Archive for the 'sehat' Category

Lola – Lonte Lanang

orandum est ut sit mens sana in corpore sano.
fortem posce animum mortis terrore carentem,
qui spatium uitae extremum inter munera ponat
naturae, qui ferre queat quoscumque labores,
nesciat irasci, cupiat nihil et potiores

Sudah lama saya tidak menulis. Terutama menulis kelanjutan tulisan yang dahulu soal privasi. Secara literal memang tidak menulis. Biasanya jika saya tidak mempublikasikan sesuatu di blog, saya tetap menulis.

Alasan tidak menulis sebenarnya sepele, yaitu Faktor K, singkatan dari “Kesehatan”. Kata teman-teman saya, itu bukan ‘Faktor K’, melainkan ‘Faktor U’ alias “Usia”. Katanya, kalau umur bertambah, kesehatan menurun.

Saya tertawa mendengarnya. Masa sih begitu? Ada tetangga saya makin berumur malah makin sehat dan berotot. Habis kerjanya olahraga terus. Bukan hanya sembarang olahraga, melainkan lari berlari.

Olahraga saya yah apa? Paling push-up kalau bangun tidur. Itu pun bukan gara-gara biar sehat, melainkan agar tidak mengantuk lagi setelah buka mata. Sebab saya ini parah. Sudah pasang jam weker, sudah minta dibangunkan, sudah niat bangun pagi, nah ketika bangun buka mata bukannya segera sigap mandi dan ganti baju, malahan tidur dan mimpi mandi dan ganti baju. Nah si push-up itu cukup membantu biar bangun dan terjaga.

Olahraga lain? Naik sepeda? Aduh, sejak kunci sepeda saya hilang, itu sepeda dengan bangganya berdiri mematung jadi bagian dari lapangan parkir stasiun kereta. Hebat dia, ada hujan ada angin, ada badai ada terik, tetap saja berdiri dengan anggun. Tidak ada yang berani menungganginya. Jangankan para junkie yang hobi mencuri sepeda, saya sendiri sebagai tuannya tidak bisa mengayuh itu sepeda. Lah bagaimana bisa, wong digembok habis-habisan pakai tiga utas rantai kapal. Lalu kuncinya, semua hilang! Waladalah…

Sejak sepeda hilang dan musim dingin makin menggila yang membuat matahari terbit pukul sembilan pagi dan lelap pada tiga sore, saya jadi jarang olahraga. Lebih tepatnya, jarang gerak badan. Bisa jadi gara-gara itu, badan jadi kurang sehat.

Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Itu semboyan yang mencuat di plang papan kotak dari triplek di lapangan upacara SDN 25 pagi, tempat saya sekolah dulu. Saya boro-boro percaya bahwa dalam hidup ini ada jiwa yang kuat. Jiwa mah sama saja dimana-mana, pakai dikuat-kuatkan segala? Manusia terlalu pandai mencari-cari alasan dalam hidupnya. Padahal sungguh hidup itu sederhana. Anda tidak percaya? Ini saya kasih bukti. Kebanyakan pembunuh, pemerkosa, koruptor dan kriminal lainnya itu punya badan yang sehat. Apa lantas jiwa mereka ikut sehat? Omong kosong!

Saya push-up bukan gara-gara ingin sehat, tapi biar mata tidak mengantuk lagi. Atau malah, agar putri semata wayang bicara serius mengenai kesehariannya (yang tentu saja ia lakukan sambil duduk di atas punggung saya yang sedang push-up). Saya naik sepeda bukan gara-gara ingin sehat, tapi karena itu cara termudah, termurah, dan tercepat untuk berangkat kerja ke pabrik. Saya panjat itu dinding dan tebing bukan gara-gara ingin sehat, melainkan karena sedang dapat diskon untuk melanjutkan sekolah memanjat lagi.

Sesungguhnya kita bergerak karena alasan yang sangat pragmatis.

Percaya atau tidak, teori diatas ini sering dibantai habis-habisan oleh banyak orang, alasannya; karena tidak ada integritas dan idealisme disana.

Tidak punya integritas? Tidak memiliki idealisme? Ajaib, bagaimana seseorang bisa mengalamatkan kalimat itu pada orang lain ketika ia menjalani hidup yang berbeda?

Sahabat saya Aji, sering dipanggil Lola oleh teman-teman yang lain. Itu singkatan. Diambil dari profesinya, salah satu cabang pekerjaan paling tua di muka bumi; prostitusi. Lola, singkatan dari lonte lanang, pelacur pria.

Saya panggil Aji yaa tetap Aji. Tidak pernah mau saya panggil ia sebagai Lola. Dan itu membuat Aji bingung, sehingga suatu hari ia bertanya.

“Lo kenapa sih manggil nama gua pake nama gua?”

“Lah emang gua harus manggil lo apa?”

“Anak-anak manggil gua Lola. Lo kan betemen ama gua bukan setaon dua taon men. Lo kayak ga tau gua aja. Lo nggak suka gua mecun, men?”

“Ji, gua hargain profesi apa aja men. Lo mao mecun, mau apa kek itu urusan lo. Tapi kalo lo masuk abri trus lo jadi mayor, masa lo gua panggil mayor? Tiap lo naek pangkat lo punya nama baru dong? Emang kita tinggal di mess tentara?”

Aji diam. Lama. Saya juga diam. Habis mau apa lagi? Trik ad hominem saya terambil olehnya.

Akhirnya ia buka mulut, “Anak-anak taik juga sih. Gua dipanggil Lola sejak dapet ama si Lia. Lo tau kan Lia, yang waktu itu gua ngeluh nggak bisa bayar kost-kostan trus pas dia pulang pagi ada duit dua ratus ribu dia atas meja gua. Pas gua cerita, anak-anak ketawa trus manggil gua Lola. Anjing banget ga sih! Padahal waktu gua cerita, anak-anak gua traktir pecel lele. Trus duitnya yaa duit si Lia itu. Anak-anak kan tau. Tapi gua dipanggil Lola. Kalo gua dipanggil lonte lanang, trus mereka apaan? Palo? Parasitnya lonte? Taik lah!”

Saya diam. Adiknya Aji itu autis, biaya sekolahnya mahal. Cerita belum usai sebab papanya kabur dengan perempuan lain ketika anak-anaknya balita. Dan masih ditambah plot ala sinetron Indonesia ketika mamanya, bertahan hidup jadi tukang jahit yang buka praktek di beranda depan rumah. Semuanya bergantung ke Aji untuk bisa tetap hidup. Klise? Mungkin iya. Sama seperti drama hidup lainnya, klise.

Semua orang punya dramanya masing-masing. Dan hampir semuanya klise. Tapi apa sih yang baru di bawah matahari? Apa sih yang baru di muka bumi ini ketika hidup di bawah garis kemiskinan?

Ini cerita tentang hidup yang sederhana. Sesederhana survival of the fittest. Tentang Aji. Tentang banting tulang sedekah sperma kepada siapa saja yang mampu membayar.

Aji sering cerita soal hidupnya. Malam-malam. Hanya kepada saya? Ooh iya. Ini jelas cerita eksklusif. Memulai karir dari sauna dan klab fitnes untuk penyuka sesama. Kata dia, “cepet duitnya tapi nggak banyak sih”. Tanpa merinci lebih lanjut apa maksudnya. Membiarkan saya menerawang sedih tidak bisa tidur membayangkan dia mengangkang dan lalu berbaring di kamar kost tidak bisa masuk kelas karena kesakitan.

Aji bilang Lia menginspirasi. Membuatnya belajar di sebuah forum internet dan mulai memasarkan diri. Sayang tidak laku. Gimana mau laku, dia tidak berani pasang foto? Aji masih malu buka-bukaan. Tapi hari berganti hari. Dia punya klien tetap sekarang. Laki-laki, perempuan, dan bahkan katanya kalau rumput yang bergoyang bisa bayar, pun ia sedia mengangkang.

Suatu hari, Aji pulang ketika saya mau masuk kelas pagi. Lemas. Kausnya kotor, banyak bercak darah. Saya buatkan mie instan dan teh manis ketika ia mandi. Keluar dari sana, badan pemanjatnya yang kukuh liat bagai terbuat dari susunan batu bata rumah kokoh terlihat banyak guratan luka memanjang. “Gua dicambukin, men”

“Dicambuk? Ama siapa?”

“Ama nenek-nenek…”

“Ama nenek-nenek? Kok lu bisa disiksa ama nenek-nenek?”. Saya bengong. Mau ketawa. Tapi tidak bisa. Sedih juga ada didalamnya. Ironi.

“Klien gua, men. Gua diborgol, abis itu ditutup matanya. Abis itu gua ditelanjangin trus dicambukin. Gila sakit banget men. Gua ampe nangis-nangis, abis perih banget badan gua. Eh abis itu gua malah dianjing-anjingin ama dia. Abis itu dia nyuruh jilat-jilat kakinya. Abis itu pas dia puas, dia pergi dah…”

Saya kaget luar biasa, “Trus lu bisa lepas gimana ceritanya?”

“Yaa gua teriak-teriak laah. Untung di denger ama satpam rumahnya”

“Wah parah, Ji. Ayo laporin polisi?”

“Nggak men. Abis gua dikasih duit ama satpamnya. Kata satpam, emang majikannya gitu kalo maen. Gua dikasih tiga ratus ribu men. Lumayan lah buat lebaran nanti emak gua ama adek gua bisa belanja”

Cerita Aji menjual jasa prostitusi tidak lama kemudian menyeruak. Jelas gosip. Sebab banyak yang bergunjing Aji tidak punya integritas. Tidak punya moral sebagai cowok. Sebagai laki-laki, harusnya punya idealisme dan harga diri. Lalu mengukuhkan Aji sebagai Lola.

Tidak punya integritas dan idealisme? Apa yang mereka tahu tentang Aji? Sehingga berani mengalamatkan kalimat ajaib nan mewah begitu pada orang sesederhananya.

Hidup itu sederhana, sayang manusia tidak. Hingga berani-beraninya bikin puisi roman latin Juvenal di awal tulisan ini dalam bahasa latin yang isinya agar berdoa terhadap dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Jiwa yang tidak takut mati. Diberkahi panjang usia. Agar dapat kuat menanggung semua penderitaan yang ada, tanpa kenal marah dan keinginan untuk memiliki.

Di dalam badan yang sehat terdapat jiwa kuat? Dan dalam jiwa yang kuat terdapat integritas, moral dan idealisme? Ahh, pendapat kita pasti berbeda. Buat saya itu omong kosong. Orang yang paling banyak bicara jargon dan kalimat-kalimat mewah macam begitu biasanya orang yang paling memuakkan yang pernah saya temui.

Tapi pendapat kita pasti beda. Tidak apa-apa. Kita kan manusia yang berbeda :)

Apapun yang beda, Aji tetap jadi Lola. Tapi tarifnya jelas bukan tiga ratus ribu lagi per cambuk.

(*Aji, salam dari sini. Biar indah tubuhmu. Dijamah orang-orang. Tapi cinta tulusmu. Harus jadi milik mereka yang mencintaimu*)


Hidup Eksak

Berkarya itu tidak mudah. Baru tahu? Tidak juga sih. Sudah lama saya tahu kalau berkarya itu tidak mudah.

Kemarin saya memotret, hasilnya buruk. Banyak kotoran terlihat di foto. Entah bisa jadi itu kotoran adalah kotor akibat lensanya kotor, bisa jadi karena memang saya yang tidak ahli. Kelihatannya sih kombinasi dua-duanya. Saya memotret wajah Reno yang duduk di sebelah Untung, kok yaa bisa-bisanya foto muka si reno coreng-moreng? Padahal sumpah mati dia sedang tidak pakai kosmetik dan saya juga tidak memodifikasi foto. Memotret itu tidak mudah. Setidaknya buat saya.

Karena memotret sudah tidak begitu pandai jadi saya coba saja lah untuk menulis. Kebetulan saya sedang dapat tugas menulis laporan. Dua tiga paragraf masih oke, sisanya berantakan. Mulai dari yang saya sudah tidak konsentrasi (maunya tidur saja) hingga music gypsy punk Gogol Bordello yang menghentak-hentak membuat ingin berdansa. Pada intinya, tugas menulis laporan itu akhirnya berantakan. Setelah empat paragraf, saya putuskan untuk berhenti menulis dan mengalihkan perhatian ke dapur untuk memasak.

Lalu saya putuskan untuk memasak sesuatu yang istimewa malam itu. Sesuatu yang dahsyat. Bukankah urusan lidah dan perut berupa makanan adalah juga karya seni? Iya, saya putuskan untuk tidak menyerah jadi seniman malam itu. Oke memang kalau saya tidak bisa memotret, tidak bisa menulis, tapi minimal kan saya harus bisa memasak. Ini karya seni saya. Makanan!

Saya mulai dengan sesuatu yang sederhana. Bukankah semua maestro memulai masterpiecenya dari sesuatu yang sederhana? Sesuatu yang sederhana yang terlintas di otak saya tentu saja tidak jauh dari sambal. Apa sih yang susah dari sambal? Ambil cabe, bawang putih, bawang merah, tomat dan garam lalu gerus bersama-sama. Mau yang lebih rumit? Tentu saja bisa dicampur terasi, atau digoreng, atau dicampur apalah hingga menghasilkan sesuatu rasa baru.

Terambillah cabe, bawang, tomat, dan kacang. Saya ulek semuanya dengan kadar gerak tangan yang mirip kesadisan pada film horror. Tentu saja sama sekali tidak menakutkan, malah cenderung romantis. Airmata saya berlinang ketika mengulek sambal. Kelihatannya uap bawang Bombay menari di pelupuk mata membuat saya menangis. Romantis kan? Hehe…

Tidak lama kemudian sambal kacang hangat jadi pula tersaji di atas meja. Saya ambil ketimun, diiris sedang hingga sepiring penuh. Pelan-pelan saya santap sajian malam ketimun sambal kacang dengan nikmat.

Yang saya pelajari malam itu ada dua. Pertama adalah; satu peristiwa adalah pemicu dari peristiwa yang lain.
Sementara yang kedua yaitu; satu kejadian adalah hasil dari kejadian yang lain.

Terlalu filosofis? Entahlah… Sebab saya tiba-tiba berfikir, “Coba kalo si Reno mukanya nggak belepotan di layar monitor, apa iya gua makan sambel kacang malem ini?”

Bisa jadi tidak.

Mari kita lanjut ke cerita lainnya

Beberapa minggu lalu saya bertemu dengan seseorang dengan pekerjaan dan jabatan yang buat saya aneh sekali. Namanya, ahh panggil saja dia Anton. Nah si Anton ini ketika berjabat tangan dengan saya mengenalkan diri sebagai, “Anton, personal trainer”.

Saya bengong. Jelas iya saya bengong. Berdasarkan kamus otak saya yang cupet ini, personal trainer terjemahan dalam bahasa Indonesianya adalah ‘pelatih kebugaran’. Menilik dari rupa si Anton yang tingginya hamper dua meter dan kurus ini, kelihatannya ia sama sekali bukan ahli kebugaran. Mana saya percaya ia adalah pelatih kebugaran badan?

Setelah ngobrol panjang lebar hampar dua jam dengan si Anton dan pacarnya yang orang Texas itu, saya baru sadar bahwa yang ia maksud adalah bahwa ia seorang pelatih kehidupan.

Wooow… Saya tambah melongo. Pelatih kehidupan. Saya pikir selama ini, jika Anda adalah seekor anjing yang memiliki tuan seorang manusia yang hidup dalam tatanan masyarakat dimana anjing harus sekolah, maka hidup Anda harus dilatih. Ternyata saya salah. Ternyata manusia juga harus dilatih untuk hidup.

Dari Anton, saya dapat informasi. Bahwa di dunia ini ada manusia yang hanya bisa hidup jika punya masalah. Jadi, kalau tidak ada masalah, hidupnya hampa. Buset dah. Di sisi lain, ada manusia yang sama sekali tidak bisa hidup dengan masalah. Inginnya selalu lari dari masalah. Entah sembunyi, entah menghindari. Yang penting lari. Tugas Anton, menyeimbangkan hidup orang-orang seperti itu. Kata dia, nama kerennya ‘coaching’.

“Begini Ip, kamu tahu ga konsep kebahagiaan?”

Saya menggeleng. Mana saya tahu konsep kebahagiaan.

“Kamu bahagia ga?”

Yaelah pertanyaanya aneh sekali. Tapi daripada saya tambah bingung, saya jawab saja “Ton, kalo saya makan enak, terus kenyang terus abis itu bisa duduk selonjoran, saya bahagia. Atau maen sama anak saya atau temen-temen saya sambil ketawa-tawa. Saya mah udah senang. Idup saya segitu mah udah cukup”

Dia bengong. “Kamu nggak butuh mobil eksotis, rumah?”

Saya mengerenyitkan alis, “Yaelah Anton, saya kaga bisa nyetir. Mao dikasih mobil satu pabrik juga percuma. Saya lagian udah tinggal di rumah kontrakan. Apa yang kurang?”

Dia bengong lama. Abis itu dia bilang begini, “Oke sori… Kita balik lagi ke topik kebahagiaan. Kamu tahu ga kalau definisi kebahagiaan itu adalah sederhana. Jika kamu dikelilingi oleh orang yang bahagia, maka kamu akan bahagia. Begitu pula dengan kerjaan saya. Saya coba membuat orang-orang yang mulai mempertanyakan hidup mereka untuk menggali kebahagiaan mereka sendiri”

Saya bengong. Njelimet sekali ini penjelasan si Anton. Maksudnya gimana sih?

“Maksudnya, kamu akan bahagia jika dikelilingi oleh orang yang juga satu pemahaman dengan kamu”

“Jadi kalo nggak sepaham nggak bahagia, Ton…?”

“Bisa, tapi susah. Harus saling memahami agar mudah”

“Trus gimana caranya agar bisa saling memahami?”

“Nah itu lah gunanya pekerjaan saya. Ini bisnis booming looh. Orang-orang sekarang sedang hobi mencari pemahaman atas dirinya sendiri”

“Ooh kamu psikiater dong?”

“Buuuukaaaan… Kamu gimana sih? Dari tadi nggak ngerti-ngerti juga”

Sumpah saya tidak mengerti. bahkan ketika Anton bilang bahwa manusia berjenis kelamin pria itu mengambil keputusan satu kali per setiap tujuh detik dalam waktu sadarnya dan wanita tiga kali kelipatannya agar mereka bahagia, saya masih tetap tidak mengerti.

Saya bloon?

Bisa jadi.

Tapi dari dua cerita di atas, saya malah belajar satu hal yang baru. Dua-duanya berbuntut pertanyaan dengan jawaban yang memiliki kemungkinan. Jawabannya bisa benar, bisa juga salah. Tapi itu sama sekali bukan baru toh. Yang baru adalah, bahwa peristiwa runtutan hidup dan kebahagiaan (atau apapun definisinya) itu sama sekali tidak eksak. Bahwa kadang-kadang ada saja dalam kejadian sehari-hari yang terjadi di luar nalar dan logika.

Baru? Mungkin buat Anda tidak. Tapi buat orang-orang yang terbiasa (karena terpaksa) punya rencana B, C dan seterusnya jika rencana A gagal ini macam saya, tentu saja ini hal yang baru.


Jika Kemewahan Itu Bernama Sakit

Bagian Satu: Satu Dollar Kriminal

Umurnya tidak muda lagi, sudah 59 tahun. Terakhir bekerja, di Coca Cola, mengabdi di sana selama 17 tahun sebagai pengantar botol ke warung-warung. Tidak pernah membuat musuh, bekerja dengan keras dan rajin dan selalu patuh memenuhi jadwal pengiriman. Itu etos kerja James Richard Verone.

Tahun 2008 badai krisis ekonomi melanda Amerika Serikat. Badai yang sama, melanda pula Coca Cola. James pun diberhentikan paksa. Ia pikir akan cepat dapat kerja, duduk dibelakang kemudi sebagai supir truk pengantar barang. Namun apa daya, tak ada lowongan pekerjaan yang sama untuk manula.

James lalu jadi kasir di warung kecil dekat kotanya. Tidak lama. Nyeri tulang punggung yang dideritanya, radang di kaki, (tentu saja, usianya sudah tidak muda lagi) membuat ia berakhir duduk di rumah beristirahat tanpa bisa meneruskan kerja. Mengandalkan hidup dari uang tabungan dan kerja sporadis serabutan.

Hingga suatu hari dadanya terasa nyeri. Hendak ke rumah sakit, meminta pengobatan. Tapi hukum Amerika Serikat yang hingga saat ini masih bersitegang akibat jaminan sosial kesehatan warganya, membuat James tidak mendapatkan kesempatan untuk berobat. Intinya, apapun warna kulitnya, warga miskin memang tidak dapat hak yang sama di mata dewa medis di Amerika sana.

Suatu hari ia menyadari bahwa uang tabungannya habis, hasil dari kerja serabutan tak lagi mencukupi. Ia jual seluruh perabotan rumah dan membayar uang sewa kontrak bulanan terakhir. Dan lalu menjadi gelandangan mengandalkan hidup dari satu yayasan kemanusiaan ke yayasan lainnya hanya untuk sekedar makan minum dan bertahan dibawah dinginnya malam.

Tuan Verone tahu benar akan hal itu.

Dadanya semakin nyeri.

Hingga akhirnya pada tanggal 9 Juni, di siang yang cerah ia mandi, menyetrika pakaian, lalu memanggil taksi. Merampok bank pertama yang ia lihat.

Di depan kasir bank, ia menyodorkan secarik kertas yang isinya meminta uang satu dollar Amerika dan layanan pengobatan.

Kasir panik, Bank mereka belum pernah dirampok. Meskipun tanpa membawa senjata, kasir masih panik ketika dirampok dengan tuntutan satu dolar (kira-kira saat tulisan ini diturunkan adalah setara dengan Rp 8.620,-) dan permintaan medis.

Kasir memijit bel alarm dan polisi pun datang.

James tanpa rasa takut, bilang kepada si kasir wanita, “Saya akan duduk di lobi ruang tunggu sampai polisi datang”. Tak lama kemudian, polisi dengan kesatuan yang bagaikan anti-teroris datang menyergap dan menggelandang James ke penjara.

Ketika ditanya alasannya mengapa merampok dan hanya menuntut satu dollar saja, “Kalau saya masuk penjara, saya harap saya bisa dapat pengobatan gratis dari negara” jawab James dengan pelan.

Tuan Verone pun dipenjara. Entah sampai berapa lama. Di dalam bui, ia hanya makan pagi dan siang saja. Tidak makan malam. Katanya, pada saat makan malam ia akan bergabung dengan hampir semua narapidana. Ia takut. Ia tahu, penjara Amerika itu buas. Jadi lebih memilih saat makan pagi dan makan siang saja yang biasanya hanya diikuti oleh pesakitan yang telah lanjut usia.

Hingga saat ini, belum ada kabar apakah ia akan dapat pengobatan untuk nyeri dadanya.

Ketika berita ini akhirnya dimuat surat kabar gastongazette dan lalu melesat ke boingboing, hampir semua orang Amerika berteriak kecewa dan sedih. Menuntut keadilan atas kebutuhan pelayanan medis untuk warganya.

Bagian Dua: Satu Bangsa Satu Penjara

Beberapa minggu lalu saya kedatangan tamu, namanya Bas. Kawan-kawan Mexico yang ia bawa memangilnya ‘El Gringo’, terjemahan ugal-ugalan dalam bahasa Indonesia kira-kira ‘bule’.

Bas lahir di California, lebih mewarisi gen mamanya yang berambut pirang dan bermata biru ketimbang papanya yang asli dari Mexico City. Walaupun punya kewarganegaraan ganda, Amerika dan Mexico, ketika saya tanya apa isi dadanya ia jawab dengan senyum, “Saya Mexican”.

Bas tinggal bersama papa mama dan adiknya di Nogales, sebuah desa di Arizona yang benar-benar terletak di perbatasan antara US dan Mexico.

“Saya bingung tinggal di Amerika. Hampir semuanya serba ilegal. Kamu tahu, saya pernah dipenjara gara-gara nyetir mobil tanpa alas kaki! Sebab di Nogales, itu ilegal. Bajingan, masa sih saya dua hari di kantor polisi sampai papa mama saya jemput ketika mereka pulang dari liburan!”, keluh Bas.

“Jadi kamu suka di Mexico saja?” tanya saya sambil senyum-senyum. Vik, sahabat Bas yang berasal dari Hermosillo tertarik mendengar jawaban dari Bas. Ia mendengarkan dengan seksama.

Bas mengangguk. “You know, dua malam sebelum saya ke rumah kamu ini saya bangun jam dua pagi. Gila ada helikopter di atas rumah saya”

Saya bengong. Kaget. Hah! Masa sih ada helikopter di atas rumah. Memang rumahnya pakai helipad?

“Kamu tahu ga? Itu polisi Arizona yang sedang mencari pengungsi ilegal dari Mexico. Mereka pakai alat pencari infra merah untuk mengidentifikasi para pengungsi itu”

Vik menimpali, “Orang kampung Sebastian gila-gila. Di sana bahkan ada milisi yang bersenjata. Kerja mereka memburu orang-orang Mexico yang miskin dan lalu menyebrang ke Amerika untuk mencari pekerjaan. Itu manusia, dikejar-kejar, trus kalau sudah dalam jangkauan tembak, yaa ditembak”

Saya makin bengong. “Jangkauan tembak. Maksud kamu seperti berburu? Loh bukannya di Amerika apa-apa itu ilegal. Masa berburu manusia tidak ilegal?”

Bas ketawa-tawa, “Yaa ilegal, tapi yaah namanya juga manusia gila.”

Saya ternganga, “Trus orang-orang gila itu ditangkep ga?”

“Yaa ditangkep”

“Trus gimana orang mexiconya?”

“Yaa ditangkep juga. Dipenjara sama-sama”

“Lah terus kalo dipenjara bareng-bareng, apa nggak bunuh-bunuhan?”

“Yaa bunuh-bunuhan lah. Itu mah biasa. Kamu lihat film hollywood mengenai perang antar gang di dalam penjara? Yaa seperti itulah kejadiannya”

Melihat saya diam seakan seperti tidak percaya, Bas bilang. “Rakyat kami dalam ketakutan. You know, bukan hanya pada teroris tapi juga pada pencari kerja tanpa dokumen, pada cuaca yang makin panas dan banyak lainnya”

“Kalian hidup dalam ketakutan dong?”

“Yaa nggak semua orang sih. Tapi menurut saya, hampir semua orang hidup dalam ketakutan di sini. Kalau tidak takut, yaa ditakut-takuti biar takut. Hehe. Saya pikir kok mirip hidup dalam penjara. Satu bangsa, satu penjara.”

Saya manggut-manggut. Tapi jelas tidak berani cengar-cengir. Sebab kelihatannya ia serius.

Bas menambahkan, “Omong-omong kamu tahu ga kalau Amerika Serikat itu negara dengan jumlah penjara ternbanyak di muka bumi? Bahkan populasi penghuninya sudah sedemikian parah, sampai-sampai lapangan basket yang harusnya jadi tempat narapidana buat olahraga dialihfungsikan jadi barak tidur loh. Saking banyaknya penghuni penjara. Tapi omong-omong penjara Indonesia bagaimana?”

Saya tidak banyak bicara. Saya bilang, “Bas, saya ngantuk. Besok ngeburuh. Saya tidur duluan yaah” sambil cengar-cengir. Yaah mau pakai trik apalagi? Saya tidak punya jawaban pertanyaannya. Lebih baik saya kabur. Hehe.

Bagian Tiga: Ketika Mamanya Nopal Sakit

Waktu itu saya masih di Jakarta. Ada sms masuk dari Nopal. Bilang minta bantuan. Katanya mamanya sakit. Sudah lama merasa nyeri. Bahkan sampai pendarahan segala. Setelah dicek, ternyata mamanya Nopal kena serviks, nama lain dari kanker leher rahim.

Kanker ini termasuk penyakit yang cukup berbahaya. Menurut WHO di tahun 2007, kira-kira setiap tahunnya sebanyak 15.000 perempuan Indonesia dihinggapi oleh kanker leher rahim dan sebanyak 7500 orang terbunuh karenanya.

Saya pikir ini masalah serius. Tapi ada lagi yang lebih serius. Pertama, kenapa Nopal mengadu ke saya? Kedua, Nopal kan dalam penjara gara-gara kasus narkoba kok dia bisa sms saya?

Penjelasannya ada di sms antara saya dan Nopal.

LO DAH DILUAR?

G.MSH DI DLM.2THN LG.TLG MEN.MAMA GW NIH.DUIT GW G CKP BWT KEMO MAMA

KEMOTERAPI?ASTAGA.PARAH AMAT MEN!

YOI MEN.TMN LO KAN BNYK.ADA DOKTER GA?

MAMA LO KAN PEGAWAI NEGRI.ADA ASURANSI

ASKES G CKP.G JAMIN FULL COVER.

LO GA KERJA DI DLM?

KERJA.GW NYETOK BRG TRUS NYEBARIN DI DLM SKRG.DPT HP PULSA MA DUIT600RB/BLN

LMYN KAN.MKN MA TIDUR KAN GRATIS?DUIT BISA LO TABUNG.

KT SIAPA?GW BYR KMR 400RB/BLN.CADONGAN ISINYA BATU.EMANG ENAK MAKAN BATU.LO KIRA PENJARA GRATIS?

SERIUS LO?

MASA GUA BOONG MEN.LO SATU2NYA YG GA RESE MA GW.ABIS LO JG BEJAT SIH :) PENJARA INDONESIA ANCUR MEN.

PARAH!YA UDAH NANTI MLM GW KE RMH LO NGOMONG AMA MAMA LO.BTW LO BRENTI DONG NYEBAR RACUN KE ORANG2!

KL GW BRENTI BKN CUMA GW YG MATI MEN.TLG MAMA GW MEN PLIS

Saya diam sejenak. Termangu. Kalau Nopal sudah bilang bahwa nyawanya terancam, itu artinya benar-benar terancam. Dia itu salah satu prajurit jalanan Cilincing yang saya kenal. Hidupnya dari dulu memang dibayang-bayangi bau kematian. Dan dia tidak pernah mengeluh apalagi takut karenanya. Namun kali ini masalahnya pasti serius.

Terjebak dalam sindikat narkoba yang melibatkan banyak orang, baik dari dunia hitam maupun berseragam dan satu-satunya orangtua yang tersisa terbaring di rumah terkena kanker, pasti masalah serius.

Penjara, kata Nopal, sudah berubah jadi rumah indekos. Narapidana kaya, yang mampu membayar tentu saja dapat fasilitas lebih. Bahkan seorang bos sepakbola di Indonesia mampu memboyong AC hingga fax ke dalamnya lalu menjadikan dua kamar jadi satu demi kelangsungan pekerjaannya ketika ia harus menjalani hidup dalam bui. Semuanya atas nama tahu sama tahu.

Singkat kata singkat cerita, mamanya Nopal akhirnya beristirahat dengan tenang di pemakaman umum Cilincing setelah enam bulan bergulat dengan kanker leher rahim yang mengerikan. Semua tenaga medis yang saya hubungi menyerah sambil mengatakan bahwa harapan hidup beliau sudah semakin menipis.

Tidak berselang lama, Nopal menghidup udara bebas. Dia jadi big shot. Ternama karena kinerja kerja. Prestasinya sebagai bandar narkoba di dalam lembaga pemasyarakatan memberinya semacam previlige yang mampu mengantarkan surat sakti agar dapat keluar lebih cepat.

Tapi tidak lama. Hanya beberapa bulan setelah bebas, ia meninggal karena tabrak lari. Bisik-bisik rumor jalanan berkata bahwa sebelumnya ia tidak mampu closing deal sebuah perjanjian bisnis dengan pesakitan kelas kakap. Kata kabar burung, Nopal harus membayar dengan nyawanya.

Dibandingkan dengan Nopal, Tuan Verone tidak akan lama bertahan hidup jika ia dalam penjara Indonesia.

Tuan, ini negeri dimana orang miskin diharamkan sakit!


Operasi Payudara

Beberapa hari lalu saya mengobrol dengan putri saya Novi Kirana yang baru saja menginjak usia tiga tahun. Seperti biasa, kalau mengobrol posisi kami memang agak aneh. Sejak ia bayi, kami memang suka mengobrol serius ketika saya sit-up atau push-up. Kalau saya sit-up, ia duduk di atas kaki atau perut saya. Kalau saya push-up, ia duduk di atas punggung saya.

Kali itu, saya sedang melakukan beberapa sit-up. Ia keluar dari tepee, tenda Indian yang saya buat untuknya yang berdiri pas di ruang tengah rumah. Langsung duduk di atas perut saya. Tanpa tedeng aling-aling langsung bertanya, “Papa, kenapa dada kamu kecil?”

Dalam hati saya melengos, ‘Yaelah bocah, udah tau badan bapaknya segini-gini aja. Walopun udah olahraga segimanapun juga emang badan ini yah segini doangan. Pake ditanya-tanya segala’

Dan karena sudah ngos-ngosan saya jawab santai, “Karena papa anak laki-laki, sayang. Anak laki-laki kebanyakan nggak punya dada besar. Kalau anak perempuan punya dada lebih besar daripada anak laki-laki”

Dia buka kausnya. Dia lihat ke arah dadanya sendiri. “Kenapa dada saya sama seperti dada papa?”

Saya jawab, “Karena kamu anak papa, Cintaku”

“Tapi kan saya anak perempuan?”

“Iya, nanti juga kalau sudah besar dada kamu tambah besar”

“Kalau papa besar dada papa juga tambah besar?”

Saya bengong. Buset dah, anak kecil pertanyaannya memang ajaib kok yaa? Saya berhenti sit-up. Tapi matanya kecewa. Maka itu, saya sit-up lagi (*padahal sumpah saya sudah hampir kehabisan nafas. Tapi demi anak, ya sudah lah tambah satu set lagi*).

Sambil terengah-engah saya jawab, “Kalau berat papa tambah dada papa juga tambah besar nanti”

Mulutnya merocos dengan alis berkerut, itu tandanya dia sedang protes. “Tapi saya kan sudah besar! Saya sudah tiga tahun! Saya anak perempuan besar!”

Dengan lembut saya mengusap rambutnya yang makin panjang melewati dahi, “Iya kamu sudah besar. Tapi akan ada saat dimana semua anak perempuan akan lebih besar dadanya. Lebih panjang rambutnya. Lebih besar pinggulnya dan makin mengerti bahwa tubuh mereka berubah”

“Umur saya tiga tahun. Papa lebih besar daripada saya. Dada papa kecil. Umur papa empat tahun?”

Sambil cengar-cengir saya jawab, “Yaa nggak jauh beda lah kita. Papa juga masih muda kok”

Dia ke dapur. Saya bangun dari posisi sit-up sambil melakukan gerakan peregangan istirahat pada pinggul dan tangan. Saya lihat ia buka lemari pendingin mencari minuman es jeruk kesukaannya. Saya kira, obrolan siang itu selesai sudah. Namun dari balik pintu lemari pendingin ia bertanya lagi, “Kenapa dada papa kecil?”

Saya cuma diam, cengar-cengir sambil garuk-garuk kepala. Itu tandanya, percakapan ini masih akan berlangsung lama. Dan saya harus lebih banyak berolahraga akibatnya.

Saya ikut ke dapur, menyeruput es teh manis. Setelah itu saya ambil nafas sebentar lalu mulai posisi push-up dan bertanya kepadanya agar duduk di atas punggung saya.

Sambil menghisap isi botol es jeruknya dengan sedotan, ia patuh duduk di atas punggung. Dan mulailah saya bercerita.

“Dulu papa minta sama Pak Ali bos papa, supaya papa sekolah lagi. Tapi Pak Ali bilang papa sudah terlalu banyak sekolah. Pak Ali bilang papa harusnya mengajar saja. Papa kecewa”

“Terus kamu marah, papa?”

“Marah sih nggak. Tapi papa sedih. Tapi papa nggak bisa sedih, karena bos papa bilang lebih baik ilmu papa dibagi sama orang jadi papa pikir ia benar. Kalau papa sekolah lagi ilmunya buat papa sendiri saja. Tapi kalau papa mengajar ilmunya kan bisa buat  papa dan buat banyak orang. Jadi papa mengajar deh. Salah satu mahasiswi papa namanya Mel. Kamu kenal Mel? Dulu kan pernah papa kenalkan”

Lalu saya tertawa mendengar jawabannya, “Dulu kan saya masih kecil papa. Kamu jangan mengharapkan saya ingat dengan banyak teman kamu dong?”

Saya semakin terbahak-bahak ketika ia turun dari punggung, mencabut sedotan dari botol es jeruk dan memperlihatkan ke depan mata saya. “Waktu itu pasti saya lebih kecil dari ini!”

Setelah ia naik lagi ke punggung, saya melanjutkan cerita. “Mel itu mamanya Georgie dan Anne. Mereka berdua waktu masih bayi, menyusu pada Mel. Sama seperti kamu juga dulu menyusu pada mama. Cintaku Novi, kalau perempuan menyusui bayi biasanya dadanya tambah besar. Karena ada susu di sana. Sama seperti dada Mel. Tapi sayangnya ketika Georgie dan Anne sudah tidak menyusu lagi, dada Mel masih tetap besar sekali”

Ia diam. Saya juga tidak dengar suara botol es jeruknya. Tanda kalau ia sedang amat mendengar cerita dengan penuh konsentrasi.

“Punggung Mel jadi sakit. Kalau jalan susah. Sebab dadanya besar sekali”

“Kalau begitu, kenapa Georgie dan Anne tidak menyusu saja terus?”

“Sayang, kalau anak sudah besar biasanya mereka berhenti menyusu sama mamanya. Georgie sudah sepuluh tahun, Anne juga sudah delapan tahun. Jadi mereka sudah tidak menyusu lagi sama mamanya”

“Mel sakit?”

“Iya kasihan Mel. Kalau jalan susah. Kalau duduk susah. Karena dadanya terlalu besar. Jadi ia ke dokter. Ke rumah sakit. Dada Mel harus dikecilkan. Jadi waktu di rumah sakit dada Mel dikecilkan”

“Bagaimana dikecilkan dadanya? Diambil susunya untuk rumah sakit?”

Saya tertegun berhenti push-up sebentar. “Wah kalau itu papa juga nggak tahu sayang. Yang pasti beberapa bulan kemudian Mel kembali ke kelas papa. Dan dadanya sudah lebih kecil daripada dulu. Kamu tahu cintaku, ternyata ia sekarang jauh lebih bahagia punya dada kecil ketimbang punya dada besar”

Novi Kirana diam. Saya tahu, logika dalam cerita yang telah saya ceritakan masuk ke dalam benaknya. (*Itu artinya; saya sudah boleh berhenti push-up. Hehe*). Ia lalu turun dari punggung. Saya duduk dihadapannya. Sambil masih memegang botol es jeruk lalu duduk diatas pangkuan saya.

Sambil memangkunya saya bilang, “Anakku sayang, papa cinta kamu. Super cinta kamu. Papa tahu kamu cinta papa. Tapi yang lebih penting lagi, kamu harus mencintai diri kamu sendiri”

Dia berdiri, berbalik lalu memberikan kecupan di hidung saya. Sambil memeluk ia berbisik di kuping saya, “Saya cinta kamu papa. Walaupun dada kamu kecil walaupun dada saya kecil”

Tiba-tiba, saya merasa jadi lelaki berdada kecil yang paling bahagia di muka bumi ini.


Cerita Tentang Mimpi

(*Ini cerita tentang mimpi-mimpi saya*)

Saya selalu bertanya-tanya, apabila manusia dikaruniai kemampuan untuk bisa berfikir dalam tidur, apakah itu anugrah atau musibah?

Pertanyaan ini berangkat dari kondisi belakangan ini kemampuan saya untuk tidur bisa selama 12 jam sehari non-stop. Aneh? Iya aneh. Buat saya saja aneh. Saya tidur jam delapan malam lalu bangun jam delapan pagi, esok harinya. Hampir setiap hari begitu. Kalau ada hal yang mendesak penting, maka saya tidur sekitar sepuluh jam perhari. Sementara kalau mampir lalu menginap di rumah teman atau bepergian dalam rangka kerja yang harus konsentrasi bicara dan berfikir dalam jangka bersamaan, maka mau tidak mau saya harus tidur minimal delapan jam non-stop. Kurang dari itu, saya bisa jalan sempoyongan. Letih.

Padahal sejak punya anak saya biasanya tidur tidak lama. Jaman sekolah di Depok dulu malah kadang suka tidak tidur. Pulang sekolah main bola. Malam nyanyi-nyanyi dengan teman main gitar sampai diomeli tetangga karena sudah larut tapi masih berisik. Habis itu main kartu sambil tertawa-tawa, yang kalah dijepit pakai jepitan pengering baju. Begitu matahari muncul, cari nasi uduk untuk sarapan sambil cuci mata lihat gadis-gadis jogging pagi. Begitu puas, berangkat lagi ke sekolah naik bis gratis warnanya kuning. Begitu saja tiap hari.
Kalau mengantuk saya tidur. Dan saya kalau mengantuk suka tidak tahu diri dan tidak tahu kondisi, pokoknya harus tidur. Maka itu kemana-mana saya selalu bawa kantung tidur (sleeping bag) dalam tas. Ruang tidur favorit saya, kelas umum 3 SKS (artinya 3 x 45 menit) yang selalu mengajar 101. Ruangnya luas. Muridnya banyak. Saya ambil posisi di belakang paling ujung. Di bawah AC. Enak; dingin. Ditambah lagi suara guru yang bagaikan musik pengiring tidur. Tidur tidak lama, tapi bahagia.

Kenapa sekarang saya butuh tidur lama? Saya juga tidak tahu.

Kata beberapa sahabat saya yang psikolog, manusia tidur lebih banyak daripada biasanya karena kebutuhan. Kalau butuh, maka keinginan untuk tidur jauh lebih banyak daripada biasanya. Sementara kata teman saya lainnya yang jadi guru antropologi, pola tidur manusia itu dipengaruhi oleh budaya. Seberapa butuhnya pun ia tidur, maka kultur yang ia percayai yang akan menentukan seberapa banyak ia tidur. Walaupun malam begadang namun kalau pagi sudah janji, faktor budaya yang akan menentukan apakah ia akan terlambat atau tidak.

Jadi, saya tidur lama gara-gara butuh atau budaya? Atau jangan-jangan saya memiliki kebutuhan akan budaya? Atau budaya butuh? Halah… Bikin pusing saja.

Yang pasti, kalau saya bisa berfikir ketika tidur, pasti saya bisa menyelesaikan banyak pekerjaan sambil tidur. Walaupun kemungkinan lain yang lebih besar adalah, kalau begitu tidur itu bukan istirahat.

Dalam film Perancis, Science of Sleep (walaupun bukan film aksi namun film keluaran tahun 2006 ini bagus, rekomendasi), diceritakan tentang seorang pria bernama Stéphane yang kadang memiliki mimpi dan imajinasi yang bercampur dengan realita. Jadi kadang ia tidak tahu apakah ia sedang tidur lalu bermimpi, atau sedang bangun dan mengalami imajinasi. Hidupnya gabungan antara situasi alami dengan surealis.

Apakah hidup begitu sulit? Tidak tahu antara yang nyata dan tidak? Well sebaiknya Anda tonton sendiri filmnya.

Tidur itu misterius. Manusia sejak ribuan tahun berusaha menganalisa tidur. Lebih canggih lagi, menganalisa mimpi. Dalam bukunya yang berjudul Metafisika (bab Beta dan Gamma), bahkan filsuf sekaligus pemikir hebat Aristoteles mengklaim bahwa manusia memiliki kepingan-kepingan puzzle kejadian diri yang secara sadar atau tidak sadar akan muncul dalam fase teratur hidupnya (dalam hal ini salah satunya adalah pola tidur). Saat ini, kita menyebut pemunculan kepingan itu sebagai mimpi.

Biasanya, mimpi itu sukar dilacak. Artinya kondisi kebanyakan orang memang pada umumnya suka lupa bermimpi apa. Jika memang dalam kondisi tertentu yang menyangkut hal tertentu, maka seseorang bisa mengingat mimpinya. Itu pun biasanya tidak lengkap.

Namun di dunia ini ada tipikal manusia yang bisa mengatur mimpi. Bukan mimpi orang lain, melainkan mimpinya sendiri. Mereka disebut dengan Oneironaut. Berasal dari bahasa Yunani Kuna ‘oneiros’, yang artinya mimpi. Tipikal manusia ini mampu mengambil kontrol karakter bahkan lingkungan ketika sedang bermimpi. Lebih dahsyat lagi, dikabarkan ia mampu berfikir dan mengambil aksi dalam mimpinya tersebut.

Para Oneironaut ini dikabarkan memiliki kemampuan tidur jauh lebih banyak daripada manusia lainnya. Dorongan ini timbul akibat keinginan kuat untuk ‘bisa menjadi apa saja’ dalam realita mimpi mereka. Disebut dengan realita, sebab untuk mereka apapun yang terjadi dalam mimpi seakan benar-benar nyata.

Di Berkeley Amerika Serikat, ada sebuah universitas bernama John F Kennedy University. Di sana ada satu program studi bernama Telaah Mimpi. Jika Anda pikir mengada-ada, ada baiknya berkunjung langsung ke sana untuk melihat dengan kepala mata. Sebab di tempat itu kita bisa mengetahui secara ilmiah bahwa ternyata perempuan lebih sering bermimpi ketimbang laki-laki. Dan ternyata, bahwa ada satu keahlian khusus yang amat susah namun bisa dipelajari bernama ‘Recalling Dream’, yaitu memanggil mimpi. Dimana seseorang mampu secara detail mengulang kembali ingatan terhadap mimpinya; ketika ia sedang terjaga.

Apa gunanya studi mimpi tersebut? Ketika pertama kali mengetahui dan melihatnya, saya pikir ini adalah salah satu cabang keilmuan yang gunanya menghabiskan pajak rakyat dan uang orangtua saja. Hehehe…

Tapi ternyata saya salah. Orang-orang yang mengidap PTSD (Post Traumatic Stress Disorder, gangguan kecemasan parah dan berkembang setelah menghadapi setiap peristiwa yang menghasilkan trauma psikologis) yang susah tidur akibat dihantui mimpi buruk, ternyata bisa terbantu melalui latihan-latihan menghadapi mimpi dalam tidur mereka. Diantaranya para pasien terlihat adalah prajurit-prajurit cacat yang baru pulang dinas dari Irak atau Afganistan.

Oke sekarang balik lagi ke saya (*Ini kan blog saya, suka-suka saya ngomongin diri saya dong. Kok saya malah ngomongin orang lain? Huh!*).

Sejak musim panas tahun lalu, saya kelihatannya mengidap psikomatis. Sebuah kondisi dimana kordinasi antara tubuh dengan pikiran tidak sinkron lagi akibat trauma psikologis. Gejala yang sama yang biasa dialami pasien PTSD. Contoh yang paling sederhana dan terlihat jelas adalah, semua teman-teman bingung ketika melihat saya memegang gelas untuk minum dengan dua tangan. Karena apabila dipegang dengan satu tangan saja, terlihat bahwa tangan saya sedemikian gemetar dan sering sekali gelas malang itu jatuh ke lantai akibat susah terpegang.

Gejala tersebut diimbangi dengan tidur sebanyak 14 jam perhari yang diselingi oleh banyak sekali mimpi buruk.

Lama kelamaan, seiring dengan waktu (dan Anda boleh percaya atau tidak, tapi katanya dalam masa itu orang se-Cilincing ikutan mendoakan agar saya cepat pulih) kondisi aneh tersebut berangsur hilang perlahan. Dan ketika gejala ini menghilang perlahan, saya mulai kembali beraktifitas sebagaimana biasanya. Yaitu sibuk luar biasa.

Seorang sahabat saya yang kini mengajar cabang keilmuan filsafat pernah berkata suatu hari, “Orang yang hidupnya terluka semestinya bangga. Sebab mampu mengatasinya dan tetap hidup. Semestinya, ia merawat luka itu. Membasuhnya. Mengeringkannya. Menjaganya hingga tidak infeksi. Hingga suatu hari menyadari bahwa luka hidupnya telah kering dan sembuh”

Salah satu kesalahan fatal saya adalah menganggap bahwa mengeringkan luka hidup adalah dengan cara balik lagi ke rutinitas kesibukan harian. Nyatanya, ia tidak menghilangkan luka. Namun lebih sekedar semacam pelarian. Jika ada manusia yang lari dari luka hidup pada kesenangan badaniyah seperti menumpulkan rasa dengan alkohol atau malah memperbanyak rasa dengan seksual; maka saya lari dari luka dengan menimbun diri dengan kesibukan pekerjaan.

Dan jika suatu saat luka itu terbuka kembali, saya butuh kompensasi. Maka itu saya pikir, saya butuh tidur 12 jam sehari. Untung saja saya bukan Oneironaut, jadi tidur dan mimpi bukanlah juga pelampiasan atas kehidupan ketika terjaga.

Membagi cerita mimpi ini kepada publik bukanlah sesuatu yang mudah. Di sini di tulisan ini saya dengan amat sadar bicara hal yang paling intim dari hidup saya, yaitu hubungan antara saya dengan diri saya sendiri. Saya pribadi menganggap menulis mengenai aib atau penyakit terkesan sebagai salah satu konsep tak sadar dari keinginan eksibisionis. Dalam merangkaikannya; kata demi kata, huruf demi huruf, kadang menjadi beban yang suatu saat memiliki konsekuensi luar biasa di kemudian hari. Sialnya, hidup saya memang tidak jauh dari aib dan penyakit.

Namun suatu hari saya dapat nasihat dari teman di belahan ujung dunia sana, ia bilang, “Bang, bagi ilmu kita jadi makin kaya. Bagi masalah, kita jadi makin ringan”. Intinya, beliau senang melihat saya membagi cerita hidup yang boleh dibilang tidak terlalu manis ini, dengannya.

Sejak saat itu, saya memang masih tidur dalam jangka waktu yang sedemikian lama perharinya. Namun sudah tidak terlalu banyak lagi dicengkeram mimpi buruk. Dan atas dasar itu pula saya bagi tulisan ini. Semoga dengan berbagi, hidup ini jadi lebih berarti.

Itu cerita mengenai mimpi saya.

Lantas sekarang, mimpi Anda apa?

(*Ketika saya tanya ini pada sahabat saya Odoy, dia bilang “Gua mimpi Jakarta nggak kebanjiran tiap tahunnya. Gua mimpi koruptor pada insap. Gua mimpi kasus Lapindo beres. Gua mimpi tanah orang Kalimantan, Papua, Sumatera, Bali dan semua tanah manusia di Indonesia nggak dikeruk buat kepentingan para bajingan”. Saya tidak bisa bilang apa-apa. Saya pikir kalau saya jawab “Lu harus tidur lebih dari 12 jam perhari” saya akan menyakiti perasaannya. Sebab saya tahu ia bukan pula seorang Oneironaut*)


Gimana Ukuran Penis Orang Indonesia

Malam-malam saya jemput Hadi di halte dekat rumah. begitu sampai rumah dan kami sama-sama minum seduhan teh borbonia campur Asphalantus, sejenis dedaunan teh yang tumbuh di semak-semak Afrika Selatan.

Malam itu sudah dingin. Kelihatannya musim panas hampir usai. Baru duduk dan dalam seruputan pertama saya sudah di tembak Hadi sebuah pertanyaan, “bang apa pendapat abang soal Papua?”

Saya cengar-cengir. Sebab saya ingat pada suatu hari, sahabat saya Udin melontarkan pertanyaan yang hampir mirip, “Menurut lu, gimana yaa penis cowok Indonesia, bang?”.

Loh apa hubungannya Papua dengan Penis? Ehmmhh, apa yah? Wah, nampaknya selain sama-sama berawalan P dan memiliki lima huruf, saya tidak punya lagi analoginya. Lantas kenapa saya pikir pertanyaan itu mirip. Mungkin karena di tanya pada saat yang sama. Yaitu ketika saya sedang menyeruput teh.

Tapi apa jawaban saya?

Saya yakin jawaban saya tidak terlalu penting. Toh saya bukan siapa-siapa. Apapun jawaban saya, tidak akan mengubah dunia akhirat Papua. Tapi menurut saya, Hadi itu penting. bukan gara-gara ia anak juragan tembakau (yang secara aneh kadang ia sering saya analogikan dengan peran genial Dono sebagai ‘Raden Mas Ngabehi Slamet’ dalam film 80-an Gengsi Dong). Melainkan karena ia adalah teman yang selalu memotivasi ketika saya sedang jatuh terpuruk dalam masalah serius.

(Entah kenapa, saya selalu ingin memanggil Hadi dengan sebutan Mas Slamet). “begini Mas, err… Hadi. Kamu tau kekerasan dalam rumah tangga”

“Iya bang”

“biasanya gimana?”

“Suaminya kejam. Suka pukulin anak dan istri. Atau kalau tidak mukul yaa menyiksa batin”

“Yaa gitulah ama Papua. Sama aja kayak istri yang dijahatin suaminya. Tubuhnya dipakai sampe kering kerontang. Kalau protes dikit, digebukin. Minta cerai, digebukin. Anak nakal sedikit, digebukin. Makanan jatah kurang, digebukin”

Hadi diam. Saya lanjutkan ocehan tentang sedikit isu muncul di Papua. Ketika isu kecil muncul lalu ribuan tentara langsung diturunkan ke sana. Ketika prajurit-prajurit muda baru didoktrinasi agar menyiksa saudara mereka demi mempertahankan perkawinan sakit bernama NKRI. Ketika Papua masih terlihat seksi. Ketika banyak para panglima banyak cari muka. berharap suatu hari mengemut dari susu payudara bumi Papua. Oh ajaibnya.

Hadi pun masih diam ketika saya cerita sisi lain ketika perjuangan teman-teman Papua kadang diwakili oleh beberapa orang yang terlihat mencengangkan. Pada sebuah demonstrasi kemerdekaan Papua di benua Eropa, ada yang bagi-bagi selebaran kalau Papua hanya untuk orang Papua. Lah orang Papua itu siapa? Yang mengaku Papua? Si pembagi selebaran menggeleng. Katanya, hanya untuk mereka yang satu ras dengannya. Oh ajaibnya.

Hadi masih diam, ketika saya cerita suatu hari di Sydney bahwa ada seorang militan Papua yang mendapat kesempatan untuk berbicara dengan beberapa pembuat kebijakan penting di dunianya. Sialnya pada makan malam itu, ia hanya sekedar membanggakan diri telah berhasil memenggal dan menguliti puluhan kepala tawanan ABRI. Untuk apa? Kenapa di saat itu tidak ia ceritakan mengenai apa yang diinginkan oleh sahabat dekatnya, keluarganya, orang kampungnya dan semua mimpi tentang perdamaian dan kemanusiaan. Mengapa ia pikir cerita darah yang muncrat dari urat leher di meja makan akan membuatnya jadi manusia sakti? Oh ajaibnya.

“Jadi abang pikir Papua harus merdeka?”

“Saya pikir, Papua harus diberi kesempatan untuk bicara dan menentukan apa yang mereka mau. Terserah mereka. Mau merdeka. Mau masih sama-sama Indonesia. Mau otonomi lebih luas. Terserah aja apa maunya”

“Kok gitu bang. Kan baiknya dikasih tahu apa yang baik buat mereka”

Saya ketawa, “kamu kan nanya pendapat saya. Yaa itu pendapat saya. Kalau kita beda, yaa sah-sah aja dong”

“Sekarang gantian deh. Menurut kamu, gimana ukuran penis orang Indonesia?”

Hadi bengong, “Idih nanyanya aneh-aneh aja si abang”

Saya memang lagi malas bicara politik malam itu. Satu-satunya topik yang terlintas di otak saya (yang sedang capek, kedinginan dan bosan) adalah jika lebih dari satu orang pria berkumpul, maka topiknya tidak jauh dari lawan jenis atau narsisme diri macam ukuran penis.

Membicarakan penis itu menarik. Setidaknya buat pria. Katanya, disinilah letak ‘kebanggaan’ seorang lelaki. Dalam film kungfu Jianyu (dalam versi bahasa inggris yaitu Reign of Assassins, 2010, dibintangi Michelle Yeoh), menjelang akhir cerita ternyata baru tahu kalau plot film ini tidak jauh dari penis. Balas dendam seorang pembantu kaisar yang kecewa akibat dikebiri.

“Kamu tau, Di. Kalo penis itu tergantung ras. Jadi pada ras tertentu, ukuran penisnya memang lebih besar daripada yang lain. Penis itu nggak ada hubungannya ama jempol. Makin gede jempol seorang cowok, makin gede penisnya, itu mitooos”

Hadi tertawa terbahak-bahak. Mungkin karena itu sama saja saya bilang kalau penis dia (yang tinggi badannya hampir 190 cm) tidak lebih besar daripada punya saya.

“Tapi kan Bang, nggak imbang kalau badannya gede tapi itunya kecil”

Lalu kami main bantah-bantahan. Mengeluarkan semua logika, teori, omong kosong dan lain sebagainya. Biar saja, buat saya ini lebih mengasyikkan ketimbang bicara politik. Setidaknya untuk malam itu.

Saya keluarkan laman tersimpan di peramban internet. Isinya mengenai tabulasi data ukuran penis warga dunia (*aneh kan, ngapain juga yang kayak gini saya bookmark?*). Di sana terlihat ukuran penis warga dunia berdasarkan negara asal mereka.

Mau lihat, silahkan; ini tabelnya.

Ukuran Penis Manusia Dunia
Negara Panjang santai(cm) Panjang tegang (cm) Sumber
Amerika Serikat 8,8 cm 12,9 cm Wesseells H., Lue T., McAicnich J. (United States of America). The relationship between penile length in the flaccid and errect status: guidelines for penile lengthing. J Urol 1995; 153 Part 2: 379A.
Jerman - 14,48 cm Dr. Gunther Hagler, Urólogo.
Spanyol - 13,58 cm Dr. Javier Ruiz Romero. Clínica Tres Torres, Barcelona, 2001.
Perancis 12 cm 16 cm Anatomie topographique, descriptive et fonctionnelle, tome 1. Le système nerveux central, la face, la tête et les organes des sens, 2e édition. 1991
Jepang 8 cm 13 cm Japanese Journal of Sexology
Brazil - 12.4 (+/- 1.6) cm Dr. Paulo Palma, Urólogo. Brasil. Disfuncao sexual, Carlos da Ros, Claudio Teloken
Italia 10 cm 15 cm Dr. Jamal Salhi de la Sociedad de Andrología de Italia. Dr. Carpenito Ambulatori Especialista en Andrología.
Venezuela 9,5 cm 12,7 cm “Dimensiones peneanas en la población venezolana”, Servicio de Urología, Hospital Domingo Luciani.
Meksiko - 14,9 cm “Lifestyles Condom Co. In Cancún, México”, Dr. Francisco Ordóñez, 2001.
Yunani - 12,18 (+/- 1.7) cm Dr. Spyropoulos E. et coll. Hospital Naval de Veteranos, Atenas, 2003
India - 10,2 cm The Jacobus Survey
Saudi Arabia - 12,4 cm Dr. Mohamed Habos. Male Genital Organ Diseases and Behaviours, Saudi Arabia, 2000
Chili - 13,9 cm Dr. Eduardo Pino, Urólogo/ Andrólogo. Clínica Andromex, Santiago de Chile
Colombia 6,9 cm 13,9 cm Acuña A., Villalba J., Juan Carlos Villalba. A. Saio Clinic, Bogatá.
Afrika Selatan 13,3 cm 16,7 cm Universitat Klegenfurt Survey
Korea Selatan 6,8 cm 9,3 cm Self-Reported Premature Ejaculation Prevalence and Characteristics in Korean Young Males: Community-Based Data from an Internet Survey. Hwancheol Son, Sang Hoon Song, Soo Woong Kim, and Jae-Seung Paick. August 12, 2010
Thailand 11,2 cm 13,5 cm Muangman Research. Department of Surgery, Faculty of Medicine, Ramathibodi Hospital, Mahidol University, Bangkok, Thailand.
Malaysia 7,8 cm 12,4 cm The Straits Times dated 16th July 2000 (Singapore) taken from a 1996 survey by Hunter Welles, Tom Lue and McAnich
Indonesia 10,8 cm 14,2 cm Universitat Klegenfurt Survey

(*Tabel lebih lengkap dalam gambar*)

Hadi melongo, “Bang, punya bookmark apa lagi. Liat dong!”

Saya perlihatkan pada dia, beberapa catatan medis mengenai pasangan penis. Bukan, bukan kantung scrotum. Melainkan pasangan reproduksinya, yaitu vagina. Dan beberapa mitos yang terkuak mengenai penis yang berkembang di masyarakat berdasarkan etnografi.

“Jadi, orang bule nggak semuanya gede yaa, Bang?”

“Yaa nggak lah. Di pelem-pelem emang iya. Pan aktornya juga di pake kalo itunya gede. Lagian biar gede juga belom tentu bisa cocok. Punya perempuan kan beda-beda”

“Trus biar nggak bisa bediri, tapi masih bisa maen yaa?”

“Yaa bisa. Untuk bercinta nggak selalu harus pake tegangan tinggi”

“Kalo cowok punya pasangan kok masih tetep begituan sendiri?”

“Istri kan bukan pelampiasan nafsu, Di. Mereka itu bukan budak. Sementara banyak lelaki yang memiliki kebutuhan yang lebih banyak daripada yang bisa ia dapetin. Boong itu kalo nggak swalayan. Emangnya dia mau maen ama siapa? Pohon pisang yang dibolongin tengahnya?”

“Tapi… Tapi bang.., ngapain baca-baca beginian?”

“Cita-cita saya mao jadi ginekolog, Di. Kayak dokter Boyke. Sayang gagal”

“Tapi menurut saya sih, punya saya tetep lebih gede daripada punya abang”

“Heh kampret! Males banget saya dikasih unjuk barang kamu malem ini. Jangankan gratis, dibayar aja ogah. Lagian kamu tahu darimana punya kamu lebih gede?”

Sambil tertawa lebar si Hadi menjawab, “Yaa itu sih pendapat saya. Kalau kita beda, yaa sah-sah aja dong”

Sambil garuk-garuk kepala, saya baru sadar satu hal persamaan antara Papua dengan penis pada malam ini. Simpel; sebab apapun itu masalahnya ternyata kita boleh beda melihat semua sisinya.

Dan apapun perbedaannya, ternyata lebih enak dibicarakan sambil minum teh ketimbang berkelahi.


Lelaki Sejati Bijinya Dua

Waktu saya pinjam buku Elizabeth Gibert yang berjudul eat pray love, Mbak Lia memberi sambil tertawa, “Kenapa, ini kan perempuan banget?”

Saya tersenyum menjawabnya. Tapi entah kenapa saya tidak jawab. Tapi bingung juga sebenarnya, andaipun mau saya jawab, saya harus jawab apa? Toh itu buku memang cerita tentang seorang perempuan dan perjalanannya. Tentu saja dari sudut pandang wanita. Saya tidak bisa jawab apa-apa selain tersenyum.

Dari dulu, entah kenapa, saya memang seakan terobsesi untuk memahami perempuan. Mulai dari cara yang sederhana seperti bertanya langsung kepada makhluknya, hingga trik yang agak licik seperti mencuri buah pikir tertulis mereka. Misalnya melalui membaca majalah yang paling banyak dibaca perempuan. Sampai dulu saya pernah beranggapan, jika feminisme adalah sebuah agama bagi peremuan urban maka Cosmopolitan adalah kitab sucinya.

Hubungan antara pria dan wanita itu misteri. Di Mesir kuno mitologi mengajarkan bahwa selain Isis sang pelindung, dewi yang dipuja adalah Ma’At, pengatur hubungan antara pria-wanita dalam relasi. Apapun itu, belum terkuak hingga saat ini. Jadi menurut saya sah-sah saja punya obsesi memahami dan mencari apa itu makna relasi.

Hasilnya bagaimana? Ahh sama saja. Buat saya, perempuan itu tetap saja misteri. Satu-satunya yang bisa saya kenali apa adanya, hanya putri saya seorang, Novi Kirana. Itu pun karena usianya yang baru 2,5 tahun. Entah nanti pada dua dasawarsa mendatang. Mungkin kabut misteri juga akan meliputinya.

Tentu saja itu subjektif.

Lantas bagaimana dengan pendapat para wanita terhadap pria? Apa juga sama? Apakah mereka juga pernah berfikir jika para lelaki itu adalah makhluk yang misterius?

Ehmhh, saya ragu.

Dulu sahabat saya si Aini pernah menjawab ketika saya tanya soal tipikal lelaki idaman, “Iih si Bambang orangnya cool loh. Pendiam gitu. Misterius. Kalau senyum juga seadanya. Banyak cewek yang seneng dia”

Senyum seadanya kok dibilang cool? Kenapa pula si Bambang disukai gadis-gadis?

“Nggak banyak, Rip, cowok yang kayak dia. Cowok mah… Yaa gitu deh…”

‘Yaa gitu deh’, apa pula itu maksudnya? Apa kami para pria sebegitu mudahnya diterka?

Saya pikir sebentar. Kelihatannya Aini benar. Mungkin ia pun generalisasi terhadap para pria yang ditemuinya. Katanya, selera bisa dibentuk, namun pemahaman itu tergantung lingkungan. Tapi ahh, mungkin ia benar. Tidak sedikit pria yang mencoba jadi humoris di depan wanita yang sedang diincarnya. Tentu saja atas nama tujuan, kodrat lelaki sebagai pemburu merasa perlu menggantikan lembing batu jaman Neanderthal primitif terdahulu dengan lelucon yang kadang malah membuatnya tidak lucu. Di sisi lain, sebagai makhluk yang diklaim dipayungi oleh planet Mars, tidak kalah sedikitnya para pria yang gemetar tak berdaya dihadapan perempuan yang disukainya. Katanya, venus si wanita lebih dekat dengan matahari. Dia yang berkuasa adalah yang dia yang dekat dengan planet api.

Pada intinya hanya satu; katanya, pria gampang ditebak. Terutama di depan wanita yang dicintainya.

“Jadi cuma gara-gara begitu si Bambang jadi idola. Ahh kalo gitu sih gampang, gua juga bisa pura-pura pendiem, misterius terus jarang ngocol”

Aini mengangkat bahu seakan tidak percaya, “Coba aja lu tiga jam diem. Baru gua percaya”.

Setelah itu, saya pura-pura jaim deh. Jaga image dengan sok tahu. Duduk di koridor ramai, buka buku agar bisa melalui tiga jam laknat ini dengan sukses. Di depan saya lalu lalang orang-orang. Tapi pikiran saya tidak konsentrasi ke bacaan. Dalam hati berfikir, “Nah gimana dong kalo gua disangka kutu buku. Trus cewek-cewek ga ada yang mao ama gua”. Saya gelisah. Memikirkan apa yang harus saya lakukan selanjutnya.

Sebal. Aini kelihatan melihat kegelisahan saya. Aneh, kok yaa perempuan instingnya tajam sekali? Kenapa bukan kami para pria yang dikaruniai bakat itu?

Baru setengah jam saya sudah berkata, “Ain, gua ke kantin dulu yah. Lapar. Nanti balik lagi ke sini. Gua buktiin deh ama lo, kalo gua juga bisa jadi lelaki jaim kayak si Bambang”

Lagi-lagi Aini mengangkat bahu.

Di kantin saya minum teh sambil makan gado-gado. Sambil memikirkan bagaimana caranya agar bisa jadi seperti Bambang. Tokoh idola gadis-gadis sekolah. Dalam kebingungan, tiba-tiba teman sekelas saya datang. Mengajak main bola.

Sumpah mati tiba-tiba saya lupa Aini. Saya lupa dengan tiga jam jaga imagi pria sejati sebagai janji. Saya lupa dengan niat saya menjadi Bambang wannabe. Di otak saya tiba-tiba yang adalah hanyalah bola memantul tinggi dan melesakkannya ke gawang sambil sekencang-kencangnya teriak ‘Horeee…!’

Begitu pertandingan selesai, saya lihat Aini di sisi lapangan. Sambil lagi-lagi mengangkat bahu. Matanya menyiratkan kalimat, “Oh betapa menyedihkannya kamu”

Saya cengar-cengir sambil garuk-garuk kepala. Lah mau bilang apa coba?

Malamnya di kost-kostan Depok, saya curhat pada si Otong tentang kejadian hari itu. Otong ini adik kelas saya. Tinggal di samping kamar kost saya. “Tong, gimana yaah caranya jadi lelaki sejati?”

“Lelaki sejati itu apaan, Bang?”

“Itu lah. Yang kayak si Bambang gitu. Cool. Cewek-cewek pada seneng ama cowok cool”

“Emang abang bijinya cuman satu?”

“Hah! Apa hubungannya ama biji?”

“Kan lelaki sejati bijinya dua, Bang”

Kampret! Kok saya tiba-tiba dituduh tak genap biji. Maka saya jelaskan pada Otong tentang lelaki (setidaknya di mata Aini). Yaitu para lelaki yang misterius. Pendiam. Bermata tajam seakan mampu membuka tirai hati para perempuan. Yang ketika berjalan, bahkan para wanita disisinya pun sudah mampu melihat aura kelakiannya. Yang ketika mengeluarkan suara, seluruh mata lawan bicara memperhatikan gerak bibirnya. Tentang lelaki yang digila-gilai wanita.

Otong meremas rambut dengan kedua tangannya, “Waduh kalo gitu gua juga bukan laki-laki idaman wanita yaa, Bang? Bukan lelaki sejati sih. Terus kalo begini, gimana dong ama gua? Masa sih gua nggak bisa dapet pacar?”

Saya tidak bisa menjawabnya. Pertanyaannya misterius. Semisterius topik tentang hubungan wanita dengan pria. Semisterius dengan alasan mengapa setelah berjuta tahun hidup bersama mereka masih saling mencoba untuk mengetahui satu dan lainnya.

Saya tidak bisa menjawabnya. Sebab tidak mungkin saya jawab, “Emang udah gitu kali nasib lo, Tong”


(Saya) Gila Dan (Saya Cari) Metode Penyembuhannya

Saya memang cukup sedih akhir-akhir ini. Beberapa orang yang saya pikir dekat dengan saya dan mengerti tentang saya; menuduh saya tidak waras.

Tadinya, pada hari-hari awal, saya hanya cengar-cengir senyum tidak jelas menjawab tuduhan itu. Saya sadar saya gila. Hehehe. Itu mah dari dulu. Nggak usah diomongin saya juga sudah cukup tahu diri. Hehehe.

Tapi ketika makin hari dan hampir setiap saat saya dituduh “terlalu banyak bekerja hingga stress lalu depresi tanpa sadar”. Saya makin kaget. Lantas dalam hati berfikir, “Apa iya gua gila beneran? Kalo iya, kasian banget anak gua. Bapaknya gila”

Padahal saya pikir… Saya sama sekali tidak gila!

Ketika setiap hari saya di doktrin bahwa saya tidak waras. Gamang sekali hati ini. Bimbang juga rasanya, euy. Padahal saya yakin saya memang tengah ada masalah personal, tapi sama sekali bukan di problematika kewarasan.

Karena ragu akibat di cap ‘tidak waras’ bahkan oleh orang-orang yang saya cintai. Lalu mulailah petualangan baru saya. Yaitu mencari jawaban pertanyaan “Apakah saya gila?” dan apabila jawabannya iya, “Bagaimana cara menyembuhkannya?”

Anda pikir aneh? Hmhh, jangankan situ. Saya sendiri saja yang mengalaminya merasa aneh. Belum pernah seumur hidup dituduh ‘gila beneran serius dan butuh psikiater’. Maka jika suatu hari orang terdekat saya menuduh seperti itu, dengan suka rela saya pun melakukan tes dan bahkan menghubungi profesional untuk mencari jawaban pertanyaan di atas.

Namun sebelum ke profesional. Ini ada bebarapa langkah yang saya lakukan. Antara lain:

1. Mencari literatur mengenai kewarasan dan ketidak-warasan

Orang yang tidak waras definisinya simple. Memikirkan dan lalu melakukan hal yang tidak dilakukan orang waras. Yang jadi masalah memang bukan definisi orang tidak waras, melainkan malah pertanyaan terhadap “Apa yang orang waras pikirkan dan lakukan?”

Setiap orang berhak mengklaim dirinya sehat dan waras. Itu hak siapa saja. Namun masalahnya, apakah yang mereka klaim itu benar adanya?

Pencarian terhadap ‘apa yang orang waras pikirkan dan lakukan’ membawa saya kepada beberapa buku Jungian (berasal dari nama Carl Gustav Jung, seorang psikiater dari Swiss). Sebab Jung menulis beberapa buku yang menurut orang waras bagus untuk belajar menganalisi diri.

Buku-buku Jung yang berelasi dengan pola tidur dan mimpi (terutama yang berjudul Undiscovered Self) tentu saja akhirnya juga membawa saya ke buku-buku Psikopatologi (Ilmu yang mempelajari penyakit mental, tekanan mental dan perilaku abnormal serta tidak adaptif) karya Sigmund Freud, Paul Keegan, dan Anthea Bell.

Di sini, saya mulai menganalisi diri dengan simptom dan keluhan orang-orang yang saya cintai. Sumpah mati, saya takut kalau saya jadi psikopat. Parah kan, kalau ternyata saya adalah seorang psikopat yang dengan bebasnya berkeliaran di muka umum tanpa dicoba untuk disembuhkan?

Namun, dari bebeberapa literatur di atas, saya ternyata (secara sepihak) mampu menyimpulkan bahwa saya bukan psikopat. Sebab saya tidak mempunyai gejala seperti psikopat dan keluhan dari mereka yang saya cintai bukan karena psikopatisme.

Di sini, saya cukup lega.

Namun apakah membaca saja cukup? Tentu saja tidak. Berdasarkan literatur di atas, saya mengambil tindakan nyata. Antara lain dijelaskan dalam langkah selanjutnya, yaitu;

2. Analisa Perilaku Diri

Saya tahu, sudah banyak perangkat lunak berbasis web yang mampu dipakai untuk memantau kondisi diri seseorang. Diantaranya adalah kemudahan update melalui sosial media seperti Twitter, Plurk hingga status facebook. Analisa diri, umumnya bisa dipantau dari feature status sosial media ini, sebab ada pilihan bagi yang gemar memberitahu publik lewat status updatenya.

Sebab saya sendiri memantau perkembangan kondisi kesehatan putri saya memakai Plurk ketika ia jatuh dari tangga. Lalu secara real time, dokter keluarga kami memantau perkembangan kesehatan putri saya itu melalui akun Plurk khusus. Sehingga memudahkan analisa beliau dalam mengambil tindakan yang perlu dalam menyelamatkan jiwa putri saya.

Namun akibat akibat kondisi geografis saya yang berpindah-pindah saat ini. Serta terbatasnya akses internet. Maka saya punya buku mimpi.

Buku mimpi? Apa itu?

Buku mimpi adalah buku kertas kecil, bersampul coklat, tipis dan gampang keluar masuk kantong celana jeans yang saya kenakan. Ini buku tulis murahan. Saya beli di pasar. Sebenarnya bisa sih bikin sendiri, tidak perlu beli. Namun karena praktis, saya beli saja. Hehe.

Itu buku, saya bawa kemana-mana. Gunanya sebagai pencatat. Catatan yang dihasilkannya pun bukan catatan biasa. Melainkan perilaku tidur dan mimpi yang saya punya.

Dengan teliti dan detail, setiap hari selama saya dituduh gila, saya mencatat kapan saya tidur, terjaga, mimpi, bangun untuk kencing ketika tidur dan lalu kapan tidur lagi setelahnya dan semua perilaku tidur yang menyertai tidur saya.

Bangun tidur, otak masih segar. Secara detail saya mencatat semua perilaku tidur. Seperti bangun jam berapa. Tidur jam berapa. Sebelum tidur dan bangun, mikir apa. Lalu pikiran-pikiran diantaranya.

Apakah hanya perilaku tidur yang saya catat?

Tidak juga. Saya mencatat beberapa peristiwa penting maupun tidak penting yang terjadi hari itu. Semuanya pun masuk ke buku mimpi.

Mengapa saya mencatat perilaku?

Jawabannya simpel. Sebab saya bukan psikiater. Atau psikolog, atau apalah semacamnya. Saya tidak pernah terdidik secara khusus untuk mendalami ilmu jiwa sebagaimana adik saya Uul dan mungkin ribuan manusia lainnya. Tidak. Saya tidak punya keahlian itu.

Tapi, demi cinta, saya harus pergi ke psikolog dan psikiater. Dan salah satu kerja mereka adalah mereka akan menganalisa pasien agar si pasien cepat sembuh. Maka jika saya menjadi pasien, saya harus kerjasama dengan orang yang membantu saya. Saya tahu, pada psikologi modern, analisa mimpi sudah jarang dipakai lagi. Namun, buku pencatatan perilaku istirahat ini saya pikir adalah awal yang baik untuk memulai analisa diri.

Intinya, beberapa orang terdekat, minta agar saya mau dibantu oleh prefesional. Dan kalau saya meminta bantuan, saya biasanya membantu balik. You scratch my back and I’ll scratch yours :) . Catatan analisa diri, saya harap bisa sebagai langkah awal untuk saling membantu.

3. Bantuan Profesional

Ini yang belum saya coba. Rabu depan saya dijadwalkan bertemu profesional.

Kalau memang saja dibilang gila, saya anjurkan pada Anda, jangan dekati saya lagi. Sebab saya gila. Hehe.

——————–

Dua minggu setelah saya mengunjungi dokter

Saya menulis lagi. Postingan ini dibuat dalam beberapa minggu. Setelah mendapat jawaban dari beberapa profesional saya temui untuk meminta bantuan, saya putuskan untuk menulis lagi.

Jawaban semua profesional sama; saya tidak gila. Saya sedih. Iya, itu benar. Sedih luar biasa sehingga tangan gemetar dan sering sakit kepala. Tapi saya tidak gila. Kesedihan bukanlah termasuk kategori penyakit mental.

Apakah jawaban ini menggembirakan?

Jelas! Sudah hampir dua bulan terakhir ini saya dituduh gila, depresif dan sakit mental oleh beberapa orang terdekat yang saya kenal. Setiap hari, saya dicekoki dengan buku-buku self help. Diyakinkan, bahwa saya gila dan depresif. Jadi, ketika dokter, psikiater dan hampir semua teman-teman saya bersumpah bahwa saya tidak gila maupun depresif, maka saya bahagia sekali.

Saya merayakan ketidak-gilaan saya dengan pergi ke bandar udara lalu makan kentang goreng sambil melihat para manusia lalu lalang di hadapan saya. Hari itu, ada bom yang diselundupkan di antara koper para penumpang yang akan ke Los Angeles. Pemeriksaan polisi ketat sekali kepada semua orang kira-kira berasal dari Afrika. Ketika ada beberapa polisi lewat di hadapan saya dan kira-kira akan menanyai saya (padahal muka saya nampaknya tidak mirip orang Afrika), sambil tertawa lebar dan menawarkan serpihan kentang goreng, saya bilang “saya tidak gila! Hehehe… Hebat kan!” (*Kelihatannya mereka tidak percaya lalu pergi meloyor begitu saja tanpa bertanya-tanya*)

Hari itu saya bahagia sekali. Beban ini begitu berat, berbulan-bulan dituduh sakit. Maka ketika suatu hari ternyata tuduhan itu tidak benar, maka saya sungguh bahagia.

Ketika menyadari bahwa dalam beberapa bulan terakhir ini saya dituduh dengan sesuatu yang tidak saya lakukan/miliki, rasanya sungguh tidak enak sekali. Ternyata, dituduh itu tidak enak.

Dua bulan dalam kebingungan dan gamang, mengajarkan saya satu hal. Betapa menuduh itu sungguh amat mudah. Selain mudah, kemampuannya amat tinggi dalam menyakiti perasaan manusia.

Hari itu, ketika saya terbebas dari tuduhan mengalami penyakit mental yang merugikan orang lain, saya sadar satu hal. Betapa dalam hidup ini, seringkali saya pula menuduh orang lain. Sadar atau tidak, begitu mudahnya saya menuduh. Begitu mudahnya saya mengambil kesimpulan. Begitu mudahnya menyakiti perasaan orang lain.

Ketika suatu hari saya dituduh dan rasanya sungguh tidak enak. Saya baru sadar bahwa saya pun seringkali menuduh dan (sialnya) secara sadar menyadari bahwa menuduh itu enak. Lebih mudah memang demi ego saya yang maniak ini menyalahkan orang lain tanpa melihat diri sendiri.

Tanpa sadar, bahwa itu menyakiti.

Dituduh gila, ternyata ada maknanya. Aneh juga yah?


Apabila Saya Jadi Gubernur Jakarta (Lima – Kemajemukan dan Integrasi)

Selanjutnya adalah proses kerja Kemajemukan dan Integrasi. Tidak bisa dipungkiri, Jakarta adalah sebuah cawan besar dimana seluruh elemen bangsa ada di sana. Jakarta adalah ruang majemuk. Itu adalah kelebihan Jakarta. Menyatukan kemajemukan ini bukanlah perkara yang mudah, sebab kemajemukan ini sekaligus juga bisa menjadi kekurangannya. Walaupun konsep Bhineka Tunggal Ika sudah ada sejak negara ini berdiri, saling menghargai sudah jadi budaya, namun tetap saja ada kendala dalam pelaksanaannya. Maka itu dibutuhkanlah integrasi antar warga serta aturan main yang jelas.

Diantara aturan main kemajemukan dan integrasi antar warga ini adalah:

1. Mendirikan lapangan demo di samping kantor gubernur

Alasan: Sebagai Gubernur, saya sama sekali tidak berharap masa pemerintahan saya akan adem ayem tentram raharja namun menyimpan bara yang dapat meletup tiba-tiba. Maka itu, harus disediakan sarana dan ruang apabila warga saya mau protes berdemo. Agar tidak mengganggu lalu lintas dan kenyamanan umum yang tidak berdemo, disediakanlah lapangan demo di samping kantor saya. Jadi mereka bisa berteriak-teriak sampai puas memaki-maki saya. Kalau perlu, disediakan payung agar tidak kehujanan dan kepanasan. Nah kalau sudah puas, baru bisa bicara baik-baik. Hehe.

Kelebihan: Apabila tidak puas mengeluh melalui sarana khusus berbasis teknologi mobile dan web, lapangan ini dapat menampung aspirasi warga saya secara langsung. Kan kalau maki-maki lebih puas di depan orangnya. Hahaha…

Kekurangan: Apa yang kurang? Kalau tidak ada yang demo, saya toh bisa main sepak bola di sana bersama Anda. Asik kan?

Popularitas: Kalau tiap hari di demo, artinya lapangan itu sukses sebagai sarana pengumpul massa :) Cukup tinggi

2. Melarang organisasi massa pengancam kemajemukan dan integrasi untuk beroperasi

Alasan: Sekali lagi, Jakarta adalah terdiri dari kumpulan manusia yang berbeda-beda. Jika habitat unik ini diancam oleh ormas yang terkenal gemar melakukan kekerasan fisik dalam mengancam kemajemukan dan integrasi, maka itu berbahaya untuk kelangsungan Jakarta. Organisasi massa yang terkenal gemar melakukan kekerasan kolektif ataupun personal dalam aksinya, akan dilarang membuka cabang dan beroperasi di Jakarta. Jika mereka nekat, akan berhadapan dengan perangkat hukum.

Kelebihan: Rasa aman dan mempertinggi toleransi antar suku bangsa penghuni Jakarta walaupun memiliki perbedaan signifikan.

Kekurangan: Kalau saya ada masalah, tidak ada pengalih perhatian dong. Hahaha…

Popularitas: Dikecam oleh ormas yang akan dianggap sebagai biang masalah namun didukung oleh warga Jakarta yang pernah jadi korban mereka.

3. Menjembatani proses dialog antar pelaku ritual agama

Alasan: Jakarta terdiri dari banyak pemeluk agama dan pelaku ritualnya. Beberapa ritual agama diyakini sering membawa dampak tidak sehat bagi masyarakat sekelilingnya. Mulai dari polusi suara hingga saling mencurigai membawa polusi terhadap keyakinan. Salah satu solusinya adalah membuka ruang khusus (literal) agar para pelaku bisa saling bicara tanpa menghakimi dan mendengarkan satu sama lain.

Kelebihan: Mampu menyelesaikan beberapa konflik atau cikal bakal konflik kekerasan akibat ritual agama. Musyawarah atas mufakat biasanya terbukti sukses di budaya Indonesia.

Kekurangan: Mungkin ruang khusus di kantor gubernur itu sering bisa penuh orang :)

Popularitas: Konflik yang mampu diselesaikan akan melahirkan kesepakatan baru bersama di masyarakat. Popularitas akan naik signifikan. Begitupun sebaliknya, apabila konfliknya tidak bisa diselesaikan.

————–abis ahh———————-

Sampai sejauh ini. Baru segitu sih ide saya kalau jadi Gubernur. Entah besok… Entah lusa. Tapi, untung saja saya bukan Gubernur dan nampaknya tidak berminat pada posisi itu. Saya mah niatnya hanya “ngomong doang”

Saya sih yakin saya tidak akan jadi Gubernur Jakarta. Sebab standar agama dan moral saya kelihatannya sudah cukup rendah dibandingkan dengan orang Jakarta kebanyakan lainnya. Pasti tidak akan ada yang memilih apalagi mencalonkan saya. Hahaha…


Apabila Saya Jadi Gubernur Jakarta (Empat – Hukum)

Walaupun saya tidak jago masalah hukum, dengan cueknya ugal-ugalan bicara soal hukum. Hihihi. Ini tambahan soal hukum di Jakarta kalo saya gubernurnya;

1. Membangun peraturan daerah penopang konsep-konsep lainnya

Alasan: Jika saya bertindak tanpa dasar hukum, namanya ilegal dan tiran. Maka, harus ada pendukung langkah-langkah ini.

Kelebihan: Jika Perda telah dibuat, maka bila sang gubernur mati masih tetap akan ada harapan di masa depan bahwa proyek-proyek telah berjalan tetap akan berjalan dan susah ‘dimunirkan’.

Kekurangan: Membuat Perda itu butuh waktu. Tidak mungkin memecut cambuk anggota dewan daerah yang menentukan Perda dengan sabuk pari, sebab walaupun kadang kelakuan mereka jauh lebih buruk daripada kerbau pembajak sawah, atas nama hukum kita tidak bisa melakukan itu walaupun tahu mereka kadang sering malas dalam bekerja. Di sisi lain, beberapa partai politik pasti akan menaruh kepentingan mereka dalam Perda.

Popularitas: jika animo masyarakat tinggi, proses pembuatan Perda ini dapat ditransparansikan melalui aplikasi web. Jadi para wakil rakyat penentu keputusan bisa dimonitor langsung sepak terjangnya. Pasti tinggi.

2. Membangun penjara baru yang manusiawi

Alasan: Penjara di Jakarta sekarang tidak manusiawi serta jadi sarang narkoba. Membangun penjara baru yang jauh dari lokasi pemukiman padat penduduk, dapat menjadi solusi. Teknologi pemantau jarak jauh dapat melihat dan mencegah lalu lintas peredaran benda ilegal dan narkoba dalam penjara. Narapidana, walau telah melakukan kejahatan, tetap saja manusia. Harus diberi fasilitas rehabilitasi seperti perpustakaan serta sarana untuk belajar. Serta proses transisi, seperti pendidikan dan terapi agar mereka bisa kembali ke dunia masyarakat umum. Jadi, agar begitu keluar dari penjara tidak lagi menjadi bandit.

Kelebihan: Mempunyai kemungkinan besar mencegah kriminalisasi di masyarakat. Membantu kinerja polisi. Serta sejalan dengan program lainnya, ´Jakarta aman´.

Kekurangan: Arsitektur teknis yang cukup rumit. Di sisi lain, penyediaan psikolog, ruang terapi dan balai latihan kerja serta unit pendukungnya dapat memakan biaya besar.

3. Legalisasi lokalisasi Seks Komersil

Alasan: Penghancuran lokalisasi Kramat Tunggak di Tanjung Priok awal tahun 2000-an dan menggantinya dengan bangunan ibadah sebagai simbolisasi kemenangan atas maksiat membawa ekses negatif. Para pelacur eks KT berkeliaran di gang-gang sempit warga sekitar lalu beroprasi diantara anak-anak kecil lokal. Banyak terjadi pelecehan terhadap anak-anak akibat ‘salah sangka’. Ini tidak boleh dilakukan lagi. Apabila pelacuran dipandang sebagai penyakit sosial, maka harus ada solusi pemecahan sosialnya. Sebab saat ini pelacuran ada ditengah-tengah kita dan terselubung jadi rahasia umum. Lagi-lagi dibekingi oleh hamba hukum dan preman lokal. Maka, daripada begitu, lokalisasi yang jauh dari pemukiman penduduk adalah jawabannya. Penjaja dan pemakai jasa seksual berbayar sebaiknya dilindungi kesehatannya oleh Perda agar tidak menularkan dan ditularkan oleh penyakit seksual. Maka itu, harus ada legalisasi lokalisasi pelacuran dan praktik ini pun harus dipajaki.

Kelebihan: Mengontrol dan mencegah penyakit seksual berbahaya seperti HIV/AIDS yang semakin mengglobal dan menakutkan. Dapat memberi edukasi kesehatan langsung kepada para penjaja dan pengguna seks berbayar sebab lokasinya terdeteksi. Pemasukan dari pajak.

Kekurangan: mungkin banyak ibu-ibu marah namun diam-diam datang ke sana untuk mengontrol apakah suaminya jadi langganan tetap. Selain itu, akan di tentang habis-habisan oleh standar agama dan moral warga Jakarta kebanyakan.

Popularitas: rendah sekali :D

Di sini, saya sudah yakin bahwa akan banyak antipati terhadap ide-ide saya selanjutnya. Hehehe…