Archive for the 'sehari-hari' Category

Page 2 of 8

AJarPul (Anak Jarang Pulang)

Saya mengobrol dengan Kang Adi, berbagi cerita. Cerita kami topiknya soal manusia dan nasibnya.

Kami berdua sama-sama tidak percaya bahwa ada faktor luar biasa yang mengubah nasib manusia selain manusia itu sendiri. Maksudnya mungkin, bahwa manusia menentukan apa yang ia jalani dalam hidup.

Lalu obrolan kami mulai menjurus spesifik, yaitu contoh nyata.

Kang Adi temannya wartawan kecil. Hidupnya pas-pasan. Tapi selalu bermimpi jadi pembalap mobil rally. Aneh sekali. Bagaimana mungkin gaji wartawan yang hanya bisa menyambung hidup pas-pasan keluarga mereka mampu membiayai si kepala keluarga jadi pembalap mobil?

Nasib berkata lain. Tepatnya, si wartawan kecil ini memilih nasibnya sendiri. Ia meliput berita-berita olahraga dan akhirnya diterjunkan ke desk balap mobil. Disana bertemu dengan orang-orang sejiwa, belajar, dan saling berbagi. Disana ia bertemu sahabat-sahabat baru yang mengerti panggilan jiwanya. Sesama pembalap.

Dan kini, ia benar-benar jadi pembalap mobil rally.

Saya ganti cerita. Contohnya jelas cerita soal tetangga saya, si Man. Kata orang-orang dia itu edan. Bapaknya tukang kebun sekolah, sementara mamanya ibu rumah tangga. Orangtuanya sih biasa saja. Maksudnya tidak ada seorangpun dari keluarga mereka menampakkan kegilaan-kegilaan tertentu. Hidup mereka sederhana. Kakaknya si Man satu. Adiknya tiga. Semuanya sekolah dekat rumah. Wajar-wajar saja. Lah waladalah kenapa pula si Man itu ternyata gila olahraga dirgantara terbang layang (hang gliding).

Bapaknya Man bisa jadi model tipikal bapak-bapak yang entah karena tuntutan hidup sedemikian keras, harus cari sampingan kiri-kanan membiayai anak-anaknya. Selain tukang kebun, ikut potong-potong ranting pohon tetangga kiri-kanan sebagai tambahan harian. Jadi, bapaknya Man ini sama sekali bukan pilot, superman apalagi gatotkaca yang bisa melayang. Kok yaa punya anak yang kepingin terbang?

Mamanya si Man, benar-benar ibu rumah tangga biasa yang baik. Sedari kecil semua anak-anaknya tidak pernah absen di Posyandu. Imunisasi lah. Lomba bayi sehat lah. Pokoknya, kesehatan anak harus tetap jadi prioritas, walaupun mereka bukan dari keluarga kaya. Mamanya si Man ini ibu rumah tangga yang baik. Namun sebaik-baiknya beliau yang lulusan SD Kemayoran ini sangat punya kemungkinan besar tidak pernah membaca tragedi Yunani yang melibatkan anak Daedalus yang bernama Ikarus yang melarikan diri dari Pulau Kreta dengan merekatkan lem dan bulu dijadikan sayap agar bisa terbang.

Maksudnya, mamanya si Man kelihatannya bukan pencinta dunia aeronautika. Kok yaa salah satu anaknya bisa sangat mencintai berada di atas langit sana?

Sejak kecil, si Man sudah menunjukkan gejala-gejala yang menurut warga kampung kelas rendahan macam kami, sama sekali tidak masuk di akal. Sejak kecil, Man gemar mengumpulkan gambar pesawat, mulai dari pesawat kecil hingga yang besar.

Lulus SD, Man terpaksa dibawa ke rumah sakit. Ia memanjat loteng dan lalu loncat dari atas sana dengan payung besar yang biasanya dipakai Umi kakaknya kalau mengojek ketika hujan.

Kali ini bapak yang biasa diam melihat kelakuannya pun berkomentar, “Lain kali, kalau mau matahin, jangan payung Umi. Jangan pula kaki kamu…”

Man menganggap komentar itu sebagai sebuah persetujuan. Tentu saja persetujuan untuk aksi-aksi selanjutnya.

Lulus SMP dan mulai mengerti bahwa daerah Puncak yang dekat Jakarta itu ternyata tinggi dan lebih banyak anginnya ketimbang Cilincing. Ia sering bolos dari sekolah untuk pergi ke sana.

Suatu hari ia ajak Umi untuk bolos bersama. Ketika Umi menolak, Man bersikeras memberitahu bahwa ia bukan hanya sudah berhasil mendisain layang-layang raksasa. Melainkan juga sudah membuatnya dengan bantuan tukang jahit di sebelah pabrik kerupuk. Rangkanya dari jari-jari roda sepeda. Kain pembalutnya dari jaket parasit yang ia sering temukan di sampah lokalisasi pelacuran dekat kampung kami. Kata Man, “Mi, gua ngiket badan gua ke layangan biar bisa terbang. Lu nanti yang manggil orang-orang buat narik kalo gua mao turun”

Umi jelas menolak dengan ide gila adiknya. Padahal kata Man, ia sudah mati-matian mengantar koran tiap bulan dan tidak jajan demi mewujudkan mimpinya terbang bersama layangan raksasa di Puncak sana.

Man tidak patah hati. Ia bolos lagi. Membawa buntalan besar ketika berangkat sekolah dan tidak pulang setelahnya.

Bapak mama si Man bukan tipikal orang tua yang anaknya baru tidak pulang semalam sudah seperti kebakaran jenggot. Lagipula track record si Man ini memang sudah terkenal sebagai AJarPul (singkatan dari Anak Jarang Pulang). Namun tiga hari tidak ada di sekolah dan tidak pulang ke rumah, membuat kedua hati orang-tuanya kebat-kebit juga.

Hari selanjutnya ketika Umi akhirnya mau buka suara, ada roda mobil berhenti di depan rumah. Yang turun kelihatannya bukan orang kampung kami. Anak muda, gondrong-gondrong. Kulitnya bersih. Mobilnya juga bukan mobil pick-up bau ikan asin sebagaimana mobil-mobil yang banyak beredar di kampung kami.

Salah satu yang badannya paling besar, membawa Man dalam papahan. Katanya, mereka menemukan Man dalam ‘posisi yang aneh sekali’. Jelas aneh, mana ada anak kecil normal dengan layang-layang raksasa yang tidak mau terbang dan akhirnya terpuruk di perkebunan teh membuat api unggun sendirian di malam hari?

Man jadi terkenal di kampung kami. Bukan karena terkenal karena keanehannya. Itu sih lagu lama. Melainkan Man terkenal di kalangan gadis-gadis kampung. Cowok-cowok gondrong berkulit bersih itu kata mereka anak orang kaya yang cool. Entah darimana tahunya, biar sajalah. Yang pasti Man sering dititipi salam dari gadis-gadis itu untuk para cowok gondrong. Bukan apa-apa, Man jadi sering nongkrong sama para cowok gondrong itu.

Aneh, Man jadi rajin sekolah. Tiap jumat sore dijemput teman-temannya naik mobil. Entah kemana. Saya tidak peduli. Ahhh… Salah. Sebenarnya saya sangat peduli. Lebih tepatnya, sangat cemburu.

Ahh tapi saya sudah punya laut dan pantai. Kenapa harus cemburu pada Man?

Kata mamanya, Man ikut klub para-para. Waktu saya tanya apa maksudnya paragliding, beliau mengangguk mengiyakan. Katanya, “Pokoknya yaang bisa terbang-terbang gitu deh. Duh Mamah maah cuman bisa ngedoain aja. Abis bisa apa lagi Mamah? Kata temen-temennya dia kudu rajin sekolah. Kalo rajin, nanti diajakin maen. Ikut klub. Dipinjemin peralatan. Itu loh, biar bisa terbang naek layangan raksasa”

Hari berlalu. Dan berlalu. Dan berlalu. Berlalu…

Man kini dewasa. Kalau bertemu kami berdua selalu memlilih warung makan pinggir laut yang dekat bandara. Kata Man, disitu ia bisa melihat benda-benda terbang kesayangannya di udara sambil bercanda dengan sahabat didepannya yang selalu takjub menatap riak-riak ombak.

Saya tertawa. Saya pikir, mungkin karena ia pilot sekarang. Jadi lebih suka rendezvouz dekat tempat kerjanya.

Ahh iya. Man jadi pilot sekarang. Siapa sangka anak tukang potong ranting kebun yang hidupnya sangat sederhana itu bisa jadi pilot?

Tidak ada.

Kecuali Man. Sebab sore itu ia berkata, “Lu tau ga? Waktu kita mancing dulu sama-sama setiap gua ngeliat ke langit gua pasti yakin kalo gua selalu bisa terbang di sana”

Setiap saya dapat kesusahan menatap jalan hidup ke depan yang kelihatannya selalu membingungkan dan rumit, saya selalu ingat Man. Bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Cita-cita dan kerja keras selalu bisa mengubah segalanya.

Ahh apa iya yaah?

Saya pikir bukan hanya cita-cita dan kerja keras… melainkan juga bertemu orang yang tepat.

Tapi siapa sih sebenarnya orang yang tepat? Entah buat Anda, yang pasti menurut saya, mungkin memang tidak selamanya hidup dikelilingi orang yang tepat atau semestinya. Yang pasti jika teman-teman saat ini selalu mampu membuat tertawa bahagia, maka beruntunglah saya. Sebab mungkin mereka tidak mampu menjadikan saya menjadikan saya petani atau penari yang selalu saya cita-citakan. Tapi mereka selalu mampu membuat tersenyum.

Toh dengan senyum kita mampu mengubah dunia. Setidaknya dunia kita :)

(*Eh boleh minta tolong? Kalau habis baca ini, mohon senyum ke makhluk pertama yang Anda lihat. Bisa cowok, cewek, kakek, bocah, orang di seberang cermin, bahkan pada semut jika ada… Boleh? Senyum sejenak nggak dosa dan nggak bikin anda susah loh… Jujur aja, saya sendiri abis nulis ini nggak berani senyum ke orang pertama yang saya lihat. Maka itu, saya memberanikan Anda menjadi contoh pertama korban… hihihi*)


Jika Kemewahan Itu Bernama Sakit

Bagian Satu: Satu Dollar Kriminal

Umurnya tidak muda lagi, sudah 59 tahun. Terakhir bekerja, di Coca Cola, mengabdi di sana selama 17 tahun sebagai pengantar botol ke warung-warung. Tidak pernah membuat musuh, bekerja dengan keras dan rajin dan selalu patuh memenuhi jadwal pengiriman. Itu etos kerja James Richard Verone.

Tahun 2008 badai krisis ekonomi melanda Amerika Serikat. Badai yang sama, melanda pula Coca Cola. James pun diberhentikan paksa. Ia pikir akan cepat dapat kerja, duduk dibelakang kemudi sebagai supir truk pengantar barang. Namun apa daya, tak ada lowongan pekerjaan yang sama untuk manula.

James lalu jadi kasir di warung kecil dekat kotanya. Tidak lama. Nyeri tulang punggung yang dideritanya, radang di kaki, (tentu saja, usianya sudah tidak muda lagi) membuat ia berakhir duduk di rumah beristirahat tanpa bisa meneruskan kerja. Mengandalkan hidup dari uang tabungan dan kerja sporadis serabutan.

Hingga suatu hari dadanya terasa nyeri. Hendak ke rumah sakit, meminta pengobatan. Tapi hukum Amerika Serikat yang hingga saat ini masih bersitegang akibat jaminan sosial kesehatan warganya, membuat James tidak mendapatkan kesempatan untuk berobat. Intinya, apapun warna kulitnya, warga miskin memang tidak dapat hak yang sama di mata dewa medis di Amerika sana.

Suatu hari ia menyadari bahwa uang tabungannya habis, hasil dari kerja serabutan tak lagi mencukupi. Ia jual seluruh perabotan rumah dan membayar uang sewa kontrak bulanan terakhir. Dan lalu menjadi gelandangan mengandalkan hidup dari satu yayasan kemanusiaan ke yayasan lainnya hanya untuk sekedar makan minum dan bertahan dibawah dinginnya malam.

Tuan Verone tahu benar akan hal itu.

Dadanya semakin nyeri.

Hingga akhirnya pada tanggal 9 Juni, di siang yang cerah ia mandi, menyetrika pakaian, lalu memanggil taksi. Merampok bank pertama yang ia lihat.

Di depan kasir bank, ia menyodorkan secarik kertas yang isinya meminta uang satu dollar Amerika dan layanan pengobatan.

Kasir panik, Bank mereka belum pernah dirampok. Meskipun tanpa membawa senjata, kasir masih panik ketika dirampok dengan tuntutan satu dolar (kira-kira saat tulisan ini diturunkan adalah setara dengan Rp 8.620,-) dan permintaan medis.

Kasir memijit bel alarm dan polisi pun datang.

James tanpa rasa takut, bilang kepada si kasir wanita, “Saya akan duduk di lobi ruang tunggu sampai polisi datang”. Tak lama kemudian, polisi dengan kesatuan yang bagaikan anti-teroris datang menyergap dan menggelandang James ke penjara.

Ketika ditanya alasannya mengapa merampok dan hanya menuntut satu dollar saja, “Kalau saya masuk penjara, saya harap saya bisa dapat pengobatan gratis dari negara” jawab James dengan pelan.

Tuan Verone pun dipenjara. Entah sampai berapa lama. Di dalam bui, ia hanya makan pagi dan siang saja. Tidak makan malam. Katanya, pada saat makan malam ia akan bergabung dengan hampir semua narapidana. Ia takut. Ia tahu, penjara Amerika itu buas. Jadi lebih memilih saat makan pagi dan makan siang saja yang biasanya hanya diikuti oleh pesakitan yang telah lanjut usia.

Hingga saat ini, belum ada kabar apakah ia akan dapat pengobatan untuk nyeri dadanya.

Ketika berita ini akhirnya dimuat surat kabar gastongazette dan lalu melesat ke boingboing, hampir semua orang Amerika berteriak kecewa dan sedih. Menuntut keadilan atas kebutuhan pelayanan medis untuk warganya.

Bagian Dua: Satu Bangsa Satu Penjara

Beberapa minggu lalu saya kedatangan tamu, namanya Bas. Kawan-kawan Mexico yang ia bawa memangilnya ‘El Gringo’, terjemahan ugal-ugalan dalam bahasa Indonesia kira-kira ‘bule’.

Bas lahir di California, lebih mewarisi gen mamanya yang berambut pirang dan bermata biru ketimbang papanya yang asli dari Mexico City. Walaupun punya kewarganegaraan ganda, Amerika dan Mexico, ketika saya tanya apa isi dadanya ia jawab dengan senyum, “Saya Mexican”.

Bas tinggal bersama papa mama dan adiknya di Nogales, sebuah desa di Arizona yang benar-benar terletak di perbatasan antara US dan Mexico.

“Saya bingung tinggal di Amerika. Hampir semuanya serba ilegal. Kamu tahu, saya pernah dipenjara gara-gara nyetir mobil tanpa alas kaki! Sebab di Nogales, itu ilegal. Bajingan, masa sih saya dua hari di kantor polisi sampai papa mama saya jemput ketika mereka pulang dari liburan!”, keluh Bas.

“Jadi kamu suka di Mexico saja?” tanya saya sambil senyum-senyum. Vik, sahabat Bas yang berasal dari Hermosillo tertarik mendengar jawaban dari Bas. Ia mendengarkan dengan seksama.

Bas mengangguk. “You know, dua malam sebelum saya ke rumah kamu ini saya bangun jam dua pagi. Gila ada helikopter di atas rumah saya”

Saya bengong. Kaget. Hah! Masa sih ada helikopter di atas rumah. Memang rumahnya pakai helipad?

“Kamu tahu ga? Itu polisi Arizona yang sedang mencari pengungsi ilegal dari Mexico. Mereka pakai alat pencari infra merah untuk mengidentifikasi para pengungsi itu”

Vik menimpali, “Orang kampung Sebastian gila-gila. Di sana bahkan ada milisi yang bersenjata. Kerja mereka memburu orang-orang Mexico yang miskin dan lalu menyebrang ke Amerika untuk mencari pekerjaan. Itu manusia, dikejar-kejar, trus kalau sudah dalam jangkauan tembak, yaa ditembak”

Saya makin bengong. “Jangkauan tembak. Maksud kamu seperti berburu? Loh bukannya di Amerika apa-apa itu ilegal. Masa berburu manusia tidak ilegal?”

Bas ketawa-tawa, “Yaa ilegal, tapi yaah namanya juga manusia gila.”

Saya ternganga, “Trus orang-orang gila itu ditangkep ga?”

“Yaa ditangkep”

“Trus gimana orang mexiconya?”

“Yaa ditangkep juga. Dipenjara sama-sama”

“Lah terus kalo dipenjara bareng-bareng, apa nggak bunuh-bunuhan?”

“Yaa bunuh-bunuhan lah. Itu mah biasa. Kamu lihat film hollywood mengenai perang antar gang di dalam penjara? Yaa seperti itulah kejadiannya”

Melihat saya diam seakan seperti tidak percaya, Bas bilang. “Rakyat kami dalam ketakutan. You know, bukan hanya pada teroris tapi juga pada pencari kerja tanpa dokumen, pada cuaca yang makin panas dan banyak lainnya”

“Kalian hidup dalam ketakutan dong?”

“Yaa nggak semua orang sih. Tapi menurut saya, hampir semua orang hidup dalam ketakutan di sini. Kalau tidak takut, yaa ditakut-takuti biar takut. Hehe. Saya pikir kok mirip hidup dalam penjara. Satu bangsa, satu penjara.”

Saya manggut-manggut. Tapi jelas tidak berani cengar-cengir. Sebab kelihatannya ia serius.

Bas menambahkan, “Omong-omong kamu tahu ga kalau Amerika Serikat itu negara dengan jumlah penjara ternbanyak di muka bumi? Bahkan populasi penghuninya sudah sedemikian parah, sampai-sampai lapangan basket yang harusnya jadi tempat narapidana buat olahraga dialihfungsikan jadi barak tidur loh. Saking banyaknya penghuni penjara. Tapi omong-omong penjara Indonesia bagaimana?”

Saya tidak banyak bicara. Saya bilang, “Bas, saya ngantuk. Besok ngeburuh. Saya tidur duluan yaah” sambil cengar-cengir. Yaah mau pakai trik apalagi? Saya tidak punya jawaban pertanyaannya. Lebih baik saya kabur. Hehe.

Bagian Tiga: Ketika Mamanya Nopal Sakit

Waktu itu saya masih di Jakarta. Ada sms masuk dari Nopal. Bilang minta bantuan. Katanya mamanya sakit. Sudah lama merasa nyeri. Bahkan sampai pendarahan segala. Setelah dicek, ternyata mamanya Nopal kena serviks, nama lain dari kanker leher rahim.

Kanker ini termasuk penyakit yang cukup berbahaya. Menurut WHO di tahun 2007, kira-kira setiap tahunnya sebanyak 15.000 perempuan Indonesia dihinggapi oleh kanker leher rahim dan sebanyak 7500 orang terbunuh karenanya.

Saya pikir ini masalah serius. Tapi ada lagi yang lebih serius. Pertama, kenapa Nopal mengadu ke saya? Kedua, Nopal kan dalam penjara gara-gara kasus narkoba kok dia bisa sms saya?

Penjelasannya ada di sms antara saya dan Nopal.

LO DAH DILUAR?

G.MSH DI DLM.2THN LG.TLG MEN.MAMA GW NIH.DUIT GW G CKP BWT KEMO MAMA

KEMOTERAPI?ASTAGA.PARAH AMAT MEN!

YOI MEN.TMN LO KAN BNYK.ADA DOKTER GA?

MAMA LO KAN PEGAWAI NEGRI.ADA ASURANSI

ASKES G CKP.G JAMIN FULL COVER.

LO GA KERJA DI DLM?

KERJA.GW NYETOK BRG TRUS NYEBARIN DI DLM SKRG.DPT HP PULSA MA DUIT600RB/BLN

LMYN KAN.MKN MA TIDUR KAN GRATIS?DUIT BISA LO TABUNG.

KT SIAPA?GW BYR KMR 400RB/BLN.CADONGAN ISINYA BATU.EMANG ENAK MAKAN BATU.LO KIRA PENJARA GRATIS?

SERIUS LO?

MASA GUA BOONG MEN.LO SATU2NYA YG GA RESE MA GW.ABIS LO JG BEJAT SIH :) PENJARA INDONESIA ANCUR MEN.

PARAH!YA UDAH NANTI MLM GW KE RMH LO NGOMONG AMA MAMA LO.BTW LO BRENTI DONG NYEBAR RACUN KE ORANG2!

KL GW BRENTI BKN CUMA GW YG MATI MEN.TLG MAMA GW MEN PLIS

Saya diam sejenak. Termangu. Kalau Nopal sudah bilang bahwa nyawanya terancam, itu artinya benar-benar terancam. Dia itu salah satu prajurit jalanan Cilincing yang saya kenal. Hidupnya dari dulu memang dibayang-bayangi bau kematian. Dan dia tidak pernah mengeluh apalagi takut karenanya. Namun kali ini masalahnya pasti serius.

Terjebak dalam sindikat narkoba yang melibatkan banyak orang, baik dari dunia hitam maupun berseragam dan satu-satunya orangtua yang tersisa terbaring di rumah terkena kanker, pasti masalah serius.

Penjara, kata Nopal, sudah berubah jadi rumah indekos. Narapidana kaya, yang mampu membayar tentu saja dapat fasilitas lebih. Bahkan seorang bos sepakbola di Indonesia mampu memboyong AC hingga fax ke dalamnya lalu menjadikan dua kamar jadi satu demi kelangsungan pekerjaannya ketika ia harus menjalani hidup dalam bui. Semuanya atas nama tahu sama tahu.

Singkat kata singkat cerita, mamanya Nopal akhirnya beristirahat dengan tenang di pemakaman umum Cilincing setelah enam bulan bergulat dengan kanker leher rahim yang mengerikan. Semua tenaga medis yang saya hubungi menyerah sambil mengatakan bahwa harapan hidup beliau sudah semakin menipis.

Tidak berselang lama, Nopal menghidup udara bebas. Dia jadi big shot. Ternama karena kinerja kerja. Prestasinya sebagai bandar narkoba di dalam lembaga pemasyarakatan memberinya semacam previlige yang mampu mengantarkan surat sakti agar dapat keluar lebih cepat.

Tapi tidak lama. Hanya beberapa bulan setelah bebas, ia meninggal karena tabrak lari. Bisik-bisik rumor jalanan berkata bahwa sebelumnya ia tidak mampu closing deal sebuah perjanjian bisnis dengan pesakitan kelas kakap. Kata kabar burung, Nopal harus membayar dengan nyawanya.

Dibandingkan dengan Nopal, Tuan Verone tidak akan lama bertahan hidup jika ia dalam penjara Indonesia.

Tuan, ini negeri dimana orang miskin diharamkan sakit!


Shit Happens, Life Goes On (Horror Hari Jumat)

Hari jumat lalu, pagi-pagi saya rencananya mau berangkat kerja. Sudah sarapan, sudah mandi, sudah bersih-bersih rumah segala dan lalu berpakaian. Rencananya akan naik bis, tidak mengayuh sepeda menuju pabrik. Maklum, hari itu agak gerimis. Kalau nanti sore cuacanya membaik, saya akan ajak sahabat saya Kang Adi untuk main tennis di dekat rumah. Maka itu dalam tas ada sepasang raket tennis.

Omong-omong, rumah kontrakan saya, terletak di lantai enam. Kalau turun atau naik, yaa pakai lift. Maka seperti biasa, saya memakai lift dong untuk turun ke lantai dasar. Jadi hari itu, saya hanya mengulang kebiasaan, pergi kerja turun ke bawah dengan lift. Seperti biasa.

Tanpa perasaan curiga, saya tekan tombol lift menuju bawah. Begitu pintu lift tertutup dan perlahan bergerak turun saya tidak merasakan sesuatu keganjilan apapun. Namun ajaibnya, begitu di lift mulai memperlihatkan angka lima di petunjuk lantainya, tiba-tiba bagaikan gila ia meluncur seperti seluruh kabel-kabelnya putus semua. Wussszzz…

Di dalam lift saya seperti dalam ruang anti gravitasi, kaki rasanya tidak menginjak dasar lantai lift. Kok saya seakan seperti terbang rasanya? Saya jatuh.

Di lantai tiga lift berhenti dengan suara keras sekali. Blamm!!!

Seakan ada tangan raksasa yang menahannya untuk terus meluncur ke bawah. Badan saya terhentak oleh kejutan ini. Lift berderak keras. Sebelum sempat menyeimbangkan kaki, muka saya menghantam dinding lift yang persis ada di samping tombol-tombol. Walhasil bibir saya memble jontor temporar. Sementara pundak serasa copot engselnya.

Tak dinyana, lampu mati. Ruangan gelap total. Lift ini berukuran panjang dua meter, lebar satu meter dan tinggi dua meter. Kecil? Iya, buat saya sih tidak terlalu besar. Dalam sendiri di kotak kubikal ini dan diliputi kegelapan sepi, saya tiba-tiba merasa ada di peti mati.

5 Menit +

Masih dalam gelap, saya cek muka saya dan pundak. Apakah basah atau tidak. Sebab kalau basah, bisa jadi ada bagian tubuh saya yang terbuka dan mengeluarkan darah. Syukurlah tidak ada apa-apa. Saya masukkan tangan ke kantong, mencari telpon. Saya ketik pesan, “Kang Adi, punya bola tenis ga? Kita maen yuk nanti sore?”. Dan setelah itu dengan santainya saya tekan tombol ‘send’.

Setelah itu saya bengang-bengong saja dalam gelap. Lima menit kemudian, saya baru sadar bahwa saya telah dan masih sedang mengalami ‘insiden’. Dalam hati saya mengutuk, “buset dah, bego amat gua tadi. Bukannya minta tolong Kang Adi waktu sinyal masih ada, kok malahan ngajak maen tennis. Gimana nanti kalo gua baru ditemukan orang berhari-hari kemudian?”

Dalam gelap saya sadar bahwa saya senyum cengar-cengir sendirian.

10 Menit +

Saya lihat jam. Sepuluh menit telah berlalu. Lampu masih mati. Tombol emergensi minta tolong pun mati. Telpon tanpa sinyal. Daripada bengong memikirkan yang tidak-tidak, saya putar lagu melalui telepon genggam. Tidak lama kemudian, suara Iwan Fals terdengar lembut. Iya, masih gelap. Tapi setidaknya, minimal agak romantis gitu deh. Hehe.

Rumah kontrakan saya baru jadi bulan Desember lalu. Belum ada tujuh bulan usianya. Penghuninya kebanyakan yaa mirip saya, pergi pagi kerja dan pulang malam. Beda dengan tetangga, saya biasanya pergi paling lambat dan pulang paling cepat. Maklum saya kan buruh gila. Kadang suka datang ke pabrik seenak jidatnya. Pada intinya, saat ini tetangga-tetangga saya pasti sudah pergi semua. Percuma kalau saya teriak minta tolong pun, dinding-dinding rumah kami tebal bahkan hingga memakai kaca ganda demi menahan dingin dan suara. Belum lagi kenyataan bahwa saya ada di lift yang dilapisi pula tembok super tebal. Buka suara, yaa percuma. Akan menghabiskan energi saja.

Tapi… Eh tapi, saya dengar ada suara orang bercakap-cakap dan langkah kaki. Maka dalam gelap, saya pukul-pukul dinding lift sambil teriak-teriak minta tolong. Bodo deh kalo dibilang ngabisin enerji, yang penting gua selamet! Begitu saya pikir saat itu.

Anehnya, mereka tidak mendengar dan langkah kaki terus berlalu. Saya sempat kecewa dan sedikit marah. Kenapa mereka tidak mendengar, apa susahnya sih berhenti sebentar memberi pertolongan?

Saya baru sadar ketika suaru itu pasti tiba dari lobang udara. Ahh mungkin saja mereka tidak ada didekat sini. Bisa jadi ada di gebung sebelah utara.

Omong-omong soal lubang udara. Astaga, saya baru sadar lift ini menjadi panas. Tadi keluar pintu rumah, udara menunjukkan 16 derajat Clecius. Saya pakai jas musim semi. Dan sekarang dalam lift panas sekali. Saya buka jas tipis ini.

15 menit +

Suara berdengung agak keras. Telinga saya sampai tidak enak mendengarnya. Ada kedip-kedip cahaya. Saya tatap ke atas dalam gelap, tiba-tiba cahaya terang datang. Horeee! Lampunya menyala!

Saking senangnya, saya lompat joget-joget seperti simpanse yang diberi pisang. “Hore, nyalaaa! Horeee!!! Nyalaaa!!!”. Namun tindakan ini segera saya hentikan. Dari atas, dibalik lampu saya dengar suara ‘kreot… kreeoottt…’. Astaga! Itu suara kabel. Dan saya pikir, gila sekali kalau saya teruskan loncat-loncat. bagaimana kalau kabel lift ini putus? Lantai terbawah itu terletak sekitar lima lantai lagi (iya ada lantai berangka minusnya). Saya pikir, kalau kabelnya lepas, ada kira-kira dua puluh meter saya dan lift sempit ini akan terjun bebas menghunjam bumi. Maka itu saya hentikan loncat-loncat dalam lift dengan tujuan agar anak saya tidak jadi yatim sesegera mungkin.

Saya pencet tombol komunikasi darurat untuk menghubungi operator lift. Ahh, sayang sekali sudah coba memencet tombol itu selama 10 menit tidak juga ada jawaban.

Saya duduk diam. Mencoba berfikir positif. Apa yaa yang positif? Saya coba mengambil raket tenis dari dalam tas. Menatapnya dengan pelan. Membayangkan kalau saya jadi Rafael Nadal, lalu main di Wimbledon bersama putri saya. Seru kali yaah?

30 Menit +

Akhirnya setelah setegah jam, berhasil pula saya mengontak petugas yang mengontrol lift.

Dengan mencoba untuk tenang dalam udara yang makin panas saya bilang, “Nama saya (sensor) Saya tinggal di jalan (sensor) di gedung (sensor) Saat ini saya terjebak di lift kalian sejak setengah jam. Lift tanpa lampu dan baru menyala kira-kira belum lama sih”

“Setengah jam, Pak! Lama amat!”

Dalam hati saya merutuk. Ini mbak-mbak bukannya menenangkan saya, malahan bikin kesal. “Iya mbak, sudah setengah jam saya disini dan saya akan terlambat kerja. Sangat terlambat!”

“Bapak baik-baik saja?”

Yaelah, baru nanya sekarang. “Iya Mbak saya baik-baik saja”

“Bapak sendiri dan apa ada masalah?” Idiiih tanyanya kok seperti mau ajak kencan.

“Nggak Mbak, saya baik-baik saja. Tolong telpon nomor (sensor) untuk memberitahu rekan saya (sensor) kalau saya terlambat dan rapat silahkan bisa dimulai. Bisa? Telpon saya nggak ada sinyalnya. Maklum lah, saya terjebak di lift”

“Bisa Pak… Bisa!”

Diam sejenak. Saya bengong. Ini apa saya tengah disambungkan dengan rekan kerja saya, atau memang tidak ada bahan pembicaraan lagi.

“Mbak… Mbak… Halooo… Masih disana?”

“Iya Pak masih disini saya”

“Mbak, kapan petugas reparasi lift datang?”

“Ini sedang saya coba dari tadi Pak. Petugas kami sedang sibuk, Pak. Kira-kira baru sampai satu setengah jam lagi”

“Satu setengah jam? Heh.. Apa! Waduh Mbak, saya mau kencing nih. Gimana dong?”

Tidak ada jawaban.

“Mbak, saya boleh kencing di pojok pintu lift”

Masih tidak ada jawaban.

“Mbak… Err, saya udah kebelet nih”

Saya dengan suara bisik-bisik. “Pak, saya belum terbiasa menangani yang terjebak di lift lebih dari lima menit. Saya belum tahu, Pak. Bapak bisa menelpon lima menit lagi?”

Saya cengar-cengir mendengar jawabannya. Saya jawab OK dan lalu terdengar dari sana sambungan tertutup.

Sebenarnya saya tidak ingin buang air kecil. Saya hanya ingin bercanda saja dengan mbak-mbak itu. Ahh tidak dosa kan? ;)

45 menit +

Saya sudah bosan. Dengar musik, sudah. Baca buku, sudah. Menggoyang-goyangkan badan sambil memegang raket tenis, juga sudah. Jadi mau apa lagi?

Eh ada kaca! Besar. Setengah dinding lift bagian kanan tertutup kaca. Kenapa nggak ngaca aja bangaip? Bukankah mengaca sebagian dari iman? (*kata siapa? hahaha*)

Akhirnya saya berkaca. Duh, saya baru sadar. Bahwa rumah saya tidak ada kaca. Ada kaca, tapi dipakai hanya untuk aksesori saja. Secara serius, ternyata saya selama ini tidak pernah berkaca. Apakah ini artinya saya kurang introspeksi? Orang yang suka introspeksi kan katanya suka berkaca pada diri sendiri? Kenapa saya tidak? Apa jangan-jangan saya terlalu takut menatap wajah sendiri dan mencoba melupakannya? Halah!

(*Loh kok jadi melantur*)

Saya konsentrasi melihat kaca. Oh, baru sadar. Banyak jerawat di sekitar hidung rupanya. Akhirnya, saya pencet-penceti itu jerawat. Wah, dibawah mata juga terlihat kantung mata makin membesar saja. Tiba-tiba saya kepikiran untuk membeli krim. Entah krim apa saja, yang penting bisa mencegah keriput-keriput dan flek wajah ini. Saya buka mulut, aduh… Gigi saya kok kuning semua. Padahal saya sudah sikat gigi. Ahh, apa saya perlu ke dokter gigi untuk diputihkan lagi? Eh lalu apa itu, kok kuping saya ternyata besar sebelah? Idiih, rambut saya kok nggak rata begini yaah?

Tiba-tiba saya merasa bahwa inilah sebenarnya horror yang tengah saya hadapi. Yaitu, melalui kaca di lift yang rusak ternyata terlihat bahwa saya bukan tipikal orang yang bersyukur.

Mungkin… Ah mungkin saya harus berubah…

1 jam +

Saya zikir membaca dalam hati “Jauhkanlah aku dari godaan kaca yang terkutuk” banyak-banyak. Duduk di lantai. Membuka telpon kembali. Melihat foto dan video putri saya Novi Kirana. Dalam hati tiba-tiba berfikir kalau ternyata saya dipanggil yang maha kuasa dalam lift yang rusak, maka sebenarnya saya cukup bangga. Sebab saya sudah berhasil memproduksi seorang putri baik pintar cantik lucu dan menjadi kebanggaan bahkan ketika nafas saya telah berhenti berhembus nanti.

Saya senyum-senyum sendiri.

Dalam film-film produksi Hollywood, kalau manusia dalam saat-saat menjelang proses kematiannya, maka ia akan memikirkan hal-hal yang telah ia jalani dalam hidup.

Di atas, suara kabel semakin keras berderak-derak. Saya duduk dalam diam bagai patung. Namun lift terus bergoyang-goyang berantuk dengan dinding luar pelapisnya.

Apapun yang akan terjadi, saya sudah pasrahkan saja.

Saya ingat Ibu di Cilincing sana. Ingat masa kecil saya yang lumayan bahagia. Ingat pernah main bola di sawah bersama Gugun, Jumari, Odoy, Rojak, Utu, Aris, Uki dan lain-lainnya. Ingat bahwa ciuman pertama saya ketika menjelang kelas tiga SMP adalah dengan gadis buruh pabrik tekstil dari Indramayu. Ingat kalau main sepeda hujan-hujan di Jakarta itu ternyata indah sekali. Ingat kalau ternyata saya hobi bepergian dan banyak menapakkan kaki di muka bumi dan sama sekali tidak punya banyak ikatan emosional dengan rumah tinggal. Ingat pertama kali menggendong bayi Novi Kirana dalam dekapan.

Saya ingat sekarang, dulu rumah saya adalah rumah Ibu. Dan kini sejak jadi ayah, rumah saya adalah putri saya tercinta. Rumah itu ternyata adalah sebungkah hati yang dicintai.

Maka jika sebentar lagi kabel lift ini putus dan saya meninggal. Saya pikir saya tidak perlu takut. Toh saya akan bertemu bapak sebentar lagi :) Bukahkan besok hari ayah? Dan tentu saja saya siap bertemu beliau kembali.

1,5 jam +

Sudah sekian lama, kok yaa kabel lift belum putus juga? Wah saya jadi bingung sendiri. Gua jadi mati hari ini apa nggak yaah? Tapi kalo gua mati, trus kenapa? Shit happens, life goes on.

Daripada bertanya-tanya hal yang menyeramkan, saya akhirnya membuat daftar. Apa saja yang belum saya lakukan dalam hidup ini. Daftar itu, yaa jelas apa yang ingin saya lakukan tapi belum kesampaian.

Yang pertama saya pikirkan adalah, ‘telanjang di depan publik’.

Tiba-tiba saya berfikir bahwa telanjang di depan publik adalah salah satu hal yang belum pernah saya lakukan dalam hidup. Apa saya harus telanjang sekarang dalam lift ini? Tapi kalau saya telanjang sekarang, trus kabel liftnya copot dan saya terjun bebas ke lantai dasar, kan agak aneh berita esok hari. “Seorang pria bugil ditemukan tewas dalam lift ditemani lagu dangdut”.

Wah gimana kalo temen-temen saya tahu kalau mayat itu ternyata bangaip? Hahaha…

Okelah, saya putuskan bahwa telanjang di depan publik tidak jadi saya lakukan dalam lift ini secara saya pikir bahwa kalau memang mau telanjang akan lebih baik jika saya masih bernapas. Ditambah lagi kenyataan bahwa dulu saya pernah difoto telanjang dan dipublikasikan pada publik berarti itu bukan hal yang belum saya lakukan. (*Poto telanjang di publik? Publik ape Bang! Hahaaaayyy… Mana tahaaannn…*)

2 jam +

Interkom lift menyala. Suara mbak-mbak itu lagi membuyarkan angan-angan saya yang kepikiran untuk membuat tatto wajah putri di pundak kalau saya selamat hari ini. “Pak, mohon jangan berdiri dekat pintu. Bapak akan mengalami sedikit guncangan. Lift bapak kami sambung dengan instrumen baru kami”

Sedikit guncangan? Mbak, masoloh, andai dikau tau tadi bibir gua mao jontor trus selama dua jam liftnya goyang-goyang kerawang lebih ngebor daripada joged Inul, pasti nggak ngomong begitu deh. Tapi saya jawab, “Okay”

Gila aja kali saya mau mendebat orang yang mau menolong?

2 jam + 15 menit

Setelah lift naik turun dari lantai paling bawah ke paling atas berkali-kali dan ada asap masuk dari saluran udara (yang membuat saya terbatuk-batuk, mata panas dan meminta agar segera dibuka pintunya) akhirnya pintu terbuka di lantai tiga.

Ada suara dari interkom “Pak, silahkan keluar sekarang jika mau”

Jika mau? Yaelah, masih ngocol aja nih si mbak.

Saya keluar dari lift. Dengan selamat. Masih mengenakan baju dan celana sambil memegang raket tenis. Akhirnya saya putuskan turun naik tangga setelahnya.

2,5 jam +

Saya menerima banyak telpon dan SMS dari rekan kerja yang bertanya mengenai keselamatan saya dan apakah saya berhasil mengatasi krisis lift dengan tenang.

Saya jawab santai, “Kelihatannya saya belajar sesuatu yang baru hari ini”

(*Jelas saya tidak akan memberitahu mereka bahwa saya tidak akan telanjang di depan publik hari ini… Hehe*)


Ksatria Cilincing

Beberapa hari belakangan ini banyak teman-teman yang bergiat di media membicarakan strategi pemasaran #petimati. Yaitu sebuah trik pemasaran yang kata pembuatnya ‘mampu mengenalkan sebuah produk dari mulut ke mulut’, dengan cara mengirim peti mati ke jaringan media di Indonesia. Tetangga saya, Mas Paman dan Pakde membahasnya dengan amat baik, dari sudut pandang etika hingga profesionalitas. Silahkan baca di halaman mereka pada link yang tercantum sana.

Saya tidak akan membahasnya di sini. Membahas peti mati bukan keahlian saya. Tapi mungkin akan membawanya ke topik makan siang nanti bersama para kolega. Saya pikir, sesama rekan buruh pabrik yang menyantap hidangan makan siang nanti akan sedikit mengerenyitkan kening. Mendengar ada manusia yang punya ide mengirim peti mati agar terkenal ke seluruh dunia. Ahhh saya yakin si pengirim peti mati ‘mampu mengenalkan produknya dari mulut ke mulut’. Walaupun sekarang jelas promosi macam apa yang dibicarakan dari mulut ke mulut mengenai peti mati kirimannya.

Promosi itu masalah penting dari dagangan. Katanya, tanpa promosi akan habislah sirkulasi. Teori ini sempat dibantah oleh beredarnya film ‘Super 8‘ karya Steven Spielberg dan JJ Abrams. Itu film, dari pembuatan bahkan sampai munculnya di bioskop, penuh bisik-bisik rahasia. Akibat rahasianya, bahkan blog pengendus terbaik macam BoingBoing dan GeekDad langganan saya pun baru tahu di menit-menit terakhir sebelum akhirnya dipublikasi di bioskop. Tapi bukankah bisik-bisik rahasia pun sebenarnya adalah promosi?

Promosi? Ahh iya. Ini yang mau saya bahas.

Dulu teman saya si Anung kesengsem habis-habisan pada kembang satu SMA yang bernama Lina. Setelah memberanikan diri bahkan hingga puasa senin kamis agar diberi kekuatan langit dalam menyampaikan cinta, mulailah ia promosi. Tidak tanggung-tanggung, akibat kebanyakan membaca novel romantika abad pertengahan, si Anung mendekati Lina di kantin ketika sedang jajan bakso. Dia bilang, “Lin, aku laki-laki terbaik yang akan kamu miliki di muka bumi ini. Kamu mau jadi perempuanku?”

Cerita-cerita CanterburyBukan gara-gara Lina yang tidak baca The Canterbury Tales yang bercerita kisah cinta antara para ksatria Inggris dan para putri raja. Bukan pula gara-gara si Anung yang menyatakan cinta setelah selesai upacara bendera hingga memakai dasi kupu-kupu dipadu celana abu-abu. Bukan… Bukan karena itu Lina menolak cintanya. Sebab Lina tidak pernah menolak cinta Anung (*bahkan hingga detik ini*). Lina hanya balas bertanya, “Eh, siapa yaa?” yang membuat hati Anung berantakan dirundung malu.

Maka jika suatu hari Anung bertanya pada saya apa kekurangannya, saya sama sekali tidak bisa menjawabnya. Astaga! Saya bukan Don Juan. Tapi saya jelas bisa bertanya, “Nung, kok si Lina bisa nggak kenal ama lu sih? Kapan terakhir kali lu ngobrol sama dia?”

Sambil menunduk seakan langit mau runtuh Anung menjawab, “Waktu kita inisiasi lah men. Kan belum lama tuh. Demi Tuhan, pertama kali lihat langsung jatuh cinta”

“Inisiasi? Maksud lu waktu kita orientasi sekolah? Hah, itu kan udah dua tahun lalu, men. Buset dah…”

Jadi pada intinya, si Anung ini diam-diam jadi penggemar rahasia Lina. Kalau pulang sekolah bahkan sempat menguntit Lina dengan sepeda hanya untuk sekedar tahu apakah rumah tinggalnya punya kotak surat untuk disampaikan kertas cinta. Dan selama dua tahun pula, Anung mengungkapkan cinta lewat sebuah surat yang tertandatangan dibawahnya oleh ‘Ksatria Cilincing’.
(*Kadang-kadang saya suka pikir, anak sekolah jaman dulu kok yaa ada-ada saja yaa tingkahnya? Tapi… Lha memang anak sekolah sekarang bagaimana kelakuannya?*)

Jelas Anung pikir bukan ide jenius ketika saya bilang bahwa ia harus membayar beberapa gadis di sekolah kami agar menulis ‘punyanya Anung segede terong’ di WC siswi sebagai langkah promosi dirinya. Saya bilang, “Oke kalo nggak terong, ketimun aja. Kan mantep men kalo barang lo terkenal sesekolahan kita!”. Namun tetap saja ia menggeleng.

Ketika saya tawarkan, “Gimana kalo lo bayar cewek-cewek yang agak gitu deh di sekolahan kita biar mereka bisik-bisik pernah bercinta ama lo dan bisikannya yaitu elo kayak kuda binal yang dahsyat kalo lagi bercinta? Kan hebat lu jadi pecinta sejati men. Bayangin di saat anak-anak laen lagi kesusahan ngilangin keperjakaan, lu malah udah jadi dewa ranjang. Pasti cewek klepek-klepek dah kalo ngeliat lu lewat. Pasti si Lina doyan ama lu men”

Anung menatap saya makin lesu, “Yaelah Rip, bapak emak gua kan haji. Masa gua terkenal sampe kedengeran nanti ama orangtua gua kalo gua cowok begituan. Lu mah enak udah nggak punya malu. Kalo gua kan cowok biasa aja men”

Aduh, ‘ksatria Cilincing’ di hadapan saya menjelma jadi ‘cowok biasa’. Di atas kertas, dia luar biasa. Di dunia nyata, ah-ah-ah… Hanya seorang pria yang putus asa berharap cinta.

“Bujug buneng, masa gitu aja lu nyerah, Nung. Promosi dong. Promosiii…”

Singkat kata singkat cerita, akhirnya Anung setuju membayari makan siang saya selama sebulan kalau Lina akhirnya mengetahui kalau ksatria dari Cilincing itu ternyata Anung. Namun baru setengah bulan, aksi ini dihentikan dengan paksa olehnya setelah mengetahui bahwa di meja kelas tempat gadis idolanya biasa duduk ada tulisan spidol ‘Lina Love Bangaip‘.

Anung hatinya semakin berdarah, sahabat dekatnya ternyata jatuh ke pelukan gadis pujaan. Orang yang dianggapnya menjadi benteng terakhir meminta bantuan ternyata menikamnya dari belakang.

Suatu siang yang panas Anung menantang berduel di kebun jamblang belakang sekolah. ia buka baju, itu artinya kami tidak akan pakai senjata. Ceritanya, mungkin ini hanya satu-satunya solusi antara dua laki-laki. Yang menang dapat Lina? Wallahualam jawabnya. Yang pasti, ada yang marah dan ada yang kecewa.

Anung buka baju, saya juga. Ketika berhadap-hadapan dengan jarak antara lima meter masing-masing, tulang iga kurus remaja pesisir pantai kami menonjol jadi tontonan warga sekitar yang memang haus hiburan dan hanya duduk di warung kopi sambil tertawa-tawa.

Anung: “Bajingan! Dasar lu pager makan jaro!”
Saya: “Ada juga pager makan taneman, kali. Tapi emang salah apa gua!”
Anung: “Duit gua lu makan, si Lina lu embat! Temen macem apa lu!”
Saya: “Emang salah gua kalo pas gua bacain puisi-puisi lu trus gua nyanyiin lagu-lagu lu yang buat si Lina, bikin dia demen ama gua? Emang salah gua kalo lu sampe segitu aja nggak berani?! Emang salah gua lu nggak promosi…!!!”
Anung: “Udah lu jangan banyak omong! Kemaren gua liat lu nyium pipinya Lina di pager rumahnya pas abis pulang sekolah! Temen macem apa lu!”
Saya: “Gua sumpahin mata lu bintitan gara-gara ngintipin orang!!!”

Tak lama kemudian kami terlibat baku hantam. Sang ksatria Cilincing ini memang mungkin akibat banyak membaca adegan pertarungan peperangan antar jawara, jadilah saya kewalahan juga. Tapi lima belas menit setelah saling mengeluarkan emosi jiwa berbagi tinju akhirnya kami berdua ngos-ngosan juga kehabisan nafas.

“Nung… Hhooohhh.. Hooohhh… Ambillah tuh… Hoohh… Hooohh… si Linaahh… Hooohh… Hoorrhh…”

“Hrrhhh… Hrrrhhh… Nggak rip… Hrrhhhh… Gua rela dahhh… Hrrhhh…”

Sambil tersengal-sengal, kami saling ‘memberi’ Lina.

Tanpa sadar, bahwa di bawah pohon jamblang seorang gadis manis berambut panjang berkepang dua memeperhatikan. Itu dia, perempuan pujaan yang kami perebutkan. Ketika akhirnya saya dan Anung berdiri dan saling memegang pundak mata kami menatapnya. Ia tidak banyak bicara apa-apa. Tidak ada tanda sedih, marah atau kecewa dimatanya. Ia hanya berbalik badan. Pergi. Dan sejak saat itu, tidak pernah lagi bicara pada kami.

Ini bukan kisah cinta. Ini hanya cerita tentang promosi. Entah promosi yang gagal, kebablasan atau malah tak tahu diri. Entahlah…

Walaupun hingga kini, saya selalu bertanya-tanya. Bagaimana rasanya memiliki pasangan cinta yang harus bertarung demi mendapatkannya?

Atau justru jangan-jangan Anda yang diperebutkan mereka? Eh, ajarin dong gimana sih promosinya? ;)


Waktu Papa Belajar Ballet

ini gambar tutu asli, bukan yang jadi-jadian yang dibikin oleh bangaiptopBegini loh, rumah saya tidak besar. Tapi punya jendela kaca yang walaupun tingginya hanya 30 cm tapi panjangnya sekitar dua meter. Dari kaca jendela tanpa tirai dan hanya dibatasi oleh beberapa pot bunga kecil dan kuas untuk melukis, semua sisi rumah saya bisa terlihat dengan baik oleh tetangga-tetangga yang melintasi gang depan. Pada intinya, saya memang tidak punya banyak privasi melalui jendela tersebut.

Beberapa hari lalu, putri saya main-main di depan monitor komputer. Kelihatannya dia terlalu asyik melihat tayangan tari ballet melalui youtube. Tiba-tiba dia turun dari kursi dan lalu ikut-ikutan bergerak-gerak melonjak kesana-kemari loncat-loncat seperti penari ballet. Saya ketawa-ketiwi melihatnya.

Begitu melihat saya tertawa, ia berhenti. Dengan mulut cemberut ia berkata, “Papa. Kenapa kamu tertawa! Kamu tidak lihat saya sedang sibuk? Ayo, kamu juga ikut menari seperti saya”

Hah! Saya bengong mendengar permintaannya. Tapi hanya sejenak. Lalu saya mulai bergerak-gerak disampingnya sambil menari mengikuti tari ballet anak-anak yang kami lihat melalui youtube.

Ia berhenti sejenak. Mulutnya masih tetap cemberut. “Papa! Bukan begitu caranya. Kamu harus benar-benar ikuti gerakan anak-anak itu”

Saya protes, “Tapi papa kan sudah bener bergeraknya, Novi. Papa harus bagaimana lagi?”

Dengan tanpa dosa dia bilang, “Kamu harus pakai pakaian seperti mereka papa”

“Tapi papa nggak punya rok sayang. Mereka itu pakai pakaian khusus untuk ballet. Namanya tutu. Papa nggak punya itu”

“Umur papa kan sudah empat tahun. Umur saya tiga tahun. Papa lebih tua daripada saya, papa harus cari cara dong!” katanya sambil melihat muka saya seakan seperti menuntut.

Eh buset bocah. Emang bapaknya siapa kok yaa minta-minta saya punya seragam penari ballet.

Tapi yaah demi anak perempuan semata wayang. Saya rela-relakan akhirnya ke gudang. Cari koran bekas. Dirangkai. Digunting. Lalu saya jadikan rok mini rumbai-rumbai demi menyenangkan si buah hati. Setelah itu saya balik lagi ke ruang tengah. Ke depan monitor, “Nah Novi, papa sudah punya tutu nih sekarang. Jadi, kita bisa menari sama-sama sekarang?”

“Yaa nggak dong papa. Kamu nggak boleh pakai baju dan celana itu”

“Lah terus papa pakai apa dong?!”

Dengan cueknya ia buka baju dan celana dan hanya menyisakan popok dan celana dalam saja. “Begini papa. Kalau mau menari ballet, nggak boleh pakai baju dan celana sembarangan”

Hah! Sekali lagi saya terbengong-bengong. Edan, masa iya saya harus hanya pakai celana dalam diliputi rok mini rumbai-rumbai dari koran bekas. Tapi sekali lagi, akibat tatapan mata Novi Kirana yang sedemikian mengiba, ya sudah saya turuti permintaannya.

“Papa, kamu kok nggak pakai popok sih? Pakai popok dong biar sama dengan saya. Nanti kalau lagi ballet kamu mau kencing bagaimana?”

“Yaelah Novi, papa kan sudah lebih besar daripada kamu. Papa nggak usah pakai popok lagi dong. Papa ke WC saja”

Jadi, saat itu di ruang tengah rumah saya, terlihatlah sepasang bapak dan anaknya sedang menari ballet hanya pakai celana dalam saja. Dan seketika itu pula, kami langsung beraksi meniru para penari ballet cilik yang ada di youtube.

Tanpa saya sadari, akibat musik ballet yang mungkin terlalu keras ternyata banyak kepala bermunculan dari balik jendela rumah saya. Buset, ternyata tetangga sedang melihat saya dan putri menari-nari mengikuti musik. Jadi, saya yakin dihadapan mereka terlihat anak kecil berusia tiga tahun dengan seorang laki-laki berambut awut-awutan berperut buncit yang hanya mengenakan celana dalam diliputi rok mini kertas koran rumbai-rumbai sedang pura-pura jadi penari ballet cilik.

Karena pemandangannya cukup ajaib, saya sambil cengar-cengir hanya melambaikan tangan ke arah mereka sambil berkata, “Halo. Hehehe….”

Mereka melambai balik. Dengan senyum yang terlihat dipaksakan. Dengan tatapan mata yang sukar dijelaskan dengan kata-kata.

Tidak lama setelah tetangga bubar akibat tayangan musik ballet habis dan putri saya sudah mengalihkan perhatian bermain balok-balok kayu menyusun rumah-rumahan, saya pun kembali ke ‘seragam normal’. Celana jeans dan t-shirt.

Begitu selesai berpakaian ada telpon masuk. Rupanya dari seorang sahabat. Dari suara telpon terdengar kalau ia panik.

“Bangaip… Gua stress nih”

“Lah kenapa? Santai aja. Gua kan satu-satunya temen lo yang punya nama belakang Top dengan tambahan Deh. Hehehe… Masa sih ada masalah yang ga bisa diselesaikan?”

“Adek gua bang.. Aduh masalah banget deh tuh anak”

“Kenapa ama adek lo?”

“Adek gua, aduuh stress banget gua nih. Masa foto-fotonya kesebar di internet. Udah gitu diperes pula. Aduuh gua stress nih, emak gua aja ampe stress… Aduuh pusiing!”

Dari telpon, saya minta ia duduk dan lalu minum air segelas. Ambil nafas, lalu baru mulai bicara. Kalau tidak, susah mendengar ia bilang apa. Untung saja ia menurut. Maka beberapa menit kemudian akhirnya ia bicara dengan lebih runut dan tidak lagi terengah-engah.

Saya dengar ceritanya dengan seksama. Rupa-rupanya si adik kangen dengan suaminya yang ada di luar negeri. Mereka bercinta melalui internet. Si adik, mengirimkan beberapa foto kategori panas dan video-video syur ke alamat email suaminya. Rencananya, materi tersebut tentu saja berguna sebagai pengobat rindu sang suami. Bagaimana menggunakannya, tentu saja tidak perlu saya ceritakan di sini. Yang perlu saya ceritakan adalah bahwa alamat email si suami rupanya dimasuki orang nakal. Entah alasannya apa, akhirnya foto-foto si istri tersebar luas di internet. Yang paling parah, sekarang malah ada oknum yang mengancam untuk meminta uang segala. Tidak tanggung-tanggung, kalau tidak diberi 20 juta rupiah maka foto-foto dan video si istri yang sekaligus dosen ini akan disebarkan ke sekolah dan mahasiswanya.

20 juta rupiah walaupun bisa dibayar oleh sang suami, tentu saja bukan sejumlah uang yang sedikit. Maka sore itu, kakak iparnya yang sekaligus sahabat saya menelpon dengan suara bergetar akibat sedih, marah dan kecewa yang bercampur jadi satu.

“Bang, gimana kalo foto-foto ama video adek gua kesebar dikampusnya?”

“Adek lo kan korban, Wi. Dia kan cuman kangen ama suaminya dan suaminya kangen ama dia. Jadi kalo ada orang yang memanfaatkan itu buat kepentingan pribadi, yaa jelas bukan salah adek lo”

“Kalo sesial-sialnya mahasiswa dia dapet tuh foto gimana ceritanya? Adek gua nanti jadi bahan coli dong? Apalagi amit-amit deh kalo adek gua ditangkep polisi”

“Saran gua sih jujur aja ama sekolah dan civitas akademikanya kalo ada orang yang mau berbuat jahat sama dia. Dan mengakses dan nyebarin materi personal dia, sama aja setuju dengan kejahatan yang terjadi. Adek lo itu korban kejahatan. Bukan pelaku”

“Tapi Bang lo tau ga Ariel Peterpan itu kena kasus UU pornografi? Dia kan sama kayak gini kasusnya. Emangnya dia niat nyebarin videonya. Kok bukan yang nyebarin yang dihukum malah si Arielnya yang dihukum?”

“Buat gua, itu nggak adil. Tapi gua pribadi sih nggak begitu ngikutin kasus Ariel jadi nggak bisa komentar banyak. Buat gua saat ini yang penting adek lo. Yang jahat dalam kasus ini kan orang yang nge-hack account email adek ipar lo. Yang jahat kan yang meras duit dan ngancem mau nyebarin foto-foto telanjang adek lo. Nah kalo mahasiswa adek lo apalagi rekan sesama dosen ikutan download tuh foto, apalagi ikutan nyebarin. Mereka bukan lagi ngaco secara etika. Tapi juga ikut nyebarin kejahatan dan sama-sama melakukan tindak kejahatan. Lebih parah lagi, kalo bahkan ikutan menghakimi adek lo secara moral”

“Tapi Bang, orang Indonesia kan biasanya begitu. Nggak tau apa-apa tapi ujung-ujungnya maen hakim sendiri”

“Hell yeah, gini-gini gua orang Indonesia… Jangan generalisasi dong. Hehe”

Wiwik diam. Saya jadi tidak enak. Bisa jadi ia bicara begitu karena memang itulah satu-satunya kenyataan yang ia tahu. Saya pikir saya lebih baik membantunya secara kongkrit daripada bicara dalam tataran filosofis yang sama sekali malah membuat ia jadi tambah pusing.

Saya telpon mamanya Wiwik serta adik iparnya. Menjelaskan langkah yang tidak perlu saya ceritakan disini secara teknis (karena terlalu detil dan amat teknis) untuk memulihkan keadaan yang bikin panik keluarga mereka ini.

Langkah yang saya ambil secara garis besar adalah:

  • Mengambil ulang akun email dan facebook adiknya Wiwik dan mengganti passwordnya secepat mungkin (*Jangan tanya saya gimana caranya, yang jelas sih saya bukan hacker dan semuanya saya lakukan secara legal*)
  • Melakukan investigasi kepada siapa saja email berisi foto-foto dan video telah dikirimkan. Merekam jejak dan mendokumentasikannya sebagai bukti bahwa adik Wiwik dan suaminya sama sekali tidak ikut dalam penyebaran foto dan video mereka kepada publik.
  • Mengirim surat elektronik berisi cerita jujur apa adanya kepada pihak yang telah disebarkan materi dewasa tersebut agar tidak mendistribusikan foto dan video ke khalayak luas.
  • Meminta adik Wiwik untuk tetap sabar dan membuat blog pribadi. Isinya adalah kronologis mengapa foto dan videonya sampai tersebar di publik. Jelaskan kepada publik apa yang ia rasakan dan ia alami sejak akun surat elektronik suaminya dibobol dan mereka diperas.

Tujuan semua langkah-langkahnya sederhana, yaitu melawan balik. Mereka sudah diintimidasi dan mungkin akan disiksa oleh opini publik, satu-satunya jalan yaa jangan diam.

Yang saya kaget sebenarnya bukan dari cerita adiknya Wiwik. Yang membuat saya sedemikian terkejut adalah, belum sampai seminggu sudah empat ‘kasus’ serupa yang saya tangani. Saya sebut kasus pakai tanda kutip sebab saya sama sekali bukan profesional ahli informatika. Apalagi detektif swasta. Yang datang menelpon atau mengirim email minta bantuan juga biasanya teman atau temannya teman. Kalau bisa saya bantu yaa saya bantu. Kalau tidak yaa saya meminta maaf sebab tidak bisa berbuat banyak.

(*Ada yang meminta untuk membongkar akun facebook suaminya sebab ia pikir suaminya kawin lagi. Gara-gara cemburu, facebook jadi korban. Eh buset, saya belum sejago itu untuk bongkar-bongkar rahasia FB orang lain. Hehe. Oh ya, Wiwik itu bukan nama sebenarnya dan kasus di atas adalah contoh kasus yang atas perijinan teman saya boleh dipublikasi di blog ini. Segala peristiwa yang mungkin mirip dan telah terjadi, adalah kebetulan belaka. Sebab semuanya memang hampir mirip seperti ini. Modus paling mendominasi utamanya gara-gara ‘cinta’*)

Sejak makin maraknya sosial media melalui perangkat genggam, saya cermati secara subjektif bahwa makin banyak orang yang mengeluh atau merasa tersiksa akibat foto atau video personal mereka tersebar di publik. Ada yang mengeluh karena tanpa sadar foto personal tanpa seijinnya tersebar kepada publik melalui sosial media (jadi yang bawa hape pun bisa lihat). Ada yang mengeluh karena dulu waktu belum sadar dahsyatnya keganasan internet, buka-bukaan didepan publik (dan sekarang menyesal). Yang pasti, banyak sekali yang mengeluh.

Mudahnya akses internet dan mudahnya menampilkan gambar semau kita dihadapan publik adalah awal. Beberapa yang cerdas, tentu saja hati-hati dalam membuat status dalam sosial media dan menampilkan tayangan apa yang perlu diberitahu ke publik. Bisa jadi mereka lebih paham rimba lalu lintas data internet. Bisa jadi juga karena hanya ingin sekedar bergaya politik pencitraan diri dalam kata lain sok jaga image.

Beberapa yang kurang begitu hati-hati, yaa dengan bahagianya memberikan amunisi pada publik secara detail kehidupan mereka sehari-hari. Bisa jadi karena mereka ingin berbagi. Bisa jadi karena keinginan bawah sadar ingin menampilkan aurat di depan publik.

Yang pasti ujung-ujungnya memang banyak yang mengeluh.

Diantaranya mengeluh ke saya (*Loh, kok saya malah curhat begini. Hehe*). Saya sendiri sih tidak masalah. Sebab saya kan hobi menerima keluhan (*Jangan-jangan saya masochist? Haha*). Tapi kadang-kadang, keluhannya telat. Kasihan, ada bapak yang jual sawah dan kerbau hingga seluruh harta kekayaan untuk mengirim putrinya ganti sekolah dan domisili ke Singapura karena foto digital bercumbu sang anak yang masih kelas tiga SMP itu disebarkan oleh mantan pacarnya yang sakit hati.

Saya bukan moralis. Saya mendukung gerakan jangan telanjang di depan kamera bukan gara-gara ada hubungannya dengan reliji, moral, etik dan bla-bla-bla lainnya. Saya mendukung gerakan itu dengan alasan yang sederhana. Sebab undang-undang digital di RI (mau namanya yang berkaitan dengan pornografi atau intelejen, whatever lah. Sama saja semuanya. Isinya ajaib)  belum sepenuhnya berdiri untuk mendukung korban. Kasus Ariel Peterpan contoh yang sederhana bahwa wilayah pribadi digital informatika WNI masih bisa diusik oleh pemerintah atau WNI lain yang merasa bahwa mereka yang paling benar.

Itu contoh yang sederhana. Mau contoh yang lebih rumit? Sila google DNS Filtering di republik tercinta. Mau lagi yang lebih rumit? Pelajari data digital audit institusi negara. Lagi yang lebih rumit? Masih banyak. Makin teknis, makin menakutkan isinya. Semuanya sama. Ada hak-hak manusia dalam bertukar informasi melalui internet yang dilanggar oleh pemerintahnya. Ada wilayah pribadi yang selalu dilanggar demi rasa ingin tahu orang-orang yang sok tahu atau bahkan untuk institusi yang merasa perlu menyembunyikan pada publik sesuatu.

Saya ingat waktu cerita hal ini, Wiwik menukas cepat. “Bang, bukannya bagus kalo disensor pemerintah. Kan gampang, foto adek gua nggak bakal ditonton mahasiswanya?”

“Wik, kalo orang kebelet mah, apa aja dilakuin. Jangankan mutusin sensor, email orang laen aja bisa dia jebol. Menurut lu lebih bagus mana cara mendidik anak makan sayur. Dipaksa trus dipukul biar makan? Apa dibujuk dengan diberitahu jujur bahwa sayur itu bagus buat dirinya?”

Ia diam. Ia tahu maksud analogi yang saya lontarkan.

Untungnya hari itu selesai dengan penutupan yang baik. Kebetulan si pelaku pembobolan dan pemerasan akhirnya bisa didentifikasi. Bukti berhasil dikumpulkan untuk cukup menyeretnya ke meja pengadilan. Beberapa orang yang telah menerima foto-foto dan video seronok itu dengan sukarela memberikan pernyataan bahwa mereka tidak akan mendistribusikan tindak kejahatan.

Selesai mengobrol dengan Wiwik melalu telepon putri saya duduk di samping sambil melihat dengan tatapan mata serius ke ayahnya. “Papa, kamu tadi ngomong apa sama teman kamu?”

Yaelah, bocah kok yaa mau tahu aja bapaknya ngapain. Tapi dengan santai saya jawab, “Bantu teman Papa, Cintaku. Kasihan dia. Fotonya dicuri orang”

“Papa bantu ambil kembali fotonya teman papa?”

“Iya sayang. Kalau bukan milik kita kan bukan hak kita untuk mengambilnya”

“Papa, ayo kita ambil foto”

“Foto Novi berdua papa? Ayoo…”

“Bukan papa. Foto kamu sendiri saja. Papa jangan pakai baju itu. Itu baju kurang bagus. Papa pakai tutu saja yaa”

Saya melongo. Astaga, masa sih lagi-lagi saya harus pakai celana dalam saja dibalut rok mini kertas koran rumbai-rumbai. Apa kata dunia kalau foto ini jadi digital? Foto bapak-bapak buncit dari pinggiran kota memakai tutu palsu sambil meniru pebalet cilik.

Saya protes, “Novi, kalau foto papa dicuri orang bagaimana? Kasihan dong papa nanti?”

“Kenapa dicuri papa? Kalau ada yang minta, kasih saja”

Saya makin melongo ketika sambil tertawa ia mengangkat kamera dan blitz melahap saya dengan seketika itu juga.


Mungkin Saya Terlalu Banyak Menonton Film Star Wars

Sebelum meninggal, pelukis Indonesia Salim pernah berkata pada Kang Adi sahabat saya. “Di, kalau berkarya jangan mengharapkan kaya. Jangan mengharapkan terkenal. Jangan mengharapkan dipuja. Berkarya saja sebab karena ia bagian dari hidup kamu. Kalau memang pada suatu hari karya kamu disukai publik, itu lain lagi ceritanya. Tapi, jadikan hidup kamu dengan berkarya”.

Lalu beberapa malam lalu, Kang Adi kembali mengulang nasihat itu ke saya. Bedanya, kalimat ‘Di’ diganti jadi ‘Rip’. Hehehe.

Kami sebelumnya memang membicarakan Salim. Pelukis asal Nusantara yang bersahabat akrab dengan para bapak bangsa seperti Sjahrir dan Hatta. Yang dikaruniai umur panjang bahkan sempat menginjak usia 100 sebelum akhirnya maut menjemput. Salim yang selalu bangga dengan peci Cap Indonesia yang ia sebut dengan, “Setiap bertemu orang Indonesia aku pakai selalu peci ini”. Salim yang sama yang tetap memakai pecinya bahkan ketika menjadi relawan berangkat perang ke Catalonia sebagai seniman dalam revolusi Spanyol tahun 1936, yang mungkin disana bertemu dengan Hemingway, pujangga Amerika.

“Jadi begitu lah, Rip. Kata Salim berkaryalah karena lu merasa bahwa berkarya itu bagian dari hidup lu. Masak motret cuma kalo mao ikut lomba aja? Nyari apa, nyari nama? Nyari duit? Nyari piala? Sekedar ngebuktiin kalo lu bisa menang? Yaah jangan lah. Ahh tapi aneh juga sih, gua sendiri bilang ama Salim, kan nggak semua seniman kebutuhannya sama. Seniman kan manusia. Kebutuhannya beda-beda”

Obrolan ini memang bermula dari beberapa riset foto yang akan saya lakukan. Sederhananya, saya keceplosan bahwa akan melakukan semacam riset dengan alasan yang kadang susah diterima dengan kebanyakan orang. Setidaknya, jika orang yang dimaksud adalah para ‘temennya bangaiptop’. Alasan saya riset, ternyata uang. Saya mau ikut kompetisi dan berharap menang lalu dapat duit dari sana. Kang Adi tidak melarang, menyayangkan atau melihatnya sebagai dilema moral berkesenian. Tidak. Sama sekali tidak. Ia hanya memberitahu bahwa ada lomba atau tidak, ikut kompetisi atau bukan, saya sebaiknya berkarya. Apapun karyanya.

Saya diam. Tidak bisa bilang apa-apa. Saya pikir Kang Adi benar. Hanya mungkin, prioritas saat ini yang saya miliki memang berbeda.

Tapi omong-omong sial prioritas, saya jadi ingat suatu hari obrolan bersama si Hadi anak juragan tembakau. Malam itu kami bergosip tentang beberapa orang teman. Namanya gosip, yaa makin digosok makin sip. Kebetulan, kami menggosipi si Diki yang dua tahun telah kembali pulang ke pangkuan bumi pertiwi.

Saya: “Di, si Diki gimana kabarnya yaah?”
Hadi: “Wah dia jadi kaya, bang”
Saya: “Bagus dong! Jadi kita bisa ditraktir, hihihi…”
Hadi: “Wah ati-ati bang, dia bergabung sama Dark Force sekarang”

Saya mau senyum. Tapi saya dan Hadi, kami sama-sama orang aneh yang menyukai film fiksi Star Wars. Dark Force adalah kekuatan besar yang dikomandani oleh Anakin Skywalker yang lalu berubah menjadi Darth Vader sebagai kekuatan antagonis dalam film Star Wars. Kekuatan ini, pada intinya hanya punya satu tujuan. Yaitu menguasai alam semesta dan membunuh para ksatria Jedi yang membela umat manusia. Setelah itu, menjadikan manusia dan semua makhluk serta kekayaan alamnya sebagai budak mereka.

Nah, kalau Diki pulang ke republik tercinta lalu bergabung dengan kekuatan hebat seperti Dark Force yang ada dalam budaya mainstream merusak bumi Indonesia, bisa gawat ceritanya.

Sebab Dark Force itu sebutan kami untuk konglomerasi yang mendapatkan banyak kemudahan dan fasilitas dari pemerintah untuk mendayagunakan seluruh sumber daya alam dan manusia yang melingkupi Indonesia hanya demi kesejahteraan konglomerasi dan eksekutif pemegang dividen.

“Di, kita kan cuman ngegosip doang. Kamu jangan serius-serius dong…”

“Yah abang… Kalo si Diki kerja disitu baru setengah tahun sih itu baru gosip, Bang. Dia kan sudah hampir dua tahun kerja di sana. Begitu selesai jadi doktor langsung pindah haluan. Dia kan ngambil kerjaan yang ditawarin ke abang”

Saya tergagap-gagap, “Loh kamu tau darimana ini posisi itu dulu ditawarin ke saya juga?”

“Halah, gosip yaa digosok makin sip. Kabar burung toh bang. Cek aja di twitter. Hihi…”

“Tapi si Diki? Wah masa sih. Si Diki kan idealis banget. Mana mau dia ngerusak hutan? Apalagi Kalimantan. Dia kan bapaknya orang Samarinda. Asli Kalimantan dia itu. Kok gabung sama perusahaan yang kerjanya ngebabat hutan Kalimantan?”

“Terakhir ketemu Diki…”

“Kapan kamu ketemu?” saya sela dengan cepat omongan Hadi. Biasanya kalau ia berbohong, akan gelagapan jawabnya. Saya kenal Hadi.

Tapi sial lancar sekali ia menjawab, “Saya kan baru dari Jakarta, bang. Baru dua minggu lalu. Disana ketemu Diki. Hebat dia bang. Apartemen dikasih kantor, itu juga plus pembantu. Mobil juga dikasih sama supir-supirnya. Wah bang, pembantunya cakep loh. Hebat tuh perusahaan. Bisa ngasih pembantu model gitu ama si Diki. Si Diki kan bujangan bang. Dikasih pembantu muda, seksi dan aduhay begitu ya betah lah dia di rumah. Dia sering kerja dari rumah aja sih. Ke kantor kalo meeting doang. Wah hebat lah tuh anak. Nggak kena stress macet Jakarta. Belum lagi gajinya bang. Kayaknya sih annualnya bisa satu milyar lebih. Posisinya tinggi bang. Nih kartu namanya, baca aja. Tapi bang, males banget ngomongin Diki. Dia sekarang kebuka deh kedoknya sebagai PhD project. Jadi doktor cuman kalo gara-gara ada duitnya. Cuman gara-gara project. Mana mau dia ngebangun negeri? Jangankan peduli masyarakat se indonesia, kampungnya sendiri aja dikhianatin. Lah capek deh ngomongin Diki. Ngomongin pembantunya aja yuuk?”

Saya cengar-cengir menjawabnya.

Saya sama sekali tidak tertarik isu yang akan dibawa Hadi, yaitu semulus apa paha pembantu Diki. Apalagi bagaimana si Diki menghabiskan gajinya. Itu bukan urusan saya. Tapi yang saya ingin tahu adalah, sejauh mana si Diki sudah bergerak dengan keahliannya.

Akibat penasaran. Saya buka-buka arsip lama media yang ada di Indonesia. Mulai dari arsip digital hingga arsip cetak konvensional. Baru sadar sesadar-sadarnya, bahwa sebuah perusahaan yang dulu terkenal dianggap perampok kekayaan rakyat sejak dua tahun ini namanya sama sekali tidak banyak tersebut di media. Sejak Diki masuk sebagai bagian dari mereka. O-ow… Kelihatannya kesaktian Diki dipakai dengan semaksimal mungkin oleh perusahaan tersebut. Sebab hanya ada dua pilihan untuk memaksa orang berhenti membicarakan keburukan kita. Pertama, berhenti berbuat buruk. Kedua, menutupinya dengan semua tipu daya bahkan dengan yang belum pernah tercatat dalam sejarah manusia.

Kata Hadi, kenapa Diki dibayar semahal itu karena ia harus melakukan langkah yang kedua. Tapi toh hidup itu pilihan. Diki sudah memilih jalannya. Maka, konsekuensi adalah hal yang wajar ia terima. Saat ini, konsekuensinya adalah punya mobil mewah dengan supir, pembantu seksi, uang tabungan banyak dan hidup di Jakarta tanpa stress kena macet. Lanjut Hadi, “Asik juga yaah hidup begitu?”

“Apa asiknya sih digosipin ama dua orang manusia yang sudah jelas hidupnya nggak bagus-bagus amat? Hehe…”, kata saya sambil garuk kepala.

“Nah itu maksud saya, Bang. Kita kan secara akademis nggak sehebat Diki. Jangankan begitu, duit kita aja nggak sebanyak duit Diki. Tapi kita kan jauh lebih baik dari dia, kan? Maksud saya, kita aja yang udah sehina ini masih bisa menghina dia, berarti sampai mana taraf kehinaan dia yaah?”

“Wah itu sih kamu… Saya sih nggak ngerasa lebih baik dari siapa-siapa. Hehehe. Saya sih cuma bingung, Di. Kalo Diki direkrut sama mereka. Makin berat dah nasibnya bumi kita. Waduh, orang sepinter dan seberbakat Diki kok yaa harus jadi begitu?”

“Lah terus kalo udah pinter dan berbakat harusnya jadi gimana, Bang?”

Saya melongo. “Yaelah, mana saya tau Di?”

Obrolan berhenti sampai di situ. Hadi pulang lagi ke Indonesia. Ia mampir sebentar ke rumah saya karena memang sedang berbicara di hadapan sebuah forum internasional yang membutuhkan keahliannya. Sejak saat itu, saya tidak pernah lagi mendengar kabar Diki. Satu-satunya teman saya yang cukup akrab dengan Diki yaa Hadi.

Tapi sebagaimanapun jauhnya ia dan kapan kejadiannya, obrolan dengan Hadi malam itu memang sangat jelas masuk ke otak saya.

Intinya, jika seseorang mampu dan berbakat. Apa yang harus ia lakukan?

Balik ke omongan Salim, jawabannya jelas; Harus berkarya. Sebab berkarya itu adalah bagian dari hidup.

Saya pikir, saya jarang berkarya sebagai bagian dari hidup. Biasanya, saya berkarya karena saya gelisah. Gelisah karena deadline kerjaan. Gelisah karena harus mengumpulkan tugas dulu ketika sekolah. Atau gelisah karena butuh sesuatu. Saat ini saya gelisah mau membelikan putri saya mainan baru. Sayang saya belum ada uang. Jadi, saya berkarya, saya memotret, pada intinya memang hanya karena mau memberikan anak saya boneka anjing besar berbulu lembut yang bisa menyalak.

Edan memang, riset macam apa yang saya lakukan jika ujung-ujungnya hanya mau membelikan anak mainan.

Saya tidak idealis? Entahlah. Jawabnya iya atau tidak sama sekali tidak begitu banyak pengaruhnya. Saya sendiri tidak bisa menempelkan cap atau stigma pada diri saya. Sama sebagaimana saya tidak bisa menempelkan cap itu pada jidat Diki.

Mungkin saja Diki punya motif yang sama dengan Anakin Skywalker. Bergabung ke Dark Force lalu menjadi Darth Vader demi menyelamatkan jiwa istri yang amat dicintainya.

Sebab di ujung hari, riset atau tidak, toh saya biar bagaimanapun juga akan mendapatkan boneka anjing besar yang bisa menyalak.

Sebagaimana di ujung hari, perusahaan tempat Diki bekerja semakin berhasil mengaburkan jejak-jejak kejahatan mereka.

*Kelihatannya saya (lagi-lagi) patah hati dengan superioritas mafia hukum RI*


Pilih Mana? Percaya Atau Tidak?

Saya memang agak-agak kurang beruntung hati beberapa hari belakangan ini. Masalahnya dimulai dari hal-hal yang mungkin beberapa orang terlihat sederhana sampai yang membingungkan.

Saya kehilangan tulisan. Tulisan berseri mengenai sosial media dan perubahan yang melingkupinya. Isi totalnya ada empat tulisan. Eh… Hilang! Dicari kemana-mana tidak ketemu. Aduh, hati ini kok yaa gimana rasanya begitu mengetahui bahwa tulisan itu memang benar-benar hilang.

Kedua, saya kehilangan mood untuk menjumpai praktisi medis yang biasanya membantu kelangsungan hidup sehari-hari. Alasannya sepele, bosan. Bosannya juga ternyata sepele sekali, yaitu akibat rasa kepercayaan yang semakin merosot karena mereka menasihati saya untuk meminum paracetamol ketika saya sakit kepala. Edan, setiap hari saya kadang bisa 4-5 kali sakit kepala sebelah. Masak sih saya harus minum itu obat terus-terusan? Lah bagaimana kalau saya nanti jadi painkiller junkie?

Ketiga, saya kerap bertemu orang yang mati-matian mempertahankan argumen bahwa karena agamanya ia jadi tidak perlu belajar.

Masalah pertama walaupun makan waktu riset, saya bisa usahakan solusinya dengan cara menulis ulang. Begitu juga dengan problem kedua, saya tinggal cari spesialis dan penasihat medis yang lebih mumpuni. Jadi pada intinya, bisa ditanggulangi dengan optimis.

Yang bikin saya kebingungan, yaa bagaimana ini dengan masalah saya yang ketiga.

Akhir-akhir ini saya memang kerap bertemu kenalan yang menganggap bahwa apa yang ada dalam agamanya adalah sebuah kebulatan superior yang tidak bisa diubah-ubah.

Sumpah mati, saya tidak benci agama. Sebagaimana saya pribadi tidak pernah membenci pemeluk agama dan keyakinan tertentu (apapun agama atau keyakinannya). Saya akui saya memang punya jarak dengan agama, tapi bukan berarti saya bebas mencelanya. Dalam hidup ini, ada beberapa manusia tertentu yang dalam kondisi hidupnya, tidak punya apa-apa selain agama, dan hanya agama yang membuat mereka akhirnya bertahan untuk tetap hidup dan menyemangati orang lain agar tetap hidup. Saya menghormati mereka dan menghormati jalan hidup yang sengaja atau tidak sengaja telah mereka pilih tersebut. Termasuk, jalan hidup beragama.

Tapi, akhir-akhir ini saya mungkin memang sedang kurang beruntung. Saya bertemu dengan orang yang mati-matian menolak teori evolusi dengan alasan bahwa itu hanya teori tanpa bukti. Ada yang menolak bahwa umur bumi lebih tua dari 6 juta tahun sebab menurut beliau bumi dalam kitab sucinya diciptakan dalam enam hari (jadi kalau bahasa kitab suci adalah perumpamaan dalam penciptaan bumi, maka harus ada angka enamnya. Tidak peduli bahwa ilmu geologi bisa membuktikan bahwa umur bumi sekitar 54 milyar tahun). Hingga menolak untuk percaya bahwa manusia pernah mencapai bulan dengan alasan kalau guru fisikanya dulu semasa SMU pernah bilang bahwa manusia tidak mungkin mendarat di bulan sebab manusia tidak bisa melampaui kekuatan magis yang meliputi bumi yang membuat bumi kita terlindungi dari serangan meteor (*Guru Fisika macam apa itu coba?*)

Dari sekian banyak orang yang saya temui dan menolak fakta ilmu pengetahuan hampir semuanya bilang bahwa agama yang ia peluk yang membuatnya tidak percaya (*Satu orang alasannya cukup ajaib, dia bilang “Males ahh tau yang begituan. Ga penting!” yang saya langsung balas dengan tersenyum manis*).

Hampir semuanya bilang bahwa fakta ilmu pengetahuan sama sekali tidak sesuai dengan ajaran keyakinan yang ia percayai sejak kecil. Jadi, tidak perlu dipercaya. Sebuah argumen yang benar-benar ajaib. Bukankah fakta ilmu pengetahuan itu tidak pernah memaksa untuk dipercayai? Bukankah mereka hanya sekedar fakta? Yang bicara apa adanya sesuai bukti.

Dari beberapa kali mengobrol dengan para manusia yang menolak fakta ilmu pengetahuan dengan basis landasan utama akibat agama melarangnya, saya akhirnya mengambil beberapa sampel pola pendidikan sederhana;

  1. Bahwa tingkat pendidikan tidak berbanding sejajar dengan pemahaman terhadap ilmu pengetahuan. Belum tentu makin tinggi sekolah jadi makin memahami kompleksitas hidup
  2. Bahwa pendidikan agama di RI cukup ekstrim setidaknya hingga tahun 90-an. Beberapa pendidik bahkan kerap memberikan opini pribadi mereka mengenai agama justru ketika mereka pada saat bukanlah sebagai pengajar agama
  3. Bahwa adalah wajar mengetahui bahwa siswa WNI di RI harus memiliki agama sementara tidak wajar untuk mengetahui dan mengkritisi mengapa siswa-siswi maupun pendidiknya di RI harus beragama. Efek sampingnya, terjadi penumpulan pada daya kritis siswa
  4. Bahwa semenjak sekolah dasar pun siswa telah diberi pemahaman untuk berkumpul dan berserikat berdasarkan agama yang dianutnya
  5. Bahwa ada siswa yang sedemikian apatisnya terhadap kehidupan beragama, ia mengambil jarak dari komunitas beragama. Di sisi lain, ada siswa yang malah mengambil kesimpulan bahwa ia tidak perlu belajar lagi dengan alasan ilmu agamanya sudah cukup jadi apapun fakta terbaru ilmu pengetahuan, tidak perlu ia terima.
  6. Bahwa ada siswa yang merasa tidak penting tahu bahwa bumi itu bulat atau kotak. Yang penting sekolah nilai tinggi agar lulus kerja bisa jadi PNS atau karyawan BUMN atau menempati posisi yang membuat hidupnya nyaman (*walaupun definisi nyamannya ternyata sangat bisa diperdebatkan*)

Menarik bukan?

Yang saya kagumi adalah bahwa yang melontarkan pernyataan di atas adalah para WNI yang dulu sempat sekolah dasar hingga atas di Indonesia dan lalu melanjutkan sekolah lagi di luar Indonesia.

Balik lagi ke topik awal. Saya sempat menyesal bertemu orang-orang seperti itu. Dalam hati saya sempat merutuk, “Ini mah buang-buang waktu aja”.

Tapi… Eh tapi kok yaa saya sempat kepikiran. Jika saya bilang di awal bahwa mungkin saya kurang beruntung saya pikir saya salah. Sebab ternyata bisa jadi kalau justru ini adalah momen-momen keberuntungan saya. Bertemu dengan manusia yang berbeda.

Tidak banyak orang yang setuju dengan pola pikir saya. Dengan keputusan saya untuk tidak bisa dengan mudah mempercayai Nyi Roro Kidul. Padahal apa sih yang kurang dari si Nyai? Sudah single, cantik, seksi bahkan punya banyak kamar hotel sendiri. Apa coba yang kurang sehingga saya masih tidak percaya?

Jangankan orang-orang, Ibu dan adik-adik saya saja sempat khawatir dengan apa yang saya percayai dan dengan apa yang tidak. Tapi toh itu tidak menghilangkan kenyataan bahwa kami amat mencintai satu sama lainnya.

Mungkin, dengan datangnya manusia-manusia baru yang punya kepercayaan yang berbeda itu, saya malahan jadi bisa melihat bahwa perbedaan antara kami itu sebenarnya amat indah :)

(*Percaya atau tidak? Saya sering diundang makan-makan oleh mereka yang ajaib dan berbeda keyakinannya ini. Lah saya turuti dong undangannya, buat saya kan makan-makan dan ketawa-ketiwi itu indah. Hehehe*)


Operasi Payudara

Beberapa hari lalu saya mengobrol dengan putri saya Novi Kirana yang baru saja menginjak usia tiga tahun. Seperti biasa, kalau mengobrol posisi kami memang agak aneh. Sejak ia bayi, kami memang suka mengobrol serius ketika saya sit-up atau push-up. Kalau saya sit-up, ia duduk di atas kaki atau perut saya. Kalau saya push-up, ia duduk di atas punggung saya.

Kali itu, saya sedang melakukan beberapa sit-up. Ia keluar dari tepee, tenda Indian yang saya buat untuknya yang berdiri pas di ruang tengah rumah. Langsung duduk di atas perut saya. Tanpa tedeng aling-aling langsung bertanya, “Papa, kenapa dada kamu kecil?”

Dalam hati saya melengos, ‘Yaelah bocah, udah tau badan bapaknya segini-gini aja. Walopun udah olahraga segimanapun juga emang badan ini yah segini doangan. Pake ditanya-tanya segala’

Dan karena sudah ngos-ngosan saya jawab santai, “Karena papa anak laki-laki, sayang. Anak laki-laki kebanyakan nggak punya dada besar. Kalau anak perempuan punya dada lebih besar daripada anak laki-laki”

Dia buka kausnya. Dia lihat ke arah dadanya sendiri. “Kenapa dada saya sama seperti dada papa?”

Saya jawab, “Karena kamu anak papa, Cintaku”

“Tapi kan saya anak perempuan?”

“Iya, nanti juga kalau sudah besar dada kamu tambah besar”

“Kalau papa besar dada papa juga tambah besar?”

Saya bengong. Buset dah, anak kecil pertanyaannya memang ajaib kok yaa? Saya berhenti sit-up. Tapi matanya kecewa. Maka itu, saya sit-up lagi (*padahal sumpah saya sudah hampir kehabisan nafas. Tapi demi anak, ya sudah lah tambah satu set lagi*).

Sambil terengah-engah saya jawab, “Kalau berat papa tambah dada papa juga tambah besar nanti”

Mulutnya merocos dengan alis berkerut, itu tandanya dia sedang protes. “Tapi saya kan sudah besar! Saya sudah tiga tahun! Saya anak perempuan besar!”

Dengan lembut saya mengusap rambutnya yang makin panjang melewati dahi, “Iya kamu sudah besar. Tapi akan ada saat dimana semua anak perempuan akan lebih besar dadanya. Lebih panjang rambutnya. Lebih besar pinggulnya dan makin mengerti bahwa tubuh mereka berubah”

“Umur saya tiga tahun. Papa lebih besar daripada saya. Dada papa kecil. Umur papa empat tahun?”

Sambil cengar-cengir saya jawab, “Yaa nggak jauh beda lah kita. Papa juga masih muda kok”

Dia ke dapur. Saya bangun dari posisi sit-up sambil melakukan gerakan peregangan istirahat pada pinggul dan tangan. Saya lihat ia buka lemari pendingin mencari minuman es jeruk kesukaannya. Saya kira, obrolan siang itu selesai sudah. Namun dari balik pintu lemari pendingin ia bertanya lagi, “Kenapa dada papa kecil?”

Saya cuma diam, cengar-cengir sambil garuk-garuk kepala. Itu tandanya, percakapan ini masih akan berlangsung lama. Dan saya harus lebih banyak berolahraga akibatnya.

Saya ikut ke dapur, menyeruput es teh manis. Setelah itu saya ambil nafas sebentar lalu mulai posisi push-up dan bertanya kepadanya agar duduk di atas punggung saya.

Sambil menghisap isi botol es jeruknya dengan sedotan, ia patuh duduk di atas punggung. Dan mulailah saya bercerita.

“Dulu papa minta sama Pak Ali bos papa, supaya papa sekolah lagi. Tapi Pak Ali bilang papa sudah terlalu banyak sekolah. Pak Ali bilang papa harusnya mengajar saja. Papa kecewa”

“Terus kamu marah, papa?”

“Marah sih nggak. Tapi papa sedih. Tapi papa nggak bisa sedih, karena bos papa bilang lebih baik ilmu papa dibagi sama orang jadi papa pikir ia benar. Kalau papa sekolah lagi ilmunya buat papa sendiri saja. Tapi kalau papa mengajar ilmunya kan bisa buat  papa dan buat banyak orang. Jadi papa mengajar deh. Salah satu mahasiswi papa namanya Mel. Kamu kenal Mel? Dulu kan pernah papa kenalkan”

Lalu saya tertawa mendengar jawabannya, “Dulu kan saya masih kecil papa. Kamu jangan mengharapkan saya ingat dengan banyak teman kamu dong?”

Saya semakin terbahak-bahak ketika ia turun dari punggung, mencabut sedotan dari botol es jeruk dan memperlihatkan ke depan mata saya. “Waktu itu pasti saya lebih kecil dari ini!”

Setelah ia naik lagi ke punggung, saya melanjutkan cerita. “Mel itu mamanya Georgie dan Anne. Mereka berdua waktu masih bayi, menyusu pada Mel. Sama seperti kamu juga dulu menyusu pada mama. Cintaku Novi, kalau perempuan menyusui bayi biasanya dadanya tambah besar. Karena ada susu di sana. Sama seperti dada Mel. Tapi sayangnya ketika Georgie dan Anne sudah tidak menyusu lagi, dada Mel masih tetap besar sekali”

Ia diam. Saya juga tidak dengar suara botol es jeruknya. Tanda kalau ia sedang amat mendengar cerita dengan penuh konsentrasi.

“Punggung Mel jadi sakit. Kalau jalan susah. Sebab dadanya besar sekali”

“Kalau begitu, kenapa Georgie dan Anne tidak menyusu saja terus?”

“Sayang, kalau anak sudah besar biasanya mereka berhenti menyusu sama mamanya. Georgie sudah sepuluh tahun, Anne juga sudah delapan tahun. Jadi mereka sudah tidak menyusu lagi sama mamanya”

“Mel sakit?”

“Iya kasihan Mel. Kalau jalan susah. Kalau duduk susah. Karena dadanya terlalu besar. Jadi ia ke dokter. Ke rumah sakit. Dada Mel harus dikecilkan. Jadi waktu di rumah sakit dada Mel dikecilkan”

“Bagaimana dikecilkan dadanya? Diambil susunya untuk rumah sakit?”

Saya tertegun berhenti push-up sebentar. “Wah kalau itu papa juga nggak tahu sayang. Yang pasti beberapa bulan kemudian Mel kembali ke kelas papa. Dan dadanya sudah lebih kecil daripada dulu. Kamu tahu cintaku, ternyata ia sekarang jauh lebih bahagia punya dada kecil ketimbang punya dada besar”

Novi Kirana diam. Saya tahu, logika dalam cerita yang telah saya ceritakan masuk ke dalam benaknya. (*Itu artinya; saya sudah boleh berhenti push-up. Hehe*). Ia lalu turun dari punggung. Saya duduk dihadapannya. Sambil masih memegang botol es jeruk lalu duduk diatas pangkuan saya.

Sambil memangkunya saya bilang, “Anakku sayang, papa cinta kamu. Super cinta kamu. Papa tahu kamu cinta papa. Tapi yang lebih penting lagi, kamu harus mencintai diri kamu sendiri”

Dia berdiri, berbalik lalu memberikan kecupan di hidung saya. Sambil memeluk ia berbisik di kuping saya, “Saya cinta kamu papa. Walaupun dada kamu kecil walaupun dada saya kecil”

Tiba-tiba, saya merasa jadi lelaki berdada kecil yang paling bahagia di muka bumi ini.


Gado-Gado Pak Heru

“Lapar nih, makan siang yuk? An, kita makan dimana?” Tanya Girda sambil mengusap kepalanya yang botak licin.

Aan menjawab, “Di kebon aja. Si Arip pasti belum pernah nyobain gado-gado Pak Heru”

Saya terbengong-bengong menatap dua manusia itu yang entah bagaimana sibuk diskusi mengenai bumbu gado-gado diantara rerimbunan tumpukan naskah karya Chomsky. Perut saya keroncongan. Lapar. Maka itu memberanikan diri bertanya, “Hey bung, gua nggak punya duit nih. Gimana gua bisa makan siang dong?”

Girda menatap Aan, “Kau yang bayarin yaa An siang ini, besok gua lah. Gua juga lagi kantong tipis nih hari ini”

Aan menatap saya dan Girda bergantian, “Gila kalian bedua. Sampe makan siang aja kasbon sama gua”. Yang dijawab Girda dengan tawanya yang mirip kekehan tokoh Bert dalam serial anak-anak Sesame Street. Saya sih, seperti biasa hanya cengar-cengir saja sambil garuk-garuk kepala.

Akhirnya kami bertiga keluar dari kantor itu menuju tempat makan siang. Yang mengagetkan saya, ternyata yang mereka maksud dengan ‘gado-gado kebon Pak Heru’ adalah benar-benar di kebun depan kantor mereka. Sepuluh meter dari pintu keluar, ada warung cukup menampung orang sekitar 20. Ternyata, itu warung makannya. Terletak di dalam halaman depan rumah Pak Heru yang cukup luas.

Dan kantor mereka, menempel dengan rumah Pak Heru.

Kami bertiga lalu duduk takzim di bangku kayu panjang. Menatap meja kayu panjang dan beberapa kaleng kerupuk di atasnya. Sambil malu-malu kucing, cengiran saya dilihat Aan. “Nih Rip, kerupuk udangnya. Da, kau mau kerupuk kulit?” kata Aan sambil melemparkan sebungkus plastik kerupuk berwarna putih berbentuk bundar lebar ke hadapan saya.

Setelah diberi kerupuk, jiwa saya tenang kembali (*Iya, saya kalau lapar memang kebingungan. Maunya melamun saja. Entah kenapa? Misterius sekali ini penyakit.*). Lalu mulailah saya mengoceh kiri kanan. Girda dan Aan menoleh. Mungkin tertarik mendengar beberapa dongeng saya. Tidak lama kemudian, gado-gado dan es teh manis datang. Saya berhenti mengoceh dan makan dengan lahap. Jiwa saya makin tenang. Hahaha.

Habis makan, dengan santainya saya berteriak pada bapak-bapak yang kelihatannya tadi mengulek sambil kacang, “Pak Heru! Enak banget bumbu gado-gadonya. Apa rahasianya Pak?”

Si tukang gado-gado diam saja. Menoleh pun tidak. Girda dan Aan melongo memandang saya. Aan menimpali, “Lu ngomong ama siapa, Rip?”

Dengan tanpa dosa saya menjawab, “Ama Pak Heru, tukang gado-gadonya. Kok dia nggak nyahut yaah?”

Girda tertawa tebahak-bahak (yang sumpah mati mengingatkan saya pada Bert). “Gila lu Bung. Pak Heru itu yang punya rumah dan kebon ini. Yang dagang gado-gado sih bukan Pak Heru!”

Saya kaget. Tersipu. Lantas cengar-cengir malu akibat sok tahu.

Itu pertama kali saya dengar nama Pak Heru. Kalau ingat nama Pak Heru, saya pasti ingat ‘tragedi gado-gado sok tahu’. Hehehe.

Kejadian ini sudah berlangsung tahunan lalu. Entah pastinya kapan saya lupa. Saya pikir sekitar lima atau enam tahun lalu. Waktu itu saya ada di Jakarta. Tinggal untuk sementara. Singgah dalam beberapa bulan saja.

Sekarang. Girda entah kemana dan Aan juga entah ada dimana, saya tidak tahu. Yang pasti, saya sudah hampir lupa kejadian itu.

Dua minggu belakangan ini, tiba-tiba gado-gado Pak Heru muncul lagi di benak saya. Beberapa surat kabar Indonesia memberitakan bahwa Pak Heru makamnya dibongkar. Sekelompok orang berjubah reliji meminta agar jenazah Pak Heru dibongkar dari peristirahatan terakhirnya di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Kata si penuntut, Pak Heru terlibat gerakan PKI. Tak layak jadi pahlawan.

Oh ya, yang saya bilang dari tadi soal gado-gado dan Pak Heru, memang tidak lain dan tidak bukan adalah bapak Letnan Kolonel Udara Heru Atmojo almarhum yang meninggal akhir Januari 2011 lalu. Yang hingga hembusan nafas terakhirnya, tidak pernah terbukti bahwa beliau terlibat G30SPKI. Beliau hingga akhir hayatnya dituduh, distigma, dikotori namanya tanpa pernah sedikitpun dibela oleh negara yang pernah dibelanya dengan seluruh butir-butir keringat dan darah dalam masa revolusi kemerdekaan.

Iya benar, Pak Heru yang itu.

Mendengar berita itu, saya kaget. Dan lebih kaget lagi ketika membaca bahwa Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono berkata bahwa pemindahan jenazah Pak Heru sesuai dengan aturan.

Aturan dari mana? Adakah aturan di Republik Indonesia bahwa:

  1. Panglima Tentara Nasional Indonesia berhak memindahkan makam?
  2. Panglima Tentara Nasional Indonesia berhak menentukan dimana pahlawan dimakamkan?
  3. Panglima Tentara Nasional Indonesia mendengar dan menuruti ide sekelompok kecil manusia ekstrim berjubah reliji, seperti kerbau dicocok hidungnya?

Kalau iya, layak berdukalah kalian para tentara. Wahai teman-temanku, saudaraku, tetanggaku, dan para brotherhood yang sudah ada maupun akan tiba dalam jajaran satria TNI; aku sedih atas nasib kalian. Sebab jika suatu hari negeri ini akan dilumat oleh kekuasaan gelap dan kalian mati-matian membelanya, dan lalu kalian pun akhirnya meninggal dan kami mengangapmu pahlawan. Maka untuk mengubur jasad kalian pun kami harus pikir-pikir dulu sebelum mengali lubang. Yang lebih sedih lagi, jika sekelompok fasis bahkan meminta jenazah kalian dikubur di tempat sampah maka bos kalian, si Panglima TNI itu mungkin akan diam dan menurut saja.

Memanggil seseorang dengan kata pengecut adalah sebuah kalimat keras yang perlu alasan amat kuat untuk menggunakannya. Namun sebagai seorang tentara, mungkin sang Panglima perlu belajar lagi apa artinya mati.

Atau mungkin, perlu belajar lagi apa definisi seorang pahlawan.

Jika kita bahkan gagal membela mereka yang mati untuk kita, bagaimana kita bisa membela mereka yang berupaya sekuat tenaga untuk tetap hidup… untuk kita?


Suatu Hari Di Pasar

Saya cerita begini kepadanya:

“Beberapa minggu lagi anak gua ulang tahun, gua mao dong beliin hadiah buat anak gua. Umurnya bakal tiga tahun. Gua mao beliin maenan anak-anak. Nah gua carilah maenan di pasar. Disana gua ngeliat karpet. Bagus. Karpet itu karpet maenan anak-anak, ada angka dan huruf. Jadi anak gua selain main, juga bisa sambil belajar. Pas gua tanya sama yang jual, dia bilang harganya sekian. Waduh, gua nggak punya uang. Jadi sambil permisi gua jawab, bang sori yaah saya cuman nanya doang. Saya nggak bawa uang. Tiga hari lagi saya gajian, nanti deh saya balik buat beli. Dua hari lagi abang masih jualan kan? Anehnya si abang tukang karpet itu diem aja nggak jawab pertanyaan gua. Tapi trus akhirnya buka mulut. Lo tau ga dia jawab apa?”

Ia menggeleng. Tidak tahu. Maka lantas saya teruskan cerita.

“Si abang tukang karpet mukanya jadi asem. Dia sambil ngotot berkali-kali ngomong, nih karpet tinggal satu-satunya. Saya nggak jamin masih ada sore ini. Kalo nggak buru-buru ambil, saya ga jamin situ masih bisa dapetin nih karpet. Lah gua kaget dong si abang jawabnya begitu. Maka itu gua tanya lagi, bang… abang dagangnya hari apa aja? Si abang sambil mukanya tetep asem jawab, yaa nggak tapi kalo sabtu pas kamu gajian sih keliatannya saya dagang. Pas gua denger jawaban ini, mukanya tetep asem. Ya udahlah, gua cabut aja pulang ke rumah. Daripada lama-lama di situ mungkin bakalan dia jadi tambah kesel”

Saya berhenti sebentar. Menenggak es teh. Ia menatap saya dengan rasa ingin tahu. Iya, saya yakin ia tidak percaya bahwa dongeng saya hanya berhenti di titik tersebut. Lantas ia bertanya lebih lanjut apa yang saya lakukan.

Saya rasa hari itu mungkin saya punya keinginan untuk bercerita. Matahari bersinar hangat di teras rumah. Menerpa meja kami yang menghadap jalan raya. Saya lanjutkan.

“Besoknya, gua ke pasar lagi. Lu tau ga… Si abang masih ada. Masih dagang dia. Nah gua sengaja melakukan penampakan di depan muka dia. Biar dia tau kalo gua lagi ngeliatin dia. Itu karpet yang gua incer, belum kejual. Masih sisa satu-satunya. Tapi dia diem aja tuh. Trus lusanya, gua dateng lagi ke pasar. Juga sama. Dia tau gua ngeliatin dia dan karpetnya juga belum kejual. Pas hari ketiga gua dateng lagi ke pasar, dia tetep ada dan karpetnya juga masih ada. Kesimpulan gua, dia dagang di situ tiap hari dan karpetnya emang ga laku-laku trus ngebohong sama gua biar gua beli karpet cepet-cepet. Tapi pas hari ketiga itu, mukanya tambah asem pas ngeliat gua. Dia sambil teriak bilang, hari ini kamu kan gajian ayo beli karpet saya!”

Ia berhenti mendekatkan bibir gelas ke mulutnya. Bertanya, “Trus lu beli ga karpetnya”

“Nggak. Gua bilang aja kalo gajian gua diundur”

“Astaga, lu bohong kan? Sejak kapan gajian lu diundur? Ngapain juga sih lu bohongin pedagang kecil?

“Iya gua bohong. Tapi entah kenapa gua bohong, gua juga nggak tahu. Mungkin gua marah karena dia ngebohong duluan. Mungkin gua kecewa karena dia juga dari awal ga tulus ketika mao transaksi bisnis ama gua. Iya gua bohong. Iya, gua salah”

Saya diam menunduk. Tiba-tiba ingat putri saya. Lalu merasa tambah bersalah. Hati saya tidak nyaman. Saya tidak akan mencoba melakukan pembelaan diri bahwa untuk membalas kebohongan harus pula dengan kebohongan. Atau bahwa si pedagang karpet melakukan itu atas dasar kemungkinan bahwa ia miskin dan butuh marjin untung harian. Atau bilang bahwa saya juga buruh kecil yang harus berpikir berulang-ulang untuk beli karpet hadiah buat anak sebab artinya akan memotong belanja kebutuhan hidup bulanan. Atau bohong adalah salah satu etika bisnis modern. Tidak, saya tidak butuh semua pembelaan itu.

Bisnis itu bagaikan relasi dalam cinta, tidak akan jalan tanpa saling percaya. Si tukang karpet salah? Iya. Saya salah? Iya. Lalu diantara kami timbul rasa saling tidak percaya? Iya. Lah kalau semuanya iya, solusinya apa?

Ia bertanya lagi sambil terpejam dengan wajah menghadap matahari. Hangat. Saya bilang padanya bahwa saya tidak punya jawabannya saat ini. Sebagaimana saya tidak punya jawaban atas semua masalah dalam hidup.

Karena ia tidak bilang apa-apa dan siang ini semakin menjemukan, saya bertanya kepadanya, “Lu gantian sekarang. Pernah bohong sama pedagang?”

“White lies atau bohong biasa?”

Saya cengar-cengir menjawabnya, “Apa bedanya, bohong yaa bohong. Serigala mau berbulu domba atau berbulu ketek, tetap aja serigala”

“Di Bali, gua baru turun dari bus pariwisata. Diserbu pedagang cinderamata. Males banget deh. Dipaksa-paksa beli, kaos ditarik-tarik. Sebel gua”

Saya terpaksa senyum. Saya tahu apa yang ia alami, “Trus lu bilang apa?”

“Gua sambil pake kacamata item bilang I don’t speak Indonesia sorry. Bilangnya kepatah patah, biar dia tau gua juga ga ngerti banget bahasa inggris. Sialnya si tukang gelang nanya gua darimana. Gua jawab aja dari jepang. Eh gila tau, dia nanya gua pake bahasa jepang. Lancar banget. Dasar tukang dagang kali yah”

Saya ketawa. Dia lanjut berkata, “Trus gua nggak bisa jawab apa-apa lah. Boro-boro bahasa jepang yang gua tau kan cuma haik doang. Gua kabur aja terus ke kamar mandi. Anjrit, tukang dagangnya nungguin di depan WC. Untung aja ada tour guide yang manggil gua sebab turnya mao jalan. Nah si guide manggil gua pake bahasa Indonesia lah. Dia kan kenal gua. Pas gua keluar dari kamar mandi, tukang-tukang gelang itu sebel banget ngeliat gua sambil bilang kalau nggak punya uang bilang aja dari tadi, nggak usah ngaku orang jepang segala”

Senyum saya makin lebar mendengar ceritanya. Tapi setelah itu ia diam. Saya juga diam. Bersama kami tenggelam dalam hangatnya sinar matahari dan gemulai es teh yang semakin menari di kerongkongan.

Ia perempuan muda dari Jakarta, sukses dalam karir dan kini tengah berpikir untuk melanjutkan studi doktoralnya ke dapur untuk mengambil batu es. Di pintu ia berdiri bertanya, “Gua lupa kapan pertama kali belajar bohong. Lu masih inget ga pertama kali ngebohong? Gimana rasanya yaah?”

Saya tidak bisa menjawab. Buat saya itu retorika sebuah siang. Kenapa saya berbohong pertama kali dan bagaimana rasanya, saya tidak bisa menjawab. Saya lupa. Atau mungkin karena itu adalah ingatan buruk, saya coba lupakan. Sebab katanya sebagaimana mekanisme pertahanan diri, manusia suka mensortir memori tidak enak dan memasukkanya dalam klasifikasi khusus yang jauh tersimpan.

Anehnya, malam itu setelah para tamu pulang saya tidak berhenti berfikir mengenai bohong. Edan, apa jadinya muka bumi ini jika manusia tidak tahu cara berbohong? Edan, kenapa pula saya lupa pertama kali belajar berbohong. Apa iya karena terlalu seringnya dalam hidup saya berbohong saya sampai lupa kapan pertama kali berdusta? Ahh betapa menyedihkannya hidup saya…

Ah tapi itu kan saya. Tidak usah dipikirkan. Saya yakin Anda tidak seperti saya. Saya yakin Anda jujur-sejujurnya dalam hidup. Jauh lebih baik daripada saya. Hingga yakin bahwa Anda masih ingat pertama kali berbohong dan lalu bertobat setelahnya tak akan mengulangi lagi.

Eh, omong-omong Anda ingat pertama kali belajar berdusta? Gimana rasanya?

Susah jawabnya? Ahh tidak usah dijawab. Anggap saja itu retorika biasa :)