Archive for the 'diskusi' Category

Page 2 of 5

Lagi-Lagi Soal Harga Diri

Kadang kalau sedang bersama anak, saya suka melihat-lihat siaran televisi yang isinya kehidupan flora maupun fauna. Enaknya, kalau di televisi, saya dan putri bisa melihat dan mendengar langsung topik siaran. Misalnya ada acara mengenai gajah di Afrika, maka kami dengan jelas bisa tahu kalau jenis-jenis gajah itu rupanya bermacam-macam di muka bumi dan Afrika adalah satu produsen gajah terbesar bagi planet ini.

Tapi siaran di layar tivi maupun komputer memang saya batasi buat anak saya yang hampir berusia tiga tahun ini. Sehari, paling banyak dua jam saja melihat tabung/layar menyala. Dalam waktu sesingkat ini saya usahakan mengenalkan kepada putri saya mengenai kehidupan alam bebas (wild life), diantaranya melalui tangkapan kamera tanpa awak di pedalaman hutan melalui Smitsonian Wild. Untung saja putri saya tidak gila televisi/komputer. Jadi dua jam sehari itu kadang terlalu banyak untuknya menyantap tayangan melalui layar kaca.

Sisanya, informasi kami dapatkan melalui buku. Putri saya bukunya banyak. Saat ini saja sudah hampir satu lemari penuh. Dia belum bisa baca. Tapi sebagai orangtua, kami selalu membacakannya cerita setiap hari. Setiap bulan sebisa mungkin saya membelikannya buku. Kadang saya rela memotong uang belanja bulanan agar ia dapat membeli buku baru.

Di satu sisi, saya merasa bersalah. Sebab dengan membeli buku baru artinya ada lagi pohon yang ditebang untuk membuat kertas. Eh tapi, buku yang saya beli memang baru buat dia. Tapi itu sih sebenarnya buku bekas (*Ok, saya mengaku bukan bapak-bapak yang top. Di depan anak bilang itu buku baru untuk dia. Padahal mah belinya di toko buku bekas*). Tapi di sisi lain, kasihan juga mata anak saya kalau disuguhi ebook reader terus kalau hendak membaca buku (*Ah mungkin saya bapak-bapak yang ketinggalan jaman kali yaah*).

Balik lagi ke soal buku. Rupa-rupanya, akibat setiap hari disuguhi buku berisi gambar-gambar binatang hutan, pepohonan, serangga, kondisi alam dan lain sebagainya, anak saya rupanya sudah mulai bertanya macam-macam. Suatu hari, dia bawa buku ke hadapan saya. Itu buku ada foto binatangnya. “Papa ini binatang apa?”

Saya mau jawab, “Cari aja halaman selanjutnya, baca”. Tapi itu jelas jawaban bodoh. Putri saya belum bisa baca. Dan saya tidak pernah mengajarkannya membaca (*tapi saya ajarkan berhitung, maklum saya kan orang Betawi perhitungan terus, hihihi*).

Saya lihat gambar itu dengan santai. Tapi kok yaah, saya tidak tahu itu binatang apa. Itu buku saya dekatkan ke dekat mata. Jangan-jangan mata saya yang buram. Ternyata masih juga belum bisa menjawab itu binatang apa. Saya putar itu buku ke kiri, tidak sukses. Ke kanan, juga tidak sukses. Bahkan dibalik atas bawah pun masih tidak jelas itu binatang apa. Itu mirip kadal. Tapi kok yaa bukan kadal. Mirip komodo tapi bukan komodo. Meskipun warnanya begitu aneh saya yakin pasti bukan bunglon.

Dengan lemas saya menatapnya dengan pandangan malu, “Papa nggak tahu, Nak. Nanti papa cari tahu yaah di internet atau tanya teman papa yang orang Biologi. Mungkin mereka tahu”

Di titik ini, saya merasa harga diri saya sebagai laki-laki dewasa kelihatannya jatuh berantakan. Saya tidak pernah bermimpi jadi manusia super yang mampu melakukan apa saja di muka bumi. Saya tidak pernah bermimpi jadi lelaki lelaning jagad yang jadi idola seluruh kawula di planet ini. Tidak. Sumpah mati tidak pernah. Saya sadar saya lelaki biasa saja. Dengan segala apa yang saya miliki, baik lebih atau kurang. Saya sadar saya orang biasa saja. Tapi, saya selalu ingin jadi ayah yang baik. Seorang bapak yang memiliki pengetahuan cukup, dimana ketika anaknya bertanya, minimal mampu menjawab. Sekarang, lah apanya yang hebat? Jawab pertanyaan mengenai nama binatang itu saja tidak bisa menjawab.

Malamnya setelah putri saya jauh tertidur saya belum bisa tidur. Saya berfikir, selama ini saya kok yaa sok tahu banget. Cari semua informasi dan menenggak sebanyak-banyaknya agar bisa dimuntahkan kembali dari mulut ketika orang bertanya. Seakan saya punya jawaban untuk semua orang. Biar apa? Biar dianggap pintar? Terus kalau dianggap pintar mau apa? Mau sombong? Mau memberi tahu pada semua orang bahwa reputasi saya sudah terkenal dimana-mana? Halah! Reputasi! Reputasi itu bayangan yang diciptakan oleh otak kita sendiri, karakterlah yang membuat kita manusia nyata. Buat apa semua itu jika sebuah pertanyaan simpel dari seorang bocah belum genap tiga tahun yang amat saya cintai pun saya tidak bisa menjawabnya?

Disini saya menyadari dua hal pokok yang ternyata sudah memudar dari otak saya selama ini:

  1. Jangan egois. Anak saya bukan saya. Sesering apapun saya melihatnya, membesarkannya dan bersamanya, tetap saja ia bukan saya. Ia punya jiwa sendiri, punya kecerdasan sendiri. Saya hanya bisa memberi sebanyak-banyaknya kasih sayang, pengertian dan perhatian yang ia butuhkan
  2. Jangan menganggap remeh siapapun, bahkan terhadap orang yang kita anggap kita amat kenal. Akibat saya pikir saya sering bersama anak, saya jadi tahu seperti apa dia. Apalagi umurnya belum tiga tahun. Padahal itu salah. Anak itu penuh kejutan. Saya harus selalu siap menyediakan diri dengan informasi terkini. Terutama informasi mengenai anak-anak :)

Saya pikir sudah saatnya otak saya ini harus di-refresh kembali. Harus belajar untuk hidup tanpa egoisme yang ketinggian. Belajar untuk tidak menganggap remeh siapapun. Sebab dengan begitu, mungkin harga diri yang kepalang jatuh berantakan ini dapat terjalin utuh kembali.

(*BTW, nama binatang yang ditanya putri saya adalah Sunda Pangolin a.k.a Manis javanica dalam bahasa Indonesia… Trenggiling*)


Jika Benci Toleransi Jadi Epidemi

(*Sebelumnya saya mohon maaf sekaligus berterimakasih kepada teman-teman pembaca yang amat baik hati telah merespons tulisan blog ini dengan sangat apresiatif. Jarak geografis, waktu dan terlebih saat ini personal health issues, membuat saya agak kesulitan merespon komentar/saran, menerima undangan wawancara, atau hadir untuk meresensi acara-acara yang saya yakin baik sekali gunanya buat publik. Saya yakin suatu saat jika diberi rizki bernama kesempatan, maka kita akan bisa bertemu baik dalam dunia maya atau nyata. Semua tulisan di blog bangaip.org sejak awal tahun 2011 dibuat secara offline dan sesekali dipublikasikan online jika saya ada sedikit kesempatan. Terimakasih banyak atas pengertiannya*)

———————————————-

Saya membayangkan apabila semua manusia sama; berpakaian sama, berkulit sama, berideologi sama, berbicara dengan bahasa yang sama, dan selalu sama-sama lainnya, maka ajaib sekali hidup ini.

Anda tahu Smurf, makhluk biru kecil rekaan komikus Belgia Pierre Culliford (yang lebih dikenal sebagai Peyo). Kalau tidak tahu, ijinkan saya sedikit cerita mengenai mereka.

Smurf. Sejenis makhluk kecil seukuran ibu jari. Makhluk-makhluk ini selalu menganggap diri mereka sama. Kalau berbicara, pasti ada kalimat ‘smurf’ yang menyembul dari mulut mereka dalam menterjemahkan sesuatu. Mereka tinggal bersama-sama dan percaya bahwa kebersamaan adalah sesuatu yang membahagiakan.

Namun pada kenyataannya, para smurf ini tetap saja berbeda. Ada Smurf Kacamata yang suka baca buku. Ada Papa Smurf, sang pengayom. Ada Smurfettes, yang terlahir sebagai satu-satunya wanita di komunitas Smurf (*O-oh, jangan berfikir yang tidak-tidak macam gangbang misalnya. Ini komik konsumsi anak-anak*).

Ternyata, dalam kebersamaan tetap saja ada perbedaan. Dan dalam perbedaan, mereka masih tetap bersama-sama.

Walaupun satu jenis dan mengklaim satu, satu warna kulit, satu jenis topi, satu tipe celana, satu kampung hidup bersama dan menyadari pada akhirnya bahwa mereka semua berbeda, ternyata para Smurf ini toh mereka semua bisa rukun-rukun saja.

Saya jelas beda dengan Smurf. Tapi punya sedikit persamaan. Walaupun lahir dari rahim yang sama, makan-makanan yang sama, menerima warisan genetis dan pendidikan yang sama, besar di lingkungan yang sama bahkan bergaul dengan orang yang sama, tetap saja saya dan adik saya berbeda.

Aneh?

Ahh, tidak juga. Sebab ini yang dinamakan anugrah. Dalam bahasa kampung saya Cilincing, ‘barokah’. Perbedaan itu nikmat. Hehe…

Dari mana asalnya perbedaan?

Sumpah mati saya tidak tahu. Saya pikir bagi yang relijius akan berfikir bahwa ini semuanya datang dari Yang Maha Memberi. Bagi yang tidak relijius bagaimana penjelasannnya? Wah lagi-lagi saya tidak tahu. Pertanyaan ini terlalu filosofis untuk otak saya yang kecil :)

Lantas, apa semua perbedaan menyenangkan?

Saya pikir, belum tentu. Sebelum bicara lebih lanjut, ada baiknya saya memberi contoh sederhana kenapa saya bisa bilang begitu. Dan agar tidak susah, saya ambil dari contoh terdekat. Yaitu apa yang saya alami (dan jelas subjektif). Ini contoh pertama;

Setiap hari umumnya saya berurusan dengan mikrobiologi. Khususnya, dengan semua penyakit-penyakit yang berbahaya buat binatang peliharaan manusia di muka bumi. Setiap hari bergelut dengan semua itu, setiap hari pula saya sadar bahwa ada virus yang berevolusi dan bermutasi. Ada virus HIV yang merubah diri lalu loncat dari manusia ke kucing. Ada virus SIV dari babi yang berkembang dengan canggih lalu loncat ke manusia. Ada virus lingkaran patogenis yang berkembang di burung lalu menyebar di anjing, kucing hingga kuda. Dan setiap hari, kadang saya jadi saksi lahir dan munculnya perbedaan di antara virus-virus tersebut.

Semakin banyak tipe virus itu muncul, semakin berbeda tipe mereka, semakin besar pula bahayanya terhadap ras hewan dan manusia. (*Tapi jangan takut, sebab masih ada Bangaip dan temen-temennya yang ngelawan abis-abisan. Hehehe, sok jago banget nih saya*).

Jadi perbedaan itu belum tentu menyenangkan. Apalagi jika itu perbedaan yang muncul dari virus-virus yang membahayakan kehidupan.

Masih belum puas dengan satu contoh? Nih saya kasih lagi satu bukti bahwa perbedaan itu belum tentu menyenangkan:

Hari Sabtu lalu dengan mata kepala sendiri saya lihat seorang lelaki muda dihina, dipermalukan, dicemooh dan diperlakukan buruk secara verbal oleh temannya. Si lelaki ini santai saja menanggainya. Saya kaget. Dan lebih kaget lagi ketika ia menjawab, “Kami berbeda pendapat soal hidup. Beda kan boleh. Dia boleh ngamuk, saya boleh cuek”, ketika saya tanya kok kenapa ia kalem saja menanggapinya.

Berbeda soal pandangan hidup ternyata bisa membuat seseorang berang, marah, emosi dan melontarkan brutalitas di depan publik. Dan sebagai saksi mata, saya bisa bilang bahwa menyaksikan itu sama sekali bukan saat yang menyenangkan.

Jadi kata siapa perbedaan itu selalu menyenangkan?

Jelas tidak. Perbedaan tidak selalu menyenangkan. Tapi setidak-menyenangkannya perbedaan, ia tetap saja fakta.

Dulu ada seorang menteri dari Indonesia yang bilang bahwa Flu Burung dan Flu Babi itu rekayasa di depan publik dan media. Aduh gombalnya! Padahal beliau jelas bukan orang bodoh. Malu sekali saya mendengar hal itu. Apalagi keluar dari sesama orang Indonesia (*yang membuat berhari-hari saya ditanya rekan-rekan kerja bagaimana standar penelitian di RI*). Kok yaa mengingkari fakta? Virus bermutasi, virus berevolusi, dan itu adalah salah satu bentuk kehidupan bahwa perbedaan itu ada. Itu realita. Itu fakta. Mengapa dinegasi?

Lelaki dan perempuan itu berbeda. Kalau senang atau menguntungkan, mereka bercinta. Melakukan adegan reproduksi. Kalau sukses, ada hasil dari adegan reproduksi tersebut. Yang pasti, lelaki dan perempuan itu berbeda. Itu fakta. Walaupun lebih jauh lagi bahwa lelaki dan perempuan bisa jadi saling menyebalkan akibat perbedaan yang mereka miliki, tetap saja perbedaan antara mereka adalah fakta. Realistis saja lah.

Saya dan Anda berbeda. Saya punya pendapat sendiri. Anda punya opini pribadi. Sah? Yaa jelas sah. Konstitusi telah melindungi kita untuk tetap bisa berbeda. Lambang negara dengan gagah mengibarkan panji “Walaupun Berbeda Kami Adalah Satu”.

Para pendiri bangsa pun manusia berbeda. Ada yang playboy, ada yang alim, ada yang hobi dansa, ada yang penyendiri dan hobi berkelana. Dan macam-macam lainnnya. Namun seberat apapun bedanya mereka, masih tetap memikirkan sebuah cikal bakal nusa yang saat ini bernama Republik Indonesia. Dalam pergulatan kelas, pergulatan ras bahkan hingga pergulatan jati diri, bangsa ini didirikan atas berjuta-juta manusia yang sama sekali berbeda.

Maka perbedaan itu jadi begitu berarti. Begitu bermakna. Pondasi bangsa ini didirikan oleh manusia yang berbeda, dari manusia yang berbeda dan untuk manusia yang berbeda. Negeri ini tidak berdiri hanya untuk orang Islam saja. Tidak untuk orang Jawa saja. Tidak untuk laki-laki dewasa saja. Melainkan untuk semua manusia Indonesia. Dan mereka lah ruh Indonesia, berbeda-beda dalam segala keragamannya tapi tetap satu saling menyayangi, menghargai dan mencintai antar sesama.

Jika saya doyan makan sambel oncom dan kamu suka sambal terasi, apakah layak kita saling benci?
Jika si Nina suka gonta-ganti tas belanja dan si Amir suka gonta-ganti klub sepak bola idola, apa mereka layak saling menghina?
Jika Anda menyembah pohon beringin dan tetangga menyembah botol obat kuat, apakah kita layak saling menyikat?
Jika dia percaya bahwa Tuhan ada 17 dan pacarnya bahkan tidak percaya Tuhan sama sekali, apa mereka layak saling menggurui dalam emosi?

Tidak!

Sejarah telah membuktikan, bahwa kita berbeda. Negeri ini, bangsa ini, para manusia ini didirikan dalam perbedaan dan itulah kekuatan mereka. Sehari-hari kita dihantam perpecahan, dirongrong provokasi, dihancurkan kepercayaannya bahwa kita manusia dan layak hidup sebagaimana manusia, diagitasi bahkan hingga iman terhadap perbedaan hampir mati.

Tapi toh kita tetap hidup. Kenapa?

Jawabnya sebenarnya hanya satu. Karena masih ada toleransi.

Lantas bagaimana jika toleransi pun sakaratul maut dirajam oleh sekelompok manusia berideologi kejam. Yang rela membunuh manusia lain hanya karena berbeda agama. Yang rela menghalalkan darah saudaranya hanya karena merasa pemilik sah republik dan surga.

Lantas bagaimana jika anti toleransi jadi epidemi. Menyebar lebih busuk dari hati satu manusia ke manusia lainnya. Membisikkan dendam-dendam pribadi. Pelan-pelan menghasut telinga, “Mereka sesat, harus diluruskan, jika tidak kita tidak mungkin dapat surga”. Lalu akhirnya pada suatu malam pendemi ini begitu berbahaya dan darah para minoritas pelan-pelan mengalir membeceki tanah. Merefleksikan bulan yang begitu gelap dan muram.

Di negeri ini, sekali lagi meleleh darah di muka bumi. Dibaliknya, tersebar rumor bahwa itu adalah darah manusia sesat yang layak dibunuh. Dibaliknya, tersebar cerita bahwa secara diam atau terang-terangan bahkan orang yang mengaku paling demokratis pun tak banyak upaya untuk buka suara. Di negeri ini, pernah dan telah terjadi kekerasan terhadap kemanusiaan.

Dan kemungkinan, masih akan terus terjadi.

Dulu tahun 65, jadi PKI artinya mati. Mayatnya dibuang di Bengawan Solo dan tidak ada penyelidikan, penanggung jawab bahkan rehabilitasi nama atas para korban.
Dulu awal 1990-an, jadi petani di sebuah desa di Lampung dekat pantai artinya mati. Sebab jika mereka meminta hak atas tanah yang sudah digarap sejak oleh nenek moyang mereka pada tangsi tentara yang tiba-tiba berdiri, mayatnya akan dibuang di hutan dan mungkin jadi santapan binatang.
Dulu pada 2004, jadi Munir artinya mati. Terlalu vokal banyak bersuara mengkritik para bajingan di atas mahligai sana, diracun hingga tewas dan semisterius alasan pelaku pembunuhnya.

Kini, jadi Ahmadiyah hampir mirip dengan mereka yang tersebut dahulu. Diburu, dicemooh, dibantai, dibunuh, bahkan ketika sudah meninggal pun sempat digali lubang kuburnya hanya untuk dihinakan. Di era digital ini Bandung tahun 2011 kuburan  seorang warga Ahmadiyah dibongkar dari Taman Pemakaman Umum. Jasadnya dibuang ditelantarkan hanya untuk dinistakan.

Kenapa ada di negeri ini? Negeri yang mengaku penduduknya ramah dan mudah senyum. Kenapa? Kenapa harus di negara yang mengaku ber-Bhineka Tunggal Ika?

Kalau memang pada ujungnya kita harus menghancurkan dan menistakan perbedaan, mengapa negeri ini tetap harus ada?
Jika hanya bisa diam melihat kekerasan terhadap perbedaan, mengapa masih mau (pura-pura) jadi orang Indonesia?
Yang lebih parah lagi, jika melihat semua kekejaman terhadap perbedaan dan keragaman manusia sudah lagi tidak menyinggung hati, apa memang iya kita masih punya hati?

Perbedaan itu anugrah. Walaupun tidak selalu menyenangkan, ia adalah fakta. Sehari-hari kita bergulat didalamnya. Jika tidak sadar bahwa perbedaan adalah realita lalu menafikkan perbedaan, jangan-jangan hati kita pelan-pelan hampir mati. Sebab telah dijangkiti virus hasad bin dengki.

Idiih, amit-amit jabang bayi.


Perbuatan Tercela (Balada Tomi Sang Polisi)

Akibat dulu sempat tinggal di kompleks perumahan polisi dan beberapa anggota keluarga bekerja di kepolisian RI, stok cerita saya soal polisi Indonesia yaa cukup banyak. Mulai dari yang heroik dalam menjalankan tugas hingga yang aneh-aneh bahkan sampai ke yang memalukan.

Anehnya, diantara sekian banyak cerita hanya yang heroik dan yang memalukan saja yang tetap membekas di otak saya hingga saat ini. Hehe, entah kenapa.

Sampai saat ini para pelaku di kejadian heroik masih teringat. Saya dan teman-teman masih hormat dengan mereka. Ada yang pincang karena kakinya ditembus peluru ketika menggagalkan perampokan. Ada yang mukanya penuh luka-luka bekas bacokan sebab tetap tegar menghadapi massa ketika harus berjuang membela minoritas. Polisi-polisi ini sudah tidak muda lagi. Ada yang sudah tidak dinas karena kondisi tubuh. Ada pula yang masih dinas namun sudah tidak di lapangan lagi. Tapi kalau nongkrong bareng, mereka selalu dapat tempat duduk bangku dan dapat gelas bersih. Tanda hormat.

Tapi… Tapiiii… Haha, tentu saja ada tapinya. Para polisi heroik ini tidak banyak. Jika ada, ia akan lalu jadi legenda. Dan ketika ia jadi legenda, posisinya tinggi nun jauh di langit sana. Jadi mitos. Jadi panutan, bagaimana polisi muda harus bersikap. Gagah berani meski dihantam gaji kecil dan kebutuhan sehari-hari yang makin tinggi.

Para polisi gagah berani itu, bukan teman pergaulan saya sehari-hari. Iya saya kenal, tapi tidak dekat.

Jadi jangan salahkan saya kalau teman-teman saya adalah para polisi yang …err.., begitu deh.

Teman-teman saya itu bukan orang jahat. Itu perlu saya garis bawahi, karena hampir tiap hari saya bersama mereka. Namun biar bagaimanapun mereka manusia. Kadang kekuatan yang mereka miliki digunakan untuk … err.., begitu deh.

Diantara teman saya yang ‘begitu deh’, Tomi sama sekali dapat dikategorikan alim. Di saat yang lain malam jumat ikut pengajian dan malam minggu ikut saya mabu-mabu’an, Tomi lebih memilih main dengan adik saya. Sementara track record adik-adik saya lumayan bersih ketika malam hari tiba.

Jadi kagetlah saya pada suatu malam minggu menjumpai Tomi tiba-tiba datang berkumpul dengan saya dan teman-teman sambil memegang botol miras Topi Miring yang sudah kosong. Ia sudah mabuk sebelum sampai ke sini. Ada apa gerangan?

Dalam kebingungan Rahman yang nampaknya mampu membaca raut muka di samping saya berbisik, “Bang, minggu depan seragamnya di copot”

Saya kaget. Saya tahu peristiwa ini. Pencopotan seragam polisi secara fisik di depan upacara adalah hal yang memalukan. Selain artinya ia di pecat dari keanggotaan, juga merupakan pelajaran bagi rekan-rekannya agar tidak melakukan tindakan yang sama. Pada proses ini seorang polisi yang melakukan tindakan indisipliner akan di panggil di tengah lapangan. Di bacakan alasan pencopotan seragam oleh komandannya. Lalu komandan akan mencopot baju seragamnya. Hingga si naas hanya akan terlihat memakai pakaian dalam saja. Setelah itu, ia diminta meninggalkan lapangan. Pada saat ia meninggalkan lapangan, semua rekan-rekan (atau tepatnya; mantan rekan) akan diperintahkan untuk membalikkan badan. Tanda tidak hormat.

Tomi seragamnya di copot? Kenapa? Masa sih begaul sama adik saya jauh lebih parah daripada bergaul sama saya? Ini para bajingan di samping-samping saya yang hobi mabuk dan kadang memeras rumah judi, kok yaa aman-aman saja dan tidak pernah dicopot seragamnya?

Rahman dan Boy ganti-gantian membela diri, “Gua mah abis malak nyetor bang ke komandan” atau “Kalo mabok kan duit sendiri bang, bukan duit komandan. Yang penting mah pas jam masuk, kita ada di sono sebelom komandan dateng”

“Lah terus si Tomi ngapain? Ngerampok terus nggak bagi-bagi?”

Rahman menggeleng, “Istrinya hamil, Bang”

Saya menyerenyitkan kening, “Istrinya hamil kok dipecat? Bukannya dinaikin pangkatnya atawa dinaikin gajinya biar bisa ngasih makan anak kok malah dipecat? Emang yang ngebuntingin siapa? Komandan?”

Boy diam, garuk-garuk kepala sebentar. Lalu menjawab, “Bukan gitu. Waktu nikah dia emang sih bilang komandan kalo mao kawin lagi. Terus komandannya ngamuk, Bang. Kalo kawin lagi, bisa-bisa dia dikeluarin. Tapi si Tomi kan anaknya mantep. Prestasi terus tuh anak. Jadi komandan diem-diem aja akhirnya. Nah pas itu istri mudanya yang hamil ketauan deh ama istri tuanya. Sebab si Tomi rupanya ngebagi jatah belanja bulanan. Istri tua marah, trus lapor komandan. Malah pake ngancem segala, kalo si Tomi nggak ditindak dia bakalan lapor ke Pusat. Sial dah nasib si Tomi”

Saya bengong. Melihat Tomi yang menatap gelasnya sambil mengunyah kacang pelan-pelan. Saya jadi terbayang wajah komandannya. Komandan yang sehari-hari tugas bersama. Yang sudah seperti ayah, kakak dan teman sekaligus sahabat hingga pastur tempat kita mengadu dosa.

Saya lihat wajah Tomi muram. Semuram lampu lapo tuak yang tengah kami singgahi.

Singkat cerita, Tomi dipecat. Benar-benar dilucuti seragamnya. Setelah itu bagaimana? Kelihatannya tidak perlu saya ceritakan di sini. Tragis sih. Adik-adik saya sudah melarang saya untuk cerita lebih lanjut soal Tomi pasca pemecatannya.

Life goes on. Tahun berlalu. Kali ini, apabila ada cerita soal polisi saya tidak lagi hanya teringat para pahlawan yang pincang atau yang codet tercabik belati. Tapi saya juga ingat Tomi. Entah dia ada di bagian mana.

Dan masih segar ingatan saya tentang Tomi ketika beberapa hari lalu, ada berita soal polisi yang bernama Edmond Ilyas melakukan tindakan tercela. Tentu saja Edmond bukan Tomi dan Tomi bukan Edmond. Tapi judul headline berita ‘Brigjen Edmond Terbukti Lakukan Perbuatan Tercela’ membuat saya semakin tergelitik.

Apa itu tercela? Tindakan tidak terpuji seperti polisi yang mabu-mabu’an dan memeras rumah judi macam teman-teman saya?

Ahh bukan rupanya.

Di sana tertulis;

Mantan Direktur Direktorat Ekonomi Khusus Polri, Brigjen Pol Edmond Ilyas terbukti melakukan perbuatan tercela karena tidak melakukan pengawasan terhadap anak buahnya dalam kasus Gayus HP Tambunan…
Edmond terbukti tidak melakukan kontrol terhadap penyidikan yang dilakukan oleh anak buahnya terkait pengusutan kasus pencucian uang, korupsi, dan penggelapan yang diduga dilakukan Gayus…
Edmond tidak melakukan kontrol sehingga penyidik kasus Gayus seperti Kompol M Arafat Enani dan AKP Sri Sumartini melakukan pertemuan dengan pengacara Gayus dan jaksa…
…Edmond juga diwajibkan meminta maaf kepada institusi Polri. Permintaan maaf tersebut disampaikan langsung oleh Edmon di depan komite komisi kode etik dan disiplin…

Saya tahu apa yang mereka bilang soal komandan dan sebenarnya tidak mau ikut campur lebih lanjut. Walaupun ada yang janggal. Tercela akibat tidak mengawasi anak buah? Tuduhannya agak ajaib, kalau ia tidak mengawasi anak buah, jadi apa sebenarnya yang beliau kerjakan? Ini kantor polisi loh. Yang hierarkis dan sistematis. Bukan pasar kaget yang berantakan dan awut-awutan.  Di mana setiap orang bisa transaksi di mana saja. Ini kantor polisi. Divisi khusus. Tempat orang-orang cerdas yang terbiasa menangani kasus luar biasa pelik. Kok bisa ‘melakukan sesuatu tanpa diawasi’. Aneh kan?

Di tambah lagi  kalimat ‘tercela’ dalam tuduhan. Wah itu lebih dahsyat daripada kalimat ‘tidak terpuji’ atau ‘indisipliner’.

Tapi whatever lah. Sebab tiba-tiba makin saya baca tulisan itu makin pula saya ingat Tomi. Ahh di mana ia sekarang? Mungkin kalau pangkatnya tinggi, tidak akan di copot seragamnya di muka publik. Mungkin ia hanya perlu meminta maaf saja.

Sebab jika korupsi yang sudah mampu menghancurkan hidup orang banyak saja bisa dimaafkan, mengapa punya istri hamil tiba-tiba menjadi dosa yang tak berampun?


Aku Butuh Cinta. Aku Tidak Bisa Hidup Sendiri Walau Hanya Semalam Saja

Apa yang lebih penting dari cinta?

Saya tidak tahu jawabnya. Saya pikir dengan modal cinta, seperti mencintai kehidupan misalnya, sebuah spesies mampu bertahan hidup dengan sebaik-baiknya.

Sahabat saya Yon memilih hidup sebagai penyendiri. Ia memilih untuk tidak menikah dan tidak punya relasi. Baik relasi hati maupun badani. Itu pilihan hidupnya. Sebab ketika ditanya mengapa, ia hanya menjawab, “Saya tidak ingin hidup yang kompleks”.

Buat Yon, jatuh cinta dan menjalaninya adalah sebuah hal yang tidak masuk di akal rumitnya. Ia pikir, daripada rumit lebih baik dijauhi.

Itu pilihan hidupnya. Buat saya sah-sah saja. Bukankah setiap orang punya pilihan hidup masing-masing.

Lain halnya dengan Diah. Sahabat saya satunya lagi. Ia kebalikan dari Yon. Ia selalu ingin punya relasi. Entah apa bentuknya dan apa dasarnya, yang penting relasi. Bisa jadi relasi panjang, bisa pula relasi semalam saja. Yang penting relasi. Katanya sambil malu-malu, “Aku butuh cinta. Aku tidak bisa hidup sendiri walau hanya semalam saja”.

Jika Yon dan Diah bertemu, keduanya sering terlibat dalam diskusi sengit. Saking sengitnya, kadang malah berakhir tidak begitu mengenakkan. Apalagi setelah Yon memanggilnya jalang dan Diah meneriakinya impoten. Jika ini sampai terjadi, bisa berminggu-minggu mereka tidak bertemu. Dan lalu, sialnya saya lah yang harus menjadi merpati pengabar berita satu sama lain yang ber-partner bisnis ini. Sekaligus pendamai keduanya.

Apa yang lebih penting daripada cinta?

Saya tidak tahu jawabnya. Tapi kata beberapa orang ada hal yang lebih adiluhung daripada cinta. Nama kalimatnya, setia.

Kata beberapa orang, tidak ada kalimat cinta tanpa setia. Kalimat itu adalah kalimat sakti yang membedakan profesi seseorang menjadi pelacur atau bukan. Setia.

Logika di atas jelas bisa dipertanyakan. Apa iya setia yang membedakan pelacur dengan profesi lainnya? Bukankah pelacur juga melacur karena ia mencintai kehidupannya? Apa ia rela melacur apabila tidak mempertahankan cinta yang ia miliki saat itu? Bisa jadi ia cinta pada keluarganya, dan lalu melacur untuk mereka? Bisa jadi ia mencintai apa yang ia lakukan, dan lalu melacur untuk memenuhinya? Apa yang salah?

Biasanya diskusi kami berhenti hingga di titik ini. Lawan diskusi saya kecewa. Saya dianggap memihak hubungan badan di luar nikah. Aneh, saya pikir siapa yang bicara selangkangan. Apa definisi pelacur itu selalu adalah seseorang yang harus selalu mengangkang demi kepuasan nafsu orang lain yang membayarnya? Memangnya selain pelacur di dunia ini tidak ada profesi manusia yang yang mengorbankan badan dan jiwanya demi kepuasan nafsu manusia lain yang rela membayarnya?

Jika seorang istri yang sedang sakit dengan amat terpaksa harus melayani suaminya demi keutuhan rumah tangga mereka dan agar dapur terus mengebul dan uang sekolah anak tetap ada, apa itu bukan melacur?

Bukan, kata teman diskusi saya. Sebab mereka sudah ada dalam institusi pernikahan.

Lalu jika seorang perempuan sehat yang dengan amat terpaksa harus melayani lelaki demi membayar tagihan rumah sakit orang tuanya yang tidak pernah punya asuransi, atau agar dapur terus mengebul dan uang sekolah anak tetap ada, apa itu bukan melacur?

Iya itu melacur, sebab tidak ada dalam hubungan pernikahan.

Oh jadi pelacur dan bukan itu hanya dibatasi kalimat pernikahan saja?

Di sini teman diskusi saya terlihat agak sengit. “Lu tau ga yang ngebedain kita ama binatang? Kita nikah! Binatang nggak!”

Saya senyum-senyum mendengar argumennya. Saya bilang ia tidak perlu marah. Sebab tidak akan menghilangkan apa yang akan saya tanyakan kepada dia.

“Lu mao nanya apa lagi? Pelacur yaa udah jelas. Pake ditanya-tanya segala…”

“Oke. Begini. Gua mao nanya kasus yang latarnya beda. Si Fulan itu hobinya mancing. Cita-citanya mau jadi nelayan. Tapi karena ia sekolah tinggi, ia dipaksa lingkungannya jadi apa yang dia nggak inginkan. Dia terpaksa kerja di bursa saham biar dianggap hebat dan kaya. Dipaksa bangun pagi dan pulang malem biar bebas ngelewatin macet setiap hari kerja. Dipaksa pake pakaian yang nggak pernah ada di bayangannya. Terpaksa makan di tempat yang dia nggak jelas juntrungannnya. Dipaksa setiap tahun berproduksi lebih dan terus lebih. Dipaksa lembur jadi nggak ada waktu lagi buat maen ama keluarga dan temen-temennya. Buat lu, si Fulan melacur ga?”

“Yaa nggak lah! Dia kan nggak ngangkang!”

“Tapi kan si Fulan nggak mau melakukan itu semua. Di terpaksa atau dipaksa, sama saja yang pasti buat dia paksaan ngejalanin semua itu. Dia ngejual jiwa ama badannya buat kepuasan orang laen”

“Kalo dia nggak ngangkang yaa dia bukan pelacur. Dia itu pelaku ekonomi”

“Kalau gitu, sistem ekonomi kita berazaskan pelacuran dong?”

“Mana bisa begitu! Lu tuh payah. Logika lu ngaco! Pelacur itu nggak setia! Tuhan itu lebih marah ama orang yang nggak setia daripada orang yang nggak cinta!”

Ahh, lagi-lagi setia jadi alasannya. Setia lebih penting daripada cinta. Kali ini pakai bawa nama tuhan pula. Seakan punya jalur khusus sebagai perwakilan di muka bumi.

Saya senyum lagi. Tapi biarlah, teman diskusi saya sudah pamit sebelum saya menerangkan lebih lanjut. Buat dia pelacur itu jelas. Namun dunia pelacuran dan landasannya itu abu-abu. Yang buat saya cukup ajaib. Sebab bagaimana bisa mendefinisikan sesuatu jika landasan awalnya tidak bisa dimengerti?

Tapi bisa jadi ia benar, yaitu mungkin bahwa logika saya yang ngawur. Hahaha…

Tapi tadi pagi saya tidak bisa tertawa. Tidak mengenai soal cinta dan setia. Ketika membaca sebuah berita, saya tertegun. Ini beritanya;

Dibakar api cemburu, seorang pria berumur 74 tahun di Italia menembak mati tiga orang sebelum kemudian mengakhiri hidupnya dengan menembak dirinya sendiri.

Pria bernama Carlo Trabona tersebut menembak mati dua tetangganya dan kemudian istrinya di Kota Genoa, Italia utara. Terakhir, pria itu menembak mati dirinya sendiri.

Alfredo Federici dari Kepolisian Genoa mengatakan seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (10/1/2011), kecemburuan dan perselingkuhan melatarbelakangi peristiwa maut tersebut.

Dikatakan Federici, dugaan perselingkuhan yang dilakukan istri Trabona tampaknya telah memicu aksi penembakan tersebut. Trabona menduga istrinya yang berumur 72 tahun berselingkuh dengan salah seorang tetangganya yang juga merupakan temannya sejak lama.

Dalam insiden berdarah itu, Trabona awalnya mendatangi sebuah bar dan menembak salah seorang tetangganya. Seorang tetangganya yang lain kabur dan dikejar oleh Trabona. Pria itu pun tewas ditembak Trabona. Setelah menembak kedua tetangganya, Trabona pulang ke rumahnya dan langsung menembak istrinya.

Aparat polisi pun mengepung kediaman Trabona. Saat pengepungan itu, Trabona bunuh diri dengan menembak dirinya sendiri.

Kedua tetangga Trabona yang merupakan kakak-adik tersebut tewas tak lama kemudian di rumah sakit. Begitu pula dengan Trabona yang tewas setelah dilarikan ke rumah sakit.

(sumber detiknews)

Ironis, sebab kelihatannya setia memang lebih penting daripada cinta. Atas nama setia, rela bunuh istri dan tetangga bahkan mengakhiri hidup sendiri.

Kali ini, atas nama setia, ada lagi yang harus mati.

Besok, atas nama yang sama; apa atau siapa lagi yang harus mati?


Hidup Apa Yang Sia-Sia?

Life is very short, and there’s no time
For fussing and fighting, my friend.

(WE CAN WORK IT OUT – The Beatles 1965)

Tadi malam, saya di sapa seorang sahabat “Mana tulisan terbarunya?”

Saya, seperti biasa. Hanya cengar-cengir menjawabnya. Jadi ingat kalau ketemu beberapa client yang sudah bertahun-tahun jadi langganan. Semuanya pasti bertanya, “Mana portfolio barunya?”. Pun jawabannya sama, cengar-cengir saja.

Tadi malam saya menonton film The American. Bintang utamanya George Cloney dan seorang aktris wanita Italia yang rambut kemaluannya terlihat lucu. Dalam film itu, George walaupun mengaku fotografer seniman, ia adalah seorang yang mengerti jalannya mekanis dan menyukai mesin (ceritanya, si George adalah ahli senjata pembunuh khusus untuk penembak jitu). Teman George, seorang pendeta akhirnya pada suatu hari bilang, “Tangan kamu, tangan mekanik. Bukan tangan seniman”

Secara eksplisit sang pendeta berkata bahwa orang-orang yang dianugrahi kelebihan mekanis, adalah berkah ketika dibutuhkan untuk memperbaiki mesin, organ atau apapun yang berjalan secara mekanikal. Sementara tangan seniman, adalah implementatif sekaligus eksekutor terhadap kepekaan seseorang terhadap apa yang ia rasakan.

Habis menonton film itu, saya lihat tangan saya sendiri. Membuka semua jari-jari membentangkannya di hadapan muka. Dalam hati bertanya, ini tangan mekanis apa tangan seniman? Lah, gimana kalo saya tidak punya tangan? Bagaimana cara mendefiniskan kepekaan atau keahlian?

Saya lantas juga bertanya dalam hati, gimana yah kalau orang yang tangannya suka jawil-jawil iseng pantat orang lain tanpa tahu diri. Itu masuk kategori tangan apa?

Lebih lanjut lagi, saya bahkan bertanya tentang tangan-tangan orang yang suka menadahkan tangan. Apa pernah ada riset mengenai tipikal tangan orang yang suka meminta atau bahkan ada riset mengenai tangan manusia yang suka memberi? Apakah garis-garis pada telapak mereka mempunyai kemiripan? Apakah jari, kotoran kuku, pergelangan dan sebagainya milik tangan mereka punya semacam benang merah? Sebuah persamaan?

Waduh saya kebanyakan mikir.

Lebih baik konsentrasi ke jawaban pertanyaan teman saya. Kenapa saya tidak begitu banyak menulis lagi sekarang.

Iya, kenapa yah? Saya juga bingung?

Wah, jawab apa dong?

Tidak mungkin saya jawab, “Gua cuman mau menulis yang bagus-bagus aja”. Apa itu maksudnya? Absurd. Tidak mungkin saya memberikan jawaban absurd. Sebab saya terlalu malas untuk ditanya lebih lanjut dengan pertanyaan yang lebih mengerikan.

Tangan punya. Mata punya. Minimal dikit-dikit, bisa lah baca tulis. Tapi kok tidak ada tulisan baru. Itu pertanyaan sahabat saya yang baik.

Alih-alih menjawab, saya malah curhat. Halah. Biasa lah, ini trik saya cari alasan. Hehe.

Saya bilang sama dia kalau hidup saya sejak enam bulan ini seperti sirkus. Berusaha sekuat dan selihai mungkin terlihat senyum dihadapan lampu sorot dan penonton. Menunggu tepuk tangan demi keping-keping logam untuk sekedar bertahan hidup.

Ia mengerutkan kening, “Sirkus?”

Saya meralat, “Errg… Mungkin gulat kali yang lebih cocok”

“Gulat? Gulat ama siapa?”

“Ama nasib”

Ia semakin mengerutkan kening, “Apa hubungannya dengan menulis?”

“Di akhir hari, udah terlalu capek untuk menulis”

Kerut alisnya hilang, “Ini alesan?”

Saya senyum, menjawab “Iya” dengan hambar.

“Iya maksudnya apa? Alesannya? Apa capeknya? Atau nggak ada tulisannya”

Saya mengangguk menjawab, “Semuanya”

“Tau cerita Saiweng Shima Yanzhi Feifu?”

Saya yang tadinya lemas dengan bahu tertekuk ke bawah menatapnya penuh selidik, “Nggak. Apaan tuh, Sampeng Tahu? Makanan?”

“Saiweng Shima Yanzhi Feifu itu ungkapan dari China kuna. Sebuah idiom yang berangkat dari legenda”

“Emang lu orang Cina? Coba ngomong bahasa Cina? Penampakan lu aja kali Cina tapi paspor kita kan sama, burung garuda. Lu aja lebih indonesia daripada gua. Lu tuh apal pancasila dan UUD45, men. Gua mah boro-boro apal begituan”

“Lu cerewet amat sih, Rip. Mao gua ceritain ga?”

Saya diam. Mengangguk kalem dan mulai menyeruput sambil membuka telinga.

Begini ceritanya:

Selama Dinasti Han pada abad ketiga sebelum Masehi hidup seorang tua di perbatasan China bernama Sai Weng. Pada suatu hari ia kehilangan kudanya. Tetangganya semua mengasihani kesialannya, dan bersimpati dengan orang tua itu. Tapi Sai Weng mengatakan: “Mungkin kehilangan kuda bukan sebuah kesialan seperti yang kita sangka”

Pada hari berikutnya kuda orang tua itu kembali, bersama dengan kuda betina indah di sampingnya. Semua tetangga berseru: “Wah beruntung sekali kamu Sai Weng!” Tetapi orang tua itu menjawab: “Mungkin ini bukan sebuah keberuntungan baik seperti yang kita sangka”

Orang tua itu punya seorang anak muda yang cakap. Anak ini menyukai kuda betina baru dan mengendarainya setiap hari. Suatu hari kuda betina ini dikejutkan oleh binatang liar dan melemparkan anak itu dari punggungnya. Hingga kakinya patah sangat parah dan lumpuh permanen.

Semua tetangga Sai Weng mengatakan: “Oh benar-benar tragedi! Anak kamu tidak akan pernah berjalan tanpa rasa sakit lagi”. Tetapi orang tua itu lagi-lagi berkata: “Mungkin ini bukan hal yang buruk”

Dan begitu seterusnya ketika tahun baru datang, tentara kaisar melewati daerah mereka dan merekrut semua pemuda yang terlihat sehat agar ikut dalam perang di perbatasan kota. Karena anak orang tua itu lumpuh ia tidak bisa ikut perang dan ditinggalkan di desa untuk bertani dengan ayahnya. Sai Weng berkata kepada tetangganya: “Anda lihat, semuanya ternyata baik-baik saja pada akhirnya. Menjadi terlempar dari kuda dan patah kakinya menyelamatkan anak saya dari pertempuran dalam perang dan hampir mati. Jadi apa yang kita sangka tidak begitu manis di awal, belum tentu akan berakhir dengan pahit”

Maka katanya, setiap kali hal yang buruk terjadi di China, seseorang akan mengatakan “Sai Weng Shi Ma” (Ingat “Orang tua dengan kudanya yang hilang”) untuk mengingatkan diri sendiri dan orang lain bahwa ternyata hal-hal buruk terkadang memiliki lapisan baik yang belum tentu terlihat pada saat itu juga.

Ia menatap saya yang bengong mendengar ceritanya, “Lu kok bengong aja, Rip? Lu ngerti ga? Di Indonesia, barangkali namanya ‘habis gelap terbitlah terang’. Mirip judul buku ibu kita Kartini”

Saya garuk-garuk kepala, “Maap men. Gua ini pragmatis. Gua bener-bener nggak ngerti lah idiom-idioman. Jangankan dongeng rakyat China, dongengan emak gua aja kadang gua nggak ngerti”

Dia diam saja. Senyum. Kami menikmati teh malam itu. Melihat butir salju yang turun dengan derasnya di halaman belakang menimpa.

Dari radio terdengar band asal Inggris The Beatles menyanyikan lagu mereka yang berjudul We can Work it Out.

Kata mereka, “Hidup terlalu singkat untuk disia-siakan”

Saya meliriknya sebentar. Ia senyum sambil menyeruput teh panasnya.


Revolusi Warung Tegal

Penyair Pier Plowman pada akhir abad 14 menerbitkan beberapa sajak dalam kumpulan puisinya yang lalu begitu terkenal sebagai folklore rakyat Inggris. Di sana, ia menulis “Robin Hood berdiri gagah di Hutan Sherwood. Menantang penguasa dengan panahnya”.

Sejak saat itu, bagaikan bola salju, Robin Hood tokoh dalam puisi yang oleh beberapa orang dianggap legenda terus melaju sebagai simbol perlawanan. Simbol resistansi terhadap kekuasaan yang semena-mena merampas hak rakyat kecil. Dengan cara yang tidak biasa, yaitu mencuri dari penguasa zalim kaya.

Robin Hood dalam cerita Plowman memang amat menggambarkan situasi kondisi Inggris akhir abad 14. Ketika para petani dipaksa bekerja keras dan diambil semua jerih payahnya oleh kekuasaan atas nama pajak. Sebab tahun 1381, gerakan petani-petani Inggris mengalami puncak geramnya. Tahun ini pula berkobar revolusi para petani yang dipimpin oleh bohemian berkultur agraris bernama Wat Tyler.

Inggris abad pertengahan memang mencengangkan. Masa itu, kekuasaan politik adalah anak dari persetubuhan antara penguasa dengan para pemuka agama. Jika para penguasa butuh lebih banyak uang untuk memperindah istana-istana, menyebar pesta malam demi malam demi gundik-gundik mereka atau hanya sekedar atas nama keserakahan, maka dinaikanlah pajak pada warga. Namun sebelum dinaikkan, ada rapat-rapat rahasia. Dimana para pemuka agama akan berusaha mendukung kebijakan menaikkan pajak. Lalu berkobar-kobar khotbah misa minggu pagi pada warga agar menunaikan tugas wajibnya sebagai warga negara, seperti bayar pajak misalnya. Timbal baliknya, penguasa akan meminjamkan tentara mereka terhadap semua musuh pemuka agama. Membantai para musuh tanpa banyak bertanya apa-apa. Tentu saja musuh agama dianggap sebagai musuh negara. Ahhh… Mencengangkan bukan?

Tapi tentu saja itu abad pertengahan. Bukan masa kini. Inggris masa kini sudah merupakan negara maju. Walaupun tentu saja bukan surga. Sebab mana ada surga yang dilanda resesi dan gerakan ekstrim kanan? Namun biar begitu di Inggris saat ini tidak banyak lagi pencurian uang rakyat atas nama pajak.

Lantas bagaimana dengan Indonesia?

Kita di sini tidak memiliki legenda Robin Hood. Revolusi yang ada pun adalah revolusi bersenjata perebutan kekuasaan, dari ‘luar negeri’ menjadi ‘anak negeri’. Bukan revolusi industri, revolusi seks, revolusi bunga apalagi revolusi petani. Sebab di sini, petani yang marah telah di stigma menjadi antek komunis. Jangankan petani, jika kaum miskin kota, buruh, nelayan atau semua orang yang terpinggirkan secara kelas dan ekonomi marah, pun dengan mudahnya di cap ‘bahaya laten’.

Kita di sini tidak memiliki legenda Robin Hood. Padahal di negeri ini, betapa banyak penguasa yang gemar sekali merampas hak rakyatnya. Terutama rakyatnya yang kecil. Sebab tentu saja penguasa tidak berani merampas warga yang kaya, kuat dan punya kuasa. Sebab warga model begitu, sudah menjelma jadi seperti para pemuka agama pada masa abad pertengahan di Inggris sana. Bersetubuh dengan penguasa demi melanggengkan nafsu sakit mereka terhadap kekuasaan. Mulai dari para saudagar cengkeh dengan Belanda di masa kerajaan Ternate. Hingga saudagar batubara 2010 yang akhirnya mampu membeli kekuasan di salah satu partai berkuasa.

Jika kita tidak memiliki Robin Hood, lantas kemana para pemuka agama di sini?

Ahh nggak usah ditanya… Walaupun tidak semua, di sini pemuka agama kebanyakan lebih suka onani jiwa. Memilih jihad pornografi sebagai objek yang laku di jual pada media ketimbang koar-koar buka suara membela jamaahnya yang dimiskinkan secara terstruktur.
(*Contoh: Ada pertanyaan serius dari Gugun adik saya yang sampai kini tidak bisa saya jawab. “Kenapa kotbah jumat di Cilincing ngomongnya soal neraka sorga dosa pahala mulu. Emang nggak bosen apa? Kenapa nggak kotbah cara-cara nyari kerja. Kalo nggak melihara ternak gituh. Selang-seling dong”*)

Tidak adanya Robin Hood apa berarti semua warga negeri ini, sejak namanya masih nusantara, memang hobi untuk ditindas?

Tidak adanya Robin Hood barang sebiji, apa artinya tidak seorangpun pemberani di negeri ini yang berani mencuri demi menentang semena-menanya penguasa?

Salah!

Di Jakarta kami punya punya legenda Pitung, Tuan. Cerita dari mulut ke mulut yang mungkin belum diketahui kebenarannya. Tentang seorang lelaki yang sering keluar masuk bui jadi buronan polisi. Karena mencuri dari yang kaya dan membaginya pada si miskin. Lalu akhirnya meninggal dan dikubur di Tanah Abang, Batavia tahun 1883.

Namun di Jakarta pula, kami punya lelaki bernama Foke, Tuan. Lelaki gagah berkumis yang menguasai Jakarta dari ujung ke ujung. Yang dahulu dengan beraninya berjanji akan mengentaskan semua air gila bernama banjir apabila ia terpilih nanti. Yang lalu ketika terpilih, bukan hanya banjir yang tak mampu dikuasainya. Melainkan pula akan memberi pajak tinggi pada warung-warung kecil penyedia makan bagi para kaum miskin kota Jakarta.

(*Kabinet Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo berencana akan menetapkan dan mengambil pajak pada warung-warung kecil penyedia makanan seperti Warung Tegal pada 1 Januari 2011*)

Mengapa masih tega membebani pajak pada para pengusaha modal setengah nafas yang secara harafiah benar-benar ‘memberi makan orang susah’?

Apa DKI Jakarta masih kekurangan uang, padahal konon perputaran uang lebih dari setengah kekayaan Indonesia ada di sana?

Apa para bangsawan DKI Jaya sana butuh istana untuk direnovasi? Butuh gundik untuk dipuasi? Butuh melampiaskan keinginan eksibisionis untuk memperlihatkan alat vital keserakahan manusia?

Atau…

Apa Jakarta butuh Robin Hood, lelaki sejati yang bersama sahabatnya menancapkan panah pada penguasa zalim gila? Atau apa Jakarta butuh Pitung yang sakti itu hidup kembali demi mengingatkan bahwa resistansi masih ada?

Apa kita butuh Revolusi Warung Tegal? Dimana para mbak-mbak yang sehari-hari menggodok air menjerang teh memotong bawang dan para tukang ojek langganan warung tegalnya mengangkat tangan teriak kalimat sakti, “Revolusi atau Mati!”

Entahlah…

Yang pasti, sebagaimana semua daerah di bumi pertiwi tercinta, kelihatannya Jakarta tidak butuh penguasa yang semena-mena.


Apabila Memutuskan Untuk Tidak Beragama

Mbak Nendi itu kakak kelas saya waktu jaman sekolah di Depok dulu. Beliau kalau tidak salah, sekitar satu setengah tahun lebih tua daripada saya. Orangnya ramah. Kalau bicara halus dan lembut. Dengar-dengar, keturunan langsung bangsawan. Tapi kalau saya ajak bicara soal garis darah keturunan, ia selalu menolak. Lagi-lagi dengan halus. Ia lebih suka membicarakan pacarnya yang juga sahabat saya, Mas Danu.

Bertahun-tahun setelah ia wisuda saya tidak bertemu beliau. Beberapa kali bersua melalui tulisan di blog ketika ia bertegur sapa. Namun yah hanya sekedar ‘say hi’. Tidak pernah lebih.

Suatu hari, siapa sangka ia punya akun di facebook dan lalu menambahkan saya sebagai daftar pertemanannya.

Seperti biasa, saya sering jalan-jalan ke akun teman-teman saya dan juga daftar jaringan pertemanan yang mereka miliki. Sekedar hobi. Mau tahu siapa teman-teman saya saat ini dan siapa teman-teman mereka. Sebuah hobi yang kata teman akrab saya, ‘memuaskan rasa sakit jiwa akibat kecanduan untuk membuntuti’. Hahaha…

Suatu hari, entah kenapa di timeline saya muncul status Mbak Nendi yang sedang sedih. Ada apa gerangan kok beliau begitu sedih? Sungguh membuat saya terusik.

Saya lihat di lemparan-lemparan statusnya terdahulu. Saya tidak bisa menyimpulkan apa-apa. Jangankan menyimpulkan, menebak saja susah. Padahal metode penelitian secara deduksi itu amat bisa dipakai dalam melihat kondisi kejiwaan seseorang di timeline facebooknya.
(*ini sih sok tahu plus snobnya saya saja, menggabungkan antropologi, psikologi dengan matematika dalam aplikasi web2.0. Hehe. Maaf*)

Akibat teramat mau tahu (iya saya tahu ini hobi yang berbahaya). Saya mulai mencari foto-foto dimana Mbak Nendi di tag.

Kaget. Sebab sebuah foto yang baru saja di tag oleh temannya, Mbak Nendi terlihat sedang duduk di pinggir jalan. Di bawah tenda plastik warna biru yang didirikan sekenanya dan berlantai tikar di atas rumput trotoar. Ditemani anak-anak kecil, Mbak Nendi memegang sebuah kitab suci.

Di bawah foto itu terpampang sebuah tulisan, “Beginilah nasib minoritas”.

Saya makin kaget. Apa maksudnya ini? Dan untuk menjawab kekagetan-kekagetan ini saya lihat saja terus foto-foto Mbak Nendi.

Saya pikir, foto bicara jauh lebih banyak daripada kata. Walaupun ada yang bicara sebaliknya. Di foto-foto itu terlihat Mbak Nendi sedang mengikuti ibadah yang dilangsungkan di pinggir jalan.

Kenapa di pinggir jalan? Sebab terlihat di salah satu foto kalau rumah ibadah mereka terkunci gembok dan memiliki plang kayu peringatan bahwa Ijin Mendirikan Bangunan rumah ibadah itu dicabut oleh Pemda setempat.

Saya putuskan malam itu untuk chat dengan beliau.

- “Selamat malem, Mbak”
+ “Udah subuh di sini”
+ “Apa kabar? Anak udah bisa apa, Rip”
- “Lagi sibuk sih Mbak. Anak gua udah cerewet, hehe. Makasih”
- “Mbak, fotonya gawat banget deh. Kok bisa ditutup”
+ “Foto mana”
- “ini linknya” (*link URL address tidak saya publikasikan di sini. Foto rumah ibadah*)
+ “Iya tuh, sebel gua. Mentang-mentang minoritas, kita dikalahin terus”
- “Fungsi bangunan sampe ke fondasi bangunan kok bisa dicabut Mbak?”
+ “Gua juga bingung. Padahal warga lokal oke kok. Dua minggu lalu ada ormas gila, protes. Keliatannya walikota ga mao keilangan muka dikalangan orang seagamanya”
- “Lu pikir ada muatan politis, Mbak?”
+ “Lu pikir selama ini apa? Cuman sentimen keagamaan?”
- “Ada tukang baksonya ga kalo lo ke sana?”
+ “Kok di otak lo makanan melulu sih, Rip?”
- “Serius gua nih, ada tukang jajanannya ga?”
+ “Yaa banyak. Enak-enak kok. Warga lokal sini aja pada ikutan jajan kalo ada misa mingguan”

Di sini saya pikir ia tidak bohong kalau ada alasan lebih daripada sentimen keagamaan. Rumah ibadah yang ia, teman-teman dan keluarganya gunakan setiap minggunya ditutup. Alasan utamanya, tidak sesuai dengan estetika. Entah apa lagi alasan lainnya yang sungguh tidak masuk di akal, yang pasti rumah ibadah itu disegel. Mbak Nendi secara gerilya bersama rekan-rekannya datang ke tempat ibadah itu setiap minggu. Menggelar tikar mengepit kitab suci. Di trotoar mereka mengasah iman.

Saya jadi ingat suatu hari di Cilincing dulu sahabat saya Udin pernah bertanya “Bang, kalo Tuhan gua nggak esa, apa gua masih bisa lulus penataran P4 dan jadi pancasilais yaah?”

“Mana gua tahu Din”

“Apa gua boong ajah kali yaah ditanya soal kayak gitu mah?”

“Masa sih boong?”

“Daripada gua nggak lulus penataran P4 bang? Kan gawat, nanti nggak bisa ngambil ijasah”

“Serius luh?!”

“Yaelah Bang, walopun kita udah diwisuda kalo nggak lulus penataran P4 kan nggak boleh ngambil ijasah”

“Waduhh, kok tega bener yaah…”

“Maka itu Bang, apa gua boong aja kali yaah. Pokoknya kalo ditanya apa-apa, gua jawab aja Tuhan gua esa. Padahal mah sebenernya dalam hati gua nggak percaya. Yang penting mah gua bisa lulus P4. Trus bisa nyari kerja. Kalo udah kerja, nanti juga Tuhan dateng sendiri”

Hmhh. Saya garuk-garuk kepala. Mau bilang apa lagi coba? Ketuhanan Yang Maha Esa dan Penataran P4 serta implikasi rumit di kehidupan orang Indonesia yang menyertainya sudah memusingkan otak saya yang kelihatannya jauh lebih kecil daripada otak manusia normal ini.

Bertahun-tahun setelah obrolan dengan Udin, sahabat saya James dari Maine bertanya terkaget-kaget ketika suatu hari ia menemukan bahwa agama yang diakui pemerintah Indonesia hanya ada enam. “Yang lainnya kemana, Rif. Tidak pernah diakui?”

“Emhh, mungkin belum. Mungkin harus berjuang dulu”

“Kok untuk punya agama saja harus berjuang? Terus bagaimana kalau tidak beragama. Tidak usah berjuang dong”

Saya bengong tidak bisa menjawab apa-apa. Apalagi menyambungkannya dengan Pancasila, Penataran P4 dan rumah ibadah yang dengan semenanya ditutup paksa.


Penyetubuh Kambing

muhammad MG gatot mural artwork

Mural karya MG sebagai layanan masyarakat agar menggunakan internet secara bijak. Ilustrasi memakai adoptasi karya sampul buku pelajaran sekolah dasar di Republik Indonesia.

Mantan sutradara kontroversial Theo van Gogh pernah menyebut orang muslim sebagai penyetubuh kambing.

Saya sebut mantan, sebab ia telah terbunuh oleh serangan anak muda yang marah melihat karya-karyanya.

Begini cuplikan wawancara Theo dan asal mula kalimat penyetubuh kambingnya yang amat terkenal itu:

Wartawan: Dalam kolom website Anda, Anda bilang bahwa Muslim itu adalah penyetubuh kambing, imam Anda sebut sebagai penjahat dari selokan Allah, dan semacamnya. Apakah ini akan berkontribusi pada pemecahan masalah yang ada saat ini?
Theo: Mengapa saya tidak boleh bilang muslim itu adalah penyetubuh kambing? Pertama, pemimpin spiritual Khomeini sendiri pernah menulis bahwa jika wanita sedang haid, maka seorang lelaki itu dapat mengambil seekor kambing untuk memuaskan dirinya. Kedua, di jalanan banyak terlihat perempuan Belanda yang secara lisan dilecehkan sebagai pelacur oleh orang Maroko? Haruskah kita membiasakannya? Apa yang aneh ini disebut toleransi? Untungnya, sejak 11 September semua bisa kita katakan…”

Suatu pagi di Amsterdam ketika akan berangkat kerja dengan sepeda, Mohammed Bouyeri, seorang anak muda Belanda keturunan yang berafiliasi dengan salah satu organisasi yang diklaim menebar teror di Mesir, Takfir Wal Hijra, menerobos tubuhnya dengan delapan timah panas. Setelah ditembak, tubuh Theo ditusuk belati berkali-kali. Theo wafat di tempat.

Belanda kaget. Gempar luar biasa. Pertama karena rupa-rupanya publik baru sadar ada organisasi kejahatan internasional berbasis reliji dan kepercayaan di negeri mereka. Kedua adalah, ini negara super merdeka. Di mana semua orang bisa menyampaikan pendapatnya. Banyak yang bertanya, kalau tidak suka, kenapa Bouyeri harus membunuh? Kenapa ia tidak bikin film tandingan? Kalau ia pikir Theo bodoh dan idiot, kenapa tidak menulis membantah Theo van Gogh, bukankah internet adalah media?

Di sidang pengadilan, terungkap jelas bahwa si Bouyeri ini rupanya kecewa dengan istilah-istilah yang digunakan oleh Theo. Ia benci melihat muslim dibilang penyetubuh kambing. Ia muak melihat ayat-ayat suci kitabnya dijadikan latar belakang artistik pada tubuh perempuan bugil dalam film Theo. Si Bouyeri ini tidak ingin istilah-istilah Theo meluas dan menyebar ke kalangan publik yang lebih luas.

Lantas, apa Bouyeri sukses? Dengan membunuh Theo, maka semua istilah yang masuk dalam terminologi Theo musnah?

Salah! Jawabnya salah besar. Sebab bertahun-tahun setelahnya, istilah ‘penyetubuh kambing’ kembali digunakan oleh Geert Wilders, salah seorang politikus populis ekstrim kanan Belanda yang amat membenci orang muslim.

Istilah; tidak akan mati. Sekali terucap, ia akan mengudara selama ada manusia pengingatnya.

Lantas, apa itu sebenarnya ‘istilah’?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah adalah:

  1. kata atau gabungan kata yg dengan cermat meng-ungkapkan makna konsep, proses, keadaan, atau sifat yg khas dalam bidang tertentu;
  2. sebutan; nama: janda muda disebut dengan– “janda kembang”;
  3. kata atau ungkapan khusus;

Saya pikir istilah sudah ada sejak manusia ada. Dalam kitab suci, ada istilah penyebutan sesuatu yang terlarang dengan ‘buah’. Entah namanya apel atau khuldi, tidak terlalu jadi masalah. Maka jika seorang Adam pada suatu hari akhirnya amat manusiawi dan tergoda memetik buah. Artinya ia sedang melakukan sebuah tindakan terlarang.

Dalam sastra kontemporer, pengarang novel grafis pemenang Pulitzer, Maus, Art Spiegelman, mengistilahkan bahkan hingga mengilustrasikan NAZI jerman sebagai ‘kucing’ dan yahudi sebagai ‘tikus’ dalam karya jeniusnya Maus I: My father bleeds history dan Maus II: And here my troubles began.

Dalam hubungan antara psikologis dengan anatomi tubuh manusia, bagan organ genital wanita yang sering disebut labium minus pudendi acapkali diistilahkan dengan Nympha. Dalam bahasa jalanan, seorang wanita mandiri yang secara fruekentatif dapat memuaskan kebutuhan bagian genitalnya, diistilahkan dengan Nympho.

Pada intinya; istilah itu ada. Digunakan oleh manusia. Sadar atau tidak sadar, ia jadi bagian dari diri kita.

Mengapa manusia menggunakan istilah?

Jawabnya banyak. Namun diantaranya adalah untuk mengekspresikan diri mereka. Ada semacam rasa dalam diri manusia yang secara jelas ingin tersalurkan. Yaitu ekspresi diri. Penyalurannya banyak. Ada yang diam-diam. Ada yang terang-terangan. Ada yang cepat ada yang perlahan. Yang pasti, ekspresi diri harus dikeluarkan. Salah satunya, lewat istilah yang ia pakai.

Siapa yang memakai istilah dan apa sebabnya?

Atas nama istilah ini pula maka suatu hari, saya sungguh dikejutkan oleh tulisan tetangga saya Asrul yang membahas ketika seorang yang mengaku Profesor Nazaruddin Sjamsuddin, mengeluarkan twit jangan menyalahkan orang Arab. Sebab tkw yang dikirim kesana goblok-goblok, disuruh apa saja tidak mengerti.


Nazaruddin Sjamsudin bilang goblok pada TKI dan TKW

Lebih jelasnya, silahkan cek ke akun Nazar Syamsudin orang yang mengaku profesor tersebut. Untuk lebih jelas mengenai si orang yang mengaku profesor, silahkan cek di Wikipedia mengenai Profesor Nazaruddin Sjamsuddin.

Tidak lama kemudian, Nazar yang tidak pernah mengaku sebagai pria berpenis belang-belang merah jambu namun pernah jadi tersangka kasus korupsi KPU itu mengklarifikasi ucapannya.

1. sy jg tdk suka majikan menyiksa tkw. tp kt jg perlu introspeksi ttk kemmpuan para tkw itu. nah, bayngkan majikan yg sdh bayar mahal,
7:08 AM Nov 19th via web

2. tp dpt tkw yg ga becus. apa ga kesal bin marah mrk itu. cuma, tetap sj, shrusnya mrk tdk boleh menyiksa.
7:09 AM Nov 19th via web

3. sy prnh mndpt pembantu spt itu. hanya krn kesabaran sj, shg tdk terjadi apa2; stlh dipekerjakan 1 bln, lalu sy kmbalikan ke agen.
7:12 AM Nov 19th via web

4. jd, klo sy punya pendpt spt itu, bukan krn kebanyakan makan sate kambing.
7:14 AM Nov 19th via web

Yang menarik adalah, ketika banyak orang yang memintanya untuk meminta maaf, orang yang mengaku preman profesor politik ini berkata pada akun twitter @IndraPilianig “saya siap sj minta maaf, tapi apa kesalahan saya?”

Hampir sepuluh menit kemudian, begini klarifikasi beliau:
ooo istilah “goblok” itu. ok, itu masalah “selera” sj, krn sy prnah mngalaminya. maaf, klo itu dianggap tdk pantas.

Ini screenshotnya:
nazararuddin sjamsudin bilang goblok pada TKI/TKW itu hanya istilah selera dia

Menarik bukan? Ah wahai profesor politik. Terberkatilah engkau hingga namamu masuk dalam ranah internet dan kini disini jadi pembahasan khusus mengenai kalimat ‘istilah’.

Goblok itu istilah. Setidaknya menurut manusia yang mengaku jadi profesor politik di Indonesia bernama Nazaruddin Sjamsuddin ini. Dan berdasarkan ‘selera’ beliau pula istilah itu ia alamatkan dengan santainya pada TKI/TKW kita di Timur Tengah sana. Tidak peduli apakah istilah dan seleranya akan menyakiti manusia lain, ia mengumbarnya di hadapan publik. Kelihatannya ia tidak peduli, apapun yang masuk dalam ‘selera’ nya, maka itu berhak di umbar kepada publik.

Aneh, kalau mau memandang sesuatu secara subjektif pendapat diri sendiri, ketimbang bicara seleranya soal TKI/TKW, mengapa ia tidak memilih memberitahu publik mengenai selera seksualnya?

Saya tidak yakin apakah nafsu birahinya akan merongrong jika dipanggil dengan istilah ‘profesor penyetubuh kambing’.

Setidak-yakinnya saya bahwa istilah goblok yang pernah ia juruskan pada para TKI/TKW di Arab sana akan memecahkan semua solusi pekerja migran Indonesia di Timur Tengah.


Topeng Monyet Bencana

Saya sering sedih kalau melihat topeng monyet. Seekor monyet yang dirantai, dikenakan pakaian manusia, disuruh mengayuh sepeda mainan, diminta berjoget ketika gendang kecil tertabuh, disorak-soraki, lalu dinamai Sarimin.

Lebih sedih lagi ketika melihat lelaki yang kadang berusia setengah baya penjaganya. Mendorong gerobak kecil yang diatasnya ada monyet, sepeda mainan, gendang dan mainan atraksi. Kadang bukan gerobak. Kadang malah pikulan. Lelaki itu berusaha sekuat tenaga, setiap hari, menarik perhatian orang-orang. Berusaha sekuat tenaga agar ia tidak menjadi pusat perhatian. Sebab toh itu tugas monyetnya.

Dalam hujan dalam terik, dua makhluk hidup yang berbeda jenis itu hanya punya satu tujuan. Sederhana, cuma bertahan hidup. Itu saja.

Kita tahu, jadi tukang topeng monyet tidak akan memberikan penghasilan yang mampu membuatnya beli pesawat jet Boeing 747. Karir ini pula tidak akan menghantarkannya menjadi ketua Perserikatan Bangsa Bangsa. Atau suatu hari yang bahagia, dikelilingi gadis-gadis berbodi aduhai. Seharian memikul monyet atau memukul gendang paling dapat hanya cukup untuk makan.

Lalu bagaimana monyetnya? Yaah, nasibnya tidak jauh beda dengan pawangnya. Bagai sebelas ke dua belas. Leher dirantai seharian, hidup dalam penjara yang berjalan. Mungkin suatu hari ia lalu tua dan mati. Sebab kecil sekali kemungkinannya akan main film Tarzan di Hollywood sana.

Buat penyayang binatang, bisa jadi adegan topeng monyet itu menjijikkan. Apa yang lucu dari mencoba tertawa atas binatang yang dipaksa beraksi dalam rantai besi? Apa yang lucu dari mengajarkan anak sejak dini bahwa guna binatang adalah untuk memuaskan hawa nafsu manusia?

Buat orang yang mungkin tahu sedikit mengenai latar belakang kemiskinan yang terkondisikan, mungkin bisa jadi sedikit mahfum. Apa lagi yang bisa dilakukan dari seorang manusia urban dengan latar belakang sedikitnya wawasan ketika lapar menjirat perutnya? Mungkin pembelaannya; masih untung dia cuma ikat monyet, bukan jadi copet?
(*Ini argumen yang dapat diperdebatkan. Copet menyiksa kantung manusia. Sementara, secara literal aksi topeng menyiksa leher monyet.*)

Hidup itu kejam? Bisa jadi begitu. Beberapa orang mengusung pepatah ini sebagai motto hidupnya.
Hidup itu tidak adil? Mungkin juga bisa begitu. Bukan cuma satu dua manusia yang percaya semboyan ini.

Tapi apa sih yang lebih kejam dan lebih tidak adil daripada menyalahkan korban penyakit atau bencana alam sebagai “bagian dari pendosa”?

Oke, jelas akan lebih mudah memang mengatakan bahwa bencana alam yang bertubi-tubi di alam nusantara ini sebagai bagian dari ‘teguran Tuhan’. Lebih mudah mengkhayal gila berkata dalam hati, ‘ini artinya Tuhan masih sayang ama kita, jadi kita diminta untuk introspeksi’. Atau berkata pada publik, ‘ini saat yang tepat berderma’. Tentu saja lebih mudah berkata semua ini.

Karena jauh lebih mudah, banyak orang yang memilih ini.

Bicara bencana adalah bagian dari sebuah rencana besar kitab suci, jauh lebih mudah ketimbang menyediakan pendidikan pada publik mengenai bencana dan penanggulangannya.

Bicara bencana dikaitkan dengan dosa, tentu saja jauh lebih mudah ketimbang harus terus meriset dan mengembangkan sensor dini satelit terhadap tsunami, misalnya.

Bicara bencana dan (lebih ajaib) lalu mengaitkannya dengan kedatangan bintang porno ke nusantara, sumpah mati jauh-jauuuh lebih mudah ketimbang harus kordinasi dengan dokter, tentara, relawan, ahli IT, dan sebagainya dalam menyiapkan sebuah misi penyelamatan.

Bicara bencana dan mengaitkannya dengan takdir yang harus diterima umat manusia, secara sederhana memang jauh lebih mudah ketimbang harus memaksa penguasa agar tidak berhenti-hentinya memberi perhatian khusus terhadap aksi pencegahan dan penanggulangan pra atau pasca bencana terjadi. Sebab daripada bicara soal penguasa nan jahanam, bicara takdir itu kadang membuat kita lebih merasa suci.

Tahun 2006 di sebuah organisasi besar pembantu korban bencana yang berpusat di Jakarta, seorang anak muda berambut gondrong sebahu berkaus hitam bertanya kepada saya, “Bang, ada jembatan di Bantul keputus. Kita susah menyalurkan bantuan. Punya helikopter ga?”

Saya menatapnya dalam dan serius. Ia bicara soal gempa Jogja (yang sehari sebelumnya saya dengar menewaskan hampir seluruh keluarga sahabat saya). Saya jawab pelan, “Nggak. Kalo hercules sih ada”

“Hercules kegedean, Bang. Itu mah pesawat. Lagian mana ada lapangan terbang yang mampu nerima herkules di Bantul. Eh ngomong-ngomong abang beneran punya herkules?”

Saya menggeleng. Mana mungkin saya punya pesawat berjenis Lockheed C-130 bernama sandi Hercules super besar yang mampu mengangkut lebih dari seratus orang itu? Saya bilang saya hanya kenal pilotnya. Teman kecil sepengajian dulu. Mungkin siapa tahu bisa membantu.

Hampir menjelang akhir tahun 2010, teman saya Mas Dodi mengumumkan melalui status facebooknya bahwa beliau akan ke Mentawai untuk membantu korban bencana di sana. Sebab satu-satunya jalan yang paling logis menuju pulau-pulau Mentawai dengan cepat kalau tidak dengan hydrofoil (dulu ada feri cepat Padang-Mentawai berteknologi Hidrofoil, saya lupa namanya) yaa dengan helikopter. Beliau bertanya, apakah saya bisa membantu mencarikan helikopter. Ahh seperti deja vu rasanya.

Sekali lagi, sedih saya menggeleng. Sahabat-sahabat baik saya dari Cilincing yang dulu bertugas membantu menjaga dan memelihara helikopter (yang semestinya untuk bertempur tapi toh amat bisa dipakai dalam membantu distribusi bantuan bencana), kini entah ada di mana. Saya sukar meminta bantuan mereka. Dan tidak bisa membantu banyak terhadap rencana teman saya yang baik hati Mas Dodi untuk meneruskan langkahnya lebih jauh ke Mentawai sana.

Tidak lama kemudian, saya baca ReTweet Pak Harry bahwa sebaiknya kita tidak mengirim bantuan korban bencana melalui acara televisi. Sebab tidak ada auditnya. Ohh sedihnya. Bencana silih berganti, kok yaa sampai saat ini tidak ada kebijakan pemerintah untuk membuat satu kanal rekening bantuan. Saya mau menyalahkan siapa selain diri sendiri yang tidak becus menegur pemimpinnya?

Bencana menyisakan banyak kesedihan. Bukan hanya bagi korban, namun juga bagi mereka yang jauh di mana dan hanya mampu mengirim doa.

Dalam badai musibah yang terjadi akhir-akhir ini, saya tiba-tiba ingat dulu omongan seorang tukang topeng monyet yang suatu hari sedang beraksi dengan makhluk jajahannya mencari nafkah di pasar Cilincing.

Beliau bilang, “Mas, saya mah nggak doa biar saya jadi kaya. Saya cuma bedoa, supaya saya dikasih kuat tiap hari nyari nafkah buat anak istri saya ama si Sarimin” sambil mengusap peluh.

Kesedihan ada dimana-mana. Mulai dari panggung terbuka di leher seekor monyet hingga di semangat membara menuju Mentawai dari seorang relawan muda. Yaa kesedihan ada di mana-mana. Mungkin teramat sedihnya hingga bisa berdoa, “Andaipun memang harus melewati ini bencana, jadikan kami kuat menjalaninya”

(*Untuk para korban, keluarganya dan relawan bencana, doa kami menyertai kalian. Mungkin jika suatu hari kami merasa bahwa doa memang sudah tidak cukup lagi, kami akan berusaha membantu mencegah luasnya kerusakan akibat bencana*)


Gimana Ukuran Penis Orang Indonesia

Malam-malam saya jemput Hadi di halte dekat rumah. begitu sampai rumah dan kami sama-sama minum seduhan teh borbonia campur Asphalantus, sejenis dedaunan teh yang tumbuh di semak-semak Afrika Selatan.

Malam itu sudah dingin. Kelihatannya musim panas hampir usai. Baru duduk dan dalam seruputan pertama saya sudah di tembak Hadi sebuah pertanyaan, “bang apa pendapat abang soal Papua?”

Saya cengar-cengir. Sebab saya ingat pada suatu hari, sahabat saya Udin melontarkan pertanyaan yang hampir mirip, “Menurut lu, gimana yaa penis cowok Indonesia, bang?”.

Loh apa hubungannya Papua dengan Penis? Ehmmhh, apa yah? Wah, nampaknya selain sama-sama berawalan P dan memiliki lima huruf, saya tidak punya lagi analoginya. Lantas kenapa saya pikir pertanyaan itu mirip. Mungkin karena di tanya pada saat yang sama. Yaitu ketika saya sedang menyeruput teh.

Tapi apa jawaban saya?

Saya yakin jawaban saya tidak terlalu penting. Toh saya bukan siapa-siapa. Apapun jawaban saya, tidak akan mengubah dunia akhirat Papua. Tapi menurut saya, Hadi itu penting. bukan gara-gara ia anak juragan tembakau (yang secara aneh kadang ia sering saya analogikan dengan peran genial Dono sebagai ‘Raden Mas Ngabehi Slamet’ dalam film 80-an Gengsi Dong). Melainkan karena ia adalah teman yang selalu memotivasi ketika saya sedang jatuh terpuruk dalam masalah serius.

(Entah kenapa, saya selalu ingin memanggil Hadi dengan sebutan Mas Slamet). “begini Mas, err… Hadi. Kamu tau kekerasan dalam rumah tangga”

“Iya bang”

“biasanya gimana?”

“Suaminya kejam. Suka pukulin anak dan istri. Atau kalau tidak mukul yaa menyiksa batin”

“Yaa gitulah ama Papua. Sama aja kayak istri yang dijahatin suaminya. Tubuhnya dipakai sampe kering kerontang. Kalau protes dikit, digebukin. Minta cerai, digebukin. Anak nakal sedikit, digebukin. Makanan jatah kurang, digebukin”

Hadi diam. Saya lanjutkan ocehan tentang sedikit isu muncul di Papua. Ketika isu kecil muncul lalu ribuan tentara langsung diturunkan ke sana. Ketika prajurit-prajurit muda baru didoktrinasi agar menyiksa saudara mereka demi mempertahankan perkawinan sakit bernama NKRI. Ketika Papua masih terlihat seksi. Ketika banyak para panglima banyak cari muka. berharap suatu hari mengemut dari susu payudara bumi Papua. Oh ajaibnya.

Hadi pun masih diam ketika saya cerita sisi lain ketika perjuangan teman-teman Papua kadang diwakili oleh beberapa orang yang terlihat mencengangkan. Pada sebuah demonstrasi kemerdekaan Papua di benua Eropa, ada yang bagi-bagi selebaran kalau Papua hanya untuk orang Papua. Lah orang Papua itu siapa? Yang mengaku Papua? Si pembagi selebaran menggeleng. Katanya, hanya untuk mereka yang satu ras dengannya. Oh ajaibnya.

Hadi masih diam, ketika saya cerita suatu hari di Sydney bahwa ada seorang militan Papua yang mendapat kesempatan untuk berbicara dengan beberapa pembuat kebijakan penting di dunianya. Sialnya pada makan malam itu, ia hanya sekedar membanggakan diri telah berhasil memenggal dan menguliti puluhan kepala tawanan ABRI. Untuk apa? Kenapa di saat itu tidak ia ceritakan mengenai apa yang diinginkan oleh sahabat dekatnya, keluarganya, orang kampungnya dan semua mimpi tentang perdamaian dan kemanusiaan. Mengapa ia pikir cerita darah yang muncrat dari urat leher di meja makan akan membuatnya jadi manusia sakti? Oh ajaibnya.

“Jadi abang pikir Papua harus merdeka?”

“Saya pikir, Papua harus diberi kesempatan untuk bicara dan menentukan apa yang mereka mau. Terserah mereka. Mau merdeka. Mau masih sama-sama Indonesia. Mau otonomi lebih luas. Terserah aja apa maunya”

“Kok gitu bang. Kan baiknya dikasih tahu apa yang baik buat mereka”

Saya ketawa, “kamu kan nanya pendapat saya. Yaa itu pendapat saya. Kalau kita beda, yaa sah-sah aja dong”

“Sekarang gantian deh. Menurut kamu, gimana ukuran penis orang Indonesia?”

Hadi bengong, “Idih nanyanya aneh-aneh aja si abang”

Saya memang lagi malas bicara politik malam itu. Satu-satunya topik yang terlintas di otak saya (yang sedang capek, kedinginan dan bosan) adalah jika lebih dari satu orang pria berkumpul, maka topiknya tidak jauh dari lawan jenis atau narsisme diri macam ukuran penis.

Membicarakan penis itu menarik. Setidaknya buat pria. Katanya, disinilah letak ‘kebanggaan’ seorang lelaki. Dalam film kungfu Jianyu (dalam versi bahasa inggris yaitu Reign of Assassins, 2010, dibintangi Michelle Yeoh), menjelang akhir cerita ternyata baru tahu kalau plot film ini tidak jauh dari penis. Balas dendam seorang pembantu kaisar yang kecewa akibat dikebiri.

“Kamu tau, Di. Kalo penis itu tergantung ras. Jadi pada ras tertentu, ukuran penisnya memang lebih besar daripada yang lain. Penis itu nggak ada hubungannya ama jempol. Makin gede jempol seorang cowok, makin gede penisnya, itu mitooos”

Hadi tertawa terbahak-bahak. Mungkin karena itu sama saja saya bilang kalau penis dia (yang tinggi badannya hampir 190 cm) tidak lebih besar daripada punya saya.

“Tapi kan Bang, nggak imbang kalau badannya gede tapi itunya kecil”

Lalu kami main bantah-bantahan. Mengeluarkan semua logika, teori, omong kosong dan lain sebagainya. Biar saja, buat saya ini lebih mengasyikkan ketimbang bicara politik. Setidaknya untuk malam itu.

Saya keluarkan laman tersimpan di peramban internet. Isinya mengenai tabulasi data ukuran penis warga dunia (*aneh kan, ngapain juga yang kayak gini saya bookmark?*). Di sana terlihat ukuran penis warga dunia berdasarkan negara asal mereka.

Mau lihat, silahkan; ini tabelnya.

Ukuran Penis Manusia Dunia
Negara Panjang santai(cm) Panjang tegang (cm) Sumber
Amerika Serikat 8,8 cm 12,9 cm Wesseells H., Lue T., McAicnich J. (United States of America). The relationship between penile length in the flaccid and errect status: guidelines for penile lengthing. J Urol 1995; 153 Part 2: 379A.
Jerman - 14,48 cm Dr. Gunther Hagler, Urólogo.
Spanyol - 13,58 cm Dr. Javier Ruiz Romero. Clínica Tres Torres, Barcelona, 2001.
Perancis 12 cm 16 cm Anatomie topographique, descriptive et fonctionnelle, tome 1. Le système nerveux central, la face, la tête et les organes des sens, 2e édition. 1991
Jepang 8 cm 13 cm Japanese Journal of Sexology
Brazil - 12.4 (+/- 1.6) cm Dr. Paulo Palma, Urólogo. Brasil. Disfuncao sexual, Carlos da Ros, Claudio Teloken
Italia 10 cm 15 cm Dr. Jamal Salhi de la Sociedad de Andrología de Italia. Dr. Carpenito Ambulatori Especialista en Andrología.
Venezuela 9,5 cm 12,7 cm “Dimensiones peneanas en la población venezolana”, Servicio de Urología, Hospital Domingo Luciani.
Meksiko - 14,9 cm “Lifestyles Condom Co. In Cancún, México”, Dr. Francisco Ordóñez, 2001.
Yunani - 12,18 (+/- 1.7) cm Dr. Spyropoulos E. et coll. Hospital Naval de Veteranos, Atenas, 2003
India - 10,2 cm The Jacobus Survey
Saudi Arabia - 12,4 cm Dr. Mohamed Habos. Male Genital Organ Diseases and Behaviours, Saudi Arabia, 2000
Chili - 13,9 cm Dr. Eduardo Pino, Urólogo/ Andrólogo. Clínica Andromex, Santiago de Chile
Colombia 6,9 cm 13,9 cm Acuña A., Villalba J., Juan Carlos Villalba. A. Saio Clinic, Bogatá.
Afrika Selatan 13,3 cm 16,7 cm Universitat Klegenfurt Survey
Korea Selatan 6,8 cm 9,3 cm Self-Reported Premature Ejaculation Prevalence and Characteristics in Korean Young Males: Community-Based Data from an Internet Survey. Hwancheol Son, Sang Hoon Song, Soo Woong Kim, and Jae-Seung Paick. August 12, 2010
Thailand 11,2 cm 13,5 cm Muangman Research. Department of Surgery, Faculty of Medicine, Ramathibodi Hospital, Mahidol University, Bangkok, Thailand.
Malaysia 7,8 cm 12,4 cm The Straits Times dated 16th July 2000 (Singapore) taken from a 1996 survey by Hunter Welles, Tom Lue and McAnich
Indonesia 10,8 cm 14,2 cm Universitat Klegenfurt Survey

(*Tabel lebih lengkap dalam gambar*)

Hadi melongo, “Bang, punya bookmark apa lagi. Liat dong!”

Saya perlihatkan pada dia, beberapa catatan medis mengenai pasangan penis. Bukan, bukan kantung scrotum. Melainkan pasangan reproduksinya, yaitu vagina. Dan beberapa mitos yang terkuak mengenai penis yang berkembang di masyarakat berdasarkan etnografi.

“Jadi, orang bule nggak semuanya gede yaa, Bang?”

“Yaa nggak lah. Di pelem-pelem emang iya. Pan aktornya juga di pake kalo itunya gede. Lagian biar gede juga belom tentu bisa cocok. Punya perempuan kan beda-beda”

“Trus biar nggak bisa bediri, tapi masih bisa maen yaa?”

“Yaa bisa. Untuk bercinta nggak selalu harus pake tegangan tinggi”

“Kalo cowok punya pasangan kok masih tetep begituan sendiri?”

“Istri kan bukan pelampiasan nafsu, Di. Mereka itu bukan budak. Sementara banyak lelaki yang memiliki kebutuhan yang lebih banyak daripada yang bisa ia dapetin. Boong itu kalo nggak swalayan. Emangnya dia mau maen ama siapa? Pohon pisang yang dibolongin tengahnya?”

“Tapi… Tapi bang.., ngapain baca-baca beginian?”

“Cita-cita saya mao jadi ginekolog, Di. Kayak dokter Boyke. Sayang gagal”

“Tapi menurut saya sih, punya saya tetep lebih gede daripada punya abang”

“Heh kampret! Males banget saya dikasih unjuk barang kamu malem ini. Jangankan gratis, dibayar aja ogah. Lagian kamu tahu darimana punya kamu lebih gede?”

Sambil tertawa lebar si Hadi menjawab, “Yaa itu sih pendapat saya. Kalau kita beda, yaa sah-sah aja dong”

Sambil garuk-garuk kepala, saya baru sadar satu hal persamaan antara Papua dengan penis pada malam ini. Simpel; sebab apapun itu masalahnya ternyata kita boleh beda melihat semua sisinya.

Dan apapun perbedaannya, ternyata lebih enak dibicarakan sambil minum teh ketimbang berkelahi.