Archive for the 'diskusi' Category

Apabila Pemerintah RI Yang Tidak Ganteng Itu Memblokir Atau Malah Membunuh Internet: Bagian Pertama (1)

Sebenarnya ini pertanyaan yang cukup lama ada di benak saya. Tapi sejak kebangkitan revolusi di beberapa negara di Timur Tengah, pertanyaan ini makin santer saja mengiang di kepala saya.

Saya pikir daripada saya stress sendirian bertanya-tanya. Ada baiknya saya bagi pertanyaan ini kepada publik. Siapa tahu ada yang iseng ikutan jawab. Atau, siapa tahu ada yang ikutan stress. Hehe…

Begini; daripada susah-susah. Lebih baik semua pertanyaannya saya klasifikasi menjadi beberapa bagian.

Bagian Pertama: Pertanyaan Dasar Komunikasi. “Apa yang harus kita lakukan jika pemerintah RI memblokir atau menutup semua jalur komunikasi?”

Komunikasi apa maksudnya?

Tentu saja komunikasi elektronik. Misalnya: telepon, email, radio dan semua yang ada hubungannya dengan jalur eletronik. Tapi mengapa pemerintah menutup jalur komunikasi elektronik?

Bisa saja suatu hari pemerintah ‘agak iseng’ (dan mereka memang sudah terkenal keisengannya) lalu mengeluarkan sebuah kondisi darurat bahaya untuk semua manusia RI dan sialnya selain mengeluarkan jam malam dan status operasi militer mereka juga mengeluarkan larangan berkomunikasi para WNI kepada dunia luar (local or worldwide). Apa yang harus kita lakukan?

Menurut? Sambil bertanya-tanya dalam hati: kenapa mbok yaa ndak menurut saja pada pemerintah, kalau sudah dilarang berkomunikasi mengapa masih mau melanggar?

Kalau Anda mau begitu, yaa silahkan. Kalau menurut saya, jangan! Jangan menurut kalau hak Anda dicabut.

Jawaban satu pertanyaan di atas sekaligus pertanyaan baru: Perkembangan masa membawa perubahan baru. Yaitu bahwa hak dasar manusia bukan hanya sandang pangan papan saja. Melainkan juga komunikasi. Tahun 1969 Jean D’Arcy dari Perancis membawa konsep ini dan lalu dilegalisasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa pada akhir tahun 80-an. Konsepnya sederhana, yaitu bahwa komunikasi berhak dinikmati oleh siapa saja. Maka jika pemerintah, penguasa atau rezim atas nama apapun melarang atau memberangus saluran komunikasi, maka bisa dipastikan bahwa mereka ikut pula menghancurkan hak dasar manusia. Jika sebuah rezim tengah menjalankan politik penghancuran hak dasar warganya, bukankah artinya pemerintahan tersebut sedang lebih dari sekedar ‘agak iseng’?

Jadi jawaban apa yang tepat jika pertanyaannya adalah “Apa yang harus kita lakukan jika pemerintah RI memblokir atau menutup semua jalur komunikasi?” yaa gampang: Lawan!

Bagian Kedua: Saluran Dasar Komunikasi Elektronik Dan Efeknya Pada Pemerintahan

Saluran dasar komunikasi elektronik dalam kategori transmisi terbagi menjadi beberapa macam. Umumnya yang dikenal publik luas adalah kabel, nirkabel dan internet. Itupun dibagi-bagi lagi menjadi semakin luas seperti; telepon, email, sms, fax, radio, unduh, live streaming, dan lain sebagainya. Kalau mau spesifik, kita akan mengenal proses signal seperti enkripsi (penyandian), digitalisasi, multipleksi dan lain-lain. Dan masih banyak lagi pembagiannya. Tapi ini kan bukan wacana kuliah yang perlu spesifik. Saya hanya akan menelaah sedikit dalam kekuatan komunikasi elektronik dan pengaruhnya pada pemerintahan atau rezim yang tengah berkuasa.

Ini contoh-contohnya:

Telepon: Kekuatan penggalangan massa (people power) dalam menuntut pengunduran Presiden Philipine Joseph Estrada tahun 2001 adalah ketika para pemrotes mengirimkan SMS satu sama lain sebagai berikut:

  1. Pakai hitam-hitam untuk melayat demokrasi yang telah mati
  2. Siap-siap jika ada kerusuhan
  3. Militer perlu melihat 1 juta manusia yang mau menurunkan Erap besok. Ayo bergabung!

Hebatnya, SMS ini sukses besar. Setelah lima hari demonstrasi secara kontinyu oleh warga, Erap (panggilan untuk Joseph Estarada) pun akhirnya turun dari singgasananya.

Ahh dia tidak begitu dicintai warga rupanya.

Sisi lain yang cukup negatif. Selain alat penggalangan massa, telepon (terutama telepon genggam) di beberapa negara juga bisa dipakai sebagai sebagai anjing pengendus penguasa. Seseorang dapat dengan amat mudah diketahui posisinya hingga isi ‘daleman’ telepon mereka oleh pihak penyedia telekomunikasi. Setahu saya, saat ini di RI beberapa provider telepon secara diam-diam bahkan diketahui menyuplai data konsumen mereka untuk pemerintah maupun pihak ketiga (misalnya korporasi besar penawar tertinggi) walaupun baru sekedar nama dan nomor. Alasannya beragam, aneh-aneh dan macam-macam mulai dari war on terror hingga kampanye marketing ringtone. Yang pasti semuanya secara pasti telah melanggar wilayah pribadi si pemegang telepon.

Email: Kekuatan email dibanding pos surat kertas dan amplop umumnya terletak pada sisi kecepatan, reliabilitas dan praktis. Sisi lemahnya, tanpa jaringan elektronik maka kekuatan email memang tidak ada apa-apanya.

Pada Januari 2011, Menteri Komunikasi Mesir Tareq Qamal menutup jaringan internet. Sebagai langkah pencegahan munculnya gerakan penentang pemerintah Presiden Mubarrak. Yang menarik, bahkan ketika para penentang Mubarrak bisa memperoleh jaringan internet melalui dial-up modem (yaitu modem jaman dulu yang masih memakai saluran telepon kabel sebagai penghubung dan kata Sahroni teman saya, “bunyinya kayak burung merpati disembelih”) ternyata mereka tidak bisa mengakses web based email service seperti GMail, YahooMail, Hotmail dan lainnya. Ternyata, pemerintah Mesir memblok semua website-website email dan layanan mereka.

Internet mati yaa email juga ikut mati.

Sebelum internet dibunuh pada musim dingin Kairo, setahun sebelumnya, lebih tepatnya Juni 2010, senator Amerika Serikat Joe Lieberman (yang sialnya juga ketua Homeland Security) mengusulkan undang-undang tombol merah untuk internet. You know, semacam tombol yang kalau Presiden Obama (atau penerusnya) pencet maka internet seluruh US akan modar seketika. Yang berarti, layanan macam Twitter, Facebook, Google, iCloud dan bla-bla-bla lainnya yang berbasis di US dan saat ini kita pikir ada di genggaman (ponsel) kita, juga akan mampus seketika tombol itu dipencet.

Sosial Media: Kalau tidak salah, semua layanan sosial media memang berbasis internet. Logika sederhananya; kalau internet mati, yaa sosial media juga mati. Di Korea Selatan dan RRC sudah ada sosial media yang berbasis web intranet (*ini mah basi, pabrik aye juga punya bang*) dan/atau mobile berbasis AR (augmented reality, canggih banget nih service. Sayang masih rahasia pengembangan). Jadi jika internet almarhum, para aktifis sosial media masih bisa berbagi info melalui jaringan telepon.

Banyak bukti yang sudah jelas menunjukkan bahwa Facebook atau Twitter memang bukan pemicu atau sponsor utama pergerakan di dunia Arab (Arab Spring 2011). Jadi, sebenarnya ada tidaknya sosial media di Libya, rakyat sana memang sudah sebal dengan (alm) bos mereka yang bernama Muammar Muhammad Abu Minyar Gaddafi aka Muammar Qaddafi. Revolusi itu tidak bisa hanya berdiri diatas sosial media di dunia maya, ia juga harus didukung oleh pergerakan sosial (atau biasanya malah, massal) di dunia offline. Bukti sudah jelas menunjukkan bahwa untuk menumbangkan Qaddafi memang butuh amunisi, bukan hanya kelincahan jempol mengetik di atas layar sentuh telepon genggam.

Tapi, juga tidak bisa dimungkiri, bahwa kekuatan sosial media internet mempengaruhi jalannya pergerakan sosial fisik yang tengah terjadi.

Suatu malam setelah lelah bertempur seharian, seorang pemuda pejuang dari al-majlis al-wattanī al-intiqālī (NTC, pemerintah transisi pengguling rezim Qaddafi) ditanya oleh stasiun televisi Al-Jazeera, “Apa yang kamu lakukan pada malam begini?”

Ia menjawab santai, “Update status fesbuk, liat share komik lucu dari twitter dan baca-baca wikipedia”.

Sampai sini, dari jawaban si pemuda itu sebenarnya kita sudah bisa menyimpulkan sejauh mana sosial media berperan dalam penggulingan Qaddafi.

Ngomong itu gampang: Lawan! Tapi bagaimana melawannya?!

Di Indonesia, internet belum jadi hak asasi WNI untuk bebas dinikmati. Percaya atau tidak, dalam sebuah dokumen undang-undang RI yang berisi usulan anti terorisme, pemerintah berhak mengintervensi atau bahkan mencabut internet. Bahkan jika itu bukan soal terorisme, malah hanya ketika ‘merongrong keutuhan NKRI’ (yang-entah-apa-maksudnya-oh-betapa-LEMHANAS-bahasanya-RUU-gombal-itu), pemerintah berhak mencabut atau menguasai internet. Di sisi ini, pemerintah negara kita tercinta jauh-jauh lebih inferior ketimbang Nigeria yang sudah memberikan hak penuh warganya untuk menguasai internet.

Secara simpelnya, jika suatu hari presiden kita saat ini SBY dimaki-maki publik lewat internet karena suaranya sudah tidak aduhai lagi ketika mengamen, dan sialnya, presiden yang terkenal ajaib ini mengamuk lalu mencabut internet… Ya sudah deh. Menurut UU anti terorisme dan keutuhan NKRI itu, kita semua yang tinggal di RI tinggal gigit jari manyun harus mengikhlaskan wafatnya internet.

Jadi, apa yang harus kami lakukan?

(*Sabar… Sabar… panduannya banyak di internet. Bisa diterjemahkan oleh saya secara ugal-ugalan. Tapi karena sore ini saya harus beli bumbu dapur buat masak nanti malam, jadi saya belanja dulu dan tunggu saja tulisan selanjutnya. Hehe*)


Istirahat Dan Kecantikan

Memberi Suara Pada Yang Bisu - Dr Dede OetomoHari ini saya tidak punya banyak kegiatan. Sebab prioritas utama saya memang hanya sekedar istirahat. Idealnya, duduk, menikmati matahari dan lalu baca buku karya pak Dede Oetomo yang berjudul Memberi Suara Pada Yang Bisu, sebuah catatan cukup penting bagi pergerakan homoseksual Indonesia di luar negeri maupun dalam negeri. Tapi itu idealnya. Maksud saya, yang ideal memang begitu. Sebab kenyataan toh bilang lain.

Hari ini, saya ambil cuti. Mau istirahat. Sudah dua minggu penuh beraktifitas hingga nyaris setiap siang atau malam dihabiskan dengan hal-hal yang menyenangkan, namun juga menguras tenaga. Siapa yang bisa bilang jika pergi ke kebun binatang bersama putri tercinta adalah hal yang tidak menyenangkan? Siapa yang bisa bilang jika menghadiri pesta ulang tahun makan dan minum enak sambil menyanyi bersama teman-teman bukanlah hal yang menyenangkan? Siapa bilang pergi ke tempat jauh hingga harus bawa paspor segala hanya untuk memotret tidak menyenangkan? Semuanya menyenangkan. Tapi tetap saja toh menguras tenaga.

Saya mau istirahat. Maka jadilah saya mencoba istirahat hari ini. Tapi, ahh lagi-lagi ada tapinya. Itu jemuran sudah berhari-hari kering minta diangkat dan dilipat lalu dimasukkan dalam lemari. Ada pakaian bekas ompol anak saya membuat pesing sekamar mandi minta dicuci dan dijemur secepatnya. Ada makanan yang meminta dimasak agar memenuhi isi perut saya dan tamu-tamu. Ada lantai yang berdebu kusam minta disapu dan dibersihkan segera. Ada foto-foto hasil perjalanan yang minta diedit dan dikirimkan pada mereka yang semestinya mendapatkannya. Ada… Ada… Ada-ada saja lainnya yang membuat akhirnya saya baru bisa beristirahat mulai pukul tiga sore. Dan saya yakin tidak bisa bertahan lama. Sebentar lagi, tiga jam lagi, tamu-tamu saya juga sudah akan datang.

Akhirnya pukul tiga sore ini saya bisa beristirahat. Saya duduk di depan monitor. Lalu mulai menulis. Aneh? Bukankah menulis juga butuh tenaga? Ya jelas iya. Bukan hanya tenaga, tapi juga pikiran. Tapi kenapa masih menulis? Jawabnya sederhana; itu istirahat. Setidaknya buat saya. Dalam tiga jam ini saya akan istirahat. Saya akan menulis.

Sore ini, ketika akhirnya saya bisa sendiri, saya pun menulis. Seperti biasa, catatan-catatan saya hanya sekedar remah kehidupan sehari-hari. Tidak begitu penting buat siapa-siapa. Tapi ijinkanlah saya menulis dan berbagi cerita, sebab hanya dengan begini saya bisa istirahat. Hehe. Egois banget saya. Tapi cuek aja lah. Hehehe…

Jadi begini ceritanya;

Teman saya, panggil saja Mas Don, seorang putra Jawa aseli, baru saja putus cinta. Kejadiannya belum lama, kira-kira baru dua bulan lalu. Itu cinta, sebegitu putusnya, membuat beliau uring-uringan (“Pernah jatuh cinta yang sedemikian jatuhnya sehingga enggan untuk bangkit lagi?“). Bagaimana tidak uring-uringan, sebab dia bilang semua orang baik dari keluarga pasangan hingga ke keluarganya sendiri, menyalahkan Mas Don. Seakan putusnya pertunangan mereka, salahnya Mas Don.

“Coba Bang, masak sih aku yang disalahin? Padahal kan dia yang menerima ajakan kencan dari cowok lain. Masak dia kalo dapet SMS dari cowok lain terus diajak makan abis itu ngasih tau aku? Siapa yang nggak panas coba?”

Saya diam saja. Cengar-cengir seperti biasa. Sambil bertanya, “Trus?”

“Yaa iyalah, masak aku dituduh psikopat. Gara-gara putus pertunangan kita, aku dituduh psikopat. Aku dituduh main gila. Main gila apa aku, Bang? Aku kerja banting tulang mati-matian di sini mengumpulkan uang supaya tahun depan bisa pulang ke Indonesia biar bisa kawin sama dia. Kok dia begitu? Kencan sana kencan sini. Dia yang minta putus eeh malah status fesbuknya bilang kalo aku yang mutusin… Siapa yang nggak panas coba?”

“Yaa udah lah. Kamu tenang aja, Mas Don. Masih banyak gadis-gadis di muka bumi ini yang mau sama kamu”

“Tapi aku kan jelek, Bang… Gigiku maju begini. Banyak orang yang bilang aku mirip Dono”

Saya terperanjat, “Siapa yang bilang kamu jelek. Mas Don, semua manusia itu sama. Soal cantik atau tidak, itu masalah selera. Omong-omong soal Dono, almarhum itu senior saya loh. Dan dibalik karirnya sebagai komedian, pejuang dia itu. Ganteng. Punya kepercayaan diri”

Dia sambil cengar-cengir bilang, “Yang bilang aku jelek sudah banyak, Bang. Kalau aku kondangan terus bawa mantan cewekku, orang-orang pada tanya, apa rahasianya cowok macam aku bisa dapat secantik begitu”

Saya melamun. Sedih. Saya bilang, “Mas Don, kalo ada yang bilang kamu jelek kamu inget-inget aja lagu Christina Aguilera liriknya yang bilang ’kamu cantik, walau apapun yang mereka bilang. Tidak ada kalimat yang mampu menjatuhkanmu’. Biar sukses, nih saya kasih amalan”

“Amalan apa Bang, sejak kapan situ jadi dukun?”

“Udah jangan berisik. Nih amalannya. Tiap bangun pagi kamu usahakan liat kaca. Kamu senyum. Senyum sama diri kamu sendiri. Trus kamu bilang, ‘Eh kamu manis banget sih’ pada diri kamu sendiri. Ini amalan mujarab. Kalo dipraktekkan tiap hari kamu bisa jadi ganteng”

“Buktinya mana?”

“Saya dong! Loh kamu nggak ngeliat betapa saya manis banget nih!”

Kami berdua tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban saya. Mas Don menganggap jawaban canda saya dengan hati senang.

Saya tidak tahu apakah Mas Don mengikuti nasihat ajaib saya itu. Tapi saya pribadi mah (eh jangan bilang-bilang, ini rahasia kita bedua saja yaah) setiap bangun tidur lihat kaca lalu senyum dan berkata pada diri sendiri, “Bangaip, kamu cute banget sih” atau “Bangaip, kamu topdeh” atau “Bangaip ketika kamu jalan-jalan, dunia jadi ceria”.

Agak gila memang, tapi saya tidak peduli. Meskipun di luar hujan deras dan saya harus genjot sepeda termehek-mehek melawan angin pergi ke stasiun berangkat kerja ke pabrik, saya sudah sarapan dengan senyum. Kalau tidak bisa senyum, saya pakai dua jari tarik ujung bibir ke atas. Supaya kelihatan senyum. Yang ada malah kelihatan aneh. Dan saya lalu ketawa-ketiwi sendirian di kamar mandi pagi-pagi.

Gokil? Hahaha, biarlah. Yang penting senang! Haha…

Beberapa hari lalu saya ketemu Mas Don lagi. Ia bilang, “Bang tadi aku ketemu cewek Brazil di bis. Aku dikasih nomor telpon ama fesbuknya. Waduh senang aku, Bang. Kita sudah kontak-kontakan, mau ketemuan”

Saya lihat fesbuk perempuan yang ia bilang. Ya benar, Mas Don tidak salah. Cantik itu wajah sang wanita. Dengan penampakan lain pirang, tinggi dan seksi. Saya bilang, “Mas Don, mungkin ini jalan kamu. Tiap orang kan ada jalannya masing-masing. Moga-moga aja ini perempuan baik hatinya. Kamu ini orang baik, sepantasnya dapat perempuan baik. Kalau dia hatinya baik dia juga sangat pantas dapat kamu”

Mas Don cengar-cengir malu, “Ahh bisa aja kamu, Bang”

“Hehe, ngomong-ngomong kamu praktekin ga amalan dari saya”

Ia senyum membalas pertanyaan saya. Saya tidak peduli sebenarnya apakah ia benar-benar mengikuti anjuran saya. Tapi saya sudah bahagia melihat ia akhirnya senang dan punya secercah harapan dalam melalui hari-harinya yang penuh kerja keras dan patah hati selama ini.

Oke, itu cerita Mas Don. Cerita tentang seorang laki-laki yang jatuh cinta.

Sekarang saya coba ceritakan sebuah cerita lainnya. Ini cerita tentang wanita berusia 57 tahun. Namanya Jeanette. Perempuan aseli Brussel, Belgia.

Hari jumat lalu saya diundang makan malam di rumah Jeanette. Disana juga ada Gaby, wanita Jerman paruh baya eksekutif sebuah perusahan pengembang perangkat lunak yang super sibuk dan Rayes, perempuan Kanada yang menghabiskan separuh hidupnya untuk berkelana di muka bumi dan kali ini sedang bangkrut, patah hati, mencoba hidup menetap dan mencari kerja.

Kami makan malam bersama. Empat orang asing yang belum banyak kenal satu sama lain duduk dalam satu meja. Oh ya, jelas saya lelaki satu-satunya di ruangan itu. Jangan tanya saya bagaimana bisa kenal mereka, yang pasti ketika makan malam usai obrolan pun lalu menjadi lebih intim. Kami bicara tentang hidup kami.

Gaby bicara tentang kesibukan yang semakin hari semakin menyiksanya. Karir semakin tinggi, ia sibuk di tempat kerja. Untuk mengimbangi, ia ikut fitnes dua kali seminggu. Agar badan tetap sehat, bugar dan kencang. Di sisi lain, pacarnya yang lumpuh di Munchen sana juga ikut menyita waktu dan tenaga. Ia bicara tentang kesibukannya.

Rayes cerita tentang lelaki-lelaki yang selalu datang dan pergi dalam hidupnya. Ia cerita kalau ia separuh menyesal bertemu dengan para pria yang ia pikir akan jadi pelabuhan terakhir dan akhirnya mengecewakan. Dan kini, ia harus memulai kembali dari awal atas segalanya. Ia cerita tentang masa lalu dan penyesalannya.

Lalu jelas giliran saya. Saya cerita apa? Ahh saya jelas cerita tentang anak saya. Seorang perempuan berusia tiga tahun yang selalu membuat saya jatuh cinta. Tentang bagaimana saya mengajarinya naik sepeda dan obrolan-obrolan kami dalam multi bahasa yang selalu membuat saya tertawa. Saya cerita tentang cinta.

Jeanette, yang dari tadi hanya diam dan senyum menanggapi akhirnya mulai bercerita.

“Suatu hari ketika saya ada di India untuk berkelana, bangun tidur di pagi hari mendapatkan bahwa setengah tubuh saya tidak bisa bergerak. Dokter yang datang satu jam kemudian hampir pasti berkata bahwa saya kena stroke. Kejadian ini dua tahun lalu. Sejak saat itu saya lumpuh”

Saya dan mata-mata lainnya dalam ruangan memandang dengan tercekat ke arah Jeanette. Iya kami tahu Jeanette agak pincang ketika berjalan. Tapi kami tidak tahu kalau ia pernah lumpuh total.

“Bukan hanya stroke, saya juga kena Afasia yang membuat saya kesulitan dalam berkomunikasi. Apa yang mau saya bilang di otak keluarnya lain di mulut”

Saya benar-benar terperanjat. Saya tanya, “Kamu… Apakah kamu merasa frustasi dengan kondisi tersebut?”

Jeanette memandang saya, ada airmata di sana. “Iya, saya frustasi. Apalagi saat itu saya di India, saya tidak bisa menghubungi keluarga di Brussel. Akhirnya untung ada kedutaan yang membantu memulangkan saya. Setahun saya merasa gagal. Saya benci diri sendiri. Berjuta pertanyaan muncul. Kenapa ketika saya di India? Atau malah, kenapa harus saya? Saya merasa hidup saya sudah tidak ada gunanya lagi sebagai manusia”

Saya sadar betul. Sebagai orang yang selalu jalan-jalan dalam bekerja, lumpuh memang amat menyulitkan. Apalagi ditambah kelainan fungsi di otak.

Gaby dan Rayes bertanya hampir bersamaan, “Lalu kok kamu sekarang bisa jalan lagi?”

Jeanette tersenyum. Dia bilang, “Kalau saya menyesali hidup, pasti tidak ada gunanya. Saya pasti suatu saat akan mati. Tidak perlu lah saya percepat. Maka itu saya lawan saja. Saya pergi ke pusat rehabilitasi untuk orang cacat. Saya berjuang setiap hari berkata pada diri sendiri bahwa saya pasti akan bisa menggerakkan telunjuk saya”

Diai berhenti sejenak, ambil teh dan lalu menyeruputnya. “Dan kamu tahu… Suatu hari telunjuk saya bergerak. Setelah enam bulan saya melatih diri di depan kaca berkata pada diri sendiri bahwa saya bisa menggerakkan jari jemari, tiba-tiba ia bergerak”

Saya kaget, “Eh masa sih segampang itu?”

Dia ketawa, “Yaa tidak. Tidak semudah itu. Besoknya setelah jari saya kedut-kedut tiba-tiba, tidak ada perubahan lain. Saya sempat frustasi lagi. Tapi saya lawan. Saya bilang pada diri saya sendiri kalau saya bisa. Hari demi hari ada kemajuan. Tidak serta merta saya bisa bergerak seperti ini, tapi saya mulai bisa menggerakkan jari jemari tangan saya. Dan itu sebuah anugrah. Buat saya. Buat orang-orang bisa jalan atau bisa tepuk tangan itu biasa. Buat saya waktu itu, luar biasa. Dan kini betapa saya sangat menghargai hidup dan tubuh walaupun hanya jalan ke WC atau membuka lembaran buku”

Saya benar-benar terharu mendengarnya. Hampir menangis. Semua bulu kuduk saya merinding ketika Jeanette cerita mengenai perjuangannya untuk sembuh dari stroke dan afasia. Lebih terharu ketika ia bilang bahwa ia merasa tetap cantik walau semua urat wajahnya menjadi amat kendur hingga amat susah dibedakan dengan Jeanette yang dulu sebelum terserang penyakit-penyakit itu.

“Waktu diputuskan oleh pacar ia bilang, saya sudah tua. Saya singel, cacat dan muka saya rusak. Tapi saya tidak peduli. Saya lawan saja semua prasangak buruk dengan senyum. Ia boleh bilang apa saja, tapi saya tetap merasa wanita dan saya cantik dan bahagia”

Saya lagi-lagi terharu dan senyum mendengarnya. Saya bilang, “Jeanette, kamu perempuan cantik dan tetap akan selalu cantik. Saya bangga bisa kenal dengan kamu. Saya bangga pada perjuangan kamu dan saya bangga pada kamu”

Satu persatu, saya, Gaby dan Rayes memeluk Jeanette. Ia menitikkan air mata. Ahh iya, saya juga. Saya menitikkan airmata. Jadi lelaki yang cukup cengeng malam itu. Tapi biar saja. Ini airmata respek pada perjuangan hidup anak manusia.

Kita semua dilahirkan cantik dan akan selalu cantik hingga akhir hayat nanti. Maka jika suatu hari hidup sudah sedemikian berat himpitannya. Lihat saja ke cermin di pagi hari. Senyum dan berkatalah pada orang di seberang sana bahwa Anda mencintainya.

Selamat sore, selamat senyum dan selamat menjadi cantik (atau ganteng, atau apalah sebutannya, hehe) buat teman-teman pembaca semua.

*Terimakasih sudah membantu saya istirahat :) *


Pilih Mana? Percaya Atau Tidak?

Saya memang agak-agak kurang beruntung hati beberapa hari belakangan ini. Masalahnya dimulai dari hal-hal yang mungkin beberapa orang terlihat sederhana sampai yang membingungkan.

Saya kehilangan tulisan. Tulisan berseri mengenai sosial media dan perubahan yang melingkupinya. Isi totalnya ada empat tulisan. Eh… Hilang! Dicari kemana-mana tidak ketemu. Aduh, hati ini kok yaa gimana rasanya begitu mengetahui bahwa tulisan itu memang benar-benar hilang.

Kedua, saya kehilangan mood untuk menjumpai praktisi medis yang biasanya membantu kelangsungan hidup sehari-hari. Alasannya sepele, bosan. Bosannya juga ternyata sepele sekali, yaitu akibat rasa kepercayaan yang semakin merosot karena mereka menasihati saya untuk meminum paracetamol ketika saya sakit kepala. Edan, setiap hari saya kadang bisa 4-5 kali sakit kepala sebelah. Masak sih saya harus minum itu obat terus-terusan? Lah bagaimana kalau saya nanti jadi painkiller junkie?

Ketiga, saya kerap bertemu orang yang mati-matian mempertahankan argumen bahwa karena agamanya ia jadi tidak perlu belajar.

Masalah pertama walaupun makan waktu riset, saya bisa usahakan solusinya dengan cara menulis ulang. Begitu juga dengan problem kedua, saya tinggal cari spesialis dan penasihat medis yang lebih mumpuni. Jadi pada intinya, bisa ditanggulangi dengan optimis.

Yang bikin saya kebingungan, yaa bagaimana ini dengan masalah saya yang ketiga.

Akhir-akhir ini saya memang kerap bertemu kenalan yang menganggap bahwa apa yang ada dalam agamanya adalah sebuah kebulatan superior yang tidak bisa diubah-ubah.

Sumpah mati, saya tidak benci agama. Sebagaimana saya pribadi tidak pernah membenci pemeluk agama dan keyakinan tertentu (apapun agama atau keyakinannya). Saya akui saya memang punya jarak dengan agama, tapi bukan berarti saya bebas mencelanya. Dalam hidup ini, ada beberapa manusia tertentu yang dalam kondisi hidupnya, tidak punya apa-apa selain agama, dan hanya agama yang membuat mereka akhirnya bertahan untuk tetap hidup dan menyemangati orang lain agar tetap hidup. Saya menghormati mereka dan menghormati jalan hidup yang sengaja atau tidak sengaja telah mereka pilih tersebut. Termasuk, jalan hidup beragama.

Tapi, akhir-akhir ini saya mungkin memang sedang kurang beruntung. Saya bertemu dengan orang yang mati-matian menolak teori evolusi dengan alasan bahwa itu hanya teori tanpa bukti. Ada yang menolak bahwa umur bumi lebih tua dari 6 juta tahun sebab menurut beliau bumi dalam kitab sucinya diciptakan dalam enam hari (jadi kalau bahasa kitab suci adalah perumpamaan dalam penciptaan bumi, maka harus ada angka enamnya. Tidak peduli bahwa ilmu geologi bisa membuktikan bahwa umur bumi sekitar 54 milyar tahun). Hingga menolak untuk percaya bahwa manusia pernah mencapai bulan dengan alasan kalau guru fisikanya dulu semasa SMU pernah bilang bahwa manusia tidak mungkin mendarat di bulan sebab manusia tidak bisa melampaui kekuatan magis yang meliputi bumi yang membuat bumi kita terlindungi dari serangan meteor (*Guru Fisika macam apa itu coba?*)

Dari sekian banyak orang yang saya temui dan menolak fakta ilmu pengetahuan hampir semuanya bilang bahwa agama yang ia peluk yang membuatnya tidak percaya (*Satu orang alasannya cukup ajaib, dia bilang “Males ahh tau yang begituan. Ga penting!” yang saya langsung balas dengan tersenyum manis*).

Hampir semuanya bilang bahwa fakta ilmu pengetahuan sama sekali tidak sesuai dengan ajaran keyakinan yang ia percayai sejak kecil. Jadi, tidak perlu dipercaya. Sebuah argumen yang benar-benar ajaib. Bukankah fakta ilmu pengetahuan itu tidak pernah memaksa untuk dipercayai? Bukankah mereka hanya sekedar fakta? Yang bicara apa adanya sesuai bukti.

Dari beberapa kali mengobrol dengan para manusia yang menolak fakta ilmu pengetahuan dengan basis landasan utama akibat agama melarangnya, saya akhirnya mengambil beberapa sampel pola pendidikan sederhana;

  1. Bahwa tingkat pendidikan tidak berbanding sejajar dengan pemahaman terhadap ilmu pengetahuan. Belum tentu makin tinggi sekolah jadi makin memahami kompleksitas hidup
  2. Bahwa pendidikan agama di RI cukup ekstrim setidaknya hingga tahun 90-an. Beberapa pendidik bahkan kerap memberikan opini pribadi mereka mengenai agama justru ketika mereka pada saat bukanlah sebagai pengajar agama
  3. Bahwa adalah wajar mengetahui bahwa siswa WNI di RI harus memiliki agama sementara tidak wajar untuk mengetahui dan mengkritisi mengapa siswa-siswi maupun pendidiknya di RI harus beragama. Efek sampingnya, terjadi penumpulan pada daya kritis siswa
  4. Bahwa semenjak sekolah dasar pun siswa telah diberi pemahaman untuk berkumpul dan berserikat berdasarkan agama yang dianutnya
  5. Bahwa ada siswa yang sedemikian apatisnya terhadap kehidupan beragama, ia mengambil jarak dari komunitas beragama. Di sisi lain, ada siswa yang malah mengambil kesimpulan bahwa ia tidak perlu belajar lagi dengan alasan ilmu agamanya sudah cukup jadi apapun fakta terbaru ilmu pengetahuan, tidak perlu ia terima.
  6. Bahwa ada siswa yang merasa tidak penting tahu bahwa bumi itu bulat atau kotak. Yang penting sekolah nilai tinggi agar lulus kerja bisa jadi PNS atau karyawan BUMN atau menempati posisi yang membuat hidupnya nyaman (*walaupun definisi nyamannya ternyata sangat bisa diperdebatkan*)

Menarik bukan?

Yang saya kagumi adalah bahwa yang melontarkan pernyataan di atas adalah para WNI yang dulu sempat sekolah dasar hingga atas di Indonesia dan lalu melanjutkan sekolah lagi di luar Indonesia.

Balik lagi ke topik awal. Saya sempat menyesal bertemu orang-orang seperti itu. Dalam hati saya sempat merutuk, “Ini mah buang-buang waktu aja”.

Tapi… Eh tapi kok yaa saya sempat kepikiran. Jika saya bilang di awal bahwa mungkin saya kurang beruntung saya pikir saya salah. Sebab ternyata bisa jadi kalau justru ini adalah momen-momen keberuntungan saya. Bertemu dengan manusia yang berbeda.

Tidak banyak orang yang setuju dengan pola pikir saya. Dengan keputusan saya untuk tidak bisa dengan mudah mempercayai Nyi Roro Kidul. Padahal apa sih yang kurang dari si Nyai? Sudah single, cantik, seksi bahkan punya banyak kamar hotel sendiri. Apa coba yang kurang sehingga saya masih tidak percaya?

Jangankan orang-orang, Ibu dan adik-adik saya saja sempat khawatir dengan apa yang saya percayai dan dengan apa yang tidak. Tapi toh itu tidak menghilangkan kenyataan bahwa kami amat mencintai satu sama lainnya.

Mungkin, dengan datangnya manusia-manusia baru yang punya kepercayaan yang berbeda itu, saya malahan jadi bisa melihat bahwa perbedaan antara kami itu sebenarnya amat indah :)

(*Percaya atau tidak? Saya sering diundang makan-makan oleh mereka yang ajaib dan berbeda keyakinannya ini. Lah saya turuti dong undangannya, buat saya kan makan-makan dan ketawa-ketiwi itu indah. Hehehe*)


Operasi Payudara

Beberapa hari lalu saya mengobrol dengan putri saya Novi Kirana yang baru saja menginjak usia tiga tahun. Seperti biasa, kalau mengobrol posisi kami memang agak aneh. Sejak ia bayi, kami memang suka mengobrol serius ketika saya sit-up atau push-up. Kalau saya sit-up, ia duduk di atas kaki atau perut saya. Kalau saya push-up, ia duduk di atas punggung saya.

Kali itu, saya sedang melakukan beberapa sit-up. Ia keluar dari tepee, tenda Indian yang saya buat untuknya yang berdiri pas di ruang tengah rumah. Langsung duduk di atas perut saya. Tanpa tedeng aling-aling langsung bertanya, “Papa, kenapa dada kamu kecil?”

Dalam hati saya melengos, ‘Yaelah bocah, udah tau badan bapaknya segini-gini aja. Walopun udah olahraga segimanapun juga emang badan ini yah segini doangan. Pake ditanya-tanya segala’

Dan karena sudah ngos-ngosan saya jawab santai, “Karena papa anak laki-laki, sayang. Anak laki-laki kebanyakan nggak punya dada besar. Kalau anak perempuan punya dada lebih besar daripada anak laki-laki”

Dia buka kausnya. Dia lihat ke arah dadanya sendiri. “Kenapa dada saya sama seperti dada papa?”

Saya jawab, “Karena kamu anak papa, Cintaku”

“Tapi kan saya anak perempuan?”

“Iya, nanti juga kalau sudah besar dada kamu tambah besar”

“Kalau papa besar dada papa juga tambah besar?”

Saya bengong. Buset dah, anak kecil pertanyaannya memang ajaib kok yaa? Saya berhenti sit-up. Tapi matanya kecewa. Maka itu, saya sit-up lagi (*padahal sumpah saya sudah hampir kehabisan nafas. Tapi demi anak, ya sudah lah tambah satu set lagi*).

Sambil terengah-engah saya jawab, “Kalau berat papa tambah dada papa juga tambah besar nanti”

Mulutnya merocos dengan alis berkerut, itu tandanya dia sedang protes. “Tapi saya kan sudah besar! Saya sudah tiga tahun! Saya anak perempuan besar!”

Dengan lembut saya mengusap rambutnya yang makin panjang melewati dahi, “Iya kamu sudah besar. Tapi akan ada saat dimana semua anak perempuan akan lebih besar dadanya. Lebih panjang rambutnya. Lebih besar pinggulnya dan makin mengerti bahwa tubuh mereka berubah”

“Umur saya tiga tahun. Papa lebih besar daripada saya. Dada papa kecil. Umur papa empat tahun?”

Sambil cengar-cengir saya jawab, “Yaa nggak jauh beda lah kita. Papa juga masih muda kok”

Dia ke dapur. Saya bangun dari posisi sit-up sambil melakukan gerakan peregangan istirahat pada pinggul dan tangan. Saya lihat ia buka lemari pendingin mencari minuman es jeruk kesukaannya. Saya kira, obrolan siang itu selesai sudah. Namun dari balik pintu lemari pendingin ia bertanya lagi, “Kenapa dada papa kecil?”

Saya cuma diam, cengar-cengir sambil garuk-garuk kepala. Itu tandanya, percakapan ini masih akan berlangsung lama. Dan saya harus lebih banyak berolahraga akibatnya.

Saya ikut ke dapur, menyeruput es teh manis. Setelah itu saya ambil nafas sebentar lalu mulai posisi push-up dan bertanya kepadanya agar duduk di atas punggung saya.

Sambil menghisap isi botol es jeruknya dengan sedotan, ia patuh duduk di atas punggung. Dan mulailah saya bercerita.

“Dulu papa minta sama Pak Ali bos papa, supaya papa sekolah lagi. Tapi Pak Ali bilang papa sudah terlalu banyak sekolah. Pak Ali bilang papa harusnya mengajar saja. Papa kecewa”

“Terus kamu marah, papa?”

“Marah sih nggak. Tapi papa sedih. Tapi papa nggak bisa sedih, karena bos papa bilang lebih baik ilmu papa dibagi sama orang jadi papa pikir ia benar. Kalau papa sekolah lagi ilmunya buat papa sendiri saja. Tapi kalau papa mengajar ilmunya kan bisa buat  papa dan buat banyak orang. Jadi papa mengajar deh. Salah satu mahasiswi papa namanya Mel. Kamu kenal Mel? Dulu kan pernah papa kenalkan”

Lalu saya tertawa mendengar jawabannya, “Dulu kan saya masih kecil papa. Kamu jangan mengharapkan saya ingat dengan banyak teman kamu dong?”

Saya semakin terbahak-bahak ketika ia turun dari punggung, mencabut sedotan dari botol es jeruk dan memperlihatkan ke depan mata saya. “Waktu itu pasti saya lebih kecil dari ini!”

Setelah ia naik lagi ke punggung, saya melanjutkan cerita. “Mel itu mamanya Georgie dan Anne. Mereka berdua waktu masih bayi, menyusu pada Mel. Sama seperti kamu juga dulu menyusu pada mama. Cintaku Novi, kalau perempuan menyusui bayi biasanya dadanya tambah besar. Karena ada susu di sana. Sama seperti dada Mel. Tapi sayangnya ketika Georgie dan Anne sudah tidak menyusu lagi, dada Mel masih tetap besar sekali”

Ia diam. Saya juga tidak dengar suara botol es jeruknya. Tanda kalau ia sedang amat mendengar cerita dengan penuh konsentrasi.

“Punggung Mel jadi sakit. Kalau jalan susah. Sebab dadanya besar sekali”

“Kalau begitu, kenapa Georgie dan Anne tidak menyusu saja terus?”

“Sayang, kalau anak sudah besar biasanya mereka berhenti menyusu sama mamanya. Georgie sudah sepuluh tahun, Anne juga sudah delapan tahun. Jadi mereka sudah tidak menyusu lagi sama mamanya”

“Mel sakit?”

“Iya kasihan Mel. Kalau jalan susah. Kalau duduk susah. Karena dadanya terlalu besar. Jadi ia ke dokter. Ke rumah sakit. Dada Mel harus dikecilkan. Jadi waktu di rumah sakit dada Mel dikecilkan”

“Bagaimana dikecilkan dadanya? Diambil susunya untuk rumah sakit?”

Saya tertegun berhenti push-up sebentar. “Wah kalau itu papa juga nggak tahu sayang. Yang pasti beberapa bulan kemudian Mel kembali ke kelas papa. Dan dadanya sudah lebih kecil daripada dulu. Kamu tahu cintaku, ternyata ia sekarang jauh lebih bahagia punya dada kecil ketimbang punya dada besar”

Novi Kirana diam. Saya tahu, logika dalam cerita yang telah saya ceritakan masuk ke dalam benaknya. (*Itu artinya; saya sudah boleh berhenti push-up. Hehe*). Ia lalu turun dari punggung. Saya duduk dihadapannya. Sambil masih memegang botol es jeruk lalu duduk diatas pangkuan saya.

Sambil memangkunya saya bilang, “Anakku sayang, papa cinta kamu. Super cinta kamu. Papa tahu kamu cinta papa. Tapi yang lebih penting lagi, kamu harus mencintai diri kamu sendiri”

Dia berdiri, berbalik lalu memberikan kecupan di hidung saya. Sambil memeluk ia berbisik di kuping saya, “Saya cinta kamu papa. Walaupun dada kamu kecil walaupun dada saya kecil”

Tiba-tiba, saya merasa jadi lelaki berdada kecil yang paling bahagia di muka bumi ini.


Tukang Cak

Masa sekolah dulu, boleh dibilang saya sama sekali tidak memiliki prestasi yang memadai. Nilai saya untuk semua mata pelajaran adalah rata-rata. Sementara yang ada dalam kategori di bawah rata-rata, jelas semua mata pelajaran yang berbau norma moral dan agama. Entah kenapa segala sesuatu yang berhubungan dengan norma moral dan agama, nilai saya selalu merah.

Satu mata pelajaran yang nilainya di atas rata-rata, mungkin hanya matematika. Dan itu pun tidak semua matematika, sebab saya hanya menyukai cabang keilmuan matematika yang bernama teori kemungkinan (probability theory).

Mengapa saya menyukai teori kemungkinan dalam matematika? Sebelum saya jawab ini, ada baiknya jika saya menerangkan apa itu teori kemungkinan dalam matematika.

Menurut kamus, teori kemungkinan dalam matematika adalah;

Cabang matematika yang bersangkutan dengan analisis fenomena acak. Objek utama dari teori kemungkinan adalah variabel-variabel yang terlihat acak atau kejadian-kejadian tertentu. Peristiwa matematis dapat dengan jelas terlihat dalam kejadian yang berkembang dari waktu ke waktu dalam mode yang tampaknya acak. Misalnya jika seseorang melemparkan koin atau dadu dianggap peristiwa acak, maka jika ia berulangkali mengulangi urutan kejadian acak tersebut maka akan menunjukkan pola-pola tertentu, yang dapat dipelajari dan diprediksi. Teori kemungkinan adalah dasar statistik. Ia berlaku untuk deskripsi sistem yang kompleks seperti misalnya digunakannya pada mekanika statistik untuk menjelaskan banyak hal

Waktu pertama kali Bu Atu (pengajar matematika teori kemungkinan) menjelaskan hal ini, saya langsung konsentrasi. Di otak saya hanya dua kata kunci yang tertangkap. Satu ‘dadu’. Satu lagi bagian ‘menjelaskan banyak hal’.

Gila! Gua bisa kaya kalo begini. Itu satu-satunya hal yang ada di otak saya. Bagaimana tidak, judi yang selama ini saya anggap misteri, ternyata bisa dipecahkan dengan matematika!

Waktu zaman saya belajar teori ini, Indonesia sedang keranjingan judi namanya Togel. Singkatan dari Toto Gelap. Judi Toto sendiri katanya datang dari Malaysia/Singapura. Entah saya tidak tahu pastinya, yang pasti di di kampung saya Cilincing manusia berlomba-lomba pergi ke bandar setiap malam untuk bertaruh pada sepasang angka (atau lebih) pada beberapa carik kertas yang disediakan bandar judi lokal. Ada embel-embel gelap, yaa karena memang bukan resmi binaan pemerintah.

Warga keranjingan Togel. Murah sih, seribu lima ratus rupiah sudah dapat bertaruh untuk dua angka. Kalau menang, bisa dapat puluhan kali lipatnya. Mulai dari tukang becak hingga bos kapal nelayan, semuanya hobi pasang judi togel.

Togel lalu jadi epidemi. Di poskamling tempat warga berkumpul, pasti selalu ada sebuah kertas berukuran A4 fotokopi yang isinya adalah gambar-gambar binatang atau benda yang tertera dalam kotak-kotak kecil. Di bawah icon-icon tersebut ada angka, biasanya dua huruf. Ketika akhirnya sudah jadi wabah, bahkan tiang listrik pun ditempeli oleh kertas-kertas tersebut. Yang pasti, kampung saya berubah bagaikan masa pemilihan lurah. Dimana-mana ada kertas promosi. Isinya icon dan angka.

Apa sebenarnya isi kertas fotokopi tersebut? Sederhana. Katanya itu penafsir mimpi. Kalau suatu malam Anda bermimpi diterkam macan, lihat saja kertas itu. Pada icon macan dibawahnya tertera angka 15. Maka pergilah ke bandar, pasang angka 15 sambil berharap mimpi Anda jadi kenyataan. Lalu lantas jika suatu hari bermimpi bertemu ular di sungai, maka pasanglah angka 23. Jangan 32, sebab itu artinya ular laut, bukan ular yang hidup di air tawar.

Mengapa warga kampung saya sudah sedemikian percayanya pada mimpi?

Ketika kemiskinan sudah menjerat, keadilan sosial hanyalah angan-angan, siapa lagi yang bisa dipercayai selain mimpi. Maka itu, jauh lebih banyak para penggila judi Togel adalah para nelayan kecil hingga tukang becak ketimbang para bos kapal. Buat mereka, hanya mimpi yang dimiliki dan satu-satunya yang murah yang bisa terbeli.

Lalu, apakah saya jadi tergila-gila dengan judi togel pula sebagaimana warga kampung lainnya?

Tunggu dulu ahh. Cerita saya belum sampai ke sana. Mari kita balik lagi ke soal mimpi. Masih ingat cerita di atas bahwa warga mengandalkan taruhan mereka pada mimpi. Secara literal, benar-benar mimpi. Artinya mereka tidur dulu untuk mendapatkan mimpi yang lalu ditukar secarik kertas demi mendapatkan mimpi baru.

Jadi begini, jika seorang warga (mari kita sebut saja si Fulan) bermimpi bertemu lantas diterkam macan, maka ia dengan tidak segan-segan memasang angka 15 pada taruhannya. Tapi bagaimana kalau pada sebuah siang di Cilincing yang panas ia bermimpi bertemu macan di tikungan, lantas dikejar singa hingga pematang lalu ditelanjangi ular di sawah hingga setelahnya diperkosa ramai-ramai oleh gajah? Angka apa yang harus ia pasang?

Nah ini lah gunanya saya (dan gunanya teori kemungkinan). Yang pasti saya tidak akan menjelaskan disini betapa dengan ugal-ugalannya saya menggabungkan teori kemungkinan dan analisa Freud dalam mengubah mimpi para manusia malang itu menjadi angka kongkrit yang mereka pasang sebelum masa pengundian tiap malam tiba.

Saat ini, mungkin jabatan yang saya pegang bisa disebut setara dengan kalimat ‘penasihat spiritual’. Zaman itu, nama saya disebut dengan panggilan ‘tukang cak’, orang yang melihat angka-angka acak. Padahal sebenarnya, dalam zaman apapun saya pikir sebutan untuk saya saya adalah manusia yang keterlaluan menyedihkan yang mencoba mengambil keuntungan dari para manusia malang.

Setiap konsultasi, saya dibayar seribu rupiah. Lumayan. Jika sehari ada sepuluh pelanggan, then you do the math. Zaman itu, dengan uang hasil konsultasi saya bisa beli rokok sebungkus, mie instan pakai telor bahkan berbotol-botol coca-cola. Lambang pergaulan anak muda. Jadi, saat itu kebahagiaan saya berdiri di atas jemari para nelayan dan tukang becak miskin yang terus bermimpi. Sungguh mengenaskan.

Eh apakah sudah saya bilang kalau nilai moral dan reliji saya rendah? Kalau sudah, Anda mungkin bisa mahfum manusia macam apa saya itu. Sebab selama saya bisa mengkalkulasi semua angka dan kemungkinan, saat itu saya akan tetap jalan terus. Menyenangkan.

Iya, saya jalan terus. Selama karir saya sebagai tukang cak, padahal hanya tiga kali saja bisa menebak benar. Artinya sederhana, teori kemungkinan yang saya agung-agungkan ternyata tidak bisa mengalahkan judi togel. Pola angka yang saya bangun, tidak terbukti sukses. Kalau setiap malam ada dua puluh pelanggan dan dalam sebulan hanya mampu menebak tiga taruhan dalam empat digit yang benar, maka perbandingan analisa acak saya boleh dibilang sama sekali tidak berhasil.

Tapi apa lantas para nelayan dan buruh pabrik tekstil kecil itu percaya walaupun perhitungan matematis saya gagal namun saya bukan tukang cak? Hohoho… Tidak. Sama sekali tidak. Mereka tetap percaya kalau saya mampu mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Kepada siapa lagi mereka bisa berharap. Mimpi mereka untuk hidup layak sebagai manusia normal sudah binasa. Maka jika mereka masih punya mimpi diatas mimpi, yaa harus dijaga. Maka itu saya tetap eksis.

Mereka percaya kalau saya ‘sakti’. Dan sebagai orang sakti tentu saya punya previlige khusus. Mirip ambtenaar atau keturunan darah biru pada masa kolonisasi dahulu. Jadi ketika perhitungan saya salah, tentu saja mereka menyalahkan diri sendiri dengan kalimat, “Ahh emang udah gini kali nasib gua malem ini”. Sama sekali tidak pernah menyalahkan saya. Sebab besok malam kami akan berkumpul kembali di poskamling untuk sibuk menganalisa mimpi dan menebak angka. Tentu saja dengan sukarela uang seribu rupiah berpindah tangan setelahnya.

Suatu hari di poskamling, sudah bisa ditebak. Ada yang bertanya, “Kenapa lu ga masang?” pada saya.

Saya jawab, “Ilmu gua luntur nanti”

Seorang bapak-bapak yang mengepulkan asap rokok kreteknya duduk berselonjor ke dinding pos. Baru pulang dari laut. Masih bau amis, bertanya lanjut “Emang belajar di mana dulu gituan”

Saya jawab sekenanya, “Pak Ramli pan tau ndiri, engkong aye orang Banten. Kalo liburan sekolah aye mah ke sono, Pak. Ngelmu. Di sono di Kasemen. Deket mesjid agung. Ini ilmu putih, Pak. Dapetnya aja dari kiyai”

Mendengar itu, biasanya warga kampung saya jauh lebih percaya daripada alasan-alasan lainnya. Ketika hidup sudah tidak lagi logis, rasionalitas bukan sebuah jawaban yang layak terdengar. Apalagi kalau sudah bawa-bawa simbol agama. Seakan jawaban apapun yang tersampaikan sudah direstui oleh langit. Dukungan pembenaran atas mimpi mereka.

Saya malas menjawab kalau saya lebih percaya upaya dagang dengan transaksi jual beli jauh lebih signifikan menguntungkan daripada judi. Pertama, akibat desakan ekonomi sehari-hari mereka biasanya sudah mulai mual duluan apabila mendengar kata ‘modal’. Kedua, saya sering adu argumen yang berakhir absurd ketika mereka menjawab, “dagang kan urat. Cuman yang punya urat dagang doangan bisa dagang”. Ketiga, sebab beberapa orang menganggap bisnis itu tidak lebih dari judi dalam bentuk lain. Keempat dan sekaligus yang terakhir, saya pernah memicu perkelahian karena bilang, “Judi itu ibarat kata naek haji. Buat nyang mampu aja lah. Orang susah ngapain pake judi segala!”

Jadi, maka itu saya lebih memilih menjawab sekenanya.

Namun jawaban sekenanya itu tentu saja tidak berlaku di depan muka Ibu saya yang curiga anaknya sudah berbulan-bulan tidak minta uang jajan. Dan cerita ini pun akhirnya berakhir dengan anti klimaks. Seorang anak yang masih tinggal di rumah orangtua, tidak sanggup melawan meneruskan bisnis di area perjudian demi menjaga nama baik keluarga.

Saya berhenti jadi tukang cak. Profesi yang rendah dimata para agamawan karena membantu suburnya industri judi. Sekaligus profesi yang hina di mata moralis, karena sama sekali tidak etis ikut menghisap darah para manusia yang berada dalam jaringan rantai makanan paling rendah.

Tidak lama setelah saya berhenti, pemerintah dan para cendikiawan agamis memaklumkan perang terhadap judi togel. Tiap malam di kampung kami ada razia polisi. Bandar yang kebetulan buka lapak, disergap dan ‘dibina’. Para nelayan dan buruh kecil tidak lagi duduk bersandar di poskamling menanti semilir angin laut yang membawa kantuk mereka mendulang mimpi. Semua orang takut berhubungan dengan judi togel. Di koran-koran muncul fatwa bahwa togel lebih menakutkan daripada HIV.

Semua orang bekerja. Perjudian dimusnahkan.

Setelah judi musnah, pajak televisi kok yaa jadi murah. Dimana-mana warga ramai-ramai memborong televisi. Ada yang ditaruh di ruang tamu jadi pelengkap perabotan pajangan. Ada yang ditempatkan di ruang makan, seakan bagian dari lauk pauk. Ada yang ditaruh di kamar tidur, mungkin untuk jadi saksi ketika mereka melakukan adegan reproduksi.

Dimana-mana orang punya televisi.

Ketika televisi jadi budaya baru, muncul serial-serial yang tiba-tiba membuat ibu-ibu jadi pecandu. Lalu menular ke anak-anak mereka. Lalu tentu saja para suami mulai ikut-ikutan.

Bedanya dengan judi togel, kini dapur jauh lebih ngebul. Uang yang biasanya dihamburkan para bapak di secarik kertas berisi angka, kini bisa untuk beli makanan dan seragam sekolah anak. Ibu-ibu mulai bisa bersolek. Sales keliling menjajakan kosmetik. Tentu saja biar cantik. Biar mirip bintang yang mereka lihat di televisi. Gaya bicara pun mulai berubah, anak-anak SD bahkan pernah teriak kalimat “Oooh tidaak!!” ketika melihat temannya jatuh dari sepeda. Meniru gaya bicara para artis sinetron. Bapak-bapak mulai bermimpi bisa naik mobil dan bahkan memiliki kendaraan roda empat. Sebab itulah tipikal bapak ideal yang mereka lihat di televisi.

Iya, televisi membuat perbedaan.

Sungguh beda dengan ketika judi togel masih ada.

Sebagaimana teori kemungkinan, jika ada perbedaan maka pasti ada persamaan. Loh apa persamaannya antara televisi dan judi togel?

(*Empat paragraf sisa dipotong. Selain kepanjangan isinya kelihatan seakan saya mau menceramahi para pembaca budiman yang cerdas dan sudah tahu jawabannya apa. Ahh memang saya siapa sok-sokan mau menceramahi warga kampung. Saya kan cuma tukang cak yang kehabisan ladang garapan*)


Suatu Hari Di Pasar

Saya cerita begini kepadanya:

“Beberapa minggu lagi anak gua ulang tahun, gua mao dong beliin hadiah buat anak gua. Umurnya bakal tiga tahun. Gua mao beliin maenan anak-anak. Nah gua carilah maenan di pasar. Disana gua ngeliat karpet. Bagus. Karpet itu karpet maenan anak-anak, ada angka dan huruf. Jadi anak gua selain main, juga bisa sambil belajar. Pas gua tanya sama yang jual, dia bilang harganya sekian. Waduh, gua nggak punya uang. Jadi sambil permisi gua jawab, bang sori yaah saya cuman nanya doang. Saya nggak bawa uang. Tiga hari lagi saya gajian, nanti deh saya balik buat beli. Dua hari lagi abang masih jualan kan? Anehnya si abang tukang karpet itu diem aja nggak jawab pertanyaan gua. Tapi trus akhirnya buka mulut. Lo tau ga dia jawab apa?”

Ia menggeleng. Tidak tahu. Maka lantas saya teruskan cerita.

“Si abang tukang karpet mukanya jadi asem. Dia sambil ngotot berkali-kali ngomong, nih karpet tinggal satu-satunya. Saya nggak jamin masih ada sore ini. Kalo nggak buru-buru ambil, saya ga jamin situ masih bisa dapetin nih karpet. Lah gua kaget dong si abang jawabnya begitu. Maka itu gua tanya lagi, bang… abang dagangnya hari apa aja? Si abang sambil mukanya tetep asem jawab, yaa nggak tapi kalo sabtu pas kamu gajian sih keliatannya saya dagang. Pas gua denger jawaban ini, mukanya tetep asem. Ya udahlah, gua cabut aja pulang ke rumah. Daripada lama-lama di situ mungkin bakalan dia jadi tambah kesel”

Saya berhenti sebentar. Menenggak es teh. Ia menatap saya dengan rasa ingin tahu. Iya, saya yakin ia tidak percaya bahwa dongeng saya hanya berhenti di titik tersebut. Lantas ia bertanya lebih lanjut apa yang saya lakukan.

Saya rasa hari itu mungkin saya punya keinginan untuk bercerita. Matahari bersinar hangat di teras rumah. Menerpa meja kami yang menghadap jalan raya. Saya lanjutkan.

“Besoknya, gua ke pasar lagi. Lu tau ga… Si abang masih ada. Masih dagang dia. Nah gua sengaja melakukan penampakan di depan muka dia. Biar dia tau kalo gua lagi ngeliatin dia. Itu karpet yang gua incer, belum kejual. Masih sisa satu-satunya. Tapi dia diem aja tuh. Trus lusanya, gua dateng lagi ke pasar. Juga sama. Dia tau gua ngeliatin dia dan karpetnya juga belum kejual. Pas hari ketiga gua dateng lagi ke pasar, dia tetep ada dan karpetnya juga masih ada. Kesimpulan gua, dia dagang di situ tiap hari dan karpetnya emang ga laku-laku trus ngebohong sama gua biar gua beli karpet cepet-cepet. Tapi pas hari ketiga itu, mukanya tambah asem pas ngeliat gua. Dia sambil teriak bilang, hari ini kamu kan gajian ayo beli karpet saya!”

Ia berhenti mendekatkan bibir gelas ke mulutnya. Bertanya, “Trus lu beli ga karpetnya”

“Nggak. Gua bilang aja kalo gajian gua diundur”

“Astaga, lu bohong kan? Sejak kapan gajian lu diundur? Ngapain juga sih lu bohongin pedagang kecil?

“Iya gua bohong. Tapi entah kenapa gua bohong, gua juga nggak tahu. Mungkin gua marah karena dia ngebohong duluan. Mungkin gua kecewa karena dia juga dari awal ga tulus ketika mao transaksi bisnis ama gua. Iya gua bohong. Iya, gua salah”

Saya diam menunduk. Tiba-tiba ingat putri saya. Lalu merasa tambah bersalah. Hati saya tidak nyaman. Saya tidak akan mencoba melakukan pembelaan diri bahwa untuk membalas kebohongan harus pula dengan kebohongan. Atau bahwa si pedagang karpet melakukan itu atas dasar kemungkinan bahwa ia miskin dan butuh marjin untung harian. Atau bilang bahwa saya juga buruh kecil yang harus berpikir berulang-ulang untuk beli karpet hadiah buat anak sebab artinya akan memotong belanja kebutuhan hidup bulanan. Atau bohong adalah salah satu etika bisnis modern. Tidak, saya tidak butuh semua pembelaan itu.

Bisnis itu bagaikan relasi dalam cinta, tidak akan jalan tanpa saling percaya. Si tukang karpet salah? Iya. Saya salah? Iya. Lalu diantara kami timbul rasa saling tidak percaya? Iya. Lah kalau semuanya iya, solusinya apa?

Ia bertanya lagi sambil terpejam dengan wajah menghadap matahari. Hangat. Saya bilang padanya bahwa saya tidak punya jawabannya saat ini. Sebagaimana saya tidak punya jawaban atas semua masalah dalam hidup.

Karena ia tidak bilang apa-apa dan siang ini semakin menjemukan, saya bertanya kepadanya, “Lu gantian sekarang. Pernah bohong sama pedagang?”

“White lies atau bohong biasa?”

Saya cengar-cengir menjawabnya, “Apa bedanya, bohong yaa bohong. Serigala mau berbulu domba atau berbulu ketek, tetap aja serigala”

“Di Bali, gua baru turun dari bus pariwisata. Diserbu pedagang cinderamata. Males banget deh. Dipaksa-paksa beli, kaos ditarik-tarik. Sebel gua”

Saya terpaksa senyum. Saya tahu apa yang ia alami, “Trus lu bilang apa?”

“Gua sambil pake kacamata item bilang I don’t speak Indonesia sorry. Bilangnya kepatah patah, biar dia tau gua juga ga ngerti banget bahasa inggris. Sialnya si tukang gelang nanya gua darimana. Gua jawab aja dari jepang. Eh gila tau, dia nanya gua pake bahasa jepang. Lancar banget. Dasar tukang dagang kali yah”

Saya ketawa. Dia lanjut berkata, “Trus gua nggak bisa jawab apa-apa lah. Boro-boro bahasa jepang yang gua tau kan cuma haik doang. Gua kabur aja terus ke kamar mandi. Anjrit, tukang dagangnya nungguin di depan WC. Untung aja ada tour guide yang manggil gua sebab turnya mao jalan. Nah si guide manggil gua pake bahasa Indonesia lah. Dia kan kenal gua. Pas gua keluar dari kamar mandi, tukang-tukang gelang itu sebel banget ngeliat gua sambil bilang kalau nggak punya uang bilang aja dari tadi, nggak usah ngaku orang jepang segala”

Senyum saya makin lebar mendengar ceritanya. Tapi setelah itu ia diam. Saya juga diam. Bersama kami tenggelam dalam hangatnya sinar matahari dan gemulai es teh yang semakin menari di kerongkongan.

Ia perempuan muda dari Jakarta, sukses dalam karir dan kini tengah berpikir untuk melanjutkan studi doktoralnya ke dapur untuk mengambil batu es. Di pintu ia berdiri bertanya, “Gua lupa kapan pertama kali belajar bohong. Lu masih inget ga pertama kali ngebohong? Gimana rasanya yaah?”

Saya tidak bisa menjawab. Buat saya itu retorika sebuah siang. Kenapa saya berbohong pertama kali dan bagaimana rasanya, saya tidak bisa menjawab. Saya lupa. Atau mungkin karena itu adalah ingatan buruk, saya coba lupakan. Sebab katanya sebagaimana mekanisme pertahanan diri, manusia suka mensortir memori tidak enak dan memasukkanya dalam klasifikasi khusus yang jauh tersimpan.

Anehnya, malam itu setelah para tamu pulang saya tidak berhenti berfikir mengenai bohong. Edan, apa jadinya muka bumi ini jika manusia tidak tahu cara berbohong? Edan, kenapa pula saya lupa pertama kali belajar berbohong. Apa iya karena terlalu seringnya dalam hidup saya berbohong saya sampai lupa kapan pertama kali berdusta? Ahh betapa menyedihkannya hidup saya…

Ah tapi itu kan saya. Tidak usah dipikirkan. Saya yakin Anda tidak seperti saya. Saya yakin Anda jujur-sejujurnya dalam hidup. Jauh lebih baik daripada saya. Hingga yakin bahwa Anda masih ingat pertama kali berbohong dan lalu bertobat setelahnya tak akan mengulangi lagi.

Eh, omong-omong Anda ingat pertama kali belajar berdusta? Gimana rasanya?

Susah jawabnya? Ahh tidak usah dijawab. Anggap saja itu retorika biasa :)


Antara Burka, Wanita Dan Kuasa

Ada dua peristiwa yang menarik perhatian sedang terjadi di Perancis saat ini. Yang pertama adalah masalah teknis yang berhubungan dengan kerahasiaan transaksi berbasis internet (*buat beberapa orang sama sekali tidak penting*)

Yang kedua yaitu penangkapan dua orang wanita yang mengenakan burka. Sebuah dress code wanita yang benar-benar amat tertutup. Biasanya menyisakan hanya celah yang mampu memperlihatkan kedua belah mata dan segaris bagian hidung saja. Mereka ditangkap sebab Perancis ternyata sudah mengesahkan undang-undang anti burka akhir minggu lalu.

Undang-undang anti burka katanya dibuat untuk menanggulangi bahaya terorisme. Sebuah alasan yang cukup ajaib. Dimana sejarah terorisme Eropa hampir semuanya dilakukan oleh laki-laki. (*Tidak selamanya memang terorisme dilakukan lelaki. Ada yang cukup terkenal yang dilakukan wanita. Dikenal dengan nama Black Widow C alias Shahdika alias шахидка atau Невесты Аллаха yang berarti ‘Pengantin Allah’. Yaitu para janda-janda tua yang suami/keluarganya terbunuh pada invasi Rusia ke Checnya membalas dendam dengan mempersenjatai diri mereka dengan bom yang menempel di tubuh lalu meledakkannya di pusat-pusat keramaian Rusia. Terminologi terorisme yang dilekatkan pada ibu-ibu ini sebenarnya masih bisa diperdebatkan. Yang pasti, para wanita ini ketika melakukan aksinya sama sekali tidak pakai burka atau bahkan atribut islami sama sekali*)

Alasan kedua, yang paling sering didengung-dengungkan adalah bahwa wanita yang mengenakan burka ditekan dan dipaksa menutupi tubuhnya oleh suami atau keluarga mereka. Pada awal-awal munculnya undang-undang pelarangan burka, alasan ini yang paling sering muncul di media. Semua orang, seakan merasa paling tahu lalu berteriak bahwa burka mengekang kebebasan manusia. Umumnya wanita.

Yang menarik (atau mungkin yang paling ironis) yaitu wanita Perancis yang mengenakan burka ini dan lalu ditangkap polisi beberapa hari lalu, ternyata mengenakan burka karena ia menginginkannya. Secara sukarela. Dan bahagia.

Penangkapan ini berbuah reaksi dari seluruh dunia. Semua orang terkejut. Kita tahu, bahwa pemerintah (di mana saja) memang sering membuat rancangan undang-undang yang kadang sama sekali tidak masuk di akal. Namun mengimplementasikannya secara keras dan memakai kekuatan bersenjata (polisi) untuk memaksa rakyatnya, jelas amat aneh. Apalagi yang kita bicarakan adalah Perancisnya Sarkozy. Bukan Libyanya Gaddafi.

Pemerintah (di mana saja), acapkali membuat membuat kebijakan yang membuat banyak pertanyaan di benak rakyat-rakyatnya. Pada kasus burka di Perancis, pertanyaan yang paling dasar adalah mulai dari yang psikologis seperti “Apakah pemerintah sudah menganggap kami sedemikian naifnya seperti anak kecil” hingga sosiologi jender seperti “Apakah pemerintah sudah berhak mengatur cara perempuan berpakaian?”

Untuk pertanyaan pertama jawabnya sangat umum. Dimana-mana pemerintah sering berlaku sok orangtua menganggap rakyat adalah anak kecil yang mudah dibohongi demi kepentingan elit mereka. Dipaksa untuk menurut. Selalu coba main kuasa.

Pertanyaan kedua yang susah dijawab. Sebab urusannya memang sangat jender sekali. sudah bukan rahasia umum kalau pemerintah itu kebanyakan diisi oleh lelaki. Mulai dari lelaki sejati, lelaki jalang, lelaki mata duitan hingga lelaki-lelaki ajaib lainnya. Dari konsep ini saja sudah jelas, bahwa urusan apa-apa yang menyangkut norma, memang tidak jauh dari urusan laki-laki.

Di negara atau tempat dimana lelakinya mudah terangsang hanya akibat melihat lekuk tubuh perempuan sedikit saja, merela rela mati-matian membuat undang-undang agar para wainta dibungkus rapat-rapat agar ‘tidak menggoda lelaki dan kelakian mereka’. Wanita yang menonjolkan lekuk tubuhnya sedikit saja, dicap jalang hingga bahkan dipenjara.

Sementara di Perancis, mungkin akibat sudah terbiasa melihat lekuk tubuh wanita di mana saja, ketika ada perempuan yang membungkus rapat tubuhnya, tiba-tiba bagaikan sebuah peristiwa makar. Para pelakunya harus ditangkap.

Mengapa… Sekali lagi mengapa para perempuan tidak diperkenankan untuk mengambil sikapnya sendiri? mengapa mereka tidak didorong untuk menjalani hidup yang mereka cintai? Mengapa mereka tidak diperkenankan memilih apabila aturan para lelaki terlihat kadang terlalu mengada-ada?

Ketika budaya pagan musnah (dan sengaja dimusnahkan), lenyap pula konsep bahwa wanita itu bisa berkuasa. Sejak saat itu, para pemimpin agama mulai dari nabi sampai ulama, adalah dominasi para pria. Yang paling menakjubkan adalah kalimat ‘kerajaan’, cikal bakal pemerintahan modern. Diambil dari kata ‘raja’.

Untungnya, di Nusantara kita masih mengenal nama ‘keratuan’. Sering disebut sebagai ‘keraton’. Kalimat berbasis kata benda. Artinya sebuah istana. Tempat tinggal para raja. Jadi konsep keseimbangan antar lelaki dan perempuan, walaupun tidak banyak, masih ada.
Wajar saja, paganisme memang jadi latar belakang budaya nusantara.

Tapi kalau memang bangsa Indonesia, sejak zaman nenek moyang mereka menghargai wanita sebagai makhluk dengan keseimbangan sama seperti pria, mengapa gerak wanita begitu dibatasi?

Jika ada pertanyaan dibatasi. Mungkin ada pertanyaan lanjutan, “Ahh itu kan di Perancis yang dilarang burka. Di sini mah tidak”

Eh. Di Perancis dilarang pakai burka. Di beberapa tempat di sudut negeri kita, dilarang pakai pakaian yang menonjolkan pinggul dan payudara (katanya akan membuat laki-laki tergoda). Itu baru pakaian. Belum ke strata sosial pada pertanyaan, “seberapa banyak sih CEO indonesia yang perempuan” atau “seberapa banyak sih wakil rakyat di Senayan sana yang wanita?”

Tahu jawabnya?

Mungkin sudah saatnya kini kami para lelaki duduk manis diam senyum dan berkata baik-baik untuk menyemangati para wanita. Sebab ketika kami berkuasa, kelihatannya bumi makin rusak saja.


Siapa Yang Bayar?

pig elephant

Sudah pernah mendengar cerita Anjing Yang Serakah?

Kalau belum, mari saya cerita sedikit. Begini ceritanya;

Suatu masa, hiduplah seekor anjing. Ia terkenal sebagai anjing yang serakah. Kelihatannya, suatu hari ia mencoba untuk insaf dari semua keserakahannya. Di hari itu, perutnya lapar dan tidak ada makanan di rumah. Lalu ia pergi ke jembatan di seberang rumah, melintasinya dan untunglah menemukan tulang terbaik yang pernah ia lihat dalam seminggu terakhir.

Terlintas dalam pikirannya bahwa ia harus segera pulang ke rumah. Bagaimana jika ada anjing lain yang melihatnya membawa tulang sebagus ini? Tidak mungkin. Ia tidak mau berbagi. Jadi dengan segara, dibawanyalah tulang ini digigit dengan gigi-giginya yang kukuh dan tajam melintas jembatan untuk pulang.

Di tengah perjalanan ketika hampir selesai melintasi jembatan, anjing ini menengok ke bawah. Astaga, ia lihat seekor anjing lain yang memiliki tulang sebagus tulangnya. Tapi lebih besar. Lebih lezat dan semua lebih lainnya. Timbul akal jahat diotaknya. Ia akan menakut-nakuti anjing yang ia lihat di bawah itu. Woof! Woof! Teriaknya menakut-nakuti anjing itu.

Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Anjing yang ia takuti ternyata adalah pantulannya sendiri di sungai. Ketika ia teriak menakuti untuk mendapatkan tulang lebih banyak, ternyata mulutnya terbuka dan tulang yang ada dalam gigitannya jatuh tercebur di air sungai yang dalam.

Sampai di sini, mengerti apa yang mau disampaikan dalam cerita anjing yang serakah ini?

Kalau masih belum juga, sudah pernah dengar cerita Perjanjian Dengan Iblis?

Cerita ini adalah dongeng lama yang tersebar di tanah Eropa. Terkenal dengan sebutan Faustian Bargain. Asal kata Faustian adalah Faust, seorang sarjana sukses dalam legenda Jerman yang bosan dan serakah lalu mengadakan perjanjian dengan setan. Faust sendiri adalah tokoh nyata. Katanya mereka yang percaya, cerita ini berangkat dari kisah hidupnya.

Banyak sekali varian dari cerita ini. Mulai dari cerita karya Anton Chekov sastrawan Rusia yang menulis dalam novelnya ‘The Bet’, atau pop culture superhero Spider Man yang terbujuk kekuatan hitam kostumnya agar menjadikannya lebih kuat hingga tuduhan tokoh nyata seperti pemain biola terkenal Niccolò Paganini yang tawar menawar dengan iblis dengan taruhan jiwanya agar dijadikan violis terbaik di seluruh Italia Utara (dan juga seluruh dunia).

Yang paling saya sukai dari cerita perjanjian dengan setan adalah; cerita tentang seorang pria bujangan yang jauh dari perempuan yang dicintainya. Yang ia miliki dari gadis tercinta, hanya selembar foto lusuh dalam dompetnya. Gara-gara cinta, lalu mengadakan perjanjian dengan Iblis agar ia bisa menikahi perempuan tersebut. Tentu saja, iblis tetap iblis. Tidak ada yang namanya ‘free lunch’ buat mereka. Si bujangan ia minta memberikan jiwa sebagai imbalan atas pernikahan dengan gadis pujaannya. Si bujangan, secara cerdik mengakali surat perjanjian tersebut. Hingga akhirnya ia tidak usah memberikan jiwanya, namun tetap akan menikahi perempuan yang dicintainya. Dan iblis pun tidak bisa lari dari perjanjian mereka. Ia terpaksa memenuhi permintaan si pemuda. Membawa perempuan dalam foto lusuh dalam dompet menjadi nyata. Namun iblis tetap saja iblis. Ketika tahu bahwa ia tidak dapat membawa jiwa si pemuda, ia menghidupkan gadis dalam ukuran yang setiap hari si pemuda lihat. Sebesar ukuran foto dompet.

Sebelum menghilang iblis berteriak gusar pada si pemuda, “Keserakahan memakan bayaran”.

Beberapa malam lalu, saya baru saja sembuh dari sakit (*Ah iya, saya sakit lagi. Demam berminggu-minggu*). Karena dengar seorang sahabat Yoyo datang ke rumah Kang Adi, maka segeralah saya ke sana. Mau ngobrol. Mau ketawa-tawa. Yoyo dan Kang Adi itu dua-duanya seniman. Lucu. Saya suka nongkrong bersama mereka. Sebab dijamin pasti ketawa-tawa. Dijamin pula, banyak makanan ajaib.

Kami bertukar cerita. Utamanya soal Indonesia. Karena kami semua kebetulan berasal dari Indonesia.

Kalau bicara soal Indonesia, yaa utamanya memang tidak jauh dari Kalimantan dan para politisi praktis.

Kalau Kalimantan, yaa jelas mengenai laju penggundulan hutannya yang luar biasa. Yoyo cerita, hanya ada satu bagian kecil di sebuah propinsi di Kalimantan yang hutannya tidak disikat habis-habisan. Kenapa? Sebab hutan itu dihuni oleh suku yang menjadi konsultan peperangan pasukan elit Indonesia. Lantas kenapa hutan mereka tidak disikat? Sebab berdasarkan surat ijinnya, ternyata koperasi pasukan elit itu lah yang memiliki HPH (*artinya Hak Pengusahaan Hutan. Namun praktek lapangannya adalah Hak Penyalahgunaan Hutan*) tempat suku itu bermukim hingga ke hilir.

Yoyo yang baru saja dari Kalimantan untuk penelitian itu cerita, Kalimantan ini jadi pertarungan gajah-gajah Jakarta dalam memperebutkan lahan mencari nafkah. Hutannya ditebang. Tanahnya digali demi batubara. Langitnya dipolusi. Pokoknya™ apa saja yang ada di Kalimantan kini sedang dijarah habis-habisan. Banyak sekali nama pejabat, orang kaya, selebriti yang kelihatannya harum di surat kabar Ibukota, saat ini sedang berlaga di bumi Kalimantan.

Kalimantan yang seksi jadi rebut-rebutan jatah preman. Mulai dari preman Jakarta yang punya kuasa, hingga preman lokal macam bupati.

Lepas cerita Kalimantan, Yoyo cerita tentang para anggota dewan di Jakarta yang meminta gedung baru. Dia bingung, mereka itu sudah mati-matian minta suara dari rakyat. Lantas ketika terpilih, supaya mereka dan keluarga tidak lapar, digaji dengan baik oleh rakyat. Bahkan pajak penghasilannya juga disamakan dengan pajak rakyat. Supaya kerjanya lancar para anggota dewan itu diberi mobil oleh rakyat. Supaya tidak kedinginan dan kepanasan, mereka diberi perumahan yang baik sebaik-baiknya dengan pengatur suhu. Semuanya yang bayar rakyat. Rakyat Indonesia yang sebagian besar penghasilannya dibawah rata-rata.

Sekarang… Para wakil rakyat itu minta gedung baru? Gedung yang lama saja bagusnya sudah setengah mati. Jaraknya sungguh jauh dari gerbang. Warga yang mau ketemu wakilnya, harus dikawal setelah melewati gerbang itu. Yoyo marah, kenapa harus bikin gedung baru? Kalau butuh sesuatu yang baru maka sebaiknya gerbang gedungnya saja didekatkan, biar warga mudah komunikasi dengan wakilnya.

Saya diam saja. Kami berhenti tertawa-tawa.

Dalam cerita anjing yang serakah dan pemuda yang mengadakan perjanjian dengan iblis, ceritanya jelas. Bahwa pada akhirnya, yang serakahlah yang akan membayar ketamakannya.

Dalam cerita Kalimantan dan gedung baru wakil rakyat di Jakarta, ceritanya juga jelas. Bahwa ternyata pada suatu hari, kita dan anak cucu kita yang harus membayar ketamakan mereka.

(*Maaf sebesar-besarnya pada babi yang dijadikan  model pada foto di awal tulisan. Sumpah mati, walaupun kamu tidak pernah saya pilih untuk duduk di pemerintahan, kamu jauh-jauh lebih cute dan berguna daripada para wakil kami di Senayan sana*)


Wawancara

Saya diwawancarai untuk tulisan ilmiah personal, mengenai latar belakang penulisan blog. Karena tulisan ilmiah personal itu sudah jelas bukan bersumber dari saya dan hanya untuk kalangan tertentu saja (si pewawancara dan civitas akademikanya) maka sang pewawancara telah setuju apabila saya membagi hasil wawancara saya dengan beliau di tulisan blog kali ini. (*Ini gara-gara saya sering diwawancarai tapi kok yaa belum pernah baca hasil maupun ulasannya. Hehehe…*)

Ini beberapa cuplikannya. Beberapa bagian bahasa penulisan telah disempurnakan sesuai EYD yang saya ketahui (*dan percayalah kalau saya terakhir berurusan dengan pelajaran bahasa Indonesia sudah belasan tahun lalu. Jadi kalau berantakan, harap maklum. Hehe*)

Bagaimana Anda menulis?

Kalau cara secara teknis; biasanya semua tulisan di blog ini saya ketik pakai perangkat lunak komputer pengolah kalimat seperti Gedit/Notepad++/TextEdit tergantung sistem operasi yang ada di monitor depan muka saya. Lalu disimpan di folder khusus bernama ‘tulisan’. Apabila saya tidak berhadapan dengan komputer di rumah, biasanya semua tulisan dibuat dengan perantara bantuan Google Documents, perangkat lunak berbasis web buatan Google.

Tapi sejak beberapa bulan terakhir ini, semua tulisan kadang ditulis tangan di atas buku atau kertas corat-coret lalu baru diketik melalui papan keyboard jika bertemu komputer. Saya malah biasa menulis di atas secuil kertas koran bekas yang masih tersisa ketika di kereta menuju pabrik di pagi hari. Kertas-kertas itu dikumpulkan lalu dijadikan satu tulisan. Kalau sudah selesai tulisannya, kertas itu saya buang. Mau dikumpulkan? Ahh, saya bukan Leonardo Da Vinci yang tulisan tangannya akan laku jutaan dollar dan dibeli Bill Gates, salah satu orang terkaya di dunia menurut catatan dunia di awal abad 21.

Semua tulisan-tulisan saya di sketch itu masih mentah. Umumnya opini saya pribadi. Kadang-kadang malah lebih banyak daripada secuil prasangka. Jadi daripada saya hidup dengan penuh buruk sangka pada orang lain, biasanya tulisan-tulisan tersebut dikonfrontasi data bahkan hingga dimentahkan oleh saya sendiri. Daripada dibantai orang lain di muka publik, lebih baik saya bantai dulu sendiri itu tulisan.

Apa latar belakang tulisan Anda?

Saya menulis biasanya yang ada di dalam kepala saya. Topiknya tidak tentu. Kadang topik terkini, kadang juga hal yang lawas. Sama sekali tidak menentu. Artinya sederhana, isi kepala saya ternyata sama sekali tidak menentu.

Paling banyak tulisan di blog bangaip dot org biasanya berisi mengenai orang-orang Cilincing. Penghuni desa tempat saya paling banyak menghabiskan masa kanak-kanak dan remaja. Cilincing adalah sebuah lokasi geografis yang menurut saya (sejak saya sering bepergian meninggalkannya) sungguh begitu buruk fasilitas kesehatannya, menyedihkan, miskin, kotor, bau, tinggi angka kriminalitas namun sekaligus tempat yang paling membahagiakan selain di sisi anak perempuan saya. Di banding tempat-tempat lain di muka bumi yang pernah saya kunjungi.

Di blog lain, biasanya menulis mengenai hal-hal yang berhubungan dengan teknis dan keamanan sistem. Tapi ada juga sih yang hanya membahas mengenai objek-objek foto yang saya buat saja.

Saat ini Anda tidak tinggal di Indonesia tapi menulis mengenai Indonesia. Dari mana asal data? (*Latar belakang pertanyaan ini adalah si pewawancara sudah saya beri alamat lengkap dalam beberapa tahun terakhir sebagai bagian dari pengumpulan kesahihan penelitian beliau*)

Tiap hari kontak dengan orang Cilincing. Fasilitas sosial media macam facebook, twitter, youtube, flickr, skype, Buzz dan macam-macam lainnya memudahkan kami saling tukar menukar data (sekaligus cerita-cerita ajaib mengenai hidup sehari-hari). Karena media untuk publik saat ini sudah sangat sedemikian kompleks menarik dan menyediakan sarana cross-check data, maka lebih mudah mengkonfrontasi dan mengecek ulang kebenaran cerita masing-masing.

Indonesia negara besar secara geografis dan populasi penduduk. Tidak bisa sembarangan menulis mengenai negara ini dan pernak-pernik menyertainya. Apalagi terutama soal batas wilayah dan yang sering disebut sebagai ‘harga diri bangsa’, sebab sebagian besar masyarakatnya memiliki nasionalisme yang tinggi. Selain itu, akibat luas geografisnya, terdapat keragaman budaya yang amat menyolok. Itu juga sering membuat saya hati-hati dalam menulis. Tidak bisa menyeragamkan manusia Indonesia dalam satu kategori klasifikasi saja. Begitu banyak ragam manusia dengan atribut mereka di Indonesia (yang biasanya disebut SARA). Pengaruhnya ke data adalah, harus ada pembanding sebagai penguat dan pembantah data yang telah masuk. Kalau tidak ada data pembanding, lagi-lagi tulisan saya bisa dibantai habis-habisan di muka publik.

Takut dikecam pembaca karena tulisan Anda?

Tidak juga. Saya bilang takut dibantai sebenarnya adalah lebih menjurus ke saya pribadi. Saya pikir sama sekali tidak adil menyebarkan berita bohong atau fitnah. Saya takut jadi penyebar dusta. Hidup ini sudah penuh dengan hal-hal yang kadang tidak masuk di akal. Tidak perlu ditambah-tambahi hal yang aneh-aneh. Apalagi menyebarkannya melalui internet.

(*Wawancara pertama habis. Ini wawancara lanjutan. Lewat chat room*)

Sering dikecam karena tulisan di blog Anda?

Sering banget. Dulu mah parah, ada yang ngancem ngebunuh lah lewat email. Trus ada yang ngancem mao nyamperin ke rumah lah. Bahkan ada yang ngebom lewat email. Inbox saya di yang Yahoo penuh isinya sampah semua. Saya trace IP address pengirim email itu ternyata alamatnya sama dengan orang yang sedang beradu argumen di blog saya. Hehehe… Tapi saya mah santai aja sih. Kalo mao dateng, ayuh sini mampir. Kalo perlu sekampung sekalian. Dia dateng bawa tinju, saya hadapi dengan teh manis. Saya punya banyak teh di rumah. Ayo minum dulu… Hehehe.

Apakah Anda dapat uang dari menulis di Blog?

Nggak tuh. Eh sori, iya sih. Tulisan-tulisan saya pernah dibikin buku judulnya cilincing Brotherhood. Trus bukunya dijual. Saya dapat uang dari jual buku itu. Semua uang penjualan+modalnya masuk ke program beasiswa/mikrokredit Cilincing Brotherhood yang dikelola sama teman-teman di SERRUM, Kayumanis Jakarta. Semua uang dari pembaca/pembeli buku itu jadi dipakai buat memberi bantuan pada pengusaha kecil untuk menambah modal mereka atau membangun usaha mereka. Diantaranya bantu buka usaha tambal ban pinggir jalan. Mereka bayar bantuan dengan cara mencicil sesuai kemampuan waktu dan memberi profit semampu yang mereka bisa beri. Dari profit itu, digunakan untuk anak-anak lokal belajar. Ada yang belajar Linux, belajar pembibitan jamur, belajar masak, belajar ngebengkel, pokoknya belajar deh. Tapi nggak bisa bantu banyak, sebab uang yang didapat dari penjualan buku dan profit yang masuk juga memang tidak banyak sih. Tapi nggak apa-apa lah, yang penting kita semua senang-senang aja. Yang penting memang begitu itu… Senang. Hahaha

Suka duka menulis di Blog?

Waduh… Banyak yaah. Dulu malah ada yang ngajakin kawin. LOL.  Tapi yang bikin klimaksnya ajaib adalah, pas saya balas emailnya, “Mbak, saya ini cowok berkeluarga loh. Ditambah lagi kelakuan dan muka saya berantakan”. Dia jawab, “Iya udah tau!”. Buset dah.

Saya dapat kenalan lewat blog. Beberapa penulis luar biasa yang saya kagumi melalui tulisan-tulisannya syukurlah akhirnya sempat ketemu walaupun hanya beberapa saat saja. Waktu kopdaran di Indonesia, saya kaget. Ternyata mereka memang luar biasa. Online maupun offline ternyata mereka punya magnet tersendiri. Saya pikir saya belajar dari mereka melalui tulisan-tulisannya. Mereka orang baik.

Kapan waktu menulis di Blog?

Kan udah dijawab di wawancara yang dulu. Hehe, situ lupa yaah. (*Apa saya kali yaah yang lupa, hahaha*). Biasanya menulis tidak kenal waktu. Kalau ada kertas dan pensil yaa langsung menulis. Yang sebel sih kalau mau tidur dan banyak pikiran. Kalo udah dalem selimut itu males banget ngambil pensil ama buku tulis. Apalagi sudah gelap. Mata sudah biasa dalam remang. Tapi kalo nggak dituliskan, saya malah nggak bisa tidur. Uh, mau tidur saja bisa jadi paradoks begitu.

Bagaimana pendapat pembaca melalui komentar?

Wah saya buruk sekali soal komentar ini sejak awal 2011. Saya sudah susah balas komentar. Saya sibuk sekali. Lebih parah lagi, sering sakit dan nggak bisa online. Balas komentar pembaca itu buat saya nggak bisa sembarangan. Saya nggak berani sembarangan bales. Mereka itu sudah menyediakan waktu khusus buat baca tulisan-tulisan saya. Jadi harus saya hormati dengan sebaik-baiknya.

Wah ini pertanyaan bagus. Seharusnya saya harus lebih rajin membalas komentar. Anyway, saya baca komentar pembaca dengan teliti loh. Pembaca saya itu canggih-canggih. Pinter-pinter yaah. Saya senang sekali kalau dikritik atau didebat argumen mengenai tulisan. Kalau saya kebetulan lagi online mereka suka tanya-tanya. Yang saya bingung jawabnya. Hehe. Tapi umumnya silent reader. Lebih sering kirim email/chat daripada menulis komentar di kolom komentar.

Banyak blogger yang kini jarang menulis, katanya mereka sibuk update melalui twitter atau facebook. Anda bagaimana?

Haha, saya mah malah jarang update lewat twitter atau facebook. Buat saya, sosial media biasanya jadi alat bantu dan bukan tombak utama penyampaian ide. Jadul yaah saya? Hahaha. Tapi yaah, tiap orang kan beda-beda. Saya tipikal orang yang suka nulis panjang terus capek, abis itu istirahat dan baca buku sebagai amunisi bertahan hidup. Saya yakin banget nggak semua orang kayak saya. Kalo iya, sedih banget saya. Hahaha…

Saya pikir sah-sah saja sih kalau para blogger malas menulis kalau alasannya ada media lain yang lebih seksi. Itu manusiawi deh. Bahkan kalau mereka memutuskan untuk tidak menulis dengan alasan apapun, buat saya yaa sah-sah saja. Tiap orang kan punya keinginan masing-masing. Selama tidak merugikan publik, yaa kita terima aja ikhlasin.

Cuma yaa emang sayang juga sih. Kadang saya kangen sama tulisan-tulisan tetangga-tetangga dan teman-teman saya itu. Tulisannya cerdas-cerdas. Sayang sekali kalau punya kemampuan lebih untuk berbagi kepada publik, tapi nggak dipakai. Iya yaah, sayang.

(*Wawancara selesai. Kami saling berterimakasih. Setelah wawancara usai saya berfikir ulang. “Tadi saya ngomong apa yaah? Apa pantes jadi kajian akademis”. Tapi saya cuek saja sih. Hehe. Yang penting memang wawancaranya cukup menyenangkan. Fun. Anyway, saya coba yaah untuk balesin komentar. Sori untuk teman-teman yang selama ini saya ‘cuekin’ komentarnya *)


Apa Sebenarnya Diplomat dan Diplomasi

Secara singkat, diplomat adalah seseorang/institusi yang melakukan praktek dan seni diplomasi. Tapi apa sih sebenarnya diplomat dan praktek dan seni diplomasi?

Mari kita jelaskan secara sederhana dan runut.

1. Latar belakang diplomasi.

Praktek awal diplomasi yang paling terkenal mungkin adalah Surat Amarna yang terbuat dari lempengan batu. Surat ini dikirim oleh Firaun Akhenaten dinasti ke-18 di Mesir kepada kerajaan Kana’an (Saat ini mungkin adalah sekitar Israel, Palestina, Lebanon dan Syriah) pada abad ke XIV SM.

Surat yang ditulis dalam bahasa Akhadian (bahasa yang saat itu lazim digunakan dalam praktek perdagangan internasional pada masanya) menjelaskan kesepakatan perjanjian damai antara Dinasti Mesir dengan Dinasti Hittite yang menguasai Kana’an. Saling tidak menyerang dan menjaga praktek ekonomi warga antar dua negara tersebut berlangsung dengan baik dan semestinya.

Surat itu sukses. Setidaknya sejarah tidak pernah mencatat perang brutal caplok-mencaplok wilayah antara dua negara adidaya tersebut. Sejak saat itu, praktek diplomasi menyebar luas dari satu bangsa ke bangsa lain. Sebuah negara bisa tumbuh atau mati diantaranya adalah berdasar pada hubungan diplomasinya. Kadang kelangsungan sebuah rezim bisa terus berjalan jika praktek diplomasi tetap baik.

Contoh yang paling terkenal di Nusantara mengenai praktek diplomasi adalah penggabungan dua kerajaan besar antara Majapahit dan Champa atau Kamboja saat ini. Dimana Raja Brawijaya IV menikahkan anaknya dengan putri kerajaan Champa dan lalu memperluas wilayah kekuasaan mereka yang berpusat di Trowulan, Jawa Timur. Praktek diplomasi untuk memperluas kekuasaan dan kekuatan, diperoleh sang Raja dengan pola pernikahan antar dua penerus singgasana.

Masih banyak praktek dan seni diplomasi yang lain. Namun akan dijelaskan nanti dan mari kita lanjutkan ke poin berikutnya.

2. Diplomat Profesional

Sudah dijelaskan di atas bahwa diplomat adalah orang yang menjalankan praktek dan seni diplomasi. Jadi pertanyaannya, apakah setiap orang yang menjalankan praktek dan seni ini adalah seorang diplomat.

Jawabannya bisa iya dan tidak.

Iya, sebab siapapun atau apapun yang bisa berdiplomasi sudah bisa dikategorikan sebagai diplomat. Namun bisa tidak, sebab pada saat ini diplomasi lebih cenderung kepada praktek praktis hubungan bilateral antar dua negara atau institusi. Orang/badan yang menjalankan praktek diplomasi dalam profesi kesehariannya sudah layak dikategorikan sebagai diplomat profesional.

Tipe-tipe diplomat secara profesi:

  • Diplomat Kenegaraan: Adalah sebuah pekerjaan yang menuntut seseorang menjalankan tugas diplomasi sebuah negara dan menjalankan misinya di negara tempat ia ditugaskan. Biasanya pekerjaan ini ada di bawah lindungan departemen luar negeri atau sekertaris negara atau duta besar. Pekerjaannya biasanya penuh waktu.
  • Diplomat Usaha: Adalah sebuah pekerjaan yang menuntut seseorang memperlancar usaha atau bisnis yang dia emban. Dalam korporasi besar, diplomat jenis ini biasanya ada dalam divisi ekspansi bisnis (bisa marketing bisa pula business intelegent). Sama seperti diplomat kenegaraan, pekerjaan mereka biasanya penuh waktu.
  • Diplomat Dengan Alasan: Adalah sebuah kejadian yang menuntut seseorang atau sebuah badan menjadi diplomat. Contoh yang paling simpel mungkin adalah Pak/Bu RT jika di Indonesia. Meskipun bukan pekerjaan utamanya, namun beliau kadang mendapat tanggung-jawab menengahi perseteruan antar dua tetangga di kampungnya. Ketika beliau melerai dan mengatasi meluasnya efek perpecahan di lokasinya, maka ia segera mendamaikan kedua belah pihak. Praktek ini bisa pula disebut sebagai diplomasi.

Setiap orang bisa menjadi diplomat. Sebab setiap orang punya bakat menjalankan tugas diplomasi. Bahkan ketika kita sedang tawar-menawar di pasar saja, sebenarnya kita sedang menjalankan seni diplomasi. Namun agar lebih mudahnya, saat ini, mari kita bicara mengenai diplomat kenegaraan saja.

3. Apa itu diplomat kenegaraan dan apa tugasnya?

Secara mendasar, diplomat kenegaraan adalah seseorang yang bekerja dan menjalankan praktek diplomasi untuk negaranya.

Secara garis besar diplomat yang berpraktek diplomasi antar dua negara dibagi dalam beberapa kategori. Antara lain:

  • Bisnis: Dalam prakteknya, diplomat yang bertugas dalam atase bisnis menjamin keberlangsungan bisnis antar negaranya dengan negara tempat ia ditugaskan berjalan dengan baik. Ia ditugaskan melindungi dan melayani segenap asset-asset dagang negaranya di tempat ia ditugaskan. Memberi masukan kepada penentu kebijakan ekspor import. Dan yang lebih baik, adalah memahami bisnis lokal di tempat ia ditugaskan lalu memberi perspektif itu kepada bagian Kamar Dinas Perdagangan.
  • Keamanan dan Perdamaian: Di bagian ini, seorang diplomat memberi input pada negaranya agar tercipta keamanan dan perdamaian hubungan dua negara. Pada masa kekaisaran Ottoman, seorang diplomat adalah penjamin perdamaian. Jika kesepakatan damai antar dua negara pecah, biasanya si diplomat yang diwakili oleh duta besarnya lah yang akan dihukum terlebih dahulu. Saat ini diplomasi keamanan biasanya mewakili negoisasi mengenai penjualan/penyelundupan senjata, binatang, obat terlarang, manusia dan sebagainya.
  • Hubungan Publik (Public Relation): Ini adalah diplomat yang mewakili negara yang mengutusnya di negara lain. Ia menjadi ‘muka’ negara bersangkutan di negara tempat ia ditugaskan. Hubungannya luas antara lain adalah terhadap media, publik lokal dan juga publik negaranya yang kebetulan sedang ada di negara tempat ia ditugaskan. Ia juga yang biasanya menjadi mediasi antara dua belah negara yang sedang dalam keperluan.
  • Budaya: Diplomat atase budaya biasanya mewakili dan menjembatani pertukaran pengetahuan antara dua budaya. Yaitu budaya negaranya dan negara tempat ia ditugaskan. Dalam praktek diplomasi ini, kadang erat sekali hubungannya dengan bisnis pariwisata antar dua negara.
  • Kemanusiaan: Dalam kasus tertentu yang melibatkan hak asasi manusia, diplomat harus cepat tanggap mengatasi krisis. Misalnya adalah tentang pelarian politik, evakuasi korban atau pembelaan terhadap warga negaranya yang diadili di negara tempat ia ditugaskan. Biasanya diplomat bagian ini mengerti sekali hukum negara dimana ia ditugaskan dan juga program mitigasi bencana.

Apa syarat jadi diplomat kenegaraan? Yaa banyak. Diantaranya adalah:

  • Bersedia ditempatkan dimana saja.
  • Mengenal budaya lokal tempat ia ditugaskan dan memahami bahasa dengan baik.
  • Bersedia aktif dalam komunitas lokal maupun internasional tempat ia ditugaskan.
  • Memiliki kemampuan komunikasi yang baik.
  • Taktis dan diplomatis.
  • Memiliki keahlian pengorganisasian.
  • Mudah membangun jaring kenalan.
  • Ini yang paling penting: Selalu mencatat dan melaporkan hasil praktek dan seni diplomasinya kepada negara yang memberinya tugas dalam saluran khusus.

4. Bagaimana jika praktek diplomasi gagal?

Jawabnya gampang; yaitu jelas-jelas hubungan dua negara menjadi buruk. Paling parah, adalah perang. Menyengsarakan banyak manusia, binatang dan alam.

Namun jika praktek diplomasi baik, maka hubungan dua negara pun akan menjadi baik. Paling mudah melihat sukses tidaknya para diplomat adalah jika praktik diplomasi antar dua negara saling menguntungkan dan berjalan dengan grafik yang menaik setiap lima tahun.
(*Kenapa lima tahun? Sebab biasanya pergantian penguasa dan kebijakan di negara-negara berasas demokratis yang paling banyak dianut saat ini selalu berbeda setiap lima tahun*)

Statistik itu jelas bukan satu-satunya pengukur keberhasilan antar dua negara. Banyak faktor lain yang menjadi pengaruh keberhasilan hubungan antar dua negara, diantara misalnya adalah jika negara tempat diplomat bertugas adalah negara konflik (seperti Irak atau Afganistan misalnya).

Di daerah bencana seperti Libia atau Jepang, keberhasilan diplomasi bisa saja diukur dari cepat tidaknya para diplomat merespon keselamatan warganya untuk dievakuasi.

Sekarang kita ke bagian ke yang paling penting dalam tugas diplomasi, yaitu diplomat mengobservasi, riset dan lalu mencatat hasil sebelum dikirim ke penentu kebijakan di negara pengutusnya

Dalam semua persayaratan sebagai diplomat, terlihat bahwa keahlian komunikasi itu hampir mendominasi semua tuntutan keahlian diplomat.

Di lapangan, praktek ini memang benar adanya. Diplomat secara horisontal sebisa mungkin menjalin komunikasi dengan otoritas lokal di negara ia ditugaskan. Riset dan menggali informasi sebanyak-banyaknya latar belakang para penguasa lokal sebelum bertemu mereka, dan lalu mencoba membuktikan informasi itu dengan cara cross check atau mengkonfirmasikan langsung kepada yang bersangkutan dengan bahasa diplomasi.

Maka kemampuan memahami bahasa, baik bahasa diplomasi dan juga bahasa lokal amat penting, sebab dengan cara begitu seorang diplomat mampu menjalin komunikasi dengan komunitas lokal. Sehingga laporannya menjadi lebih akurat, terkini dan terpercaya. Ketidakmampuan memahami budaya atau bahasa lokal sudah mampu menjadikan seseorang diplomat tidak memiliki poin plus dalam pekerjaannya. Begitupun juga dengan ketidakmampuan mengetahui jaringan lokal di negara tempat ia ditugaskan bukanlah sebuah poin tambahan buat diplomat.

Secara kontinyu, diplomat melaporkan hasil laporannya kepada pemberi tugas melalui saluran khusus. Saluran komunikasi ini diusahakan aman, bersih dan rahasia. Hasil dari komunikasi ini dapat dikategorikan sebagai raw intel. Yaitu laporan intelejen yang belum diolah. Setelah diolah dan dilengkapi dari berbagai sumber diplomat lainnya, laporan ini diserahkan kepada penentu kebijakan, para legislatif atau eksekutif. Hasil dari laporan ini menjadi amat penting sebab adalah penentu terhadap hubungan antar dua negara.

Kasus paling besar dalam sejarah terhadap kebocoran informasi diplomasi adalah wikileaks cablegate. Dimana laporan ratusan ribu dokumen diplomat Amerika Serikat bocor dan dapat diakses publik di website wikileaks sejak tahun 2010. Menjadikan hubungan Amerika Serikat dengan negara-negara tempat diplomatnya diposkan sebagai polemik yang masih berkepanjangan pada tulisan ini diturunkan (2011).

Dalam dokumen-dokumen itu terlihat jelas penilaian dan perspektif para diplomat terhadap penguasa lokal dan juga aspek-aspek lain hubungan diplomasi antar negara. Kebanyakan adalah raw intel. Informasi yang belum dipoles. Para diplomat secara jujur melaporkan apa hasil investagasi berdasarkan perspektif mereka. Ketika informasi ini bocor di publik, jelas saja pemerintah USA menyangkal kesahihannya :)

5. Penutup

Saya tidak mencoba membela atau melemahkan data pada informasi di wikileaks. Buat saya jelas-jelas itu raw intel. Ditulis oleh para diplomat US dan ditujukan pada atasan mereka di Washington DC. Dan ketika rezim yang berkuasa di Republik Indonesia namanya tercantum dalam laporan tersebut dalam sebuah skandal, buat saya yaa wajar saja. Tapi kalau misalnya dokumen itu tiba-tiba tertera nama Pak RT saya Pak Hambali, pasti saya bingung. Hehehe…

Artinya begini; para diplomat itu bukan orang tolol. Mereka punya standar dalam melakukan riset dan laporan. Mereka dilatih dan sudah terlatih dengan baik melakukan pekerjaannya. Mereka juga terlatih melaporkan semua hasil riset secara apa adanya. Maka jika info yang mereka terima tidak baik, maka bisa saja outputnya menyusahkan hubungan bilateral negara. Namun jika informasinya baik, maka semakin baik hubungan dua negara.

Sekarang, pertanyaannya adalah apa itu informasi yang baik? Saya pikir jawabannya simpel. Informasi yang baik adalah informasi yang didapatkan secara akurat dan disampaikan apa adanya. Sebab itu adalah sebaik-baiknya informasi dan mudah melakukan penyelidikan silang untuk membuktikan kebenarannya.

Jadi, apakah rezim yang tengah berkuasa saat ini RI memang benar terlibat skandal? Jawabnya bukanlah asumsi. Bukan bantahan. Bukan pula sekedar jawaban iya atau tidak lewat media. Melainkan adalah transparansi melalui penyelidikan untuk membuktikan benar atau salahnya.

Lantas, bagaimana mengadakan penyelidikan terhadap omongan para diplomat?

Nah ini susahnya…

Sebagai akhir cerita ocehan saya yang sama sekali bukan diplomat ini, ijinkanlah saya mengutip pengalaman di sebuah makan malam intim yang dihadiri oleh beberapa orang saja di ruang kedutaan sebuah negara Eropa Barat yang ada di Jakarta. Tidak lama setelah invasi US ke Afganishtan.

Pak Dubes: Sambil terkekeh-kekeh mengisap cerutu bilang, “Kami sebenarnya sudah tahu dimana posisi Osama berada”

Si Orang Indonesia bengong: “Loh kenapa nggak ditangkep aja?”

Pak Dubes mendelik, melepaskan cerutu dari mulutnya dengan kedua jari sambil melengos: “Apa untungnya buat kami?”