Archive for the 'hikayat' Category

Siapa Yang Bayar?

pig elephant

Sudah pernah mendengar cerita Anjing Yang Serakah?

Kalau belum, mari saya cerita sedikit. Begini ceritanya;

Suatu masa, hiduplah seekor anjing. Ia terkenal sebagai anjing yang serakah. Kelihatannya, suatu hari ia mencoba untuk insaf dari semua keserakahannya. Di hari itu, perutnya lapar dan tidak ada makanan di rumah. Lalu ia pergi ke jembatan di seberang rumah, melintasinya dan untunglah menemukan tulang terbaik yang pernah ia lihat dalam seminggu terakhir.

Terlintas dalam pikirannya bahwa ia harus segera pulang ke rumah. Bagaimana jika ada anjing lain yang melihatnya membawa tulang sebagus ini? Tidak mungkin. Ia tidak mau berbagi. Jadi dengan segara, dibawanyalah tulang ini digigit dengan gigi-giginya yang kukuh dan tajam melintas jembatan untuk pulang.

Di tengah perjalanan ketika hampir selesai melintasi jembatan, anjing ini menengok ke bawah. Astaga, ia lihat seekor anjing lain yang memiliki tulang sebagus tulangnya. Tapi lebih besar. Lebih lezat dan semua lebih lainnya. Timbul akal jahat diotaknya. Ia akan menakut-nakuti anjing yang ia lihat di bawah itu. Woof! Woof! Teriaknya menakut-nakuti anjing itu.

Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Anjing yang ia takuti ternyata adalah pantulannya sendiri di sungai. Ketika ia teriak menakuti untuk mendapatkan tulang lebih banyak, ternyata mulutnya terbuka dan tulang yang ada dalam gigitannya jatuh tercebur di air sungai yang dalam.

Sampai di sini, mengerti apa yang mau disampaikan dalam cerita anjing yang serakah ini?

Kalau masih belum juga, sudah pernah dengar cerita Perjanjian Dengan Iblis?

Cerita ini adalah dongeng lama yang tersebar di tanah Eropa. Terkenal dengan sebutan Faustian Bargain. Asal kata Faustian adalah Faust, seorang sarjana sukses dalam legenda Jerman yang bosan dan serakah lalu mengadakan perjanjian dengan setan. Faust sendiri adalah tokoh nyata. Katanya mereka yang percaya, cerita ini berangkat dari kisah hidupnya.

Banyak sekali varian dari cerita ini. Mulai dari cerita karya Anton Chekov sastrawan Rusia yang menulis dalam novelnya ‘The Bet’, atau pop culture superhero Spider Man yang terbujuk kekuatan hitam kostumnya agar menjadikannya lebih kuat hingga tuduhan tokoh nyata seperti pemain biola terkenal Niccolò Paganini yang tawar menawar dengan iblis dengan taruhan jiwanya agar dijadikan violis terbaik di seluruh Italia Utara (dan juga seluruh dunia).

Yang paling saya sukai dari cerita perjanjian dengan setan adalah; cerita tentang seorang pria bujangan yang jauh dari perempuan yang dicintainya. Yang ia miliki dari gadis tercinta, hanya selembar foto lusuh dalam dompetnya. Gara-gara cinta, lalu mengadakan perjanjian dengan Iblis agar ia bisa menikahi perempuan tersebut. Tentu saja, iblis tetap iblis. Tidak ada yang namanya ‘free lunch’ buat mereka. Si bujangan ia minta memberikan jiwa sebagai imbalan atas pernikahan dengan gadis pujaannya. Si bujangan, secara cerdik mengakali surat perjanjian tersebut. Hingga akhirnya ia tidak usah memberikan jiwanya, namun tetap akan menikahi perempuan yang dicintainya. Dan iblis pun tidak bisa lari dari perjanjian mereka. Ia terpaksa memenuhi permintaan si pemuda. Membawa perempuan dalam foto lusuh dalam dompet menjadi nyata. Namun iblis tetap saja iblis. Ketika tahu bahwa ia tidak dapat membawa jiwa si pemuda, ia menghidupkan gadis dalam ukuran yang setiap hari si pemuda lihat. Sebesar ukuran foto dompet.

Sebelum menghilang iblis berteriak gusar pada si pemuda, “Keserakahan memakan bayaran”.

Beberapa malam lalu, saya baru saja sembuh dari sakit (*Ah iya, saya sakit lagi. Demam berminggu-minggu*). Karena dengar seorang sahabat Yoyo datang ke rumah Kang Adi, maka segeralah saya ke sana. Mau ngobrol. Mau ketawa-tawa. Yoyo dan Kang Adi itu dua-duanya seniman. Lucu. Saya suka nongkrong bersama mereka. Sebab dijamin pasti ketawa-tawa. Dijamin pula, banyak makanan ajaib.

Kami bertukar cerita. Utamanya soal Indonesia. Karena kami semua kebetulan berasal dari Indonesia.

Kalau bicara soal Indonesia, yaa utamanya memang tidak jauh dari Kalimantan dan para politisi praktis.

Kalau Kalimantan, yaa jelas mengenai laju penggundulan hutannya yang luar biasa. Yoyo cerita, hanya ada satu bagian kecil di sebuah propinsi di Kalimantan yang hutannya tidak disikat habis-habisan. Kenapa? Sebab hutan itu dihuni oleh suku yang menjadi konsultan peperangan pasukan elit Indonesia. Lantas kenapa hutan mereka tidak disikat? Sebab berdasarkan surat ijinnya, ternyata koperasi pasukan elit itu lah yang memiliki HPH (*artinya Hak Pengusahaan Hutan. Namun praktek lapangannya adalah Hak Penyalahgunaan Hutan*) tempat suku itu bermukim hingga ke hilir.

Yoyo yang baru saja dari Kalimantan untuk penelitian itu cerita, Kalimantan ini jadi pertarungan gajah-gajah Jakarta dalam memperebutkan lahan mencari nafkah. Hutannya ditebang. Tanahnya digali demi batubara. Langitnya dipolusi. Pokoknya™ apa saja yang ada di Kalimantan kini sedang dijarah habis-habisan. Banyak sekali nama pejabat, orang kaya, selebriti yang kelihatannya harum di surat kabar Ibukota, saat ini sedang berlaga di bumi Kalimantan.

Kalimantan yang seksi jadi rebut-rebutan jatah preman. Mulai dari preman Jakarta yang punya kuasa, hingga preman lokal macam bupati.

Lepas cerita Kalimantan, Yoyo cerita tentang para anggota dewan di Jakarta yang meminta gedung baru. Dia bingung, mereka itu sudah mati-matian minta suara dari rakyat. Lantas ketika terpilih, supaya mereka dan keluarga tidak lapar, digaji dengan baik oleh rakyat. Bahkan pajak penghasilannya juga disamakan dengan pajak rakyat. Supaya kerjanya lancar para anggota dewan itu diberi mobil oleh rakyat. Supaya tidak kedinginan dan kepanasan, mereka diberi perumahan yang baik sebaik-baiknya dengan pengatur suhu. Semuanya yang bayar rakyat. Rakyat Indonesia yang sebagian besar penghasilannya dibawah rata-rata.

Sekarang… Para wakil rakyat itu minta gedung baru? Gedung yang lama saja bagusnya sudah setengah mati. Jaraknya sungguh jauh dari gerbang. Warga yang mau ketemu wakilnya, harus dikawal setelah melewati gerbang itu. Yoyo marah, kenapa harus bikin gedung baru? Kalau butuh sesuatu yang baru maka sebaiknya gerbang gedungnya saja didekatkan, biar warga mudah komunikasi dengan wakilnya.

Saya diam saja. Kami berhenti tertawa-tawa.

Dalam cerita anjing yang serakah dan pemuda yang mengadakan perjanjian dengan iblis, ceritanya jelas. Bahwa pada akhirnya, yang serakahlah yang akan membayar ketamakannya.

Dalam cerita Kalimantan dan gedung baru wakil rakyat di Jakarta, ceritanya juga jelas. Bahwa ternyata pada suatu hari, kita dan anak cucu kita yang harus membayar ketamakan mereka.

(*Maaf sebesar-besarnya pada babi yang dijadikan  model pada foto di awal tulisan. Sumpah mati, walaupun kamu tidak pernah saya pilih untuk duduk di pemerintahan, kamu jauh-jauh lebih cute dan berguna daripada para wakil kami di Senayan sana*)


Kabar Berita

Tadi pagi saya buka perangkat lunak pembaca berita. Perangkat lunak ini namanya RSS Reader. Isinya, berita-berita terkini. Ada berita yang dipublikasikan oleh jaringan berita internasional. Ada pula berita dari teman-teman maupun tetangga saya. Semuanya serba baru. Tapi entah kenapa, tadi pagi saya tidak begitu banyak dapat berita baru selain dari jaringan berita profesional yang memang kerjanya membuat berita.

Kemana berita teman-teman saya?

Saya bertanya-tanya cukup panjang. Mengapa akhir-akhir ini susah dapat berita dari teman-teman saya. Padahal setiap hari, secara diam-diam, saya membaca dengan tuntas apa yang mereka tulis. Mencoba merasakan apa yang mereka alami. Berusaha untuk tetap empati. Walaupun tetap dalam diam, saya coba untuk hidup sejenak dalam benak mereka.

Kemana teman-teman saya? Kemana berita mereka? Ada apa dengan mereka? Pergantian tahunkah yang membuat membuat mereka sejenak hening tenggelam dalam ambisi-ambisi baru?

Tidak habis-habisnya saya berfikir. Silih berganti mengapa dan mengapa terus berkumandang di benak saya.

Eh tapi, kok yaa saya yang mempertanyakan mereka? Bagaimana kalau situasinya dibalik? Bagaimana kalau ternyata mereka juga mempertanyakan kabar saya. Secara diam-diam memantau kabar saya. Dan secara diam-diam juga gelisah tidak dapat mengetahui kabar terbaru?

Uggh, mungkin saya gede rasa. Tapi saya pikir, terlalu mengada-ada jika ada orang yang peduli dengan kabar terbaru saya. Memangnya saya ini siapa? Eh tapi, kalau saya mengada-ada, toh bukannya saya yang juga merindukan kabar terbaru teman-teman maupun tetangga saya?

Jika saya memang berharap sesuatu dari teman-teman maupun orang yang saya kenal, bukankah bisa jadi mereka juga mempunyai pengharapan yang sama?

Jika saya benci mereka, bisa jadi mereka juga benci saya. Jika saya rindu mereka, bisa jadi mereka juga rindu saya. Bukankah itu yang namanya lingkaran hidup. Tak berawal tak berakhir. Namun selalu berputar.

Uhmm, ok… Ok… Kalau selalu berputar begitu yaa sebaiknya saya memulai. Untuk memulai hidup bukankah harus ada yang memulainya.

Kabar saya, yaah sebagaimana kabar hari-hari lainnya. Biasa-biasa saja.

Tadi malam saya ke IKEA beli lampu. Kata berita, ada lampu hemat energi yang sedang diobral. Murah, tiga lampu hanya sekitar tiga puluh ribu rupiah sahaja. Ini kabar bagus, hemat energi dengan harga yang terjangkau. Lalu pergilah saya ke sana naik metro. Beli lampu satu lusin. Rencananya untuk dipakai pada rumah kontrakan baru yang saat ini masih menggantung situasinya. Maksudnya menggantung, tidak tahu apakah bisa dapat atau tidak. Moga-moga sih dapat. Sebab tidak tahu lagi mau tinggal di mana. Namun dapat atau tidak kontrakan baru, toh saya sudah punya lampu.

Pulang beli lampu sudah malam. Seduh teh sambil melihat televisi. Bukan menonton. Melainkan melihat. Itu televisi tidak menyala. Saya biarkan mati dan menatap refleksi badan saya di tabungnya yang berwarna kelabu gelap. Narsis? Entahlah. Saya sendiri hanya melihat semacam silhoutte kelabu di sana. Tidak ada keinginan untuk mengagumi maupun mengasihani diri sendiri. Hanya sekedar melihat refleksi. Itu saya ada di sana. Di tabung itu. Kecil. Kelabu. Terdistorsi. Itu refleksi saya. Apa adanya.

Belum jam sepuluh saya sudah berangkat tidur. Sebab harus berangkat ke pabrik pagi-pagi untuk memburuh. Terima nasib. Yaa memang begini nasib buruh kecil. Berangkat pagi pulang malam. Kalau belanja, pun menunggu obral. Kalau masak atau makan, yaa di irit-irit. Hidup sederhana bukan gara-gara gaya, melainkan memang sudah tuntutan. Maka itu saya selalu kagum pada mereka yang mampu hidup luar biasa namun memilih untuk sederhana. Jadi kaya itu susah. Tapi lebih susah lagi untuk tetap sederhana ketika sudah kaya. Maka ketika ada yang memilih bisa sederhana di masa jaya, buat saya ia luar biasa. Sebelum tidur selamanya nanti, saya selalu berharap bisa bertemu manusia semacam itu.

Pagi-pagi bangun. Memenuhi panggilan alam menuju kamar kecil. Baca-baca sejenak. Lalu lagi-lagi seduh teh. Duduk sebentar melihat prakiraan cuaca di langit. Penting. Sebab harus memutuskan apakah pergi bersepeda atau tidak. Kalau kata prakiraan cuaca akan hujan, yaa lebih baik jalan kaki ke halte bus terdekat. Dari sana, menuju stasiun kereta yang walaupun gerbongnya penuh manusia namun tujuannya langsung menuju pabrik tempat bekerja.

Masuk kerja di pabrik pun semuanya berjalan biasa-biasa saja. Tidak lamban tidak pula terburu. Hanya hari ini sedikit berbeda. Pak Ali mandor saya pamitan. Katanya mau pulang kampung. Penggantinya Bek Hasim. Sama-sama orang sekampung Pak Ali. Kalau kata orang Cirebon, sedulur. Sedih campur kagum. Hampir tiga tahun saya ikut Pak Ali, akrab. Wah hebat orang kampung mereka. Semuanya jadi mandor bos. Moga-moga ada orang sekampung saya nanti juga bisa jadi mandor. Kan bangga juga saya kalau ada orang sekampung yang jadi mandor. Walaupun saya sendiri tidak jadi mandor, tapi yaah kok bisa bahagia kalau ada orang sekampung yang bisa dapat kerja yang bagus? Syukur-syukur kalau bisa membantu teman-teman sekampungnya kan lebih bagus lagi. Eh tapi, jangan-jangan itu kan nepotisme. Memasukkan sedulur dalam lingkar profesional. Aduh kalau tidak kompeten, jangan lah. Salah-salah, malah bikin dosa. Seperti PSSI. Ealah loh kok saya jadi melantur ke dosa? Kan saya tidak sedang menulis kitab suci, kok omong-omong dosa. Halah. Maap pemirsa. Saya sok tahu. Hehe.

Menjelang siang, di pabrik saya dapat kehormatan. Eh benar, ini saya dapatkan. Tidak saya renggut dengan paksa. Masa sih tega-teganya merenggut kehormatah pabrik? Memangnya saya cowok apaan? (*Hihihi, padahal mah saya cowok murahan*). Saya dapat kehormatan untuk mengambil foto-foto pabrik. Mulai dari barang-barang kecil hingga sekujur badan bangunan. Kenapa saya pikir saya dapat kehormatan? Sebab itu orang-orang kok yaah menurut saja saya paksa ganti baju pakai seragam pabrik. Ada bahkan yang saya minta untuk menyisir dahulu dan patuh menjalankannya. Salah seorang ibu-ibu bahkan berbisik kalau ia pergi ke salon di pagi hari upaya atas nama demi masuk bingkai jendela bidik.

Selesai memotret, balik lagi ke meja produksi. Tekan tombol ini tekan tombol itu, namanya buruh yaa kalau disuruh tekan yaa saya tekan. Enak juga sih. Sesial-sialnya paling juga salah tekan. Selama masih tombol mesin yaa tidak masalah. Walau macet salah pencet, masih bisa diperbaiki. Asal jangan menekan teman. Wah kalau itu ceritanya, gawat deh urusannya.

Pulang malam. Larut. Sudah letih. Tapi untung masih bisa sukur. Masih bisa kerja. Masih diberi tenaga. Masih diberi cara untuk untuk tidak selalu memikirkan masalah-masalah yang tengah melanda. Sukur. Sebab sesusah-susahnya hidup saat ini, ternyata masih bisa menyeruput teh. Nikmat euy.

Itu kabar saya. Biasa saja.

Bagaimana kabar Anda?


Hidup Apa Yang Sia-Sia?

Life is very short, and there’s no time
For fussing and fighting, my friend.

(WE CAN WORK IT OUT – The Beatles 1965)

Tadi malam, saya di sapa seorang sahabat “Mana tulisan terbarunya?”

Saya, seperti biasa. Hanya cengar-cengir menjawabnya. Jadi ingat kalau ketemu beberapa client yang sudah bertahun-tahun jadi langganan. Semuanya pasti bertanya, “Mana portfolio barunya?”. Pun jawabannya sama, cengar-cengir saja.

Tadi malam saya menonton film The American. Bintang utamanya George Cloney dan seorang aktris wanita Italia yang rambut kemaluannya terlihat lucu. Dalam film itu, George walaupun mengaku fotografer seniman, ia adalah seorang yang mengerti jalannya mekanis dan menyukai mesin (ceritanya, si George adalah ahli senjata pembunuh khusus untuk penembak jitu). Teman George, seorang pendeta akhirnya pada suatu hari bilang, “Tangan kamu, tangan mekanik. Bukan tangan seniman”

Secara eksplisit sang pendeta berkata bahwa orang-orang yang dianugrahi kelebihan mekanis, adalah berkah ketika dibutuhkan untuk memperbaiki mesin, organ atau apapun yang berjalan secara mekanikal. Sementara tangan seniman, adalah implementatif sekaligus eksekutor terhadap kepekaan seseorang terhadap apa yang ia rasakan.

Habis menonton film itu, saya lihat tangan saya sendiri. Membuka semua jari-jari membentangkannya di hadapan muka. Dalam hati bertanya, ini tangan mekanis apa tangan seniman? Lah, gimana kalo saya tidak punya tangan? Bagaimana cara mendefiniskan kepekaan atau keahlian?

Saya lantas juga bertanya dalam hati, gimana yah kalau orang yang tangannya suka jawil-jawil iseng pantat orang lain tanpa tahu diri. Itu masuk kategori tangan apa?

Lebih lanjut lagi, saya bahkan bertanya tentang tangan-tangan orang yang suka menadahkan tangan. Apa pernah ada riset mengenai tipikal tangan orang yang suka meminta atau bahkan ada riset mengenai tangan manusia yang suka memberi? Apakah garis-garis pada telapak mereka mempunyai kemiripan? Apakah jari, kotoran kuku, pergelangan dan sebagainya milik tangan mereka punya semacam benang merah? Sebuah persamaan?

Waduh saya kebanyakan mikir.

Lebih baik konsentrasi ke jawaban pertanyaan teman saya. Kenapa saya tidak begitu banyak menulis lagi sekarang.

Iya, kenapa yah? Saya juga bingung?

Wah, jawab apa dong?

Tidak mungkin saya jawab, “Gua cuman mau menulis yang bagus-bagus aja”. Apa itu maksudnya? Absurd. Tidak mungkin saya memberikan jawaban absurd. Sebab saya terlalu malas untuk ditanya lebih lanjut dengan pertanyaan yang lebih mengerikan.

Tangan punya. Mata punya. Minimal dikit-dikit, bisa lah baca tulis. Tapi kok tidak ada tulisan baru. Itu pertanyaan sahabat saya yang baik.

Alih-alih menjawab, saya malah curhat. Halah. Biasa lah, ini trik saya cari alasan. Hehe.

Saya bilang sama dia kalau hidup saya sejak enam bulan ini seperti sirkus. Berusaha sekuat dan selihai mungkin terlihat senyum dihadapan lampu sorot dan penonton. Menunggu tepuk tangan demi keping-keping logam untuk sekedar bertahan hidup.

Ia mengerutkan kening, “Sirkus?”

Saya meralat, “Errg… Mungkin gulat kali yang lebih cocok”

“Gulat? Gulat ama siapa?”

“Ama nasib”

Ia semakin mengerutkan kening, “Apa hubungannya dengan menulis?”

“Di akhir hari, udah terlalu capek untuk menulis”

Kerut alisnya hilang, “Ini alesan?”

Saya senyum, menjawab “Iya” dengan hambar.

“Iya maksudnya apa? Alesannya? Apa capeknya? Atau nggak ada tulisannya”

Saya mengangguk menjawab, “Semuanya”

“Tau cerita Saiweng Shima Yanzhi Feifu?”

Saya yang tadinya lemas dengan bahu tertekuk ke bawah menatapnya penuh selidik, “Nggak. Apaan tuh, Sampeng Tahu? Makanan?”

“Saiweng Shima Yanzhi Feifu itu ungkapan dari China kuna. Sebuah idiom yang berangkat dari legenda”

“Emang lu orang Cina? Coba ngomong bahasa Cina? Penampakan lu aja kali Cina tapi paspor kita kan sama, burung garuda. Lu aja lebih indonesia daripada gua. Lu tuh apal pancasila dan UUD45, men. Gua mah boro-boro apal begituan”

“Lu cerewet amat sih, Rip. Mao gua ceritain ga?”

Saya diam. Mengangguk kalem dan mulai menyeruput sambil membuka telinga.

Begini ceritanya:

Selama Dinasti Han pada abad ketiga sebelum Masehi hidup seorang tua di perbatasan China bernama Sai Weng. Pada suatu hari ia kehilangan kudanya. Tetangganya semua mengasihani kesialannya, dan bersimpati dengan orang tua itu. Tapi Sai Weng mengatakan: “Mungkin kehilangan kuda bukan sebuah kesialan seperti yang kita sangka”

Pada hari berikutnya kuda orang tua itu kembali, bersama dengan kuda betina indah di sampingnya. Semua tetangga berseru: “Wah beruntung sekali kamu Sai Weng!” Tetapi orang tua itu menjawab: “Mungkin ini bukan sebuah keberuntungan baik seperti yang kita sangka”

Orang tua itu punya seorang anak muda yang cakap. Anak ini menyukai kuda betina baru dan mengendarainya setiap hari. Suatu hari kuda betina ini dikejutkan oleh binatang liar dan melemparkan anak itu dari punggungnya. Hingga kakinya patah sangat parah dan lumpuh permanen.

Semua tetangga Sai Weng mengatakan: “Oh benar-benar tragedi! Anak kamu tidak akan pernah berjalan tanpa rasa sakit lagi”. Tetapi orang tua itu lagi-lagi berkata: “Mungkin ini bukan hal yang buruk”

Dan begitu seterusnya ketika tahun baru datang, tentara kaisar melewati daerah mereka dan merekrut semua pemuda yang terlihat sehat agar ikut dalam perang di perbatasan kota. Karena anak orang tua itu lumpuh ia tidak bisa ikut perang dan ditinggalkan di desa untuk bertani dengan ayahnya. Sai Weng berkata kepada tetangganya: “Anda lihat, semuanya ternyata baik-baik saja pada akhirnya. Menjadi terlempar dari kuda dan patah kakinya menyelamatkan anak saya dari pertempuran dalam perang dan hampir mati. Jadi apa yang kita sangka tidak begitu manis di awal, belum tentu akan berakhir dengan pahit”

Maka katanya, setiap kali hal yang buruk terjadi di China, seseorang akan mengatakan “Sai Weng Shi Ma” (Ingat “Orang tua dengan kudanya yang hilang”) untuk mengingatkan diri sendiri dan orang lain bahwa ternyata hal-hal buruk terkadang memiliki lapisan baik yang belum tentu terlihat pada saat itu juga.

Ia menatap saya yang bengong mendengar ceritanya, “Lu kok bengong aja, Rip? Lu ngerti ga? Di Indonesia, barangkali namanya ‘habis gelap terbitlah terang’. Mirip judul buku ibu kita Kartini”

Saya garuk-garuk kepala, “Maap men. Gua ini pragmatis. Gua bener-bener nggak ngerti lah idiom-idioman. Jangankan dongeng rakyat China, dongengan emak gua aja kadang gua nggak ngerti”

Dia diam saja. Senyum. Kami menikmati teh malam itu. Melihat butir salju yang turun dengan derasnya di halaman belakang menimpa.

Dari radio terdengar band asal Inggris The Beatles menyanyikan lagu mereka yang berjudul We can Work it Out.

Kata mereka, “Hidup terlalu singkat untuk disia-siakan”

Saya meliriknya sebentar. Ia senyum sambil menyeruput teh panasnya.