Archive for the 'pendidikan' Category

Page 2 of 2

Apa Pekerjaan Yang Cocok Untuk Saya Bahagia?

Tadi pagi saya baru saja baca Yahoo News. Kebetulan artikelnya menarik perhatian, sebab penuh kontroversi. Bukan mengenai wikileaks dan hidup pendirinya Jullian Assange yang mantan hacker dan kini diburu oleh Pemerintah US. Bukan itu. Melainkan sesuatu yang membumi. Yaitu masalah gaji :)

Yahoo menurunkan berita berjudul “Worst-Paying College Degrees in 2010″. Kalau tidak salah, terjemahannya kira-kira adalah “Ijasah Sarjana Dengan Gaji Terburuk di Tahun 2010″. Selebihnya kalau mau tahu bisa membaca di sini.

Namun agar memudahkan pembaca, saya coba ambil diagram pemicu kontroversi tersebut. Berikut ini adalah diagramnya;

Ijasah Sarjana Dengan Gaji Terburuk di Tahun 2010 (USA)
Ijasah Sekolah Gaji Awal Gaji Tengah Karir
1. Ilmu Anak dan Keluarga $29,500 $38,400
2. Pendidikan Dasar $31,600 $44,400
3. Sosial $31,800 $44,900
4. Atletik $32,800 $45,700
5. Kuliner $35,900 $50,600
6. Hortikultura $35,000 $50,800
7. studi Hukum (Paralegal) $35,100 $51,300
8. Teologi $34,700 $51,300
9. Rekreasi dan Hiburan $33,300 $53,200
10. Pendidikan Khusus $36,000 $53,800
11. Diet $40,400 $54,200
12. Ilmu Agama $34,700 $54,400
13. Seni $33,500 $54,800
14. Pendidikan Umum $35,100 $54,900
15. Studi Antar Disiplin Ilmu $35,600 $55,700
16. Interior Design $34,400 $56,600
17. Nutrisi $42,200 $56,700
18. Disain Grafis $35,400 $56,800
19. Musik $36,700 $57,000
20. Sejarah Seni $39,400 $57,100

Dalam 24 jam semenjak tulisan itu dipamerkan di dunia maya, telah memancing lebih dari lima ribu komentar. Bayangkan, lebih dari lima ribu!

Kenapa?

Sebab gaji itu universal. Sebagaimana pekerjaan yang universal, gaji adalah merupakan bagian darinya. Hampir semua orang yang berkomentar, marah terhadap opini si penulis. Sebab bukan karena si penulis memaparkan data melalui tabel di atas. Melainkan karena di akhir tulisannya si penulis berkata “Jika kamu mau memperoleh gaji yang besar, lebih baik sekolah di perguruan tinggi dengan jurusan yang banyak matematikanya. Sebab dengan begitu gaji kamu nanti lebih baik

Gong penutup tulisan itu menarik. Opini pribadi si penulis Lynn O’Shaughnessy (yang apabila di riset sedikit dengan social engineering, tidak memiliki latar belakang pendidikan yang berhubungan dengan matematika). Amat kontroversial.

Apakah tulisan penutup itu salah?

Mungkin iya, mungkin tidak.

Pendapat itu tidak salah. Sebab Nyonya O’Shaughnessy sendiri adalah pengamat dunia kampus. Saya pikir, beliau tidak akan terlalu tolol mengirimkan dirinya ke jurang jeopardi dengan menerbitkan diagram yang tidak didukung oleh data yang kuat dan akurat. Sebab itu akan meredupkan ketenaran dirinya sebagai seorang penulis best seller dunia kampus. Jika beliau memaparkan sebuah tulisan, maka data-data yang ia miliki, harus memuat realita apa adanya. Jadi, jika ia bilang bahwa matematika akan membuat anda kaya. Bisa jadi karena data yang ia lihat menceritakan begitu kepadanya. Dan sebagai pengamat, saya yakin beliau amat paham dengan statistik. Sebab output statistik sendiri adalah netralitas angka-angka dingin yang menyeramkan yang terdiri dari kumpulan data dan fakta.

Namun, mengapa pendapat itu jadi salah?

1. Krisis

Sejak tahun 2007, krisis melanda Amerika Serikat. Bahkan hingga 2010 ketika tulisan ini diturunkan, Amerika masih dilanda krisis. Eksesnya, Pemerintah US melakukan pemangkasan di mana-mana sebagai upaya menyelamatkan negara mereka dari kebangkrutan. Orang-orang cerdas di Amerika sibuk mencari pangkal akibat mengapa mereka bisa bangkrut dan sibuk mencari pemecahannya.

Krisis ini parah. Benar-benar parah. Dalam filmnya Capitalism: A Love Story, Michael Moore, seorang sutradara film dokumenter terkenal, menuduh pialang saham Wall Street sebagai pencuri uang rakyat Amerika. Pada intinya, krisis ini parah. Menghancurkan banyak industri. Membuat banyak orang dipecat dari pekerjaannya. Hingga banyak orang jadi pengangguran. Bahkan sarjana post-graduate pun banyak yang kehilangan pekerjaannya.

Banyak sarjana berijasah yang marah dengan tulisan penutup Nyonya O’Shaughnessy. Bahkan diantaranya sarjana matematika yang berkomentar bahwa ia seumur hidup berurusan dengan matematika dan kena sial sebab dipecat dari pekerjaannya. Kini si sarjana tersebut, ternyata lebih menikmati hidup menjadi penebang kayu di Alaska. Ia bersyukur masih punya pekerjaan dalam badai krisis ini.

2. Statistik

Pisau bedah bernama statistik itu punya dua sisi yang sama tajamnya. Kelebihan statistik adalah ia mampu menerjemahkan massive data dan fakta dalam tempo yang cepat dan mudah di baca. Kekurangannya adalah, jika digunakan dalam parameter yang terlalu lebar, akan terjadi ketimpangan data.

Nyonya O’Shaughnessy terjebak dalam menggunakan statistik ini. Beberapa orang yang memiliki ijasah sarjana dalam gaji tingkat terendah tabulasi di atas mengaku bahwa mereka memiliki penghasilan yang jauh-jauh lebih banyak daripada angka-angka paparan si Nyonya. Ketika orang-orang ini berkomentar, kesahihan data dalam tulisan Nyonya O’Shaughnessy memicu pertanyaan yang cukup serius di benak banyak orang. Mereka berfikir, “Jangan-jangan si Nyonya cuma asal ngomong!”

Di sini, statistik data sang Nyonya yang menjadi tulang punggung tulisan, pun amat bisa diperdebatkan. Dan ketika bahan dasar ramuan data sudah diragukan, maka apapun hasil racikannya, tentu tidak bisa dengan amat mudah jadi obat yang mujarab buat publik.

3. Fakta

Menurut salah seorang sahabat saya, “Kejujuran itu Brutal”. Sebab dapat menyakiti hingga seperih-perihnya perasaan manusia.

Analogi yang dipakai dengan idiom ini adalah, jika data Nyonya O’Shaughnessy adalah sebenar-benarnya data. Maka ada tiga ijasah sarjana yang akan membuat hidup pemegangnya dalam pekerjaan yang bergaji rendah hingga susah hidup. Tiga pekerjaan itu adalah;

1. Ilmu Anak dan Keluarga
2. Pendidikan Dasar
3. Kerja Sosial

Mengapa ‘Kejujuran itu Brutal’?

Jika sebuah sistem pendidikan dan tatanan masyarakat, sudah tidak lagi menghargai Anak dan Keluarga. Tidak lagi peduli akan pendidikan dasar dan mulai memudarkan prinsip-prinsip berbagi peduli dalam tindak kerja sosial. Sampai kapan bangsa itu akan bertahan?

Jadi sekali lagi, jika data Nyonya O’Shaughnessy adalah sejujur-jujurnya data, maka sistem pendidikan dan masyarakat Amerika adalah tatanan yang sungguh brutal.

Analogi ini, juga dipakai oleh banyak warga Amerika yang membaca tulisan si Nyonya dan amat menyakiti perasaan mereka.

4. Memusnahkan Harapan

Beberapa orang, jadi guru, bukan karena menginginkan gaji yang besar. Sebab gaji guru memang terkenal tidak besar. Beberapa orang jadi pemadam kebakaran bukan karena gaji yang besar. Sebab pemadam kebakaran pun memiliki bayaran yang tidak terlalu besar. Beberapa orang, jadi seniman, bukan karena cita-cita muluknya punya tabungan di bank bermilyar-milyar.

Beberapa orang, sekolah dan lalu mendapat ijasah untuk bekerja menjadi apa yang ia inginkan adalah karena ia mencintai apa yang ia lakukan. Beberapa orang lagi, mungkin tidak melalui jalur sekolah dan tidak pernah mendapatkan ijasah, namun berusaha sekuatnya untuk sedekat mungkin melakukan sesuatu yang ia cintai untuk dilakukan.

Tidak semua orang di muka bumi melakukan pekerjaannya demi uang belaka. Masih banyak orang yang bercita-cita bisa membuat perubahan di dunia ini dengan cara mereka masing-masing.

Tulisan Nyonya O’Shaughnessy, yang sialnya ditulis dalam masa krisis ini, dipandang oleh banyak komentator sebagai pemujaan uang diatas segalanya. Ketika banyak orang berusaha keluar dari krisis finansial ini dengan melakukan sesuatu yang mereka cintai (dan mungkin tidak terlalu banyak menghasilkan uang), tulisan sang Nyonya melemahkan mental mereka. Diantaranya adalah mental-mental anak muda yang baru saja lulus sekolah dan langsung melihat realita perihnya industri Amerika. Dimana-mana, susah cari kerja.

————————————————————————–

Saya pribadi, suka tulisan sang Nyonya. Bukan akibat data yang diusungnya. Melainkan suka sebagai wacana. Sebagaimana saya suka komentar-komentar positif atau negatif pembacanya. Bisa banyak belajar dari tulisan kontroversi itu.

Belajar bahwa masih banyak orang yang beranggapan bahwa hidup itu tidak melulu soal uang. Belajar bahwa masih banyak manusia di luar sana yang nasibnya sama seperti saya, yang harus berjuang setiap hari untuk menafkahi anak istri di tengah resesi. Belajar bahwa, sebaiknya jangan pernah membunuh mimpi.

Ya sudah. Sekian dulu tulisan minggu ini. Akhir kata, mohon maaf lahir batin dan selamat berakhir pekan :)

Omong-omong, berapa penghasilan anda? Dan apakah anda bahagia?


Poker Cilincing

Maaf saya mau memuaskan rasa sakit akan narsisme sebentar sebentar. Hihihi. Kali ini saya mau cerita soal wajah saya. Kalau anda mau membaca tulisan yang berbobot dari blog bangaip dot o-er-ge sekarang, nampaknya bukan kali ini saatnya. Hehe.

Tapi tenang saja. Saya tidak akan cerita betapa gantengnya saya. Sebab toh saya sadar diri kalau saya sama sekali tidak tampan. Percuma saya mengklaim tampan kalau hanya saya satu-satunya manusia yang mengakuinya secara de facto maupun de jure. Hehe.

Oke, begini ceritanya;

Waktu bom meledakkan sebuah taksi dan beberapa orang terkena dampaknya di kota New York, saya dan beberapa orang rekan kerja sedang minum teh di bandara Ferihegy di sebuah titik di Eropa Timur sana. Jauh. Ribuan kilometer dari New York. Saat itu, kami sedang menunggu pesawat yang akan menjemput kami pulang ke rumah.

Saya merasa kasihan dengan korban di New York. Namun maaf saja, saat itu tidak begitu peduli. Di otak saya yang ada hanyalah bagaimana membeli boneka untuk putri saya serta permen untuk istri. Sebentar lagi kami harus masuk pemeriksaan pabean. Iya saya sadar saya agak sadis. Lebih memikirkan boneka atau permen ketimbang korban jiwa di NY sana. Ahh maafkan saya…

Tapi mau bilang apa? Barang-barang di tas saya sudah penuh. Saya lebih memikirkan bagaimana membawa benda-benda ini dengan selamat sampai tujuan.

Akhirnya setelah pontang-panting kiri-kanan masuk toko yang tersebar di dalam bandara, dapat pula akhirnya dua benda manis tersebut. Dan dengan santainya, saya dan rombongan masuk ke ruang khusus bandara dimana kami harus teratur masuk ke pesawat antar Uni Eropa tersebut.

Namun sebelumnya, kami harus lewat pabean. Petugas duane yang memeriksa dengan alat khusus sehingga mampu mendeteksi apakah kami membawa barang yang tidak mereka inginkan atau terlarang. Alatnya seperti gerbang mekanik yang mampu memperlihatkan benda metal dalam pakaian dan tas kami. Kalau alat itu berbunyi nyaring, artinya kami mencurigakan dan harus diperiksa lanjutan.

Dari sebelas orang anggota rombongan, semuanya digeledah tasnya atau harus masuk ruangan khusus untuk melakukan full scan body. Yaitu pemeriksaan lanjutan dengan alat yang lebih canggih atau kalau perlu pakai tangan. Nampaknya petugas imigrasi pabean curiga pada mereka.

Anehnya, hanya saya yang tidak diperiksa apa-apa. Saya dan tas dengan santainya melewati gerbang mekanik tersebut.

Singkat cerita, semua teman-teman kerja saya ternyata tidak membawa apa-apa yang mencurigakan. Dan nampaknya keamanan bandara diperketat setelah mendengar berita pemboman di New York (yang terjadi baru saja beberapa jam lalu).

Kejadian ini, rupanya tidak bisa dilupakan oleh teman-teman saya. Hingga akhirnya beberapa saat lalu, saya dapat julukan baru “Wajah Lugu Yang Terpercaya”. Itu julukan bercanda. Akibat betapa percayanya petugas bandara hanya dengan melihat foto raut muka di paspor saya. Hehe.

Kalau saya bilang bahwa saya punya genetika warisan bunglon, pasti saya dosa. Sebab Ibu saya pasti akan membantah bahwa kami dulunya adalah turunan reptil. Namun apa daya, muka saya memang sering berubah-ubah. Hihihi.

Tapi adakalanya saya gagal memanfaatkan muka sok lugu ini.

Dulu, di lantai lima gedung sekolah Depok, saya sampai membawa-bawa celengan yang isinya recehan logam semua. Sebab pemberi beasiswa sudah tidak yakin bahwa wajah saya adalah wajah pelajar miskin yang mampu menerima sumbangan uang dari pemerintah.

(*Well, trik celengan ini ternyata sukses berat. Saya akhirnya dapat beasiswa walaupun IPK pas-pasan. Hahaha*)

Omong-omong soal wajah lugu. Kadang-kadang, dulu kalau lagi suntuk di kost-kostan Kuningan, saya sengaja sore-sore naik motor putar-putar keliling kota. Lokasi favorit saya, dekat Plaza Senayan. Saking isengnya, saya kadang malah sengaja naik motor melawan arus. Alasannya jelas amat bodoh; saya kepingin ditilang.

Dan tentu saja doa saya dikabulkan. Sebab kalau lewat situ, saya pasti ditilang.

Polisi yang menilang biasanya sopan. Angkat tangan memberi hormat. Mempersilahkan saya minggir lalu bertanya surat-surat. Standar lah.

Dan saya pun biasanya memang tanpa banyak cing-cong mengaku bersalah. Dengan wajah lugu saya mengaku bahwa saya bukan warga Jakarta. Dan para polisi itu pun percaya, maklum SIM saya memang adalah Surat Ijin Mengemudi yang dikeluarkan Polda Denpasar, Bali. Jadi saya bilang, kalau saya belum paham jalan di Jakarta yang semrawut ini.

Dari sepanjang sekitar puluhan kali di tilang di Plaza Senayan JKT dan daerah di sekitarnya, ada beberapa poin penting yang menjadi bahan saya agar menjadi lebih baik ketika ditilang di masa depan. Diantara poin-poin itu adalah:

  1. Kenali Wajah Penilang
    Kenapa harus mengenali wajah polisi penilang? Jawabnya sebab ini penting. Saya pernah ditilang oleh Polisi yang sama sebanyak tiga kali dalam seminggu. Kalau Pak Polisi sudah mengenali wajah anda, tandanya trik-trik dibawah ini tidak akan mempan untuk dipakai lagi. Kalau anda hobi ditilang seperti saya, hindarilah polisi yang sama di lokasi penilangan yang sama
  2. Jangan Merayu Polwan
    Merayu Polwan jelas kebodohan. Sebab Polisi Wanita itu biasanya galak. Ini bukan generalisasi, tapi sepanjang karir saya sebagai manusia yang mencintai aksi penilangan; sudah dua kali saya disuruh push-up oleh Mbak Polwan yang manis itu karena menurut beliau saya melakukan ‘aksi yang tidak menyenangkan’ terhadapnya ketika menilang saya. Haha
  3. Teori Tujuh Ribu
    Saya selalu menyediakan uang sebanyak tujuh ribu di dompet ketika akan ditilang. Pada umumnya, saya memang tidak berniat cepat-cepat pergi dari sisi penilang. Menurut saya, semakin lama waktu saya ditilang semakin baik. Sebab saya bisa mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari si penilang. Pada masa mengumpulkan info ini, biasanya ada penilang yang suka iseng melihat-lihat isi dompet. Kadang yang masih muda, gemar melihat isi dompet saya untuk meyakinkan apakah saya benar-benar tidak membawa uang ‘perdamaian’. Maka itu kalau ditanya penilang, saya selalu jujur menjawab “Duit saya tinggal tujuh rebu, Pak. Cuman bisa buat beli bensin pulang seliter. Kalo ini diambil, saya pulang naek apa dong!” Trik ini sukses membuat saya tidak pernah mengeluarkan uang ketika ditilang.
  4. Lengkapi Surat Penting
    Bawa selalu STNK dan SIM. Dua surat ini perlu. Sebab artinya anda sah membawa kendaraan tersebut. Bukan maling. Selain surat-surat itu, kalau bisa seperti SIM saya, SIM luar kota. Jadi bisa sering alasan, “Nggak tau jalan, bos. Maap” kalau anda mengambil jalur yang tidak digunakan untuk kendaraan anda
  5. Menyiapkan Jawaban
    Ketika anda di tilang, maka polisi penilang akan bertanya-tanya mengenai identitas anda. Apabila anda memang seperti saya, berminat untuk di tilang dan berlama-lama dengan si penilang, maka polisi akan bertanya-tanya bukan hanya identitas anda melainkan apa tujuan anda dan kenapa anda ada dalam daerah wilayah operasionalnya. Santai saja. Itu wajar. Mereka polisi, memang dilatih untuk bertanya. Dan sebagaimana pertanyaan, maka siapkanlah jawaban. Jawaban favorit saya ketika ditanya mau kemana selama ini adalah “Saya mau survey mas kawin, Pak. Saya mau kawin lagi”. Tips dari saya; berilah jawaban yang walaupun terdengar aneh tapi tetap masuk akal. (*Soal kawin lagi itu, jangan diterapkan pada Polwan. Saya pernah diceramahi satu jam sama Bu Polwan gara-gara memberi jawaban soal kawin lagi. Buset dah! Apalagi nggak mungkin pula dong waktu dia marah saya bilang itu becanda*)
  6. Jadilah Pemirsa Yang Baik Entah apa yang diajarkan di Sekolah Lido sana
  7. yang pasti, kejadian good cop bad cop itu selalu ada selama saya ditilang di pos polisi. Ada yang marah semarah-marahnya, ada yang baik sebaik-baiknya. Maka itu siapkan mental. Namun ketika saat ini tiba, ketika para polisi tengah bergaya dalam aktingnya, sumpah mati saya amat menikmatinya. Jarang-jarang lihat tayangan opera sabun secara live dalam pos polisi kecil di tengah-tengah belantara ibukota. Sekali lihat, langsung ketagihan

  8. Hati-hati Dengan Premodialisme
    Akibat sering mondar-mandir dengan kartu identitas Bali, saya sering dengan santainya mengaku orang Bali. Sialnya dulu sempat ketemu penilang asal Gianyar. Kampret, saya nggak bisa jawab ketika ia bertanya dalam bahasa Bali. Lah mau jawab apa, wong saya nggak bisa bahasa Bali. Hahaha. Maka itu, saya sih mengaku saja pada penilang apa adanya kalau saya orang Betawi yang bekerja di Bali dan lebih banyak berada di Bandung dan Manado. Hahaha…

Oke, tulisan di atas pasti membuat banyak pertanyaan. Pertanyaan yang paling sering adalah: “Kenapa?” Jelas banyak yang bertanya, ketika orang-orang menghindari tilang, saya malah sebaliknya.

Saya tahu, jawaban “karena saya bisa” adalah jawaban yang terbaik. Tapi bukan itu yang mau saya bagi kali ini.

Saya mau jawab, bahwa sepanjang karir ditilang saya dapat:

  • Teman Iya, ini memang aneh. Saya sempat dapat teman polisi lalu lintas yang baik hati dari aksi bodoh saya di atas. Kami tetap berkawan hingga saat ini dan ketika saya mengaku bahwa saya sering melakukan aksi ’tilang’ ini dia hanya tertawa-tawa
  • Makanan Ketika bulan puasa, saya paling hobi di tilang di daerah Kota dan Mangga besar. Dulu, di lokasi-lokasi ini, menjelang buka puasa suka ada relawan yang mengantarkan kolak atau panganan buka puasa ke pos polisi. Dan sebelum buka puasa, saya selalu menyempatkan diri di tilang di pos polisi yang banyak makanannya. Para polisi itu biasanya baik-baik. Suka memberi saya makanan untuk berbuka puasa (walaupun sebenernya saya nggak puasa. Hihihi)
  • Real Time Info Kadang saya punya pertanyaan yang walaupun sebenarnya jawabannya ada di text book, tapi dalam pengejawantahannya jauh sekali dengan yang tertera di buku. Polisi itu ahli hukum (walaupun tidak semua, tapi minimal mereka sedikit tahu lebih banyak daripada saya) dan ujung depan garda hukum di masyarakat. Jadi, informasi mengenai hukum dari mereka biasanya memang sama sekali tidak text book, tapi yang lebih penting adalah akurat. Dan akurasi itu yang saya butuhkan
  • Poker Face. Jadi sodara-sodari… Dari cerita narsisme di atas, sekarang saya pikir anda sudah tahu dari mana “Wajah Lugu Yang Terpercaya” mirip pemain judi poker asal Cilincing yang saya miliki berasal. Huehehehe…


Kuliah Terbang

Kuliah terbang adalah nama dari sebuah program di SERRUM, komunitas seni rupa Jakarta. Program ini berlangsung sejak tahun 2006 hingga saat ini (yaitu 2010 dan nampaknya akan tetap ada apabila penganggung jawabnya si Arman masih diberi rizki hidup).

Awal mulanya program ini dimulai dari nongkrong-nongkrong bersama antara para personel SERRUM dengan anak-anak muda warga sekitar (waktu itu ketika SERRUM masih baru dan bertempat di Rawamangun, Jakarta). Ada salah seorang anak kampung situ yang berkata, “Wah abang sih enak. Anak kuliahan. Apa aja mah gampang” ketika menjelaskan betapa susah hidupnya.

Waktu itu ada saya, MG (dibaca Emjie) dan Arief Rachman (dibaca: Arman) yang mendengar dan langsung bengong. “Loh kalo gitu kenapa nggak ikut kuliah aja ama kita di kampus”, jawab Arman dengan gagah perkasanya.

Saya takjub juga mendengar usul Arman.

Waktu itu di otak saya usul Arman terdengar super brilian. MKDU (Mata Kuliah Dasar Umum) kan pesertanya banyak. Apabila kami membawa satu atau dua orang anak kampung sekitar yang putus sekolah ke dalam kelas MKDU, pasti tidak ketahuan oleh sang dosen. Nah itu yang pertama. Sementara, trik yang kedua, biasanya setelah saya mengajar di lab saya tahu jam-jam kosong. Artinya, lab bisa dipakai sebagai kelas mengajar. Saya bisa melakukan nepotisme dengan satpam penjaga ruangan (*kasih aja rokok dua bungkus. Hehe saya tahu saya memang culas*) untuk menggunakan laboratorium kampus untuk mengajar anak-anak kampung situ sekitar satu atau dua jam.

Intinya cuma satu; yaitu bagaimana anak-anak kampung situ yang putus sekolah dan punya dendam terhadap anak-anak sebaya yang mampu sekolah mahal/tinggi juga bisa mengecap pendidikan.

MG yang kelihatannya paling bijak di antara kami bertanya, “Iya bener. Sekali dua kali sih okee. Tapi sampe kapan coy?”

Wah saya belum berfikir sampai sejauh itu. Ia benar, sekali dua kali memang belum tentu akan ketahuan. Tapi itu tidak mungkin selamanya. Walaupun asosiasinya erat, sekolah itu beda dengan pendidikan. Pendidikan adalah upaya untuk dididik dan mendidik. Sementara sekolah? Haha, sekolah mah bisnis. Dan para pelaku bisnis institusi pendidikan pasti tidak akan diam jika bisnisnya di usik oleh tangan-tangan jahil seperti kami.

Kami semua terdiam mendengar omongan MG. Walaupun kelihatannya menyusutkan semangat, ia benar. Tidak baik memberi harapan palsu pada anak-anak kampung sekitar. Waktu itu akhir minggu. Saya baru pulang dari sebuah pulau di bagian Indonesia Timur dan badan rasanya lelah sekali. Untuk mengusir sepi saya lalu bercerita bahwa di selama seminggu saya tour dari satu kampus ke kampus lain menjadi dosen terbang di seluruh pulau. Maka itu lumayan capek.

Arman membelalakkan mata, “Wah asik tuh bangaip. Kita bikin aja kuliah terbang. Jadi dosen-dosen terbang pada dateng ke kuliah ini”

Saya mengerenyit, “Kuliah ini. Di mana itu ‘ini’?”

“Ya di sini. Di sini di ruangan ini!” Arman berkata semangat sekali sambil menunjuk jari ke lantai ruang kantor SERRUM.

Saya, MG dan anak-anak kampung situ langsung gembira mendengarnya. Ide bagus itu. Bikin kuliah sendiri. Daripada nyolong-nyolong masuk kelas orang lain. Lebih baik bikin kelas sendiri dan menyelenggarakan kuliah sendiri.

“Tapi kok namanya kuliah terbang, Man?” tanya saya sore itu.

“Kan dosen terbangnya udah ada. Elu. Lagian kalo dinamain kuliah jongkok, nanti kita disangka ada di WC pren” jawabnya sambil cengar-cengir.

Tidak lama setelah obrolan sore itu dimulai, Kuliah Terbang perdana bergulir. Dengan dosen terbang dari mana-mana sesuai tingkat keahliannya.

Yang ikut pun bukan hanya anak kampung sekitar lagi, melainkan juga teman-teman kita dari pelosok desa bahkan orang-orang yang sama sekali baru.

Berikut ini adalah daftar kuliah terbang sejak 2006 hingga 2010;

No Bulan / Hari, Tanggal Materi Pembicara
Ke-01 Senin, 21 Agustus 2006 Community Management Arif Kurniawan
Ke-02 Agustus 2006 Membangun jaringan Arif Kurniawan
Ke-03 September 2006 Manajemen Seni Arif Kurniawan
Ke-04 Rabu, 15 November 2006 Menerbitkan tabloid komunitas Daniel Bomal dari Happen Magazine dan Epung dari tabloid kampus Transformasi
Ke-05 Selasa, 16 Januari 2007 Sejarah Pergerakan Pemuda Tahun 60 sampai saat ini Bonnie Triyana
Ke-06 Rabu, 21 Maret 2007 Menulis dan Menerbitkan Buku Sendiri Zaenal Abidin
Ke-07 Jum’at, 27 April 2007 Menjawab Kehadiran Sebuah Karya Foto Indra Ameng
Ke-08 Sabtu, 7 Juli 2007 Mengenal Ubuntu Teguh Prasetyo
Ke-09 Rabu, 8 Agustus 2007 Komunitas Ade Darmawan
Ke-10 Jum’at, 21 September 2007 ’Kuratos : Salesman Hafiz
Ke-11 November 2007 Musikologue Ucrit Bandung
Ke-12 Jum’at, 28 Desember 2007 IMS dan HIV-AIDS Berta Larasati
Ke-13 Kamis, 15 Mei 2008 Seni Publik, Liarnya Jalanan, Dan Jinaknya Seni Rupa Ardi Yunantu (Jurnal Karbon)
Ke- 14 Kamis, 28 Agustus 2008 Lowbro Attack Hendra Hehe Harsono
Ke-15 Selasa, 7 April 2009 “Bermain Sambil Belajar” Dwi Utami S,Pd
Ke-16 Kamis, 19 November 2009 Sukses Bekerja, Berkarya dan Berkomunitas. Billy Antoro
Ke- 17 Jum’at, 22 Januari 2010 Diskusi Komik  “BERBAGI HIDUP” Soerjorimbo Soeroto.
Ke- 18 Jum’at 12 Maret 2010 Seni Teater PUBLIK AKTING Gatot S,Sn
Ke- 18# Kamis 8 April 2010 Bisnis Konten Internet Gratis Bangaip, Mbelgedez, Ndaru
Ke- 19 Jum’at, 14 Mei 2010 Bagaimana Menjadi Relawan Yang Baik Rahman Seblat S,Sn
Ke – 20 Jum’at, 9 Juli 2010 HOWTO: Proposal Muvitasari
Ke- 21 Jum’at, 10 September 2010 1. Desain Grafis Media Cetak
2. Fotografi
1. Muhamad Evan Rahmat
2. Fahmi
Ke- 22 Jum’at, 17 November 2010 Jejaring Untuk Komunitas Amika Asriena Asfar

* Yang tulisannya hitam, pada saat ini belum terlaksana. Silahkan mampir ke SERRUM di Jalan Kayu Manis 2 No.12 Kelurahan Kayu Manis, Kecamatan Matraman, Jakarta Timur, 13130, telp : 021 8194737 Kalau mau ikutan :)

Jadwal kuliah terbang di SERRUM sebenarnya adalah setiap dua bulan sekali. Tapi beberapa saat lalu, Hasrul, salah seorang personel SERRUM membutuhkan bantuan dalam membangun konten internetnya. Maka, diadakanlah Kuliah Terbang Spesial ke 18#. Lebih cepat sebulan dari jadwal.

Isinya mengenai konten internet. Pernak-perniknya hingga bisnis yang menyertainya. Berikut ini adalah barang buktinya:

Mas Mbelgedez dari Mbelgedez Dot Com Tengah Beraksi Sebagai Dosen Terbang di SERRUM

Keterangan Gambar Atas: Mas Mbel dari Mbelgedez.com sedang beraksi menjelaskan mengapa blog beliau menjadi salah satu blog yang paling ramai di akses oleh massa berbahasa Indonesia di tahun 2009-2010

(*Kalau tidak salah, kuncinya di positioning. Dengan isi konten blog yang sedang hangat kontroversial, posisi Mbelgedez dot com ternyata mampu menembus pangsa pasar konten dunia maya yang ramai didominasi oleh banyaknya mikro-blogging. Isi konten pun di atur sedemikian rupa agar orisinil, cerdas dan membuat diskusi yang ‘hangat’ antar pembacanya*)

Mas Ndaru dari Politikana Sedang Beraksi menjelaskan sistematika politikana dot com

Keterangan Gambar Atas: Lalu ada Mas Ndaru dari Warga Politikana Dot Com sedang beraksi menjelaskan mengapa politikana menjadi salah satu website dengan trafik tinggi yang kalau tidak salah, pernah hanya beberapa poin di bawah KASKUS, sebuah forum berbasis website Indonesia yang paling banyak dikunjungi pengguna internet.

(*Kuncinya ternyata membangun komunitas yang solid dan dinamis tanpa lupa terus memantau dan mengembangkan isu-isu terkini yang berguna buat perkembangan komunitas tersebut*)

Pendukung Kuliah Terbang ke-18 edisi spesial di SERRUM komunitas seniman jakarta

Keterangan Gambar Atas: Beberapa narablog dan komikus hadir pula di tempat ini. Ibu kita yang amat kondang itu, Bu Enny dari edratna.wordpress.com, syukurlah menyempatkan dirinya untuk datang bersama Mbak Yoga yang ternyata tidak hanya jagoan masalah arsitektur, motret dan buku saja melainkan juga ahli jalanan Jakarta :) (*Maaf apabila mata Mas Ndaru agak aneh. Beliau minta agar foto yang memajang wajah beliau matanya ‘diitem-itemin’. Jadi saya penuhi permintaannya agar tulisan ini bisa naik ke bangaip dot org*)

Saya sempat bicara sepintas mengenai bagaimana konten website atau social media sekarang menjadi ujung tombak yang di dukung oleh konten cetak sebagai strategi pemasaran di beberapa website mulai korporat hingga perusahaan start-up di Eropa.

(*Kuncinya ternyata ada di teknologi. Di negara-negara Uni Eropa, penggunaan internet sudah sedemikian tinggi. Bahkan kadang lebih tinggi daripada konsumsi warga terhadap televisi. Jadi strateginya adalah media tingkat dua mendukung media tingkat pertama. Jika internet jadi media tingkat pertama, maka media cetak jadi bagian lapis selanjutnya yang akan mendukung strategi pemasaran. Di sisi lain, tingkat kesadaran membatasi pemakaian kertas sebagai bahan media cetak pun semakin tinggi. Jadi mereka lebih suka melihat iklan melalui media internet/social media*)

Wajah Hasrul ketika mendengarkan kuliah

Keterangan Gambar Atas: Ini adalah muka Hasrul yang lumayan pusing mendengar pembicaraan kami. Hasrul ini umurnya baru 19. Suka menulis. suka mendengar musik hard core. Dan tiba-tiba dinobatkan SERRUM menjadi ujung tombak divisi konten kreatif versi cetak. Malam ini, kami nobatkan spesial untuk Hasrul. Hehe.

Diskusi di Conqueror Cafe

Keterangan Gambar Atas: Di luar di serambi SERRUM ada cafe bernama Conqueror Cafe. Diadaptasi dari sebuah permainan yang ditemukan oleh JJ salah seorang personel SERRUM. Dimana empat orang bisa memainkan satu papan catur secara bersamaan. Malam itu, kami pula kedatangan anak kampung sekitar yang sedang diskusi membicarakan pagelaran musik rock tingkat RT/RW. Di dalam sibuk, di luar juga sibuk rupanya. Hehe.

image Kompilasi Komik Rada Lucu dan Komik Lapas Anak Tangerang

Keterangan Gambar Atas: Selesai acara, saya dapat oleh-oleh luar biasa. Eko Bimantara, komikus KRL (Komik Rada Lucu) dan Jeanny Pebriyawani relawan KOLAPS (Komik Lapas, sebuah komunitas komik curhat yang berada di lingkungan Lembaga Pemasyarakatan Anak Pria Tangerang) memberikan satu kopi kompilasi komik KRL (yang diklaim Eko belum pernah terbit) dan satu kopi komik KOLAPS ‘Ndak Lagi Lagi’ (Yang menurut Jeanny, “Tinggal satu-satunya, Bang”)

Terimakasih Eko, Jeanny, Mas Mbel, Mas Ndaru, Bu Enny, Mbak Yoga, Arman dan Kuliah Terbangnya serta terutama pada SERRUM dan lain-lain yang tidak tersebut (gara-gara panjang banget, hehe) yang memungkinkan kita senang-senang sambil berbagi ilmu di malam itu.

Terimakasih yooo!

Salamsayang,
bangaip