Archive for the 'komunikasi' Category

Pendidikan Informatika Kurikulum Baru

Ini blog laboratorium entah kenapa tidak diurus. Saya sudah lama tidak menulis di sini. Biasalah, alasan capek gara-gara baru saja pindah rumah saya pakai demi tidak menulis. Hehe.

Tapi sebenarnya bukan gara-gara sibuk pindah rumah saya jarang menulis di blog lab ini. Intinya sih lebih ke arah karena ada pekerjaan lain, jadi jarang ‘ngoprek’.

Di kamar saya, masih bertebaran kabel-kabel RJ45, baterei, kertas skema corat-coret, beberapa komputer dengan perut terburai, game-game jadul dan perlengkapan lainnya. Setiap masuk kamar, saya selalu berjanji pada diri sendiri akan mengurus DVI untuk monitor yang entah kenapa janji itu selalu diingkari akibat pulang kemalaman. Hehe.

Karena saat ini rumah lebih jauh dari pabrik tempat bekerja, saya lebih sering berangkat pagi dan pulang lebih malam daripada biasanya. Pulang pergi dari rumah menuju pabrik memakan waktu sekitar tiga jam.

Tiga jam itu berharga sekali buat saya. Bayangkan, kalau saya bekerja 21 hari perbulan, maka saya akan kehilangan 63 jam perbulannya hanya untuk transportasi. Gila, itu banyak!

Agar tidak kehilangan waktu sia-sia selama 63 jam perbulan, saya memakainya dengan membaca. Baca apa saja, yang penting baca. Baca novel romantis ndeso yang sama sekali tidak masuk di akal. Baca komik-komik bawah tanah yang diterbitkan oleh teman-teman saya dan komunitas mereka. Hingga baca koran gratisan yang melulu kebanyakan isinya iklan.

Tapi tadi pagi saya kaget. Di koran gratisan itu ada lowongan sekolah setingkat SMU. Bedanya, ini sekolah menengah umum hanya dikhususkan untuk bidang Informasi. Sialnya, iklan ini tidak sempat saya potret maupun saya robek untuk di scan.

Iklannya menarik sekali. Seorang anak kita-kira usia 10 tahun sedang memegang bola dengan pakaian kaus dan celana panjang jeans. Di atasnya ada tulisan besar yang kalau diterjemahkan artinya: “Sebentar lagi aku bikin aku”

Agak aneh, Apa maksudnya aku bikin aku?

Ternyata di bawah foto si anak, tertulis: Tomas (10 tahun), pemain fusbal berbakat. Cita-cita; membuat karakter diri pada game fusbal. Dan itu tidak akan lama lagi.

Di bawahnya, tertulis bahwa sekolah yang sedang beriklan itu kini sudah menyediakan penjurusan dalam kurikulumnya. Antara lain adalah:

Game Development

Ini bikin saya kagum. Sebab sudah dimasukkan character design 3D, leveling (yang nampaknya butuh logika logaritma per levelnya), Manajemen Produksi hingga penguasaan tool-tool rendering (game engine) dalam kurikulum mereka. Mantap lah. Namun yang lebih mantap lagi, ternyata sekolah sudah punya channel ke game-game industri. Jadi kalau mau magang atau cari kerja lebih mudah. Saluuut lah.

Informasi, Komunikasi dan Media

Ini juga keren. Begini kata mereka dalam iklannya:

Dalam masyarakat kini informasi memainkan peran yang sangat penting. Peran seseorang kadang diwakili oleh informasi. Siapa yang memiliki dan siapa yang tidak? Informasi hadir kadang lebih bernilai daripada emas: mahal dan langka.Tidak hanya pada tingkat pribadi, tetapi juga pada perusahaan dan iklan. telah ada pasar dalam mengumpulkan informasi yang penting dalam mencapai tujuan. Mereka harus memiliki target untuk lebih cepat dan lebih baik. Jika tidak, diambil pesaing.”

Yang bikin saya kaget, sudah dimasukkan marketing ‘non-konvensional’ seperti penggunaan ROI dalam adwords, pemanfaatan 140 karakter twitter (*namanya; marketing 140. Haha*), penggalangan massa dalam jejaring sosial (seperti FB atau semacamnya) dan macam-macam lainnya.

Di sini, saya terkagum-kagum. Pertama; karena web2.0 telah membawa angin segar baru dalam dunia industri. Hingga terciptanya lapangan kerja inovatif. Kedua; karena sudah ada sistematika pendidikan yang menanggapi inovasi ini. Sehingga standarisasi atau benchmark makin bisa diperbaiki dari hari ke hari. Ketiga; Saya iri dengan generasi mendatang. Haha. Kok yaa sudah ada SMU yang begitu. Coba dulu kalau jaman saya sudah ada sekolah begitu. Pasti saya nggak jadi bandit. (*ngeles mode ON*) Hehehe.

Mungkin daripada iri, ada baiknya saya menyediakan tempat hidup yang layak buat generasi selanjutnya.

Memilih Framework Open Source Yang Tepat (Kursus HTML Online)

jquery logo bangaip imageMaaf sebelumnya. Saya cuma mau cerita sedikit soal pembangunan aplikasi web berbasis HTML (termasuk didalamnya CSS dan JavaScript dan ikut-ikutan pula konco-konco dari JSP serta JSF) di sini. Bukan mau memberi kursus online. Hehe.

Sepagian ini saya GR (Gede Rasa) banget. Saya baru saja dapat input yang bagus dari team kami di US dan di Jerman. Dan pada utamanya, ini memang cerita soal kegeeran saya. Hehehe.

Risk Management Factor

Pertama dari US. Pendapat saya menggunakan JQuery sebagai framework dalam membangun aplikasi web sejalan HTML ternyata mendapat tantangan luar biasa keras.

Beberapa junior developer bahkan tidak pernah memakai JQuery, apalagi mendengarnya (*Dalam hati saya bilang “Buset kemana aja ente, Say!”*). Beberapa senior developer menentangnya karena sifat JavaScript yang ‘buggy’ ketika dieksekusi peramban internet.

Salah seorang bosnya senior developer malah berkata bahwa aplikasi yang kami bangun (tidak perlu disebutkan namanya) jauh lebih baik ketimbang memakai JQuery (atau memakai framework berbasis JavaScript lainnya sebab kami sudah menggunakan aplikasi ini sejak musim panas tahun lalu).

Namun untung saja saya dibelain. Hehe, untunglah. Sebab kalo nggak, saya dimusuhin. Hihi.

Beberapa orang memilih JQuery karena sifatnya:

  • Open source (jadi kode sumbernya bisa kita dapatkan dan kita utak-atik sesuai dengan standarisasi yang akan kita bangun. Terutama dalam membangun plugin yang cocok untuk membantu perkembangan bisnis)
  • Big players also do JQuery. Saya tidak perlu menyebut nama para pemain lama di dunia branding dan developing web itu (sebab akan jadi perdebatan publik nantinya soal pemilihan kalimat ‘Big Players’) namun banyak situs yang bersifat corporate dan pemerintahan menggunakan JQuery sebagai salah satu framework pembangunan situs mereka. Ketika Big Players memilih JQuery, mereka pasti sudah lebih memikirkannya matang-matang daripada kami. Dan saya yakin mereka tidak gegabah menggunakan sembarang framework.
  • Aplikasi berbasis web awal yang kami bangun berjalan dengan baik di Internet Explorer 6 (yang sialnya masih saja digunakan oleh 16% manusia di muka bumi untuk mengakses aplikasi yang kami bangun, padahal itu browser abal-abal). Namun sampai kapan? Sebab ketika IE6 musnah, artinya akan ada lagi sumber daya yang akan digunakan untuk memodifikasi aplikasi ini. Dan pikirkan saja tenaga, biaya, waktu, SDM, mesin dan bla-bla-bla lainnya yang akan keluar hanya karena mempertahankan aplikasi yang bisa jadi akan out of date dalam jangka waktu sebentar saja. Maka itu standarisasi menjadi penting. Dan JQuery kelihatannya mampu mengadaptasi standarisasi.

Memilih JQuery sebagai bahan pendapat dan melemparkannya pada beberapa team lokal dan internasional, sebenarnya hanyalah kebetulan saja. Saya cukup kaget ketika melihat beberapa aplikasi yang kami bangun (dan masih akan dibangun) ternyata sudah diadaptasi oleh JQuery. Loh kalau sudah ada yang open source dan supportnya banyak, ngapain susah payah membangun aplikasi yang benar-benar dari awal? Bukankah itu tidak efisien? Maka itu saya melemparkan isu JQuery agar bisa diadopsi oleh kebijakan team.

Beberapa orang cukup kaget ketika saya melemparkan ide untuk menggunakan framework JQuery dalam membangun aplikasi berbasis web. Ini disebabkan oleh edukasi mereka yang sudah sedemikian baik sehingga selalu berfikir mengenai faktor menata resiko yang ditimbulkan oleh sebuah perangkat lunak/keras dan kemungkinannya di masa depan.

Saya belajar sesuatu dari reaksi penolakan keras itu. Saya belajar bahwa kadang-kadang kita harus imbang dalam hidup. Jangan mentang-mentang gratis maka sebuah hal adalah baik. Namun harus dipikirkan baik-baik kemaslahatannya untuk orang banyak di masa depan. Begitupula sama dengan aplikasi komputer yang akan melibatkan banyak perut manusia.

Namun dari penolakan ini, saya mampu melihat bahwa beberapa orang dimana saya bekerja dekat dengan baik sehari-hari, adalah ahli dibidangnya dan selalu melakukan riset dan cross check sebelum melontarkan pendapat mereka di depan publik (meskipun publik itu ternyata adalah teman-teman dekatnya sendiri).

Sampai saat ini, belum ada hasilnya antara pendukung JQuery dengan penentangnya. Siapa yang lebih unggul atau siapa yang akan tersingkir. Tapi saya bangga, mampu membawa topik diskusi yang sehat dan baik yang bukan saja hanya berguna untuk saya pribadi, namun juga untuk rekan se-tim kami. (*Hehe, ge-er banget saya nih.*)

Apapun hasilnya, saya jadi ingat lagu Bang Iwan Fals dalam lagu Seperti Matahari, “Tujuan bukan utama. Yang utama adalah prosesnya”. Sebab apapun hasil dari diskusi hangat antara penggunaan JQuery atau tidak, akan sangat berguna buat kelangsungan hidup banyak kami di kemudian hari nanti yang menggantungkan hidup dari HTML dan konco-konconya :) .

Semuanya Pasti Possible Kalau Ikhlas

Seorang perempuan muda, berusia akhir 20-an datang ke kantor kami jauh sebelum saya tiba. Edukasi formal yang dienyamnya, membuat ia memiliki kadar ijasah yang lebih tinggi daripada milik saya. Simpel kata, ia walaupun muda namun lebih tinggi garis hierarkisnya daripada saya.

Sejak dua tahun lalu, ia memutuskan untuk mengambil alih pekerjaan membangun aplikasi web sejak webmaster kami menikah dan hijrah ke negeri lain. Sambil benar-benar buta dan sambil mengerjakan pekerjaan utama yang tidak kalah meletihkan sebagai associate marketing director, ia membangun aplikasi web berbasis HTML,CSS dan JSP. Belajar sambil melakukannya. Bahasa bulenya, learning by doing.

Dulu suatu hari, ia datang kepada saya. Meminta mesin virtual, agar kami bisa bekerja sama-sama. Banyak anggota rekan kami yang menentangnya. Maklum, memutuskan untuk membangun mesin virtual baru itu artinya butuh waktu tambahan untuk memaintainnya. Dan waktu itu selalu amat berharga di antara kami yang super sibuk.

Entah kenapa… Saya membelanya. Saya tahu dia buta kode script pemrograman. Saya tahu dia tidak tahu apa-apa soal HTML. Bahkan saya tahu dia pasti akan sangat super sibuk dalam hidupnya. Namun entah kenapa, masih saja saya bela.

Dengan cueknya saya meminta team IT untuk melakukan setting terhadap mesin virtualnya. Dengan cueknya, saya meminta jatah tambahan pada atasan saya untuk memposkan bujet khusus untuk dia. Padahal kami berdua hanya kenal melalui email belaka dan belum pernah bertatap muka.

Entah kenapa?

Dua tahun kami lalui dengan capek. Dia mati-matian belajar HTML. Kadang-kadang saya pun pulang telat kerja sebab harus memberikan panduan semacam kursus kilat secara online kepadanya mengenai HTML. Saya garuk-garuk kepala sambil gigit jari-jari sambil membersihkan, menstandarisasi script-script yang ia buat dan kirimkan sebelum diterjunkan pada deployment worldwide.

Dan itu terjadi selama dua tahun.

Dua tahun berlalu sudah. Dan tadi pagi saya dikejutkan oleh kenyataan bahwa semua script XHTML dan JavaScript yang ia tulis benar-benar bersih, nyaman di baca dan memiliki standar tinggi.

Saking senangnya, saya tulis email kepada beliau sambil memuji tampilan dan script aplikasi yang ia buat.

Tidak lama kemudian email itu ia balas. Jawabannya membuat saya tertegun. Dia bilang, “my work would never be possible without your detailed feedback and instructions. You’re a good trainer ;-)

Kalimatnya simpel. Tapi membuat saya lumayan terharu. Sekaligus bangga. Seorang perempuan muda cantik menarik namun well educated, memuji saya setinggi langit.

Ahhh, jadi ge-er saya, nih… :D

(*Biarkanlah saya sejenak untuk menikmati kegeeran dan sensasi culun sesaat pada sore hari yang hangat ini. Sebab jarang sih dapet yang kayak ginian. Hehe*)

Mencari Proxy Gratis Ketika Sensor Menggila

Saya tahu ini cerita basi. Maaf yaah :( Tapi akibat bosan terus-terusan mendapat pertanyaan yang sama. Maka ada baiknya info ini saya bagi.

Saya kesulitan mencari proxy gratis yang bahkan di sarankan oleh mesin pencari. Sebab secara otomatis, URL laman-laman website yang disarankan mesin pencari akan otomatis di block oleh kantor (yeah, kami punya mesin pemblock yang luar biasa dan saya dengan amat terpaksa merahasiakan informasi mengenai hal ini dari publik).

Untuk meminta ijin bahwa komputer saya akan mengakses website tertentu yang mengandung content bertuliskan ‘proxy‘ atau ‘anonymous surfing‘ (*iya, banyak sekali phrase yang di block oleh mesin penyensor kami, diantaranya dua kalimat itu*), jelas amat bisa. Tapi sebelumnya harus mengisi banyak formulir dan menuliskan alamat website agar bisa di review (bahasa halus dari sensor) oleh teman-teman dari departemen IT. Dan itu hal yang amat membosankan. Sebab butuh sumber daya waktu. Padahal hanya mau membalas email penting dari client yang 24 jam hidupnya tergantung dari facebook (dan content FB adalah salah satu yang di banned kantor saya)

Maka, biasanya saya dengan amat nakalnya menyingkat hal tersebut. Dengan menggunakan mesin pencari (seperti google misalnya) saya menuliskan di browser

+”:8080″ +”:3128″ +”:80″ filetype:txt 2010

Apa artinya?

+”:8080″ adalah meminta agar mesin pencari mencari string 8080. Dan 8080 adalah gabungan dari port 80 (saluran standar membuka internet)

Port ini adalah alternatif yang populer untuk port 80 untuk menawarkan layanan web. “8080″ dipilih karena ada “dua 80″, dan juga karena berada di atas rentang pelayanan jasa porting juga dikenal sebagai port pembatas (port 1-1023). Biasanya digunakan dalam URL untuk menimpa eksplisit “port default”.

Latar Belakang dan Informasi Tambahan:

Internet sebagian besar lahir pada sistem berbasis UNIX dan server. UNIX memaksa gagasan dari 1023 pertama “port istimewa” yang hanya dapat dibuka dengan layanan yang berjalan dengan apa yang disebut “root”, atau administratif, atau hak istimewa. Secara historis, ini berarti bahwa hanya sistem administrator yang berwenang mampu mendirikan dan mengoperasikan sebuah web server pada port 80 karena ini adalah dalam wilayah-port istimewa pertama 1023. Oleh karena itu, ketika non-administrator ingin menjalankan web server sendiri di mesin yang mungkin sudah memiliki sebuah server yang berjalan pada port 80, atau ketika mereka tidak memiliki izin untuk menjalankan layanan di bawah ini port 1024, port 8080 sering dipilih sebagai tempat yang nyaman untuk host atau alternatif web server sekunder.

Trojan yang pernah terdeteksi di port ini: Brown Orifice, Generic backdoor, RemoConChubo, Reverse WWW Tunnel Backdoor, RingZero

+”:3128″ adalah port squid (terkenal juga sebagai squid cache atau HTTP Proxies untuk menjembatani manusia dengan mesin yang mampu membuat mereka jadi tak terlihat, atau internetan jadi lebih kenceng, hehe) yang seringkali digunakan/diizinkan di US (wilayah juridiksi kerja saya ada di bawah hukum pemerintah Amerika Serikat) untuk digunakan secara terbuka. Jadi saya menggunakan port ini untuk berkomunikasi melalui proxy. Sebab legal dan sering digunakan para administrator untuk menjalankan jaringannya menuju internet.

+”:80″ adalah port menurut no-ip.com port 80 adalah “standard port which web(http) servers run on. Many ISP’s have blocked port 80 to stop viruses such as Nimda from slowing down their networks and infecting there customers computers.” Saya pribadi tidak akan melakukan apa-apa dengan port ini, saya hanya ingin tahu, adakah proxy terbuka yang menggunakan port ini.

“filetype:txt” adalah jenis file yang saya cari. Basisnya adalah text dan dapat dirender dengan cepat pada browser. Mengapa saya mencari jenis file ini, sebab hasil pencarian dengan laman yang menampilkan ekstensi html, php, jsp, asp dan lain sebagainya pasti sudah diblock.

“2010″ adalah tahun pencarian. Biasanya saya memang mencari proxy yang baru. Mesin pencari akan mengindeks halaman yang sudah dilihat oleh banyak orang lalu SEO akan menampilkannya di halaman pertama. Apabila teori ini benar, maka hasil pencarian proxy dalam teks yang tampil di halaman pertama mesin pencari akan menampilkan halaman-halaman yang amat populer dan mungkin overloaded dan usang. Untuk menghindari hal itu, saya memakai hasil pencarian terkini. Dan 2010 adalah tahun terkini (ketika tulisan ini dibuat).

Semoga informasi yang walaupun jadul (jaman dulu) dan kampungan ini sedikit berguna :)

Apache Musrik

Sesuai judul, saya bisa menulis pagi ini karena memang Apache, perangkat lunak penyedia jalannya server sedang down. Semua aplikasi yang dibuat team kami tidak bisa diakses. Yang parah, tadi pagi ada meeting bersama para ‘big guy‘ dan ketika mereka akan mengetik alamat URL website kami terpaksa saya bilang “Sori, lagi down, bapak-bapak ibu-ibu. Sedang diperbaiki. On progress”

Fiuhh, untung mereka mengerti.

Balik lagi ke Apache. Saya kira, seperti biasa. Masalah akan hilang ketika Apache di restart. Atau mesin di restart. Biasa lah, standar operasional IT toh begitu.

Namun, sialnya tetap saja tidak bisa. Maka, langsung saya nyalakan JBoss (*Yang selalu saya simpan sebagai backup untuk jaga-jaga jika ada masalah seperti ini*)

Astaga, JBOSS juga tidak mempan!

Saya coba untuk sabar. Walaupun berkali-kali dialog box dari OS muncul peringatan bahwa HTTPD crashed dan butuh ditindak-lanjuti.

Setelah bongkar-bongkar error log, saya coba mencarinya di Google. Tapi setelah sekian lama mencari, saya kebingungan. Bahkan mesin pencari pun tidak memberikan jawaban banyak (*saya hanya dapat empat entri link sebagai hasil pencarian dari Google. Dari Bing dan lainnya lebih parah, nol besar*)

Saya kirimi departemen IT surat dengan perincian masalah dan semua yang telah saya lakukan dalam mencari solusinya. Sambil terus terang berkata bahwa saya mencari nafkah menggunakan Apache, maka itu hal ini menjadi penting.

Orang IT menjawab pendek: “Mas kalo google aja nggak bisa jawab, apalagi kita!”

Saya cengar-cengir membacanya. Saya balas lagi: “Bantuin dong…”

Dan saya dapat jawaban yang mencengangkan. “Mas, kita ini IT bukan Tuhan. Jangan menggantungkan apa-apa sama kita. Itu musrik namanya”

Dan saya pun tak mampu lagi menahan tawa.

Nomor Telepon Bill Gates

foto bill gates

Salah seorang klien (yang meminta tim kami membuat webnya) datang mengeluh:

Saya: “Ada yang bisa saya bantu, Bu?”
Ia: “Kok webnya saya nggak jalan?”

Waktu itu, saya curiga ada bug di halaman aplikasi web yang kami kembangkan buat beliau. Maka saya buka komputer dan langsung menuju URL yang ia maksud (*Kebetulan saya bookmark, jadi bisa lebih cepat ke sana*). Setelah saya cek di browser, test berulang-ulang, lalu memeriksa feedback dan SVN untuk melihat deployment terakhir. Saya bingung, semuanya nampak baik-baik saja.

Saya: “Loh kok ini jalan, Bu? Bagus malah”

Si Ibu kebingungan, “Tapi di rumah ga jalan”

Saya yang mulai curiga dengan browser yang beliau pakai lalu bertanya, “Di rumah pakai apa, Bu?”

“Biasa aja tuh, pake daster”

Hah!

“Bukan Bu, maksud saya di rumah ibu pake komputer apa?”

“Komputer saya lah. Masak komputer anak saya. Kamu gimana sih?”

“Umm, maaf, saya coba rephrase kalimat saya. Di rumah, Ibu pakai komputer sistem apa dan browser apa ketika mengecek web Ibu?”

“Mana saya tahu yang begitu. Coba kamu telpon ini anak saya”, katanya sambil menyodorkan telepon genggamnya.

Beberapa menit kemudian, dari anaknya, saya tahu kalau si Ibu memakai windows 98 dan (tentu saja) perambah internet dengan Internet Explorer 6.

“Bu, web Ibu nggak bisa dibuka dengan Internet Explorer 6 yang ada di komputer Ibu. Kan waktu awal kontrak kita semua sudah setuju kalau web Ibu nggak akan support Internet Explorer 6 karena Ibu minta usability yang nggak bisa di dukung software itu” kata saya sambil senyum

Beliau ngotot, “Saya nggak mau tau, pokoknya saya mau liat website saya di rumah!”

“Waduh Bu, itu bisa ngerubah kontrak”

“Pokoknya saya nggak mau tahu!”

Saya coba sabar. Akhirnya ketemu deh triknya. Beliau ini amat perhitungan soal bujet proyek. Semuanya harus dirasionalisasikan. Saya suka itu. Tapi untuk saat ini beliau nampaknya tidak rasional. Maka, saya coba mendekati beliau melalui bujet dan rasional aspek.

“Bu, kalau Ibu ngerubah kontrak akan membuat bujet proyek kita membengkak {sambil menyebut persentase}. Itu besar loh, Bu. Sementara kalo Ibu ganti browser, gratis. Saya bisa telpon anak Ibu untuk membantunya menginstal Opera atau Chrome di komputer, Ibu. Pilih mana?”

Beliau diam sejenak. Lumayan lama. Sambil menatap saya galak. “Siapa sih itu yang bikin komputer saya di rumah?”

“Kalau perangkat kerasnya saya nggak tahu, Bu. Tapi kalo sistem dan perambah internetnya, namanya Bill Gates dan teman-temannya”

Masih menatap galak ia bertanya, “Kamu tahu nomor teleponnya orang itu. Biar sini saya telpon. Kurang ajar itu orang!”

Saya tidak jawab apa-apa, hanya bisa menatap beliau sambil garuk-garuk kepala.

Pasar Komunikasi Engineer

image logo ieeeTadi pagi saya baru saja membaca artikel lawas karya Alfred Norton Goldsmith. Disebut artikel lawas karena terbitnya sudah dari tahun 1958 lalu.

Dalam majalah IEEE (di baca; “I Triple E”) ini Pak Alfred menulis mengenai pentingnya kemampuan verbal dalam bicara maupun menulis di dunia engineer. Judul aslinya adalah Good Writing and Speech-Their Importance to the Engineer: Augustus 1958: Goldsmith, Alfred.N

Saya tahu majalah i-tripel-e memang menuai kritik dari RMS (Richard Matthew Stallman, terpujilah nama beliau dan selalu dirahmati oleh Yang Maha Open Source) karena ‘meminta transfer copyright dari penulis dan lalu menjual artikel, tanpa memberi penulis imbalan’. Namun apa daya, majalah peer-review ini keren banget sih. Hehe.

Walaupun begitu, pada intinya dari artikel Pak Alfred adalah mengingatkan kepada para insinyur (atau calon insinyur atau siapalah yang mengaku atau malah macam wannabe jadi-jadian model saya begini) agar lebih memperbaiki kemampuan mereka dalam berbicara dan menulis. Tentu saja yang berhubungan dengan dunia engineering. Walaupun tidak menutup kemungkinan terhadap dunia lainnya.

Kemampuan menulis dalam engineering itu penting. Apalagi ketika sudah ada istilah RTFM (Read The F**king Manual). Dimana hampir 80% panik masalah perangkat lunak/keras bisa diselesaikan apabila manual nya di baca dengan baik (sumber : http://www.readthefuckingmanual.com/). Maka manual itu pun harus bisa di tulis dengan baik.

Dalam tataran tertentu, Pak Alfred menjelaskan bahwa kemampuan verbal komunikasi berbicara juga amat penting dalam dunia engineering. Jika anda sedang menempuh sekolah tinggi akhir misalnya dan lalu suatu hari harus bicara mempresentasikan penelitian di depan publik, tentu saja di tuntut harus bicara di depan publik.

Selain itu, ada yang tidak kalah pentingnya; yaitu komunikasi dalam membangun jaringan.

Masalah komunikasi ini memang sungguh luar biasa. Saya ingat suatu hari iklan situs kencan di sebuah majalah pria. Isinya seorang pria dengan pakaian lengkap sambil memegang sekuntum mawar yang terbaring di ranjang rapi pada petang hari pukul 19.30 di hari sabtu. Di bawahnya ada tulisan “David. Really good system analysers. Bad at dating”

Mungkin engineer yang baik itu adalah engineer yang kemampuan komunikasinya tinggi kali yaah. Jadi, selalu lancar kalo ngobrol dengan lawan jenis. Hehehe…

Kalau memang engineer susah komunikasi, mungkin ini sebuah pasar baru. Yaitu mengajarkan para engineer-engineer yang kesulitan tersebut untuk lebih memahami komunikasi. Terutama komunikasi terhadap lawan jenis. Hahaha…

Iklan Keren: Bermain Visual Teks

Baru saja membaca majalah men’s health, mata saya lagi-lagi tertumbuk pada dua buah iklan yang menurut saya keren:

1. Iklan celana Cargo

image celana cargo

2. Iklan pisau cukur Braun

image cukur braun

Kenapa keren?

Ini pertanyaan bagus. Sebab keren itu subjektif. Apa yang saya bilang keren belum tentu keren buat orang lain. Maka itu, ijinkanlah saya menerangkan sedikit mengenai kekerenan iklan-iklan ini;

1. Cargo jadi keren sebab iklan itu keluar dari pakem. Selain pakai tipikal jenis huruf (font) yang luar biasa banyaknya untuk ukuran iklan, ia pun tidak menampilkan foto pria (yang jadi sasaran pasar iklan celana ini) secara gamblang. Umumnya pria bertubuh aduhai pada layaknya iklan-iklan pakaian diganti menjadi simbolis yang berbentuk kata-kata. Pangsa pasarnya bisa jadi lebih spesifik lagi. Yaitu pria-pria yang menganggap dirinya gagah elegan (sebagaimana layaknya brand Cargo) tapi juga smart. Khas strereotip pria metroseksual :)

2. Braun jadi keren sebab tidak menampilkan pria berjenggot atau pria klimis. Melainkan pria klimis yang berjenggot kalimat-kalimat. Ini jelas keren dan cerdas, sebab kenapa sih pria yang mampu beli Braun berjenggot (padahal harga barang ini nggak murah)? Nah alasan-alasan itulah yang muncul sebagai pengganti tumbuhnya kasar-kasar akar rambut di sekitar dagu.

Dua iklan ini memakai teks sebagai objek utama dengan pria sebagai pendukungnya. Menarik! Sebab benar-benar di luar kebiasaan di mana pria (atau bentuk anamorphic lainnya) yang selalu menjadi objek.

Salut dan bravo…

Bagaimana Cara Menyampaikan Ide Melalui Visual ?

Melihat iklan buatan Bump yang bermarkas di Charlotte Road 31 London ini sunguh membuat saya terhenyak. Eksekusi visual mereka sungguh luar biasa dalam menyampaikan ide yang tengah berkembang di masyarakat. Ini contohnya:

picture whoami middle east

Dahsyat! Iklan ini dibuat untuk Ogilvy and Mather ketika demam anti warga negara keturunan timur tengah melanda UK pasca 9/11 2001.

Dan ini satu lagi:

image who are they commercial

Iklan ini dibuat sebagai image pada T-Shirt. Pada tahun dibuatnya iklan ini, 2002, masyarakat memang mencoba menghakimi seseorang berdasarkan apa yang ia kenakan. Image pada t-shirt ini adalah sebuah sindiran. Sebuah sindiran yang benar-benar sarkastis.

Apa yang bisa dipelajari dari iklan-iklan di atas?

Well, banyak. Bisa menyimpulkan sendiri. Saya pribadi belajar dari dua gambar diatas bahwa menyampaikan ide terkini melalui bentuk visual bukanlah hal yang mudah. Namun apabila tercapai, maka ia akan memiliki pasar yang sedemikian kuatnya dan mampu mengkomunikasikan ide itu lalu menyampaikannya pada publik dengan sungguh luar biasa .

Masalah Pada iPad (Oh Apple!)

image ulat pada apel

Minggu lalu, di pesawat menuju Prague, istri saya mengeluh. Sepasang muda-mudi dari Korea nampaknya tidak berhenti memainkan iPad mereka. Pramugari sudah berkali-kali memperingatkan pada pasangan ini untuk mematikan perangkat yang diklaim sebagai the hottest device on earth itu. Well sebutan the hottest tentu saja bisa diperdebatkan. Yang pasti pasangan itu tetap kepala batu, tidak mau mematikan iPadnya.

Walaupun akhirnya dengan debat yang cukup keras antara dua muda-mudi dengan para penumpang lain dan ditambah pramugari-pramugari Czech Airlines, maka pesawat yang sempat ditunda keberangkatannya (gara-gara debat ipad yang sama sekali tidak perlu ini) pun mengangkasa pula. Tentu saja setelah semua penumpang yakin, pemilik iPad ngawur ini mematikan pula perangkat lain miliknya yang mengganggu sinyal komunikasi pilot pesawat kami dengan tower pemandu.

Hari itu, pertama kali saya melihat iPad.

Tiga hari lalu, kedua kalinya saya melihat iPad. Besar-besar namanya terpampang di Gawker dan dilanda terkejut luar biasa.

Ternyata iPad yang dinilai Apple sebagai benda tercanggih mereka ini bermasalah. Katanya, cerita ini dimulai dari seorang karyawan Apple yang lupa (entah mabuk) di sebuah bar dan meninggalkan (atau kecurian) iPhone miliknya. iPhone ini, lalu ditemukan oleh seorang pemuda (yang tidak disebutkan namanya) lalu dijual ke situs teknologi Gawker. Tidak lama kemudian, pemimpin redaksi Gawker rumahnya didobrak polisi dan FBI Amerika (iya mirip cerita film Hollywood). Sebab dalam iPhone itu tercantum informasi rahasia para media tycoon bahkan hingga pemimpin Amerika yang masih berkuasa di Gedung Putih.

(*Update: Sorry kasus iPhone yang diatas bukan Gawker, melainkan Gizmodo. Engineer Apple itu bernama Gray Powell. Dan ia tidak kecurian, melainkan tidak sengaja meninggalkan telpon dan lalu ditemukan oleh pemuda berusia 21 tahun bernama Brian J Hogan. Hogan lalu menjualnya ke Gizmodo sebesar US$ 5.000. Setelah Gizmodo menulis dan memaparkannya di web mereka, polisi menggeledah rumah Jason Chen, redaktur Gizmodo*)

Seru?

Ahh belum!

Tidak lama kemudian, para peneliti keamanan (*dulu namanya network hacker, sekarang berubah, hehe*) dari Goatse Securities menemukan kebocoran dalam iPad. Dan kebocoran ini ternyata menampung sekitar 114 ribu email.

Siapa saja yang informasinya bocor? Mari kita kutip dari Gawker:

Satu orang yang terkena dampak adalah William Eldredge, komandan tertinggi pesawat pembom B 1 [strategis]-operasional di US Air Force. ”

Dalam industri media dan hiburan, terdapat pula akun berpengaruh macam para eksekutif puncak di New York Times Company, Dow Jones, Conde Nast, Viacom, Time Warner, News Corporation, HBO dan Hearst.

Dalam industri teknologi, muncul nama-nama besar dari Google, Amazon, Microsoft dan AOL. Dalam keuangan, terdapat rekening milik perusahaan dari Goldman Sachs, JP Morgan, Citigroup, Morgan Stanley, bersama dengan puluhan perusahaan modal ventura dan ekuitas swasta.

Dalam pemerintahan, account yang terpengaruh termasuk pengguna GMail yang tampaknya adalah Rahm Emanuel (staff penting Presiden Obama) dan staf di Senat, DPR, Departemen Kehakiman, NASA, Departemen Keamanan Dalam Negeri, FAA, FCC, dan Institut Kesehatan Nasional. Puluhan karyawan dari sistem pengadilan federal juga muncul dalam daftar.

Apple selalu menelurkan perangkat yang baik. Saya percaya itu. Namun kali ini, nampaknya mereka memang harus benar-benar hati-hati dalam menelurkan produk barunya.

*Untung saya nggak mampu beli iPhone dan iPad, hehe*

Qakbot

Salah satu yang menyebalkan dari memakai OS Micro$oft sebagai server adalah penularan worm/trojan antara satu mesin dengan mesin lainnya.

Tentu saja ini bisa diatasi dengan antivirus atau peringatan dini langsung. Namun tetap saja menyebalkan, mengingat banyaknya worm atau trojan yang harus muncul sebagai pop-up di layar screen.

Hari ini, kebetulan namanya Qakbot.

qakbot image

Tidak terlalu sukar membasminya. Namun tetap saja mengambil jatah sumber daya waktu yang ada.

Karena bosan dengan serangan-serangan yang menghabiskan waktu, maka cobalah saya mengobrol dengan seorang admin. Topiknya mengenai perpindahan sistem operasi dari M$ ke yang lain yang lebih terpercaya dan handal.

Sebelum obrolan kami mengarah ke OS opensource, ternyata beliau sudah ngamuk-ngamuk duluan dan menuduh Linux adalah OS yang tidak reliable dan menyulitkan.

Tidak reliable? Hmhh, saya nyengir. Apa variable nya kok dia bisa ngomong Linux begitu?

Menyulitkan? Hahaha… Ini yang bikin ketawa. Kalo punya niat belajar, tentu saja tidak akan ada istilah ‘menyulitkan’.

Pameo bahwa Linux atau OS opensource susah itu nampaknya memang harus diberantas.

Di akhir pembicaraan saya dengar beliau menyimpulkan “Semakin tua admin, semakin males dengerin orang lain”

Haha, ada-ada saja.