Archive for the 'Orang Indonesia' Category

Tentang Kekuasaan Yang Melengkung

Di depan saya kanvas kosong. Dan harus diisi. Entah diisi apa orang lain mungkin tidak akan tahu. Yang pasti harus diisi agar bisa memperlihatkan sesuatu. Tadi malam lebih mudah, ‘sesuatu’ yang harus muncul adalah aplikasi perangkat lunak komputer yang mempermudah manusia mengunduh aplikasi yang mempermudah hidup mereka dalam menjaga kesehatan. Bingung mencernanya? Iya, sama dong. Saya juga bingung bagaimana memulainya. Tapi untunglah tadi malam sudah dimulai dan juga sudah selesai.

Ini sama seperti jaman sekolah dahulu. Pak Guru meminta kami, para siswa, untuk mendeskripsikan sesuatu benda dalam format ilustrasi pointilisme. Bagaimana cara membuatnya? Gampang. Pointilisme itu tehnik melukis dengan memakai titik-titik kecil, jarak antar titik bahkan hingga warna dan ketebalan sebagai pola yang membentuk sebuah gambar. Pertama kali dipakai oleh George Seurat sebagai mediumnya. Cara saya, pakai pena bernama Rotring yang memiliki ketebalan ujung bermacam-macam. Area yang lebih gelap akan dilukis dengan pena bermata tebal dan bagian terang jelas pakai pena bermata tipis. Gampang? Tidak juga sih sebenarnya. Butuh kesabaran dan ketekunan. Sebab untuk mendeskripsikan sebuah kisi jendela dari sudut 45 derajat. Sebab dalam format kertas A5 saja sudah butuh kira-kira tiga ribu titik dengan ketebalan mata pena yang berbeda. Tapi ini bukan yang paling susah. Yang susah jelas ketika menghadapi kertas kosong. Pertanyaan terbesar adalah… Apa yang harus saya isi disana?

Pagi ini saya memiliki kebingungan yang sama. Mau menulis apa? Tadi malam banyak ide, harusnya ditulis. Tapi karena esoknya sebagai buruh pabrik kecil-kecilan ini saya harus memimpin rapat, maka saya putuskan tidur lebih awal. Hilang sudahlah semua ide yang muncul di kepala itu. Maka kali ini saya iseng-iseng saja lah menulis.

Topik yang saya pilih sederhana. Tentang polisi. Mau cari topik apa lagi coba? Yang gampang saja lah. Kakek saya polisi. Teman-teman saya polisi. Tetangga saya polisi. Dulu jaman sekolah pernah pacaran, juga sama polisi. Adik ipar saya pas nikah, lah walinya juga polisi. Hidup saya dikelilingi polisi. Ya sudah cerita yang gampang saja. Cerita soal polisi.

Kata orang-orang polisi Indonesia itu galak. Nah! Kalau ini saya pasti membantah. Polisi-polisi yang saya kenal itu kalah galak dibandingkan Ibu saya. Wah Ibu saya kalau mengamuk, itu gawat deh pokoknya. Apalagi kalau mengamuknya ke saya. Orang-orang satu kampung itu bisa sampai prihatin campur pusing mendengarnya.

Beberapa waktu ini, orang-orang rajin marah pada polisi. Biasa lah, namanya juga profesi yang paling dekat sama warga, yaa biasa diomeli. Polisi diomeli ketika memalak warga dipinggir jalan soal lalu lintas. Warga bingung, susah membedakan mana polisi mana preman. Polisi diomeli lagi ketika tahanan status koruptor kelas kakap kabur dari tahanan mereka. Warga lagi-lagi bingung, katanya mau jadi polisi tesnya berat dan susah sebab pakai tes kesehatan segala. Loh kok pas jadi polisi, matanya jadi pada buta? Orang dibalik jeruji bisa mabur seenak jidatnya. Memangnya di kantor polisi diajari ilmu ‘ngilang’.

Beberapa minggu lalu, wanita Ontario kelahiran Uganda bernama Irshad Manji datang ke Jakarta, kampung saya. Ini perempuan, rencananya datang untuk diskusi. Namanya diskusi yaa pakai mulut dan otak. Kalau pakai mulut dan tangan terus ditempat gelap, itu mah pacaran a’la anak Cilincing namanya. Hehe.

Ketika asik-asik Irshad Manji sedang diskusi, tiba-tiba segerombolan orang kampung saya lainnya datang sambil teriak-teriak nama tuhan mereka dan bawa golok. Rencananya menghentikan diskusi Mbak Manji ini. Waduh malu-maluin banget yah. Masa orang diskusi pake mulut dibalas golok. Coba kalau diskusi pakai mulut dibalas juga dengan mulut, ada kemungkinan beradu mulut. Kemungkinan besar lagi, ciuman. Asoy geboy tuh. Kan lebih enak ciuman pakai mulut daripada pakai golok. Buset dah!

Apa saya malu? Yaa iya dong. Mbak Manji kan tamu. Seajaib-ajaibnya tamu, yaa kita hargai dan kita jamu dengan baik. Dilindungi kemaslahatannya. Kalau memang beliau kurang ajar, yaa diberi tahu baik-baik. Didiskusikan untuk cari solusi. Masak tamu dilempar golok? Memangnya kita perguruan kungfu, tamu datang disodori alat tempur?

Untung saja saat itu polisi datang. Menghentikan.

Menghentikan. Iya benar. Polisi datang untuk menghentikan. Tapi ajaibnya, polisi datang untuk menghentikan diskusi Mbak Manji dan teman-temannya.

Ini menarik loh. Yaitu polisi datang bukan untuk menghentikan langkah kekerasan yang ditempuh orang-orang bergolok.

Ada dua premis yang bisa ditarik disini. Premis pertama adalah: “Polisi tidak mendukung Mbak Manji”. Sedangkan premis kedua, yang paling ekstrim yaitu: “Polisi menyetujui tindak kekerasan”.

Mari kita ulas premis pertama. Yaitu “Polisi tidak mendukung Mbak Manji”. Sebagai institusi (Jelas bukan sebagai perorangan. Sebab yang melarang adalah Polri, bukan tetangga saya si Otong yang kebetulan polisi juga). Maka itu sebagai institusi independen polisi berhak tidak mendukung siapa-siapa. Posisi mereka sebagai pelayan publik adalah netral. Polisi, sebagai hamba hukum hanya mengabdi pada satu dan hanya satu hal saja, yaitu hukum. Disanalah kaki polisi berpijak. Jika pada Undang-Undang Dasar Republik Indonesia tertera: “Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan bahwa Irshad Manji soenggoeh tidak seksama dan harus diusir dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja”, maka polisi memang harus mengusir Irshad Manji. Tapi lah memang ada nama Mbak Manji dalam tetapan hukum RI? Jika bukan dari tetapan hukum, darimana itu dasar hukum datangnya pembubaran diskusi Mbak Manji? Disini, premis awal dengan kalimat “Polisi tidak mendukung Mbak Manji” ternyata tidak memiliki dasar hukum yang kuat.

Sekarang premis yang kedua. Yaitu “Polisi menyetujui tindak kekerasan”.

Saya benci mengulas ini. Sebab implikasinya menyebalkan. Tapi kalau kita mau jujur, kita harus mengulas ini. Pertanyaannya adalah, apa benar polisi menyetujui tindak kekerasan?

Berdasar kasus yang terjadi pada Indonesia tahun 65-66, perang sipil Maluku, bahkan hingga humor miring soal warga yang sial tertangkap ketika mencuri lalu dinterogosi, kekerasan memang terjadi di tubuh kepolisian. Tapi ketika polisi mulai memilah-milah dan bermain dengan politik kekerasan ini, maka yang terjadi adalah korupsi.

Korupsi? Polisi? FBR dan FPI? Irshad Manji? Apa hubungannya?

Ketika polisi (yang diwakili Pasar Minggu Police Chief. Comr. Adri Desas Furyanto) membubarkan diskusi Irshad Manji tanggal 3 May 2012 sekitar pukul 1900 di Jakarta Selatan atas desakan organisasi massa FBR dan FPI, yang terjadi adalah korupsi. Polisi, dengan segala kewenangan dan kekuatannya, tanpa didasari aturan hukum yang kuat telah melanggar konstitusi UUD 1945 pasal 28. Lebih parah lagi, Polri melalui tangan Adri Desas Furyanto secara terang-terangan melanggar UU no 12 tahun 2005 mengenai jaminan hak-hak sipil dan hak politik. Ketika kepolisian dengan terang-terangan telah melanggar konstitusi, menyerang kebebasan hak sipil dan politik warga, berpihak pada pelaku kekerasan terorganisir, maka yang terjadi adalah POLRI tengah korupsi.

Benar. Ini saya ulangi. Anda tidak salah baca. POLRI tengah korupsi.

Korupsi pada polisi adalah bentuk spesifik dari penyelewengan polisi yang dirancang untuk mendapatkan keuntungan finansial, keuntungan pribadi lain, atau kemajuan karir bagi seorang polisi atau petugas dalam pertukaran untuk tidak mengejar, atau selektif mengejar, penyelidikan atau penangkapan.

Salah satu bentuk umum dari korupsi polisi adalah meminta atau menerima suap sebagai imbalan untuk tidak melaporkan kejahatan terorganisir atau jaringan prostitusi atau kegiatan ilegal lainnya. Contoh lain adalah ketika polisi mencemooh kode etik mereka sendiri dalam membantu tersangka kejahatan – misalnya melalui pemalsuan barang bukti. Lebih parah lagi adalah ketika polisi mungkin dengan sengaja dan sistematis berpartisipasi dalam kejahatan terorganisir itu sendiri.

Di kota-kota besar di penjuru dunia yang memiliki institusi kepolisian ada bagian urusan internal untuk menyelidiki korupsi yang dilakukan oleh polisi. Korupsi pada polisi merupakan masalah yang tersebar signifikan di beberapa negara, seperti Rusia, Ukraina, India dan Meksiko.

Bentuk korupsi pada polisi terbagi menjadi beberapa diantaranya:

  • Korupsi wewenang: polisi menerima minuman gratis, makan, dan imbalan lainnya hanya karena ia seorang polisi.
  • Suap: menerima pembayaran dari merujuk orang untuk bisnis lain. Hal ini dapat mencakup, misalnya, kontraktor dan operator mobil derek.
  • Mencuri dari tersangka, tahanan atau korban kejahatan atau mayat mereka.
  • Shakedowns“: menerima suap untuk tidak mengejar pelanggaran pidana.
  • Perlindungan kegiatan ilegal: menjadi bodyguard, atau menerima pembayaran untuk meelindungi kegiatan ilegal: seperti pelacuran, kasino, atau pengedar narkoba untuk melindungi mereka dari penegakan hukum dan menjaga mereka ketika beroperasi.
  • Fixing“: Dengan sengaja merusak tuntutan pidana dengan menahan barang bukti atau mengagalkan barang bukti muncul di sidang pengadilan.
  • Kegiatan kriminal langsung dari aparat penegak hukum sendiri.
  • Hadiah internal: Membeli dan menjual hak istimewa yang diperoleh dari aparat penegak hukum lainnya. Misalnya waktu tugas, wilayah dinas, atau cuti/libur.
  • Tukang Timpa“: yang menanam atau menambah bukti, terutama dalam kasus narkoba.
  • Memplonco sesama penegak hukum.
  • Lewat aja santai“: polisi lalu lintas membatalkan tilang sebagai hadiah ke teman dan keluarga petugas polisi lainnya.

Nah Anda sudah baca sekarang bentuk korupsi yang terjadi di atas? Kenal? Pernah kejadian dengan Anda atau dengan orang terdekat?

Hell yeah, saya tahu Republik Indonesia bukan satu-satunya yang negara dimana Kepolisiannya korup. Masih banyak negara di dunia ini yang juga punya polisi korup. Haji Mamadov di Uzbekistan yang terkenal selain sebagai seorang reserse polisi, ternyata adalah pembunuh bayaran yang sialnya telah berhasil mengeksekusi puluhan manusia. William King dan Antonio Murray di Baltimore, US sana, bahkan menjadi kepala geng sindikat pengedar narkoba di malam hari ketika siang harinya menjadi detektif satuan polisi anti narkoba.

Tapi… Tapi.., saya kenal polisi Indonesia dan saya mencintai mereka. Gila jika saya biarkan mereka korup. Dan saat ini, kepolisian Indonesia entah bagaimana tingkahnya, kok tiba-tiba cenderung ke korup.

Punya kuasa itu berat. Apalagi jika membawa hukum sebagai pijakan kaki di setiap langkah ini. Menurut Lord Acton, kekuasaan itu cenderung kepada korup dan kekuasaan mutlak adalah sebuah korupsi yang mutlak. Semakin besar kuasa polisi, semakin besar pula kekuatan yang akan menariknya ke jurang korupsi.

Maka sore ini di akhir minggu, ijinkanlah saya bicara pada keluarga, teman-teman, tetangga, dan orang-orang yang saya cintai dan kebetulan jadi polisi dengan kalimat, “Hati-hati kena korupsi. I love you loh”


Lola – Lonte Lanang

orandum est ut sit mens sana in corpore sano.
fortem posce animum mortis terrore carentem,
qui spatium uitae extremum inter munera ponat
naturae, qui ferre queat quoscumque labores,
nesciat irasci, cupiat nihil et potiores

Sudah lama saya tidak menulis. Terutama menulis kelanjutan tulisan yang dahulu soal privasi. Secara literal memang tidak menulis. Biasanya jika saya tidak mempublikasikan sesuatu di blog, saya tetap menulis.

Alasan tidak menulis sebenarnya sepele, yaitu Faktor K, singkatan dari “Kesehatan”. Kata teman-teman saya, itu bukan ‘Faktor K’, melainkan ‘Faktor U’ alias “Usia”. Katanya, kalau umur bertambah, kesehatan menurun.

Saya tertawa mendengarnya. Masa sih begitu? Ada tetangga saya makin berumur malah makin sehat dan berotot. Habis kerjanya olahraga terus. Bukan hanya sembarang olahraga, melainkan lari berlari.

Olahraga saya yah apa? Paling push-up kalau bangun tidur. Itu pun bukan gara-gara biar sehat, melainkan agar tidak mengantuk lagi setelah buka mata. Sebab saya ini parah. Sudah pasang jam weker, sudah minta dibangunkan, sudah niat bangun pagi, nah ketika bangun buka mata bukannya segera sigap mandi dan ganti baju, malahan tidur dan mimpi mandi dan ganti baju. Nah si push-up itu cukup membantu biar bangun dan terjaga.

Olahraga lain? Naik sepeda? Aduh, sejak kunci sepeda saya hilang, itu sepeda dengan bangganya berdiri mematung jadi bagian dari lapangan parkir stasiun kereta. Hebat dia, ada hujan ada angin, ada badai ada terik, tetap saja berdiri dengan anggun. Tidak ada yang berani menungganginya. Jangankan para junkie yang hobi mencuri sepeda, saya sendiri sebagai tuannya tidak bisa mengayuh itu sepeda. Lah bagaimana bisa, wong digembok habis-habisan pakai tiga utas rantai kapal. Lalu kuncinya, semua hilang! Waladalah…

Sejak sepeda hilang dan musim dingin makin menggila yang membuat matahari terbit pukul sembilan pagi dan lelap pada tiga sore, saya jadi jarang olahraga. Lebih tepatnya, jarang gerak badan. Bisa jadi gara-gara itu, badan jadi kurang sehat.

Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Itu semboyan yang mencuat di plang papan kotak dari triplek di lapangan upacara SDN 25 pagi, tempat saya sekolah dulu. Saya boro-boro percaya bahwa dalam hidup ini ada jiwa yang kuat. Jiwa mah sama saja dimana-mana, pakai dikuat-kuatkan segala? Manusia terlalu pandai mencari-cari alasan dalam hidupnya. Padahal sungguh hidup itu sederhana. Anda tidak percaya? Ini saya kasih bukti. Kebanyakan pembunuh, pemerkosa, koruptor dan kriminal lainnya itu punya badan yang sehat. Apa lantas jiwa mereka ikut sehat? Omong kosong!

Saya push-up bukan gara-gara ingin sehat, tapi biar mata tidak mengantuk lagi. Atau malah, agar putri semata wayang bicara serius mengenai kesehariannya (yang tentu saja ia lakukan sambil duduk di atas punggung saya yang sedang push-up). Saya naik sepeda bukan gara-gara ingin sehat, tapi karena itu cara termudah, termurah, dan tercepat untuk berangkat kerja ke pabrik. Saya panjat itu dinding dan tebing bukan gara-gara ingin sehat, melainkan karena sedang dapat diskon untuk melanjutkan sekolah memanjat lagi.

Sesungguhnya kita bergerak karena alasan yang sangat pragmatis.

Percaya atau tidak, teori diatas ini sering dibantai habis-habisan oleh banyak orang, alasannya; karena tidak ada integritas dan idealisme disana.

Tidak punya integritas? Tidak memiliki idealisme? Ajaib, bagaimana seseorang bisa mengalamatkan kalimat itu pada orang lain ketika ia menjalani hidup yang berbeda?

Sahabat saya Aji, sering dipanggil Lola oleh teman-teman yang lain. Itu singkatan. Diambil dari profesinya, salah satu cabang pekerjaan paling tua di muka bumi; prostitusi. Lola, singkatan dari lonte lanang, pelacur pria.

Saya panggil Aji yaa tetap Aji. Tidak pernah mau saya panggil ia sebagai Lola. Dan itu membuat Aji bingung, sehingga suatu hari ia bertanya.

“Lo kenapa sih manggil nama gua pake nama gua?”

“Lah emang gua harus manggil lo apa?”

“Anak-anak manggil gua Lola. Lo kan betemen ama gua bukan setaon dua taon men. Lo kayak ga tau gua aja. Lo nggak suka gua mecun, men?”

“Ji, gua hargain profesi apa aja men. Lo mao mecun, mau apa kek itu urusan lo. Tapi kalo lo masuk abri trus lo jadi mayor, masa lo gua panggil mayor? Tiap lo naek pangkat lo punya nama baru dong? Emang kita tinggal di mess tentara?”

Aji diam. Lama. Saya juga diam. Habis mau apa lagi? Trik ad hominem saya terambil olehnya.

Akhirnya ia buka mulut, “Anak-anak taik juga sih. Gua dipanggil Lola sejak dapet ama si Lia. Lo tau kan Lia, yang waktu itu gua ngeluh nggak bisa bayar kost-kostan trus pas dia pulang pagi ada duit dua ratus ribu dia atas meja gua. Pas gua cerita, anak-anak ketawa trus manggil gua Lola. Anjing banget ga sih! Padahal waktu gua cerita, anak-anak gua traktir pecel lele. Trus duitnya yaa duit si Lia itu. Anak-anak kan tau. Tapi gua dipanggil Lola. Kalo gua dipanggil lonte lanang, trus mereka apaan? Palo? Parasitnya lonte? Taik lah!”

Saya diam. Adiknya Aji itu autis, biaya sekolahnya mahal. Cerita belum usai sebab papanya kabur dengan perempuan lain ketika anak-anaknya balita. Dan masih ditambah plot ala sinetron Indonesia ketika mamanya, bertahan hidup jadi tukang jahit yang buka praktek di beranda depan rumah. Semuanya bergantung ke Aji untuk bisa tetap hidup. Klise? Mungkin iya. Sama seperti drama hidup lainnya, klise.

Semua orang punya dramanya masing-masing. Dan hampir semuanya klise. Tapi apa sih yang baru di bawah matahari? Apa sih yang baru di muka bumi ini ketika hidup di bawah garis kemiskinan?

Ini cerita tentang hidup yang sederhana. Sesederhana survival of the fittest. Tentang Aji. Tentang banting tulang sedekah sperma kepada siapa saja yang mampu membayar.

Aji sering cerita soal hidupnya. Malam-malam. Hanya kepada saya? Ooh iya. Ini jelas cerita eksklusif. Memulai karir dari sauna dan klab fitnes untuk penyuka sesama. Kata dia, “cepet duitnya tapi nggak banyak sih”. Tanpa merinci lebih lanjut apa maksudnya. Membiarkan saya menerawang sedih tidak bisa tidur membayangkan dia mengangkang dan lalu berbaring di kamar kost tidak bisa masuk kelas karena kesakitan.

Aji bilang Lia menginspirasi. Membuatnya belajar di sebuah forum internet dan mulai memasarkan diri. Sayang tidak laku. Gimana mau laku, dia tidak berani pasang foto? Aji masih malu buka-bukaan. Tapi hari berganti hari. Dia punya klien tetap sekarang. Laki-laki, perempuan, dan bahkan katanya kalau rumput yang bergoyang bisa bayar, pun ia sedia mengangkang.

Suatu hari, Aji pulang ketika saya mau masuk kelas pagi. Lemas. Kausnya kotor, banyak bercak darah. Saya buatkan mie instan dan teh manis ketika ia mandi. Keluar dari sana, badan pemanjatnya yang kukuh liat bagai terbuat dari susunan batu bata rumah kokoh terlihat banyak guratan luka memanjang. “Gua dicambukin, men”

“Dicambuk? Ama siapa?”

“Ama nenek-nenek…”

“Ama nenek-nenek? Kok lu bisa disiksa ama nenek-nenek?”. Saya bengong. Mau ketawa. Tapi tidak bisa. Sedih juga ada didalamnya. Ironi.

“Klien gua, men. Gua diborgol, abis itu ditutup matanya. Abis itu gua ditelanjangin trus dicambukin. Gila sakit banget men. Gua ampe nangis-nangis, abis perih banget badan gua. Eh abis itu gua malah dianjing-anjingin ama dia. Abis itu dia nyuruh jilat-jilat kakinya. Abis itu pas dia puas, dia pergi dah…”

Saya kaget luar biasa, “Trus lu bisa lepas gimana ceritanya?”

“Yaa gua teriak-teriak laah. Untung di denger ama satpam rumahnya”

“Wah parah, Ji. Ayo laporin polisi?”

“Nggak men. Abis gua dikasih duit ama satpamnya. Kata satpam, emang majikannya gitu kalo maen. Gua dikasih tiga ratus ribu men. Lumayan lah buat lebaran nanti emak gua ama adek gua bisa belanja”

Cerita Aji menjual jasa prostitusi tidak lama kemudian menyeruak. Jelas gosip. Sebab banyak yang bergunjing Aji tidak punya integritas. Tidak punya moral sebagai cowok. Sebagai laki-laki, harusnya punya idealisme dan harga diri. Lalu mengukuhkan Aji sebagai Lola.

Tidak punya integritas dan idealisme? Apa yang mereka tahu tentang Aji? Sehingga berani mengalamatkan kalimat ajaib nan mewah begitu pada orang sesederhananya.

Hidup itu sederhana, sayang manusia tidak. Hingga berani-beraninya bikin puisi roman latin Juvenal di awal tulisan ini dalam bahasa latin yang isinya agar berdoa terhadap dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Jiwa yang tidak takut mati. Diberkahi panjang usia. Agar dapat kuat menanggung semua penderitaan yang ada, tanpa kenal marah dan keinginan untuk memiliki.

Di dalam badan yang sehat terdapat jiwa kuat? Dan dalam jiwa yang kuat terdapat integritas, moral dan idealisme? Ahh, pendapat kita pasti berbeda. Buat saya itu omong kosong. Orang yang paling banyak bicara jargon dan kalimat-kalimat mewah macam begitu biasanya orang yang paling memuakkan yang pernah saya temui.

Tapi pendapat kita pasti beda. Tidak apa-apa. Kita kan manusia yang berbeda :)

Apapun yang beda, Aji tetap jadi Lola. Tapi tarifnya jelas bukan tiga ratus ribu lagi per cambuk.

(*Aji, salam dari sini. Biar indah tubuhmu. Dijamah orang-orang. Tapi cinta tulusmu. Harus jadi milik mereka yang mencintaimu*)


Boombox Tanpa Bass

boombox imagePernah ikut solat idul korban? Saya mah pernah. Dulu, sering banget malah.

Bagi yang tidak tahu apa itu solat idul korban, ada baiknya saya terangkan sedikit. Solat idul korban adalah penamaan terhadap ritual reliji yang dilakukan secara bersama-sama orang kampung saya pada hari tertentu dimana kami setelah itu makan sate kambing dan sambal kacang sampai puas.

Sebagai anak-anak saya tidak perlu tahu apakah kambingnya masuk surga karena mengenyangkan perut kami atau siapa yang beli kambing dan darimana duitnya. Sebagai anak-anak saya tidak tahu dan mungkin tidak mau tahu. Yang penting setelah itu selain makan gulai kambing dan lontong kecap, musolah kampung kami punya bedug baru. Itu artinya saya dan teman-teman bisa memuaskan bakat gila terpendam memukul drum laksana Phil Collins yang terlihat di kaset milik paman. Pada intinya hanya satu, solat idul korban itu menyenangkan. Setidaknya buat saya dan tetangga-tetangga di Cilincing yang merasa beli dan makan daging adalah sebuah kemewahan.

Walaupun menyenangkan, solat idul korban itu ada anehnya juga. Bayangkan, sejak saya kecil sampai ABG, itu ritual kok yaa tidak berbeda sedikitpun juga. Sambil duduk nongkrong di lapangan SMP dekat rumah, semua orang diminta mendengar ceramah tentang seorang bapak yang akan menyembelih anaknya tapi karena suatu dan lain hal, maka anaknya diganti jadi kambing (*eh apa onta yaah? Lupa gitu saya*). Pokoknya kira-kira intinya begitu deh. Jika mau tahu lebih detil, jangan tanya saya, datang saja ke lapangan dekat rumah Ibu saya di Cilincing sebuah desa pesisir pantai Jakarta sana pada pagi hari Idul Korban (yang selalu terik).

Tapi sumpah mati, sampai detik ini saya kok yaa tidak pernah berpikir jika si anak diganti kambing, maka si kambing seharusnya diganti apa? Ahh tapi lupakanlah pertanyaan bodoh itu. Pertanyaan yang sering dilontarkan oleh orang-orang kampung saya sih, “Kok kambing? Pan mahal. Kenape kagak ikan aje. Pan gampang tinggal mancing”
(*Setelah cukup besar, saya akhirnya baru tahu kalau di Jazirah Arab sana ternyata jarang ada pancingan*)

Eh melantur. Balik lagi deh ke solat idul korban. Kenapa yaa tiap tahun si Ustad ceramahnya sama? Si Gugun adik saya, sampai hapal tuh luar kepala apa yang si Ustad omongin tiap tahun. Kata Gugun, “Pak Ustad punya memori hebat. Udah kayak kaset. Kalo jumat dia puter kaset buat hari jumat. Nah kalo hari ini, dia puter soal kambing lah. Lu tau ga boombox? Nah Pak Ustad tuh udah kayak gitu. Bedanya, doi nggak ngebass aje”

Dan omongan si Gugun lah yang menempel erat di otak saya ketika tadi pagi teman saya Tanti bertanya, “Eh ip, sekarang tujuhbelasan men. Kita kerek bendera yuuk…” dan lalu terjawab dengan, “Gua adanya sarung, Tan. Kita hormatin aja sarung gua aja yuuk…”, yang membuat kami berdua terbahak-bahak.

Di timeline social media hingga ranah blog, semuanya ramai membahas kemerdekaan. Mulai dari selebriti sampai tetangga saya di Cilincing, semuanya ramai-ramai merdeka. Hehe, saya sih bahagia-bahagia saja. Apa salahnya mengaku merdeka?

Walaupun tahun ini untunglah saya tidak sirik sebagaimana biasanya tidak bisa ikutan makan krupuk dan lomba-lomba ajaib lainnya, sebab tidak seperti tahun sebelumnya para pesertanya kali ini kebanyakan lemes akibat puasa.

Omongan Gugun menempel erat. Hari ini di hari kemerdekaan RI. Setiap tanggal 17 bulan Agustus, semua orang bicara kemerdekaan. Bicara lepas dari penjajahan (atau malah belum). Bicara peristiwa berdarah ini dan berdarah itu. Bicara bambu runcing ini bambu runcing itu. Bicara kemerdekaan koruptor yang bebas melenggang. Bicara Upah Minimum Regional yang masih tidak manusiawi apalagi merdeka. Semua orang, tiba-tiba merasa menjadi nasionalis sejati (*entah apa maksudnya yang pasti hati-hati lah pakai jargon. NAZI yang ngeselin itu arti singkatan dari sosialis nasionalis loh*). Semua orang merasa memiliki bumi pertiwi ini. Semua orang tiba-tiba merasa paling Indonesia ketimbang lainnya.

Semua orang, mau-tidak-mau-termasuk-saya-dong, udah mirip Pak Ustad pas solat Idul Korban. Puter kaset yang sama setiap tahun. Mirip boombox tanpa bass. Nyaring… Tapi ahh entah kenapa, akibat terlalu monoton terlihat lepas dari makna dan terdengar, garing.

Saya mau cerita tentang operasi penyelamatan nelayan Indonesia di luar RI. Entah kenapa, malas menuliskannya. Bukan karena malas berbagi cerita, bukan juga gara-gara kejadian heroik ini tidak terjadi pada tanggal 17 Agustus, bukan pula akibat operasi penyelamatan dramatis itu justru dilakukan oleh orang-orang yang terusir dari RI. Bukan. Sama sekali bukan.

Saya hanya khawatir saya akan berubah jadi Pak Ustadz kampung kami. Masih untung kalau memang jago nge-DJ seperti menghapal dan mixing banyak ayat, surat dan lalu menggunakannya dalam membantu umat. Bagaimana kalau cuma sekedar jadi radio rusak, ulang lagu lama setiap saat? Jadi boombox yang nyaring tapi garing?

Sumpah deh saya tidak mau jadi boombox yang nyaring tapi garing. Kalau memang saya harus hidup sebagai boombox, maka saya mau jadi boombox yang mengiringi para bboy/bgirl menari dalam gerak dinamis breakdance. Kalau memang saya boombox, saya mau jadi boombox yang memproduksi semua suara menjembatani para rapper menuju nirwana mereka.

Anehnya semakin bertambah tahun saya malah semakin terlihat seperti radio rusak. Makin nyinyir. Makin apatis. Makin tidak spontan. Makin-makin lainnya lah yang tidak begitu enak.

Ahh, kelihatannya saya harus memerdekakan diri sendiri dulu nih?

(*By the way, soal penggantian kurban dari kambing ke ikan, sempat menimbulkan polemik di kampung kami. Akhirnya setelah para tetua kampung bermusyawarah dan bermufakat secara marathon berbulan-bulan lamanya, kami memutuskan untuk akan memakai kambing saja ketimbang ikan. Alasannya; kulit ikan susah dijadikan bedug*)


Bahasa Yang Tidak Sederhana

Begini. Jelasnya ia bilang begini, “bahasa hukum itu tidak bisa sederhana. Ia harus jelas, detil dan pasti” ketika saya bertanya mengapa putusan sebuah kasus di pengadilan dapat mencapai berlembar-lembar kertas A4.

Saya percaya. Lah habis mau bilang apa lagi. Bukan hanya latar belakang teman satu ini yang ahli hukum, melainkan ia juga menerangkan dengan sangat gamblang melalui contoh:
“Jika A berhutang pada B, lalu A mangkir bayar. B membawanya ke pengadilan. Pengadilan memutuskan bahwa A harus bayar hutang pada B. Apa iya putusannya begitu saja? Kan harus dijelaskan kapan A bayar, dimana membayarnya atau berapa jumlah bayarannya atau hal-hal lain yang berurusan dengan piutang tersebut. Dan semua itu tidak simpel kan?”

Saya manggut-manggut. Logikanya jelas. Bahasa administrasi hukum memang harus jelas. Sampai poin ini, saya mengerti.

Dan poin itu pula lah yang selalu saya bawa kemana-mana ketika bicara soal hukum. Memang sih saya bukan ahli hukum, tapi biasanya tertib membaca aturan main yang berhubungan dengan hukum.

Saya dianggap orang aneh oleh beberapa teman, karena menurut mereka (jelas subjektif toh?) saya satu-satunya orang yang mereka kenal selalu membaca dengan amat teliti perjanjian lisensi (end-user licence agreement) sebelum melakukan instalasi perangkat lunak pada komputer. Walaupun dianggap aneh, saya tidak peduli. Sebab perjanjian-perjanjian itu sempat beberapa kali menyelamatkan isi kantong saya secara signifikan. Jadi, administrasi hukum yang jelas, dan kadang bertele-tele dan rumit itu, kadang ada gunanya.

Saya sadar. Sepenuhnya sadar kok. Bahwa hukum itu berbeda dengan keadilan.

Hukum adalah produk. Jika negara kita analogikan sebagai pabrik dan masyarakat adalah konsumen, maka hukum itu produknya. Dan jika memakai analogi yang sama, maka akan ada dua hasil dari produk yang dihasilkan oleh sang pabrik.

Pertama, produk yang diinginkan oleh konsumen. Namanya, hukum berorientasi publik. Kedua, produk yang akan menguntungkan buat pabrik. Namanya? Ahh yang ini pada jaman modern kini tidak ada namanya. Karena ketika monarki-monarki di dunia ini hancur, hancur pula produk yang hanya menguntungkan negara.

Pada produk pertama, yaitu produk yang diinginkan konsumen, maka pabrik akan mengikuti selera pasar. Apapun yang diminta oleh warga sebagai konsumennya, maka pabrik harus setuju. Pada negara-negara yang ada saat ini (2011), aturan main model begini acapkali dipakai. Hukum dibuat demi kepentingan masyarakat.

Sisi baiknya, produk hukum sebuah negara yang berupa Undang-Undang, Instruksi Presiden, Peraturan Daerah atau bla-bla-bla lainnya akan sebaik-baiknya dibuat demi kemaslahatan umat. Sisi kurang baiknya, well kita semua tahu bahwa warga negara itu bukan kumpulan orang satu RT saja. Warga negara itu banyak. Mengakomodasi semua tuntutan, adalah hal yang mustahil. Maka dipilihlah suara terbanyak dalam mengakomodasi tuntutan warga. Dalam implementasinya, yang tidak setuju biasanya tidak terlalu dirugikan. Tapi sialnya kadang-kadang pada ujung-ujungnya, ada minoritas yang terkoyak.

Henry VIII picturePada produk kedua, dimana hukum dihasilkan negara demi kepentingan negara. Ehmmh, ini kejadiannya sudah lama. Contohnya di Inggris, ketika raja Henry VIII meminta gereja untuk menikahkan ia dengan selirnya. Tentu saja Paus menolak. Sebab poligami tidak ada dalam kitab suci yang dipercayainya. Henry VIII tidak peduli. Ia tetap menikahi selirnya bahkan hingga enam perempuan dikabarkan sah jadi permaisurinya. Undang-undang pernikahan saat itu di Inggris jadi berbeda (walaupun akhirnya UU poligami Inggris berakhir ketika Henry VIII meninggal tahun 1547 akibat kegemukan, pirai dan sipilis). Namun disini terlihat jelas, bahwa penguasa (Raja) mengeluarkan instruksi yang mampu membuatnya setingkat atau lebih dari hukum gereja reformasi yang menjadi standar baku saat itu.

Walaupun kelihatan tidak ada bagus-bagusnya hukum ini, sebab hanya akan mengukuhkan negara sebagai penindas saja, tetap ada sisi positifnya pada sisi tertentu. Kebijakan Dagang Beras Jepang sejak tahun 1961 hingga saat ini (2011) misalnya. Hukum ini ternyata melindungi Jepang sehingga bisa swasembada beras dan memakmurkan petani beras. Contah lainnya lagi, ketika dunia dilanda krisis global sejak 2008, banyak sekali pemerintah negara-negara di dunia yang mengambil alih tata cara perdagangan aset milik rakyat (Contoh: Swedia dan Denmark di tahun 2009 yang memperketat peraturan agar warganya tidak menjual properti pada masa krisis).

Di Republik Indonesia, kita memilih yang pertama. Kita? Entahlah… Mungkin tidak sepenuhnya tepat kalau disebut kita. Sebab toh para pendiri bangsa memilihkan hukum itu untuk kita. Para manusia Indonesia yang masih hidup saat ini.

Yang pasti, saat ini kita percaya bahwa hukum di Indonesia dibuat demi kepentingan Warga Negara Indonesia. Mulai dari presiden hingga jelata, tua muda, pria wanita, kalau masih bisa disebut WNI, maka hukum ini memang spesial untuk mereka.

Namun ajaibnya, meski digadang-gadang kalau Undang-Undang Dasar negara yang sebenarnya diterjemahkan dalam kitab hukum pidana maupun perdata, kelihatannya bahwa isi hukum di Indonesia terdiri dari gado-gado hukum kontingental Eropa (warisan penjajah Belanda), hukum agama (akibat mayoritas reliji warga negara), dan hukum adat (karena banyaknya suku-suku di nusantara).

Jadi pada intinya, yang bikin hukum jaman dulu itu (entah jaman kini juga) kelihatannya asik sekali main comot sana-sini. Ambil yang baik, buang buruknya, tentu saja ini yang jadi motivasi.

Tapi apa benar kita telah mengambil yang baik dan membuang buruknya?

Apa benar, mengambil yang baik dan membuang yang buruk menjadi salah satu motivasi para pengambil keputusan para manusia setengah dewa itu yang produk bernama hukumnya akan menentukan nasib makhluk hidup bumi pertiwi? Apa benar hukum masih berpihak pada warga, bukan pada oligarki para pemilik modal besar saja?

Jika benar, bukankah hukum seharusnya dibuat atau diambil untuk melindungi makhluk hidup dan bumi ini, bukan malah mengancam atau merusaknya?

Beberapa waktu lalu, saya membaca kembali kasus Rumah Sakit Omni vs Ibu Prita.

Saya kira kasus ini telah selesai. Prita menang! Koin terkumpul di Langsat sampai karungan. Bahkan para rocker ikut teriak menyanyi demi kebebasan dalam konser bernama Free Prita. Oh yeah!

Iya Prita menang. Suara konsumen menang. Suara wong cilik menang!

Saya kira ia menang. Anda kira ia menang?

Kelihatannya saya salah. Kelihatannya Anda salah.

Pagi ini membaca bahwa Mahkamah Agung mengeluarkan kasasi keputusannya dalam kasus Prita vs RS OMNI. Dalam putusan kasasi tersebut, Prita nantinya akan dihukum penjara kembali seperti yang dialaminya dahulu saat menghuni penjara wanita Tangerang. (sumber AntaraNews)

Iya, kita kaget membacanya. Bukankah negara telah dengan paksa merenggut ibu-ibu korban malpraktik RS OMNI ini dari anaknya dengan memasukkannya ke penjara dulu? Loh kok sekarang akan dimasukkan penjara lagi? Jika memang haknya sebagai konsumen dan ibu telah diinjak-injak dan keadilan tidak berpihak kepadanya, kemana itu produk hukum gado-gado warisan nenek moyang yang seharusnya dan katanya melindungi warga?

Saya pikir para manusia yang ada Mahkamah Agung jelas bukan orang tolol. Juga jelas bukan para anak sundal yang berhobi fetish menjilat pantat. Seharusnya saya pikir mereka jauh… Jauuuuh lebih pintar daripada saya dan orang sekampung Cilincing yang awam ini melihat korelasi antara hukum dan keadilan.

Jika Prita sudah diperlakukan tidak adil oleh negara dan hukum juga tidak berpihak kepadanya. Kepada siapa lagi kita akan berharap?

Hukum dan keadilan itu memang beda. Hukum itu produk. Jika produk itu sudah busuk, bukankah kewajiban kita menggantinya dengan yang lebih baik?

Apa yang terjadi dengan Prita itu sudah sedemikian busuk.

Jika hukum itu produk…. Jika produk itu dibuat dan disetujui kita sebagai warga negara… Apa artinya kita juga ikut busuk? Jangan-jangan hukum yang busuk adalah cerminan kita yang sudah benar-benar membusuk?

Padahal dalam bahasa yang sederhana atau bukan… Jika hanya dengan diam, kita pula akan membusuk pelan-pelan.


Jika Kemewahan Itu Bernama Sakit

Bagian Satu: Satu Dollar Kriminal

Umurnya tidak muda lagi, sudah 59 tahun. Terakhir bekerja, di Coca Cola, mengabdi di sana selama 17 tahun sebagai pengantar botol ke warung-warung. Tidak pernah membuat musuh, bekerja dengan keras dan rajin dan selalu patuh memenuhi jadwal pengiriman. Itu etos kerja James Richard Verone.

Tahun 2008 badai krisis ekonomi melanda Amerika Serikat. Badai yang sama, melanda pula Coca Cola. James pun diberhentikan paksa. Ia pikir akan cepat dapat kerja, duduk dibelakang kemudi sebagai supir truk pengantar barang. Namun apa daya, tak ada lowongan pekerjaan yang sama untuk manula.

James lalu jadi kasir di warung kecil dekat kotanya. Tidak lama. Nyeri tulang punggung yang dideritanya, radang di kaki, (tentu saja, usianya sudah tidak muda lagi) membuat ia berakhir duduk di rumah beristirahat tanpa bisa meneruskan kerja. Mengandalkan hidup dari uang tabungan dan kerja sporadis serabutan.

Hingga suatu hari dadanya terasa nyeri. Hendak ke rumah sakit, meminta pengobatan. Tapi hukum Amerika Serikat yang hingga saat ini masih bersitegang akibat jaminan sosial kesehatan warganya, membuat James tidak mendapatkan kesempatan untuk berobat. Intinya, apapun warna kulitnya, warga miskin memang tidak dapat hak yang sama di mata dewa medis di Amerika sana.

Suatu hari ia menyadari bahwa uang tabungannya habis, hasil dari kerja serabutan tak lagi mencukupi. Ia jual seluruh perabotan rumah dan membayar uang sewa kontrak bulanan terakhir. Dan lalu menjadi gelandangan mengandalkan hidup dari satu yayasan kemanusiaan ke yayasan lainnya hanya untuk sekedar makan minum dan bertahan dibawah dinginnya malam.

Tuan Verone tahu benar akan hal itu.

Dadanya semakin nyeri.

Hingga akhirnya pada tanggal 9 Juni, di siang yang cerah ia mandi, menyetrika pakaian, lalu memanggil taksi. Merampok bank pertama yang ia lihat.

Di depan kasir bank, ia menyodorkan secarik kertas yang isinya meminta uang satu dollar Amerika dan layanan pengobatan.

Kasir panik, Bank mereka belum pernah dirampok. Meskipun tanpa membawa senjata, kasir masih panik ketika dirampok dengan tuntutan satu dolar (kira-kira saat tulisan ini diturunkan adalah setara dengan Rp 8.620,-) dan permintaan medis.

Kasir memijit bel alarm dan polisi pun datang.

James tanpa rasa takut, bilang kepada si kasir wanita, “Saya akan duduk di lobi ruang tunggu sampai polisi datang”. Tak lama kemudian, polisi dengan kesatuan yang bagaikan anti-teroris datang menyergap dan menggelandang James ke penjara.

Ketika ditanya alasannya mengapa merampok dan hanya menuntut satu dollar saja, “Kalau saya masuk penjara, saya harap saya bisa dapat pengobatan gratis dari negara” jawab James dengan pelan.

Tuan Verone pun dipenjara. Entah sampai berapa lama. Di dalam bui, ia hanya makan pagi dan siang saja. Tidak makan malam. Katanya, pada saat makan malam ia akan bergabung dengan hampir semua narapidana. Ia takut. Ia tahu, penjara Amerika itu buas. Jadi lebih memilih saat makan pagi dan makan siang saja yang biasanya hanya diikuti oleh pesakitan yang telah lanjut usia.

Hingga saat ini, belum ada kabar apakah ia akan dapat pengobatan untuk nyeri dadanya.

Ketika berita ini akhirnya dimuat surat kabar gastongazette dan lalu melesat ke boingboing, hampir semua orang Amerika berteriak kecewa dan sedih. Menuntut keadilan atas kebutuhan pelayanan medis untuk warganya.

Bagian Dua: Satu Bangsa Satu Penjara

Beberapa minggu lalu saya kedatangan tamu, namanya Bas. Kawan-kawan Mexico yang ia bawa memangilnya ‘El Gringo’, terjemahan ugal-ugalan dalam bahasa Indonesia kira-kira ‘bule’.

Bas lahir di California, lebih mewarisi gen mamanya yang berambut pirang dan bermata biru ketimbang papanya yang asli dari Mexico City. Walaupun punya kewarganegaraan ganda, Amerika dan Mexico, ketika saya tanya apa isi dadanya ia jawab dengan senyum, “Saya Mexican”.

Bas tinggal bersama papa mama dan adiknya di Nogales, sebuah desa di Arizona yang benar-benar terletak di perbatasan antara US dan Mexico.

“Saya bingung tinggal di Amerika. Hampir semuanya serba ilegal. Kamu tahu, saya pernah dipenjara gara-gara nyetir mobil tanpa alas kaki! Sebab di Nogales, itu ilegal. Bajingan, masa sih saya dua hari di kantor polisi sampai papa mama saya jemput ketika mereka pulang dari liburan!”, keluh Bas.

“Jadi kamu suka di Mexico saja?” tanya saya sambil senyum-senyum. Vik, sahabat Bas yang berasal dari Hermosillo tertarik mendengar jawaban dari Bas. Ia mendengarkan dengan seksama.

Bas mengangguk. “You know, dua malam sebelum saya ke rumah kamu ini saya bangun jam dua pagi. Gila ada helikopter di atas rumah saya”

Saya bengong. Kaget. Hah! Masa sih ada helikopter di atas rumah. Memang rumahnya pakai helipad?

“Kamu tahu ga? Itu polisi Arizona yang sedang mencari pengungsi ilegal dari Mexico. Mereka pakai alat pencari infra merah untuk mengidentifikasi para pengungsi itu”

Vik menimpali, “Orang kampung Sebastian gila-gila. Di sana bahkan ada milisi yang bersenjata. Kerja mereka memburu orang-orang Mexico yang miskin dan lalu menyebrang ke Amerika untuk mencari pekerjaan. Itu manusia, dikejar-kejar, trus kalau sudah dalam jangkauan tembak, yaa ditembak”

Saya makin bengong. “Jangkauan tembak. Maksud kamu seperti berburu? Loh bukannya di Amerika apa-apa itu ilegal. Masa berburu manusia tidak ilegal?”

Bas ketawa-tawa, “Yaa ilegal, tapi yaah namanya juga manusia gila.”

Saya ternganga, “Trus orang-orang gila itu ditangkep ga?”

“Yaa ditangkep”

“Trus gimana orang mexiconya?”

“Yaa ditangkep juga. Dipenjara sama-sama”

“Lah terus kalo dipenjara bareng-bareng, apa nggak bunuh-bunuhan?”

“Yaa bunuh-bunuhan lah. Itu mah biasa. Kamu lihat film hollywood mengenai perang antar gang di dalam penjara? Yaa seperti itulah kejadiannya”

Melihat saya diam seakan seperti tidak percaya, Bas bilang. “Rakyat kami dalam ketakutan. You know, bukan hanya pada teroris tapi juga pada pencari kerja tanpa dokumen, pada cuaca yang makin panas dan banyak lainnya”

“Kalian hidup dalam ketakutan dong?”

“Yaa nggak semua orang sih. Tapi menurut saya, hampir semua orang hidup dalam ketakutan di sini. Kalau tidak takut, yaa ditakut-takuti biar takut. Hehe. Saya pikir kok mirip hidup dalam penjara. Satu bangsa, satu penjara.”

Saya manggut-manggut. Tapi jelas tidak berani cengar-cengir. Sebab kelihatannya ia serius.

Bas menambahkan, “Omong-omong kamu tahu ga kalau Amerika Serikat itu negara dengan jumlah penjara ternbanyak di muka bumi? Bahkan populasi penghuninya sudah sedemikian parah, sampai-sampai lapangan basket yang harusnya jadi tempat narapidana buat olahraga dialihfungsikan jadi barak tidur loh. Saking banyaknya penghuni penjara. Tapi omong-omong penjara Indonesia bagaimana?”

Saya tidak banyak bicara. Saya bilang, “Bas, saya ngantuk. Besok ngeburuh. Saya tidur duluan yaah” sambil cengar-cengir. Yaah mau pakai trik apalagi? Saya tidak punya jawaban pertanyaannya. Lebih baik saya kabur. Hehe.

Bagian Tiga: Ketika Mamanya Nopal Sakit

Waktu itu saya masih di Jakarta. Ada sms masuk dari Nopal. Bilang minta bantuan. Katanya mamanya sakit. Sudah lama merasa nyeri. Bahkan sampai pendarahan segala. Setelah dicek, ternyata mamanya Nopal kena serviks, nama lain dari kanker leher rahim.

Kanker ini termasuk penyakit yang cukup berbahaya. Menurut WHO di tahun 2007, kira-kira setiap tahunnya sebanyak 15.000 perempuan Indonesia dihinggapi oleh kanker leher rahim dan sebanyak 7500 orang terbunuh karenanya.

Saya pikir ini masalah serius. Tapi ada lagi yang lebih serius. Pertama, kenapa Nopal mengadu ke saya? Kedua, Nopal kan dalam penjara gara-gara kasus narkoba kok dia bisa sms saya?

Penjelasannya ada di sms antara saya dan Nopal.

LO DAH DILUAR?

G.MSH DI DLM.2THN LG.TLG MEN.MAMA GW NIH.DUIT GW G CKP BWT KEMO MAMA

KEMOTERAPI?ASTAGA.PARAH AMAT MEN!

YOI MEN.TMN LO KAN BNYK.ADA DOKTER GA?

MAMA LO KAN PEGAWAI NEGRI.ADA ASURANSI

ASKES G CKP.G JAMIN FULL COVER.

LO GA KERJA DI DLM?

KERJA.GW NYETOK BRG TRUS NYEBARIN DI DLM SKRG.DPT HP PULSA MA DUIT600RB/BLN

LMYN KAN.MKN MA TIDUR KAN GRATIS?DUIT BISA LO TABUNG.

KT SIAPA?GW BYR KMR 400RB/BLN.CADONGAN ISINYA BATU.EMANG ENAK MAKAN BATU.LO KIRA PENJARA GRATIS?

SERIUS LO?

MASA GUA BOONG MEN.LO SATU2NYA YG GA RESE MA GW.ABIS LO JG BEJAT SIH :) PENJARA INDONESIA ANCUR MEN.

PARAH!YA UDAH NANTI MLM GW KE RMH LO NGOMONG AMA MAMA LO.BTW LO BRENTI DONG NYEBAR RACUN KE ORANG2!

KL GW BRENTI BKN CUMA GW YG MATI MEN.TLG MAMA GW MEN PLIS

Saya diam sejenak. Termangu. Kalau Nopal sudah bilang bahwa nyawanya terancam, itu artinya benar-benar terancam. Dia itu salah satu prajurit jalanan Cilincing yang saya kenal. Hidupnya dari dulu memang dibayang-bayangi bau kematian. Dan dia tidak pernah mengeluh apalagi takut karenanya. Namun kali ini masalahnya pasti serius.

Terjebak dalam sindikat narkoba yang melibatkan banyak orang, baik dari dunia hitam maupun berseragam dan satu-satunya orangtua yang tersisa terbaring di rumah terkena kanker, pasti masalah serius.

Penjara, kata Nopal, sudah berubah jadi rumah indekos. Narapidana kaya, yang mampu membayar tentu saja dapat fasilitas lebih. Bahkan seorang bos sepakbola di Indonesia mampu memboyong AC hingga fax ke dalamnya lalu menjadikan dua kamar jadi satu demi kelangsungan pekerjaannya ketika ia harus menjalani hidup dalam bui. Semuanya atas nama tahu sama tahu.

Singkat kata singkat cerita, mamanya Nopal akhirnya beristirahat dengan tenang di pemakaman umum Cilincing setelah enam bulan bergulat dengan kanker leher rahim yang mengerikan. Semua tenaga medis yang saya hubungi menyerah sambil mengatakan bahwa harapan hidup beliau sudah semakin menipis.

Tidak berselang lama, Nopal menghidup udara bebas. Dia jadi big shot. Ternama karena kinerja kerja. Prestasinya sebagai bandar narkoba di dalam lembaga pemasyarakatan memberinya semacam previlige yang mampu mengantarkan surat sakti agar dapat keluar lebih cepat.

Tapi tidak lama. Hanya beberapa bulan setelah bebas, ia meninggal karena tabrak lari. Bisik-bisik rumor jalanan berkata bahwa sebelumnya ia tidak mampu closing deal sebuah perjanjian bisnis dengan pesakitan kelas kakap. Kata kabar burung, Nopal harus membayar dengan nyawanya.

Dibandingkan dengan Nopal, Tuan Verone tidak akan lama bertahan hidup jika ia dalam penjara Indonesia.

Tuan, ini negeri dimana orang miskin diharamkan sakit!


Rest In Peace Ruyati Binti Sapubi

Saya menulis dalam diam. Secara literal memang dalam diam. Tidak bicara, tidak menyanyi, tidak bergerak kesana-kemari kecuali jari jemari, tidak melakukan apa-apa selain memelototi pena dan kertas dihadapan dan lalu memindahkannya dalam aplikasi google docs dan lalu ke blog setelah proses edit sana sini.

Jika terdengar suara, paling suara-suara lagu teman-teman saya yang menyanyi dalam irama rap atau koleksi lagu-lagu instrumentalia OST (Original Sound Track) film-film kegemaran seperti misalnya OST August Rush, Casablanca atau Blood Diamond. Biasanya, malah instrumen musik-musik klasik macam Beethoven atau Mozart yang mengiringi tulisan-tulisan naik cetak. Saya tidak bisa menulis dengan ditimpali banyak suara manusia.

Di beberapa stasiun kereta, akhir-akhir ini ada iklan besar terpambang di billboard, iklan pena merek BIC. judulnya, wie schrijft die blijft. Arti sederhananya kira-kira, siapa yang menulis akan abadi. Saya melihatnya setiap pagi.

Saya tidak percaya keabadian. Agak aneh memang. Untuk seseorang yang pada akhirnya secara susah payah diberi gelar akademisi hanya karena meneliti tulisan-tulisan dan simbol yang saking tuanya dilupakan orang, saya tidak percaya keabadian dari dunia tulis menulis.

Sederhana; alasannya simpel. Saya tidak percaya keabadian.

Anda boleh setuju. Boleh juga tidak setuju. Toh itu hak siapa saja. Hanya, hingga saat ini yang saya sempat pelajari adalah bahwa hidup memang tidak pernah mengajarkan keabadian. Selalu saja ada yang mati. Entah nyawa manusia, entah kebudayaan, entah pemikiran, entah isme-isme yang selalu begitu banyak menyilaukan mata dan jiwa manusia. Yang pasti, selalu saja ada yang mati.

Suatu saat saya akan mati. Suatu saat toh juga Anda akan mati. Suatu saat, apa yang kita percayai kekekalannya di muka bumi ini, saya-pikir, juga akan mati. Sejarah mengatakannya begitu. Mau bilang apa, itu kan fakta?

Eddard Stark, salah satu karakter dalam serial TV Game of Throne berkata, “… I grew up with soldiers. I learned how to die a long time ago”. Kira kira terjemahannya adalah bahwa ia tumbuh sebagai seorang tentara dan ia mengetahui bagaimana harus menghadapi malaikat maut ketika ditanya apakah ia takut mati atau tidak.

Saya pikir, tidak perlu jadi tentara untuk tahu bagaimana menghadapi maut. Tidak perlu. Oh-oh, sama sekali tidak perlu. Saya pikir, yang lebih penting adalah sebagai apa kita akan menghadapi maut. Buat saya ini penting, ketika wajah berkiblat menghadap maut sebagai seorang pecundang atau tidak.

Sebagaimana pentingnya saya, malam ini, menulis mengenai seorang Ibu bernama Ruyati. Seorang perempuan tua berusia 54 tahun dari Bekasi, sebuah bagian dari kedaulatan negara bernama NKRI yang pada tanggal 18 Juni ditebas lehernya oleh pemerintah Saudi. Dipancung dengan pedang atas nama Qisas, hukum dimana nyawa ditebus nyawa. Dipenggal kepalanya. Dengan alasan, bahwa perempuan tua yang sering disiksa oleh majikannya ini, akhirnya marah dan menuntut balas atas perlakuan kejam yang diterimanya.

Tidak usahlah bicara soal diplomasi. Tidak usah bicara tentang kebijakan politik luar negeri. Tidak usah bicara mengenai hukum agama yang diselewengkan dengan paksa. Tidak usah bicara tentang betapa hebatnya tentara negeri ini. Tidak usah bicara tentang betapa kita menyia-nyiakan para pahlawan, mulai dari pahlawan tanpa jasa, pahlawan gerilya yang makamnya dibongkar di Kalibata, atau pahlawan devisa. Tidak usah!

Taik kucing dengan semua itu!

Mari bicara tentang keadilan yang terkoyak-koyak. Tentang bagaimana orang memperlakukan orang lain lebih buruk daripada mereka memperlakukan sampah.

Mari kita bertanya tentang itu. Dan mari kita bertanya, apa kita masih punya tenaga dan hati?

Malam ini, saya menulis dalam sendiri. Tidak ditemani para legiun yang peduli atau tidak peduli.

Malam ini saya menulis dalam sendiri. Dengan bulu kuduk meremang karena marah. Menggeletar dalam sepi; penuh gejolak yang akan membuncah.

(*Rest in peace Ruyati binti Sapubi. Ash to ash. Dust to dust. Innalillahi. You’re gone but not forgotten*)


Waktu Papa Belajar Ballet

ini gambar tutu asli, bukan yang jadi-jadian yang dibikin oleh bangaiptopBegini loh, rumah saya tidak besar. Tapi punya jendela kaca yang walaupun tingginya hanya 30 cm tapi panjangnya sekitar dua meter. Dari kaca jendela tanpa tirai dan hanya dibatasi oleh beberapa pot bunga kecil dan kuas untuk melukis, semua sisi rumah saya bisa terlihat dengan baik oleh tetangga-tetangga yang melintasi gang depan. Pada intinya, saya memang tidak punya banyak privasi melalui jendela tersebut.

Beberapa hari lalu, putri saya main-main di depan monitor komputer. Kelihatannya dia terlalu asyik melihat tayangan tari ballet melalui youtube. Tiba-tiba dia turun dari kursi dan lalu ikut-ikutan bergerak-gerak melonjak kesana-kemari loncat-loncat seperti penari ballet. Saya ketawa-ketiwi melihatnya.

Begitu melihat saya tertawa, ia berhenti. Dengan mulut cemberut ia berkata, “Papa. Kenapa kamu tertawa! Kamu tidak lihat saya sedang sibuk? Ayo, kamu juga ikut menari seperti saya”

Hah! Saya bengong mendengar permintaannya. Tapi hanya sejenak. Lalu saya mulai bergerak-gerak disampingnya sambil menari mengikuti tari ballet anak-anak yang kami lihat melalui youtube.

Ia berhenti sejenak. Mulutnya masih tetap cemberut. “Papa! Bukan begitu caranya. Kamu harus benar-benar ikuti gerakan anak-anak itu”

Saya protes, “Tapi papa kan sudah bener bergeraknya, Novi. Papa harus bagaimana lagi?”

Dengan tanpa dosa dia bilang, “Kamu harus pakai pakaian seperti mereka papa”

“Tapi papa nggak punya rok sayang. Mereka itu pakai pakaian khusus untuk ballet. Namanya tutu. Papa nggak punya itu”

“Umur papa kan sudah empat tahun. Umur saya tiga tahun. Papa lebih tua daripada saya, papa harus cari cara dong!” katanya sambil melihat muka saya seakan seperti menuntut.

Eh buset bocah. Emang bapaknya siapa kok yaa minta-minta saya punya seragam penari ballet.

Tapi yaah demi anak perempuan semata wayang. Saya rela-relakan akhirnya ke gudang. Cari koran bekas. Dirangkai. Digunting. Lalu saya jadikan rok mini rumbai-rumbai demi menyenangkan si buah hati. Setelah itu saya balik lagi ke ruang tengah. Ke depan monitor, “Nah Novi, papa sudah punya tutu nih sekarang. Jadi, kita bisa menari sama-sama sekarang?”

“Yaa nggak dong papa. Kamu nggak boleh pakai baju dan celana itu”

“Lah terus papa pakai apa dong?!”

Dengan cueknya ia buka baju dan celana dan hanya menyisakan popok dan celana dalam saja. “Begini papa. Kalau mau menari ballet, nggak boleh pakai baju dan celana sembarangan”

Hah! Sekali lagi saya terbengong-bengong. Edan, masa iya saya harus hanya pakai celana dalam diliputi rok mini rumbai-rumbai dari koran bekas. Tapi sekali lagi, akibat tatapan mata Novi Kirana yang sedemikian mengiba, ya sudah saya turuti permintaannya.

“Papa, kamu kok nggak pakai popok sih? Pakai popok dong biar sama dengan saya. Nanti kalau lagi ballet kamu mau kencing bagaimana?”

“Yaelah Novi, papa kan sudah lebih besar daripada kamu. Papa nggak usah pakai popok lagi dong. Papa ke WC saja”

Jadi, saat itu di ruang tengah rumah saya, terlihatlah sepasang bapak dan anaknya sedang menari ballet hanya pakai celana dalam saja. Dan seketika itu pula, kami langsung beraksi meniru para penari ballet cilik yang ada di youtube.

Tanpa saya sadari, akibat musik ballet yang mungkin terlalu keras ternyata banyak kepala bermunculan dari balik jendela rumah saya. Buset, ternyata tetangga sedang melihat saya dan putri menari-nari mengikuti musik. Jadi, saya yakin dihadapan mereka terlihat anak kecil berusia tiga tahun dengan seorang laki-laki berambut awut-awutan berperut buncit yang hanya mengenakan celana dalam diliputi rok mini kertas koran rumbai-rumbai sedang pura-pura jadi penari ballet cilik.

Karena pemandangannya cukup ajaib, saya sambil cengar-cengir hanya melambaikan tangan ke arah mereka sambil berkata, “Halo. Hehehe….”

Mereka melambai balik. Dengan senyum yang terlihat dipaksakan. Dengan tatapan mata yang sukar dijelaskan dengan kata-kata.

Tidak lama setelah tetangga bubar akibat tayangan musik ballet habis dan putri saya sudah mengalihkan perhatian bermain balok-balok kayu menyusun rumah-rumahan, saya pun kembali ke ‘seragam normal’. Celana jeans dan t-shirt.

Begitu selesai berpakaian ada telpon masuk. Rupanya dari seorang sahabat. Dari suara telpon terdengar kalau ia panik.

“Bangaip… Gua stress nih”

“Lah kenapa? Santai aja. Gua kan satu-satunya temen lo yang punya nama belakang Top dengan tambahan Deh. Hehehe… Masa sih ada masalah yang ga bisa diselesaikan?”

“Adek gua bang.. Aduh masalah banget deh tuh anak”

“Kenapa ama adek lo?”

“Adek gua, aduuh stress banget gua nih. Masa foto-fotonya kesebar di internet. Udah gitu diperes pula. Aduuh gua stress nih, emak gua aja ampe stress… Aduuh pusiing!”

Dari telpon, saya minta ia duduk dan lalu minum air segelas. Ambil nafas, lalu baru mulai bicara. Kalau tidak, susah mendengar ia bilang apa. Untung saja ia menurut. Maka beberapa menit kemudian akhirnya ia bicara dengan lebih runut dan tidak lagi terengah-engah.

Saya dengar ceritanya dengan seksama. Rupa-rupanya si adik kangen dengan suaminya yang ada di luar negeri. Mereka bercinta melalui internet. Si adik, mengirimkan beberapa foto kategori panas dan video-video syur ke alamat email suaminya. Rencananya, materi tersebut tentu saja berguna sebagai pengobat rindu sang suami. Bagaimana menggunakannya, tentu saja tidak perlu saya ceritakan di sini. Yang perlu saya ceritakan adalah bahwa alamat email si suami rupanya dimasuki orang nakal. Entah alasannya apa, akhirnya foto-foto si istri tersebar luas di internet. Yang paling parah, sekarang malah ada oknum yang mengancam untuk meminta uang segala. Tidak tanggung-tanggung, kalau tidak diberi 20 juta rupiah maka foto-foto dan video si istri yang sekaligus dosen ini akan disebarkan ke sekolah dan mahasiswanya.

20 juta rupiah walaupun bisa dibayar oleh sang suami, tentu saja bukan sejumlah uang yang sedikit. Maka sore itu, kakak iparnya yang sekaligus sahabat saya menelpon dengan suara bergetar akibat sedih, marah dan kecewa yang bercampur jadi satu.

“Bang, gimana kalo foto-foto ama video adek gua kesebar dikampusnya?”

“Adek lo kan korban, Wi. Dia kan cuman kangen ama suaminya dan suaminya kangen ama dia. Jadi kalo ada orang yang memanfaatkan itu buat kepentingan pribadi, yaa jelas bukan salah adek lo”

“Kalo sesial-sialnya mahasiswa dia dapet tuh foto gimana ceritanya? Adek gua nanti jadi bahan coli dong? Apalagi amit-amit deh kalo adek gua ditangkep polisi”

“Saran gua sih jujur aja ama sekolah dan civitas akademikanya kalo ada orang yang mau berbuat jahat sama dia. Dan mengakses dan nyebarin materi personal dia, sama aja setuju dengan kejahatan yang terjadi. Adek lo itu korban kejahatan. Bukan pelaku”

“Tapi Bang lo tau ga Ariel Peterpan itu kena kasus UU pornografi? Dia kan sama kayak gini kasusnya. Emangnya dia niat nyebarin videonya. Kok bukan yang nyebarin yang dihukum malah si Arielnya yang dihukum?”

“Buat gua, itu nggak adil. Tapi gua pribadi sih nggak begitu ngikutin kasus Ariel jadi nggak bisa komentar banyak. Buat gua saat ini yang penting adek lo. Yang jahat dalam kasus ini kan orang yang nge-hack account email adek ipar lo. Yang jahat kan yang meras duit dan ngancem mau nyebarin foto-foto telanjang adek lo. Nah kalo mahasiswa adek lo apalagi rekan sesama dosen ikutan download tuh foto, apalagi ikutan nyebarin. Mereka bukan lagi ngaco secara etika. Tapi juga ikut nyebarin kejahatan dan sama-sama melakukan tindak kejahatan. Lebih parah lagi, kalo bahkan ikutan menghakimi adek lo secara moral”

“Tapi Bang, orang Indonesia kan biasanya begitu. Nggak tau apa-apa tapi ujung-ujungnya maen hakim sendiri”

“Hell yeah, gini-gini gua orang Indonesia… Jangan generalisasi dong. Hehe”

Wiwik diam. Saya jadi tidak enak. Bisa jadi ia bicara begitu karena memang itulah satu-satunya kenyataan yang ia tahu. Saya pikir saya lebih baik membantunya secara kongkrit daripada bicara dalam tataran filosofis yang sama sekali malah membuat ia jadi tambah pusing.

Saya telpon mamanya Wiwik serta adik iparnya. Menjelaskan langkah yang tidak perlu saya ceritakan disini secara teknis (karena terlalu detil dan amat teknis) untuk memulihkan keadaan yang bikin panik keluarga mereka ini.

Langkah yang saya ambil secara garis besar adalah:

  • Mengambil ulang akun email dan facebook adiknya Wiwik dan mengganti passwordnya secepat mungkin (*Jangan tanya saya gimana caranya, yang jelas sih saya bukan hacker dan semuanya saya lakukan secara legal*)
  • Melakukan investigasi kepada siapa saja email berisi foto-foto dan video telah dikirimkan. Merekam jejak dan mendokumentasikannya sebagai bukti bahwa adik Wiwik dan suaminya sama sekali tidak ikut dalam penyebaran foto dan video mereka kepada publik.
  • Mengirim surat elektronik berisi cerita jujur apa adanya kepada pihak yang telah disebarkan materi dewasa tersebut agar tidak mendistribusikan foto dan video ke khalayak luas.
  • Meminta adik Wiwik untuk tetap sabar dan membuat blog pribadi. Isinya adalah kronologis mengapa foto dan videonya sampai tersebar di publik. Jelaskan kepada publik apa yang ia rasakan dan ia alami sejak akun surat elektronik suaminya dibobol dan mereka diperas.

Tujuan semua langkah-langkahnya sederhana, yaitu melawan balik. Mereka sudah diintimidasi dan mungkin akan disiksa oleh opini publik, satu-satunya jalan yaa jangan diam.

Yang saya kaget sebenarnya bukan dari cerita adiknya Wiwik. Yang membuat saya sedemikian terkejut adalah, belum sampai seminggu sudah empat ‘kasus’ serupa yang saya tangani. Saya sebut kasus pakai tanda kutip sebab saya sama sekali bukan profesional ahli informatika. Apalagi detektif swasta. Yang datang menelpon atau mengirim email minta bantuan juga biasanya teman atau temannya teman. Kalau bisa saya bantu yaa saya bantu. Kalau tidak yaa saya meminta maaf sebab tidak bisa berbuat banyak.

(*Ada yang meminta untuk membongkar akun facebook suaminya sebab ia pikir suaminya kawin lagi. Gara-gara cemburu, facebook jadi korban. Eh buset, saya belum sejago itu untuk bongkar-bongkar rahasia FB orang lain. Hehe. Oh ya, Wiwik itu bukan nama sebenarnya dan kasus di atas adalah contoh kasus yang atas perijinan teman saya boleh dipublikasi di blog ini. Segala peristiwa yang mungkin mirip dan telah terjadi, adalah kebetulan belaka. Sebab semuanya memang hampir mirip seperti ini. Modus paling mendominasi utamanya gara-gara ‘cinta’*)

Sejak makin maraknya sosial media melalui perangkat genggam, saya cermati secara subjektif bahwa makin banyak orang yang mengeluh atau merasa tersiksa akibat foto atau video personal mereka tersebar di publik. Ada yang mengeluh karena tanpa sadar foto personal tanpa seijinnya tersebar kepada publik melalui sosial media (jadi yang bawa hape pun bisa lihat). Ada yang mengeluh karena dulu waktu belum sadar dahsyatnya keganasan internet, buka-bukaan didepan publik (dan sekarang menyesal). Yang pasti, banyak sekali yang mengeluh.

Mudahnya akses internet dan mudahnya menampilkan gambar semau kita dihadapan publik adalah awal. Beberapa yang cerdas, tentu saja hati-hati dalam membuat status dalam sosial media dan menampilkan tayangan apa yang perlu diberitahu ke publik. Bisa jadi mereka lebih paham rimba lalu lintas data internet. Bisa jadi juga karena hanya ingin sekedar bergaya politik pencitraan diri dalam kata lain sok jaga image.

Beberapa yang kurang begitu hati-hati, yaa dengan bahagianya memberikan amunisi pada publik secara detail kehidupan mereka sehari-hari. Bisa jadi karena mereka ingin berbagi. Bisa jadi karena keinginan bawah sadar ingin menampilkan aurat di depan publik.

Yang pasti ujung-ujungnya memang banyak yang mengeluh.

Diantaranya mengeluh ke saya (*Loh, kok saya malah curhat begini. Hehe*). Saya sendiri sih tidak masalah. Sebab saya kan hobi menerima keluhan (*Jangan-jangan saya masochist? Haha*). Tapi kadang-kadang, keluhannya telat. Kasihan, ada bapak yang jual sawah dan kerbau hingga seluruh harta kekayaan untuk mengirim putrinya ganti sekolah dan domisili ke Singapura karena foto digital bercumbu sang anak yang masih kelas tiga SMP itu disebarkan oleh mantan pacarnya yang sakit hati.

Saya bukan moralis. Saya mendukung gerakan jangan telanjang di depan kamera bukan gara-gara ada hubungannya dengan reliji, moral, etik dan bla-bla-bla lainnya. Saya mendukung gerakan itu dengan alasan yang sederhana. Sebab undang-undang digital di RI (mau namanya yang berkaitan dengan pornografi atau intelejen, whatever lah. Sama saja semuanya. Isinya ajaib)  belum sepenuhnya berdiri untuk mendukung korban. Kasus Ariel Peterpan contoh yang sederhana bahwa wilayah pribadi digital informatika WNI masih bisa diusik oleh pemerintah atau WNI lain yang merasa bahwa mereka yang paling benar.

Itu contoh yang sederhana. Mau contoh yang lebih rumit? Sila google DNS Filtering di republik tercinta. Mau lagi yang lebih rumit? Pelajari data digital audit institusi negara. Lagi yang lebih rumit? Masih banyak. Makin teknis, makin menakutkan isinya. Semuanya sama. Ada hak-hak manusia dalam bertukar informasi melalui internet yang dilanggar oleh pemerintahnya. Ada wilayah pribadi yang selalu dilanggar demi rasa ingin tahu orang-orang yang sok tahu atau bahkan untuk institusi yang merasa perlu menyembunyikan pada publik sesuatu.

Saya ingat waktu cerita hal ini, Wiwik menukas cepat. “Bang, bukannya bagus kalo disensor pemerintah. Kan gampang, foto adek gua nggak bakal ditonton mahasiswanya?”

“Wik, kalo orang kebelet mah, apa aja dilakuin. Jangankan mutusin sensor, email orang laen aja bisa dia jebol. Menurut lu lebih bagus mana cara mendidik anak makan sayur. Dipaksa trus dipukul biar makan? Apa dibujuk dengan diberitahu jujur bahwa sayur itu bagus buat dirinya?”

Ia diam. Ia tahu maksud analogi yang saya lontarkan.

Untungnya hari itu selesai dengan penutupan yang baik. Kebetulan si pelaku pembobolan dan pemerasan akhirnya bisa didentifikasi. Bukti berhasil dikumpulkan untuk cukup menyeretnya ke meja pengadilan. Beberapa orang yang telah menerima foto-foto dan video seronok itu dengan sukarela memberikan pernyataan bahwa mereka tidak akan mendistribusikan tindak kejahatan.

Selesai mengobrol dengan Wiwik melalu telepon putri saya duduk di samping sambil melihat dengan tatapan mata serius ke ayahnya. “Papa, kamu tadi ngomong apa sama teman kamu?”

Yaelah, bocah kok yaa mau tahu aja bapaknya ngapain. Tapi dengan santai saya jawab, “Bantu teman Papa, Cintaku. Kasihan dia. Fotonya dicuri orang”

“Papa bantu ambil kembali fotonya teman papa?”

“Iya sayang. Kalau bukan milik kita kan bukan hak kita untuk mengambilnya”

“Papa, ayo kita ambil foto”

“Foto Novi berdua papa? Ayoo…”

“Bukan papa. Foto kamu sendiri saja. Papa jangan pakai baju itu. Itu baju kurang bagus. Papa pakai tutu saja yaa”

Saya melongo. Astaga, masa sih lagi-lagi saya harus pakai celana dalam saja dibalut rok mini kertas koran rumbai-rumbai. Apa kata dunia kalau foto ini jadi digital? Foto bapak-bapak buncit dari pinggiran kota memakai tutu palsu sambil meniru pebalet cilik.

Saya protes, “Novi, kalau foto papa dicuri orang bagaimana? Kasihan dong papa nanti?”

“Kenapa dicuri papa? Kalau ada yang minta, kasih saja”

Saya makin melongo ketika sambil tertawa ia mengangkat kamera dan blitz melahap saya dengan seketika itu juga.


Mungkin Saya Terlalu Banyak Menonton Film Star Wars

Sebelum meninggal, pelukis Indonesia Salim pernah berkata pada Kang Adi sahabat saya. “Di, kalau berkarya jangan mengharapkan kaya. Jangan mengharapkan terkenal. Jangan mengharapkan dipuja. Berkarya saja sebab karena ia bagian dari hidup kamu. Kalau memang pada suatu hari karya kamu disukai publik, itu lain lagi ceritanya. Tapi, jadikan hidup kamu dengan berkarya”.

Lalu beberapa malam lalu, Kang Adi kembali mengulang nasihat itu ke saya. Bedanya, kalimat ‘Di’ diganti jadi ‘Rip’. Hehehe.

Kami sebelumnya memang membicarakan Salim. Pelukis asal Nusantara yang bersahabat akrab dengan para bapak bangsa seperti Sjahrir dan Hatta. Yang dikaruniai umur panjang bahkan sempat menginjak usia 100 sebelum akhirnya maut menjemput. Salim yang selalu bangga dengan peci Cap Indonesia yang ia sebut dengan, “Setiap bertemu orang Indonesia aku pakai selalu peci ini”. Salim yang sama yang tetap memakai pecinya bahkan ketika menjadi relawan berangkat perang ke Catalonia sebagai seniman dalam revolusi Spanyol tahun 1936, yang mungkin disana bertemu dengan Hemingway, pujangga Amerika.

“Jadi begitu lah, Rip. Kata Salim berkaryalah karena lu merasa bahwa berkarya itu bagian dari hidup lu. Masak motret cuma kalo mao ikut lomba aja? Nyari apa, nyari nama? Nyari duit? Nyari piala? Sekedar ngebuktiin kalo lu bisa menang? Yaah jangan lah. Ahh tapi aneh juga sih, gua sendiri bilang ama Salim, kan nggak semua seniman kebutuhannya sama. Seniman kan manusia. Kebutuhannya beda-beda”

Obrolan ini memang bermula dari beberapa riset foto yang akan saya lakukan. Sederhananya, saya keceplosan bahwa akan melakukan semacam riset dengan alasan yang kadang susah diterima dengan kebanyakan orang. Setidaknya, jika orang yang dimaksud adalah para ‘temennya bangaiptop’. Alasan saya riset, ternyata uang. Saya mau ikut kompetisi dan berharap menang lalu dapat duit dari sana. Kang Adi tidak melarang, menyayangkan atau melihatnya sebagai dilema moral berkesenian. Tidak. Sama sekali tidak. Ia hanya memberitahu bahwa ada lomba atau tidak, ikut kompetisi atau bukan, saya sebaiknya berkarya. Apapun karyanya.

Saya diam. Tidak bisa bilang apa-apa. Saya pikir Kang Adi benar. Hanya mungkin, prioritas saat ini yang saya miliki memang berbeda.

Tapi omong-omong sial prioritas, saya jadi ingat suatu hari obrolan bersama si Hadi anak juragan tembakau. Malam itu kami bergosip tentang beberapa orang teman. Namanya gosip, yaa makin digosok makin sip. Kebetulan, kami menggosipi si Diki yang dua tahun telah kembali pulang ke pangkuan bumi pertiwi.

Saya: “Di, si Diki gimana kabarnya yaah?”
Hadi: “Wah dia jadi kaya, bang”
Saya: “Bagus dong! Jadi kita bisa ditraktir, hihihi…”
Hadi: “Wah ati-ati bang, dia bergabung sama Dark Force sekarang”

Saya mau senyum. Tapi saya dan Hadi, kami sama-sama orang aneh yang menyukai film fiksi Star Wars. Dark Force adalah kekuatan besar yang dikomandani oleh Anakin Skywalker yang lalu berubah menjadi Darth Vader sebagai kekuatan antagonis dalam film Star Wars. Kekuatan ini, pada intinya hanya punya satu tujuan. Yaitu menguasai alam semesta dan membunuh para ksatria Jedi yang membela umat manusia. Setelah itu, menjadikan manusia dan semua makhluk serta kekayaan alamnya sebagai budak mereka.

Nah, kalau Diki pulang ke republik tercinta lalu bergabung dengan kekuatan hebat seperti Dark Force yang ada dalam budaya mainstream merusak bumi Indonesia, bisa gawat ceritanya.

Sebab Dark Force itu sebutan kami untuk konglomerasi yang mendapatkan banyak kemudahan dan fasilitas dari pemerintah untuk mendayagunakan seluruh sumber daya alam dan manusia yang melingkupi Indonesia hanya demi kesejahteraan konglomerasi dan eksekutif pemegang dividen.

“Di, kita kan cuman ngegosip doang. Kamu jangan serius-serius dong…”

“Yah abang… Kalo si Diki kerja disitu baru setengah tahun sih itu baru gosip, Bang. Dia kan sudah hampir dua tahun kerja di sana. Begitu selesai jadi doktor langsung pindah haluan. Dia kan ngambil kerjaan yang ditawarin ke abang”

Saya tergagap-gagap, “Loh kamu tau darimana ini posisi itu dulu ditawarin ke saya juga?”

“Halah, gosip yaa digosok makin sip. Kabar burung toh bang. Cek aja di twitter. Hihi…”

“Tapi si Diki? Wah masa sih. Si Diki kan idealis banget. Mana mau dia ngerusak hutan? Apalagi Kalimantan. Dia kan bapaknya orang Samarinda. Asli Kalimantan dia itu. Kok gabung sama perusahaan yang kerjanya ngebabat hutan Kalimantan?”

“Terakhir ketemu Diki…”

“Kapan kamu ketemu?” saya sela dengan cepat omongan Hadi. Biasanya kalau ia berbohong, akan gelagapan jawabnya. Saya kenal Hadi.

Tapi sial lancar sekali ia menjawab, “Saya kan baru dari Jakarta, bang. Baru dua minggu lalu. Disana ketemu Diki. Hebat dia bang. Apartemen dikasih kantor, itu juga plus pembantu. Mobil juga dikasih sama supir-supirnya. Wah bang, pembantunya cakep loh. Hebat tuh perusahaan. Bisa ngasih pembantu model gitu ama si Diki. Si Diki kan bujangan bang. Dikasih pembantu muda, seksi dan aduhay begitu ya betah lah dia di rumah. Dia sering kerja dari rumah aja sih. Ke kantor kalo meeting doang. Wah hebat lah tuh anak. Nggak kena stress macet Jakarta. Belum lagi gajinya bang. Kayaknya sih annualnya bisa satu milyar lebih. Posisinya tinggi bang. Nih kartu namanya, baca aja. Tapi bang, males banget ngomongin Diki. Dia sekarang kebuka deh kedoknya sebagai PhD project. Jadi doktor cuman kalo gara-gara ada duitnya. Cuman gara-gara project. Mana mau dia ngebangun negeri? Jangankan peduli masyarakat se indonesia, kampungnya sendiri aja dikhianatin. Lah capek deh ngomongin Diki. Ngomongin pembantunya aja yuuk?”

Saya cengar-cengir menjawabnya.

Saya sama sekali tidak tertarik isu yang akan dibawa Hadi, yaitu semulus apa paha pembantu Diki. Apalagi bagaimana si Diki menghabiskan gajinya. Itu bukan urusan saya. Tapi yang saya ingin tahu adalah, sejauh mana si Diki sudah bergerak dengan keahliannya.

Akibat penasaran. Saya buka-buka arsip lama media yang ada di Indonesia. Mulai dari arsip digital hingga arsip cetak konvensional. Baru sadar sesadar-sadarnya, bahwa sebuah perusahaan yang dulu terkenal dianggap perampok kekayaan rakyat sejak dua tahun ini namanya sama sekali tidak banyak tersebut di media. Sejak Diki masuk sebagai bagian dari mereka. O-ow… Kelihatannya kesaktian Diki dipakai dengan semaksimal mungkin oleh perusahaan tersebut. Sebab hanya ada dua pilihan untuk memaksa orang berhenti membicarakan keburukan kita. Pertama, berhenti berbuat buruk. Kedua, menutupinya dengan semua tipu daya bahkan dengan yang belum pernah tercatat dalam sejarah manusia.

Kata Hadi, kenapa Diki dibayar semahal itu karena ia harus melakukan langkah yang kedua. Tapi toh hidup itu pilihan. Diki sudah memilih jalannya. Maka, konsekuensi adalah hal yang wajar ia terima. Saat ini, konsekuensinya adalah punya mobil mewah dengan supir, pembantu seksi, uang tabungan banyak dan hidup di Jakarta tanpa stress kena macet. Lanjut Hadi, “Asik juga yaah hidup begitu?”

“Apa asiknya sih digosipin ama dua orang manusia yang sudah jelas hidupnya nggak bagus-bagus amat? Hehe…”, kata saya sambil garuk kepala.

“Nah itu maksud saya, Bang. Kita kan secara akademis nggak sehebat Diki. Jangankan begitu, duit kita aja nggak sebanyak duit Diki. Tapi kita kan jauh lebih baik dari dia, kan? Maksud saya, kita aja yang udah sehina ini masih bisa menghina dia, berarti sampai mana taraf kehinaan dia yaah?”

“Wah itu sih kamu… Saya sih nggak ngerasa lebih baik dari siapa-siapa. Hehehe. Saya sih cuma bingung, Di. Kalo Diki direkrut sama mereka. Makin berat dah nasibnya bumi kita. Waduh, orang sepinter dan seberbakat Diki kok yaa harus jadi begitu?”

“Lah terus kalo udah pinter dan berbakat harusnya jadi gimana, Bang?”

Saya melongo. “Yaelah, mana saya tau Di?”

Obrolan berhenti sampai di situ. Hadi pulang lagi ke Indonesia. Ia mampir sebentar ke rumah saya karena memang sedang berbicara di hadapan sebuah forum internasional yang membutuhkan keahliannya. Sejak saat itu, saya tidak pernah lagi mendengar kabar Diki. Satu-satunya teman saya yang cukup akrab dengan Diki yaa Hadi.

Tapi sebagaimanapun jauhnya ia dan kapan kejadiannya, obrolan dengan Hadi malam itu memang sangat jelas masuk ke otak saya.

Intinya, jika seseorang mampu dan berbakat. Apa yang harus ia lakukan?

Balik ke omongan Salim, jawabannya jelas; Harus berkarya. Sebab berkarya itu adalah bagian dari hidup.

Saya pikir, saya jarang berkarya sebagai bagian dari hidup. Biasanya, saya berkarya karena saya gelisah. Gelisah karena deadline kerjaan. Gelisah karena harus mengumpulkan tugas dulu ketika sekolah. Atau gelisah karena butuh sesuatu. Saat ini saya gelisah mau membelikan putri saya mainan baru. Sayang saya belum ada uang. Jadi, saya berkarya, saya memotret, pada intinya memang hanya karena mau memberikan anak saya boneka anjing besar berbulu lembut yang bisa menyalak.

Edan memang, riset macam apa yang saya lakukan jika ujung-ujungnya hanya mau membelikan anak mainan.

Saya tidak idealis? Entahlah. Jawabnya iya atau tidak sama sekali tidak begitu banyak pengaruhnya. Saya sendiri tidak bisa menempelkan cap atau stigma pada diri saya. Sama sebagaimana saya tidak bisa menempelkan cap itu pada jidat Diki.

Mungkin saja Diki punya motif yang sama dengan Anakin Skywalker. Bergabung ke Dark Force lalu menjadi Darth Vader demi menyelamatkan jiwa istri yang amat dicintainya.

Sebab di ujung hari, riset atau tidak, toh saya biar bagaimanapun juga akan mendapatkan boneka anjing besar yang bisa menyalak.

Sebagaimana di ujung hari, perusahaan tempat Diki bekerja semakin berhasil mengaburkan jejak-jejak kejahatan mereka.

*Kelihatannya saya (lagi-lagi) patah hati dengan superioritas mafia hukum RI*


Pilih Mana? Percaya Atau Tidak?

Saya memang agak-agak kurang beruntung hati beberapa hari belakangan ini. Masalahnya dimulai dari hal-hal yang mungkin beberapa orang terlihat sederhana sampai yang membingungkan.

Saya kehilangan tulisan. Tulisan berseri mengenai sosial media dan perubahan yang melingkupinya. Isi totalnya ada empat tulisan. Eh… Hilang! Dicari kemana-mana tidak ketemu. Aduh, hati ini kok yaa gimana rasanya begitu mengetahui bahwa tulisan itu memang benar-benar hilang.

Kedua, saya kehilangan mood untuk menjumpai praktisi medis yang biasanya membantu kelangsungan hidup sehari-hari. Alasannya sepele, bosan. Bosannya juga ternyata sepele sekali, yaitu akibat rasa kepercayaan yang semakin merosot karena mereka menasihati saya untuk meminum paracetamol ketika saya sakit kepala. Edan, setiap hari saya kadang bisa 4-5 kali sakit kepala sebelah. Masak sih saya harus minum itu obat terus-terusan? Lah bagaimana kalau saya nanti jadi painkiller junkie?

Ketiga, saya kerap bertemu orang yang mati-matian mempertahankan argumen bahwa karena agamanya ia jadi tidak perlu belajar.

Masalah pertama walaupun makan waktu riset, saya bisa usahakan solusinya dengan cara menulis ulang. Begitu juga dengan problem kedua, saya tinggal cari spesialis dan penasihat medis yang lebih mumpuni. Jadi pada intinya, bisa ditanggulangi dengan optimis.

Yang bikin saya kebingungan, yaa bagaimana ini dengan masalah saya yang ketiga.

Akhir-akhir ini saya memang kerap bertemu kenalan yang menganggap bahwa apa yang ada dalam agamanya adalah sebuah kebulatan superior yang tidak bisa diubah-ubah.

Sumpah mati, saya tidak benci agama. Sebagaimana saya pribadi tidak pernah membenci pemeluk agama dan keyakinan tertentu (apapun agama atau keyakinannya). Saya akui saya memang punya jarak dengan agama, tapi bukan berarti saya bebas mencelanya. Dalam hidup ini, ada beberapa manusia tertentu yang dalam kondisi hidupnya, tidak punya apa-apa selain agama, dan hanya agama yang membuat mereka akhirnya bertahan untuk tetap hidup dan menyemangati orang lain agar tetap hidup. Saya menghormati mereka dan menghormati jalan hidup yang sengaja atau tidak sengaja telah mereka pilih tersebut. Termasuk, jalan hidup beragama.

Tapi, akhir-akhir ini saya mungkin memang sedang kurang beruntung. Saya bertemu dengan orang yang mati-matian menolak teori evolusi dengan alasan bahwa itu hanya teori tanpa bukti. Ada yang menolak bahwa umur bumi lebih tua dari 6 juta tahun sebab menurut beliau bumi dalam kitab sucinya diciptakan dalam enam hari (jadi kalau bahasa kitab suci adalah perumpamaan dalam penciptaan bumi, maka harus ada angka enamnya. Tidak peduli bahwa ilmu geologi bisa membuktikan bahwa umur bumi sekitar 54 milyar tahun). Hingga menolak untuk percaya bahwa manusia pernah mencapai bulan dengan alasan kalau guru fisikanya dulu semasa SMU pernah bilang bahwa manusia tidak mungkin mendarat di bulan sebab manusia tidak bisa melampaui kekuatan magis yang meliputi bumi yang membuat bumi kita terlindungi dari serangan meteor (*Guru Fisika macam apa itu coba?*)

Dari sekian banyak orang yang saya temui dan menolak fakta ilmu pengetahuan hampir semuanya bilang bahwa agama yang ia peluk yang membuatnya tidak percaya (*Satu orang alasannya cukup ajaib, dia bilang “Males ahh tau yang begituan. Ga penting!” yang saya langsung balas dengan tersenyum manis*).

Hampir semuanya bilang bahwa fakta ilmu pengetahuan sama sekali tidak sesuai dengan ajaran keyakinan yang ia percayai sejak kecil. Jadi, tidak perlu dipercaya. Sebuah argumen yang benar-benar ajaib. Bukankah fakta ilmu pengetahuan itu tidak pernah memaksa untuk dipercayai? Bukankah mereka hanya sekedar fakta? Yang bicara apa adanya sesuai bukti.

Dari beberapa kali mengobrol dengan para manusia yang menolak fakta ilmu pengetahuan dengan basis landasan utama akibat agama melarangnya, saya akhirnya mengambil beberapa sampel pola pendidikan sederhana;

  1. Bahwa tingkat pendidikan tidak berbanding sejajar dengan pemahaman terhadap ilmu pengetahuan. Belum tentu makin tinggi sekolah jadi makin memahami kompleksitas hidup
  2. Bahwa pendidikan agama di RI cukup ekstrim setidaknya hingga tahun 90-an. Beberapa pendidik bahkan kerap memberikan opini pribadi mereka mengenai agama justru ketika mereka pada saat bukanlah sebagai pengajar agama
  3. Bahwa adalah wajar mengetahui bahwa siswa WNI di RI harus memiliki agama sementara tidak wajar untuk mengetahui dan mengkritisi mengapa siswa-siswi maupun pendidiknya di RI harus beragama. Efek sampingnya, terjadi penumpulan pada daya kritis siswa
  4. Bahwa semenjak sekolah dasar pun siswa telah diberi pemahaman untuk berkumpul dan berserikat berdasarkan agama yang dianutnya
  5. Bahwa ada siswa yang sedemikian apatisnya terhadap kehidupan beragama, ia mengambil jarak dari komunitas beragama. Di sisi lain, ada siswa yang malah mengambil kesimpulan bahwa ia tidak perlu belajar lagi dengan alasan ilmu agamanya sudah cukup jadi apapun fakta terbaru ilmu pengetahuan, tidak perlu ia terima.
  6. Bahwa ada siswa yang merasa tidak penting tahu bahwa bumi itu bulat atau kotak. Yang penting sekolah nilai tinggi agar lulus kerja bisa jadi PNS atau karyawan BUMN atau menempati posisi yang membuat hidupnya nyaman (*walaupun definisi nyamannya ternyata sangat bisa diperdebatkan*)

Menarik bukan?

Yang saya kagumi adalah bahwa yang melontarkan pernyataan di atas adalah para WNI yang dulu sempat sekolah dasar hingga atas di Indonesia dan lalu melanjutkan sekolah lagi di luar Indonesia.

Balik lagi ke topik awal. Saya sempat menyesal bertemu orang-orang seperti itu. Dalam hati saya sempat merutuk, “Ini mah buang-buang waktu aja”.

Tapi… Eh tapi kok yaa saya sempat kepikiran. Jika saya bilang di awal bahwa mungkin saya kurang beruntung saya pikir saya salah. Sebab ternyata bisa jadi kalau justru ini adalah momen-momen keberuntungan saya. Bertemu dengan manusia yang berbeda.

Tidak banyak orang yang setuju dengan pola pikir saya. Dengan keputusan saya untuk tidak bisa dengan mudah mempercayai Nyi Roro Kidul. Padahal apa sih yang kurang dari si Nyai? Sudah single, cantik, seksi bahkan punya banyak kamar hotel sendiri. Apa coba yang kurang sehingga saya masih tidak percaya?

Jangankan orang-orang, Ibu dan adik-adik saya saja sempat khawatir dengan apa yang saya percayai dan dengan apa yang tidak. Tapi toh itu tidak menghilangkan kenyataan bahwa kami amat mencintai satu sama lainnya.

Mungkin, dengan datangnya manusia-manusia baru yang punya kepercayaan yang berbeda itu, saya malahan jadi bisa melihat bahwa perbedaan antara kami itu sebenarnya amat indah :)

(*Percaya atau tidak? Saya sering diundang makan-makan oleh mereka yang ajaib dan berbeda keyakinannya ini. Lah saya turuti dong undangannya, buat saya kan makan-makan dan ketawa-ketiwi itu indah. Hehehe*)


Menjadi Tua Itu Pasti

Sooner or later they all will be gone
Why don’t they stay young
It’s so hard to get old without a cause
I don’t want to perish like a fading horse

(Alphaville – Forever Young – 1984)

Dekade berasal dari bahasa Yunani Kuna ‘Dekas’, artinya sepuluh. Dekade sendiri adalah ungkapan yang berarti masa dalam sepuluh tahun. Jadi kalau anda kenal orang yang bernama Deka, bisa jadi ada kemungkinan punya hubungan dengan angka sepuluh :)
(*Walaupun bisa jadi Deka itu singkatan dari Adek Kakak, hehe*)

Indonesia dua dekade lagi, seperti apa?

Itu yang ditanya oleh teman-teman saya pada suatu siang di bawah matahari yang bersinar dengan amat bagusnya.

Saya tidak tahu. Hanya itu jawaban yang terlontar dari mulut saya. Bagaimana yaa Indonesia dua puluh tahun lagi. Apa perkembangan budayanya sama dengan Indonesia era tahun 70-an pindah ke 90-an? Atau loncatan teknologinya mirip antara Indonesia era 80-an ke tahun 2000?

Apa politisinya makin gila? Apa sudah berhasil menerbangkan astronot ke bulan atau ke antariksa? Apa sudah paham bagaimana bersikap ketika menghadapi bencana? Apa masih banyak kekerasan terhadap kemanusiaan? Atau malah kita semakin toleran? Apa isi laut dan hutannya masih ada? Bagaimana sistem pendidikannya, apa layak buat anak cucu kita? Bagaimana perilaku kesehatan warga?

Entah kenapa saya jadi tambah banyak pertanyaan. Saya pikir ada baiknya saya tidak jawab apa-apa.

Tapi karena semua mata melihat ke muka saya, jadi saya jawab juga pertanyaan berat itu. “Saya tidak tahu, tapi saya pikir, orang Indonesia sih makin banyak saja”, sambil garuk-garuk kepala.

Mereka tidak kaget ketika saya bilang Indonesia sudah memiliki lebih dari 200 juta jiwa penduduk di dalam negeri saja. Kata mereka itu wajar, sebab Indonesia memiliki letak geografis lumayan besar.

“Kamu ada rencana pulang ke Indonesia?” tanya Mbak Ita sambil membetulkan letak gagang kacamata hitamnya.

“Iya. Tapi nggak tahu kapan. Anak saya masih kecil, Mbak”

“Kalau kamu pulang orang Indonesia yang di Indonesia jadi tambah banyak dong?”

Saya tertawa. Ya memang benar. Kalau saya pulang ke Indonesia, pasti orang Indonesia tambah lagi satu. Syukur kalau kehadiran saya bisa membantu banyak orang. Kalau tidak, kan cilaka. Bisa-bisa malah jadi benalu.

Malamnya, setelah pulang ke rumah saya berfikir lama. Wah bagaimana yaa Indonesia dua puluh tahun lagi?

Kalau belum jadi meninggalnya, saya pasti tambah tua. Eh, bagaimana rasanya tua di Indonesia?

Karena saya selama ini hanyalah buruh pabrik kecil di belahan dunia lain, pertanyaan lanjutannya adalah; bagaimana rasanya jadi tua di Indonesia, tanpa tunjangan apa-apa dari pemerintah, tanpa asuransi, tanpa pensiun? Apalagi tanpa keluarga?

Cerita Dari Swedia

Di Eropa, Swedia terkenal sebagai negara yang paling menghargai penduduk senior (65+). Mulai dari akses mobilitas hingga pelayanan kesehatan, semuanya hampir dipastikan terjamin dengan baik. Para warga senior ini, kelihatannya memang mampu meminta pemerintah untuk menjamin hidup mereka.

Kenapa?

Jawabannya agak ajaib. Sebab para orang tua ini berkumpul dan membentuk partai. Namanya Sveriges pensionärers intresseparti yang kalau saya terjemahkan secara ugal-ugalan kira-kira adalah Partai Urusan Manula. Percaya atau tidak, pada tahun 2010 partai ini sama sekali tidak mendapat tempat di parlemen. Namun partai ini memiliki banyak sekali pemilih. Kalau diibaratkan di Indonesia, walaupun tidak punya wakil di DPR/MPR, wakil Partai Manula ini menempati posisi penting di tingkat kabupaten dan propinsi. Artinya; kebijakan grassroots ada di tangan mereka.

Untuk negara semacam Swedia dimana kebijakan akar rumput adalah basis dasar negara, maka para warga senior ini benar-benar amat punya suara. Jadi wajar saja kalau mereka mampu menyetir kebijakan lokal pemerintahan agar lebih menghormati para warga usia senior.

Vijay Goel

Vijay Goel

Cerita Dari India

Di India, lain lagi ceritanya. Vijay Goel, seorang mantan anggota parlemen dari New Delhi akhirnya membuat semacam federasi. Namanya Federasi Warga Negara Senior. Isinya yaa para manula.

Agak aneh memang dengan kultur seperti India yang amat menghargai orangtua dan keluarga (setidaknya seperti yang ada di kitab Bharatayudha atau film-film Bolywood) dimana orangtua membesarkan anak dengan penuh cinta kasih dan ketika si anak dewasa akan menjaga orangtua mereka hingga akhir hayatnya.

Mengapa harus membuat sebuah perserikatan para manula?

Kata mereka; Saat ini penduduk India sudah membengkak jadi 1,2 miliar. Populasi penduduk yang menggelembung gila-gilaan ini berakibat pada problematika sosial. 30% orangtua usia lanjut, saat ini ditelantarkan oleh keluarga mereka. Hampir setengah dari mereka yang ditelantarkan bahkan pernah diperlakukan semena-mena oleh keluarga mereka. Yang paling parah adalah, lebih dari 70% dari para warga India yang berusia lanjut memperoleh masalah dengan masalah hidup yang basis seperti makanan, pakaian dan tempat tinggal.

Jadi, karena itulah mereka membuat sebuah perserikatan.

Cerita Dari Jepang

Lalu bagaimana dengan Jepang?

Begini, semenjak tahun 1980’an ada istilah yang berkembang di masyarakat Jepang. Istilah ini adalah kodokushi. Sebuah istilah yang sekali lagi kalau saya terjemahkan secara ugal-ugalan adalah ‘mati sendiri’.

Kenapa ada istilah ‘mati sendiri’?

Begini, pemerintah Jepang sejak pasca perang dunia ke II. Tepatnya pada tahun 1947. Mencanangkan sebuah program diet nasional. Namanya Kokkai (terjemahan ugal-ugalannya kira-kira artinya hari beras). Fungsi program ini adalah untuk menyehatkan pemerintah. Terutama untuk merestorasi keuangan mereka yang hancur total akibat mendanai perang.

Apa hubungannya dengan warga negara senior?

OK. Ternyata program pula diikuti oleh program-program nasional lain. Diantaranya adalah menyehatkan badan manusia Jepang. Logika akal sehatnya, di dalam tubuh yang sehat mampu menjaga negara agar tetap sehat. Nah sejak saat itu pula digalakkan program kesehatan manusia Jepang.

Logika lanjutannya; jika manusia hidup sehat maka tingkat harapan hidup makin tinggi.

Lalu apa yang terjadi jika manusia semuanya sehat dan makin panjang umur?

Jawabnya sederhana; makin banyak populasi manula. Saat ini, di Jepang satu dari lima orang berumur lebih dari 65 tahun. Menurut prakiraan pemerintah Jepang, jika kondisi seperti ini berlanjut maka tahun 2030 satu dari tiga orang di Jepang adalah manula.

Jika manula semakin banyak, maka kebutuhan akan perawatan medis, psikologis, sosial dan obat-obatan makin tinggi. Di kota padat seperti Tokya dimana suami istri benar-benar harus bekerja amat keras agar bisa hidup yang untuk bikin anak saja tidak ada waktu, mengurus orangtua mereka adalah sebuah hal yang berat. Kini semakin sering para orangtua tinggal jauh dari anak-anak mereka. Hidup sendiri.

Dan ketika meninggal mereka menjadi kodokushi. Mati sendiri. Ada yang meninggal terbaring di samping tumpukan baju yang baru diambil dari mesin cuci, ada yang meninggal karena terantuk dinding ketika mengganti seprei kasur ada pula yang meninggal sambil menonton televisi. Ironis. Akibat pola hidup yang serba otomatis dan individual, mayat mereka biasanya baru ‘ditemukan’ setelah berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun setelahnya. Bahkan ada yang ketika ‘ditemukan’ sudah jadi tulang belulang.
Pada tahun 2008, di Tokyo, di satu kota saja, lebih dari 2200 manula menjadi kodokushi. Sejak saat itu bisnis healthcare manula pun menjadi booming. Sebuah bisnis yang cukup rikuh dalam budaya Jepang; mempercayakan orangtua mereka di tangan orang yang tak dikenal. Namun mau bilang apa lagi, toh lebih baik daripada orangtua mereka tidak ‘mati sendiri’. Jadi alam bawah sadar yang terpola oleh kulturnya masih bisa bilang bahwa ia bukan anak durhaka.

Cerita Dari Amerika

Tapi, ternyata masih lebih baik ketimbang manula Amerika.

Menurut riset ahli bunuh diri Dr. Yeates Conwell dari University of Rochester di Minessota sana, katanya bunuh diri di kalangan warga manula saat ini terjadi hingga batas angka yang mencengangkan. Setiap sekitar 90 menit terjadi upaya bunuh diri dikalangan warga manula di Amerika Serikat. Entah sukses atau tidak, yang pasti 13% warga negara AS adalah manula dan seperlima dari mereka meninggal gara-gara bunuh diri.

Penyebab bunuh diri para manula Amerika itu antara lain adalah kekurangan hubungan sosial dengan keluarga atau kerabat, kekurangan tidur, masalah yang berelasi dengan memori dan hal-hal acak lainnya.

Cerita Dari Indonesia

Tapi itu kan di luar Indonesia. Di Indonesia dong sih mah beda :)

Jadi kalau ditanya apakah saya mau pulang ke Indonesia, maka akan saya jawab bahwa keinginan itu ada dan besar sekali adanya.

Tapi kalau ditanya apakah saya mau menghabiskan masa tua saya di Indonesia, maka saya pikir jawaban saya adalah, “emangnya masih mau jadi tua?”

Ahh, tapi itu kan saya. Tidak usah diperhitungkan deh. Anggap saja angin lalu. Toh saya bukan siapa-siapa.

Anda bagaimana? Punya keluarga yang senior? Bagaimana Anda memperlakukan mereka? Anda pikir, Anda akan diperlakukan sama pada 20 tahun mendatang?

Eh omong-omong… Masih mau jadi tua?