Archive for the 'pendidikan' Category

Apabila Pemerintah RI Yang Tidak Ganteng Itu Memblokir Atau Malah Membunuh Internet: Bagian Pertama (1)

Sebenarnya ini pertanyaan yang cukup lama ada di benak saya. Tapi sejak kebangkitan revolusi di beberapa negara di Timur Tengah, pertanyaan ini makin santer saja mengiang di kepala saya.

Saya pikir daripada saya stress sendirian bertanya-tanya. Ada baiknya saya bagi pertanyaan ini kepada publik. Siapa tahu ada yang iseng ikutan jawab. Atau, siapa tahu ada yang ikutan stress. Hehe…

Begini; daripada susah-susah. Lebih baik semua pertanyaannya saya klasifikasi menjadi beberapa bagian.

Bagian Pertama: Pertanyaan Dasar Komunikasi. “Apa yang harus kita lakukan jika pemerintah RI memblokir atau menutup semua jalur komunikasi?”

Komunikasi apa maksudnya?

Tentu saja komunikasi elektronik. Misalnya: telepon, email, radio dan semua yang ada hubungannya dengan jalur eletronik. Tapi mengapa pemerintah menutup jalur komunikasi elektronik?

Bisa saja suatu hari pemerintah ‘agak iseng’ (dan mereka memang sudah terkenal keisengannya) lalu mengeluarkan sebuah kondisi darurat bahaya untuk semua manusia RI dan sialnya selain mengeluarkan jam malam dan status operasi militer mereka juga mengeluarkan larangan berkomunikasi para WNI kepada dunia luar (local or worldwide). Apa yang harus kita lakukan?

Menurut? Sambil bertanya-tanya dalam hati: kenapa mbok yaa ndak menurut saja pada pemerintah, kalau sudah dilarang berkomunikasi mengapa masih mau melanggar?

Kalau Anda mau begitu, yaa silahkan. Kalau menurut saya, jangan! Jangan menurut kalau hak Anda dicabut.

Jawaban satu pertanyaan di atas sekaligus pertanyaan baru: Perkembangan masa membawa perubahan baru. Yaitu bahwa hak dasar manusia bukan hanya sandang pangan papan saja. Melainkan juga komunikasi. Tahun 1969 Jean D’Arcy dari Perancis membawa konsep ini dan lalu dilegalisasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa pada akhir tahun 80-an. Konsepnya sederhana, yaitu bahwa komunikasi berhak dinikmati oleh siapa saja. Maka jika pemerintah, penguasa atau rezim atas nama apapun melarang atau memberangus saluran komunikasi, maka bisa dipastikan bahwa mereka ikut pula menghancurkan hak dasar manusia. Jika sebuah rezim tengah menjalankan politik penghancuran hak dasar warganya, bukankah artinya pemerintahan tersebut sedang lebih dari sekedar ‘agak iseng’?

Jadi jawaban apa yang tepat jika pertanyaannya adalah “Apa yang harus kita lakukan jika pemerintah RI memblokir atau menutup semua jalur komunikasi?” yaa gampang: Lawan!

Bagian Kedua: Saluran Dasar Komunikasi Elektronik Dan Efeknya Pada Pemerintahan

Saluran dasar komunikasi elektronik dalam kategori transmisi terbagi menjadi beberapa macam. Umumnya yang dikenal publik luas adalah kabel, nirkabel dan internet. Itupun dibagi-bagi lagi menjadi semakin luas seperti; telepon, email, sms, fax, radio, unduh, live streaming, dan lain sebagainya. Kalau mau spesifik, kita akan mengenal proses signal seperti enkripsi (penyandian), digitalisasi, multipleksi dan lain-lain. Dan masih banyak lagi pembagiannya. Tapi ini kan bukan wacana kuliah yang perlu spesifik. Saya hanya akan menelaah sedikit dalam kekuatan komunikasi elektronik dan pengaruhnya pada pemerintahan atau rezim yang tengah berkuasa.

Ini contoh-contohnya:

Telepon: Kekuatan penggalangan massa (people power) dalam menuntut pengunduran Presiden Philipine Joseph Estrada tahun 2001 adalah ketika para pemrotes mengirimkan SMS satu sama lain sebagai berikut:

  1. Pakai hitam-hitam untuk melayat demokrasi yang telah mati
  2. Siap-siap jika ada kerusuhan
  3. Militer perlu melihat 1 juta manusia yang mau menurunkan Erap besok. Ayo bergabung!

Hebatnya, SMS ini sukses besar. Setelah lima hari demonstrasi secara kontinyu oleh warga, Erap (panggilan untuk Joseph Estarada) pun akhirnya turun dari singgasananya.

Ahh dia tidak begitu dicintai warga rupanya.

Sisi lain yang cukup negatif. Selain alat penggalangan massa, telepon (terutama telepon genggam) di beberapa negara juga bisa dipakai sebagai sebagai anjing pengendus penguasa. Seseorang dapat dengan amat mudah diketahui posisinya hingga isi ‘daleman’ telepon mereka oleh pihak penyedia telekomunikasi. Setahu saya, saat ini di RI beberapa provider telepon secara diam-diam bahkan diketahui menyuplai data konsumen mereka untuk pemerintah maupun pihak ketiga (misalnya korporasi besar penawar tertinggi) walaupun baru sekedar nama dan nomor. Alasannya beragam, aneh-aneh dan macam-macam mulai dari war on terror hingga kampanye marketing ringtone. Yang pasti semuanya secara pasti telah melanggar wilayah pribadi si pemegang telepon.

Email: Kekuatan email dibanding pos surat kertas dan amplop umumnya terletak pada sisi kecepatan, reliabilitas dan praktis. Sisi lemahnya, tanpa jaringan elektronik maka kekuatan email memang tidak ada apa-apanya.

Pada Januari 2011, Menteri Komunikasi Mesir Tareq Qamal menutup jaringan internet. Sebagai langkah pencegahan munculnya gerakan penentang pemerintah Presiden Mubarrak. Yang menarik, bahkan ketika para penentang Mubarrak bisa memperoleh jaringan internet melalui dial-up modem (yaitu modem jaman dulu yang masih memakai saluran telepon kabel sebagai penghubung dan kata Sahroni teman saya, “bunyinya kayak burung merpati disembelih”) ternyata mereka tidak bisa mengakses web based email service seperti GMail, YahooMail, Hotmail dan lainnya. Ternyata, pemerintah Mesir memblok semua website-website email dan layanan mereka.

Internet mati yaa email juga ikut mati.

Sebelum internet dibunuh pada musim dingin Kairo, setahun sebelumnya, lebih tepatnya Juni 2010, senator Amerika Serikat Joe Lieberman (yang sialnya juga ketua Homeland Security) mengusulkan undang-undang tombol merah untuk internet. You know, semacam tombol yang kalau Presiden Obama (atau penerusnya) pencet maka internet seluruh US akan modar seketika. Yang berarti, layanan macam Twitter, Facebook, Google, iCloud dan bla-bla-bla lainnya yang berbasis di US dan saat ini kita pikir ada di genggaman (ponsel) kita, juga akan mampus seketika tombol itu dipencet.

Sosial Media: Kalau tidak salah, semua layanan sosial media memang berbasis internet. Logika sederhananya; kalau internet mati, yaa sosial media juga mati. Di Korea Selatan dan RRC sudah ada sosial media yang berbasis web intranet (*ini mah basi, pabrik aye juga punya bang*) dan/atau mobile berbasis AR (augmented reality, canggih banget nih service. Sayang masih rahasia pengembangan). Jadi jika internet almarhum, para aktifis sosial media masih bisa berbagi info melalui jaringan telepon.

Banyak bukti yang sudah jelas menunjukkan bahwa Facebook atau Twitter memang bukan pemicu atau sponsor utama pergerakan di dunia Arab (Arab Spring 2011). Jadi, sebenarnya ada tidaknya sosial media di Libya, rakyat sana memang sudah sebal dengan (alm) bos mereka yang bernama Muammar Muhammad Abu Minyar Gaddafi aka Muammar Qaddafi. Revolusi itu tidak bisa hanya berdiri diatas sosial media di dunia maya, ia juga harus didukung oleh pergerakan sosial (atau biasanya malah, massal) di dunia offline. Bukti sudah jelas menunjukkan bahwa untuk menumbangkan Qaddafi memang butuh amunisi, bukan hanya kelincahan jempol mengetik di atas layar sentuh telepon genggam.

Tapi, juga tidak bisa dimungkiri, bahwa kekuatan sosial media internet mempengaruhi jalannya pergerakan sosial fisik yang tengah terjadi.

Suatu malam setelah lelah bertempur seharian, seorang pemuda pejuang dari al-majlis al-wattanī al-intiqālī (NTC, pemerintah transisi pengguling rezim Qaddafi) ditanya oleh stasiun televisi Al-Jazeera, “Apa yang kamu lakukan pada malam begini?”

Ia menjawab santai, “Update status fesbuk, liat share komik lucu dari twitter dan baca-baca wikipedia”.

Sampai sini, dari jawaban si pemuda itu sebenarnya kita sudah bisa menyimpulkan sejauh mana sosial media berperan dalam penggulingan Qaddafi.

Ngomong itu gampang: Lawan! Tapi bagaimana melawannya?!

Di Indonesia, internet belum jadi hak asasi WNI untuk bebas dinikmati. Percaya atau tidak, dalam sebuah dokumen undang-undang RI yang berisi usulan anti terorisme, pemerintah berhak mengintervensi atau bahkan mencabut internet. Bahkan jika itu bukan soal terorisme, malah hanya ketika ‘merongrong keutuhan NKRI’ (yang-entah-apa-maksudnya-oh-betapa-LEMHANAS-bahasanya-RUU-gombal-itu), pemerintah berhak mencabut atau menguasai internet. Di sisi ini, pemerintah negara kita tercinta jauh-jauh lebih inferior ketimbang Nigeria yang sudah memberikan hak penuh warganya untuk menguasai internet.

Secara simpelnya, jika suatu hari presiden kita saat ini SBY dimaki-maki publik lewat internet karena suaranya sudah tidak aduhai lagi ketika mengamen, dan sialnya, presiden yang terkenal ajaib ini mengamuk lalu mencabut internet… Ya sudah deh. Menurut UU anti terorisme dan keutuhan NKRI itu, kita semua yang tinggal di RI tinggal gigit jari manyun harus mengikhlaskan wafatnya internet.

Jadi, apa yang harus kami lakukan?

(*Sabar… Sabar… panduannya banyak di internet. Bisa diterjemahkan oleh saya secara ugal-ugalan. Tapi karena sore ini saya harus beli bumbu dapur buat masak nanti malam, jadi saya belanja dulu dan tunggu saja tulisan selanjutnya. Hehe*)


Tentang Makna Ruang, Waktu Dan Jatuh Cinta

Biasanya ketika bertemu orang yang baru saling mengenal, kita bertanya macam-macam. Pertanyaan standar, “Siapa namanya?” atau “Tinggal dimana?”. Kalau ditanya orang-orang yang baru kenal, saya sering juga ditanya, “Kerjanya apa?”

Kalau ditanya orang baru mengenai apa pekerjaan yang saya geluti sehari-hari, maka dengan mantap saya jawab “Pekerjaan saya adalah menjadi ayah hebat dari seorang putri tercinta berusia tiga tahun dan sekaligus bekerja sebagai lelaki yang ceria dan menyenangkan”.

Kalau si penanya bengong dengan jawaban tersebut, maka saya tambahkan dengan, “Ini adalah pekerjaan yang paling hebat di dunia ini. Saya bangga bisa bekerja sebagai lelaki sekaligus jadi ayah”

Biasanya yang mendengar senyam-senyum. Saya agak bingung, padahal saya kan tidak lucu. Tapi saya mah positif saja, saya anggap ia senyum mungkin karena saya memang cool. Hehe…

Orang-orang tertentu biasanya cukup puas dengan jawaban tersebut. Namun orang-orang lainnya bertanya dengan awal kalimat, “Serius, kamu ngapain sih dengan hidup kamu?” atau “Bagaimana kamu bisa hidup?”

Aneh, padahal kan sudah saya jawab pertanyaan dia. Kok malah tanya yang lebih aneh lagi.

Bagaimana saya bisa hidup? Itu kan pertanyaan ajaib. Saya bisa hidup karena saya dilahirkan, bernafas, makan, buang air, berinteraksi dan bahagia (*Iya jelas saya senang dan bahagia dengan hidup. Kalo nggak, pasti saya sudah tidak hidup lagi*). Saya bisa hidup kan jawabannya sama dengan manusia lainnya. Saya bisa hidup, setidaknya-hingga-saat-ini-sebagai-manusia, karena melakukan hal yang sama sebagaimana manusia lainnya. Itu kan manusiawi? Toh?

Ujung-ujungnya sih penanya bertanya bagaimana saya dapat uang untuk bertahan hidup. Yaelah, tanya kok ujung-ujungnya ke fulus. Emangnya saya cowok mata duitan kali? Haha.

Kalo sudah ditanya soal darimana uang saya berasal saya jawab, “Saya punya hobi, trus saya kerjain aja deh hobi saya. Ajaibnya, tiap akhir bulan saya masa sih dikasih duit gara-gara ngerjain hobi itu? Yaa udah, dari situ uang saya datang”

Habis itu si penanya tidak habis-habis bertanya. Misalnya seperti apa hobi saya, bagaimana saya mengerjakan hobi saya dan berapa saya dibayar atas hobi-hobi yang saya lakukan hingga pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Biasanya, saya mah ketawa saja sih mendengarnya. Ujung-ujungnya karena ia yang lebih banyak bertanya, saya malah lupa bertanya balik. Hihi…

Tapi beberapa minggu lalu saya dapat pertanyaan yang sama tapi dalam versi yang lebih berat.

Tentang Makna Ruang

Di bis, putri saya Novi Kirana bertanya, “Papa, kamu kalau sudah besar mau jadi apa? Tapi kalau sudah menjawab kamu harus tanya juga yaa ke aku kalau sudah besar aku mau jadi apa?”

Saya tertawa, “Oke Novi. Oke. Kalau gitu papa duluan deh yang nanya. Kamu kalau sudah besar mau jadi apa?”

“Aku mau jadi dokter papa. Dokter untuk manusia”

“Bukan dokter untuk binatang atau tumbuhan?”

“Nggak papa. Aku mau jadi dokter atau perawat saja. Papa mau jadi apa?”

Saya memeluknya dan menjawab, “Papa hanya ingin jadi papa yang baik untuk kamu, sayang. Jadi lelaki yang selalu kamu cintai dan mencintai kamu”

Ia menatap saya dengan tatapan yang sukar diungkapkan lewat kata-kata, “Papa, kenapa kamu nggak tinggal sama aku dan mama lagi?”

Ini pertanyaan yang sukar. Sudah hampir setahun saya tidak tinggal bersamanya lagi. Kami hanya bisa bertemu beberapa jam saja dalam seminggu. Saya hampir menangis dalam bis. Saya belai rambutnya yang coklat penuh kasih sayang, “Nak, papa kan tidak tinggal jauh dari kamu dan mama. Hanya setengah jam saja. Jadi kalau ada apa-apa papa pasti bisa datang. Lagipula kamu kan punya dua kamar sekarang. Punya dua rumah. Punya mainan dua kali lipat lebih banyak. Kamu nggak senang?”

“Aku lebih senang kalu papa tinggal sama aku dan mama”

Dug! Jantung saya berdegup jauh lebih cepat daripada biasanya. Saya harus menjawab pertanyaan ini dengan baik sesuai umurnya. Sebab ia kelihatan lebih memahami hidup lebih banyak daripada usianya. Airmata saya hampir meleleh dalam bis. “Cintaku, papa sudah tinggal sama mama. Tapi papa jadi sedih. Mama juga jadi sedih. Jadi lebih baik supaya kami tidak sedih, papa tinggal di tempat lain. Tapi kami tetap sangat cinta kamu. Kamu yang membuat kami bahagia. Kamu pasti selalu bisa main sama papa dan mama bersama”

“Kalau begitu kita besok ke kebun binatang sama mama yaah, Papa?”

Saya senyum, “Pasti sayang. Kita selalu bisa ke kebun binatang. Nanti papa tanya mama dulu yaa kalau mama ada waktu untuk kita”

Ia mengangguk. Saya kembali tersenyum. Saya begitu bahagia bisa bersamanya walaupun kesempatan datang hanya beberapa jam saja.

Tentang Waktu

“Papa, kamu benar besok selasa kita bisa ke kebun binatang”

“Papa pikir sih bisa, sayang. Papa bisa ambil hari libur khusus untuk kamu. Kenapa?”

“Kata mama papa harus sering pergi untuk cari uang?”

Lagi-lagi jantung saya berdebar cepat. Saya harus memberi jawaban yang jujur dan tidak membuatnya sedih, “Iya nak. Mama benar. Papa sering bepergian dan biasanya dapat uang setelahnya. Tapi papa cari uang jadi bisa bantu mama membesarkan kamu. Jadi yaa papa cari uang sebenarnya untuk kamu”

“Kalau kamu punya uang kita beli sepeda yaa papa?”

Saya ketawa. Halah ujung-ujungnya ternyata sepeda. “Iya cinta. Kita beli sepeda nanti kalau papa sudah punya uang. Kamu mau sepeda apa sayang?”

“Aku mau sepeda warna biru dengan helm warna merah!”

Wah saya bengong mendengarnya. Buset dah, memangnya dia sudah bisa naik sepeda apa. Kok tahu pasti apa yang dimaui. Ia menukas dengan cepat seperti membaca pikiran saya, “Papa, nanti kamu ajari aku naik sepeda yaa?”

Senyum saya semakin melebar, “Iya Nak, pasti sayang. Pasti!”

“Kamu ada waktu papa? Kata orang-orang kamu nggak punya waktu”

Alis saya mengerenyit, “Orang-orang itu siapa sayang?”

Dengan cuek ia menjawab, “Orang-orang yaa orang-orang lah”

Saya menatapnya kagum. Sepertinya ia mendengar banyak informasi di telinganya dan kini coba mengkonfirmasikan semua berita yang telah ia dengar. Saya jawab pelan, “Ada cintaku. Pekerjaan papa kan jadi papa kamu. Maka papa pasti ada untuk kamu” sambil mengecup keningnya.

Ia menatap ke depan. Tangan kanannya menggenggam erat jari-jari saya seakan enggan dilepaskan.

Saya menatapnya lekat dan semakin jatuh cinta kepadanya.

Tentang Jatuh Cinta

Sebentar lagi bis akan sampai di rumah mamanya. Sesuai kesepakatan, pada pagi tertentu mamanya mengantar sampai ke rumah saya dan saya yang akan membawa bocah manis berusia tiga tahun ini kembali ke rumah mamanya di sore hari. Saya sudah berjuang habis-habisan agar mendapatkan kesempatan bisa memasak dan makan malam bersama putri saya walaupun akhirnya hanya dapat dua kali perminggu. Sore itu, saya akan memasak untuk putri saya sebelum mamanya pulang.

Makanan favoritnya bersama saya biasanya masih nasi hangat campur mentega dan irisan ketimun. Namun untuk menyeimbangkan dengan gizi dan vitamin, biasanya saya beri juga ikan atau sosis kesukaannya. Ditambah kiwi dan strawberry. Ia suka sekali makan nasi campur strawberry.

Di meja makan, sore itu saya bilang kepadanya, “Novi, papa jatuh cinta pada kamu”

Sambil mengunyah irisan ketimun yang dipotong panjang ia bertanya, “Jatuh cinta itu apa, Papa?”

Saya berhenti menyendok nasi ke mulut. Hampir tersedak. Ini pertanyaan sederhana. Sangat sederhana. Tapi bagaimana menjelaskan ‘hal sederhana ini’ pada anak sekecilnya?

Saya coba menjelaskannya dalam bahasa Belanda. walaupun ia mengerti Bahasa Indonesia ia lebih fasih bicara dalam bahasa Belanda, sebab itu bahasa interaksinya sehari-hari dan bahasa ibunya. Dalam bahasa Belanda, ada rancu dalam penjelasan teman. Vriend artinya teman, mengacu pada fisiologis pria ia berarti teman yang berjenis laki-laki. Tapi vriend juga bisa berarti pacar laki-laki. Sementara vriendin artinya teman, bisa teman perempuan bisa juga pacar perempuan. Saya coba menjelaskannya dalam bahasa Belanda sederhana kepadanya.

“Novi sayang, jatuh cinta itu kalau kamu punya perasaan sayang kepada orang yang kamu suka. Misalnya kepada vriend atau kepada vriendin kamu”

Dia menatap saya lagi, “Jatuh cinta itu apa, Papa”. Saya ketawa. Itu tandanya ia belum mengerti dan masih butuh penjelasan lanjutan.

“Begini sayang, kalau kamu punya vriend atau vriendin yang baik lalu kamu mau bersama dia terus, kamu selalu mau main-main sama dia dan kamu sedih kalau dia pergi itu tandanya kamu cinta kepadanya”

Dia mengangguk-angguk, “Mama punya vrienden. Segini…” katanya sambil membentangkan seluruh jari tangan kanannya. Saya ketawa terbahak-bahak mendengarnya. Vrienden itu artinya teman laki-laki secara hitungan jamak.

“Papa senang, Nak kalau mama punya teman banyak. Jadi mama tidak sedih lagi. Ada yang menghibur. Teman mama kan banyak laki-laki dan banyak perempuan juga”

“Bukan papa. Aku nggak suka teman laki-laki mama yang rumahnya dekat kebun binatang. Mama sering kesana ajak aku, tapi aku nggak suka dia. Aku mau ke kebun binatang sama papa saja tidak sama dia. Aku juga nggak mau pindah ke Spanyol karena disana juga ada teman laki-laki mama”

Saya diam melihatnya sedih. Wajahnya agak tertekan. Ia lalu bilang lagi, “Papa jangan bilang mama yaah kalau aku bilang begini ke papa”

Saya ikut sedih. Saya bilang, “Nak, kamu jangan khawatir. Papa akan selalu menjaga kamu. Papa minta maaf sebab papa tidak ikut campur urusan mama lagi, tapi papa pasti akan menjaga kamu. Kamu jangan takut cinta. Kamu tidak perlu ketemu orang yang tidak kamu suka dan kamu juga tidak akan pindah ke Spanyol kalau kamu tidak mau”

“Papa janji?”

“Iya Nak, papa janji”

Mukanya kembali cerah. Saya senang bisa membuatnya kembali bahagia walaupun saya tahu akan terlibat omongan yang cukup serius dengan mamanya soal itu. Sesuatu yang biasanya saya hindari sejak saya tidak lagi tinggal bersama Novi untuk meminimalisir efek bencana setelahnya. Namun demi kepentingan putri semata wayang, jelas apapun akan saya lakukan. Ahh saya hanya manusia biasa dan sama sekali tidak ingin melihat putri saya menderita.

Sambil mengunyah strawberry terakhir ia bertanya, “Papa punya teman perempuan?”

“Yaa banyak Nak. Teman papa laki-laki dan perempuan. Banyak. Setiap hari papa mengerjakan hobi bersama mereka”

“Rumahnya dekat kebun binatang juga?”

O-oh, saya baru mahfum arah pertanyaannya. “Kalau yang kamu maksud pacar. Papa tidak punya sayang. Papa kan sudah punya kamu, teman perempuan terbaik yang papa punya. Papa urus Novi saja”

Ia melihat saya lalu tersenyum.

Sore itu ketika saya harus pergi saya memeluknya erat. Saya bilang bahwa bangga sekali saya menjadi ayahnya. Sambil berjongkok dihadapannya saya katakan, “Papa cinta Novi”

Ia mengecup kening dan mengusap rambut saya sambil berkata, “Novi jatuh cinta ke Papa”

(*Mohon maaf, pada postingan kali ini pertanyaan yang saya pikir personal sebaiknya saya tidak jawab. Sekali lagi mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Terimakasih atas semua dukungan dan doa pembaca, teman-teman dan keluarga yang akhirnya membuat saya berani menulis kembali. Saya cinta kalian. Terimakasih banyak yaa…*)


Pilih Mana? Percaya Atau Tidak?

Saya memang agak-agak kurang beruntung hati beberapa hari belakangan ini. Masalahnya dimulai dari hal-hal yang mungkin beberapa orang terlihat sederhana sampai yang membingungkan.

Saya kehilangan tulisan. Tulisan berseri mengenai sosial media dan perubahan yang melingkupinya. Isi totalnya ada empat tulisan. Eh… Hilang! Dicari kemana-mana tidak ketemu. Aduh, hati ini kok yaa gimana rasanya begitu mengetahui bahwa tulisan itu memang benar-benar hilang.

Kedua, saya kehilangan mood untuk menjumpai praktisi medis yang biasanya membantu kelangsungan hidup sehari-hari. Alasannya sepele, bosan. Bosannya juga ternyata sepele sekali, yaitu akibat rasa kepercayaan yang semakin merosot karena mereka menasihati saya untuk meminum paracetamol ketika saya sakit kepala. Edan, setiap hari saya kadang bisa 4-5 kali sakit kepala sebelah. Masak sih saya harus minum itu obat terus-terusan? Lah bagaimana kalau saya nanti jadi painkiller junkie?

Ketiga, saya kerap bertemu orang yang mati-matian mempertahankan argumen bahwa karena agamanya ia jadi tidak perlu belajar.

Masalah pertama walaupun makan waktu riset, saya bisa usahakan solusinya dengan cara menulis ulang. Begitu juga dengan problem kedua, saya tinggal cari spesialis dan penasihat medis yang lebih mumpuni. Jadi pada intinya, bisa ditanggulangi dengan optimis.

Yang bikin saya kebingungan, yaa bagaimana ini dengan masalah saya yang ketiga.

Akhir-akhir ini saya memang kerap bertemu kenalan yang menganggap bahwa apa yang ada dalam agamanya adalah sebuah kebulatan superior yang tidak bisa diubah-ubah.

Sumpah mati, saya tidak benci agama. Sebagaimana saya pribadi tidak pernah membenci pemeluk agama dan keyakinan tertentu (apapun agama atau keyakinannya). Saya akui saya memang punya jarak dengan agama, tapi bukan berarti saya bebas mencelanya. Dalam hidup ini, ada beberapa manusia tertentu yang dalam kondisi hidupnya, tidak punya apa-apa selain agama, dan hanya agama yang membuat mereka akhirnya bertahan untuk tetap hidup dan menyemangati orang lain agar tetap hidup. Saya menghormati mereka dan menghormati jalan hidup yang sengaja atau tidak sengaja telah mereka pilih tersebut. Termasuk, jalan hidup beragama.

Tapi, akhir-akhir ini saya mungkin memang sedang kurang beruntung. Saya bertemu dengan orang yang mati-matian menolak teori evolusi dengan alasan bahwa itu hanya teori tanpa bukti. Ada yang menolak bahwa umur bumi lebih tua dari 6 juta tahun sebab menurut beliau bumi dalam kitab sucinya diciptakan dalam enam hari (jadi kalau bahasa kitab suci adalah perumpamaan dalam penciptaan bumi, maka harus ada angka enamnya. Tidak peduli bahwa ilmu geologi bisa membuktikan bahwa umur bumi sekitar 54 milyar tahun). Hingga menolak untuk percaya bahwa manusia pernah mencapai bulan dengan alasan kalau guru fisikanya dulu semasa SMU pernah bilang bahwa manusia tidak mungkin mendarat di bulan sebab manusia tidak bisa melampaui kekuatan magis yang meliputi bumi yang membuat bumi kita terlindungi dari serangan meteor (*Guru Fisika macam apa itu coba?*)

Dari sekian banyak orang yang saya temui dan menolak fakta ilmu pengetahuan hampir semuanya bilang bahwa agama yang ia peluk yang membuatnya tidak percaya (*Satu orang alasannya cukup ajaib, dia bilang “Males ahh tau yang begituan. Ga penting!” yang saya langsung balas dengan tersenyum manis*).

Hampir semuanya bilang bahwa fakta ilmu pengetahuan sama sekali tidak sesuai dengan ajaran keyakinan yang ia percayai sejak kecil. Jadi, tidak perlu dipercaya. Sebuah argumen yang benar-benar ajaib. Bukankah fakta ilmu pengetahuan itu tidak pernah memaksa untuk dipercayai? Bukankah mereka hanya sekedar fakta? Yang bicara apa adanya sesuai bukti.

Dari beberapa kali mengobrol dengan para manusia yang menolak fakta ilmu pengetahuan dengan basis landasan utama akibat agama melarangnya, saya akhirnya mengambil beberapa sampel pola pendidikan sederhana;

  1. Bahwa tingkat pendidikan tidak berbanding sejajar dengan pemahaman terhadap ilmu pengetahuan. Belum tentu makin tinggi sekolah jadi makin memahami kompleksitas hidup
  2. Bahwa pendidikan agama di RI cukup ekstrim setidaknya hingga tahun 90-an. Beberapa pendidik bahkan kerap memberikan opini pribadi mereka mengenai agama justru ketika mereka pada saat bukanlah sebagai pengajar agama
  3. Bahwa adalah wajar mengetahui bahwa siswa WNI di RI harus memiliki agama sementara tidak wajar untuk mengetahui dan mengkritisi mengapa siswa-siswi maupun pendidiknya di RI harus beragama. Efek sampingnya, terjadi penumpulan pada daya kritis siswa
  4. Bahwa semenjak sekolah dasar pun siswa telah diberi pemahaman untuk berkumpul dan berserikat berdasarkan agama yang dianutnya
  5. Bahwa ada siswa yang sedemikian apatisnya terhadap kehidupan beragama, ia mengambil jarak dari komunitas beragama. Di sisi lain, ada siswa yang malah mengambil kesimpulan bahwa ia tidak perlu belajar lagi dengan alasan ilmu agamanya sudah cukup jadi apapun fakta terbaru ilmu pengetahuan, tidak perlu ia terima.
  6. Bahwa ada siswa yang merasa tidak penting tahu bahwa bumi itu bulat atau kotak. Yang penting sekolah nilai tinggi agar lulus kerja bisa jadi PNS atau karyawan BUMN atau menempati posisi yang membuat hidupnya nyaman (*walaupun definisi nyamannya ternyata sangat bisa diperdebatkan*)

Menarik bukan?

Yang saya kagumi adalah bahwa yang melontarkan pernyataan di atas adalah para WNI yang dulu sempat sekolah dasar hingga atas di Indonesia dan lalu melanjutkan sekolah lagi di luar Indonesia.

Balik lagi ke topik awal. Saya sempat menyesal bertemu orang-orang seperti itu. Dalam hati saya sempat merutuk, “Ini mah buang-buang waktu aja”.

Tapi… Eh tapi kok yaa saya sempat kepikiran. Jika saya bilang di awal bahwa mungkin saya kurang beruntung saya pikir saya salah. Sebab ternyata bisa jadi kalau justru ini adalah momen-momen keberuntungan saya. Bertemu dengan manusia yang berbeda.

Tidak banyak orang yang setuju dengan pola pikir saya. Dengan keputusan saya untuk tidak bisa dengan mudah mempercayai Nyi Roro Kidul. Padahal apa sih yang kurang dari si Nyai? Sudah single, cantik, seksi bahkan punya banyak kamar hotel sendiri. Apa coba yang kurang sehingga saya masih tidak percaya?

Jangankan orang-orang, Ibu dan adik-adik saya saja sempat khawatir dengan apa yang saya percayai dan dengan apa yang tidak. Tapi toh itu tidak menghilangkan kenyataan bahwa kami amat mencintai satu sama lainnya.

Mungkin, dengan datangnya manusia-manusia baru yang punya kepercayaan yang berbeda itu, saya malahan jadi bisa melihat bahwa perbedaan antara kami itu sebenarnya amat indah :)

(*Percaya atau tidak? Saya sering diundang makan-makan oleh mereka yang ajaib dan berbeda keyakinannya ini. Lah saya turuti dong undangannya, buat saya kan makan-makan dan ketawa-ketiwi itu indah. Hehehe*)


Jum and Jack: Empat

Ketika bapak saya meninggal dan kami menguburkannya di Kalibata, pulangnya saya ke Cilincing bersama Jumari, Dayat dan Piter. Dari Kalibata, kami naik angkutan kota bernama mikrolet M-16 dulu ke Terminal Kampung Melayu sebelum lanjut lagi ke Terminal Tanjung Priok. Jadi, di mikrolet saya duduk di pojok bersama tiga manusia ini. Hampir semua orang Cilincing yang saya kenal berdarah panas. Tapi Dayat dan Piter ini sudah terkenal sebagai manusia yang darahnya lebih panas ketimbang semua orang Cilincing yang saya kenal.

Pada intinya, di jalan kami ini semuanya benar-benar rusuh. Seakan lupa baru saja bersentuhan dengan mayat, tubuh dengan jiwa yang tidak ada lagi di dunia ini. Saya malas menceritakan apa yang terjadi di jalan pada saat itu, yang pasti semua penumpang kelihatannya merasa enggan duduk bersama kami dan lalu turun secepatnya. Tapi yang bisa saya ceritakan adalah ketika mikrolet kami berhenti menunggu lampu hijau, di sebelah ada bus yang isinya anak STM (Sekolah Menengah Teknik) Jakarta yang terkenal suka berkelahi. Piter dan Dayat melotot ke arah bus itu sambil mengacungkan jari tengah berteriak, “Woy anjing! Sini lu semua turun! Dasar banci!”. Ini artinya sederhana; tantangan.

Melihat satu bus kota besar PATAS yang kelihatannya berisi anak STM semua yang beberapa diantaranya memegang senjata tajam, darah saya berdesir. Saya baru saja mengubur Bapak. Masa sih setelahnya Ibu harus mengubur saya?

Sumpah mati, saya takut. Kami empat orang. Di mikrolet, mobil kecil yang semestinya hanya berkapasitas paling banyak 8 orang. Sementara, melihat puluhan anak-anak STM itu, saya pikir mereka akan dengan amat mudah menyegel mobil lalu membakar kami hidup-hidup. Jaman itu, perkelahian antar anak sekolah di Jakarta memang mengerikan. Dan apa yang saya bayangkan tentang maut kami, kemungkinan besar akan terlaksanakan.

Saya lihat Dayat dan Piter. Matanya ganas memang seperti sudah siap perang. Entah gara-gara kenapa, mungkin masih menyimpan dendam. Saya lihat Jumari, dia tenang-tenang saja. Sambil garuk-garuk kuping dia senyam-senyum seakan tidak ada apa-apa. Saya kaget, “Jum, lu kenapa ketawa?”

Dia tambah lebar senyumnya, “Lu tau ga Jack? Tuh anak-anak STM ga ada yang bakalan turun”

Saya tambah kaget. Tapi sebelum saya tanya lebih lanjut, Jum seakan sudah menebak karena menjawab, “karena kita pake peci”

Saya tidak tahu apa hubungannya antara peci, sebuah songkok yang ada di kepala dengan perkelahian massal yang gagal karena massa lawan melihat kami berkopiah. Yang pasti memang benar-benar tidak terjadi apa-apa siang itu. Para anak-anak STM terbengong-bengong melihat mikrolet kami para pemakai peci yang melaju tanpa berbuat apa-apa.

Begitu sampai di Cilincing setelah hari yang meletihkan dari Kalibata, saya mengalihkan topik. “Jum, kenapa bapak gua meninggal yah? Adek gua si Uul pan masih bayi. Jum, kenapa tuhan nggak adil. Bapak gua pan orang baek. Kok dicabut buru-buru?”

Jumari tersenyum sambil berkata, “Bapak lu udah dapet jalannya. Lu santai aja Jack. Sekarang yaah elu yang kudu jalan. Maka itu, sekarang cari jalan lu, Jack”.

Sejak saat, dari dulu ketika ada sahabat atau keluarga yang meninggal, saya selalu ingat perkataan Jumari yang selalu bilang, “Jack, lo udah jangan mikirin yang meninggal. Doi mah asik di sono. Santai aja. Pikirin tuh yang masih hidup. Yang ditinggalin. Cukupin idup mereka. Jangan sampe mereka blangsak idupnya”

Sampai saat ini, saya masih belum mengerti maksud Jumari. Apa dia maksud, kalau orang-orang yang berkopiah menantang publik maka publik akan diam saja? Apa yang dia maksud dengan ada jalan setelah kematian? Memangnya dia sudah pernah ke sana terus balik lagi ke sini? Entahlah?

Bahkan hingga akhirnya kami berpisah dan jarang bertemu, saya masih tidak mengerti dia bermaksud apa.

Yang saya bilang jarang bertemu memang secara literal benar-benar jarang bertemu. Saya tinggal di sebuah dunia yang sungguh jauh dari laut Cilincing tercinta. Jumari masih ada di sana. Dengan idealisme mencerdaskan anak bangsa. Dengan murid-muridnya yang banyak luar biasa. Dengan keluarga yang amat ia cintai. Dengan kail dan sampannya yang selalu setia dalam meluangkan waktu bersama.

Untung kemudahan teknologi semakin memurahkan internet. Hingga akhirnya Cilincing tersentuh keajaiban penemuan manusia bernama surat elektronik.

Ketika kami akhirnya benar-benar tidak bisa bertemu karena waktu, suatu hari dia kirim email. “Jack, gua ngerasa berdosa banget. Tapi pagi si Ravi nggak mau ngaji. Emosi gua. Tangan gua maen, Jack. Astagfirullah. Gua nggak konsentrasi nih ngajar. Mau nangis terus gua Jack. Nyesel banget gua nampar tuh anak. Bisa ketemu nanti malem Jack?”

Saya merasa sedih. Sungguh sedih sekali. Ia sahabat saya. Orang yang selalu melindungi ketika saya lapar atau marah. Orang yang sering berani mendukung atau malah menantang semua ide-ide gila yang selalu saya lontarkan. Saya sahabatnya, yang saat itu ada di belahan dunia lain. Tak mampu bilang apa-apa ketika orang yang saya cintai tengah sedih dan kecewa pada dirinya sendiri. Tanpa sengaja ia menyakiti putranya, orang yang amat ia cintai. Sebuah dosa yang dianggapnya tak berampun.

Dan saya hanya bisa menjawab melalui surat elektronik, “Jum, gua udah balik men. Malam ini gua nginep di KL. Besok berangkat lagi balik. Sori men kita nggak bisa ketemu”. Sambil menambahkan, “Minta maaf aja ama Ravi. Bilang sama dia lo cinta dia dan lo ga bakalan ngulangin lagi kayak gitu. Lo bapak yang hebat man. Tapi lo juga manusia. Kita semua toh pernah salah. Sebagai bapak yang hebat, lo pasti ngajarin anak lo bagaimana cara meminta maaf supaya suatu saat dia juga bisa jadi jentelmen sejati kayak lo, men”

Beberapa hari kemudian kami jarang bertemu sua lagi melalui dunia maya. Saya sibuk. Ia juga sibuk. Hingga akhirnya datang sebuah surat pendek yang isinya berbunyi, “Sekarang gua tau kenapa lo ada di luar Cilincing”

Saya yang penasaran bertanya balik kenapa. Tapi ia tidak pernah menjawab. Sama dengan lontarannya soal kopiah.

Hingga suatu malam beberapa minggu lalu saya baru keluar dari concertgebouw untuk melihat pertunjukan gitar klasik Izhar Elias yang diiringi dirigen dari London Philharmonic Orchestra (*dapat tiket hadiah ulang tahun dari teman-teman saya*). Begitu menyalakan kembali telepon genggam, masuk pesan dari Rojak, adiknya Jumari mengirim SMS. Bulan begitu bulat malam itu. Katanya, terbulat dan tercantik yang pernah ada setiap 18 tahun sekali. Begitu romantis diiringi flute dan biola orkes kamar. Namun keindahannya tak seberapa melihat SMS Rojak yang amat membuat dada sesak. “Minta doanya. Jumari koma. Udah sebulan. Hari ini paling kritis”.

Malam itu saya coba telpon ke Jakarta. Susah sekali. Saya pikir perbedaan waktu atau kalau tidak, masalah koneksi. Yang pasti, saya sungguh galau. Sahabat saya terbaring di rumah sakit. Ada apa?

Dalam galau saya jatuh tertidur, ketika bangun ada SMS lagi dari Rojak, “Innalillahi, Jumari pergi”

Saya jalan ke dapur dengan gontai. Cari tempat duduk. Susah sekali. Lemas. Tidak kuat menghadapi berita ini. Akhirnya saya duduk di lantai. Menatap layar telepon genggam seakan tidak percaya. Sahabat sekaligus musuh dalam diskusi-diskusi saya. Guru idola. Masih muda. Teman mancing setia. Nelayan tangguh tak terkira. Kini berlayar untuk selama-lamanya.

Saya gemetar ketika membuka dan membaca surat elektronik dari adik-adik saya. Yang juga mengabarkan berita duka. Seluruh anggota keluarga saya adalah sahabat Jumari. Mereka pula kehilangan.

Saya semakin gemetar ketika membuka laman-laman facebook Jumari. Ratusan murid-murid dan rekan kerja bergantian memberi salam perjalanan terakhirnya. Sahabat saya ini, ternyata pula dicintai banyak orang. Ia orang baik. Dan manusia, selalu menyukai orang baik.

Dulu dalam sebuah komentar di blog saya, ia meminta agar saya menuliskan kisah hidupnya. Tepatnya, hidup kami. Karena sibuk, itu selalu tertunda. Saya tidak tahu apa yang harus saya tuliskan. Saya tidak punya begitu banyak waktu memberikan testimoni betapa senangnya saya sebagai sahabatnya. Saya tidak bisa merangkaikan 140 karakter huruf untuk menyatakan betapa saya mencintainya. Saya tidak bisa bilang pada publik betapa luar biasanya Jumari.

Kini ironis. Setelah ia pergi, justru saya bisa membuat empat tulisan berseri hanya sebagai dedikasi saya untuknya. Entah doa saya sampai atau tidak, saya harap di surga sana ia diberi cara agar bisa mengetahui betapa saya bangga pernah jadi sahabatnya.

(*Foto milik Jum saat masih sehat dan jadi guru di SMK 36 Jakarta. Diambil dari laman facebooknya. Tertulis dua tahun lalu dan ia kelihatan masih amat segar bugar. Caption yang ia tulis, “superman pulang kampung, berganti orang kampung…… saya orangnya toleran, saya menghormati yang pake kaca mata dan yang tidak……… hehe36“. Ia selalu suka tertawa dan saya selalu amat tergila-gila dengan gurauannya*)

Selamat jalan, Jum. Selamat jalan sahabat. Salam dari ‘Jack’.


Jum and Jack: Tiga

Nasib memisahkan kami berdua. Saya pergi semakin jauh dan terus menjauh dari Cilincing. Mengunjungi semua pelosok yang ada di muka bumi seperti yang pernah saya cita-citakan sebelumnya. Jumari terus bergulat dengan keseharian Cilincing. Dengan orang-orang Cilincing. Dengan tanah, laut dan udara Cilincing yang panas.

Kami mencintai Cilincing dengan cara yang berbeda. Buat dia, menjadi guru dan mengamalkan ilmu di Cilincing adalah pencapaian tertinggi yang bisa dicapai manusia. Setidaknya, jika manusia yang dia maksud adalah kami setongkrongannya. Dan ia pun lalu jadi guru. Sesuai dengan idealismenya.

Buat saya, mencintai Cilincing adalah menyebarkan sebanyak-banyaknya pada dunia. Bahwa resistansi masih ada. Bahwa kami, manusia yang disisihkan secara terstruktur baik dari segi ekonomi, budaya, strata sosial dan macam-macam lainnya, masih bisa melawan.

Dan akhirnya ketika sama-sama beranjak dewasa, kami sepakat untuk tidak saling sepakat. Yang kami tahu cuma satu, kami sama-sama mencintai air, tanah dan udara bumi kelahiran.

Lalu di pagi itu, kami bertemu kembali. Setelah sekian lama hingga entah berapa purnama.

Sembil menggendong bocah berusia tiga tahun ia memeluk saya, “Gua senang lu pulang kampung, Jack. Kenalin nih jagoan gua pertama, Ravi”

“Gua juga seneng pulang kampung ketemu lu ama keluarga lo. Apakabar Ugi, sehat?”

“Lagi hamil lagi anak kedua kami. Insya Allah deh, lancar-lancar aja”

“Amiinn…”

Ibu masuk ke ruang tamu membawa teh manis dan kua nastar. Hari itu masih dalam suasana lebaran. Jumari tiba-tiba sambil ketawa lebar bicara, “Bu, saya seneng banget nih ngeliat dia. Wah sumpah mati. Dulu mah siapa sih yang nyangka dia bakalan jadi begini. Pasti nggak ada! Hidupnya nih anak pan blangsak banget. Bangga saya bu anak Ibu jadi begini”

Ibu mulutnya merucut, “Jangan dibilangin gitu di depan dia, Jum. Nanti idungnya yang gede jadi tambah megar”

“Hehe, biar aja Bu. Kasian nih anak, dari dulu kita hina-hina terus. Sekali-kali lah, mumpung lebaran, kita angkat sedikit. Biar kita masuk sorga”

Saya tertawa mendengar canda mereka, “Muji aja pake ngitung segala. Haha”

Jumari mendudukkan Ravi di sampingnya, “Anak sekarang, Jack. Nggak kayak jaman kita dulu”

Lagi-lagi saya ketawa, “Jum, lo ati-ati ah men kalo ngomong mulai pake kalimat ‘anak sekarang’. Itu tandanya lu udah mau uzur, men. Hahaha. Yaa anak sekarang beda ama jaman kita. Teknologinya beda, budayanya beda, maka outputnya juga beda”

“Bukan itu maksud gua, Jack. Kalo itu mah gua juga tau. Maksud gua gini. Lu tau lah kita bukan orang kaya. Orangtua kita juga mah kan idup seadanya. Tapi kita sih pan dulu mao kaya. Trus usaha. Anak sekarang gawat, Jack. Kalo masalah miskin, semua orang Cilincing miskinnya sih masih sama ama dulu. Lebih miskin malah. Tapi anak sekarang ini, udah susah banget begeraknya”

Jumari cerita tentang pembangunan pelabuhan peti kemas Cilincing baru yang menghancurkan rumah-rumah warga. Sebab rumah warga miskin katanya tidak layak huni. Bikin rusak kesehatan. Tapi kalau memang tidak menyehatkan, kok digusur? Bukannya disehatkan?

Jumari cerita tentang laut Cilincing yang semakin hari semakin ditimbun minyak buangan bekas solar nelayan miskin yang rendah pendidikannya dan bahkan tidak menyadari persoalan lingkungan.

Jumari cerita tentang anak-anak perempuan yang kami ketahui dulu masih bau kencur kini jadi pelacur-pelacur desa yang datang ke perbatasan Cilincing sejak beberapa raksasa multinasional ternyata menemukan fakta bahwa ada cadangan minyak di sana serta mendirikan semacam kilang.

Jumari cerita tentang bahwa kini sudah tidak ada lagi kambing dan sapi berkeliaran di jalan raya. Sebab lahan beternak sudah habis. Danau digusur. Hutan bakau menghilang. Banjir menghadang. Dimana-mana raja-raja kecil baru bermunculan minta upeti. Selalu saja ada ikan yang lebih besar. Dan dalam rantai makanan, warga kecil miskin lemah lah yang selalu jadi korban. “Kita tumbangin satu Soeharto besar, kini muncul lebih dari seribu Soeharto-soeharto kecil”, katanya lesu sambil mengusap kepala Ravi.

Ia mengajak duduk di teras rumah sambil berkata lagi, “Dulu kalo ngerampok, ditangkep aparat. Sekarang, aparat yang ngerampok. Siapa yang nangkep kalo duit rampokan dibagi rata antar para perampok yang ternyata punya kuasa?”

Saya tidak bisa membantahnya. Saya ingat beberapa hari yang lalu ketika beberapa orang teman kerja dari Italia yang pernah mengunjungi Jakarta bertanya keheranan, “Mengapa Jakarta dengan penduduk luar biasa banyak, tapi angka kriminalitas rendah dibanding kota megapolitan dunia lainnya?”. Saya jawab lesu, “Sebab semua preman nya saling bagi jatah wilayah rampokan dan hasilnya. Mulai dari gerombolan fasis berjubah relijius, gang anak kampung bekas wilayah jajahan RI yang dibeking oknum militer atau polisi, bahkan hingga bos-bos aparat itu sendiri. Semuanya bagi-bagi jatah. Jadi yaa di jalanan kriminalitas rendah. Tapi dibalik itu, pencurian uang dan fasilitas rakyat amat tinggi”.

Iya, saya tidak bisa membantah Jumari. Anak Cilincing, sesial-sialnya terpaksa jadi rampok. Paling jadi rampok ojek. Hina banget itu. Jadi rampok kok ngerampoknya ke orang susah? Tapi ngapain juga ngerampok ojek kalau kredit motor sudah sedemikian mudahnya? Dulu orang beli motor tadahan, gara-gara murah. Di bawah harga standar. Sekarang, beli motor curian, resikonya tinggi. Polisi semakin hari semakin canggih. Belum lagi kepercayaan lokal yang menganggap beli motor maling bisa bikin sial.

Saya sedih. Tidak tahu harus bilang apa lagi.

Di luar rumah Ibu, anak-anak yang dulu saya tinggal masih SD dan ceria sekali bermain bola, kini beranjak dewasa. Duduk luntang-lantung  di Poskamling yang sudah sedemikian tidak terawatnya. Tampak menatap nanar orang-orang yang lalu lalang di jalan raya. Hari itu siang. Mereka tidak sekolah tidak pula bekerja.

Menurut rumor lokal, hanya si miskin yang luar biasa cerdas kini bisa lanjut ke perguruan tinggi untuk dapat beasiswa. Bagi yang otaknya rata-rata, sekolah itu mimpi. Bagi yang otaknya rata-rata, kecil sekali kemungkinan untuk maju. Anak Cilincing, sama seperti anak-anak Indonesia lainnya. Ditambah gizi buruk dan lingkungan kumuh, belum tentu otaknya jadi rata-rata. Ahhh…

Ia gendong lagi Ravi sambil terus berkata, “Lo liat tuh Jack. Bentar lagi malem, tuh anak -anak yang nongkrong di Poskamling juga paling mabok, maen gitar, terus bacok-bacokan. Paling-paling ngebacok temennya atau orang lewat. Marah ama idup tapi nggak tau mau marah ke siapa”

Sejak saat itu, setiap melihat ada anak muda yang berwajah letih nongkrong di pinggir jalan menatap nanar hingar bingar manusia dan seakan tidak tahu harus berbuat apa-apa, saya selalu merasa tidak bangga pada diri saya. Entah kenapa.

Tapi, mereka selalu mengingatkan saya pada Jumari.


Siapa Yang Bayar?

pig elephant

Sudah pernah mendengar cerita Anjing Yang Serakah?

Kalau belum, mari saya cerita sedikit. Begini ceritanya;

Suatu masa, hiduplah seekor anjing. Ia terkenal sebagai anjing yang serakah. Kelihatannya, suatu hari ia mencoba untuk insaf dari semua keserakahannya. Di hari itu, perutnya lapar dan tidak ada makanan di rumah. Lalu ia pergi ke jembatan di seberang rumah, melintasinya dan untunglah menemukan tulang terbaik yang pernah ia lihat dalam seminggu terakhir.

Terlintas dalam pikirannya bahwa ia harus segera pulang ke rumah. Bagaimana jika ada anjing lain yang melihatnya membawa tulang sebagus ini? Tidak mungkin. Ia tidak mau berbagi. Jadi dengan segara, dibawanyalah tulang ini digigit dengan gigi-giginya yang kukuh dan tajam melintas jembatan untuk pulang.

Di tengah perjalanan ketika hampir selesai melintasi jembatan, anjing ini menengok ke bawah. Astaga, ia lihat seekor anjing lain yang memiliki tulang sebagus tulangnya. Tapi lebih besar. Lebih lezat dan semua lebih lainnya. Timbul akal jahat diotaknya. Ia akan menakut-nakuti anjing yang ia lihat di bawah itu. Woof! Woof! Teriaknya menakut-nakuti anjing itu.

Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Anjing yang ia takuti ternyata adalah pantulannya sendiri di sungai. Ketika ia teriak menakuti untuk mendapatkan tulang lebih banyak, ternyata mulutnya terbuka dan tulang yang ada dalam gigitannya jatuh tercebur di air sungai yang dalam.

Sampai di sini, mengerti apa yang mau disampaikan dalam cerita anjing yang serakah ini?

Kalau masih belum juga, sudah pernah dengar cerita Perjanjian Dengan Iblis?

Cerita ini adalah dongeng lama yang tersebar di tanah Eropa. Terkenal dengan sebutan Faustian Bargain. Asal kata Faustian adalah Faust, seorang sarjana sukses dalam legenda Jerman yang bosan dan serakah lalu mengadakan perjanjian dengan setan. Faust sendiri adalah tokoh nyata. Katanya mereka yang percaya, cerita ini berangkat dari kisah hidupnya.

Banyak sekali varian dari cerita ini. Mulai dari cerita karya Anton Chekov sastrawan Rusia yang menulis dalam novelnya ‘The Bet’, atau pop culture superhero Spider Man yang terbujuk kekuatan hitam kostumnya agar menjadikannya lebih kuat hingga tuduhan tokoh nyata seperti pemain biola terkenal Niccolò Paganini yang tawar menawar dengan iblis dengan taruhan jiwanya agar dijadikan violis terbaik di seluruh Italia Utara (dan juga seluruh dunia).

Yang paling saya sukai dari cerita perjanjian dengan setan adalah; cerita tentang seorang pria bujangan yang jauh dari perempuan yang dicintainya. Yang ia miliki dari gadis tercinta, hanya selembar foto lusuh dalam dompetnya. Gara-gara cinta, lalu mengadakan perjanjian dengan Iblis agar ia bisa menikahi perempuan tersebut. Tentu saja, iblis tetap iblis. Tidak ada yang namanya ‘free lunch’ buat mereka. Si bujangan ia minta memberikan jiwa sebagai imbalan atas pernikahan dengan gadis pujaannya. Si bujangan, secara cerdik mengakali surat perjanjian tersebut. Hingga akhirnya ia tidak usah memberikan jiwanya, namun tetap akan menikahi perempuan yang dicintainya. Dan iblis pun tidak bisa lari dari perjanjian mereka. Ia terpaksa memenuhi permintaan si pemuda. Membawa perempuan dalam foto lusuh dalam dompet menjadi nyata. Namun iblis tetap saja iblis. Ketika tahu bahwa ia tidak dapat membawa jiwa si pemuda, ia menghidupkan gadis dalam ukuran yang setiap hari si pemuda lihat. Sebesar ukuran foto dompet.

Sebelum menghilang iblis berteriak gusar pada si pemuda, “Keserakahan memakan bayaran”.

Beberapa malam lalu, saya baru saja sembuh dari sakit (*Ah iya, saya sakit lagi. Demam berminggu-minggu*). Karena dengar seorang sahabat Yoyo datang ke rumah Kang Adi, maka segeralah saya ke sana. Mau ngobrol. Mau ketawa-tawa. Yoyo dan Kang Adi itu dua-duanya seniman. Lucu. Saya suka nongkrong bersama mereka. Sebab dijamin pasti ketawa-tawa. Dijamin pula, banyak makanan ajaib.

Kami bertukar cerita. Utamanya soal Indonesia. Karena kami semua kebetulan berasal dari Indonesia.

Kalau bicara soal Indonesia, yaa utamanya memang tidak jauh dari Kalimantan dan para politisi praktis.

Kalau Kalimantan, yaa jelas mengenai laju penggundulan hutannya yang luar biasa. Yoyo cerita, hanya ada satu bagian kecil di sebuah propinsi di Kalimantan yang hutannya tidak disikat habis-habisan. Kenapa? Sebab hutan itu dihuni oleh suku yang menjadi konsultan peperangan pasukan elit Indonesia. Lantas kenapa hutan mereka tidak disikat? Sebab berdasarkan surat ijinnya, ternyata koperasi pasukan elit itu lah yang memiliki HPH (*artinya Hak Pengusahaan Hutan. Namun praktek lapangannya adalah Hak Penyalahgunaan Hutan*) tempat suku itu bermukim hingga ke hilir.

Yoyo yang baru saja dari Kalimantan untuk penelitian itu cerita, Kalimantan ini jadi pertarungan gajah-gajah Jakarta dalam memperebutkan lahan mencari nafkah. Hutannya ditebang. Tanahnya digali demi batubara. Langitnya dipolusi. Pokoknya™ apa saja yang ada di Kalimantan kini sedang dijarah habis-habisan. Banyak sekali nama pejabat, orang kaya, selebriti yang kelihatannya harum di surat kabar Ibukota, saat ini sedang berlaga di bumi Kalimantan.

Kalimantan yang seksi jadi rebut-rebutan jatah preman. Mulai dari preman Jakarta yang punya kuasa, hingga preman lokal macam bupati.

Lepas cerita Kalimantan, Yoyo cerita tentang para anggota dewan di Jakarta yang meminta gedung baru. Dia bingung, mereka itu sudah mati-matian minta suara dari rakyat. Lantas ketika terpilih, supaya mereka dan keluarga tidak lapar, digaji dengan baik oleh rakyat. Bahkan pajak penghasilannya juga disamakan dengan pajak rakyat. Supaya kerjanya lancar para anggota dewan itu diberi mobil oleh rakyat. Supaya tidak kedinginan dan kepanasan, mereka diberi perumahan yang baik sebaik-baiknya dengan pengatur suhu. Semuanya yang bayar rakyat. Rakyat Indonesia yang sebagian besar penghasilannya dibawah rata-rata.

Sekarang… Para wakil rakyat itu minta gedung baru? Gedung yang lama saja bagusnya sudah setengah mati. Jaraknya sungguh jauh dari gerbang. Warga yang mau ketemu wakilnya, harus dikawal setelah melewati gerbang itu. Yoyo marah, kenapa harus bikin gedung baru? Kalau butuh sesuatu yang baru maka sebaiknya gerbang gedungnya saja didekatkan, biar warga mudah komunikasi dengan wakilnya.

Saya diam saja. Kami berhenti tertawa-tawa.

Dalam cerita anjing yang serakah dan pemuda yang mengadakan perjanjian dengan iblis, ceritanya jelas. Bahwa pada akhirnya, yang serakahlah yang akan membayar ketamakannya.

Dalam cerita Kalimantan dan gedung baru wakil rakyat di Jakarta, ceritanya juga jelas. Bahwa ternyata pada suatu hari, kita dan anak cucu kita yang harus membayar ketamakan mereka.

(*Maaf sebesar-besarnya pada babi yang dijadikan  model pada foto di awal tulisan. Sumpah mati, walaupun kamu tidak pernah saya pilih untuk duduk di pemerintahan, kamu jauh-jauh lebih cute dan berguna daripada para wakil kami di Senayan sana*)


Sumpah Pemuda Murahan

Jorgo Chatzimarkakis itu orang Jerman keturunan Yunani. Hidupnya boleh dibilang sukses apabila kesuksesan di hitung dari gelar akademisi. Sebab lepas dari sekolah menengah, ia melanjutkan ke perguruan tinggi. Pertama ke jurusan ilmu perternakan di Bonn. Lalu setelahnya ambil ilmu politik di Oxford Inggris dan kembali jadi PhD politik di Universitas Bonn Jerman.

Di sebuah cafe di dekat Bundesstadt tempat-informasi-turis kota Bonn, Jan mencolek bahu saya sambil berkata, “Yang baru masuk. Itu Jorgo. Terkenal dia. Minggu lalu ada di acara tivi Politik Masuk Desa”

“Politik Masuk Desa? Apaan tuh”

“Politisi kan kebanyakan omong kosong. Maka ada acara tivi, namanya politik masuk desa. Politisi yang katanya pro rakyat diambil dari gedung dewan tempat mereka ngepos, trus disuruh tinggal di kampung. Terutama di rumah tempat orang yang katanya di bela oleh program parpolnya. Dia disuruh tinggal di rumah tukang bikin roti yang anaknya lima. Selama sebulan seluruh hidupnya dimonitor kamera”

Saya bengong, “Trus tukang rotinya kemana?”

“Ada di hotel. Ngeliatin kamera itu. Nanti setelah sebulan, kerjaan Jorgo di rumah itu diedit dan ditayangkan di tivi nasional”

“Loh jadi Jorgo ama istrinya si tukang roti? Wah ngapain aja yaah…”

“Tidak ada hubungan intim. Selain itu Jorgo harus normal menggantikan fungsi si tukang roti. Ia bangun pagi pukul dua, lalu bakar roti setiap pagi. Jam lima, berkeliling dengan truk mengantar roti segar ke toko-toko roti. Pulang jam sepuluh. Beli makanan di pasar untuk keluarganya. Siang ambil anak dari sekolah. Sore bantu istri nyuci dan masak. Malam hari mendongeng untuk anak-anak si tukang roti. Baru setelah itu dia tidur”

Saya bengong, “Wow, sebulan penuh? Tapi kenapa sebulan penuh?”

Jan menatap saya heran, “Gaji tukang bakar roti kan sebulan sekali? Mau makan apa keluarga si tukang roti kalau si Jorgo tidak kerja sebulan penuh?”

Saya termangu. Berpikir betapa dahsyatnya hidup si tukang roti. Minus beberapa tunjangan pemerintah untuk anak dan mahalnya asuransi yang harus dibayar oleh warga Jerman, kehidupan si tukang roti Jerman sebenarnya tidak jauh beda dengan tetangga saya yang dagang ikan asin di Cilincing, desa pesisir utara Jakarta sana. Penuh kerja keras dan perjuangan. Bedanya, tetangga saya tidak digaji bulanan.

Tanpa saya tanya lebih lanjut Jan menambahkan, “Jorgo itu selalu bicara berbusa-busa tentang ekonomi politik buruh kecil di Brussel sana, tapi coba lihat hidupnya, dia itu intelektual menara gading. Sebulan itu nggak cukup untuk merasakan susahnya hidup buruh kecil”

Saya garuk-garuk kepala, “Kamu sentimen amat ama Jorgo. Syukur kan dia sebulan hidup di sana. Walopun mungkin dia ikut untuk meningkatkan ratingnya pada publik, tapi minimal kan dia ngerasain susahnya ngeburuh selama sebulan. Belum lagi keluarga si tukang roti yang rindu ayah dan suaminya. Kan mereka berjuang juga untuk nerima Jorgo lalu jadi kelinci percobaan stasiun tivi dan atas nama demokratisasi politik”.

Jan diam. Menyeruput kopi lalu mengambil roti lilit kecil berwarna coklat yang diatasnya ditaburi semacam biji-bijian (katanya bernama Mohnzöpfchen). Karena ia diam, saya bilang, “Jan, di negara saya beberapa politisi datang dari manusia yang amat membumi. Namun sayang sekali banyak yang sering lupa dimana ia menginjak lagi ketika sudah masuk dunia politik. Andaikata surga itu ada, namanya pasti bukan panggung politik Indonesia”.

Jan diam. Mungkin ia setuju. Mungkin juga tidak. Atau bisa jadi tidak peduli. Buat saya tidak masalah. Saya tidak begitu ambil pusing. Dia toh bukan orang Indonesia dan merasa tidak memiliki keterlibatan apa-apa dengan negeri nusantara tersebut. Kecintaannya pada Indonesia hanyalah pada kerupuk udang Cirebon yang saya kenalkan ketika kami sama-sama bermain musik. Namun diamnya itu, mengingatkan saya kembali kepadanya di pagi hari tanggal 28 di bulan Oktober.

Hari itu sumpah pemuda di Indonesia. Sebagaimana lazimnya hari-hari aktual khusus, banyak manusia yang tiba-tiba merasa paling jago bicara soal pemuda.

Dulu waktu tinggal di Cilincing Jakarta, Lurah saya tiap sumpah pemuda selalu datang ke Karang Taruna. Tempat kumpul teman-teman saya. Tiap tahun. Tiap sumpah pemuda. Dan ajaibnya selalu setiap kali datang, mengeluh. Macam-macam keluhannya. Mulai dari anak muda jaman sekarang lesu-lesu lah. Anak muda saat ini nggak punya inovasi. Anak muda saat ini tidak optimal, padahal sudah dikasih tempat karang taruna. Habis ceramah, dia bagi-bagi minuman soda, kue dan rokok. Lalu di akhir acara pergi begitu saja. Meninggalkan kami yang duduk di kursi plastik putih murahan sambil makan biskuit murahan.

Kami diam ketika ia ceramah. Kami tidak begitu peduli. Mungkin kami memang tipikal pemuda murahan yang ia sebutkan. Kami tidak berani bersumpah sebagaimana mbah moyang kami. Kami tidak berani mengeluarkan suara membantah ketika mulutnya berbusa-busa ceramah. Kami hanya menurut. Melongo. Tidak bergeming sedikitpun. Semuanya dilakukan hanya demi mengharap ia bagi-bagi makanan murahan dan rokok. Semuanya demi perut.

Kami memang pemuda murahan. Andai kata kami bersumpah, maka yang keluar adalah sumpah pemuda murahan.

Kami pemuda murahan, yang diminta berprestasi jadi jagoan sepakbola dunia sementara sekolah bola yang baik hanya ada dalam mimpi dan kalaupun ada hanya buat orang kaya.

Kami, pemuda murahan. Yang beranggapan taik kucing lah ketika harus menaati orang yang lebih tua dan negara sambil ditakut-takuti harus menanggung dosa puluhan tahun bertubi-tubi tanpa jeda .

Kami pemuda murahan, yang harus menurut seperti kambing congek ketika kampung kami memiliki lapangan luas maka dengan serta cepat disulap jadi mall atau pabrik. Jangan protes, kata mereka. Ini kan demi pembangunan, membuka lapangan kerja. Lapangan kerja apa? Toh kami tetap menganggur. Kami terpaksa jadi tentara rendahan bukan karena cinta negeri ini, tapi cuma mereka yang bisa memberi pekerjaan buat preman lulusan SMA macam kami.

Kami pemuda murahan. Andaikata ada bahasa yang keluar dari mulut kami yaa bahasa murahan. “Ngentot, siapa yang nyolong ember mandi gua?” atau “Anjing, masa kerja seharian cuman bisa buat makan sekali?”.

Waktu itu, setiap Lurah habis ceramah sumpah pemuda, entah kenapa saya selalu merasa bagian dari anak muda murahan. Yang lebih baik diam.

Mirip anjing penjaga disuruh apa saja yang penting bisa makan.

Kami… Pemuda murahan.


(Saya) Gila Dan (Saya Cari) Metode Penyembuhannya

Saya memang cukup sedih akhir-akhir ini. Beberapa orang yang saya pikir dekat dengan saya dan mengerti tentang saya; menuduh saya tidak waras.

Tadinya, pada hari-hari awal, saya hanya cengar-cengir senyum tidak jelas menjawab tuduhan itu. Saya sadar saya gila. Hehehe. Itu mah dari dulu. Nggak usah diomongin saya juga sudah cukup tahu diri. Hehehe.

Tapi ketika makin hari dan hampir setiap saat saya dituduh “terlalu banyak bekerja hingga stress lalu depresi tanpa sadar”. Saya makin kaget. Lantas dalam hati berfikir, “Apa iya gua gila beneran? Kalo iya, kasian banget anak gua. Bapaknya gila”

Padahal saya pikir… Saya sama sekali tidak gila!

Ketika setiap hari saya di doktrin bahwa saya tidak waras. Gamang sekali hati ini. Bimbang juga rasanya, euy. Padahal saya yakin saya memang tengah ada masalah personal, tapi sama sekali bukan di problematika kewarasan.

Karena ragu akibat di cap ‘tidak waras’ bahkan oleh orang-orang yang saya cintai. Lalu mulailah petualangan baru saya. Yaitu mencari jawaban pertanyaan “Apakah saya gila?” dan apabila jawabannya iya, “Bagaimana cara menyembuhkannya?”

Anda pikir aneh? Hmhh, jangankan situ. Saya sendiri saja yang mengalaminya merasa aneh. Belum pernah seumur hidup dituduh ‘gila beneran serius dan butuh psikiater’. Maka jika suatu hari orang terdekat saya menuduh seperti itu, dengan suka rela saya pun melakukan tes dan bahkan menghubungi profesional untuk mencari jawaban pertanyaan di atas.

Namun sebelum ke profesional. Ini ada bebarapa langkah yang saya lakukan. Antara lain:

1. Mencari literatur mengenai kewarasan dan ketidak-warasan

Orang yang tidak waras definisinya simple. Memikirkan dan lalu melakukan hal yang tidak dilakukan orang waras. Yang jadi masalah memang bukan definisi orang tidak waras, melainkan malah pertanyaan terhadap “Apa yang orang waras pikirkan dan lakukan?”

Setiap orang berhak mengklaim dirinya sehat dan waras. Itu hak siapa saja. Namun masalahnya, apakah yang mereka klaim itu benar adanya?

Pencarian terhadap ‘apa yang orang waras pikirkan dan lakukan’ membawa saya kepada beberapa buku Jungian (berasal dari nama Carl Gustav Jung, seorang psikiater dari Swiss). Sebab Jung menulis beberapa buku yang menurut orang waras bagus untuk belajar menganalisi diri.

Buku-buku Jung yang berelasi dengan pola tidur dan mimpi (terutama yang berjudul Undiscovered Self) tentu saja akhirnya juga membawa saya ke buku-buku Psikopatologi (Ilmu yang mempelajari penyakit mental, tekanan mental dan perilaku abnormal serta tidak adaptif) karya Sigmund Freud, Paul Keegan, dan Anthea Bell.

Di sini, saya mulai menganalisi diri dengan simptom dan keluhan orang-orang yang saya cintai. Sumpah mati, saya takut kalau saya jadi psikopat. Parah kan, kalau ternyata saya adalah seorang psikopat yang dengan bebasnya berkeliaran di muka umum tanpa dicoba untuk disembuhkan?

Namun, dari bebeberapa literatur di atas, saya ternyata (secara sepihak) mampu menyimpulkan bahwa saya bukan psikopat. Sebab saya tidak mempunyai gejala seperti psikopat dan keluhan dari mereka yang saya cintai bukan karena psikopatisme.

Di sini, saya cukup lega.

Namun apakah membaca saja cukup? Tentu saja tidak. Berdasarkan literatur di atas, saya mengambil tindakan nyata. Antara lain dijelaskan dalam langkah selanjutnya, yaitu;

2. Analisa Perilaku Diri

Saya tahu, sudah banyak perangkat lunak berbasis web yang mampu dipakai untuk memantau kondisi diri seseorang. Diantaranya adalah kemudahan update melalui sosial media seperti Twitter, Plurk hingga status facebook. Analisa diri, umumnya bisa dipantau dari feature status sosial media ini, sebab ada pilihan bagi yang gemar memberitahu publik lewat status updatenya.

Sebab saya sendiri memantau perkembangan kondisi kesehatan putri saya memakai Plurk ketika ia jatuh dari tangga. Lalu secara real time, dokter keluarga kami memantau perkembangan kesehatan putri saya itu melalui akun Plurk khusus. Sehingga memudahkan analisa beliau dalam mengambil tindakan yang perlu dalam menyelamatkan jiwa putri saya.

Namun akibat akibat kondisi geografis saya yang berpindah-pindah saat ini. Serta terbatasnya akses internet. Maka saya punya buku mimpi.

Buku mimpi? Apa itu?

Buku mimpi adalah buku kertas kecil, bersampul coklat, tipis dan gampang keluar masuk kantong celana jeans yang saya kenakan. Ini buku tulis murahan. Saya beli di pasar. Sebenarnya bisa sih bikin sendiri, tidak perlu beli. Namun karena praktis, saya beli saja. Hehe.

Itu buku, saya bawa kemana-mana. Gunanya sebagai pencatat. Catatan yang dihasilkannya pun bukan catatan biasa. Melainkan perilaku tidur dan mimpi yang saya punya.

Dengan teliti dan detail, setiap hari selama saya dituduh gila, saya mencatat kapan saya tidur, terjaga, mimpi, bangun untuk kencing ketika tidur dan lalu kapan tidur lagi setelahnya dan semua perilaku tidur yang menyertai tidur saya.

Bangun tidur, otak masih segar. Secara detail saya mencatat semua perilaku tidur. Seperti bangun jam berapa. Tidur jam berapa. Sebelum tidur dan bangun, mikir apa. Lalu pikiran-pikiran diantaranya.

Apakah hanya perilaku tidur yang saya catat?

Tidak juga. Saya mencatat beberapa peristiwa penting maupun tidak penting yang terjadi hari itu. Semuanya pun masuk ke buku mimpi.

Mengapa saya mencatat perilaku?

Jawabannya simpel. Sebab saya bukan psikiater. Atau psikolog, atau apalah semacamnya. Saya tidak pernah terdidik secara khusus untuk mendalami ilmu jiwa sebagaimana adik saya Uul dan mungkin ribuan manusia lainnya. Tidak. Saya tidak punya keahlian itu.

Tapi, demi cinta, saya harus pergi ke psikolog dan psikiater. Dan salah satu kerja mereka adalah mereka akan menganalisa pasien agar si pasien cepat sembuh. Maka jika saya menjadi pasien, saya harus kerjasama dengan orang yang membantu saya. Saya tahu, pada psikologi modern, analisa mimpi sudah jarang dipakai lagi. Namun, buku pencatatan perilaku istirahat ini saya pikir adalah awal yang baik untuk memulai analisa diri.

Intinya, beberapa orang terdekat, minta agar saya mau dibantu oleh prefesional. Dan kalau saya meminta bantuan, saya biasanya membantu balik. You scratch my back and I’ll scratch yours :) . Catatan analisa diri, saya harap bisa sebagai langkah awal untuk saling membantu.

3. Bantuan Profesional

Ini yang belum saya coba. Rabu depan saya dijadwalkan bertemu profesional.

Kalau memang saja dibilang gila, saya anjurkan pada Anda, jangan dekati saya lagi. Sebab saya gila. Hehe.

——————–

Dua minggu setelah saya mengunjungi dokter

Saya menulis lagi. Postingan ini dibuat dalam beberapa minggu. Setelah mendapat jawaban dari beberapa profesional saya temui untuk meminta bantuan, saya putuskan untuk menulis lagi.

Jawaban semua profesional sama; saya tidak gila. Saya sedih. Iya, itu benar. Sedih luar biasa sehingga tangan gemetar dan sering sakit kepala. Tapi saya tidak gila. Kesedihan bukanlah termasuk kategori penyakit mental.

Apakah jawaban ini menggembirakan?

Jelas! Sudah hampir dua bulan terakhir ini saya dituduh gila, depresif dan sakit mental oleh beberapa orang terdekat yang saya kenal. Setiap hari, saya dicekoki dengan buku-buku self help. Diyakinkan, bahwa saya gila dan depresif. Jadi, ketika dokter, psikiater dan hampir semua teman-teman saya bersumpah bahwa saya tidak gila maupun depresif, maka saya bahagia sekali.

Saya merayakan ketidak-gilaan saya dengan pergi ke bandar udara lalu makan kentang goreng sambil melihat para manusia lalu lalang di hadapan saya. Hari itu, ada bom yang diselundupkan di antara koper para penumpang yang akan ke Los Angeles. Pemeriksaan polisi ketat sekali kepada semua orang kira-kira berasal dari Afrika. Ketika ada beberapa polisi lewat di hadapan saya dan kira-kira akan menanyai saya (padahal muka saya nampaknya tidak mirip orang Afrika), sambil tertawa lebar dan menawarkan serpihan kentang goreng, saya bilang “saya tidak gila! Hehehe… Hebat kan!” (*Kelihatannya mereka tidak percaya lalu pergi meloyor begitu saja tanpa bertanya-tanya*)

Hari itu saya bahagia sekali. Beban ini begitu berat, berbulan-bulan dituduh sakit. Maka ketika suatu hari ternyata tuduhan itu tidak benar, maka saya sungguh bahagia.

Ketika menyadari bahwa dalam beberapa bulan terakhir ini saya dituduh dengan sesuatu yang tidak saya lakukan/miliki, rasanya sungguh tidak enak sekali. Ternyata, dituduh itu tidak enak.

Dua bulan dalam kebingungan dan gamang, mengajarkan saya satu hal. Betapa menuduh itu sungguh amat mudah. Selain mudah, kemampuannya amat tinggi dalam menyakiti perasaan manusia.

Hari itu, ketika saya terbebas dari tuduhan mengalami penyakit mental yang merugikan orang lain, saya sadar satu hal. Betapa dalam hidup ini, seringkali saya pula menuduh orang lain. Sadar atau tidak, begitu mudahnya saya menuduh. Begitu mudahnya saya mengambil kesimpulan. Begitu mudahnya menyakiti perasaan orang lain.

Ketika suatu hari saya dituduh dan rasanya sungguh tidak enak. Saya baru sadar bahwa saya pun seringkali menuduh dan (sialnya) secara sadar menyadari bahwa menuduh itu enak. Lebih mudah memang demi ego saya yang maniak ini menyalahkan orang lain tanpa melihat diri sendiri.

Tanpa sadar, bahwa itu menyakiti.

Dituduh gila, ternyata ada maknanya. Aneh juga yah?


Apabila Saya Jadi Gubernur Jakarta (Dua – Transportasi)

Program transportasi untuk Jakarta benar-benar tidak kalah pentingnya agar kota ini bisa berjalan lancar, beberapa langkah nyatanya antara lain:

1. Minimalisir macet

Alasan: Hampir tidak ada penduduk Jakarta yang tidak pernah merasakan macetnya jalan Jakarta. Alasan utama macet sebenarnya simpel. Yaitu semakin banyaknya kendaraan pengguna jalan namun tidak sebanding dengan pertumbuhan jalanan. Program busway maupun 3 in 1 tidak begitu banyak menolong. Cara meminimalisir macet antara lain adalah dengan menambah jalan baru. Antara lain melalui jalan bawah tanah. Sebab dengan membangun jalan raya bertingkat, berdasarkan pengalaman tenyata makin menambah kemacetan. Program ini berjalan bersamaan dengan project pembangunan terowongan bawah tanah.

Kelebihan: akan didukung oleh seluruh pengguna jalan raya yang bosan dilanda macet. Tidak didukung oleh pedagang asongan yang memanfaatkan macet sebagai sarana mencari nafkah.

Kekurangan: akan banyak ekspektasi terhadap terowongan bawah tanah. Maka itu terowongan bawah tanah harus dipikirkan secara masak-masak teknis pelaksanaan dan pembangunannya.

Popularitas: cukup tinggi

2. Menaikkan pajak kendaraan bermotor berbahan bakar minyak

Alasan: Ada dua. Pertama lingkungan hidup. Sebab kendaraan berbahan dasar minyak itu memiliki dampak polusi tinggi terhadap lingkungan. Agar bumi dan hidup kita tentram, ketergantungan terhadap BBM harus dikurangi. Kedua, alasan politis. Saya setuju dengan pendapat suheng saya Mas Mbelgedez, bahwa mungkin hanya di RI, bensin menjadi komoditi politis. Sudah banyak orang pintar jadi korban politisasi BBM. Sudah terlalu banyak paru-paru warga Jakarta jadi korban BBM. Politisasi ini harus dikurangi kalau bisa dihilangkan. Warga Jakarta adalah salah satu pengkonsumsi BBM terbesar di RI. Jika masih diteruskan, akan menjadi korban bahaya pencemaran lingkungan dan politisasi dungu oportunis pengusa.

Kelebihan: Warga Jakarta akan berfikir serius soal masa depan mereka dan kelangsungan hidup anak-anak mereka. Ini bagus, mendorong warga berfikir kritis.

Kekurangan: Pemilik kendaraan BBM akan berteriak marah dan meminta alternatif pengganti secara langsung. Maka itu, kebijakan ini akan diterapkan secara bertahap. Mirip kebijakan dari motor 2 tak menjadi 4 tak.

Popularitas: rendah di kalangan pengguna kendaraan BBM di JKT yang naudzibillah midzalik luar biasa banyakya.

3. Menurunkan pajak kendaraan bermotor berenergi alternatif seperti listrik atau matahari

Alasan: ini adalah aternatif pengganti kendaraan BBM. Memberanikan para pemilik kendaraan bermotor untuk mengkonversi kendaraan miliknya dengan energi alternatif yang terstandarisasi. Apabila kena macet pun, warga JKT bermotor tidak perlu pakai masker atau tahan nafas. Sebab tidak ada asap pengganggu paru-paru yang mereka hirup di jalan. Dengan ini pula, JKT resmi sebagai kota berteknologi selangkah lebih maju dari kota-kota di bumi lainnya. Contoh scooter tenaga matahari atau motor/mobil listrik.

Kelebihan: Akan merangsang industri baru otomotif dan dapat menyehatkan warga Jakarta.

Kekurangan: industri pendukung BBM multinasional maupun lokal akan mati-matian menyerang konsep ini.

Popularitas: rendah di pelaku bisnis industri BBM

4. Memudahkan akses pengguna jalan bersepeda dan pejalan kaki

Alasan: Simpel, sebab bersepeda dan jalan kaki itu sehat. Kalau jalan raya bersih dari polusi, maka kegiatan sehari-hari dapat dilangsungkan dengan jalan kaki dan naik sepeda. Hemat enerji. Hemat biaya.

Kelebihan: kalau tawaran terhadap hidup sehat tidak cukup? Apalagi yang Anda inginkan?

Kekurangan: Akan di protes oleh para pemilik warung-warung pinggir jalan yang hobinya merampas jalur pejalan kaki. Sebab mereka akan tergusur habis. Walaupun sebenarnya, mereka akan dialokasikan khusus di tempat baru yang tergabung dengan pasar tradisional.

Popularitas: medium di kalangan pesepedawan pesepedawati dan pejalan kaki.

5. Mempertinggi standarisasi keamanan di jalan raya Jakarta

Alasan: terlalu banyak kecelakaan yang diakibatkan oleh ketidakhati-hatian pengguna jalan raya. Orang tua akan di denda besar jika kedapatan anak mereka yang di bawah umur mengemudikan kendaraan bermotor. Sementara di sisi lain, pada sekolah dan pusat kepemudaan akan digalakkan edukasi mengenai keamanan di jalanan. Di beberapa lampu merah lokasi rawan kecelakaan, akan memiliki kamera yang mampu mencatat pelanggar jalan dan mendendanya amat tinggi.

Kelebihan: resiko kecelakaan akibat berkendara akan diminimalisir. Targetnya adalah pengguna jalan akan tertib dan investasi pada anak-anak kita yang akan belajar hidup disiplin dalam berkendara.

Kekurangan: akan masih banyak ditemui pengguna jalan yang sontoloyo dalam tahun-tahun awal penerapan program. Denda besar dan ancaman penyitaan SIM mungkin bisa membantu orang-orang ini bertabiat di jalan raya. Penghilangan calo SIM dan edukasi juga akan menyedot biaya besar.

Popularitas: tinggi di kalangan pengguna jalan raya. Sebab hampir semua warga pengguna jalan ingin pulang selamat sampai rumah.

5. Memperketat kontrol pengadaan otomotif

Alasan: Warga Jakarta terlalu banyak memiliki kendaraan bermotor. Kadang sampai tidak perlu. Sutuasi ini harus diubah dan langsung diadakan tindakan preventif terhadap pengadaan otomotif.

Kelebihan: Membantu program transportasi lainnya menjadi lebih maju dan terintegrasi.

Kekurangan: Akan ada pertanyaan, akan dibagaimanakan industri otomotif yang telah eksis? Dan ini belum ada jawabannya sejauh ini. (*Bantuin saya mikir dong?*)

Popularitas: belum tahu, tapi pasti akan memicu kontroversi di kalangan pembuat kebijakan.

6. Pajak atas otomotif berdasarkan berat

Alasan: tidak adil misalnya menyamakan pajak kendaraan roda empat yang berbeda beratnya. Peraturan daerah akan dibuat, kendaraan yang lebih ringan akan dipajaki lebih ringan. Begitupun sebaliknya. Sebab ini berhubungan dengan beban terhadap jalan raya. Pajak dari sini diharapkan mampu menopang dinas kota pemelihara sarana jalanan memperbaiki kualitas layanan mereka.

Kelebihan: Adil

Kekurangan: para pemilik kendaraan pribadi jenis berat akan protes. (*Eh pajak ini kan udah ada atau belum yaah? Hehehe*)

Popularitas: medium

Tunggu kelanjutannya besok, yaitu soal pasar dan ekonomi (*Iya saya tahu, makin gila aja nih ngoceh nggak jelas. hahaha*)


Apabila Saya Jadi Gubernur Jakarta (Satu – Tata Kota)

Sudah beberapa tahun belakangan ini saya terus menerus menyoroti langkah kerja serta kinerja buruk gubernur Jakarta. Tadi pagi, bangun tidur -mungkin akibat mimpi buruk dan kurang tidur- entah kenapa saya baru berfikir “Gimana yaa kalo gua yang jadi gubernur terus apapun kerjaan gua hasilnya dijelek-jelekin melulu sama blogger yang kerjanya ngomong doang? Seperti bangaip misalnya”

Hehehe…

Maka itu, karena saya biasanya hanya bisa ´ngomong doang´, kali ini saya coba memposisikan diri saya apabila jadi seorang Gubernur Jakarta.

Apa yang akan saya lakukan apabila jadi Gubernur Jakarta?

Tentu saja ini sekedar ‘ngomong doang’. Sebab kemungkinan terpilihnya saya jadi gubenur amat kecil. Selain akibat tidak adanya ambisi, di sisi lain, skandal-skandal hidup saya pasti akan dijadikan sarana untuk membungkam mulut dan ide saya. Hehehe.

Namun, tetap saja saya akan meracau dan ini ocehan saya:

Karena tidak akan muluk-muluk, maka program utama dan konsep kerja saya hanya satu, yaitu “Jakarta Berteknologi Bersih”

Konsep ini memang bukan baranag baru. Kebanyakn basi malahan. Hihihi. Tapi berangkat dari kenyataan lapangan terakhir saya tiba di Jakarta (April 2010), di mata saya Jakarta lebih banyak kotornya daripada bersihnya. (Mungkin karena saya terlalu banyak di Cilincing, desa pinggir pantai Jakarta yang kotor itu. Hehe). Ini jelas subjektif. Tapi biar saja lah. Ijinkan saya ngoceh sebentar kan tidak dosa. Selain itu, kenyataan baru yang ajaib bahwa ternyata warga Jakarta banyak sekali yang memanfaatkan teknologi mobile dalam beraktifitas. Intinya, orang Jakarta itu ternyata kebanyakan melek teknologi. Pintar. Dari dua realitas itu ideologi ini berasal.

Program ini akan dibagi menjadi beberapa proporsi kerja, diantaranya adalah:

  1. Tata Ruang Kota
  2. Transportasi
  3. Pasar dan ekonomi
  4. Hukum
  5. Kemajemukan dan integrasi

Proporsi kerja ini akan di bagi dalam beberapa langkah kongkrit yang akan dijabarkan dibawah ini. Langkah-langkah nyata itu akan pula dianalisa kelebihan dan kekurangannya serta popularitasnya di masyarakat. Setidaknya sebelum anda mulai membaca, jelas ini analisa yang berdasarkan subjektifitas saya pribadi :)

Ok, mari kita mulai. Yang pertama adalah tata ruang kota. Langkah nyatanya:

1. Membangun terowongan besar bawah tanah

Alasan: Jakarta ternyata masih suka banjir. Klaim para gubernur terdahulu dalam mengatasi banjir ternyata bohong belaka. Cara terbaik dalam mengatasi banjir dalam kota tropis pemukiman padat adalah belajar dari Kuala Lumpur. Dimana mereka membangun terowongan besar bawah tanah yang bahkan mampu memuat dua tingkat jalan tol di dalamnya. Apabila dam atas warisan belanda seratus tahun lalu kolonialisme Jakarta itu masih mampu menangani hujan, maka terowongan ini hanya akan dijadikan sarana transportasi. Namun apabila hujan, maka terowongan ini dapat multi fungsi sebagai sungai bawah tanah penyalur kelebihan air.

Kelebihan: Semua orang benci banjir. Banjir itu rugi. Banjir itu kotor.

Kekurangan: Membutuhkan biaya besar dan pasti akan ada asumsi dan praduga akibat ketidaktahuan. Maka itu, sebaiknya anda bisa baca bagaimana cara Kuala Lumpur mengatasi banjirnya disini (SMART). Sialnya ide ini sudah ada sejak 2007 untuk Jakarta dan masih belum dilaksanakan juga sampai saat ini (2010) tanpa alasan apapun.

Popularitas: cukup tinggi. Sebab hampir semua penduduk Jakarta pernah mengalami aksi reaksi banjir.

2. Mengubah mall menjadi taman kota atau sarana publik umum

Alasan: Mall sudah terlalu banyak di Jakarta. Orang Jakarta tidak akan mati apabila mall diganti menjadi taman. Toh banyak orang jalan-jalan ke mall untuk cuci mata saja. Maka itu, untuk mengubah pola konsumerisme menjadi cinta lingkungan, ada baiknya mall diganti jadi taman kota yang rimbun pohonannya dan sarana publik umum seperti lapangan olahraga atau taman bermain anak-anak. Jadi orang Jakarta lebih sehat dan ada sarana untuk lebih dekat dengan keluarga.

Kelebihan: Akan membuat Jakarta lebih hijau, segar dan menghemat pengeluaran warga Jakarta.

Kekurangan: Mall menyerap tenaga kerja grass root yang lumayan tinggi dan memiliki pendapatan ekonomi mandiri. Walaupun tenaga kerja itu bisa dialihkan sebagai pemelihara taman kota dan sarana publik, namun tidak sebanyak mall. Di lain pihak pemeliharaan taman dan sarana-sarana ini juga akan menyedot pengeluaran finansial kota yang cukup lumayan.

Popularitas: cukup tinggi di kalangan WKJ (Warga Kota Jakarta) yang cinta lingkungan dan keluarga (apalagi anak muda yang sedang pacaran, hehe) namun rendah di kalangan aktifis Mall

3. Memberi presiden RI waktu 5 tahun untuk pindah kantor

Alasan: Jakarta terlalu semrawut jika infrastruktur pemerintahan pusat dan pemerintahan DKI Jakarta tumpang tindih. Sudah sebaiknya Republik Indonesia mencari lokasi lain sebagai ibukota pengganti. Dengan perpindahan ini, Jakarta tidak akan lagi mendapat nama kotor akibat carut marutnya politik nasional. Di sisi lain, dapat mengatasi drastisnya kelebihan padat penduduk di JKT yang selalu mengakibatkan banyak masalah sosial dan geografis.

Kelebihan: Jakarta bebas dari anggapan “pemukiman para penjajah” dan kontrol sosial seperti jaminan sosial, jaminan kesehatan, jaminan pemukiman dan jaminan-jaminan hidup lainnya terhadap warganya dapat diterapkan. Sebab jika diterapkan pada saat rejim pemerintah RI berkuasa, maka pasti akan berbenturan dengan peraturan pemerintah.

Kekurangan: Gubernurnya bisa ditempeleng sama presiden. Bolak-balik. Apalagi kalau presidennya militer. Sebab presiden RI dari dulu hingga sekarang mempunyai hobi akut atas adikuasa dan sentralisasi.

Popularitas: rendah. Akan dihantam banyak partai politik yang jadi penguasa. Sebab Jakarta adalah medan tempur mereka yang sudah amat dikuasai.

Tunggu besok kelanjutannya :) Silahkan usul kalau ada ide atau bilang “Lah kan udah ada? Kemana aja situ?”