Archive for the 'manusia' Category

Page 2 of 8

Hidup Eksak

Berkarya itu tidak mudah. Baru tahu? Tidak juga sih. Sudah lama saya tahu kalau berkarya itu tidak mudah.

Kemarin saya memotret, hasilnya buruk. Banyak kotoran terlihat di foto. Entah bisa jadi itu kotoran adalah kotor akibat lensanya kotor, bisa jadi karena memang saya yang tidak ahli. Kelihatannya sih kombinasi dua-duanya. Saya memotret wajah Reno yang duduk di sebelah Untung, kok yaa bisa-bisanya foto muka si reno coreng-moreng? Padahal sumpah mati dia sedang tidak pakai kosmetik dan saya juga tidak memodifikasi foto. Memotret itu tidak mudah. Setidaknya buat saya.

Karena memotret sudah tidak begitu pandai jadi saya coba saja lah untuk menulis. Kebetulan saya sedang dapat tugas menulis laporan. Dua tiga paragraf masih oke, sisanya berantakan. Mulai dari yang saya sudah tidak konsentrasi (maunya tidur saja) hingga music gypsy punk Gogol Bordello yang menghentak-hentak membuat ingin berdansa. Pada intinya, tugas menulis laporan itu akhirnya berantakan. Setelah empat paragraf, saya putuskan untuk berhenti menulis dan mengalihkan perhatian ke dapur untuk memasak.

Lalu saya putuskan untuk memasak sesuatu yang istimewa malam itu. Sesuatu yang dahsyat. Bukankah urusan lidah dan perut berupa makanan adalah juga karya seni? Iya, saya putuskan untuk tidak menyerah jadi seniman malam itu. Oke memang kalau saya tidak bisa memotret, tidak bisa menulis, tapi minimal kan saya harus bisa memasak. Ini karya seni saya. Makanan!

Saya mulai dengan sesuatu yang sederhana. Bukankah semua maestro memulai masterpiecenya dari sesuatu yang sederhana? Sesuatu yang sederhana yang terlintas di otak saya tentu saja tidak jauh dari sambal. Apa sih yang susah dari sambal? Ambil cabe, bawang putih, bawang merah, tomat dan garam lalu gerus bersama-sama. Mau yang lebih rumit? Tentu saja bisa dicampur terasi, atau digoreng, atau dicampur apalah hingga menghasilkan sesuatu rasa baru.

Terambillah cabe, bawang, tomat, dan kacang. Saya ulek semuanya dengan kadar gerak tangan yang mirip kesadisan pada film horror. Tentu saja sama sekali tidak menakutkan, malah cenderung romantis. Airmata saya berlinang ketika mengulek sambal. Kelihatannya uap bawang Bombay menari di pelupuk mata membuat saya menangis. Romantis kan? Hehe…

Tidak lama kemudian sambal kacang hangat jadi pula tersaji di atas meja. Saya ambil ketimun, diiris sedang hingga sepiring penuh. Pelan-pelan saya santap sajian malam ketimun sambal kacang dengan nikmat.

Yang saya pelajari malam itu ada dua. Pertama adalah; satu peristiwa adalah pemicu dari peristiwa yang lain.
Sementara yang kedua yaitu; satu kejadian adalah hasil dari kejadian yang lain.

Terlalu filosofis? Entahlah… Sebab saya tiba-tiba berfikir, “Coba kalo si Reno mukanya nggak belepotan di layar monitor, apa iya gua makan sambel kacang malem ini?”

Bisa jadi tidak.

Mari kita lanjut ke cerita lainnya

Beberapa minggu lalu saya bertemu dengan seseorang dengan pekerjaan dan jabatan yang buat saya aneh sekali. Namanya, ahh panggil saja dia Anton. Nah si Anton ini ketika berjabat tangan dengan saya mengenalkan diri sebagai, “Anton, personal trainer”.

Saya bengong. Jelas iya saya bengong. Berdasarkan kamus otak saya yang cupet ini, personal trainer terjemahan dalam bahasa Indonesianya adalah ‘pelatih kebugaran’. Menilik dari rupa si Anton yang tingginya hamper dua meter dan kurus ini, kelihatannya ia sama sekali bukan ahli kebugaran. Mana saya percaya ia adalah pelatih kebugaran badan?

Setelah ngobrol panjang lebar hampar dua jam dengan si Anton dan pacarnya yang orang Texas itu, saya baru sadar bahwa yang ia maksud adalah bahwa ia seorang pelatih kehidupan.

Wooow… Saya tambah melongo. Pelatih kehidupan. Saya pikir selama ini, jika Anda adalah seekor anjing yang memiliki tuan seorang manusia yang hidup dalam tatanan masyarakat dimana anjing harus sekolah, maka hidup Anda harus dilatih. Ternyata saya salah. Ternyata manusia juga harus dilatih untuk hidup.

Dari Anton, saya dapat informasi. Bahwa di dunia ini ada manusia yang hanya bisa hidup jika punya masalah. Jadi, kalau tidak ada masalah, hidupnya hampa. Buset dah. Di sisi lain, ada manusia yang sama sekali tidak bisa hidup dengan masalah. Inginnya selalu lari dari masalah. Entah sembunyi, entah menghindari. Yang penting lari. Tugas Anton, menyeimbangkan hidup orang-orang seperti itu. Kata dia, nama kerennya ‘coaching’.

“Begini Ip, kamu tahu ga konsep kebahagiaan?”

Saya menggeleng. Mana saya tahu konsep kebahagiaan.

“Kamu bahagia ga?”

Yaelah pertanyaanya aneh sekali. Tapi daripada saya tambah bingung, saya jawab saja “Ton, kalo saya makan enak, terus kenyang terus abis itu bisa duduk selonjoran, saya bahagia. Atau maen sama anak saya atau temen-temen saya sambil ketawa-tawa. Saya mah udah senang. Idup saya segitu mah udah cukup”

Dia bengong. “Kamu nggak butuh mobil eksotis, rumah?”

Saya mengerenyitkan alis, “Yaelah Anton, saya kaga bisa nyetir. Mao dikasih mobil satu pabrik juga percuma. Saya lagian udah tinggal di rumah kontrakan. Apa yang kurang?”

Dia bengong lama. Abis itu dia bilang begini, “Oke sori… Kita balik lagi ke topik kebahagiaan. Kamu tahu ga kalau definisi kebahagiaan itu adalah sederhana. Jika kamu dikelilingi oleh orang yang bahagia, maka kamu akan bahagia. Begitu pula dengan kerjaan saya. Saya coba membuat orang-orang yang mulai mempertanyakan hidup mereka untuk menggali kebahagiaan mereka sendiri”

Saya bengong. Njelimet sekali ini penjelasan si Anton. Maksudnya gimana sih?

“Maksudnya, kamu akan bahagia jika dikelilingi oleh orang yang juga satu pemahaman dengan kamu”

“Jadi kalo nggak sepaham nggak bahagia, Ton…?”

“Bisa, tapi susah. Harus saling memahami agar mudah”

“Trus gimana caranya agar bisa saling memahami?”

“Nah itu lah gunanya pekerjaan saya. Ini bisnis booming looh. Orang-orang sekarang sedang hobi mencari pemahaman atas dirinya sendiri”

“Ooh kamu psikiater dong?”

“Buuuukaaaan… Kamu gimana sih? Dari tadi nggak ngerti-ngerti juga”

Sumpah saya tidak mengerti. bahkan ketika Anton bilang bahwa manusia berjenis kelamin pria itu mengambil keputusan satu kali per setiap tujuh detik dalam waktu sadarnya dan wanita tiga kali kelipatannya agar mereka bahagia, saya masih tetap tidak mengerti.

Saya bloon?

Bisa jadi.

Tapi dari dua cerita di atas, saya malah belajar satu hal yang baru. Dua-duanya berbuntut pertanyaan dengan jawaban yang memiliki kemungkinan. Jawabannya bisa benar, bisa juga salah. Tapi itu sama sekali bukan baru toh. Yang baru adalah, bahwa peristiwa runtutan hidup dan kebahagiaan (atau apapun definisinya) itu sama sekali tidak eksak. Bahwa kadang-kadang ada saja dalam kejadian sehari-hari yang terjadi di luar nalar dan logika.

Baru? Mungkin buat Anda tidak. Tapi buat orang-orang yang terbiasa (karena terpaksa) punya rencana B, C dan seterusnya jika rencana A gagal ini macam saya, tentu saja ini hal yang baru.


Bahasa Yang Tidak Sederhana

Begini. Jelasnya ia bilang begini, “bahasa hukum itu tidak bisa sederhana. Ia harus jelas, detil dan pasti” ketika saya bertanya mengapa putusan sebuah kasus di pengadilan dapat mencapai berlembar-lembar kertas A4.

Saya percaya. Lah habis mau bilang apa lagi. Bukan hanya latar belakang teman satu ini yang ahli hukum, melainkan ia juga menerangkan dengan sangat gamblang melalui contoh:
“Jika A berhutang pada B, lalu A mangkir bayar. B membawanya ke pengadilan. Pengadilan memutuskan bahwa A harus bayar hutang pada B. Apa iya putusannya begitu saja? Kan harus dijelaskan kapan A bayar, dimana membayarnya atau berapa jumlah bayarannya atau hal-hal lain yang berurusan dengan piutang tersebut. Dan semua itu tidak simpel kan?”

Saya manggut-manggut. Logikanya jelas. Bahasa administrasi hukum memang harus jelas. Sampai poin ini, saya mengerti.

Dan poin itu pula lah yang selalu saya bawa kemana-mana ketika bicara soal hukum. Memang sih saya bukan ahli hukum, tapi biasanya tertib membaca aturan main yang berhubungan dengan hukum.

Saya dianggap orang aneh oleh beberapa teman, karena menurut mereka (jelas subjektif toh?) saya satu-satunya orang yang mereka kenal selalu membaca dengan amat teliti perjanjian lisensi (end-user licence agreement) sebelum melakukan instalasi perangkat lunak pada komputer. Walaupun dianggap aneh, saya tidak peduli. Sebab perjanjian-perjanjian itu sempat beberapa kali menyelamatkan isi kantong saya secara signifikan. Jadi, administrasi hukum yang jelas, dan kadang bertele-tele dan rumit itu, kadang ada gunanya.

Saya sadar. Sepenuhnya sadar kok. Bahwa hukum itu berbeda dengan keadilan.

Hukum adalah produk. Jika negara kita analogikan sebagai pabrik dan masyarakat adalah konsumen, maka hukum itu produknya. Dan jika memakai analogi yang sama, maka akan ada dua hasil dari produk yang dihasilkan oleh sang pabrik.

Pertama, produk yang diinginkan oleh konsumen. Namanya, hukum berorientasi publik. Kedua, produk yang akan menguntungkan buat pabrik. Namanya? Ahh yang ini pada jaman modern kini tidak ada namanya. Karena ketika monarki-monarki di dunia ini hancur, hancur pula produk yang hanya menguntungkan negara.

Pada produk pertama, yaitu produk yang diinginkan konsumen, maka pabrik akan mengikuti selera pasar. Apapun yang diminta oleh warga sebagai konsumennya, maka pabrik harus setuju. Pada negara-negara yang ada saat ini (2011), aturan main model begini acapkali dipakai. Hukum dibuat demi kepentingan masyarakat.

Sisi baiknya, produk hukum sebuah negara yang berupa Undang-Undang, Instruksi Presiden, Peraturan Daerah atau bla-bla-bla lainnya akan sebaik-baiknya dibuat demi kemaslahatan umat. Sisi kurang baiknya, well kita semua tahu bahwa warga negara itu bukan kumpulan orang satu RT saja. Warga negara itu banyak. Mengakomodasi semua tuntutan, adalah hal yang mustahil. Maka dipilihlah suara terbanyak dalam mengakomodasi tuntutan warga. Dalam implementasinya, yang tidak setuju biasanya tidak terlalu dirugikan. Tapi sialnya kadang-kadang pada ujung-ujungnya, ada minoritas yang terkoyak.

Henry VIII picturePada produk kedua, dimana hukum dihasilkan negara demi kepentingan negara. Ehmmh, ini kejadiannya sudah lama. Contohnya di Inggris, ketika raja Henry VIII meminta gereja untuk menikahkan ia dengan selirnya. Tentu saja Paus menolak. Sebab poligami tidak ada dalam kitab suci yang dipercayainya. Henry VIII tidak peduli. Ia tetap menikahi selirnya bahkan hingga enam perempuan dikabarkan sah jadi permaisurinya. Undang-undang pernikahan saat itu di Inggris jadi berbeda (walaupun akhirnya UU poligami Inggris berakhir ketika Henry VIII meninggal tahun 1547 akibat kegemukan, pirai dan sipilis). Namun disini terlihat jelas, bahwa penguasa (Raja) mengeluarkan instruksi yang mampu membuatnya setingkat atau lebih dari hukum gereja reformasi yang menjadi standar baku saat itu.

Walaupun kelihatan tidak ada bagus-bagusnya hukum ini, sebab hanya akan mengukuhkan negara sebagai penindas saja, tetap ada sisi positifnya pada sisi tertentu. Kebijakan Dagang Beras Jepang sejak tahun 1961 hingga saat ini (2011) misalnya. Hukum ini ternyata melindungi Jepang sehingga bisa swasembada beras dan memakmurkan petani beras. Contah lainnya lagi, ketika dunia dilanda krisis global sejak 2008, banyak sekali pemerintah negara-negara di dunia yang mengambil alih tata cara perdagangan aset milik rakyat (Contoh: Swedia dan Denmark di tahun 2009 yang memperketat peraturan agar warganya tidak menjual properti pada masa krisis).

Di Republik Indonesia, kita memilih yang pertama. Kita? Entahlah… Mungkin tidak sepenuhnya tepat kalau disebut kita. Sebab toh para pendiri bangsa memilihkan hukum itu untuk kita. Para manusia Indonesia yang masih hidup saat ini.

Yang pasti, saat ini kita percaya bahwa hukum di Indonesia dibuat demi kepentingan Warga Negara Indonesia. Mulai dari presiden hingga jelata, tua muda, pria wanita, kalau masih bisa disebut WNI, maka hukum ini memang spesial untuk mereka.

Namun ajaibnya, meski digadang-gadang kalau Undang-Undang Dasar negara yang sebenarnya diterjemahkan dalam kitab hukum pidana maupun perdata, kelihatannya bahwa isi hukum di Indonesia terdiri dari gado-gado hukum kontingental Eropa (warisan penjajah Belanda), hukum agama (akibat mayoritas reliji warga negara), dan hukum adat (karena banyaknya suku-suku di nusantara).

Jadi pada intinya, yang bikin hukum jaman dulu itu (entah jaman kini juga) kelihatannya asik sekali main comot sana-sini. Ambil yang baik, buang buruknya, tentu saja ini yang jadi motivasi.

Tapi apa benar kita telah mengambil yang baik dan membuang buruknya?

Apa benar, mengambil yang baik dan membuang yang buruk menjadi salah satu motivasi para pengambil keputusan para manusia setengah dewa itu yang produk bernama hukumnya akan menentukan nasib makhluk hidup bumi pertiwi? Apa benar hukum masih berpihak pada warga, bukan pada oligarki para pemilik modal besar saja?

Jika benar, bukankah hukum seharusnya dibuat atau diambil untuk melindungi makhluk hidup dan bumi ini, bukan malah mengancam atau merusaknya?

Beberapa waktu lalu, saya membaca kembali kasus Rumah Sakit Omni vs Ibu Prita.

Saya kira kasus ini telah selesai. Prita menang! Koin terkumpul di Langsat sampai karungan. Bahkan para rocker ikut teriak menyanyi demi kebebasan dalam konser bernama Free Prita. Oh yeah!

Iya Prita menang. Suara konsumen menang. Suara wong cilik menang!

Saya kira ia menang. Anda kira ia menang?

Kelihatannya saya salah. Kelihatannya Anda salah.

Pagi ini membaca bahwa Mahkamah Agung mengeluarkan kasasi keputusannya dalam kasus Prita vs RS OMNI. Dalam putusan kasasi tersebut, Prita nantinya akan dihukum penjara kembali seperti yang dialaminya dahulu saat menghuni penjara wanita Tangerang. (sumber AntaraNews)

Iya, kita kaget membacanya. Bukankah negara telah dengan paksa merenggut ibu-ibu korban malpraktik RS OMNI ini dari anaknya dengan memasukkannya ke penjara dulu? Loh kok sekarang akan dimasukkan penjara lagi? Jika memang haknya sebagai konsumen dan ibu telah diinjak-injak dan keadilan tidak berpihak kepadanya, kemana itu produk hukum gado-gado warisan nenek moyang yang seharusnya dan katanya melindungi warga?

Saya pikir para manusia yang ada Mahkamah Agung jelas bukan orang tolol. Juga jelas bukan para anak sundal yang berhobi fetish menjilat pantat. Seharusnya saya pikir mereka jauh… Jauuuuh lebih pintar daripada saya dan orang sekampung Cilincing yang awam ini melihat korelasi antara hukum dan keadilan.

Jika Prita sudah diperlakukan tidak adil oleh negara dan hukum juga tidak berpihak kepadanya. Kepada siapa lagi kita akan berharap?

Hukum dan keadilan itu memang beda. Hukum itu produk. Jika produk itu sudah busuk, bukankah kewajiban kita menggantinya dengan yang lebih baik?

Apa yang terjadi dengan Prita itu sudah sedemikian busuk.

Jika hukum itu produk…. Jika produk itu dibuat dan disetujui kita sebagai warga negara… Apa artinya kita juga ikut busuk? Jangan-jangan hukum yang busuk adalah cerminan kita yang sudah benar-benar membusuk?

Padahal dalam bahasa yang sederhana atau bukan… Jika hanya dengan diam, kita pula akan membusuk pelan-pelan.


AJarPul (Anak Jarang Pulang)

Saya mengobrol dengan Kang Adi, berbagi cerita. Cerita kami topiknya soal manusia dan nasibnya.

Kami berdua sama-sama tidak percaya bahwa ada faktor luar biasa yang mengubah nasib manusia selain manusia itu sendiri. Maksudnya mungkin, bahwa manusia menentukan apa yang ia jalani dalam hidup.

Lalu obrolan kami mulai menjurus spesifik, yaitu contoh nyata.

Kang Adi temannya wartawan kecil. Hidupnya pas-pasan. Tapi selalu bermimpi jadi pembalap mobil rally. Aneh sekali. Bagaimana mungkin gaji wartawan yang hanya bisa menyambung hidup pas-pasan keluarga mereka mampu membiayai si kepala keluarga jadi pembalap mobil?

Nasib berkata lain. Tepatnya, si wartawan kecil ini memilih nasibnya sendiri. Ia meliput berita-berita olahraga dan akhirnya diterjunkan ke desk balap mobil. Disana bertemu dengan orang-orang sejiwa, belajar, dan saling berbagi. Disana ia bertemu sahabat-sahabat baru yang mengerti panggilan jiwanya. Sesama pembalap.

Dan kini, ia benar-benar jadi pembalap mobil rally.

Saya ganti cerita. Contohnya jelas cerita soal tetangga saya, si Man. Kata orang-orang dia itu edan. Bapaknya tukang kebun sekolah, sementara mamanya ibu rumah tangga. Orangtuanya sih biasa saja. Maksudnya tidak ada seorangpun dari keluarga mereka menampakkan kegilaan-kegilaan tertentu. Hidup mereka sederhana. Kakaknya si Man satu. Adiknya tiga. Semuanya sekolah dekat rumah. Wajar-wajar saja. Lah waladalah kenapa pula si Man itu ternyata gila olahraga dirgantara terbang layang (hang gliding).

Bapaknya Man bisa jadi model tipikal bapak-bapak yang entah karena tuntutan hidup sedemikian keras, harus cari sampingan kiri-kanan membiayai anak-anaknya. Selain tukang kebun, ikut potong-potong ranting pohon tetangga kiri-kanan sebagai tambahan harian. Jadi, bapaknya Man ini sama sekali bukan pilot, superman apalagi gatotkaca yang bisa melayang. Kok yaa punya anak yang kepingin terbang?

Mamanya si Man, benar-benar ibu rumah tangga biasa yang baik. Sedari kecil semua anak-anaknya tidak pernah absen di Posyandu. Imunisasi lah. Lomba bayi sehat lah. Pokoknya, kesehatan anak harus tetap jadi prioritas, walaupun mereka bukan dari keluarga kaya. Mamanya si Man ini ibu rumah tangga yang baik. Namun sebaik-baiknya beliau yang lulusan SD Kemayoran ini sangat punya kemungkinan besar tidak pernah membaca tragedi Yunani yang melibatkan anak Daedalus yang bernama Ikarus yang melarikan diri dari Pulau Kreta dengan merekatkan lem dan bulu dijadikan sayap agar bisa terbang.

Maksudnya, mamanya si Man kelihatannya bukan pencinta dunia aeronautika. Kok yaa salah satu anaknya bisa sangat mencintai berada di atas langit sana?

Sejak kecil, si Man sudah menunjukkan gejala-gejala yang menurut warga kampung kelas rendahan macam kami, sama sekali tidak masuk di akal. Sejak kecil, Man gemar mengumpulkan gambar pesawat, mulai dari pesawat kecil hingga yang besar.

Lulus SD, Man terpaksa dibawa ke rumah sakit. Ia memanjat loteng dan lalu loncat dari atas sana dengan payung besar yang biasanya dipakai Umi kakaknya kalau mengojek ketika hujan.

Kali ini bapak yang biasa diam melihat kelakuannya pun berkomentar, “Lain kali, kalau mau matahin, jangan payung Umi. Jangan pula kaki kamu…”

Man menganggap komentar itu sebagai sebuah persetujuan. Tentu saja persetujuan untuk aksi-aksi selanjutnya.

Lulus SMP dan mulai mengerti bahwa daerah Puncak yang dekat Jakarta itu ternyata tinggi dan lebih banyak anginnya ketimbang Cilincing. Ia sering bolos dari sekolah untuk pergi ke sana.

Suatu hari ia ajak Umi untuk bolos bersama. Ketika Umi menolak, Man bersikeras memberitahu bahwa ia bukan hanya sudah berhasil mendisain layang-layang raksasa. Melainkan juga sudah membuatnya dengan bantuan tukang jahit di sebelah pabrik kerupuk. Rangkanya dari jari-jari roda sepeda. Kain pembalutnya dari jaket parasit yang ia sering temukan di sampah lokalisasi pelacuran dekat kampung kami. Kata Man, “Mi, gua ngiket badan gua ke layangan biar bisa terbang. Lu nanti yang manggil orang-orang buat narik kalo gua mao turun”

Umi jelas menolak dengan ide gila adiknya. Padahal kata Man, ia sudah mati-matian mengantar koran tiap bulan dan tidak jajan demi mewujudkan mimpinya terbang bersama layangan raksasa di Puncak sana.

Man tidak patah hati. Ia bolos lagi. Membawa buntalan besar ketika berangkat sekolah dan tidak pulang setelahnya.

Bapak mama si Man bukan tipikal orang tua yang anaknya baru tidak pulang semalam sudah seperti kebakaran jenggot. Lagipula track record si Man ini memang sudah terkenal sebagai AJarPul (singkatan dari Anak Jarang Pulang). Namun tiga hari tidak ada di sekolah dan tidak pulang ke rumah, membuat kedua hati orang-tuanya kebat-kebit juga.

Hari selanjutnya ketika Umi akhirnya mau buka suara, ada roda mobil berhenti di depan rumah. Yang turun kelihatannya bukan orang kampung kami. Anak muda, gondrong-gondrong. Kulitnya bersih. Mobilnya juga bukan mobil pick-up bau ikan asin sebagaimana mobil-mobil yang banyak beredar di kampung kami.

Salah satu yang badannya paling besar, membawa Man dalam papahan. Katanya, mereka menemukan Man dalam ‘posisi yang aneh sekali’. Jelas aneh, mana ada anak kecil normal dengan layang-layang raksasa yang tidak mau terbang dan akhirnya terpuruk di perkebunan teh membuat api unggun sendirian di malam hari?

Man jadi terkenal di kampung kami. Bukan karena terkenal karena keanehannya. Itu sih lagu lama. Melainkan Man terkenal di kalangan gadis-gadis kampung. Cowok-cowok gondrong berkulit bersih itu kata mereka anak orang kaya yang cool. Entah darimana tahunya, biar sajalah. Yang pasti Man sering dititipi salam dari gadis-gadis itu untuk para cowok gondrong. Bukan apa-apa, Man jadi sering nongkrong sama para cowok gondrong itu.

Aneh, Man jadi rajin sekolah. Tiap jumat sore dijemput teman-temannya naik mobil. Entah kemana. Saya tidak peduli. Ahhh… Salah. Sebenarnya saya sangat peduli. Lebih tepatnya, sangat cemburu.

Ahh tapi saya sudah punya laut dan pantai. Kenapa harus cemburu pada Man?

Kata mamanya, Man ikut klub para-para. Waktu saya tanya apa maksudnya paragliding, beliau mengangguk mengiyakan. Katanya, “Pokoknya yaang bisa terbang-terbang gitu deh. Duh Mamah maah cuman bisa ngedoain aja. Abis bisa apa lagi Mamah? Kata temen-temennya dia kudu rajin sekolah. Kalo rajin, nanti diajakin maen. Ikut klub. Dipinjemin peralatan. Itu loh, biar bisa terbang naek layangan raksasa”

Hari berlalu. Dan berlalu. Dan berlalu. Berlalu…

Man kini dewasa. Kalau bertemu kami berdua selalu memlilih warung makan pinggir laut yang dekat bandara. Kata Man, disitu ia bisa melihat benda-benda terbang kesayangannya di udara sambil bercanda dengan sahabat didepannya yang selalu takjub menatap riak-riak ombak.

Saya tertawa. Saya pikir, mungkin karena ia pilot sekarang. Jadi lebih suka rendezvouz dekat tempat kerjanya.

Ahh iya. Man jadi pilot sekarang. Siapa sangka anak tukang potong ranting kebun yang hidupnya sangat sederhana itu bisa jadi pilot?

Tidak ada.

Kecuali Man. Sebab sore itu ia berkata, “Lu tau ga? Waktu kita mancing dulu sama-sama setiap gua ngeliat ke langit gua pasti yakin kalo gua selalu bisa terbang di sana”

Setiap saya dapat kesusahan menatap jalan hidup ke depan yang kelihatannya selalu membingungkan dan rumit, saya selalu ingat Man. Bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Cita-cita dan kerja keras selalu bisa mengubah segalanya.

Ahh apa iya yaah?

Saya pikir bukan hanya cita-cita dan kerja keras… melainkan juga bertemu orang yang tepat.

Tapi siapa sih sebenarnya orang yang tepat? Entah buat Anda, yang pasti menurut saya, mungkin memang tidak selamanya hidup dikelilingi orang yang tepat atau semestinya. Yang pasti jika teman-teman saat ini selalu mampu membuat tertawa bahagia, maka beruntunglah saya. Sebab mungkin mereka tidak mampu menjadikan saya menjadikan saya petani atau penari yang selalu saya cita-citakan. Tapi mereka selalu mampu membuat tersenyum.

Toh dengan senyum kita mampu mengubah dunia. Setidaknya dunia kita :)

(*Eh boleh minta tolong? Kalau habis baca ini, mohon senyum ke makhluk pertama yang Anda lihat. Bisa cowok, cewek, kakek, bocah, orang di seberang cermin, bahkan pada semut jika ada… Boleh? Senyum sejenak nggak dosa dan nggak bikin anda susah loh… Jujur aja, saya sendiri abis nulis ini nggak berani senyum ke orang pertama yang saya lihat. Maka itu, saya memberanikan Anda menjadi contoh pertama korban… hihihi*)


Rest In Peace Ruyati Binti Sapubi

Saya menulis dalam diam. Secara literal memang dalam diam. Tidak bicara, tidak menyanyi, tidak bergerak kesana-kemari kecuali jari jemari, tidak melakukan apa-apa selain memelototi pena dan kertas dihadapan dan lalu memindahkannya dalam aplikasi google docs dan lalu ke blog setelah proses edit sana sini.

Jika terdengar suara, paling suara-suara lagu teman-teman saya yang menyanyi dalam irama rap atau koleksi lagu-lagu instrumentalia OST (Original Sound Track) film-film kegemaran seperti misalnya OST August Rush, Casablanca atau Blood Diamond. Biasanya, malah instrumen musik-musik klasik macam Beethoven atau Mozart yang mengiringi tulisan-tulisan naik cetak. Saya tidak bisa menulis dengan ditimpali banyak suara manusia.

Di beberapa stasiun kereta, akhir-akhir ini ada iklan besar terpambang di billboard, iklan pena merek BIC. judulnya, wie schrijft die blijft. Arti sederhananya kira-kira, siapa yang menulis akan abadi. Saya melihatnya setiap pagi.

Saya tidak percaya keabadian. Agak aneh memang. Untuk seseorang yang pada akhirnya secara susah payah diberi gelar akademisi hanya karena meneliti tulisan-tulisan dan simbol yang saking tuanya dilupakan orang, saya tidak percaya keabadian dari dunia tulis menulis.

Sederhana; alasannya simpel. Saya tidak percaya keabadian.

Anda boleh setuju. Boleh juga tidak setuju. Toh itu hak siapa saja. Hanya, hingga saat ini yang saya sempat pelajari adalah bahwa hidup memang tidak pernah mengajarkan keabadian. Selalu saja ada yang mati. Entah nyawa manusia, entah kebudayaan, entah pemikiran, entah isme-isme yang selalu begitu banyak menyilaukan mata dan jiwa manusia. Yang pasti, selalu saja ada yang mati.

Suatu saat saya akan mati. Suatu saat toh juga Anda akan mati. Suatu saat, apa yang kita percayai kekekalannya di muka bumi ini, saya-pikir, juga akan mati. Sejarah mengatakannya begitu. Mau bilang apa, itu kan fakta?

Eddard Stark, salah satu karakter dalam serial TV Game of Throne berkata, “… I grew up with soldiers. I learned how to die a long time ago”. Kira kira terjemahannya adalah bahwa ia tumbuh sebagai seorang tentara dan ia mengetahui bagaimana harus menghadapi malaikat maut ketika ditanya apakah ia takut mati atau tidak.

Saya pikir, tidak perlu jadi tentara untuk tahu bagaimana menghadapi maut. Tidak perlu. Oh-oh, sama sekali tidak perlu. Saya pikir, yang lebih penting adalah sebagai apa kita akan menghadapi maut. Buat saya ini penting, ketika wajah berkiblat menghadap maut sebagai seorang pecundang atau tidak.

Sebagaimana pentingnya saya, malam ini, menulis mengenai seorang Ibu bernama Ruyati. Seorang perempuan tua berusia 54 tahun dari Bekasi, sebuah bagian dari kedaulatan negara bernama NKRI yang pada tanggal 18 Juni ditebas lehernya oleh pemerintah Saudi. Dipancung dengan pedang atas nama Qisas, hukum dimana nyawa ditebus nyawa. Dipenggal kepalanya. Dengan alasan, bahwa perempuan tua yang sering disiksa oleh majikannya ini, akhirnya marah dan menuntut balas atas perlakuan kejam yang diterimanya.

Tidak usahlah bicara soal diplomasi. Tidak usah bicara tentang kebijakan politik luar negeri. Tidak usah bicara mengenai hukum agama yang diselewengkan dengan paksa. Tidak usah bicara tentang betapa hebatnya tentara negeri ini. Tidak usah bicara tentang betapa kita menyia-nyiakan para pahlawan, mulai dari pahlawan tanpa jasa, pahlawan gerilya yang makamnya dibongkar di Kalibata, atau pahlawan devisa. Tidak usah!

Taik kucing dengan semua itu!

Mari bicara tentang keadilan yang terkoyak-koyak. Tentang bagaimana orang memperlakukan orang lain lebih buruk daripada mereka memperlakukan sampah.

Mari kita bertanya tentang itu. Dan mari kita bertanya, apa kita masih punya tenaga dan hati?

Malam ini, saya menulis dalam sendiri. Tidak ditemani para legiun yang peduli atau tidak peduli.

Malam ini saya menulis dalam sendiri. Dengan bulu kuduk meremang karena marah. Menggeletar dalam sepi; penuh gejolak yang akan membuncah.

(*Rest in peace Ruyati binti Sapubi. Ash to ash. Dust to dust. Innalillahi. You’re gone but not forgotten*)


Waktu Papa Belajar Ballet

ini gambar tutu asli, bukan yang jadi-jadian yang dibikin oleh bangaiptopBegini loh, rumah saya tidak besar. Tapi punya jendela kaca yang walaupun tingginya hanya 30 cm tapi panjangnya sekitar dua meter. Dari kaca jendela tanpa tirai dan hanya dibatasi oleh beberapa pot bunga kecil dan kuas untuk melukis, semua sisi rumah saya bisa terlihat dengan baik oleh tetangga-tetangga yang melintasi gang depan. Pada intinya, saya memang tidak punya banyak privasi melalui jendela tersebut.

Beberapa hari lalu, putri saya main-main di depan monitor komputer. Kelihatannya dia terlalu asyik melihat tayangan tari ballet melalui youtube. Tiba-tiba dia turun dari kursi dan lalu ikut-ikutan bergerak-gerak melonjak kesana-kemari loncat-loncat seperti penari ballet. Saya ketawa-ketiwi melihatnya.

Begitu melihat saya tertawa, ia berhenti. Dengan mulut cemberut ia berkata, “Papa. Kenapa kamu tertawa! Kamu tidak lihat saya sedang sibuk? Ayo, kamu juga ikut menari seperti saya”

Hah! Saya bengong mendengar permintaannya. Tapi hanya sejenak. Lalu saya mulai bergerak-gerak disampingnya sambil menari mengikuti tari ballet anak-anak yang kami lihat melalui youtube.

Ia berhenti sejenak. Mulutnya masih tetap cemberut. “Papa! Bukan begitu caranya. Kamu harus benar-benar ikuti gerakan anak-anak itu”

Saya protes, “Tapi papa kan sudah bener bergeraknya, Novi. Papa harus bagaimana lagi?”

Dengan tanpa dosa dia bilang, “Kamu harus pakai pakaian seperti mereka papa”

“Tapi papa nggak punya rok sayang. Mereka itu pakai pakaian khusus untuk ballet. Namanya tutu. Papa nggak punya itu”

“Umur papa kan sudah empat tahun. Umur saya tiga tahun. Papa lebih tua daripada saya, papa harus cari cara dong!” katanya sambil melihat muka saya seakan seperti menuntut.

Eh buset bocah. Emang bapaknya siapa kok yaa minta-minta saya punya seragam penari ballet.

Tapi yaah demi anak perempuan semata wayang. Saya rela-relakan akhirnya ke gudang. Cari koran bekas. Dirangkai. Digunting. Lalu saya jadikan rok mini rumbai-rumbai demi menyenangkan si buah hati. Setelah itu saya balik lagi ke ruang tengah. Ke depan monitor, “Nah Novi, papa sudah punya tutu nih sekarang. Jadi, kita bisa menari sama-sama sekarang?”

“Yaa nggak dong papa. Kamu nggak boleh pakai baju dan celana itu”

“Lah terus papa pakai apa dong?!”

Dengan cueknya ia buka baju dan celana dan hanya menyisakan popok dan celana dalam saja. “Begini papa. Kalau mau menari ballet, nggak boleh pakai baju dan celana sembarangan”

Hah! Sekali lagi saya terbengong-bengong. Edan, masa iya saya harus hanya pakai celana dalam diliputi rok mini rumbai-rumbai dari koran bekas. Tapi sekali lagi, akibat tatapan mata Novi Kirana yang sedemikian mengiba, ya sudah saya turuti permintaannya.

“Papa, kamu kok nggak pakai popok sih? Pakai popok dong biar sama dengan saya. Nanti kalau lagi ballet kamu mau kencing bagaimana?”

“Yaelah Novi, papa kan sudah lebih besar daripada kamu. Papa nggak usah pakai popok lagi dong. Papa ke WC saja”

Jadi, saat itu di ruang tengah rumah saya, terlihatlah sepasang bapak dan anaknya sedang menari ballet hanya pakai celana dalam saja. Dan seketika itu pula, kami langsung beraksi meniru para penari ballet cilik yang ada di youtube.

Tanpa saya sadari, akibat musik ballet yang mungkin terlalu keras ternyata banyak kepala bermunculan dari balik jendela rumah saya. Buset, ternyata tetangga sedang melihat saya dan putri menari-nari mengikuti musik. Jadi, saya yakin dihadapan mereka terlihat anak kecil berusia tiga tahun dengan seorang laki-laki berambut awut-awutan berperut buncit yang hanya mengenakan celana dalam diliputi rok mini kertas koran rumbai-rumbai sedang pura-pura jadi penari ballet cilik.

Karena pemandangannya cukup ajaib, saya sambil cengar-cengir hanya melambaikan tangan ke arah mereka sambil berkata, “Halo. Hehehe….”

Mereka melambai balik. Dengan senyum yang terlihat dipaksakan. Dengan tatapan mata yang sukar dijelaskan dengan kata-kata.

Tidak lama setelah tetangga bubar akibat tayangan musik ballet habis dan putri saya sudah mengalihkan perhatian bermain balok-balok kayu menyusun rumah-rumahan, saya pun kembali ke ‘seragam normal’. Celana jeans dan t-shirt.

Begitu selesai berpakaian ada telpon masuk. Rupanya dari seorang sahabat. Dari suara telpon terdengar kalau ia panik.

“Bangaip… Gua stress nih”

“Lah kenapa? Santai aja. Gua kan satu-satunya temen lo yang punya nama belakang Top dengan tambahan Deh. Hehehe… Masa sih ada masalah yang ga bisa diselesaikan?”

“Adek gua bang.. Aduh masalah banget deh tuh anak”

“Kenapa ama adek lo?”

“Adek gua, aduuh stress banget gua nih. Masa foto-fotonya kesebar di internet. Udah gitu diperes pula. Aduuh gua stress nih, emak gua aja ampe stress… Aduuh pusiing!”

Dari telpon, saya minta ia duduk dan lalu minum air segelas. Ambil nafas, lalu baru mulai bicara. Kalau tidak, susah mendengar ia bilang apa. Untung saja ia menurut. Maka beberapa menit kemudian akhirnya ia bicara dengan lebih runut dan tidak lagi terengah-engah.

Saya dengar ceritanya dengan seksama. Rupa-rupanya si adik kangen dengan suaminya yang ada di luar negeri. Mereka bercinta melalui internet. Si adik, mengirimkan beberapa foto kategori panas dan video-video syur ke alamat email suaminya. Rencananya, materi tersebut tentu saja berguna sebagai pengobat rindu sang suami. Bagaimana menggunakannya, tentu saja tidak perlu saya ceritakan di sini. Yang perlu saya ceritakan adalah bahwa alamat email si suami rupanya dimasuki orang nakal. Entah alasannya apa, akhirnya foto-foto si istri tersebar luas di internet. Yang paling parah, sekarang malah ada oknum yang mengancam untuk meminta uang segala. Tidak tanggung-tanggung, kalau tidak diberi 20 juta rupiah maka foto-foto dan video si istri yang sekaligus dosen ini akan disebarkan ke sekolah dan mahasiswanya.

20 juta rupiah walaupun bisa dibayar oleh sang suami, tentu saja bukan sejumlah uang yang sedikit. Maka sore itu, kakak iparnya yang sekaligus sahabat saya menelpon dengan suara bergetar akibat sedih, marah dan kecewa yang bercampur jadi satu.

“Bang, gimana kalo foto-foto ama video adek gua kesebar dikampusnya?”

“Adek lo kan korban, Wi. Dia kan cuman kangen ama suaminya dan suaminya kangen ama dia. Jadi kalo ada orang yang memanfaatkan itu buat kepentingan pribadi, yaa jelas bukan salah adek lo”

“Kalo sesial-sialnya mahasiswa dia dapet tuh foto gimana ceritanya? Adek gua nanti jadi bahan coli dong? Apalagi amit-amit deh kalo adek gua ditangkep polisi”

“Saran gua sih jujur aja ama sekolah dan civitas akademikanya kalo ada orang yang mau berbuat jahat sama dia. Dan mengakses dan nyebarin materi personal dia, sama aja setuju dengan kejahatan yang terjadi. Adek lo itu korban kejahatan. Bukan pelaku”

“Tapi Bang lo tau ga Ariel Peterpan itu kena kasus UU pornografi? Dia kan sama kayak gini kasusnya. Emangnya dia niat nyebarin videonya. Kok bukan yang nyebarin yang dihukum malah si Arielnya yang dihukum?”

“Buat gua, itu nggak adil. Tapi gua pribadi sih nggak begitu ngikutin kasus Ariel jadi nggak bisa komentar banyak. Buat gua saat ini yang penting adek lo. Yang jahat dalam kasus ini kan orang yang nge-hack account email adek ipar lo. Yang jahat kan yang meras duit dan ngancem mau nyebarin foto-foto telanjang adek lo. Nah kalo mahasiswa adek lo apalagi rekan sesama dosen ikutan download tuh foto, apalagi ikutan nyebarin. Mereka bukan lagi ngaco secara etika. Tapi juga ikut nyebarin kejahatan dan sama-sama melakukan tindak kejahatan. Lebih parah lagi, kalo bahkan ikutan menghakimi adek lo secara moral”

“Tapi Bang, orang Indonesia kan biasanya begitu. Nggak tau apa-apa tapi ujung-ujungnya maen hakim sendiri”

“Hell yeah, gini-gini gua orang Indonesia… Jangan generalisasi dong. Hehe”

Wiwik diam. Saya jadi tidak enak. Bisa jadi ia bicara begitu karena memang itulah satu-satunya kenyataan yang ia tahu. Saya pikir saya lebih baik membantunya secara kongkrit daripada bicara dalam tataran filosofis yang sama sekali malah membuat ia jadi tambah pusing.

Saya telpon mamanya Wiwik serta adik iparnya. Menjelaskan langkah yang tidak perlu saya ceritakan disini secara teknis (karena terlalu detil dan amat teknis) untuk memulihkan keadaan yang bikin panik keluarga mereka ini.

Langkah yang saya ambil secara garis besar adalah:

  • Mengambil ulang akun email dan facebook adiknya Wiwik dan mengganti passwordnya secepat mungkin (*Jangan tanya saya gimana caranya, yang jelas sih saya bukan hacker dan semuanya saya lakukan secara legal*)
  • Melakukan investigasi kepada siapa saja email berisi foto-foto dan video telah dikirimkan. Merekam jejak dan mendokumentasikannya sebagai bukti bahwa adik Wiwik dan suaminya sama sekali tidak ikut dalam penyebaran foto dan video mereka kepada publik.
  • Mengirim surat elektronik berisi cerita jujur apa adanya kepada pihak yang telah disebarkan materi dewasa tersebut agar tidak mendistribusikan foto dan video ke khalayak luas.
  • Meminta adik Wiwik untuk tetap sabar dan membuat blog pribadi. Isinya adalah kronologis mengapa foto dan videonya sampai tersebar di publik. Jelaskan kepada publik apa yang ia rasakan dan ia alami sejak akun surat elektronik suaminya dibobol dan mereka diperas.

Tujuan semua langkah-langkahnya sederhana, yaitu melawan balik. Mereka sudah diintimidasi dan mungkin akan disiksa oleh opini publik, satu-satunya jalan yaa jangan diam.

Yang saya kaget sebenarnya bukan dari cerita adiknya Wiwik. Yang membuat saya sedemikian terkejut adalah, belum sampai seminggu sudah empat ‘kasus’ serupa yang saya tangani. Saya sebut kasus pakai tanda kutip sebab saya sama sekali bukan profesional ahli informatika. Apalagi detektif swasta. Yang datang menelpon atau mengirim email minta bantuan juga biasanya teman atau temannya teman. Kalau bisa saya bantu yaa saya bantu. Kalau tidak yaa saya meminta maaf sebab tidak bisa berbuat banyak.

(*Ada yang meminta untuk membongkar akun facebook suaminya sebab ia pikir suaminya kawin lagi. Gara-gara cemburu, facebook jadi korban. Eh buset, saya belum sejago itu untuk bongkar-bongkar rahasia FB orang lain. Hehe. Oh ya, Wiwik itu bukan nama sebenarnya dan kasus di atas adalah contoh kasus yang atas perijinan teman saya boleh dipublikasi di blog ini. Segala peristiwa yang mungkin mirip dan telah terjadi, adalah kebetulan belaka. Sebab semuanya memang hampir mirip seperti ini. Modus paling mendominasi utamanya gara-gara ‘cinta’*)

Sejak makin maraknya sosial media melalui perangkat genggam, saya cermati secara subjektif bahwa makin banyak orang yang mengeluh atau merasa tersiksa akibat foto atau video personal mereka tersebar di publik. Ada yang mengeluh karena tanpa sadar foto personal tanpa seijinnya tersebar kepada publik melalui sosial media (jadi yang bawa hape pun bisa lihat). Ada yang mengeluh karena dulu waktu belum sadar dahsyatnya keganasan internet, buka-bukaan didepan publik (dan sekarang menyesal). Yang pasti, banyak sekali yang mengeluh.

Mudahnya akses internet dan mudahnya menampilkan gambar semau kita dihadapan publik adalah awal. Beberapa yang cerdas, tentu saja hati-hati dalam membuat status dalam sosial media dan menampilkan tayangan apa yang perlu diberitahu ke publik. Bisa jadi mereka lebih paham rimba lalu lintas data internet. Bisa jadi juga karena hanya ingin sekedar bergaya politik pencitraan diri dalam kata lain sok jaga image.

Beberapa yang kurang begitu hati-hati, yaa dengan bahagianya memberikan amunisi pada publik secara detail kehidupan mereka sehari-hari. Bisa jadi karena mereka ingin berbagi. Bisa jadi karena keinginan bawah sadar ingin menampilkan aurat di depan publik.

Yang pasti ujung-ujungnya memang banyak yang mengeluh.

Diantaranya mengeluh ke saya (*Loh, kok saya malah curhat begini. Hehe*). Saya sendiri sih tidak masalah. Sebab saya kan hobi menerima keluhan (*Jangan-jangan saya masochist? Haha*). Tapi kadang-kadang, keluhannya telat. Kasihan, ada bapak yang jual sawah dan kerbau hingga seluruh harta kekayaan untuk mengirim putrinya ganti sekolah dan domisili ke Singapura karena foto digital bercumbu sang anak yang masih kelas tiga SMP itu disebarkan oleh mantan pacarnya yang sakit hati.

Saya bukan moralis. Saya mendukung gerakan jangan telanjang di depan kamera bukan gara-gara ada hubungannya dengan reliji, moral, etik dan bla-bla-bla lainnya. Saya mendukung gerakan itu dengan alasan yang sederhana. Sebab undang-undang digital di RI (mau namanya yang berkaitan dengan pornografi atau intelejen, whatever lah. Sama saja semuanya. Isinya ajaib)  belum sepenuhnya berdiri untuk mendukung korban. Kasus Ariel Peterpan contoh yang sederhana bahwa wilayah pribadi digital informatika WNI masih bisa diusik oleh pemerintah atau WNI lain yang merasa bahwa mereka yang paling benar.

Itu contoh yang sederhana. Mau contoh yang lebih rumit? Sila google DNS Filtering di republik tercinta. Mau lagi yang lebih rumit? Pelajari data digital audit institusi negara. Lagi yang lebih rumit? Masih banyak. Makin teknis, makin menakutkan isinya. Semuanya sama. Ada hak-hak manusia dalam bertukar informasi melalui internet yang dilanggar oleh pemerintahnya. Ada wilayah pribadi yang selalu dilanggar demi rasa ingin tahu orang-orang yang sok tahu atau bahkan untuk institusi yang merasa perlu menyembunyikan pada publik sesuatu.

Saya ingat waktu cerita hal ini, Wiwik menukas cepat. “Bang, bukannya bagus kalo disensor pemerintah. Kan gampang, foto adek gua nggak bakal ditonton mahasiswanya?”

“Wik, kalo orang kebelet mah, apa aja dilakuin. Jangankan mutusin sensor, email orang laen aja bisa dia jebol. Menurut lu lebih bagus mana cara mendidik anak makan sayur. Dipaksa trus dipukul biar makan? Apa dibujuk dengan diberitahu jujur bahwa sayur itu bagus buat dirinya?”

Ia diam. Ia tahu maksud analogi yang saya lontarkan.

Untungnya hari itu selesai dengan penutupan yang baik. Kebetulan si pelaku pembobolan dan pemerasan akhirnya bisa didentifikasi. Bukti berhasil dikumpulkan untuk cukup menyeretnya ke meja pengadilan. Beberapa orang yang telah menerima foto-foto dan video seronok itu dengan sukarela memberikan pernyataan bahwa mereka tidak akan mendistribusikan tindak kejahatan.

Selesai mengobrol dengan Wiwik melalu telepon putri saya duduk di samping sambil melihat dengan tatapan mata serius ke ayahnya. “Papa, kamu tadi ngomong apa sama teman kamu?”

Yaelah, bocah kok yaa mau tahu aja bapaknya ngapain. Tapi dengan santai saya jawab, “Bantu teman Papa, Cintaku. Kasihan dia. Fotonya dicuri orang”

“Papa bantu ambil kembali fotonya teman papa?”

“Iya sayang. Kalau bukan milik kita kan bukan hak kita untuk mengambilnya”

“Papa, ayo kita ambil foto”

“Foto Novi berdua papa? Ayoo…”

“Bukan papa. Foto kamu sendiri saja. Papa jangan pakai baju itu. Itu baju kurang bagus. Papa pakai tutu saja yaa”

Saya melongo. Astaga, masa sih lagi-lagi saya harus pakai celana dalam saja dibalut rok mini kertas koran rumbai-rumbai. Apa kata dunia kalau foto ini jadi digital? Foto bapak-bapak buncit dari pinggiran kota memakai tutu palsu sambil meniru pebalet cilik.

Saya protes, “Novi, kalau foto papa dicuri orang bagaimana? Kasihan dong papa nanti?”

“Kenapa dicuri papa? Kalau ada yang minta, kasih saja”

Saya makin melongo ketika sambil tertawa ia mengangkat kamera dan blitz melahap saya dengan seketika itu juga.


Mungkin Saya Terlalu Banyak Menonton Film Star Wars

Sebelum meninggal, pelukis Indonesia Salim pernah berkata pada Kang Adi sahabat saya. “Di, kalau berkarya jangan mengharapkan kaya. Jangan mengharapkan terkenal. Jangan mengharapkan dipuja. Berkarya saja sebab karena ia bagian dari hidup kamu. Kalau memang pada suatu hari karya kamu disukai publik, itu lain lagi ceritanya. Tapi, jadikan hidup kamu dengan berkarya”.

Lalu beberapa malam lalu, Kang Adi kembali mengulang nasihat itu ke saya. Bedanya, kalimat ‘Di’ diganti jadi ‘Rip’. Hehehe.

Kami sebelumnya memang membicarakan Salim. Pelukis asal Nusantara yang bersahabat akrab dengan para bapak bangsa seperti Sjahrir dan Hatta. Yang dikaruniai umur panjang bahkan sempat menginjak usia 100 sebelum akhirnya maut menjemput. Salim yang selalu bangga dengan peci Cap Indonesia yang ia sebut dengan, “Setiap bertemu orang Indonesia aku pakai selalu peci ini”. Salim yang sama yang tetap memakai pecinya bahkan ketika menjadi relawan berangkat perang ke Catalonia sebagai seniman dalam revolusi Spanyol tahun 1936, yang mungkin disana bertemu dengan Hemingway, pujangga Amerika.

“Jadi begitu lah, Rip. Kata Salim berkaryalah karena lu merasa bahwa berkarya itu bagian dari hidup lu. Masak motret cuma kalo mao ikut lomba aja? Nyari apa, nyari nama? Nyari duit? Nyari piala? Sekedar ngebuktiin kalo lu bisa menang? Yaah jangan lah. Ahh tapi aneh juga sih, gua sendiri bilang ama Salim, kan nggak semua seniman kebutuhannya sama. Seniman kan manusia. Kebutuhannya beda-beda”

Obrolan ini memang bermula dari beberapa riset foto yang akan saya lakukan. Sederhananya, saya keceplosan bahwa akan melakukan semacam riset dengan alasan yang kadang susah diterima dengan kebanyakan orang. Setidaknya, jika orang yang dimaksud adalah para ‘temennya bangaiptop’. Alasan saya riset, ternyata uang. Saya mau ikut kompetisi dan berharap menang lalu dapat duit dari sana. Kang Adi tidak melarang, menyayangkan atau melihatnya sebagai dilema moral berkesenian. Tidak. Sama sekali tidak. Ia hanya memberitahu bahwa ada lomba atau tidak, ikut kompetisi atau bukan, saya sebaiknya berkarya. Apapun karyanya.

Saya diam. Tidak bisa bilang apa-apa. Saya pikir Kang Adi benar. Hanya mungkin, prioritas saat ini yang saya miliki memang berbeda.

Tapi omong-omong sial prioritas, saya jadi ingat suatu hari obrolan bersama si Hadi anak juragan tembakau. Malam itu kami bergosip tentang beberapa orang teman. Namanya gosip, yaa makin digosok makin sip. Kebetulan, kami menggosipi si Diki yang dua tahun telah kembali pulang ke pangkuan bumi pertiwi.

Saya: “Di, si Diki gimana kabarnya yaah?”
Hadi: “Wah dia jadi kaya, bang”
Saya: “Bagus dong! Jadi kita bisa ditraktir, hihihi…”
Hadi: “Wah ati-ati bang, dia bergabung sama Dark Force sekarang”

Saya mau senyum. Tapi saya dan Hadi, kami sama-sama orang aneh yang menyukai film fiksi Star Wars. Dark Force adalah kekuatan besar yang dikomandani oleh Anakin Skywalker yang lalu berubah menjadi Darth Vader sebagai kekuatan antagonis dalam film Star Wars. Kekuatan ini, pada intinya hanya punya satu tujuan. Yaitu menguasai alam semesta dan membunuh para ksatria Jedi yang membela umat manusia. Setelah itu, menjadikan manusia dan semua makhluk serta kekayaan alamnya sebagai budak mereka.

Nah, kalau Diki pulang ke republik tercinta lalu bergabung dengan kekuatan hebat seperti Dark Force yang ada dalam budaya mainstream merusak bumi Indonesia, bisa gawat ceritanya.

Sebab Dark Force itu sebutan kami untuk konglomerasi yang mendapatkan banyak kemudahan dan fasilitas dari pemerintah untuk mendayagunakan seluruh sumber daya alam dan manusia yang melingkupi Indonesia hanya demi kesejahteraan konglomerasi dan eksekutif pemegang dividen.

“Di, kita kan cuman ngegosip doang. Kamu jangan serius-serius dong…”

“Yah abang… Kalo si Diki kerja disitu baru setengah tahun sih itu baru gosip, Bang. Dia kan sudah hampir dua tahun kerja di sana. Begitu selesai jadi doktor langsung pindah haluan. Dia kan ngambil kerjaan yang ditawarin ke abang”

Saya tergagap-gagap, “Loh kamu tau darimana ini posisi itu dulu ditawarin ke saya juga?”

“Halah, gosip yaa digosok makin sip. Kabar burung toh bang. Cek aja di twitter. Hihi…”

“Tapi si Diki? Wah masa sih. Si Diki kan idealis banget. Mana mau dia ngerusak hutan? Apalagi Kalimantan. Dia kan bapaknya orang Samarinda. Asli Kalimantan dia itu. Kok gabung sama perusahaan yang kerjanya ngebabat hutan Kalimantan?”

“Terakhir ketemu Diki…”

“Kapan kamu ketemu?” saya sela dengan cepat omongan Hadi. Biasanya kalau ia berbohong, akan gelagapan jawabnya. Saya kenal Hadi.

Tapi sial lancar sekali ia menjawab, “Saya kan baru dari Jakarta, bang. Baru dua minggu lalu. Disana ketemu Diki. Hebat dia bang. Apartemen dikasih kantor, itu juga plus pembantu. Mobil juga dikasih sama supir-supirnya. Wah bang, pembantunya cakep loh. Hebat tuh perusahaan. Bisa ngasih pembantu model gitu ama si Diki. Si Diki kan bujangan bang. Dikasih pembantu muda, seksi dan aduhay begitu ya betah lah dia di rumah. Dia sering kerja dari rumah aja sih. Ke kantor kalo meeting doang. Wah hebat lah tuh anak. Nggak kena stress macet Jakarta. Belum lagi gajinya bang. Kayaknya sih annualnya bisa satu milyar lebih. Posisinya tinggi bang. Nih kartu namanya, baca aja. Tapi bang, males banget ngomongin Diki. Dia sekarang kebuka deh kedoknya sebagai PhD project. Jadi doktor cuman kalo gara-gara ada duitnya. Cuman gara-gara project. Mana mau dia ngebangun negeri? Jangankan peduli masyarakat se indonesia, kampungnya sendiri aja dikhianatin. Lah capek deh ngomongin Diki. Ngomongin pembantunya aja yuuk?”

Saya cengar-cengir menjawabnya.

Saya sama sekali tidak tertarik isu yang akan dibawa Hadi, yaitu semulus apa paha pembantu Diki. Apalagi bagaimana si Diki menghabiskan gajinya. Itu bukan urusan saya. Tapi yang saya ingin tahu adalah, sejauh mana si Diki sudah bergerak dengan keahliannya.

Akibat penasaran. Saya buka-buka arsip lama media yang ada di Indonesia. Mulai dari arsip digital hingga arsip cetak konvensional. Baru sadar sesadar-sadarnya, bahwa sebuah perusahaan yang dulu terkenal dianggap perampok kekayaan rakyat sejak dua tahun ini namanya sama sekali tidak banyak tersebut di media. Sejak Diki masuk sebagai bagian dari mereka. O-ow… Kelihatannya kesaktian Diki dipakai dengan semaksimal mungkin oleh perusahaan tersebut. Sebab hanya ada dua pilihan untuk memaksa orang berhenti membicarakan keburukan kita. Pertama, berhenti berbuat buruk. Kedua, menutupinya dengan semua tipu daya bahkan dengan yang belum pernah tercatat dalam sejarah manusia.

Kata Hadi, kenapa Diki dibayar semahal itu karena ia harus melakukan langkah yang kedua. Tapi toh hidup itu pilihan. Diki sudah memilih jalannya. Maka, konsekuensi adalah hal yang wajar ia terima. Saat ini, konsekuensinya adalah punya mobil mewah dengan supir, pembantu seksi, uang tabungan banyak dan hidup di Jakarta tanpa stress kena macet. Lanjut Hadi, “Asik juga yaah hidup begitu?”

“Apa asiknya sih digosipin ama dua orang manusia yang sudah jelas hidupnya nggak bagus-bagus amat? Hehe…”, kata saya sambil garuk kepala.

“Nah itu maksud saya, Bang. Kita kan secara akademis nggak sehebat Diki. Jangankan begitu, duit kita aja nggak sebanyak duit Diki. Tapi kita kan jauh lebih baik dari dia, kan? Maksud saya, kita aja yang udah sehina ini masih bisa menghina dia, berarti sampai mana taraf kehinaan dia yaah?”

“Wah itu sih kamu… Saya sih nggak ngerasa lebih baik dari siapa-siapa. Hehehe. Saya sih cuma bingung, Di. Kalo Diki direkrut sama mereka. Makin berat dah nasibnya bumi kita. Waduh, orang sepinter dan seberbakat Diki kok yaa harus jadi begitu?”

“Lah terus kalo udah pinter dan berbakat harusnya jadi gimana, Bang?”

Saya melongo. “Yaelah, mana saya tau Di?”

Obrolan berhenti sampai di situ. Hadi pulang lagi ke Indonesia. Ia mampir sebentar ke rumah saya karena memang sedang berbicara di hadapan sebuah forum internasional yang membutuhkan keahliannya. Sejak saat itu, saya tidak pernah lagi mendengar kabar Diki. Satu-satunya teman saya yang cukup akrab dengan Diki yaa Hadi.

Tapi sebagaimanapun jauhnya ia dan kapan kejadiannya, obrolan dengan Hadi malam itu memang sangat jelas masuk ke otak saya.

Intinya, jika seseorang mampu dan berbakat. Apa yang harus ia lakukan?

Balik ke omongan Salim, jawabannya jelas; Harus berkarya. Sebab berkarya itu adalah bagian dari hidup.

Saya pikir, saya jarang berkarya sebagai bagian dari hidup. Biasanya, saya berkarya karena saya gelisah. Gelisah karena deadline kerjaan. Gelisah karena harus mengumpulkan tugas dulu ketika sekolah. Atau gelisah karena butuh sesuatu. Saat ini saya gelisah mau membelikan putri saya mainan baru. Sayang saya belum ada uang. Jadi, saya berkarya, saya memotret, pada intinya memang hanya karena mau memberikan anak saya boneka anjing besar berbulu lembut yang bisa menyalak.

Edan memang, riset macam apa yang saya lakukan jika ujung-ujungnya hanya mau membelikan anak mainan.

Saya tidak idealis? Entahlah. Jawabnya iya atau tidak sama sekali tidak begitu banyak pengaruhnya. Saya sendiri tidak bisa menempelkan cap atau stigma pada diri saya. Sama sebagaimana saya tidak bisa menempelkan cap itu pada jidat Diki.

Mungkin saja Diki punya motif yang sama dengan Anakin Skywalker. Bergabung ke Dark Force lalu menjadi Darth Vader demi menyelamatkan jiwa istri yang amat dicintainya.

Sebab di ujung hari, riset atau tidak, toh saya biar bagaimanapun juga akan mendapatkan boneka anjing besar yang bisa menyalak.

Sebagaimana di ujung hari, perusahaan tempat Diki bekerja semakin berhasil mengaburkan jejak-jejak kejahatan mereka.

*Kelihatannya saya (lagi-lagi) patah hati dengan superioritas mafia hukum RI*


Pilih Mana? Percaya Atau Tidak?

Saya memang agak-agak kurang beruntung hati beberapa hari belakangan ini. Masalahnya dimulai dari hal-hal yang mungkin beberapa orang terlihat sederhana sampai yang membingungkan.

Saya kehilangan tulisan. Tulisan berseri mengenai sosial media dan perubahan yang melingkupinya. Isi totalnya ada empat tulisan. Eh… Hilang! Dicari kemana-mana tidak ketemu. Aduh, hati ini kok yaa gimana rasanya begitu mengetahui bahwa tulisan itu memang benar-benar hilang.

Kedua, saya kehilangan mood untuk menjumpai praktisi medis yang biasanya membantu kelangsungan hidup sehari-hari. Alasannya sepele, bosan. Bosannya juga ternyata sepele sekali, yaitu akibat rasa kepercayaan yang semakin merosot karena mereka menasihati saya untuk meminum paracetamol ketika saya sakit kepala. Edan, setiap hari saya kadang bisa 4-5 kali sakit kepala sebelah. Masak sih saya harus minum itu obat terus-terusan? Lah bagaimana kalau saya nanti jadi painkiller junkie?

Ketiga, saya kerap bertemu orang yang mati-matian mempertahankan argumen bahwa karena agamanya ia jadi tidak perlu belajar.

Masalah pertama walaupun makan waktu riset, saya bisa usahakan solusinya dengan cara menulis ulang. Begitu juga dengan problem kedua, saya tinggal cari spesialis dan penasihat medis yang lebih mumpuni. Jadi pada intinya, bisa ditanggulangi dengan optimis.

Yang bikin saya kebingungan, yaa bagaimana ini dengan masalah saya yang ketiga.

Akhir-akhir ini saya memang kerap bertemu kenalan yang menganggap bahwa apa yang ada dalam agamanya adalah sebuah kebulatan superior yang tidak bisa diubah-ubah.

Sumpah mati, saya tidak benci agama. Sebagaimana saya pribadi tidak pernah membenci pemeluk agama dan keyakinan tertentu (apapun agama atau keyakinannya). Saya akui saya memang punya jarak dengan agama, tapi bukan berarti saya bebas mencelanya. Dalam hidup ini, ada beberapa manusia tertentu yang dalam kondisi hidupnya, tidak punya apa-apa selain agama, dan hanya agama yang membuat mereka akhirnya bertahan untuk tetap hidup dan menyemangati orang lain agar tetap hidup. Saya menghormati mereka dan menghormati jalan hidup yang sengaja atau tidak sengaja telah mereka pilih tersebut. Termasuk, jalan hidup beragama.

Tapi, akhir-akhir ini saya mungkin memang sedang kurang beruntung. Saya bertemu dengan orang yang mati-matian menolak teori evolusi dengan alasan bahwa itu hanya teori tanpa bukti. Ada yang menolak bahwa umur bumi lebih tua dari 6 juta tahun sebab menurut beliau bumi dalam kitab sucinya diciptakan dalam enam hari (jadi kalau bahasa kitab suci adalah perumpamaan dalam penciptaan bumi, maka harus ada angka enamnya. Tidak peduli bahwa ilmu geologi bisa membuktikan bahwa umur bumi sekitar 54 milyar tahun). Hingga menolak untuk percaya bahwa manusia pernah mencapai bulan dengan alasan kalau guru fisikanya dulu semasa SMU pernah bilang bahwa manusia tidak mungkin mendarat di bulan sebab manusia tidak bisa melampaui kekuatan magis yang meliputi bumi yang membuat bumi kita terlindungi dari serangan meteor (*Guru Fisika macam apa itu coba?*)

Dari sekian banyak orang yang saya temui dan menolak fakta ilmu pengetahuan hampir semuanya bilang bahwa agama yang ia peluk yang membuatnya tidak percaya (*Satu orang alasannya cukup ajaib, dia bilang “Males ahh tau yang begituan. Ga penting!” yang saya langsung balas dengan tersenyum manis*).

Hampir semuanya bilang bahwa fakta ilmu pengetahuan sama sekali tidak sesuai dengan ajaran keyakinan yang ia percayai sejak kecil. Jadi, tidak perlu dipercaya. Sebuah argumen yang benar-benar ajaib. Bukankah fakta ilmu pengetahuan itu tidak pernah memaksa untuk dipercayai? Bukankah mereka hanya sekedar fakta? Yang bicara apa adanya sesuai bukti.

Dari beberapa kali mengobrol dengan para manusia yang menolak fakta ilmu pengetahuan dengan basis landasan utama akibat agama melarangnya, saya akhirnya mengambil beberapa sampel pola pendidikan sederhana;

  1. Bahwa tingkat pendidikan tidak berbanding sejajar dengan pemahaman terhadap ilmu pengetahuan. Belum tentu makin tinggi sekolah jadi makin memahami kompleksitas hidup
  2. Bahwa pendidikan agama di RI cukup ekstrim setidaknya hingga tahun 90-an. Beberapa pendidik bahkan kerap memberikan opini pribadi mereka mengenai agama justru ketika mereka pada saat bukanlah sebagai pengajar agama
  3. Bahwa adalah wajar mengetahui bahwa siswa WNI di RI harus memiliki agama sementara tidak wajar untuk mengetahui dan mengkritisi mengapa siswa-siswi maupun pendidiknya di RI harus beragama. Efek sampingnya, terjadi penumpulan pada daya kritis siswa
  4. Bahwa semenjak sekolah dasar pun siswa telah diberi pemahaman untuk berkumpul dan berserikat berdasarkan agama yang dianutnya
  5. Bahwa ada siswa yang sedemikian apatisnya terhadap kehidupan beragama, ia mengambil jarak dari komunitas beragama. Di sisi lain, ada siswa yang malah mengambil kesimpulan bahwa ia tidak perlu belajar lagi dengan alasan ilmu agamanya sudah cukup jadi apapun fakta terbaru ilmu pengetahuan, tidak perlu ia terima.
  6. Bahwa ada siswa yang merasa tidak penting tahu bahwa bumi itu bulat atau kotak. Yang penting sekolah nilai tinggi agar lulus kerja bisa jadi PNS atau karyawan BUMN atau menempati posisi yang membuat hidupnya nyaman (*walaupun definisi nyamannya ternyata sangat bisa diperdebatkan*)

Menarik bukan?

Yang saya kagumi adalah bahwa yang melontarkan pernyataan di atas adalah para WNI yang dulu sempat sekolah dasar hingga atas di Indonesia dan lalu melanjutkan sekolah lagi di luar Indonesia.

Balik lagi ke topik awal. Saya sempat menyesal bertemu orang-orang seperti itu. Dalam hati saya sempat merutuk, “Ini mah buang-buang waktu aja”.

Tapi… Eh tapi kok yaa saya sempat kepikiran. Jika saya bilang di awal bahwa mungkin saya kurang beruntung saya pikir saya salah. Sebab ternyata bisa jadi kalau justru ini adalah momen-momen keberuntungan saya. Bertemu dengan manusia yang berbeda.

Tidak banyak orang yang setuju dengan pola pikir saya. Dengan keputusan saya untuk tidak bisa dengan mudah mempercayai Nyi Roro Kidul. Padahal apa sih yang kurang dari si Nyai? Sudah single, cantik, seksi bahkan punya banyak kamar hotel sendiri. Apa coba yang kurang sehingga saya masih tidak percaya?

Jangankan orang-orang, Ibu dan adik-adik saya saja sempat khawatir dengan apa yang saya percayai dan dengan apa yang tidak. Tapi toh itu tidak menghilangkan kenyataan bahwa kami amat mencintai satu sama lainnya.

Mungkin, dengan datangnya manusia-manusia baru yang punya kepercayaan yang berbeda itu, saya malahan jadi bisa melihat bahwa perbedaan antara kami itu sebenarnya amat indah :)

(*Percaya atau tidak? Saya sering diundang makan-makan oleh mereka yang ajaib dan berbeda keyakinannya ini. Lah saya turuti dong undangannya, buat saya kan makan-makan dan ketawa-ketiwi itu indah. Hehehe*)


Operasi Payudara

Beberapa hari lalu saya mengobrol dengan putri saya Novi Kirana yang baru saja menginjak usia tiga tahun. Seperti biasa, kalau mengobrol posisi kami memang agak aneh. Sejak ia bayi, kami memang suka mengobrol serius ketika saya sit-up atau push-up. Kalau saya sit-up, ia duduk di atas kaki atau perut saya. Kalau saya push-up, ia duduk di atas punggung saya.

Kali itu, saya sedang melakukan beberapa sit-up. Ia keluar dari tepee, tenda Indian yang saya buat untuknya yang berdiri pas di ruang tengah rumah. Langsung duduk di atas perut saya. Tanpa tedeng aling-aling langsung bertanya, “Papa, kenapa dada kamu kecil?”

Dalam hati saya melengos, ‘Yaelah bocah, udah tau badan bapaknya segini-gini aja. Walopun udah olahraga segimanapun juga emang badan ini yah segini doangan. Pake ditanya-tanya segala’

Dan karena sudah ngos-ngosan saya jawab santai, “Karena papa anak laki-laki, sayang. Anak laki-laki kebanyakan nggak punya dada besar. Kalau anak perempuan punya dada lebih besar daripada anak laki-laki”

Dia buka kausnya. Dia lihat ke arah dadanya sendiri. “Kenapa dada saya sama seperti dada papa?”

Saya jawab, “Karena kamu anak papa, Cintaku”

“Tapi kan saya anak perempuan?”

“Iya, nanti juga kalau sudah besar dada kamu tambah besar”

“Kalau papa besar dada papa juga tambah besar?”

Saya bengong. Buset dah, anak kecil pertanyaannya memang ajaib kok yaa? Saya berhenti sit-up. Tapi matanya kecewa. Maka itu, saya sit-up lagi (*padahal sumpah saya sudah hampir kehabisan nafas. Tapi demi anak, ya sudah lah tambah satu set lagi*).

Sambil terengah-engah saya jawab, “Kalau berat papa tambah dada papa juga tambah besar nanti”

Mulutnya merocos dengan alis berkerut, itu tandanya dia sedang protes. “Tapi saya kan sudah besar! Saya sudah tiga tahun! Saya anak perempuan besar!”

Dengan lembut saya mengusap rambutnya yang makin panjang melewati dahi, “Iya kamu sudah besar. Tapi akan ada saat dimana semua anak perempuan akan lebih besar dadanya. Lebih panjang rambutnya. Lebih besar pinggulnya dan makin mengerti bahwa tubuh mereka berubah”

“Umur saya tiga tahun. Papa lebih besar daripada saya. Dada papa kecil. Umur papa empat tahun?”

Sambil cengar-cengir saya jawab, “Yaa nggak jauh beda lah kita. Papa juga masih muda kok”

Dia ke dapur. Saya bangun dari posisi sit-up sambil melakukan gerakan peregangan istirahat pada pinggul dan tangan. Saya lihat ia buka lemari pendingin mencari minuman es jeruk kesukaannya. Saya kira, obrolan siang itu selesai sudah. Namun dari balik pintu lemari pendingin ia bertanya lagi, “Kenapa dada papa kecil?”

Saya cuma diam, cengar-cengir sambil garuk-garuk kepala. Itu tandanya, percakapan ini masih akan berlangsung lama. Dan saya harus lebih banyak berolahraga akibatnya.

Saya ikut ke dapur, menyeruput es teh manis. Setelah itu saya ambil nafas sebentar lalu mulai posisi push-up dan bertanya kepadanya agar duduk di atas punggung saya.

Sambil menghisap isi botol es jeruknya dengan sedotan, ia patuh duduk di atas punggung. Dan mulailah saya bercerita.

“Dulu papa minta sama Pak Ali bos papa, supaya papa sekolah lagi. Tapi Pak Ali bilang papa sudah terlalu banyak sekolah. Pak Ali bilang papa harusnya mengajar saja. Papa kecewa”

“Terus kamu marah, papa?”

“Marah sih nggak. Tapi papa sedih. Tapi papa nggak bisa sedih, karena bos papa bilang lebih baik ilmu papa dibagi sama orang jadi papa pikir ia benar. Kalau papa sekolah lagi ilmunya buat papa sendiri saja. Tapi kalau papa mengajar ilmunya kan bisa buat  papa dan buat banyak orang. Jadi papa mengajar deh. Salah satu mahasiswi papa namanya Mel. Kamu kenal Mel? Dulu kan pernah papa kenalkan”

Lalu saya tertawa mendengar jawabannya, “Dulu kan saya masih kecil papa. Kamu jangan mengharapkan saya ingat dengan banyak teman kamu dong?”

Saya semakin terbahak-bahak ketika ia turun dari punggung, mencabut sedotan dari botol es jeruk dan memperlihatkan ke depan mata saya. “Waktu itu pasti saya lebih kecil dari ini!”

Setelah ia naik lagi ke punggung, saya melanjutkan cerita. “Mel itu mamanya Georgie dan Anne. Mereka berdua waktu masih bayi, menyusu pada Mel. Sama seperti kamu juga dulu menyusu pada mama. Cintaku Novi, kalau perempuan menyusui bayi biasanya dadanya tambah besar. Karena ada susu di sana. Sama seperti dada Mel. Tapi sayangnya ketika Georgie dan Anne sudah tidak menyusu lagi, dada Mel masih tetap besar sekali”

Ia diam. Saya juga tidak dengar suara botol es jeruknya. Tanda kalau ia sedang amat mendengar cerita dengan penuh konsentrasi.

“Punggung Mel jadi sakit. Kalau jalan susah. Sebab dadanya besar sekali”

“Kalau begitu, kenapa Georgie dan Anne tidak menyusu saja terus?”

“Sayang, kalau anak sudah besar biasanya mereka berhenti menyusu sama mamanya. Georgie sudah sepuluh tahun, Anne juga sudah delapan tahun. Jadi mereka sudah tidak menyusu lagi sama mamanya”

“Mel sakit?”

“Iya kasihan Mel. Kalau jalan susah. Kalau duduk susah. Karena dadanya terlalu besar. Jadi ia ke dokter. Ke rumah sakit. Dada Mel harus dikecilkan. Jadi waktu di rumah sakit dada Mel dikecilkan”

“Bagaimana dikecilkan dadanya? Diambil susunya untuk rumah sakit?”

Saya tertegun berhenti push-up sebentar. “Wah kalau itu papa juga nggak tahu sayang. Yang pasti beberapa bulan kemudian Mel kembali ke kelas papa. Dan dadanya sudah lebih kecil daripada dulu. Kamu tahu cintaku, ternyata ia sekarang jauh lebih bahagia punya dada kecil ketimbang punya dada besar”

Novi Kirana diam. Saya tahu, logika dalam cerita yang telah saya ceritakan masuk ke dalam benaknya. (*Itu artinya; saya sudah boleh berhenti push-up. Hehe*). Ia lalu turun dari punggung. Saya duduk dihadapannya. Sambil masih memegang botol es jeruk lalu duduk diatas pangkuan saya.

Sambil memangkunya saya bilang, “Anakku sayang, papa cinta kamu. Super cinta kamu. Papa tahu kamu cinta papa. Tapi yang lebih penting lagi, kamu harus mencintai diri kamu sendiri”

Dia berdiri, berbalik lalu memberikan kecupan di hidung saya. Sambil memeluk ia berbisik di kuping saya, “Saya cinta kamu papa. Walaupun dada kamu kecil walaupun dada saya kecil”

Tiba-tiba, saya merasa jadi lelaki berdada kecil yang paling bahagia di muka bumi ini.


Menjadi Tua Itu Pasti

Sooner or later they all will be gone
Why don’t they stay young
It’s so hard to get old without a cause
I don’t want to perish like a fading horse

(Alphaville – Forever Young – 1984)

Dekade berasal dari bahasa Yunani Kuna ‘Dekas’, artinya sepuluh. Dekade sendiri adalah ungkapan yang berarti masa dalam sepuluh tahun. Jadi kalau anda kenal orang yang bernama Deka, bisa jadi ada kemungkinan punya hubungan dengan angka sepuluh :)
(*Walaupun bisa jadi Deka itu singkatan dari Adek Kakak, hehe*)

Indonesia dua dekade lagi, seperti apa?

Itu yang ditanya oleh teman-teman saya pada suatu siang di bawah matahari yang bersinar dengan amat bagusnya.

Saya tidak tahu. Hanya itu jawaban yang terlontar dari mulut saya. Bagaimana yaa Indonesia dua puluh tahun lagi. Apa perkembangan budayanya sama dengan Indonesia era tahun 70-an pindah ke 90-an? Atau loncatan teknologinya mirip antara Indonesia era 80-an ke tahun 2000?

Apa politisinya makin gila? Apa sudah berhasil menerbangkan astronot ke bulan atau ke antariksa? Apa sudah paham bagaimana bersikap ketika menghadapi bencana? Apa masih banyak kekerasan terhadap kemanusiaan? Atau malah kita semakin toleran? Apa isi laut dan hutannya masih ada? Bagaimana sistem pendidikannya, apa layak buat anak cucu kita? Bagaimana perilaku kesehatan warga?

Entah kenapa saya jadi tambah banyak pertanyaan. Saya pikir ada baiknya saya tidak jawab apa-apa.

Tapi karena semua mata melihat ke muka saya, jadi saya jawab juga pertanyaan berat itu. “Saya tidak tahu, tapi saya pikir, orang Indonesia sih makin banyak saja”, sambil garuk-garuk kepala.

Mereka tidak kaget ketika saya bilang Indonesia sudah memiliki lebih dari 200 juta jiwa penduduk di dalam negeri saja. Kata mereka itu wajar, sebab Indonesia memiliki letak geografis lumayan besar.

“Kamu ada rencana pulang ke Indonesia?” tanya Mbak Ita sambil membetulkan letak gagang kacamata hitamnya.

“Iya. Tapi nggak tahu kapan. Anak saya masih kecil, Mbak”

“Kalau kamu pulang orang Indonesia yang di Indonesia jadi tambah banyak dong?”

Saya tertawa. Ya memang benar. Kalau saya pulang ke Indonesia, pasti orang Indonesia tambah lagi satu. Syukur kalau kehadiran saya bisa membantu banyak orang. Kalau tidak, kan cilaka. Bisa-bisa malah jadi benalu.

Malamnya, setelah pulang ke rumah saya berfikir lama. Wah bagaimana yaa Indonesia dua puluh tahun lagi?

Kalau belum jadi meninggalnya, saya pasti tambah tua. Eh, bagaimana rasanya tua di Indonesia?

Karena saya selama ini hanyalah buruh pabrik kecil di belahan dunia lain, pertanyaan lanjutannya adalah; bagaimana rasanya jadi tua di Indonesia, tanpa tunjangan apa-apa dari pemerintah, tanpa asuransi, tanpa pensiun? Apalagi tanpa keluarga?

Cerita Dari Swedia

Di Eropa, Swedia terkenal sebagai negara yang paling menghargai penduduk senior (65+). Mulai dari akses mobilitas hingga pelayanan kesehatan, semuanya hampir dipastikan terjamin dengan baik. Para warga senior ini, kelihatannya memang mampu meminta pemerintah untuk menjamin hidup mereka.

Kenapa?

Jawabannya agak ajaib. Sebab para orang tua ini berkumpul dan membentuk partai. Namanya Sveriges pensionärers intresseparti yang kalau saya terjemahkan secara ugal-ugalan kira-kira adalah Partai Urusan Manula. Percaya atau tidak, pada tahun 2010 partai ini sama sekali tidak mendapat tempat di parlemen. Namun partai ini memiliki banyak sekali pemilih. Kalau diibaratkan di Indonesia, walaupun tidak punya wakil di DPR/MPR, wakil Partai Manula ini menempati posisi penting di tingkat kabupaten dan propinsi. Artinya; kebijakan grassroots ada di tangan mereka.

Untuk negara semacam Swedia dimana kebijakan akar rumput adalah basis dasar negara, maka para warga senior ini benar-benar amat punya suara. Jadi wajar saja kalau mereka mampu menyetir kebijakan lokal pemerintahan agar lebih menghormati para warga usia senior.

Vijay Goel

Vijay Goel

Cerita Dari India

Di India, lain lagi ceritanya. Vijay Goel, seorang mantan anggota parlemen dari New Delhi akhirnya membuat semacam federasi. Namanya Federasi Warga Negara Senior. Isinya yaa para manula.

Agak aneh memang dengan kultur seperti India yang amat menghargai orangtua dan keluarga (setidaknya seperti yang ada di kitab Bharatayudha atau film-film Bolywood) dimana orangtua membesarkan anak dengan penuh cinta kasih dan ketika si anak dewasa akan menjaga orangtua mereka hingga akhir hayatnya.

Mengapa harus membuat sebuah perserikatan para manula?

Kata mereka; Saat ini penduduk India sudah membengkak jadi 1,2 miliar. Populasi penduduk yang menggelembung gila-gilaan ini berakibat pada problematika sosial. 30% orangtua usia lanjut, saat ini ditelantarkan oleh keluarga mereka. Hampir setengah dari mereka yang ditelantarkan bahkan pernah diperlakukan semena-mena oleh keluarga mereka. Yang paling parah adalah, lebih dari 70% dari para warga India yang berusia lanjut memperoleh masalah dengan masalah hidup yang basis seperti makanan, pakaian dan tempat tinggal.

Jadi, karena itulah mereka membuat sebuah perserikatan.

Cerita Dari Jepang

Lalu bagaimana dengan Jepang?

Begini, semenjak tahun 1980’an ada istilah yang berkembang di masyarakat Jepang. Istilah ini adalah kodokushi. Sebuah istilah yang sekali lagi kalau saya terjemahkan secara ugal-ugalan adalah ‘mati sendiri’.

Kenapa ada istilah ‘mati sendiri’?

Begini, pemerintah Jepang sejak pasca perang dunia ke II. Tepatnya pada tahun 1947. Mencanangkan sebuah program diet nasional. Namanya Kokkai (terjemahan ugal-ugalannya kira-kira artinya hari beras). Fungsi program ini adalah untuk menyehatkan pemerintah. Terutama untuk merestorasi keuangan mereka yang hancur total akibat mendanai perang.

Apa hubungannya dengan warga negara senior?

OK. Ternyata program pula diikuti oleh program-program nasional lain. Diantaranya adalah menyehatkan badan manusia Jepang. Logika akal sehatnya, di dalam tubuh yang sehat mampu menjaga negara agar tetap sehat. Nah sejak saat itu pula digalakkan program kesehatan manusia Jepang.

Logika lanjutannya; jika manusia hidup sehat maka tingkat harapan hidup makin tinggi.

Lalu apa yang terjadi jika manusia semuanya sehat dan makin panjang umur?

Jawabnya sederhana; makin banyak populasi manula. Saat ini, di Jepang satu dari lima orang berumur lebih dari 65 tahun. Menurut prakiraan pemerintah Jepang, jika kondisi seperti ini berlanjut maka tahun 2030 satu dari tiga orang di Jepang adalah manula.

Jika manula semakin banyak, maka kebutuhan akan perawatan medis, psikologis, sosial dan obat-obatan makin tinggi. Di kota padat seperti Tokya dimana suami istri benar-benar harus bekerja amat keras agar bisa hidup yang untuk bikin anak saja tidak ada waktu, mengurus orangtua mereka adalah sebuah hal yang berat. Kini semakin sering para orangtua tinggal jauh dari anak-anak mereka. Hidup sendiri.

Dan ketika meninggal mereka menjadi kodokushi. Mati sendiri. Ada yang meninggal terbaring di samping tumpukan baju yang baru diambil dari mesin cuci, ada yang meninggal karena terantuk dinding ketika mengganti seprei kasur ada pula yang meninggal sambil menonton televisi. Ironis. Akibat pola hidup yang serba otomatis dan individual, mayat mereka biasanya baru ‘ditemukan’ setelah berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun setelahnya. Bahkan ada yang ketika ‘ditemukan’ sudah jadi tulang belulang.
Pada tahun 2008, di Tokyo, di satu kota saja, lebih dari 2200 manula menjadi kodokushi. Sejak saat itu bisnis healthcare manula pun menjadi booming. Sebuah bisnis yang cukup rikuh dalam budaya Jepang; mempercayakan orangtua mereka di tangan orang yang tak dikenal. Namun mau bilang apa lagi, toh lebih baik daripada orangtua mereka tidak ‘mati sendiri’. Jadi alam bawah sadar yang terpola oleh kulturnya masih bisa bilang bahwa ia bukan anak durhaka.

Cerita Dari Amerika

Tapi, ternyata masih lebih baik ketimbang manula Amerika.

Menurut riset ahli bunuh diri Dr. Yeates Conwell dari University of Rochester di Minessota sana, katanya bunuh diri di kalangan warga manula saat ini terjadi hingga batas angka yang mencengangkan. Setiap sekitar 90 menit terjadi upaya bunuh diri dikalangan warga manula di Amerika Serikat. Entah sukses atau tidak, yang pasti 13% warga negara AS adalah manula dan seperlima dari mereka meninggal gara-gara bunuh diri.

Penyebab bunuh diri para manula Amerika itu antara lain adalah kekurangan hubungan sosial dengan keluarga atau kerabat, kekurangan tidur, masalah yang berelasi dengan memori dan hal-hal acak lainnya.

Cerita Dari Indonesia

Tapi itu kan di luar Indonesia. Di Indonesia dong sih mah beda :)

Jadi kalau ditanya apakah saya mau pulang ke Indonesia, maka akan saya jawab bahwa keinginan itu ada dan besar sekali adanya.

Tapi kalau ditanya apakah saya mau menghabiskan masa tua saya di Indonesia, maka saya pikir jawaban saya adalah, “emangnya masih mau jadi tua?”

Ahh, tapi itu kan saya. Tidak usah diperhitungkan deh. Anggap saja angin lalu. Toh saya bukan siapa-siapa.

Anda bagaimana? Punya keluarga yang senior? Bagaimana Anda memperlakukan mereka? Anda pikir, Anda akan diperlakukan sama pada 20 tahun mendatang?

Eh omong-omong… Masih mau jadi tua?


Gado-Gado Pak Heru

“Lapar nih, makan siang yuk? An, kita makan dimana?” Tanya Girda sambil mengusap kepalanya yang botak licin.

Aan menjawab, “Di kebon aja. Si Arip pasti belum pernah nyobain gado-gado Pak Heru”

Saya terbengong-bengong menatap dua manusia itu yang entah bagaimana sibuk diskusi mengenai bumbu gado-gado diantara rerimbunan tumpukan naskah karya Chomsky. Perut saya keroncongan. Lapar. Maka itu memberanikan diri bertanya, “Hey bung, gua nggak punya duit nih. Gimana gua bisa makan siang dong?”

Girda menatap Aan, “Kau yang bayarin yaa An siang ini, besok gua lah. Gua juga lagi kantong tipis nih hari ini”

Aan menatap saya dan Girda bergantian, “Gila kalian bedua. Sampe makan siang aja kasbon sama gua”. Yang dijawab Girda dengan tawanya yang mirip kekehan tokoh Bert dalam serial anak-anak Sesame Street. Saya sih, seperti biasa hanya cengar-cengir saja sambil garuk-garuk kepala.

Akhirnya kami bertiga keluar dari kantor itu menuju tempat makan siang. Yang mengagetkan saya, ternyata yang mereka maksud dengan ‘gado-gado kebon Pak Heru’ adalah benar-benar di kebun depan kantor mereka. Sepuluh meter dari pintu keluar, ada warung cukup menampung orang sekitar 20. Ternyata, itu warung makannya. Terletak di dalam halaman depan rumah Pak Heru yang cukup luas.

Dan kantor mereka, menempel dengan rumah Pak Heru.

Kami bertiga lalu duduk takzim di bangku kayu panjang. Menatap meja kayu panjang dan beberapa kaleng kerupuk di atasnya. Sambil malu-malu kucing, cengiran saya dilihat Aan. “Nih Rip, kerupuk udangnya. Da, kau mau kerupuk kulit?” kata Aan sambil melemparkan sebungkus plastik kerupuk berwarna putih berbentuk bundar lebar ke hadapan saya.

Setelah diberi kerupuk, jiwa saya tenang kembali (*Iya, saya kalau lapar memang kebingungan. Maunya melamun saja. Entah kenapa? Misterius sekali ini penyakit.*). Lalu mulailah saya mengoceh kiri kanan. Girda dan Aan menoleh. Mungkin tertarik mendengar beberapa dongeng saya. Tidak lama kemudian, gado-gado dan es teh manis datang. Saya berhenti mengoceh dan makan dengan lahap. Jiwa saya makin tenang. Hahaha.

Habis makan, dengan santainya saya berteriak pada bapak-bapak yang kelihatannya tadi mengulek sambil kacang, “Pak Heru! Enak banget bumbu gado-gadonya. Apa rahasianya Pak?”

Si tukang gado-gado diam saja. Menoleh pun tidak. Girda dan Aan melongo memandang saya. Aan menimpali, “Lu ngomong ama siapa, Rip?”

Dengan tanpa dosa saya menjawab, “Ama Pak Heru, tukang gado-gadonya. Kok dia nggak nyahut yaah?”

Girda tertawa tebahak-bahak (yang sumpah mati mengingatkan saya pada Bert). “Gila lu Bung. Pak Heru itu yang punya rumah dan kebon ini. Yang dagang gado-gado sih bukan Pak Heru!”

Saya kaget. Tersipu. Lantas cengar-cengir malu akibat sok tahu.

Itu pertama kali saya dengar nama Pak Heru. Kalau ingat nama Pak Heru, saya pasti ingat ‘tragedi gado-gado sok tahu’. Hehehe.

Kejadian ini sudah berlangsung tahunan lalu. Entah pastinya kapan saya lupa. Saya pikir sekitar lima atau enam tahun lalu. Waktu itu saya ada di Jakarta. Tinggal untuk sementara. Singgah dalam beberapa bulan saja.

Sekarang. Girda entah kemana dan Aan juga entah ada dimana, saya tidak tahu. Yang pasti, saya sudah hampir lupa kejadian itu.

Dua minggu belakangan ini, tiba-tiba gado-gado Pak Heru muncul lagi di benak saya. Beberapa surat kabar Indonesia memberitakan bahwa Pak Heru makamnya dibongkar. Sekelompok orang berjubah reliji meminta agar jenazah Pak Heru dibongkar dari peristirahatan terakhirnya di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Kata si penuntut, Pak Heru terlibat gerakan PKI. Tak layak jadi pahlawan.

Oh ya, yang saya bilang dari tadi soal gado-gado dan Pak Heru, memang tidak lain dan tidak bukan adalah bapak Letnan Kolonel Udara Heru Atmojo almarhum yang meninggal akhir Januari 2011 lalu. Yang hingga hembusan nafas terakhirnya, tidak pernah terbukti bahwa beliau terlibat G30SPKI. Beliau hingga akhir hayatnya dituduh, distigma, dikotori namanya tanpa pernah sedikitpun dibela oleh negara yang pernah dibelanya dengan seluruh butir-butir keringat dan darah dalam masa revolusi kemerdekaan.

Iya benar, Pak Heru yang itu.

Mendengar berita itu, saya kaget. Dan lebih kaget lagi ketika membaca bahwa Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono berkata bahwa pemindahan jenazah Pak Heru sesuai dengan aturan.

Aturan dari mana? Adakah aturan di Republik Indonesia bahwa:

  1. Panglima Tentara Nasional Indonesia berhak memindahkan makam?
  2. Panglima Tentara Nasional Indonesia berhak menentukan dimana pahlawan dimakamkan?
  3. Panglima Tentara Nasional Indonesia mendengar dan menuruti ide sekelompok kecil manusia ekstrim berjubah reliji, seperti kerbau dicocok hidungnya?

Kalau iya, layak berdukalah kalian para tentara. Wahai teman-temanku, saudaraku, tetanggaku, dan para brotherhood yang sudah ada maupun akan tiba dalam jajaran satria TNI; aku sedih atas nasib kalian. Sebab jika suatu hari negeri ini akan dilumat oleh kekuasaan gelap dan kalian mati-matian membelanya, dan lalu kalian pun akhirnya meninggal dan kami mengangapmu pahlawan. Maka untuk mengubur jasad kalian pun kami harus pikir-pikir dulu sebelum mengali lubang. Yang lebih sedih lagi, jika sekelompok fasis bahkan meminta jenazah kalian dikubur di tempat sampah maka bos kalian, si Panglima TNI itu mungkin akan diam dan menurut saja.

Memanggil seseorang dengan kata pengecut adalah sebuah kalimat keras yang perlu alasan amat kuat untuk menggunakannya. Namun sebagai seorang tentara, mungkin sang Panglima perlu belajar lagi apa artinya mati.

Atau mungkin, perlu belajar lagi apa definisi seorang pahlawan.

Jika kita bahkan gagal membela mereka yang mati untuk kita, bagaimana kita bisa membela mereka yang berupaya sekuat tenaga untuk tetap hidup… untuk kita?