Archive for the 'ham' Category

Page 2 of 2

Penyetubuh Kambing

muhammad MG gatot mural artwork

Mural karya MG sebagai layanan masyarakat agar menggunakan internet secara bijak. Ilustrasi memakai adoptasi karya sampul buku pelajaran sekolah dasar di Republik Indonesia.

Mantan sutradara kontroversial Theo van Gogh pernah menyebut orang muslim sebagai penyetubuh kambing.

Saya sebut mantan, sebab ia telah terbunuh oleh serangan anak muda yang marah melihat karya-karyanya.

Begini cuplikan wawancara Theo dan asal mula kalimat penyetubuh kambingnya yang amat terkenal itu:

Wartawan: Dalam kolom website Anda, Anda bilang bahwa Muslim itu adalah penyetubuh kambing, imam Anda sebut sebagai penjahat dari selokan Allah, dan semacamnya. Apakah ini akan berkontribusi pada pemecahan masalah yang ada saat ini?
Theo: Mengapa saya tidak boleh bilang muslim itu adalah penyetubuh kambing? Pertama, pemimpin spiritual Khomeini sendiri pernah menulis bahwa jika wanita sedang haid, maka seorang lelaki itu dapat mengambil seekor kambing untuk memuaskan dirinya. Kedua, di jalanan banyak terlihat perempuan Belanda yang secara lisan dilecehkan sebagai pelacur oleh orang Maroko? Haruskah kita membiasakannya? Apa yang aneh ini disebut toleransi? Untungnya, sejak 11 September semua bisa kita katakan…”

Suatu pagi di Amsterdam ketika akan berangkat kerja dengan sepeda, Mohammed Bouyeri, seorang anak muda Belanda keturunan yang berafiliasi dengan salah satu organisasi yang diklaim menebar teror di Mesir, Takfir Wal Hijra, menerobos tubuhnya dengan delapan timah panas. Setelah ditembak, tubuh Theo ditusuk belati berkali-kali. Theo wafat di tempat.

Belanda kaget. Gempar luar biasa. Pertama karena rupa-rupanya publik baru sadar ada organisasi kejahatan internasional berbasis reliji dan kepercayaan di negeri mereka. Kedua adalah, ini negara super merdeka. Di mana semua orang bisa menyampaikan pendapatnya. Banyak yang bertanya, kalau tidak suka, kenapa Bouyeri harus membunuh? Kenapa ia tidak bikin film tandingan? Kalau ia pikir Theo bodoh dan idiot, kenapa tidak menulis membantah Theo van Gogh, bukankah internet adalah media?

Di sidang pengadilan, terungkap jelas bahwa si Bouyeri ini rupanya kecewa dengan istilah-istilah yang digunakan oleh Theo. Ia benci melihat muslim dibilang penyetubuh kambing. Ia muak melihat ayat-ayat suci kitabnya dijadikan latar belakang artistik pada tubuh perempuan bugil dalam film Theo. Si Bouyeri ini tidak ingin istilah-istilah Theo meluas dan menyebar ke kalangan publik yang lebih luas.

Lantas, apa Bouyeri sukses? Dengan membunuh Theo, maka semua istilah yang masuk dalam terminologi Theo musnah?

Salah! Jawabnya salah besar. Sebab bertahun-tahun setelahnya, istilah ‘penyetubuh kambing’ kembali digunakan oleh Geert Wilders, salah seorang politikus populis ekstrim kanan Belanda yang amat membenci orang muslim.

Istilah; tidak akan mati. Sekali terucap, ia akan mengudara selama ada manusia pengingatnya.

Lantas, apa itu sebenarnya ‘istilah’?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah adalah:

  1. kata atau gabungan kata yg dengan cermat meng-ungkapkan makna konsep, proses, keadaan, atau sifat yg khas dalam bidang tertentu;
  2. sebutan; nama: janda muda disebut dengan– “janda kembang”;
  3. kata atau ungkapan khusus;

Saya pikir istilah sudah ada sejak manusia ada. Dalam kitab suci, ada istilah penyebutan sesuatu yang terlarang dengan ‘buah’. Entah namanya apel atau khuldi, tidak terlalu jadi masalah. Maka jika seorang Adam pada suatu hari akhirnya amat manusiawi dan tergoda memetik buah. Artinya ia sedang melakukan sebuah tindakan terlarang.

Dalam sastra kontemporer, pengarang novel grafis pemenang Pulitzer, Maus, Art Spiegelman, mengistilahkan bahkan hingga mengilustrasikan NAZI jerman sebagai ‘kucing’ dan yahudi sebagai ‘tikus’ dalam karya jeniusnya Maus I: My father bleeds history dan Maus II: And here my troubles began.

Dalam hubungan antara psikologis dengan anatomi tubuh manusia, bagan organ genital wanita yang sering disebut labium minus pudendi acapkali diistilahkan dengan Nympha. Dalam bahasa jalanan, seorang wanita mandiri yang secara fruekentatif dapat memuaskan kebutuhan bagian genitalnya, diistilahkan dengan Nympho.

Pada intinya; istilah itu ada. Digunakan oleh manusia. Sadar atau tidak sadar, ia jadi bagian dari diri kita.

Mengapa manusia menggunakan istilah?

Jawabnya banyak. Namun diantaranya adalah untuk mengekspresikan diri mereka. Ada semacam rasa dalam diri manusia yang secara jelas ingin tersalurkan. Yaitu ekspresi diri. Penyalurannya banyak. Ada yang diam-diam. Ada yang terang-terangan. Ada yang cepat ada yang perlahan. Yang pasti, ekspresi diri harus dikeluarkan. Salah satunya, lewat istilah yang ia pakai.

Siapa yang memakai istilah dan apa sebabnya?

Atas nama istilah ini pula maka suatu hari, saya sungguh dikejutkan oleh tulisan tetangga saya Asrul yang membahas ketika seorang yang mengaku Profesor Nazaruddin Sjamsuddin, mengeluarkan twit jangan menyalahkan orang Arab. Sebab tkw yang dikirim kesana goblok-goblok, disuruh apa saja tidak mengerti.


Nazaruddin Sjamsudin bilang goblok pada TKI dan TKW

Lebih jelasnya, silahkan cek ke akun Nazar Syamsudin orang yang mengaku profesor tersebut. Untuk lebih jelas mengenai si orang yang mengaku profesor, silahkan cek di Wikipedia mengenai Profesor Nazaruddin Sjamsuddin.

Tidak lama kemudian, Nazar yang tidak pernah mengaku sebagai pria berpenis belang-belang merah jambu namun pernah jadi tersangka kasus korupsi KPU itu mengklarifikasi ucapannya.

1. sy jg tdk suka majikan menyiksa tkw. tp kt jg perlu introspeksi ttk kemmpuan para tkw itu. nah, bayngkan majikan yg sdh bayar mahal,
7:08 AM Nov 19th via web

2. tp dpt tkw yg ga becus. apa ga kesal bin marah mrk itu. cuma, tetap sj, shrusnya mrk tdk boleh menyiksa.
7:09 AM Nov 19th via web

3. sy prnh mndpt pembantu spt itu. hanya krn kesabaran sj, shg tdk terjadi apa2; stlh dipekerjakan 1 bln, lalu sy kmbalikan ke agen.
7:12 AM Nov 19th via web

4. jd, klo sy punya pendpt spt itu, bukan krn kebanyakan makan sate kambing.
7:14 AM Nov 19th via web

Yang menarik adalah, ketika banyak orang yang memintanya untuk meminta maaf, orang yang mengaku preman profesor politik ini berkata pada akun twitter @IndraPilianig “saya siap sj minta maaf, tapi apa kesalahan saya?”

Hampir sepuluh menit kemudian, begini klarifikasi beliau:
ooo istilah “goblok” itu. ok, itu masalah “selera” sj, krn sy prnah mngalaminya. maaf, klo itu dianggap tdk pantas.

Ini screenshotnya:
nazararuddin sjamsudin bilang goblok pada TKI/TKW itu hanya istilah selera dia

Menarik bukan? Ah wahai profesor politik. Terberkatilah engkau hingga namamu masuk dalam ranah internet dan kini disini jadi pembahasan khusus mengenai kalimat ‘istilah’.

Goblok itu istilah. Setidaknya menurut manusia yang mengaku jadi profesor politik di Indonesia bernama Nazaruddin Sjamsuddin ini. Dan berdasarkan ‘selera’ beliau pula istilah itu ia alamatkan dengan santainya pada TKI/TKW kita di Timur Tengah sana. Tidak peduli apakah istilah dan seleranya akan menyakiti manusia lain, ia mengumbarnya di hadapan publik. Kelihatannya ia tidak peduli, apapun yang masuk dalam ‘selera’ nya, maka itu berhak di umbar kepada publik.

Aneh, kalau mau memandang sesuatu secara subjektif pendapat diri sendiri, ketimbang bicara seleranya soal TKI/TKW, mengapa ia tidak memilih memberitahu publik mengenai selera seksualnya?

Saya tidak yakin apakah nafsu birahinya akan merongrong jika dipanggil dengan istilah ‘profesor penyetubuh kambing’.

Setidak-yakinnya saya bahwa istilah goblok yang pernah ia juruskan pada para TKI/TKW di Arab sana akan memecahkan semua solusi pekerja migran Indonesia di Timur Tengah.


Sumpah Pemuda Murahan

Jorgo Chatzimarkakis itu orang Jerman keturunan Yunani. Hidupnya boleh dibilang sukses apabila kesuksesan di hitung dari gelar akademisi. Sebab lepas dari sekolah menengah, ia melanjutkan ke perguruan tinggi. Pertama ke jurusan ilmu perternakan di Bonn. Lalu setelahnya ambil ilmu politik di Oxford Inggris dan kembali jadi PhD politik di Universitas Bonn Jerman.

Di sebuah cafe di dekat Bundesstadt tempat-informasi-turis kota Bonn, Jan mencolek bahu saya sambil berkata, “Yang baru masuk. Itu Jorgo. Terkenal dia. Minggu lalu ada di acara tivi Politik Masuk Desa”

“Politik Masuk Desa? Apaan tuh”

“Politisi kan kebanyakan omong kosong. Maka ada acara tivi, namanya politik masuk desa. Politisi yang katanya pro rakyat diambil dari gedung dewan tempat mereka ngepos, trus disuruh tinggal di kampung. Terutama di rumah tempat orang yang katanya di bela oleh program parpolnya. Dia disuruh tinggal di rumah tukang bikin roti yang anaknya lima. Selama sebulan seluruh hidupnya dimonitor kamera”

Saya bengong, “Trus tukang rotinya kemana?”

“Ada di hotel. Ngeliatin kamera itu. Nanti setelah sebulan, kerjaan Jorgo di rumah itu diedit dan ditayangkan di tivi nasional”

“Loh jadi Jorgo ama istrinya si tukang roti? Wah ngapain aja yaah…”

“Tidak ada hubungan intim. Selain itu Jorgo harus normal menggantikan fungsi si tukang roti. Ia bangun pagi pukul dua, lalu bakar roti setiap pagi. Jam lima, berkeliling dengan truk mengantar roti segar ke toko-toko roti. Pulang jam sepuluh. Beli makanan di pasar untuk keluarganya. Siang ambil anak dari sekolah. Sore bantu istri nyuci dan masak. Malam hari mendongeng untuk anak-anak si tukang roti. Baru setelah itu dia tidur”

Saya bengong, “Wow, sebulan penuh? Tapi kenapa sebulan penuh?”

Jan menatap saya heran, “Gaji tukang bakar roti kan sebulan sekali? Mau makan apa keluarga si tukang roti kalau si Jorgo tidak kerja sebulan penuh?”

Saya termangu. Berpikir betapa dahsyatnya hidup si tukang roti. Minus beberapa tunjangan pemerintah untuk anak dan mahalnya asuransi yang harus dibayar oleh warga Jerman, kehidupan si tukang roti Jerman sebenarnya tidak jauh beda dengan tetangga saya yang dagang ikan asin di Cilincing, desa pesisir utara Jakarta sana. Penuh kerja keras dan perjuangan. Bedanya, tetangga saya tidak digaji bulanan.

Tanpa saya tanya lebih lanjut Jan menambahkan, “Jorgo itu selalu bicara berbusa-busa tentang ekonomi politik buruh kecil di Brussel sana, tapi coba lihat hidupnya, dia itu intelektual menara gading. Sebulan itu nggak cukup untuk merasakan susahnya hidup buruh kecil”

Saya garuk-garuk kepala, “Kamu sentimen amat ama Jorgo. Syukur kan dia sebulan hidup di sana. Walopun mungkin dia ikut untuk meningkatkan ratingnya pada publik, tapi minimal kan dia ngerasain susahnya ngeburuh selama sebulan. Belum lagi keluarga si tukang roti yang rindu ayah dan suaminya. Kan mereka berjuang juga untuk nerima Jorgo lalu jadi kelinci percobaan stasiun tivi dan atas nama demokratisasi politik”.

Jan diam. Menyeruput kopi lalu mengambil roti lilit kecil berwarna coklat yang diatasnya ditaburi semacam biji-bijian (katanya bernama Mohnzöpfchen). Karena ia diam, saya bilang, “Jan, di negara saya beberapa politisi datang dari manusia yang amat membumi. Namun sayang sekali banyak yang sering lupa dimana ia menginjak lagi ketika sudah masuk dunia politik. Andaikata surga itu ada, namanya pasti bukan panggung politik Indonesia”.

Jan diam. Mungkin ia setuju. Mungkin juga tidak. Atau bisa jadi tidak peduli. Buat saya tidak masalah. Saya tidak begitu ambil pusing. Dia toh bukan orang Indonesia dan merasa tidak memiliki keterlibatan apa-apa dengan negeri nusantara tersebut. Kecintaannya pada Indonesia hanyalah pada kerupuk udang Cirebon yang saya kenalkan ketika kami sama-sama bermain musik. Namun diamnya itu, mengingatkan saya kembali kepadanya di pagi hari tanggal 28 di bulan Oktober.

Hari itu sumpah pemuda di Indonesia. Sebagaimana lazimnya hari-hari aktual khusus, banyak manusia yang tiba-tiba merasa paling jago bicara soal pemuda.

Dulu waktu tinggal di Cilincing Jakarta, Lurah saya tiap sumpah pemuda selalu datang ke Karang Taruna. Tempat kumpul teman-teman saya. Tiap tahun. Tiap sumpah pemuda. Dan ajaibnya selalu setiap kali datang, mengeluh. Macam-macam keluhannya. Mulai dari anak muda jaman sekarang lesu-lesu lah. Anak muda saat ini nggak punya inovasi. Anak muda saat ini tidak optimal, padahal sudah dikasih tempat karang taruna. Habis ceramah, dia bagi-bagi minuman soda, kue dan rokok. Lalu di akhir acara pergi begitu saja. Meninggalkan kami yang duduk di kursi plastik putih murahan sambil makan biskuit murahan.

Kami diam ketika ia ceramah. Kami tidak begitu peduli. Mungkin kami memang tipikal pemuda murahan yang ia sebutkan. Kami tidak berani bersumpah sebagaimana mbah moyang kami. Kami tidak berani mengeluarkan suara membantah ketika mulutnya berbusa-busa ceramah. Kami hanya menurut. Melongo. Tidak bergeming sedikitpun. Semuanya dilakukan hanya demi mengharap ia bagi-bagi makanan murahan dan rokok. Semuanya demi perut.

Kami memang pemuda murahan. Andai kata kami bersumpah, maka yang keluar adalah sumpah pemuda murahan.

Kami pemuda murahan, yang diminta berprestasi jadi jagoan sepakbola dunia sementara sekolah bola yang baik hanya ada dalam mimpi dan kalaupun ada hanya buat orang kaya.

Kami, pemuda murahan. Yang beranggapan taik kucing lah ketika harus menaati orang yang lebih tua dan negara sambil ditakut-takuti harus menanggung dosa puluhan tahun bertubi-tubi tanpa jeda .

Kami pemuda murahan, yang harus menurut seperti kambing congek ketika kampung kami memiliki lapangan luas maka dengan serta cepat disulap jadi mall atau pabrik. Jangan protes, kata mereka. Ini kan demi pembangunan, membuka lapangan kerja. Lapangan kerja apa? Toh kami tetap menganggur. Kami terpaksa jadi tentara rendahan bukan karena cinta negeri ini, tapi cuma mereka yang bisa memberi pekerjaan buat preman lulusan SMA macam kami.

Kami pemuda murahan. Andaikata ada bahasa yang keluar dari mulut kami yaa bahasa murahan. “Ngentot, siapa yang nyolong ember mandi gua?” atau “Anjing, masa kerja seharian cuman bisa buat makan sekali?”.

Waktu itu, setiap Lurah habis ceramah sumpah pemuda, entah kenapa saya selalu merasa bagian dari anak muda murahan. Yang lebih baik diam.

Mirip anjing penjaga disuruh apa saja yang penting bisa makan.

Kami… Pemuda murahan.


Lagu: Sebentar Lagi Malam Minggu

Seperti biasa, sebelum akhir pekan, biasanya kerja saya yaa menghibur diri. Maklum, saat-saat ini memang sedang butuh hiburan. Mengharapkan hiburan dari orang lain, khawatir mengganggu. Jadi daripada begitu, yaah mendingan begini. Hehe.

Lagi-lagi bikin lagu. Ambil gitar, gonjrang-gonjreng tidak jelas. Liriknya sama, tapi kalau diulang lagi, tiap bunyi, nada keluar berbeda-beda. Hihihi… Maklum amatiran.

Kalau mau ikut bernyanyi, silahkan. Mau pakai instrumen apa saja, bahkan hanya cuma bersiul, yaa boleh saja. Yang penting, ehmmm… yang penting… bersuara. Hahaha.

Maka itu, silahkan menikmati :) Ini lagunya;

——————————-
Sebentar Lagi Malam Minggu
oleh: bangaip_topdeh

Apakah aku harus mencintai kamu, wahai negeri yang 65 tahun merdeka namun rakyatnya masih tetap harus berjuang hanya untuk bebas berbicara?
Apakah aku harus mencintai kamu, yang terpilih dengan langsung umum bebas rahasia namun setiap hari memperkosa harapan dan menyetubuhi uang pajakku sia-sia?
Apakah aku harus mencintai kamu, yang hingga hari ini dengan tenangnya berkata ‘Ini sekedar salah prosedur’ ketika saudaraku di Papua sana kau tembak dengan peluru, yang-sedihnya-dibayar-oleh-keringat-saudaraku-lainnya, hingga mati?
Apakah aku harus mencintai kamu, ketika pagi itu kau pukulkan tongkat besi mematahkan semua rusuk sendi kepada sesama saudaramu Maluku yang kucintai hanya karena berbeda pendapat lalu mengibarkan bendera sendiri?
Apa aku harus mencintai kamu, ketika kau benci tari Cakalele atas nama tuhan politikmu dan penjarakan para pemuda penari?
Apa aku harus mencintai kamu, meski per hari kau berdusta pada keadilan Munir yang harus ditepati?
Apa aku harus mencintai kamu, ketika kau mengaku toleransi namun diam saja ketika ahmadiyah diburu dibakari atau para pendeta Cikeuting dibelati hingga hampir mati?
Apa aku harus mencintai kamu, yang sering bergelimang darah saudaraku hanya demi secuil garis di peta bernama NKRI?

Apa aku tetap harus mencintai kamu?

Jawab dong, sayang! Sebentar lagi kan malam minggu.

—————————-

Selamat bernyanyi di akhir pekan ini :)


Gangguan Spam Di Telepon Genggam

Saya baca tulisannya teman saya, Bu Enni, soal telepon. Bagus loh. Menyoal bagaimana beliau berhadapan dengan penelpon dan SMS tak berguna dan trik beliau menggunakan silent mode pada ponselnya. Begini Bu Enni menulis:
Rasanya semakin banyak saja sms masuk yang tak berguna, dari sms minta pulsa (jelas tipu-tipu), sms penawaran KTA (Kredit Tanpa Agunan), sampai yang terakhir adalah sms penawaran jika mau beli rumah.
(Baca lebih lanjut tulisan beliau di http://edratna.wordpress.com/2010/09/13/silent-mode/)

Tidak lama saya baca juga tulisan keren dari MalasBangetDotCom soal spam melalui telepon atas nama telemarketer. Begini tulisan crew MDBC:
Terkadang menerima telepon dari telemarketer emang bisa bikin sebel. Apa lagi kalau kita emang nggak perlu produknya dan udah berkali-kali dihubungi oleh mereka hanya untuk kembali menawarkan produk yang sama, mulai dari promosi tempat fitness, penawaran kartu kredit, sampai berlangganan tv kabel.
(Baca lebih lanjut tulisan mereka di http://malesbanget.com/2010/09/cara-menghadapi-telemarketer/)

Tahun lalu, teman saya yang saya panggil om-om biar kedengaran seksi (jadi kita sebut saja namanya Om Fertob), menulis soal SMS Spam. Begini asal mulanya:
Saya sendiri punya 2 nomor telepon seluler. Yang satu katanya sinyalnya kuat, dan yang kedua katanya tersebar di seluruh Indonesia. Keduanya sudah lama saya pakai, lebih dari 5 tahun. Nah, kedua penyedia nomor seluler prabayar ini sama perilakunya. Sama-sama suka mengirimkan SPAM dalam bentuk SMS (short message service)”
(Baca lebih lanjut tulisan om kita ini di http://fertobhades.wordpress.com/2009/12/01/sms-spam/)

Pada intinya, semuanya sama. Asalnya adalah ketika privasi mereka dalam menggunakan telepon seluler, diacak-acak.

Kali ini, saya memang mau menulis soal telepon genggam dan perilaku yang menyertainya. Biasa lah, ikut-ikutan aja temen-temen saya di atas. Hehe…

Saya pribadi, selama ini walaupun kerap diprotes, terbilang cukup sadis dalam melakukan komunikasi melalui telepon genggam. Apabila dapat telpon dari penelpon tak dikenal, tidak akan saya angkat. Dapat SMS dari nomor tak dikenal, tidak dibalas. Dapat SMS Spam, saya kumpulkan lalu laporkan ke Yayasan Lembaga Pelindung Konsumen.

Komunikasi melalui telepon genggam, buat saya hanyalah untuk masalah yang penting saja. Iya saya tahu, dengan konsep tersebut, mensejajarkan saya dengan manusia yang dituduh ‘purba’ atau ‘orang tua jadul’ dan ‘ketinggalan jaman’. Biarlah. Tidak terlalu penting.

Saya menelpon, melalui telpon genggam, biasanya selama ini hanya menghubungi nomor-nomor penting masa darurat, seperti polisi, ambulans atau sahabat saya yang orangtuanya baru meninggal. SMS dipakai untuk memberitahu ketika telat akibat transportasi publik, sakit atau janji yang perlu konfirmasi.

Tahun ini, kebetulan frekuensi saya bepergian cukup tinggi. Hingga bulan ke delapan tahun ini saya sudah harus mengunjungi empat belas negara secara kontinyu di beberapa benua. Kemana-mana butuh ponsel. Setiap pindah negara, provider telepon memberitahu bahwa negara yang saya kunjungi memiliki sistem pembayaran berbeda-beda untuk menelpon dan SMS. Itu pun, sudah saya anggap SPAM. SMS yang tidak diinginkan.
(*Ketika saya complain ini ke provider, mereka meminta maaf dan Public Relation mereka langsung menghubungi saya untuk menindaklanjuti kalau-kalau saya akan menuntut, hehe*)

Yang paling parah mengenai banyaknya SMS/telpon SPAM, dari semua negara yang saya kunjungi adalah… Republik Indonesia.

Saya tahu, tidak adil memang membandingkan RI dengan negara-negara lain yang saya kunjungi. Sebab sangat subjektif sekali penilaiannya. Namun apabila memakai parameter SMS/Telpon SPAM, serta terbatasnya waktu residensi saya di tiap-tiap negara, maka tanpa ragu-ragu, saya berani bilang saya menerima lebih banyak telepon dan SMS yang tidak diinginkan ketika berada di Indonesia.

Begitu beli nomor kartu Indonesia baru, dapat SMS spam. Mulai dari ringtone, hingga acara TV. Ketika pulsa habis dan isi ulang, langsung dapat sembilan SMS SPAM. Gila, sembilan! Isinya iming-iming pulsa baru, doa mustajab hari ini hingga uang bermilyar-milyar. Begitu daftar hotel dengan nomor tersebut, tidak lama kemudian dapat telepon dari Customer Service hotel yang masih dalam group yang sama, menawarkan paket honeymoon ke Bali. Bulan madu sama siapa coba? Lah wong saya bepergian sendirian! Honeymoon sama dia? Ogah ahh, sudah cowok, suaranya nge-bass pula!

Sejak tahun 2000 ketika penggunaan telepon genggam semakin populer, spam melalui SMS dan telepon (disebut juga sebagai m-spam, singkatan dari mobile spam) memang semakin menggila. Dalam upaya untuk melawannya, negara-negara misalnya di US, Canada, EU dan Australia, mengeluarkan undang-undang di bawah nama trespass to chattels (Pelanggaran pada barang bergerak).

Pelanggaran pada barang bergerak adalah gugatan dimana pihak yang melanggar telah sengaja mengganggu milik sah harta (properti pribadi bergerak) orang lain. Gangguan tersebut dapat berupa kontak fisik atau pencabutan hak dari harta (properti pribadi bergerak) itu (baik dengan mengambil itu, menghancurkan, atau pembatasan akses pemilik). Agar tidak disalahgunakan, trespass to chattels hanya dapat ditindaklanjuti jika kerusakan yang sebenarnya dapat ditampilkan (*untuk kasus saya; misalnya SMS SPAM ringtones yang sekali kirim bisa sampai sembilan kali*).

Sialnya kita semua, yang masih dan akan bermukim di RI, hukum trespass to chattels tidak mempan berlaku di Indonesia. Sebab memang belum ada niat dari penyelenggara telekomunikasi di negeri ini untuk membuat jera para mobile spammer tersebut.

Bagaimana Memerangi Mobile Spam

Jawabnya simpel: Susah!

Kenapa susah?

  • Terbatasnya fasilitas program di kebanyakan telepon genggam (kecuali yang canggih semacam smartphone)
  • Tidak banyaknya pengembang perangkat lunak yang memfokuskan diri dalam filterisasi mobile SPAM
  • Jika memang ada filterisasi SPAM, maka untuk SMS akan sulit, sebab ada provider yang membebani pengguna mereka pulsa dengan SMS SPAM. Jadi mereka kirim SPAM, kita yang bayar. Kampret!
  • Providers yang notabene para raksasa telekomunikasi itu pasti tidak mau ladang usahanya dibantai demi kemslahatan umat pengguna mobile. Untuk kasus RI dimana undang-undang bisa dimodifikasi per sponsor terbesar, mereka akan melobi para politisi untuk melambati proses ini

Jadi Kita Tidak Bisa Memerangi Spam Pada Ponsel?

Jelas bisa, say!

Amerika Serikat, bisa memerangi SMS dan telepon yang tidak diinginkan ini dengan menerbitkan Undang-undang yang disahkan Dewan Komunikasi Federal (FCC) tahun 2003 (yang disebut CAN-SPAM Act of 2003 lalu ekstensinya di tahun 2004.

Uni Eropa pada May 2009 menerbitkan EYouGuide. Yaitu sebuah panduan untuk para warganya dalam melakukan komunikasi online. Di sana terlihat hampir semua peraturan yang dibuat oleh Dewan Uni Eropa dalam melindungi warganya beraktifitas digital. Selain melindungi, juga terlihat bahwa sanksi sudah diterapkan bagi para spammer mobile sejak tahun 2004.

Australia membuat ACMA (Australian Communications and Media Authority), sebuah lembaga yang bertugas memerangi SPAM pada media. Tahun 2009 lembaga ini mendenda Vodafone Hutchison Australia, raksasa provider mobile, sebanyak $110,000. Gara-gara provider ini mengirimkan 100 ribu SMS kepada penggunanya.

Bill C-27 adalah proyek legislasi yang dibuat oleh Canada dalam mengantisipasi SPAM global di negara mereka (*yang katanya menghabiskan sekitar 3 milyar dollar pertahun*)

Di RRC, tiga raksasa provider berkerjasama dalam memerangi mobile spam. Caranya adalah dengan membatasi dan mengambil tindakan keras pada pengirim pesan teks SMS spam. Berdasarkan pembatasan, nomor telepon dan pengiriman SMS dengan tidak lebih dari 200 pesan per jam atau 1000sms/hari kerja.

Jadi, kalau mereka bisa, kenapa kita tidak?

Bukankan salah satu bukti bangsa besar bukanlah bangsa yang mencoba memerangi dan menjajah tetangganya, melainkan bangsa yang mampu memerangi SPAM?

Ayo Republik Indonesia, kita pasti bisa! :D


Apabila Saya Jadi Gubernur Jakarta (Lima – Kemajemukan dan Integrasi)

Selanjutnya adalah proses kerja Kemajemukan dan Integrasi. Tidak bisa dipungkiri, Jakarta adalah sebuah cawan besar dimana seluruh elemen bangsa ada di sana. Jakarta adalah ruang majemuk. Itu adalah kelebihan Jakarta. Menyatukan kemajemukan ini bukanlah perkara yang mudah, sebab kemajemukan ini sekaligus juga bisa menjadi kekurangannya. Walaupun konsep Bhineka Tunggal Ika sudah ada sejak negara ini berdiri, saling menghargai sudah jadi budaya, namun tetap saja ada kendala dalam pelaksanaannya. Maka itu dibutuhkanlah integrasi antar warga serta aturan main yang jelas.

Diantara aturan main kemajemukan dan integrasi antar warga ini adalah:

1. Mendirikan lapangan demo di samping kantor gubernur

Alasan: Sebagai Gubernur, saya sama sekali tidak berharap masa pemerintahan saya akan adem ayem tentram raharja namun menyimpan bara yang dapat meletup tiba-tiba. Maka itu, harus disediakan sarana dan ruang apabila warga saya mau protes berdemo. Agar tidak mengganggu lalu lintas dan kenyamanan umum yang tidak berdemo, disediakanlah lapangan demo di samping kantor saya. Jadi mereka bisa berteriak-teriak sampai puas memaki-maki saya. Kalau perlu, disediakan payung agar tidak kehujanan dan kepanasan. Nah kalau sudah puas, baru bisa bicara baik-baik. Hehe.

Kelebihan: Apabila tidak puas mengeluh melalui sarana khusus berbasis teknologi mobile dan web, lapangan ini dapat menampung aspirasi warga saya secara langsung. Kan kalau maki-maki lebih puas di depan orangnya. Hahaha…

Kekurangan: Apa yang kurang? Kalau tidak ada yang demo, saya toh bisa main sepak bola di sana bersama Anda. Asik kan?

Popularitas: Kalau tiap hari di demo, artinya lapangan itu sukses sebagai sarana pengumpul massa :) Cukup tinggi

2. Melarang organisasi massa pengancam kemajemukan dan integrasi untuk beroperasi

Alasan: Sekali lagi, Jakarta adalah terdiri dari kumpulan manusia yang berbeda-beda. Jika habitat unik ini diancam oleh ormas yang terkenal gemar melakukan kekerasan fisik dalam mengancam kemajemukan dan integrasi, maka itu berbahaya untuk kelangsungan Jakarta. Organisasi massa yang terkenal gemar melakukan kekerasan kolektif ataupun personal dalam aksinya, akan dilarang membuka cabang dan beroperasi di Jakarta. Jika mereka nekat, akan berhadapan dengan perangkat hukum.

Kelebihan: Rasa aman dan mempertinggi toleransi antar suku bangsa penghuni Jakarta walaupun memiliki perbedaan signifikan.

Kekurangan: Kalau saya ada masalah, tidak ada pengalih perhatian dong. Hahaha…

Popularitas: Dikecam oleh ormas yang akan dianggap sebagai biang masalah namun didukung oleh warga Jakarta yang pernah jadi korban mereka.

3. Menjembatani proses dialog antar pelaku ritual agama

Alasan: Jakarta terdiri dari banyak pemeluk agama dan pelaku ritualnya. Beberapa ritual agama diyakini sering membawa dampak tidak sehat bagi masyarakat sekelilingnya. Mulai dari polusi suara hingga saling mencurigai membawa polusi terhadap keyakinan. Salah satu solusinya adalah membuka ruang khusus (literal) agar para pelaku bisa saling bicara tanpa menghakimi dan mendengarkan satu sama lain.

Kelebihan: Mampu menyelesaikan beberapa konflik atau cikal bakal konflik kekerasan akibat ritual agama. Musyawarah atas mufakat biasanya terbukti sukses di budaya Indonesia.

Kekurangan: Mungkin ruang khusus di kantor gubernur itu sering bisa penuh orang :)

Popularitas: Konflik yang mampu diselesaikan akan melahirkan kesepakatan baru bersama di masyarakat. Popularitas akan naik signifikan. Begitupun sebaliknya, apabila konfliknya tidak bisa diselesaikan.

————–abis ahh———————-

Sampai sejauh ini. Baru segitu sih ide saya kalau jadi Gubernur. Entah besok… Entah lusa. Tapi, untung saja saya bukan Gubernur dan nampaknya tidak berminat pada posisi itu. Saya mah niatnya hanya “ngomong doang”

Saya sih yakin saya tidak akan jadi Gubernur Jakarta. Sebab standar agama dan moral saya kelihatannya sudah cukup rendah dibandingkan dengan orang Jakarta kebanyakan lainnya. Pasti tidak akan ada yang memilih apalagi mencalonkan saya. Hahaha…