Archive for the 'html' Category

Memilih Framework Open Source Yang Tepat (Kursus HTML Online)

jquery logo bangaip imageMaaf sebelumnya. Saya cuma mau cerita sedikit soal pembangunan aplikasi web berbasis HTML (termasuk didalamnya CSS dan JavaScript dan ikut-ikutan pula konco-konco dari JSP serta JSF) di sini. Bukan mau memberi kursus online. Hehe.

Sepagian ini saya GR (Gede Rasa) banget. Saya baru saja dapat input yang bagus dari team kami di US dan di Jerman. Dan pada utamanya, ini memang cerita soal kegeeran saya. Hehehe.

Risk Management Factor

Pertama dari US. Pendapat saya menggunakan JQuery sebagai framework dalam membangun aplikasi web sejalan HTML ternyata mendapat tantangan luar biasa keras.

Beberapa junior developer bahkan tidak pernah memakai JQuery, apalagi mendengarnya (*Dalam hati saya bilang “Buset kemana aja ente, Say!”*). Beberapa senior developer menentangnya karena sifat JavaScript yang ‘buggy’ ketika dieksekusi peramban internet.

Salah seorang bosnya senior developer malah berkata bahwa aplikasi yang kami bangun (tidak perlu disebutkan namanya) jauh lebih baik ketimbang memakai JQuery (atau memakai framework berbasis JavaScript lainnya sebab kami sudah menggunakan aplikasi ini sejak musim panas tahun lalu).

Namun untung saja saya dibelain. Hehe, untunglah. Sebab kalo nggak, saya dimusuhin. Hihi.

Beberapa orang memilih JQuery karena sifatnya:

  • Open source (jadi kode sumbernya bisa kita dapatkan dan kita utak-atik sesuai dengan standarisasi yang akan kita bangun. Terutama dalam membangun plugin yang cocok untuk membantu perkembangan bisnis)
  • Big players also do JQuery. Saya tidak perlu menyebut nama para pemain lama di dunia branding dan developing web itu (sebab akan jadi perdebatan publik nantinya soal pemilihan kalimat ‘Big Players’) namun banyak situs yang bersifat corporate dan pemerintahan menggunakan JQuery sebagai salah satu framework pembangunan situs mereka. Ketika Big Players memilih JQuery, mereka pasti sudah lebih memikirkannya matang-matang daripada kami. Dan saya yakin mereka tidak gegabah menggunakan sembarang framework.
  • Aplikasi berbasis web awal yang kami bangun berjalan dengan baik di Internet Explorer 6 (yang sialnya masih saja digunakan oleh 16% manusia di muka bumi untuk mengakses aplikasi yang kami bangun, padahal itu browser abal-abal). Namun sampai kapan? Sebab ketika IE6 musnah, artinya akan ada lagi sumber daya yang akan digunakan untuk memodifikasi aplikasi ini. Dan pikirkan saja tenaga, biaya, waktu, SDM, mesin dan bla-bla-bla lainnya yang akan keluar hanya karena mempertahankan aplikasi yang bisa jadi akan out of date dalam jangka waktu sebentar saja. Maka itu standarisasi menjadi penting. Dan JQuery kelihatannya mampu mengadaptasi standarisasi.

Memilih JQuery sebagai bahan pendapat dan melemparkannya pada beberapa team lokal dan internasional, sebenarnya hanyalah kebetulan saja. Saya cukup kaget ketika melihat beberapa aplikasi yang kami bangun (dan masih akan dibangun) ternyata sudah diadaptasi oleh JQuery. Loh kalau sudah ada yang open source dan supportnya banyak, ngapain susah payah membangun aplikasi yang benar-benar dari awal? Bukankah itu tidak efisien? Maka itu saya melemparkan isu JQuery agar bisa diadopsi oleh kebijakan team.

Beberapa orang cukup kaget ketika saya melemparkan ide untuk menggunakan framework JQuery dalam membangun aplikasi berbasis web. Ini disebabkan oleh edukasi mereka yang sudah sedemikian baik sehingga selalu berfikir mengenai faktor menata resiko yang ditimbulkan oleh sebuah perangkat lunak/keras dan kemungkinannya di masa depan.

Saya belajar sesuatu dari reaksi penolakan keras itu. Saya belajar bahwa kadang-kadang kita harus imbang dalam hidup. Jangan mentang-mentang gratis maka sebuah hal adalah baik. Namun harus dipikirkan baik-baik kemaslahatannya untuk orang banyak di masa depan. Begitupula sama dengan aplikasi komputer yang akan melibatkan banyak perut manusia.

Namun dari penolakan ini, saya mampu melihat bahwa beberapa orang dimana saya bekerja dekat dengan baik sehari-hari, adalah ahli dibidangnya dan selalu melakukan riset dan cross check sebelum melontarkan pendapat mereka di depan publik (meskipun publik itu ternyata adalah teman-teman dekatnya sendiri).

Sampai saat ini, belum ada hasilnya antara pendukung JQuery dengan penentangnya. Siapa yang lebih unggul atau siapa yang akan tersingkir. Tapi saya bangga, mampu membawa topik diskusi yang sehat dan baik yang bukan saja hanya berguna untuk saya pribadi, namun juga untuk rekan se-tim kami. (*Hehe, ge-er banget saya nih.*)

Apapun hasilnya, saya jadi ingat lagu Bang Iwan Fals dalam lagu Seperti Matahari, “Tujuan bukan utama. Yang utama adalah prosesnya”. Sebab apapun hasil dari diskusi hangat antara penggunaan JQuery atau tidak, akan sangat berguna buat kelangsungan hidup banyak kami di kemudian hari nanti yang menggantungkan hidup dari HTML dan konco-konconya :) .

Semuanya Pasti Possible Kalau Ikhlas

Seorang perempuan muda, berusia akhir 20-an datang ke kantor kami jauh sebelum saya tiba. Edukasi formal yang dienyamnya, membuat ia memiliki kadar ijasah yang lebih tinggi daripada milik saya. Simpel kata, ia walaupun muda namun lebih tinggi garis hierarkisnya daripada saya.

Sejak dua tahun lalu, ia memutuskan untuk mengambil alih pekerjaan membangun aplikasi web sejak webmaster kami menikah dan hijrah ke negeri lain. Sambil benar-benar buta dan sambil mengerjakan pekerjaan utama yang tidak kalah meletihkan sebagai associate marketing director, ia membangun aplikasi web berbasis HTML,CSS dan JSP. Belajar sambil melakukannya. Bahasa bulenya, learning by doing.

Dulu suatu hari, ia datang kepada saya. Meminta mesin virtual, agar kami bisa bekerja sama-sama. Banyak anggota rekan kami yang menentangnya. Maklum, memutuskan untuk membangun mesin virtual baru itu artinya butuh waktu tambahan untuk memaintainnya. Dan waktu itu selalu amat berharga di antara kami yang super sibuk.

Entah kenapa… Saya membelanya. Saya tahu dia buta kode script pemrograman. Saya tahu dia tidak tahu apa-apa soal HTML. Bahkan saya tahu dia pasti akan sangat super sibuk dalam hidupnya. Namun entah kenapa, masih saja saya bela.

Dengan cueknya saya meminta team IT untuk melakukan setting terhadap mesin virtualnya. Dengan cueknya, saya meminta jatah tambahan pada atasan saya untuk memposkan bujet khusus untuk dia. Padahal kami berdua hanya kenal melalui email belaka dan belum pernah bertatap muka.

Entah kenapa?

Dua tahun kami lalui dengan capek. Dia mati-matian belajar HTML. Kadang-kadang saya pun pulang telat kerja sebab harus memberikan panduan semacam kursus kilat secara online kepadanya mengenai HTML. Saya garuk-garuk kepala sambil gigit jari-jari sambil membersihkan, menstandarisasi script-script yang ia buat dan kirimkan sebelum diterjunkan pada deployment worldwide.

Dan itu terjadi selama dua tahun.

Dua tahun berlalu sudah. Dan tadi pagi saya dikejutkan oleh kenyataan bahwa semua script XHTML dan JavaScript yang ia tulis benar-benar bersih, nyaman di baca dan memiliki standar tinggi.

Saking senangnya, saya tulis email kepada beliau sambil memuji tampilan dan script aplikasi yang ia buat.

Tidak lama kemudian email itu ia balas. Jawabannya membuat saya tertegun. Dia bilang, “my work would never be possible without your detailed feedback and instructions. You’re a good trainer ;-)

Kalimatnya simpel. Tapi membuat saya lumayan terharu. Sekaligus bangga. Seorang perempuan muda cantik menarik namun well educated, memuji saya setinggi langit.

Ahhh, jadi ge-er saya, nih… :D

(*Biarkanlah saya sejenak untuk menikmati kegeeran dan sensasi culun sesaat pada sore hari yang hangat ini. Sebab jarang sih dapet yang kayak ginian. Hehe*)

Memahami Dasar CSS versi Lie

foto Håkon Wium LieSaya telat, baru baca tesisnya Håkon Wium Lie. Ini tesis keren sekali. Judulnya Cascading Style Sheets. Iya benar, CSS. Asal mula dan bagaimana terbentuknya CSS ada di sini.

Kenapa telat?

Nggak, saya nggak begitu telat. Saya sudah baca bukunya Lie yang edisi pertama Cascading Style Sheets: Designing for the Web. Buku ini penting buat awal-awal perkembangan membuat sketsa design dan menentukan arsitektural website. Buku ini memang implementasi dari tesisnya Lie.

Loh jadi kenapa telat?

Iya, saya telat tahu kalau buku itu punya versi html dan pdf nya yang bisa dibaca gratis. Kalau tahu begini mah, ngapain juga dulu maksa-maksa kantor beliin buku itu. Hahaha. Mungkin gara-gara saya nggak mau rugi kali yaah. Hahaha.

Untuk teman-teman yang berminat membaca tesisnya Lie, silahkan ke link berikut ini:
HTML: http://people.opera.com/howcome/2006/phd/
PDF: http://people.opera.com/howcome/2006/phd/css.pdf

Lebih lanjut mengenai Lie yang juga bosnya Opera (yang internet browser, bukan yang nyanyi)… Berikut ini kutipan beliau mengenai dirinya sendirinya:

“So, somewhat by accident, I was the first person to type the now ubiquitous string “HTML 3.2” into a computer. A few small key strokes for a man, a giant leap for the web.”

HTML Romantis

Beberapa orang pengunjung kelas awal HTML yang saya (tanpa sengaja) buka seringkali bertanya, “HTML apa yang cocok untuk saya?”

Ini pertanyaan yang lucu. Tapi tentu saja tidak lucu buat si penanya. Maka ketika ada yang bertanya hal tersebut, saya berusaha untuk tidak tersenyum.

Buat beberapa orang, HTML itu adalah bahasa yang serius. Beberapa dari mereka memang akan memilih jalur sebagai arsitek pembangun, pengembang aplikasi, disainer front-end, hingga insinyur khusus tampilan (User Interfece). Semua itu, adalah profesi yang serius. Sebagaimana seriusnya profesi lainnya di muka bumi. Sebelum memutuskan untuk memilih jenis profesi, si penanya pasti sudah mati-matian memikirkan mengenai kelanjutan hidupnya di masa depan. Terutama dengan HTML.

Maka itu saya berusaha untuk tidak tersenyum. Melainkan bertanya balik dengan ramah, “Ada apa memangnya? Kan belajar itu baik? Apa saja bentuknya, HTML itu baik untuk dasar pelajaran kamu”

Beberapa orang pemula, akibat-teramat-pusing-sekaligus-stress biasanya sudah mulai gugup ketika akan memulai belajar bahasa markah HTML. Tidak tahu mana yang akan ia pilih. Apakah HTML, ataukah XHTML, atau DHTML, atau XML atau malah CSS. Bahkan beberapa orang bahkan sudah memilih akan belajar langsung JQuery, AJAX, JavaScript OOP atau DOM berbasis HTML.

Kasihan…

Setidaknya, saya kasihan pada mereka.

Beberapa orang loncat ke HTML dengan serta merta karena pada saat ini (2010 dan ke depan ketika HTML 5 sudah di terima seluruh perambah internet), lapangan pekerjaan buat sektor yang menjadikan bahasa HTML sebagai basis pengembangan memang amat menggiurkan. Tiga dari sepuluh pekerjaan dengan bayaran (per jam) terbesar di Amerika Serikat bahkan mensyaratkan kandidatnya untuk mengetahui HTML dengan baik.

Jadi, para penanya itu, dengan banyak ekspektasi sering tanpa sadar bertanya secara explisit “Saya mau belajar HTML. Saya mau naik gaji. HTML mana yang bisa membuat saya bergaji tinggi?”

Saya cengar-cengir menjawabnya.

Biasanya saya jawab “Dulu… Duluuu… Saya belajar HTML dengan cara… ”

Biasanya mereka tidak mau dengar cerita saya. Mungkin karena cerita saya terlalu kemayu. Tidak gagah atau jantan. Bahkan sama sekali tidak terdengar seperti ambisi naik gaji.

Saya pun tahu diri. Sebab mana ada orang yang mau mendengar bahwa saya belajar bahasa-bahasa mesin hanya karena patah hati dua belas tahun lalu. Alih-alih bunuh diri, saya malah pergi ke toko buku. Pulang membawa setumpuk buku pemrograman. Lantas mengurung diri berbulan-bulan dalam kamar bersama komputer. Karena tidak pandai menulis puisi, mencoba mengubur sakitnya romantisme masa muda dengan membuat film animasi cinta pada halaman HTML berbasis applet Java .

Ahh itu cerita yang bodoh. Tidak ada yang mau mendengarnya :)

Biasanya, jika ada yang bertanya apa HTML yang cocok untuknya, entah kenapa saya tiba-tiba berasa jadi bapak-bapak. Sebab selalu menjawab, “Kamu maunya jadi apa? Jadi arsitek, jadi developer, jadi enginer, jadi disainer… Jadi apa?”

Bukan menjawab pertanyaan, e-eh malah nanya balik. Hehe.

Kalau mau belajar HTML yang cepat, sebaiknya memang sudah tahu mau diapakan keahlian HTML itu. Sebab sekarang banyak modul di internet yang dengan mudah bisa dibaca dengan cepat sesuai dengan keinginan.

Lebih baik belajar HTML daripada patah hati. Hihihi

HTML Dasar > II – Sejarah HTML

Mengapa perlu belajar HTML?

Hehe. Sebenarnya tidak perlu sih. Tapi dengan belajar sejarahnya, minimal tahu kenapa bahasa ini muncul di muka bumi. Kata Bob Marley raja musik reggae, “If you know your history then you would know where you coming from“.

Mari kita mulai pelajaran sejarah HTML ini.

Siapa yang menemukan HTML?

Foto Tim Burner Lee penemu HTMLTim Burner Lee (nama lengkap dan jabatannya “Sir Timothy John “Tim” Berners-Lee, OM, KBE, FRS, FREng, FRSA”. Panjang amat yah). Insinyur ahli fisika dari Inggris. Yang pada tahun 1980 dikontrak kerja oleh CERN, badan riset nuklir Eropa. Tahun itu ia bekerja dengan seorang insinyur informatika Belgia bernama Robert Cailliau dan seorang mahasiswa. Suatu hari di tahun 1989 mereka kebingungan bagaimana cara saling membagi informasi antar mereka sendiri dengan cara yang cepat dan mudah. Maklum, tiga-tiganya semua orang sibuk. Karena masing-masing pintar, jadilah mereka membuat halaman yang bisa di akses oleh ketiga orang ini. Tidak lama kemudian, mereka sadar bahwa halaman dengan link/pranala ini ternyata bisa diakses oleh siapa saja asal tahu cara membuat dokumen web itu. Cara membuat dokumen web itu memakai bahasa bernama HTML. (*Saat itu pula tercetus sistem World Wide Web atau dikenal dengan www*)

Mengapa membuat HTML?

Sudah dibilang diatas, bahwa guna awalnya adalah membuat halaman yang memakai link atau pranala luar (yang kemudian dikenal juga sebagai hyperlink, sebab mampu membuka berbagai jenis dokumen. Tidak hanya dokumen berjenis teks saja, tapi juga dokumen gambar, multimedia dan sebagainya).

Namun pada intinya, HTML adalah bahasa markah. Bahasa markah adalah bahasa dimana kalimatnya harus mempunyai pendukung. Sebagai bahasa markah, HTML belum mampu mengerjakan semua kebutuhan manusia di muka bumi. Namun cukup mampu dalam menampilkan halaman-halaman website.

Jelaskan rentang pertumbuhan HTML?

Pertanyaan yang menarik. Tapi kalau tidak di jelaskan dengan illustrasi waktu mungkin agak susah. Mari, ini saya coba pakai contoh di bawah ini dalam memulainya.

  • 1980 - Tim masuk CERN
  • 1989 - membuat cikal bakal HTML, namanya HTML+
  • 1992 - Dua orang pemuda bernama Marc Andreessen dan Eric Bina membuat perambah internet pertama bernama Mosaic. Umur Eric saat itu 28 tahun. Sementara Marc berusia 21 tahun.
  • 1995 - HTML versi kedua bernama HTML2 di buat. Sudah ada pikiran bahwa bahasa ini pasti akan dipergunakan oleh orang seluruh dunia. Maka itu dibuatlah internasionalisasinya (i18n dan l10n)
  • 1997 – HTML3.2 muncul. Orang-orang membuat standarisasi agar lebih mudah dipahami di masa mendatang. Selain itu, bahasa HTML versi ini sudah mendukung penulisan rumus matematika. Beberapa bulan kemudian di tahun ini HTML4 muncul. Lebih bagus, lebih mudah transisinya di masa depan, dan lebih jelas strukturnya.
  • 1999 - HTML versi terbaru 4.01 muncul. Tapi tidak begitu banyak berbeda dengan pendahulunya.
  • 2000 - Penggabungan antara bahasa XML dengan HTML agar lebih menarik dan memudahkan website mulai diprediksi di masa depan. Namanya XHTML.
  • 2008 - HTML 4.01 dan ISO/IEC 15445:2000 (Organisasi Internasional untuk Standardisasi penyetaraan dokumen dalam memproses bahasa) adalah perkembangan terakhir yang stabil. Di sisi lain, tahun ini telah dimulai pengembangan HTML5, versi terbaru HTML.

Sampai di sini, mengerti?

Kalau tidak mengerti silahkan acungkan jari, tanya :)

HTML Dasar > I – Apa Itu HTML

HTML singkatan dari hypertext markup language. HTML adalah bahasa markah, yaitu bahasa yang mengkombinasikan teks beserta pendukungnya.

Awalnya, bahasa markah digunakan dalam industri penerbitan untuk komunikasi karya cetak antara pengarang, editor, dan pencetak. Sementara HTML adalah bahasa yang digunakan pada awalnya untuk menampilkan laman pada website internet.

Apa guna HTML:

  • Membuat sebuah halaman web
  • Menampilkan berbagai informasi di dalam sebuah perambah web Internet (seperti Firefox, Internet Explorer, Safari, Opera, Chrome, dan lain-lain)
  • Menulis berkas dalam format khusus (ASCII) agar menghasilkan tampilan yang diinginkan pembuat berkas

Bagaimana cara dokumen HTML bekerja di komputer lokal:

  • Perintah ditulis oleh pengembang HTML di atas pengedit berkas (text editor, seperti notepad atau gedit atau apalah namanya)
  • Dokumen yang berisi perintah itu di simpan dengan nama yang baik. Misalnya file bernama ‘dokumen_saya.html’ lebih baik daripada file bernama ‘Dokumen saya.html’. Sebab spasi antara kata ‘dokumen’ dan ‘saya’ akan diterjemahkan menjadi bentuk khusus dalam perambah internet
  • Dokumen yang sudah di simpan itu dibuka pada perambah internet. (*Gimana cara bukanya? Tekan tombol Ctrl dan huruf ‘o’ secara bersamaan pada keyboard. Gampang atuh*)

Apa yang dapat kita lakukan dengan HTML?

  • Menentukan struktur dokumen. Misalnya judul dokumen atau membuat elemen-elemen dokumen.
  • Memformat teks
  • Membuat daftar urut
  • Membuat tabel
  • Menampilkan gambar
  • Membuat link atau pranala menuju halaman dokumen/gambar/video lain
  • Membuat formulir
  • Membuat frame

Mengapa perlu belajar HTML?

Jawab: Hehe, sebenernya nggak perlu sih. Kalau anda berniat terjun dalam dunia pembangunan website, seperti membangun laman web, menyusun arsitektur site, menjadi disainer web, atau membuat aplikasi yang berbasis web, maka ada baiknya belajar HTML. HTML mampu menjadi basis yang baik dalam membangun karir di dunia seputar website.

Belajar HTML juga lebih baik daripada kecanduan judi, narkoba atau mengintip tetangga mandi (*Haha, kalo yang terakhir ini jelas pendapat pribadi. Hihihi*)

Kursus HTML untuk Ibu-Ibu Senior

Saya baru saja memberikan kursus sejenak (iya, dinamakan sejenak karena hanya sekitar 32 menit) kepada ibu-ibu.

Kursus ini cukup luar biasa buat saya, sebab:

  • Untuk mengadakan kursus ini, kami sudah harus membuat janji di sela-sela waktu yang ada. Dan mencari waktu yang kosong antara saya dan ibu-ibu ini memang susah sekali. Jadi setelah 1 tahun mengendap, kursus ini baru terealisasi.
  • Akibat semua peserta dan pemberi materi adalah manusia yang agak tipikal tingkat kesibukannya tinggi (sebab semuanya sudah berkeluarga, hehe) jadi waktu 1 tahun itu banyak habis untuk mencari kelengkapan birokrasi dan bla-bla-bla sebagainya.
  • Pesertanya kebanyakan ibu-ibu yang sudah berusia 45 tahun ke atas (senior dalam usia). Diantaranya malah ada yang sudah punya cucu :)
  • Kursus ini adalah kursus HTML. Targetnya, agar para ibu-ibu itu mampu membuat newsletter atau email berbasis HTML.
  • Mereka ikut kursus karena mereka mau memiliki ilmu lebih banyak dan lebih baik sehingga bisa improvisasi diri.
  • Kursus yang dijadwalkan setiap jumat pagi ini niatannya adalah sekitar 1 jam penuh. Namun karena antusias dan daya tangkap yang baik dari para peserta, mampu selesai dari setengahnya saja.

Begitu selesai, saya langsung posting ini untuk menyatakan rasa kekaguman.

Salut saya sama ibu-ibu ini. Walaupun sudah berumur dan punya banyak tanggung-jawab di rumah maupun di kantor, masih saja tetap mau belajar. Nampaknya saya harus mencontoh mereka.

Apa yang saya berikan hari ini sebagai materi kursus HTML adalah:

  1. Apa itu server, localhost dan webserver
  2. Apa itu File Transfer, FTP client, FTP server, scripts dan tags dan bagaimana mendapatkan FTP client yang baik, lintas platform sistem operasi dan gratis (saya rekomendasikan Cross FTP)
  3. Apa itu browser, browser yang baik untuk test dan browser apa yang kuat di pasaran wilayah pasar kami
  4. Apa itu HTML dan pernik-pernik yang menyertainya. Tidak lupa sedikit memberitahu mengenai kegunaan HTML 5 di masa depan
  5. Belajar menulis “Hello World” dan menjelaskan fungsi tag yang ada di dalamnya
  6. Mengenalkan basis style paragraf

Hasilnya lumayan. Mereka semua bisa membuat halaman ‘Hello World’, transfer data via FTP di localhost dan test crossing browser pakai IE6, IE7, Firefox dan Safari.

Not bad at all…

Pagi ini, walaupun sarapan cuma dengan pisang dan tomat kecil-kecil. Saya bangga sama mereka dan juga pada diri saya :D

HTML 5 Yang Seksi

HTML 5 lumayan jadi topik yang menarik buat saya akhir-akhir ini. Sebab akan menghandle project yang akan berjalan selama 30 bulan. Kalau ini dimulai awal 2010, maka akan selesai sekitar 2013. Dan pada tahun tersebut, HTML 5 sudah matang dan diperkenalkan publik.

HTML 5 sendiri sudah jadi perbincangan team sejak akhir musim gugur tahun lalu (2009). Tapi karena ada topik lain yang prioritasnya lebih tinggi, jadi terpinggirkan sedikit.

Rabu lalu, muncul kembali. Ahh, refresh otak sebentar dengan menulis euy.

Apa itu sebenarnya HTML 5?

Yaa HTML 5 adalah penerus HTML 4, sebelumnya. HTML 4 sendiri pada saat tulisan ini dibuat laboratorium bangaip, adalah bahasa Markup Hypertext yang berlaku.

Siapa yang mengembangkan HTML 5?

Manusia di Web Hypertext Application Technology Working Group (WHATWG) yang bikin. Awalnya tahun 2004. Yang pasti, sumpah bukan saya.

Mengapa harus ada HTML5?

Ini jawaban yang paling canggih dari WHATWG;

Hehe. Hebat kan? Pada intinya, selain bikin standar maka akan ada pemain baru di pasar open-source untuk RIA.

Apa bedanya HTML 5 dengan HTML 4.01/XHTML 1.X?

  • Parsing yang lebih flexibel. Tidak terlalu menurut pada SGML. Jadi kira-kira, kita bisa character_sensitive begitu deh.
  • Bisa bikin inline SVG. Ini jelas canggih. Sebab biasanya cuma XHTML yang bisa begini.
  • Atribut, tipe dan elemen baru. Sumpah ini bakalan canggih euy. Cek aja langsung ke TKP, gan :) Nih dia linknya
  • Penanganan error yang taktis. Katanya promosinya begini “HTML5 is designed so that old browsers can safely ignore new HTML5 constructs”. (*OMG, akhirnya kita bisa punya kekuatan untuk melenyapkan bully IE6 kepada umat manusia di muka bumi!*)
  • Bisa kustomisasi atribut data dan juga ada tambahan baru di form, yaitu PUT dan DELETE (*biasanya kan GET doang ama POST, trus ngakalin atribut tambahan seperti yaa pake AJAX*)
  • Ada element <audio>, <video> dan support OGG. Oh! I love you full HTML5. Aku sudah bosan untuk embedding param.

Selain itu, nampaknya HTML 5 ini juga akan percaya pada kekuatan CSS lebih banyak. Elemen-elemen macam <font>, <center>, <strike> dan beberapa lainnya akan tidak digunakan lagi. Well, simpelnya kayaknya sih ini akan berpengaruh dari cara kita nulis komen di blog orang. :P

Sudah ada beberapa tulisan mengenai HTML 5 berbahasa Indonesia. Diantaranya adalah di:

Navinot: Apa saja Isi HTML 5?
DailySocial: YouTube dan Vimeo Dukung HTML5, Video Tanpa Flash
Fajar Mubarok: HTML5 (*Cakep nih link. Fajar kayaknya nerjemahin dari wikipedia dengan baik. Lumayan lengkap euy. Makasih Fajar*)
Wahyu Wijanarko: Going to HTML5, Apa Masih Perlu Regulasi?