Archive for the 'komunikasi_visual' Category

Mengapa Harus Ganti Theme Blog Dan Mengapa Tidak?

Saya tidak suka gonta-ganti theme tampilan blog.

Alasannya sederhana:

  1. Branding. Tampilan itu mencerminkan brand. Identitas. Saya tidak suka ganti identitas (*kecuali kalau browsing, maka itu saya adalah pemuja TOR, haha*). Identitas itu perlu. Bukan hanya perlu ada, melainkan juga perlu dibangun. Salah satu cara membangun identitas adalah memiliki branding yang kuat. Kalau tidak punya branding yang kuat secara visual, maka sebaiknya memiliki branding yang memiliki ketahanan kuantitas waktu
  2. Sok Unik Tapi Malas. Ini alasan yang paling jujur. Saya biasanya malas ngoprek script lagi. Saya bosan ngoding. Seharian ngoding, malamnya ngoding lagi. Begadang temannya teh, musik klasik, LAMPP/XAMPP dan gedit/notepad++ hanya buat ngoding. Tapi kalau tidak ngoprek scripts maka tampilan web standar banget. Apa uniknya kalau cuma copy paste theme orang? Apa kekuatan usability web kita kalau cuma sekedar pakai yang sudah jadi? Maka itu harus unik dong… Tapi itu yaa itu penyakitnya, males… Hehehe
  3. Usability. Saya ganti tampilan atau feature web kalau memang saya sendiri sudah gerah dengan usability web saya. Kalau saya gerah, sih masih bisa kipas-kipas. Tapi kalau pengunjung sudah gerah, wah gawat itu. Makin dikipas makin gede apinya. Pengunjung sudah biasa mampir ke web kita. Dari mereka kita belajar UI/UX. Kalau gonta-ganti theme tanpa rekomendasi mereka, sebaiknya saya memang nggak ganti tampilan lah. Lah saya kan dandan buat pengunjung saya :)
  4. Security. ganti theme itu artinya ganti segala macem. Paling enak sih bikin theme sendiri. Semuanya sudah kita jamin keamanannya. Lah saya kan males. Paling saya ambil theme orang terus saya kulik sedikit script-scriptnya. Padahal, seharusnya kan butuh testing. Mulai dari testing di development, QA dan juga di production. Itu baru testing design dan usability, belum testing security. Belum lagi audit dan review. Waaahhh… pecah kepala kalau tiap ada waktu luang hanya ada untuk test
  5. Nggak Cukup Waktu. Pernah dengar database? Kalau pernah pasti pernah dengar backup database dong? Nahh, ini pula jangan dikecilkan peranannya. Backup database, menyimpannya di tempat aman terus melakukan analisa ini memakan waktu yang tidak sedikit loh. padahal backup database dari blog bukan sesuatu yang sulit dan memakan waktu banyak. Tapi jika setiap hari waktu Anda sudah dimakan oleh kegiatan lainnnya di atas, maka backup database bisa jadi salah satu resource hog tambahan.
  6. Biaya. Ini salah satu pertimbangan penting juga sih. Sebenarnya gonta-ganti theme sama sekali tidak makan biaya. Tapi ketika sedang ngoprek theme terus kepincut dengan theme yang berat loadingnya, mau ga mau kan makan bandwith buat pengunjung dan server. Bandwith lebih itu artinya yaa biaya buat kita sebagai penyedia layanan web dan juga pengunjung yang datang mampir ke web kita. Saya malas membebani pengunjung saya dengan biaya tambahan akibat web saya susah ditampilkan di browser mereka gara-gara berat tampilannya. Tulisan saya sudah dibaca saja sukurnya bukan main :)

Tapi… Tapiii… Hari ini baru saja saya update/ganti theme baru di blog lab ini dan blog utama di bangaip.org.

Alasannya:

  1. Demi Pengunjung. Beberapa orang pengunjung yang juga teman-teman saya (diantaranya Pak Harry Sufehmi) memberi tahu mengenai usability theme saya yang melemah. Wah ini masukan yang berguna sekali. Saya usahakan selalu memenuhi kebutuhan pengunjung blog saya. Sebab dari tangan mereka lah user experience kita jadi bertambah.
  2. Interface. Saya tidak bosan dengan tampilan yang lama. Sama sekali tidak. Tapi saya menginginkan tampilan yang secara disain lebih minimalis. Ketika usia makin bertambah begini dan setiap hari berurusan dengan disain minimalis, saya menginginkan pula interface yang minimalis. Prinsip baru less is more sudah beberapa tahun belakangan ini mendasari kegiatan saya dalam mendisain. Makin sedikit distraksi pada tampilan web, makin konsentrasi pengunjung saya terhadap konten web.
  3. Ada Fasilitas. Hahaha. Saya kebetulan punya waktu beberapa jam hari ini untuk ngoprek theme web. Saya pergunakan lah sebaik-baiknya. Jarang sekali punya kesempatan waktu dari makan siang sampai sore begini untuk ngoprek web pribadi. Selain itu, saya kebetulan kerja dengan beberapa OS sekaligus hari ini. Jadi selain bisa cek tampilan UI saya juga bisa mengecek security dan desain di bawah beberapa browser dan platform system sekaligus.
  4. Future Proof. Kata teman saya Toni, kalau mau beli televisi jangan setiap tiga tahun sekali, rugi itu namanya. Simpelnya, kalau mau sesuatu yang bertahan di masa depan maka harus tahu bagaimana strateginya. Saya cari theme yang sederhana dan minimalis sebab memang sudah terbukti kalau minimalis itu selain mudah diingat, mudah dioprek, mudah ditambahi dan juga (kadang-kadang) mudah penggunaannya. Jadi kalau saya pakai theme sederhana dan minimalis saat ini, saya harap di kemudian hari nanti tidak terkesan out of date. Terlalu kuno untuk ditampilkan di muka publik.
  5. Terapi Ingatan. Kemampuan manusia mengingat itu tidak canggih. Kemampuan saya mengingat, lebih parah daripada manusia kebanyakan. Dengan melakukan gerakan-gerakan koding hari ini saya dipaksa kembali mengeluarkan jurus-jurus PHP dan CSS dalam mencapai tujuan. Ini bagus buat kordinasi otak saya, hehe. Moga-moga dengan mengoprek script kita bisa belajar melawan lupa. Amiin…

Yang lebih syukur dari semua ini adalah… Saya bisa update blog laboratorium ini lagi. Hehehe.

Pendidikan Informatika Kurikulum Baru

Ini blog laboratorium entah kenapa tidak diurus. Saya sudah lama tidak menulis di sini. Biasalah, alasan capek gara-gara baru saja pindah rumah saya pakai demi tidak menulis. Hehe.

Tapi sebenarnya bukan gara-gara sibuk pindah rumah saya jarang menulis di blog lab ini. Intinya sih lebih ke arah karena ada pekerjaan lain, jadi jarang ‘ngoprek’.

Di kamar saya, masih bertebaran kabel-kabel RJ45, baterei, kertas skema corat-coret, beberapa komputer dengan perut terburai, game-game jadul dan perlengkapan lainnya. Setiap masuk kamar, saya selalu berjanji pada diri sendiri akan mengurus DVI untuk monitor yang entah kenapa janji itu selalu diingkari akibat pulang kemalaman. Hehe.

Karena saat ini rumah lebih jauh dari pabrik tempat bekerja, saya lebih sering berangkat pagi dan pulang lebih malam daripada biasanya. Pulang pergi dari rumah menuju pabrik memakan waktu sekitar tiga jam.

Tiga jam itu berharga sekali buat saya. Bayangkan, kalau saya bekerja 21 hari perbulan, maka saya akan kehilangan 63 jam perbulannya hanya untuk transportasi. Gila, itu banyak!

Agar tidak kehilangan waktu sia-sia selama 63 jam perbulan, saya memakainya dengan membaca. Baca apa saja, yang penting baca. Baca novel romantis ndeso yang sama sekali tidak masuk di akal. Baca komik-komik bawah tanah yang diterbitkan oleh teman-teman saya dan komunitas mereka. Hingga baca koran gratisan yang melulu kebanyakan isinya iklan.

Tapi tadi pagi saya kaget. Di koran gratisan itu ada lowongan sekolah setingkat SMU. Bedanya, ini sekolah menengah umum hanya dikhususkan untuk bidang Informasi. Sialnya, iklan ini tidak sempat saya potret maupun saya robek untuk di scan.

Iklannya menarik sekali. Seorang anak kita-kira usia 10 tahun sedang memegang bola dengan pakaian kaus dan celana panjang jeans. Di atasnya ada tulisan besar yang kalau diterjemahkan artinya: “Sebentar lagi aku bikin aku”

Agak aneh, Apa maksudnya aku bikin aku?

Ternyata di bawah foto si anak, tertulis: Tomas (10 tahun), pemain fusbal berbakat. Cita-cita; membuat karakter diri pada game fusbal. Dan itu tidak akan lama lagi.

Di bawahnya, tertulis bahwa sekolah yang sedang beriklan itu kini sudah menyediakan penjurusan dalam kurikulumnya. Antara lain adalah:

Game Development

Ini bikin saya kagum. Sebab sudah dimasukkan character design 3D, leveling (yang nampaknya butuh logika logaritma per levelnya), Manajemen Produksi hingga penguasaan tool-tool rendering (game engine) dalam kurikulum mereka. Mantap lah. Namun yang lebih mantap lagi, ternyata sekolah sudah punya channel ke game-game industri. Jadi kalau mau magang atau cari kerja lebih mudah. Saluuut lah.

Informasi, Komunikasi dan Media

Ini juga keren. Begini kata mereka dalam iklannya:

Dalam masyarakat kini informasi memainkan peran yang sangat penting. Peran seseorang kadang diwakili oleh informasi. Siapa yang memiliki dan siapa yang tidak? Informasi hadir kadang lebih bernilai daripada emas: mahal dan langka.Tidak hanya pada tingkat pribadi, tetapi juga pada perusahaan dan iklan. telah ada pasar dalam mengumpulkan informasi yang penting dalam mencapai tujuan. Mereka harus memiliki target untuk lebih cepat dan lebih baik. Jika tidak, diambil pesaing.”

Yang bikin saya kaget, sudah dimasukkan marketing ‘non-konvensional’ seperti penggunaan ROI dalam adwords, pemanfaatan 140 karakter twitter (*namanya; marketing 140. Haha*), penggalangan massa dalam jejaring sosial (seperti FB atau semacamnya) dan macam-macam lainnya.

Di sini, saya terkagum-kagum. Pertama; karena web2.0 telah membawa angin segar baru dalam dunia industri. Hingga terciptanya lapangan kerja inovatif. Kedua; karena sudah ada sistematika pendidikan yang menanggapi inovasi ini. Sehingga standarisasi atau benchmark makin bisa diperbaiki dari hari ke hari. Ketiga; Saya iri dengan generasi mendatang. Haha. Kok yaa sudah ada SMU yang begitu. Coba dulu kalau jaman saya sudah ada sekolah begitu. Pasti saya nggak jadi bandit. (*ngeles mode ON*) Hehehe.

Mungkin daripada iri, ada baiknya saya menyediakan tempat hidup yang layak buat generasi selanjutnya.

Apache Musrik

Sesuai judul, saya bisa menulis pagi ini karena memang Apache, perangkat lunak penyedia jalannya server sedang down. Semua aplikasi yang dibuat team kami tidak bisa diakses. Yang parah, tadi pagi ada meeting bersama para ‘big guy‘ dan ketika mereka akan mengetik alamat URL website kami terpaksa saya bilang “Sori, lagi down, bapak-bapak ibu-ibu. Sedang diperbaiki. On progress”

Fiuhh, untung mereka mengerti.

Balik lagi ke Apache. Saya kira, seperti biasa. Masalah akan hilang ketika Apache di restart. Atau mesin di restart. Biasa lah, standar operasional IT toh begitu.

Namun, sialnya tetap saja tidak bisa. Maka, langsung saya nyalakan JBoss (*Yang selalu saya simpan sebagai backup untuk jaga-jaga jika ada masalah seperti ini*)

Astaga, JBOSS juga tidak mempan!

Saya coba untuk sabar. Walaupun berkali-kali dialog box dari OS muncul peringatan bahwa HTTPD crashed dan butuh ditindak-lanjuti.

Setelah bongkar-bongkar error log, saya coba mencarinya di Google. Tapi setelah sekian lama mencari, saya kebingungan. Bahkan mesin pencari pun tidak memberikan jawaban banyak (*saya hanya dapat empat entri link sebagai hasil pencarian dari Google. Dari Bing dan lainnya lebih parah, nol besar*)

Saya kirimi departemen IT surat dengan perincian masalah dan semua yang telah saya lakukan dalam mencari solusinya. Sambil terus terang berkata bahwa saya mencari nafkah menggunakan Apache, maka itu hal ini menjadi penting.

Orang IT menjawab pendek: “Mas kalo google aja nggak bisa jawab, apalagi kita!”

Saya cengar-cengir membacanya. Saya balas lagi: “Bantuin dong…”

Dan saya dapat jawaban yang mencengangkan. “Mas, kita ini IT bukan Tuhan. Jangan menggantungkan apa-apa sama kita. Itu musrik namanya”

Dan saya pun tak mampu lagi menahan tawa.

Yang Baru Dari Photoshop CS5

photoshop cs5 loader image

Sehari-hari saya pakai Adobe Photoshop CS3.

Sebenarnya sih bukan hanya Photoshop, melainkan seluruh produk Adobe yang berbasis MacOS. Mulai dari mengolah animasi 2 dimensi atau menjajal script xml terbaru dengan Flash hingga mengolah data berbasis vector dengan illustrator atau indesign.

Semuanya dilakukan atas nama pendukung kerja.

Jika sedang iseng, saya melakukan manipulasi foto-foto yang sengaja atau tanpa sengaja terjepret kamera; pun dengan produk Adobe yang bernama Photoshop ini.

Ketika ada alternatif baru pemanipulasi foto sumber terbuka (open source) seperti The Gimp, saya pun sempat berpaling hati. Semua komputer di rumah lalu di install The Gimp. Kecuali komputer istri, masih memakai Photoshop 6, hehe

Saya memang menyukai Photoshop. Cerita kilas balik, tahun 1998 itu kami pakai Photoshop 5. Wah, jaman itu sudah hebat betul pakai Photoshop 5. Itu pengolah gambar paling top deh. Saya sempat terkagum-kagum dengan palet History-nya Photoshop. Gila! Kalau salah design, bisa diulang sampai dari awal apabila kita memakai palet itu.

Namun secara pribadi, pertama kali beli software pengolah image, yaa produk Adobe ini. Kalau tidak salah, harga akhir tahun 2000 itu sekitaran US$ 300-400. Saya beli Adobe Photoshop 6.0. Itu pun setelah memutuskan untuk berkarir di dunia arsitektur dan pembangunan website (sebab baru dan mengasyikkan. Plus booming dot com)

Mahal? Iya lah. Buat kantong saya saat itu memang mahal. Apalagi saat itu masih jadi mahasiswa Depok yang tinggal di Kukusan Beji yang bau sapi.

Uang tabungan setahun, habis semua. Sampai gagal liburan. Semuanya demi nafsu memiliki si Photoshop 6.0 ini. Hehe. Namun begitu melihat ada banyak sekali efek-efek ajaib seperti Liquify dan Rough Grain yang bisa dihasilkan Photoshop, saya pun akhirnya bisa tersenyum.

Keputusan beli Photoshop 6.0, saat itu memang didorong oleh bahwa versi 5.5 sudah bisa melakukan ‘save for web’. Kompresi gambar agar menjadi lebih ramah di laman-laman website. Satu image 300 kb bisa di ‘minimalisir’ menjadi 100 kb hanya dengan menekan tombol yang tepat.

Waktu itu, masalah jumlah kilobyte perhalaman website memang sungguh masalah yang luar biasa. Maklum, koneksi internet di Indonesia masih sekitar 10-20 Kbps (kadang bisa ngedrop sampai 2-5 kbps di pinggir JKT). Jadi orang-orang suka mematikan fasilitas menunjukkan image pada browser mereka.

Pada Photoshop 6.0 navigasi web juga mampu didukung oleh penggunaan transparansi ikon-ikon berbasis GIF. Jika di HTML kode warna ditandai oleh #****** (bagian * diisi oleh karakter angka dan huruf) maka di Photoshop 6.0 sudah bisa kita lihat bahwa #99333 itu adalah merah maroon. Sebab secara otomatis Photoshop telah menterjemahkan warna itu menjadi kode karakter HTML. Berguna sekali untuk kerja saya.

Pokoknya versi 6.0 itu lumayan top deh saat itu. Jadi saya memutuskan untuk membelinya.

Sayangnya, kemajuan teknologi berlangsung cepat. Jauh lebih cepat daripada yang saya kira. Versi Photoshop cepat berganti modern, membutuhkan RAM dan kartu grafis baru. Maka ketika teman-teman desainer/developer lainnya bicara versi terbaru Photoshop CS, saya masih tergagap-gagap menanggapinya. Maklum, masih pakai versi 6.0, Hahaha.

Namun sejak Adobe memulai kode CS2 nya, pelan-pelan saya mulai menggali kembali arti sejati Photoshop itu sendiri (haihi, bahasanya jijay banget).

Sejak Adobe CS 2, kebetulan saya sudah dapat rejeki. Bekerja di tempat-tempat yang memberikan saya fasilitas menggunakan Adobe secara cuma-cuma. Jadi, tidak harus beli sendiri lagi.

(*Walaupun pada CS3, ternyata saya harus menganggarkan budget khusus untuk itu, namun tetap saja tempat kerja yang membayar. Waktu itu, 2007, dijual masih harga-harga awal. Kami beli sekitar € 2300 untuk 3 lisensi Adobe, plus acrobat pro, berbasis Mac OS. Lumayan juga. Sebab teknologi cloud sudah memungkinkan untuk rekan kerja kami yang berjarak 12 jam kerja untuk bekerja di komputer yang sama. Eh ternyata pakai cloud ga boleh sama Adobe. Halah*)

Pas tulisan ini turun, Adobe sudah versi CS 5. Begitu pula dengan Photoshopnya. Kalau ditanya apa yang baru? Well, saya mah akan menjawab; kalau dibanding Photoshop 6.0 yaa jelas sudah banyak berbeda. Haha.

Sejak CS 4, setting palet photoshop jadi lebih asik. Artist toolbox keren. Sudah bisa pindah-pindah User Interface, jadi kalau mau kerja ngedesign, ngelukis atau maen 3D, jadi lebih mudah. Trus ada fasilitas vibrance, yang nge-boost warna. Jadi memudahkan main-main di saturasi dan kekontrasan warna. Lumayan lah untuk fotografer wannabe kayak saya ini. Hehe.

Waktu melihat bahwa kita bisa pindah UI, saya dalam hati membatin; wah keren nih, kayak MyEclipse Java Enterprise. Maklum sehari-hari, saya juga berurusan dengan perangkat lunak tersebut dan nyaman dengan kemudahannya mengganti UI. Di MyEclipse saya, mudah untuk ganti UI dari web dev AJAX, Team Synch hingga SVN Repository exploring. CS4 pun begitu. Nyaman mengganti UI.

Di CS 5, Photoshop sudah pakai fasilitas review (namanya ‘creative review’). Edan! Jadi hasil karya kita bisa langsung pitching ke client langsung. Jadi client bisa koreksi secara real time. Well, real time? Yaah tergantung koneksi internet sih. Hehe. Kalau client dan designer sama-sama pakai koneksi internet UPC 120/10 mbps DL/UL, yaa emang pitching dan review-nya udah kayak real time.

(*Yang doyan 3D dan main-main di image HD format, photoshop CS5 trick bisa di lihat di sini untuk Repousse atau di web official-nya langsung di sini sebab CS 5 ini katanya bisa bikin image kita jadi 3D. Silahkan baca di Sounas ini untuk keterangan lebih lanjut*)

Yang aneh, di software yang harga lisensi per-mesin nya sekitar € 630 ini masih juga belum bisa menemukan kompresi untuk menekan gambar-gambar yang akan kita masukkan ke laman-laman web menjadi lebih rendah. Artinya, teknologi kompresi image di Photoshop sama sekali belum berubah sejak Photoshop 6.0.

Saya hanya mencoba versi trial selama 1 bulan dengan software ini. Setelah itu, balik lagi ke CS3 untuk bekerja atau The Gimp untuk keperluan harian. Kalau kompresi image masih sama dan hanya itu yang saya butuhkan, buat apa beli?

(*Ahh tapi itu kan pendapat saya. Belum tentu anda yang trendi suka pendapat ini. Hehe*)

Kursus HTML untuk Ibu-Ibu Senior

Saya baru saja memberikan kursus sejenak (iya, dinamakan sejenak karena hanya sekitar 32 menit) kepada ibu-ibu.

Kursus ini cukup luar biasa buat saya, sebab:

  • Untuk mengadakan kursus ini, kami sudah harus membuat janji di sela-sela waktu yang ada. Dan mencari waktu yang kosong antara saya dan ibu-ibu ini memang susah sekali. Jadi setelah 1 tahun mengendap, kursus ini baru terealisasi.
  • Akibat semua peserta dan pemberi materi adalah manusia yang agak tipikal tingkat kesibukannya tinggi (sebab semuanya sudah berkeluarga, hehe) jadi waktu 1 tahun itu banyak habis untuk mencari kelengkapan birokrasi dan bla-bla-bla sebagainya.
  • Pesertanya kebanyakan ibu-ibu yang sudah berusia 45 tahun ke atas (senior dalam usia). Diantaranya malah ada yang sudah punya cucu :)
  • Kursus ini adalah kursus HTML. Targetnya, agar para ibu-ibu itu mampu membuat newsletter atau email berbasis HTML.
  • Mereka ikut kursus karena mereka mau memiliki ilmu lebih banyak dan lebih baik sehingga bisa improvisasi diri.
  • Kursus yang dijadwalkan setiap jumat pagi ini niatannya adalah sekitar 1 jam penuh. Namun karena antusias dan daya tangkap yang baik dari para peserta, mampu selesai dari setengahnya saja.

Begitu selesai, saya langsung posting ini untuk menyatakan rasa kekaguman.

Salut saya sama ibu-ibu ini. Walaupun sudah berumur dan punya banyak tanggung-jawab di rumah maupun di kantor, masih saja tetap mau belajar. Nampaknya saya harus mencontoh mereka.

Apa yang saya berikan hari ini sebagai materi kursus HTML adalah:

  1. Apa itu server, localhost dan webserver
  2. Apa itu File Transfer, FTP client, FTP server, scripts dan tags dan bagaimana mendapatkan FTP client yang baik, lintas platform sistem operasi dan gratis (saya rekomendasikan Cross FTP)
  3. Apa itu browser, browser yang baik untuk test dan browser apa yang kuat di pasaran wilayah pasar kami
  4. Apa itu HTML dan pernik-pernik yang menyertainya. Tidak lupa sedikit memberitahu mengenai kegunaan HTML 5 di masa depan
  5. Belajar menulis “Hello World” dan menjelaskan fungsi tag yang ada di dalamnya
  6. Mengenalkan basis style paragraf

Hasilnya lumayan. Mereka semua bisa membuat halaman ‘Hello World’, transfer data via FTP di localhost dan test crossing browser pakai IE6, IE7, Firefox dan Safari.

Not bad at all…

Pagi ini, walaupun sarapan cuma dengan pisang dan tomat kecil-kecil. Saya bangga sama mereka dan juga pada diri saya :D

Sony Corp vs Sony AK vs Sony Toloyo

Sony Corporation, sebuah perusahaan raksasa multinasional baru saja mengajukan gugatan hukum pada bloger Bogor bernama Sony Arianto Kurniawan, karena Kang Sony yang orang Bogor ini memiliki domain www.Sony-AK.com.

Pukul 02.40 AM tanggal 11 Maret 2010, Sony AK (yang dari Bogor) menulis di forum PasarDomain

Dear all,
Saya Sony Arianto Kurniawan dan saat ini baru saja dapat “musibah” karena domain saya sony-ak.com di-sue oleh Sony Corporation Japan melalui kuasa hukumnya di Indonesia. Padahal itu saya register-kan berdasarkan nama saya sendiri dan sudah saya gunakan sejak lama untuk kepentingan murni penyebaran ilmu pengetahuan di bidang IT.
Saya ingin tahu bagaimana pendapat rekan-rekan di forum ini.
Best regards,
Sony AK
www.sony-ak.com

Seharusnya Sony Corp bisa belajar dari kasus Microsoft vs Mike Rowe.

Apa sih kasus Microsoft vs Mike Rowe?

Tahun 2003 Mike Rowe, seorang pelajar berusia 17 tahun dari Kanada yang hobi mendesign web dan programing kecil-kecilan mendaftarkan domain bernama www.mikerowesoft.com. Singkatan dari Mike Rowe (namanya sendiri) dan soft (sebab ia pikir lucu kalau pakai kalimat ’soft’ yang artinya lembut di belakang namanya).

Pada Januari 2004, perusahaan software raksasa bernama Microsoft marah-marah kebakaran jenggot. Mereka pikir MikeRoweSoft dot com itu tengah melakukan plagiasi pada domain mereka, microsoft dot com. Lalu, akibat arogansi mereka pun melakukan upaya akuisisi pada domain mikerowesoft.com. Caranya, pihak Microsoft menawarkan kompensasi uang sebesar $10 dollar Amerika kepada Mike Rowe agar menjual domain itu kepada mereka.

Mike Rowe berang. Ia merasa dilecehkan. Pertama karena dianggap ‘tengah mencuri nama microsoft’ (Padahal orang tua Mike Rowe sama sekali tidak berniat memberi nama anaknya mirip seperti perusahaan perangkat lunak dari Redmont yang bernama Microsoft Corp). Kedua karena apabila nama Mike Rowe begitu penting untuk Microsoft, kenapa ditawarkan hanya US $10 saja? (*Ia lalu meminta US $10 ribu untuk domain itu. Semata-mata karena kesal atas perlakuan Microsoft*)

Microsoft tentu saja ngamuk berat. Dengan segerombolan pengacara mereka yang bergaji hingga ribuan dollar perjamnya, mereka membuat 25 halaman tuntutan terhadap Mike Rowe. Bahkan diantara tuntutan adalah memenjarakan Mike Rowe dan mendenda pemuda berusia 17 tahun yang sial karena memiliki nama Mike Rowe (hampir mirip dengan Micro) sebanyak US $100.000

Mike Rowe menolak menerima kriminalisasi itu. Ia membuka kasus ini ke pers dan publik. Hasilnya adalah situs mikerowesoft.com dikunjungi oleh 250 ribu orang dalam tempo waktu 12 jam saja. Situs itu lumpuh segera akibat tidak bisa menerima kunjungan segitu banyak orang.

Di sisi lain, Mike Rowe ternyata mampu menggalang dukungan dari banyak orang. Memperoleh donasi US $6000 untuk membayar ongkos perkara dan juga memperoleh bantuan legal dari pengacara yang mau bekerja membelanya Pro Bono, tanpa bayaran.

Kasus ini benar-benar memicu kemarahan publik. Arogansi Microsoft Corp benar-benar dipertanyakan. Mike Rowe vs Microsoft mampu memicu media menganalogikannnya sebagai cerita versi cyber modern David vs Goliath. Si kecil yang teraniaya vs Raksasa yang jahat tiada tara.

Dalam beberapa hari setelah kasus ini mencuat di publik, terjadi kekacauan administrasi di tubuh Microsoft sendiri. Beberapa orang pengembang perangkat lunak jenius yang bekerja di Microsoft menganggap bahwa sudah semestinya mereka keluar dari perusahaan yang berubah jadi setan ini. Ribuan telpon berdering setiap hari di meja resepsionis mengutuk aksi Microsoft. Intinya, terjadi tekanan di tubuh dalam perusahaan dan juga dari luar. Oh! Bad for business.

Kasus ini akhirnya bisa diselesaikan dengan baik di luar jalur hukuum. Microsoft mengakui betapa arogannya mereka. Lalu menghadiahkan Mike Rowe hadiah-hadiah khas Microsoft.

Mike Rowe sendiri, lalu melelang 25 halaman tuntutan dari Microsoft di sebuah situs lelang E-Bay.

Lalu bagaimana dengan domain www.mikerowesoft.com?

Domain ini akhirnya di dapatkan oleh microsoft dengan perjanjian bahwa akan di selaraskan dan ditujukan langsung ke mikerowesoftforum.com (akhirnya entah kenapa, di deface). Namun kalau mengetik mikerowesoft.com, maka kita akan ditujukan ke halaman mesin pencari Microsoft yang bernama Bing yang isinya adalah kasus antara Microsoft dengan Mike Rowe.

Jadi apa yang harus dilakukan Sony AK yang blogger orang Bogor itu dalam kasus penuduhan soal identitas dari Sony Corp, raksasa elektronik Jepang?

“Terus aja nge-blog, Kang. Jangan takut. Mike Rowe saja yang bukan orang Bogor bisa menang. Pasti anda juga bisa menang kok”

Lalu apa yang bisa dilakukan Sony Corp supaya menang melawan Sony AK?

“Sebaiknya belajar dari kasus Microsoft vs Mike Rowe. Kalau tidak bisa belajar, coba pertimbangkan untuk ganti nama”

(*Sumpah mati, gara-gara kasus ini dan markas besar Sony di Tokyo saya jadi kepingin bikin domain Sony-Toloyo dot com. Haha*)

Nice Try!

Sumpah mati, ini website keren banget.  Saya terbahak-bahak dan tidak bisa menahannya bahkan hingga 30 menit setelah melihat halaman-halaman di web ini. Silahkan ke TKP. http://nicetry.me/

Serius… Lucu!

Website Yang Saya Benci!

Sebelumnya, anda tidak perlu tahu saya siapa dan bagaimana saya lahir ke dunia ini dan lantas jalur apa yang saya pilih. Sebab sama sekali tidak ada hubungannya dengan tulisan di bawah ini :D

Saya bukan siapa-siapa. Hanya orang yang suka melihat-lihat dan jalan-jalan dari satu halaman website ke halaman lainnya demi kepentingan laboratorium kecil ini. Hehe.

Pada umumnya, saya mencintai website. Terutama isi maupun tampilan yang ada didalamnya. Namun diantara website-website ini, ada website yang saya benci.

Saya tidak membenci website karena copy content-nya. Saya benci website karena:

  1. Tidak memberi alternatif tampilan
  2. Gambar atau foto yang rusak (tanpa keterangan)
  3. Loading lama
  4. Tampilan tata letak yang tidak ramah

Tentu saja saya akan sedikit terlihat aneh apabila tidak memberikan penjelasan mengenai sedikit kriteria di atas. Maka itu, ijinkanlah saya menjelaskan mengapa saya benci website-website itu.

Tidak memberi alternatif tampilan

Website yang tidak memberi alternatif tampilan

Suatu hari saya menemukan link. Kata si pemberi link, wah ini website keren. Katanya isinya baguuus banget. Katanya, mencerahkan. Dan sejuta katanya lainnya. Begitu sampai di sana, loh kok yang muncul pesan di atas;
You don’t have the latest version of Macromedia Flash Player. This web site makes use of Macromedia® FlashTM software. You have an old version of Macromedia Flash Player that cannot play the content we’ve created. Why not download and install the latest version now? It will only take a moment. Macromedia and Flash are trademarks of Macromedia, Inc.

Yang salah siapa? Saya atau yang memberi link?

Karena saya belum mau disalahkan dan yang beri link juga tidak, hehe. Maka kami sepakat menyalahkan pembuat websitenya. Hahaha.

Itu waktu bikin website gimana coba logikanya? Kok yaa tidak memberi alternatif lain kepada pengunjung yang tidak memiliki fasilitas flash atau software flash terbaru di browser mereka? Dikiranya semua orang tidak bisa hidup tanpa Flash? Hehe, ada-ada saja.

Memang sih ada pertanyaan, kok yaa nggak update saja? Kan cepat dan gampang pula?

Jawabannya banyak. Tapi kalau masalah tampilan saja hanya bisa di akses salah satu perangkat lunak saja, kan jawabannya bisa pertanyaan “Kamu bikin website apa lagi main monopoli?”

Gambar atau foto yang rusak (tanpa keterangan)
Gambar atau foto yang rusak

Ada beberapa website yang memperlihatkan gambar yang tidak tampil karena broken link atau hal lainnya dan tidak memberikan alternatif teks.

Ini jelas aneh. Sebab ada website yang sampai enam paragraph menceritakan gambar yang ada di content mereka, tapi kok yaa gambarnya tidak muncul. Hanya tanda icon bahwa gambar itu rusak.

Itu menyebalkan. Minimal menyebalkan saya. Dalam hati saya berfikir, ini webmasternya atau penanggung jawab konten apa sedang main-main tebak buah manggis. Sehingga saya dipaksa harus menebak gambar apa yang dia taruh, namun tidak kelihatan itu? Hehe.

Kalau memang rusak karena databasenya rusak, atau di deface, mungkin masih bisa dipahami. Tapi kalau rusak karena kelalaian (sebab ketauan memang db-nya bagus dan tidak diisengin orang) kan aneh melihatnya.

Lain kali, kalau mau main tebak-tebakan, kasih tahu dong. Jadi saya bisa menghindar (*Haha, sayang sekali belum ada waktu euy buat main tebak-tebakan. Apalagi tebak gambar yang rusak*)

Loading lama
image mengenai Loading yang lama

Ini yang paling menyebalkan. Lama! Di jaman di mana semuanya berlangsung cepat, loading halaman web yang lama itu tidak menyenangkan. Biarpun ada waktu, tetap saja membuka laman web yang lama itu bikin bete. Hehe.

Rumus yang pasti mengenai jumlah eksak berapa kilobyte perhalaman memang belum ada. Dulu, ketika dunia ini masih dijajah koneksi dial-up, ukuran ideal adalah 20-30 Kb per halaman. Sekarang, yaa tidak harus pasti segitu. Dimana koneksi internet makin cepat, biasanya jumlah ukuran halaman makin besar pula.

Sekarang biasanya seorang pembuat halaman website membuat riset dulu, dimana target pasar pengunjung website yang mereka buat. Dan secepat apa koneksi di sana. Riset ini penting. Karena tanpa riset, ibarat makan sayur tanpa garam (*Haha, apa hubungannya coba?*).

Kenapa waktu loading halaman yang lama masih jadi masalah?

  • Ini mah psikologi user. UI/UX yang bagus itu bukan hanya sekedar tampilan, tapi juga kecepatan.
  • Di dunia ini masih ada fakir benwit. Percaya atau tidak percaya, kaum itu masih ada eksistensinya.
  • Semakin lama waktu halaman terbuka, semakin banyak pula pengunjung website tersita waktunya. Artinya, waktu produksi di makan oleh waktu menunggu. Haduh, bahaya itu.
  • Dulu bisa saja berkelit, ini gara-gara jaringan IIX nya bermasalah (kalau di hosting di RI). Tapi jaman sekarang, di mana bikin mirror serba gampang, loading yang lama membuat tanda tanya pula kepada jasa penyedia hosting. Jadi kali suatu website loading lama dan ada embel-embel mereka di sponsori hosting anu, kan kasian tuh hosting. Pamornya menurun.  Gara-gara halaman loading lambat, banyak orang yang jadi rugi. Astaga!

Tampilan tata letak yang tidak ramah
image Tampilan tata letak yang tidak ramah

Entah kenapa, mungkin bisa gara-gara monitor atau kesalahan mata si pembuat, tampilan sebuah halaman kadang menjadi sedemikian membingungkan. Seperti misalnya, di sebuah website yang butuh login, kok yaa kotak loginnya susah di capai pengunjung. Atau di sebuah website yang luar biasa banyak produknya, fasilitas ’search’ tidak ada. Ngawur itu.

Beberapa orang membuat tampilan tata letak yang menyebalkan bisa jadi karena kesalahan prosedur (atau emang nggak bisa). Tapi ada pula yang membuat tata letak menyebalkan karena memang niatnya begitu. Contoh, konten tulisan menjelaskan produk barang sebanyak 1000 kata, semuanya align=center. Jadi tulisannya di tengah-tengah begitu. Lah apa maksudnya? Deskripsi apa bikin puisi?

Hehe… Sudah cukup dulu sekian cuhat colongan dari saya pada hari ini. masih banyak sih another rants. Tapi saya kebetulan lagi lumayan sibuk nih di pabrik. Hehe. Akhirul kalam, maap-maap kalo ada salah kita. Seperti kata pepatah, 4 x 4 = 16. Sempat tidak sempat, pasti akan di balas. Hihihi.

Cheriooo…