Archive for the 'sepakbola' Category

Sumpah Pemuda Murahan

Jorgo Chatzimarkakis itu orang Jerman keturunan Yunani. Hidupnya boleh dibilang sukses apabila kesuksesan di hitung dari gelar akademisi. Sebab lepas dari sekolah menengah, ia melanjutkan ke perguruan tinggi. Pertama ke jurusan ilmu perternakan di Bonn. Lalu setelahnya ambil ilmu politik di Oxford Inggris dan kembali jadi PhD politik di Universitas Bonn Jerman.

Di sebuah cafe di dekat Bundesstadt tempat-informasi-turis kota Bonn, Jan mencolek bahu saya sambil berkata, “Yang baru masuk. Itu Jorgo. Terkenal dia. Minggu lalu ada di acara tivi Politik Masuk Desa”

“Politik Masuk Desa? Apaan tuh”

“Politisi kan kebanyakan omong kosong. Maka ada acara tivi, namanya politik masuk desa. Politisi yang katanya pro rakyat diambil dari gedung dewan tempat mereka ngepos, trus disuruh tinggal di kampung. Terutama di rumah tempat orang yang katanya di bela oleh program parpolnya. Dia disuruh tinggal di rumah tukang bikin roti yang anaknya lima. Selama sebulan seluruh hidupnya dimonitor kamera”

Saya bengong, “Trus tukang rotinya kemana?”

“Ada di hotel. Ngeliatin kamera itu. Nanti setelah sebulan, kerjaan Jorgo di rumah itu diedit dan ditayangkan di tivi nasional”

“Loh jadi Jorgo ama istrinya si tukang roti? Wah ngapain aja yaah…”

“Tidak ada hubungan intim. Selain itu Jorgo harus normal menggantikan fungsi si tukang roti. Ia bangun pagi pukul dua, lalu bakar roti setiap pagi. Jam lima, berkeliling dengan truk mengantar roti segar ke toko-toko roti. Pulang jam sepuluh. Beli makanan di pasar untuk keluarganya. Siang ambil anak dari sekolah. Sore bantu istri nyuci dan masak. Malam hari mendongeng untuk anak-anak si tukang roti. Baru setelah itu dia tidur”

Saya bengong, “Wow, sebulan penuh? Tapi kenapa sebulan penuh?”

Jan menatap saya heran, “Gaji tukang bakar roti kan sebulan sekali? Mau makan apa keluarga si tukang roti kalau si Jorgo tidak kerja sebulan penuh?”

Saya termangu. Berpikir betapa dahsyatnya hidup si tukang roti. Minus beberapa tunjangan pemerintah untuk anak dan mahalnya asuransi yang harus dibayar oleh warga Jerman, kehidupan si tukang roti Jerman sebenarnya tidak jauh beda dengan tetangga saya yang dagang ikan asin di Cilincing, desa pesisir utara Jakarta sana. Penuh kerja keras dan perjuangan. Bedanya, tetangga saya tidak digaji bulanan.

Tanpa saya tanya lebih lanjut Jan menambahkan, “Jorgo itu selalu bicara berbusa-busa tentang ekonomi politik buruh kecil di Brussel sana, tapi coba lihat hidupnya, dia itu intelektual menara gading. Sebulan itu nggak cukup untuk merasakan susahnya hidup buruh kecil”

Saya garuk-garuk kepala, “Kamu sentimen amat ama Jorgo. Syukur kan dia sebulan hidup di sana. Walopun mungkin dia ikut untuk meningkatkan ratingnya pada publik, tapi minimal kan dia ngerasain susahnya ngeburuh selama sebulan. Belum lagi keluarga si tukang roti yang rindu ayah dan suaminya. Kan mereka berjuang juga untuk nerima Jorgo lalu jadi kelinci percobaan stasiun tivi dan atas nama demokratisasi politik”.

Jan diam. Menyeruput kopi lalu mengambil roti lilit kecil berwarna coklat yang diatasnya ditaburi semacam biji-bijian (katanya bernama Mohnzöpfchen). Karena ia diam, saya bilang, “Jan, di negara saya beberapa politisi datang dari manusia yang amat membumi. Namun sayang sekali banyak yang sering lupa dimana ia menginjak lagi ketika sudah masuk dunia politik. Andaikata surga itu ada, namanya pasti bukan panggung politik Indonesia”.

Jan diam. Mungkin ia setuju. Mungkin juga tidak. Atau bisa jadi tidak peduli. Buat saya tidak masalah. Saya tidak begitu ambil pusing. Dia toh bukan orang Indonesia dan merasa tidak memiliki keterlibatan apa-apa dengan negeri nusantara tersebut. Kecintaannya pada Indonesia hanyalah pada kerupuk udang Cirebon yang saya kenalkan ketika kami sama-sama bermain musik. Namun diamnya itu, mengingatkan saya kembali kepadanya di pagi hari tanggal 28 di bulan Oktober.

Hari itu sumpah pemuda di Indonesia. Sebagaimana lazimnya hari-hari aktual khusus, banyak manusia yang tiba-tiba merasa paling jago bicara soal pemuda.

Dulu waktu tinggal di Cilincing Jakarta, Lurah saya tiap sumpah pemuda selalu datang ke Karang Taruna. Tempat kumpul teman-teman saya. Tiap tahun. Tiap sumpah pemuda. Dan ajaibnya selalu setiap kali datang, mengeluh. Macam-macam keluhannya. Mulai dari anak muda jaman sekarang lesu-lesu lah. Anak muda saat ini nggak punya inovasi. Anak muda saat ini tidak optimal, padahal sudah dikasih tempat karang taruna. Habis ceramah, dia bagi-bagi minuman soda, kue dan rokok. Lalu di akhir acara pergi begitu saja. Meninggalkan kami yang duduk di kursi plastik putih murahan sambil makan biskuit murahan.

Kami diam ketika ia ceramah. Kami tidak begitu peduli. Mungkin kami memang tipikal pemuda murahan yang ia sebutkan. Kami tidak berani bersumpah sebagaimana mbah moyang kami. Kami tidak berani mengeluarkan suara membantah ketika mulutnya berbusa-busa ceramah. Kami hanya menurut. Melongo. Tidak bergeming sedikitpun. Semuanya dilakukan hanya demi mengharap ia bagi-bagi makanan murahan dan rokok. Semuanya demi perut.

Kami memang pemuda murahan. Andai kata kami bersumpah, maka yang keluar adalah sumpah pemuda murahan.

Kami pemuda murahan, yang diminta berprestasi jadi jagoan sepakbola dunia sementara sekolah bola yang baik hanya ada dalam mimpi dan kalaupun ada hanya buat orang kaya.

Kami, pemuda murahan. Yang beranggapan taik kucing lah ketika harus menaati orang yang lebih tua dan negara sambil ditakut-takuti harus menanggung dosa puluhan tahun bertubi-tubi tanpa jeda .

Kami pemuda murahan, yang harus menurut seperti kambing congek ketika kampung kami memiliki lapangan luas maka dengan serta cepat disulap jadi mall atau pabrik. Jangan protes, kata mereka. Ini kan demi pembangunan, membuka lapangan kerja. Lapangan kerja apa? Toh kami tetap menganggur. Kami terpaksa jadi tentara rendahan bukan karena cinta negeri ini, tapi cuma mereka yang bisa memberi pekerjaan buat preman lulusan SMA macam kami.

Kami pemuda murahan. Andaikata ada bahasa yang keluar dari mulut kami yaa bahasa murahan. “Ngentot, siapa yang nyolong ember mandi gua?” atau “Anjing, masa kerja seharian cuman bisa buat makan sekali?”.

Waktu itu, setiap Lurah habis ceramah sumpah pemuda, entah kenapa saya selalu merasa bagian dari anak muda murahan. Yang lebih baik diam.

Mirip anjing penjaga disuruh apa saja yang penting bisa makan.

Kami… Pemuda murahan.


Lelaki Sejati Bijinya Dua

Waktu saya pinjam buku Elizabeth Gibert yang berjudul eat pray love, Mbak Lia memberi sambil tertawa, “Kenapa, ini kan perempuan banget?”

Saya tersenyum menjawabnya. Tapi entah kenapa saya tidak jawab. Tapi bingung juga sebenarnya, andaipun mau saya jawab, saya harus jawab apa? Toh itu buku memang cerita tentang seorang perempuan dan perjalanannya. Tentu saja dari sudut pandang wanita. Saya tidak bisa jawab apa-apa selain tersenyum.

Dari dulu, entah kenapa, saya memang seakan terobsesi untuk memahami perempuan. Mulai dari cara yang sederhana seperti bertanya langsung kepada makhluknya, hingga trik yang agak licik seperti mencuri buah pikir tertulis mereka. Misalnya melalui membaca majalah yang paling banyak dibaca perempuan. Sampai dulu saya pernah beranggapan, jika feminisme adalah sebuah agama bagi peremuan urban maka Cosmopolitan adalah kitab sucinya.

Hubungan antara pria dan wanita itu misteri. Di Mesir kuno mitologi mengajarkan bahwa selain Isis sang pelindung, dewi yang dipuja adalah Ma’At, pengatur hubungan antara pria-wanita dalam relasi. Apapun itu, belum terkuak hingga saat ini. Jadi menurut saya sah-sah saja punya obsesi memahami dan mencari apa itu makna relasi.

Hasilnya bagaimana? Ahh sama saja. Buat saya, perempuan itu tetap saja misteri. Satu-satunya yang bisa saya kenali apa adanya, hanya putri saya seorang, Novi Kirana. Itu pun karena usianya yang baru 2,5 tahun. Entah nanti pada dua dasawarsa mendatang. Mungkin kabut misteri juga akan meliputinya.

Tentu saja itu subjektif.

Lantas bagaimana dengan pendapat para wanita terhadap pria? Apa juga sama? Apakah mereka juga pernah berfikir jika para lelaki itu adalah makhluk yang misterius?

Ehmhh, saya ragu.

Dulu sahabat saya si Aini pernah menjawab ketika saya tanya soal tipikal lelaki idaman, “Iih si Bambang orangnya cool loh. Pendiam gitu. Misterius. Kalau senyum juga seadanya. Banyak cewek yang seneng dia”

Senyum seadanya kok dibilang cool? Kenapa pula si Bambang disukai gadis-gadis?

“Nggak banyak, Rip, cowok yang kayak dia. Cowok mah… Yaa gitu deh…”

‘Yaa gitu deh’, apa pula itu maksudnya? Apa kami para pria sebegitu mudahnya diterka?

Saya pikir sebentar. Kelihatannya Aini benar. Mungkin ia pun generalisasi terhadap para pria yang ditemuinya. Katanya, selera bisa dibentuk, namun pemahaman itu tergantung lingkungan. Tapi ahh, mungkin ia benar. Tidak sedikit pria yang mencoba jadi humoris di depan wanita yang sedang diincarnya. Tentu saja atas nama tujuan, kodrat lelaki sebagai pemburu merasa perlu menggantikan lembing batu jaman Neanderthal primitif terdahulu dengan lelucon yang kadang malah membuatnya tidak lucu. Di sisi lain, sebagai makhluk yang diklaim dipayungi oleh planet Mars, tidak kalah sedikitnya para pria yang gemetar tak berdaya dihadapan perempuan yang disukainya. Katanya, venus si wanita lebih dekat dengan matahari. Dia yang berkuasa adalah yang dia yang dekat dengan planet api.

Pada intinya hanya satu; katanya, pria gampang ditebak. Terutama di depan wanita yang dicintainya.

“Jadi cuma gara-gara begitu si Bambang jadi idola. Ahh kalo gitu sih gampang, gua juga bisa pura-pura pendiem, misterius terus jarang ngocol”

Aini mengangkat bahu seakan tidak percaya, “Coba aja lu tiga jam diem. Baru gua percaya”.

Setelah itu, saya pura-pura jaim deh. Jaga image dengan sok tahu. Duduk di koridor ramai, buka buku agar bisa melalui tiga jam laknat ini dengan sukses. Di depan saya lalu lalang orang-orang. Tapi pikiran saya tidak konsentrasi ke bacaan. Dalam hati berfikir, “Nah gimana dong kalo gua disangka kutu buku. Trus cewek-cewek ga ada yang mao ama gua”. Saya gelisah. Memikirkan apa yang harus saya lakukan selanjutnya.

Sebal. Aini kelihatan melihat kegelisahan saya. Aneh, kok yaa perempuan instingnya tajam sekali? Kenapa bukan kami para pria yang dikaruniai bakat itu?

Baru setengah jam saya sudah berkata, “Ain, gua ke kantin dulu yah. Lapar. Nanti balik lagi ke sini. Gua buktiin deh ama lo, kalo gua juga bisa jadi lelaki jaim kayak si Bambang”

Lagi-lagi Aini mengangkat bahu.

Di kantin saya minum teh sambil makan gado-gado. Sambil memikirkan bagaimana caranya agar bisa jadi seperti Bambang. Tokoh idola gadis-gadis sekolah. Dalam kebingungan, tiba-tiba teman sekelas saya datang. Mengajak main bola.

Sumpah mati tiba-tiba saya lupa Aini. Saya lupa dengan tiga jam jaga imagi pria sejati sebagai janji. Saya lupa dengan niat saya menjadi Bambang wannabe. Di otak saya tiba-tiba yang adalah hanyalah bola memantul tinggi dan melesakkannya ke gawang sambil sekencang-kencangnya teriak ‘Horeee…!’

Begitu pertandingan selesai, saya lihat Aini di sisi lapangan. Sambil lagi-lagi mengangkat bahu. Matanya menyiratkan kalimat, “Oh betapa menyedihkannya kamu”

Saya cengar-cengir sambil garuk-garuk kepala. Lah mau bilang apa coba?

Malamnya di kost-kostan Depok, saya curhat pada si Otong tentang kejadian hari itu. Otong ini adik kelas saya. Tinggal di samping kamar kost saya. “Tong, gimana yaah caranya jadi lelaki sejati?”

“Lelaki sejati itu apaan, Bang?”

“Itu lah. Yang kayak si Bambang gitu. Cool. Cewek-cewek pada seneng ama cowok cool”

“Emang abang bijinya cuman satu?”

“Hah! Apa hubungannya ama biji?”

“Kan lelaki sejati bijinya dua, Bang”

Kampret! Kok saya tiba-tiba dituduh tak genap biji. Maka saya jelaskan pada Otong tentang lelaki (setidaknya di mata Aini). Yaitu para lelaki yang misterius. Pendiam. Bermata tajam seakan mampu membuka tirai hati para perempuan. Yang ketika berjalan, bahkan para wanita disisinya pun sudah mampu melihat aura kelakiannya. Yang ketika mengeluarkan suara, seluruh mata lawan bicara memperhatikan gerak bibirnya. Tentang lelaki yang digila-gilai wanita.

Otong meremas rambut dengan kedua tangannya, “Waduh kalo gitu gua juga bukan laki-laki idaman wanita yaa, Bang? Bukan lelaki sejati sih. Terus kalo begini, gimana dong ama gua? Masa sih gua nggak bisa dapet pacar?”

Saya tidak bisa menjawabnya. Pertanyaannya misterius. Semisterius topik tentang hubungan wanita dengan pria. Semisterius dengan alasan mengapa setelah berjuta tahun hidup bersama mereka masih saling mencoba untuk mengetahui satu dan lainnya.

Saya tidak bisa menjawabnya. Sebab tidak mungkin saya jawab, “Emang udah gitu kali nasib lo, Tong”


Boikot

Sudah beberapa tahun belakangan ini makin santer gerakan ‘anti-antian’ terhadap negara lain. Di bantu internet, memang tambah memudahkan aksi ini.

Waktu zaman Schapelle Corby dituduh membawa berkilo-kilo ganja ke Bali dan polisi belum mampu membuktikannya, langsung ada gerakan ‘Boikot Bali’ bahkan hingga ‘Boikot Indonesia’ di negara tetangga. Saking parahnya di daerah suburban barat laut Melbourne sana hingga ada sebuah bar yang menempelkan plang papan di depan pintunya ‘No Beers 4 Indonesians
(*Kami nekat masuk. Memesan es teh manis. Tetap tidak dilayani. Bahkan malah dipelototi. Tapi cuek saja nyemil kacang gratis yang ada di depan meja bartender. Hihihi*)

Hingga akhirnya Schapelle Corby ternyata benar-benar seorang ratu ganja, gerakan boikot ini ternyata belum di cabut juga. Alasannya kali itu adalah; Penjara Kerobokan Denpasar Bali tidak layak untuk seorang Corby. Beuh!

Hari berganti, begitupun peristiwa. Ada negara tetangga yang mengklaim sebuah lagu dan tari yang bahkan sudah dilirik anak negeri. Tiba-tiba semua orang kebakaran jenggot. Ramai-ramai pakai batik supaya si negeri jiran tak berani mengklaim lagi. ‘Boikot negeri sebelah’ tiba-tiba jadi trend yang seksi. Ramai-ramai anak muda jadi nasionalis dadakan dengan memakai atribut mencela negeri tetangga. Tiba-tiba, idiom ‘makin nyela tetangga makin gaya’ merambah kemana-mana dan jadi sebuah bangga.

Lalu sebagaimana peristiwa lainnya, orang-orang lupa. Atau mungkin; terlalu banyak di dera masalah dan peristiwa yang nan tak kalah ajaibnya… Jadi dilupakan.

Hingga akhirnya muncul lagi. Ketika Garuda Indonesia ketek sayapnya di jitak Uni Eropa. Sehingga burung-burung besi milik maskapai penerbangan pribumi itu dilarang terbang di langit Eropa sana. Berbagai pejabat negeri tiba-tiba (lagi) berkoar menjadi nasionalis sejati. Ada yang asal bunyi berkata “Ini pasti politis, gara-gara pembunuhan Munir yang belum terungkap maka kita dilarang terbang”.

Politis? Uh! Itu benar-benar asal bunyi. Sebab sebelum di larang, sudah berkali-kali diperingati bahwa Garuda itu gagal memenuhi persyaratan untuk mendarat tepat waktu. Dikiranya, seluruh bandara di Uni Eropa milik bapak moyangnya apa? Pilot-pilot itu main landing seenak jidatnya. Bung, tahukan anda terminal bandar udara itu beda dengan terminal angkot Cilincing, kampung di ujung laut Jakarta sana di mana para sopir mangkal semau-maunya?

Diberitahu begitu, makin merah muka sang pejabat. Sampai-sampai mengeluarkan titah, “Apapun yang terjadi, Garuda kita harus melanglang di langit Eropa. Kalo nggak bisa juga, boikot saja negara yang melarangnya”.

O-o-o… Lagi-lagi ada masalah bisnis yang diintervensi kebijakan negara. Kok yaa tidak berfikir lebih dulu dengan seksama, bahwa kadang-kadang teknisi kita terkenal tukang lupa. Hingga parahnya alpa membersihkan korosi di mesin burung-burung besi kebanggaan (beberapa) anak negeri itu.

Lagi-lagi boikot. Lagi-lagi boikot. Kalau buruh kecil pabrik tekstil di Tangerang sana boikot minta keselamatan kerja dan upah layak, maka semua aparat dituruni untuk mengemplangi para manusia kecil bernasib naas itu. Beuh!

Lalu, sebagaimana sejarah, ini akan tetap berulang terus. 2009, sebuah website terkenal tempat kumpul para seniman tiba-tiba memboikot semua orang-orang Indonesia yang ada di sana. Gara-gara, beberapa orang pencuri (tentu saja dari IP address Indonesia dan memiliki status geografis RI) diam-diam menyikat hasil karya member lain dan lalu dengan bodohnya terang-terangan menjual karya colongan itu, di website yang sama.

Memboikot semua orang Indonesia yang ada di forum?

Hahaha… Tahu darimana dia orang itu adalah WNI atau minimal mengaku orang Indonesia?

Dari IP address? Buset dah, gara-gara beberapa orang maling ber alamat Indonesia tiba-tiba memblok semua karya anak Indonesia? Lagi pula, apakah semua orang yang ber IP address Indonesia adalah orang Indonesia? Hahaha… Gimme a break!

Dari status geografis? Ampun deh, mengganti status geografis di forum itu bisa dilakukan dalam waktu beberapa detik. Toh bisa saja saya mengaku dari Republik Vanuatu.

Dari nama Indonesia. Jadi semua orang yang bernama ‘berbau-Indonesia’ harus di blok? Hahaha…
(*Apa forum website berbasis di California itu berani nge-block Bapak Sehat Sutardja? Ahh Pak Sehat mana mau masuk forum rasis begitu :D Buang waktu ajah*)

Lah terus bagaimana dengan orang-orang Indonesia yang tidak memiliki IP address Indonesia, apakah harus di boikot juga? Aje gile deh.

Boikot pencuri dari Indonesia itu adalah tindakan cerdas. Tapi boikot semua orang Indonesia (atau yang mempunyai penampakan seperti WNI karena mungkin mereka semuanya maling, koruptor, dan sebagainya) jelas adalah tindakan bloon.

Yang terkini, mungkin beberapa hari lalu. Ketika ada pertandingan sepakbola antara kesebelasan sepakbola kebanggaan warga Jakarta, Persija dengan pengocek bola piawai dari Bandung Persib. Hasilnya imbang.

Mungkin karena hasil yang dianggap tidak memuaskan atau alasan tidak penting namun memuakkan lainnya, beberapa supporter Persija, Jakmania memukuli seorang bocah berumur tujuh tahun. Hanya karena, ia anak supporter lawan kesebelasan yang bangga memakai kaus supporter Persib bernama Viking Bandung. Itu anak, babak belur dan bukan hanya kausnya, mata dan pipinya pun ikut lebam membira.

Haruskah kita memboikot para supporter sepakbola asal Jakarta tersebut? Sebagaimana niat kita memboikot bonek supporter sepakbola dari Surabaya?

Well, hati kecil saya berkata iya. Namun ketika melihat bahwa dari ribuan manusia pendukung sepakbola tersebut sebagian besar adalah orang-orang biasa yang mencintai sepakbola daerah lokalnya, maka nurani pun berkata berbeda.

Jika ada beberapa orang beratribut islami melakukan tindakan tolol luar biasa dengan membunuh manusia lain atas nama tuhan yang mereka percayai, tidak menjadikan semua orang islam adalah pembunuh yang tolol. Sebagaimana hanya karena satu dua yahudi menjadi pencuri tidak selayaknya kita mengirimkan mereka semua ke kamp konsentrasi.

Maka, apabila solusi yang di rasa paling tepat adalah supporter klub sepakbola Jakarta menindak koleganya yang berbuat tak senonoh pada bocah Bandung berusia tujuh tahun. Maka sudah sepantasnya kita memboikot ‘kolega’ kita yang bawa-bawa nama ‘kami’ hanyak sebagai alasan untuk menzalimi.