Archive for the 'kreatif' Category

Tulisan Anak SMP

Iya saya tahu saya tidak adil. Membandingkan dua anak SMP yang berbeda. Mereka dipisahkan oleh lokasi geografis, kultur bahkan mungkin cara mengikat tali sepatu.

Anak pertama, menulis mengenai keamanan jaringan komputer dan kelemahan yang terkandung didalamnya dengan banyak sekali referensi daftar pustaka. Kelihatan sekali obsesinya di dunia jaringan keamanan komputer telah tertata baik sejak usia dini. Ini buktinya (kalau diklik menuju link asli):

x1_92e1d7e

Anak kedua, menulis juga obsesinya. Yaitu masuk surga. Ini buktinya (kalau diklik menuju link asli):

anak SMP yang terobsesi masuk surga

Diatas, dua-duanya, adalah tulisan anak SMP. Orangnya berbeda.

Tidak adil memang membandingkan sebuah karya ilmiah dengan tulisan curahan hati (yang dipenuhi gambar hati – literal). Tapi dari bukti ini, kadang bertanya saya pada diri sendiri, apa yang harus dilakukan untuk membantu anak SMP kedua (yang jelas-jelas dari Indonesia) agar menjadi lebih baik pendidikannya?

Atau minimal, bisa membantu dia untuk berkhayal lebih variatif daripada sekedar membayangkan pocong dan hati yang luka?

(*Atau memang saya yang harus sadar, bahwa di dunia ini ada manusia yang hanya butuh cerita hantu dan romansa untuk bertahan hidup dari hari ke hari?*)

Dimana Belajar Kode Komputer? Gratis? Iya!

bart simpson will use google

Saya sering ditanya “Bagaimana memulai mengkode pemrograman?” atau “Dimana belajar koding?”. Buset dah, seakan penanya pikir saya ahli gitu. Padahal mah boro-boro, ilmu saya cuma secuil. Hehe. Tapi karena saya sok-sokan saja, walaupun imu sedikit tapi sok berbagi, maka ijinkan saya berbagi sedikit disini beberapa tempat untuk belajar kode.

Karena kere bin gembel, ini beberapa sekolah yang setahu saya gratis-gratis aja belajarnya. Online pula. Jadi kalau siang kita ngojek cari nafkah untuk keluarga, malamnya kan bisa belajar.

Tempat belajar

1. Code Academy (english)
Code Academy ini tempat sekolah yang bagus. Disini kamu bisa belajar dan juga bisa mengajar. Umumnya jika ingin belajar pemrograman berbasis web, bisa disini tempatnya. Mata pelajaran mencakup web fundamental, JQuery, JavaScript, kombinasi kode (HTML, CSS, JavaScript, JQuery), Phyton, Ruby dan konektifitas dengan API. Belajar bisa sesuai dengan ritme kita. Jadi enak dan santai, tidak dipaksa cepat-cepat mengerti.

2. Coding For Good  (english)
Waktu sekolah ini didirikan, untuk menjawab tantangan kelesuan tenaga kerja di Amerika Serikat. Banyak sekali orang menanggur, tapi perusahaan kebingungan cari karyawan yang mumpuni. Maka itu, sekolah ini dibuat khusus untuk mereka yang sama sekali tidak bisa coding agar mampu mengolah website. Pada Januari 2013 lalu, sekumpulan orang yang sama sekali tidak bisa koding, setelah selesai ikut kursus lalu diajak untuk marathon coding. Juaranya, satu tim, langsung diajak kerja. Pada intinya, ini kursus yang baik jika ingin mendapatkan ilmu yang beraplikasi langsung di dunia kerja.

3. Stack Overflow  (english)
Ini website kalau kita ingin bertanya dan mendapatkan jawaban soal koding-mengkoding. Sebelum bertanya, coba cari dulu di kolom ‘search’. Biasanya apa yang akan kamu tanyakan, sudah pernah ditanya oleh orang lain :) Jadi enak dan cepat dapat jawaban.

4. Kaskus  (Bahasa Indonesia)
Adalah salah satu web favorite saya sejak dulu. Memakai bahasa Indonesia yang kadang cukup membingungkan untuk saya, tapi tidak apa-apa. Sebab informasinya sangat baik untuk belajar bahasa pemrograman. Di web ini kita bisa mengetahui perkembangan terbaru trend coding Indonesia. Komentar usernya kadang suka lucu-lucu. Jadi ada selingan diantara masa coding yang cukup njelimet :)

6. Code/Racer  (english)
Ini web keren banget. Jadi kita ibarat seorang pembalap (racer). Tugas kita adalah balapan dengan racer lain untuk menyelesaikan tantangan-tantangan sirkuit kode yang diberikan. Juaranya dapat piala sebagai pengkode paling cepat. Hahaha. Lucu deh pokoknya. Beda dengan kaskus yang sambil belajar koding ketawa-ketawa, maka kali ini sambil belajar koding kita akan menjadi seorang pembalap yang ambisius.

7. Udacity  (english)
Kalau tidak salah, ini bagian dari kampus yang bernama Stanford di Amerika Serikat. Ini anak-anak kampus dan civitas akademikanya baik sekali kepada umat manusia dengan menyumbangkan kuliah gratis ke publik. Kebanyakan adalah mata pelajaran matematika dan ilmu komputer. Mata kuliah pemulanya, bagus sekali untuk mempelajari teori dasar coding. Pada mata kuliah lanjutan tingkat atas (advanced) bahkan mempelajari bagaimana melakukan pemrograman pada mobil robot. Canggih deh pokoknya.

8. iTunes U  (english)
Jika kamu punya perangkat lunank bernama iTunes di gadget/komputer kamu, maka bisa berlangganan iTunesU. Singkatan dari iTunes University. Disini banyak sekali mata pelajaran kode-mengkode. Saking banyaknya, saya kadang sampai pusing pilih yang mana. Favorit saya biasanya tunes dari MIT World (bagian: back to school) sebab sering sekali membantu saya mengerjakan tugas-tugas ajaib. Selain itu, rekomendasi untuk mempelajari basis algoritma 101 (introduction to alghoritms) itu sangat baik sekali di MIT world ini.

Yang perlu diperhatikan

1. Jika mau bertanya, bertanyalah dengan baik dan beretika. Tidak tahu bagaimana? Ini ada panduannya (english)  (bahasa Indonesia ala kaskus)

2. Kalau mau menyimpan hasil karya kamu atau mau berbagi atau kolaborasi bisa pakai GitHub. Ini dibikin dan dibantu supaya jalan dengan baik oleh temen-temen saya. Mereka orang baik loh, saya rekomendasikan untuk menaruh karya disini. BTW, ini kalau mau belajar GitHub

3. Pada mata pelajaran yang berbasis video, simpanlah di perangkat keras (gadget) kamu. Jadi kalau ada waktu luang seperti menunggu atau sambil buang hajat di WC, bisa sambil nonton film belajar :D

4. Jangan khawatir dan jangan pernah menganggap diri sendiri rendah (sudah tua, atau otak tidak mampu, atau tidak pernah sekolah, atau apalah yang pesimis). Semua sekolah-sekolah diatas mengajarkan basis dan memulai dari yang sederhana. Percayalah, semua yang besar, dimulai dari yang kecil terdahulu. Semua orang pinter nan jagowan, awalnya juga pernah jadi bayi yang nggak tau apa-apa kecuali nangis dan buang hajat di tempat. Hehehe.

Selamat belajar, kaka :)

Mengapa Harus Ganti Theme Blog Dan Mengapa Tidak?

Saya tidak suka gonta-ganti theme tampilan blog.

Alasannya sederhana:

  1. Branding. Tampilan itu mencerminkan brand. Identitas. Saya tidak suka ganti identitas (*kecuali kalau browsing, maka itu saya adalah pemuja TOR, haha*). Identitas itu perlu. Bukan hanya perlu ada, melainkan juga perlu dibangun. Salah satu cara membangun identitas adalah memiliki branding yang kuat. Kalau tidak punya branding yang kuat secara visual, maka sebaiknya memiliki branding yang memiliki ketahanan kuantitas waktu
  2. Sok Unik Tapi Malas. Ini alasan yang paling jujur. Saya biasanya malas ngoprek script lagi. Saya bosan ngoding. Seharian ngoding, malamnya ngoding lagi. Begadang temannya teh, musik klasik, LAMPP/XAMPP dan gedit/notepad++ hanya buat ngoding. Tapi kalau tidak ngoprek scripts maka tampilan web standar banget. Apa uniknya kalau cuma copy paste theme orang? Apa kekuatan usability web kita kalau cuma sekedar pakai yang sudah jadi? Maka itu harus unik dong… Tapi itu yaa itu penyakitnya, males… Hehehe
  3. Usability. Saya ganti tampilan atau feature web kalau memang saya sendiri sudah gerah dengan usability web saya. Kalau saya gerah, sih masih bisa kipas-kipas. Tapi kalau pengunjung sudah gerah, wah gawat itu. Makin dikipas makin gede apinya. Pengunjung sudah biasa mampir ke web kita. Dari mereka kita belajar UI/UX. Kalau gonta-ganti theme tanpa rekomendasi mereka, sebaiknya saya memang nggak ganti tampilan lah. Lah saya kan dandan buat pengunjung saya :)
  4. Security. ganti theme itu artinya ganti segala macem. Paling enak sih bikin theme sendiri. Semuanya sudah kita jamin keamanannya. Lah saya kan males. Paling saya ambil theme orang terus saya kulik sedikit script-scriptnya. Padahal, seharusnya kan butuh testing. Mulai dari testing di development, QA dan juga di production. Itu baru testing design dan usability, belum testing security. Belum lagi audit dan review. Waaahhh… pecah kepala kalau tiap ada waktu luang hanya ada untuk test
  5. Nggak Cukup Waktu. Pernah dengar database? Kalau pernah pasti pernah dengar backup database dong? Nahh, ini pula jangan dikecilkan peranannya. Backup database, menyimpannya di tempat aman terus melakukan analisa ini memakan waktu yang tidak sedikit loh. padahal backup database dari blog bukan sesuatu yang sulit dan memakan waktu banyak. Tapi jika setiap hari waktu Anda sudah dimakan oleh kegiatan lainnnya di atas, maka backup database bisa jadi salah satu resource hog tambahan.
  6. Biaya. Ini salah satu pertimbangan penting juga sih. Sebenarnya gonta-ganti theme sama sekali tidak makan biaya. Tapi ketika sedang ngoprek theme terus kepincut dengan theme yang berat loadingnya, mau ga mau kan makan bandwith buat pengunjung dan server. Bandwith lebih itu artinya yaa biaya buat kita sebagai penyedia layanan web dan juga pengunjung yang datang mampir ke web kita. Saya malas membebani pengunjung saya dengan biaya tambahan akibat web saya susah ditampilkan di browser mereka gara-gara berat tampilannya. Tulisan saya sudah dibaca saja sukurnya bukan main :)

Tapi… Tapiii… Hari ini baru saja saya update/ganti theme baru di blog lab ini dan blog utama di bangaip.org.

Alasannya:

  1. Demi Pengunjung. Beberapa orang pengunjung yang juga teman-teman saya (diantaranya Pak Harry Sufehmi) memberi tahu mengenai usability theme saya yang melemah. Wah ini masukan yang berguna sekali. Saya usahakan selalu memenuhi kebutuhan pengunjung blog saya. Sebab dari tangan mereka lah user experience kita jadi bertambah.
  2. Interface. Saya tidak bosan dengan tampilan yang lama. Sama sekali tidak. Tapi saya menginginkan tampilan yang secara disain lebih minimalis. Ketika usia makin bertambah begini dan setiap hari berurusan dengan disain minimalis, saya menginginkan pula interface yang minimalis. Prinsip baru less is more sudah beberapa tahun belakangan ini mendasari kegiatan saya dalam mendisain. Makin sedikit distraksi pada tampilan web, makin konsentrasi pengunjung saya terhadap konten web.
  3. Ada Fasilitas. Hahaha. Saya kebetulan punya waktu beberapa jam hari ini untuk ngoprek theme web. Saya pergunakan lah sebaik-baiknya. Jarang sekali punya kesempatan waktu dari makan siang sampai sore begini untuk ngoprek web pribadi. Selain itu, saya kebetulan kerja dengan beberapa OS sekaligus hari ini. Jadi selain bisa cek tampilan UI saya juga bisa mengecek security dan desain di bawah beberapa browser dan platform system sekaligus.
  4. Future Proof. Kata teman saya Toni, kalau mau beli televisi jangan setiap tiga tahun sekali, rugi itu namanya. Simpelnya, kalau mau sesuatu yang bertahan di masa depan maka harus tahu bagaimana strateginya. Saya cari theme yang sederhana dan minimalis sebab memang sudah terbukti kalau minimalis itu selain mudah diingat, mudah dioprek, mudah ditambahi dan juga (kadang-kadang) mudah penggunaannya. Jadi kalau saya pakai theme sederhana dan minimalis saat ini, saya harap di kemudian hari nanti tidak terkesan out of date. Terlalu kuno untuk ditampilkan di muka publik.
  5. Terapi Ingatan. Kemampuan manusia mengingat itu tidak canggih. Kemampuan saya mengingat, lebih parah daripada manusia kebanyakan. Dengan melakukan gerakan-gerakan koding hari ini saya dipaksa kembali mengeluarkan jurus-jurus PHP dan CSS dalam mencapai tujuan. Ini bagus buat kordinasi otak saya, hehe. Moga-moga dengan mengoprek script kita bisa belajar melawan lupa. Amiin…

Yang lebih syukur dari semua ini adalah… Saya bisa update blog laboratorium ini lagi. Hehehe.

Pendidikan Informatika Kurikulum Baru

Ini blog laboratorium entah kenapa tidak diurus. Saya sudah lama tidak menulis di sini. Biasalah, alasan capek gara-gara baru saja pindah rumah saya pakai demi tidak menulis. Hehe.

Tapi sebenarnya bukan gara-gara sibuk pindah rumah saya jarang menulis di blog lab ini. Intinya sih lebih ke arah karena ada pekerjaan lain, jadi jarang ‘ngoprek’.

Di kamar saya, masih bertebaran kabel-kabel RJ45, baterei, kertas skema corat-coret, beberapa komputer dengan perut terburai, game-game jadul dan perlengkapan lainnya. Setiap masuk kamar, saya selalu berjanji pada diri sendiri akan mengurus DVI untuk monitor yang entah kenapa janji itu selalu diingkari akibat pulang kemalaman. Hehe.

Karena saat ini rumah lebih jauh dari pabrik tempat bekerja, saya lebih sering berangkat pagi dan pulang lebih malam daripada biasanya. Pulang pergi dari rumah menuju pabrik memakan waktu sekitar tiga jam.

Tiga jam itu berharga sekali buat saya. Bayangkan, kalau saya bekerja 21 hari perbulan, maka saya akan kehilangan 63 jam perbulannya hanya untuk transportasi. Gila, itu banyak!

Agar tidak kehilangan waktu sia-sia selama 63 jam perbulan, saya memakainya dengan membaca. Baca apa saja, yang penting baca. Baca novel romantis ndeso yang sama sekali tidak masuk di akal. Baca komik-komik bawah tanah yang diterbitkan oleh teman-teman saya dan komunitas mereka. Hingga baca koran gratisan yang melulu kebanyakan isinya iklan.

Tapi tadi pagi saya kaget. Di koran gratisan itu ada lowongan sekolah setingkat SMU. Bedanya, ini sekolah menengah umum hanya dikhususkan untuk bidang Informasi. Sialnya, iklan ini tidak sempat saya potret maupun saya robek untuk di scan.

Iklannya menarik sekali. Seorang anak kita-kira usia 10 tahun sedang memegang bola dengan pakaian kaus dan celana panjang jeans. Di atasnya ada tulisan besar yang kalau diterjemahkan artinya: “Sebentar lagi aku bikin aku”

Agak aneh, Apa maksudnya aku bikin aku?

Ternyata di bawah foto si anak, tertulis: Tomas (10 tahun), pemain fusbal berbakat. Cita-cita; membuat karakter diri pada game fusbal. Dan itu tidak akan lama lagi.

Di bawahnya, tertulis bahwa sekolah yang sedang beriklan itu kini sudah menyediakan penjurusan dalam kurikulumnya. Antara lain adalah:

Game Development

Ini bikin saya kagum. Sebab sudah dimasukkan character design 3D, leveling (yang nampaknya butuh logika logaritma per levelnya), Manajemen Produksi hingga penguasaan tool-tool rendering (game engine) dalam kurikulum mereka. Mantap lah. Namun yang lebih mantap lagi, ternyata sekolah sudah punya channel ke game-game industri. Jadi kalau mau magang atau cari kerja lebih mudah. Saluuut lah.

Informasi, Komunikasi dan Media

Ini juga keren. Begini kata mereka dalam iklannya:

Dalam masyarakat kini informasi memainkan peran yang sangat penting. Peran seseorang kadang diwakili oleh informasi. Siapa yang memiliki dan siapa yang tidak? Informasi hadir kadang lebih bernilai daripada emas: mahal dan langka.Tidak hanya pada tingkat pribadi, tetapi juga pada perusahaan dan iklan. telah ada pasar dalam mengumpulkan informasi yang penting dalam mencapai tujuan. Mereka harus memiliki target untuk lebih cepat dan lebih baik. Jika tidak, diambil pesaing.”

Yang bikin saya kaget, sudah dimasukkan marketing ‘non-konvensional’ seperti penggunaan ROI dalam adwords, pemanfaatan 140 karakter twitter (*namanya; marketing 140. Haha*), penggalangan massa dalam jejaring sosial (seperti FB atau semacamnya) dan macam-macam lainnya.

Di sini, saya terkagum-kagum. Pertama; karena web2.0 telah membawa angin segar baru dalam dunia industri. Hingga terciptanya lapangan kerja inovatif. Kedua; karena sudah ada sistematika pendidikan yang menanggapi inovasi ini. Sehingga standarisasi atau benchmark makin bisa diperbaiki dari hari ke hari. Ketiga; Saya iri dengan generasi mendatang. Haha. Kok yaa sudah ada SMU yang begitu. Coba dulu kalau jaman saya sudah ada sekolah begitu. Pasti saya nggak jadi bandit. (*ngeles mode ON*) Hehehe.

Mungkin daripada iri, ada baiknya saya menyediakan tempat hidup yang layak buat generasi selanjutnya.

Memilih Framework Open Source Yang Tepat (Kursus HTML Online)

jquery logo bangaip imageMaaf sebelumnya. Saya cuma mau cerita sedikit soal pembangunan aplikasi web berbasis HTML (termasuk didalamnya CSS dan JavaScript dan ikut-ikutan pula konco-konco dari JSP serta JSF) di sini. Bukan mau memberi kursus online. Hehe.

Sepagian ini saya GR (Gede Rasa) banget. Saya baru saja dapat input yang bagus dari team kami di US dan di Jerman. Dan pada utamanya, ini memang cerita soal kegeeran saya. Hehehe.

Risk Management Factor

Pertama dari US. Pendapat saya menggunakan JQuery sebagai framework dalam membangun aplikasi web sejalan HTML ternyata mendapat tantangan luar biasa keras.

Beberapa junior developer bahkan tidak pernah memakai JQuery, apalagi mendengarnya (*Dalam hati saya bilang “Buset kemana aja ente, Say!”*). Beberapa senior developer menentangnya karena sifat JavaScript yang ‘buggy’ ketika dieksekusi peramban internet.

Salah seorang bosnya senior developer malah berkata bahwa aplikasi yang kami bangun (tidak perlu disebutkan namanya) jauh lebih baik ketimbang memakai JQuery (atau memakai framework berbasis JavaScript lainnya sebab kami sudah menggunakan aplikasi ini sejak musim panas tahun lalu).

Namun untung saja saya dibelain. Hehe, untunglah. Sebab kalo nggak, saya dimusuhin. Hihi.

Beberapa orang memilih JQuery karena sifatnya:

  • Open source (jadi kode sumbernya bisa kita dapatkan dan kita utak-atik sesuai dengan standarisasi yang akan kita bangun. Terutama dalam membangun plugin yang cocok untuk membantu perkembangan bisnis)
  • Big players also do JQuery. Saya tidak perlu menyebut nama para pemain lama di dunia branding dan developing web itu (sebab akan jadi perdebatan publik nantinya soal pemilihan kalimat ‘Big Players’) namun banyak situs yang bersifat corporate dan pemerintahan menggunakan JQuery sebagai salah satu framework pembangunan situs mereka. Ketika Big Players memilih JQuery, mereka pasti sudah lebih memikirkannya matang-matang daripada kami. Dan saya yakin mereka tidak gegabah menggunakan sembarang framework.
  • Aplikasi berbasis web awal yang kami bangun berjalan dengan baik di Internet Explorer 6 (yang sialnya masih saja digunakan oleh 16% manusia di muka bumi untuk mengakses aplikasi yang kami bangun, padahal itu browser abal-abal). Namun sampai kapan? Sebab ketika IE6 musnah, artinya akan ada lagi sumber daya yang akan digunakan untuk memodifikasi aplikasi ini. Dan pikirkan saja tenaga, biaya, waktu, SDM, mesin dan bla-bla-bla lainnya yang akan keluar hanya karena mempertahankan aplikasi yang bisa jadi akan out of date dalam jangka waktu sebentar saja. Maka itu standarisasi menjadi penting. Dan JQuery kelihatannya mampu mengadaptasi standarisasi.

Memilih JQuery sebagai bahan pendapat dan melemparkannya pada beberapa team lokal dan internasional, sebenarnya hanyalah kebetulan saja. Saya cukup kaget ketika melihat beberapa aplikasi yang kami bangun (dan masih akan dibangun) ternyata sudah diadaptasi oleh JQuery. Loh kalau sudah ada yang open source dan supportnya banyak, ngapain susah payah membangun aplikasi yang benar-benar dari awal? Bukankah itu tidak efisien? Maka itu saya melemparkan isu JQuery agar bisa diadopsi oleh kebijakan team.

Beberapa orang cukup kaget ketika saya melemparkan ide untuk menggunakan framework JQuery dalam membangun aplikasi berbasis web. Ini disebabkan oleh edukasi mereka yang sudah sedemikian baik sehingga selalu berfikir mengenai faktor menata resiko yang ditimbulkan oleh sebuah perangkat lunak/keras dan kemungkinannya di masa depan.

Saya belajar sesuatu dari reaksi penolakan keras itu. Saya belajar bahwa kadang-kadang kita harus imbang dalam hidup. Jangan mentang-mentang gratis maka sebuah hal adalah baik. Namun harus dipikirkan baik-baik kemaslahatannya untuk orang banyak di masa depan. Begitupula sama dengan aplikasi komputer yang akan melibatkan banyak perut manusia.

Namun dari penolakan ini, saya mampu melihat bahwa beberapa orang dimana saya bekerja dekat dengan baik sehari-hari, adalah ahli dibidangnya dan selalu melakukan riset dan cross check sebelum melontarkan pendapat mereka di depan publik (meskipun publik itu ternyata adalah teman-teman dekatnya sendiri).

Sampai saat ini, belum ada hasilnya antara pendukung JQuery dengan penentangnya. Siapa yang lebih unggul atau siapa yang akan tersingkir. Tapi saya bangga, mampu membawa topik diskusi yang sehat dan baik yang bukan saja hanya berguna untuk saya pribadi, namun juga untuk rekan se-tim kami. (*Hehe, ge-er banget saya nih.*)

Apapun hasilnya, saya jadi ingat lagu Bang Iwan Fals dalam lagu Seperti Matahari, “Tujuan bukan utama. Yang utama adalah prosesnya”. Sebab apapun hasil dari diskusi hangat antara penggunaan JQuery atau tidak, akan sangat berguna buat kelangsungan hidup banyak kami di kemudian hari nanti yang menggantungkan hidup dari HTML dan konco-konconya :) .

Semuanya Pasti Possible Kalau Ikhlas

Seorang perempuan muda, berusia akhir 20-an datang ke kantor kami jauh sebelum saya tiba. Edukasi formal yang dienyamnya, membuat ia memiliki kadar ijasah yang lebih tinggi daripada milik saya. Simpel kata, ia walaupun muda namun lebih tinggi garis hierarkisnya daripada saya.

Sejak dua tahun lalu, ia memutuskan untuk mengambil alih pekerjaan membangun aplikasi web sejak webmaster kami menikah dan hijrah ke negeri lain. Sambil benar-benar buta dan sambil mengerjakan pekerjaan utama yang tidak kalah meletihkan sebagai associate marketing director, ia membangun aplikasi web berbasis HTML,CSS dan JSP. Belajar sambil melakukannya. Bahasa bulenya, learning by doing.

Dulu suatu hari, ia datang kepada saya. Meminta mesin virtual, agar kami bisa bekerja sama-sama. Banyak anggota rekan kami yang menentangnya. Maklum, memutuskan untuk membangun mesin virtual baru itu artinya butuh waktu tambahan untuk memaintainnya. Dan waktu itu selalu amat berharga di antara kami yang super sibuk.

Entah kenapa… Saya membelanya. Saya tahu dia buta kode script pemrograman. Saya tahu dia tidak tahu apa-apa soal HTML. Bahkan saya tahu dia pasti akan sangat super sibuk dalam hidupnya. Namun entah kenapa, masih saja saya bela.

Dengan cueknya saya meminta team IT untuk melakukan setting terhadap mesin virtualnya. Dengan cueknya, saya meminta jatah tambahan pada atasan saya untuk memposkan bujet khusus untuk dia. Padahal kami berdua hanya kenal melalui email belaka dan belum pernah bertatap muka.

Entah kenapa?

Dua tahun kami lalui dengan capek. Dia mati-matian belajar HTML. Kadang-kadang saya pun pulang telat kerja sebab harus memberikan panduan semacam kursus kilat secara online kepadanya mengenai HTML. Saya garuk-garuk kepala sambil gigit jari-jari sambil membersihkan, menstandarisasi script-script yang ia buat dan kirimkan sebelum diterjunkan pada deployment worldwide.

Dan itu terjadi selama dua tahun.

Dua tahun berlalu sudah. Dan tadi pagi saya dikejutkan oleh kenyataan bahwa semua script XHTML dan JavaScript yang ia tulis benar-benar bersih, nyaman di baca dan memiliki standar tinggi.

Saking senangnya, saya tulis email kepada beliau sambil memuji tampilan dan script aplikasi yang ia buat.

Tidak lama kemudian email itu ia balas. Jawabannya membuat saya tertegun. Dia bilang, “my work would never be possible without your detailed feedback and instructions. You’re a good trainer ;-)

Kalimatnya simpel. Tapi membuat saya lumayan terharu. Sekaligus bangga. Seorang perempuan muda cantik menarik namun well educated, memuji saya setinggi langit.

Ahhh, jadi ge-er saya, nih… :D

(*Biarkanlah saya sejenak untuk menikmati kegeeran dan sensasi culun sesaat pada sore hari yang hangat ini. Sebab jarang sih dapet yang kayak ginian. Hehe*)

HTML Dasar > I – Apa Itu HTML

HTML singkatan dari hypertext markup language. HTML adalah bahasa markah, yaitu bahasa yang mengkombinasikan teks beserta pendukungnya.

Awalnya, bahasa markah digunakan dalam industri penerbitan untuk komunikasi karya cetak antara pengarang, editor, dan pencetak. Sementara HTML adalah bahasa yang digunakan pada awalnya untuk menampilkan laman pada website internet.

Apa guna HTML:

  • Membuat sebuah halaman web
  • Menampilkan berbagai informasi di dalam sebuah perambah web Internet (seperti Firefox, Internet Explorer, Safari, Opera, Chrome, dan lain-lain)
  • Menulis berkas dalam format khusus (ASCII) agar menghasilkan tampilan yang diinginkan pembuat berkas

Bagaimana cara dokumen HTML bekerja di komputer lokal:

  • Perintah ditulis oleh pengembang HTML di atas pengedit berkas (text editor, seperti notepad atau gedit atau apalah namanya)
  • Dokumen yang berisi perintah itu di simpan dengan nama yang baik. Misalnya file bernama ‘dokumen_saya.html’ lebih baik daripada file bernama ‘Dokumen saya.html’. Sebab spasi antara kata ‘dokumen’ dan ‘saya’ akan diterjemahkan menjadi bentuk khusus dalam perambah internet
  • Dokumen yang sudah di simpan itu dibuka pada perambah internet. (*Gimana cara bukanya? Tekan tombol Ctrl dan huruf ‘o’ secara bersamaan pada keyboard. Gampang atuh*)

Apa yang dapat kita lakukan dengan HTML?

  • Menentukan struktur dokumen. Misalnya judul dokumen atau membuat elemen-elemen dokumen.
  • Memformat teks
  • Membuat daftar urut
  • Membuat tabel
  • Menampilkan gambar
  • Membuat link atau pranala menuju halaman dokumen/gambar/video lain
  • Membuat formulir
  • Membuat frame

Mengapa perlu belajar HTML?

Jawab: Hehe, sebenernya nggak perlu sih. Kalau anda berniat terjun dalam dunia pembangunan website, seperti membangun laman web, menyusun arsitektur site, menjadi disainer web, atau membuat aplikasi yang berbasis web, maka ada baiknya belajar HTML. HTML mampu menjadi basis yang baik dalam membangun karir di dunia seputar website.

Belajar HTML juga lebih baik daripada kecanduan judi, narkoba atau mengintip tetangga mandi (*Haha, kalo yang terakhir ini jelas pendapat pribadi. Hihihi*)

Yang Baru Dari Photoshop CS5

photoshop cs5 loader image

Sehari-hari saya pakai Adobe Photoshop CS3.

Sebenarnya sih bukan hanya Photoshop, melainkan seluruh produk Adobe yang berbasis MacOS. Mulai dari mengolah animasi 2 dimensi atau menjajal script xml terbaru dengan Flash hingga mengolah data berbasis vector dengan illustrator atau indesign.

Semuanya dilakukan atas nama pendukung kerja.

Jika sedang iseng, saya melakukan manipulasi foto-foto yang sengaja atau tanpa sengaja terjepret kamera; pun dengan produk Adobe yang bernama Photoshop ini.

Ketika ada alternatif baru pemanipulasi foto sumber terbuka (open source) seperti The Gimp, saya pun sempat berpaling hati. Semua komputer di rumah lalu di install The Gimp. Kecuali komputer istri, masih memakai Photoshop 6, hehe

Saya memang menyukai Photoshop. Cerita kilas balik, tahun 1998 itu kami pakai Photoshop 5. Wah, jaman itu sudah hebat betul pakai Photoshop 5. Itu pengolah gambar paling top deh. Saya sempat terkagum-kagum dengan palet History-nya Photoshop. Gila! Kalau salah design, bisa diulang sampai dari awal apabila kita memakai palet itu.

Namun secara pribadi, pertama kali beli software pengolah image, yaa produk Adobe ini. Kalau tidak salah, harga akhir tahun 2000 itu sekitaran US$ 300-400. Saya beli Adobe Photoshop 6.0. Itu pun setelah memutuskan untuk berkarir di dunia arsitektur dan pembangunan website (sebab baru dan mengasyikkan. Plus booming dot com)

Mahal? Iya lah. Buat kantong saya saat itu memang mahal. Apalagi saat itu masih jadi mahasiswa Depok yang tinggal di Kukusan Beji yang bau sapi.

Uang tabungan setahun, habis semua. Sampai gagal liburan. Semuanya demi nafsu memiliki si Photoshop 6.0 ini. Hehe. Namun begitu melihat ada banyak sekali efek-efek ajaib seperti Liquify dan Rough Grain yang bisa dihasilkan Photoshop, saya pun akhirnya bisa tersenyum.

Keputusan beli Photoshop 6.0, saat itu memang didorong oleh bahwa versi 5.5 sudah bisa melakukan ‘save for web’. Kompresi gambar agar menjadi lebih ramah di laman-laman website. Satu image 300 kb bisa di ‘minimalisir’ menjadi 100 kb hanya dengan menekan tombol yang tepat.

Waktu itu, masalah jumlah kilobyte perhalaman website memang sungguh masalah yang luar biasa. Maklum, koneksi internet di Indonesia masih sekitar 10-20 Kbps (kadang bisa ngedrop sampai 2-5 kbps di pinggir JKT). Jadi orang-orang suka mematikan fasilitas menunjukkan image pada browser mereka.

Pada Photoshop 6.0 navigasi web juga mampu didukung oleh penggunaan transparansi ikon-ikon berbasis GIF. Jika di HTML kode warna ditandai oleh #****** (bagian * diisi oleh karakter angka dan huruf) maka di Photoshop 6.0 sudah bisa kita lihat bahwa #99333 itu adalah merah maroon. Sebab secara otomatis Photoshop telah menterjemahkan warna itu menjadi kode karakter HTML. Berguna sekali untuk kerja saya.

Pokoknya versi 6.0 itu lumayan top deh saat itu. Jadi saya memutuskan untuk membelinya.

Sayangnya, kemajuan teknologi berlangsung cepat. Jauh lebih cepat daripada yang saya kira. Versi Photoshop cepat berganti modern, membutuhkan RAM dan kartu grafis baru. Maka ketika teman-teman desainer/developer lainnya bicara versi terbaru Photoshop CS, saya masih tergagap-gagap menanggapinya. Maklum, masih pakai versi 6.0, Hahaha.

Namun sejak Adobe memulai kode CS2 nya, pelan-pelan saya mulai menggali kembali arti sejati Photoshop itu sendiri (haihi, bahasanya jijay banget).

Sejak Adobe CS 2, kebetulan saya sudah dapat rejeki. Bekerja di tempat-tempat yang memberikan saya fasilitas menggunakan Adobe secara cuma-cuma. Jadi, tidak harus beli sendiri lagi.

(*Walaupun pada CS3, ternyata saya harus menganggarkan budget khusus untuk itu, namun tetap saja tempat kerja yang membayar. Waktu itu, 2007, dijual masih harga-harga awal. Kami beli sekitar € 2300 untuk 3 lisensi Adobe, plus acrobat pro, berbasis Mac OS. Lumayan juga. Sebab teknologi cloud sudah memungkinkan untuk rekan kerja kami yang berjarak 12 jam kerja untuk bekerja di komputer yang sama. Eh ternyata pakai cloud ga boleh sama Adobe. Halah*)

Pas tulisan ini turun, Adobe sudah versi CS 5. Begitu pula dengan Photoshopnya. Kalau ditanya apa yang baru? Well, saya mah akan menjawab; kalau dibanding Photoshop 6.0 yaa jelas sudah banyak berbeda. Haha.

Sejak CS 4, setting palet photoshop jadi lebih asik. Artist toolbox keren. Sudah bisa pindah-pindah User Interface, jadi kalau mau kerja ngedesign, ngelukis atau maen 3D, jadi lebih mudah. Trus ada fasilitas vibrance, yang nge-boost warna. Jadi memudahkan main-main di saturasi dan kekontrasan warna. Lumayan lah untuk fotografer wannabe kayak saya ini. Hehe.

Waktu melihat bahwa kita bisa pindah UI, saya dalam hati membatin; wah keren nih, kayak MyEclipse Java Enterprise. Maklum sehari-hari, saya juga berurusan dengan perangkat lunak tersebut dan nyaman dengan kemudahannya mengganti UI. Di MyEclipse saya, mudah untuk ganti UI dari web dev AJAX, Team Synch hingga SVN Repository exploring. CS4 pun begitu. Nyaman mengganti UI.

Di CS 5, Photoshop sudah pakai fasilitas review (namanya ‘creative review’). Edan! Jadi hasil karya kita bisa langsung pitching ke client langsung. Jadi client bisa koreksi secara real time. Well, real time? Yaah tergantung koneksi internet sih. Hehe. Kalau client dan designer sama-sama pakai koneksi internet UPC 120/10 mbps DL/UL, yaa emang pitching dan review-nya udah kayak real time.

(*Yang doyan 3D dan main-main di image HD format, photoshop CS5 trick bisa di lihat di sini untuk Repousse atau di web official-nya langsung di sini sebab CS 5 ini katanya bisa bikin image kita jadi 3D. Silahkan baca di Sounas ini untuk keterangan lebih lanjut*)

Yang aneh, di software yang harga lisensi per-mesin nya sekitar € 630 ini masih juga belum bisa menemukan kompresi untuk menekan gambar-gambar yang akan kita masukkan ke laman-laman web menjadi lebih rendah. Artinya, teknologi kompresi image di Photoshop sama sekali belum berubah sejak Photoshop 6.0.

Saya hanya mencoba versi trial selama 1 bulan dengan software ini. Setelah itu, balik lagi ke CS3 untuk bekerja atau The Gimp untuk keperluan harian. Kalau kompresi image masih sama dan hanya itu yang saya butuhkan, buat apa beli?

(*Ahh tapi itu kan pendapat saya. Belum tentu anda yang trendi suka pendapat ini. Hehe*)

Kursus HTML untuk Ibu-Ibu Senior

Saya baru saja memberikan kursus sejenak (iya, dinamakan sejenak karena hanya sekitar 32 menit) kepada ibu-ibu.

Kursus ini cukup luar biasa buat saya, sebab:

  • Untuk mengadakan kursus ini, kami sudah harus membuat janji di sela-sela waktu yang ada. Dan mencari waktu yang kosong antara saya dan ibu-ibu ini memang susah sekali. Jadi setelah 1 tahun mengendap, kursus ini baru terealisasi.
  • Akibat semua peserta dan pemberi materi adalah manusia yang agak tipikal tingkat kesibukannya tinggi (sebab semuanya sudah berkeluarga, hehe) jadi waktu 1 tahun itu banyak habis untuk mencari kelengkapan birokrasi dan bla-bla-bla sebagainya.
  • Pesertanya kebanyakan ibu-ibu yang sudah berusia 45 tahun ke atas (senior dalam usia). Diantaranya malah ada yang sudah punya cucu :)
  • Kursus ini adalah kursus HTML. Targetnya, agar para ibu-ibu itu mampu membuat newsletter atau email berbasis HTML.
  • Mereka ikut kursus karena mereka mau memiliki ilmu lebih banyak dan lebih baik sehingga bisa improvisasi diri.
  • Kursus yang dijadwalkan setiap jumat pagi ini niatannya adalah sekitar 1 jam penuh. Namun karena antusias dan daya tangkap yang baik dari para peserta, mampu selesai dari setengahnya saja.

Begitu selesai, saya langsung posting ini untuk menyatakan rasa kekaguman.

Salut saya sama ibu-ibu ini. Walaupun sudah berumur dan punya banyak tanggung-jawab di rumah maupun di kantor, masih saja tetap mau belajar. Nampaknya saya harus mencontoh mereka.

Apa yang saya berikan hari ini sebagai materi kursus HTML adalah:

  1. Apa itu server, localhost dan webserver
  2. Apa itu File Transfer, FTP client, FTP server, scripts dan tags dan bagaimana mendapatkan FTP client yang baik, lintas platform sistem operasi dan gratis (saya rekomendasikan Cross FTP)
  3. Apa itu browser, browser yang baik untuk test dan browser apa yang kuat di pasaran wilayah pasar kami
  4. Apa itu HTML dan pernik-pernik yang menyertainya. Tidak lupa sedikit memberitahu mengenai kegunaan HTML 5 di masa depan
  5. Belajar menulis “Hello World” dan menjelaskan fungsi tag yang ada di dalamnya
  6. Mengenalkan basis style paragraf

Hasilnya lumayan. Mereka semua bisa membuat halaman ‘Hello World’, transfer data via FTP di localhost dan test crossing browser pakai IE6, IE7, Firefox dan Safari.

Not bad at all…

Pagi ini, walaupun sarapan cuma dengan pisang dan tomat kecil-kecil. Saya bangga sama mereka dan juga pada diri saya :D

Nice Try!

Sumpah mati, ini website keren banget.  Saya terbahak-bahak dan tidak bisa menahannya bahkan hingga 30 menit setelah melihat halaman-halaman di web ini. Silahkan ke TKP. http://nicetry.me/

Serius… Lucu!