Archive for the 'makan siang' Category

Ksatria Cilincing

Beberapa hari belakangan ini banyak teman-teman yang bergiat di media membicarakan strategi pemasaran #petimati. Yaitu sebuah trik pemasaran yang kata pembuatnya ‘mampu mengenalkan sebuah produk dari mulut ke mulut’, dengan cara mengirim peti mati ke jaringan media di Indonesia. Tetangga saya, Mas Paman dan Pakde membahasnya dengan amat baik, dari sudut pandang etika hingga profesionalitas. Silahkan baca di halaman mereka pada link yang tercantum sana.

Saya tidak akan membahasnya di sini. Membahas peti mati bukan keahlian saya. Tapi mungkin akan membawanya ke topik makan siang nanti bersama para kolega. Saya pikir, sesama rekan buruh pabrik yang menyantap hidangan makan siang nanti akan sedikit mengerenyitkan kening. Mendengar ada manusia yang punya ide mengirim peti mati agar terkenal ke seluruh dunia. Ahhh saya yakin si pengirim peti mati ‘mampu mengenalkan produknya dari mulut ke mulut’. Walaupun sekarang jelas promosi macam apa yang dibicarakan dari mulut ke mulut mengenai peti mati kirimannya.

Promosi itu masalah penting dari dagangan. Katanya, tanpa promosi akan habislah sirkulasi. Teori ini sempat dibantah oleh beredarnya film ‘Super 8‘ karya Steven Spielberg dan JJ Abrams. Itu film, dari pembuatan bahkan sampai munculnya di bioskop, penuh bisik-bisik rahasia. Akibat rahasianya, bahkan blog pengendus terbaik macam BoingBoing dan GeekDad langganan saya pun baru tahu di menit-menit terakhir sebelum akhirnya dipublikasi di bioskop. Tapi bukankah bisik-bisik rahasia pun sebenarnya adalah promosi?

Promosi? Ahh iya. Ini yang mau saya bahas.

Dulu teman saya si Anung kesengsem habis-habisan pada kembang satu SMA yang bernama Lina. Setelah memberanikan diri bahkan hingga puasa senin kamis agar diberi kekuatan langit dalam menyampaikan cinta, mulailah ia promosi. Tidak tanggung-tanggung, akibat kebanyakan membaca novel romantika abad pertengahan, si Anung mendekati Lina di kantin ketika sedang jajan bakso. Dia bilang, “Lin, aku laki-laki terbaik yang akan kamu miliki di muka bumi ini. Kamu mau jadi perempuanku?”

Cerita-cerita CanterburyBukan gara-gara Lina yang tidak baca The Canterbury Tales yang bercerita kisah cinta antara para ksatria Inggris dan para putri raja. Bukan pula gara-gara si Anung yang menyatakan cinta setelah selesai upacara bendera hingga memakai dasi kupu-kupu dipadu celana abu-abu. Bukan… Bukan karena itu Lina menolak cintanya. Sebab Lina tidak pernah menolak cinta Anung (*bahkan hingga detik ini*). Lina hanya balas bertanya, “Eh, siapa yaa?” yang membuat hati Anung berantakan dirundung malu.

Maka jika suatu hari Anung bertanya pada saya apa kekurangannya, saya sama sekali tidak bisa menjawabnya. Astaga! Saya bukan Don Juan. Tapi saya jelas bisa bertanya, “Nung, kok si Lina bisa nggak kenal ama lu sih? Kapan terakhir kali lu ngobrol sama dia?”

Sambil menunduk seakan langit mau runtuh Anung menjawab, “Waktu kita inisiasi lah men. Kan belum lama tuh. Demi Tuhan, pertama kali lihat langsung jatuh cinta”

“Inisiasi? Maksud lu waktu kita orientasi sekolah? Hah, itu kan udah dua tahun lalu, men. Buset dah…”

Jadi pada intinya, si Anung ini diam-diam jadi penggemar rahasia Lina. Kalau pulang sekolah bahkan sempat menguntit Lina dengan sepeda hanya untuk sekedar tahu apakah rumah tinggalnya punya kotak surat untuk disampaikan kertas cinta. Dan selama dua tahun pula, Anung mengungkapkan cinta lewat sebuah surat yang tertandatangan dibawahnya oleh ‘Ksatria Cilincing’.
(*Kadang-kadang saya suka pikir, anak sekolah jaman dulu kok yaa ada-ada saja yaa tingkahnya? Tapi… Lha memang anak sekolah sekarang bagaimana kelakuannya?*)

Jelas Anung pikir bukan ide jenius ketika saya bilang bahwa ia harus membayar beberapa gadis di sekolah kami agar menulis ‘punyanya Anung segede terong’ di WC siswi sebagai langkah promosi dirinya. Saya bilang, “Oke kalo nggak terong, ketimun aja. Kan mantep men kalo barang lo terkenal sesekolahan kita!”. Namun tetap saja ia menggeleng.

Ketika saya tawarkan, “Gimana kalo lo bayar cewek-cewek yang agak gitu deh di sekolahan kita biar mereka bisik-bisik pernah bercinta ama lo dan bisikannya yaitu elo kayak kuda binal yang dahsyat kalo lagi bercinta? Kan hebat lu jadi pecinta sejati men. Bayangin di saat anak-anak laen lagi kesusahan ngilangin keperjakaan, lu malah udah jadi dewa ranjang. Pasti cewek klepek-klepek dah kalo ngeliat lu lewat. Pasti si Lina doyan ama lu men”

Anung menatap saya makin lesu, “Yaelah Rip, bapak emak gua kan haji. Masa gua terkenal sampe kedengeran nanti ama orangtua gua kalo gua cowok begituan. Lu mah enak udah nggak punya malu. Kalo gua kan cowok biasa aja men”

Aduh, ‘ksatria Cilincing’ di hadapan saya menjelma jadi ‘cowok biasa’. Di atas kertas, dia luar biasa. Di dunia nyata, ah-ah-ah… Hanya seorang pria yang putus asa berharap cinta.

“Bujug buneng, masa gitu aja lu nyerah, Nung. Promosi dong. Promosiii…”

Singkat kata singkat cerita, akhirnya Anung setuju membayari makan siang saya selama sebulan kalau Lina akhirnya mengetahui kalau ksatria dari Cilincing itu ternyata Anung. Namun baru setengah bulan, aksi ini dihentikan dengan paksa olehnya setelah mengetahui bahwa di meja kelas tempat gadis idolanya biasa duduk ada tulisan spidol ‘Lina Love Bangaip‘.

Anung hatinya semakin berdarah, sahabat dekatnya ternyata jatuh ke pelukan gadis pujaan. Orang yang dianggapnya menjadi benteng terakhir meminta bantuan ternyata menikamnya dari belakang.

Suatu siang yang panas Anung menantang berduel di kebun jamblang belakang sekolah. ia buka baju, itu artinya kami tidak akan pakai senjata. Ceritanya, mungkin ini hanya satu-satunya solusi antara dua laki-laki. Yang menang dapat Lina? Wallahualam jawabnya. Yang pasti, ada yang marah dan ada yang kecewa.

Anung buka baju, saya juga. Ketika berhadap-hadapan dengan jarak antara lima meter masing-masing, tulang iga kurus remaja pesisir pantai kami menonjol jadi tontonan warga sekitar yang memang haus hiburan dan hanya duduk di warung kopi sambil tertawa-tawa.

Anung: “Bajingan! Dasar lu pager makan jaro!”
Saya: “Ada juga pager makan taneman, kali. Tapi emang salah apa gua!”
Anung: “Duit gua lu makan, si Lina lu embat! Temen macem apa lu!”
Saya: “Emang salah gua kalo pas gua bacain puisi-puisi lu trus gua nyanyiin lagu-lagu lu yang buat si Lina, bikin dia demen ama gua? Emang salah gua kalo lu sampe segitu aja nggak berani?! Emang salah gua lu nggak promosi…!!!”
Anung: “Udah lu jangan banyak omong! Kemaren gua liat lu nyium pipinya Lina di pager rumahnya pas abis pulang sekolah! Temen macem apa lu!”
Saya: “Gua sumpahin mata lu bintitan gara-gara ngintipin orang!!!”

Tak lama kemudian kami terlibat baku hantam. Sang ksatria Cilincing ini memang mungkin akibat banyak membaca adegan pertarungan peperangan antar jawara, jadilah saya kewalahan juga. Tapi lima belas menit setelah saling mengeluarkan emosi jiwa berbagi tinju akhirnya kami berdua ngos-ngosan juga kehabisan nafas.

“Nung… Hhooohhh.. Hooohhh… Ambillah tuh… Hoohh… Hooohh… si Linaahh… Hooohh… Hoorrhh…”

“Hrrhhh… Hrrrhhh… Nggak rip… Hrrhhhh… Gua rela dahhh… Hrrhhh…”

Sambil tersengal-sengal, kami saling ‘memberi’ Lina.

Tanpa sadar, bahwa di bawah pohon jamblang seorang gadis manis berambut panjang berkepang dua memeperhatikan. Itu dia, perempuan pujaan yang kami perebutkan. Ketika akhirnya saya dan Anung berdiri dan saling memegang pundak mata kami menatapnya. Ia tidak banyak bicara apa-apa. Tidak ada tanda sedih, marah atau kecewa dimatanya. Ia hanya berbalik badan. Pergi. Dan sejak saat itu, tidak pernah lagi bicara pada kami.

Ini bukan kisah cinta. Ini hanya cerita tentang promosi. Entah promosi yang gagal, kebablasan atau malah tak tahu diri. Entahlah…

Walaupun hingga kini, saya selalu bertanya-tanya. Bagaimana rasanya memiliki pasangan cinta yang harus bertarung demi mendapatkannya?

Atau justru jangan-jangan Anda yang diperebutkan mereka? Eh, ajarin dong gimana sih promosinya? ;)


Pasti Ada Jalannya

Ibu merenung di dapur belakang. Tepatnya di anak tangga sebelah kakus yang juga berfungsi sebagai tempat cuci piring. Beliau menatap kosong ke arah kompor minyak tanah. Letaknya pas di depan tangga. Kelihatannya beliau habis menjemur pakaian di dak atas, yang hanya berukuran secuil cukup untuk merentangkan baju-baju kami agar kering di timpa panasnya matahari Cilincing.

Hari itu hari minggu. Saya seperti biasa, bangun siang. Lalu dengan santainya menuju dapur. Menuang air panas campur gula, diaduk dengan teh, lalu dengan santainya mengambil es dari lemari pendingin. Namun begitu melihat Ibu, saya menghentikan ritual pagi ini. “Ada apa, Bu. Pagi-pagi kok bengong?”

Ibu menatap saya tanpa mengerenyit. Ini lebih aneh. Biasanya Ibu yang memulai duluan bicara untuk mengomeli saya yang bangun kesiangan.

“Kaga… Kaga ada apa-apa. Tapi kayaknya lebaran taon ini beda dah”

Sambil menyendok satu-satu es batu dari sarangnya saya kembali bertanya, “Apanya nyang beda? Lebaran muhamadiyah ama en-u mah emang beda. Tiap taon juga gitu”

“Kaga. Bukan itu. Tadi pagi Ibu dari Pasar Jongkok. Masa harga-harga pada naek sadis banget. Masa sih cabe sekilo empat puluh empat ribu. Gimana kita mao bikin sayur lontong? Gimana kita mao bikin rendang?”

Saya bengong, “Hah cabe empat puluh rebu? Itu nyang dagang mao naek haji buru-buru apa? Geblek tuh tukang dagang. Seenak jidat ngasih harga. Siapa sih nyang dagang. Biar saya samperin?”

“Yaelah kamu kaya preman aja. Doyannya nyamperin orang! Bukan cuman di Pasar Jongkok, di Pasar Koja malah lebih gila lagi. Ada nyang jual sampe enam puluh ribu sekilo”

“Buset! Cabe enam puluh ribu sekilo? Kalo dibeliin kolor dapet berapa biji tuh?”

Uul, adik saya yang bungsu tiba-tiba masuk dapur, “Apaan luh ngomongin kolor. Make juga nggak pake sok-sokan ngomongin kolor”

Saya sewot, “Eh lu bukannya kuliah malah nyolot. Mao jadi apaan luh bangon kesiangan kagak sekolah. Emak lu noh udah susah-susah banting tulang nyari duit buat lo sekolah, malah seenak jidatnya bolos”

Uul sambil mengambil handuk melenggang santai menuju kamar mandi, “Eh bloon, ini hari minggu tau! Ada juga lu yang nggak tau diri. Udah tau bulan puasa, bukannya puasa malah bikin es teh manis pagi-pagi”

Saya cengar-cengir malu, “Eh iyee, ini bulan puasa yaah…”

Uul protes pada Ibu, “Bu, tuh liat anaknya. Malu-maluin banget. Saur ikut. Buka puasa ikut. Puasa mah kaga!”

Sambil masih cengar-cengir saya jawab, “Soriii… Lupaaa…”

Sambil menutup pintu kamar mandi Uul menyahut, “Dasar orang gila, lupa kok tiap pagi”

Herannya Ibu tidak menyahut. Mungkin membumbungnya harga cabai masih membuat beliau shock berat. Kasihan beliau. Guru SD, single parent, anak banyak. Belum lagi nanti kalau anak murid dan orangtuanya datang ke rumah pas lebaran. Ia pasti bingung menjamu mereka. Mau dikasih makan apa anak-anaknya dan tamu-tamu itu ketika lebaran tiba?

Saya sendiri tidak bisa berbuat apa-apa. Saya bukan bandar cabai. Kalau di semua pasar harga cabai melangit, itu pasti di luar kehendak para pedagang. Masih untung kalau para petani cabai jadi makmur gara-gara panen harga ini. Yang parah adalah, kalau melambungnya harga cabai kali ini ternyata hanya ulah segerombolan manusia rakus elitis.

Saya tidak tahu harus menyalahkan siapa. Apa ini salah tradisi kampung kami yang begitu harus tergantungnya pada cabai pada makanan hari raya? Atau salah kami para manusia yang doyan makan makanan pedas? Atau salah pemerintah yang tidak mampu mengontrol harga pasar? Atau salah alam yang mengatur persediaan cabai menipis? Atau salah makelar harga?

Uh. Apa jawabnya? Susah ahh. Daripada main salah-salahan, lebih baik beri solusi jitu. Tapi apa solusi yang jitu? Saya sendiri tidak tahu.

Sambil menatap es teh manis yang gelasnya mengembun dan membuat saya semakin memantapkan diri untuk batal puasa (namun tidak mungkin saya lakukan di depan Ibu atas alasan normatif), saya bilang pada beliau, “Tuhan kagak bakal ngasih manusia ujian kalo nyang dikasih kagak kuat, Bu. Tenang aja, pasti ada jalannya”

Entah apa yang ada di otak saya hingga berani-beraninya bawa-bawa nama tuhan di pagi ini meskipun hendak batal puasa. Saya hanya tidak ingin Ibu larut dalam kesedihannya memikirkan harga cabai. Hidup ini sudah berat. Dan harga cabai kali ini, nampaknya semakin memberatkan hidup kami para manusia Cilincing. Ibu saya cuma satu. Dan saya tidak ingin melihat beliau berduka. Tidak gara-gara saya. Tidak gara-gara siapa-siapa. Apalagi hanya karena gara-gara harga cabai sekilo yang menggila.

Seminggu kemudian lebaran tiba.

Seperti lebaran sesudah-sudahnya, para manusia Cilincing di rumah Ibu saya mempergunjingkan berapa hari saya bisa puasa. Bukan batalnya loh. Sebab kadang-kadang adik-adik saya sampai taruhan berapa hari yang kurang dari seminggu saya bisa puasa. Batalnya mah sudah tidak terhitung. Tapi lebaran kali ini memang beda. Kali ini mereka tidak bergunjing lagi, melainkan terang-terangan di muka saya tanpa tedeng aling-aling mengundi siapa yang menang sebab dapat menebak berapa hari saya bisa puasa. Kampret!

Karena sebal, saya pergi ke dapur. Melihat Ibu sedang mengaduk sayur labu untuk lauk lontong. Makanan tradisional lebaran kampung kami.

Saya senyum, “Wah hebat Bu. Bener kan ada jalannya. Tuh liat, sayur lontong Ibu sampe melimpah ruah begitu”

Ibu juga senyum, “Bener kata kamu…. Pasti ada jalannya”

Saya kaget. Tumben-tumbennya saya benar? Ini pasti ada yang aneh.  ”Harga cabe turun, Bu?!”

Tanpa menoleh Ibu terus mengaduk sayur lontong, “Kaga… Ibu dapet utangan daging, beras ama cabe empat kilo dari Bu Juju nyang orang pasar. Bayarnya boleh nyicil nanti abis gajian. Alhamdulillah”

Di atas meja makan dapur, daging rendang terlihat menggunung. Saya hanya menatapnya dengan lesu.


Perang Antar Raksasa (Antara Lidah Dengan Mata)

Saya mau cerita ini sebenarnya di Laboratorium Bangaip. Sebab bersifat teknis dan condong pada pekerjaan. Tapi karena terlalu banyak nama yang harus disamarkan, maka lebih baik diceritakan di blog bangaip saja deh :)

Ini cerita soal kopi. Saya sendiri sudah tidak lagi meminum kopi (kecuali kepepet), maka itu saya bisa cerita dari sudut pandang yang berbeda. Yaitu dari sudut pandang peminum teh. Hehehe.

Ceritanya begini;

Di pabrik tempat saya bekerja itu selalu ada vending machine di setiap lantainya. Yaitu mesin penyedia makanan ringan dan minuman jenis tertentu. Mesin penyedia makanan ringan, bentuknya kotak besar. Tingginya hampir dua meter. Dengan lapisan kaca tembus pandang sehingga kita bisa melihat jenis makanan apa yang di jual di dalam mesin tersebut. Makanan-makanan tersebut dapat kita pilih sesuai nomor dan dengan memasukkan uang koin sejumlah tertentu mesin tersebut akan menyediakan makanan yang kita pilih. Sama halnya dengan mesin penyedia minuman. Mesin itu pun bekerja dengan cara yang sama. Hanya produknya yang berbeda. Dan disinilah ceritanya dimulai.

Mesin penyedia minuman, menyediakan berbagai minuman. Umumnya minuman panas. Diantaranya ada air panas (untuk teh atau sup), kopi, susu, serta coklat. Mesin ini cukup aneh. Sebab banyak rekan kerja saya berbondong-bondong pergi ke lantai empat hanya untuk mengambil kopi. Kata mereka (para peminum kopi), mesin di lantai empat lebih enak menyediakan kopinya. Campurannya lebih mantap. Kopinya lebih nikmat.

Saya bukan peminum kopi. Saya tidak tahu nikmatnya rasa kopi. Jadi saya sama sekali tidak mengerti mengapa mereka rela naik tangga atau lift hanya untuk mengambil segelas kopi. Saya pikir, karena mesinnya sama dan dari pabrik penyedia kopi terkenal yang sama, maka harusnya mampu menyediakan hasil yang sama.

Namun sekali lagi; saya bukan peminum kopi. Jadi saya pikir, teori saya di atas amat sangat mudah terbantahkan.

Ketika makan siang bersama teman-teman, saya bawa topik iseng-iseng ini sebagai bahan diskusi ringan sambil mengunyah makanan. Diantara teman makan siang saya, ternyata ada seorang dari departemen Sumber Daya Manusia. Dan topik makan siang mengenai mesin kopi yang menyediakan hasil yang berbeda ternyata membawanya pada sebuah ide baru.

Oleh teman saya, si orang HR ini, obrolan iseng makan siang itu dijadikan ide sebuah acara dengan tema “The Battle of Giants”. Acaranya adalah mengundang pabrik-pabrik penyedia kopi raksasa untuk mempresentasikan kopi mereka di depan rekan-rekan pabrik kami.

Beberapa pabrik kopi dengan serta merta langsung ikut event iseng ini. Hanya dalam tempo beberapa hari saja, para pabrik itu langsung merespon dengan baik bahwa mereka akan serta merta ikut dalam kompetisi perang kopi.

Perang kopi?

Iya, perang kopi. Para penyedia kopi ternama itu, seperti Nescofi, New London, Green Hills, MoonBuck’s, Aristocrat (semuanya bukan nama sebenarnya) dan nama-nama besar lainnya datang ke pabrik kami. Mereka akan menyampur, menyeduh dan menyediakan minuman yang berasal dari biji kopi. Mempersembahkan yang terbaik kepada para buruh di pabrik kami.

Ini perang. Siapa yang dapat menyediakan kopi terbaik, dialah pemenangnya.

Mengapa disebut perang antar raksasa?

Beberapa pabrik penyedia kopi yang datang ke kantor kami memang berasal dari para pemain lama yang sudah memiliki bisnis kopi menggurita, bahkan mendunia. Contohnya MoonBuck’s, yang punya gerai kopi di mana-mana. Diantara pabrik kopi raksasa lainnya, bahkan mengusung konsep ‘kopi cinta bumi’. Jadi, mereka tidak hanya menyediakan kopi, namun juga memberikan gelas untuk meminum kopi yang dapat menyimpan panas dengan dingin dengan baik dan nyaman digenggam (akibat dibuat dengan desain yang baik serta didukung teknologi nano) dan gelas itu pula dijamin tahan lama dan mudah dibersihkan. Sehingga tidak butuh banyak air untuk mencucinya. Raksasa kopi lainnya, datang dengan mengusung konsep ‘kopi manusia’; yaitu mengatakan bahwa kopi mereka mendukung fair trade. Fair Trade sendiri adalah adalah sebuah gerakan sosial yang terorganisir dan pendekatan berbasis pasar yang bertujuan untuk membantu produsen di negara-negara berkembang memperoleh kondisi perdagangan yang lebih baik dan mempromosikan keberlanjutan (sustainability). Nama lain dari perdagangan lintas batas yang jujur.

Pada intinya, banyak ‘raksasa kopi’ yang dagang ke pabrik kami. Tapi bukan itu sebabnya disebut Perang Antar Raksasa. Sebab toh ada beberapa warung kopi kecil yang baru mulai (start-up) ikut dalam perang kopi ini.

Disebut perang antar raksasa, karena ini adalah perang pecinta kopi dengan inderanya. Perang antara indera perasa yang digunakan untuk meminum kopi (lidah dan hidung) dengan iklan marketing (iming-iming gelas bagus, humanisme, nama besar, branding kuat, dsb). Perang ini bukan hanya perang antara para pembuat kopi, melainkan juga perang untuk penikmat kopi. Peperangan dalam memilih prioritas dalam meminum kopi yang nikmat.

Namun, yang menarik di sini adalah melihat langsung peperangan yang adil antara David dengan Goliath industri kopi.

Kok bisa? Bagaimana caranya berperang dengan raksasa branding bisa adil?

Gampang. Jawabnya adalah “blind test”. Test yang tidak melibatkan apa-apa kecuali pecinta kopi dan kopi yang akan diminumnya.

Untuk kopi hitam, 700 relawan dari sepuluh negara bagian bersedia mencicipi kopi dari berbagai pabrik dalam cangkir putih biasa. Cangkir itu polos. Isinya hanya cairan kopi hitam. 700 manusia itu tidak tahu mereka minum dari kemasan apa. Mereka pun polos kembali ke khittahnya. Pecinta kopi dengan gelas kopinya.

Untuk kopi dengan campuran tesnya lebih unik. Relawan penguji ditutup matanya. Mereka diberikan gelas-gelas kecil dengan ukuran yang sama. Diminta menilai, mana yang paling enak.

Hasilnya bagaimana?

Setelah uji coba yang menyenangkan ini (*Semua orang bergembira. Pabrik kopi dapat feedback langsung mengenai produknya. Konsumen dapat kopi gratis yang enak*) kami mendapat hasil yang sungguh mengejutkan sekali.

Ternyata para raksasa kopi kalah telak. Yang menang, ternyata sebuah warung kopi kecil yang memulai usahanya sekitar 3 tahun lalu di sebuah simpang dekat pabrik kami. Yang lebih mengejutkan adalah produk Moonbuck’s, gerai kopi raksasa, hanya disukai oleh 3 orang (dan mereka langsung menutup gerainya di kantin pabrik kami).

Menarik. Dari 700 relawan, 300 orang lebih diantaranya memilih kopi yang dibuat oleh sebuah warung kopi kecil yang mangkal tidak jauh dari lokasi kami bekerja. Ini baik. Bukan karena alasan underdog selalu dapat simpati. Melainkan adalah akan tercipta iklim menumbuh-kembangkan bisnis baru. Setidaknya, bisnis kopi kecil yang baru berjalan itu.

Mengapa ini bisa terjadi?

Ada banyak teori (yang dibicarakan ketika makan siang antara saya dan rekan-rekan kerja beberapa hari sesudah acara ngopi jamaah ini) muncul dalam menjelaskan mengapa sebuah usaha kopi kecil tiba-tiba mendapat dukungan publik. Diantaranya adalah;

  • Pecinta kopi adalah manusia yang mencintai kopi. Mereka tahu kopi yang bagus dan yang tidak.
  • Kopi yang enak tanpa didukung kesempatan untuk dikenal publik, tidak bisa berkembang penjualannya
  • Harus ada manusia yang menceritakan kejadian perang kopi ini (*Bukan, ini bukan tugas saya. Sebab di web internal sudah diceritakan peristiwa ini :) *)

Moral cerita;

Apapun yang saya ceritakan di atas, tidak ada hubungannya dengan kebiasaan saya minum teh saat ini. Hehehe…


Negara Bagian Bola

Seorang rekan kerja saya bertanya keheranan beberapa siang lalu, “Kamu kok nggak pake baju oranye?”

Saya meringis menjawab bahwa saya punya agenda untuk bertemu beberapa orang yang dianggap pabrik cukup penting pas pada jam pertandingan antara Belanda dengan Denmark. Jawaban lainnya, saya memang tidak mendukung satu tim pun dalam kejuaraan piala dunia. Buat saya, pertandingan-pertandingan ini mirip film seri drama aksi di layar televisi. Bedanya, tentu saja tidak sehitam-putih kisah cinta. Tidak ada bandit dan tidak ada jagoan di pertandingan sepakbola. (*Tapi itu sih pendapat saya, yang tentu saja amat sangat bisa diperdebatkan. Hehe*)

Dia menatap saya marah; “Seharusnya tidak ada seorangpun yang menghalangi kamu menonton pertandingan ini!” Lalu mulai menyalahkan pabrik yang semena-mena mengambil jatah waktu menonton sepakbola saya.

Saya cengar-cengir. Rekan saya ini, bukan supporter sejati. Namun buat dia jam rapat saya; yang antara jam satu hingga jam tiga siang itu, sungguh mengganggu. Peduli amat bahwa pertandingan ada pada jam produksi, piala dunia harus jadi prioritas utama.

Ketika saya akhirnya mengalah dan akan mengikuti pertandingan melalui siaran ulang, ia menjawab lagi; “Lebaran itu penting, tapi ada setiap tahun. Natal itu penting, tapi sama aja tetap ada tiap tahun. Ini piala dunia! Sekali dalam empat tahun!”

Saya terbahak mendengarnya.

Bola dalam pertandingan-pertandingan Piala Dunia itu katanya lebih sakti dari tongkat penyihir manapun. Sebab ia mampu membuat jutaan mata terpaku, membelalak, mendesis, berteriak dan lain sebagainya.

Pantas saja, rekan kerja saya ini, yang sama sekali bukan ahli bola, ikut-ikutan tersihir sudah.

Saya? Ahh saya bagaimana yaah?

Kalau boleh sedikit alasan, begini ceritanya. Saya kerja di pabrik dimana manusia-manusia dari segala penjuru dunia ada di sana. Bayangkan saja, negara antah berantah macam Ghana atau Slovenia saja, ada perwakilannya di pabrik saya. Dan sialnya, negara-negara antah berantah itu punya tim sepakbola yang muncul dalam pertandingan piala dunia 2010 kali ini.

Jadi bisa dibayangkan, betapa pabrik saya penuh dengan hiasan bendera, supporter yang memakai kaus kebanggaan negaranya masing-masing. Sliweran hilir mudik dengan santainya sambil dengan bangga mendukung kesebelasan mereka berlaga di pertandingan piala dunia di Afrika Selatan sana.

Saya? Buset dah! Dulu ada dua orang Indonesia di pabrik ini. Entah kenapa, akhirnya tinggal saya semata wayang sebagai WNI yang teridentifikasi di sini. Sialnya lagi, tahun 2010 ini, kesebelasan Indonesia tidak berlaga di piala dunia sana. Jadi, mau dukung siapa dong saya?

Karena beberapa kali di tanya oleh teman-teman bahwa kenapa Indonesia tidak ikut Piala Dunia sepakbola di Afrika Selatan, saya sempat garuk-garuk kepala? Itu pertanyaan yang bagus. Mungkin pertanyaan seharga jutaan dollar. Artinya, untuk menjawab itu mungkin butuh biaya jutaan dollar sebelumnya. (*Misalkan saya menjawab, “oh ya, Indonesia sudah pasti akan berlaga nanti kalau jadi tuan rumah piala dunia di tahun dua ribu sekian” itu artinya biaya APBN akan membengkak gila-gilaan*)

Saking sebalnya ditanya-tanya terus soal piala dunia, akhirnya saya putuskan untuk duduk di tepi taman dekat pabrik bersama seorang rekan kerja yang nampaknya juga tidak punya kesebelasan sepakbola untuk disoraki.

Saya: “Hmhh, emang begini nih nasib kita. Nggak punya tim di Afrika sana”
Dia: “Err, saya dari Guadalupe…”
Saya: “Iya, saya tau. Guadalupe kan pulau”
Dia: “Iya kamu benar. Kami ada di pulau kecil. Tapi kami bagian dari negara Mexico. Dan asal kamu tau, Mexico memberangkatkan tim sepakbola ke Afrika Selatan. Kamu kenapa sih Rip lesu aja?”

Hah! Kampret. Saya kira saya bertemu dengan teman senasib sepenanggungan.

Akhirnya setelah menyelesaikan makan siang (yang mati-matian saya belokkan topiknya menjadi pariwisata pantai daripada terus-terusan ngomongin bola), kami kembali menuju departemen masing-masing.

Sambil membereskan rantang makan siangnya, Si Guadalupe berterimakasih atas obrolan siang itu. Ia bertanya, “Kenapa kamu tidak pakai kaus Indonesia? Ayo dong dukung tim Indonesia di Afrika sana!”

Entah kenapa, saya hanya cengar-cengir menjawabnya. Sebab tidak mungkin saya bilang Indonesia adalah bagian dari Mexico. Hehe.