Archive for the 'hukum' Category

Apabila Pemerintah RI Yang Tidak Ganteng Itu Memblokir Atau Malah Membunuh Internet: Bagian Pertama (1)

Sebenarnya ini pertanyaan yang cukup lama ada di benak saya. Tapi sejak kebangkitan revolusi di beberapa negara di Timur Tengah, pertanyaan ini makin santer saja mengiang di kepala saya.

Saya pikir daripada saya stress sendirian bertanya-tanya. Ada baiknya saya bagi pertanyaan ini kepada publik. Siapa tahu ada yang iseng ikutan jawab. Atau, siapa tahu ada yang ikutan stress. Hehe…

Begini; daripada susah-susah. Lebih baik semua pertanyaannya saya klasifikasi menjadi beberapa bagian.

Bagian Pertama: Pertanyaan Dasar Komunikasi. “Apa yang harus kita lakukan jika pemerintah RI memblokir atau menutup semua jalur komunikasi?”

Komunikasi apa maksudnya?

Tentu saja komunikasi elektronik. Misalnya: telepon, email, radio dan semua yang ada hubungannya dengan jalur eletronik. Tapi mengapa pemerintah menutup jalur komunikasi elektronik?

Bisa saja suatu hari pemerintah ‘agak iseng’ (dan mereka memang sudah terkenal keisengannya) lalu mengeluarkan sebuah kondisi darurat bahaya untuk semua manusia RI dan sialnya selain mengeluarkan jam malam dan status operasi militer mereka juga mengeluarkan larangan berkomunikasi para WNI kepada dunia luar (local or worldwide). Apa yang harus kita lakukan?

Menurut? Sambil bertanya-tanya dalam hati: kenapa mbok yaa ndak menurut saja pada pemerintah, kalau sudah dilarang berkomunikasi mengapa masih mau melanggar?

Kalau Anda mau begitu, yaa silahkan. Kalau menurut saya, jangan! Jangan menurut kalau hak Anda dicabut.

Jawaban satu pertanyaan di atas sekaligus pertanyaan baru: Perkembangan masa membawa perubahan baru. Yaitu bahwa hak dasar manusia bukan hanya sandang pangan papan saja. Melainkan juga komunikasi. Tahun 1969 Jean D’Arcy dari Perancis membawa konsep ini dan lalu dilegalisasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa pada akhir tahun 80-an. Konsepnya sederhana, yaitu bahwa komunikasi berhak dinikmati oleh siapa saja. Maka jika pemerintah, penguasa atau rezim atas nama apapun melarang atau memberangus saluran komunikasi, maka bisa dipastikan bahwa mereka ikut pula menghancurkan hak dasar manusia. Jika sebuah rezim tengah menjalankan politik penghancuran hak dasar warganya, bukankah artinya pemerintahan tersebut sedang lebih dari sekedar ‘agak iseng’?

Jadi jawaban apa yang tepat jika pertanyaannya adalah “Apa yang harus kita lakukan jika pemerintah RI memblokir atau menutup semua jalur komunikasi?” yaa gampang: Lawan!

Bagian Kedua: Saluran Dasar Komunikasi Elektronik Dan Efeknya Pada Pemerintahan

Saluran dasar komunikasi elektronik dalam kategori transmisi terbagi menjadi beberapa macam. Umumnya yang dikenal publik luas adalah kabel, nirkabel dan internet. Itupun dibagi-bagi lagi menjadi semakin luas seperti; telepon, email, sms, fax, radio, unduh, live streaming, dan lain sebagainya. Kalau mau spesifik, kita akan mengenal proses signal seperti enkripsi (penyandian), digitalisasi, multipleksi dan lain-lain. Dan masih banyak lagi pembagiannya. Tapi ini kan bukan wacana kuliah yang perlu spesifik. Saya hanya akan menelaah sedikit dalam kekuatan komunikasi elektronik dan pengaruhnya pada pemerintahan atau rezim yang tengah berkuasa.

Ini contoh-contohnya:

Telepon: Kekuatan penggalangan massa (people power) dalam menuntut pengunduran Presiden Philipine Joseph Estrada tahun 2001 adalah ketika para pemrotes mengirimkan SMS satu sama lain sebagai berikut:

  1. Pakai hitam-hitam untuk melayat demokrasi yang telah mati
  2. Siap-siap jika ada kerusuhan
  3. Militer perlu melihat 1 juta manusia yang mau menurunkan Erap besok. Ayo bergabung!

Hebatnya, SMS ini sukses besar. Setelah lima hari demonstrasi secara kontinyu oleh warga, Erap (panggilan untuk Joseph Estarada) pun akhirnya turun dari singgasananya.

Ahh dia tidak begitu dicintai warga rupanya.

Sisi lain yang cukup negatif. Selain alat penggalangan massa, telepon (terutama telepon genggam) di beberapa negara juga bisa dipakai sebagai sebagai anjing pengendus penguasa. Seseorang dapat dengan amat mudah diketahui posisinya hingga isi ‘daleman’ telepon mereka oleh pihak penyedia telekomunikasi. Setahu saya, saat ini di RI beberapa provider telepon secara diam-diam bahkan diketahui menyuplai data konsumen mereka untuk pemerintah maupun pihak ketiga (misalnya korporasi besar penawar tertinggi) walaupun baru sekedar nama dan nomor. Alasannya beragam, aneh-aneh dan macam-macam mulai dari war on terror hingga kampanye marketing ringtone. Yang pasti semuanya secara pasti telah melanggar wilayah pribadi si pemegang telepon.

Email: Kekuatan email dibanding pos surat kertas dan amplop umumnya terletak pada sisi kecepatan, reliabilitas dan praktis. Sisi lemahnya, tanpa jaringan elektronik maka kekuatan email memang tidak ada apa-apanya.

Pada Januari 2011, Menteri Komunikasi Mesir Tareq Qamal menutup jaringan internet. Sebagai langkah pencegahan munculnya gerakan penentang pemerintah Presiden Mubarrak. Yang menarik, bahkan ketika para penentang Mubarrak bisa memperoleh jaringan internet melalui dial-up modem (yaitu modem jaman dulu yang masih memakai saluran telepon kabel sebagai penghubung dan kata Sahroni teman saya, “bunyinya kayak burung merpati disembelih”) ternyata mereka tidak bisa mengakses web based email service seperti GMail, YahooMail, Hotmail dan lainnya. Ternyata, pemerintah Mesir memblok semua website-website email dan layanan mereka.

Internet mati yaa email juga ikut mati.

Sebelum internet dibunuh pada musim dingin Kairo, setahun sebelumnya, lebih tepatnya Juni 2010, senator Amerika Serikat Joe Lieberman (yang sialnya juga ketua Homeland Security) mengusulkan undang-undang tombol merah untuk internet. You know, semacam tombol yang kalau Presiden Obama (atau penerusnya) pencet maka internet seluruh US akan modar seketika. Yang berarti, layanan macam Twitter, Facebook, Google, iCloud dan bla-bla-bla lainnya yang berbasis di US dan saat ini kita pikir ada di genggaman (ponsel) kita, juga akan mampus seketika tombol itu dipencet.

Sosial Media: Kalau tidak salah, semua layanan sosial media memang berbasis internet. Logika sederhananya; kalau internet mati, yaa sosial media juga mati. Di Korea Selatan dan RRC sudah ada sosial media yang berbasis web intranet (*ini mah basi, pabrik aye juga punya bang*) dan/atau mobile berbasis AR (augmented reality, canggih banget nih service. Sayang masih rahasia pengembangan). Jadi jika internet almarhum, para aktifis sosial media masih bisa berbagi info melalui jaringan telepon.

Banyak bukti yang sudah jelas menunjukkan bahwa Facebook atau Twitter memang bukan pemicu atau sponsor utama pergerakan di dunia Arab (Arab Spring 2011). Jadi, sebenarnya ada tidaknya sosial media di Libya, rakyat sana memang sudah sebal dengan (alm) bos mereka yang bernama Muammar Muhammad Abu Minyar Gaddafi aka Muammar Qaddafi. Revolusi itu tidak bisa hanya berdiri diatas sosial media di dunia maya, ia juga harus didukung oleh pergerakan sosial (atau biasanya malah, massal) di dunia offline. Bukti sudah jelas menunjukkan bahwa untuk menumbangkan Qaddafi memang butuh amunisi, bukan hanya kelincahan jempol mengetik di atas layar sentuh telepon genggam.

Tapi, juga tidak bisa dimungkiri, bahwa kekuatan sosial media internet mempengaruhi jalannya pergerakan sosial fisik yang tengah terjadi.

Suatu malam setelah lelah bertempur seharian, seorang pemuda pejuang dari al-majlis al-wattanī al-intiqālī (NTC, pemerintah transisi pengguling rezim Qaddafi) ditanya oleh stasiun televisi Al-Jazeera, “Apa yang kamu lakukan pada malam begini?”

Ia menjawab santai, “Update status fesbuk, liat share komik lucu dari twitter dan baca-baca wikipedia”.

Sampai sini, dari jawaban si pemuda itu sebenarnya kita sudah bisa menyimpulkan sejauh mana sosial media berperan dalam penggulingan Qaddafi.

Ngomong itu gampang: Lawan! Tapi bagaimana melawannya?!

Di Indonesia, internet belum jadi hak asasi WNI untuk bebas dinikmati. Percaya atau tidak, dalam sebuah dokumen undang-undang RI yang berisi usulan anti terorisme, pemerintah berhak mengintervensi atau bahkan mencabut internet. Bahkan jika itu bukan soal terorisme, malah hanya ketika ‘merongrong keutuhan NKRI’ (yang-entah-apa-maksudnya-oh-betapa-LEMHANAS-bahasanya-RUU-gombal-itu), pemerintah berhak mencabut atau menguasai internet. Di sisi ini, pemerintah negara kita tercinta jauh-jauh lebih inferior ketimbang Nigeria yang sudah memberikan hak penuh warganya untuk menguasai internet.

Secara simpelnya, jika suatu hari presiden kita saat ini SBY dimaki-maki publik lewat internet karena suaranya sudah tidak aduhai lagi ketika mengamen, dan sialnya, presiden yang terkenal ajaib ini mengamuk lalu mencabut internet… Ya sudah deh. Menurut UU anti terorisme dan keutuhan NKRI itu, kita semua yang tinggal di RI tinggal gigit jari manyun harus mengikhlaskan wafatnya internet.

Jadi, apa yang harus kami lakukan?

(*Sabar… Sabar… panduannya banyak di internet. Bisa diterjemahkan oleh saya secara ugal-ugalan. Tapi karena sore ini saya harus beli bumbu dapur buat masak nanti malam, jadi saya belanja dulu dan tunggu saja tulisan selanjutnya. Hehe*)


Bahasa Yang Tidak Sederhana

Begini. Jelasnya ia bilang begini, “bahasa hukum itu tidak bisa sederhana. Ia harus jelas, detil dan pasti” ketika saya bertanya mengapa putusan sebuah kasus di pengadilan dapat mencapai berlembar-lembar kertas A4.

Saya percaya. Lah habis mau bilang apa lagi. Bukan hanya latar belakang teman satu ini yang ahli hukum, melainkan ia juga menerangkan dengan sangat gamblang melalui contoh:
“Jika A berhutang pada B, lalu A mangkir bayar. B membawanya ke pengadilan. Pengadilan memutuskan bahwa A harus bayar hutang pada B. Apa iya putusannya begitu saja? Kan harus dijelaskan kapan A bayar, dimana membayarnya atau berapa jumlah bayarannya atau hal-hal lain yang berurusan dengan piutang tersebut. Dan semua itu tidak simpel kan?”

Saya manggut-manggut. Logikanya jelas. Bahasa administrasi hukum memang harus jelas. Sampai poin ini, saya mengerti.

Dan poin itu pula lah yang selalu saya bawa kemana-mana ketika bicara soal hukum. Memang sih saya bukan ahli hukum, tapi biasanya tertib membaca aturan main yang berhubungan dengan hukum.

Saya dianggap orang aneh oleh beberapa teman, karena menurut mereka (jelas subjektif toh?) saya satu-satunya orang yang mereka kenal selalu membaca dengan amat teliti perjanjian lisensi (end-user licence agreement) sebelum melakukan instalasi perangkat lunak pada komputer. Walaupun dianggap aneh, saya tidak peduli. Sebab perjanjian-perjanjian itu sempat beberapa kali menyelamatkan isi kantong saya secara signifikan. Jadi, administrasi hukum yang jelas, dan kadang bertele-tele dan rumit itu, kadang ada gunanya.

Saya sadar. Sepenuhnya sadar kok. Bahwa hukum itu berbeda dengan keadilan.

Hukum adalah produk. Jika negara kita analogikan sebagai pabrik dan masyarakat adalah konsumen, maka hukum itu produknya. Dan jika memakai analogi yang sama, maka akan ada dua hasil dari produk yang dihasilkan oleh sang pabrik.

Pertama, produk yang diinginkan oleh konsumen. Namanya, hukum berorientasi publik. Kedua, produk yang akan menguntungkan buat pabrik. Namanya? Ahh yang ini pada jaman modern kini tidak ada namanya. Karena ketika monarki-monarki di dunia ini hancur, hancur pula produk yang hanya menguntungkan negara.

Pada produk pertama, yaitu produk yang diinginkan konsumen, maka pabrik akan mengikuti selera pasar. Apapun yang diminta oleh warga sebagai konsumennya, maka pabrik harus setuju. Pada negara-negara yang ada saat ini (2011), aturan main model begini acapkali dipakai. Hukum dibuat demi kepentingan masyarakat.

Sisi baiknya, produk hukum sebuah negara yang berupa Undang-Undang, Instruksi Presiden, Peraturan Daerah atau bla-bla-bla lainnya akan sebaik-baiknya dibuat demi kemaslahatan umat. Sisi kurang baiknya, well kita semua tahu bahwa warga negara itu bukan kumpulan orang satu RT saja. Warga negara itu banyak. Mengakomodasi semua tuntutan, adalah hal yang mustahil. Maka dipilihlah suara terbanyak dalam mengakomodasi tuntutan warga. Dalam implementasinya, yang tidak setuju biasanya tidak terlalu dirugikan. Tapi sialnya kadang-kadang pada ujung-ujungnya, ada minoritas yang terkoyak.

Henry VIII picturePada produk kedua, dimana hukum dihasilkan negara demi kepentingan negara. Ehmmh, ini kejadiannya sudah lama. Contohnya di Inggris, ketika raja Henry VIII meminta gereja untuk menikahkan ia dengan selirnya. Tentu saja Paus menolak. Sebab poligami tidak ada dalam kitab suci yang dipercayainya. Henry VIII tidak peduli. Ia tetap menikahi selirnya bahkan hingga enam perempuan dikabarkan sah jadi permaisurinya. Undang-undang pernikahan saat itu di Inggris jadi berbeda (walaupun akhirnya UU poligami Inggris berakhir ketika Henry VIII meninggal tahun 1547 akibat kegemukan, pirai dan sipilis). Namun disini terlihat jelas, bahwa penguasa (Raja) mengeluarkan instruksi yang mampu membuatnya setingkat atau lebih dari hukum gereja reformasi yang menjadi standar baku saat itu.

Walaupun kelihatan tidak ada bagus-bagusnya hukum ini, sebab hanya akan mengukuhkan negara sebagai penindas saja, tetap ada sisi positifnya pada sisi tertentu. Kebijakan Dagang Beras Jepang sejak tahun 1961 hingga saat ini (2011) misalnya. Hukum ini ternyata melindungi Jepang sehingga bisa swasembada beras dan memakmurkan petani beras. Contah lainnya lagi, ketika dunia dilanda krisis global sejak 2008, banyak sekali pemerintah negara-negara di dunia yang mengambil alih tata cara perdagangan aset milik rakyat (Contoh: Swedia dan Denmark di tahun 2009 yang memperketat peraturan agar warganya tidak menjual properti pada masa krisis).

Di Republik Indonesia, kita memilih yang pertama. Kita? Entahlah… Mungkin tidak sepenuhnya tepat kalau disebut kita. Sebab toh para pendiri bangsa memilihkan hukum itu untuk kita. Para manusia Indonesia yang masih hidup saat ini.

Yang pasti, saat ini kita percaya bahwa hukum di Indonesia dibuat demi kepentingan Warga Negara Indonesia. Mulai dari presiden hingga jelata, tua muda, pria wanita, kalau masih bisa disebut WNI, maka hukum ini memang spesial untuk mereka.

Namun ajaibnya, meski digadang-gadang kalau Undang-Undang Dasar negara yang sebenarnya diterjemahkan dalam kitab hukum pidana maupun perdata, kelihatannya bahwa isi hukum di Indonesia terdiri dari gado-gado hukum kontingental Eropa (warisan penjajah Belanda), hukum agama (akibat mayoritas reliji warga negara), dan hukum adat (karena banyaknya suku-suku di nusantara).

Jadi pada intinya, yang bikin hukum jaman dulu itu (entah jaman kini juga) kelihatannya asik sekali main comot sana-sini. Ambil yang baik, buang buruknya, tentu saja ini yang jadi motivasi.

Tapi apa benar kita telah mengambil yang baik dan membuang buruknya?

Apa benar, mengambil yang baik dan membuang yang buruk menjadi salah satu motivasi para pengambil keputusan para manusia setengah dewa itu yang produk bernama hukumnya akan menentukan nasib makhluk hidup bumi pertiwi? Apa benar hukum masih berpihak pada warga, bukan pada oligarki para pemilik modal besar saja?

Jika benar, bukankah hukum seharusnya dibuat atau diambil untuk melindungi makhluk hidup dan bumi ini, bukan malah mengancam atau merusaknya?

Beberapa waktu lalu, saya membaca kembali kasus Rumah Sakit Omni vs Ibu Prita.

Saya kira kasus ini telah selesai. Prita menang! Koin terkumpul di Langsat sampai karungan. Bahkan para rocker ikut teriak menyanyi demi kebebasan dalam konser bernama Free Prita. Oh yeah!

Iya Prita menang. Suara konsumen menang. Suara wong cilik menang!

Saya kira ia menang. Anda kira ia menang?

Kelihatannya saya salah. Kelihatannya Anda salah.

Pagi ini membaca bahwa Mahkamah Agung mengeluarkan kasasi keputusannya dalam kasus Prita vs RS OMNI. Dalam putusan kasasi tersebut, Prita nantinya akan dihukum penjara kembali seperti yang dialaminya dahulu saat menghuni penjara wanita Tangerang. (sumber AntaraNews)

Iya, kita kaget membacanya. Bukankah negara telah dengan paksa merenggut ibu-ibu korban malpraktik RS OMNI ini dari anaknya dengan memasukkannya ke penjara dulu? Loh kok sekarang akan dimasukkan penjara lagi? Jika memang haknya sebagai konsumen dan ibu telah diinjak-injak dan keadilan tidak berpihak kepadanya, kemana itu produk hukum gado-gado warisan nenek moyang yang seharusnya dan katanya melindungi warga?

Saya pikir para manusia yang ada Mahkamah Agung jelas bukan orang tolol. Juga jelas bukan para anak sundal yang berhobi fetish menjilat pantat. Seharusnya saya pikir mereka jauh… Jauuuuh lebih pintar daripada saya dan orang sekampung Cilincing yang awam ini melihat korelasi antara hukum dan keadilan.

Jika Prita sudah diperlakukan tidak adil oleh negara dan hukum juga tidak berpihak kepadanya. Kepada siapa lagi kita akan berharap?

Hukum dan keadilan itu memang beda. Hukum itu produk. Jika produk itu sudah busuk, bukankah kewajiban kita menggantinya dengan yang lebih baik?

Apa yang terjadi dengan Prita itu sudah sedemikian busuk.

Jika hukum itu produk…. Jika produk itu dibuat dan disetujui kita sebagai warga negara… Apa artinya kita juga ikut busuk? Jangan-jangan hukum yang busuk adalah cerminan kita yang sudah benar-benar membusuk?

Padahal dalam bahasa yang sederhana atau bukan… Jika hanya dengan diam, kita pula akan membusuk pelan-pelan.


Jika Kemewahan Itu Bernama Sakit

Bagian Satu: Satu Dollar Kriminal

Umurnya tidak muda lagi, sudah 59 tahun. Terakhir bekerja, di Coca Cola, mengabdi di sana selama 17 tahun sebagai pengantar botol ke warung-warung. Tidak pernah membuat musuh, bekerja dengan keras dan rajin dan selalu patuh memenuhi jadwal pengiriman. Itu etos kerja James Richard Verone.

Tahun 2008 badai krisis ekonomi melanda Amerika Serikat. Badai yang sama, melanda pula Coca Cola. James pun diberhentikan paksa. Ia pikir akan cepat dapat kerja, duduk dibelakang kemudi sebagai supir truk pengantar barang. Namun apa daya, tak ada lowongan pekerjaan yang sama untuk manula.

James lalu jadi kasir di warung kecil dekat kotanya. Tidak lama. Nyeri tulang punggung yang dideritanya, radang di kaki, (tentu saja, usianya sudah tidak muda lagi) membuat ia berakhir duduk di rumah beristirahat tanpa bisa meneruskan kerja. Mengandalkan hidup dari uang tabungan dan kerja sporadis serabutan.

Hingga suatu hari dadanya terasa nyeri. Hendak ke rumah sakit, meminta pengobatan. Tapi hukum Amerika Serikat yang hingga saat ini masih bersitegang akibat jaminan sosial kesehatan warganya, membuat James tidak mendapatkan kesempatan untuk berobat. Intinya, apapun warna kulitnya, warga miskin memang tidak dapat hak yang sama di mata dewa medis di Amerika sana.

Suatu hari ia menyadari bahwa uang tabungannya habis, hasil dari kerja serabutan tak lagi mencukupi. Ia jual seluruh perabotan rumah dan membayar uang sewa kontrak bulanan terakhir. Dan lalu menjadi gelandangan mengandalkan hidup dari satu yayasan kemanusiaan ke yayasan lainnya hanya untuk sekedar makan minum dan bertahan dibawah dinginnya malam.

Tuan Verone tahu benar akan hal itu.

Dadanya semakin nyeri.

Hingga akhirnya pada tanggal 9 Juni, di siang yang cerah ia mandi, menyetrika pakaian, lalu memanggil taksi. Merampok bank pertama yang ia lihat.

Di depan kasir bank, ia menyodorkan secarik kertas yang isinya meminta uang satu dollar Amerika dan layanan pengobatan.

Kasir panik, Bank mereka belum pernah dirampok. Meskipun tanpa membawa senjata, kasir masih panik ketika dirampok dengan tuntutan satu dolar (kira-kira saat tulisan ini diturunkan adalah setara dengan Rp 8.620,-) dan permintaan medis.

Kasir memijit bel alarm dan polisi pun datang.

James tanpa rasa takut, bilang kepada si kasir wanita, “Saya akan duduk di lobi ruang tunggu sampai polisi datang”. Tak lama kemudian, polisi dengan kesatuan yang bagaikan anti-teroris datang menyergap dan menggelandang James ke penjara.

Ketika ditanya alasannya mengapa merampok dan hanya menuntut satu dollar saja, “Kalau saya masuk penjara, saya harap saya bisa dapat pengobatan gratis dari negara” jawab James dengan pelan.

Tuan Verone pun dipenjara. Entah sampai berapa lama. Di dalam bui, ia hanya makan pagi dan siang saja. Tidak makan malam. Katanya, pada saat makan malam ia akan bergabung dengan hampir semua narapidana. Ia takut. Ia tahu, penjara Amerika itu buas. Jadi lebih memilih saat makan pagi dan makan siang saja yang biasanya hanya diikuti oleh pesakitan yang telah lanjut usia.

Hingga saat ini, belum ada kabar apakah ia akan dapat pengobatan untuk nyeri dadanya.

Ketika berita ini akhirnya dimuat surat kabar gastongazette dan lalu melesat ke boingboing, hampir semua orang Amerika berteriak kecewa dan sedih. Menuntut keadilan atas kebutuhan pelayanan medis untuk warganya.

Bagian Dua: Satu Bangsa Satu Penjara

Beberapa minggu lalu saya kedatangan tamu, namanya Bas. Kawan-kawan Mexico yang ia bawa memangilnya ‘El Gringo’, terjemahan ugal-ugalan dalam bahasa Indonesia kira-kira ‘bule’.

Bas lahir di California, lebih mewarisi gen mamanya yang berambut pirang dan bermata biru ketimbang papanya yang asli dari Mexico City. Walaupun punya kewarganegaraan ganda, Amerika dan Mexico, ketika saya tanya apa isi dadanya ia jawab dengan senyum, “Saya Mexican”.

Bas tinggal bersama papa mama dan adiknya di Nogales, sebuah desa di Arizona yang benar-benar terletak di perbatasan antara US dan Mexico.

“Saya bingung tinggal di Amerika. Hampir semuanya serba ilegal. Kamu tahu, saya pernah dipenjara gara-gara nyetir mobil tanpa alas kaki! Sebab di Nogales, itu ilegal. Bajingan, masa sih saya dua hari di kantor polisi sampai papa mama saya jemput ketika mereka pulang dari liburan!”, keluh Bas.

“Jadi kamu suka di Mexico saja?” tanya saya sambil senyum-senyum. Vik, sahabat Bas yang berasal dari Hermosillo tertarik mendengar jawaban dari Bas. Ia mendengarkan dengan seksama.

Bas mengangguk. “You know, dua malam sebelum saya ke rumah kamu ini saya bangun jam dua pagi. Gila ada helikopter di atas rumah saya”

Saya bengong. Kaget. Hah! Masa sih ada helikopter di atas rumah. Memang rumahnya pakai helipad?

“Kamu tahu ga? Itu polisi Arizona yang sedang mencari pengungsi ilegal dari Mexico. Mereka pakai alat pencari infra merah untuk mengidentifikasi para pengungsi itu”

Vik menimpali, “Orang kampung Sebastian gila-gila. Di sana bahkan ada milisi yang bersenjata. Kerja mereka memburu orang-orang Mexico yang miskin dan lalu menyebrang ke Amerika untuk mencari pekerjaan. Itu manusia, dikejar-kejar, trus kalau sudah dalam jangkauan tembak, yaa ditembak”

Saya makin bengong. “Jangkauan tembak. Maksud kamu seperti berburu? Loh bukannya di Amerika apa-apa itu ilegal. Masa berburu manusia tidak ilegal?”

Bas ketawa-tawa, “Yaa ilegal, tapi yaah namanya juga manusia gila.”

Saya ternganga, “Trus orang-orang gila itu ditangkep ga?”

“Yaa ditangkep”

“Trus gimana orang mexiconya?”

“Yaa ditangkep juga. Dipenjara sama-sama”

“Lah terus kalo dipenjara bareng-bareng, apa nggak bunuh-bunuhan?”

“Yaa bunuh-bunuhan lah. Itu mah biasa. Kamu lihat film hollywood mengenai perang antar gang di dalam penjara? Yaa seperti itulah kejadiannya”

Melihat saya diam seakan seperti tidak percaya, Bas bilang. “Rakyat kami dalam ketakutan. You know, bukan hanya pada teroris tapi juga pada pencari kerja tanpa dokumen, pada cuaca yang makin panas dan banyak lainnya”

“Kalian hidup dalam ketakutan dong?”

“Yaa nggak semua orang sih. Tapi menurut saya, hampir semua orang hidup dalam ketakutan di sini. Kalau tidak takut, yaa ditakut-takuti biar takut. Hehe. Saya pikir kok mirip hidup dalam penjara. Satu bangsa, satu penjara.”

Saya manggut-manggut. Tapi jelas tidak berani cengar-cengir. Sebab kelihatannya ia serius.

Bas menambahkan, “Omong-omong kamu tahu ga kalau Amerika Serikat itu negara dengan jumlah penjara ternbanyak di muka bumi? Bahkan populasi penghuninya sudah sedemikian parah, sampai-sampai lapangan basket yang harusnya jadi tempat narapidana buat olahraga dialihfungsikan jadi barak tidur loh. Saking banyaknya penghuni penjara. Tapi omong-omong penjara Indonesia bagaimana?”

Saya tidak banyak bicara. Saya bilang, “Bas, saya ngantuk. Besok ngeburuh. Saya tidur duluan yaah” sambil cengar-cengir. Yaah mau pakai trik apalagi? Saya tidak punya jawaban pertanyaannya. Lebih baik saya kabur. Hehe.

Bagian Tiga: Ketika Mamanya Nopal Sakit

Waktu itu saya masih di Jakarta. Ada sms masuk dari Nopal. Bilang minta bantuan. Katanya mamanya sakit. Sudah lama merasa nyeri. Bahkan sampai pendarahan segala. Setelah dicek, ternyata mamanya Nopal kena serviks, nama lain dari kanker leher rahim.

Kanker ini termasuk penyakit yang cukup berbahaya. Menurut WHO di tahun 2007, kira-kira setiap tahunnya sebanyak 15.000 perempuan Indonesia dihinggapi oleh kanker leher rahim dan sebanyak 7500 orang terbunuh karenanya.

Saya pikir ini masalah serius. Tapi ada lagi yang lebih serius. Pertama, kenapa Nopal mengadu ke saya? Kedua, Nopal kan dalam penjara gara-gara kasus narkoba kok dia bisa sms saya?

Penjelasannya ada di sms antara saya dan Nopal.

LO DAH DILUAR?

G.MSH DI DLM.2THN LG.TLG MEN.MAMA GW NIH.DUIT GW G CKP BWT KEMO MAMA

KEMOTERAPI?ASTAGA.PARAH AMAT MEN!

YOI MEN.TMN LO KAN BNYK.ADA DOKTER GA?

MAMA LO KAN PEGAWAI NEGRI.ADA ASURANSI

ASKES G CKP.G JAMIN FULL COVER.

LO GA KERJA DI DLM?

KERJA.GW NYETOK BRG TRUS NYEBARIN DI DLM SKRG.DPT HP PULSA MA DUIT600RB/BLN

LMYN KAN.MKN MA TIDUR KAN GRATIS?DUIT BISA LO TABUNG.

KT SIAPA?GW BYR KMR 400RB/BLN.CADONGAN ISINYA BATU.EMANG ENAK MAKAN BATU.LO KIRA PENJARA GRATIS?

SERIUS LO?

MASA GUA BOONG MEN.LO SATU2NYA YG GA RESE MA GW.ABIS LO JG BEJAT SIH :) PENJARA INDONESIA ANCUR MEN.

PARAH!YA UDAH NANTI MLM GW KE RMH LO NGOMONG AMA MAMA LO.BTW LO BRENTI DONG NYEBAR RACUN KE ORANG2!

KL GW BRENTI BKN CUMA GW YG MATI MEN.TLG MAMA GW MEN PLIS

Saya diam sejenak. Termangu. Kalau Nopal sudah bilang bahwa nyawanya terancam, itu artinya benar-benar terancam. Dia itu salah satu prajurit jalanan Cilincing yang saya kenal. Hidupnya dari dulu memang dibayang-bayangi bau kematian. Dan dia tidak pernah mengeluh apalagi takut karenanya. Namun kali ini masalahnya pasti serius.

Terjebak dalam sindikat narkoba yang melibatkan banyak orang, baik dari dunia hitam maupun berseragam dan satu-satunya orangtua yang tersisa terbaring di rumah terkena kanker, pasti masalah serius.

Penjara, kata Nopal, sudah berubah jadi rumah indekos. Narapidana kaya, yang mampu membayar tentu saja dapat fasilitas lebih. Bahkan seorang bos sepakbola di Indonesia mampu memboyong AC hingga fax ke dalamnya lalu menjadikan dua kamar jadi satu demi kelangsungan pekerjaannya ketika ia harus menjalani hidup dalam bui. Semuanya atas nama tahu sama tahu.

Singkat kata singkat cerita, mamanya Nopal akhirnya beristirahat dengan tenang di pemakaman umum Cilincing setelah enam bulan bergulat dengan kanker leher rahim yang mengerikan. Semua tenaga medis yang saya hubungi menyerah sambil mengatakan bahwa harapan hidup beliau sudah semakin menipis.

Tidak berselang lama, Nopal menghidup udara bebas. Dia jadi big shot. Ternama karena kinerja kerja. Prestasinya sebagai bandar narkoba di dalam lembaga pemasyarakatan memberinya semacam previlige yang mampu mengantarkan surat sakti agar dapat keluar lebih cepat.

Tapi tidak lama. Hanya beberapa bulan setelah bebas, ia meninggal karena tabrak lari. Bisik-bisik rumor jalanan berkata bahwa sebelumnya ia tidak mampu closing deal sebuah perjanjian bisnis dengan pesakitan kelas kakap. Kata kabar burung, Nopal harus membayar dengan nyawanya.

Dibandingkan dengan Nopal, Tuan Verone tidak akan lama bertahan hidup jika ia dalam penjara Indonesia.

Tuan, ini negeri dimana orang miskin diharamkan sakit!


Rest In Peace Ruyati Binti Sapubi

Saya menulis dalam diam. Secara literal memang dalam diam. Tidak bicara, tidak menyanyi, tidak bergerak kesana-kemari kecuali jari jemari, tidak melakukan apa-apa selain memelototi pena dan kertas dihadapan dan lalu memindahkannya dalam aplikasi google docs dan lalu ke blog setelah proses edit sana sini.

Jika terdengar suara, paling suara-suara lagu teman-teman saya yang menyanyi dalam irama rap atau koleksi lagu-lagu instrumentalia OST (Original Sound Track) film-film kegemaran seperti misalnya OST August Rush, Casablanca atau Blood Diamond. Biasanya, malah instrumen musik-musik klasik macam Beethoven atau Mozart yang mengiringi tulisan-tulisan naik cetak. Saya tidak bisa menulis dengan ditimpali banyak suara manusia.

Di beberapa stasiun kereta, akhir-akhir ini ada iklan besar terpambang di billboard, iklan pena merek BIC. judulnya, wie schrijft die blijft. Arti sederhananya kira-kira, siapa yang menulis akan abadi. Saya melihatnya setiap pagi.

Saya tidak percaya keabadian. Agak aneh memang. Untuk seseorang yang pada akhirnya secara susah payah diberi gelar akademisi hanya karena meneliti tulisan-tulisan dan simbol yang saking tuanya dilupakan orang, saya tidak percaya keabadian dari dunia tulis menulis.

Sederhana; alasannya simpel. Saya tidak percaya keabadian.

Anda boleh setuju. Boleh juga tidak setuju. Toh itu hak siapa saja. Hanya, hingga saat ini yang saya sempat pelajari adalah bahwa hidup memang tidak pernah mengajarkan keabadian. Selalu saja ada yang mati. Entah nyawa manusia, entah kebudayaan, entah pemikiran, entah isme-isme yang selalu begitu banyak menyilaukan mata dan jiwa manusia. Yang pasti, selalu saja ada yang mati.

Suatu saat saya akan mati. Suatu saat toh juga Anda akan mati. Suatu saat, apa yang kita percayai kekekalannya di muka bumi ini, saya-pikir, juga akan mati. Sejarah mengatakannya begitu. Mau bilang apa, itu kan fakta?

Eddard Stark, salah satu karakter dalam serial TV Game of Throne berkata, “… I grew up with soldiers. I learned how to die a long time ago”. Kira kira terjemahannya adalah bahwa ia tumbuh sebagai seorang tentara dan ia mengetahui bagaimana harus menghadapi malaikat maut ketika ditanya apakah ia takut mati atau tidak.

Saya pikir, tidak perlu jadi tentara untuk tahu bagaimana menghadapi maut. Tidak perlu. Oh-oh, sama sekali tidak perlu. Saya pikir, yang lebih penting adalah sebagai apa kita akan menghadapi maut. Buat saya ini penting, ketika wajah berkiblat menghadap maut sebagai seorang pecundang atau tidak.

Sebagaimana pentingnya saya, malam ini, menulis mengenai seorang Ibu bernama Ruyati. Seorang perempuan tua berusia 54 tahun dari Bekasi, sebuah bagian dari kedaulatan negara bernama NKRI yang pada tanggal 18 Juni ditebas lehernya oleh pemerintah Saudi. Dipancung dengan pedang atas nama Qisas, hukum dimana nyawa ditebus nyawa. Dipenggal kepalanya. Dengan alasan, bahwa perempuan tua yang sering disiksa oleh majikannya ini, akhirnya marah dan menuntut balas atas perlakuan kejam yang diterimanya.

Tidak usahlah bicara soal diplomasi. Tidak usah bicara tentang kebijakan politik luar negeri. Tidak usah bicara mengenai hukum agama yang diselewengkan dengan paksa. Tidak usah bicara tentang betapa hebatnya tentara negeri ini. Tidak usah bicara tentang betapa kita menyia-nyiakan para pahlawan, mulai dari pahlawan tanpa jasa, pahlawan gerilya yang makamnya dibongkar di Kalibata, atau pahlawan devisa. Tidak usah!

Taik kucing dengan semua itu!

Mari bicara tentang keadilan yang terkoyak-koyak. Tentang bagaimana orang memperlakukan orang lain lebih buruk daripada mereka memperlakukan sampah.

Mari kita bertanya tentang itu. Dan mari kita bertanya, apa kita masih punya tenaga dan hati?

Malam ini, saya menulis dalam sendiri. Tidak ditemani para legiun yang peduli atau tidak peduli.

Malam ini saya menulis dalam sendiri. Dengan bulu kuduk meremang karena marah. Menggeletar dalam sepi; penuh gejolak yang akan membuncah.

(*Rest in peace Ruyati binti Sapubi. Ash to ash. Dust to dust. Innalillahi. You’re gone but not forgotten*)


Waktu Papa Belajar Ballet

ini gambar tutu asli, bukan yang jadi-jadian yang dibikin oleh bangaiptopBegini loh, rumah saya tidak besar. Tapi punya jendela kaca yang walaupun tingginya hanya 30 cm tapi panjangnya sekitar dua meter. Dari kaca jendela tanpa tirai dan hanya dibatasi oleh beberapa pot bunga kecil dan kuas untuk melukis, semua sisi rumah saya bisa terlihat dengan baik oleh tetangga-tetangga yang melintasi gang depan. Pada intinya, saya memang tidak punya banyak privasi melalui jendela tersebut.

Beberapa hari lalu, putri saya main-main di depan monitor komputer. Kelihatannya dia terlalu asyik melihat tayangan tari ballet melalui youtube. Tiba-tiba dia turun dari kursi dan lalu ikut-ikutan bergerak-gerak melonjak kesana-kemari loncat-loncat seperti penari ballet. Saya ketawa-ketiwi melihatnya.

Begitu melihat saya tertawa, ia berhenti. Dengan mulut cemberut ia berkata, “Papa. Kenapa kamu tertawa! Kamu tidak lihat saya sedang sibuk? Ayo, kamu juga ikut menari seperti saya”

Hah! Saya bengong mendengar permintaannya. Tapi hanya sejenak. Lalu saya mulai bergerak-gerak disampingnya sambil menari mengikuti tari ballet anak-anak yang kami lihat melalui youtube.

Ia berhenti sejenak. Mulutnya masih tetap cemberut. “Papa! Bukan begitu caranya. Kamu harus benar-benar ikuti gerakan anak-anak itu”

Saya protes, “Tapi papa kan sudah bener bergeraknya, Novi. Papa harus bagaimana lagi?”

Dengan tanpa dosa dia bilang, “Kamu harus pakai pakaian seperti mereka papa”

“Tapi papa nggak punya rok sayang. Mereka itu pakai pakaian khusus untuk ballet. Namanya tutu. Papa nggak punya itu”

“Umur papa kan sudah empat tahun. Umur saya tiga tahun. Papa lebih tua daripada saya, papa harus cari cara dong!” katanya sambil melihat muka saya seakan seperti menuntut.

Eh buset bocah. Emang bapaknya siapa kok yaa minta-minta saya punya seragam penari ballet.

Tapi yaah demi anak perempuan semata wayang. Saya rela-relakan akhirnya ke gudang. Cari koran bekas. Dirangkai. Digunting. Lalu saya jadikan rok mini rumbai-rumbai demi menyenangkan si buah hati. Setelah itu saya balik lagi ke ruang tengah. Ke depan monitor, “Nah Novi, papa sudah punya tutu nih sekarang. Jadi, kita bisa menari sama-sama sekarang?”

“Yaa nggak dong papa. Kamu nggak boleh pakai baju dan celana itu”

“Lah terus papa pakai apa dong?!”

Dengan cueknya ia buka baju dan celana dan hanya menyisakan popok dan celana dalam saja. “Begini papa. Kalau mau menari ballet, nggak boleh pakai baju dan celana sembarangan”

Hah! Sekali lagi saya terbengong-bengong. Edan, masa iya saya harus hanya pakai celana dalam diliputi rok mini rumbai-rumbai dari koran bekas. Tapi sekali lagi, akibat tatapan mata Novi Kirana yang sedemikian mengiba, ya sudah saya turuti permintaannya.

“Papa, kamu kok nggak pakai popok sih? Pakai popok dong biar sama dengan saya. Nanti kalau lagi ballet kamu mau kencing bagaimana?”

“Yaelah Novi, papa kan sudah lebih besar daripada kamu. Papa nggak usah pakai popok lagi dong. Papa ke WC saja”

Jadi, saat itu di ruang tengah rumah saya, terlihatlah sepasang bapak dan anaknya sedang menari ballet hanya pakai celana dalam saja. Dan seketika itu pula, kami langsung beraksi meniru para penari ballet cilik yang ada di youtube.

Tanpa saya sadari, akibat musik ballet yang mungkin terlalu keras ternyata banyak kepala bermunculan dari balik jendela rumah saya. Buset, ternyata tetangga sedang melihat saya dan putri menari-nari mengikuti musik. Jadi, saya yakin dihadapan mereka terlihat anak kecil berusia tiga tahun dengan seorang laki-laki berambut awut-awutan berperut buncit yang hanya mengenakan celana dalam diliputi rok mini kertas koran rumbai-rumbai sedang pura-pura jadi penari ballet cilik.

Karena pemandangannya cukup ajaib, saya sambil cengar-cengir hanya melambaikan tangan ke arah mereka sambil berkata, “Halo. Hehehe….”

Mereka melambai balik. Dengan senyum yang terlihat dipaksakan. Dengan tatapan mata yang sukar dijelaskan dengan kata-kata.

Tidak lama setelah tetangga bubar akibat tayangan musik ballet habis dan putri saya sudah mengalihkan perhatian bermain balok-balok kayu menyusun rumah-rumahan, saya pun kembali ke ‘seragam normal’. Celana jeans dan t-shirt.

Begitu selesai berpakaian ada telpon masuk. Rupanya dari seorang sahabat. Dari suara telpon terdengar kalau ia panik.

“Bangaip… Gua stress nih”

“Lah kenapa? Santai aja. Gua kan satu-satunya temen lo yang punya nama belakang Top dengan tambahan Deh. Hehehe… Masa sih ada masalah yang ga bisa diselesaikan?”

“Adek gua bang.. Aduh masalah banget deh tuh anak”

“Kenapa ama adek lo?”

“Adek gua, aduuh stress banget gua nih. Masa foto-fotonya kesebar di internet. Udah gitu diperes pula. Aduuh gua stress nih, emak gua aja ampe stress… Aduuh pusiing!”

Dari telpon, saya minta ia duduk dan lalu minum air segelas. Ambil nafas, lalu baru mulai bicara. Kalau tidak, susah mendengar ia bilang apa. Untung saja ia menurut. Maka beberapa menit kemudian akhirnya ia bicara dengan lebih runut dan tidak lagi terengah-engah.

Saya dengar ceritanya dengan seksama. Rupa-rupanya si adik kangen dengan suaminya yang ada di luar negeri. Mereka bercinta melalui internet. Si adik, mengirimkan beberapa foto kategori panas dan video-video syur ke alamat email suaminya. Rencananya, materi tersebut tentu saja berguna sebagai pengobat rindu sang suami. Bagaimana menggunakannya, tentu saja tidak perlu saya ceritakan di sini. Yang perlu saya ceritakan adalah bahwa alamat email si suami rupanya dimasuki orang nakal. Entah alasannya apa, akhirnya foto-foto si istri tersebar luas di internet. Yang paling parah, sekarang malah ada oknum yang mengancam untuk meminta uang segala. Tidak tanggung-tanggung, kalau tidak diberi 20 juta rupiah maka foto-foto dan video si istri yang sekaligus dosen ini akan disebarkan ke sekolah dan mahasiswanya.

20 juta rupiah walaupun bisa dibayar oleh sang suami, tentu saja bukan sejumlah uang yang sedikit. Maka sore itu, kakak iparnya yang sekaligus sahabat saya menelpon dengan suara bergetar akibat sedih, marah dan kecewa yang bercampur jadi satu.

“Bang, gimana kalo foto-foto ama video adek gua kesebar dikampusnya?”

“Adek lo kan korban, Wi. Dia kan cuman kangen ama suaminya dan suaminya kangen ama dia. Jadi kalo ada orang yang memanfaatkan itu buat kepentingan pribadi, yaa jelas bukan salah adek lo”

“Kalo sesial-sialnya mahasiswa dia dapet tuh foto gimana ceritanya? Adek gua nanti jadi bahan coli dong? Apalagi amit-amit deh kalo adek gua ditangkep polisi”

“Saran gua sih jujur aja ama sekolah dan civitas akademikanya kalo ada orang yang mau berbuat jahat sama dia. Dan mengakses dan nyebarin materi personal dia, sama aja setuju dengan kejahatan yang terjadi. Adek lo itu korban kejahatan. Bukan pelaku”

“Tapi Bang lo tau ga Ariel Peterpan itu kena kasus UU pornografi? Dia kan sama kayak gini kasusnya. Emangnya dia niat nyebarin videonya. Kok bukan yang nyebarin yang dihukum malah si Arielnya yang dihukum?”

“Buat gua, itu nggak adil. Tapi gua pribadi sih nggak begitu ngikutin kasus Ariel jadi nggak bisa komentar banyak. Buat gua saat ini yang penting adek lo. Yang jahat dalam kasus ini kan orang yang nge-hack account email adek ipar lo. Yang jahat kan yang meras duit dan ngancem mau nyebarin foto-foto telanjang adek lo. Nah kalo mahasiswa adek lo apalagi rekan sesama dosen ikutan download tuh foto, apalagi ikutan nyebarin. Mereka bukan lagi ngaco secara etika. Tapi juga ikut nyebarin kejahatan dan sama-sama melakukan tindak kejahatan. Lebih parah lagi, kalo bahkan ikutan menghakimi adek lo secara moral”

“Tapi Bang, orang Indonesia kan biasanya begitu. Nggak tau apa-apa tapi ujung-ujungnya maen hakim sendiri”

“Hell yeah, gini-gini gua orang Indonesia… Jangan generalisasi dong. Hehe”

Wiwik diam. Saya jadi tidak enak. Bisa jadi ia bicara begitu karena memang itulah satu-satunya kenyataan yang ia tahu. Saya pikir saya lebih baik membantunya secara kongkrit daripada bicara dalam tataran filosofis yang sama sekali malah membuat ia jadi tambah pusing.

Saya telpon mamanya Wiwik serta adik iparnya. Menjelaskan langkah yang tidak perlu saya ceritakan disini secara teknis (karena terlalu detil dan amat teknis) untuk memulihkan keadaan yang bikin panik keluarga mereka ini.

Langkah yang saya ambil secara garis besar adalah:

  • Mengambil ulang akun email dan facebook adiknya Wiwik dan mengganti passwordnya secepat mungkin (*Jangan tanya saya gimana caranya, yang jelas sih saya bukan hacker dan semuanya saya lakukan secara legal*)
  • Melakukan investigasi kepada siapa saja email berisi foto-foto dan video telah dikirimkan. Merekam jejak dan mendokumentasikannya sebagai bukti bahwa adik Wiwik dan suaminya sama sekali tidak ikut dalam penyebaran foto dan video mereka kepada publik.
  • Mengirim surat elektronik berisi cerita jujur apa adanya kepada pihak yang telah disebarkan materi dewasa tersebut agar tidak mendistribusikan foto dan video ke khalayak luas.
  • Meminta adik Wiwik untuk tetap sabar dan membuat blog pribadi. Isinya adalah kronologis mengapa foto dan videonya sampai tersebar di publik. Jelaskan kepada publik apa yang ia rasakan dan ia alami sejak akun surat elektronik suaminya dibobol dan mereka diperas.

Tujuan semua langkah-langkahnya sederhana, yaitu melawan balik. Mereka sudah diintimidasi dan mungkin akan disiksa oleh opini publik, satu-satunya jalan yaa jangan diam.

Yang saya kaget sebenarnya bukan dari cerita adiknya Wiwik. Yang membuat saya sedemikian terkejut adalah, belum sampai seminggu sudah empat ‘kasus’ serupa yang saya tangani. Saya sebut kasus pakai tanda kutip sebab saya sama sekali bukan profesional ahli informatika. Apalagi detektif swasta. Yang datang menelpon atau mengirim email minta bantuan juga biasanya teman atau temannya teman. Kalau bisa saya bantu yaa saya bantu. Kalau tidak yaa saya meminta maaf sebab tidak bisa berbuat banyak.

(*Ada yang meminta untuk membongkar akun facebook suaminya sebab ia pikir suaminya kawin lagi. Gara-gara cemburu, facebook jadi korban. Eh buset, saya belum sejago itu untuk bongkar-bongkar rahasia FB orang lain. Hehe. Oh ya, Wiwik itu bukan nama sebenarnya dan kasus di atas adalah contoh kasus yang atas perijinan teman saya boleh dipublikasi di blog ini. Segala peristiwa yang mungkin mirip dan telah terjadi, adalah kebetulan belaka. Sebab semuanya memang hampir mirip seperti ini. Modus paling mendominasi utamanya gara-gara ‘cinta’*)

Sejak makin maraknya sosial media melalui perangkat genggam, saya cermati secara subjektif bahwa makin banyak orang yang mengeluh atau merasa tersiksa akibat foto atau video personal mereka tersebar di publik. Ada yang mengeluh karena tanpa sadar foto personal tanpa seijinnya tersebar kepada publik melalui sosial media (jadi yang bawa hape pun bisa lihat). Ada yang mengeluh karena dulu waktu belum sadar dahsyatnya keganasan internet, buka-bukaan didepan publik (dan sekarang menyesal). Yang pasti, banyak sekali yang mengeluh.

Mudahnya akses internet dan mudahnya menampilkan gambar semau kita dihadapan publik adalah awal. Beberapa yang cerdas, tentu saja hati-hati dalam membuat status dalam sosial media dan menampilkan tayangan apa yang perlu diberitahu ke publik. Bisa jadi mereka lebih paham rimba lalu lintas data internet. Bisa jadi juga karena hanya ingin sekedar bergaya politik pencitraan diri dalam kata lain sok jaga image.

Beberapa yang kurang begitu hati-hati, yaa dengan bahagianya memberikan amunisi pada publik secara detail kehidupan mereka sehari-hari. Bisa jadi karena mereka ingin berbagi. Bisa jadi karena keinginan bawah sadar ingin menampilkan aurat di depan publik.

Yang pasti ujung-ujungnya memang banyak yang mengeluh.

Diantaranya mengeluh ke saya (*Loh, kok saya malah curhat begini. Hehe*). Saya sendiri sih tidak masalah. Sebab saya kan hobi menerima keluhan (*Jangan-jangan saya masochist? Haha*). Tapi kadang-kadang, keluhannya telat. Kasihan, ada bapak yang jual sawah dan kerbau hingga seluruh harta kekayaan untuk mengirim putrinya ganti sekolah dan domisili ke Singapura karena foto digital bercumbu sang anak yang masih kelas tiga SMP itu disebarkan oleh mantan pacarnya yang sakit hati.

Saya bukan moralis. Saya mendukung gerakan jangan telanjang di depan kamera bukan gara-gara ada hubungannya dengan reliji, moral, etik dan bla-bla-bla lainnya. Saya mendukung gerakan itu dengan alasan yang sederhana. Sebab undang-undang digital di RI (mau namanya yang berkaitan dengan pornografi atau intelejen, whatever lah. Sama saja semuanya. Isinya ajaib)  belum sepenuhnya berdiri untuk mendukung korban. Kasus Ariel Peterpan contoh yang sederhana bahwa wilayah pribadi digital informatika WNI masih bisa diusik oleh pemerintah atau WNI lain yang merasa bahwa mereka yang paling benar.

Itu contoh yang sederhana. Mau contoh yang lebih rumit? Sila google DNS Filtering di republik tercinta. Mau lagi yang lebih rumit? Pelajari data digital audit institusi negara. Lagi yang lebih rumit? Masih banyak. Makin teknis, makin menakutkan isinya. Semuanya sama. Ada hak-hak manusia dalam bertukar informasi melalui internet yang dilanggar oleh pemerintahnya. Ada wilayah pribadi yang selalu dilanggar demi rasa ingin tahu orang-orang yang sok tahu atau bahkan untuk institusi yang merasa perlu menyembunyikan pada publik sesuatu.

Saya ingat waktu cerita hal ini, Wiwik menukas cepat. “Bang, bukannya bagus kalo disensor pemerintah. Kan gampang, foto adek gua nggak bakal ditonton mahasiswanya?”

“Wik, kalo orang kebelet mah, apa aja dilakuin. Jangankan mutusin sensor, email orang laen aja bisa dia jebol. Menurut lu lebih bagus mana cara mendidik anak makan sayur. Dipaksa trus dipukul biar makan? Apa dibujuk dengan diberitahu jujur bahwa sayur itu bagus buat dirinya?”

Ia diam. Ia tahu maksud analogi yang saya lontarkan.

Untungnya hari itu selesai dengan penutupan yang baik. Kebetulan si pelaku pembobolan dan pemerasan akhirnya bisa didentifikasi. Bukti berhasil dikumpulkan untuk cukup menyeretnya ke meja pengadilan. Beberapa orang yang telah menerima foto-foto dan video seronok itu dengan sukarela memberikan pernyataan bahwa mereka tidak akan mendistribusikan tindak kejahatan.

Selesai mengobrol dengan Wiwik melalu telepon putri saya duduk di samping sambil melihat dengan tatapan mata serius ke ayahnya. “Papa, kamu tadi ngomong apa sama teman kamu?”

Yaelah, bocah kok yaa mau tahu aja bapaknya ngapain. Tapi dengan santai saya jawab, “Bantu teman Papa, Cintaku. Kasihan dia. Fotonya dicuri orang”

“Papa bantu ambil kembali fotonya teman papa?”

“Iya sayang. Kalau bukan milik kita kan bukan hak kita untuk mengambilnya”

“Papa, ayo kita ambil foto”

“Foto Novi berdua papa? Ayoo…”

“Bukan papa. Foto kamu sendiri saja. Papa jangan pakai baju itu. Itu baju kurang bagus. Papa pakai tutu saja yaa”

Saya melongo. Astaga, masa sih lagi-lagi saya harus pakai celana dalam saja dibalut rok mini kertas koran rumbai-rumbai. Apa kata dunia kalau foto ini jadi digital? Foto bapak-bapak buncit dari pinggiran kota memakai tutu palsu sambil meniru pebalet cilik.

Saya protes, “Novi, kalau foto papa dicuri orang bagaimana? Kasihan dong papa nanti?”

“Kenapa dicuri papa? Kalau ada yang minta, kasih saja”

Saya makin melongo ketika sambil tertawa ia mengangkat kamera dan blitz melahap saya dengan seketika itu juga.


Mungkin Saya Terlalu Banyak Menonton Film Star Wars

Sebelum meninggal, pelukis Indonesia Salim pernah berkata pada Kang Adi sahabat saya. “Di, kalau berkarya jangan mengharapkan kaya. Jangan mengharapkan terkenal. Jangan mengharapkan dipuja. Berkarya saja sebab karena ia bagian dari hidup kamu. Kalau memang pada suatu hari karya kamu disukai publik, itu lain lagi ceritanya. Tapi, jadikan hidup kamu dengan berkarya”.

Lalu beberapa malam lalu, Kang Adi kembali mengulang nasihat itu ke saya. Bedanya, kalimat ‘Di’ diganti jadi ‘Rip’. Hehehe.

Kami sebelumnya memang membicarakan Salim. Pelukis asal Nusantara yang bersahabat akrab dengan para bapak bangsa seperti Sjahrir dan Hatta. Yang dikaruniai umur panjang bahkan sempat menginjak usia 100 sebelum akhirnya maut menjemput. Salim yang selalu bangga dengan peci Cap Indonesia yang ia sebut dengan, “Setiap bertemu orang Indonesia aku pakai selalu peci ini”. Salim yang sama yang tetap memakai pecinya bahkan ketika menjadi relawan berangkat perang ke Catalonia sebagai seniman dalam revolusi Spanyol tahun 1936, yang mungkin disana bertemu dengan Hemingway, pujangga Amerika.

“Jadi begitu lah, Rip. Kata Salim berkaryalah karena lu merasa bahwa berkarya itu bagian dari hidup lu. Masak motret cuma kalo mao ikut lomba aja? Nyari apa, nyari nama? Nyari duit? Nyari piala? Sekedar ngebuktiin kalo lu bisa menang? Yaah jangan lah. Ahh tapi aneh juga sih, gua sendiri bilang ama Salim, kan nggak semua seniman kebutuhannya sama. Seniman kan manusia. Kebutuhannya beda-beda”

Obrolan ini memang bermula dari beberapa riset foto yang akan saya lakukan. Sederhananya, saya keceplosan bahwa akan melakukan semacam riset dengan alasan yang kadang susah diterima dengan kebanyakan orang. Setidaknya, jika orang yang dimaksud adalah para ‘temennya bangaiptop’. Alasan saya riset, ternyata uang. Saya mau ikut kompetisi dan berharap menang lalu dapat duit dari sana. Kang Adi tidak melarang, menyayangkan atau melihatnya sebagai dilema moral berkesenian. Tidak. Sama sekali tidak. Ia hanya memberitahu bahwa ada lomba atau tidak, ikut kompetisi atau bukan, saya sebaiknya berkarya. Apapun karyanya.

Saya diam. Tidak bisa bilang apa-apa. Saya pikir Kang Adi benar. Hanya mungkin, prioritas saat ini yang saya miliki memang berbeda.

Tapi omong-omong sial prioritas, saya jadi ingat suatu hari obrolan bersama si Hadi anak juragan tembakau. Malam itu kami bergosip tentang beberapa orang teman. Namanya gosip, yaa makin digosok makin sip. Kebetulan, kami menggosipi si Diki yang dua tahun telah kembali pulang ke pangkuan bumi pertiwi.

Saya: “Di, si Diki gimana kabarnya yaah?”
Hadi: “Wah dia jadi kaya, bang”
Saya: “Bagus dong! Jadi kita bisa ditraktir, hihihi…”
Hadi: “Wah ati-ati bang, dia bergabung sama Dark Force sekarang”

Saya mau senyum. Tapi saya dan Hadi, kami sama-sama orang aneh yang menyukai film fiksi Star Wars. Dark Force adalah kekuatan besar yang dikomandani oleh Anakin Skywalker yang lalu berubah menjadi Darth Vader sebagai kekuatan antagonis dalam film Star Wars. Kekuatan ini, pada intinya hanya punya satu tujuan. Yaitu menguasai alam semesta dan membunuh para ksatria Jedi yang membela umat manusia. Setelah itu, menjadikan manusia dan semua makhluk serta kekayaan alamnya sebagai budak mereka.

Nah, kalau Diki pulang ke republik tercinta lalu bergabung dengan kekuatan hebat seperti Dark Force yang ada dalam budaya mainstream merusak bumi Indonesia, bisa gawat ceritanya.

Sebab Dark Force itu sebutan kami untuk konglomerasi yang mendapatkan banyak kemudahan dan fasilitas dari pemerintah untuk mendayagunakan seluruh sumber daya alam dan manusia yang melingkupi Indonesia hanya demi kesejahteraan konglomerasi dan eksekutif pemegang dividen.

“Di, kita kan cuman ngegosip doang. Kamu jangan serius-serius dong…”

“Yah abang… Kalo si Diki kerja disitu baru setengah tahun sih itu baru gosip, Bang. Dia kan sudah hampir dua tahun kerja di sana. Begitu selesai jadi doktor langsung pindah haluan. Dia kan ngambil kerjaan yang ditawarin ke abang”

Saya tergagap-gagap, “Loh kamu tau darimana ini posisi itu dulu ditawarin ke saya juga?”

“Halah, gosip yaa digosok makin sip. Kabar burung toh bang. Cek aja di twitter. Hihi…”

“Tapi si Diki? Wah masa sih. Si Diki kan idealis banget. Mana mau dia ngerusak hutan? Apalagi Kalimantan. Dia kan bapaknya orang Samarinda. Asli Kalimantan dia itu. Kok gabung sama perusahaan yang kerjanya ngebabat hutan Kalimantan?”

“Terakhir ketemu Diki…”

“Kapan kamu ketemu?” saya sela dengan cepat omongan Hadi. Biasanya kalau ia berbohong, akan gelagapan jawabnya. Saya kenal Hadi.

Tapi sial lancar sekali ia menjawab, “Saya kan baru dari Jakarta, bang. Baru dua minggu lalu. Disana ketemu Diki. Hebat dia bang. Apartemen dikasih kantor, itu juga plus pembantu. Mobil juga dikasih sama supir-supirnya. Wah bang, pembantunya cakep loh. Hebat tuh perusahaan. Bisa ngasih pembantu model gitu ama si Diki. Si Diki kan bujangan bang. Dikasih pembantu muda, seksi dan aduhay begitu ya betah lah dia di rumah. Dia sering kerja dari rumah aja sih. Ke kantor kalo meeting doang. Wah hebat lah tuh anak. Nggak kena stress macet Jakarta. Belum lagi gajinya bang. Kayaknya sih annualnya bisa satu milyar lebih. Posisinya tinggi bang. Nih kartu namanya, baca aja. Tapi bang, males banget ngomongin Diki. Dia sekarang kebuka deh kedoknya sebagai PhD project. Jadi doktor cuman kalo gara-gara ada duitnya. Cuman gara-gara project. Mana mau dia ngebangun negeri? Jangankan peduli masyarakat se indonesia, kampungnya sendiri aja dikhianatin. Lah capek deh ngomongin Diki. Ngomongin pembantunya aja yuuk?”

Saya cengar-cengir menjawabnya.

Saya sama sekali tidak tertarik isu yang akan dibawa Hadi, yaitu semulus apa paha pembantu Diki. Apalagi bagaimana si Diki menghabiskan gajinya. Itu bukan urusan saya. Tapi yang saya ingin tahu adalah, sejauh mana si Diki sudah bergerak dengan keahliannya.

Akibat penasaran. Saya buka-buka arsip lama media yang ada di Indonesia. Mulai dari arsip digital hingga arsip cetak konvensional. Baru sadar sesadar-sadarnya, bahwa sebuah perusahaan yang dulu terkenal dianggap perampok kekayaan rakyat sejak dua tahun ini namanya sama sekali tidak banyak tersebut di media. Sejak Diki masuk sebagai bagian dari mereka. O-ow… Kelihatannya kesaktian Diki dipakai dengan semaksimal mungkin oleh perusahaan tersebut. Sebab hanya ada dua pilihan untuk memaksa orang berhenti membicarakan keburukan kita. Pertama, berhenti berbuat buruk. Kedua, menutupinya dengan semua tipu daya bahkan dengan yang belum pernah tercatat dalam sejarah manusia.

Kata Hadi, kenapa Diki dibayar semahal itu karena ia harus melakukan langkah yang kedua. Tapi toh hidup itu pilihan. Diki sudah memilih jalannya. Maka, konsekuensi adalah hal yang wajar ia terima. Saat ini, konsekuensinya adalah punya mobil mewah dengan supir, pembantu seksi, uang tabungan banyak dan hidup di Jakarta tanpa stress kena macet. Lanjut Hadi, “Asik juga yaah hidup begitu?”

“Apa asiknya sih digosipin ama dua orang manusia yang sudah jelas hidupnya nggak bagus-bagus amat? Hehe…”, kata saya sambil garuk kepala.

“Nah itu maksud saya, Bang. Kita kan secara akademis nggak sehebat Diki. Jangankan begitu, duit kita aja nggak sebanyak duit Diki. Tapi kita kan jauh lebih baik dari dia, kan? Maksud saya, kita aja yang udah sehina ini masih bisa menghina dia, berarti sampai mana taraf kehinaan dia yaah?”

“Wah itu sih kamu… Saya sih nggak ngerasa lebih baik dari siapa-siapa. Hehehe. Saya sih cuma bingung, Di. Kalo Diki direkrut sama mereka. Makin berat dah nasibnya bumi kita. Waduh, orang sepinter dan seberbakat Diki kok yaa harus jadi begitu?”

“Lah terus kalo udah pinter dan berbakat harusnya jadi gimana, Bang?”

Saya melongo. “Yaelah, mana saya tau Di?”

Obrolan berhenti sampai di situ. Hadi pulang lagi ke Indonesia. Ia mampir sebentar ke rumah saya karena memang sedang berbicara di hadapan sebuah forum internasional yang membutuhkan keahliannya. Sejak saat itu, saya tidak pernah lagi mendengar kabar Diki. Satu-satunya teman saya yang cukup akrab dengan Diki yaa Hadi.

Tapi sebagaimanapun jauhnya ia dan kapan kejadiannya, obrolan dengan Hadi malam itu memang sangat jelas masuk ke otak saya.

Intinya, jika seseorang mampu dan berbakat. Apa yang harus ia lakukan?

Balik ke omongan Salim, jawabannya jelas; Harus berkarya. Sebab berkarya itu adalah bagian dari hidup.

Saya pikir, saya jarang berkarya sebagai bagian dari hidup. Biasanya, saya berkarya karena saya gelisah. Gelisah karena deadline kerjaan. Gelisah karena harus mengumpulkan tugas dulu ketika sekolah. Atau gelisah karena butuh sesuatu. Saat ini saya gelisah mau membelikan putri saya mainan baru. Sayang saya belum ada uang. Jadi, saya berkarya, saya memotret, pada intinya memang hanya karena mau memberikan anak saya boneka anjing besar berbulu lembut yang bisa menyalak.

Edan memang, riset macam apa yang saya lakukan jika ujung-ujungnya hanya mau membelikan anak mainan.

Saya tidak idealis? Entahlah. Jawabnya iya atau tidak sama sekali tidak begitu banyak pengaruhnya. Saya sendiri tidak bisa menempelkan cap atau stigma pada diri saya. Sama sebagaimana saya tidak bisa menempelkan cap itu pada jidat Diki.

Mungkin saja Diki punya motif yang sama dengan Anakin Skywalker. Bergabung ke Dark Force lalu menjadi Darth Vader demi menyelamatkan jiwa istri yang amat dicintainya.

Sebab di ujung hari, riset atau tidak, toh saya biar bagaimanapun juga akan mendapatkan boneka anjing besar yang bisa menyalak.

Sebagaimana di ujung hari, perusahaan tempat Diki bekerja semakin berhasil mengaburkan jejak-jejak kejahatan mereka.

*Kelihatannya saya (lagi-lagi) patah hati dengan superioritas mafia hukum RI*


Tukang Cak

Masa sekolah dulu, boleh dibilang saya sama sekali tidak memiliki prestasi yang memadai. Nilai saya untuk semua mata pelajaran adalah rata-rata. Sementara yang ada dalam kategori di bawah rata-rata, jelas semua mata pelajaran yang berbau norma moral dan agama. Entah kenapa segala sesuatu yang berhubungan dengan norma moral dan agama, nilai saya selalu merah.

Satu mata pelajaran yang nilainya di atas rata-rata, mungkin hanya matematika. Dan itu pun tidak semua matematika, sebab saya hanya menyukai cabang keilmuan matematika yang bernama teori kemungkinan (probability theory).

Mengapa saya menyukai teori kemungkinan dalam matematika? Sebelum saya jawab ini, ada baiknya jika saya menerangkan apa itu teori kemungkinan dalam matematika.

Menurut kamus, teori kemungkinan dalam matematika adalah;

Cabang matematika yang bersangkutan dengan analisis fenomena acak. Objek utama dari teori kemungkinan adalah variabel-variabel yang terlihat acak atau kejadian-kejadian tertentu. Peristiwa matematis dapat dengan jelas terlihat dalam kejadian yang berkembang dari waktu ke waktu dalam mode yang tampaknya acak. Misalnya jika seseorang melemparkan koin atau dadu dianggap peristiwa acak, maka jika ia berulangkali mengulangi urutan kejadian acak tersebut maka akan menunjukkan pola-pola tertentu, yang dapat dipelajari dan diprediksi. Teori kemungkinan adalah dasar statistik. Ia berlaku untuk deskripsi sistem yang kompleks seperti misalnya digunakannya pada mekanika statistik untuk menjelaskan banyak hal

Waktu pertama kali Bu Atu (pengajar matematika teori kemungkinan) menjelaskan hal ini, saya langsung konsentrasi. Di otak saya hanya dua kata kunci yang tertangkap. Satu ‘dadu’. Satu lagi bagian ‘menjelaskan banyak hal’.

Gila! Gua bisa kaya kalo begini. Itu satu-satunya hal yang ada di otak saya. Bagaimana tidak, judi yang selama ini saya anggap misteri, ternyata bisa dipecahkan dengan matematika!

Waktu zaman saya belajar teori ini, Indonesia sedang keranjingan judi namanya Togel. Singkatan dari Toto Gelap. Judi Toto sendiri katanya datang dari Malaysia/Singapura. Entah saya tidak tahu pastinya, yang pasti di di kampung saya Cilincing manusia berlomba-lomba pergi ke bandar setiap malam untuk bertaruh pada sepasang angka (atau lebih) pada beberapa carik kertas yang disediakan bandar judi lokal. Ada embel-embel gelap, yaa karena memang bukan resmi binaan pemerintah.

Warga keranjingan Togel. Murah sih, seribu lima ratus rupiah sudah dapat bertaruh untuk dua angka. Kalau menang, bisa dapat puluhan kali lipatnya. Mulai dari tukang becak hingga bos kapal nelayan, semuanya hobi pasang judi togel.

Togel lalu jadi epidemi. Di poskamling tempat warga berkumpul, pasti selalu ada sebuah kertas berukuran A4 fotokopi yang isinya adalah gambar-gambar binatang atau benda yang tertera dalam kotak-kotak kecil. Di bawah icon-icon tersebut ada angka, biasanya dua huruf. Ketika akhirnya sudah jadi wabah, bahkan tiang listrik pun ditempeli oleh kertas-kertas tersebut. Yang pasti, kampung saya berubah bagaikan masa pemilihan lurah. Dimana-mana ada kertas promosi. Isinya icon dan angka.

Apa sebenarnya isi kertas fotokopi tersebut? Sederhana. Katanya itu penafsir mimpi. Kalau suatu malam Anda bermimpi diterkam macan, lihat saja kertas itu. Pada icon macan dibawahnya tertera angka 15. Maka pergilah ke bandar, pasang angka 15 sambil berharap mimpi Anda jadi kenyataan. Lalu lantas jika suatu hari bermimpi bertemu ular di sungai, maka pasanglah angka 23. Jangan 32, sebab itu artinya ular laut, bukan ular yang hidup di air tawar.

Mengapa warga kampung saya sudah sedemikian percayanya pada mimpi?

Ketika kemiskinan sudah menjerat, keadilan sosial hanyalah angan-angan, siapa lagi yang bisa dipercayai selain mimpi. Maka itu, jauh lebih banyak para penggila judi Togel adalah para nelayan kecil hingga tukang becak ketimbang para bos kapal. Buat mereka, hanya mimpi yang dimiliki dan satu-satunya yang murah yang bisa terbeli.

Lalu, apakah saya jadi tergila-gila dengan judi togel pula sebagaimana warga kampung lainnya?

Tunggu dulu ahh. Cerita saya belum sampai ke sana. Mari kita balik lagi ke soal mimpi. Masih ingat cerita di atas bahwa warga mengandalkan taruhan mereka pada mimpi. Secara literal, benar-benar mimpi. Artinya mereka tidur dulu untuk mendapatkan mimpi yang lalu ditukar secarik kertas demi mendapatkan mimpi baru.

Jadi begini, jika seorang warga (mari kita sebut saja si Fulan) bermimpi bertemu lantas diterkam macan, maka ia dengan tidak segan-segan memasang angka 15 pada taruhannya. Tapi bagaimana kalau pada sebuah siang di Cilincing yang panas ia bermimpi bertemu macan di tikungan, lantas dikejar singa hingga pematang lalu ditelanjangi ular di sawah hingga setelahnya diperkosa ramai-ramai oleh gajah? Angka apa yang harus ia pasang?

Nah ini lah gunanya saya (dan gunanya teori kemungkinan). Yang pasti saya tidak akan menjelaskan disini betapa dengan ugal-ugalannya saya menggabungkan teori kemungkinan dan analisa Freud dalam mengubah mimpi para manusia malang itu menjadi angka kongkrit yang mereka pasang sebelum masa pengundian tiap malam tiba.

Saat ini, mungkin jabatan yang saya pegang bisa disebut setara dengan kalimat ‘penasihat spiritual’. Zaman itu, nama saya disebut dengan panggilan ‘tukang cak’, orang yang melihat angka-angka acak. Padahal sebenarnya, dalam zaman apapun saya pikir sebutan untuk saya saya adalah manusia yang keterlaluan menyedihkan yang mencoba mengambil keuntungan dari para manusia malang.

Setiap konsultasi, saya dibayar seribu rupiah. Lumayan. Jika sehari ada sepuluh pelanggan, then you do the math. Zaman itu, dengan uang hasil konsultasi saya bisa beli rokok sebungkus, mie instan pakai telor bahkan berbotol-botol coca-cola. Lambang pergaulan anak muda. Jadi, saat itu kebahagiaan saya berdiri di atas jemari para nelayan dan tukang becak miskin yang terus bermimpi. Sungguh mengenaskan.

Eh apakah sudah saya bilang kalau nilai moral dan reliji saya rendah? Kalau sudah, Anda mungkin bisa mahfum manusia macam apa saya itu. Sebab selama saya bisa mengkalkulasi semua angka dan kemungkinan, saat itu saya akan tetap jalan terus. Menyenangkan.

Iya, saya jalan terus. Selama karir saya sebagai tukang cak, padahal hanya tiga kali saja bisa menebak benar. Artinya sederhana, teori kemungkinan yang saya agung-agungkan ternyata tidak bisa mengalahkan judi togel. Pola angka yang saya bangun, tidak terbukti sukses. Kalau setiap malam ada dua puluh pelanggan dan dalam sebulan hanya mampu menebak tiga taruhan dalam empat digit yang benar, maka perbandingan analisa acak saya boleh dibilang sama sekali tidak berhasil.

Tapi apa lantas para nelayan dan buruh pabrik tekstil kecil itu percaya walaupun perhitungan matematis saya gagal namun saya bukan tukang cak? Hohoho… Tidak. Sama sekali tidak. Mereka tetap percaya kalau saya mampu mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Kepada siapa lagi mereka bisa berharap. Mimpi mereka untuk hidup layak sebagai manusia normal sudah binasa. Maka jika mereka masih punya mimpi diatas mimpi, yaa harus dijaga. Maka itu saya tetap eksis.

Mereka percaya kalau saya ‘sakti’. Dan sebagai orang sakti tentu saya punya previlige khusus. Mirip ambtenaar atau keturunan darah biru pada masa kolonisasi dahulu. Jadi ketika perhitungan saya salah, tentu saja mereka menyalahkan diri sendiri dengan kalimat, “Ahh emang udah gini kali nasib gua malem ini”. Sama sekali tidak pernah menyalahkan saya. Sebab besok malam kami akan berkumpul kembali di poskamling untuk sibuk menganalisa mimpi dan menebak angka. Tentu saja dengan sukarela uang seribu rupiah berpindah tangan setelahnya.

Suatu hari di poskamling, sudah bisa ditebak. Ada yang bertanya, “Kenapa lu ga masang?” pada saya.

Saya jawab, “Ilmu gua luntur nanti”

Seorang bapak-bapak yang mengepulkan asap rokok kreteknya duduk berselonjor ke dinding pos. Baru pulang dari laut. Masih bau amis, bertanya lanjut “Emang belajar di mana dulu gituan”

Saya jawab sekenanya, “Pak Ramli pan tau ndiri, engkong aye orang Banten. Kalo liburan sekolah aye mah ke sono, Pak. Ngelmu. Di sono di Kasemen. Deket mesjid agung. Ini ilmu putih, Pak. Dapetnya aja dari kiyai”

Mendengar itu, biasanya warga kampung saya jauh lebih percaya daripada alasan-alasan lainnya. Ketika hidup sudah tidak lagi logis, rasionalitas bukan sebuah jawaban yang layak terdengar. Apalagi kalau sudah bawa-bawa simbol agama. Seakan jawaban apapun yang tersampaikan sudah direstui oleh langit. Dukungan pembenaran atas mimpi mereka.

Saya malas menjawab kalau saya lebih percaya upaya dagang dengan transaksi jual beli jauh lebih signifikan menguntungkan daripada judi. Pertama, akibat desakan ekonomi sehari-hari mereka biasanya sudah mulai mual duluan apabila mendengar kata ‘modal’. Kedua, saya sering adu argumen yang berakhir absurd ketika mereka menjawab, “dagang kan urat. Cuman yang punya urat dagang doangan bisa dagang”. Ketiga, sebab beberapa orang menganggap bisnis itu tidak lebih dari judi dalam bentuk lain. Keempat dan sekaligus yang terakhir, saya pernah memicu perkelahian karena bilang, “Judi itu ibarat kata naek haji. Buat nyang mampu aja lah. Orang susah ngapain pake judi segala!”

Jadi, maka itu saya lebih memilih menjawab sekenanya.

Namun jawaban sekenanya itu tentu saja tidak berlaku di depan muka Ibu saya yang curiga anaknya sudah berbulan-bulan tidak minta uang jajan. Dan cerita ini pun akhirnya berakhir dengan anti klimaks. Seorang anak yang masih tinggal di rumah orangtua, tidak sanggup melawan meneruskan bisnis di area perjudian demi menjaga nama baik keluarga.

Saya berhenti jadi tukang cak. Profesi yang rendah dimata para agamawan karena membantu suburnya industri judi. Sekaligus profesi yang hina di mata moralis, karena sama sekali tidak etis ikut menghisap darah para manusia yang berada dalam jaringan rantai makanan paling rendah.

Tidak lama setelah saya berhenti, pemerintah dan para cendikiawan agamis memaklumkan perang terhadap judi togel. Tiap malam di kampung kami ada razia polisi. Bandar yang kebetulan buka lapak, disergap dan ‘dibina’. Para nelayan dan buruh kecil tidak lagi duduk bersandar di poskamling menanti semilir angin laut yang membawa kantuk mereka mendulang mimpi. Semua orang takut berhubungan dengan judi togel. Di koran-koran muncul fatwa bahwa togel lebih menakutkan daripada HIV.

Semua orang bekerja. Perjudian dimusnahkan.

Setelah judi musnah, pajak televisi kok yaa jadi murah. Dimana-mana warga ramai-ramai memborong televisi. Ada yang ditaruh di ruang tamu jadi pelengkap perabotan pajangan. Ada yang ditempatkan di ruang makan, seakan bagian dari lauk pauk. Ada yang ditaruh di kamar tidur, mungkin untuk jadi saksi ketika mereka melakukan adegan reproduksi.

Dimana-mana orang punya televisi.

Ketika televisi jadi budaya baru, muncul serial-serial yang tiba-tiba membuat ibu-ibu jadi pecandu. Lalu menular ke anak-anak mereka. Lalu tentu saja para suami mulai ikut-ikutan.

Bedanya dengan judi togel, kini dapur jauh lebih ngebul. Uang yang biasanya dihamburkan para bapak di secarik kertas berisi angka, kini bisa untuk beli makanan dan seragam sekolah anak. Ibu-ibu mulai bisa bersolek. Sales keliling menjajakan kosmetik. Tentu saja biar cantik. Biar mirip bintang yang mereka lihat di televisi. Gaya bicara pun mulai berubah, anak-anak SD bahkan pernah teriak kalimat “Oooh tidaak!!” ketika melihat temannya jatuh dari sepeda. Meniru gaya bicara para artis sinetron. Bapak-bapak mulai bermimpi bisa naik mobil dan bahkan memiliki kendaraan roda empat. Sebab itulah tipikal bapak ideal yang mereka lihat di televisi.

Iya, televisi membuat perbedaan.

Sungguh beda dengan ketika judi togel masih ada.

Sebagaimana teori kemungkinan, jika ada perbedaan maka pasti ada persamaan. Loh apa persamaannya antara televisi dan judi togel?

(*Empat paragraf sisa dipotong. Selain kepanjangan isinya kelihatan seakan saya mau menceramahi para pembaca budiman yang cerdas dan sudah tahu jawabannya apa. Ahh memang saya siapa sok-sokan mau menceramahi warga kampung. Saya kan cuma tukang cak yang kehabisan ladang garapan*)


Apa Sebenarnya Diplomat dan Diplomasi

Secara singkat, diplomat adalah seseorang/institusi yang melakukan praktek dan seni diplomasi. Tapi apa sih sebenarnya diplomat dan praktek dan seni diplomasi?

Mari kita jelaskan secara sederhana dan runut.

1. Latar belakang diplomasi.

Praktek awal diplomasi yang paling terkenal mungkin adalah Surat Amarna yang terbuat dari lempengan batu. Surat ini dikirim oleh Firaun Akhenaten dinasti ke-18 di Mesir kepada kerajaan Kana’an (Saat ini mungkin adalah sekitar Israel, Palestina, Lebanon dan Syriah) pada abad ke XIV SM.

Surat yang ditulis dalam bahasa Akhadian (bahasa yang saat itu lazim digunakan dalam praktek perdagangan internasional pada masanya) menjelaskan kesepakatan perjanjian damai antara Dinasti Mesir dengan Dinasti Hittite yang menguasai Kana’an. Saling tidak menyerang dan menjaga praktek ekonomi warga antar dua negara tersebut berlangsung dengan baik dan semestinya.

Surat itu sukses. Setidaknya sejarah tidak pernah mencatat perang brutal caplok-mencaplok wilayah antara dua negara adidaya tersebut. Sejak saat itu, praktek diplomasi menyebar luas dari satu bangsa ke bangsa lain. Sebuah negara bisa tumbuh atau mati diantaranya adalah berdasar pada hubungan diplomasinya. Kadang kelangsungan sebuah rezim bisa terus berjalan jika praktek diplomasi tetap baik.

Contoh yang paling terkenal di Nusantara mengenai praktek diplomasi adalah penggabungan dua kerajaan besar antara Majapahit dan Champa atau Kamboja saat ini. Dimana Raja Brawijaya IV menikahkan anaknya dengan putri kerajaan Champa dan lalu memperluas wilayah kekuasaan mereka yang berpusat di Trowulan, Jawa Timur. Praktek diplomasi untuk memperluas kekuasaan dan kekuatan, diperoleh sang Raja dengan pola pernikahan antar dua penerus singgasana.

Masih banyak praktek dan seni diplomasi yang lain. Namun akan dijelaskan nanti dan mari kita lanjutkan ke poin berikutnya.

2. Diplomat Profesional

Sudah dijelaskan di atas bahwa diplomat adalah orang yang menjalankan praktek dan seni diplomasi. Jadi pertanyaannya, apakah setiap orang yang menjalankan praktek dan seni ini adalah seorang diplomat.

Jawabannya bisa iya dan tidak.

Iya, sebab siapapun atau apapun yang bisa berdiplomasi sudah bisa dikategorikan sebagai diplomat. Namun bisa tidak, sebab pada saat ini diplomasi lebih cenderung kepada praktek praktis hubungan bilateral antar dua negara atau institusi. Orang/badan yang menjalankan praktek diplomasi dalam profesi kesehariannya sudah layak dikategorikan sebagai diplomat profesional.

Tipe-tipe diplomat secara profesi:

  • Diplomat Kenegaraan: Adalah sebuah pekerjaan yang menuntut seseorang menjalankan tugas diplomasi sebuah negara dan menjalankan misinya di negara tempat ia ditugaskan. Biasanya pekerjaan ini ada di bawah lindungan departemen luar negeri atau sekertaris negara atau duta besar. Pekerjaannya biasanya penuh waktu.
  • Diplomat Usaha: Adalah sebuah pekerjaan yang menuntut seseorang memperlancar usaha atau bisnis yang dia emban. Dalam korporasi besar, diplomat jenis ini biasanya ada dalam divisi ekspansi bisnis (bisa marketing bisa pula business intelegent). Sama seperti diplomat kenegaraan, pekerjaan mereka biasanya penuh waktu.
  • Diplomat Dengan Alasan: Adalah sebuah kejadian yang menuntut seseorang atau sebuah badan menjadi diplomat. Contoh yang paling simpel mungkin adalah Pak/Bu RT jika di Indonesia. Meskipun bukan pekerjaan utamanya, namun beliau kadang mendapat tanggung-jawab menengahi perseteruan antar dua tetangga di kampungnya. Ketika beliau melerai dan mengatasi meluasnya efek perpecahan di lokasinya, maka ia segera mendamaikan kedua belah pihak. Praktek ini bisa pula disebut sebagai diplomasi.

Setiap orang bisa menjadi diplomat. Sebab setiap orang punya bakat menjalankan tugas diplomasi. Bahkan ketika kita sedang tawar-menawar di pasar saja, sebenarnya kita sedang menjalankan seni diplomasi. Namun agar lebih mudahnya, saat ini, mari kita bicara mengenai diplomat kenegaraan saja.

3. Apa itu diplomat kenegaraan dan apa tugasnya?

Secara mendasar, diplomat kenegaraan adalah seseorang yang bekerja dan menjalankan praktek diplomasi untuk negaranya.

Secara garis besar diplomat yang berpraktek diplomasi antar dua negara dibagi dalam beberapa kategori. Antara lain:

  • Bisnis: Dalam prakteknya, diplomat yang bertugas dalam atase bisnis menjamin keberlangsungan bisnis antar negaranya dengan negara tempat ia ditugaskan berjalan dengan baik. Ia ditugaskan melindungi dan melayani segenap asset-asset dagang negaranya di tempat ia ditugaskan. Memberi masukan kepada penentu kebijakan ekspor import. Dan yang lebih baik, adalah memahami bisnis lokal di tempat ia ditugaskan lalu memberi perspektif itu kepada bagian Kamar Dinas Perdagangan.
  • Keamanan dan Perdamaian: Di bagian ini, seorang diplomat memberi input pada negaranya agar tercipta keamanan dan perdamaian hubungan dua negara. Pada masa kekaisaran Ottoman, seorang diplomat adalah penjamin perdamaian. Jika kesepakatan damai antar dua negara pecah, biasanya si diplomat yang diwakili oleh duta besarnya lah yang akan dihukum terlebih dahulu. Saat ini diplomasi keamanan biasanya mewakili negoisasi mengenai penjualan/penyelundupan senjata, binatang, obat terlarang, manusia dan sebagainya.
  • Hubungan Publik (Public Relation): Ini adalah diplomat yang mewakili negara yang mengutusnya di negara lain. Ia menjadi ‘muka’ negara bersangkutan di negara tempat ia ditugaskan. Hubungannya luas antara lain adalah terhadap media, publik lokal dan juga publik negaranya yang kebetulan sedang ada di negara tempat ia ditugaskan. Ia juga yang biasanya menjadi mediasi antara dua belah negara yang sedang dalam keperluan.
  • Budaya: Diplomat atase budaya biasanya mewakili dan menjembatani pertukaran pengetahuan antara dua budaya. Yaitu budaya negaranya dan negara tempat ia ditugaskan. Dalam praktek diplomasi ini, kadang erat sekali hubungannya dengan bisnis pariwisata antar dua negara.
  • Kemanusiaan: Dalam kasus tertentu yang melibatkan hak asasi manusia, diplomat harus cepat tanggap mengatasi krisis. Misalnya adalah tentang pelarian politik, evakuasi korban atau pembelaan terhadap warga negaranya yang diadili di negara tempat ia ditugaskan. Biasanya diplomat bagian ini mengerti sekali hukum negara dimana ia ditugaskan dan juga program mitigasi bencana.

Apa syarat jadi diplomat kenegaraan? Yaa banyak. Diantaranya adalah:

  • Bersedia ditempatkan dimana saja.
  • Mengenal budaya lokal tempat ia ditugaskan dan memahami bahasa dengan baik.
  • Bersedia aktif dalam komunitas lokal maupun internasional tempat ia ditugaskan.
  • Memiliki kemampuan komunikasi yang baik.
  • Taktis dan diplomatis.
  • Memiliki keahlian pengorganisasian.
  • Mudah membangun jaring kenalan.
  • Ini yang paling penting: Selalu mencatat dan melaporkan hasil praktek dan seni diplomasinya kepada negara yang memberinya tugas dalam saluran khusus.

4. Bagaimana jika praktek diplomasi gagal?

Jawabnya gampang; yaitu jelas-jelas hubungan dua negara menjadi buruk. Paling parah, adalah perang. Menyengsarakan banyak manusia, binatang dan alam.

Namun jika praktek diplomasi baik, maka hubungan dua negara pun akan menjadi baik. Paling mudah melihat sukses tidaknya para diplomat adalah jika praktik diplomasi antar dua negara saling menguntungkan dan berjalan dengan grafik yang menaik setiap lima tahun.
(*Kenapa lima tahun? Sebab biasanya pergantian penguasa dan kebijakan di negara-negara berasas demokratis yang paling banyak dianut saat ini selalu berbeda setiap lima tahun*)

Statistik itu jelas bukan satu-satunya pengukur keberhasilan antar dua negara. Banyak faktor lain yang menjadi pengaruh keberhasilan hubungan antar dua negara, diantara misalnya adalah jika negara tempat diplomat bertugas adalah negara konflik (seperti Irak atau Afganistan misalnya).

Di daerah bencana seperti Libia atau Jepang, keberhasilan diplomasi bisa saja diukur dari cepat tidaknya para diplomat merespon keselamatan warganya untuk dievakuasi.

Sekarang kita ke bagian ke yang paling penting dalam tugas diplomasi, yaitu diplomat mengobservasi, riset dan lalu mencatat hasil sebelum dikirim ke penentu kebijakan di negara pengutusnya

Dalam semua persayaratan sebagai diplomat, terlihat bahwa keahlian komunikasi itu hampir mendominasi semua tuntutan keahlian diplomat.

Di lapangan, praktek ini memang benar adanya. Diplomat secara horisontal sebisa mungkin menjalin komunikasi dengan otoritas lokal di negara ia ditugaskan. Riset dan menggali informasi sebanyak-banyaknya latar belakang para penguasa lokal sebelum bertemu mereka, dan lalu mencoba membuktikan informasi itu dengan cara cross check atau mengkonfirmasikan langsung kepada yang bersangkutan dengan bahasa diplomasi.

Maka kemampuan memahami bahasa, baik bahasa diplomasi dan juga bahasa lokal amat penting, sebab dengan cara begitu seorang diplomat mampu menjalin komunikasi dengan komunitas lokal. Sehingga laporannya menjadi lebih akurat, terkini dan terpercaya. Ketidakmampuan memahami budaya atau bahasa lokal sudah mampu menjadikan seseorang diplomat tidak memiliki poin plus dalam pekerjaannya. Begitupun juga dengan ketidakmampuan mengetahui jaringan lokal di negara tempat ia ditugaskan bukanlah sebuah poin tambahan buat diplomat.

Secara kontinyu, diplomat melaporkan hasil laporannya kepada pemberi tugas melalui saluran khusus. Saluran komunikasi ini diusahakan aman, bersih dan rahasia. Hasil dari komunikasi ini dapat dikategorikan sebagai raw intel. Yaitu laporan intelejen yang belum diolah. Setelah diolah dan dilengkapi dari berbagai sumber diplomat lainnya, laporan ini diserahkan kepada penentu kebijakan, para legislatif atau eksekutif. Hasil dari laporan ini menjadi amat penting sebab adalah penentu terhadap hubungan antar dua negara.

Kasus paling besar dalam sejarah terhadap kebocoran informasi diplomasi adalah wikileaks cablegate. Dimana laporan ratusan ribu dokumen diplomat Amerika Serikat bocor dan dapat diakses publik di website wikileaks sejak tahun 2010. Menjadikan hubungan Amerika Serikat dengan negara-negara tempat diplomatnya diposkan sebagai polemik yang masih berkepanjangan pada tulisan ini diturunkan (2011).

Dalam dokumen-dokumen itu terlihat jelas penilaian dan perspektif para diplomat terhadap penguasa lokal dan juga aspek-aspek lain hubungan diplomasi antar negara. Kebanyakan adalah raw intel. Informasi yang belum dipoles. Para diplomat secara jujur melaporkan apa hasil investagasi berdasarkan perspektif mereka. Ketika informasi ini bocor di publik, jelas saja pemerintah USA menyangkal kesahihannya :)

5. Penutup

Saya tidak mencoba membela atau melemahkan data pada informasi di wikileaks. Buat saya jelas-jelas itu raw intel. Ditulis oleh para diplomat US dan ditujukan pada atasan mereka di Washington DC. Dan ketika rezim yang berkuasa di Republik Indonesia namanya tercantum dalam laporan tersebut dalam sebuah skandal, buat saya yaa wajar saja. Tapi kalau misalnya dokumen itu tiba-tiba tertera nama Pak RT saya Pak Hambali, pasti saya bingung. Hehehe…

Artinya begini; para diplomat itu bukan orang tolol. Mereka punya standar dalam melakukan riset dan laporan. Mereka dilatih dan sudah terlatih dengan baik melakukan pekerjaannya. Mereka juga terlatih melaporkan semua hasil riset secara apa adanya. Maka jika info yang mereka terima tidak baik, maka bisa saja outputnya menyusahkan hubungan bilateral negara. Namun jika informasinya baik, maka semakin baik hubungan dua negara.

Sekarang, pertanyaannya adalah apa itu informasi yang baik? Saya pikir jawabannya simpel. Informasi yang baik adalah informasi yang didapatkan secara akurat dan disampaikan apa adanya. Sebab itu adalah sebaik-baiknya informasi dan mudah melakukan penyelidikan silang untuk membuktikan kebenarannya.

Jadi, apakah rezim yang tengah berkuasa saat ini RI memang benar terlibat skandal? Jawabnya bukanlah asumsi. Bukan bantahan. Bukan pula sekedar jawaban iya atau tidak lewat media. Melainkan adalah transparansi melalui penyelidikan untuk membuktikan benar atau salahnya.

Lantas, bagaimana mengadakan penyelidikan terhadap omongan para diplomat?

Nah ini susahnya…

Sebagai akhir cerita ocehan saya yang sama sekali bukan diplomat ini, ijinkanlah saya mengutip pengalaman di sebuah makan malam intim yang dihadiri oleh beberapa orang saja di ruang kedutaan sebuah negara Eropa Barat yang ada di Jakarta. Tidak lama setelah invasi US ke Afganishtan.

Pak Dubes: Sambil terkekeh-kekeh mengisap cerutu bilang, “Kami sebenarnya sudah tahu dimana posisi Osama berada”

Si Orang Indonesia bengong: “Loh kenapa nggak ditangkep aja?”

Pak Dubes mendelik, melepaskan cerutu dari mulutnya dengan kedua jari sambil melengos: “Apa untungnya buat kami?”


Jika Benci Toleransi Jadi Epidemi

(*Sebelumnya saya mohon maaf sekaligus berterimakasih kepada teman-teman pembaca yang amat baik hati telah merespons tulisan blog ini dengan sangat apresiatif. Jarak geografis, waktu dan terlebih saat ini personal health issues, membuat saya agak kesulitan merespon komentar/saran, menerima undangan wawancara, atau hadir untuk meresensi acara-acara yang saya yakin baik sekali gunanya buat publik. Saya yakin suatu saat jika diberi rizki bernama kesempatan, maka kita akan bisa bertemu baik dalam dunia maya atau nyata. Semua tulisan di blog bangaip.org sejak awal tahun 2011 dibuat secara offline dan sesekali dipublikasikan online jika saya ada sedikit kesempatan. Terimakasih banyak atas pengertiannya*)

———————————————-

Saya membayangkan apabila semua manusia sama; berpakaian sama, berkulit sama, berideologi sama, berbicara dengan bahasa yang sama, dan selalu sama-sama lainnya, maka ajaib sekali hidup ini.

Anda tahu Smurf, makhluk biru kecil rekaan komikus Belgia Pierre Culliford (yang lebih dikenal sebagai Peyo). Kalau tidak tahu, ijinkan saya sedikit cerita mengenai mereka.

Smurf. Sejenis makhluk kecil seukuran ibu jari. Makhluk-makhluk ini selalu menganggap diri mereka sama. Kalau berbicara, pasti ada kalimat ‘smurf’ yang menyembul dari mulut mereka dalam menterjemahkan sesuatu. Mereka tinggal bersama-sama dan percaya bahwa kebersamaan adalah sesuatu yang membahagiakan.

Namun pada kenyataannya, para smurf ini tetap saja berbeda. Ada Smurf Kacamata yang suka baca buku. Ada Papa Smurf, sang pengayom. Ada Smurfettes, yang terlahir sebagai satu-satunya wanita di komunitas Smurf (*O-oh, jangan berfikir yang tidak-tidak macam gangbang misalnya. Ini komik konsumsi anak-anak*).

Ternyata, dalam kebersamaan tetap saja ada perbedaan. Dan dalam perbedaan, mereka masih tetap bersama-sama.

Walaupun satu jenis dan mengklaim satu, satu warna kulit, satu jenis topi, satu tipe celana, satu kampung hidup bersama dan menyadari pada akhirnya bahwa mereka semua berbeda, ternyata para Smurf ini toh mereka semua bisa rukun-rukun saja.

Saya jelas beda dengan Smurf. Tapi punya sedikit persamaan. Walaupun lahir dari rahim yang sama, makan-makanan yang sama, menerima warisan genetis dan pendidikan yang sama, besar di lingkungan yang sama bahkan bergaul dengan orang yang sama, tetap saja saya dan adik saya berbeda.

Aneh?

Ahh, tidak juga. Sebab ini yang dinamakan anugrah. Dalam bahasa kampung saya Cilincing, ‘barokah’. Perbedaan itu nikmat. Hehe…

Dari mana asalnya perbedaan?

Sumpah mati saya tidak tahu. Saya pikir bagi yang relijius akan berfikir bahwa ini semuanya datang dari Yang Maha Memberi. Bagi yang tidak relijius bagaimana penjelasannnya? Wah lagi-lagi saya tidak tahu. Pertanyaan ini terlalu filosofis untuk otak saya yang kecil :)

Lantas, apa semua perbedaan menyenangkan?

Saya pikir, belum tentu. Sebelum bicara lebih lanjut, ada baiknya saya memberi contoh sederhana kenapa saya bisa bilang begitu. Dan agar tidak susah, saya ambil dari contoh terdekat. Yaitu apa yang saya alami (dan jelas subjektif). Ini contoh pertama;

Setiap hari umumnya saya berurusan dengan mikrobiologi. Khususnya, dengan semua penyakit-penyakit yang berbahaya buat binatang peliharaan manusia di muka bumi. Setiap hari bergelut dengan semua itu, setiap hari pula saya sadar bahwa ada virus yang berevolusi dan bermutasi. Ada virus HIV yang merubah diri lalu loncat dari manusia ke kucing. Ada virus SIV dari babi yang berkembang dengan canggih lalu loncat ke manusia. Ada virus lingkaran patogenis yang berkembang di burung lalu menyebar di anjing, kucing hingga kuda. Dan setiap hari, kadang saya jadi saksi lahir dan munculnya perbedaan di antara virus-virus tersebut.

Semakin banyak tipe virus itu muncul, semakin berbeda tipe mereka, semakin besar pula bahayanya terhadap ras hewan dan manusia. (*Tapi jangan takut, sebab masih ada Bangaip dan temen-temennya yang ngelawan abis-abisan. Hehehe, sok jago banget nih saya*).

Jadi perbedaan itu belum tentu menyenangkan. Apalagi jika itu perbedaan yang muncul dari virus-virus yang membahayakan kehidupan.

Masih belum puas dengan satu contoh? Nih saya kasih lagi satu bukti bahwa perbedaan itu belum tentu menyenangkan:

Hari Sabtu lalu dengan mata kepala sendiri saya lihat seorang lelaki muda dihina, dipermalukan, dicemooh dan diperlakukan buruk secara verbal oleh temannya. Si lelaki ini santai saja menanggainya. Saya kaget. Dan lebih kaget lagi ketika ia menjawab, “Kami berbeda pendapat soal hidup. Beda kan boleh. Dia boleh ngamuk, saya boleh cuek”, ketika saya tanya kok kenapa ia kalem saja menanggapinya.

Berbeda soal pandangan hidup ternyata bisa membuat seseorang berang, marah, emosi dan melontarkan brutalitas di depan publik. Dan sebagai saksi mata, saya bisa bilang bahwa menyaksikan itu sama sekali bukan saat yang menyenangkan.

Jadi kata siapa perbedaan itu selalu menyenangkan?

Jelas tidak. Perbedaan tidak selalu menyenangkan. Tapi setidak-menyenangkannya perbedaan, ia tetap saja fakta.

Dulu ada seorang menteri dari Indonesia yang bilang bahwa Flu Burung dan Flu Babi itu rekayasa di depan publik dan media. Aduh gombalnya! Padahal beliau jelas bukan orang bodoh. Malu sekali saya mendengar hal itu. Apalagi keluar dari sesama orang Indonesia (*yang membuat berhari-hari saya ditanya rekan-rekan kerja bagaimana standar penelitian di RI*). Kok yaa mengingkari fakta? Virus bermutasi, virus berevolusi, dan itu adalah salah satu bentuk kehidupan bahwa perbedaan itu ada. Itu realita. Itu fakta. Mengapa dinegasi?

Lelaki dan perempuan itu berbeda. Kalau senang atau menguntungkan, mereka bercinta. Melakukan adegan reproduksi. Kalau sukses, ada hasil dari adegan reproduksi tersebut. Yang pasti, lelaki dan perempuan itu berbeda. Itu fakta. Walaupun lebih jauh lagi bahwa lelaki dan perempuan bisa jadi saling menyebalkan akibat perbedaan yang mereka miliki, tetap saja perbedaan antara mereka adalah fakta. Realistis saja lah.

Saya dan Anda berbeda. Saya punya pendapat sendiri. Anda punya opini pribadi. Sah? Yaa jelas sah. Konstitusi telah melindungi kita untuk tetap bisa berbeda. Lambang negara dengan gagah mengibarkan panji “Walaupun Berbeda Kami Adalah Satu”.

Para pendiri bangsa pun manusia berbeda. Ada yang playboy, ada yang alim, ada yang hobi dansa, ada yang penyendiri dan hobi berkelana. Dan macam-macam lainnnya. Namun seberat apapun bedanya mereka, masih tetap memikirkan sebuah cikal bakal nusa yang saat ini bernama Republik Indonesia. Dalam pergulatan kelas, pergulatan ras bahkan hingga pergulatan jati diri, bangsa ini didirikan atas berjuta-juta manusia yang sama sekali berbeda.

Maka perbedaan itu jadi begitu berarti. Begitu bermakna. Pondasi bangsa ini didirikan oleh manusia yang berbeda, dari manusia yang berbeda dan untuk manusia yang berbeda. Negeri ini tidak berdiri hanya untuk orang Islam saja. Tidak untuk orang Jawa saja. Tidak untuk laki-laki dewasa saja. Melainkan untuk semua manusia Indonesia. Dan mereka lah ruh Indonesia, berbeda-beda dalam segala keragamannya tapi tetap satu saling menyayangi, menghargai dan mencintai antar sesama.

Jika saya doyan makan sambel oncom dan kamu suka sambal terasi, apakah layak kita saling benci?
Jika si Nina suka gonta-ganti tas belanja dan si Amir suka gonta-ganti klub sepak bola idola, apa mereka layak saling menghina?
Jika Anda menyembah pohon beringin dan tetangga menyembah botol obat kuat, apakah kita layak saling menyikat?
Jika dia percaya bahwa Tuhan ada 17 dan pacarnya bahkan tidak percaya Tuhan sama sekali, apa mereka layak saling menggurui dalam emosi?

Tidak!

Sejarah telah membuktikan, bahwa kita berbeda. Negeri ini, bangsa ini, para manusia ini didirikan dalam perbedaan dan itulah kekuatan mereka. Sehari-hari kita dihantam perpecahan, dirongrong provokasi, dihancurkan kepercayaannya bahwa kita manusia dan layak hidup sebagaimana manusia, diagitasi bahkan hingga iman terhadap perbedaan hampir mati.

Tapi toh kita tetap hidup. Kenapa?

Jawabnya sebenarnya hanya satu. Karena masih ada toleransi.

Lantas bagaimana jika toleransi pun sakaratul maut dirajam oleh sekelompok manusia berideologi kejam. Yang rela membunuh manusia lain hanya karena berbeda agama. Yang rela menghalalkan darah saudaranya hanya karena merasa pemilik sah republik dan surga.

Lantas bagaimana jika anti toleransi jadi epidemi. Menyebar lebih busuk dari hati satu manusia ke manusia lainnya. Membisikkan dendam-dendam pribadi. Pelan-pelan menghasut telinga, “Mereka sesat, harus diluruskan, jika tidak kita tidak mungkin dapat surga”. Lalu akhirnya pada suatu malam pendemi ini begitu berbahaya dan darah para minoritas pelan-pelan mengalir membeceki tanah. Merefleksikan bulan yang begitu gelap dan muram.

Di negeri ini, sekali lagi meleleh darah di muka bumi. Dibaliknya, tersebar rumor bahwa itu adalah darah manusia sesat yang layak dibunuh. Dibaliknya, tersebar cerita bahwa secara diam atau terang-terangan bahkan orang yang mengaku paling demokratis pun tak banyak upaya untuk buka suara. Di negeri ini, pernah dan telah terjadi kekerasan terhadap kemanusiaan.

Dan kemungkinan, masih akan terus terjadi.

Dulu tahun 65, jadi PKI artinya mati. Mayatnya dibuang di Bengawan Solo dan tidak ada penyelidikan, penanggung jawab bahkan rehabilitasi nama atas para korban.
Dulu awal 1990-an, jadi petani di sebuah desa di Lampung dekat pantai artinya mati. Sebab jika mereka meminta hak atas tanah yang sudah digarap sejak oleh nenek moyang mereka pada tangsi tentara yang tiba-tiba berdiri, mayatnya akan dibuang di hutan dan mungkin jadi santapan binatang.
Dulu pada 2004, jadi Munir artinya mati. Terlalu vokal banyak bersuara mengkritik para bajingan di atas mahligai sana, diracun hingga tewas dan semisterius alasan pelaku pembunuhnya.

Kini, jadi Ahmadiyah hampir mirip dengan mereka yang tersebut dahulu. Diburu, dicemooh, dibantai, dibunuh, bahkan ketika sudah meninggal pun sempat digali lubang kuburnya hanya untuk dihinakan. Di era digital ini Bandung tahun 2011 kuburan  seorang warga Ahmadiyah dibongkar dari Taman Pemakaman Umum. Jasadnya dibuang ditelantarkan hanya untuk dinistakan.

Kenapa ada di negeri ini? Negeri yang mengaku penduduknya ramah dan mudah senyum. Kenapa? Kenapa harus di negara yang mengaku ber-Bhineka Tunggal Ika?

Kalau memang pada ujungnya kita harus menghancurkan dan menistakan perbedaan, mengapa negeri ini tetap harus ada?
Jika hanya bisa diam melihat kekerasan terhadap perbedaan, mengapa masih mau (pura-pura) jadi orang Indonesia?
Yang lebih parah lagi, jika melihat semua kekejaman terhadap perbedaan dan keragaman manusia sudah lagi tidak menyinggung hati, apa memang iya kita masih punya hati?

Perbedaan itu anugrah. Walaupun tidak selalu menyenangkan, ia adalah fakta. Sehari-hari kita bergulat didalamnya. Jika tidak sadar bahwa perbedaan adalah realita lalu menafikkan perbedaan, jangan-jangan hati kita pelan-pelan hampir mati. Sebab telah dijangkiti virus hasad bin dengki.

Idiih, amit-amit jabang bayi.


Perbuatan Tercela (Balada Tomi Sang Polisi)

Akibat dulu sempat tinggal di kompleks perumahan polisi dan beberapa anggota keluarga bekerja di kepolisian RI, stok cerita saya soal polisi Indonesia yaa cukup banyak. Mulai dari yang heroik dalam menjalankan tugas hingga yang aneh-aneh bahkan sampai ke yang memalukan.

Anehnya, diantara sekian banyak cerita hanya yang heroik dan yang memalukan saja yang tetap membekas di otak saya hingga saat ini. Hehe, entah kenapa.

Sampai saat ini para pelaku di kejadian heroik masih teringat. Saya dan teman-teman masih hormat dengan mereka. Ada yang pincang karena kakinya ditembus peluru ketika menggagalkan perampokan. Ada yang mukanya penuh luka-luka bekas bacokan sebab tetap tegar menghadapi massa ketika harus berjuang membela minoritas. Polisi-polisi ini sudah tidak muda lagi. Ada yang sudah tidak dinas karena kondisi tubuh. Ada pula yang masih dinas namun sudah tidak di lapangan lagi. Tapi kalau nongkrong bareng, mereka selalu dapat tempat duduk bangku dan dapat gelas bersih. Tanda hormat.

Tapi… Tapiiii… Haha, tentu saja ada tapinya. Para polisi heroik ini tidak banyak. Jika ada, ia akan lalu jadi legenda. Dan ketika ia jadi legenda, posisinya tinggi nun jauh di langit sana. Jadi mitos. Jadi panutan, bagaimana polisi muda harus bersikap. Gagah berani meski dihantam gaji kecil dan kebutuhan sehari-hari yang makin tinggi.

Para polisi gagah berani itu, bukan teman pergaulan saya sehari-hari. Iya saya kenal, tapi tidak dekat.

Jadi jangan salahkan saya kalau teman-teman saya adalah para polisi yang …err.., begitu deh.

Teman-teman saya itu bukan orang jahat. Itu perlu saya garis bawahi, karena hampir tiap hari saya bersama mereka. Namun biar bagaimanapun mereka manusia. Kadang kekuatan yang mereka miliki digunakan untuk … err.., begitu deh.

Diantara teman saya yang ‘begitu deh’, Tomi sama sekali dapat dikategorikan alim. Di saat yang lain malam jumat ikut pengajian dan malam minggu ikut saya mabu-mabu’an, Tomi lebih memilih main dengan adik saya. Sementara track record adik-adik saya lumayan bersih ketika malam hari tiba.

Jadi kagetlah saya pada suatu malam minggu menjumpai Tomi tiba-tiba datang berkumpul dengan saya dan teman-teman sambil memegang botol miras Topi Miring yang sudah kosong. Ia sudah mabuk sebelum sampai ke sini. Ada apa gerangan?

Dalam kebingungan Rahman yang nampaknya mampu membaca raut muka di samping saya berbisik, “Bang, minggu depan seragamnya di copot”

Saya kaget. Saya tahu peristiwa ini. Pencopotan seragam polisi secara fisik di depan upacara adalah hal yang memalukan. Selain artinya ia di pecat dari keanggotaan, juga merupakan pelajaran bagi rekan-rekannya agar tidak melakukan tindakan yang sama. Pada proses ini seorang polisi yang melakukan tindakan indisipliner akan di panggil di tengah lapangan. Di bacakan alasan pencopotan seragam oleh komandannya. Lalu komandan akan mencopot baju seragamnya. Hingga si naas hanya akan terlihat memakai pakaian dalam saja. Setelah itu, ia diminta meninggalkan lapangan. Pada saat ia meninggalkan lapangan, semua rekan-rekan (atau tepatnya; mantan rekan) akan diperintahkan untuk membalikkan badan. Tanda tidak hormat.

Tomi seragamnya di copot? Kenapa? Masa sih begaul sama adik saya jauh lebih parah daripada bergaul sama saya? Ini para bajingan di samping-samping saya yang hobi mabuk dan kadang memeras rumah judi, kok yaa aman-aman saja dan tidak pernah dicopot seragamnya?

Rahman dan Boy ganti-gantian membela diri, “Gua mah abis malak nyetor bang ke komandan” atau “Kalo mabok kan duit sendiri bang, bukan duit komandan. Yang penting mah pas jam masuk, kita ada di sono sebelom komandan dateng”

“Lah terus si Tomi ngapain? Ngerampok terus nggak bagi-bagi?”

Rahman menggeleng, “Istrinya hamil, Bang”

Saya menyerenyitkan kening, “Istrinya hamil kok dipecat? Bukannya dinaikin pangkatnya atawa dinaikin gajinya biar bisa ngasih makan anak kok malah dipecat? Emang yang ngebuntingin siapa? Komandan?”

Boy diam, garuk-garuk kepala sebentar. Lalu menjawab, “Bukan gitu. Waktu nikah dia emang sih bilang komandan kalo mao kawin lagi. Terus komandannya ngamuk, Bang. Kalo kawin lagi, bisa-bisa dia dikeluarin. Tapi si Tomi kan anaknya mantep. Prestasi terus tuh anak. Jadi komandan diem-diem aja akhirnya. Nah pas itu istri mudanya yang hamil ketauan deh ama istri tuanya. Sebab si Tomi rupanya ngebagi jatah belanja bulanan. Istri tua marah, trus lapor komandan. Malah pake ngancem segala, kalo si Tomi nggak ditindak dia bakalan lapor ke Pusat. Sial dah nasib si Tomi”

Saya bengong. Melihat Tomi yang menatap gelasnya sambil mengunyah kacang pelan-pelan. Saya jadi terbayang wajah komandannya. Komandan yang sehari-hari tugas bersama. Yang sudah seperti ayah, kakak dan teman sekaligus sahabat hingga pastur tempat kita mengadu dosa.

Saya lihat wajah Tomi muram. Semuram lampu lapo tuak yang tengah kami singgahi.

Singkat cerita, Tomi dipecat. Benar-benar dilucuti seragamnya. Setelah itu bagaimana? Kelihatannya tidak perlu saya ceritakan di sini. Tragis sih. Adik-adik saya sudah melarang saya untuk cerita lebih lanjut soal Tomi pasca pemecatannya.

Life goes on. Tahun berlalu. Kali ini, apabila ada cerita soal polisi saya tidak lagi hanya teringat para pahlawan yang pincang atau yang codet tercabik belati. Tapi saya juga ingat Tomi. Entah dia ada di bagian mana.

Dan masih segar ingatan saya tentang Tomi ketika beberapa hari lalu, ada berita soal polisi yang bernama Edmond Ilyas melakukan tindakan tercela. Tentu saja Edmond bukan Tomi dan Tomi bukan Edmond. Tapi judul headline berita ‘Brigjen Edmond Terbukti Lakukan Perbuatan Tercela’ membuat saya semakin tergelitik.

Apa itu tercela? Tindakan tidak terpuji seperti polisi yang mabu-mabu’an dan memeras rumah judi macam teman-teman saya?

Ahh bukan rupanya.

Di sana tertulis;

Mantan Direktur Direktorat Ekonomi Khusus Polri, Brigjen Pol Edmond Ilyas terbukti melakukan perbuatan tercela karena tidak melakukan pengawasan terhadap anak buahnya dalam kasus Gayus HP Tambunan…
Edmond terbukti tidak melakukan kontrol terhadap penyidikan yang dilakukan oleh anak buahnya terkait pengusutan kasus pencucian uang, korupsi, dan penggelapan yang diduga dilakukan Gayus…
Edmond tidak melakukan kontrol sehingga penyidik kasus Gayus seperti Kompol M Arafat Enani dan AKP Sri Sumartini melakukan pertemuan dengan pengacara Gayus dan jaksa…
…Edmond juga diwajibkan meminta maaf kepada institusi Polri. Permintaan maaf tersebut disampaikan langsung oleh Edmon di depan komite komisi kode etik dan disiplin…

Saya tahu apa yang mereka bilang soal komandan dan sebenarnya tidak mau ikut campur lebih lanjut. Walaupun ada yang janggal. Tercela akibat tidak mengawasi anak buah? Tuduhannya agak ajaib, kalau ia tidak mengawasi anak buah, jadi apa sebenarnya yang beliau kerjakan? Ini kantor polisi loh. Yang hierarkis dan sistematis. Bukan pasar kaget yang berantakan dan awut-awutan.  Di mana setiap orang bisa transaksi di mana saja. Ini kantor polisi. Divisi khusus. Tempat orang-orang cerdas yang terbiasa menangani kasus luar biasa pelik. Kok bisa ‘melakukan sesuatu tanpa diawasi’. Aneh kan?

Di tambah lagi  kalimat ‘tercela’ dalam tuduhan. Wah itu lebih dahsyat daripada kalimat ‘tidak terpuji’ atau ‘indisipliner’.

Tapi whatever lah. Sebab tiba-tiba makin saya baca tulisan itu makin pula saya ingat Tomi. Ahh di mana ia sekarang? Mungkin kalau pangkatnya tinggi, tidak akan di copot seragamnya di muka publik. Mungkin ia hanya perlu meminta maaf saja.

Sebab jika korupsi yang sudah mampu menghancurkan hidup orang banyak saja bisa dimaafkan, mengapa punya istri hamil tiba-tiba menjadi dosa yang tak berampun?