Archive for the 'hukum' Category

Page 2 of 2

Revolusi Warung Tegal

Penyair Pier Plowman pada akhir abad 14 menerbitkan beberapa sajak dalam kumpulan puisinya yang lalu begitu terkenal sebagai folklore rakyat Inggris. Di sana, ia menulis “Robin Hood berdiri gagah di Hutan Sherwood. Menantang penguasa dengan panahnya”.

Sejak saat itu, bagaikan bola salju, Robin Hood tokoh dalam puisi yang oleh beberapa orang dianggap legenda terus melaju sebagai simbol perlawanan. Simbol resistansi terhadap kekuasaan yang semena-mena merampas hak rakyat kecil. Dengan cara yang tidak biasa, yaitu mencuri dari penguasa zalim kaya.

Robin Hood dalam cerita Plowman memang amat menggambarkan situasi kondisi Inggris akhir abad 14. Ketika para petani dipaksa bekerja keras dan diambil semua jerih payahnya oleh kekuasaan atas nama pajak. Sebab tahun 1381, gerakan petani-petani Inggris mengalami puncak geramnya. Tahun ini pula berkobar revolusi para petani yang dipimpin oleh bohemian berkultur agraris bernama Wat Tyler.

Inggris abad pertengahan memang mencengangkan. Masa itu, kekuasaan politik adalah anak dari persetubuhan antara penguasa dengan para pemuka agama. Jika para penguasa butuh lebih banyak uang untuk memperindah istana-istana, menyebar pesta malam demi malam demi gundik-gundik mereka atau hanya sekedar atas nama keserakahan, maka dinaikanlah pajak pada warga. Namun sebelum dinaikkan, ada rapat-rapat rahasia. Dimana para pemuka agama akan berusaha mendukung kebijakan menaikkan pajak. Lalu berkobar-kobar khotbah misa minggu pagi pada warga agar menunaikan tugas wajibnya sebagai warga negara, seperti bayar pajak misalnya. Timbal baliknya, penguasa akan meminjamkan tentara mereka terhadap semua musuh pemuka agama. Membantai para musuh tanpa banyak bertanya apa-apa. Tentu saja musuh agama dianggap sebagai musuh negara. Ahhh… Mencengangkan bukan?

Tapi tentu saja itu abad pertengahan. Bukan masa kini. Inggris masa kini sudah merupakan negara maju. Walaupun tentu saja bukan surga. Sebab mana ada surga yang dilanda resesi dan gerakan ekstrim kanan? Namun biar begitu di Inggris saat ini tidak banyak lagi pencurian uang rakyat atas nama pajak.

Lantas bagaimana dengan Indonesia?

Kita di sini tidak memiliki legenda Robin Hood. Revolusi yang ada pun adalah revolusi bersenjata perebutan kekuasaan, dari ‘luar negeri’ menjadi ‘anak negeri’. Bukan revolusi industri, revolusi seks, revolusi bunga apalagi revolusi petani. Sebab di sini, petani yang marah telah di stigma menjadi antek komunis. Jangankan petani, jika kaum miskin kota, buruh, nelayan atau semua orang yang terpinggirkan secara kelas dan ekonomi marah, pun dengan mudahnya di cap ‘bahaya laten’.

Kita di sini tidak memiliki legenda Robin Hood. Padahal di negeri ini, betapa banyak penguasa yang gemar sekali merampas hak rakyatnya. Terutama rakyatnya yang kecil. Sebab tentu saja penguasa tidak berani merampas warga yang kaya, kuat dan punya kuasa. Sebab warga model begitu, sudah menjelma jadi seperti para pemuka agama pada masa abad pertengahan di Inggris sana. Bersetubuh dengan penguasa demi melanggengkan nafsu sakit mereka terhadap kekuasaan. Mulai dari para saudagar cengkeh dengan Belanda di masa kerajaan Ternate. Hingga saudagar batubara 2010 yang akhirnya mampu membeli kekuasan di salah satu partai berkuasa.

Jika kita tidak memiliki Robin Hood, lantas kemana para pemuka agama di sini?

Ahh nggak usah ditanya… Walaupun tidak semua, di sini pemuka agama kebanyakan lebih suka onani jiwa. Memilih jihad pornografi sebagai objek yang laku di jual pada media ketimbang koar-koar buka suara membela jamaahnya yang dimiskinkan secara terstruktur.
(*Contoh: Ada pertanyaan serius dari Gugun adik saya yang sampai kini tidak bisa saya jawab. “Kenapa kotbah jumat di Cilincing ngomongnya soal neraka sorga dosa pahala mulu. Emang nggak bosen apa? Kenapa nggak kotbah cara-cara nyari kerja. Kalo nggak melihara ternak gituh. Selang-seling dong”*)

Tidak adanya Robin Hood apa berarti semua warga negeri ini, sejak namanya masih nusantara, memang hobi untuk ditindas?

Tidak adanya Robin Hood barang sebiji, apa artinya tidak seorangpun pemberani di negeri ini yang berani mencuri demi menentang semena-menanya penguasa?

Salah!

Di Jakarta kami punya punya legenda Pitung, Tuan. Cerita dari mulut ke mulut yang mungkin belum diketahui kebenarannya. Tentang seorang lelaki yang sering keluar masuk bui jadi buronan polisi. Karena mencuri dari yang kaya dan membaginya pada si miskin. Lalu akhirnya meninggal dan dikubur di Tanah Abang, Batavia tahun 1883.

Namun di Jakarta pula, kami punya lelaki bernama Foke, Tuan. Lelaki gagah berkumis yang menguasai Jakarta dari ujung ke ujung. Yang dahulu dengan beraninya berjanji akan mengentaskan semua air gila bernama banjir apabila ia terpilih nanti. Yang lalu ketika terpilih, bukan hanya banjir yang tak mampu dikuasainya. Melainkan pula akan memberi pajak tinggi pada warung-warung kecil penyedia makan bagi para kaum miskin kota Jakarta.

(*Kabinet Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo berencana akan menetapkan dan mengambil pajak pada warung-warung kecil penyedia makanan seperti Warung Tegal pada 1 Januari 2011*)

Mengapa masih tega membebani pajak pada para pengusaha modal setengah nafas yang secara harafiah benar-benar ‘memberi makan orang susah’?

Apa DKI Jakarta masih kekurangan uang, padahal konon perputaran uang lebih dari setengah kekayaan Indonesia ada di sana?

Apa para bangsawan DKI Jaya sana butuh istana untuk direnovasi? Butuh gundik untuk dipuasi? Butuh melampiaskan keinginan eksibisionis untuk memperlihatkan alat vital keserakahan manusia?

Atau…

Apa Jakarta butuh Robin Hood, lelaki sejati yang bersama sahabatnya menancapkan panah pada penguasa zalim gila? Atau apa Jakarta butuh Pitung yang sakti itu hidup kembali demi mengingatkan bahwa resistansi masih ada?

Apa kita butuh Revolusi Warung Tegal? Dimana para mbak-mbak yang sehari-hari menggodok air menjerang teh memotong bawang dan para tukang ojek langganan warung tegalnya mengangkat tangan teriak kalimat sakti, “Revolusi atau Mati!”

Entahlah…

Yang pasti, sebagaimana semua daerah di bumi pertiwi tercinta, kelihatannya Jakarta tidak butuh penguasa yang semena-mena.


Apabila Memutuskan Untuk Tidak Beragama

Mbak Nendi itu kakak kelas saya waktu jaman sekolah di Depok dulu. Beliau kalau tidak salah, sekitar satu setengah tahun lebih tua daripada saya. Orangnya ramah. Kalau bicara halus dan lembut. Dengar-dengar, keturunan langsung bangsawan. Tapi kalau saya ajak bicara soal garis darah keturunan, ia selalu menolak. Lagi-lagi dengan halus. Ia lebih suka membicarakan pacarnya yang juga sahabat saya, Mas Danu.

Bertahun-tahun setelah ia wisuda saya tidak bertemu beliau. Beberapa kali bersua melalui tulisan di blog ketika ia bertegur sapa. Namun yah hanya sekedar ‘say hi’. Tidak pernah lebih.

Suatu hari, siapa sangka ia punya akun di facebook dan lalu menambahkan saya sebagai daftar pertemanannya.

Seperti biasa, saya sering jalan-jalan ke akun teman-teman saya dan juga daftar jaringan pertemanan yang mereka miliki. Sekedar hobi. Mau tahu siapa teman-teman saya saat ini dan siapa teman-teman mereka. Sebuah hobi yang kata teman akrab saya, ‘memuaskan rasa sakit jiwa akibat kecanduan untuk membuntuti’. Hahaha…

Suatu hari, entah kenapa di timeline saya muncul status Mbak Nendi yang sedang sedih. Ada apa gerangan kok beliau begitu sedih? Sungguh membuat saya terusik.

Saya lihat di lemparan-lemparan statusnya terdahulu. Saya tidak bisa menyimpulkan apa-apa. Jangankan menyimpulkan, menebak saja susah. Padahal metode penelitian secara deduksi itu amat bisa dipakai dalam melihat kondisi kejiwaan seseorang di timeline facebooknya.
(*ini sih sok tahu plus snobnya saya saja, menggabungkan antropologi, psikologi dengan matematika dalam aplikasi web2.0. Hehe. Maaf*)

Akibat teramat mau tahu (iya saya tahu ini hobi yang berbahaya). Saya mulai mencari foto-foto dimana Mbak Nendi di tag.

Kaget. Sebab sebuah foto yang baru saja di tag oleh temannya, Mbak Nendi terlihat sedang duduk di pinggir jalan. Di bawah tenda plastik warna biru yang didirikan sekenanya dan berlantai tikar di atas rumput trotoar. Ditemani anak-anak kecil, Mbak Nendi memegang sebuah kitab suci.

Di bawah foto itu terpampang sebuah tulisan, “Beginilah nasib minoritas”.

Saya makin kaget. Apa maksudnya ini? Dan untuk menjawab kekagetan-kekagetan ini saya lihat saja terus foto-foto Mbak Nendi.

Saya pikir, foto bicara jauh lebih banyak daripada kata. Walaupun ada yang bicara sebaliknya. Di foto-foto itu terlihat Mbak Nendi sedang mengikuti ibadah yang dilangsungkan di pinggir jalan.

Kenapa di pinggir jalan? Sebab terlihat di salah satu foto kalau rumah ibadah mereka terkunci gembok dan memiliki plang kayu peringatan bahwa Ijin Mendirikan Bangunan rumah ibadah itu dicabut oleh Pemda setempat.

Saya putuskan malam itu untuk chat dengan beliau.

- “Selamat malem, Mbak”
+ “Udah subuh di sini”
+ “Apa kabar? Anak udah bisa apa, Rip”
- “Lagi sibuk sih Mbak. Anak gua udah cerewet, hehe. Makasih”
- “Mbak, fotonya gawat banget deh. Kok bisa ditutup”
+ “Foto mana”
- “ini linknya” (*link URL address tidak saya publikasikan di sini. Foto rumah ibadah*)
+ “Iya tuh, sebel gua. Mentang-mentang minoritas, kita dikalahin terus”
- “Fungsi bangunan sampe ke fondasi bangunan kok bisa dicabut Mbak?”
+ “Gua juga bingung. Padahal warga lokal oke kok. Dua minggu lalu ada ormas gila, protes. Keliatannya walikota ga mao keilangan muka dikalangan orang seagamanya”
- “Lu pikir ada muatan politis, Mbak?”
+ “Lu pikir selama ini apa? Cuman sentimen keagamaan?”
- “Ada tukang baksonya ga kalo lo ke sana?”
+ “Kok di otak lo makanan melulu sih, Rip?”
- “Serius gua nih, ada tukang jajanannya ga?”
+ “Yaa banyak. Enak-enak kok. Warga lokal sini aja pada ikutan jajan kalo ada misa mingguan”

Di sini saya pikir ia tidak bohong kalau ada alasan lebih daripada sentimen keagamaan. Rumah ibadah yang ia, teman-teman dan keluarganya gunakan setiap minggunya ditutup. Alasan utamanya, tidak sesuai dengan estetika. Entah apa lagi alasan lainnya yang sungguh tidak masuk di akal, yang pasti rumah ibadah itu disegel. Mbak Nendi secara gerilya bersama rekan-rekannya datang ke tempat ibadah itu setiap minggu. Menggelar tikar mengepit kitab suci. Di trotoar mereka mengasah iman.

Saya jadi ingat suatu hari di Cilincing dulu sahabat saya Udin pernah bertanya “Bang, kalo Tuhan gua nggak esa, apa gua masih bisa lulus penataran P4 dan jadi pancasilais yaah?”

“Mana gua tahu Din”

“Apa gua boong ajah kali yaah ditanya soal kayak gitu mah?”

“Masa sih boong?”

“Daripada gua nggak lulus penataran P4 bang? Kan gawat, nanti nggak bisa ngambil ijasah”

“Serius luh?!”

“Yaelah Bang, walopun kita udah diwisuda kalo nggak lulus penataran P4 kan nggak boleh ngambil ijasah”

“Waduhh, kok tega bener yaah…”

“Maka itu Bang, apa gua boong aja kali yaah. Pokoknya kalo ditanya apa-apa, gua jawab aja Tuhan gua esa. Padahal mah sebenernya dalam hati gua nggak percaya. Yang penting mah gua bisa lulus P4. Trus bisa nyari kerja. Kalo udah kerja, nanti juga Tuhan dateng sendiri”

Hmhh. Saya garuk-garuk kepala. Mau bilang apa lagi coba? Ketuhanan Yang Maha Esa dan Penataran P4 serta implikasi rumit di kehidupan orang Indonesia yang menyertainya sudah memusingkan otak saya yang kelihatannya jauh lebih kecil daripada otak manusia normal ini.

Bertahun-tahun setelah obrolan dengan Udin, sahabat saya James dari Maine bertanya terkaget-kaget ketika suatu hari ia menemukan bahwa agama yang diakui pemerintah Indonesia hanya ada enam. “Yang lainnya kemana, Rif. Tidak pernah diakui?”

“Emhh, mungkin belum. Mungkin harus berjuang dulu”

“Kok untuk punya agama saja harus berjuang? Terus bagaimana kalau tidak beragama. Tidak usah berjuang dong”

Saya bengong tidak bisa menjawab apa-apa. Apalagi menyambungkannya dengan Pancasila, Penataran P4 dan rumah ibadah yang dengan semenanya ditutup paksa.


Terjemahan ‘My Penis Is Big’ Dalam Bahasa Indonesia

(*Tokoh bernama Jali tidak menginginkan nama panggilan aslinya disebut sebab kelihatannya saya sudah menulis mengenai beliau di beberapa tulisan terdahulu. Banyak*)

Saya mau cerita sedikit ahh. Pengalaman akhir minggu. Kejadiannya sih masih baru. Sekitar dua minggu lalu. Pusing akibat beberapa situasi ajaib tengah melanda, saya putuskan jalan-jalan ke rumah sahabat.

Sahabat saya, sepasang suami istri seniman, punya anak perempuan yang baru beranjak dewasa. Kata orang-orang, ABG, Anak Baru Gede. Seorang remaja putri cantik dan cerdas dalam proses pubertas. Namanya, ahh panggil saja Nina.

Sepasang sahabat saya ini bilang bahwa akan menghadiri pesta lebaran di sebuah rumah yang jaraknya kira-kira lima belas kilometer dari rumah mereka. Saya di undang. Namun karena si suami istri itu boncengan naik motor pergi ke pesta, tinggallah saya, Nina dan Riri, sahabatnya yang juga ABG, naik kendaraan umum menuju pesta tersebut.

Alhasil, saya dan dua ABG ini dengan serta merta harus naik bis.

Saya sih ikhlas saja naik bis dengan dua ABG. Tapi dalam hati, yaa ampun, sumpah mati saya susah menahan tawa. Itu anak, dua orang, tidak henti-hentinya bicara telepon keluaran terkini yang mereka miliki.

Di sisi lain, saya kagum dengan kemampuan anak sekarang umur 11 tahun dalam merespons teknologi. Bayangkan, dua remaja putri ini sudah bicara mengenai jailbreak, cara membuka akses data administrasi utama (root) dalam telepon mereka. Bukan hanya itu, mereka juga sudah bicara teknologi kekuatan megapiksel dalam kamera telephone bahkan hingga perangkat lunak peer to peer dalam mengunduh lagu-lagu favorit mereka (lalu dijadikan ringtone).

Edan. Anak sekarang kok yaa pinter-pinter amat?

Di balik semua itu. Sih. Mereka tetap saja bocah. Di halte, ketika menunggu bis, si Riri menyetel musik dari telepon genggamnya keras-keras. Nina menggoyang-goyangkan kaki dan kepalanya mengikuti hentakan lagu disko. Saya? Hehe, saya pelan-pelan agak minggir sekitar tiga meter ke samping ketika banyak kepala menoleh kami. Saya malu euy, udah bangkotan masih nongkrong sama ABG. Hihihi.

Di Bis. Nina dan Riri duduk sebangku deretan kiri. Saya duduk di samping mereka. Deretan kanan. Kami hanya dipisahkan oleh gang empat puluh centimeter tempat hilir mudik lain penumpang. Mata saya lurus ke depan. Kadang lihat kanan. Pemandangan jalan. Tapi pas lihat kiri, buset dah! Ternyata dua anak ABG ini sedang sibuk berfoto ria. Kadang-kadang gantian. Kadang bersamaan. Mukanya, tubuhnya, dan kadang pura-pura merengut atau mengembungkan mulut pipi seakan penuh udara, semuanya penuh gaya. Atas nama eksistensi yang akan mereka pajang di dunia sosial media. Saya kembali lihat ke kanan. Garuk-garuk kepala sambil cekikikan.

Hahaha… Ada-ada aja ABG masa kini.

Tiba-tiba, ketika berfikir begitu, saya terhenyak. Buset dah, apa gua bukan ABG lagi yaah? Kalo iya, pasti gua udah ikutan tuh.

Yaelah, ternyata saya sudah merasa tua. Hahaha… Ampuun deh.

Akhirnya kami tiba di rumah pesta. Makan ketupat, kolak dan panganan lainnya dengan bahagia. Malamnya, dua ABG ini pulang ke rumah diantar oleh orang-tuanya masing-masing. Di jalan, saya bengong sendirian dalam bus kota. Memikirkan yang pernah saya lakukan ketika ABG dulu.

Hehe… Nostalgia.

(*Ok cerita pendeknya usai. Di bawah ini, saya akan cerita yang lebih panjang. Nostalgia. Biasa lah. Eksibisionis. Buka-bukaan membanggakan diri sendiri. Jagoannya saya. Yang hebat, saya. Yang bijak, saya. Pokoknya, semuanya tentang saya. Nggak tahu malu. Hehehe… Silahkan baca kalau masih berminat. Kalau tidak, well toh sudah diperingatkan. Hehehe*)

Apa yang saya lakukan waktu ABG?

Entah apa yang dilakukan ABG, anak baru gede lainnya pada masa itu. Yang pasti apa yang saya lakukan waktu masa remaja memang terbilang cukup tolol kalau dibandingkan anak-anak lainnya.

Hari-hari saya membosankan. Umumnya hanya berisi sekolah pagi di sekolah umum, lalu siangnya sekolah lagi di madrasah. Malamnya, kalau tidak mengaji yaa latihan silat. Begitu terus setiap hari. Bosan.

Waktu teman-teman bermain hujan-hujanan dalam deras membuat rakit dari batang pohon pisang dan lalu melayarinya di danau depan rumah, saya hanya bisa menatap termangu dari balik kaca jendela. Banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Hiburan saya saat itu biasanya hanya membaca buku Lima Sekawan karya Enid Blyton sambil minum coklat panas.

Sejak masuk Sekolah Menengah Pertama dan kenal Jali, hidup saya memang berubah. Saya punya alasan di hadapan ibu ketika beliau terkejut saya ketahuan bolos sekolah dan kedapatan seragam penuh bau rokok di mana-mana. Saya bilang “Bantuin Pak Rusdi, jaga aer”. Sebab Pak Rusdi itu selain teman Ibu sesama guru, seorang perokok berat, juga punya usaha sampingan jual air tawar bersih untuk bilas mandi dan minum (yang cukup langka bagi warga kampung pesisir pantai macam kampung kami Cilincing. Kami mandi pakai air asin, air laut. Sebab itulah air dari sumur kami. Agar rambut tidak kuning, setelah habis busa sabun terakhir dari tubuh, kami membilasnya dengan air tawar. Cukup satu gayung saja. Biar hemat). Yang paling penting, Pak Rusdi itu bapaknya Jali. Entah Ibu percaya apa tidak kebohongan saya untuk menutup-nutupi belajar merokok. Ibu tidak pernah curiga kalau saya bilang “belajar kelompok sama Jali”, padahal kami berlatih tinju dan lalu merokok setelahnya.

Dari Jali, saya kenal teman-teman lainnya. Sesama ABG. Anak-anak Baru Gede kampung kecil nelayan pinggiran bernama Cilincing.

Sebagaimana ABG berkategori miskin lainnya, kami jelas cemburu dengan ABG-ABG kaya yang datang ke sekolah naik vespa bapak mereka. Jangankan pada mereka yang memiliki kendaraan bermotor, pada remaja sebaya yang mampu beli mie goreng ketika jajan siang istirahat sekolah saja kami cemburu. Kalau ditanya apa sebabnya, jawabnya simpel; Lapar dan tidak mampu beli.

Orang miskin itu banyak. Tapi kalau sudah miskin cemburuan pula, itulah kami. Hahaha.

Entah sial atau untung, sebagai ketua OSIS (sebuah organisasi sekolah yang menurut saya tidak ada gunanya selain hanya memberikan akses kepada beberapa elitnya untuk mendapatkan fasilitas lebih baik ketimbang siswa lain yang harus menjual jiwa demi jadi perpanjangan tangan penguasa seperti kepala sekolah atau Guru Bimbingan Konseling, hehe), saya mendapatkan akses tak terbatas ke perpustakaan.

Saya di perpustakaan. Ketika Jali dan teman-teman saya yang lain sibuk nongkrong di ujung gang ketika bolos sekolah demi mencari nafkah

(*bisanya caranya agak tidak lazim, jadi ‘boy’. Disuruh preman dewasa beli anggur agar mereka bisa mabok sepuasnya. Contoh; ketika preman dewasa bilang “boy, beliin gua anggur”, biasanya si preman dewasa ini tidak memberikan uang untuk membeli Anggur Cap Orang Tua. Maka Jali dan teman-teman saya lainnya mengompas orang yang lalu-lalang di gang tersebut untuk meminta ‘uang lewat’ dengan paksa. Alasannya, “tambah-tambahin lah buat minum!”. Jali harus melakukan itu, sebab dialah si ‘boy’. Kalau yang diminta uangnya marah, Jali langsung bilang bahwa itu perintah dari preman dewasa dan apabila tidak diberi maka semua orang akan mendapat banyak masalah. Kalau uang hasil meminta paksanya sudah dibelikan anggur dan disetor ke preman dewasa namun masih ada lebih, maka saya, Jali dan teman-teman lain sesama ‘boy’ lainnya nikmati bersama-sama dengan membeli rokok dan makanan*).

Tapi bukan berarti saya tidak memiliki masalah di perpustakaan. Jali dan teman-teman ada tugasnya masing-masing. Mereka berharap bahwa dengan akses dan waktu di perpustakaan, saya mampu menemukan cara agar kami semua bisa bebas dari tirani kemiskinan sehari-hari. Itu masalah tersendiri.

Gila, gimana caranya biar nggak miskin? Emang gampang kali nemuinnya?

Saya baca buku-buku finansial. Dari teori-teori ekonomi yang sama sekali tidak dimengerti buat otak saya yang kecil ini, hingga ke masalah-masalah ekonomi yang kelihatan sepele macam harga cabe sehari-hari.

Setiap hari ada koran langganan sekolah datang. Saya baca iseng-iseng. Dari kartun hingga berita kematian. Di sana, di pojok tertentu. Menyempil. Ada tabulasi data aneh. Isinya grafik. Kadang naik, kadang turun. Ada angka. Ada simbol. Ada singkatan. Lama-lama, saya baru tahu kalau itu kurs valuta asing.

Hidup di dekat pelabuhan Tanjung Priok, membuat saya berfikir bahwa ada kolam tak terjamah dalam mencari nafkah. Namanya; ‘pelaut internasional’. Logika sederhana anak SMP saya berkata, dimana ada pelaut internasional pasti ada valuta asing.

Kami lalu berhenti jadi ‘boy’. Boy itu sarkas. Tahun 80-an, dimana film Catatan si Boy adalah representasi anak orang kaya yang tidak pernah pusing makan apa hari itu atau tidak pernah bertanya apakah malam ini bisa tidur bila atap rumah bocor kehujanan. Boy itu mimpi. Mimpi orang susah pinggiran macam kami. Kami bukan Boy, yang punya sidekick lelaki kemayu bernama Emon dan mungkin karena kaya, digila-gilai wanita. Kami, remaja tanggung, yang umumnya berakhir di pelabuhan. Sebagaimana bapak-bapak kami yang miskin melaut pergi.

Sore itu, di depan Pelabuhan Tanjung Priok Jali menatap saya, “Gimana caranya kita dapet dolar?”

“Kan banyak bule tuh, lo tawarin cewek aja”

“Bego luh, cewek dari mana? Kita aja nggak punya pacar. Lagian kalo punya pacar, amit-amit dah gua tawarin ama bule”

“Cewek kan banyak!”

Saya memberitahunya cara negoisasi dengan sopir angkutan kota. Beberapa orang sopir itu diantaranya tetangga kami. Saya pula memberinya bekal dalam kertas lecek beberapa patah kata dalam bahasa asing (yang saya lihat di perpustakaan sekolah) sebagai sedikit bekal panduannya dalam berkomunikasi ala Tarzan.

“Gini Jal, kan banyak tuh rombongan pelaut Amerika. Kalo turun kan gerombolan. Lu liat aja yang mukanya masih culun-culun. Jangan yang tua-tua. Reseh mereka”

“Trus gua apain? Gua palak! Lu bawa piso ga?”

“Yeee, jangan. Jangan kita rampok. Ditanya aja baek-baek, mao ga ama cewek. Pelaut kan berbulan-bulan di laut. Di kapal, isinya cowok semua. Pasti bijinya sakit, kepenuhan. Kalo kita bantuin ngosongin, kita bisa dapet dolar. Sekaligus dapet pahala, kan sakit tuh orang bisa pada ilang”

Tentu saja Jali sama sekali tidak percaya konsep saya akan surga neraka. Apalagi soal dosa dan pahala.

Namun akhirnya ia setuju juga. Sebagai permulaan, Jali saya ajak bersama. Ada empat pelaut dari kapal berbendera Kanada baru turun. Masih muda. Saya minta Mang Kosim, sopir mikrolet M-14 jurusan Cilincing- Tanjung Priok untuk berjaga-jaga dekat kami. Iming-imingnya, empat orang ini akan bayar penuh sebanyak penumpang yang biasanya muat berjubel di mobilnya. Pulang pergi.

Dan benar saja, empat pelaut muda ini langsung setuju dengan ide kami ketika saya bilang dengan sejumlah dollar saya bisa mengantarkannya kepada gadis-gadis asli Indonesia yang mampu membawa mereka mencapai nirwana. (*Kalimat gadis dan nirwana memang amat bisa diperdebatkan. Tapi persetanlah! Ini toh karir dagang pertama yang saya miliki*)

Akhirnya setelah sebentar negoisasi harga kami meluncur ke lokalisasi, yang untungnya tidak jauh dari situ (*Jadi kalau ada apa-apa, banyak teman saya yang akan back-up. Hehe. Seperti kata Amy Winehouse “you know I’m not good”, maka untuk jadi anak nakal harus punya pendukung demi bertahan hidup*). Dekat dinas pemadam kebakaran, mobil Mang Kosim berhenti.

Empat pelaut muda, Jali dan saya turun. Tugas Jali pertama adalah mengantarkan para pelaut-pelaut ini minum tangkur buaya. Minuman keras yang katanya dicampur dengan alat kelamin buaya jantan demi meningkatkan kekuatan gairah bercinta. Tugas saya, tentu saja melobi Mamih, penanggung-jawab pelacur-pelacur muda yang umumnya berasal dari pantai utara Jawa itu.

Mamih biasanya adalah wanita paruh baya. Bertanggung jawab terhadap kualitas service anak asuhnya. Sebagaimana germo lainnya, ia jelas-jelas serakah. Gimana nggak serakah, nggak ngangkang kok minta uang. Pura-pura pandir ketika anak asuhnya menerima lendir. Tapi hell yeah… Toh saya tidak lebih baik daripadanya. Saya pun berdusta kepadanya, bahwa semua yang saya lakukan sore itu hanya ‘balik modal’ belaka.

Mamih menatap jijik. Mungkin berlum pernah sepanjang hidupnya berbisinis selangkangan manusia dengan anak di bawah umur. Saya tidak peduli dengan sinar matanya. Malam itu saya dan Jali harus pulang dengan dollar.

Dan memang kami dapat apa yang kami inginkan. Walaupun sempat seorang pelaut mabuk bertanya pada Jali apa terjemahan My penis is big dalam bahasa Indonesia sebagai upaya merayu gadis yang akan dikencaninya. Jali hanya menatap saya, sebab kalimat itu tidak ada di kertas terjemahan kucel yang saya beri. Atas nama service, saya terjemahkan kalimat itu kepada gadis yang ia tengah peluk, “kamu cantik sekali”.

Dollar demi dollar kami dapatkan setelah malam itu. Saya jadi jarang mengaji apalagi latihan silat. Sedikit demi sedikit, kami kenal tipikal pelaut lelaki bule. Mulai dari bule Jerman, bule Filipina hingga bule Madagaskar. Semua bule pelaut umumnya pernah mampir ke pelabuhan Tanjung Priok. Wilayah area bisnis kami. Namanya lelaki ternyata semuanya sama. Kalau terlalu lama jauh di mana hingga sakit bijinya, pasti doyan wanita.

Uang yang kami dapatkan, didagangkan dengan valuta asing lainnya yang grafiknya naik selama 30 hari dengan stabil. Terus begitu. Alasannya, grafik itu setelah di analisa, pasti paling lama dua atau tiga bulan naik turunnya. Tapi pada intinya, sebenarnya sih demi menghilangkan status sosial bernama miskin yang berefek pada urusan perut sehari-hari.

Boy demi boy, melihat kenyataan ini. Niatnya, ikut-ikutan si Arip ama Jali yang kalau beli rokok bungkusan melulu sekarang. Tidak lagi batangan. Makan pun sudah bisa di warung padang. Bisa beli rendang. Naik derajat. Naik kasta. Di Cilincing cuma orang kaya yang bisa makan makanan Padang terus beli rendang.

Beberapa boy Cilincing pelan-pelan meninggalkan dunia preman dewasa. Ikut Jali. Tentu saja diam-diam. Takut dipukuli babak belur kalau ketahuan preman dewasa.

Jali cemas. “Kalo begini, kita bisa banyak saingan men. Tapi kalo kita rekrut semua kan nanti jatah kita dikit. Abang-abangan juga udah mulai curiga ama gua”. Referensinya terhadap kalimat ‘abang-abangan’ adalah para preman dewasa yang harus selalu kami panggil ‘Bang’ demi status penghormatan. Sialnya, kalimat itu pula yang seringkali jadi alasan mereka menindas boy-boy culun kecil kurus ingusan, macam kami.

(*BTW, saya dipanggil Bang gara-gara dulu dagang makanan keliling. Mirip tukang bakso. Jadi bukan gara-gara keren apalagi jago. Hihi*)

Tidak kuat saya menghadapi pertanyaan Jali yang banyak dan semuanya fakta. Bingung euy. Gimana jawabnya?

Maka dalam bimbang satu-satunya jalan yaa ke… Perpustakaan. Lagi-lagi berdasarkan logika saya yang cupet, di sana semuanya dimulai di sana pula semuanya harus berakhir.

Dalam masa gamang di perpustakaan dan ketika semua operasional di pegang Jali sehari-hari demi ‘mencari nafkah’, bacaan saya bukannya buku-buku finansial, e-eh malahan baca buku-buku Sarekat Islam dan Tan Malaka. Yang terakhir, saya dapatkan dari seorang guru yang diam-diam suka memberi buku-buku tipis yang kelihatannya dicetak entah dimana itu (*Yang pasti, bukan terbitan Balai Pustaka, pencetak umum perpustakaan sekolah kami*).

Seminggu di perpustakaan, saya kembali lagi ke Jali. Muka saya keruh. Capek. Di rumah juga kurang tidur. Baca. Baca. Dan hanya membaca kerjanya.

“Jal, kita nggak bisa begini terus. Cepat atau lambat, kita pasti bangkrut”

“Yaelah. Itu sih kan yang gua bilang dari kemaren-kemaren. Usul lo apaan dong?”

“Kita harus merdeka!”

Jali bengong. Lama sekali. Dan saya meyakinkankannya sekali lagi. Bahwa Cilincing harus dimerdekakan dari pemerintah Republik Indonesia. Merdeka adalah satu-satunya jawaban. Kalau kami tidak bayar pajak lagi ke Republik Indonesia, dari uang itu pasti kami bisa membuat kolam penampungan air hujan sendiri. Jadi semua warga dapat air bersih. Kalau merdeka, kami kan bisa bikin warung Padang sendiri?

“Gimana caranya?”

“Gampang! Gua udah baca Sarekat Islam”

“Sarekat islam, maksud lo pergi haji bila mampu?”

“Bukan, itu mah laen lagi. Sarekat itu sekolahnya orang-orang pinter. Sekolahnya Semaun, Kartosuwiryo dan Soekarno. Lu tau kan Soekarno? Yang lepboy itu? Tapi mereka bentrok. Sial tuh. Nah kita jangan bentrok kalo mao merdeka. Kalo kita merdeka, pasti kita bisa nggak miskin lagi. Kampung kita pasti berjaya”

“Merdeka? Lu gila! Gimana caranya?”

“Ada dua. Satu lewat pengakuan internasional, nah kita kan punya client-client internasional nih di Pelabuhan Tanjng Priok. Kita barter aja ama mereka. Tiap joget ama maen gadis-gadis kita, mereka dapet diskon. Tapi mereka harus tempel pamflet kemerdekaan kita di negaranya. Dulu Sukarno juga gitu. Cuman bedanya ama kita, dia mah ganteng, jadi nempelinnya di cewek-cewek. Nah satu lagi, lewat perjuangan bersenjata. Kita harus beli senjata, ngajarin boy-boy baru nembak. Kalo perlu abang-abangan di ajak juga. Kita kan butuh orang yang badannya gede”

Jali berfikir lama sekali, “Duit dari mane beli senjata, rip?”

“Itu mah gampang. Kita rampok aja Bank BRI yang ada di samping stasiun Tanjung Priok. Duitnya kita beliin senjata”

“Gimana caranya ngerampok Bank BRI”

“Itu mah gampang… Nanti kita pikirin sama-sama. Buat apa kita punya Jumari. Dia kan pinter. Kita tanya aja ama dia. Okeh?”

Jali menatap saya lama. Lama sekali. Hingga akhirnya ia mengangguk setuju.

Sejak hari itu, malam-malam kami penuhi dengan rapat dan hanya rapat. Satu-satu, ABG kampung kami datang ke rapat itu. Anehnya, kami tidak membicarakan kemerdekaan Cilincing. Kami hanya membuat siasat, bagaimana cara merampok Bank BRI dengan baik dan benar. Hanya beberapa orang yang tahu kalau hasil perampokan akan dibelikan senjata. Rapat-rapat rahasia terjalin dalam ruang kecil di samping tangki air bersih milik Pak Rusdi. Penuh asap rokok. Kadang-kadang kalau ada uang, pakai anggur murah oplosan. Menyiksa paru-paru. Namun sebenarnya, yang terjadi adalah paru-paru remaja kami lebih tersiksa dengan ide-ide revolusi. Kami harus merdeka!

Sebulan lebih kami merencanakan dengan matang, bagaimana menyewa senjata dan peluru yang akan digunakan dalam merampok Bank BRI. Berpikir rencana matang menggunakan ojek yang mampu melarikan kami bagai setan ketika diburu polisi. Sebulan lebih kami mencari kontak boy-boy yang kakak atau bapaknya polisi dan tentara. Niatnya, beli peluru dan sewa pistol sementara. Sebulan lebih kami tenggelam dalam rencana-rencana gila.

Suatu hari, beberapa hari menjelang hari-H. Saya dan Jali duduk di depan beranda rumah Ibu saya. Kami sedang menikmati es buah. Hari itu siang panas sekali. Biasa lah, ini Cilincing. Kalau nggak panas, bukan Cilincing namanya.

Ibu memanggil dari dalam. Saya diminta duduk di kursi meja makan. Di ruang tengah. Saya menolak. Saya bilang, ada Jali di luar. Kan tak mungkin meninggalkan sendiri. Tidak sopan. Ada tamu kok ditinggal.

Ibu jawab, “Panggil juga Jali ke dalam”

Tidak lama, kami berdua bergidik mendengar Ibu bicara.

Entah bagaimana, rupanya Ibu sudah tahu bahwa sebentar lagi saya dan Jali akan merampok bank. Saya curiga jangan-jangan adik saya si Gugun yang membocorkan rencana ini ke telinga Ibu.

Ibu tidak marah. Beliau memanggil Bapak dan Ibu Rusdi yang rupanya sudah ada di dapur menunggu. Jali terlihat kaget ketika orangtuanya masuk ke dalam ruang makan kami.

Astaga, rupanya mereka sudah tahu semuanya.

Tidak lama kemudian, ada bapak-bapak setengah baya masuk ke rumah kami. Ibu berkata lembut pada saya dan Jali, bahwa Ibu dan juga orangtua Jali, adalah nasabah bank yang akan kami rapok. Apakah kami tega mengambil hak mereka yang sudah bekerja keras. Bapak-bapak sial yang baru datang itu, ternyata adalah satpam bank BRI. Ia cerita bahwa ia punya empat anak di rumah yang harus diberi makan. Anaknya yang paling kecil berumur empat tahun. Yang besar, SMP, sama seperti kami.

Masih dengan lembut Ibu bertanya, apakah kami akan menembaknya ketika ia melawan untuk mempertahankan diri dan kehormatannya nanti?

Saya dan Jali jongkok gemetar. Kami tidak bisa bicara apa-apa.


Lagu: Sebentar Lagi Malam Minggu

Seperti biasa, sebelum akhir pekan, biasanya kerja saya yaa menghibur diri. Maklum, saat-saat ini memang sedang butuh hiburan. Mengharapkan hiburan dari orang lain, khawatir mengganggu. Jadi daripada begitu, yaah mendingan begini. Hehe.

Lagi-lagi bikin lagu. Ambil gitar, gonjrang-gonjreng tidak jelas. Liriknya sama, tapi kalau diulang lagi, tiap bunyi, nada keluar berbeda-beda. Hihihi… Maklum amatiran.

Kalau mau ikut bernyanyi, silahkan. Mau pakai instrumen apa saja, bahkan hanya cuma bersiul, yaa boleh saja. Yang penting, ehmmm… yang penting… bersuara. Hahaha.

Maka itu, silahkan menikmati :) Ini lagunya;

——————————-
Sebentar Lagi Malam Minggu
oleh: bangaip_topdeh

Apakah aku harus mencintai kamu, wahai negeri yang 65 tahun merdeka namun rakyatnya masih tetap harus berjuang hanya untuk bebas berbicara?
Apakah aku harus mencintai kamu, yang terpilih dengan langsung umum bebas rahasia namun setiap hari memperkosa harapan dan menyetubuhi uang pajakku sia-sia?
Apakah aku harus mencintai kamu, yang hingga hari ini dengan tenangnya berkata ‘Ini sekedar salah prosedur’ ketika saudaraku di Papua sana kau tembak dengan peluru, yang-sedihnya-dibayar-oleh-keringat-saudaraku-lainnya, hingga mati?
Apakah aku harus mencintai kamu, ketika pagi itu kau pukulkan tongkat besi mematahkan semua rusuk sendi kepada sesama saudaramu Maluku yang kucintai hanya karena berbeda pendapat lalu mengibarkan bendera sendiri?
Apa aku harus mencintai kamu, ketika kau benci tari Cakalele atas nama tuhan politikmu dan penjarakan para pemuda penari?
Apa aku harus mencintai kamu, meski per hari kau berdusta pada keadilan Munir yang harus ditepati?
Apa aku harus mencintai kamu, ketika kau mengaku toleransi namun diam saja ketika ahmadiyah diburu dibakari atau para pendeta Cikeuting dibelati hingga hampir mati?
Apa aku harus mencintai kamu, yang sering bergelimang darah saudaraku hanya demi secuil garis di peta bernama NKRI?

Apa aku tetap harus mencintai kamu?

Jawab dong, sayang! Sebentar lagi kan malam minggu.

—————————-

Selamat bernyanyi di akhir pekan ini :)


Gangguan Spam Di Telepon Genggam

Saya baca tulisannya teman saya, Bu Enni, soal telepon. Bagus loh. Menyoal bagaimana beliau berhadapan dengan penelpon dan SMS tak berguna dan trik beliau menggunakan silent mode pada ponselnya. Begini Bu Enni menulis:
Rasanya semakin banyak saja sms masuk yang tak berguna, dari sms minta pulsa (jelas tipu-tipu), sms penawaran KTA (Kredit Tanpa Agunan), sampai yang terakhir adalah sms penawaran jika mau beli rumah.
(Baca lebih lanjut tulisan beliau di http://edratna.wordpress.com/2010/09/13/silent-mode/)

Tidak lama saya baca juga tulisan keren dari MalasBangetDotCom soal spam melalui telepon atas nama telemarketer. Begini tulisan crew MDBC:
Terkadang menerima telepon dari telemarketer emang bisa bikin sebel. Apa lagi kalau kita emang nggak perlu produknya dan udah berkali-kali dihubungi oleh mereka hanya untuk kembali menawarkan produk yang sama, mulai dari promosi tempat fitness, penawaran kartu kredit, sampai berlangganan tv kabel.
(Baca lebih lanjut tulisan mereka di http://malesbanget.com/2010/09/cara-menghadapi-telemarketer/)

Tahun lalu, teman saya yang saya panggil om-om biar kedengaran seksi (jadi kita sebut saja namanya Om Fertob), menulis soal SMS Spam. Begini asal mulanya:
Saya sendiri punya 2 nomor telepon seluler. Yang satu katanya sinyalnya kuat, dan yang kedua katanya tersebar di seluruh Indonesia. Keduanya sudah lama saya pakai, lebih dari 5 tahun. Nah, kedua penyedia nomor seluler prabayar ini sama perilakunya. Sama-sama suka mengirimkan SPAM dalam bentuk SMS (short message service)”
(Baca lebih lanjut tulisan om kita ini di http://fertobhades.wordpress.com/2009/12/01/sms-spam/)

Pada intinya, semuanya sama. Asalnya adalah ketika privasi mereka dalam menggunakan telepon seluler, diacak-acak.

Kali ini, saya memang mau menulis soal telepon genggam dan perilaku yang menyertainya. Biasa lah, ikut-ikutan aja temen-temen saya di atas. Hehe…

Saya pribadi, selama ini walaupun kerap diprotes, terbilang cukup sadis dalam melakukan komunikasi melalui telepon genggam. Apabila dapat telpon dari penelpon tak dikenal, tidak akan saya angkat. Dapat SMS dari nomor tak dikenal, tidak dibalas. Dapat SMS Spam, saya kumpulkan lalu laporkan ke Yayasan Lembaga Pelindung Konsumen.

Komunikasi melalui telepon genggam, buat saya hanyalah untuk masalah yang penting saja. Iya saya tahu, dengan konsep tersebut, mensejajarkan saya dengan manusia yang dituduh ‘purba’ atau ‘orang tua jadul’ dan ‘ketinggalan jaman’. Biarlah. Tidak terlalu penting.

Saya menelpon, melalui telpon genggam, biasanya selama ini hanya menghubungi nomor-nomor penting masa darurat, seperti polisi, ambulans atau sahabat saya yang orangtuanya baru meninggal. SMS dipakai untuk memberitahu ketika telat akibat transportasi publik, sakit atau janji yang perlu konfirmasi.

Tahun ini, kebetulan frekuensi saya bepergian cukup tinggi. Hingga bulan ke delapan tahun ini saya sudah harus mengunjungi empat belas negara secara kontinyu di beberapa benua. Kemana-mana butuh ponsel. Setiap pindah negara, provider telepon memberitahu bahwa negara yang saya kunjungi memiliki sistem pembayaran berbeda-beda untuk menelpon dan SMS. Itu pun, sudah saya anggap SPAM. SMS yang tidak diinginkan.
(*Ketika saya complain ini ke provider, mereka meminta maaf dan Public Relation mereka langsung menghubungi saya untuk menindaklanjuti kalau-kalau saya akan menuntut, hehe*)

Yang paling parah mengenai banyaknya SMS/telpon SPAM, dari semua negara yang saya kunjungi adalah… Republik Indonesia.

Saya tahu, tidak adil memang membandingkan RI dengan negara-negara lain yang saya kunjungi. Sebab sangat subjektif sekali penilaiannya. Namun apabila memakai parameter SMS/Telpon SPAM, serta terbatasnya waktu residensi saya di tiap-tiap negara, maka tanpa ragu-ragu, saya berani bilang saya menerima lebih banyak telepon dan SMS yang tidak diinginkan ketika berada di Indonesia.

Begitu beli nomor kartu Indonesia baru, dapat SMS spam. Mulai dari ringtone, hingga acara TV. Ketika pulsa habis dan isi ulang, langsung dapat sembilan SMS SPAM. Gila, sembilan! Isinya iming-iming pulsa baru, doa mustajab hari ini hingga uang bermilyar-milyar. Begitu daftar hotel dengan nomor tersebut, tidak lama kemudian dapat telepon dari Customer Service hotel yang masih dalam group yang sama, menawarkan paket honeymoon ke Bali. Bulan madu sama siapa coba? Lah wong saya bepergian sendirian! Honeymoon sama dia? Ogah ahh, sudah cowok, suaranya nge-bass pula!

Sejak tahun 2000 ketika penggunaan telepon genggam semakin populer, spam melalui SMS dan telepon (disebut juga sebagai m-spam, singkatan dari mobile spam) memang semakin menggila. Dalam upaya untuk melawannya, negara-negara misalnya di US, Canada, EU dan Australia, mengeluarkan undang-undang di bawah nama trespass to chattels (Pelanggaran pada barang bergerak).

Pelanggaran pada barang bergerak adalah gugatan dimana pihak yang melanggar telah sengaja mengganggu milik sah harta (properti pribadi bergerak) orang lain. Gangguan tersebut dapat berupa kontak fisik atau pencabutan hak dari harta (properti pribadi bergerak) itu (baik dengan mengambil itu, menghancurkan, atau pembatasan akses pemilik). Agar tidak disalahgunakan, trespass to chattels hanya dapat ditindaklanjuti jika kerusakan yang sebenarnya dapat ditampilkan (*untuk kasus saya; misalnya SMS SPAM ringtones yang sekali kirim bisa sampai sembilan kali*).

Sialnya kita semua, yang masih dan akan bermukim di RI, hukum trespass to chattels tidak mempan berlaku di Indonesia. Sebab memang belum ada niat dari penyelenggara telekomunikasi di negeri ini untuk membuat jera para mobile spammer tersebut.

Bagaimana Memerangi Mobile Spam

Jawabnya simpel: Susah!

Kenapa susah?

  • Terbatasnya fasilitas program di kebanyakan telepon genggam (kecuali yang canggih semacam smartphone)
  • Tidak banyaknya pengembang perangkat lunak yang memfokuskan diri dalam filterisasi mobile SPAM
  • Jika memang ada filterisasi SPAM, maka untuk SMS akan sulit, sebab ada provider yang membebani pengguna mereka pulsa dengan SMS SPAM. Jadi mereka kirim SPAM, kita yang bayar. Kampret!
  • Providers yang notabene para raksasa telekomunikasi itu pasti tidak mau ladang usahanya dibantai demi kemslahatan umat pengguna mobile. Untuk kasus RI dimana undang-undang bisa dimodifikasi per sponsor terbesar, mereka akan melobi para politisi untuk melambati proses ini

Jadi Kita Tidak Bisa Memerangi Spam Pada Ponsel?

Jelas bisa, say!

Amerika Serikat, bisa memerangi SMS dan telepon yang tidak diinginkan ini dengan menerbitkan Undang-undang yang disahkan Dewan Komunikasi Federal (FCC) tahun 2003 (yang disebut CAN-SPAM Act of 2003 lalu ekstensinya di tahun 2004.

Uni Eropa pada May 2009 menerbitkan EYouGuide. Yaitu sebuah panduan untuk para warganya dalam melakukan komunikasi online. Di sana terlihat hampir semua peraturan yang dibuat oleh Dewan Uni Eropa dalam melindungi warganya beraktifitas digital. Selain melindungi, juga terlihat bahwa sanksi sudah diterapkan bagi para spammer mobile sejak tahun 2004.

Australia membuat ACMA (Australian Communications and Media Authority), sebuah lembaga yang bertugas memerangi SPAM pada media. Tahun 2009 lembaga ini mendenda Vodafone Hutchison Australia, raksasa provider mobile, sebanyak $110,000. Gara-gara provider ini mengirimkan 100 ribu SMS kepada penggunanya.

Bill C-27 adalah proyek legislasi yang dibuat oleh Canada dalam mengantisipasi SPAM global di negara mereka (*yang katanya menghabiskan sekitar 3 milyar dollar pertahun*)

Di RRC, tiga raksasa provider berkerjasama dalam memerangi mobile spam. Caranya adalah dengan membatasi dan mengambil tindakan keras pada pengirim pesan teks SMS spam. Berdasarkan pembatasan, nomor telepon dan pengiriman SMS dengan tidak lebih dari 200 pesan per jam atau 1000sms/hari kerja.

Jadi, kalau mereka bisa, kenapa kita tidak?

Bukankan salah satu bukti bangsa besar bukanlah bangsa yang mencoba memerangi dan menjajah tetangganya, melainkan bangsa yang mampu memerangi SPAM?

Ayo Republik Indonesia, kita pasti bisa! :D


Apabila Saya Jadi Gubernur Jakarta (Empat – Hukum)

Walaupun saya tidak jago masalah hukum, dengan cueknya ugal-ugalan bicara soal hukum. Hihihi. Ini tambahan soal hukum di Jakarta kalo saya gubernurnya;

1. Membangun peraturan daerah penopang konsep-konsep lainnya

Alasan: Jika saya bertindak tanpa dasar hukum, namanya ilegal dan tiran. Maka, harus ada pendukung langkah-langkah ini.

Kelebihan: Jika Perda telah dibuat, maka bila sang gubernur mati masih tetap akan ada harapan di masa depan bahwa proyek-proyek telah berjalan tetap akan berjalan dan susah ‘dimunirkan’.

Kekurangan: Membuat Perda itu butuh waktu. Tidak mungkin memecut cambuk anggota dewan daerah yang menentukan Perda dengan sabuk pari, sebab walaupun kadang kelakuan mereka jauh lebih buruk daripada kerbau pembajak sawah, atas nama hukum kita tidak bisa melakukan itu walaupun tahu mereka kadang sering malas dalam bekerja. Di sisi lain, beberapa partai politik pasti akan menaruh kepentingan mereka dalam Perda.

Popularitas: jika animo masyarakat tinggi, proses pembuatan Perda ini dapat ditransparansikan melalui aplikasi web. Jadi para wakil rakyat penentu keputusan bisa dimonitor langsung sepak terjangnya. Pasti tinggi.

2. Membangun penjara baru yang manusiawi

Alasan: Penjara di Jakarta sekarang tidak manusiawi serta jadi sarang narkoba. Membangun penjara baru yang jauh dari lokasi pemukiman padat penduduk, dapat menjadi solusi. Teknologi pemantau jarak jauh dapat melihat dan mencegah lalu lintas peredaran benda ilegal dan narkoba dalam penjara. Narapidana, walau telah melakukan kejahatan, tetap saja manusia. Harus diberi fasilitas rehabilitasi seperti perpustakaan serta sarana untuk belajar. Serta proses transisi, seperti pendidikan dan terapi agar mereka bisa kembali ke dunia masyarakat umum. Jadi, agar begitu keluar dari penjara tidak lagi menjadi bandit.

Kelebihan: Mempunyai kemungkinan besar mencegah kriminalisasi di masyarakat. Membantu kinerja polisi. Serta sejalan dengan program lainnya, ´Jakarta aman´.

Kekurangan: Arsitektur teknis yang cukup rumit. Di sisi lain, penyediaan psikolog, ruang terapi dan balai latihan kerja serta unit pendukungnya dapat memakan biaya besar.

3. Legalisasi lokalisasi Seks Komersil

Alasan: Penghancuran lokalisasi Kramat Tunggak di Tanjung Priok awal tahun 2000-an dan menggantinya dengan bangunan ibadah sebagai simbolisasi kemenangan atas maksiat membawa ekses negatif. Para pelacur eks KT berkeliaran di gang-gang sempit warga sekitar lalu beroprasi diantara anak-anak kecil lokal. Banyak terjadi pelecehan terhadap anak-anak akibat ‘salah sangka’. Ini tidak boleh dilakukan lagi. Apabila pelacuran dipandang sebagai penyakit sosial, maka harus ada solusi pemecahan sosialnya. Sebab saat ini pelacuran ada ditengah-tengah kita dan terselubung jadi rahasia umum. Lagi-lagi dibekingi oleh hamba hukum dan preman lokal. Maka, daripada begitu, lokalisasi yang jauh dari pemukiman penduduk adalah jawabannya. Penjaja dan pemakai jasa seksual berbayar sebaiknya dilindungi kesehatannya oleh Perda agar tidak menularkan dan ditularkan oleh penyakit seksual. Maka itu, harus ada legalisasi lokalisasi pelacuran dan praktik ini pun harus dipajaki.

Kelebihan: Mengontrol dan mencegah penyakit seksual berbahaya seperti HIV/AIDS yang semakin mengglobal dan menakutkan. Dapat memberi edukasi kesehatan langsung kepada para penjaja dan pengguna seks berbayar sebab lokasinya terdeteksi. Pemasukan dari pajak.

Kekurangan: mungkin banyak ibu-ibu marah namun diam-diam datang ke sana untuk mengontrol apakah suaminya jadi langganan tetap. Selain itu, akan di tentang habis-habisan oleh standar agama dan moral warga Jakarta kebanyakan.

Popularitas: rendah sekali :D

Di sini, saya sudah yakin bahwa akan banyak antipati terhadap ide-ide saya selanjutnya. Hehehe…


Tiga Malam Tiga Teror

Saya dapat tiga teror dalam minggu terakhir ini. Saya pikir, saya coba telan semuanya dengan pahit melalui lidah dan lalu masuk tenggorokan hingga di proses di hati dan di perut. Berharap, seiring bersamanya waktu, semua kenangan buruk itu bisa saya buang bersama kotoran di lubang WC.

Sayangnya tidak. Sial beribu sial, saya bukan orang yang mudah lupa. Kadang kenangan pahit memang mudah dilupakan di siang hari. Menyebalkannya, ketika malam tiba; memori buruk itu menjelma jadi mimpi-mimpi menyeramkan.

Daripada jadi mimpi yang membuat teriakan dan keringat dingin, lebih baik saya tuliskan saja di sini. Dan ini berarti adalah semacam peringatan, bahwa tulisan saya kali ini mungkin dapat pula mengganggu anda. Jangan memaksa untuk membaca jika anda adalah tipikal yang sedang mencari kesenangan sesaat dalam membaca. Hehe.

Teror pertama: Tetangga Oh Tetangga

Rumah saya sekeluarga adalah rumah kontrak. Dindingnya menempel dengan tetangga kiri dan kanan. Tidak terlalu tebal. Kami hidup sederhana.

Tetangga kanan saya, sepasang suami istri yang bermasalah. Punya dua anak. Yang kecil, si Santi berumur 8 tahun. Yang besar, si Sonia, berumur 17 tahun.

Masalah diantara suami istri ini semakin hari semakin memuncak. Tiada hari yang kami lalui selain mendengar dari sebelah tembok ketika mereka berteriak saling mencaci maki dengan kalimat-kalimat kasar dan menyedihkan.

Tiap hari, saya, istri dan bayi kami harus ikhlas mendengar mereka saling membanting pintu, menangis, mengutuk hingga menggedor dinding sampai membanting piring. Well, bisa saya bilang, itu bukanlah masa-masa yang indah buat mereka dan juga bukan masa yang cukup menyenangkan buat kami.

Telinga tersiksa.

Singkat cerita, pasutri ini mencoba memperbaiki kehidupan rumah tangga yang telah terbina. Konsultan pernikahan menasihati agar mereka pergi berlibur. Berdua saja sebaiknya. Anak-anak, ada baiknya dititipkan pada keluarga atau sanak saudara terdekat.

Sialnya, keluarga ini memang sudah tidak populer diantara keluarga besar mereka. Tidak ada satupun anggota sanak keluarga yang bersedia dititipi si Santi dan si Sonia. Maka sebagai alternatif, pasutri ini akhirnya membawa Santi untuk pergi berlibur di akhir pekan.

Si Sonia tinggal di rumah.

Sebagaimana remaja yang beranjak dewasa. Si Sonia mulai dong kenal cinta. Normal buat anak sebayanya. Maka ketika sang papa mama dan saudara tidak ada, cowok idamannya pelan-pelan masuk rumah niat indehoy untuk bercinta.

Uuh maaf, maksud saya cowok-cowok. Sebab memang lebih dari satu orang.

Maka teriakan malam hari caci maki di hari kerja, di akhir pekan bisa berubah jadi lenguhan cinta dan hentakan keras ranjang beradu dinding. Well, bisa saya bilang, itu masa-masa yang indah buat mereka namun belum tentu cukup menyenangkan buat kami. Terutama putri saya yang cukup terganggu tidurnya akibat dinding kamarnya pas tepat bersebelahan dengan kamar Sonia.

Istri saya mulai merengut ketika bayi kami susah lelap di malam hari. Apalagi ketika nampaknya mereka menyadari bahwa erangan gelinjang semakin susah dikontrol dan mencoba memutar CD Michael Jackson dalam volume amat keras sebagai samarannya.

Maka untuk mencoba menjadi suami dan ayah yang baik, saya fasilitasi keluhan anak dan istri. Memencet tombol bel pintu tetangga dan mengadukan keluhan pukul sebelas malam. Pada tiga pria muda kira-kira berusia 18 tahun yang hanya mengenakan handuk bertanya apa yang mereka bisa bantu melalui longokan jendela.

Sejak malam itu, tidak lagi ada musik. Michael Jackson nampaknya akan tenang di alam sana. Suara emasnya tidak lagi digunakan untuk membangunkan bayi yang sedang tidur lelap.

Namun anehnya, lelaki muda yang datang semakin banyak saja di akhir minggu.

Puncaknya akhir minggu lalu. Sekitar sebelas pria muda duduk di belakang rumah tetangga. Berteriak-teriak sambil mabuk. Tiga-tiga dari mereka secara teratur masuk dalam rumah bergantian. Sisanya, kembali berteriak-teriak dan membakar api unggun. Diantara yang sudah sedemikian bodohnya (atau amat gembira menantikan gilirannya tiba) melemparkan tabung-tabung bekas hairspray dan cat semprot ke dalam api unggun.

Akibatnya bisa ditebak. Api membumbung tinggi sekali kemana-mana. Bahkan hingga menjilat pagar dan tanaman di belakang rumah kami. Untung saja tidak terjadi kebakaran.

Dan saya yang sudah sedemikian emosinya, hanya dengan mengenakan piyama bergegas akan pergi menggedor pintu mereka.

Istri saya mencegah. Lebih baik panggil polisi kata beliau. Dari jendela, ia sempat melihat beberapa orang anak muda ini mengggunakan obat bius. Dan obat bius itu lekat sekali dengan senjata. Ia tidak ingin kehilangan suaminya yang sok pahlawan menasihati rombongan anak muda bertubuh besar pemabukan bersenjata.

Ia telepon polisi.

Namun sayang sekali polisi tidak datang. Bahkan hingga saat ini. Mereka tidak pernah datang.

Teror Kedua: Unthinkable

Kawan lama datang ke rumah. Setelah mengobrol ngalor-ngidul melepas rindu, tanpa sadar malam telah tiba. Ia harus pergi. Saya pun esoknya harus kerja. Mungkin malam itu lupa, ia meninggalkan sekeping DVD film berjudul Unthinkable dan melalui telpon bilang bahwa saya boleh menontonnya.

Esok sepulang kerja, makan malam, lalu mengantar putri tidur di peraduannya; saya putar film tersebut melalui komputer.

Jalur ceritanya sederhana. Sebagaimana layaknya genre film hollywood masa kini yang sedang populer. Yaitu agen rahasia Amerika Serikat hampir paruh baya jadi jagoannya. Sementara sang musuh adalah teroris muda, Islam dan tentu saja pakai jenggot.

Jalan ceritanya, mudah ditebak. Jagoan menang, musuhnya kalah. Mirip konsep Holywood. Tidak jauh dari sinetron Indonesia. Menjual mimpi. Di mana orang baik selalu berakhir menang dan hidup bahagia hingga akhir hayatnya. Sebagaimana cerita bumbu terorisme lainnya. Jagoan akan mati-matian mencari teroris dan berhasil mengungkap kasus. Masyarakat hidup bahagia setelahnya. Persetan kenyataan berada sebaliknya. Toh dalam film Holywood memang mimpi yang harus dijual.

Well, ternyata saya salah.

Sang teroris ternyata sudah tertangkap. Dan malah setelah tertangkap, film berjudul Unthinkable ini justru baru dimulai.

Si teroris tertangkap. Ia memiliki tiga bom nuklir dan tidak mau memberitahu dimana bom tersebut berada. Maka apapun yang terjadi, tiga bom yang ditempatkan sang teroris itu harus ditemukan.

Cara yang paling mudah, meminta agar sang penebar bom nuklir itu mengaku dimana ia menempatkannya. Dan meminta ia mengaku, bukan hal yang mudah. Saking sulitnya mengorek keterangan dari si pelaku, seluruh agen rahasia Amerika berkolaborasi lalu meminta jasa interogator sewaan agar bisa mendapatkan informasi.

Si interogator sewaan, yang lebih suka dipanggil ‘H’, menjalankan aksinya dengan keji. Dalam sebuah kamar khusus yang dibangun untuk interogasi, ia mengikat si tawanan dalam kursi yang diberi penyengat listrik. Di depan para petinggi keamanan dan di atas tanah Amerika yang mereka pikir menjunjung tinggi demokrasi, ia memotong jari tawanan dan menyiksanya hingga batas yang sukar dipahami.

Sialnya, si tawanan tidak mau mengaku. Hingga akhirnya para agen rahasia itu mendatangkan istri sang teroris pun ia tetap tidak mau mengaku. ‘H’ menyilet leher perempuan malang yang tidak tahu apa-apa itu hingga hampir putus di depan suaminya.

Sial, tawanan tetap tidak mau mengaku.

Hingga akhirnya H berhenti menyiksa si pelaku pemboman. Ia lalu mengambil dua orang anak si pelaku, lalu menyeret dua bocah molang berusia delapan dan sembilan tahun itu ke dalam kamar penyiksaan. Ia tahu, ia tidak dapat mendapatkan informasi dengan cara menyiksa si teroris. Tapi ia yakin bisa, dengan menyiksa dua anak tersebut, ia dapat mendapatkan informasi mengenai tiga bom yang masing-masing mampu membunuh sepuluh ribu orang. Di depan mata para koleganya yang hampr tidak mampu berbuat apa-apa mencegah H beraksi, H hampir menyuntik cairan kimia penyiksa kedalam tubuh dua bocah malang tersebut.

Di bagian ini jiwa saya mulai terteror. Saya bertanya dalam hati, apa yang akan saya lakukan untuk mendapatkan informasi penting yang mampu menyelamatkan puluhan ribu manusia.

Sumpah saya sungguh terteror. Pertama karena film ini penuh darah. Kedua karena dialog-dialognya memang memaksa otak saya bekerja lebih keras daripada biasanya.

Saya tahu, jawaban hitam putih itu mudah. Sejak kecil kita sudah dibebani informasi mengenai ideologi kebaikan seperti “Jangan menghalalkan segala cara” atau ideologi nisbi macam “Tergantung…” atas segala pertanyaan abu-abu.

Maka jika pertanyaannya adalah, “Apakah layak menyiksa lalu membunuh dua orang anak kecil untuk menyelamatkan dua puluh ribu manusia?” Apa jawaban seharusnya?

Malam itu, saya hampir susah tidur. Tetangga sunyi senyap. Anak istri sudah terlelap. Namun sukar sekali mata dipicingkan. Sebab saya bertanya pada diri sendiri, “Sejauh apa yang akan saya lakukan apabila putri cilik saya diancam mati?”

Teror tiga: #Obsat @Aburizalbakrie

Kemarin, kebetulan saya libur dan seharian menjaga dan bermain bersama putri yang masih berusia balita.

Seorang sahabat mengirim pesan melalui telepon, “Obrolan Langsat bakal seru. Ada Bakrie”. Wow, saya langsung menyalakan sambungan WiFi pada telepon dan memantau akun layanan media sosial twitter bernama #obsat (singkatan dari obrolan langsat), akun yang menyediakan laporan langsung diskusi di lokasi.

Sebelum memulai lebih lanjut, Obrolan Langsat adalah sarana diskusi yang dilakukan di Jalan Langsat. Menurut informasi resmi akun tersebut “Obrolan Langsat: Berdiskusi melatih kita untuk terbiasa dengan perbedaan dan keberagaman — dan bukan tidak mungkin dari sana kita memetik sebagian dari kebenaran”. Selain diskusi biasa, obrolan ini berlangsung dengan bantuan teknologi, sehingga bisa dinikmati oleh saya yang jaraknya ribuah kilometer dari Jalan Langsat, Jakarta Selatan

Saya sudah siap memberi pertanyaan-pertanyaan pada Pak Ical (panggilan Aburizal Bakrie, tamu Obrolan Langsat malam itu). Diantara pertanyaan saya topiknya adalah, apa perasaan beliau sebagai Commander-in-Chief Lapindo, orang yang dianggap paling bertanggung jawab dalam bencana lumpur di Sidoarjo, Jawa Timur menyikapi lumpur Lapindo.

Pak Ical tidak langsung menjawab pertanyaan saya. Beliau, sesuai dengan ketentuan yang berlaku, memiliki hak dalam memilih pertanyaan yang diajukan penanya. Tapi tentu saja tidak bisa berkelit ketika hampir semua suara penanya menyinggung soal Lumpur Lapindo.

Namun dalam beberapa pernyataannya, jawaban Pak Ical sungguh membuat saya sedih.

Kenapa saya sedih? Jawabnya simpel; sebab saya kecewa. Yang jadi pertanyaan sebenarnya adalah, kenapa saya kecewa?

Jawabnya sebenarnya lebih simpel lagi. Katanya, kekecewaan itu berangkat dari terpisahnya antara harapan dengan kenyataan. Maka itu, muncul kekecewaan.

Jadi sekali lagi, kenapa saya kecewa?

  • Saya kecewa, Pak Ical mengatakan bahwa lumpur Sidoarjo 80% adalah bencana alam. Harapan saya jelas berbeda. Harapan saya adalah, beliau yang begitu cerdas mau meluangkan sedikit waktunya membaca laporan American Association of Petroleum Geologists (AAPG) dan Centre for Research into Earth Energy Systems (CeREES) yang menyatakan bahwa besar sekali pengaruh kesalahan manusia dalam pengeboran Lapindo dan mengakibatkan bencana di Sidoarjo.
  • Saya kecewa Pak Ical bersikukuh menyatakan bahwa beliau tidak bertanggung-jawab atas korban warga Sidoarjo yang rumah, sawah, masjid, dan seluruh harta benda mereka terkubur lumpur dan sia-sia selama empat tahun lebih. Bahkan mencoba berlindung di balik pernyataan “Tapi karena perintah Ibunda, maka saya harus melakukan ganti rugi”. Harapan saya; Pak Ical yang datang malam itu ke Jalan Langsat ditemani anaknya. Dengan suara mantap di depan publik ia berkata pada anaknya “Nak, manusia melakukan kesalahan dan bapakmu ini manusia. Saya dan teman-teman pemilik Lapindo bertanggung jawab atas tragedi tersebut. Teman-teman, pengunjung, saya bertanggung jawab atas tragedi tersebut dan saya meminta maaf”.

Setiap laki-laki itu tidak harus jantan, tapi sebagaimana para lelaki yang telah menempuh begitu banyak kesukaran dalam hidupnya, semestinya berani bertanggung jawab dan meminta maaf.

  • Saya kecewa Pak Ical bilang bahwa Sidoarjo akan kembali seperti semula sekitar 30 tahun lagi yang kemungkinan bahwa ia pun sudah tidak lagi hidup. Harapan saya; Pak Ical tidak berkata begitu. Apa itu arti ‘kembali seperti semula’, maksudnya kembali ke masa lampau ketika semua warga Sidoarjo hidup bahagia tanpa lumpur panas menyemburkan gas melahap ganas rumah mereka? Setelah 30 tahun, lalu bagaimana? Apakah danau lumpur itu akan jadi sebuah warisan berbentuk dosa kepada anak cucunya?

Lihat… Anda sadar sekarang betapa saya sedang menteror diri saya dengan harapan-harapan palsu. Harapan-harapan tidak wajar yang diantaranya adalah bahwa Aburizal Bakrie, salah seorang terkaya di bumi Indonesia meluangkan waktunya untuk membaca. Atau berperan sebagai ayah yang gagah perkasa di depan putranya. Atau seorang yang dengan amat terdidik yang mampu mengendalikan ucapannya.

Hah! Lihat! Betapa tololnya saya memberikan harapan-harapan itu pada diri saya sendiri.

Tapi saya kagumi mental Pak Ical dan putra beliau Anin untuk datang malam itu ke Langsat. Beberapa orang teman malah menyarankan agar beliau dikucilkan publik?

Dikucilkan? Astaga! Menutup komunikasi dengan pembuat masalah itu sama sekali tidak akan menyelesaikan masalah. Malah semakin menjauhkan kita dari solusi.

Beberapa orang lagi, malah mengatakan bahwa Obrolan Langsat, sarana komunikasi santai namun asik itu, menjadi bahan pencitraan imaji Pak Ical untuk membersihkan namanya dan lalu melaju sebagai calon Ketua Umum Partai Golongan Anu. Well, itu memang analisa konspirasi yang menarik.

Tapi belum tentu benar.

Tidak lama setelah akun-akun melaporkan secara live dari lokasi obrolan dengan Pak Ical. Saya sedih. Saya kecewa. Harapan-harapan saya musnah. Tidak saya temui laporan yang mengabarkan kegagahan, kebijakan dan kasih sayang Pak Ical terhadap manusia.

Publik mentertawainya sebagaimana mentertawakan badut pinggir jalan yang sedang menghibur pengguna jalan yang letih atau mungkin kantuk.

Telepon saya matikan, saya tatap sedih putri saya yang kini sudah berusia dua tahun sedang bermain di bak pasirnya. Saya berkata “Nak, doakan bapakmu. Aku sama sekali tidak ingin jadi sepertinya” sambil menatap akun twitter @aburizalbakrie perlahan hilang di layar telepon.

Sebagaimana hilang pula citra beliau di mata saya. Maka, jika banyak orang yang melihat citra baik Pak Ical malam itu semakin menguat dan berbinar-binar auranya. Percayalah, saya adalah orang yang percaya sebaliknya.

Tiga hari ini saya diteror. Tidak tahu mana yang paling parah; lenguhan perempuan muda yang bercinta dengan sebelas pria mabuk, atau kemungkinan sadisme dan balas dendam dalam jiwa saya, atau seorang pria kaya perlente yang telah menyengsarakan hidup manusia satu kampung secara langsung.

Tiga hari penuh teror. Tiga malam susah tidur.


Boikot

Sudah beberapa tahun belakangan ini makin santer gerakan ‘anti-antian’ terhadap negara lain. Di bantu internet, memang tambah memudahkan aksi ini.

Waktu zaman Schapelle Corby dituduh membawa berkilo-kilo ganja ke Bali dan polisi belum mampu membuktikannya, langsung ada gerakan ‘Boikot Bali’ bahkan hingga ‘Boikot Indonesia’ di negara tetangga. Saking parahnya di daerah suburban barat laut Melbourne sana hingga ada sebuah bar yang menempelkan plang papan di depan pintunya ‘No Beers 4 Indonesians
(*Kami nekat masuk. Memesan es teh manis. Tetap tidak dilayani. Bahkan malah dipelototi. Tapi cuek saja nyemil kacang gratis yang ada di depan meja bartender. Hihihi*)

Hingga akhirnya Schapelle Corby ternyata benar-benar seorang ratu ganja, gerakan boikot ini ternyata belum di cabut juga. Alasannya kali itu adalah; Penjara Kerobokan Denpasar Bali tidak layak untuk seorang Corby. Beuh!

Hari berganti, begitupun peristiwa. Ada negara tetangga yang mengklaim sebuah lagu dan tari yang bahkan sudah dilirik anak negeri. Tiba-tiba semua orang kebakaran jenggot. Ramai-ramai pakai batik supaya si negeri jiran tak berani mengklaim lagi. ‘Boikot negeri sebelah’ tiba-tiba jadi trend yang seksi. Ramai-ramai anak muda jadi nasionalis dadakan dengan memakai atribut mencela negeri tetangga. Tiba-tiba, idiom ‘makin nyela tetangga makin gaya’ merambah kemana-mana dan jadi sebuah bangga.

Lalu sebagaimana peristiwa lainnya, orang-orang lupa. Atau mungkin; terlalu banyak di dera masalah dan peristiwa yang nan tak kalah ajaibnya… Jadi dilupakan.

Hingga akhirnya muncul lagi. Ketika Garuda Indonesia ketek sayapnya di jitak Uni Eropa. Sehingga burung-burung besi milik maskapai penerbangan pribumi itu dilarang terbang di langit Eropa sana. Berbagai pejabat negeri tiba-tiba (lagi) berkoar menjadi nasionalis sejati. Ada yang asal bunyi berkata “Ini pasti politis, gara-gara pembunuhan Munir yang belum terungkap maka kita dilarang terbang”.

Politis? Uh! Itu benar-benar asal bunyi. Sebab sebelum di larang, sudah berkali-kali diperingati bahwa Garuda itu gagal memenuhi persyaratan untuk mendarat tepat waktu. Dikiranya, seluruh bandara di Uni Eropa milik bapak moyangnya apa? Pilot-pilot itu main landing seenak jidatnya. Bung, tahukan anda terminal bandar udara itu beda dengan terminal angkot Cilincing, kampung di ujung laut Jakarta sana di mana para sopir mangkal semau-maunya?

Diberitahu begitu, makin merah muka sang pejabat. Sampai-sampai mengeluarkan titah, “Apapun yang terjadi, Garuda kita harus melanglang di langit Eropa. Kalo nggak bisa juga, boikot saja negara yang melarangnya”.

O-o-o… Lagi-lagi ada masalah bisnis yang diintervensi kebijakan negara. Kok yaa tidak berfikir lebih dulu dengan seksama, bahwa kadang-kadang teknisi kita terkenal tukang lupa. Hingga parahnya alpa membersihkan korosi di mesin burung-burung besi kebanggaan (beberapa) anak negeri itu.

Lagi-lagi boikot. Lagi-lagi boikot. Kalau buruh kecil pabrik tekstil di Tangerang sana boikot minta keselamatan kerja dan upah layak, maka semua aparat dituruni untuk mengemplangi para manusia kecil bernasib naas itu. Beuh!

Lalu, sebagaimana sejarah, ini akan tetap berulang terus. 2009, sebuah website terkenal tempat kumpul para seniman tiba-tiba memboikot semua orang-orang Indonesia yang ada di sana. Gara-gara, beberapa orang pencuri (tentu saja dari IP address Indonesia dan memiliki status geografis RI) diam-diam menyikat hasil karya member lain dan lalu dengan bodohnya terang-terangan menjual karya colongan itu, di website yang sama.

Memboikot semua orang Indonesia yang ada di forum?

Hahaha… Tahu darimana dia orang itu adalah WNI atau minimal mengaku orang Indonesia?

Dari IP address? Buset dah, gara-gara beberapa orang maling ber alamat Indonesia tiba-tiba memblok semua karya anak Indonesia? Lagi pula, apakah semua orang yang ber IP address Indonesia adalah orang Indonesia? Hahaha… Gimme a break!

Dari status geografis? Ampun deh, mengganti status geografis di forum itu bisa dilakukan dalam waktu beberapa detik. Toh bisa saja saya mengaku dari Republik Vanuatu.

Dari nama Indonesia. Jadi semua orang yang bernama ‘berbau-Indonesia’ harus di blok? Hahaha…
(*Apa forum website berbasis di California itu berani nge-block Bapak Sehat Sutardja? Ahh Pak Sehat mana mau masuk forum rasis begitu :D Buang waktu ajah*)

Lah terus bagaimana dengan orang-orang Indonesia yang tidak memiliki IP address Indonesia, apakah harus di boikot juga? Aje gile deh.

Boikot pencuri dari Indonesia itu adalah tindakan cerdas. Tapi boikot semua orang Indonesia (atau yang mempunyai penampakan seperti WNI karena mungkin mereka semuanya maling, koruptor, dan sebagainya) jelas adalah tindakan bloon.

Yang terkini, mungkin beberapa hari lalu. Ketika ada pertandingan sepakbola antara kesebelasan sepakbola kebanggaan warga Jakarta, Persija dengan pengocek bola piawai dari Bandung Persib. Hasilnya imbang.

Mungkin karena hasil yang dianggap tidak memuaskan atau alasan tidak penting namun memuakkan lainnya, beberapa supporter Persija, Jakmania memukuli seorang bocah berumur tujuh tahun. Hanya karena, ia anak supporter lawan kesebelasan yang bangga memakai kaus supporter Persib bernama Viking Bandung. Itu anak, babak belur dan bukan hanya kausnya, mata dan pipinya pun ikut lebam membira.

Haruskah kita memboikot para supporter sepakbola asal Jakarta tersebut? Sebagaimana niat kita memboikot bonek supporter sepakbola dari Surabaya?

Well, hati kecil saya berkata iya. Namun ketika melihat bahwa dari ribuan manusia pendukung sepakbola tersebut sebagian besar adalah orang-orang biasa yang mencintai sepakbola daerah lokalnya, maka nurani pun berkata berbeda.

Jika ada beberapa orang beratribut islami melakukan tindakan tolol luar biasa dengan membunuh manusia lain atas nama tuhan yang mereka percayai, tidak menjadikan semua orang islam adalah pembunuh yang tolol. Sebagaimana hanya karena satu dua yahudi menjadi pencuri tidak selayaknya kita mengirimkan mereka semua ke kamp konsentrasi.

Maka, apabila solusi yang di rasa paling tepat adalah supporter klub sepakbola Jakarta menindak koleganya yang berbuat tak senonoh pada bocah Bandung berusia tujuh tahun. Maka sudah sepantasnya kita memboikot ‘kolega’ kita yang bawa-bawa nama ‘kami’ hanyak sebagai alasan untuk menzalimi.


Tolong! Saya Dipukuli Suami. Terus Bagaimana Dong?

(*Beberapa nama dalam tulisan ini bukanlah nama sebenarnya*)

Kata beberapa orang rekan kerja, sudah beberapa waktu belakangan ini saya terlihat murung ketika makan siang. Saya memang tidak bisa menyembunyikan kegelisahan yang tengah saya alami.

Adik saya yang bungsu, si Uul mengabarkan bahwa sahabat yang sekaligus tetangga saya, Fatimah, seorang ibu berputri tiga, dihajar habis-habisan oleh suaminya. Suatu hari suami Fatimah pulang ke rumah. Dalam keadaan emosi. Menurunkan kalimat kotor cercaan dan pukulan pada istrinya. Di depan ketiga anak mereka (yang paling tua sembilan tahun yang paling kecil empat tahun). Di depan Ibu Fatimah. Dan di depan adik Fatimah. Fatimah di hajar sabuk pinggang hingga lebam-lebam.

Fakta bahwa pemukulan itu bukan kejadian yang pertama dan pekerjaan sang suami adalah seorang penegak hukum, sungguh amat membuat berang. Siapa saja yang mendengarnya, tentu akan marah. Ini memang mirip film India. Tentang suami yang doyan selingkuh. Tentang suami yang menjadi penegak hukum dan sering beroprasi penyamaran dalam dunia hitam. Lalu ketika pulang ke rumah, menjadikan istrinya bak penjahat yang harus di aniaya dan di siksa. Bedanya ini tidak terjadi di film, apalagi film India. Ini terjadi di Indonesia, tepatnya di kampung saya; Cilincing tercinta.

Empat jam setelah kejadian. Adik sang korban mencurahkan isi hatinya pada Uul. Dan lalu, Uul jelas melapor pada kakaknya. Karena dia tidak tahu kemana lagi harus mengadu. Sebab sang korban adalah sahabat dekat kakaknya semasa SMA.

Begitu dapat telepon dari Uul, saya jelas amat kecewa. Di sisi lain emosi betul rasanya hati ini.

Namanya juga saya orang Cilincing sih dan peristiwa ini melibatkan orang Cilincing. Maka langkah pertama yaa kontak teman-teman Cilincing saya. Namanya emosi jiwa, apapun yang saya katakan memang dibalut emosi dan tentu saja itu hal yang tidak bijaksana. Sebab sahabat-sahabat Cilincing saya memang jauh lebih ajaib dibandingkan dengan saya kalau sudah emosi. Beberapa orang diantara mereka bilang, “Ngepet…, mentang-mentang dia (si suami) polis kali bisa maen gampar bini seenaknya! Si bajingan itu lupa kali di Cilincing bukan cuman dia doang yang punya pestol!”

Setelah diomeli oleh istri (*iya istri saya marah betul mendengar pembicaraan antara saya dan teman-teman Cilincing. Ia takut suaminya ikut campur dan jadi otak dalam tindak kekerasan*) akhirnya saya sadar bahwa kekerasan memang benar-benar tidak bisa diselesaikan dengan kekerasan.

Akibat kasus ini melibatkan penegak hukum dan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), dua hal yang saya akui saya tidak pandai menganalisanya. Maka saya melakukan riset terlebih dahulu. Dengan berupaya kontak beberapa teman yang berada dekat lokasi kejadian perkara. Diantara mereka kebetulan terkenal karena keahlian spesifik mereka. (*Pada waktu ini, sumpah mati saya bersyukur bahwa teman-teman saya bukan hanya makhluk berangasan saja. Para pemarah. Namun banyak juga yang orang baik dan tidak segan membantu*)

Bang Rere, seorang polisi yang kebetulan juga mantan anak tongkrongan Cilincing, menyarankan agar sesegera mungkin dilaporkan ke kantor polisi terdekat. Saran dari beliau adalah:

  1. Lakukan visum sesegera mungkin. Sebab nanti kalau sudah sembuh lukanya alat bukti hasil visum bisa samar
  2. Dan apabila dihalang-halangi (karena pelaku adalah oknum anggota polisi) lalu proses pengaduan yang tidak dikerjakan/ diperlambat. Bisa di jamin Polri tidak berani, karena sudah merupakan program dari Kapolri untuk menanggapi setiap laporan. Namun kalau masih benar-benar tidak ditanggapi; maka solusinya amat mudah caranya… Yaitu layangkan surat/pengaduan ke divisi Propam (profesi dan pengamanan) Polda Metro jaya ditembuskan ke Polres terkait
  3. Untuk KDRT, laporkan pada Polres lokal. Sebab di sana sudah ada unit Perempuan dan Anak yang diawaki kebanyakan oleh Polwan
  4. Kalau masih dipersulit juga, saya diberi nomor telepon beliau (*Dan karena alasan privasi, tidak akan saya sebar ke publik, hehe*)

Dari Imam yang pada waktu kejadian ini berprofesi sebagai pengacara menyarankan agar:

  1. Menghubungi Mbak Ratna (Ratna BM) yang menjadi inisiator LBH Apik. Nomor telepon LBH apik adalah 021-87797289
  2. Karena kejadian ini di JKT, segera hubungi RSCM (Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo) dimana mereka juga memiliki layanan pengaduan dan konsultasi (istilahnya women crisis centre) yang buka 24 jam
  3. Melihat tulisan Dinda mengenai alamat kontak untuk pengaduan kekerasan dalam keluarga di beberapa tempat di Indonesia

Sementara Loli, sahabat saya yang ahli pendampingan terhadap korban menyarankan agar Fatimah diajak ke

Yayasan Pulih
Jalan. teluk peleng no 63 A Rawa Bambu Pasar Minggu
telp. 78842580 hotline: 98286398, 0888-1816860

Agar bisa di bantu didamping dalam melewati masa-masa sulit ini.

Dengan sejumlah jaminan ini dan beserta banyak dukungan lainnya dari beberapa teman yang peduli, maka saya sampaikan kabar dan data ini kepada Uul. Pada intinya satu, menyarankan agar Uul memberi sejumlah data ini kepada Fatimah atau anggota keluarga Fatimah lainnya. Jadi Fatimah bisa keluar dari neraka yang saat ini bernama rumah tangga.

Setelah menyempaikan kabar tersebut, sehari saya tunggu jawaban dari Uul. Masih belum ada jawaban. 36 jam setelah kabar ini turun, masih belum ada jawaban. Saya gelisah. Saya takut. Dalam hati berdoa semoga hal buruk tidak semakin parah menimpa Fatimah. Maka ketika 48 jam berlalu sudah, saya putuskan untuk menelpon Uul.

Yang menerima bukan Uul, melainkan Ibu saya. Jawaban beliau, benar-benar anti klimaks. “Udah kamu nggak usah ikut campur. Itu rumah tangga orang”

Saya kecewa. Pertama karena yang menerima bukan Uul. Yang kedua, mengapa alasan “Urusan dalam rumah tangga” menjadi sebuah ayat suci yang tingkat hukumnya sedemikian tinggi sehingga tidak bisa dipertanyakan lagi bahkan ketika kekerasan sudah melanda rumah tangga tersebut? Yang ketiga, saya benar-benar kecewa Ibu meminta saya berhenti di tengah jalan.

“Ibu gimana sih! Ini bukan masalah rumah tangga lagi. Ini kriminalitas! Bukan lagi urusan rumah tangga. Sekarang kita masih syukur sebab si Fatimah masih idup. Coba gimana kalo besok-besok nyawanya nggak ada? Kalo kita diem dan besok-besok dia meninggal dihantem suaminya, kita dosa, Bu!”

Ibu itu relijius. Saya harap kalimat saya bisa mengubah pendpaat beliau. Walaupun sebenarnya sungguh menyesal saya menghardik Ibu dan membawa-bawa kalimat dosa. Dua hal yang tidak perlu.

Ibu diam sejenak. “Ibu udah ngomong ama Fatimah. Dia nggak mau dibantu. Dia takut suaminya masuk penjara. Kata dia kalo polisi masuk penjara kasian, digebugin terus”

Saya diam lama sekali mendengar itu. Lalu dengan pelan saya tanya lagi, “Ibu berani jamin dia nggak apa-apa?”

Ibu mengiyakan di seberang sana.

Namun entah kenapa, saya masih masygul. Bisa jadi karena si bedebah pemukul perempuan itu masih berkeliaran dengan bebasnya. Atau bisa jadi karena kecewa mendengar sahabat saya Fatimah yang mati-matian melindungi suaminya seakan tidak ada lagi pilihan di muka bumi ini. Atau bahkan saya kecewa karena saya tidak ada di sana untuk memastikan mata kepala saya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Malam itu yang ternyata bukan hari keberuntungan saya, nampaknya harus semakin tabah menerima rasa kecewa.

Sebelum tidur saya baca status facebook dari seorang sahabat, “Ado kurang ajar. Ga mao denger kata orang tua. Terpaksa gua maen tangan”

Ado itu anaknya. Tidak mau bangun untuk ibadah di pagi buta. Ibunya, sahabat saya, murka (atau khilaf, sebut saja terserah anda). Hingga bocah lelaki berumur enam tahun itu merah pipi ditampari.


Sony Corp vs Sony AK vs Sony Toloyo

Sony Corporation, sebuah perusahaan raksasa multinasional baru saja mengajukan gugatan hukum pada bloger Bogor bernama Sony Arianto Kurniawan, karena Kang Sony yang orang Bogor ini memiliki domain www.Sony-AK.com.

Pukul 02.40 AM tanggal 11 Maret 2010, Sony AK (yang dari Bogor) menulis di forum PasarDomain

Dear all,
Saya Sony Arianto Kurniawan dan saat ini baru saja dapat “musibah” karena domain saya sony-ak.com di-sue oleh Sony Corporation Japan melalui kuasa hukumnya di Indonesia. Padahal itu saya register-kan berdasarkan nama saya sendiri dan sudah saya gunakan sejak lama untuk kepentingan murni penyebaran ilmu pengetahuan di bidang IT.
Saya ingin tahu bagaimana pendapat rekan-rekan di forum ini.
Best regards,
Sony AK
www.sony-ak.com

Seharusnya Sony Corp bisa belajar dari kasus Microsoft vs Mike Rowe.

Apa sih kasus Microsoft vs Mike Rowe?

Tahun 2003 Mike Rowe, seorang pelajar berusia 17 tahun dari Kanada yang hobi mendesign web dan programing kecil-kecilan mendaftarkan domain bernama www.mikerowesoft.com. Singkatan dari Mike Rowe (namanya sendiri) dan soft (sebab ia pikir lucu kalau pakai kalimat ’soft’ yang artinya lembut di belakang namanya).

Pada Januari 2004, perusahaan software raksasa bernama Microsoft marah-marah kebakaran jenggot. Mereka pikir MikeRoweSoft dot com itu tengah melakukan plagiasi pada domain mereka, microsoft dot com. Lalu, akibat arogansi mereka pun melakukan upaya akuisisi pada domain mikerowesoft.com. Caranya, pihak Microsoft menawarkan kompensasi uang sebesar $10 dollar Amerika kepada Mike Rowe agar menjual domain itu kepada mereka.

Mike Rowe berang. Ia merasa dilecehkan. Pertama karena dianggap ‘tengah mencuri nama microsoft’ (Padahal orang tua Mike Rowe sama sekali tidak berniat memberi nama anaknya mirip seperti perusahaan perangkat lunak dari Redmont yang bernama Microsoft Corp). Kedua karena apabila nama Mike Rowe begitu penting untuk Microsoft, kenapa ditawarkan hanya US $10 saja? (*Ia lalu meminta US $10 ribu untuk domain itu. Semata-mata karena kesal atas perlakuan Microsoft*)

Microsoft tentu saja ngamuk berat. Dengan segerombolan pengacara mereka yang bergaji hingga ribuan dollar perjamnya, mereka membuat 25 halaman tuntutan terhadap Mike Rowe. Bahkan diantara tuntutan adalah memenjarakan Mike Rowe dan mendenda pemuda berusia 17 tahun yang sial karena memiliki nama Mike Rowe (hampir mirip dengan Micro) sebanyak US $100.000

Mike Rowe menolak menerima kriminalisasi itu. Ia membuka kasus ini ke pers dan publik. Hasilnya adalah situs mikerowesoft.com dikunjungi oleh 250 ribu orang dalam tempo waktu 12 jam saja. Situs itu lumpuh segera akibat tidak bisa menerima kunjungan segitu banyak orang.

Di sisi lain, Mike Rowe ternyata mampu menggalang dukungan dari banyak orang. Memperoleh donasi US $6000 untuk membayar ongkos perkara dan juga memperoleh bantuan legal dari pengacara yang mau bekerja membelanya Pro Bono, tanpa bayaran.

Kasus ini benar-benar memicu kemarahan publik. Arogansi Microsoft Corp benar-benar dipertanyakan. Mike Rowe vs Microsoft mampu memicu media menganalogikannnya sebagai cerita versi cyber modern David vs Goliath. Si kecil yang teraniaya vs Raksasa yang jahat tiada tara.

Dalam beberapa hari setelah kasus ini mencuat di publik, terjadi kekacauan administrasi di tubuh Microsoft sendiri. Beberapa orang pengembang perangkat lunak jenius yang bekerja di Microsoft menganggap bahwa sudah semestinya mereka keluar dari perusahaan yang berubah jadi setan ini. Ribuan telpon berdering setiap hari di meja resepsionis mengutuk aksi Microsoft. Intinya, terjadi tekanan di tubuh dalam perusahaan dan juga dari luar. Oh! Bad for business.

Kasus ini akhirnya bisa diselesaikan dengan baik di luar jalur hukuum. Microsoft mengakui betapa arogannya mereka. Lalu menghadiahkan Mike Rowe hadiah-hadiah khas Microsoft.

Mike Rowe sendiri, lalu melelang 25 halaman tuntutan dari Microsoft di sebuah situs lelang E-Bay.

Lalu bagaimana dengan domain www.mikerowesoft.com?

Domain ini akhirnya di dapatkan oleh microsoft dengan perjanjian bahwa akan di selaraskan dan ditujukan langsung ke mikerowesoftforum.com (akhirnya entah kenapa, di deface). Namun kalau mengetik mikerowesoft.com, maka kita akan ditujukan ke halaman mesin pencari Microsoft yang bernama Bing yang isinya adalah kasus antara Microsoft dengan Mike Rowe.

Jadi apa yang harus dilakukan Sony AK yang blogger orang Bogor itu dalam kasus penuduhan soal identitas dari Sony Corp, raksasa elektronik Jepang?

“Terus aja nge-blog, Kang. Jangan takut. Mike Rowe saja yang bukan orang Bogor bisa menang. Pasti anda juga bisa menang kok”

Lalu apa yang bisa dilakukan Sony Corp supaya menang melawan Sony AK?

“Sebaiknya belajar dari kasus Microsoft vs Mike Rowe. Kalau tidak bisa belajar, coba pertimbangkan untuk ganti nama”

(*Sumpah mati, gara-gara kasus ini dan markas besar Sony di Tokyo saya jadi kepingin bikin domain Sony-Toloyo dot com. Haha*)