dengan rumah tinggal. Ingat pertama kali menggendong bayi Novi Kirana dalam dekapan.

Saya ingat sekarang, dulu rumah saya adalah rumah Ibu. Dan kini sejak jadi ayah, rumah saya adalah putri saya tercinta. Rumah itu ternyata adalah sebungkah hati yang dicintai.

Maka jika sebentar lagi kabel lift ini putus dan saya meninggal. Saya pikir saya tidak perlu takut. Toh saya akan bertemu bapak sebentar lagi :) Bukahkan besok hari ayah? Dan tentu saja saya siap bertemu beliau kembali.

1,5 jam +

Sudah sekian lama, kok yaa kabel lift belum putus juga? Wah saya jadi bingung sendiri. Gua jadi mati hari ini apa nggak yaah? Tapi kalo gua mati, trus kenapa? Shit happens, life goes on.

Daripada bertanya-tanya hal yang menyeramkan, saya akhirnya membuat daftar. Apa saja yang belum saya lakukan dalam hidup ini. Daftar itu, yaa jelas apa yang ingin saya lakukan tapi belum kesampaian.

Yang pertama saya pikirkan adalah, ‘telanjang di depan publik’.

Tiba-tiba saya berfikir bahwa telanjang di depan publik adalah salah satu hal yang belum pernah saya lakukan dalam hidup. Apa saya harus telanjang sekarang dalam lift ini? Tapi kalau saya telanjang sekarang, trus kabel liftnya copot dan saya terjun bebas ke lantai dasar, kan agak aneh berita esok hari. “Seorang pria bugil ditemukan tewas dalam lift ditemani lagu dangdut”.

Wah gimana kalo temen-temen saya tahu kalau mayat itu ternyata bangaip? Hahaha…

Okelah, saya putuskan bahwa telanjang di depan publik tidak jadi saya lakukan dalam lift ini secara saya pikir bahwa kalau memang mau telanjang akan lebih baik jika saya masih bernapas. Ditambah lagi kenyataan bahwa dulu saya pernah difoto telanjang dan dipublikasikan pada publik berarti itu bukan hal yang belum saya lakukan. (*Poto telanjang di publik? Publik ape Bang! Hahaaaayyy… Mana tahaaannn…*)

2 jam +

Interkom lift menyala. Suara mbak-mbak itu lagi membuyarkan angan-angan saya yang kepikiran untuk membuat tatto wajah putri di pundak kalau saya selamat hari ini. “Pak, mohon jangan berdiri dekat pintu. Bapak akan mengalami sedikit guncangan. Lift bapak kami sambung dengan instrumen baru kami”

Sedikit guncangan? Mbak, masoloh, andai dikau tau tadi bibir gua mao jontor trus selama dua jam liftnya goyang-goyang kerawang lebih ngebor daripada joged Inul, pasti nggak ngomong begitu deh. Tapi saya jawab, “Okay”

Gila aja kali saya mau mendebat orang yang mau menolong?

2 jam + 15 menit

Setelah lift naik turun dari lantai paling bawah ke paling atas berkali-kali dan ada asap masuk dari saluran udara (yang membuat saya terbatuk-batuk, mata panas dan meminta agar segera dibuka pintunya) akhirnya pintu terbuka di lantai tiga.

Ada suara dari interkom “Pak, silahkan keluar sekarang jika mau”

Jika mau? Yaelah, masih ngocol aja nih si mbak.

Saya keluar dari lift. Dengan selamat. Masih mengenakan baju dan celana sambil memegang raket tenis. Akhirnya saya putuskan turun naik tangga setelahnya.

2,5 jam +

Saya menerima banyak telpon dan SMS dari rekan kerja yang bertanya mengenai keselamatan saya dan apakah saya berhasil mengatasi krisis lift dengan tenang.

Saya jawab santai, “Kelihatannya saya belajar sesuatu yang baru hari ini”

(*Jelas saya tidak akan memberitahu mereka bahwa saya tidak akan telanjang di depan publik hari ini… Hehe*)


Tukang Cak

Masa sekolah dulu, boleh dibilang saya sama sekali tidak memiliki prestasi yang memadai. Nilai saya untuk semua mata pelajaran adalah rata-rata. Sementara yang ada dalam kategori di bawah rata-rata, jelas semua mata pelajaran yang berbau norma moral dan agama. Entah kenapa segala sesuatu yang berhubungan dengan norma moral dan agama, nilai saya selalu merah.

Satu mata pelajaran yang nilainya di atas rata-rata, mungkin hanya matematika. Dan itu pun tidak semua matematika, sebab saya hanya menyukai cabang keilmuan matematika yang bernama teori kemungkinan (probability theory).

Mengapa saya menyukai teori kemungkinan dalam matematika? Sebelum saya jawab ini, ada baiknya jika saya menerangkan apa itu teori kemungkinan dalam matematika.

Menurut kamus, teori kemungkinan dalam matematika adalah;

Cabang matematika yang bersangkutan dengan analisis fenomena acak. Objek utama dari teori kemungkinan adalah variabel-variabel yang terlihat acak atau kejadian-kejadian tertentu. Peristiwa matematis dapat dengan jelas terlihat dalam kejadian yang berkembang dari waktu ke waktu dalam mode yang tampaknya acak. Misalnya jika seseorang melemparkan koin atau dadu dianggap peristiwa acak, maka jika ia berulangkali mengulangi urutan kejadian acak tersebut maka akan menunjukkan pola-pola tertentu, yang dapat dipelajari dan diprediksi. Teori kemungkinan adalah dasar statistik. Ia berlaku untuk deskripsi sistem yang kompleks seperti misalnya digunakannya pada mekanika statistik untuk menjelaskan banyak hal

Waktu pertama kali Bu Atu (pengajar matematika teori kemungkinan) menjelaskan hal ini, saya langsung konsentrasi. Di otak saya hanya dua kata kunci yang tertangkap. Satu ‘dadu’. Satu lagi bagian ‘menjelaskan banyak hal’.

Gila! Gua bisa kaya kalo begini. Itu satu-satunya hal yang ada di otak saya. Bagaimana tidak, judi yang selama ini saya anggap misteri, ternyata bisa dipecahkan dengan matematika!

Waktu zaman saya belajar teori ini, Indonesia sedang keranjingan judi namanya Togel. Singkatan dari Toto Gelap. Judi Toto sendiri katanya datang dari Malaysia/Singapura. Entah saya tidak tahu pastinya, yang pasti di di kampung saya Cilincing manusia berlomba-lomba pergi ke bandar setiap malam untuk bertaruh pada sepasang angka (atau lebih) pada beberapa carik kertas yang disediakan bandar judi lokal. Ada embel-embel gelap, yaa karena memang bukan resmi binaan pemerintah.

Warga keranjingan Togel. Murah sih, seribu lima ratus rupiah sudah dapat bertaruh untuk dua angka. Kalau menang, bisa dapat puluhan kali lipatnya. Mulai dari tukang becak hingga bos kapal nelayan, semuanya hobi pasang judi togel.

Togel lalu jadi epidemi. Di poskamling tempat warga berkumpul, pasti selalu ada sebuah kertas berukuran A4 fotokopi yang isinya adalah gambar-gambar binatang atau benda yang tertera dalam kotak-kotak kecil. Di bawah icon-icon tersebut ada angka, biasanya dua huruf. Ketika akhirnya sudah jadi wabah, bahkan tiang listrik pun ditempeli oleh kertas-kertas tersebut. Yang pasti, kampung saya berubah bagaikan masa pemilihan lurah. Dimana-mana ada kertas promosi. Isinya icon dan angka.

Apa sebenarnya isi kertas fotokopi tersebut? Sederhana. Katanya itu penafsir mimpi. Kalau suatu malam Anda bermimpi diterkam macan, lihat saja kertas itu. Pada icon macan dibawahnya tertera angka 15. Maka pergilah ke bandar, pasang angka 15 sambil berharap mimpi Anda jadi kenyataan. Lalu lantas jika suatu hari bermimpi bertemu ular di sungai, maka pasanglah angka 23. Jangan 32, sebab itu artinya ular laut, bukan ular yang hidup di air tawar.

Mengapa warga kampung saya sudah sedemikian percayanya pada mimpi?

Ketika kemiskinan sudah menjerat, keadilan sosial hanyalah angan-angan, siapa lagi yang bisa dipercayai selain mimpi. Maka itu, jauh lebih banyak para penggila judi Togel adalah para nelayan kecil hingga tukang becak ketimbang para bos kapal. Buat mereka, hanya mimpi yang dimiliki dan satu-satunya yang murah yang bisa terbeli.

Lalu, apakah saya jadi tergila-gila dengan judi togel pula sebagaimana warga kampung lainnya?

Tunggu dulu ahh. Cerita saya belum sampai ke sana. Mari kita balik lagi ke soal mimpi. Masih ingat cerita di atas bahwa warga mengandalkan taruhan mereka pada mimpi. Secara literal, benar-benar mimpi. Artinya mereka tidur dulu untuk mendapatkan mimpi yang lalu ditukar secarik kertas demi mendapatkan mimpi baru.

Jadi begini, jika seorang warga (mari kita sebut saja si Fulan) bermimpi bertemu lantas diterkam macan, maka ia dengan tidak segan-segan memasang angka 15 pada taruhannya. Tapi bagaimana kalau pada sebuah siang di Cilincing yang panas ia bermimpi bertemu macan di tikungan, lantas dikejar singa hingga pematang lalu ditelanjangi ular di sawah hingga setelahnya diperkosa ramai-ramai oleh gajah? Angka apa yang harus ia pasang?

Nah ini lah gunanya saya (dan gunanya teori kemungkinan). Yang pasti saya tidak akan menjelaskan disini betapa dengan ugal-ugalannya saya menggabungkan teori kemungkinan dan analisa Freud dalam mengubah mimpi para manusia malang itu menjadi angka kongkrit yang mereka pasang sebelum masa pengundian tiap malam tiba.

Saat ini, mungkin jabatan yang saya pegang bisa disebut setara dengan kalimat ‘penasihat spiritual’. Zaman itu, nama saya disebut dengan panggilan ‘tukang cak’, orang yang melihat angka-angka acak. Padahal sebenarnya, dalam zaman apapun saya pikir sebutan untuk saya saya adalah manusia yang keterlaluan menyedihkan yang mencoba mengambil keuntungan dari para manusia malang.

Setiap konsultasi, saya dibayar seribu rupiah. Lumayan. Jika sehari ada sepuluh pelanggan, then you do the math. Zaman itu, dengan uang hasil konsultasi saya bisa beli rokok sebungkus, mie instan pakai telor bahkan berbotol-botol coca-cola. Lambang pergaulan anak muda. Jadi, saat itu kebahagiaan saya berdiri di atas jemari para nelayan dan tukang becak miskin yang terus bermimpi. Sungguh mengenaskan.

Eh apakah sudah saya bilang kalau nilai moral dan reliji saya rendah? Kalau sudah, Anda mungkin bisa mahfum manusia macam apa saya itu. Sebab selama saya bisa mengkalkulasi semua angka dan kemungkinan, saat itu saya akan tetap jalan terus. Menyenangkan.

Iya, saya jalan terus. Selama karir saya sebagai tukang cak, padahal hanya tiga kali saja bisa menebak benar. Artinya sederhana, teori kemungkinan yang saya agung-agungkan ternyata tidak bisa mengalahkan judi togel. Pola angka yang saya bangun, tidak terbukti sukses. Kalau setiap malam ada dua puluh pelanggan dan dalam sebulan hanya mampu menebak tiga taruhan dalam empat digit yang benar, maka perbandingan analisa acak saya boleh dibilang sama sekali tidak berhasil.

Tapi apa lantas para nelayan dan buruh pabrik tekstil kecil itu percaya walaupun perhitungan matematis saya gagal namun saya bukan tukang cak? Hohoho… Tidak. Sama sekali tidak. Mereka tetap percaya kalau saya mampu mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Kepada siapa lagi mereka bisa berharap. Mimpi mereka untuk hidup layak sebagai manusia normal sudah binasa. Maka jika mereka masih punya mimpi diatas mimpi, yaa harus dijaga. Maka itu saya tetap eksis.

Mereka percaya kalau saya ‘sakti’. Dan sebagai orang sakti tentu saya punya previlige khusus. Mirip ambtenaar atau keturunan darah biru pada masa kolonisasi dahulu. Jadi ketika perhitungan saya salah, tentu saja mereka menyalahkan diri sendiri dengan kalimat, “Ahh emang udah gini kali nasib gua malem ini”. Sama sekali tidak pernah menyalahkan saya. Sebab besok malam kami akan berkumpul kembali di poskamling untuk sibuk menganalisa mimpi dan menebak angka. Tentu saja dengan sukarela uang seribu rupiah berpindah tangan setelahnya.

Suatu hari di poskamling, sudah bisa ditebak. Ada yang bertanya, “Kenapa lu ga masang?” pada saya.

Saya jawab, “Ilmu gua luntur nanti”

Seorang bapak-bapak yang mengepulkan asap rokok kreteknya duduk berselonjor ke dinding pos. Baru pulang dari laut. Masih bau amis, bertanya lanjut “Emang belajar di mana dulu gituan”

Saya jawab sekenanya, “Pak Ramli pan tau ndiri, engkong aye orang Banten. Kalo liburan sekolah aye mah ke sono, Pak. Ngelmu. Di sono di Kasemen. Deket mesjid agung. Ini ilmu putih, Pak. Dapetnya aja dari kiyai”

Mendengar itu, biasanya warga kampung saya jauh lebih percaya daripada alasan-alasan lainnya. Ketika hidup sudah tidak lagi logis, rasionalitas bukan sebuah jawaban yang layak terdengar. Apalagi kalau sudah bawa-bawa simbol agama. Seakan jawaban apapun yang tersampaikan sudah direstui oleh langit. Dukungan pembenaran atas mimpi mereka.

Saya malas menjawab kalau saya lebih percaya upaya dagang dengan transaksi jual beli jauh lebih signifikan menguntungkan daripada judi. Pertama, akibat desakan ekonomi sehari-hari mereka biasanya sudah mulai mual duluan apabila mendengar kata ‘modal’. Kedua, saya sering adu argumen yang berakhir absurd ketika mereka menjawab, “dagang kan urat. Cuman yang punya urat dagang doangan bisa dagang”. Ketiga, sebab beberapa orang menganggap bisnis itu tidak lebih dari judi dalam bentuk lain. Keempat dan sekaligus yang terakhir, saya pernah memicu perkelahian karena bilang, “Judi itu ibarat kata naek haji. Buat nyang mampu aja lah. Orang susah ngapain pake judi segala!”

Jadi, maka itu saya lebih memilih menjawab sekenanya.

Namun jawaban sekenanya itu tentu saja tidak berlaku di depan muka Ibu saya yang curiga anaknya sudah berbulan-bulan tidak minta uang jajan. Dan cerita ini pun akhirnya berakhir dengan anti klimaks. Seorang anak yang masih tinggal di rumah orangtua, tidak sanggup melawan meneruskan bisnis di area perjudian demi menjaga nama baik keluarga.

Saya berhenti jadi tukang cak. Profesi yang rendah dimata para agamawan karena membantu suburnya industri judi. Sekaligus profesi yang hina di mata moralis, karena sama sekali tidak etis ikut menghisap darah para manusia yang berada dalam jaringan rantai makanan paling rendah.

Tidak lama setelah saya berhenti, pemerintah dan para cendikiawan agamis memaklumkan perang terhadap judi togel. Tiap malam di kampung kami ada razia polisi. Bandar yang kebetulan buka lapak, disergap dan ‘dibina’. Para nelayan dan buruh kecil tidak lagi duduk bersandar di poskamling menanti semilir angin laut yang membawa kantuk mereka mendulang mimpi. Semua orang takut berhubungan dengan judi togel. Di koran-koran muncul fatwa bahwa togel lebih menakutkan daripada HIV.

Semua orang bekerja. Perjudian dimusnahkan.

Setelah judi musnah, pajak televisi kok yaa jadi murah. Dimana-mana warga ramai-ramai memborong televisi. Ada yang ditaruh di ruang tamu jadi pelengkap perabotan pajangan. Ada yang ditempatkan di ruang makan, seakan bagian dari lauk pauk. Ada yang ditaruh di kamar tidur, mungkin untuk jadi saksi ketika mereka melakukan adegan reproduksi.

Dimana-mana orang punya televisi.

Ketika televisi jadi budaya baru, muncul serial-serial yang tiba-tiba membuat ibu-ibu jadi pecandu. Lalu menular ke anak-anak mereka. Lalu tentu saja para suami mulai ikut-ikutan.

Bedanya dengan judi togel, kini dapur jauh lebih ngebul. Uang yang biasanya dihamburkan para bapak di secarik kertas berisi angka, kini bisa untuk beli makanan dan seragam sekolah anak. Ibu-ibu mulai bisa bersolek. Sales keliling menjajakan kosmetik. Tentu saja biar cantik. Biar mirip bintang yang mereka lihat di televisi. Gaya bicara pun mulai berubah, anak-anak SD bahkan pernah teriak kalimat “Oooh tidaak!!” ketika melihat temannya jatuh dari sepeda. Meniru gaya bicara para artis sinetron. Bapak-bapak mulai bermimpi bisa naik mobil dan bahkan memiliki kendaraan roda empat. Sebab itulah tipikal bapak ideal yang mereka lihat di televisi.

Iya, televisi membuat perbedaan.

Sungguh beda dengan ketika judi togel masih ada.

Sebagaimana teori kemungkinan, jika ada perbedaan maka pasti ada persamaan. Loh apa persamaannya antara televisi dan judi togel?

(*Empat paragraf sisa dipotong. Selain kepanjangan isinya kelihatan seakan saya mau menceramahi para pembaca budiman yang cerdas dan sudah tahu jawabannya apa. Ahh memang saya siapa sok-sokan mau menceramahi warga kampung. Saya kan cuma tukang cak yang kehabisan ladang garapan*)


Istirahat

Karena menjelang akhir minggu, saya mau cerita yang sederhana saja lah hari ini.

Beberapa hari lalu, saya mengantuk sekali. Tidur kurang. Maksudnya tidur kurang, yaitu kurang dari 12 jam perhari. Iya, saya memang sedang banyak-banyaknya tidur akhir-akhir ini. Biar saja lah. Nikmati saja selagi bisa.

Karena mengantuk, di pabrik saya ditegur teman-teman. Kok yaa mulut tak berhenti menguap terus. “Udah kamu pulang aja gih sana, istirahat. Parah sekali muka kamu itu. Capek yaah?”

Saya mengangguk. Sambil menguap, berjalan pulang menuju stasiun kereta api. Pabrik saya memang di sebelah stasiun kereta api. Tidak jauh. Paling jalan kaki hanya sekitar satu menit.

Di kereta api, saya sudah tidak tahan. Untung dapat tempat duduk. Akhirnya menyenderkan kepala ke jendela. Tidur. Saya sudah lupa stasiun apa yang saya lewati, tapi biasanya setelah stasiun yang ada di bandara, saya harus siaga. Sebab sebentar lagi saya harus turun. Tapi saya sumpah mati tidak bisa siaga. Sudah mengantuk sekali euy.

Dalam suasana setengah sadar, saya dengar setiap pemberhentian kondektur menegaskan ke penumpang bahwa kami ada di stasiun anu dan akan menuju stasiun berikutnya. Wah, itu sudah bagaikan mimpi. Saya bisa dengar, tapi tidak tahu harus bagaimana.

Untungnya saya berhasil juga turun di stasiun yang harus saya turuni. Keluar pintu kereta sambil ucek-ucek mata. Masih mengantuk. Tunggu bis kota sebentar enaknya bisa menyegarkan mata. Maklum sudah musim semi. Dimana-mana banyak bunga.

Namun ketika bis kota tiba dan dapatlah saya tempat duduk di pojok, lupa pula saya musim semi dan bunga. Saya tidur lagi. Tepatnya ketiduran. Saya pikir, ahh gampang lah. Hanya empat halte dari stasiun, merem dikit kan sah saja.

Iya sah memang. Tapi begitu saya membuka mata, sumpah mati saya mendelik. Loh, ternyata saya kebablasan tidurnya. Bangun-bangun, entah saya ada di mana, kiri kanan benar-benar lahan kosong luas gundul. Waktu itu saya kaget, saya pikir “Wah kok di daerah tandus gini, jangan-jangan gua kesasar di Kalimantan?”

Bis kota berhenti. Pak supir yang tinggi besar berjanggut berjalan ke arah saya dari ruang kemudinya, “Kamu mau kemana? Nggak ada halte lagi”

Saya bengong, ‘Wah Pak, saya ketiduran. Rumah saya nggak jauh dari stasiun. Kok saya bisa sampai di sini? Puterin lagi dong bisnya Pak?“

Dia ketawa, “Yaa nggak bisa. Kamu harus naik bis lain yang ke arah stasiun. Tapi nanti, masih lama. Kalau kamu naik bis yang merah itu, kami ke bandara, dari sana ke stasiun yang kamu tuju. Lebih dekat. Kamu sadar nggak kamu udah tidur kira-kira ampir sejam?”

Saya cengar-cengir. Malu. Hehe. Habis mau bagimana lagi?

Akhirnya saya menaiki bis yang si Pak Sopir maksud. Nah bis ini pergi memang tidak lama kemudian. Begitu saya meletakkan bokong di kursi, semenit kemudian langsung jalan. Tujuan saya, bandara. Sebab dari sana bisa naik kereta lagi ke arah stasiun dekat rumah.

Saking tegangnya melihat kiri kanan daerah yang belum pernah saya lihat sebelumnya, saya capek lagi. Dan saking capeknya, tentu saja bisa ditebak… Saya ketiduran lagi.

Saya akhirnya bangun, setelah dicolek bahunya oleh Bu Supir (supirnya ibu-ibu ternyata). “Kamu mau kemana? Sudah halte terakhir nih. Ini bis mau masuk pool”

Ini pertanyaan kedua yang saya jawab hari ini. Saya jawab dengan memelas, “Mau pulang, Bu”

“Rumah kamu di mana?” (*Entah kenapa, saya tiba-tiba merasa seperti anak kecil yang hilang di Mall lalu tengah ditanya Satpam*)

Ketika saya jawab dimana lokasi rumah saya dan kenapa saya bisa sampai di bis itu, si Ibu Supir senyum-senyum, “Kamu sudah kejauhan turunnya”. Dia meneruskan sambil memberitahu bahwa dari tempat kami berada, saya harus naik kereta ke bandara. “Nggak jauh kok. Ke stasiun kereta hanya jalan sekitar satu menit saja dari sini”

Saya mengerenyit. Satu menit? Setelah mengucap terimakasih dan keluar pintu bis saya terbengong-bengong. Benar rupanya si Ibu Supir kalau stasiun hanya jalan kaki satu menit dari sini. Sebab di depan muka saya terpampang jelas-jelas pabrik tempat kerja sehari-hari yang saya tinggalkan dua jam lalu.

Dari lobby, seorang resepsionis keluar. “Loh bukannya tadi sudah pulang, ngapain masuk kerja lagi? Ada yang ketinggalan?”

Saya cengar-cengir. Tidak tahu harus jawab apa.

Yang pasti, saya tahu apa yang harus saya lakukan di akhir minggu ini. Istirahat. Mumpung masih dikasih kesempatan, yaa ada waktu dipakai istirahat.

Selamat berakhir pekan. Selamat istirahat :)


Siapa Yang Bayar?

pig elephant

Sudah pernah mendengar cerita Anjing Yang Serakah?

Kalau belum, mari saya cerita sedikit. Begini ceritanya;

Suatu masa, hiduplah seekor anjing. Ia terkenal sebagai anjing yang serakah. Kelihatannya, suatu hari ia mencoba untuk insaf dari semua keserakahannya. Di hari itu, perutnya lapar dan tidak ada makanan di rumah. Lalu ia pergi ke jembatan di seberang rumah, melintasinya dan untunglah menemukan tulang terbaik yang pernah ia lihat dalam seminggu terakhir.

Terlintas dalam pikirannya bahwa ia harus segera pulang ke rumah. Bagaimana jika ada anjing lain yang melihatnya membawa tulang sebagus ini? Tidak mungkin. Ia tidak mau berbagi. Jadi dengan segara, dibawanyalah tulang ini digigit dengan gigi-giginya yang kukuh dan tajam melintas jembatan untuk pulang.

Di tengah perjalanan ketika hampir selesai melintasi jembatan, anjing ini menengok ke bawah. Astaga, ia lihat seekor anjing lain yang memiliki tulang sebagus tulangnya. Tapi lebih besar. Lebih lezat dan semua lebih lainnya. Timbul akal jahat diotaknya. Ia akan menakut-nakuti anjing yang ia lihat di bawah itu. Woof! Woof! Teriaknya menakut-nakuti anjing itu.

Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Anjing yang ia takuti ternyata adalah pantulannya sendiri di sungai. Ketika ia teriak menakuti untuk mendapatkan tulang lebih banyak, ternyata mulutnya terbuka dan tulang yang ada dalam gigitannya jatuh tercebur di air sungai yang dalam.

Sampai di sini, mengerti apa yang mau disampaikan dalam cerita anjing yang serakah ini?

Kalau masih belum juga, sudah pernah dengar cerita Perjanjian Dengan Iblis?

Cerita ini adalah dongeng lama yang tersebar di tanah Eropa. Terkenal dengan sebutan Faustian Bargain. Asal kata Faustian adalah Faust, seorang sarjana sukses dalam legenda Jerman yang bosan dan serakah lalu mengadakan perjanjian dengan setan. Faust sendiri adalah tokoh nyata. Katanya mereka yang percaya, cerita ini berangkat dari kisah hidupnya.

Banyak sekali varian dari cerita ini. Mulai dari cerita karya Anton Chekov sastrawan Rusia yang menulis dalam novelnya ‘The Bet’, atau pop culture superhero Spider Man yang terbujuk kekuatan hitam kostumnya agar menjadikannya lebih kuat hingga tuduhan tokoh nyata seperti pemain biola terkenal Niccolò Paganini yang tawar menawar dengan iblis dengan taruhan jiwanya agar dijadikan violis terbaik di seluruh Italia Utara (dan juga seluruh dunia).

Yang paling saya sukai dari cerita perjanjian dengan setan adalah; cerita tentang seorang pria bujangan yang jauh dari perempuan yang dicintainya. Yang ia miliki dari gadis tercinta, hanya selembar foto lusuh dalam dompetnya. Gara-gara cinta, lalu mengadakan perjanjian dengan Iblis agar ia bisa menikahi perempuan tersebut. Tentu saja, iblis tetap iblis. Tidak ada yang namanya ‘free lunch’ buat mereka. Si bujangan ia minta memberikan jiwa sebagai imbalan atas pernikahan dengan gadis pujaannya. Si bujangan, secara cerdik mengakali surat perjanjian tersebut. Hingga akhirnya ia tidak usah memberikan jiwanya, namun tetap akan menikahi perempuan yang dicintainya. Dan iblis pun tidak bisa lari dari perjanjian mereka. Ia terpaksa memenuhi permintaan si pemuda. Membawa perempuan dalam foto lusuh dalam dompet menjadi nyata. Namun iblis tetap saja iblis. Ketika tahu bahwa ia tidak dapat membawa jiwa si pemuda, ia menghidupkan gadis dalam ukuran yang setiap hari si pemuda lihat. Sebesar ukuran foto dompet.

Sebelum menghilang iblis berteriak gusar pada si pemuda, “Keserakahan memakan bayaran”.

Beberapa malam lalu, saya baru saja sembuh dari sakit (*Ah iya, saya sakit lagi. Demam berminggu-minggu*). Karena dengar seorang sahabat Yoyo datang ke rumah Kang Adi, maka segeralah saya ke sana. Mau ngobrol. Mau ketawa-tawa. Yoyo dan Kang Adi itu dua-duanya seniman. Lucu. Saya suka nongkrong bersama mereka. Sebab dijamin pasti ketawa-tawa. Dijamin pula, banyak makanan ajaib.

Kami bertukar cerita. Utamanya soal Indonesia. Karena kami semua kebetulan berasal dari Indonesia.

Kalau bicara soal Indonesia, yaa utamanya memang tidak jauh dari Kalimantan dan para politisi praktis.

Kalau Kalimantan, yaa jelas mengenai laju penggundulan hutannya yang luar biasa. Yoyo cerita, hanya ada satu bagian kecil di sebuah propinsi di Kalimantan yang hutannya tidak disikat habis-habisan. Kenapa? Sebab hutan itu dihuni oleh suku yang menjadi konsultan peperangan pasukan elit Indonesia. Lantas kenapa hutan mereka tidak disikat? Sebab berdasarkan surat ijinnya, ternyata koperasi pasukan elit itu lah yang memiliki HPH (*artinya Hak Pengusahaan Hutan. Namun praktek lapangannya adalah Hak Penyalahgunaan Hutan*) tempat suku itu bermukim hingga ke hilir.

Yoyo yang baru saja dari Kalimantan untuk penelitian itu cerita, Kalimantan ini jadi pertarungan gajah-gajah Jakarta dalam memperebutkan lahan mencari nafkah. Hutannya ditebang. Tanahnya digali demi batubara. Langitnya dipolusi. Pokoknya™ apa saja yang ada di Kalimantan kini sedang dijarah habis-habisan. Banyak sekali nama pejabat, orang kaya, selebriti yang kelihatannya harum di surat kabar Ibukota, saat ini sedang berlaga di bumi Kalimantan.

Kalimantan yang seksi jadi rebut-rebutan jatah preman. Mulai dari preman Jakarta yang punya kuasa, hingga preman lokal macam bupati.

Lepas cerita Kalimantan, Yoyo cerita tentang para anggota dewan di Jakarta yang meminta gedung baru. Dia bingung, mereka itu sudah mati-matian minta suara dari rakyat. Lantas ketika terpilih, supaya mereka dan keluarga tidak lapar, digaji dengan baik oleh rakyat. Bahkan pajak penghasilannya juga disamakan dengan pajak rakyat. Supaya kerjanya lancar para anggota dewan itu diberi mobil oleh rakyat. Supaya tidak kedinginan dan kepanasan, mereka diberi perumahan yang baik sebaik-baiknya dengan pengatur suhu. Semuanya yang bayar rakyat. Rakyat Indonesia yang sebagian besar penghasilannya dibawah rata-rata.

Sekarang… Para wakil rakyat itu minta gedung baru? Gedung yang lama saja bagusnya sudah setengah mati. Jaraknya sungguh jauh dari gerbang. Warga yang mau ketemu wakilnya, harus dikawal setelah melewati gerbang itu. Yoyo marah, kenapa harus bikin gedung baru? Kalau butuh sesuatu yang baru maka sebaiknya gerbang gedungnya saja didekatkan, biar warga mudah komunikasi dengan wakilnya.

Saya diam saja. Kami berhenti tertawa-tawa.

Dalam cerita anjing yang serakah dan pemuda yang mengadakan perjanjian dengan iblis, ceritanya jelas. Bahwa pada akhirnya, yang serakahlah yang akan membayar ketamakannya.

Dalam cerita Kalimantan dan gedung baru wakil rakyat di Jakarta, ceritanya juga jelas. Bahwa ternyata pada suatu hari, kita dan anak cucu kita yang harus membayar ketamakan mereka.

(*Maaf sebesar-besarnya pada babi yang dijadikan  model pada foto di awal tulisan. Sumpah mati, walaupun kamu tidak pernah saya pilih untuk duduk di pemerintahan, kamu jauh-jauh lebih cute dan berguna daripada para wakil kami di Senayan sana*)


Jika Benci Toleransi Jadi Epidemi

(*Sebelumnya saya mohon maaf sekaligus berterimakasih kepada teman-teman pembaca yang amat baik hati telah merespons tulisan blog ini dengan sangat apresiatif. Jarak geografis, waktu dan terlebih saat ini personal health issues, membuat saya agak kesulitan merespon komentar/saran, menerima undangan wawancara, atau hadir untuk meresensi acara-acara yang saya yakin baik sekali gunanya buat publik. Saya yakin suatu saat jika diberi rizki bernama kesempatan, maka kita akan bisa bertemu baik dalam dunia maya atau nyata. Semua tulisan di blog bangaip.org sejak awal tahun 2011 dibuat secara offline dan sesekali dipublikasikan online jika saya ada sedikit kesempatan. Terimakasih banyak atas pengertiannya*)

———————————————-

Saya membayangkan apabila semua manusia sama; berpakaian sama, berkulit sama, berideologi sama, berbicara dengan bahasa yang sama, dan selalu sama-sama lainnya, maka ajaib sekali hidup ini.

Anda tahu Smurf, makhluk biru kecil rekaan komikus Belgia Pierre Culliford (yang lebih dikenal sebagai Peyo). Kalau tidak tahu, ijinkan saya sedikit cerita mengenai mereka.

Smurf. Sejenis makhluk kecil seukuran ibu jari. Makhluk-makhluk ini selalu menganggap diri mereka sama. Kalau berbicara, pasti ada kalimat ‘smurf’ yang menyembul dari mulut mereka dalam menterjemahkan sesuatu. Mereka tinggal bersama-sama dan percaya bahwa kebersamaan adalah sesuatu yang membahagiakan.

Namun pada kenyataannya, para smurf ini tetap saja berbeda. Ada Smurf Kacamata yang suka baca buku. Ada Papa Smurf, sang pengayom. Ada Smurfettes, yang terlahir sebagai satu-satunya wanita di komunitas Smurf (*O-oh, jangan berfikir yang tidak-tidak macam gangbang misalnya. Ini komik konsumsi anak-anak*).

Ternyata, dalam kebersamaan tetap saja ada perbedaan. Dan dalam perbedaan, mereka masih tetap bersama-sama.

Walaupun satu jenis dan mengklaim satu, satu warna kulit, satu jenis topi, satu tipe celana, satu kampung hidup bersama dan menyadari pada akhirnya bahwa mereka semua berbeda, ternyata para Smurf ini toh mereka semua bisa rukun-rukun saja.

Saya jelas beda dengan Smurf. Tapi punya sedikit persamaan. Walaupun lahir dari rahim yang sama, makan-makanan yang sama, menerima warisan genetis dan pendidikan yang sama, besar di lingkungan yang sama bahkan bergaul dengan orang yang sama, tetap saja saya dan adik saya berbeda.

Aneh?

Ahh, tidak juga. Sebab ini yang dinamakan anugrah. Dalam bahasa kampung saya Cilincing, ‘barokah’. Perbedaan itu nikmat. Hehe…

Dari mana asalnya perbedaan?

Sumpah mati saya tidak tahu. Saya pikir bagi yang relijius akan berfikir bahwa ini semuanya datang dari Yang Maha Memberi. Bagi yang tidak relijius bagaimana penjelasannnya? Wah lagi-lagi saya tidak tahu. Pertanyaan ini terlalu filosofis untuk otak saya yang kecil :)

Lantas, apa semua perbedaan menyenangkan?

Saya pikir, belum tentu. Sebelum bicara lebih lanjut, ada baiknya saya memberi contoh sederhana kenapa saya bisa bilang begitu. Dan agar tidak susah, saya ambil dari contoh terdekat. Yaitu apa yang saya alami (dan jelas subjektif). Ini contoh pertama;

Setiap hari umumnya saya berurusan dengan mikrobiologi. Khususnya, dengan semua penyakit-penyakit yang berbahaya buat binatang peliharaan manusia di muka bumi. Setiap hari bergelut dengan semua itu, setiap hari pula saya sadar bahwa ada virus yang berevolusi dan bermutasi. Ada virus HIV yang merubah diri lalu loncat dari manusia ke kucing. Ada virus SIV dari babi yang berkembang dengan canggih lalu loncat ke manusia. Ada virus lingkaran patogenis yang berkembang di burung lalu menyebar di anjing, kucing hingga kuda. Dan setiap hari, kadang saya jadi saksi lahir dan munculnya perbedaan di antara virus-virus tersebut.

Semakin banyak tipe virus itu muncul, semakin berbeda tipe mereka, semakin besar pula bahayanya terhadap ras hewan dan manusia. (*Tapi jangan takut, sebab masih ada Bangaip dan temen-temennya yang ngelawan abis-abisan. Hehehe, sok jago banget nih saya*).

Jadi perbedaan itu belum tentu menyenangkan. Apalagi jika itu perbedaan yang muncul dari virus-virus yang membahayakan kehidupan.

Masih belum puas dengan satu contoh? Nih saya kasih lagi satu bukti bahwa perbedaan itu belum tentu menyenangkan:

Hari Sabtu lalu dengan mata kepala sendiri saya lihat seorang lelaki muda dihina, dipermalukan, dicemooh dan diperlakukan buruk secara verbal oleh temannya. Si lelaki ini santai saja menanggainya. Saya kaget. Dan lebih kaget lagi ketika ia menjawab, “Kami berbeda pendapat soal hidup. Beda kan boleh. Dia boleh ngamuk, saya boleh cuek”, ketika saya tanya kok kenapa ia kalem saja menanggapinya.

Berbeda soal pandangan hidup ternyata bisa membuat seseorang berang, marah, emosi dan melontarkan brutalitas di depan publik. Dan sebagai saksi mata, saya bisa bilang bahwa menyaksikan itu sama sekali bukan saat yang menyenangkan.

Jadi kata siapa perbedaan itu selalu menyenangkan?

Jelas tidak. Perbedaan tidak selalu menyenangkan. Tapi setidak-menyenangkannya perbedaan, ia tetap saja fakta.

Dulu ada seorang menteri dari Indonesia yang bilang bahwa Flu Burung dan Flu Babi itu rekayasa di depan publik dan media. Aduh gombalnya! Padahal beliau jelas bukan orang bodoh. Malu sekali saya mendengar hal itu. Apalagi keluar dari sesama orang Indonesia (*yang membuat berhari-hari saya ditanya rekan-rekan kerja bagaimana standar penelitian di RI*). Kok yaa mengingkari fakta? Virus bermutasi, virus berevolusi, dan itu adalah salah satu bentuk kehidupan bahwa perbedaan itu ada. Itu realita. Itu fakta. Mengapa dinegasi?

Lelaki dan perempuan itu berbeda. Kalau senang atau menguntungkan, mereka bercinta. Melakukan adegan reproduksi. Kalau sukses, ada hasil dari adegan reproduksi tersebut. Yang pasti, lelaki dan perempuan itu berbeda. Itu fakta. Walaupun lebih jauh lagi bahwa lelaki dan perempuan bisa jadi saling menyebalkan akibat perbedaan yang mereka miliki, tetap saja perbedaan antara mereka adalah fakta. Realistis saja lah.

Saya dan Anda berbeda. Saya punya pendapat sendiri. Anda punya opini pribadi. Sah? Yaa jelas sah. Konstitusi telah melindungi kita untuk tetap bisa berbeda. Lambang negara dengan gagah mengibarkan panji “Walaupun Berbeda Kami Adalah Satu”.

Para pendiri bangsa pun manusia berbeda. Ada yang playboy, ada yang alim, ada yang hobi dansa, ada yang penyendiri dan hobi berkelana. Dan macam-macam lainnnya. Namun seberat apapun bedanya mereka, masih tetap memikirkan sebuah cikal bakal nusa yang saat ini bernama Republik Indonesia. Dalam pergulatan kelas, pergulatan ras bahkan hingga pergulatan jati diri, bangsa ini didirikan atas berjuta-juta manusia yang sama sekali berbeda.

Maka perbedaan itu jadi begitu berarti. Begitu bermakna. Pondasi bangsa ini didirikan oleh manusia yang berbeda, dari manusia yang berbeda dan untuk manusia yang berbeda. Negeri ini tidak berdiri hanya untuk orang Islam saja. Tidak untuk orang Jawa saja. Tidak untuk laki-laki dewasa saja. Melainkan untuk semua manusia Indonesia. Dan mereka lah ruh Indonesia, berbeda-beda dalam segala keragamannya tapi tetap satu saling menyayangi, menghargai dan mencintai antar sesama.

Jika saya doyan makan sambel oncom dan kamu suka sambal terasi, apakah layak kita saling benci?
Jika si Nina suka gonta-ganti tas belanja dan si Amir suka gonta-ganti klub sepak bola idola, apa mereka layak saling menghina?
Jika Anda menyembah pohon beringin dan tetangga menyembah botol obat kuat, apakah kita layak saling menyikat?
Jika dia percaya bahwa Tuhan ada 17 dan pacarnya bahkan tidak percaya Tuhan sama sekali, apa mereka layak saling menggurui dalam emosi?

Tidak!

Sejarah telah membuktikan, bahwa kita berbeda. Negeri ini, bangsa ini, para manusia ini didirikan dalam perbedaan dan itulah kekuatan mereka. Sehari-hari kita dihantam perpecahan, dirongrong provokasi, dihancurkan kepercayaannya bahwa kita manusia dan layak hidup sebagaimana manusia, diagitasi bahkan hingga iman terhadap perbedaan hampir mati.

Tapi toh kita tetap hidup. Kenapa?

Jawabnya sebenarnya hanya satu. Karena masih ada toleransi.

Lantas bagaimana jika toleransi pun sakaratul maut dirajam oleh sekelompok manusia berideologi kejam. Yang rela membunuh manusia lain hanya karena berbeda agama. Yang rela menghalalkan darah saudaranya hanya karena merasa pemilik sah republik dan surga.

Lantas bagaimana jika anti toleransi jadi epidemi. Menyebar lebih busuk dari hati satu manusia ke manusia lainnya. Membisikkan dendam-dendam pribadi. Pelan-pelan menghasut telinga, “Mereka sesat, harus diluruskan, jika tidak kita tidak mungkin dapat surga”. Lalu akhirnya pada suatu malam pendemi ini begitu berbahaya dan darah para minoritas pelan-pelan mengalir membeceki tanah. Merefleksikan bulan yang begitu gelap dan muram.

Di negeri ini, sekali lagi meleleh darah di muka bumi. Dibaliknya, tersebar rumor bahwa itu adalah darah manusia sesat yang layak dibunuh. Dibaliknya, tersebar cerita bahwa secara diam atau terang-terangan bahkan orang yang mengaku paling demokratis pun tak banyak upaya untuk buka suara. Di negeri ini, pernah dan telah terjadi kekerasan terhadap kemanusiaan.

Dan kemungkinan, masih akan terus terjadi.

Dulu tahun 65, jadi PKI artinya mati. Mayatnya dibuang di Bengawan Solo dan tidak ada penyelidikan, penanggung jawab bahkan rehabilitasi nama atas para korban.
Dulu awal 1990-an, jadi petani di sebuah desa di Lampung dekat pantai artinya mati. Sebab jika mereka meminta hak atas tanah yang sudah digarap sejak oleh nenek moyang mereka pada tangsi tentara yang tiba-tiba berdiri, mayatnya akan dibuang di hutan dan mungkin jadi santapan binatang.
Dulu pada 2004, jadi Munir artinya mati. Terlalu vokal banyak bersuara mengkritik para bajingan di atas mahligai sana, diracun hingga tewas dan semisterius alasan pelaku pembunuhnya.

Kini, jadi Ahmadiyah hampir mirip dengan mereka yang tersebut dahulu. Diburu, dicemooh, dibantai, dibunuh, bahkan ketika sudah meninggal pun sempat digali lubang kuburnya hanya untuk dihinakan. Di era digital ini Bandung tahun 2011 kuburan  seorang warga Ahmadiyah dibongkar dari Taman Pemakaman Umum. Jasadnya dibuang ditelantarkan hanya untuk dinistakan.

Kenapa ada di negeri ini? Negeri yang mengaku penduduknya ramah dan mudah senyum. Kenapa? Kenapa harus di negara yang mengaku ber-Bhineka Tunggal Ika?

Kalau memang pada ujungnya kita harus menghancurkan dan menistakan perbedaan, mengapa negeri ini tetap harus ada?
Jika hanya bisa diam melihat kekerasan terhadap perbedaan, mengapa masih mau (pura-pura) jadi orang Indonesia?
Yang lebih parah lagi, jika melihat semua kekejaman terhadap perbedaan dan keragaman manusia sudah lagi tidak menyinggung hati, apa memang iya kita masih punya hati?

Perbedaan itu anugrah. Walaupun tidak selalu menyenangkan, ia adalah fakta. Sehari-hari kita bergulat didalamnya. Jika tidak sadar bahwa perbedaan adalah realita lalu menafikkan perbedaan, jangan-jangan hati kita pelan-pelan hampir mati. Sebab telah dijangkiti virus hasad bin dengki.

Idiih, amit-amit jabang bayi.


Manusia Yang Menyebalkan

Saya tidak punya akses internet sejak lama, maklum baru pindah rumah. Tanpa internet hidup jadi lebih susah tapi bahkan juga lebih mudah. Tergantung situasi dan sudut pandangnya saja sih.

Untuk orang seperti saya yang menggantungkan cari nafkah melalui internet, situasi ini boleh dibilang menyebalkan. Serba susah.

Susahnya kalau mau bayar ini itu jadi repot. Akhirnya bisa di duga, tagihan menumpuk. Aduh. Beberapa kali saya sampai ditelpon oleh orang/perusahaan yang harus saya bayar hutangnya. Ada tagihan kontrak rumah, tagihan listrik dan tagihan bla-bla-bla lainnya. Kok yaa hidup jadi seperti dikejar-kejar. Yang menyedihkan, dikejar hutang pula. Alamak. Mau tidak mau harus menguatkan badan yang sedang lemah ini beranjak ke bank untuk membereskan tagihan.

Enaknya tanpa internet, saya bisa jadi lebih banyak istirahat. Maklum kondisi kesehatan yang memburuk sejak satu setengah bulan terakhir ini memang mengharuskan saya banyak istirahat. Saya bisa tidur non-stop jam sembilan malam dan lalu bangun esok paginya pukul enam pagi.

Saya pikir, dengan adanya internet saya tidak akan mampu tidur sepanjang malam seperti ini. Bukan karena sambungan internetnya, tapi lebih ke arah psikologis kejiwaan di mana saya butuh informasi terkini dengan cepat (*Iya, ini buruk. Saya kecanduan. Kecanduan informasi terkini*). Walaupun badan butuh istirahat, tapi kalau keinginan sudah memuncak untuk mengecek email atau mempublikasikan tulisan di blog, mau tidak mau yaa kadang tangan jadi nakal untuk login.

Efeknya?

Wah efek hidup tanpa internet banyak rupanya. Selain tidak punya koneksi internet, saya pula tidak punya televisi, radio maupun saluran komunikasi lainnya kecuali telepon genggam yang dipakai pada saat darurat saja. Ternyata semua itu berakibat banyak. Tapi efek yang paling terasa adalah, kalau saya mengobrol dengan rekan ataupun sahabat saya lebih banyak membuka mulut. Melongo. Haha. Mirip manusia purbakala dari goa batu tiba-tiba terlempar ke masa kini. Benar-benar ketinggalan berita.

Saya tidak tahu kalau di Mesir, Yaman dan Bahrain ada pergolakan panas menyusul Revolusi Tunisia. Saya tidak tahu kalau ada heboh di blogsphere Indonesia tentang sinetron yang sama sekali tidak pernah saya dengar sebelumnya. Saya tidak tahu… Saya benar-benar tidak tahu.

Yang saya tahu, saya terbaring di tempat tidur. Dengan badan yang luar biasa letih. Makan. Bangun. Ke toilet. Minum obat. Dan lalu hingga 14-15 jam setelahnya.

Untung saja sejak beberapa hari lalu badan saya sudah lebih baik dan tidak bermasalah lagi. maka mulailah saya beraktivitas kembali.

Suatu hari di bis kota saya bertemu teman lama dan lalu ditanya apa kabar update terbarunya. Kok tidak ada berita tanya beliau. Saya jawab apa adanya. Sibuk ini, sibuk itu. Sakit ini, sakit itu. Pokoknya macam-macam lah.

Habis cerita, saya tertawa. Dia heran malah tambah bertanya, “Kenapa ketawa?”

Saya jawab saya tertawa karena senang bisa cerita semua itu. Memang semuanya belum berlalu, tapi setidaknya, saya sudah bisa cerita dan ia mendengarkan. Dan itu membuat saya senang.

Dia kebingungan. Biarlah.

Di akhir pertemuan, ia menjabat erat tangan saya. Ia bertanya, “Kalau sudah selesai semua masalah kamu, sudah siap kembali menghadapi dunia ini?”

Saya tidak menjawab. Pertanyaan yang aneh. Rasa senang saya terusik.

Bagaimana caranya menyelesaikan masalah? Setahu saya, tidak ada solusi jitu menyelesaikan masalah. Masalah A selesai, maka masalah B akan muncul. Lalu ketika suatu saat agak reda, maka di hari kemudian masalah C akan timbul. Masalah itu tidak akan selesai. Selama manusia ada, ia akan tetap ada.

Terlalu filosofis jawaban saya?

Oh sori. Kalau begitu mari kita implementasikan jawaban abstrak ini ke dalam peristiwa nyata. Begini; saya punya telpon genggam yang suatu ketika sistem operasinya rusak. Dengan bingungnya, saya setengah mati cari cara untuk memperbaiki. Di sini, ada suatu titik yang dimana kita semua setuju, bahwa ‘saya punya masalah dengan telepon genggam’.

Setelah instal kanan kiri, akhirnya ketemu solusi telepon genggam yang saya miliki. Saya pun senang kembali.

Tapi apa lantas masalah saya tuntas? Tentu saja tidak. Selama saya masih memiliki telepon genggam, maka masih akan sangat terbuka kemungkinan telepon saya itu pada suatu hari akan rusak.

Loh kalau begitu, buang saja telponnya. Bukankah masalah akan selesai?

Hei, kata siapa. Kalau saya buang lalu bagaimana orang akan menghubungi saya? Kalau saya buang, siapa yang akan menggantikan dengan telpon baru? Kalau saya buang, siapa yang akan bayari tagihan bulanan?

Di titik ini (walaupun amat bisa diperdebatan) nampaknya ada sedikit gambaran. Yaitu; jika saya buang telpon genggam, saya akan lebih banyak punya masalah.

Oke, sudah jelas sampai di sini? Kalau sudah, mari kita balik ke pertanyaan teman soal hidup itu.

Saya pikir pertanyaannya terlalu filosofis retoris. “Kalau sudah selesai masalah, akan hidup lagi?”

Pertanyaan apa itu? Saya curiga dengan segala syak wasangka yang saya miliki bahwa itu adalah pertanyaan snob yang dilontarkan tanpa perlu jawaban. Padahal saya sama sekali tidak butuh pertanyaan filosofis. Saya tidak butuh pertanyaan retoris. Setelah satu setengah bulan sakit terisolasi dari publik dan hidup terasing sendiri, saya tidak butuh semua pertanyaan itu. Saya tidak butuh pertanyaan dan pernyataan seperti; ‘Diinstal ulang susah? Kalau gitu buang dan ganti saja hidup kamu’.

Aneh. Saya kan bukan telepon genggam. Apabila hang bisa di-restart. Atau kalau kena virus dan lalu amat menyebalkan, bisa diganti sistemnya. Lah kalau manusia? Memang semudah itu?

Pada intinya, seharian setelah bertemu teman lama itu saya berlaku uring-uringan. Padahal tidak perlu. Tapi, mood saya memang amat mengijinkan untuk senewen. Cuaca buruk di luar bahkan seakan memberi saya peluang untuk ikut menyalahkan hujan yang turun seakan tiada berhenti.

Besoknya di pabrik saya curhat pada Mbak Ita. Semua saya ceritakan dari A hingga Z pertemuan saya dengan teman lama dan kejadian setelahnya.

Mbak Ita hanya menatap saya termangu ketika saya bilang, “Masa sih dia nanya begitu sama saya? Emangnya dia nggak mikir apa sebelum nanya?”

Mbak Ita menyahut pelan, bahkan bisa dibilang lirih. Ia bilang, “Pertanyaan kamu terlalu filosofis. Mungkin… Retoris”

Saya diam dalam ketakutan. Jangan-jangan.., saya latah terobsesi hingga ketularan jadi orang yang menyebalkan.

Eh definisi menyebalkan itu apa sih? Jangan-jangan, selama ini saya tidak sadar bahwa saya sudah jadi sedemikian menyebalkan.


Jadi Siswa, Belajar. Jadi Guru? Juga Belajar Dong!

Strategi mengajar setiap orang beda-beda. Maksud saya di sini, mengajar adalah mentransferkan sebuah bentuk informasi kepada orang lain. Orang yang biasa mengajar dalam keseharian katanya disebut sebagai guru.

Ini cerita waktu saya masih jadi guru. Bukan guru kehidupan. Hanya guru sekolah biasa. Jadi guru untuk cari nafkah. Supaya bisa makan hari ini. Dan saya sama sekali bukan guru semacam Gandhi atau Dalai Lama. Guru para manusia.

Saya sadar saya bukan guru yang baik. Kadang malah menyebalkan, dengan memberikan tugas untuk dikerjakan di rumah terlalu banyak.

Saya sadar sekali akan hal itu. Mahasiswa saya banyak yang mengeluh soal tugas. “Pak, kok bapak kejam sekali sih? Tugas kita banyak banget?”.

Dan saya jawab dengan tertawa terbahak-bahak macam Rahwana yang baru berhasil menculik Sinta.

Saya beri mereka tugas satu setiap hari. Kalau benar-benar dikerjakan, satu tugas bisa memakan waktu satu hingga dua jam. Kalau setiap hari diberi dan mereka lalai, akhir minggu mereka pasti penuh dengan asap rokok dan bergadang untuk mengerjakan tugas. Sebab setiap senin semua tugas dikumpul. (*Semoga bukan gara-gara saya paru-paru mahasiswa itu penuh dengan nikotin*)

Suatu hari, tanpa diduga-duga, serombongan mahasiswa saya datang menghampiri ke ruangan kerja. Protes. Salah seorang diantaranya, pakai rambut jambul dan berdandan a’la rocker tahun 50′an nampaknya hadir sebagai ketua. (*sumpah, dia pakai jaket kulit berpaku, kacamata hitam dan sepatu lancip mengkilat. Plus sisir kecil di saku belakang. Saya memang membebaskan mahasiswa memakai pakaian yang mereka suka kalau hendak menemui atau datang di kelas saya*)

- “Ada apaan rame-rame dateng? Mau nraktir saya makan apa mau ngajak jalan-jalan?”
+ (*dia bingung*) “Err, nggak Pak… Err… Begini Pak…”
- “Kalian ke sini rame-rame. Nggak ada orang barang sebiji pun yang ngajak saya senang-senang? Pemuda macam apa kalian? Jangankan Soekarno, Soe Hok Gie aja yang militan waktu masih mudanya hobi senang-senang. Kok kalian nggak?”
+ (*Dia tambah bingung. Menarik napas*) “Bukan gitu Pak. Tugas kebanyakan Pak. Susah tidur. Tiap malam begadang ngerjain tugas dari bapak. Belum lagi tugas dari Bu Nani”

(*Bu Nani itu juga salah seorang dosen di departemen kami yang juga hobi memberikan tugas*)

Saya lihat, matanya cekung. Letih. Si rocker 50′s ini kelihatannya jujur. Saya sebenarnya tidak tega. Saya ingin dia seperti anak muda lain. Mungkin di setiap malam pergi ke pantai bersama teman-teman, minum-minum sambil bakar ikan. Atau membeli es krim di siang yang panas sambil menggosip bintang idola televisi.

Tapi itu tidak mungkin saya lakukan. Sebab riskan dan berbahaya. Sebelum saya datang ke tempat mengajar ini, saya sempat sedikit survey demografi. Umumnya anak-anak muda seusia mereka ini sudah harus melakukan sesuatu, jika lulus atau tidak. Orangtua sudah keluar uang banyak untuk sekolah mereka. Ada yang jual ternak. Ada yang jual sawah. Bahkan sampai ada yang sampai hutang ke bank. Anak-anak ini, harapan keluarga mereka. Ketika saya menjenguk keluarga salah seorang mahasiswa, si ayah yang jadi buruh bengkel pabrik es bangga sekali mengenalkan saya hingga ke kepala kampung mereka. Sebab anaknya adalah pemuda kampung mereka satu-satunya yang menginjak sekolah tinggi. Ahhh…, anak-anak muda ini pun harapan daerah mereka. Berat sekali bebannya. Kalau tidak dibantu saat ini untuk belajar tegar, bahaya.

Di sisi lain, saya juga sempat khawatir akan kedisiplinan yang saya tanamkan. Bisa jadi, mungkin tidak cocok dengan budaya mereka.

“Jadi maunya kamu apaan?” Tanya saya santai sambil menyeruput es teh manis.

Mereka cengar-cengir. “Butuh hiburan, Pak?”

“Kamu mau menghibur saya? Wah hebat”

“Bukan Pak, bukan kita. Bapak lah yang jadi penghiburnya”

“Kamu mau saya pakai bikini di kelas pas waktu saya ngajar? Boleh, kalau perlu saya pakai g-string kayak si Nina” (*Ada mahasiswi saya, bukan WNI, pakai g-string dikombinasikan jeans pinggul rendah. Alamak, kalau jongkok, tatto di bagian atas bokongnya itu terlihat cuma dihalangi oleh sebaris lintas benang*)

Mereka serempak teriak ‘Whuuuu…’. Saya cengar-cengir.

“Trus apa dong? Kamu mau saya pakai seragam badut di depan kelas?”

Mereka senyum-senyum. Satu orang di belakang bilang bahwa itu ide bagus. Kampret! Memangnya saya cowok apaan?

“Ya udah. Bubar.., bubar. Tokonya mau buka. Nanti saya pikirin. Saya susah mikir nih kalau kalian segerombolan ada di sini. E-eh… Itu kacang di toples pojok kok abis? Siapa ini diam-diam kau curi kacang. Wah kacau nih. Ayo bubar… Bubar graaak”

Mereka keluar dari ruangan sambil tertawa-tawa.

Saya melamun.

Seharian itu saya terus berfikir. Sampai tidak konsentrasi makan siang. Pulang kerja, saya biasanya ke pantai melihat matahari terbenam. Di sana saya akan berfikir, bagaimana agar mahasiswa saya betah di kelas. Bisa konsentrasi dalam transfer ilmu yang kami lakukan sehari-hari. Tidak bosan dan lalu putus sekolah. Saya sadar saya tidak pernah sekolah jadi guru. Apa yang harus saya lakukan agar jadi ‘guru beneran’, yang mampu menghibur siswa? Apa yang harus saya perbuat agar mereka betah di kelas dan konsentrasi belajar?

Di titik ini saya sempat menyalahkan diri sendiri. Saya tidak pernah sekolah khusus jadi guru, kok iya mau-maunya saja begitu ditawari kerja lalu jadi guru. Saya tidak pernah dapat pendidikan keguruan, kok iya dengan santainya menuruti nasihat Ibu mengikuti jejaknya sebagai guru. Di titik ini, saya pikir saya adalah cowok murahan. Tapi yaah semurah apapun saya mengukur harga diri saya saat ini, tetap saja tidak akan membereskan masalah yang sedang terjadi.

Apa yang harus saya lakukan untuk membantu siswa saya?

Saya bingung. Maka saya putuskan sore itu ke pantai yang tidak jauh dari lokasi sekolah mengajar. Saya duduk di sana. Sendirian.

Saya selalu suka senja, sebagaimana ketua Mao dalam dalam sakaratul maut membisikkan kalimat ‘senja semakin merah, siapa yang akan menjaganya?’. Sore itu saya berbisik lirih sendiri di atas butir pasir dan deru ombak. Ahh murid-murid saya sudah semakin dewasa, siapa yang akan menjaganya?

Matahari terbenam di atas laut senja yang membara. Saya tidak dapat hasil apa-apa kecuali entah kenapa, saya merasa bahagia.

Besok paginya, ketika saya baru saja memarkir motor butut yang setiap hari saya pakai untuk mengajar dan mengojek, itu anak-anak sudah bergerombol di Pos Satpam. Waduh, pagi-pagi belum sarapan yang jadi kewajiban saya, sudah dituntut kewajiban lain. Hahaha.

Tapi bukan bangaip namanya kalau tidak licik. Hehe. Tentu saja saya harus bisa mencari cara untuk menghibur mereka tanpa harus merendahkan diri apalagi lari dari sarapan pagi yang berupa lontong sayur plus kerupuk sambal yang dahsyatnya minta ampun itu.

Saya menemukan cara. Di depan satpam dan bocah-bocah itu, saya bilang bahwa saya tahu cara hiburan yang edukatif. Sesi hiburan tetap kami lakukan tapi tidak lupa belajar. Jadi pada intinya, belajar sambil bermain atau bermain sambil belajar. Silahkan pilih, yang penting senang.

Saya menyarankan pada mereka:

  1. Membuka klub film. Yaitu kampus memfasilitasi ruangan agar mahasiswa bisa menonton film bagus di ruang kampus yang ber AC secara reguler. Mahasiswa yang mencari film(*Haha, saya ikutan nonton*)
  2. Dosen sehari. Yaitu dimana para mahasiswa secara bergilir memiliki satu jam kuliah untuk memberi tahu teman-temannya sekelas mengenai kegemaran atau kehidupan yang ia miliki. (*Ini seru. Saya ikutan jadi mahasiswa. Menyimak kuliah yang mereka berikan*)
  3. The battle of Pasar. Mahasiswa membuat sesuatu yang menarik dari ide kreatif mereka lalu kemudian di pamerkan di pasar-pasar tradisional. Karya yang paling menarik dan paling banyak direspons oleh pedagang maupun pengunjung pasar, dapat hadiah. (*Biasanya hadiahnya buku atau cinderamata sederhana yang sering saya kumpulkan kalau sedang berlibur atau kunjungan luar. Tapi namanya itu anak-anak mahasiswa mah senangnya minta ampun. Dikasih coklat saja sudah bahagia. Haha*)
  4. Sebagaimana imbalan, tentu saja ada hukuman. Bagi yang tidak mengerjakan tugas diminta untuk memilih atau membuat sendiri hukumannya apabila tidak mengerjakan tugas. Kalau teman-teman sekelasnya keberatan atas rasa keadilan apabila ia memilih hukuman, maka teman-temannya lah yang akan mencarikan hukuman yang pas untuk di tidak mengerjakan tugas. Mereka belajar menentukan sistem demokrasi sendiri

Mulanya mereka saling berpandangan. Kebingungan. Lantas bertanya detail. Biasalah, tipikal mahasiswa memang begitu. Tapi sisanya yang kelihatannya sudah mengerti, langsung teriak “Horee!!”

Sebagaimana hidup yang dinamis, tentu saja semua program kami di atas mengalami tantangan dan dukungan. Ada yang bisa terlaksana, ada yang tidak. Ada yang kena kendala teknis jadi terhalang ada pula yang hanya spontan lalu bisa jalan.

Apapun yang terjadi, pada saat itu kami memang mengalami masa-masa yang menyenangkan bersama.

Hingga detik ini, saya tidak tahu apa itu definisi guru yang baik. Yang lebih parah lagi, saya bahkan masih belum tahu metode belajar mengajar yang tepat jitu. Saya bukan orang yang banyak tahu.

Yang saya tahu cuma satu; yaitu ketika saya bersama para siswa, kami saling belajar untuk sama-sama bahagia.


Apabila Memutuskan Untuk Tidak Beragama

Mbak Nendi itu kakak kelas saya waktu jaman sekolah di Depok dulu. Beliau kalau tidak salah, sekitar satu setengah tahun lebih tua daripada saya. Orangnya ramah. Kalau bicara halus dan lembut. Dengar-dengar, keturunan langsung bangsawan. Tapi kalau saya ajak bicara soal garis darah keturunan, ia selalu menolak. Lagi-lagi dengan halus. Ia lebih suka membicarakan pacarnya yang juga sahabat saya, Mas Danu.

Bertahun-tahun setelah ia wisuda saya tidak bertemu beliau. Beberapa kali bersua melalui tulisan di blog ketika ia bertegur sapa. Namun yah hanya sekedar ‘say hi’. Tidak pernah lebih.

Suatu hari, siapa sangka ia punya akun di facebook dan lalu menambahkan saya sebagai daftar pertemanannya.

Seperti biasa, saya sering jalan-jalan ke akun teman-teman saya dan juga daftar jaringan pertemanan yang mereka miliki. Sekedar hobi. Mau tahu siapa teman-teman saya saat ini dan siapa teman-teman mereka. Sebuah hobi yang kata teman akrab saya, ‘memuaskan rasa sakit jiwa akibat kecanduan untuk membuntuti’. Hahaha…

Suatu hari, entah kenapa di timeline saya muncul status Mbak Nendi yang sedang sedih. Ada apa gerangan kok beliau begitu sedih? Sungguh membuat saya terusik.

Saya lihat di lemparan-lemparan statusnya terdahulu. Saya tidak bisa menyimpulkan apa-apa. Jangankan menyimpulkan, menebak saja susah. Padahal metode penelitian secara deduksi itu amat bisa dipakai dalam melihat kondisi kejiwaan seseorang di timeline facebooknya.
(*ini sih sok tahu plus snobnya saya saja, menggabungkan antropologi, psikologi dengan matematika dalam aplikasi web2.0. Hehe. Maaf*)

Akibat teramat mau tahu (iya saya tahu ini hobi yang berbahaya). Saya mulai mencari foto-foto dimana Mbak Nendi di tag.

Kaget. Sebab sebuah foto yang baru saja di tag oleh temannya, Mbak Nendi terlihat sedang duduk di pinggir jalan. Di bawah tenda plastik warna biru yang didirikan sekenanya dan berlantai tikar di atas rumput trotoar. Ditemani anak-anak kecil, Mbak Nendi memegang sebuah kitab suci.

Di bawah foto itu terpampang sebuah tulisan, “Beginilah nasib minoritas”.

Saya makin kaget. Apa maksudnya ini? Dan untuk menjawab kekagetan-kekagetan ini saya lihat saja terus foto-foto Mbak Nendi.

Saya pikir, foto bicara jauh lebih banyak daripada kata. Walaupun ada yang bicara sebaliknya. Di foto-foto itu terlihat Mbak Nendi sedang mengikuti ibadah yang dilangsungkan di pinggir jalan.

Kenapa di pinggir jalan? Sebab terlihat di salah satu foto kalau rumah ibadah mereka terkunci gembok dan memiliki plang kayu peringatan bahwa Ijin Mendirikan Bangunan rumah ibadah itu dicabut oleh Pemda setempat.

Saya putuskan malam itu untuk chat dengan beliau.

- “Selamat malem, Mbak”
+ “Udah subuh di sini”
+ “Apa kabar? Anak udah bisa apa, Rip”
- “Lagi sibuk sih Mbak. Anak gua udah cerewet, hehe. Makasih”
- “Mbak, fotonya gawat banget deh. Kok bisa ditutup”
+ “Foto mana”
- “ini linknya” (*link URL address tidak saya publikasikan di sini. Foto rumah ibadah*)
+ “Iya tuh, sebel gua. Mentang-mentang minoritas, kita dikalahin terus”
- “Fungsi bangunan sampe ke fondasi bangunan kok bisa dicabut Mbak?”
+ “Gua juga bingung. Padahal warga lokal oke kok. Dua minggu lalu ada ormas gila, protes. Keliatannya walikota ga mao keilangan muka dikalangan orang seagamanya”
- “Lu pikir ada muatan politis, Mbak?”
+ “Lu pikir selama ini apa? Cuman sentimen keagamaan?”
- “Ada tukang baksonya ga kalo lo ke sana?”
+ “Kok di otak lo makanan melulu sih, Rip?”
- “Serius gua nih, ada tukang jajanannya ga?”
+ “Yaa banyak. Enak-enak kok. Warga lokal sini aja pada ikutan jajan kalo ada misa mingguan”

Di sini saya pikir ia tidak bohong kalau ada alasan lebih daripada sentimen keagamaan. Rumah ibadah yang ia, teman-teman dan keluarganya gunakan setiap minggunya ditutup. Alasan utamanya, tidak sesuai dengan estetika. Entah apa lagi alasan lainnya yang sungguh tidak masuk di akal, yang pasti rumah ibadah itu disegel. Mbak Nendi secara gerilya bersama rekan-rekannya datang ke tempat ibadah itu setiap minggu. Menggelar tikar mengepit kitab suci. Di trotoar mereka mengasah iman.

Saya jadi ingat suatu hari di Cilincing dulu sahabat saya Udin pernah bertanya “Bang, kalo Tuhan gua nggak esa, apa gua masih bisa lulus penataran P4 dan jadi pancasilais yaah?”

“Mana gua tahu Din”

“Apa gua boong ajah kali yaah ditanya soal kayak gitu mah?”

“Masa sih boong?”

“Daripada gua nggak lulus penataran P4 bang? Kan gawat, nanti nggak bisa ngambil ijasah”

“Serius luh?!”

“Yaelah Bang, walopun kita udah diwisuda kalo nggak lulus penataran P4 kan nggak boleh ngambil ijasah”

“Waduhh, kok tega bener yaah…”

“Maka itu Bang, apa gua boong aja kali yaah. Pokoknya kalo ditanya apa-apa, gua jawab aja Tuhan gua esa. Padahal mah sebenernya dalam hati gua nggak percaya. Yang penting mah gua bisa lulus P4. Trus bisa nyari kerja. Kalo udah kerja, nanti juga Tuhan dateng sendiri”

Hmhh. Saya garuk-garuk kepala. Mau bilang apa lagi coba? Ketuhanan Yang Maha Esa dan Penataran P4 serta implikasi rumit di kehidupan orang Indonesia yang menyertainya sudah memusingkan otak saya yang kelihatannya jauh lebih kecil daripada otak manusia normal ini.

Bertahun-tahun setelah obrolan dengan Udin, sahabat saya James dari Maine bertanya terkaget-kaget ketika suatu hari ia menemukan bahwa agama yang diakui pemerintah Indonesia hanya ada enam. “Yang lainnya kemana, Rif. Tidak pernah diakui?”

“Emhh, mungkin belum. Mungkin harus berjuang dulu”

“Kok untuk punya agama saja harus berjuang? Terus bagaimana kalau tidak beragama. Tidak usah berjuang dong”

Saya bengong tidak bisa menjawab apa-apa. Apalagi menyambungkannya dengan Pancasila, Penataran P4 dan rumah ibadah yang dengan semenanya ditutup paksa.